Evelyn – Chapter 6 (Amora Austin)

Comments 4 Standard

Evelyn

 

jangan lupa putar trailernya yaa.. wkakakakakkakak

 

“Karena aku akan menemanimu.”

Eva tersenyum mendengar pernyataan Fandy. “Benarkah? Uum, apa aku boleh minta sesuatu darimu, di sini?”

“Silahkan.”

“Aku ingin menciummu.”

Fandy sempat membulatkan matanya saat mendengar permintaan Eva yang begitu terang-terangan. “Tidak.”

“Fandy.” Rengek Eva.

“Karena kali ini, aku yang akan menciummu.” Eva terperangah dengan ucapan Fandy, dan ketika bibirnya masih terbuka karena tercengang, Eva merasakan jika bibir Fandy sudah mulai menyambar bibirnya yang masih terbuka, melumatnya dengan lembut seakan lelaki itu begitu menginginkannya. Apa benar Fandy menginginkannya?

***

Chapter 6

-Amora Austin-

 

Eva memejamkan matanya, merasakan sapuhan lembut dari bibir Fandy pada bibirnya. Astaga, apa yang terjadi dengan lelaki ini? Kenapa lelaki ini bisa menciumnya dengan lembut seperti saat ini?

Eva masih memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut dari bibir Fandy, hingga ketika Fandy melepaskan tautan bibir mereka, mata Eva tetap memejam, menikmati sisa-sisa dari bibir panas itu yang tadi telah menyentuhnya.

“Nona, nona Evelyn.” Panggilan Fandy bahkan tidak mampu menyadarkan Eva dari angannya.

Eva masih memejamkan matanya, mencoba menikmati kembali apa yang tadi ia rasakan dengan Fandy.

“Nona, Nona Evelyn tidak apa-apa, kan?” Lagi, Fandy memanggilnya, tapi Eva tidak ingin mengakhiri mimpi indahnya.

Mimpi?

“Eva? Eva?” Eva merasakan pipinya di tepuk-tepuk oleh seseorang, dan seketika itu juga ia membuka matanya. Ternyata Fandy menatapnya dengan ekspresi khawatir dari lelaki tersebut.

“Apa yang terjadi dengan anda?” tanya Fandy dengan wajah bingungnya.

Eva mempalingkan wajahnya seketika.

Sial! Ternyata tadi dia cuma berangan-angan.

Bagaimana mungkin ia membayangkan Fandy akan melakukan hal tersebut hanya karena lelaki itu mau mengajaknya ke tempat menakjubkan seperti sekarang ini? Oh, Eva merasa kini pipinya pasti sudah merah padam seperti orang tolol.

“Saya menyebutnya ‘tempat rahasia’. Ini tempat di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Tempat yang tidak pernah saya tunjukkkan pada orang lain.”

Eva menatap Fandy seketika, perkataan Fandy sangat mirip dengan apa yang ia bayangkan tadi. Apa mungkin…. kejadian itu nanti akan menjadi kenyataan?

“Ta –tapi kamu menunjukkannya padaku.” Eva menatap Fandy dengan tatapan anehnya, ia menjawab pernyataan Fandy tersebut sama seperti apa yang ia bayangkan tadi, oh semoga saja apa yang ia bayangkan tadi menjadi kenyataan.

“Karena saya pikir, Nona Evelyn membutuhkan tempat ini.”

Eva bersorak dalam hati karena jawaban Fandy sama persis dengan apa yang ia bayangkan tadi. Oh, apa Fandy akan benar-benar menciumnya?

Eva mengulurkan jemarinya, berharap ia bisa mengusap lembut pipi Fandy seperti apa yang tadi ia bayangkan. Tapi di luar dugaannya, Fandy malah mencengkeram erat pergelangan tangannya, seakan tidak membiarkan dirinya untuk menyentuh wajah lelaki itu.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Eva dengan sedikit kesal.

“Anda mau apa?” Fandy berbalik bertanya.

“Aku?” Eva bingung mau menjawab apa. Apa iya dia harus menjawab kalau dia akan memngusap lembut pipi lelaki itu? oh yang benar saja. “Ada nyamuk di pipimu, aku mau menepuknya.”

Fandy lalu menepuk pipinya sendiri, melihat telapak tangannya dan tidak ada apa-apa di sana. Ia kemudian memicingkan matanya ke arah Eva.

“Jangan main-main. Ayo kembali, ini sudah malam.” ajak Fandy.

“Apa? Kembali? Kenapa cepat sekali?” Eva tampak kesal dengan sikap Fandy yang kembali datar-datar saja, tidak seperti apa yang ia bayangkan tadi.

“Ini sudah malam, lagi pula, perasaan Nona Evelyn sepertinya sudah membaik.”

“Belum! Aku belum membaik!” rengek Eva sedikit kesal. “aku nggak mau pulang sebelum kamu menciumku di sini!”

Fandy benar-benar tercengang dengan apa yang di katakan Eva. “Apa?”

Sedangkan Eva, memerah seketika saat sadar jika ia mengucapkan kalimat tersebut di hadapan Fandy. Oh apa yang terjadi dengannya? Padahal sebelumnya ia tidak pernah malu-malu di hadapan orang, kenapa dengan Fandy ia merasa tak karuan seperti ini?

“Ahh! Lupakan! Kita pulang saja.” Seru Eva dengan kesal sambil meninggalkan Fandy dan berjalan lebih dulu memasuki apartemen Fandy.

***

Hingga sampai di rumah Eva, Fandy dan Eva saling berdiam diril Eva memang sudah melupakan kesedihannya karena sang mama, tapi ia sangat kesal dengan sikap Fandy. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sikap lelaki tersebut, hanya saja Eva kesal, karena kenapa hanya dirinya yang merasa gugup tak menentu seperti saat ini? Kenapa Fandy seakan sama sekali tidak terpengaruh dengan kedekatan mereka?

“Sudah sampai, Nona.”

Eva mendengus sebal. Tanpa banyak bicara dia keluar dari mobilnya lalu masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Fandy yang bingung dengan sikap Eva hanya mampu mengikuti gadis tersebut dari belakang.

Fandy masih berdiri tepat di depan kamar Eva ketika Eva baru masuk ke dalam kamarnya dan akan menutup pintu kamarnya.

“Ngapain kamu masih di sini?” tanya Eva dengan ketus.

“Bukannya biasanya-”

“Nggak ada biasanya, sana pergi, aku lagi muak sama kamu.” Eva membanting keras-keras pintu kamarnya tepat di hadapan Fandy.

Sial! Apa yang terjadi dengan gadis manja itu? pikir Fandy.

***

Esonya, Eva bangun kesiangan. Sama seperti hari kemarin, kalau biasanya Eva akan segera bangun dan mencari keberadaan Fandy, maka berbeda dengan hari ini, ia masih kesal dengan sikap Fandy yang tidak sesuai dengan angannya.

Eva menutup tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di ujung kakinya. Ia tidak mempedulikan beberapa pelayan yang sudah berlalu-lalang untuk mempersiapkan dirinya.

“Nona, air hangatnya sudah siap.” Seorang pelayan akhirnya memberitahunya, seakan memerintahkan dirinya supaya segera bangun.

“Tinggalkan saja kamar ini, aku malas bangun.” Eva masih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

“Tapi Nona, nyonya besar sudah menunggu Nona Evelyn di ruang makan untuk sarapan bersama.”

“Astaga, bilang saja kalau aku malas makan.” Eva benar-benar sangat kesal. Ia masih malas keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Fandy. Ah, lelaki itu masih membuatnya kesal karena mengingat kejadian semalam.

Para pelayan akhirnya pergi meninggalkan Eva, sedangkan Eva memilih kembali memejamkan matanya, mencoba tidur kembali dan melupakan bayang-bayang tentang Fandy.

***

Cukup lama Eva tertidur, hingga ia merasakan tidur nyenyaknya terganggu ketika ia meraskan tubuhnya di guncang-guncang.

“Evelyn, Evelyn.” Suara lembut itu memanggil-manggil namanya. Apa itu suara mamanya? Seketika itu juga Eva membuka matanya, dan mendapati sang Nenek yang telah membangungkannya.

“Nenek, ada apa?”

“Sudah siang. Ini bahkan sudah masuk waktu makan siang, dan kamu belum bangun?”

Eva memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. “Aku malas bangun.” Ia bersikap seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Kenapa? Apa karena hari ini bukan Fandy yang mengawalmu?”

Eva mengerutkan keningnya, secepat kilat ia bangkit dari posisi tidurnya. “Bukan Fandy? Dia kemana? Kenapa dia tidak mau mengawalku lagi?” tanya Eva cepat. Astaga, Fandy tidak boleh mengundurkan diri dari mengawal dirinya. Ia belum bisa menakhlukkan hati lelaki itu jadi Fandy tidak boleh berhenti mengawalnya.

Sang Nenek malah tersenyum lembut melihat tingkah yang di tampilkan oleh Eva. “Ini minggu, waktunya Fandy pulang.”

“Apa? Nggak asik banget.” gerutu Eva.

“Kamu benar-benar menyukainya?” Sang Nenek tergoda untuk bertanya.

“Tidak tahu lah Nek, aku suka saja menggodanya, tapi kadang dia menyebalkan, aku masih kesal dengannya.”

Sang Nenek masih tersenyum lembut melihat sikap manja yang di tampilkan Eva padanya. “Sudah-sudah, sekarang bangun, mandi, dan mari kita makan siang bersama.”

Eva menganggukkan kepalanya lalu mulai berdiri dan menuju ke kamar mandinya. Hari ini ia tidak akan bertemu dengan Fandy, tapi… entah kenapa ada sebuah rasa aneh yang menggelitik hatinya? Kenapa?

***

Dengan bosan Eva memainkan bandul-bandul mungil yang ada di hadapannya. Fandy tidak mengawalnya hari ini, dan itu membuat Eva semakin bosan, apalagi mengingat pengawal yang menggantikan Fandy saat ini adalah pengawal yang sudah setengah tua dengan kepala botaknya dan juga wajah sangarnya. Oh, jangan di tanya bagaimana perasaaan Eva saat ini.

Sekarang, dirinya sedang menjaga toko aksesorisnya yang berada di salah satu pusat perbelanjaan, berharap jika harinya tidak akan semembosankan ini, tapi nyatanya, sial! Ia benar-benar bosan.

“Apa seharian kamu akan seperti itu terus? Astaga, membosankan sekali.” Suara itu membuat Eva mengangkat wajahnya dan mendapati Icha, sahabatnya berdiri tepat di hadapannya.

“Hai, untung kamu ke sini, setidaknya tokoku tidak akan sepi seperti kuburan.”

“Bagaimana nggak sepi kalau yang jaga manyun gitu.”

“Bukan sepi pembeli, tapi sepi karena nggak ada yang berisik.”

“Sial! Jadi menurutmu aku berisik gitu? Ya sudah, aku pulang saja.”

“Eiitss, apaan sih, tukang ngambek. Aku sedang dalam mood buruk, please, di sini saja.”

Sambil mengunyah permen karetnya, Icha duduk di kursi sebelah Eva. Mata Icha tertuju pada seorang yang berdiri tegap tepat di sebelah pintu toko Eva.

“Yang mau belanja ke sini pasti kabur duluan karena lihat ada agen FBI di sini.” gerutu Icha sambil menunjuk pengawal Eva.

Eva mendengus sebal. “Lama-lama aku bosan, aku nggak bisa bebas kayak dulu lagi dengan pengawal seperti itu.”

“Ngomong-ngomong, si Fandy mana? Kenapa bukan dia yang ngawal kamu?”

“Libur.”

“Libur? Kayak anak sekolahan aja pakek libur.”

Eva menyentil kening Icha. “Jangan bahas dia lagi, aku sedang muak. Mending kita main.”

“Main? Main ke mana? Kamu kan harus jaga toko.”

“Di tutup aja tokonya.” Eva bangkit dan menyiapkan barang-barangnya.

“Ciyee, yang sekarang jadi princess milyader…” Icha menggoda. “Mau dong di teraktir.”

Eva mendengus sebal karena kecerewetan sahabatnya tersebut. “Ayo ikut aku, nanti ku teraktir bakso di pinggir jalan sampek perutmu kembung.”

“Bakso? Buat apa?” Eva tidak menghiraukan pertanyaan Icha, ia malah menyibukkan diri untuk segera menutup tokonya dan segera pergi dari sana.

***

Fandy keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecilnya. Rasanya segar, dan juga sedikit lega mengingat ia bisa terbebas sepenuhnya dari sosok manja bernama Evelyn Mayers, Nona yang harus ia jaga. Ya, walaupun hanya sehari, tapi Fandy akan menikmati kesendiriannya hari ini.

Belum juga ia duduk santai di atas pinggiran ranjangnya, tiba-tiba ia mendengar bell pintu apartemennya berbunyi. Siapa yang datang bertamu? Sambil mengeringkan rambutnya, Fandy berjalan menuju ke arah pintu apartemennya. Dan setelah membuka pintu apartemennya, Fandy di kagetkan dengan sebuah pelukan yang ia dapatkan dari seorang gadis muda.

“Amora.” Suara yang setengah menggeram itu datang dari belakang gadis yang kini masih memeluk tubuh Fandy. Gadis yang bernama Amora itu segera melepaskan pelukannya pada tubuh Fandy ketika sang ayah setengah menggeram padanya.

“Boss.” Fandy berkata dengan penuh hormat. Ya, itu adalah sang Boss yang memperkerjakan Fandy.

“Boleh masuk?” sang Boss bertanya dengan wajah datar tanpa ekspresinya.

“Silahkan.” Meski sedikit bingung, tapi Fandy tetap mempersilahkan atasannya itu masuk beserta puteri manjanya. Ya, selama ini Bossnya itu tidak pernah datang ke apartemennya, jika kini bossnya itu datang kemari, berarti ada hal penting.

Fandy mempersilahkan sang Boss duduk di ruang tengah, sedangkan dirinya segera bergegas menuju ke arah dapur untuk membuatkan minuman untuk Bossnya.

“Aku kangen sama kamu.” Tiba-tiba Fandy merasakan tubuhnya di peluk dari belakang oleh seorang gadis manja.

Itu Amora Austin. Puteri dari Bossnya.

“Maaf Nona, jangan seperti ini.”

Amora mengerucutkan bibirnya. “Kamu berbeda. Ada apa? Kamu sudah punya adik baru di luar sana? Papa bilang kamu harus mengawal seorang nenek-nenek beberapa bulan kedepan, apa nenek itu sudah mengalihkan perhatianmu padaku?” Amora bertanya dengan nada sedikit merajuk.

Fandy sedikit tersenyum. Ah, gadis ini benar-benar menggemaskan. Fandy mengenal Amora sejak gadis itu masih kecil, ketika ia baru di masukkan ke dalam pelatihan sebuah agensi yang letaknya memang di rumah Amora. Gadis itu sangat menggemaskan dan lucu, tapi sayang, dia tidak punya teman. Ibunya entah pergi ke mana, dan Amora hanya memiliki seorang ayah, yaitu Bossnya saat ini.

Karena merasakan apa yang di rasakan Amora, secara alamiah Fandy dapat dengan cepat dekat dengan gadis itu. Amora sudah seperti adiknya sendiri, dan gadis itupun sudah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri.

“Kamu tetap yang paling istimewa untukku.” Fandy menghilangkan nada formalnya, dan itu membuat Amora kembali tersenyum. “Tapi, ku mohon, jangan seperti ini di depan Boss.”

“Oke tuan.” Amora memberi hormat pada Fandy dan itu membuat Fandy tersenyum sesekali mengusap lembut puncak kepala Amora.

Amora kembali menuju ke arah ayahnya, duduk di sana sambil meraih sebuah majala yang berada di atas meja Fandy. Sesekali ia membacanya, sedangkan sang ayah masih duduk tegap penuh dengan kewaspadaan, ah, ayahnya itu sangat membosankan, hampir mirip dengan Fandy yang selalu datar tak berekspresi. Tak lama Fandy datang dan membawa minuman untuk mereka bertiga.

“Ada yang penting hingga Boss datang kemari?” tanya Fandy secara langsung.

“Saya cuma mengantar Amora, dia ingin bertemu denganmu.”

Fandy mengerutkan keningnya. Biasanya, jika Amora ingin pergi keluar atau ingin menemuinya, gadis itu akan di antar oleh anak buah Bossnya, bukan Bossnya secara langsung.

“Bagaimana pekerjaanmu? Apa gadis itu menyulitkanmu?” pertanyaan si Boss seketika membuat Fandy mengangkat sebelah alisnya. Gadis itu? bagaimana bossnya tahu kalau kini ia di tugaskan menjaga seorang gadis?

“Gadis? Bukannya papa bilang kalau Fandy harus mengawal seorang nenek?” Amora yang bertanya.

“Ya, sedikit menyulitkan.” Fandy menjawab pertanyaan Bossnya tanpa menghiraukan pertanyaan Amora.

“Jadi Fandy benar-benar mengawal seorang gadis?” Amora kembali bertanya.

“Dia cucu dari nenek yang harus ku jaga, Amora.” Fandy menjawab.

“Tetap saja, papa bohong tentang ini.”

“Amora!” sang ayah berseru keras. “Fandy hanya menjalankan tugasnya, entah itu seorang nenek atau bukan, itu bukan urusan kamu.”

