Diary kepenulisan – Part 6 (Lelah)

Comments 5 Standard

Lelah

 

Hai, malam, gimana kabarnya nih… wahhh aku baru nyapa lagi. heheheheh

ngggak tau nih, mau cerita apa, aku juga bingung. kalo yang sedang kurasakan saat ini sih, aku sedang sedih. dan sangat lelah. makanya aku coba mencurahkan kesedihanku di sini.

“Sedih kenapa mom?”

Banyak Faktornya, dan aku nggak bisa cerita satu persatu. tapi, satu hal yang sedang kursakan saat ini, bahwa aku sedang sangat lelah.

Aku ingin kembali pada masa-masa dulu. masa dimana aku hanya menulis di blog ini sesuka hatiku tanpa gangguan apapun. hanya nulis untuk kalian tanpa mengenal siapapun yang akan menyakitiku sampai seperti ini. aku ingin hanya menulis, tanpa ada orang yang mendekatiku, lalu diam-diam mengkhianatiku, menusukku dari belakang, membuatku kecewa. orang-orang yang sempat sangat dekat denganku, bahkan begitu kental, tapi kemudia mereka pergi begitu saja, tanpa kabar, Aku sudah tidak membutuhkan mereka lagi.

sungguh. aku sangat benci dengan muka dua. T_T

intinya aku sangat lelah. aku ingin balik seperti dulu, tenang, sama seperti ketika aku nulis bad boy series dan yang lainnya.

aku sudah lelah…

aku ingin kembali….

Diary kepenulisan – Part 5 (Di tinggalkan readers setia)

Comments 13 Standard

Diary kepenulisan

 

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

 

Part 5

-Di tinggalin Reader setia-

 

haiiii… sepertinya udah lama banget aku nggaak curhat-curhat gaaje di dunia kecilku ini, well, sekarang aku mau sedikit curhat. wakakakkakak oke. abaikan saja judulnya yaa, karena nggk ada yang namanya ‘Di tinggalin pembaca setia’ karena yang namanya pembaca setia pasti nggak akan ninggalin kamu.

aku ingat, dulu aku ada reader setia, bisa di bilang dia orang pertama yang baca cerita aku sih, kalau kaliaan buka cerita the lady killer di blog ini, kalian pasti bakal nemuin komen2nya di setiap partnya, saat itu aku seneng bgt karena ada yang mau baca cerita abal2ku, lalu ceritaaku berlanjut pada because its you, setelah because its you rilis, dia stop baca ceritaku karena kurang suka dengan tema ceritanya. oke, kita nggak bisa dong nyalain orang karena nggak suka dengan cerita yang kita buat, but, aku nggak bisa bohong kalau itu menyakitkan. hehhehehhe

lalu, kejadian itu terjadi lagi.. lagi… lagi… dan lagi…. well yah, aku sudah kebal. hahahahha

dan sejak saat itu aku tahu kalau nggak ada reader setia (Setidaknya untuk aku) Ya, karena aku sadar, apasih tulisanku? tulisanku mah cuma abal2, siapa coba yang mau ngidolain. but, aku tetap berterimakasih banget sama ‘kalian-kalian’ segelintir orang yang masih setia menyukai ceritaku meski ceritanya gitu2 aja. aku akan berusaha yang terbaik untuk kalian, ya, hanya untuk kalian yang menyukai tulisanku, bukan kalian yang menuntutku lebih untuk membuat cerita yang lebih bagus dari si ono, atau lebih bagus dari si ini. suer, aku gak bakalan nggubris kalian yang seperti itu, kenapa? karena jika kalian benar-benar mencintaiku, maka kalian akan mencintai apa yang ku sajikan tanpa menuntut untuk lebih keren dari penulis lainnya.

