Elena – Chapter 20 (Aku mencintainya)

Comments 12 Standard

Elena

Yogie menghela napas panjang. “Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

Dan telapak tangan Yogie mengepal seketika. “Kasih tahu di mana posisimu, aku akan ke sana.”

Dan akhirnya orang pesuruhnya tersebut memberi tahu posisinya di mana saat ini, kemudian dengan cepat Yogie menyusul. Ia ingin tahu, siapa lelaki yang di temui Elena, apa lelaki itu yang membuat Elena berubah padanya? Apa lelaki itu yang membuat Elena ingin meninggalkannya lagi?

Sial! Yogie bahkan sudah tak dapat menahan emosinya legi ketika membayangkan lelaki tersebut.

 

Chapter 20

-Aku mencintainya-

 

“Terimakasih kamu mau menemaniku.” lirih Elena pada sosok lelaki di sebelahnya. Itu Aaron yang kini sedang mengemudikan mobilnya.

Tadi Elena memang berniat ke tempat dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilannya, hanya saja setelah sampai di sana, Elena sangat malu karena di sana hanya ia yang sendirian, sedangkan wanita yang periksa di sana di temani oleh suami masing-masing.

Dengan spontan Elena berbalik dan meninggalkan tempat tersebut. Ia juga ingin di temani dengan ayah dari bayi yang di kandungnya, tapi meminta Yogie untuk menemaninya, benar-benar tidak mungkin.

Yogie terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, lelaki itu sudah berubah dan hanya mementingkan kesenangannya sendiri, mana mungkin Yogie mau mengakui bahwa bayi yang di kandungnya adalah bayi dari lelaki tersebut.

Belum lagi kenyataan jika dulu Yogie juga pernah membuat dirinya kehilangan calon bayinya, ah, saat itu Yogie pasti sengaja meminta dokter untuk menggugurkan bayinya hingga lelaki itu bisa lepas dari segala tanggung jawab, seperti yang di lakukan Gilang dulu. Kini, Elena tidak akan mengulangi kebodohannya lagi. Yogie belum siap menjadi orang tua, dan ia tidak akan pernah menjadikan Yogie sebagai orang tua dari bayi yang di kandungnya.

“Elena.” Panggilan itu membuat Elena menolehkan kepalanya ke samping, di sana ada Aaron yang masih setia mengemudikan mobilnya.

Setelah keluar dari rumah sakit, Elena lantas menghubungin Aaron. Entah kenapa ia merasa hanya Aaron yang dapat membantunya. Aaron adalah sahabatnya, dulu ketika sama-sama sekolah di Harvard, Elena sering sekali membantu Aaron hingga lepas dari masalah, kini, tidak ada salahnya bukan jika ia meminta bantuan pada Aaron? Aaron pasti akan mengerti, lelaki itu memiliki pikiran yang terbuka.

“Iya.”

“Aku masih heran, kenapa kamu memintaku mengantarmu ke dokter kandungan? Maksudku, apa yang terjadi dengan ayah dari bayimu?”

“Aku hanya memintamu untuk menemaniku, Aaron, bukan berarti kamu harus tahu semuanya tentang hidupku.”

“Aku tidak ingin tahu tentang hidupmu, hanya saja ini masalah besar, Elena. Aku tahu kamu mampu menjadi ibu tunggal, tapi apa kamu tidak berpikir tentang media? Kamu pewaris tunggal dari perusahaan besar di negeri ini, dan semua tentangmu akan menjadi sorotan publik. Sedikit banyak ini akan mempengaruhi nama baik keluargamu.”

Elena terdiam sebentar. “Aku akan pergi.”

“Pergi?”

“Ya. Setelah usia kehamilanku empat bulan, mungkin.”

“Pergi bukan solusi yang baik, Elena, lalu kamu akan kembali dengan seorang bayi? Ayolah. Kamu tidak bisa menyembunyikan semuanya.”

“Aku tidak mau membahas ini, Aaron! Kepalaku sudah cukup pusing.”

Aaron menghela napas panjang. “Apa lelaki brengsek itu tidak mau bertanggung jawab? Jika iya maka bilang siapa orangnya. Aku akan memukulinya hingga babak belur dan memohon ampun padamu.”

Elena menggeleng cepat. “Dia bahkan tidak tahu aku hamil.”

“Apa?!” Aaron terkejut seketika. “Aku benar-benar nggak habis pikir denganmu. Astaga, kamu aneh!”

“Ya, aku memang aneh. Jadi diam saja dan turuti apa mauku.” Aaron hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.

 

***

Elena tidak berhenti meraba perut datarnya. Setelah memeriksakan diri dengan di temani Aaron, kini perasaan Elena semakin tenang. Ia sangat senang mendapati kehidupan lain yang kini sedang tumbuh dalam rahimnya. Dan astaga, ia tak pernah merasa sesenang ini.

Elena yakin jika ia mampu melewati semuanya nanti sendiri, tanpa Yogie ataupun yang lainnya. Ia akan melewati semuanya dengan calon bayinya yang entah sejak kapan begitu ia sayangi.

“Kamu baik-baik saja, kan?” suara Aaron memaksa Elena menolehkan kepalanya ke samping.

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Apa kamu bahagia dengan calon bayimu?”

Elena tersenyum. “Tentu saja, aku sangat bahagia.”

“Apa kamu tidak berpikir jika ayahnya juga pasti akan bahagia ketika tahu ada dia di dunia ini?”

Elena memutar bola matanya sebal ke arah Aaron. “Berhenti membahas tentang ayah bayi ini, Aaron!”

“Aku hanya mengingatkanmu, Elena.”

“Aku tidak mau di ingatkan.”

Aaron kembali menghela napas panjang. “Baiklah, sekarang kamu mau ku antar ke mana?”

“Aku mau pulang saja. Aku ingin banyak istirahat supaya tidak terjadi sesuatu dengan bayiku.”

“Oke, aku akan mengantarmu pulang.”

Dan keduanya akhirnya pergi dari rumah sakit tersebut tanpa mengetahui jika sejak tadi ada sepasang mata penuh dengan amarah sedang mengintai keduanya.

***

Dengan gusar Yogie membelokkan mobilnya ke arah apartemen Elena. Ia harus menghampiri wanita tersebut, tidak bisa di tunggu lagi.

Setelah seharian mengikuti kemana Elena pergi, ternyata wanita itu pergi ke sebuah praktek dokter spesialis kandungan. Kenapa? Apa Elena hamil? Dengan Aaron?

Brengsek! Tentu saja. Bukankah tadi Aaron yang mengantar wanita tersebut? Jika bukan Aaron yang menghamili Elena, tentu Aaron tidak mau repot-repot mengantar Elena, dan membuat salah paham istrinya mengingat lelaki itu baru saja menikah.

Yogie mencengkeram erat kemudi mobilnya, sesekali ia memukulnya. Sumpah demi apapun juga, ia ingin memukuli Aaron sampai lelaki itu babak belur. Berani-beraninya lelaki sialan itu merebut Elenanya. Apa Bella masih kurang untuk Aaron hingga Aaron mencari seorang simpanan seperti Elena? Mengingat kembali hal itu membuat emosi Yogie semakin menjadi.

Setelah memarkirkan mobilnya, Yogie masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Setelah sampai di depan pintu apartemen Elena, tanpa banyak bicara lagi Yogie menggedor pintu apartemen Elena dengan sangat keras.

“Buka, Elena!” teriaknya.

Tak lama pintu tersebut di buka. Menampilkan sosok Elena yang tampak menawan walau wanita itu hanya mengenakan pakaian santainya.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Kita harus bicara.” Yogie menyambar pergelangan tangan Elena dan menarik wanita tersebut keluar dari dalam apartemennya.

“Lepasin! Apa yang kamu lakukan? Aku sudah tidak mau bertemu denganmu lagi.”

“Kita harus bicara, Sialan!” Yogie mengumpat keras tepat di hadapan Elena.

Elena menghela napas panjang. Oh, bagaimana mungkin ia mencintai lelaki yang kekanakan seperti Yogie? Lelaki yang tidak dapat meredam emosinya dan hanya bisa mengumpat kesana kemari?

“Bicara saja di sini.”

“Tidak. Kita akan bicara di luar.”

“Aku tidak mau! Aku mau kamu bicara di sini.”

“Kalau aku bicara di sini, maka setelahnya aku akan menidurimu, memasukimu dengan sangat kasar, karena saat ini aku sedang sangat marah padamu.”

Elena merasa ngeri dengan ancaman yang di berikan oleh Yogie. Akhirnya ia mengalah. Ah, mungkin setelah menyelesaikan semuanya dengan lelaki tersebut, maka ia akan bebas, Yogie akan melepaskannya dan ia tidak akan berurusan dengan lelaki itu lagi. Pikir Elena.

“Oke, kita bicara di luar.” Dan akhirnya Elena kembali masuk ke dalam apartemennya, memngganti pakaiannya kemudian keluar bersama dengan Yogie.

***

Elena kini sudah duduk di ujung kafe milik Jihan. Telapak tangannya menangkup secangkir cokelat hangat yang mengepul di hadapannya. Sesekali ia menatap ke arah Yogie.   Yogie sendiri tampak murung dengan ekspresinya. Entah apa yang sedang di pikirkan lelaki tersebut.

“Kita lupakan saja semuanya.” Setelah cukup lama berdiam diri tanpa ada yang mau memulai pembicaraan, akhirnya Elena berucap dengan datar.

“Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?”

“Aku akan kembali ke luar negeri, jadi lupakan semuanya.”

Yogie tersenyum miring. “Benarkah? Kupikir kamu sedang berniat menggoda suami orang.” sindir Yogie.

“Jaga mulut kamu, Yogie!”

“Aku sudah tahu Elena, kamu kembali menjalin hubungan dengan Aaron, kan? Padahal kamu jelas tahu, kalau dia sudah menikah dengan Bella.”

“Bukan urusanmu.” Elena berdiri kemudian bergegas pergi, tapi kemudian tangan Yogie meraih pergelangantangan Elena.

“Kenapa Elena? Kamu takut aku memepengaruhimu makanya kamu mencari lelaki lain untuk mengalihkan perhatianmu dariku?”

Dengan gusar Elena menghempaskan tangan Yogie. “Dengar ya, hubungan kita tidak lebih dari sekedar seks, jadi lupakan semuanya, kamu sama sekali tidak berpengaruh padaku.” ucap Elena penuh penekanan.  Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Yogie yang masih menatapnya dengan tatapan kosongnya.

Yogie menghela napas panjang. Entah apa yang terjadi dengan wanita tersebut hingga terlihat sangat membencinya, dan apa juga yang terjadi dengannya hingga ia tidak dapat mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Elena.

Yogie jelas tahu, jika tujuannya berbicara dengan Elena adalah untuk meminta penjelasan tentang hubungan Elena dengan Aaron, Yogie ingin meminta penjelasan apa Elena benar-benar hamil anak dari Aaron atau tidak. Tapi entah kenapa lidahnya menjadi kelu. Yogie tidak sanggup menanyakan pertanyaan tersebut, karena ia terlalu takut jika apa yang di pikirkannya itu adalah sebuah kenyataan. Jika memang kenyataannya Elena menjadi simpanan Aaron, lalu wanita itu hamil dengan lelaki sialan tersebut, sungguh, Yogie tidak dapat menerima kenyataan tersebut.

Nyatanya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Yogie sadar jika ia ingin memiliki Elena seutuhnya. Ia tidak ingin Elena dimiliki lelaki lain, ia tidak ingin Elena meninggalkannya lagi. Tapi kenapa kenyataan seakan selalu mempermainkannya?

Yogie mengusap rambutnya dengan kasar. Ia kesal, sangat kesal. Kemudian ia merasakan seseorang duduk di hadapannya.

“Kamu butuh seseorang untuk mendengarkanmu?” suara lembut itu membuat Yogie mengangkat wajahnya dan mendapati Jihan yang sudah duduk di hadapannya dengan senyuman lembutnya.

Yogie hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu harus bercerita apa. Perasaannya tidak menentu, dan mana mungkin Jihan dapat mengerti tentangnya?

“Kamu berubah, Gie. Kamu tidak seperti Yogie yang ku kenal dulu.”

“Aku tidak akan menjadi Yogie yang dulu, Yogie yang bodoh karena hanya bisa mengejar-ngejar wanita dan di tinggalkan begitu saja oleh wanita yang di sukainya.”

Jihan tersenyum. “Tak ada yang salah dengan mengejar wanita, Gie. Sudah menjadi kodrat lelaki untuk mencari pasangannya, jika dia meninggalkanmu, maka kejarlah.”

Yogie tersenyum miring. “Jadi itu yang terjadi denganmu dulu? Kamu ingin aku mengejarmu ketika kamu pergi meninggalkanku?”

“Kita sudah sepakat tidak membahasnya lagi, Gie. Aku bahagia dengan hidupku saat ini, dan ku pikir kamu juga seharusnya bahagia dengan hidupmu yang saat ini.”

Yogie mendengus sebal. “Bagaimana mungkin hidupku bahagia jika pikiranku selalu penuh dengan perempuan sialan itu?”

Jihan mengerutkan keningnya. “Elena? Kamu selalu memikirkan Elena?”

Yogie mengangguk lemah. “Dia meninggalkanku. Sial! Dia melakukannya lagi, dia meninggalkanku lagi seperti dua tahun yang lalu. Apa yang salah denganku? Aku sudah berubah, tapi kenapa dia tetap meninggalkanku?”

Jihan menggenggam jemari Yogie yang ada di atas meja di hadapan mereka. “Perubahanmu ke arah yang salah, hingga dia memutuskan meninggalkanmu lagi.”

“Salah? Aku tidak mengerti.”

“Lihat ke dalam diri kamu, Gie. Apa kamu senang melakukan semua ini? Melakukan semua perubahan ini?”

Yogie hanya terdiam, ia mencoba menyelami beberapa waktu yang ia habiskan dengan Elena setelah wanita itu kembali dari Boston.

“Elena kembali untuk kamu, tapi aku kecewa ketika tahu kalau kamu memperlakukan dia dengan sangat kasar, kamu menginjak-injak harga dirinya, dan sangat wajar jika kini Elena menyerah dan kembali pergi meninggalkanmu.”

“Elena kembali untukku?”

“Ya, dia benar-benar kembali untukmu, untuk mencarimu, memulai semuanya dari awal denganmu.”

“Dan dari mana kamu tahu jika aku memperlakukannya dengan kasar?”

“Dia sering ke sini dan bercerita denganku, dia pikir hanya aku dan temannya yang bernama Megan yang dapat mendengarkan semua keluh kesahnya.”

“Apa dia bercerita yang lain denganmu?”

“Tidak. Dia hanya bicara jika dia kecewa dengan semua perlakuan yang kamu berikan padanya.”

Yogie menghela napas panjang. “Aku, aku berpikir jika dia hanya memanfaatkan keberadaanku seperti dulu. Dia hanya butuh tubuhku untuk memuaskan dahaganya, dan aku benci jika itu alasan dia kembali padaku.”

“Sebegitu rendahnyakah pandanganmu terhadap Elena? Apa dia terlihat seperti wanita gatal yang menjajahkan dirinya padamu? Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian sebelum dia pergi ke Boston, tapi yang kutahu, dia kembali dengan sesuatu, sesuatu yang sangat jelas terlihat di matanya.”

“Apa itu?”

“Cinta.”

Yogie menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak! Tidak mungkin. Elena pernah bilang jika dia tidak pernah percaya dengan cinta.”

“Aku bisa melihatnya.”

Yogie masih menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin.”

“Kalau dia benar-benar kembali dengan cinta untukmu, apa kamu menerimanya?” pertanyaan Jihan membuat Yogie tertegun.

Apa ia akan menerima Elena dengan cintanya? Apa ia akan kembali percaya dan berharap dengan kata yang bernama cinta? Yogie masih menggelengkan kepalanya, tapi hatinya sedikit luluh dan mencoba percaya dengan apa yang di katakan Jihan.

“Pikirkanlah sendiri, kamu yang menjalaninya, tentu kamu yang lebih tahu dan yang dapat merasakannya sendiri.” Jihan bersiap berdiri untuk meninggalkan Yogie sendiri, tapi kemudian pernyataan Yogie menghentikannya.

“Aku sudah salah.” Tanpa sadar Yogie mengucapkan kalimat tersebut.

Jihan kembali duduk karena ia berpikir jika Yogie akan mengatakan sesuatu padanya.

“Aku sudah memperlakukannya dengan tidak baik, aku bodoh karena selalu berpikiran buruk padanya. Dan kini, dia benar-benar meninggalkanku. Aku yang salah.”

“Kamu masih bisa mengejarnya, semuanya belum terlambat.”

“Bagaimana jika dia menolakku? Dia terlihat sangat membenciku.”

“Kamu belum mencoba, jika dia menolakmu, jangan menyerah. Aku tahu kamu tipe orang yang tidak gampang menyerah.”

Yogie kembali tercenung. Apa ia akan mengejar Elena? Membuat wanita itu kembali padanya? Apa ia akan menerima Elena dengan keadaan wanita itu saat ini yang mungkin saja sedang hamil dan mengandung bayi lelaki lain. Dapatkah ia menerima kenyataan itu?

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Entahlah, aku hanya… sedikit ragu.”

“Oke, sekarang pertanyaan sederhana, apa kamu mencintainya?”

Yogie terperangah dengan pertanyaan yang di lontarkan Jihan. Apa ia mencintainya? Mencintai Elena?

“Aku tidak tahu.”

“Ayolah, jangan menyebalkan. Bagaimana kamu mau mengejarnya jika kamu sendiri tidak yakin dengan perasaanmu?”