Amora diam seketika karena seruan keras yang ayah. Ayahnya tidak pernah sekasar ini padanya, kenapa reaksi ayahnya berlebihan seperti ini?

“Lebih baik kita pulang.” Lelaki tinggi besar itu segera berdiri, mengajak puterinya pergi dari apartemen Fandy.

“Enggak, aku mau di sini dengan Fandy.”

“Amora!”

“Boss, biarkan saja Amora di sini, saya yang akan mengantarnya nanti.” Fandy menyahut.

“Dia terlalu banyak di manja.” Setelah kalimatnya tersebut, lelaki itu pergi meninggalkan Fandy dan juga Amora.

Setelah ayahnya pergi, Amora menangis seketika. ia benci ketika melihat ayahnya bersikap seperti itu padanya. Seharusnya sang ayah dapat membedakan mana anak buahnya mana puterinya, tapi ayahnya itu seakan selalu melihat semua orang sama. Amora tidak suka dengan hal itu.

Yang dapat Fandy lakukan hanyalah memeluk Amora, ya, bagaimanapun juga gadis itu sudah seperti adik kandungnya sendiri, ia mengenal Amora sejak keci, dan ia tidak bisa menghilangkan rasa sayangnya pada gadis itu.

***

Eva tidak berhenti menggerutu kesal. Meski ada Icha yang setia menemani di sebelahnya, tapi entah kenapa rasa bosan seakan tidak ingin meninggalkannya. Kakinya terus melangkah, menyusuri ke segala penjuru pusat perbelanjaan, lalu berhenti ketika matanya menemukan sesuatu yang menarik baginya, kemudian membelinya begitu saja tanpa pikir panjang. Selalu seperti itu hingga tangan seorang pengawal yang berjalan di belakangnya saat ini penuh dengan barang-barang belanjaannya.

Icha tidak berhenti bercerita tentang Kevin, kekasihnya yang juga sekaligus teman Eva, namun Eva seakan enggan mendengar cerita dari Icha, entahlah, ia hanya sedang dalam mood  buruk. Dan ia tahu jika ini ada hubungannya dengan Fandy?  karena jika Fandy berada di sini, mungkin saat ini ia sedang asik menggoda lelaki itu.

Eva memutuskan untuk menghubungi Ramon, meminta lelaki itu untuk menyusulnya ke tempat dimana dia berada hingga ia mampu menghilangkan mood buruknya yang sejak semalam ia rasakan. Tapi lelaki itu belum juga sampai di hadapannya saat ini.

Ahhh, Ramon sama  menjengkelkannya seperti Fandy.

“Va, kamu mau ke mana lagi? Aku capek ngikutin kamu terus.”

“Entahlah. Aku juga bingung.”

“Astaga, kamu kenapa sih? Hari ini nggak asik banget.” Eva hanya mengangkat kedua bahunya. “Apa ada hubungannya dengan Fandy?” tanya Icha lagi.

“Fandy? Kenapa dengan dia?”

“Mungkin kamu lagi kangen sama dia.”

“Enak saja, aku lagi muak sama dia, mana mungkin aku kangen sama dia.” Kaki Eva terus saja melangkah hingga kemudian ia menghentikan langkahnya ketika pandangannya tertuju pada sesuatu.

Itu adalah lelaki yang sejak tadi mengganggu pikirannya dan membuat moodnya memburuk. Fandy, lelaki itu tidak sendiri melainkan dengan seorang gadis yang bergelayut manja pada lengannya.

Siapa dia? Apa itu… wanita yang di cintai Fandy seperti yang pernah lelaki itu ucapkan?

Tidak mungkin!

“Va, kenapa?” Icha bertanya saat Eva menghentikan langkahnya dan menatap sesuatu dengan bibir yang ternganga. Icha mengikuti arah pandang Eva dan mendapati Fandy sedang asik dengan seorang gadis yang terlihat lebih muda dari mereka. “Itu Fandy? Sama siapa? Pacarnya?” Icha juga mulai bertanya-tanya.

Icha lalu menatap ke arah Eva, sahabatnya itu tampak shock dengan pemandangan di hadapan mereka. Dan itu membuat Icha tertawa lebar melihat ekspresi bodoh yang di tampilkan oleh Eva.

Eva melihat ke arah Icha yang tampak tertawa lebar. “Kamu gila?”

“Kamu terlihat bodoh.” jawab Icha masih dengan tawa lebarnya.

“Bodoh? Mari kita tunjukkan, bagaimana ‘Bodoh’ itu.” Eva menjawab sambil berjalan menuju ke arah Fandy.

“Eh, kamu mau ngapain?”

“Kita akan menghampiri mereka, kita cari tahu apa hubungan mereka.”

“Kamu gila? Enggak ah, malu-maluin aja ganggu orang pacaran.”

“Kita nggak ganggu, kita hanya akan ke sana dan bertanya baik-baik. Apa itu salah?”

“Kalau mereka beneran pacaran gimana? Apa kamu nggak malu tanya secara terang-terangan pada mereka?”

“Nggak. Pokoknya aku mau ke sana dan bertanya secara langsung pada Fandy dan gadis itu.” Eva tidak bisa di ganggu gugat. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke arah Fandy. Tak lupa ia merogoh ponselnya, lalu kembali menghubungi Ramon, menanyakan keberadaan lelaki itu yang tak juga kunjung sampai.

Sial! Ia membutuhkan Ramon, ia membutuhkan lelaki itu untuk menguatkan hatinya saat menghadapi Fandy.

-TBC-

Advertisements

Evelyn – Chapter 5 (Tempat Rahasia)

Comments 8 Standard

Evelyn

 

Trailer Novel Evelyn dera, di tonton yakk.. hehehehheheh

 

Dengan sigap Fandy mulai sedikit mengangkat tubuh Eva, membawa Eva ke atas ranjang gadis tersebut tanpa melepaskan tautan bibirnya. Oh, Eva merasakan jika kini Fandy adalah lelaki terpanas yang pernah ia temui, ia tidak pernah menginginkan seorang lelaki evelyseperti ia menginginkan Fandy, haruskah ia memberikan kehormatannya pada seorang Fandy?

Sedangkan Fandy sendiri sudah tidak bisa berhenti, tubuhnya menegang seutuhnya ketika gairah primitif tengah menguasainya. Ia menginginkan gadis ini, gadis yang kini masih bertautan bibir dengannya. Haruskah ia melanjutkan apa yang ia inginkan?

***

Chapter 5

-Tempat rahasia-

 

Fandy terus melumat bibir mungil tersebut, ciumannya semakin panas ketika ia merasakan balasan dari Eva. Fandy sudah menindih Eva, sedangkan tangannya sudah memenjarakan kedua pergelangan tangan gadis di bawahnya ini.

Yang di bawah sana sudah menegang seketika. Oh, Fandy tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ia selalu bisa menahan diri, ia selalu bisa mengendalikan hawa nafsunya, tapi dengan Eva, entah kenapa semua berbeda. Eva seakan dapat  menyentuhnya, merobohkan dinding-dinding kewaspadaannya.

Cumbuan Fandy turun ke rahang Eva, ketika tautan bibir mereka terlepas, Eva mengeluarkan erangan-erangan yang membuat Fandy semakin tergoda. Ah, gadis ini sungguh menggemaskan, menggemaskan sekaligus menggairahkan, berbeda ketika ia mengagumi sosok Sienna dulu, Sienna yang manja dan menggemaskan.

Sienna?

Fandy menghentikan aksinya seketika saat bayangan gadis itu muncul dalam benaknya. Sial! Kenapa bayangan Sienna masih menghantuinya?

Fandy bangkit, lalu membenarkan penampilannya sesekali melirik ke arah Eva yang tampak berantakan di atas ranjangnya.

“Kenapa nggak di teruskan?” Eva malah menayakan pertanyaan tersebut pada Fandy.

“Sudah malam, saya akan tidur.” Fandy berbalik, dan bersiap pergi meninggalkan Eva,tapi baru dua langkah, Eva menghambur memeluk tubuhnya dari belakang.

“Kenapa? Apa aku kurang menarik untukmu? Apa kamu punya wanita lain yang kamu cintai sampai-sampai kamu tidak tertarik denganku?” Oh, jangan tanya bagaimana frustasinya Eva saat ini, ia tidak pernah gagal dalam merayu lelaki, dengan senyumannya dan juga sikap centilnya saja, ia bisa menggaet lelaki yang ia kehendaki. Tapi Fandy, ah, lelaki ini benar-benar, Eva bahkan sudah menggoda Fandy, tapi lelaki itu seakan tidak tertarik dengaan dirinya.

“Ya, sudah ada wanita yang ku cintai.” Tanpa di duga, Fandy mengucapkan kalimat tersebut.

Dengan spontan Eva melepaskan pelukannya, lalu ia memaksa tubuh Fandy untuk menghadap tepat ke arahnya. “Siapa wanita itu? apa kelebihan dia di bandingkan aku?”

“Anda tidak perlu tahu, Nona.”

“Persetan dengan omong kosongmu! Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku dan melupakan wanita sialan itu.”

“Maaf, itu tidak mungkin.”

“Kita lihat saja nanti.”

“Baiklah, saya akan keluar.”

“Fandy.” Eva meraih pergelangan tangan Fandy, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya. “tidur di sini saja.” ucap Eva sambil bergelayut manja di lengan Fandy.

Fandy melepas paksa pelukan Eva pada lengannya, lalu berkata lembut pada gadis tersebut. “Maaf, saya tidak tidur dengan perempuan yang belum menjadi istri saya.” Fandy mengucapkan kalimat tersebut dengan di iringi oleh senyuman lembutnya, lalu ia meninggalkan Eva begitu saja.

Eva sendiri hanya ternganga dengan kepergian Fandy. Oh, lelaki itu benar-benar membuatnya terpesona, karena senyumnya, karena perkataannya, dan karena semua yang ada dalam diri lelaki tersebut.

Fandy, aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya, aku akan mendapatkanmu. Sumpah Eva dalam hati.

***

Paginya…

Fandy benar-benar terkejut ketika ia keluar dari dalam kamar mandinya dan mendapati Eva sudah duduk di pinggiran ranjangnya. Gadis itu masih mengenakan piyama tidurnya, terlihat sekali jika gadis itu baru bangun tidur.

“Pagi, sayang.” Sapa Eva dengan manja.

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa anda ke sini pagi buta seperti ini?”

Eva malah bangkit dan berjalan menuju ke arah Fandy. “Entah berapa kali ku bilang, bisakah kamu menghilangkan cara bicaramu yang formal dan menyebalkan itu?”

Fandy hanya diam, ia mentap Eva yang tampak menantangnya. Saat ini Fandy masih bertelanjang dada dengan sebuah handuk yang melingkari pinggangnya. Eva sedikitpun tidak tampak canggung dengan ketelanjangan Fandy, begitupun dengan Fandy yang dapat mengendalikan kegugupan yang entah sejak kapan sedang melandanya.

“Bisakah kamu keluar sebentar? Aku mau mengganti pakaian.”

“Tidak mau.”

Fandy menghela napas panjang. Ia kemudian melangkah menuju lemari pakaiannya, memilih kemeja yang akan ia kenakan tanpa mempedulikan Eva yang sudah mengikuti tepat di belakangnya.

“Membosankan sekali, pakaianmu semua warnanya senada, kemeja putih dengan setelan hitam, hidupmu terlihat membosankan.” Eva memberi komentar setelah ia melihat isi lemari Fandy yang hanya ada beberapa potong baju yang di gunakan untuk bekerja.

“Memang seperti ini hidupku.”

“Bersamaku, kamu tidak perlu hidup membosankan seperti ini.”

“Maksudnya?”

“Oke, pakai saja kemejamu, aku akan mandi sebentar, dan kita akan pergi.”

“Tapi Nona-”

“Aku tidak ingin di bantah.” ucap Eva sambil pergi meninggalkan Fandy. Sedangkan Fandy hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tubuh gadis itu keluar dari dalam kamarnya.

Dasar gadis manja yang suka seenaknya sendiri. Gumamnya dalam hati.

***

 

Cukup lama Fandy menunggu Eva di luar kamar gadis tersebut. Beberapa pelayan rumah keluar masuk dari kamar Eva sesekali melirik ke arah Fandy. Ya, Fandy tentu mendengar gosip di dalam rumah ini, gosip tentang kedekatan dirinya dengan Eva.

Sedikit risih, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi pekerjaannya, dan semua ini adalah permintaan Eva. Fandy tentu tak dapat menolak berdekatan dengan Eva hanya karena alasan gosip sialan itu.

“Anda di suruh masuk Nona Evelyn.” Seorang pelayan berkata padanya. Fandy mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Eva.

Di dalam kamar, ternyata semua pelayan sudah keluar, hanya terlihat Eva yang masih sibuk memilih sepatu yang akan ia kenakan.

Fandy menatap Eva dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis tersebut. Eva tampak santai mengenakan T-shirt ketatnya, dengan di padukan celana yang super pendek. Oh, Fandy bahkan dapat melihat betapa putih mulusnya kaki jenjang itu. tanpa sadar Fandy menelan ludahnya dengan susah payah, gairahnya terbangun begitu saja, apa yang terjadi dengannya?

“Hai, kamu sudah di sini?” sapa Eva yaang kini sudah menatap ke arahnya, tapi gadis itu masih sibuk memilih sepatu yang akan ia kenakan.

“Itu saja.” Tanpa sadar Fandy berkomentar ketika ia melihat Eva mencoba sepatu flat berwarna merah muda, sangat cocok dengan kulit pucat gadis tersebut.

Eva memiringkan kepalanya, ia lalu berjalan menuju ke arah Fandy. “Kamu memperhatikan aku? Kamu ingin aku pakai sepatu ini?” tanyanya sambil mendekat ke arah Fandy.

“Maksudku,” Fandy berdehem ketika ia rasa jika suaranya tiba-tiba serak. “Kamu cocok pakai sepatu itu.”

“Oh ya?” Eva menatap kakinya sendiri. “Apa aku terlihat cantik? Terlihat menakjubkan? Atau aku terlihat menggairahkan dengan sepatu ini?”

Fandy memutar bola matanya ke arah lain ketika penyakit Eva yang super percaya diri itu kambuh. “itu hanya terlihat cocok, tidak lebih.” Fandy bergumam datar.

“Ahh kamu nggak asik. Lagian apaan ini, buka saja.” Eva akan membuka setelan yang di kenakan Fandy tapi kemudian Fandy mencengkeram pergelangan tangannya.

“Aku tidak sukah di sentuh.”

“Hadeh, siapa yang mau nyentuh kamu, Pede sekali. Aku cuma mau membuka setelanmu. Kita akan belanja ke mall, dan aku tidak suka di temani dengan lelaki yang super rapi dan membosankan kayak kamu.”

“Kalau begitu, Nona Evelyn bisa meminta pengawal lain untuk menemani Nona.”

“Enak saja, aku ingin di temani sama kamu. Ayo cepat buka.”

Fandy mendengus sebal. Mau tidak mau dia menuruti kemauan Eva. Ketika Eva melucuti senjatanya, Fandy kembali menjegal tangan Eva.

“Tidak ada senjata hari ini.”

“Tapi Nona-”

“Panggil Eva.”

“Eva.” Akhirnya mau tidak mau Fandy memanggil Eva dengan panggilan tersebut meski ia merasa sedikit aneh. “Ini sudah pekerjaanku.”

“Dan hari ini kamu di bebaskan dari tugas dan pekerjaanmu, ayolah, turuti mauku sekali ini saja.”

Fandy menghela napas panjang dan menuruti permintaan Eva. Kini, Fandy hanya berdiri dengan mengenakan kemeja putiknya. Eva tampak asik mengamati tubuh Fandy dengan sesekali mengusap dada bidang Fandy.

“Nah kalau seperti ini kan kamu kelihatan lebih muda. Berapa umurmu?”

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu? Kamu aneh.”

“Aku besar di panti asuhan, jadi untuk pastinya usiaku, tidak ada yang tahu.”

Eva tercenung sebentar. “Di panti asuhan? Lalu, bagaimana kamu bisa menjadi pengawal profesional seperti sekarang ini?”

“Mungkin sudah takdirku.”

Eva mendengus sebal. “Kamu tahu nggak, kamu adalah orang yang paling menyebalkan yang pernah ku kenal. Apa kamu bisa hilangkan sikap datarmu itu sedikit saja saat berhadapan denganku?”

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya, ia tak menanggapi pernyataan Eva tersebut.

“Jadi kira-kira, berapa usiamu?”

“Dua puluh enam, mungkin.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Kamu yakin? Kamu terlihat seperti om-om dengan usia tiga puluhan.”

“Aku tidak peduli dengan penampilanku.”

“Tapi aku peduli, sekarang, ayo ikut aku, kita akan merubah penampilanmu.”

“Merubah?” Fandy tampak bingung dengan yang di maksud Eva, tapi gadis itu hanya tersenyum sambil menyeret lengan Fandy keluar dari kamarnya.

***

Ini benar-benar gila.

Eva benar-benar menuruti hasratnya untuk mengubah penampilan Fandy. Gadis itu kini sedang sibuk memilih pakaian-pakaian keren untuk Fandy, sedangkan Fandy sendiri merasa tidak nyaman dengan apa yang di lakukan gadis tersebut.