Oh iya, sedikit info, kemaren aku sempat punya grup line, Ediaaan, dan beberapa grup line lainnya, grup yang membuatku dekat dengan reader setiaa aku. lalu aku keluar dari sana. wakakkakakka, kenapaa? karena aku merasa nggak pantas berada di sana, aku merasa jika di sana bukanlah tempatku, aku merasa jika aku bukan orang yang mereka inginkan, jadi aku keluar dan ingin menjadi diriku sendiri.

so yah… bagiku, reader setia adalah reader yang setia baca tulisan-tulisan aku di blog ini. bukan reader yang hanya baca saat ceritaku naik rating, kemudian meninggalkan saat aku terpuruk. ya, aku punya kalian semua, kalian yng meembaca blog ini, aku sayang kalian, dan aku akan bertahan dengan tulis menulis demi kalian…. i love you All…..

Ps. makasih banyak buat dukungannya pada cerita Samantha, aku suka menulis cerita itu, aku mencintai karakter2nya, meski ‘teman2 yang sempat kusebut teman terdekat’ nggak suka, bahkan nggak mau baca, meski reader aku di wattpad lebih nodong aku ke cerita lainnya, tpi demi kalian (yang baca di blogku ini) aku sudah menyelesaikan cerita tersebut, artinya, kalian bukan sekedar reader, komentar kalian benar-benar membuatku semangat dan nggak peduli lagi dengan mereka yang sudah nggak mempedulikan aku. terimakasih.. terimakasih… terimakasih…..

 

10-08-2017

Zenny Arieffka

 

Mengenangnya (With Kai) – Cerpen True story

Comments 3 Standard

mwkMengenangnya (With Kai)

Note : Hanya Oneshoot yang ku dedikasikan untuk seorang yang pernah berada di masalaluku. ahh entahkah, aku kembali mengingatnya saja beberapa hari terakhir, akhirnya aku menulisnya di sini, Happy reading,,

Mengenangnya (With Kai)

 

Pagi ini aku mendengarkan lagu Radja. aku tidak tahu kenapa tiba-tiba suamiku memutar lagu itu, karena setahuku, lagu kenangan kami adalah lagu dari Wali.

Mendengar lagu itu, sontak aku teringat dengan seseorang. Seseorang yang pernah memiliki hatiku seutuhnya hanya dalam jangka waktu 9 hari.

Yeaah, dia kekasih lamaku selama 9 hari.

Sebut saja namanya Kai.

Aku lupa tepatnya bulan berapa, tapi seingatku, saat itu tahun 2007. Alif ( yg sekarang yg jadi suamiku) pacar pertamaku itu meninggalkanku begitu saja ke pulau seberang, tanpa pamit. Kalian tentu dapat membayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Padahal kami baru menjalin kasih selama kurang lebih 2 bulan lamanya.

Sedih? Tentu saja, marah? Sangat dan sangat marah. Tapi aku bisa apa? Melarangnya? Yang benar saja.

Dua hari setelah alif meninggalkanku, sebuah nomor telepon baru menghubungiku. Dia mengaku bernama Kai. Kai, bukanlah orang jelek, jika boleh jujur, dia mantanku yg paling tampan dan kaya (bahkan melebihi alif, suamiku saat ini). Saat itu aku belum pernah bertemu dengannya, karena dia memang masih kuliah di luar kota.

Kami hanya berhubungan lewat telepon. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana rupanya saat itu, hanya saja mendengar suaranya membuatku berdebar-debar seperti di novel-novel yg pernah ku tulis. entah ini perasaanku saja, atau memang aku sudah menjadikan Kai sebagai pelampiasanku karena di tinggalkan Alif.

Dua minggu smsan dan telepon-teleponan. Kai pulang. Kalian tahu apa yang membuatku terkagum-kagum? Kai yg saat itu sekolah di daerah Malang, langsung menuju ke rumahku, masih dengan membawa tas ranselnya, dia tidak pulang ke rumahnya sendiri tapi langsung menuju ke rumahku, dan bertemu denganku untuk pertama kalinya.

Shock?

Tentu saja. Aku anak gadis biasa, tidak memiliki kelebihan apapun. Bahkan di bandingkan teman2ku, aku adalah gadis yg paling culun -dan jelek- tentunya. Dan aku tidak menyangka lelaki sekelas Kai mau repot-repot mendekatiku dan   ingin berkenalah denganku.