“Aku, aku-”

“Apa?”

Yogie menghela napas panjang. Tidak ada gunanya lagi membohongi dirinya sendiri, memungkiri perasaannya sendiri, jika kenyataannya ia memang tidak dapat jauh dari sosok Elena, dan semua itu di karenakan oleh perasaannya, bukan tentang kontak fisik dengan wanita tersebut, bukan juga perasaan tentang seks atau apapun itu, melainkan perasaan sesungguhnya yang entah sejak kapan sudah tumbuh di hatinya, perasaan yang di sebut dengan cinta.

“Ya, aku mencintainya.”

Jihan tersenyum lebar. “Kalau begitu, tunggu apa lagi. Kejar dia.”

Tapi….

Yogie masih ragu, tentu saja. Tak gampang untuknya mengakui jika ia memang sudah jatuh hati pada sosok Elena. Elena bukan sosok wanita sempurna, tapi entah kenapa wanita itu mampu membuatnya jatuh cinta dengan segala kekurangan wanita tersebut.

 

-TBC-

Jangan baper yaa.. Nextnya.. hahahhahaha yg penasaran boleh beli dulu Pdfnya di playbook, wakakakakakakak

Advertisements

Elena – Chapter 6 (Menghindariku?)

Comments 6 Standard

elena-copyElena

“Ayo ikut masuk, kamu terlihat kacau.” Bisik Elena dengan suara serak.

“Kalau aku masuk, aku akan bercinta denganmu.”

“Bukan masalah, setiap malam kita melakukan itu, bukan?”

“Kali ini benar-benar bercinta, bukan hanya sekedar seks.”

Elena terdiam sebentar kemudian berkata lagi. “Kamu akan menganggapku sebagai wanita itu?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Kamu butuh pelampiasan?” tanya Elena lagi.

Yogie mengangguk. “Dan juga pelepasan.” Jawabnya dengan tegas.

“Well, untuk malam ini, kamu bisa menganggapku sebagai wanita manapun.” Setelah perkataan Elena tersebut, secepat kilat Yogie menyambar bibir ranum Elena yang sejak tadi menggodanya. Yogie menarik tubuh Elena hingga tubuh wanita tersebut berada di atas pangkuannya dengan posisi menghadapnya tanpa sedikitpun melepaskan pagutan bibirnya. Yogie kembali melumat bibir Elena dengan panas hingga wanita tersebut mengerang dalam ciumannya dan tak mampu menolaknya lagi.

***

Chapter 6

-Menghindariku?-

 

“Al… Shit, Alisha, Oh, kamu benar-benar membuatku gila.” Entah sudah berapa kali Yogie meracau ketika ia mendapatkan kenikmatan lagi dan lagi dari tubuh di bawahnya kini.

“Aku tidak bisa berhenti, Al, aku tidak bisa berhenti.” Lagi, dan lagi Yogie menyebut nama itu tanpa mempedulikan sedikitpun ekspresi wanita yang berada di bawahnya.

“Aku akan sampai, sial!! Aku akan sampai.” Dan Yogie kembali mengerang panjang ketika pelepasan itu terjadi.

Yogie memeluk tubuh di bawahnya, kemudian berbisik di sana dengan suara seraknya.

“Aku mencintaimu, Al, aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini.”

Yogie menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher wanita di bawahnya tanpa mempedulikaan jika wanita itu kini sudah memeluk tubuh Yogie erat-erat dengan lengan rapuhnya.

***

Yogie membuka mata dan merasakan nyeri yang amat sangat di kepalanya. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati dirinya masih terbaring dalam keadaan telanjang bulat di sebuah kamar yang sangat di kenalnya, kamar Elena.

Yogie sedikit menyunggingkan senyumannya ketika mengingat betapa panasya mereka bercinta semalam, tentu sama panasnya dengan malam-malam sebelumnya. Yogie bangkit dan baru sadar jika kamar tersebut sudah kosong.

Kemana Elena? Apa wanita itu sudah berangkat ke kantor? Meninggalkannya? Tidak seperti biasanya. Gerutu Yogie dalam hati. Yogie bangkit dan sesekali memijit pelipisnya. Ia meraih pakaiannya yang masih berserahkan di lantai dan mengenakannya satu persatu.

Tak lama, ponselnya berbunyi. Dengan mata yang sedikit terpejam, Yogie mengangkat telepon tersebut.

“Kamu di mana? Ini sudah jam sebelas, dan kamu belum sampai di kantor? Kamu tentu tahu kesibukan kita di hari senin…”

Yogie mematikan ponselnya seketika. Itu pak Roy, atasannya. Sial! Padahal Yogie berharap jika yang menghubunginya tadi adalah Elena, nyatanya, wanita itu tidak menghubunginya. Apa Elena sibuk? Mungkin saja.

Yogie akhirnya bergegas keluar dari apartemen Elena laalu bersiap pulang ke apartemennya sendiri. Sepertinya hari ini dirinya tidak akan masuk kerja, biarlah ia di pecat, toh itu tidak akan membatalkan perjanjiannya dengan Elena.

Ketika sampai di ruang tengan apartemen Elena, ia berpikir sebentar, kalau ia tidak masuk kerja, kenapa ia pulang? Bukankah lebih baik ia menunggu Elena di sini? Ya, menunggu Elena akan lebih baik di bandingkan pulang dan sendiri di apartemennya yang dingin.

Akhirnya Yogie memutuskan kembali ke kadam kamar Elena, membersihkan diri dan melakukan apapun yang ia bisa untuk menyambut kedatangan Elena.

***

Elena masih berkonsentrasi di hadapan layar monitornya. Saat ini ia sedang melakukan chatting dengan salah seorang temannya yang berada di luar negeri, chatting mengenai bisnis fasion yang sedang ia jalani tentunya. Tapi sesekali temannya itu bertanya tentang kabar Elena yang sudah beberapa bulan menetap di indonesia.

Elena sedikit bingung dengan perasaannya, sejak semalam, ia merasa tidak nyaman dengan Yogie, apa karena lelaki itu tidak berhenti menyebut nama wanita lain saat bercumbu dengannya? Apa karena alasan itu? Tidak!!  Sepetinya bukan karena itu. Elena tahu, seharusnya ia tidak peduli apa yang di ucapkan Yogie, yang harusnya ia peduikan adalah lelaki itu yang dapat memuaskan hasrat seksualnya, hanya saja, semalam…. ia merasa tidak puas. Ia merasa jika Yogie menyentuhnya seperti sentuhan Gilang, guru les privatnya yang setengah gila.

Elena menggelengkan kepalanya dan kembali menatap layar monitor di hadapannya. Megan ternyata sudah kembali membalas chatnya.

Megan : Jadi, apa kamu sudah menemukan pengganti Aaron? Dia kembali ke sini, dan aku bingung kenapa kamu masih tetap di negaramu?

Elena tersenyum. Ya, semua temannya memang hanya mengetahui jika dirinya tergila-gila dengan seorang Aaron Revaldi, padahal sebenarnya bukan begitu. Aaron bahkan tahu, jika Elena sudah menghilangkan perasaan sukanya pada lelaki tersebut.

Elena : Aku memiliki pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan, Meg.

Megan : Pekerjaan, atau seorang Pria?

Elena kembali tersenyum, entah kenapa ia mengingat Yogie, apa lelaki itu sudah bangun? Apa lelaki itu mencarinya? Ah, persetan dengan Yogie!

Elena : Benar-benar pekerjaan, Meg.

Megan : Well, bagaimana jika aku saja yang mendekati Aaron? Kupikir aku tertarik padanya.

Elena : Ya, silahkan, kupikir dia juga sedang sendiri.

Megan : Kamu putus dengannya?

Elena : Sepertinya begitu.

Megan : Ada yang ingin kamu ceritakan? Kupikir kamu sedikit kaku.

Elena berpikir sebentar, kemudian mulai mengetik kembali  apa yang terlintas di kepalanya.

Elena : Meg, jika kamu mengenal seorang pria, tapi pria itu sangat mencintai wanita lain, apa yang akan kamu lakukan? Maksudku, apa kamu akan tetap berhubungan dengan pria tersebut?

Megan : Tergantung bagaimana hubunganya.

Elena : Maksudmu?

Megan : Elena, kita tidak bisa selalu mengharap pada orang yang jelas-jelas tidak tertarik dengan kita. Berteman boleh, tapi jika berharap lebih, aku sarankan jangan, kamu akan tersakiti.

Kupikir aku sudah tersakiti. Elena sudah mengetik kalimat tersebut tapi kemudian ia menghapusnya lagi. Tersakiti? Oleh Yogie? Yang benar saja.

Megan : Elena, kamu masih di sana?

Elena : Ah ya, terimakasih sudah memberikan saranmu.

Megan : Kamu sedang memiliki masalah dengan seseorang?

Elena : Tidak, aku baik-baik saja. Dan ini sudah sore, sepertinya aku harus pulang karena aku sudah mulai lelah.

Megan : Baiklah, jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja padaku, sampai jumpa Elena.

Elena : Bye, Meg.

Elena menghela napas panjang, kalimat Megan tadi seakan terukir dalam ingatannya. Elena tahu, jika pertanyaannya tadi tentu berhubungan dengan Yogie, dan astaga, untuk apa juga ia bertanya tentang Yogie?

***

Setelah seharian berada di apartemen Elena, Yogie merasa sedikit bosan. Ia sudah menghabiskan waktunya membersihkan seluuh penjuru apartemen Elena, memasak untuk makan siangnya sendiri, kemudian menonton televisi. Yogie bahkan mengusir tukang bersih-bersih yang biasanya membersihkan rumah Elena.

Kini, Yogie sedang santai menunggu kedatangan Elena untuk makan malam bersamanya. Bukan makan malam yang mewah, karena dirinya sendiri memang tidak bisa memasak. Ya, Yogie sendiri yang membuat makan malam tersebut.

Yogie hanya memanaskan beberapa masakan kaleng yang memang tersedia di lemari es di dapur Elena, pasta siap saji, dan juga, nasi goreng. Yogie tersenyum ketika mengingat jika makanan di hadapannya tidaklah cocok untuk makan malam bersama dengan wanita sekelas Elena. Oh, Yogie merasa dirinya benar-benar tidak pantas bersanding dengan Elena. Bersanding? Tidak! Untuk apa juga ia membayangkan bersanding dengan wanita yang jelas-jelas tidak menginginkannya?

Lamunan Yogie berhenti ketika mendengar pintu depan terbuka. Elena pulang. Dan seketika itu juga Yogie berdiri seakan menyaambut kedatangan Elena.

***

Elena pulang dengan suasana hati yang kacau. Percakapannya bersama Megan benar-benar mempengaruhinya. Bagaimana bisa ia memikirkan seorang Yogie? Lelaki yang sama sekali bukan tipenya?

Elena masuk ke dalam apartemennya dan terkejut mendapati Yogie yang sudah berdiri di sana. Lelaki itu bediri tegap, mengenakan t-shirt santai, dan juga celana pendeknya. Dan, entah kenapa seperti itu saja, Yogie terlihat panas di hadapan Elena.

Elena benar-benar terpaku menatap Yogie, sesekali Elena melirik ke meja makannya yang di sana sudah tersedia beberapa masakan untuk makan malam. Apa Yogie yang menyiapkannya? Tidak mungkin!

“Hai.” Sapaan Yogie membuat Elena tersadar jika dirinya sudah lama mematung di sana.

“Hai juga. Kamu kok di sini?”

“Kenapa? Memangnya nggak boleh?”

“Bukan begitu, tapi-”

“Lebih baik kamu mandi, dan ayo makan malam bersama.”

“Aku-”

“Mau kumandiin?”

“Enggak!” jawab Elena cepat. Entah kenapa Elena yakin jika Yogie ikut masuk ke dalam kamar mandinya, lelaki itu pasti mengajaknya bercinta di dalam kamar mandi, dan becinta dengan Yogie kini menjadi hal terakhir yang Elena pikirkan. Bukannya Elena tidak lagi bergairah dengan lelaki tersebut, hanya saja, pikiran dan perasaannya sedang kacau.

“Oke, kalau begitu aku menunggumu di sini. Mandilah.”

Elena mengangguk dan dengaan canggung ia masuk ke dalam kamarnya. Canggung? Oh, sejak kapan ia canggung di hadapan lawan jenis? Elena, apa yang terjadi denganmu? Pikir Elena dalam hati sambil sesekali menggelengkan kepalanya.

Elena masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu kamarnya, kemudian menghela napas panjang. Bagaimana mungkin Yogie bisa begitu mempengaruhinya? Lagi-lagi pertanyaan itu terngiang di dalam ingatannya.

Elena menyapukan matanya ke seluruh penjuru ruangan dan baru menyadari jika ada yang beda di dalam kamarnya. Ada sebuah gitar di ujung ruangan, sebuah Playstation di meja televisi tepat di depan ranjangnya. Apa itu punya Yogie? Kenapa lelaki itu membawa barang rongsokannya kemari? Piki Elena.

Elena kemudian menuju ke arah lemari pakaiannya, membukanya dan berakhir dengan mengumpat karena mendapati beberapa pakaian pria di sana yang di yakini Elena adalah pakaiaan Yogie. Elena berlari ke dalam kamar mandinya dan mendapati ada sepasang handuk, yang satu miliknya dan satu lagi Elena yakin adalah milik Yogie, begitupun dengan alat-alat mandi, Elena bahkan melihat ada alat cukur beserta creamnya.

Sial!

Apa Yogie berniat tinggal bersamanya? Yang benar saja.

Elena kembali keluar dan menanyakan semua itu pada Yogie.

“Apa yang kamu lakukan dengan kamarku?”

“Apa? Aku tidak melakukan apapun.”

“Tidak melakukan apapun, katamu? Kamu membawa barang-barangmu ke dalam kamarku tanpa ijinku.”

Yogie mendekat, memebelai lembut pipi Elena, “Elena sayang, sebagian besar waktuku adalah di sini, bersamamu. Jadi tidak masalah bukan kalau aku membawa barang-barangku kemari?”

“Tapi aku tidak ingin tinggal seatap denganmu.”

“Siapa bilang aku ingin? Aku hanya membawa barang yang ku perlukan mana tahu kita bercinta sampai pagi dan aku lupa pulang.”

Elena menghela napas dengan kesal. Sial! Tentu saja yang ada di dalam kepala Yogie hanyalah kejantanannya saja. Bagaimana mungkin ia bepikir Yogie berharap tinggal bersamanya?

Elena membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya dengan sangat kesal. Ya, bagaimanapun juga, hubungannya dengan Yogie hanyalah hubungan timbal balik. Yogie membutuhkannya karena ia mampu memuaskan hasrat sekssual lelaki tersebut, begitupun dengan dirinya yang membutuhkan Yogie seperti membutuhkan udara untuk hidup, dalam hal seks tentunya.

***

Elena menyantap makan malam di hadapannya dengan diam. Ia masih kesal dengan sikap Yogie yang seenaknya sendiri. Bagaimanapun juga Yoge seharusnya minta ijin kepadanya jika ingin memboyong barang-barangnya tersebut.

“Masih marah, Honey?” Yogie bertanya dengan nada menggoda.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.”

“Kenapa?”

“Kita tidak sedang melakukan seks, jadi jangan memanggilku dengan panggilan menggelikan seperti itu.”

“Ya, memang tidak sekarang,  tapi sebentar lagi.”

“Tidak ada sebenta lagi, Yogie, malam ini aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Tidak ada alasan.”

“Bohong!” seru Yogie. Yogie menatap Elena dengan tatapan penuh intimidasi. “Kamu berubah hari ini, kenapa? Apa karena semalam? Apa semalam aku berbuat brengsek padamu?”

“Semalam? Aku sama sekali tidak memikirkan malam-malam saat aku melakukan seks denganmu.” Elena berkata dengan santai tanpa

“Bercinta Elena, kita bercinta.”

Elena tersenyum miring. “Yogie, kamu memang sedang bercinta dengan wanita impian kamu semalam, tapi bagiku, itu tidak lebih dari sekedar seks.”

Rahang Yogie mengeras kesetika. “Baiklah, malam ini  aku menginginkan seks.” Yogie berbicara dengan nada frontal dan sedikit melecehkan.

“Sorry, malam ini tidak bisa.”

“Aku butuh alasan.”

“Periode bulanan.”

“Sial! Itu tidak mungkin!”

Well, nyatanya aku sedang menstruasi, kalau kejantananmu tidak bisa menunggu seminggu kemudian, kamu boleh pergi mencari perempuan lain.”

Secepat kilat Yogie berdiri dan pergi meninggalkan Elena begitu saja dengan ekspresi kesalnya. Sedangkan Elena sendiri seketika diam membatu. Ya, Yogie pasti akan pergi ketika dirinya sedang tidak bisa melakukan seks, lagi pula, memangnya kenapa kalau lelaki itu pergi? Toh hubungan mereka memang hanya sekedar seks, sangat wajar jika lelaki itu pergi ketika dirinya tidak dapat memuaskan hasrat seksual lelaki tersebut.

Elena kembali teringat tentang semalam, ketika ia menawarkan diri sebagai tempat Yogie menyalurkan semua pelampiasannya. Yogie menyentuhnya lagi dan lagi, seakan tidak ingin memberi ampun pada Elena, seakan lelaki itu sudah sangat lama tidak menyalurkan hasratya, seakan lelaki itu mencurahkan seluruh rindunya pada tubuh di bawahnya, dan yang Elena yakini saat itu adalah, tubuhnya hanya sebagai pengganti tubuh wanita yang begitu di cintai Yogie, wanita yang bernama Alisha Almeera, bukan Elena Pradipta.