“Nona, ini berlebihan.”  Fandy berkata pada Eva, tapi Eva seakan tidak mendengarkannya. Gadis itu masih terlihat asik memilihkan T-shirt untuknya.

“Coba ini.”

“Tidak.”

“Fandy, ayo coba.”

“Ini sudah berlebihan, kamu sudah banyak membelikanku pakaian, sedangkan aku tidak ingin mengenakannya.” Fandy mengangkat beberapa tas belanjaan yang semua isinya adalah pakaian-pakaian yang di belikan Eva tadi untuknya.

“Ini nggak seberapa.”

“Aku tahu kamu kaya, tapi aku tetap tidak ingin kamu memperlakukanku seperti ini.”

Eva menyipitkan matanya pada Fandy. “Aku hanya ingin merubahmu supaya kamu tidak terlalu kaku.”

“Aku memang sudah kaku dari sananya, jadi kamu tidak perlu merubahku.”

Eva mendengus sebal. Ah, Fandy benar-benar keras kepala. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Eva merogoh ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.

“Halo.”

“Evelyn.”

“Mama! Mama di mana? Astaga.”

“Mama di tempat yang aman, bagaimana kabar kamu sayang? Mama kangen kamu.”

“Eva juga kangen Mama, Mama kenapa pergi?” mata Eva sudah berkaca-kaca, ia bahkan tidak menghiraukan Fandy yang kini sedang memperhatikannya.

“Mama sama Papa ada sedikit masalah. Ev, kamu masih mau ketemu Mama, bukan?”

“Tentu saja, Ma. Di mana? Kapan?”

“Di tempat kita biasa makan siang dulu. Siang ini, Mama benar-benar kangen sama kamu.”

“Oke, Eva akan ke sana. Apa Mama ingin Eva mengajak Papa?”

“Jangan.” Eva sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari sang mama. “Maksud mama, hubungan papa dan mama belum membaik, jadi biarkan kami saling menyendiri dulu.”

“Tapi sampai kapan, Ma?” Eva benar-benar sangat sedih mengingat hubungan kedua orang tuanya. Ia tentu berharap jika keluarga mereka akan kembali utuh seperti dulu.

“Mama juga nggak tahu, Ev, sudah dulu ya, mama tunggu kamu di restoran biasa nanti siang.”

“Ma-” belum sempat Eva melanjutkan kalimatnya, sang mama sudah memutus sambungantelepon mereka. Eva menghela napas panjang, ia menundukkan kepalanya, rasanya ingin menangis, tapi kemudian ia sadar jika mungkin saja kini Fandy sedang memparhatikannya.

Eva menoleh ke arah Fandy, dan benar saja, ternyata lelaki itu sedang memperhatikannya. Eva tampak salah tingkah, apa ia terlihat cengeng dan menggelikan? Oh yang benar saja, Eva tidak ingin terlihat seperti itu di mata siapapun apalagi Fandy.

“Ayo kita pergi dari sini.” Ajak Eva sambil berjalan meninggalkan Fandy yang masih terpaku menatap ke arahnya.

Fandy akhirnya menyusul Eva, Eva tampak berbeda ketika sedang berbicara dengan mamanya tadi. Fandy tahu jika gadis itu mungkin saja sedang merasa kesepihan, dan itu sama seperti dirinya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Fandy ketika dirinya sudah berada tepat di sebelah Eva. Eva berjalan cepat seakan ingin menghindari kontak mata darinya, Fandy tentu tahu itu karena gadis itu terlihat seperti ingin menangis, mungkin Eva tidak ingin terlihat seperti itu di depan orang lain.

“Aku akan ketemu Mama, akhirnya dia menghubungiku.” Eva terlihat seperti orang yang kegirangan, padahal Fandy dapat menangkap dari mata gadis itu, jika gadis itu kini sedang bersedih.

“Kamu terlihat sedih.”

“Sedih? Kamu gila? Aku mau ketemu mama, mana mungkin aku sedih?”

“Mungkin sedih karena hal lain.”

“Kamu sok tahu, ayo ikut saja.”  Dan yang bisa Fandy lakukan hanya mengikuti kemanapun kaki Eva melangkah ketika gadis itu dengan manjanya mengapit lengannya dan berjalan dengan mesra bersamanya layaknya sepasang kekasih.

***

Mereka menunggu di sebuah restoran cukup lama, Fandy bahkan sudah sesekali melirik ke arah jam tangannya, tanda jika ia dan Eva sudah sangat lama menunggu, apa mama Eva benar-benar akan menemui puterinya?

“Nona, apa tidak sebaiknya nona makan dulu, kita sudah menunggu lebih dari dua jam, ini sudah lewat waktu makan siang.”

“Aku mau nunggu mama, aku mau makan siang bareng mama.”

“Tapi Nona-”

“Fan, please, kalau kamu bosan di sini, kamu bisa keluar jalan-jalan dan temui aku lagi di sini setelah rasa bosanmu hilang, tapi aku tetap akan di sini, menunggu mama dan makan siang bareng sama dia nanti. Jangan paksa aku.”

“Saya tidak akan meninggalkan Nona Evelyn.”

Eva menghela napas panjang. Meski Fandy lagi-lagi berkata formal padanya, tapi ia tidak ingin meralat ucapan Fandy seperti sebelum-sebelumnya, entahlah, ia merasa lelah, perasaannya sedih bercampur aduk menjadi satu. Ia merindukan sang mama, ia ingin sang mama benar-benar menemuinya siang ini, tapi nyatanya, ia juga lelah menunggu sang mama, apa benar mamanya akan datang?

***

Di lain tempat

“Ini tidak benar Mark, Evelyn akan membenciku jika aku tidak datang menepati janjiku untuk menemuinya siang ini.” Maria sedikit khawatir ketika Mark, kekasihnya melarangnya untuk menemui Eva, puterinya.

“Dia tidak akan membencimu, ini hanya sebuah cara supaya Evelyn semakin merindukanmu.”

“Tapi bagaimana jika nanti dia membenciku?”

“Tidak mungkin. Kamu seharusnya percaya dengan pengalamanku, instingku selalu tajam, dan instingku mengatakan jika kamu harus menarik ulur puterimu tersebut hingga dia semakin menginginkan untuk bertemu denganmu.”

“Tapi jika kebalikannya?”

“Maria.” Lelaki yang bernama Mark tersebut menangkup kedua pipi Maria. “Percaya padaku, Evelyn akan jatuh ke tangan kamu, jika tidak, kamu tenang saja, aku masih memiliki rencana B buat kamu.”

Maria mengerutkan kieningnya. “Rencana B?”

Mark hanya tersenyum miring. Senyuman misterius yang entah sejak kapan membuat Maria semakin jatuh terpuruk dalam pesona kekasihnya itu hingga ia memilih meninggalkan suami dan anaknya demi lelaki di hadapannya tersebut.

***

Malam semakin larut, tapi Eva sedikitpun tidak ingin bergegas dari tempat duduknya. Entah sudah berapa gelas minuman yang ia pesan sejak siang tadi untuk menunggu mamanya, tapi sang mama tak juga kunjung datang.

Fandy hanya menatap iba Nonanya yang biasanya tampak ceria tapi kini gadis itu terlihat sendu. Fandy yang tadinya memang berdiri agak jauh dari tempat duduk Eva, kini sudah melangkah mendekati gadis tersebut.

“Sudah malam, apa nggak sebaiknya kita pulang?”

“Aku mau nunggu Mama.”

“Restorannya mau tutup, kalau Nona mau, kita bisa menunggu di dalam mobil.” Dan tanpa banyak bicara, Eva bangkit meninggalkan tempat duduknya tadi.

Fandy menghela napas panjang. Perasaan Eva saat ini pasti sangat sedih, sedih dan hancur, tapi bagaimana lagi, ia juga tidak dapat menghibur gadis tersebut, karena ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghibur seseorang.

Fandy membayar tagihan Eva, tak lupa ia juga memesankan makanan untuk gadis itu karena setahunya, Eva belum memakan apapun sesiang ini selain beberapa gelas jus yang ia pesan.

Fandy segera menuju ke arah mobilnya, dan ketika ia masuk ke dalam mobilnya, ia tercenung menatap Eva yang sudah lebih dulu berada di sana. Gadis itu duduk memeluk kedua lututnya dengan wajah yang di tenggelamkan pada lututnya.  Dan gadis itu sedang terisak.

Yang bisa Fandy lakukan hanya diam dan menatap Eva. Ia membiarkan Eva tenggelam dalam kesedihannya tanpa ingin mengusiknya. Jemarinya seakan ingin terulur, mengusap lembut rambut gadis tersebut, tapi ia masih dapat mengendalikan dirinya. Akhirnya Fandy memutuskan untuk hanya menatap Eva yang menangis sesenggukan.

Setelah cukup lama Eva menangis dan menenggelamkan wajahnya, gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya. Yang pertama kali Fandy lihat adalah mata Eva yang basah dengan sisa-sisa air mata di sana. Ingin rasanya ia mengusap airmata itu, tapi sekali lagi ia dapat menahan dirinya hingga tidak berbuat terlalu jauh.

“Kita pulang saja.” Suara yang biasanya terdengar centil dan ceria, kini terdengar serak dan sendu oleh telinga Fandy.

“Nona Evelyn tidak ingin keluar? ke tempat lain, mungkin? Saya akan menemani.”

“Enggak, aku mau pulang.”

“Kita tidak bisa pulang saat Nona Evelyn dalam keadaan seperti ini. Saya harus menjawab apa ketika Nenek atau Papa Nona nanti bertanya.”

“Kalau begitu bawa aku pergi dari sini! Aku nggak mau di sini, aku mau pergi dari sini!”

Fandy akhirnya mulai menyalakan mesin mobilnya ketika Eva kembali menangis. Ah, gadis ini benar-benar membuatnya bingung, harus ia bawa kemana gadis ini hingga perasaannya bisa membaik?

***

“Kita sudah sampai.”

Eva mengangkat wajahnya saat mendengar kalimat itu. ia tampak asing dengan pemandangan di hadapannya, ini seperti di sebuah basement, tapi Eva tidak tahu di mana tepatnya karena sejak tadi ia memilih menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya.

“Ini di mana?”

“Yang pasti bukan di rumah Nona Evelyn.” Jawab Fandy dengan wajah datarnya.

“Aku tahu ini bukan di rumahku. Jadi sekarang cepat katakan, di mana ini atau aku nggak mau keluar dari dalam mobil.”

“Oke, kalau begitu saya saja yang kaluar sendiri.” Fandy keluar dari dalam mobil sedangkan Eva akhirnya mau tidak mau mengikuti Fandy tepat di belakang lelaki tersebut.

“Sebenarnya kita akan ke mana?”

Fandy tidak menjawab, ia masuk ke dalam sebuah lift, dan yang bisa Eva lakukan hanya mengikuti kemanapun langkah lelaki di hadapannya tersebut. Lift menuju pada lantai paling atas, Eva sesekali melirik ke arah Fandy karena lelaki itu tampak sedikit misterius. Tak di pungkiri jika kini dirinya sedikit takut dengan sosok yang berdiri di sebelahnya tersebut.

Lift terbuka, dan di depan sebuah lift tersebut hanya ada sebuah pintu.

“Ini apartemen saya.”

“Apa?” Eva tampak terkejut dengan ucapan Fandy.

“Ayo masuk.”

Akhirnya Eva mengikuti Fandy masuk ke dalam apartemennya. Apartemen yang sangat luas, tapi tak ada pernak-pernik yang menghiasi interiornya, tak ada bingkai foto, vas bunga, atau pajangan-pajangan berharga lainnya, semuanya tampak datar di mata Eva. Datar tapi cukup mewah.

“Jadi, kamu tinggal di sini?” Eva bertanya masih dengan menatap sekelilingnya.

“Ya, jika tidak bertugas.”

“Ini milik kamu sendiri, atau kamu menyewanya?”

Fandy memberikan sebuah minuman kaleng yang baru di ambilnya dari dalam lemari pendingin pada Eva. Sedikit tersenyum dia bertanya, “Kenapa? Ada yang aneh?”

“Aku hanya penasaran, berapa banyak gajih yang kamu dapat  dengan pekerjaanmu hingga kamu memiliki aset mewah seperti apartemen ini?”

Fandy tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ayo ikut saya.”

“Kemana lagi?”

“Akan saya tunjukkan pada Nona tempat saya menghabiskan waktu ketika merindukan seseorang.”

Eva menyipitkan matanya pada Fandy, tapi ia tetap mengikuti kemanapun lelaki itu pergi. Mereka menuju ke sebuah lorong yang berujung pada sebuah anak tangga kecil. Fandy menaikinya, dan Eva tetap mengikutinya hingga Eva sadar jika kini dirinya sudah berada pada atap dari gedung yang ia pijaki saat ini.

“Astaga… ini gila!” Eva sedikit berlari menuju pinggiran atap gedung tersebut. Ia menatap jauh ke segala penjuru. Pemandangan yang sangat indah, lampu-lampu jalanan beserta gedung-gedung tinggi lainnya entah kenapa membuat perasaannya tenang dan damai.

“Bagaimana mungkin ada tempat seperti ini? Ini menakjubkan sekali.” Eva benar-benar terlihat senang ketika berada di sana.

“Saya menyebutnya ‘tempat rahasia’. Ini tempat di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Tempat yang tidak pernah saya tunjukkkan pada orang lain.”

“Tapi kamu menunjukkannya padaku.” Eva menatap Fandy dengan lembut.

Fandypun menatap Eva dengan tatapan lembutnya, “Karena saya pikir, Nona Evelyn membutuhkan tempat ini.”

Eva mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipi Fandy. “Jangan bersikap formal padaku, bukannya di sini kamu bisa menjadi dirimu sendiri? Jadi lupakan saja status kita.”

Fandy tidak menjawab pernyataan Eva, ia memilih menatap Eva dengan tatapan penuh kekaguman. Gadis di hadapannya tersebut benar-benar terlihat indah di matanya, indah dan menggoda.

Tanpa sadar, Fandy sudah mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Eva. “Jangan sedih lagi, jangan menangis lagi, aku tidak suka melihat perempuan menangis.”

“Aku hanya merasa kesepian.” Lirih Eva.

“Kamu tidak akan kesepihan lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aku akan menemanimu.”

Eva tersenyum mendengar pernyataan Fandy. “Benarkah? Uum, apa aku boleh minta sesuatu darimu, di sini?”

“Silahkan.”

“Aku ingin menciummu.”

Fandy sempat membulatkan matanya saat mendengar permintaan Eva yang begitu terang-terangan. “Tidak.”

“Fandy.” Rengen Eva.

“Karena kali ini, aku yang akan menciummu.” Eva terperangah dengan ucapan Fandy, dan ketika bibirnya masih terbuka karena tercengang, Eva merasakan jika bibir Fandy sudah mulai menyambar bibirnya yang masih terbuka, melumatnya dengan lembut seakan lelaki itu begitu menginginkannya. Apa benar Fandy menginginkannya?

-TBC-

Evelyn – Chapter 4 (Pelindung)

Comments 8 Standard

Evelyn

“Fan, aku curiga jika kamu menyalahgunakan pekerjaanmu untuk mengekangku.”

“Maaf?” Fandy tampak tak mengerti.

Eva tertawa mengejek. “Begini, akui saja kalau kamu tidak suka melihat kedekatanku dengan kekasihku.”

“Apa?” Fandy tampak terkejut dengan tuduhan yang di tunjukkan Eva padanya. “Maaf Nona Evelyn, anda berpikir terlalu jauh.”

Eva tampak kesal dengan jawaban yang di berikan Fandy. “Kalau begitu tinggalkan aku, aku akan berkencan dengan kekasihku sendiri tanpa kamu mengawalku.”

“Maaf, saya tidak bisa.”

“Fandy.”

“Sudah, tinggalkan saja dia.” Secepat kilat Ramon meraih pergelangan tangan Eva kemudian menariknya pergi dari hadapan Fandy, tapi baru beberapa langkah, Fandy menyusul, dan dalam sekejap mata Fandy sudah memisahkan Eva dari Ramon.

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Fandy merasakan jika lelaki di hadapannya itu bukanlah lelaki yang baik, instingnya mengatakan jika ia tidak boleh meninggalkan Eva hanya berdua dengan lelaki itu. Tapi di sisi lain Fandy ragu, apa itu hanya instingnya yang terlalu tajam, atau ini ada campur tangan dari sebuah rasa aneh yang sejak tadi sedikit menggelitiknya?

 

Chapter 4

Pelindung

 

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Dengan sengaja Ramon mendekat ke arah Fandy, lalu tangannya melayang, berharap mampu meninggalkan pukulan di wajah tampan Fandy, tapi Ramon salah. Dengan cekatan Fandy menangkis pukulan dari Ramon, kemudian memutar tangan Ramon dan menguncinya di belakang tubuh lelaki tersebut.

“Brengsek! Apa yang lo lakuin, sialan!” Ramon tidak berhenti mengumpati Fandy, sedangkan Fandy sendiri masih santai mengunci kedua tangan Ramon di belakang tubuh lelaki tersebut

“Lepasin Fan! Kamu berlebihan!”

“Dia bukan lelaki yang baik untuk anda, Nona.”

“Baik atau tidaknya itu bukan urusan kamu!”

“Maaf, tapi itu urusan saya, saya bukan sekedar pengawal anda, saya adalah pelindung anda.” Eva hanya ternganga dengan jawaban yang di berikan oleh Fandy. Pelindung? Oh yang benar saja.