“Dek, kok diam saja?”

“Ahh enggak, mas.”

“Aku langsung ke sini tadi, nggak mampir kerumah, pengen ketemu kamu.”

“Ohh.”

“Dek, nggak papa kan kalau aku minta nomer kamu dari temanku?”

“Nggak papa kok, Mas.”

“Alif gimana Dek? Sudah hubungi  kamu?”

“Loh, Mas kenal Mas Alif?”

“Dia temanku dek.”

“Ohh…” hanya itu jawabanku.

“Dek, aku pengen menggantikan posisi Alif.”

“Maksudnya Mas?”

“Ayo di jalani saja, aku nyaman sama kamu, Dek.”

Dan… malam itupun kami resmi jadian. Hingga 9 hari kemudian aku memutuskan mengakhiri semuanya….

***

“Kai…. aku kangen kamu, Mas..”

***
Hari ke 7 aku jadian dengan Kai…

Entah kesialan apa yg terjadi denganku sore itu. Setelah sepanjang siang hujan lebat, akhirnya motor bututku yang ku parkir di pelataran sekolah mogok. Rasanya pengen nangis. Karena itu motorku satu-satunya.

Aku menunggui teman-temanku yang mencoba menyalakan motorku, tapi tidak ada yang berhasil. Hingga kemudian, aku melihat sosok itu datang.

Kai….

Astaga, jangan bayangkan bagaimana malunya aku saat itu. Sudah jelek, kusem, bau asem, muka berminyak, tanpa bedak, jerawat di mana-mana, dan laki-laki yang beberapa hari terakhir dekat denganku datang menemuiku dalam keadaan seperti itu? Ohhh sungguh, aku ingin menghilang saat itu juga.

Dengan santai Kai bertanya. “Motornya kenapa dek?”

Aku hanya bisa menundukkan kepala. “Uumm nggak tahu mas, mogok nih.”

“Sini, biar kubawakan ke bengkel temanku saja.”

“Terus, aku gimana?”

“Aku yang nganter pulang.” Setelah dia bicara seperti itu, dia pergi begitu saja, menuntun motorku menuju ke sebuah bengkel yang memang tak jauh dari sekolahanku.

Teman-temanku bercie-cie ria. Dan aku tidak peduli, yang kupedulikan saat itu adalah degupan jantungku yg seakan menggila.

Kai akhirnya kembali, dan langsung menaiki motornya. Dia menatapku sambil berkata. “Ayo, kenapa nggak naik?”

Teman-temanku dengan ndesohnya semakin menyorakiku dan membuatku ingin menyumpali mulut mereka satu persatu dengan kaos kaki yang kukenakan.

Akhirnya aku pulang, Kai benar-benar mengantarku. Ini pertama kalinya aku di jemput laki-laki saat pulang dari sekolah. Malunya minta ampun. Aku bahkan tidak berani menempel pada tubuh Kai yang aku yakini saat itu sudah wangi, sedangkan aku? aku yakin, bahkan satu meterpun kalian dapat mencium bau keringatku.

Tujuh hari ini, aku memang tak lagi memikirkan Alif. Kai selalu menghubungiku setiap waktu. Dan itu membuatku lupa dengan diri Alif. Hanya saja, saat aku akan tidur, bayangan Alif mencuat di pikiranku, dan itu kembali membuatku menangis.

“Kok diem aja, Dek?”

“Uuum, mas kok tahu motorku mogok tadi?”

“Tadi aku nggak sengaja jalan trus lihat kamu sama teman-temanmu.”

“Yang bener?”

“Iya, sumpah Dek.”

“Mas nggak malu jemput aku?”

“Ngapain malu? Kan jemput pacarku sendiri, bukan pacar orang.”

Dan astaga, kalo aku tidak ada di atas motor, mungkin saat ini aku sudah kejang-kejang karena salah tingkah.

“Mas masih lama di rumah?” Tanyaku lagi mengalihkan pembicaraan.