***

Yogie menegak minumannya lagi dan lagi. Ia sangat kesal dengan sikap Elena yang beruba acuh padanya. Wanita itu bahkan bersikap seolah dirinya seorang bajingan sialan. Ya, tentu saja, bukankah ia memang seorang bajingan?

Yogie kembali menegak habis minuman yang baru saja di isi kembali seorang bartender di hadapannya.

“Gimana kabar lo?” sebuah tepukan di pundahknya di sertai dengan pertanyaan tersebut membuat Yogie menolehkan kepalanya dan menatap ke arah seseorang yang baru saja duduk di sebelahnya.

Itu Andrew. Untuk apa pria salan ini datang padanya?

“Baik.” Jawab Yogie datar sambil meminta si bartender mengisi gelasnya kembali.

“Lo terlihat kacau. Kenapa emangnya?”

“Sejak kapan lo tanya-tanya masalah gue?”

Andrew mengangkat kedua bahunya. “Apa salah kalau gue tanya?”

“Enggak.” Jawab Yogie singkat. Kemudian ada sesuatu yang menggelitik pikiran Yogie, memaksa Yogie untuk menanyakan sesuaatu pada Andrew.

“Drew,  lo masih pacaran sama Elena?”

Andrew tampak sedikit terkejut. Malam itu ketika Yogie keluar sebagai pemenang, Andrew tidak berhenti mengumpat. Yogie bahkan dengan brengseknya langsung membawa Elena pergi bersamanya. Setelah itu Elena bahkan tidak ingin berbicara dengan Andrew lagi karena kesal.

“Masih.” Desis Andrew menahan amarahnya. Ia tentu sangat kesal dengan sikap Yogie yang benar-benar menjadikan Elena sebagai taruhannya malam itu.

“Lo beneran masih pacaran sama cewek yang sudah bercinta dengan temen lo?” ejek Yogie.

Secepat kilat Andrew bangkit dan mencengkeram kerah Yogie. “Maksud lo apa?” Andrew kembali menggeram kesal.

Dengan santai Yogie berkata. “Tinggalin dia, Elena milik gue.” Kalimat tersebut terdengar begitu santai namun di ucapkan dengan tatap mata tajam yang mampu mengintimidasi orang di hadapannya.

***

Pagi itu, Elena sibuk memasukan beberapa potong bajunya ke dalam kopernya. Ia akan pergi, dan ia memang harus pergi sebelum semuanya semakin kacau.

Semalaman ia tidak bisa tidur, entah apa yang membuat pikirannya kembali gelisah. Jam dua dini hari ia bangun bergegas ke dapur untuk membuat cokelat panas, tapi kemudian ia mendapati Yogie yang sudah tertidur pulas di sofa ruang tengahnya. Elena terkejut, tentu saja. Untuk apa juga lelaki itu tidur di apartemennya padahal mereka tidak sedang melakukan seks.

Jantung Elena kembali berpacu cepat, padahal kini ia hanya melihat sosk yang tidur pulas seakan tanpa dosa. Elena akhirnya kembali maasuk ke dalam kamarnya, mengunci kamar tersebut dan berakhir dengan gelisah sepanang malam sampai pagi.

Kini, Elena sudah memutuskan sesuatu, ia akan pergi sementara, ya, setidaknya menjauh dari sosok Yogie.

Setelah menyiapkan semuanya, Elena keluar dari kamarnya, dan betapa terkejutnya ia mendapati Yogie yang sudah berdiri di sana. Lelaki itu tampak lebih segar, mungkin sudah mandi di kamar mandi sebelah dapur Elena. Tidak ada lagi bau alkohol seperti tadi malam.

Elena menatap Yogie dengan tatapan lembutnya, sedangkan lelaki itu tampak memperhatikan Elena yang sudah rapi dengan koper di tangannya.

“Kamu, mau kemana?”

“Aku akan kembali ke Luar Negri, ada masalah di sana.”

“Masalah? Masalah apa?”

Elena menghela napas panjang. Jelas ia tampak enggan terlalu lama berdebat dengan Yogie. “Aku memiliki usaha keecil di sana bersama dengan temanku, dan kini usaha itu sedang ada masalah.” Jelas Elena sambil pergi menuju ke arah dapur untuk mengambil ai minum.

“Berapa lama?” suara Yogie terdengar dingin, tapi Elena tidak ingin menghiraukan itu.

“Aku tidak yakin.”

“Kamu akan kembali?”

“Tentu saja, Ayah sudah mewariskan perusahaannya padaku, mana mungkin aku meninggalkanya.” Jawab Elena masih tidak menghiraukan Yogie yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya.

“Kalau begitu kenapa tidak kamu urus dari sini saja usahamu itu?”

“Tidak bisa, Megan baru saja menghubungiku, dan dia memintaku ke sana.” Elena menjawab masih dengan membelakangi Yogie. Ia seakan tidak ingin menatap dan terpesona pada lelaki di belakangnya tersebut. Terpesona?

“Kamu mengindariku? Elena?” pertanyaan Yogie membuat Elena membatu seketika.

Yogie melangkah mendekat, tatapan matanya fokus pada punggung Elena yang sama sekali tidak bergerak. Lenan Yogie kemudian terulur melingkari pinggang Elena dari belakang, kemudian menarik tubuh Elena hingga masuk ke dalam pelukannya. Yogie menunduk, membawa wajahnya pada helaian rambut Elena, menghitup aroma wanginya yang seakan memabukkan.

“Katakan, kamu sedang menghindariku, Elena?” ucapnya lagi kali ini di ikuti dengan kecupan basah menggoda pada permukaan leher Elena.

 

-TBC-

Elena – Chapter 5 (Pesta)

Comments 7 Standard

elena-copyElena

Chapter 5

-Pesta-

 

Yogie terbangun dan mendapaati Elena di dalam pelukannya. Ini sudah dua minggu setelah kesepakatan mereka terjadi malam itu. Semuanya berjalan sesuai dalam kesepakatan. Elena selalu bersikp seolah tak mengenal Yogie ketika keduanya tidak sengaja bertemu di tempat umum. Begitupun sebaliknya. Kenyataan jika Yogie bekerja di kantor yang sama dengan Elenapun tidak berpengaruh. Toh Yogie hanya staf biasa, mana mungkin dengan leluasa bisa menemui Elena yang berkedudukan sebagai wakil direktur di perusahaan tempatnya bekerja.

Yogie menatap langit-langit kamar Elena, pikirannya seakan terbang pada masalalu, masa dimana dirinya sempat menyukai wanita yang berada dalam pelukannya saat ini.

Dulu, Yogie bukanlah lelaki bajingan dengan keinginannya untuk selalu melakukan seks, Yogie bukan pria seperti itu. Dia memiliki cinta, dan dia percaya dengan kata tersebut.

Yogie pernah menyukai Elena ketika SMA, tapi Elena yang populer seakan tidak pernah melirik ke arahnya. Lulus SMA, Yogie melanjutkan sekolah di salah satu perguruan tinggi di kota ini, dari sanalah semua bermula. Pergaulan bebas mulai di kenal oleh Yogie, gonta-ganti pacarpun tidak terhindarkan. Hingga kemudian Yogie lulus dengan gelar sarjananya dan memilih bekerja di perusahaan Omnya daripada perusahaan keluarganya sendiri.

Ya, sebenarnya Yogie bukanlah orang tidak punya, ia cukup berada, hanya saja Yogie memilih hidup sendiri dan menyewa apartemen sederhana untuk ia tinggali dari pada harus tinggal di rumah orang tuanya yang mewah tapi seakan di anak tirikan.

Yogie memiliki seorang kakak laki-laki, namanya Yongki Pratama. Yongki di gadang-gadang oleh kedua orang tuanya sebagai pewaris perusahaan sang kakek, dan itu membuat Yogie merasa terasingkan. Semua tentang kakaknya, sedangkan ia sendiri seakan tidak di pedulikan oleh kedua orang tuanya. Yogie kesal, ia bahkan muak dengan keluarganya yang seakan di butakan oleh sebuah warisan. Akhirnya Yogie memilih hidup sendiri dengan menyewa apartemen sederhana asal jauh dari keluarganya.

Dasar pecundang! Yogie mengumpati dirinya sendiri. Ia memang membenci keluarganya tersebut, tapi tanpa tahu malu ia tetap menerima uang bulanan yang di kirim sang kakak padanya. Benar-benar memalukan!

Beberapa bulan bekerja di tempat Omnya, Yogie memutuskan untuk berhenti. Ia merasa tidak cocok bekerja di balik komputer dengan rutinitas monoton. Ia bosan. Akhirnya Yogie memilih berhenti dari perusahaan tersebut lalu berakhir dengan menjadi pengangguran.

Kehidupan malam, balapan liarpun kembali menjadi rutinitasnya karena nyatanya Yogie masih memikirkan kesenangan sepeti anak remaja dari pada memikirkan masa depannya.

Beberapa bulan yang lalu, ia bertemu dengan Alisha, seorang pengantar minuman di salah satu Pub. Dan Yogie jatuh hati pada wanita itu. Wanita cantik dengan penampilan yang sedikit tomboy. Sayangnya, Alisha lebih memilih menikah dengan Brandon, dari pada dengan dirinya.

Ahh mungkin wanita itu kini sudah bahagia dengan suaminya. Pikir Yogie, hanya saja, Yogie seakan belum bisa menerima kenyataan itu. Ia masih menyukai Alisha, tentu saja. Meski kini kehadiran Elena sedikit menyamarkan perasaannya pada sosok Alisha.

Yogie manatap ke arah Elena. Jemarinya terulur menggoda punggung telanjang Elena, membuat wanita itu menggeliat lalu semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Yogie.

Elena Pradipta.

Apa yang terjadi denganmu?

Kenapa kamu berubah?

Pikiran-pikiran itu selalu mengganggu Yogie. Elena pernah berkata jika wanita itu memilih melajang seumur hidup dan hanya berhubungan seks untuk memuaskan hasratnya, dan Yogie penasaran, apa yang membuat wanita itu terlihat seperti… seperti… sedang putus asa?

Apa hanya karena cinta Elena yang di tolak oleh Aaron mentah-mentah? Tidak mungkin karena itu. Yogie ingin tahu, tapi apa haknya untuk tahu? Toh mereka hanya terikat karena seks, bukan karena perasaan. Elena akan lari ketakutan jika dirinya mencoba mengorek informasi pribadi tentang wanita tersebut.

Yogie mendekatkan wajahanya ke arah Elena, mengecup hidungnya lembut. Hal yang sama sekali tidak pernah ia lakukan pada siapapun, tapi entah kenapa dengan Elena ia ingin melakukannya. Melakukan hal-hal yang manis untuk wanita tersebut.

Setelah mengecup lembut hidung Elena, bibir Yogie merambat turun dan mendapati bibir mungil Elena. Yogie mengecup lembut, menggodanya, hingga kemudian Elena membuka matanya.

“Sudah bangun?” tanya Elena dengan suara seraknya.

“Hemm.”

“Kenapa nggak bangunin aku?”

“Ini minggu, kita bisa di sini sampai siang.”

“Ya, minggu, hari yang sangat baik.” Elena mengeratkan pelukannya pada tubuh Yogie, sedangkan Yogie sendiri semakin menegang karena sentuhan halus dari kulit lembut Elena.

“Sudah jam sepuluh, mau mandi bareng?”

Elena menggelengkan kepalanya. “Katanya kita bisa di sini sampai siang? Ini minggu, jadi tidak perlu terburu-buru mandi.”

“Aku mau kamu nemanin aku.”

Elena mengerutkan keningnya. “Kemana?”

“Belanja.”

Satu kata itu membuat Elena mengerutkan kening sembari menatap Yogie dengan tatapan anehnya.

“Kamu nggak serius ngajak aku belanja, kan? Memangnya kamu tahu bagaimana seleraku?”

“Kamu meremehkan aku?” Yogie tersnyum miring. “Kamu memang lebih kaya dari pada aku Elena, tapi aku tahu bagaimana membuatmu senang meski dengan uang pas-pasan.”

Elena tertawa lebar. “Oke, aku mau ikut. Tapi kenapa tiba-tiba kamu mengajakku belanja?”

“Temani aku nanti malam.” Bisik Yogie serak.

“Kemana?”

“Sepupuku menikah, aku harus hadir ke pestanya, tapi aku tidak mungkin hadir sendiri seperti orang bodoh.”

Well, kamu juga nggak mungkin ngajak aku, ingat, aku nggak mau hubungan kita di ketahui orang luar.”

Yogie kembali tersenyum. “Kamu tenang saja, aku tidak akan mengajakmu sebagai kekasihku. Kita ke sana sebagai teman. Lagi pula, tidak akan ada yang peduli aku membawa siapa.”

Elena mengangkat sebelah alisnya. “Kamu bermasalah dengan keluargamu?”

Yogie bangun. “Tidak, kami hanya kurang akur.”

Elena ikut bangun kemudian dengan spontan memeluk tubuh Yogie. “Aku akan menemanimu, kamu tenang saja.” Entah kenapa Elena mengucapkan kalimat itu.

Yogie menatap Elena, entah apa yang di rasakan di dadanya saat ini. Degupannya semakin aneh  ketika tangan mungil Elena memeluk tubuh kekarnya.

“Setidaknya kita bisa numpang makan di sana.” bisik Elena yang kemudian membuat Yogie terkikik geli.

“Tapi sepertinya…” Yogie menggantung kalimatnya.

“Sepertinya apa?”

“Aku akan memakan sarapanku terlebih dahulu.” Secepat kilat Yogie menyambar bibir Elena, mendorong tubuh Elena hingga kini kembali dalam tindihannya. Mencium wanita tersebut penuh dengan gairah yang seakan tak kunung padam. Oh, Yogie benar-benar merasa jika dirinya seorang maniak seks ketika berada di dekat Elena. Elena bagaikan obat untuk dahaganya, tapi wanita itu seakan tidak bisa menyembuhkannya hingga kemudian membuat Yogie candu dan menginginkannya lagi dan lagi.

***

Elena hanya menatap Yogie dengan tatapan anehnya. Lelaki itu kini sedang memilihkan gaun untuknya, gaun malam yang mewah dan mahal tentunya. Apa Yogie bisa membayarnya? Pikir Elena.

Elena tidak pernah mengenal Yogie, siapa lelaki itu, dari keluarga kaya atau tidaknya Elena tentu tidak tahu, dan untuk apa ia mencari tahu? Toh ia tidak pernah tertarik menjalin hubungan dengan Yogie, tidak dulu, tidak sekarang, atau nanti. Eena hanya tertarik dengan kejantanan lelaki itu, ya tentu saja, memangnya apa lagi, Bodoh!

Tapi setelah di pikir-pikir, Yogie terlihat bukan dari kalangan menengah kebawah. Ia bertemu dengan Yogie beberapa minggu yang lalu di sebuah klub malam yang mewah, dan pastinya hanya kalangan menengah keatas yang bisa masuk klub itu.

“Apa yang kamu pikirkan?” pertanyaan Yogie membuat Elena tersadar dari lamunannya. “Kamu takut Andrew memergoki kita sedang jalan bareng?”

“Enggak, dia lagi keluar kota.”

“Ohh.” Hanya itu Jawaban Yogie. “Coba ini.” Yogie menyodorkan sebuah gaun berwarna hitam dengan potongan seksi tapi tetap terlihat glamour karena beberapa aksesoris bling-blingnya.

Elena mengerutkan keningnya. “Memangnya kalau muat, kamu mau membelikan ini untukku?”

“Tentu saja.”

“Kamu yakin?” tanya Elena lagi.

Yogie tersenyum lebar. “Sudah kubilang, aku memang tidak sekaya kamu, tapi aku masih bisa membuatmu senang dengan uang pas-pasan.”

Well, kita lihat, apa kamu bisa membayar semua keinginanku.” Ucap Elena dengan congkaknya.

Yogie mendekat, kemudian berbisik pada telinga Elena. “Aku akan membayarnya, Honey, tapi aku akan menagih jatahku untuk nanti malam.”

Elena menjauh, menatap Yogie dengan tatapan jijiknya. “Benar-benar bajingan!” umpat Elena sambil menjauh menuju ruang ganti sedangkan Yogie hanya mampu tertawa lebar melihat ekspresi yang di tampilkan Elena.

***

Malamnya…

Yogie dan Elena akhirnya menghadiri pesta itu, pesta pernikahan Kezia, sepupu Yogie.

Sejak tadi, jantung Elena tidak berhenti berdegup kencang, entah karena apa Elena juga tidak tahu, apa karena Yogie yang berubah seratus delapan puluh derajat dengan mobil mewah yang di bawanya? Oh yang benar saja, ini hanya mobil Rental, Elena. Gerutu Elena pada dirinya sendiri.

Lelaki yang kini sedang mengemudi di sebelahnya ini juga berpenampilan rapi dengan setelan hitamnya yang membuatnya terlihat bak CEO-CEO di film-film romantis maupun di dalam fantasinya ketika ia sedang membaca novel. Film Romantis? Novel? Memangnya sejak kapan kamu pernah mennton film romantis dan membaca Novel, Elena? Jangan ngaco!

Akhirnya Elena hanya mampu berkali-kali menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Kamu gugup?” tanya Yogie tiba-tiba.

“Eh? Kenapa aku gugup?”

“Kamu terlihat gugup? Tenang Honey, kamu tidak sedang menghadiri pesta keluarga kekasihmu, jadi santai saja.”

“Hei, sejak tadi aku santai, lagi pula kenapa juga aku harus gugup?”

Yogie hanya membalasnya dengan senyuman. Tak lama, sampailah mereka di tempat acara pernikahan sepupu Yogie tersebut.