“Oke, oke. Sekarang lepaskan dia, aku tidak akan keluar dengan dia tanpa kamu.” Fandy masih tidak mau melepaskan kuncian tangan Ramon. “Fandy, Please.” Eva memohon. Akhirnya Fandy mau melepaskan kuncian tangan Ramon.

“Brengsek!” Ramon mengumpat keras-keras.

Ramon akan menyerang Fandy tapi dengan cepat Eva menghadangnya. “Ramon, sudah. Astaga, aku malu di lihat banyak orang.”

“Lain kali kalau jalan, jangan ajak dia.”

Eva menghela napas panjang. Ahh, rencananya benar-benar berantyakan. Bagaimana mungkin dua lelaki ini selalu ingin adu jotos? Padahal niat Eva kan hanya untuk memancing reaksi Fandy. Dan Fandy, astaga, lelaki itu masih datar-datar saja. Memang Fandy sempat terlihat emosi, tapi bagi Eva itu wajar, mengingat Fandy ingin melindunginya sebagai pengawal.

“Ya sudah, kita jalan, oke.” Dengan sigap Eva merangkul lengan Ramon dan mengajak Ramon berjalan lebih dulu. Sedangkan Fandy hanya mampu mengikutri keduanya dari belakang.

Di sisi lain, sepasang mata memperhatikan ketiganya dengan seksama. Sepasang mata itu mengikuti kemanapun ketiganya berjalan, sesekali menghubungi seseorang untuk melaporkan situasi yang sedang ia lihat.

***

Eva tidak berhenti memanyunkan bibirnya ketika berada di dalam mobil. Bukan tanpa alasan, ia hanya merasa jika semuia rencananya gagal total.

Sial Fandy! Sebenarnya lelaki ini terbuat dari apa sih? Eva sangat sulit menerka-nerka apa yang di rasakan lelaki ini.

Tadi, ketika di Dufan. Fandy tidak berhenti mengekori Eva dan Ramon. Sedikit senang karena hal itu membuat Fandy melihat betapa mesranya Eva dan Ramon. Tapi yang bikin kesal adalah lelaki itu sama sekali tidak bereaksi. Fandy baru akan bereaksi ketika Ramon dengan mesumnya akan mencoba menyentuh Eva. Tentu saja itu tidak cukup. Semua pengawal akan melindungi Nonanya seperti yang di lakukan Fandy pada Eva tadi, Eva hanya ingin Fandy melakukan lebih. Misalnya, melarang Ramon berdekatan dengan Eva, atau melarang jemari keduanya bersentuhan seperti tadi. Tapi sepertinya itu hanyalah mimpi, Fandy tidak mungkin seposesif itu.

“Kita ke Mall.” Perintah Eva dengan nada ketus.

“Maaf Nona, anda harus ke kampus.”

“Kamu apaan sih? Kamu hanya pengawalku, nggak berhak ngatur kemanapun aku mau!” Eva benar-benar tampak kesal.

“Baik.” Fandy menjawab dengan formal.

“Aku benci kamu, tahu nggak?”

Fandy hanya diam, dan itu membuat Eva semakin kesal.

“Fandy! Aku ngomong sama kamu, tahu!”

“Ya, Nona.”

“Ah! Lupakan! Pokoknya aku mau ke mall saat ini juga. Mending aku buka toko aksesorisku kembali dari pada ngampus.” Fandy tidak menjawab, ia memilih menuruti apa yang di perintahkan Eva. Meski sebenarnya dalam hati Fandy juga merasa sedikit kesal.

Kesal? Entahlah! Fandy sendiri bahkan tidak mengerti ia kesal karena apa.

***

“Jadi, apa yang kamu dapat?” seorang wanita bertanya pada seorang lelaki yang berpakaian hitam-hitam seperti seorang mata-mata.

“Ini, Nyonya. Nona Evelyn menjalankan aktifitasnya seperti sebelum-sebelumnya, hanya saja, sekarang ini dia selalu bersama dengan seseorang.” Si lelaki itu menyodorkan beberapa foto-gfoto hasil dari memata-matai seorang targetnya.

Si wanita mengamati dengan  teliti foto-foto tersebut. “Pengawal? Dia ada yang ngawal?”

“Ya, sepertinya begitu, nyonya.”

“Brengsek! Ini pasti rencana Nick agar aku tidak bisa dekat dengan Evelyn. Sialan!” Wanita itu mengumpat keras-keras.

“Ada apa, sayang?” sebuah suara lainnya datang dari ruangan berbeda. Seorang lelaki tinggi besar datang menghampiri wanita tersebut. Dengan manja si wanita bergelayut mesra di lengan lelaki tersebut.

“Nick, dia brengsek! Dia memberi pengawal pada Evelyn. Aku tahu dia melakukan itu karena tidak ingin aku dekat dengan Evelyn. Bagaimanapun juga, Evelyn adalah puteriku.” Si wanita menyodorkan foto-foto tersebut pada si lelaki.

Si lelaki hanya tersenyum miring. “Tenang sayang, kamu bisa mendapatkan Evelyn beserta aset-aset dari suami bodohmu itu. kita hanya menunggu waktunya saja.” Si wanita tersenyum puas.

Nick, aku akan mendapatkan semuanya, Evelyn dan juga semua yang kamu punya. Itu sumpahku…

***

Eva kesal. Sangat kesal.

Bagaimana tidak, sat ini Fandy sedang berdiri tegap khas pengawal-pengawal pada umumnya, lelaki itu berdiri tepat di sebelah pintu masuk toko aksesoris milik Eva dengan wajah sangarnya. Astaga, bagaimana ada orang yang mau mampir ke tokonya jika tokonya tersebut di jaga oleh Fandy?

Dengan kesal Eva menghampiri Fandy. “Fan, apa kamu nggak bisa masuk dan duduk saja di sana?”

“Tidak Nona, saya akan tetap di sini.”

“Kamu gila, ya? Mana ada yang mau mampir ke tokoku kalau tokoku di jaga ketat olehmu?”

“Saya tidak menjaga ketat.”

“Ya, tapi ini,” Eva mengusap kening Fandy yang berkerut. “Ini.” Usapan Eva turun pada mata Fandy. “Dan ini.” Kali ini Eva mengusap bibir Fandy. “Menegaskan jika kamu sedang menjaga toko ini dengan sangat ketat. Seakan ada sesuatu berharga di dalamnya.”

“Maksud Nona Evelyn?”

Eva menghela napas panjang. “Maksudku, kamu seperti sedang menjaga sebuah berlian. Nggak usah terlalu serius. Santai saja.”

“Saya memang sedang menjaga sebuah berlian.”

Eva tampak tidak mengerti. Tapi kemudian ia berpikir kalo mungkin saja Fandy menganggapnya sebagai sebuah berlian yang sangat berharga. Pipi Eva merona merah saat mendapati pemikiran tersebut.

“Berlian bagi keluarga Mayers.” Dan setelah Fandy melanjutkan kalimatnya, Eva kembali cemberut.

“Aish! Kamu nggak asik.” Eva memukul lengan Fandy dengan kesal, lalu ia kembali masuk ke dalam toko aksesorisnya sambil tak berhenti menggerutu kesal.

Ahh!! Fandy benar-benar menyebalkan. Pikirnya.

Sedangkan Fandy sendiri hanya menatap Eva dengan bingung. Gadis aneh! Memangnya dia salah bicara? Atau memang gadis itu selalu aneh seperti ini sikapnya? Dasar gadis manja! Pikir Fandy.

***

Elisabeth Mayers memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat puteranya yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Elisabeth tersenyum saat menyadari jika puteranya tersebuk kini sudah menjadi lelaki dewasa dengan seorang puteri cantiknya. Ah.. rasanya baru kemarin ia memiliki bayi mungil.

“Apa aku mengganggu?” suara Elisabeth membuat Nick mengangkat wajahnya.

Nick tersenyum kepada sang ibu. “Tidak Bu, masuk saja.”

Sang ibu akhirnya masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang kerja puteranya. “Kamu masih sama dengan dulu Nick, pekerja keras.”

Nick tersenyum. “Menurun dari ayah.” Jawabnya.

Elisabeth tertawa lebar. “Nick, sebenarnya aku khawatir dengan Evelyn. Kenapa kita tidak memboyongnya ke negara kita saja? Di sini ibu khawatir jika mungkin saja tiba-tiba Maria berbuat nekat.”

“Ibu.” Nikck berjalan menuju ke arah ibunya, berjongkok di hadapan ibunya lalu menggenggam erat kedua telapak tangan ibunya yang sudah renta. “Maria tidak akan melakukan hal nekat. Bagaimanapun juga, Evelyn adalah puterinya ia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak.”

“Tetap saja ibu tidak tenang. Evelyn cucuku satu-satunya, dia pewaris semua aset keluarga kita. Akan banyak sekali orang yang ingin menjatuhkannya, termasuk istrimu yang licik itu.”

Nick tersenyum. “Maria tidak akan bisa menyentuh Evelyn. Evelyn sudah di jaga dengan baik oleh pengawalnya.”

“Sejujurnya, ibu masih sangsi. Evelyn hanya ingin di jaga oleh seorang pengawal, bagi ibu itu tidak cukup.”

“Ibu, ini Jakarta. Evelyn hidup di sini dari kecil, pergaulannya akan terganggu jika banyak seorang yang mengawalnya. Lelaki itu sudah cukup untuk mengawalnya. Nick percaya.”

“Tapi kalau istrimu kembali?”

“Saya sendiri yang akan menghadapinya, Bu.”  Nick berdiri, kemudian menatap jauh ke arah luar jendelanya.

Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, Maria, tidak aku, Evelyn, atau bahkan hartaku yang selama ini kamu incar.

***

“Kamu benar-benar menyebalkan! Pokoknya mulai besok, ganti style kamu.”

“Saya tidak mengerti apa maksud anda Nona.” Fandy masih setia mengikuti langkah Eva masuk ke dalam rumahnya. Hari sudah malam, dan Eva baru pulang dari toko aksesorisnya. Sebenarnya tadi Eva meminta di antar di sebuah kelab malam, tapi Fandy menolak dengan keras. Tempat seperti itu sangat rawan kekerasan, jadi Fandy akan menjaga Eva sebisa mungkin menjauhkan Nonanya itu dari tempat yang menurutnya membahayakan.

Eva menghentikan langkahnya seketika dan itu membuat Fandy tidak sengaja menubruknya dari belakang.

“Dengar! Aku benci dengan kekakuanmu,dengan baju seragamu ini, dan juga dengan sikapmu yang seenaknya sendiri. Besok aku akan merubahmu.” Eva berkata dengan tegas sembari menunjuk-nunjuk dada Fandy.

“Tapi Nona.”

“Pokoknya kamu harus berubah. Untuk aku.” Eva merajuk manja.

“Ada apa ini?” suara yang terdengar berwibawah itu membuat Eva dan Fandy menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Di sana tampak Nick Mayers, ayah dari Eva.

“Papa.” Eva menghambur memeluk ayahnya.

“Ada apa sayang? Kenapa kamu tampak marah-marah?”

“Pa, aku mau dia berubah. Aku nggak suka melihatnya kaku begitu. Aku ingin dia mengawalku kemanapun aku pergi, tapi tidak dengan pakaiannya yang kaku dan membosankan seperti itu.”

Sang ayah tersenyum melihat tingkah manja puterinya. “Baiklah, sekarang, masuk saja ke dalam kamarmu, papa mau bicara berdua dengan dia.”

Eva mengecup lembut pipi sang Papa. “Ingat Fan, besok kita akan perbaiki penampilan kamu.” Eva tertawa lebar sambil meninggalkan fandy dan ayahnya.

“Ikut ke ruangan saya.” Ucap Nick pada Fandy. Dan Fandy akhirnya menuruti perintah atasannya tersebut.

***

Nick membuka berkas di hadapannya sesekali menatap ke arah Fandy yang masih setia berdiri tegap di hadapannya.

“Jadi, kamu Fandy, 27 tahun, dengan keahlian menembak dan memainkan pisau?” Nick melirik sekilas ke arah Fandy. “Yatim piatu, besar di sebuah panti asuhan?”

“Saya, Tuan.”

Nick tersenyum kemudian menuju ke arah Fandy dan menepuk bahu lelaki tersebut. “Jangan terlalu serius. Saya hanya ingin mengenal seorang yang saya percaya untuk menjaga puteri saya.”

Fandy menganggukkan kepalanya.

“Evelyn besar sebagai puteri tunggal. Dia pasti akan sangat menyebalkan dengan sikapnya. Kehidupan sosialnya tidak susah karena dia dapat dengan mudah berteman dengan siapapun, dan itu menjadikannya sosok yang seperti saat ini. Ceria, agresif tapi sedikit nakal.”

Fandy mendengar dengan seksama meski sebenarnya dia tidak tahu apa yang di maksud ayah Eva mengatakan semua ini padanya.

“Kamu mungkin bertanya-tanya, untuk apa Evelyn di kawal ketat. Jawabannya adalah karena di luar sana akan banyak sekali orang yang menginginkan puteri saya itu.” Ayah Eva menghela napas panjang. “Jadi Fandy, maukah kamu dengan bersungguh-sungguh menjaga Evelyn untuk saya?”

Fandy mengangguk dengan patuh. “Itu sudah menjadi pekerjaan saya, Tuan.”

“Bukan hanya sebagai pengawal, tapi juga pelindung, teman, atau bahkan sahabat, apa kamu mampu?”

“Saya pikir tugas saya hanya mengawal Nona Evelyn.”

“Saya akan membayar kamu berapapun, asal kamu selalu ada untuk dia.”

“Saya akan berusaha yang terbaik, Tuan.”

Ayah Eva kembali menepuk bahu Fandy. “Dia bukan hanya membutuhkan seorang pengawal, dia juga butuh teman, dia kesepihan, jika dulu dia bisa bercerita dengan ibunya, maka kini dia tidak memiliki ibu lagi. Maukah kamu mengisi kekosongan itu?”

Fandy mengangguk patuh.

“Bersahabatlah dengan dia. Saya tidak bisa selalu bersamanya, karena itu saya ingin kamu selalu setia di sisinya.”

Fandy kembali mengangguk patuh.

“Oke, hanya itu saja. Ingat, saya percaya dengan kamu. Kamu yang paling baik di antara yang terbaik. Kamu boleh pergi.”

“Baik, Tuan.” Fandy akhirnya berbvalik dan akan pergi meninggalkan Nick, tapi kemudian panggilan Nick menghentikan langkahnya. “Fan, kamar kamu sudah di pindahkan tepat di sebelah kamar Evelyn.”

Fandy hanya mengangguk, meski dalam hati Fandy sedikit kesal karena harus selalu berdekatan dengan Eva meski dalam hal kamar tidur.

***

Fandy berjalan menuju ke kamar barunya yang letaknya bersebelahan dengan kamar Eva. Ketika Fandy berjalan dengan tenang, tiba-tiba sebuah lengan merengkuhnya. Dengan gerakan reflek Fandy memutar lengan tersebut dan menguncinya.

“Fan! Kamu apa-apaan sih? Lepasin!”

Astaga. Itu Eva.

Dengan cepat Fandy melepaskan kunciannya. Eva mengaduk sesekali mengusap lengannya sendiri.

“Astaga, kamu menakutkan. Ini naku, kamu pikir siapa?”

“Maaf Nona, saya hanya reflek.”

Eva mendengus sebal. “Ayo masuk.”

“Masuk? Kemana?”

“Ke kamarku, memangnya kemana lagi?”

“Maaf, Nona. Ini sudah malam. Silahkan istirahat. Saya akan berjaga di sini.”

“Menyebalkan.” Eva dengan sekuat tenaga menarik lengan Fandy untuk masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya mau tidak mau Fandy mengikuti kemauan Eva.

Ketika sudah berada di dalam kamar Eva, dengan berani Eva membuka setelah yang di kenakan Fandy.

“Kamu mau apa?”

“Mau apa lagi? Kita akan tidur bersama.”

Fandy menggenggam erat pergelanga tangan Eva. “Jangan macam-macam.”

Eva mendengus sebal. “Aku nggak macam-macam, tahu!” Eva melanjutkan membuka rompi yang di kenakan Fandy, kemudian membuka kancing-kancing kemeja Fandy.

“Berhenti!”

“Aku nggak mau berhenti.”

“Berhenti atau aku akan-”

“Akan apa? Akan apa?” dengan berani, Eva malah merangkulkan lengannya pada leher Fandy seakan menantang lelaki tersebut.

Oh, jangan di tanya lagi apa yang kini Fandy rasakan. Ia adalah lelaki dewasa yang tentunya dapat tergoda jika di goda seperti saat ini. Eva tidak berhenti menempelnya, menggesekkan tubuhnya yang menggoda itu pada tubuh Fandy, dan Fandy merasa jika dirinya tak dapat menahan diri lagi. Secepat kilat Fandy menangkup kedua pipi Eva kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir ranum gadis tersebut. Melumatnya dengan panas hingga Fandy merasa lupa diri.

Eva terkejut, sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Fandy terhadapnya. Ia hanya berusaha menggoda Fandy, dan Eva tidak menyangka jika Fandy akan terpancing begitu saja dengan godaan yang ia berikan.