“Aku setengah bulan di rumah, Dek.”

“Oh…” hanya itu jawabanku.

Akhirnya sampai juga di depan rumahku. Aku turun dari atas motor Kai. Kupikir dia langsung pergi, tapi dia malah ikut aku turun.

“Loh, mas masuk dulu?” Tanyaku bingung.

Aku melihat dia tersenyum dengan sedikit malu-malu.

“Euumm aku mau..” dia mencondongkan tubuhnya bersiap mengecup pipiku. Dan dengan spontan aku membalikkan tubuhku hingga membelakanginya.

Astaga, aku nggak mungkin membiarkan cowok ganteng mencium pipiku yg kusem dan berminyak. Yang benar saja.

Lama kami dalam posisi aku membelakangi Kai. Aku juga tidak tahu apa yg di rasakan Kai saat itu. yang ku pikirkan saat itu adalah perutku yang mulai mulas karena kedekatan kami.

Hingga kemudian, aku mendengar bunyi motor Kai tepat di belakangku.

“Dek, aku pulang.” Ucapnya. Dan dia pergi begitu saja tanpa menungguku berbalik menatapnya.

***

Kai… ingatkah kamu dengan hari itu???

***
Hari ke 8…

Hari itu adalah hari yang benar-benar membuatku gelisah. Sepanjang pagi hingga sore, Kai tidah ada sekalipun menghubungiku. Sms yang biasanya gencar dia lakukan, telepon yang biasanya sering menggangguku, hari itu sama sekali tidak ada.

Aku gelisah, apa Kai sedang marah denganku? marah karena aku menolak saat ia ingin mencium pipiku? Astaga, jika memang karena itu, aku bisa memberi alasan kenapa aku melakukan hal itu.

Aku hanya seorang gadis desa yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam berpacaran. Dulu, aku memiliki orang yang kusukai saat SMP, tapi kemudian orang itu secara terang-terangan menolakku di depan semua orang hingga membuat kepercayaan diriku runtuh seketika. Bahkan hingga kini, rasa terauma itu benar-benar membunuhku. membuatku selalu merendahkan diri dan sama sekali tak memiliki kepercayaan diri.

Pacar pertamaku hanyalah Alif. Itupun hanya dalam jangka waktu 2 bulan, sebelum dia meninggalkanku begitu saja. Apa salah jika saat itu aku terkejut dengan apa yang di lakukan Kai? Ya, bisa di bilang Kai adalah orang pertama yang begitu dekat denganku.

Hingga sore, Kai tak kunjung menghubungiku. Nana, temanku menyarankan supaya aku menghubungi dia, tapi itu adalah hal terakhir yang akan ku lakukan. Sumpah demi apapun juga aku tidak akan pernah menghubungi laki-laki lebih dulu, bukan karena aku sombong, tapi aku terlalu takut, jika ternyata aku mengganggunya, atau membuatnya tidak nyaman. Akhirnya, aku membiarkan Kai yang tidak menghubungiku seharian tanpa mencoba menghubunginya.

sorenya, aku pulang sekolah dengan Nana, karena memang aku masih belum berani memakai motorku yang kemaren sempat masuk bengkel.

Kami pulang bersama dengan Nana memboncengku. tapi baru sekitar tiga kilo meter Nana menjalankan motornya dari sekolahan, kami di cegat oleh beberapa orang anak gadis dari sekolahan lain.

Apa Nana sedang membuat masalah? Pikirku saat itu. Akhirnya Nana menghentikan motornya, lalu kami sama-sama turun dan beberpa anak gadis dari SMA sebelah menghampiri kami.

“Ada apa ya?” Tanya Nana.

“Hei, kamu siapanya Kai?” Tanya seorang gadis dengan rambut pendeknya sembari menunjuk ke arahku.

“Aku?” Tanyaku bingung. “Uum, aku, teman.” Aku berbohong.