Setelah keluar ddari dalam mobil lalu mengikuti Yogie masuk ke dalam pesta tersebut, Elena hanya mampu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuu ruangan. Pesta yang mewah, dan tentunya di hadiri banyak orang-orang penting. Sebenarnya siapa lelaki di sebelahnya ini? Kenapa lelaki itu bisa memiliki saudara yang terlihat kaya raya sekelas dengan dirinya?

“Terkejut Elena?” bisik Yogie.

“Kamu benar-benar bajingan! Kalau tahu ini pesta kalangan atas, aku tidak akan mungkin mau ke sini denganmu.”

“Kenapa? Malu berada di sini bersamaku?”

“Sialan!! Beberapa orang di sini pasti mengenalku sebagai pewaris Pradipta Grup. Apa yang ku bilang pada mereka tentang hubungan kita kalau ada yang bertanya?”

“Jawab saja, aku hanya bawahanmu, salah seorang staf biasa di kantormu.”

Elena mendengus kesal. “Aku tidak bercanda Yogie.”

“Kupikir kamu bukan tipe orang yang menghiraukan perkataan orang-orang di sekitarmu?”

“Ya, memang bukan. Tapi…”

“Ayo, tidak perlu di bahas lagi, tujuan kita ke sini adalah numpang makan, jadi nggak perlu memikirkan orang-orang yang berada di sini.”

“Kadang aku heran, apa yang ada di epalamu itu hanya makan dan seks saja?” cibir Elena da itu membuat Yogie semakin tertawa lebar.

Keduanya akhirnya memutuskan untuk ikut larut dalam pesta meski tidak di pungkiri jika pesta saat itu adalah pesta yang membosankan seperti biasanya. Elena sempat penasaran, sebenarnya mana keluarga Yogie? kenapa lelaki itu tidak mengajaknya ke tempat keluarganya? Dan untuk apa juga ia menginginkan hal itu? Elena menggelengkan kepalanya, menepis semua pikiran-pikiran aneh yang sempat melintas di otaknya.

Elena kemudian menatap ke arah Yogie, lelaki itu tampak menegang dengan rahang yang sudah mengeras, seperti sedang menahan sesuatu. Apa Yogie sedang bergairah? Oh ayolah Elena, berhenti memikirkan seks!

Elena mengikuti arah pandang Yogie, dan ia mendapati sepasang lelaki dan perempuan yang sedang menaiki pelaminan untuk memberi selamat bagi mempelai pengantin.

“Kamu mengenalnya?” tanya Elena begitu saja.

Yogie hanya menganggukkan kepalanya.

“Dia wanita yang pernah amu ceritakan padaku?”

Yogie kembali menganggukkan kepalanya sedangkan matanya sendiri tidak berhenti menatap sosok itu, sosok yang sangat ia rindukan, Alisha Almeera.

“Dia cantik, dan suaminya terlihat tampan.” Komentar Elena. “Mereka terlihat bahagia.” Lanjutnya.

Yogie merapikan pakaiannya kemudian bersiap menghampiri Alisha dan juga Brandon, suami wanita tersebut.

“Kamu mau kemana?” Elena sedikit khawatir kalau mungkin tiba-tiba Yogie akan membuat sesuatu yang memalukan nantinya.

“Menemui mereka.”

“Ayolah Gie, mereka sudah bahagia, biaran saja.”

“Ada yang ingin aku sampaikan pada Alisha.”

“Apa? Bahwa kamu mencintainya? Jangan bodoh! Kamu akan mempermaalukan dirimu sendiri.”

“Aku memang masih sangat mencintainya.” Perkataan terkhir Yogie membuat Elena melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Yogie seketika. Untuk apa juga dirinya melarang lelaki tersebut? Bukan menjadi urusannya jika Yogie akan mengutarakan perasaannya pada wanita itu. Pikir Elena. Elena hanya mampu pasrah melihat Yogie pegi meninggalkannya menuju ke arah sepasang suami istri yang seak tadi mereka perhatikan.

***

Bodoh!!

Untuk apa juga ia melakukan hal ini? Yogie tidak berhenti mengumpati dirinya sendiri ketika ia menghadang Alisha dan juga Brandon.

“Ada apa?” Brandon bertanya dengan nada dinginnya, tapi itu tidak menyurutkan niat Yogie.

“Aku mau bicara sama Alisha.”

“Nggak bisa, bicara saja di sini.” Bantah Brandon lagi masih dengan nada dinginnya.

Yogie menatap Brandon dengan tatapan tajam membunuhnya, pun dengan lelaki di hadapannya tersebut yang menatap Yogie dan seakan ingin mendaratkan bogem mentahnya pada wajah Yogie.

“Aku benar-benar cinta sama dia, dia membuatku gila.” Yogie berkata tegas tepat di hadapan Brandon, Yogie tidak takut meski lelaki di hadapannya itu terlihat ingin menguliti Yogie hidup-hidup.

Brandon menyunggingkan senyuman sinisnya. “Dia sudah bersuami, dan kami sudah bahagia, jadi bisakah kau mengubur perasaan sialanmu itu?” Brandon berkata seakan menahan emosinya.

“Aku hanya mau bilang itu, bukan berarti aku mau merebutnya darimu.” Yogie mendesis tajam pada Brandon, kemudian tatapan matanya beralih pada sosok Alisha, sosok yang terlihat semakin cantik dan feminim karena kehamilan yang sudah sangat nampak. Tanpaa sungkan lagi, Yogie mengusap lembut pipi Alisha sembari berkata “Aku benar-benar mencintaimu, kali ini aku mengalah demi kebahagiaanmu, tapi saat aku mendengar kamu menderita karenanya, aku akan kembali merebutmu.” Pesan Yogie, lalu pergi begitu saja meninggalkan Alisha dan Brandon yang ternganga melihat kelakuannya.

Yogie kembali menuju ke arah Elena, tak lupa ia menyambar sebuah minuman beralkohol yang di bawakan seorang pelayan, mengeguknya hingga tandas tanpa menghiraukan tenggorokannya yang terasa terbakar karena minuman tersebut.

“Kita pulang saja.” ucap Yogie kemudian ketika berada tepat di hadapan Elena. Elena sendiri hanya mengerutkan keningnya. Sedikit paham jika semua tidak berjalan dengan baik untuk Yogie. Lelaki itu tampak kacau. Apa karena wanita tadi dan suaminya? Tentu saja. Dan Elena hanya bisa mengikuti Yogie keluar dari kerumunan pesta.

***

Yogie mengantar Elena ke apartemennya. Lelki itu kini tampak sedang menyadarkan kepalanya pada kemudi mobilnya. Elena sendiri meski kini sudah sampai di basement apartemennya, ia memilih tetap berada di dalam mobil Yogie untuk menemani lelaki tersebut.

“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Elena dengan lembut.

Yogie hanya menggelengkan kepalanya.

“Kamu boleh ikut masuk.” Tawar Elena.

Yogie kembali menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu apa yang di rasakannya saat ini dan ia tidak yakin jika dirinya akan tidak bersikap kasar dengan Elena ketika wanita itu masih ada di sebelahnya seperti saat ini.

Tiba-tiba Yogie merasakan sebuah jemari lembut menyentuh jemarinya yang mencengkeram kemudi mobil. Yogie mengangkat wajahnya kemudian menatap ke arah emari tersebut. Matanya kemudian beralih pada mata Elena yang sedang menatapnya dengan tatapan lembutnya.

“Ayo ikut masuk, kamu terlihat kacau.” Bisik Elena dengan suara serak.

“Kalau aku masuk, aku akan bercinta denganmu.”

“Bukan masalah, setiap malam kita melakukan itu, bukan?”

“Kali ini benar-benar bercinta, bukan hanya sekedar seks.”

Elena terdiam sebentar kemudian berkata lagi. “Kamu akan menganggapku sebagai wanita itu?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Kamu butuh pelampiasan?” tanya Elena lagi.

Yogie mengangguk. “Dan juga pelepasan.” Jawabnya dengan tegas.

Well, untuk malam ini, kamu bisa menganggapku sebagai wanita manapun.” Setelah perkataan Elena tersebut, secepat kilat Yogie menyambar bibir ranum Elena yang sejak tadi menggodanya. Yogie menarik tubuh Elena hingga tubuh wanita tersebut berada di atas pangkuannya dengan posisi menghadapnya tanpa sedikitpun melepaskan pagutan bibirnya. Yogie kembali melumat bibir Elena dengan panas hingga wanita tersebut mengerang dalam ciumannya dan tak mampu menolaknya lagi.

***TBC***

Update lagi minggu depan, minggu ini saya habiskan untuk mengupdate bang Randy karena banyak yang nunggu yaa.. hehehhehe

Elena – Chapter 4 (Hadiahku)

Comments 8 Standard

elena-copyElena

Walau cerita ini sepi peminat, tapi entahlah, saya sangat bersemangat menulis lanjutannya. jadi kemungkinan akan Fast update (Jika banyak waktu luang), saya harap readers yang baca cerita ini nggak bosen yaa.. hahhahahah

Banyaaaaaaaakkkkkk Typo!!!

“Singkirkan pikiran mesummu Yogie, kamu tidak akan pernah mendapatkan hal itu.”

Yogie menaruh sembarangan berkas-berkas yang tadi di bawanya di meja Elena, kemudian iaa berjalan cepat menuju ke arah Elena, menarik wanita tersebut hingga berdiri tepat di hadapannya kemudian tanpa basa-basi lagi menyambar bibir Elena dengan ciuman panasnya.

Yogie menarik tubuh Elena hingga menempel sepenuhnya pada tubuhnya. Pangkal pahanya kembali berdenyut nyeri karena menginginkan sebuah pelepasan.

Elena meremas kemeja yang menempel pada dada bidang Yogie. Oh, lelaki ini benar-benar sangat menggairahkan, membuat Elena selalu di bayangi pikiran-pikiran erotis ketika berada di dekat lelaki ini.

Yogie melepaskan pagutannya, kemudian dengan napas terengah ia berbisik serak pada Elena.

“Aku ingin memasukimu saat ini juga.”

Elena membulatkan matanya seketika. Yogie gila!!! Dan astaga, bagaimanaa mungkin ia menjadi sama gilanya dengan Yogie karena saat ini ia mengininkan hal yang sama dengan lelaki tersebut??

 

Chapter 4

-Hadiahku-

 

“Kita tidak bisa melakukan itu di sini, Gie.” Ucap Elena yang suaranya sudah sangat serak.

“Kata siapa? Aku bisa melakukan apapun yang kumau.”

Please, tidak sekarang, tidak di sini.” Elena memohon. Yang benar saja, saat ini Elena juga sangat menginginkan Yogie, tapi demi Tuhan, mereka sedang berada di dalam ruang kerjanya yang mungkin saja sewaktu-waktu bawahannya bisa saja mengetuk pintu dan masuk.

“Aku benar-benar menginginkanmu.”

“Percaya atau tidak, akupun juga menginginkanmu, Gie. Tapi astaga, kita tidak bisa melakukannya di sini.”

“Oke.” Yogie mengalah. “Tapi kesepakatan kita…”

“Ya, aku tahu, mulai saat ini kesepakatan kita sudah berlaku.”

“Jadi, kita sudah menjadi sepasang kekasih?”

“Ingat, hanya saat kita berdua, kita akan berssikap seperti orang asing ketika di hadapan oraang lain.”

“Oke, bukan masalah.” Yogie melirik sekilas ke arah jam tangannya. “Aku harus kembali, di sini, aku hanya staf biasa, jadi aku tidak bisa seenaknya.”

Elena mengangguk. “Pergilah.”

“Boleh minta cium?”

“Tidak!!! Kamu tidak akan pergi kalau kita membali berciuman.”

Yogie tertawa lebar. “Ya, aku akan menyimpan ciuman kita untuk nanti malam.”

Yogie kemudian pergi begitu saja meninggalkan Elena dengan debaran jantungnya yang seakan menggema di dalam ruangan.

***

Sorenya, Elena sampai di apartemennya dengan tubuh yang sudah lelah. Kenyataan jika Yogie malam ini akan ‘Berkunjung’ ke apartemennya membuat Elena sedikit bersemangat. Entah apa yang di lakukan lelaki itu hingga kini membuat Elena seakan ketagihan dengan sentuhan panas yang di berikan oleh Yogie.

Elena menuju ke kamar mandi di dalam kamarnya dalam keadaan telanjang bulat. Ia kemudian menyalakan air hangat, lalu menuangkan sabun cair hingga bathubnya penuh dengan busa. Ahh berendam sebentar mungkin akan menghilangkan rasa lelahnya.

Sebenarnya Elena sangat tidak suka bekerja di kantor ayahnya, tapi bagaimana lagi, bagaimanapun juga dirinya akan menjadi satu-satunya pewaris Pradipta Group. Jika di suruh memilih, Elena akan memilih menjalankan bisnis fasion kecil-kecilan yang ia bangun bersama beberapa temannya di luar negri. Tapi keadaan mengharuskannya pulang dan menjalankan tugasnya sebagai pewaris tunggal perusahaan ayahnya.

Elena menatap busa yang berada di tangannya. Adanya Yogie membuat hidupnya sedikit memiliki semangat. Ya, tentu saja karena kejantanan lelaki itu, memang karena apa lagi?

Elena bukan tipe wanita yang ingin di puja dengan cinta oleh seorang lelaki, dia juga bukan wanita dengan mimpinya di jemput oleh pangeran berkuda putih, percayalah, Elena tidak suka hal-hal menggelikan seperti itu. Elena lebih suka menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang di klub, atau mungkin membahas bisnis fasionnya yang kini sedang berjalan di luar negeri.

Kata Cinta tidak pernah ada di kamusnya. Dulu, Elena sempat menyukai teman sekelasnya. Namanya Aaron Revaldi, teman Yogie. Tapi tentu saja itu hanya sebatas suka. Aaron bahkan pernah dengan tegas memberi tahu pada teman-temannya jika tipe wanita idamannya adalah seperti Issabella Aditya. Dan setelah itu, tentu Elena mundur teratur. Ia tahu jika dirinya tidak akan mungkin bisa menggeser posisi Bella di hati Aaron.

Semasa sekolahnya dulu, banyak sekali teman prianya yang dengan terang-terangan mengakui jika suka dengan Elena. Elena tahu karena dia adalah sosok populer di sekolahnya, banyak pria yang mengantri untuk menjadi kekasihnya, tapi Elena tidak bisa menerima salah satu di antara mereka. Semua itu tentu karena si bajingan sialan bernama Gilang setiawan, seorang mahasiswa yang menjadi guru les Privatnya sejak SMP. Gilang menjadikan Elena sebagi pelampiasan hasrat seksual lelaki tersebut, memonopoli diri Elena, dan juga mengancam jika lelaki tersebut akan mempermalukan Elena remaja di depan teman-temannya dengan menyebarkan foto-foto bugil Elena.

Elena memejamkan matanya frustasi. Itu dulu Elena, dulu ketika kamu menjadi gadis bodoh. Pikirnya dalam hati.

Bertahun-tahun menjadi korban pelecehan seksual oleh Gilang membuat Elena sedikit demi sedikit berubah menjadi sosok yang gila seks. Semakin lama Elena bahkan rindu dengan apa yang di lakukan Gilang. Rindu akan sentuhan lelaki bejat itu, padahal lelaki itu tak pernah sekalipun menyentuhnya dengan lembut. Hingga akhirnya Elena sadar jika dirinya harus pergi, pergi meninggalkan semuanya, semua kenangan buruknya bersama dengan Gilang.

Elena kabur ke luar negeri, menjadi gadis bebas, sebebas burung merpati yang tidak memiliki sarang. Berkali-kali Elena bahkan bergonta ganti pasangan karena bosan. Seks bebaspun tidak terhindarkan karena pada dasarnya ia seakan candu dengan tubuh seorang lelaki. Apa itu efek yang di berikan si brengsek Gilang pada tubuhnya? Entahlah, Elena tidak tahu. Yang pasti, Elena membutuhkan seks seperti membutuhkan udara untuk bertahan hidup.

Bel apartemennya berbunyi. Elena sadar jika dirinya sudah terlalu lama berendam. Oh sial!! Kenapa juga ia mengingat tentang si Brengsek Gilang?

Elena bangkit, membersihkan dirinya dari busa dengan air dari shower. Apa yang datang itu Yogie? Mengingat itu entah kenapa Elena kembali bersemangat.

Sesekali Elena berpikir, apa keputusan yang di ambilnya ini terlalu jauh? Bercinta terus-menerus dengan seorang lelaki, Elena tidak pernah melakukan hal itu. Apa dengan Yogie ia akan berhasil melakukannya tanpa perasaan? Elena sangsi, tentu saja. Ia takut jika suatu saat nanti dirinya akan memiliki perasaan menggelikan pada lelaki tersebut, dan Elena tidak ingin hal itu terjadi. Tapi Elena kembali berpikir ulang, jika dirinya tidak melakukan hal ini, Elena akan kebingungan jika tiba-tiba tubuhnya panas dan haus akan sentuhan lelaki, ia tidak dapat mencari lelaki untuk menyentuhnya dan meredakan dahaganya, tidak di negeri ini.

Elena menghela napas panjang, meraih juba mandinya kemudian mengenakanya. Elena keluar sembari menggosok-gosok rambut basahnya, menuju ke arah pintu utama dan membuka pintu tersebut.

Sosok tinggi tegap dengan wajah tampan rupawannya berdiri di balik pintu. Lelaki itu tersenyum lembut, dan entah kenapa Elena sama sekali tidak menyukai senyuman tersebut karena membuat degupan jantungnya semakin menggila.