Dengan sigap Fandy mulai sedikit mengangkat tubuh Eva, membawa Eva ke atas ranjang gadis tersebut tanpa melepaskan tautan bibirnya. Oh, Eva merasakan jika kini Fandy adalah lelaki terpanas yang pernah ia temui, ia tidak pernah menginginkan seorang lelaki seperti ia menginginkan Fandy, haruskah ia memberikan kehormatannya pada seorang Fandy?

Sedangkan Fandy sendiri sudah tidak bisa berhenti, tubuhnya menegang seutuhnya ketika gairah primitif tengah menguasainya. Ia menginginkan gadis ini, gadis yang kini masih bertautan bibir dengannya. Haruskah ia melanjutkan apa yang ia inginkan?

-TBC-

Evelyn – Chapter 3 (Rasa Aneh)

Comments 7 Standard

Evelyn

“Apa yang anda lakukan, Nona?”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Eva, hanya panggil Eva.  Atau mungkin sayang.”

Fandy menghela napas panjang. “Apa yang kamu mau?”

Eva tersenyum ketika Fandy sudah tidak bersikap formal padanya.

“Aku mau kamu.” Eva mendongakkan wajahnya seakan menantang Fandy.

“Berhenti main-main, aku tidak suka dengan gadis kecil sepertimu.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Gadis kecil katamu? Walau umurku belum sembilan belas tahun, tapi aku sudah bisa memuaskan laki-laki, tahu!”

“Aku tidak suka perempuan yang sudah pernah memuaskan laki-laki.”

“Uum, maksudku aku belum pernah, tapi aku bisa.”

“Lupakan, lebih baik kamu jauhi aku.”

“Tidak, aku tidak akan menjauhimu, dan kamu tidak akan bisa menjauh dariku.”

“Kenapa?”

“Karena kamu milikku.” Kalimat itu di katakan Eva dengan penuh penekanan. Eva semakin mendekatkan dirinya, kakinya bahkan sudah berjinjit untuk menggapai wajah Fandy yang memang jauh lebih tinggi darinya. “Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

***

Chapter 3

Rasa Aneh-

 

“Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

Dengan sigap Fandi meremas kedua pundak Eva dengan kedua tangannya, kemudian menjauhkan gadis tersebut dari tubuhnya.

“Berhenti menempel padaku, asal kamu tahu, aku bisa menolak apapun yang tidak aku suka.”

Eva tersenyum mengejek. “Sayangnya, aku bukan salah satu dari sesuatu yang tidak kamu suka.”

“Jangan terlalu percaya diri.”

“Oke, bagaimana dengan ini?” Eva berjinjit kemudian menggapai bibir Fandy dengan bibirnya, mengecup singkat bibir lelaki tersebut dengan bibir lembutnya.

Fandy benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan Eva, bagaimana mungkin gadis ini begitu berani menciumnya? Apa gadis ini tidak memiliki rasa malu lagi?

“Apa yang kamu lakukan?” Fandy menjauhkan Eva dari tubuhnya.

“Menciummu.”

Fandy mendengus sebal. “Dengar, tidak semua pria suka di goda bahkan di cium sembarangan oleh gadis kecil sepertimu.”

“Aku bukan gadis kecil.”

“Bagiku kamu gadis kecil.”

Dengan kesal Eva mendorong-dorong tubuh Fandy sekuat tenaganya hingga lelaki itu terjengkang di atas ranjang besar milik Eva.

“Aku akan memperlihatkan padamu jika aku bukan gadis kecil lagi.”

Dengan sigap Eva naik ke atas tubuh Fandy yang kini sudah setengah terbaring, jemari Eva dengan cepat membuka setelan yang masih di kenakan oleh Fandy. Eva tertegun menatap pakaian lelaki tersebut, sebuah rompi dengan sebuah pistol di dalamnya.

“Kenapa?” tanya Fandy saat melihat Eva diam menatap pistolnya.

“Kamu punya pistol?”

“Semua pengawal di rumah ini punya.”

“Kamu bisa menembak?”

“Aku bahkan bisa membunuh seseorang yang ku kehendaki.”

“Orang seperti apa?” Eva bertanya dengan wajah polosnya.

“Orang seperti kamu, pemaksa yang hampir memperkosa pengawalnya sendiri.” sindir Fandy.

Eva bangkit seketika. “Hei, aku bukan pemerkosa, tahu!”

Fandy ikut bangkit. “Apapun itu, aku tidak suka kamu berperilaku genit padaku.”

Eva tersenyum miring. “Tidak suka? Aku bahkan merasakan bukti gairahmu saat aku menaikimu tadi.” sindir Eva sambil tertawa lebar.

Fandy mencoba tidak menghiraukan sindiran Eva tadi. Ia memilih merapikan kembali pakaiannya.

“Kenapa aku di suruh ke sini?”

“Aku cuma mau bilang, kalau kamar kamu besok sudah pindah.”

“Pindah?”

“Ya, kamu tidak lagi tidur di paviliun belakang rumah ini, tapi akan tidur di sebelah kamarku ini.”

“Apa?!” Fandy tercengang dan Eva tertawa lebar. Oh, Fandy masih tak habis pikir, sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis di hadapannya tersebut?

“Ya, karena kamu sudah jadi pacarku, maka kamu nggak boleh jauh-jauh dariku.”

“Aku bukan pacarmu.”

“Ya, kamu pacarku!”

Dan Fandy mengalah, ia hanya bisa menghela napas panjang. “Apa ada lagi?”

“Enggak.”

Setelah jawaban Eva tersebut, Fandy bersiap keluar dari dalam kamar Eva, tapi kemudian dengan manjanya Eva bergelayut pada lengan Fandy.

“Jangan pergi.”

“Aku harus istirahat, besok harus jagain kamu lagi.”

“Kamu baru boleh pergi setelah aku sudah tidur.” Eva berucap dengan nada yang di buat manja.

“Apa?”

“Pokoknya aku mau di temani sampai aku tidur!” Eva menyeret Fandy untuk kembali duduk di atas ranjangnya, setelah itu ia melemparkan tubuhnya sendiri di atas ranjang. “Ayo, kemarilah, peluk aku.”

“Kamu gila?” Fandy masih tidak habis pikir dengan Eva. Sial! Apa gadis itu tidak bisa melihat ketegangan sialan di pangkal pahanya tadi? Apa Eva memang berniat menggodanya hingga ia tak mampu menahan diri?

“Iya, aku memang gila, sekarang cepat kemarilah, aku tidak bisa tidur kalau tidak di peluk.”

“Memangnya selama ini siapa yang peluk kamu saat kamu tidur?”

“Mama, dan sekarang mama nggak ada, jadi kamu yang harus memelukku sampai aku tertidur pulas.”

Fandy mengembuskan napas kasar. Tapi ia tetap mematuhi apa yang di perintahkan Eva. Ah sial, gadis kecil ini nyatanya mampu membuatnya menegang seutuhnya.

***

Paginya, Eva terbangun sendiri. Seperti kemarin, ia terbangun karena mendengar bisik-bisik dari para pelayan di kamarnya. Eva bangkit kemudian menatap di sekeliling kamarnya. Fandy sudah tidak ada, apa lelaki itu pergi saat ia masih tidur? Atau baru pergi pagi ini?

Eva Berdiri, kemudian seorang pelayan menghampirinya, membawakannya sebuah handuk sembari berkata “Air hangat sudah siap, Nona.”

Seperti anak kecil, Eva menuju ke arah kamar mandinya sambil sesekali mengucek matanya.

“Dimana Fandy?” tanyanya pada pelayannya tersebut.

“Fandy?” sang pelayan tampak bingung.

“Iya, Fandy, pengawalku.”

“Oh, Fandy tentu ada di paviliun belakang mansion ini, Nona.”

“Apa? Bukannya tadi malam dia tidur di sini?” tanya Eva dengan begitu polosnya.

“Tidur di sini?” sang pelayan membulatkan matanya seketika saat mengetahui fakta tersebut.

“Umm, maksudku, dia di tugaskan Nenek untuk mengawalku sampai aku tertidur pulas.”

“Oh, mungkin Fandy keluar saat anda sudah tertidur, Nona.”

Eva menggerutu kesal. “Padahal aku ingin di temani sampai pagi. Apa kalian bisa memanggilkan dia untukku?”

“Untuk apa Nona?”

“Untuk apa? Tentu saja untuk mengawalku.”

“Baik, Nona.” Dan sang pelayan akhirnya bergegas pergi meninggalkan Eva untuk mencari keberadaan Fandy.

***

Fandy mendengus sebal karena pagi-pagi sekali dirinya sudah di suruh untuk menghadap gadis manja yang bernama Evelyn. Bukan tanpa alasan, karena semalaman ia sudah tidak tidur karena di peluk oleh Eva, dan Fandy sendiri tidak mampu menghilangkan ketertarikan secara fisik terhadap gadis tersebut.

Tidak munafik, Eva adalah gadis yang sangat cantik, dan sejak tadi malam, Fandy menyadari jika gadis itu memiliki daya tarik secara fisik. Lelaki manapun akan menegang seutuhnya jika di goda oleh gadis cantik seperti Eva.

Kini, Fandy bahkan semakin kesal ketika menyadari kenyataan kalau gadis itu akan selalu menempel kepadanya mengingat ia adalah pengawal pribadi gadis tersebut.

Fandy mengetuk pintu besar di hadapannya, itu pintu kamar Eva. Entah kenapa jantungnya mulai berdegup tak menentu karena akan masuk ke dalam kamar tersebut.

“Masuk.” Suara manja itu terdengar khas di telinga Fandy, suara Eva.

Fandy akhirnya membuka pintu di hadapannya, kemudian masuk, dan berakhir mengumpati dirinya sendiri sambil menundukkan kepalanya ketika melihat Eva yang masih setengah telanjang dengan handuknya.

Tanpa tahu malu, Eva malah berlari mendekat ke arah Fandy. “Akhirnya kamu datang juga.” Ia bersorak gembira, sedangkan Fandy dengan canggung menolehkan kepalanya ke arah lain.

“Ada apa, Nona?”

Eva kesal karena Fandy kembali bersikap formal padanya. “Apaan sih? Tadi malam kita sudah sepakat kalau kamu nggak akan seformal ini lagi padaku.”

“Maaf Nona Evelyn, jika tidak ada yang penting, saya akan keluar.”

Eva menarik lengan Fandy yang sudah membalikkan tubuhnya untuk segera keluar dari kamar Eva, tapi kemudian tiba-tiba handuk yang di kenakan Eva terlepas dan jatuh di lantai.  Fandy membulatkan matanya seketika saat menatap tubuh polos gadis di hadapannya tersebut.

“Hei! Apa yang kamu lihat!” sontak Eva meraih handuknya kemudian mengenakannya kembali, sedangkan Fandy masih shock dengan apa yang baru saja ia lihat tadi.

Tubuh itu benar-benar tampak sempurna, berwarna putih pucat, sedangkan kulitnya tampak kencang dan halus, oh, jangan lupakan dua payudara mungil yang mungkin saja akan terasa pas dalam genggamannya. Fandy menggelengkan kepalanya seketika saat pikiran-pikiran jorok mulai menguasai kepalanya.

“Maaf.” Fandy membalikkan badan membelakangi Eva. “Nona Evelyn, silahkan mengenakan pakaian terlebih dahulu, saya akan keluar sebentar.” Dan tanpa menunggu lagi, Fandy keluar.

Eva hanya mampu menatap punggung Fandy yang menghilang dari balik pintu kamarnya. Ah, lelaki itu sangat manis. Pikirnya.

***

Eva keluar dari kamarnya setengah jam kemudian, ia sudah cantik dengan T-shirt ketatnya yang di padukan dengan celana jeans robek-robek ala anak muda.

Eva tersenyum saat melihat Fandy yang masih berdiri di sebelah pintu kamarnya. “Ayo.” ucapnya sambil merangkul lengan Fandy.

“Nona Evelyn, tolong jangan bersikap seperti ini pada saya.” Fandy melepas paksa rangkulan tangan Eva karena merasa sedikit risih dengan apa yang di lakukan gadis tersebut padanya.

“Tuan Fandy, tolong jangan bersikap seperti ini pada saya.” Eva mengulangi kalimat Fandy.

“Bersikap seperti apa maksud Nona?”

“Bersikap kaku, datar dan sangat formal kepadaku, aku nggak suka, tahu!”

“Ini memang sudah seharusnya, karena saya pengawal anda.”

“Kamu pacarku! Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu pacarku.”

“Nona-”

“Hai, cucu nenek sudah cantik.” Suara di belakang Fandy membuat Fandy menghentikan kalimatnya. Itu nenek Eva, dan Fandy tidak akan mendebat Eva di hadapan neneknya.

“Hai Nek.” Eva menyapa dengan riang sambil kembali merangkul lengan Fandy.

“Mau kemana? Kok sudah cantik? Berangkat kuliah?”

“Enggak Nek, aku ada kelas sore, pagi ini aku mau ajak Fandy jalan.”

Sang Nenek mengangkat sebelah alisnya sembari memperhatikan kedekatan Eva dan Fandy. “Kalian berkencan?”

“Tidak.”

“Ya.”

Eva dan Fandy menjawab secara bersamaan. Eva sempat melotot ke arah Fandy ketika lelaki itu berkata tidak.

“Nenek, tidak apa-apa bukan jika aku kencan dengan Fandy?”

Sang nenek menggelengkan kepalanya. “Bukan masalah. Asal kamu senang dan ada yang menjagamu dengan baik, maka Nenek akan menyetujui apapun pilihan kamu.”

Dengan spontan, Eva memeluk tubuh neneknya. “Terimakasih, Nek.” Setelah itu akhirnya Eva pamit pada sang nenek, sedangkan Fandy sendiri masih memasang wjah datar tak berekspresinya.

***

“Kamu terlihat tidak suka kita pergi bersama.” Eva menatap Fandy dengan tatapan penuh selidik.

“Perasaan anda saja, Nona.”

Eva mendengus sebal. Fandy kembali bersikap formal padanya. Astaga, bagaimana caranya supaya ia dapat mencairkan dinginnya hati lelaki tersebut? Kemudian Eva memiliki sebuah ide. Ah, pasti menyenangkan sekali jika ia menjalankan idenya tersebut.

Eva merogoh ponsel di dalam tasnya, lalu mulai menghubungi seseorang. Itu Ramon, kekasihnya yang entah ke berapa, Eva bahkan lupa menghitung banyaknya lelaki yang menjadi kekasihnya.

“Halo Babe.”

“Hai Babe, ketemuan yuk.” Eva mengajak dengan nada manjanya.

“Beneran kamu ngajak aku ketemuan? Kamu nggak lagi ngigau, kan?”

“Astaga, kamu mau ketemuan nggak? Mumpung aku lagi di luar.”

“Oke, baby, kita ketemu di Dufan.”

Eva mendengus sebal. Dufan? Ngapain ke sana coba? “Ya sudah.” Kemudian Eva menutup teleponnya begitu saja. “Ke Dufan.” Perintahnya pada Fandy, dan Fandy hanya mangangguk patuh.

***

Lama Eva menunggu Ramon di Dufan sambil sesekali menggerutu kesal. Ramon adalah lelaki tampan tapi sedikit brengsek. Entah apa yang membuat Eva saat itu ingin memacari lelaki itu. Ah ya, itu karena taruhan dengan Icha, sahabatnya. Dan akhirnya Eva memenangkan taruhan tersebut ketika mampu menjadikan Ramon salah satu koleksi pacarnya.

Ramon sangat agresif, entah berapa kali lelaki itu mencoba mencium Eva, bahkan mencoba mengajak Eva melakukan hal baru seperti bercinta, tapi tentu saja Eva menolaknya mentah-mentah. Ramon tak lebih dari sekedar koleksinya, ia tidak memiliki perasaan apapun, satu-satunya alasan kenapa ia mempertahankan lelaki itu adalah karena ketampanannya dan kepopulerannya di kampus mereka yang membuat Eva bangga memiliki kekasih seorang Ramon.

Kini, ia mencoba memanfaatkan kehadiran Ramon untuk memancing reaksi Fandy, apa lelaki itu akan bereaksi lain? Atau hanya akan datar-datar saja seperti biasanya?

Eva menyuapkan ice cream yang tadi ia beli ke dalam mulutnya tanpa menghiraukan jika sejak tadi sebuah mata mengawasinya.

Itu Fandy yang sedang sibuk memperhatikan tingkah Eva. Eva tampak seperti gadis manja, dan entah kenapa itu mengingatkan Fandy pada Sienna. Ah, nama itu lagi. Ketika ia sibuk memperhatikan Eva, tatapan mata Eva teralih padanya.

“Kenapa menatapku seperti itu? Kamu kagum dengan kecantikanku?” Eva bertanya penuh dengan percaya diri.

Dengan datar Fandy menjawab “Saya pengawal anda, mau tidak mau saya harus mengawasi setiap gerak-gerik anda.”

Eva tertawa lebar. “Kalau begitu antar aku ke toilet.”

“Maaf, itu pengecualian.”

“Nanti kalau ada orang yang macam-macam di toilet, bagaimana?”

Fandy menghela napas panjang. “Baiklah.”

Bukannya bangkit, Eva malah tertawa lebar menertawakan Fandy. “Kamu benar-benar lucu. Aku cuma bercanda, tahu. Jangan terlalu serius jadi orang.” Eva masih tertawa lebar, tak lama, seorang pemuda datang menuju ke arah mereka, seketika Eva berdiri menyambut kedatangan pemuda tersebut.