“Teman? Jangan-jangan kamu yang ngerebut Kai dari Ina?” Tanya gadis itu lagi sambil menunjung gadis lainnya yang mengenakan jilbab dan sedang menundukkan kepalanya.

“Loh, mbak, aku nggak pernah ngerebut siapa-siapa.” Jawabku sedikit tidak terima, karena aku memang tidak merasa pernah merebut Kai dari orang lain. Kai sendirah yang datang padaku saat itu.

“Halah alasanmu saja. Kai itu dulu selalu ngapelin Ina kalo dia pulang dari Malang, sekarang dia nggak lagi ke rumah Ina, dan kemaren kita lihat kamu sedang di bonceng dia lewat sini.”

“Memangnya Kai siapanya Ina?” Kali ini Nana yang ikut bertanya.

“Ya pacarnya lah. Bahkan mereka mau nikah juga, tuh lihatkan cincinmu, Ina.”

Aku hampir menangis saat itu ketika mendapati kenyataan jika Kai memiliki wanita lain di belakangku. Kenapa dia membohongiku? Kenapa dia mendekatiku? Kenapa dia membuatku tersakiti? Kenapa dia membuat luka yang sama seperti yang di berikan Alif padaku?

“Ya sudah, sekarang kamu ngaku nggak, kalau kamu pacarnya Kai?” Tanya gadis itu lagi.

“Enggak mbak!!” Jawabku tegas. “Aku cuma punya satu pacar, namanya Alif, dia sekarang sedang ke kalimantan. Kai cuma temannya, dan dia cuma temanku.” Jawabku setegas mungkin dan berharap suaraku tidak bergetar saat itu.

“Ya sudah. Kalo Kai ke rumahmu lagi, bilang, suruh nemuin Ina. Dan kalau bisa, jangan bolehin dia main ke rumahmu lagi. Kamu nggak kasihan sama Ina yang baik ini?”

“Ti, sudah, aku nggak apa-apa.” Ucap gadis yang bernama Ina itu dengan sedikit menenangkan temannya yang sejak tadi terlihat sedikit emosi.

“Ya sudah mbak. Nanti ku kasih tahu orangnya.” Jawabku setenang mungkin. Padahal saat itu perasaanku sudah tidak karuan.

Aku dan Nana akhirnya melanjutkan perjalanan pulang kami. Sesekali Nana menggerutu tidak percaya dengan apa yang di katakan para gadis itu. Bagi Nana, Kai adalah orang baik-baik.

Ahh ya, aku belum cerita, Kai itu adalah sepupu dari Ale, pacar Nana. Nana tentu kenal dekat dengan Kai, dan dia sama sekali tidak percaya kalau Kai itu memiliki pacar lain selain aku. Sedangkan aku sendiri, sama sekali tidak menghiraukan pendapat Nana, pikiranku terlalu penuh dengan berbagai macam pikiran tentang Kai. Bayangan-bayangan saat Kai mencoba mendekatiku pun mencuat begitu saja.

 

Aku ingat, saat itu adalah hari kedua aku resmi menjadi kekasih Kai. Kai bercerita banyak tentang dirinya semasa hidup di Malang. Dia memiliki banyak Pacar. Tapi seluruhnya bukan wanita baik-baik. Aku tidak percaya, tentu saja. Memangnya aku mau di bodohi sama dia. Lalu besok malamnya ketika kami ketemuan kembali, Kai membawa beberapa Foto kedekatannya dengan beberapa gadis yang di sebut dengan mantannya. dan saat itu aku baru sadar, kalau Kai memang lelaki yang dengan gampang menunjuk mana wanita yang dia inginkan.

Saat aku bertanya. “Kenapa kamu nggak cari wanita baik-baik buat di jadikan pacar Mas?”

Dia menjawab “Wanita baik itu bukan untuk di jadikan pacar. Tapi untuk di jadikan istri.”

Aku tertawa dengan gombalannya. “Lah berarti aku bukan wanita baik-baik dong?”

“Memangnya kamu pacarku?” Pertanyaannya benar-benar membuatku malu. astaga, bagaimana mungkin dengan begitu PDnya aku mengakui diri sebagai pacarnya.