“Baru jam Enam, kamu sudah ke sini?” sapa Elena.

“Apa aku tidak boleh ke sini lebih awal?”

Elena mengangkat kedua bahunya. “Bukan masalah, hanya saja aku belum bersiap-siap. Lihat, aku baru selesai mandi.”

“Aku tidak peduli. Kamu masih terlihat cantik di mataku.”

“Oh yang benar saja, berhentilah menggombal jika kamu ingin kesepakatan kita tetap berjalan.”

Yogie tertawa lebar. “Mau makan? Aku membawakan masakan Cina.”

“Ya, aku suka sekali masakan Cina.”

“Apa aku tidak di persilahkan masuk?”

Kali ini Elena yang tertawa lebar. “Masuklah, anggap saja rumah sendiri.” Elena berjalan masuk, sedangkan Yogie megikutinya dari belakang kemudian menuju ke arah dapur apartemen Elena.

“Sebenarnya tukang bersih-bersih apartemen ini tadi sudah menyiapkanku makan malam, tapi sepertinya aku tertarik dengan apa yang kamu bawa.”

“Kita bisa makan bersama, aku akan menyiapkannya sementara itu kamu bisa berganti pakaian.” Ucap Yogie yang saat ini sudah mencari piring-piring di dapur Elena.

“Memangnya kenapa kalau aku hanya pakai juba ini?”

Yogie menatap Elena dengan intens. “Honey, kamu membuatku ingin menyingkirkan makanan ini lalu menyantap hidangan utama kita.”

“Mesum!!” seru Elena.

“Jika ku tidak mesum, aku tidak akan berada di sini untuk menagih ‘hadiahku’, Honey.” Yogie berkata sembari mengerlingkan matanya, menggoda Elena, dan Elena benar-benar tergoda karenanya.

“Aku tidak akan ganti baju, lagi pula sebentar lagi kamu akan membukanya.”

“Oh ya? Kamu yakin sekali, bisa jadi malam ini aku hanya akan numpang tidur di sini tanpa melakukan apapun.”

“Tidak mungkin!!”

Yogie tertawa lebar, kemudian dengan spontan ia menuju ke arah Elena, mengangkat tubuh Elena dan mendudukkannya di atas meja dapur.

“Jadi… kamu memilih tetap mengenakan juba ini saat kita makan malam bersama?” Yogie bertanya dengan suara yang begitu serak. Wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Elena. Dengan spontan Elena mengecup singkat permukaan bibir Yogie.

“Ya, aku tetap mengenakan juba ini.” tantang Elena.

Jemari Yogie sudah terulur membuka ikatan juba yang di kenakan Elena, dan kini tampaklah tubuh bagian depan Elena yang polos tepat di hadapan Yogie.

“Sepertinya aku akan menyantap hidangan utama terlebih dahlu.”

“Sepertinya bercinta di meja dapur adalah hal yang menyenangkan.” Tambah Elena yang menyatakan setuju dengan apa yang akan di lakukan oleh Yogie.

Elena mulai  teregah ketika jemari Yogie mengusap lembut puncak payudara Elena, sedangkan matanya tidak berhenti menatap wajah Elena yang seakaan tersiksa oleh sentuhan yang di berikan Yogie.

Elena mengerang ketika Yogie mulai menggoda puncak payudaranya, ketika bibir Elena terbuka, secepat kilat Yogie menyambar bibir tersebut hingga ciumaan panas mereka tak terhindarkan lagi.

Sebelah tangan Yogie kini bahkan sudah mendarat sempurnya pada pusat diri Elena, menggodanya hingga membuat Elena benar-benar tak berhenti mengerang.

“Gie, please, please..” Elena memohon, sedangkan Yogie kini sudah menyambar puncak payudara ranum milik Elena. Menggoda dengan bibirnya, kemudian menikmati rasanya.

“Mereka berdua milikku.” Racau Yogie ketika menikmati puncak-puncak payudara tersebut.

“Ya, milikmu, hanya milikmu.” Elena ikut meracau.

“Kamu terasa manis.”

“Hemmm…” hanya itu jawaban Elena.

“Aku akan memasukimu.”

“Ya, lakukanlah, di sini, sekarang.”perintah Elena.

Secepat kilat Yogie melepaskan celana sekaligus dalamannya. Melepaskan sesuatu yang sejak tadi sudah berdenyut nyeri karena tergoda oleh Elena.

“Oh, kamu sangat menakjubkan.” Bisik Elena ketika menatap bukti gairah Yogie yang terpampang jelas di hadapannya.

“Kamu suka?”

“Ya, sangat.” Jawab Elena tanpa tahu malu.

“Terimakasih, dan kuharap kamu tidak akan pernah bosan dengan ini.” Yogie menyatukan diri pada tubuh Elena dalam sekali hentakan. Keduanya menghela napas panjang ketika penyatuan tersebut terjadi.

Elena mengalungkan lengannya pada Yogie, sedangkan Yogie sendiri memilih mendaratkan kecupan-kecupan lembutnya pada Elena. Yogie melumat habis bibir Elena sedangkan yng di bawah ssana tidak berhenti bergerak mencari-cari kenikmatan.

Cumbuan Yogie kini bergerak turun ke sepanjang rahang Elena, kemudian berhenti di lekukan leher wanita tersebut. Yogie berhenti di sana kemudian menghadiahi Elena dengan gigitan-gigitan kecilnya.

“Oh sial!! Kamu benar-benar bajingan!” Racau Elena dengan umpatan-umpatan khasnya.

“Ya, aku memang bajingan.”

“Aku suka Gie, aku suka. Oh, cepat!! Kumohon bergeraklah cepat.”

Dan Yogiepun menuruti apa mau Elena. Ia bergerak cepat hingga sedikit demi sedikit ia mencapai puncak kenikmatan tersebut bersamaan dengan erangan panjang Elena.

Yogie menempelkan keningnya pada kening Elena, napasnya memburu begitupun dengan Elena, keduanya saling pandang tanpa kata. Hanya suara napas keduanya yang seakan menggema di segala penjuru ruangan.

Yogie kemudian tertawa ketika napasnya kembali normal. “Kamu membuatku gila, Honey.”\

“Begitupun denganku.” Balas Elena.

“Mau makan malam?” tawar Yogie yang seketika itu juga membuat Elena memukul dada bidang lelaki tersebut.

***

Yogie dan Elena kini berakhir di kamar Elena. Keduanya sedang sibuk menonton film horor bersama. Setelah percintaan panas mereka tadi, Yogie membopong tubuh Elena masuk ke dalam kamar mandi, kemudian mandi bersama dan melakukan seks kilat sekali lagi di bawah shower.

Setelah itu, keduanya memutuskan untuk makan malam bersama, dan kini, mereka berdua memutuskan untuk santai di ranjang besar Elena denga  pop corn dan film horor menemani mereka.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Yogie dengan ekspresi datarnya sambil sesekali memasukkan pop corn ke dalam mulutnya.

Elena mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa tiba-tiba tanya kabar? Aku baik-baik saja.”

“Dengan Andrew?”

“Andrew? Dia baik-baik saja.”

“Ku pikir kamu menyukai Aaron, tergila-gila padanya, tapi ternyata..”

“Kamu nggak tahu apa yang terjadi di antara kami, Gie.” Jawab Elena santai. “Kamu sendiri, apa kabar? Kupikir dulu kamu tidak seperti sekarang ini.”

“Apa dulu kamu pernah memperhatikanku?”

“Tentu saja, aku selalu memperhatikan Aaron, dan kamu selalu berada di dekat dia, bagaimana mungkin aku tidak memperhatikanmu juga.”

“Jadi kamu melihatku karena Aaron?”

“Ya.” Elena menjawab dengan pasti.

Yogie menghela napas panjang, ia tidak suka dengan kenyataan itu. “Aku berantakan.” Ucap Yogie kemudian.

Elena mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanya Elena tak mengerti.

“Kamu tadi bertanya bagaimana kabarku, dan aku menjawab jika saat ini aku berantakan.”

“Berantakan baagaimana?”

Yogie menghela napas panjang. “Aku tergila-gila pada wanita yang sudah menjadi istri orang. Aku ingin melupakannya, taapi sepertinya akan sangat sulit.”

“Kalau begitu cari saja penggantinya yang bisa mengalihkan perhatianmu dari wanita tersebut.” Elena memberi saran dengan nada cueknya.

“Ya, ini yang sedang kulakukan.”

“Jadi, kamu melakukan seks denganku untuk melupakannya?” tanya Elena tidak percaya.

Yogie menatap Elena kemudian tersenyum. “Maaf, tapi memang seperti itulah rencananya.”

Secepat kilat Elena memukul-mukul Yogie dengan gulingnya. “Dasar bajingan mesum!!” umpatnya.

Im sorry honey. Tapi hanya ini yang bisa ku lakukan ketika aku putus asa.”

Elena menggerutu kesal. “Memangnya dia seperti apa? Secantik apa hingga kamu tergila-gila?”

Yogie tersenyum. Ingatannya kembali pada sosok Alisha, sosok yang menurutnya berbeda dan sangat menarik.

“Namanya Alisha, dia seorang waiters bebuah Pub, dia sedikit judes dan juga tomboy, tapi aku suka. Entahlah apa yang membuat aku tertarik dengannya.” Yogie menjelaskan dengaan senyuman merekah di bibirnya.

“Lalu?”

“Dia menikah dengan seseoang. Brandon Revaldi, kakak Aaron.”

“Oh, aku turut prihatin.”

Yogie mengangkat kedua bahunya. “Its okay, mungkin dia bukan jodohku.”

Elena tersenyum mengejek. “Kamu percaya dengan jodoh?”

Yogie menatap Elena dan menjawab dengan penuh keyakinan. “Ya, aku percaya. Dan kamu?”

“Tidak!!! Aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Aku sudah memutuskan untuk hidup melajang seumur hidup.”

Yogie hanya ternganga dengan apa yang di katakan Elena. Bagaimana mungkin di dunia ini ada wanita seperti Elena? Wanita ini memiliki segalanya. Entah berapa ratus lelaki yang mengantri untuk mendaptkannya. Tapi kenapa wanita ini seakan tidak berani mengambil langkah baru untuk bahagia?

“Apa yang tejadi denganmu, Elena?” tanya Ygie yang tatapan matanya sudah intens menatap Elena.

Elena menatap ke arah Yogie, lelaki itu tampak serius dengan pertanyaannya. Elena seakan mampu terhanyut karena tatapan mata yang diberikan oleh Yogie terhadapnya.

“Aku, aku hanya terlalu lelah.” Tanpa sadar Elena mengeluarkan kelimat tersebut.

“Apa yang membuatmu lelah?” suara Yogie terdengar begitu serak.

Elena tidak menjawab, ia hanya menatap Yogie dengan matanya yang sudah berkabut. Oh, bagaimana mungkin menatap Yogie seperti saat ini saja membuat Elena kalah? Kalah karena suatu perasaan aneh yang seakan tidak di mengertinya?

Secepat kilat Elena mengaaihkaan pandangannyaa ke arah lain. Ia menatap bekas kaleng bir di hadapannya.

“Birnya habis, aku akan mengambil yang baru.” Ucap Elena sambil bangkit. Tapi kemudian dengan spontan Yogie mencekal pergelangan tanganya hingga membuat Elena kembali menoleh ke arah lelaki tersebut.

Cukup lama keduanya saling pandang tanpa bersuara sedikitpun. Hingga kemudian Yogie melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Elena.

“Aku.” Yogie kembali menetralkan suaranya yang entaah kenapa tiba-tiba sedikit serak. “Aku ingin di bawakan air putih.” Yogie berkata asal-asalan. Sebenarya ia sangat ingin mengorek tentang kehidupan Elena yang seakan tertutup, hanya saja mungkin bukan sekarang waktunya.

“Baiklah, aku akan membawakan air untukmu. Ada lagi?” tawar Elena.

Yogie tersenyum miring. “Selusin kondom, mungkin.” Ucapnya dengan seringaian khasnya untuk mencairkan suasana.

“Bajingan tengik!” umpat Elena lalu pergi begitu saja meninggalkan Yogie dengan tawa lebarnya.

 

-TBC-

 

Elena – Chapter 3 (Kesepakatan)

Comments 8 Standard

elena-copyElena

Yogie tersugkur ke dalam pelukan Elena. Kepalanya tersandar pada pundak wanita tersebut. Sedangkan tubuh Elena sendiri masih bersandar pada dindng.

“Kamu berat.” Ucap Elena yang seketika itu juga membuat Yogie melepaskan diri dari wanita tersebut.

Yogie menatap Elena dengan tatapan penuh rasa bersalah. Sial!!! Ia benar-benar gila karena…..

“Ada apa?” tanya Elena tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Aku, aku tidak menggunakan pengaman.”

Elena membulatkan matanya seketika. Saat mendengar jawaban dari Yogie. Sial!!! Bagaimana mungkin ia bisa bercinta tanpa pengaman dengan Yogie??

***

Chapter 3

-Kesepakatan-

 

Dengan cepat Elena mendorong dada Yogie hingga lelaki di hadapannya tersebut menjauh.

“Apa yang kamu lakukan? Bagaimana mungkin kita bercinta tanpa pengaman?!” Elena tampak sangat marah dengan Yogie.

“Maaf, aku akan bertanggung jawab.”

“Bertanggung jawab katamu? Walaupun aku hamil aku nggak akan mau kamu bertanggung jawab!”

“Kenapa karena aku pengangguran?” Yogie bertanya dengan nada kerasnya.

Elena memejamkan matanya frustasi, ia menyadari jika perkataannya menyinggung Yogie.

“Gie, dengar, ini bukan masalah tanggung jawab. Kamu tahu kan resikonya seks bebas tanpa pengaman? Bukan karena hamil, sungguh, kalau itu yang kamu takutkan, kamu nggak perlu khawatir, aku nggak akan hamil, tapi…”

“Aku bersih. Dan aku yakin kamu juga bersih.” Potong Yogie yang sudah mengerti apa yang di maksud oleh Elena.

“Seyakin apa? Kamu nggak tahu bagaimana kehidupan seksualku di luar sana.”

Yogie mengulurkan jemarinya mengusap lembut pipi Elena, satu hal yang kini sangat di gemari Yogie.

“Aku hanya percaya kalau kamu nggak sakit, itu saja.” Yogie menjawab dengan nada lembutnya.

“Lalu bagaimana aku bisa percaya kalau kamu nggak sakit?”

Yogie tertawa lebar. “Aku melakukan pemeriksaan setiap tiga bulan sekali saat aku gemar melakukan seks bebas. Tapi beberapa bulan terakhir aku tidak pernah melakukan seks lagi, dan kamu bisa lihat, aku sehat, dan aku bersih.”

Elena menghela napas panjang, ia kemudian berjalan dengan tubuh telanjangnya ke arah ranjang, lalu duduk d pinggirannya. Hal itu tak luput dari perhatian Yogie. Oh sial!! Yogie kini bahkan kembali menegang.

“Ya, aku percaya kamu. Aku juga bersih.” Ucap Elena. “Tapi jangan pernah sepelekan hal itu Gie, aku tidak pernah membiarkan lelaki manapun memasukiku tanpa pengaman.”

Yogie berjalan menuju ke arah Elena. “Oke Honey, aku akan melakukan apapun yang kamu perintahkan.”

Honey?”

“Ya, ingat kesepakatan kita tadi.”

“Jadi kamu benar-benar ingin menjadikan aku sebagai kekasih gelapmu?”

“Tentu saja.”

“Yogie, aku nggak bisa.”

“Tidak bisa seperti itu Elena. Kamu sudah menjawab Ya. Jadi kesepakatan tetaplah kesepakatan.”

Yogie terlihat tidak bisa di ganggu gugat. Sedangkan Elena hanya mampu menghela napas panjang.

“Tenang saja Honey, Andrew tidak akan tahu, aku tidak akan berkata pada siapapun jika kita memiliki sedikit rahasia.”

Bukan karena Andrew sialan!! Ini karena kamu Gie, karena kamu yang mau tidak mau membuatku kembali menjalin hubungan dengan seorang pria, padahal aku tidak ingin –sama sekali tidak ingin berhubungan dengan pria lagi… pikir Elena.

“Oke, kalau begitu kita buat peraturanya.”

Secepat kilat Yogie mendorong tubuh Elena hingga kini wanita tersebut terbaring telentang tepat di bawah tindihannya.

“Apa yang kamu lakukan? Kita harus membuat aturannya.”

“Aturan bisa menunggu nanti atau kapan saja, tapi tidak dengan kejantananku.” Bisik Yogie serak. Elena melirik ke bawah dan mendapati Yogie yang sudah menegang sepenuhnya.

“Kamu benar-benar tidak pernah melakukan seks beberapa bulan terakhir?” tanya Elena dengan tatapan anehnya.

Yogie tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.

“Pantas saja.”

“Pantas kenapa?”

“Kamu seperti maniak seks.”

Yogie tertawa lebar. “Kamu suka, kan?”

Elena hanya mampu tersenyum, jemarinya kini sudah terulur mengusap lembut dada bidang Yogie yang terasa lembut tapi keras berotot.

“Kamu benar-benar tidak akan hamil? Maksudku… Aku tidak memiliki pengaman saat ini, dan aku tidak mungkin keluar untuk membelinya dalam keadaan seperti ini.”

“Ya. Aku selalu minum pil, kamu tenang saja.”

Yogie mengerutkan keningnya. “Seserius itukah hubunganmu dengan Andrew?”

“Mengamankan diri sendiri tidak masalah bukan? Apa itu masalah untukmu?”