Pemuda itu dengan spontan memeluk tubuh Eva, sebenarnya Eva sangat risih, tapi mau bagaimana lagi, rencana dia kan untuk memancing reaksi Fandy.

“Hai, kamu udah nunggu lama?”

“Iya, lama banget, dari tempat ini baru buka sampai sudah rame gini.” Eva menjawab dengan nada yang di buat semanja mungkin.

“Maaf, kupikir ini terlalu pagi.”

“Terlalu pagi? Ini sudah siang tahu! Lagian kenapa sih ke Dufan, aku kan pengen ke tempat lain.”

“Di sini lebih romantis tahu!” Ramon mencubit gemas pipi Eva. Oh, keduanya benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, dan itu tak lepas dari pandangan Fandy.

“Romantis? Kalau mau yang lebih romantis, kita bisa ke hotel terdekat.” Eva menantang sembari melingkarkan lengannya pada leher Ramon. Oh, ini benar-benar bukan dirinya, Eva sungguh risih dengan kedekatan yang ia ciptakan bersama Ramon, tapi ia menahannya, ia hanya ingin melihat reaksi yang di tampilkan Fandy. Tapi sungguh sial, karena Fandy tampak cuek dan datar-datar saja padanya.

“Kamu yakin mau ke hotel denganku?” Ramon melepaskan pelukannya pada Eva seketika. Ia benar-benar tidak menyangka jika Eva akan berkata seperti itu padanya.

“Ya, tentu saja.” Eva masih kukuh pada pendiriannya meski hati nuraninya mengatakan jika tidak baik bermain-main dengan seorang Ramon.

“Baiklah, sepulang dari sini kita akan ke hotel.” Ramon tampak sangat bersemangat.

“Maaf, nanti Nona Evelyn harus ke kampus.” Suara datar Fandy membuat Eva dan Ramon menatap ke arahnya.

“Lo siapa?”

“Saya pengawal pribadi Nona Evelyn.”

Ramon tertawa mengejek. “Pengawal? Lo bercanda?”

“Ramon, dia memang pengawalku. Dan kamu Fan, urusan kamu hanya menjagaku, bukan mengatur hidupku.” Eva mencoba membuat Fandy kesal dengan cara membantah lelaki itu, tapi tentu saja Eva tidak akan mendapatkan keinginannya.

“Nenek anda memerintahkan saya untuk mengawal sekaligus mengawasi anda.”

“Oh ya? Jadi aku sudah seperti tawanan, gitu?”

Fandy hanya diam. Eva kemudian mendekat ke arah Fandy, menatap Fandy dengan tatapn menantangnya.

“Fan, aku curiga jika kamu menyalahgunakan pekerjaanmu untuk mengekangku.”

“Maaf?” Fandy tampak tak mengerti.

Eva tertawa mengejek. “Begini, akui saja kalau kamu tidak suka melihat kedekatanku dengan kekasihku.”

“Apa?” Fandy tampak terkejut dengan tuduhan yang di tunjukkan Eva padanya. “Maaf Nona Evelyn, anda berpikir terlalu jauh.”

Eva tampak kesal dengan jawaban yang di berikan Fandy. “Kalau begitu tinggalkan aku, aku akan berkencan dengan kekasihku sendiri tanpa kamu mengawalku.”

“Maaf, saya tidak bisa.”

“Fandy.”

“Sudah, tinggalkan saja dia.” Secepat kilat Ramon meraih pergelangan tangan Eva kemudian menariknya pergi dari hadapan Fandy, tapi baru beberapa langkah, Fandy menyusul, dan dalam sekejap mata Fandy sudah memisahkan Eva dari Ramon.

“Saya tidak akan membiarkan anda mengajak Nona Evelyn pergi tanpa saya.” Ekspresi Fandy masih tetap datar-datar saja, tapi perkataan itu di ucapkan dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Fandy merasakan jika lelaki di hadapannya itu bukanlah lelaki yang baik, instingnya mengatakan jika ia tidak boleh meninggalkan Eva hanya berdua dengan lelaki itu. Tapi di sisi lain Fandy ragu, apa itu hanya instingnya yang terlalu tajam, atau ini ada campur tangan dari sebuah rasa aneh yang sejak tadi sedikit menggelitiknya?

-TBC-

Evelyn – Chapter 2 (Kamu milikku)

Comments 4 Standard

Evelyn

Fandy, ini beneran kamu?” sekali lagi Eva bertanya tanpa menghilangkan nada girangnya sembari terus berjalan mendekat.

“Ya, Nona.” Jawab lelaki itu penuh dengan hormat.

Oh, my God.

Tuhan benar-benar sayang padanya, Eva tahu itu. Bagaimana mungkin semuanya bisa kebetulan seperti ini? Dan Fandy, lelaki itu… Astaga, setelah lelaki itu berhenti menjadi pengawal temannya, Eva pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan lelaki tersebut tapi nyatanya….

“Nenek, Aku mau dia.” Eva berkata dengan penuh semangat dan senyuman bahagianya.

“Apa maksud kamu, Evelyn?”

“Dia, aku mau dia yang menjadi pengawal pribadiku.” jawab Eva penuh keyakinan. Oh, pasti akan sangat menyenangkan ketika memiliki Fandy sebagai pengawal pribadinya.

***  

Chapter 2

-Kamu milikku-

 

Eva masih tidak berhenti menatap sosok yang sedang sibuk mengemudikan mobilnya tepat di sebelahnya. Bahkan Eva terlihat sengaja menatap lelaki itu secara terang-terangan seakan ingin mengetahui reaksi dari lelaki tersebut.

“Apa yang anda inginkan, Nona?” tanya lelaki tersebut dengan begitu datar tanpa menolehkan wajahnya pada Eva yang duduk di sebelahnya

Eva tersenyum sambil menjawab. “Kamu.”

“Saya?”

“Ya, kamu, kamu menjadi pacarku.”

“Maaf, itu bukan termasuk dalam pekerjaan saya.”

“Oh, memang bukan. Tapi itu perintah untuk kamu.”

“Perintah?”

Eva tersenyum menyeringai. “Ya, perintah. Kamu sudah menjadi pengawal pribadiku, yang artinya tunduk dengan perintahku, maka sekarang aku memerintahkan kamu untuk menjadi pacarku.”

Fandy mencengkeram erat kemudi mobil yang sedang ia kendarai. “Kenapa harus saya, Nona?”

“Karena aku suka.”

“Hanya karena itu?”

“Ya. Memangnya apa lagi?”

“Anda tidak bisa meminta orang asing menjadi kekasih anda hanya karena anda suka, Nona.”

“Lalu aku harus memintanya karena apa? Apa aku harus menunggu sampai dia menyukaiku?”

“Ya, begitu lebih baik.”

“Well, aku nggak perlu nunggu, karena sebentar lagi kamu akan menyukaiku.” Eva menjawab dengan penuh percaya diri. Sedangkan Fandy tidak lagi menjawab pernyataan Eva tersebut.

“Fan, aku boleh tanya nggak?” Eva tampak serius menatap Fandy.

Fandy melirik sebentar ke arah Eva kemudian menjawab “Silahkan, Nona.”

“Kamu tampan sekali. Bagaimana bisa orang setampan kamu menjadi seorang pengawal?”

“Saya tidak bisa menjawab.” Fandy berkata dengan nada yang sangat datar. Dan itu membuat Eva tertawa lebar sambil memegangi perutnya sendiri.

Astaga, Fandy benar-benar lucu. Lelaki itu bersikap sedatar mungkin padanya tapi lelaki itu tidak bisa menyembunyikan sedikit rona merah di pipinya karena malu dengan sanjungan yang di berikan oleh Eva.

“Fan, kamu benar-benar harus menjadi pacarku. Pokoknya harus.” Dan Eva kembali tertawa lebar melihat sikap Fandy yang kaku dan begitu menggemaskan di matanya. Oh, ini adalah pertama kalinya Eva bertemu dengan sosok yang memiliki karakter seperti Fandy, dan itu membuat Eva menginginkan Fandy menjadi salah satu deretan lelaki yang di pacarinya. Ia menginginkan Fandy, sangat menginginkannya.

***

Fandy menegang ketika Eva sampai di kampus tempat gadis itu menimba ilmu. Bukan tanpa alasan, karena Fandy tadi juga sempat mendengar Eva berceloteh jika gadis itu satu kampus dengan sahabatnya yang bernama Sienna, mantan atasan Fandy, dan yang kini masih di cintai oleh Fandy.

“Oke, apa kamu ikut turun?”

“Saya hanya akan mengawasi dari sini saja, Nona.”

“Benarkah? Untuk hari ini aku akan membiarkanmu berada di dalam mobil saja karena aku tidak ingin mengenalkanmu pada temanku sebagai kekasihku ketika pakaianmu masih sekaku itu.” Eva menatap setelan yang di kenakan Fandy, lelaki itu benar-benar tampak kaku tak bernyawa di matanya.

“Saya bukan kekasih anda, Nona.”

Well, sayang sekali. Yang memutuskan seperti apa hubungan kita itu bukan kamu, tapi aku. Dan mulai saat ini kamu kekasihku, kekasih yang melindungiku.”

“Terserah apa kata Nona Evelyn.”

“Ngomong-ngomong, berhenti memanggilku dengan nama itu, aku benar-benar merasa seperti seorang tuan puteri.”

“Anda memang seorang tuan puteri sekarang.”

Eva tertawa lebar. “Ya, aku mau jadi tuan puteri kalau kamu jadi pangerannya.”

Fandy mengerutkan keningnya. Apa kini gadis itu sedang merayunya? Oh yang benar saja. Darimana datangnya gadis tidak tahu malu ini?

“Oke, aku akan pergi, Icha pasti sudah menungguku. Untung Sienna sudah mulai cuti dari minggu kemarin, kalau tidak, dia pasti mengomel karena aku telat.”

Dan Fandy hanya membatu. Sienna cuti kuliahnya? Itu tandanya ia tidak perlu mengendalikan diri lagi karena tidak akan bertemu dengan wanita tersebut. Lamunan Fandy tentang Sienna terhenti ketika sesuatu basah menempel pada pipinya. Itu bibir Eva, Sial! Gadis itu mencium pipinya begitu saja tanpa aba-aba.

“Aku pergi dulu, sayang. Tungguin aku, oke?” Dengan begitu centil Eva keluar dari mobilnyakemudian meninggalkan Fandy begitu saja yang masih terpaku sesekali mengusap pipinya dimana  bekas kecupan Eva berada.

***

Eva tidak berhenti tertawa lebar hingga membuat sahabatnya, Icha, tidak berhenti menggelengkan kepalanya karena kelakuan gadis tersebut. Eva benar-benar terlihat seperti orang gila.

“Kamu kenapa sih? Kayak orang sinting.”

“Aku emang sinting. Hahahahaha.”

Dan Icha hanya menggelengkan kepalanya karena muak.

“Pokoknya, nanti sepulang dari kampus, kamu musti ikut aku.”

“Kemana? Kalau kencan dengan salah satu cowok kmu, mending enggak deh.” Ya, Eva memang kerap mengajak Icha untuk menemaninya kencan dengan salah seorang kekasihnya, dan itu benar-benar membuat Icha kesal.

“Enggak lah.”

“Terus?”

“Pokoknya ke suatu tempat yang kamu nggak akan nyangka kalo ada di sana bersama aku.”

“Apaan sih?” Icha tampak tidak sabar dengan rahasia yang di sembunyikan Eva.

“Ada deh, coba Sienna masih ngampus, mungkin bakal seru kalau dia juga ikut.”  Eva sedikit menggerutu. Ya, sahabatnya yang bernama Sienna itu memang sudah tidak ke kampus lagi karena cuti hamil. Dan itu sedikit membuat Eva bosan.

“Emang kamu nggak ke toko aksesorismu nanti?”

“Nggak. Bahkan aku sempat berpikir mau menutup toko itu.”

“Bukannya dari sana kamu dapat uang jajan tambahan?”

Eva tertawa lebar. “Uang jajan tambahan? Kamu bercanda? Aku nggak butuh lagi uang jajan tambahan.” Eva masih tertawa lebar.

“Kamu benar-benar gila.” Dengan wajah datar, akhirnya Icha memilih meninggalkan Eva yang masih tertawa lebar seperti orang gila.

***

Fandy masih duduk santai di dalam mobil Eva sembari menyalakan lagu-lagu yang di sediakan dalam mobil tersebut. Matanya terpejam, tapi ia tidak menurunkan kewaspadaannya.

Sesekali ia mengerutkan keningnya ketika menyadari sebuah bayangan yang sedikit mencurigakan tak jauh dari gerbang kampus Eva.

Siapa itu? Kenapa tampak sedikit mencurigakan? Fandy membuka matanya seketika saat rasa penasaran mulai mengetuk benaknya.

Lelaki itu mengenakan celana jeans, dengan jaket kulitnya. Ia mengenakan topi dan juga sedang merokok sembari berjalan mondar-mandir dengan kepala yang sesekali melonggok ke arah kampus Eva.

Apa ada masalah?

Yang Fandy lakukan hanya menunggu. Belum tentu juga lelaki itu memiliki masalah, kalaupun iya, belum tentu masalahnya dengan Eva, gadis yang harus ia kawal. Tapi tak lama, kewaspadaan Fandy mulai meningkat ketika mendapati Eva yang berjalan keluar dari kampusnya dengan seorang gadis lainnya, pada saat bersamaan, lelaki mencurigakan itu menghentikan Eva dan temannya.

Secepat kilat Fandy menegakkan tubuhnya kemudian keluar dari dalam mobil Eva yang memang sengaja ia parkir di seberang jalan. Fandy mengamati lelaki tersebut yang tampak bertanya-tanya pada Eva dan temannya. Apa yang di inginkan lelaki tersebut?

“Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Fandy dengan nada formalnya ketika ia sampai di hadapan Eva dan juga lelaki tersebut.

“Fandy? Kok kamu di sini?” Icha, teman Eva tersebut tampak terkejut.

Eva hanya memperlihatkan cengiran khasnya. “Nanti aku ceritain.”

“Tapi Va, harusnya dia kan udah berhenti ngawal Sienna. Lagian Sienna sudah cuti kuliah, memangnya dia mau apa di sini?”

“Siapa bilang dia ngawal Sienna?”

“Lalu?”

“Nanti aku jelasin.” Eva menjawab tanpa menghilangkan senyum geli di wajahnya.

Sedangkan Fandy sendiri tidak mempedulikan dua gadis yang tampak sangat cerewet di sebelahnya itu. Ia masih sibuk memperhatikan lelaki yang ada di hadapannya, lelaki yang benar-benar tampak mencurigakan di matanya.

Fandy besar dengan berbagai macam keahlian yang di ajarkan padanya, termasuk keahliannya dalam menilai orang. Instingnya tidak pernah salah. Ia akan mencurigai sesuatu yang bahkan tidak tampak mencurigakan bagi manusia kebanyakan.

“Apa yang anda inginkan?” tanya Fandy dengan wajah datarnya dan suara dinginnya pada lelaki tersebut tanpa mempedulikan Eva dan Icha yang kini menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Hei, kamu tidak perlu sekaku itu. Mas ini hanya bertanya tentang jalan.” Eva tampak sedikit kesal dengan sikap Fandy yang baginya terlalu berlebihan.

“Dia ngebosenin banget.” Icha ikut menyahut.

“Saya hanya tanya jalan.” Lelaki itu menjawab dengan santai. “Baik, terimakasih mau menunjukkan jalan untuk saya.” Ucap lelaki tersebut pada Eva dan Icha kemudian pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.

“Ayo.” Ajak Eva sambil menggandeng Icha, sedangkan Fandy masih menatap kepergian lelaki tersebut yang nyatanya masih sesekali menoleh ke belakang, ke arahnya.

“Fan, Ayo.” Ajak Eva lagi.

“Kamu ngajak dia?” Icha bertanya dengan wajah bingungnya dan Eva hanya menjawab dengan senyumannya.

Mereka bertiga kemudian menyebrangi jalan dan menuju ke arah sedan hitam yang terparkir di sana. Eva dan Icha masuk ke dalam sedan tersebut di susul oleh Fandy yang duduk di bangku kemudi.

“Ini mobil kamu?” Icha tampak terkejut dengan mobil yang ia tumpangi saat ini. Setahunya, Eva memang bukan orang miskin, tapi sahabatnya itu juga bukan orang kaya raya hingga memiliki mobil sedan mewah lengkap dengan supir gagahnya.

Icha menatap kesal ke arah Eva yang tidak juga menjawabnya dan malah memperlihatkan cengirannya yang seakan menertawakan kebodohan Icha.

“Va, jawab aku atau aku keluar dari mobil ini.”

Eva tertawa lebar. “Oke, oke, oke. Jawabannya adalah…. Aku sekarang sudah jadi seorang milyader.” Eva menjawab sembari tertawa lebar.

“Nggak lucu, tau!”

“Oke, kamu nggak akan percaya sebelum aku ngajak kamu ke istanaku.”

“Istana?”

Eva tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.n “Fan, kita pulang.”

“Baik, Nona.” Dan akhirnya mobil itupun melaju meninggalkan area kampus Eva.