“Uumm, nggak tahu lah.”

“Kalau aku nganggep kamu calon istriku, gimana?”

Tubuhku saat itu kaku seketika. Calon istri? Aku bahkan baru Lima belas tahun saat itu.

 

Aku ingat hari itu kami banyak tertawa, dan berakhir dengan kecanggungan karena Kai membahas tentang calon istri. tapi fokusku saat ini bukan pada bagian percakapan manis kami, tapi lebih pada bagian Kai yang mengaku memiliki banyak kekasih di luar sana.

Kai sudah mengakui sejak awal padaku, jika dia memiliki banyak kekasih di luaran sana, bukan tidak mungkin Ina adalah salah satunya.

Dan astaga, betapa bodohnya aku menaruh hatiku pada seorang Kai…

Ya, tidak bisa di pungkiri jika aku sudah mulai jatuh hati pada sosok Kai, sosok yang mampu mengalihkan perhatianku dari Alif, sosok yang sangat perhatian padaku, sosok yang pada saat itu membantu mengobati lukaku akibat kehilangan seorang Alif.

Ya, dalam waktu singkat, Kai membuatku jatuh cinta padanya.

Tapi aku sadar jika semua ini salah. Kai bukan orang baik untuku, dan aku tidak ingin melanjutkan kesalahan ini, aku tidak ingin tersakiti lebih jauh lagi nantinya, hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya keesokan harinya..

Kai… maafkan aku, aku hanya tidak ingin kembali tersakiti… maaf….

***
Malam itu juga aku mengirim pesan pada Kai.

Aku : ‘Mas, aku pengen ketemu besok malam.’

Tak lama, ponselku kembali berbunyi, tanda Kai membalas pesanku.

Kai : ‘Beneran? Kamu kangen? Di mana Dek?’

Aku : ‘Di sekolah SD ku sedang ngadain pentas seni, kita ketemuan di sana saja Mas. Sambil nonton.’

Kai : ‘Ya sudah, ku jemput jam 7, Dek.’

Aku : ‘Jangan, aku di antar Mas Sani nanti.’ (Kalo kalian pernah baca cerita The Lady killer, pasti kenal Renno, nah Sani ini adalah Rennoku dalam dunia nyata hahahahha).

Kai : ‘kok di antar Sani?’

Aku : ‘Ya, aku sekalian ada perlu sama dia.’

Kai : ‘Baiklah. Met Bobok Dek.’

Dan aku tidak lagi membalas SMSnya itu. Aku seakan mencoba memungkiri sikap manis yang di berikan Kai padaku. Maaf Kai, aku tidak ingin jatuh terlalu dalam.

***

Besok malamnya… tepat hari ke 9 aku jadian dengan Kai. Kai menatapku ketika aku sampai di tempat kami janjian saat itu.

Sani yang mengantarku, ikut turun dari motornya lalu berjalan mengikutiku tepat di belakangku. Ahh ya, sedikit cerita tentang Sani, Sani adalah laki-laki yang mengenalkanku dengan Alif. Bisa di bilang, dia mak comblangku. Dia itu naksir berat dengan temanku yang bernama Dewi, tapi sayangnya, Dewi hanya memanfaatkan Sani. Dari situ, aku sempat menaruh hati pada Sani. Ahhh kalian jangan bilang siapa2 yaa.. huehehehehe. Tapi sayang sekali, Sani malah mengenalkan aku dengan Alif, dan mencomblangkanku dengannya. Akhirnya, perasaanku ku kubur begitu saja dan aku belajar mencintai sosok Alif.

Kembali pada permasalahan.

“Loh dek, kita jalan bertiga?” Tanya Kai sambil menatap Sani.

Akhirnya aku menoleh ke belakang dan mendapati Sani masih berdiri di belakangku.

“Kamu kok masih di sini Mas?” Tanyaku pada Sani.

“Aku mau nemenin kamu.”

“Kan sudah ada Aku, San.” Kai menyahut.