“Tidak! Tentu saja tidak.” Jawab Yogie yang langsung di ikuti dengan menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik Elena, mengecupnya lembut kemudian melumatnya dengan panas.

Itu masalah, tentu saja. Yogie tidak ingin Elena berhubungan serius dengan lelaki lain, tapi tentu saja Yogie tidak mungkin mengatakan hal itu secara lagsung pada Elena, dia tentu tidak ingin Elena pergi menjauhinya jika ia menambahkan perasaan dalaam hubungan mereka nantinya.

“Aku akan memasukimu, Honey.”

“Ya, lakuanlah.. lakukanlah..” desah Elena. Dan Yogiepun akhirnya kembali menyatukan diri ke dalam tubuh Elena. Memuaskan dirinya serta diri wanita yang kini berada di bawahnya.

***

Pagi itu Elena terbangun dengan mata yang masih berat. Ia merasakan lengan seseorang masih memeluknyaa dari belakang. Telapak tangan besar itu masih menangkup sebelah payudara telanjangnya, dan itu membuat Elena kembali di rayapi berbagai macam perasaan aneh.

Elena mendesah pelan. Bagaimana mungkin ia akan terjebak dengan Yogie? Astaga, padahal bukan menjadi urusannya jika lelaki ini kerja atau tidak. Kenapa ia mau di jadikan hadiah untuk lelaki ini? Elena sadar jika sebuah alasan simpel menari di kepalanya.

Alasannya karena Elena juga membutuhkan Yogie. Membutuhkan sentuhan lelaki itu lebih tepatnya.

Selama ini Elena hidup dalam keluarga kaya dan terpandang. Ia terlihat begitu sempurna di mata banyak orang, cantik, seksi, kaya, berpendidikan. Padahal tak banyak orang tahu jika dirinya menyimpan sebuah rahasia gelap. Rahasia yang tidak akan pernah ia ceritakan pada siapapun.

Rahasia tersebut memaksa Elena keluar dari negeri ini, lalu menimba ilmu di luar negeri bersama dengan Aaron, temannya sekaligus pria yang pernah ia sukai saat SMA. Elena tahu, jika gosip yang beredar di antara teman-temannya saat itu adalah jika dirinya melanjutkan sekolah ke luar negeri karena mengikuti kemanapun Aaron pergi. Tapi Elena tidak peduli dengan gosip tersebut. Nyatanya gosip itu lebih baik di bandingkan kenyataan memalukan yang ia alami saat itu.

Elena sedikit menggerakkan tubuhnya dan itu secara spontan membuat Yogie semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Elena.

Yogie, bagaimana bisa lelaki ini menarik perhatiannya?? Apa karena tubuh tegap berisinya? Atau karena wajah tampannya? Atau mungkin karena ukuran kejantanannya? Elena menggeleng keras ketika pikiran terakhir melintas kepalanya. Bukan, bukan karena semua itu, Yogie menarik perhatiannya karena lelaki itu dapat meredakan dahaganya yang haus akan sentuhan lembut ketika melakukan seks.

Ya, Elena suka dengan sentuhan yang di berikan oleh Yogie…

Lelaki itu menyentuhnya seperti menyentuh sebuah kaca yang mudah rapuh. Yogie memperlakukannya mirip dengan memperlakukan seorang kekasih, tidak seperti lelaki-lelaki bule teman kencannya terdahulu yang memperlakukannya layaknya teman seks bayaran, atau seperti guru private sialannya yang dengan kasar merenggut keperawanannya dan menjadikannya korban pelecehan seksual selama bertahun-tahun lamanya.

Elena kembali menggelengkan kepalanya, menepis semua kenangan-kenangan buruk masalalunya. Ya, semua itu sudah menjadi masalalu. Ia harus dapat melupakan semuanya dan menjadi wanita baru.

“Sudah bangun, Honey?” pertanyaan serak Yogie membuat Elena menolehkan kepalanya ke belakang. Lelaki itu kini sedang mengecup lembut punggungnya. Sedangkan telapak taangan lelaki tersebut masih enggan melepaskaan cengkramannya pada payudara Elena.

“Ya.” Hanya itu jawaban Elena.

“Jam berapa ini?”

“Aku tidak tahu. Kamu ada acara?” Elena bertanya masih dengan tubuh kakunya karena sentuhan-sentuhan lembut yang di berikan oleh Yogie.

Sebelah tangan Yogie lainnya menyelinap di bawah tindihan tubuh Elena, kemudian merayap mencari pusat diri Elena yang masih tertutup dengan bedcover yang menutupi tubuh telanjang keduanya.

Yogie membelai lembut, hingga membuat Elena mengerang. “Jadwalku padat hari ini.”

“Oh ya?” Elena menggigit bibir bawahnya. “Lalu kenapa kamu… Astaga. Hentikan Yogie!!” seru Elena ketika jemari Yogie muali memasuki dirinya.

“Aku tidak bisa berhenti, Honey, tidak bisa!” sambil menggertakkan giginya, Yogie menghentikan aksinya, lalu mengangkat sebelah kaki Elena dan menenggelamkan diri sedalam-dalamnya ke dalam tubuh Elena.

Ohh Shit!!! Nikmatnya bercinta pagi hari.”

“Kamu bajingan tengik!!” umpat Elena.

“Ya, Dan kamu suka, bukan?”

Yes, oh yes, kamu membuatku suka.”

“Dan akan selalu seperti itu, Honey.” Yogie kembali menggerakkan tubuhnya. Membuat Elena mengerang, melambung tinggi karena perlakuan lelaki tersebut. Ya, harus Elena akui, jika Yogie berbeda dengan lelaki yang pernah menyentuhnya. Lelaki itu benar-benar berbeda.

***

Elena dan Yogie turun bersama ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Keduanya sepakat menuju ke kafe terdekat untuk membicarakan perihal kesepakatan mereka.

Yogie sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya pada diri Elena. Oh sial!! Sebenarnya apa yang di lakukan wanita itu hingga membuatnya tidak bisa berpaling seperti saat ini?

“Berhenti menatapku seperti itu atau kamu akan salah memasukkan sup itu ke dalam lubang hidungmu.” Elena berkata dengan wajah datarnya.

Yogie tertawa. “Aku suka melihatmu, apa itu aneh?”

“Risih.”

“Apa yang membuatnya risih?”

Elena menatap Yogie lalu bekata. “Kamu terlihat seperti lelaki yang menginginkan seks setiap waktu, dan aku risih melihat itu.”

“Aku memang menginginkan seks setiap waktu.” Jawab Yogie dengan tawa lebarnya. “Percaya atau tidak, aku sudah kembali menegang, Elena.”

Elena membulatkan matanya seketika saat mendengar bisikan Yogie. “Aku akan membatalkan kesepakatan kita kalau kamu tidak berhenti menggodaku.”

“Ayolah, kamu nggak asik.”

“Aku memang tidak asik.”

Yogie menghela napas panjang. “Oke, sekarang kita mulai kesepakatannya.”

“Kamu boleh menganggapku sebagai kekasih gelapmu saat kamu sudah benar-benar bekerja.” Kata Elena dengan santai.

“Hanya itu saja? Kita tidak memiliki jadwal seks?”

Elena menganggukkan kepalanya. “Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, karena aku juga membutuhkannya.”

Yogie tersentak dengan pengakuan Elena. “Kamu nggak bohong kan? Kenapa kamu mau menjadikan dirimu sebagai hadiaah untukku? Bukankah kamu ssudah memiliki Andrew?” selidik Yogie. Karena bagi Yogie ini sedikit tidak masuk akal karena Elena mau begitu saja di sentuh olehnya padahal jika di pikir-pikir wanita itu tidak memiliki keuntungan jika kesepakatan mereka terjadi.

“Bukan urusanmu, Yogie.”

“Ini menjadi urusanku, Elena. Jawab saja.”

Elena menghela napas panjang. “Karena aku butuh seks denganu, apa kamu puas?”

“Kamu tidak mendpatkannya dari Andrew? Atau, apaa dia kurang memuaskanmu? Apa dia tidak memiliki ukuran yang besar?”

“Cukup Yogie? Kamu hanya perlu tahu kalau Andrew tidak bisa memberikan apa yang ku mau, hanya itu.” Sial!! Tentu saja Andrew tidak bisa memberikan yang ia mau, Andrew hanya seorang kakak sepupu Elena yang meminta dirinya berpura-pura menjadi kekasih lelaki tersebut.

Yogie tersenyum miring. “Jadi, aku bisa memberikan apa yang kamu mau?”

Tentu saja sialan!!! Umpat Elena dalam hati.

“Lupakan saja, yang terpenting, peraturannya adalah semua itu tejadi ketika kamu sudaah memiliki pekerjaan. Aku hanya ingin melakukan seks di apartemenku, selalu pakai pengaman….”

“Keberatan.” Sela Yogie.

“Apa lagi?”

“Aku tidak suka pakai pengaman.” Yogie berkata dengn santai.

“Yogie, aku sudah bilang sama kamu bukan resiko seks bebas.”

“Aku hanya bercinta dengamu, dan tidak dengan wanita lain saat kesepakatan itu terjadi.”

“Tapi bisa jadi aku bercinta dengan lelaki lain selain kamu saat kesepakatan ini terjadi, Gie.”

Rahang Yogie mengeras. Ia tidak suka kenyataan itu. “Kita akan melakukan pemeriksaan sebulan sekali jika perlu.”

“Tidak!!! Harus selalu menggunakan pengaman.”

“Terserah apa katamu.” Yogie mengalah meski sebenarnya ia sangat kesal.

“Tidak boleh mengucapkan hubungan ini di depan siapapun, tidak boleh menggunakan perasaan, dan tidak boleh mengatakan cinta dan kata-kataa menggelikan lainnya.”

Yogie mengangkat sebelah alisnya. “Jika aku mengatakannya?”

“Hubungan kita berakhir.”

Yogie terdiam sebentar. “Oke, hanya itu saja?”

“Sementara hanya ini, nanti kita pikirkan yang lainnya. Dan kamu tidak perlu memiikirkan apapun kecuali mencari pekerjaan. Kalau kamu tidak mendpatkan pekerjaan dalam jangka waktu satu bulan, tidak akan ada kesepakatan di antara kita.”

Yogie tertawa lebar. “Tenang saja Honey, aku akan mengubungimu dua minggu setelah hari ini, dan kamu akan terkejut denngan apa yang aku lakukan saat itu.”

“Oh ya? Kamu terlalu percaya diri.” Yogie hanya membalas ucapan Elena dengan tawa lebarnya.

***

“Well, terimakasih sudah mengantarku sampai sini.” Ucap Elena sambil melepaskan helm yang di kenakannya. Saat ini mereka berdua sudah berada di basement apartemen Elena.

“Kamu tidak mengajakku masuk?”

“Tidak! Aku sibuk, cepat pulang sana.”

Yogie tersenyum lembut. Ia kembali mengusap lembut pipi Elena dengan jemarinya. “Bolehkah aku meminta ciuman perpisahan?”

“Tidak!” tolak Elena. Elena tentu ingat ciuman perpisahan yang di berikan Yogie pagi itu dan membuatnya bingung karena perasaan aneh sepanjang siang.

“Oke, nggak masalah. Tunggu aku dua minggu lagi.” Yogie berkata dengan suara seraknya.

“Kita lihat saja nanti.”

Yogie tersenyum kemudian menyalakan kembali motornya lalu melaju begitu saja meninggalkan Elena yang terpaku menatap kepergiannya.

Elena mengusap dadanya yang kembali berdetak cepat. Kemudian ia mengusap pipinya, tempat jemari Yogie membelainya lembut. Ahhh rasanya sangat aneh, Elena tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumya, dan bagaimana mungkin Yogie dapat membangkitkan perasaan aneh pada dirinya seperti sekarang ini?

***

Dua minggu kemudian…

Elena memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Banyak sekali persoalan perusahaan ayahnya yang harus ia seleseikan ketika kesehataan ayahnya kini sedang mengalami penurunan.

Elena adalah anak tunggal dari keluarga Pradipta, mau tidak mau Elena harus menjadi pewaris tunggal semua aset milik Pradipta Group. Dan Pradipta Group bukanlah perusahaan kecil. Banyak sekali yang harus Elena lakukan untuk menjadikan perusahaan keluarganya lebih baik lagi dari sebelumnya.

Dan memikirkan Yogie bukanlah salah satunya.

Astaga, Elena merutuki dirinya sendiri saat ia kembali teringat lagi dan lagi oleh sosok Yogie. Sosok yang entah kenapa membuatnya menjadi bukan dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang di lakukan lelaki itu padanya?

Ketukan pintu ruangannya membuat Elena tersadar dari lamunannya. “Masuk.” Ucap Elena datar. Dan kemudian ekspresi datar dari wajah Elena tesebut berubah menjadi ekspresi shock ketika melihat siapa seorang yang masuk ke dalam ruangannya.

Lelaki itu mengenakan kemeja putih yang tampak pas di tubuh tegapnya. Mengenakan dasi berwarna hitam. Wajahnya tampak sangat tampan dengan tatanan rambut rapi tapi sedikit berantakan, senyumannya sarat akan kelicikan, dan kini lelaki itu sedang berjalan pelan menuju ke arahnya.

Itu Yogie Patama, si bajingan tengik, si maniak seks, dan juga si lelaki yang dua minggu terakhir selalu berada di kepalanya….

Untuk apa dia ke sini?

“Ibu Elena, saya di perintahkan pak Roy, atasan saya untuk mengantarkan berkas-berkas ini.” Ucap Yogie penuh penekanan.

“Pak Roy? Atasan kamu?”

Elena melirik tag name yang ternyata sejak tadi sudah tergelantung di leher Yogie.

“Kamu, kamu kerja di sini?”

Yogie tersenyum “Ya, secara teknis sejak kemarin yang lalu saya sudah resmi menjadi salah satu karyawan Pradipta Group.”

Elena kembali membulatkan matanya seketika.

“Kamu tampak shock, kenapa? Kamu takut kalau tiba-tiba aku menginginkanmu saat ini di ruang kerjamu?”

“Singkirkan pikiran mesummu Yogie, kamu tidak akan pernah mendapatkan hal itu.”

Yogie menaruh sembarangan berkas-berkas yang tadi di bawanya di meja Elena, kemudian iaa berjalan cepat menuju ke arah Elena, menarik wanita tersebut hingga berdiri tepat di hadapannya kemudian tanpa basa-basi lagi menyambar bibir Elena dengan ciuman panasnya.

Yogie menarik tubuh Elena hingga menempel sepenuhnya pada tubuhnya. Pangkal pahanya kembali berdenyut nyeri karena menginginkan sebuah pelepasan.

Elena meremas kemeja yang menempel pada dada bidang Yogie. Oh, lelaki ini benar-benar sangat menggairahkan, membuat Elena selalu di bayangi pikiran-pikiran erotis ketika berada di dekat lelaki ini.

Yogie melepaskan pagutannya, kemudian dengan napas terengah ia berbisik serak pada Elena.

“Aku ingin memasukimu saat ini juga.”

Elena membulatkan matanya seketika. Yogie gila!!! Dan astaga, bagaimanaa mungkin ia menjadi sama gilanya dengan Yogie karena saat ini ia mengininkan hal yang sama dengan lelaki tersebut??

-TBC-

Elena – Chapter 2 (Kekasih gelapku)

Comments 7 Standard
Elena

Elena

 

 

Andrew menatap dengan tatapan meremehkan pada motor yang di tunggangi Yogie. Memang tampak sedikit berbeda dengan terakir kali yang ia lihat. Tapi Andrew tetap tidak yakin Yogie dapat memenangkan balapan kali ini, meski dulu Yogie hampir selalu memenangkan balapan tersebut, tapi kini Yogie terlalu lama absen dari balapan, dan itu pasti akan mempengaruhi penampilannya malam ini.

“Jadi lo mau apa?” Tanya Andrew.

“Gue mau yang sedikit menantang.”

“Apa?”

“Kencan satu malam dengan dia.” Ucap Yogie sambil menunjuk ke arah Elena.

***

Chapter 2

Kekasih gelapku

 

“Kencan satu malam dengan dia.” Ucap Yogie sambil menunjuk ke arah Elena.

Ucapan Yogie tersebut membuat Andrew dan beberapa temannya menatap Yogie dengan mulut ternganga. Sedangkan Elena sendiri hanya menatap Yogie dengan tatapan santainya, seperti tidak terusik sedikitpun.

“Lo sinting? Lo boleh minta apa aja, tapi tidak dengan dia.” Ucap Andrew setengah marah.

“Kenapa? Lo kayaknya sudah yakin banget kalau gue yang menang.”

“Lo nggak akan menang.”

“Kalau gitu, gue mau dia yang jadi taruhannya.”

“Sialan!!” Umpat Andrew tepat di hadapan Yogie.

Elena menarik lengan Andrew lalu mengajaknya sedikit menjauh. Elena berbisik pelan pada telinga Andrew.

“Turuti saja apa maunya.”

Andrew menatap Elena dengan tataopan terkejutnya. “Kamu kenal sama dia?”

“Dia teman SMA ku dulu.”

“Elena, dia setengah gila, aku baru mengenalnya tiga tahun yang lalu, saat kami bertemu di salah satu klub motor. Dia tidak pernah memiliki kekasih, tapi hampir setiap malam bercinta dengan wanita murahan, aku nggak mau kamu jadi salah satu mangsanya.”

“Kalau aku bilang bahwa aku pernah bercinta dengannya, gimana? Kamu mau terima tantangannya?”

“What?!!” teriak Andrew keras-keras sambil menatap Elena. “Jadi kamu menyuruhku menerima tantangannya karena kamu ingin kencan lagi dengannya?”