***

Icha tidak berhenti mengumpat karena keterkejutan yang ia alami setelah Eva mengajaknya masuk ke dalam istana sahabatnya tersebut. Ya, itu benar-benar istana, dan astaga, Icha masih tidak percaya jika Eva benar-benar berubah menjadi seorang puteri tunggal dari orang asing yang memiliki perusahaan tambang emas di luar negeri sana.

“Gila, ini benar-benar gila!” Icha masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Kini dirinya sedang berada di dalam kamar Eva, kamar yang benar-benar terlihat seperti kamar seorang puteri. Aneka gaun-gaun indah tertata rapi di sebuah ruangan, rak-rak sepatu dan tas yang terisi penuh dengan barang-barang branded, lemari-lemari aksesoris dan perhiasan juga ada di sana, kamar itu benar-benar kamar untuk seorang puteri.

“Kamu masih nggak percaya apa yang aku omongin?” Eva yang terbaring di ranjangnya akhirnya menanyakan kalimat tersebut.

“Kalau Sienna kamu kasih tahu, dia juga nggak akan percaya. Ini benar-benar gila.”

Well, nyatanya ini kenyataannya. Walau kadang aku juga masih nggak percaya.”

Icha ikut melemparkan diri di atas ranjang Eva, kemudian bertanya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Dan mama kamu gimana?”

Eva menghela napas panjang. “Aku nggak tahu, malam itu papa dan mama bertengkar hebat. Aku bahkan dengar beberapa barang pecah karena di banting. Kupikir mereka memang ada masalah. Keesokan harinya, mama sudah nggak ada, dan papa tiba-tiba ngajak aku pindah ke sini.”

“Kamu nggak mau cari tahu tentang mama kamu?”

“Kamu pikir aku bisa apa? Nenek bahkan nyiapin pengawal buat aku hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Ah ya, dan masalah pengawal. Kamu benar-benar suka sama si Fandy sampai kamu minta dia jadi pengawal pribadi kamu?”

Eva tertawa lebar. “Suka sih enggak, cuma tertarik aja, aku suka godain dia.”

Icha  menggelengkan kepalanya. “Kamu benar-benar gila.”

“Nenek menyediakan banyak sekali pengawal untukku, aku nggak tahu untuk apa pengawal-pengawal tersebut. Karena kupikir, aku nggak pernah punya masalah sama orang, kecuali para cowok.” Eva kembali tertawa lebar. “Dan kebetulan, salah satu pengawal tersebut adalah Fandy, jadi aku minta dia saja yang menjadi pengawal pribadiku.”

Icha menyentil kening Eva. “Itu sih karena kamu yang kegatelan.” Dan keduanya berakhir tertawa bersama.

***

Eva tidak bisa melirik ke arah pintu masuk rumah barunya. Saat ini ia sedang duduk santai di ruang tamu rumah barunya dengan sebuah novel di tangannya. Ia sedang menunggu seseorang, siapa lagi jika bukan Fandy.

Tadi, Icha menghabiskan sorenya di rumah Eva. Bercerita, bercanda bahkan berkaraoke di ruang karaoke yang memang tersedia di rumah barunya tersebut. Setelah jam sembilan malam, Eva meminta Fandy untuk mengantarkan Icha, dan hingga kini lelaki itu belum juga kembali. Apa jam kerja Fandy memang sudah habis? Huh, sangat tidak menyenangkan jika Fandy tidak mengawalnya hingga matanya terpejam, padahal ia masih belum puas mengganggu lelaki tersebut.

“Evelyn, apa yang kamu lakukan di sana, sayang? Kamu tidak tidur?” suara sang nenek membuat Eva mengangkat wajahnya.

“Uum, aku sedang menunggu Fandy.” Eva menjawab dengan jujur.

“Sepertinya kamu dekat dengannya. Apa kamu kenal dengan dia sebelumnya? Atau jangan-jangan, kamu menyukainya?”

“Oh, tidak Nek.” Entah kenapa Eva tersipu dngan pertanyaan terakhir sang nenek. “Fandy dulu adalah pengawal sahabatku yang bernama Sienna. Sikapnya sangat kaku, dan aku suka sekali mengganggunya.”

“Oh ya? Jadi kamu suka mengganggu lelaki yang menyimpan berbagai macam senjata di balik pakaiannya?” goda neneknya.

“Senjata? Fandy bersenjata?”

Sang nenek tersenyum. “Setiap pengawal di sini harus memiliki senjata untuk melindungi kamu, sayang. Begitupun dengan dia.”

“Aku tidak pernah melihat senjatanya.”

“Dan jangan berharap kamu melihatnya.” Pesan sang nenek penuh arti.

“Nenek, apa Fandy dan pengawal di rumah ini pulang ke rumah mereka setiap harinya?”

“Tidak, di belakang mansion ini ada sebuah paviliun yang cukup besar, dan di sanalah tempat para pengawal kita menghabiskan waktu untuk beristirahat secara bergantian. Fandypun di sana.”

“Jadi dia tidak pulang?”

“Tidak. Hanya ketika libur, dia akan pulang. Dia libur setiap minggu.”

“Minggu? Kenapa harus minggu?” rengek Eva yang hanya mendapat jawaban sebuah senyuman dari neneknya. “Nek, kalau aku meminta Fandy tidur di Mansion ini bagaimana?”

“Tidak bisa sayang.”

“Kenapa tidak bisa? Ayolah, aku baru bisa merasa aman jika dia berada di dekatku.”

“Kamu menyukainya?”

“Tidak, Nenek!”

Sang nenek tertawa lebar. “Baiklah, aku akan meminta para pelayan memindahkan buku-buku yang ada di ruang baca tepat di sebelah kamar kamu. Supaya nanti Fandy bisa pindah ke sana.”

Eva benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Terimakasih, Nek. Oh, Nenek benar-benar nenek terbaik sedunia.” Eva memeluk neneknya, nenek yang baru di kenalnya kemarin tapi seakan mampu mencuri seluruh hatinya karena perhatian yang di berikan wanita tua tersebut.

“Apapun untukmu sayang.” Sang nenek membalas pelukannya dengan sebuah pelukan hangat, pelukan yang sangat ia rindukan dari mamanya.

***

Setelah lelah menunggu Fandy yang tak kunjung kembali, akhirnya Eva kembali ke kamarnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dan ketika ia mulai memejamkan matanya, suara ketukan pintu kamarnya membuatnya terjaga kembali. Apa itu Fandy? Mungkin saja.

Dengan semangat Eva membuka pintu kamarnya dan senyumnya terukir begitu saja ketika melihat Fandy yang sudah berdiri di sana.

“Akhirnya kamu pulang.”

“Pengawal di luar mengatakan jika anda menyuruh saya ke sini saat saya sudah kembali, ada apa Nona?”

“Berhenti bersikap kaku menyebalkan seperti itu, aku cuma heran kenapa kamu lama sekali?”

“Teman Nona Evelyn meminta saya mengantarkannya berjalan-jalan sebentar di taman kota.”

“Dan kamu menurutinya?”

“Ya.”

“Kamu kencan sama Icha?”

“Tidak.”

“Apa sebutan untuk laki-laki dan perempuan yang jalan bersama-sama di taman kota?”

“Saya tidak tahu.”

“Isshhh, kamu benar-benar menyebalkan.”

“Jika tidak ada yang penting, saya mau pamit, Nona.”

“Berhenti bersikap formal seperti itu!” Eva benar-benar mulai kesal dengan sikap kaku dan profesional yang di tampakkan Fandy padanya. Secepat kilat Eva menarik lengan Fandy hingga tubuh lelaki tersebut masuk ke dalam kamarnya, lalu ia menutup pintu kamarnya tersebut.

“Apa yang anda lakukan, Nona?”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Eva, hanya panggil Eva.  Atau mungkin sayang.”

Fandy menghela napas panjang. “Apa yang kamu mau?”

Eva tersenyum ketika Fandy sudah tidak bersikap formal padanya.

“Aku mau kamu.” Eva mendongakkan wajahnya seakan menantang Fandy.

“Berhenti main-main, aku tidak suka dengan gadis kecil sepertimu.”

Eva membulatkan matanya seketika. “Gadis kecil katamu? Walau umurku belum sembilan belas tahun, tapi aku sudah bisa memuaskan laki-laki, tahu!”

“Aku tidak suka perempuan yang sudah pernah memuaskan laki-laki.”

“Uum, maksudku aku belum pernah, tapi aku bisa.”

“Lupakan, lebih baik kamu jauhi aku.”

“Tidak, aku tidak akan menjauhimu, dan kamu tidak akan bisa menjauh dariku.”

“Kenapa?”

“Karena kamu milikku.” Kalimat itu di katakan Eva dengan penuh penekanan. Eva semakin mendekatkan dirinya, kakinya bahkan sudah berjinjit untuk menggapai wajah Fandy yang memang jauh lebih tinggi darinya. “Kamu milikku, Fan. Dan kamu tidak bisa menolakku.”

 

-TBC-

Evelyn – Chapter 1 (Aku mau Dia)

Comments 11 Standard

drawing-evelyn-copyEvelyn

Chapter 1

-Aku mau Dia-

 

 

Fandy keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Jemarinya yang besar itu meraih sebuah ipod yang berada di atas sebuah meja kecil tepat di sebelah ranjangnya.  Memutar lagi-lagu di dalam ipod tersebut kemudian memasang headset pada telinganya.

Same bed but it feels just a little bit bigger now

Our song on the radio but it don’t sound the same

Lagu Bruno Mars tersebut menjadi pilihan Fandy untuk di putarnya. Ia kemudian mulai meraih Hoody di dalam lemarinya, mengenakannya beserta tudung kepalanya.  Tak lupa ia juga mengenakan sepatu olah raganya.

Hmmm too young, to dumb to realize

That I should have bought you flowers and held your hand

Should have given all my hours when I had the chance

Lagu tersebut masih mengalun dengan indah namun tak seindah suasana hati orang yang kini sedang mendengarnya. Fandy mulai berjalan keluar dari apartemennya, kemudian sedikit berlari kecil menuju ke taman yang tak jauh dari kompleks apartemennya.

My pride, my ego, my needs and my selfish ways

Caused a good strong woman like you to walk out my life

Now I’ll never, never get to clean out the mess I’m in

And it haunts me every time I close my eyes.

Beberapa bulan terakhir memang inilah yang ia lakukan untuk menghabiskan waktunya. Mendengarkan lagu-lagu sambil berolahraga atau bahkan berlatih.

Tidak ada pekerjaan, karena beberapa bulan yang lalu  baru saja di pecat secara tidak hormat oleh orang yang memperkerjakannya karena alasan yang menggelikan.

Ia menyukai istri dari atasannya tersebut.

Oh, sialan!

Awalnya, Fandy di pekerjakan oleh seorang pengusaha muda bernama Osvaldo Handerson, untuk menjaga istrinya yang masih terlihat seperti anak-anak, dan sialnya, Fandy malah jatuh hati pada istri atasannya tersebut. Bagaimana mungkin dirinya benar-benar jatuh cinta pada sosok itu? Sosok yang bernama Sienna Clarissa, seorang gadis –atau bisa di sebut dengan wanita muda, yang berusia Delapan belas tahun dengan sikap manja khas anak-anak ABG pada umumnya.

Oh yang benar saja. Apa yang membuatnya jatuh hati apda sosok itu? Sikap manjanya? Wajah cantiknya? Bahkan Fandy tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.

Fandy membesarkan volume ipod yang berada di dalam genggamannya, langkahnya mulai cepat seiring dengan suara lagu yang terdengar menggema di telinganya.

Fandy ingin melupakan wanita itu, tapi di sisi lain, Fandy merindukannya. Oh, apa yang harus ia lakukan? Bagaimana mungkin ia jatuh cinta dengan istri orang??

***

Dengan wajah cemberut, Eva keluar dari dalam kamarnya. Hari ini ia kesal, masih sama kesalnya dengan kemarin malam ketika ia mendengar pertengkaran hebat kedua orang tuanya.

Eva tidak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar seperti semalam. Sangat mengerikan. Sang Mama bahkan membanting beberapa perabotan rumah, sedangkan sang Papa tidak berhenti berucap jika mereka akan berpisah. Sebenarnya apa yang terjadi? Eva tidak tahu dan dia tidak ingin tahu.

Selama ini kehidupannya sudah sangat sempurna. Ia memiliki semuanya, tapi setelah tadi malam, ia merasa jika semuanya berubah.

Eva duduk di kursi meja makan. Di sana sudah ada sang Papa yang duduk sendirian, lalu diamana Mamanya?

“Pagi, Pa.”

“Pagi, sayang.” Sang papa kembali menyapa tapi wajahnya masih fokus dengan koran paginya.

“Uum, Pa, Mama kemana?” Eva memberanikan diri bertanya pada papanya, tapi kemudian sang papa melipat koran yang di bacanya kemudian menatap Eva dengan tatapan seriusnya.

“Evelyn.” Panggil sang papa, namanya itu memang sangat jarang di jadikan sebagai panggilannya, ia lebih suka di panggil dengan nama Eva, lebih simpel, dan lebih pribumi, meski sebenarnya panggilan Eva kurang cocok dengan dirinya yang memiliki wajah sedikit kebule-bulean yang ia dapat dari sang papa.

“Ya, Pa?”

“Setelah pulang dari kampus, bereskan semua pakaian kamu.”

“Tapi kenapa?”

“Kita akan pindah.”

“Pa, aku nggak bisa, aku bahkan baru masuk kuliah, dan aku memiliki toko yang harus aku urus, aku nggak mau pindah kemana-mana.”

Eva tahu jika semuanya tidak sedang baik-baik saja. Mungkin kedua orang tuanya kini benar-benar akan berpisah hingga sang papa mengajaknya pindah. Dan sumpah demi apapun juga, Eva tidak ingin pindah ke Paris, tempat asal dari sang Papa, jika mungkin saja papanya itu mengajaknya pindah ke sana.

“Evelyn, kita tidak akan kemana-mana, kamu tetap kuliah di kampus kamu, kamu juga masih bisa menjaga toko aksesoris milik kamu, kita hanya pindah rumah, dan itu masih di Jakarta.”

Eva menghela napas panjang. Ya, bagaimanapun juga ia masih sangat nyaman tinggal di Jakarta. Ia memiliki segalanya di sini, teman, pacar, bahkan beberapa calon pacar di kampus barunya.

“Lalu mama?”

“Jangan bertanya tentang Mama kamu lagi.”

“Pa, aku sudah besar, bagaimanapun juga aku ingin tahu apa yang terjadi dengan mama dan papa.”

“Evelyn, papa belum bisa menceritakan semuanya sama kamu, yang pasti, mama sudah tidak bersama dengan kita lagi.”

“Apa?”

“Kita harus pindah.”

“Pindah kemana, Pa? aku sudah cukup nyaman di sini.”

“Papa jamin, di tempat baru, kamu akan lebih nyaman.” Sang papa kemudian berdiri, lalu mengusap lembut puncak kepala Eva. “Papa kerja dulu.” Dan sosok itu kemudian pergi begitu saja. Eva hanya bisa menghela napas panjang. Apa yang terjadi sebenarnya?

***

Fandy berjalan menuju ke arah sebuah ruangan dengan pintu besar berwarna hitam legamnya. Itu adalah ruangan dari atasannya, bisa di bilang, orang yang menjual jasanya sebagai Bodyguard kepada orang yang membutuhkan jasanya.

Ya, ketika remaja, ia di masukkan ke dalam sebuah agensi yang menciptakan boduguard-bodyguard tangguh, ia di latih hingga memiliki banyak sekali kemampuan bela diri hingga kemudian keahliannya tersebut menjadi pekerjaannya.

Entah sudah berapa orang yang pernah ia jaga, Fandy bahkan tidak bisa menghitungnya. Banyak sekali pengalaman ketika ia menjadi seorang pengawal. Dan pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan adalah ketika ia mengawal seorang istri mungil dari atasannya yang sedang hamil muda dan ia jatuh cinta pada sosok tersebut, Sienna.

Oh sial! Kenapa juga ia mengingat wanita itu lagi?

Fandy menghela napas panjang sebelum ia masuk ke dalam ruangan dengan pintu besar berwarna hitamnya tersebut.

Tadi, setelah olah raga, si Boss –panggilan untuk si pemilik agensi yang kini sedang ia temui, menghubunginya dan mengatakan jika ada yang membutuhkan pengawalan darinya. Dengan semangat Fandy menerima tawaran tersebut bahkan sebelum tahu siapa orang yang membutuhkan pengawalannya.

Fandy berpikir, mungkin dengan ia memiliki aktifitas baru sebagai seorang pengawal, ia akan dengan mudah melupakan sosok Sienna, sosok yang selama ini membayanginya.

“Sudah datang?” sapa lelaki paruh baya tersebut yang kini masih duduk dengan santai di kursi kebesarannya.

“Ya, Boss.”

“Bagaimana liburanmu?”

“Lumayan, Boss.”

Lelaki yang di panggil Fandy sebagai Boss tersebut berjalan mendekati Fandy, lalu memberikan Fandy sebuah ampop besar yang di sana tertulis data diri dari orang yang akan di kawalnya.

“Kali ini kamu tidak boleh main-main. Klien kita adalah orang berkewarganegaraan asing, yang sudah sejak Empat tahun yang lalu menetap di sini.”

Fandy mengerutkan keningnya. “Lalu, kenapa baru kali ini dia membutuhkan jasa kita?”