“Ingat Kai, Alif yang nyuruh aku jagain dia, bukan kamu.”

Oke, aku bingung. Kenapa mereka bawa-bawa nama Alif?

Aku melihat Kai maju mendekat ke arah Sani.

“Hei, San, kamu juga harus ingat, kalau kamu saat itu nggak mau kan di suruh jagain Jeni buat Alif? Makanya kamu nyuruh aku yang jagain Jeni.”

“Loh, kalian ngomong apa sih?” Aku semakin bingung disini. Jadi, Alif dalang semua ini??

“Gini dek, aku bisa jelasin.” Kai mulai menarik tanganku sedikit menjauh dari Sani, sedangkan Sani hanya bisa menatap kami sedikit lebih jauh.

“Dek, sebenarnya, Alif nyuruh Sani jagain kamu, biar kamu nggak pacaran atau dekat dengan cowok lain selama dia merantau, tapi saat itu Sani nggak mau, jadi dia nyuruh aku buat jagain kamu Dek.”

Shock. Itulah yang ku rasakan saat itu. M mm mmbmmm mhihgighjhogjmhkhJADI INI SEMUA DALANGNYA SI ALIF????

“Oh, jadi di sini aku cuma mainan kalian?”

“Bukan gitu Dek, Alif itu benar2 sayang sama kamu Dek, dia cuma nggak mau kamu kenapa2 makanya nitipin kamu sama teman2 terdekatnya.”

“KALO DIA SAYANG, DIA NGGAK AKAN NINGGALIN AKU TANPA PAMIT MAS.” Aku berteriak. Ya, aku masih ingat dengan jelas jika saat itu aku berteriak keras ke arah wajah Kai.

“Ninggalin? Dia kan masih hubungin kamu, kamu pikir aku nggak tahu?”

Tububku tegang seketika. Ya, sekitar lima hari entah satu minggu setelah Alif pergi, Alif kembali menghubungiku. Saat itu dia sudah berada di kota Bontang kalimantan timur. Hubungan kami canggung, hanya sebatas tanya kabar, itu saja. Dan aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, entah teman-teman terdekatku, atau Kai sekalipun. Aku hanya bilang kalau Alif meninggalkanku, dan kami sudah putus hubungan, padahal bukan seperti itu. Tapi darimana Kai mengetahui hal itu?

“Mas, darimana bisa tahu kalau Mas Alif masih hubungin aku?”

“Maaf, tapi aku pernah meriksa Hpmu, Dek.”

“Kok, kamu periksa sih? Kenapa?”

“Dek, memang awalnya aku cuman bantu Alif jagain pacarnya, tapi…”

“Tunggu mas, ada yang lebih penting. Ina itu siapa?” Tanyaku secara langsung sebelum keberanianku menghilang.

Kai diam seketika. Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kenapa? Apa dia benar-benar memiliki hubungan serius Dengan Ina?

“Kenapa Mas? Ina pacar kamu?”

Kai masih tidak menjawab.

“Teman-temannya ngelabrak aku kemaren, katanya aku ngerebut kamu dari Ina, jadi Ina beneran pacar kamu?”

“Ya.” Jawabnya dengan santai.

“Kamu kok tega sih Mas, lalu apa bedanya kamu dengan Alif yang nyakitin aku?”

“Kita nggak ada bedanya Dek, kamu juga masih diam-diam smsan dengan Alif di belakangku.”

“Itu karena Alif pacarku.”

“Ina juga pacarku, dia bahkan sudah tunangan denganku!” Kai sedikit membentakku.

Aku terpaku melihat Kai yang terlihat Emosi. Dia benar-benar sudah memiliki tunangan. Dan bagaimana mungkin aku bisa menyukainya? Astaga.

“Gini Dek, kita nggak ada bedanya. Walau kita pacaran, kamu masih hubungan dengan pacarmu si Alif itu, kamu hanya melihatku sebagai pelarianmu Dek, iya kan?”

“Mas, kenapa seakan di sini aku yang salah?”