“Sial!! Bukan begitu, aku hanya mau kamu nunjukin sama dia kalau dia tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu, dia nggak pantes kencan lagi denganku. Jadi, terima tantangannya dan jangan biarkan bajingan tengik itu menang.”

“Elena.”

“Andrew!! Kamu mau membuatku malu karena memiliki pacar yang cemen karena nolak tantangan temannya?”

“Aku bukan pacarmu, ingat itu.” Gerutu Andrew.

“Ya, tapi sekarang aku sedang berpura-pura menjadi pacar sialanmu, jadi jangan membuatku malu di hadapannya.”

Andrew menghela napas panjang. Sial!! Yogie benar-benar sialan. Astaga, ia tidak akan membiarkan bajingan sialan itu menang darinya.

***

Dengan gelisah Elena tidak berhenti menengok ke arah jalan tempat di adakannya balapan tersebut. Ini sudah hampir seperempat jam berlalu, sedangkan Yogie maupun Andrew belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Siapakah yang akan menang?

Tadi, sebelum balapan di mulai, Yogie tidak berhenti menatap dirinya. Dan entah kenapa itu membuat Elena sedikit terpengaruh dengan tatapan tengil yang di lemparkan Yogie padanya.

Yogie bahkan sedikit berbisik padanya jika lelaki itu pasti akan keluar sebagai pemenang dan berkencan dengannya sekali lagi. Oh, Elena akan membunuh Andrew jika hal itu terjadi.

Tak lama, sorot lampu motor dari kejauhan semakin mendekat. Jantung Elena berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Siapa yang akan menang? Akankah Yogie memenangkan balapan kali ini? Oh yang benar saja.

Tapi kemudian Elena merasakan jantungnya berhenti berdetak ketika sebuah motor berhenti tepat di hadapannya. Sial!! Itu Yogie, dan lelaki tengil itu benar-benar memenangkan balapan kali ini, yang itu tandanya ia akan kencan sekali lagi dengan laki-laki brengsek itu.

Yogie membuka penutup helmnya, kemudian mengerlingkan matanya pada Elena seakan mengejek Elena.

Elena menatap Yogie dengan kekesalan yang seakan sudah mengakar di kepalanya. Bagaimana bisa Yogie mengalahkan Andrew? Tak lama, Andrew datang dan berhenti tepat di sebelah motor Yogie.

Elena menatap Andrew dengan tatapan membunuhnya. Sedangkan Andrew sendiri seketika turun dari atas motornya lalu menuju ke arah Elena.

Andrew membuka penutup helmnya kemudian menatap Elena dengan tatapan penyesalan.

“Elena, aku minta maaf, aku..”

Elena pergi begitu saja sebelum Andrew menyelesaikan kalimatnya. Ia kesal, sangat-sangat kesal. Bagaimana mungkin Andrew bisa kalah dengan mudah oleh Yogie, dan Yogie? Astaga.. laki-laki itu benar-benar sialan dengan senyuman tengilnya.

***

Malam itu juga Elena pulang dengan Yogie yang mengantarnya. Elena tidak merasakan canggung sedikitpun, yang ada ia merasa sangat kesal karena tadi Yogie mendesak untuk melakukan kencan tersebut malam ini juga.

Kencan yang berarti menyerahkaan diri sekali lagi dengan Yogie.

Oh yang benar saja. Elena tidak pernah ingin bercinta lebih dari sekali dengan lelaki asing seperti Yogie. Ya, Yogie termasuk lelaki asing untuknya.

Lelaki itu memang temannya saat SMAnya dulu, tapi Elena sama sekali tidak pernah memandang keberadaan Yogie saat itu. Yogie bukanlah siapa-siapa di mata Elena, tapi entah kenapa  saat melihat Yogie malam itu, Elena merasakan darahnya seakan mendidih karena suatu gairah yang tak di mengertinya.

Apa itu karena pengaruh alkohol yang ia minum malam itu? Ya, tentu saja karena Alkohol.

Yogie menambah kecepatan laju motornya hingga membuat Elena mau tidak mau berpegangan dengan pinggang Yogie. Dengan spontan Yogie menarik sebelah tangan Elena lalu melingkarkannya pada perutnya sendiri.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Elena dengan ketus.

“Ingat, kamu teman kencanku malam ini.”

Dan Elena kembali terdiam. Sial!! Ia benar-benar menjadi bahan taruhan, dan betapa bodohnya ia mau melakukannya. Apa karena Yogie? Tidak!!!

***

Tak lama, mereka berhenti di sebuh hotel. Elena mengerutkan keningnya ketika Yogie tanpa canggung lagi mengajaknya berhenti di hotel tersebut.

Elena turun dan menerima ajakan Yogie untuk masuk ke dalam hotel, memesan kamar, kemudian menuju ke arah kamar pesanannya tersebut.

Ketika pintu kamar tersebut di tutup, Yogie lantas membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Elena yang sudah berdiri tepat di belakangnya.

Elena sendiri masih berekspresi datar. Ia mencoba menyembunyikan kekesalannya pada Yogie, bagaimanapun juga yang patut di salahkan bukan Yogie yang memenangkan pertandingan tersebut, tapi dirinya sendiri yang  dengan mudah menerima tantangan Yogie.

Jemari Yogie tiba-tiba terulur, mengusap lembut pipi Elena dan itu benar-benar membuat Elena merasakan sebuah desiran aneh di dadanya.

Mata Elena menatap mata Yogie, seakan tidak takut dengan apa yang akan di lakukan oleh lelaki tersebut. Elena bahkan terlihat jika dirinya tidak terpengaruh sedikitpun oleh apa yang di lakukan Yogie.

“Kamu masih secantik dulu.” Entah kenapa suara Yogie tiba-tiba terdengar serak.

“Ayolah, jangan basa-basi lagi. Lakukan apa yang kamu mau lalu antar aku pulang.” Ucap Elena dengan nada angkuhnya.

Rahang Yogie mengeras. Ia tidak suka Elena bersikap seperti itu padanya, seakan wanita itu tidak memikili rasa apapun padanya. Sial!! Memangnya rasa apa? Tentu saja Elena tidak akan mungkin memiliki rasa apapun padanya, tidak dulu, tidak sekarang maupun nanti.

“Tidak segampang itu Elena.”

“Lalu?”

Yogie mendekatkan wajahnya pada wajah Elena, mengecupi pelipis Elena dengan kecupan basahnya. “Malam ini kamu harus bersikap layaknya seorang kekasih.”

Elena tersenyum miring, ia bahkan tidak menghiraukan perasaannya yang mulai sedikit terganggu dengan kedekatannya bersama Yogie. Dengan gerakan menggoda, Elena melingkarkan lengannya pda leher Yogie, kemudian berjinjit dan menggapai bibir Yogie. Melumatnya sebentar dengan gerakan menggoda.

Yogie mengerang karena ciuman singkat yang di berikan Elena. Sedikit demi sedikit Yogie mendorong tubuh Elena hingga tubuh mungil itu menempel pada dinding. Yogie menempelkan kejantanannya yang sudah menegang dari balik jeans yang di kenakannya. Oh, ia benar-benar menginginkan Elena untuk membungkus dirinya saat ini juga.

Elena melepasakan tautannya pada bibir Yogie kemudian berkata lembut di sana. “Malm ini aku memang kekasihmu, lakukan apapun yang kamu mau lalu biarkan aku pergi.”

“Kalau aku tidak akan membiarkanmu pergi, bagaimana?”

“Perjanjian tetaplah perjanjian Yogie, tatangan itu hanya kencan satu malam denganku, jadi, setelah ini anggap saja semuanya tidak pernah terjadi.”

“Oke, tapi aku mau semua dilakukan sepanas mungkin.”

“Setuju!” jawab Elena cepat.

Dan setelah jawaban tersebut, tanpa membuang waktu lagi, Yogie menyambar bibir ranum milik Elena yang sejak tadi sudah menggodanya, melumatnya dengan panas. Sedangkan jemarinya kini ssudah menangkup sebelah payudara Elena, menggodanya, mendambnya, membuat Elena mengerang dalam ciumannya.

Pangkal paha Yogie berdenyut, mendesak-desak supaya cepat di lepaskan, tetapi, Yogie menahannya. Malam ini ia harus menikmatinya, Elena juga harus menikmatinya. Mereka melakukan hal ini dengan sama-sama sadar, dan Yogie ingin Elena merasakan betapa berharganya malam ini dengannya.

Satu per satu Yogie melucuti pakaian yang di kenakan Elena, membuat tubuh seksi Elena terpampang jelas tepat di hadapan Yogie. Yogie menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana mungkin Elena memiliki tubuh seindah ini?? Siapa saja yang sudah pernah melihatnya? Apa si brengsek Andrew melihat tubuh Elena yan seperti ini setiap hari?

Dan seketika itu juga Yogie merasakan dadanyaa terasa panas. Ia cemburu, sangat cemburu, belum lagi kenyataan jika Elena mungkin saja seorang wanita nakal, wanita yang dengan gampang menyerahkan tubuhnya untuk lelaki lain. Apa Elena wanita seperti itu?

Dengan kasar Yogie kembali melumat bibir Elena, menggigitnya, seakan memberi hukuman bagi wanita itu. Sedangkan Elena sendiri juga membalas setiap perlakuan yang di berikan Yogie padanya. Jemarinya sudah terulur membuka resleting celana yaang di kenakan Yogie.

Tangan halus Elena mengusap bukti gairah yang terpampang jelas pada tubuh Yogie, Yogie semakin mengerang dengan perlakuan lembut yang di berikan Elena.

“Apa yang kamu lakukan padaku?” Suara Yogie benar-benar serak.

“Aku hanya menuruti apa maumu, kita akan menjadi sepasang kekasih malam ini.”

“Hemm..”

“Buka bajumu, aku ingin melihat otot-otot kerasmu.” Elena berbisik  kemudian membantu Yogie membuka T-shirt yang di kenakan lelaki tersebut.

Elena menatap dengan lapar tubuh di hadapannya, tampak otot-otot terpahat dengan sempurna, membuat siapapun yang melihatnya ingin menyentuhnya.

“Sejak kapan kamu memiliki tubuh sebagus ini?” tanya Elena penasaran, karena setahunya dulu Yogie hanyalah seorang anak SMA yang kurus.

“Sejak jadi pengangguran.”

Elena menaikkan sebelah alisnya. “Pengangguran?”

Yogie mengangguk pasti, matanya tidak berhenti beradu pandang dengan mata Elena.

“Aku tidak memliki pekerjaan Elena, setelah lulus perguruan tinggi, aku hanya sesekali ikut bekerja di perusahaan saudaraku. Tapi bekerja di balik meja dengan menatap komputer benar-benar sangat membosankan, akhirnya aku keluar, dan menjadi pengangguran, setelaah itu waktu olahragaku semakin banyak hingga bisa membentuk ototku seperti ini.”

“Oh ya? Jadi kamu lebih memilih balapan nggak jelas sambil sesekali ke klub malam dari pada bekerja?”

“Ya.”

Elena menggelengkan kepalanya. “Sangat buruk.”

“Kenapa?”

“Kamu sudah setua ini dan tidak bekerja? Astaga.”

Yogie tertawa lebar. “Apa kamu takut aku tidak bisa menafkahi kamu dan bayi kita nanti?” tanya Yogie dengan tampang tengilnya.

“Ya, kalau aku takut seperti itu bagaimana?”

Tubuh Yogie menegang seketika, ia tidak menyangka jika jawaban Elena akan seerti itu. Terdengar serius dan entah kenapa sedikit mempengaruhi Yogie.

“Kamu ingin aku bekerja?”

“Ya, setidaknya kamu harus punya penghasilan.”

“Aku sudah punya penghasilan dari balapan, bukan hanya balapan liar, karena aku juga mengikuti beberapa Race resmi yang di adakan beberapa klub motor di kota ini maupun di luar kota.”

Elena tersenyum, jemarinya mengusap lembut pipi Yogie. “Itu bukan pekerjaan, itu Hobby yang menghasilkan uang.”

“Jadi, aku harus kembali bekerja?”

“Harus.” Jawab Elena.

Yogie semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Elena, hasratnya kembali terbangun dengan perintah yang di berikan Elena, perintah yang menyiratkan jika wanita itu peduli padanya.

“Kalau aku kerja, apa yang ku dapat?” tanya Yogie dengan parau, bibirnya yang sudah menempel pada bibir Elena, bergerak menggoda.

“Kamu dapat uang.”

“Bukan itu sayang. Apa yang kudapat darimu?”

“Kenapa aku harus memberimu? Bukan menjadi urusanku jika kamu kerja atau tidak.”

“Kalau begitu, kenapa kamu memintaku supaya bekerja?” jemari Yogie meremas payudara sintal milik Elena, membuat Elena meloloskan erangannya.

“Sebab aku ingin melihatmu lebih baik.”

“Oh ya?” Yogie mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Elena, menghisapnya sesekali menggodanya. “Hanya itu Elena?”

“Ah ya, teruskan, Astaga…” Elena mengerang ketika Yogietidak berhenti menggoda payudaranya. Jemari Elena meremas rambut di kepala Yogie, mendorong kepala Yogie supaya tidak menjauh dari dadanya.

“Aku bertanya Elena, apa yang kudapat jika aku sudah bekerja.”

“Kontaku.”

“Aku tidak butuh.” Jawab Yogie parau. Sebelah tangannya kini sudah mengusap lembut puncak diri Elena membuat Elena semakin kewalahan dengan apa yang di lakukan Yogie.

“Gie, Astaga…”

“Suka Elena?”

“Ahhh ya.”

“Jawab aku, apa yang kamu berikan jika aku sudah bekerja.”

“Tidak ada.” Elena menggigit bibir bawahnya ketika tiba-tiba Yogie menegakkan tubuhnya, mengangkat sebelah kaki Elena kemudian memasuki diri Elena begitu saja tanpa basa-basi lagi.

Elena mendesah panjang ketika Yogie terasa penuh di dalam dirinya. Matanya masih memejam sedangkan napasnya tidak berhenti memburu. Yogie tidak bergerak sama sekali, dan itu membuat Elena sedikit kesal.

“Kenapa kamu tidak bergerak?”

“Aku butuh jawaban.” Jawab Yogie santai sambil menatap dalam-dalam wajah Elena yang memerah karena gairah.

“Brengsek!! Aku akan bercinta denganmu, apa kamu puas? Sekarang cepat gerakkan bokongmu sebelum…”

“Bukan itu yang ku mau Elena.” Yogie sedikit tersenyum saat melihat Elena tidak berdaya.

“Lalu apa?”

“Menjadi kekasihku.”

“Tidak!! Aku sudah punya Andrew.”

Rahang Yogie mengeras karena marah. “Kekasih gelapku, Elena.”

“Persetan denganmu, kau tidak ingin bekerja? Aku tidak peduli!” Elena mulai marah dan Yogie tertawa.

“Bagaimana dengan ini?” Yogie menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit untuk menggoda Elena dan Elena kembali mengerang, meracau tidak jelas karena kenikmatan yang menghujam pada dirinya.

“Yogie, Please..”

“Please for what?”

“Bencinta denganku, buat aku berteriak.. Astaga, kamu membunuhku.” Racau Elena.

“Jawab, Ya.”

“Yogie…” Elena semakin mengerang ketika Yogie mempercepat lajunya.

“Please, say Yes.” Yogie mendaratkan kembali bibirnya pada puncak payudara Elena, sedangkan yang di bawah sana semakin menggila dengan gerakan menghujam yang semakin cepat.

“Yes, yes, yes….” Elena tidak tahu apa yang baru saja di katakannya, yang ia tahu bahwa ia akan terjebak dengan soerang Yogie hanya karena ketololannya.

Yogie tersenyum di antara kedua payudara milik Elena, ia puas dengan jawaban yang di berikan Elena. Yogie lalu mempercepat lajunya, membuat Elena mengerang panjang karena pelepasannya sedangkan Yogie sendiri sibuk mengatur gairahnya sendiri. Tak lama, meledaklah ia di dalam tubuh Elena.

Yogie tersugkur ke dalam pelukan Elena. Kepalanya tersandar pada pundak wanita tersebut. Sedangkan tubuh Elena sendiri masih bersandar pada dindng.

“Kamu berat.” Ucap Elena yang seketika itu juga membuat Yogie melepaskan diri dari wanita tersebut.

Yogie menatap Elena dengan tatapan penuh rasa bersalah. Sial!!! Ia benar-benar gila karena…..

“Ada apa?” tanya Elena tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Aku, aku tidak menggunakan pengaman.”

Elena membulatkan matanya seketika. Saat mendengar jawaban dari Yogie. Sial!!! Bagaimana mungkin ia bisa bercinta tanpa pengaman dengan Yogie??

-TBC-

Gimana lanjutannya yaa.. heheeeheh

Elena – Chapter 1 (Kencan satu malam)

Comments 5 Standard

drawing-elena-copyElena

Banyak Typo yaa..!!!

 

Chapter 1

-Kencan satu malam-

 

Yogie terbangun dengan mata yang nyaris tak bisa terbuka. Ia masih mengantuk, tubuhnya masih terasa remuk dengan pergulatan panas semalam. Pergulatan panas? Yogie membuka matanya seketika dan mendapati dirinya sedang berada di dalam sebuah kamar seorang wanita.

Tentu Yogie ingat jika semalam ia baru saja bercinta dengan panas dengan orang yang baru saja ia temui setelah Enam tahun tak bertemu. Yogie tersenyum saat mengingat hal itu. Ia melemparkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari-cari pakaiannya.