Si Boss hanya mengangkat kedua bahunya. “Itu bukan urusan kita, yang jelas, kamu harus menjaganya. Dia memiliki beberapa tambang emas di luar negeri, dan kemungkinan besar dia memiliki tujuan lain ketika memilih menetap di negeri ini.”

Fandy membuka data-data orang yang akan di kawalnya tersebut.

“Wanita tua.” Gumamnya.

Si Boss tertawa lebar. “Kamu berharap apa? Apa kamu berharap itu adalah wanita muda dengan usia belianya yang bisa membuatmu jatuh cinta seperti sebelumnya?” sindir si Boss tersebut pada Fandy.

Fandy hanya membatu. Ya, si Bossnya itu tentu mengetahui apapun yang ia lakukan terhadap Sienna dan Aldo, mantan atasannya dulu sebelum dia di berhentikan secara tidak hormat. Fandy bahkan tidak bisa mengingat bagaimana marahnya si Boss saat itu. Ia di pukuli habis-habisan karena berani mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah perasaan sialannya. Terlebih lagi, si Bossnya tersebut sudah mengajarinya, mengubah hatinya menjadi batu hingga sulit sekali di sentuh, tapi nyatanya, Sienna mampu menyentuh hatinya.

Ia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada kliennya sendiri, seharusnya ia tidak melakukan itu, dan ia tidak boleh jatuh cinta.

“Dengar Fandy, saya tidak ingin kejadian kamu dengan klien kita yang kemarin terulang lagi. Ingat, tidak ada lagi yang namanya jatuh cinta. Itu akan melemahkanmu!”

“Saya mengerti, Boss.”

“Sekarang, jalankan tugas kamu. Kamu harus mengawal wanita tua itu kemanapun dia pergi. Jadilah perisainya apapun yang terjadi, keselamatan dia yang utama, hidupmpu sudah di beli olehnya.”

Fandy mengangguk. Selalu kalimat itu yang di rapalkan si Boss ketika dirinya akan menemui klien barunya. Ya, hidupnya sudah di beli, dan ia akan mati sekalipun demi melindungi klien barunya.

“Ingat, jangan sampai mengulangi hal yang sama. Buang perasaan sialanmu itu.” Si Boss menepuk-nepuk bahunya.

Fandy hanya mengangkat sebelah alisnya saat menanggapi kalimat terakhir Bossnya tersebut. Tentu saja ia tidak akan mengulangi hal yang sama. Klien barunya adalah seorang wanita dengan usia hampir tujuh puluh tahun, dan jatuh cinta pada kliennya itu sangat tidak mungkin.

***

Eva mengerutkan keningnya ketika papanya mengemudikan mobilnya masuk ke dalam sebuah gerbang besar yang hampir tidak pernah ia lihat. Sebenarnya mereka mau ke mana?  Eva melirik sang papa yang masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya sesekali ia terkagum-kagum ketika menatap bangunan megah yang akan mereka tuju.

“Pa, kita ada di mana?” bisik Eva.

“Maksud kamu?”

“Euum, ini masih di indonesia, kan?” tanyanya dengan polos. Sang papa tertawa lebar.

“Tentu sayang, ini masih di indonesia, dan ini masih di Jakarta.”

“Lalu ini bangunan apa?”

Sang papa tersenyum lembut. “Itu rumah baru kita.” Dan Eva hanya mampu membulatkan matanya seketika. Apa ini mimpi? Jika iya, Eva ingin di tampar saat ini juga supaya ia terbangun dari mimpinya ini.

Tapi nyatanya, ini bukanlah mimpi. Eva sadar jika ini benar-benar nyata ketika sang papa membukakan pintu mobilnya untuk Eva dan membantu Eva turun dari mobil mereka.

“Pa, Papa yakin ini rumah baru kita?” Eva masih tampak tak percaya.

Sang papa menampakkan senyum lembutnya. Ia menarik tangan Eva dan mengajak Eva menuju ke arah pintu utama yang bagi Eva sangat besar tersebut kemudian membukanya. Dan Eva ternganga ketika mendapati beberapa pelayan ala kerajaan inggris yang sudah menyambutnya.

“Evelyn.” Seorang wanita tua tiba-tiba datang menghambur ke arahnya, lalu memeluknya erat-erat.

Eva melirik ke arah sang papa, dan papanya tersebut hanya tersenyum ke arahnya sembari mengatakan ‘Welcome to my world’ tanpa mengeluarkan suara.

***

Eva masih bingung, sangat, sangat dan sangat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin papanya menjadi seorang milyader seperti saat ini? Apa papanya itu baru saja menang taruhan? Menang kuis? Oh yang benar saja. Tentu bukan karena itu.

Eva tidak mengenal papanya, ya, hanya itu yang ia yakini saat ini. Menurut cerita dari sang mama, papanya adalah seorang warga negara asing biasa yang kemudian menetap di negeri ini kerena menikah dengan sang Mama. Tidak ada seluk beluk keluarga papanya yang pernah ia dengar. Ia hanya tahu jika papanya adalah orang Prancis, yang kini bahkan sudah hampir mirip dengan orang pribumi cara bicara, cara bersikap dan cara berpakaian papanya yang sederhana.

Dan kini? Oh astaga, Eva bahkan tidak pernah membayangkan jika hal ini akan terjadi. Kini ia sudah berdiri di sebuah ruangan yang super luas, bahkan lebih luas tiga kali lipat dari ruang tengah di rumahnya dulu, dan ruangan ini adalah kamarnya? Sekali lagi, Kamarnya??? Eva seakan ingin berteriak histeris mendapati kenyataan yang ia alami saat ini.

Di ujung ruangan terdapat sebuah ranjang besar ala-ala ranjang puteri raja lengkap dengan tiang dan juga penutup ranjang berendanya, ohh, itu adalah ranjangnya??

Eva berteriak sambil menghambur ke arah ranjang tersebut. Ia melemparkan diri di atasnya sambil berguling kesana kemari. Oh, ini benar-benar sangat nyaman, pikirnya. Eva kemudian bangkit, melihat ke segala penjuru.

Ada sebuah meja rias yang cukup besar, lemari-lemari yang menyatu dengan dinding, sebuah meja dan beberapa kursi untuk bersantai, sebuah sofa besar, kemudian ada juga sebuah pintu yang Eva yakini adalah pintu menuju ke kamar mandi, dan Eva mengerutkan keningnya ketika mendapati pintu lainnya. Karena penasaran, Eva berdiri dan menuju ke arah pintu tersebut, lalu membukanya.

Seketika itu juga Eva menutup mulutnya dengan keuda belah tangannya.

Oh my God…

Ia akan menjadi seorang puteri, Eva tahu itu. Jika ini benar-benar nyata, ia akan menjadi seorang Barbie dengan apa yang ia miliki saat ini.

***

Eva terbangun dari mimpi indahnya ketika mendengar suara berisik di sekitarnya. Ia mulai membuka matanya dan terbangun seketika saat sadar jika dirinya berada di kamar yang berbeda dengan kamarnya selama ini.

Oh, tentu saja, bukankah ia sudah pindah ke dalam istana? Ya, Eva menganggap jika rumah barunya ini adalah sebuah istana. Sangat mewah dan super megah. Eva mengerutkan keningnya saat mendapati dua orang wanita dengan seragam pelayannya sedang sibuk di dalam kamarnya.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Eva sedikit bingung.

“Oh, maaf Nona, kami hanya membantu menyiapkan air hangat untuk mandi, dan pakaian ganti untuk Nona Evelyn.”

“Apa?” Eva tampak shock. Tentu saja. Seumur hidupnya ia tidak pernah di perhatikan sampai seperti ini, apa sampai nanti ia akan di layani seperti ini? Oh, menggelikan sekali.

“Air hangatnya sudah siap, silahkan mandi, nyonya besar sudah menunggu anda di ruang makan.”

Eva bangkit menuju ke arah kamar mandi sambil bergumam. “Lain kali, kalian tidak perlu berlebihan melayaniku, aku bisa menyiapkannya sendiri.”

“Tapi Nona.”

Eva tersenyum. “Aku biasa melakukannya, kalian santai saja.” Lalu Eva masuk begitu saja ke dalam kamar mandi, mandi air hangat sesekali bersenandung ria. Oh, benarkah ini kehidupan nyatanya saat ini? Apa ia rela kehilangan sang mama dan di gantikan dengan kehidupan mewahnya saat ini? Yang benar saja.

***

Setengah jam kemudian, Eva akhirnya sudah duduk dengan manis di ruang makan bersama dengan sang papa dan wanita tua yang kini di panggilnya dengan sebuat Nenek.

Tadi malam, ketika ia masih kebingungan dengan semua yang ada di hadapannya, sang papa sedikit demi sedikit menjelaskan pada Eva jika semua ini nyata. Ternyata sang papa adalah putera tunggal dari keluarga Mayers, keluarga kaya raya dari negara Prancis. Dan kini, ibunda dari sang Papa, yang tak lain adalah neneknya, datang untuk mewariskan seluruh kekayaannya pada sang papa dan juga dirinya. Oh, jangan di tanya lagi bagaimana shocknya Eva saat itu.

Kehidupannya dulu memang sudah berada, tapi tidak semewah seperti saat ini. Bagi Eva, semua ini terlalu berlebihan, tapi di sisi lain, Eva juga menikmati perannya.

“Evelyn, apa kamu tidak menyukai makanannya?” pertanyaan penuh perhatian tersebut terlontar dari bibir sang nenek. Eva sempat heran ketika mendengar sang nenek berbicara dengan Bahasa Indonesia meski tak begitu fasih.

“Tidak, Nek, aku hanya-”

“Apa kamu tidak nyaman?”

Eva mengangguk pelan. “Aku tidak terbiasa makan dengan beberapa orang yang memperhatikanku.”

Sang Nenek tersenyum. “Maka biasakanlah mulai saat ini.” Perintah sang nenek. “Evelyn, karena kamu satu-satunya puteri dan penerus dari keluarga Mayers, maka Nenek benar-benar harus menjaga kamu.”

“Menjagaku? Menjagaku dari apa?”

“Dari apapun dan siapapun yang ingin menjatuhkan kamu.”

“Tapi kenapa ada yang ingin menjatuhkanku?” Eva tampak bingung.

Sang nenek hanya tersenyum lembut. “Ada banyak hal yang tidak perlu kamu ketahui Sweetheart. Kemarilah, Nenek akan memperlihatkan sesuatu padamu.”

Akhirnya Eva berdiri dan mengikuti kemana kaki neneknya melangkah. Mereka menuju ke arah ruang tengah, yang di sana ternyata sudah berdiri beberapa lelaki dengan setelan serba hitamnya layaknya agen mata-mata di film-film action yang pernah ia tonton.

“Evelyn, ini pengawal Nenek, Nenek akan menugaskan beberapa untuk menjaga kamu.” Jelas sang nenek.

Eva menggelengkan kepalanya, sedangkan matanya masih menatap satu persatu lelaki dengan tubuh kekar di hadapannya itu dengahn tatapan sedikit ngeri, ia tidak ingin di kawal, ia ingin bebas melakukan apapun, bukan di kekang dengan adanya seorang pengawal yang selalu mengawasinya.

“Nenek, ini tidak perlu.”

“Ini sangat di perlukan, Evelyn.”

Mata Eva kembali menatap satu demi satu lelaki tersebut hingga kemudian matanya terpaku pada sosok itu. Sosok yang lebih ramping dari yang lainnya, tapi tubuhnya sama berototnya dengan yang lainnya. Sosok yang sangat tampan dengan wajah datar tanpa ekspresinya, sosok yang sudah beberapa bulan terakhir tidak di temuinya.

“Kamu?” Eva bahkan tidak menghiraukan sang nenek yang menatap aneh ke arahnya. Yang Eva lakukan hanyalah menghampiri lelaki tersebut.

Lelaki itu masih berdiri dengan tegap dengan wajah datarnya, Eva tidak dapat membaca apa yang di pikirkan lelaki tersebut, karena mata lelaki itu tersembunyi di balik kaca mata hitam yang di kenakannya.

“Fandy, ini beneran kamu?” sekali lagi Eva bertanya tanpa menghilangkan nada girangnya sembari terus berjalan mendekat.

“Ya, Nona.” Jawab lelaki itu penuh dengan hormat.

Oh, my God.

Tuhan benar-benar sayang padanya, Eva tahu itu. Bagaimana mungkin semuanya bisa kebetulan seperti ini? Dan Fandy, lelaki itu… Astaga, setelah lelaki itu berhenti menjadi pengawal temannya, Eva pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan lelaki tersebut tapi nyatanya….

“Nenek, Aku mau dia.” Eva berkata dengan penuh semangat dan senyuman bahagianya.

“Apa maksud kamu, Evelyn?”

“Dia, aku mau dia yang menjadi pengawal pribadiku.” jawab Eva penuh keyakinan. Oh, pasti akan sangat menyenangkan ketika memiliki Fandy sebagai pengawal pribadinya.

 

-TBC-

Evelyn – Prolog (The Bad Girls #2)

Comments 8 Standard

drawing-evelyn-copyEvelyn

Tittle : Evelyn

Seri : The Bad Girls #2

Genre : Sweet  Romance

Author : Zenny Aieffka

 

Prolog

 

-Eva-

 

Dia terlihat tampan dan gagah. Setelan hitamnya mengingatkanku dengan film-film action yang pernah ku tonton, ekspresi dingin dan datarnya membuat rasa penasaranku semakin menjadi. Namanya Fandy, dia adalah pengawal pribadi Sienna, temanku yang sedang hamil muda.

Dia berbeda, tentu saja.

Aku Evelyn mayers, teman-teman biasa memanggilku Eva, si play girl cap kakap. Banyak sekali pria yang mengantri padaku, dan aku tidak menyia-nyiakan itu. Meski temanku, Sienna dan Icha selalu mengingatkan jika karma pasti akan berlaku, tapi kupikir itu tidak akan berlaku untukku.

Ya, aku suka memainkan pria yang menyukaiku. Aku suka mengontrol mereka, aku suka memainkan mereka, menarik ulur hingga aku puas kemudian bosan. Tapi melihat sikap pengawal Sienna yang cenderung datar-datar saja, bahkan terlihat sama sekali tidak melirikku, itu membuatku penasaran.

Apa dia Gay?

Tidak!!!  Aku yakin Fandy tidak gay.

Dan aku benar-benar bingung, kenapa semakin hari aku semakin menginginkannya?

***

 

-Fandy-

 

Gadis manja yang gila!

Teman Sienna yang bernama Eva itu benar-benar gila. Dia seakan tidak punya malu untuk mendekatiku. Yang benar saja, gadis itu bukanlah tipeku, aku menginginkan wanita lemah yang dapat ku lindungi dan membutuhkanku untuk melindunginya, bukan seperti teman Sienna itu yang terkesan seperti gadis manja dengan sikap centilnya.

Dia membuatku muak dengan tatapan-tatapan centilnya, dia membuatku kesal dengan caranya yang terang-terangan mendekatiku. Dan aku semakin membencinya ketika dia menggunakan jasaku untuk melindunginya, padahal aku yakin, jika dia sama sekali tidak membutuhkan perlindungan.

Namaku Afandy, biasa di panggil Fandy. Aku tidak memiliki nama belakang dan aku tidak memiliki orang tua karena aku besar di sebuah panti asuhan. Saat remaja, aku di kirim ke sebuah agensi, dan agensi tersebut melatihku, membuatku menjadi kuat dan tangguh serta memiliki banyak keahlian seperti saat ini, hingga kemudian keahlianku ini menjadi pekerjaanku. Ya, aku seorang pengawal, atau bisa di sebut Bodyguard.

Tujuan hidupku hanya satu, melindungi orang yang membayarku.

Tapi kupikir, semuanya berubah ketika aku mulai bekerja dan berdampingan dengan gadis-gadis manja ini. Ada beberapa warna yang tanpa permisi memasuki hidupku. Warna yang selama ini selalu kusangkal. Warna yang biasa ku sebut dengan Cinta.

Oh Sial! Semoga aku tidak terjerumus semakin dalam pada kata tersebut, karena yang kupelajari selama ini adalah, jika lima huruf itu melemahkanku. Ya, Cinta memang melemahkan siapapun yang sedang merasakannya, dan aku tidak ingin menjadi salah satunya. Tidak akan pernah!

-TBC-

Yeaayy… akhirnya Eva & Fandy story rilis juga.. ada yang maih inget mereka? semoga aja masih inget yaa, Eva dan Fandy ini adalah pemeran dalam novelku sebelumnya yang berjudul My Young Wife. dan kini, mereka ku buatkan kiahnya. horayyy.

Aku masukkan dalam seri The Bad Girls #2. meski  satu seri dengan novel Elena, tapi jangan harap akan sepanas kisah di lapak itu yaa,, hehhehehe soalnya aku mau membuat kisahnya lebih manis. Eva memang sedikit bad girl di sini, cuma nggak separah Elena, lagian karakter mereka berbeda. nahh semoga nanti kalian suka yaa.. 

Akan di usahakan update teratur setelah Sweet in Passion Ending. Selamat menantikan kekakuan abang Fandy dan kemanjaan dedek Eva yaa… huahahhahahah

***Vote dan komen di tunggu, jangan lupa masukin ke Reading listnya.. huehehhehe***