Yogie lantas berdiri kemudian mulai memunguti pakaiannya yang berserahkan di lantai dan mengenakannya satu persatu. Pada saat bersamaan, pintu kamar mandi di buka oleh seseorang, dan Yogie terpana menatap sosok berbeda dengan sosok yang semalam ia temui.

Itu Elena, wanita yang sama dengan wanita tadi malam, tapi penampilannya begitu berbeda. Jika Elena tadi malam terlihat seperti wanita liar dan wanita nakal, maka saat ini Elena terlihat sebagai wanita dewasa dengan pakaian kantornya.

“Hai.” Sapa Elena tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Hai.” dan entah kenapa Yogie merasakan jika kini dirinya yang canggung saat bersama dengan wanita tersebut.

“Maaf, aku nggak bangunin kamu, aku lupa kalau aku ada rapat mendadak pagi ini.” Ucap Elena sambil merapikan kembali rambutnya sembari menatap cermin di hadapannya.

Yogie yang baru saja mengenakan boxernya hanya bisa berjalan mendekat ke arah Elena lalu mengamati wanita tersebut.

“Kamu.. Kamu masih ingat aku kan?” tanya Yogie meyakinkan diri jika Elena memang masih mengenalinya.

Elena menatap Yogie dengan tatapan anehnya. “Kamu pikir aku hilang ingatan? Kamu Yogie kan? Temannya Aaron?”

Yogie mengangguk pasti.

“Oke, sekarang cepat pakai bajumu, dan kamu harus segera keluar dari apartemenku sebelum tukang bersih-bersih apartemen ini shock melihat kamu masih ada di sini dengan puluhan kondom bekas pakai di tong sampah.”

Yogie benar-benar tak dapat menahan senyumannya. Ahh wanita di hadapnnya itu benar-benar wanita yang berbeda. Wanita liar yang entah kenapa dengan gampang dapat membangkitkan birahinya.

“Elena, apa kita masih bisa bertemu lagi?” Tanya Yogie sembari mengancingkan resleting celananya.

“Kamu bercanda? Aku tidak mungkin ketemu lagi denga orang yang sudah bercinta denganku.”

Yogie tercengang mendengar jawaban Elena. “Maksudmu?”

Please, lupakan tadi malam, anggap saja itu cuman kencan satu malam yang harus di lupakan. Dan aku tidak mau ninggalin kontakku buat kamu.”

“Tapi, bagaimana kalau kita tidak sengaja bertemu lagi??”

“Cukup Say Hallo.” Jawab Elena dengan nada entengnya.

“Elena, Emm.. Apa aku kurang memuaskanmu?” pertanyaan Yogie tersebut sontak membuat Elena menatap ke arah Yogie dengan tatapan anehnya.

“Kamu bertanya tentang ukuran kejantananmu?” Elena tersenyum saat melihat Yogie meringis malu. “Kamu luar biasa Gie, tapi Please, kamu bukan tipeku.” Ucap Elena lagi sambil menepuk bahu Yogie.

Yogie tercenung sebentar, kemudian ada sekelebat ide di dalam kepalanya. “Bolehkan aku meminta ciuman perpisahan?”

Bukannya menjawab, Elena malah mendongakkan dagunya seakan mempersilahkan Yogie mencium bibirnya. Yogie semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Elena kemudian menangkup kedua pipi Elena dengan kedua telapak tangannya dan mendaratkan bibirnya pada bibir Elena.

Yogie mencium bibir Elena selembut mungkin, sangat berbeda dengan ciuman panas yang ia berikan semalam. Sedangkan Elena sendiri terlihat begitu menikmati ciuman lembut yang di berikan oleh Yogie. Wanita itu membalas ciuman Yogie, telapak tangan Elena bahkan meremas lengan Yogie karena terlalu menikmati ciuman yang di berikan Yogie tersebut.

Setelah ciuman tersebut selesai, Yogie menatap Elena yang masih terengah dengan wajah yang sudah merah padam. Kemudian Yogie mengecup singkat bibir Elena sekali lagi sembari berkata….

“Kita akan bertemu lagi, Elena, kita akan bertemu lagi.” Ucap Yogie sambil meninggalkan Elena begitu saja yang masih tercengang dengan apa yang baru saja di lakukan Yogie.

Untuk pertama kalinya, Elena merasakan jantungnya berdebar cepat seperti tabuhan genderang yang seakan nyaris pecah. Ada apa ini?? Kenapa lelaki itu mampu membuatnya kembali berdebar hebat?

***

Yogie sedang sibuk membongkar ulang mesin motor besarnya. Malam ini ia akan kembali ikut balapan. Ya, sejak mengejar Alisha lalu di tolak mentah-mentah dan dia patah hati, Yogie tak lagi ikut kumpul bersama teman-teman se-Genknya. Yogie lebih memilih menyendiri di club tempatnya bertemu dengan Elena beberapa malam yang lalu.

Ahhh wanita itu lagi. Sialan!! Yogie mengumpati dirinya sendiri lantaran kembali mengingat Elena.

Elena Pradipta. Mengingat namanya saja Yogie kembali merasakan kesakitan saat memendam cinta dengan wanita tersebut dulu ketika masih SMA.

Ya, Yogie memang pernah mencintai Elena. Bahkan bisa di bilang, Elena adalah cinta pertamanya. Tapi sayangnya, wanita itu dengan terang-terangan mengakui perasaannya pada Aaron, sahabatnya sendiri. Mau tak mau Yogie memendam perasaan itu sendiri, membiarkan dirinya sendiri sakit hati saat melihat Elena yang selalu menempel di sisi Aaron. Akhirnya cinta pertamanya itu benar-benar mati saat mengetahui jika Elena melanjutkan studynya di Harvard hanya untuk bisa dekat tengan Aaron.

Sebegitu cinta kah Elena pada Aaron? Apa wanita itu kini masih mencintai Aaron?

Yogie menggelengkan kepalanya, menepis semua bayang-bayang dari Elena. Tapi seberapa keras ia berusaha, bayangan itu kebali muncul lagi dan lagi. Ahh, benar-benar sial, bagaimana mungkin bercinta semalam dengan Elena membuatnya menjadi gila? Yogie bahkan tak dapat melupakan bayangan erotis dari Elena malam itu.

Malam itu…

“Kamu yakin kita akan melakukannya di sini?” tanya Yogie pada sosok yang masih setia merangkulnya. Saat ini ia sedang berada di dalam sebuah lift yang menuju ke lantai Lima sebuah apartemen. Elena mengaku jika itu adalah apartemen tempat tinggalnya.

Elena kembali merangkulkan lenganya pada leher Yogie, kemudian mencium dengan kasar bibir Yogie.

“Tentu saja. Kamu takut meniduriku?”

Yogie tersenyum miring. “Yang benar saja, aku tak pernah takut meniduri siapapun.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Elena berjinjit, menggapai telinga Yogie lalu berbisik di sana. “Kalau begitu, tiduri aku malam ini sampai aku berteriak minta ampun.” Kemudian Elena menggigit lembut telinga Yogie.

Sialan!!!

Kenjantanan Yogie berdenyut seketia. Ia tak menyangka jika Elena akan menjadi wanita senakal ini. Beginikah kehidupannya di luar negeri?

Setelah pintu lift terbuka. Dengan cepat Elena menarik tangan Yogie menuju ke sebuah pintu yang berada di paling ujung. Membukanya lalu menarik Yogie masuk ke dalam. Elena mengunci pintu tersebut kemudian kembali mengalungkan lengannya pada leher Yogie. Melumat bibir Yogie penuh dengan gairah dengan sesekali mendorong tubuh Yogie ke belakang.

“Hemm, wanita nakal.” Erang Yogie ketika Elena sudah berani membuka ikat pinggangnya.

“Ya, sejak dulu aku memang nakal.”

“Dan aku suka.”

Ucapan Yogie membuat Elena tersenyum miring sembari melirik ke arah Yogie. “Jangan merayu. Aku tidak suka di rayu.”

“Lalu apa yang kamu suka?” tanya Yogie sedikit menantang.

“Aku suka di gigit, dimana-mana.”

Oh sial!!! Yogie benar-benar tak dapat menahan gairahnya lagi. Secepat kilat Yogie kembali menyambar bibir ranu Elena. Melumatnya penuh gairah, seakan menyalurkan semua kefrustasiannya pada wanita tersebut.

Elena sendiri masih saja membalas ciuman panas Yogie sembari mendorong Yogie sedikit demi sedikit masuk ke dalam kamarnya.

Sampai di dalam kamar, keduanya melepaskan pangutan masing-masing. Berdiri terengah dengan napas yang sudah putus-putus. Yogie menatap Elena dengan tatapan penuh gairah, pun sebaliknya dengan Elena yang menatap Yogie dengan tatapan membaranya.

Secepat kilat keduanya membuka pakaian yang di kenakan masing-masing hingga kemudian mereka berdua berdiri polos tanpa sehelai benang pun.

Elena bahkan menahan napas ketika menatap bukti gairah Yogie yang terpampang jelas di hadapannya. Sial!! Yogie sangaat bergairah. Pikirnya. Sedangkan Yogie sendiri tak berhenti menelan ludahnya dengan susah payah ketika menatap lekukan sempurna dari tubuh Elena.

Dengan spontan, Elena kembali merangkulkan lengannya pada leher Yogie, melumat kembali bibir lelaki itu penuh dengan gairah dengan sesekali menempelkan tubuhnya pada tubuh polos Yogie.

“Ohh, kamu begitu menakjubkan. Aku ingin kamu memasukiku sekarang juga.” Ucap Elena sambil sesekali menggigit bibir Yogie.

“Wanita Nakal!!!” Ucap Yogie dengan nada sedikit mengumpat karena tak kuasa menahan gairah yang seakan tak terbendung lagi.

Dengan kekuatannya, Yogie meraih pinggang Elena, mengangkatnya, kemudian membantingnya di atas ranjang wanita tersebut. Yogie lalu menyeringai kepada Elena.

“Kamu ingin aku berada di dalam dirimu? Baiklah, aku akan memasukimu sayang.” Ucap Yogie dengan serak. Yogie kemudian melompat ke atas ranjang, menindih Elena, lalu bersiap melakukan aksinya.

“Hei, pakek pengaman, Sialan!!” Yogie mengernyit mendengar ucapan Elena.

“Pengaman?”

“Ambil di dalam laci.” Perintah Elena.

Sial!!! Wanita itu entah kenapa saat marah semakin mebuat Yogie bergairah. Elena tampak sebagai wanita yang lebih domindan, dan entah kenapa Yogie suka dengan hal itu.

Yogie bangkit kembali tampa mempedulikan ketelanjangannya. Ia meraih ganggang laci Elena, menariknya lalu melihat apa ada pengaman di sana. Yogie tersentak ketika melihat banyak bungkusan foil di sana.

“Kamu suka melakukan seks di sini?” tanya Yogie dengan nada tak enak di dengar.

“Bukan urusanmu. Cepat pasang dan kemarilah.”

“Ya, sekarang memang bukan urusanku, tapi setelah ini semua akan menjadi urusanku.” Ucap Yogie dengan suara lebih pelan. Kemudian melompat kembali menindih Elena.

“Aku akan memulainya.”

“Jangan banyak bicara! Kamu seperti banci.”

Yogie tersenyum miring. “Banci? Kamu sebut aku banci? Kita lihat, apakah banci ini mampu membuatmu berteriak minta ampun?” dan tanpa banyak bicara lagi, Yogie menyatukan diri begitu saja pada Elena.

Elena mengerang panjang. Yogie terasa penuh di dalam dirinya. Dan itu membuat Elena membuka mata lebar-lebar menatap mata Yogie dengan tatapan penuh dengan kenikmatan.

“Sial!! Kamu.. Kamu…” Elena tak dapat melanjutkan kalimatnya karena kenikmatan yang di berikan Yogie lagi dan lagi.

“Kamu apa sayang? Kamu apa?” taanya Yogie sembari menggoda kedua puncak payudara Elena.

“Gie.. kumohon.. kumohon…” hanya itu yang dapat di katakan Elena.

“Memohon padaku Elena?” Yogie masih tak berhenti menggoda Elena. Menghujam berkali-kali ke dalam tubuh wanita tersebut. Hingga kemudian Elena berakhir dengan meneriakkan namanya keras-keras.

“Bagaimana? Kamu masih meragukanku? Masih berani menyebutku banci?” tanya Yogie yang sudah kembali menormalkan napasnya yang tadi sudah terputus-putus karena pelepasannya.

“Kamu belum menang Gie.” Ucap Elena masih dengan napas yang tersenggal-senggal.

Yogie bangkit menatap Elena dengan seringaian liciknya.

“Oh ya? Jadi kamu belum ingin minta ampun?” tanya Yogie yang sudah memasang kembali pengaman pada bukti gairahnya yang kembali menegang.

“Belum!!!”

Yogie tersenyum miring. “Bagus. Karena aku juga belum ingin mengampunimu.” Ucapnya sembari membalik tubuh Elena hingga membelakanginya lalu kembali menyatukan diri sedalam-dalamnya pada pusat diri Elena.

Keduanya kembali bercinta dengan panas, mengerang satu sama lain, meneriakkan nama satu sama lain, entah sudah berapa kali hingga tak terasa pagi sudah menjelang.

Bayangan itu masih terekam jelas pada ingatan Yogie. Teriakan itu masih terngiang di telinganya, dan sentuhan itu masih terasa di kulitnya. Sial!!! Mengingat Elena saja membuat kejantanannya kembali berdenyut. Elena membuatnya gila, seakan menyulut sesuatu yang nakal dari dalam dirinya.

Yogie menggelengkan kepalanya cepat untuk menepis semua lamunannya. Ia harus segera menyelesaikan modifikasi motornya supaya nanti malam bisa tampil keren di hadapan teman-temannya.

***

Malam itu akhirnya Yogie benar-benar menghadiri balapan yang dulu sering ia ikuti sebelum patah hati dengan Alisha. Beberapa temannya sempat kaget melihat Yogie kembali balapan, sedangkan yang lainnya tampak senang melihat kehadiran Yogie.

“Jadi, malam ini, apa taruhannya?” tanya Yogie ketika beberapa temannya sudah berkumpul.

“Kita tunggu Andrew dulu, katanya dia mau jadikan motornya sebagai taruhan.”

“Motor? Buat apa? Sesekali taruhan ceweknya kan lebih semangat.” Ucap Yogie dengan sedikit tertawa.

“Emang lo belum tahu cewek si Andrew? Sial, dia anak konglongmerat. Mana mungkin si Andrew mau melepaskannya.”

“Gue pikir Andrew bukan tipe cowok yang mata duitan.”

“Memang bukan, tapi kalau ceweknya pewaris tunggal Pradipta Group, apa lo rela ngelepasin dia?”

Tubuh Yogie menegang seketika ketika temannya itu menyebut Pradipta Group. Setahunya, Pradipta Group di negeri ini adalah perusahaan milik ayah dari Elena. Jika berbicara tentang asetnya, maka akan membuat orang berdecak kagum dengan kesuksesan Pradipta Group.

Belum sempat Yogie angkat bicara, orang yang sedang mereka bicarakan akhirnya sampai tepat di hadapan mereka.

Itu Andrew yang sedang menaiki motor besarnya dengan seorang wanita yang di bonceng di belakanya dengan pose mesra.

Itu wanita yang sama dengan wanita yang beberapa hari yang lalu di tiduri Yogie, Elena Pradipta.

Yogie sedikit menyunggingkan senyuman miringnya. Oh, jadi elena sudah memiliki kekasih? Jadi kemarin ia meniduri kekasih temannya sendiri? Sialan!!! Elena benar-benar wanita Nakal!!!

Elena sendiri tampak santai berhadapan dengan Yogie. Seperti yang ia katakan sebelumnya, bahwa ia akan menganggap malam itu hanyalah sebagai cinta satu malam. Malam yang hanya akan menjadi rahasia mereka berdua. Dan Elena tak mau ambil pusing untuk mengingat malam itu.

Tapi sepertinya berbeda dengan Yogie. Ia tidak suka melihat Elena yang tampak cuek terhadapnya.

“Drew, jadi ini pacar baru lo?” Tanya Yogie sambil menatap Elena dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sial!! Lagi-lagi Elena berhasil membuat pangkal pahanya berdenyut.

“Hahahaha, kami sudah pacaran sejak setahun yang lalu.”

“Oh ya? Gue pikir dia tinggal di luar negeri.”

“Ya, kami pacaran sejak dia di luar negeri. Dan tiga bulan yang lalu dia sudah kembali menetap di indo. Bukan begitu sayang?” Andrew bertanya sembari menggigit lembut telinga Elena. Dan shit!! Itu membuat Yogie benar-benar tak suka.

“Oke, jadi sekarang apa taruhannya? Kalau hanya motor, gue nggak ikut. Sudah terlalu sering. Dan gue muak dapet motor rongsokan kalian.” Ucap Yogie menyombongkan diri.

“Brengsek lo! Lo yakin banget kalau akan menang.”

“Gue yakin dengan modifikasi baru motor gue.”

Andrew menatap dengan tatapan meremehkan pada motor yang di tunggangi Yogie. Memang tampak sedikit berbeda dengan terakir kali yang ia lihat. Tapi Andrew tetap tidak yakin Yogie dapat memenangkan balapan kali ini, meski dulu Yogie hampir selalu memenangkan balapan tersebut, tapi kini Yogie terlalu lama absen dari balapan, dan itu pasti akan mempengaruhi penampilannya malam ini.

“Jadi lo mau apa?” Tanya Andrew.

“Gue mau yang sedikit menantang.”

“Apa?”

“Kencan satu malam dengan dia.” Ucap Yogie sambil menunjuk ke arah Elena.

 

-TBC-