“Ya, kamu yang salah, kamu yang sudah buat aku berpaling.”

“Berpaling?” Aku masih bingung.

“Ya sudah lah, nggak ada gunanya aku jelasin sama kamu, sekarang mau kamu apa? Aku turutin.”

“Sampai di sini saja, mas.”

Kai menatapku, Dia terdiam cukup lama, hingga kemudian dia kembali bersuara.

“Kamu minta putus karena akan balikan sama Alif?” Aku hanya diam. “Ya sudah, terserah kamu.”

Kai pergi begitu saja, dan yg bisa ku lakukan hanyalah menangis. rasa ini rasa yg sama seperti Alif meninggalkanku.

“Jen.” Suara Saninmembuatku berbalik dan menatap ke arah Sani yang sudah berdiri tepat di belakangku.

“Maafkan aku, aku yg sudah membuatmu kenal dengan  Alif dan juga Kai. Maaf.”

Aku tak menghiraukannya, yang bisa ku lakukan saat itu hanyalahh menangis, menangis dan menangis.

***

Hampir 3 tahun berlalu… tepatnya bulan 7 – 2010

Banyak kejadian yang menimpaku selama kurun waktu hampir 3 tahun terakhir. Setelah putus dengan Kai pada saat itu, aku bukan lagi menjadi diriku sendiri.

Satu hal yang perlu ku ingat dan menjadi pelajaranku saat itu, jika hidup adalah sangat berharga, nikmatilah hidup selagi kamu masih bisa, jangan terlalu terbawa perasaan, keGR-an berlebihan, dan jangan terlalu menyukai orang jika kamu tidak ingin merasakan sakit pada akhirnya.

Aku benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Bahkan teman-temanku berkata jika aku terlalu berani.

Setelah putus dengan Kai, aku berpacaran dengan Sani, dengan Randy, dan entah dengan siapa lagi yang semuanya adalah teman dekat Alif. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah bagaimana caranya aku melupakan Sosok Alif…

Ya, sosok Alif selalu berputar -putar pada kepalaku. Bahkan ketika kami kembali putus hubungan -benar2 putus Kontak- selama dua tahun.

Beberpa bulan setelah putus dengan Kai, aku memutuskan untuk ikut orang tuaku merantau ke kota Samarinda. Melanjutkan sekolahku disana, dan melupakan semua masalaluku ketika hidup di desa. Hanya saja, Alif masih selalu menghantui pikiranku. Dia seakan tidak ingin pergi dari otakku. Bahkan Kai saja aku sudah lupa bagaimana rupanya, tapi tidak dengan Alif.

Dan kini, bulan 7 – 2010 adalah saat dimana aku kembali lagi pulang ke desa.

Aku lupa, tepatnya itu hari ke berapa aku kembali pulang. Tapi seingatku saat itu aku baru pulang dari tes masuk perguruan tinggi di kota lamongan.

Ponselku berbunyi. Aku mengernyit saat menadpati sebuah sms dengan nomor baru di ponselku tersebut.

‘Apa kabar Dek?’

Aku tidak tahu itu siapa, tapi aku berani jamin jika itu adalah mantan pacarku dulu. Ya, semua mantan pacarku pasti memanggilku dengan panggilan Dek.

‘Ini siapa ya.’ Balasku.

‘Kai.’

Hanya tiga huruf tapi itu sukses membuat jantungku kembali dag dig dug seakan ingin meledak.

Aku terdiam cukup lama. Mencoba mencerna apa yg terjadi. Kai kembali menghubungiku, kenapa? Kenapa pada saat seperti ini? Pada saat aku kembali menjalin kasih dengan Alif?

Ya, aku kembali jadian dengan Alif.

Alif ternyata sudah kembali pulang sejak bulan 5 – 2010. Dia meminta nomer Hp ku pada teman terdekatku. Akhirnya Alif menghubungiku. Sempat kaget saat itu, dan entahlah, bagaimana euforianya hatiku saat itu. Hanya saja aku mencoba meredamnya. Berpisah selama hampir 3 tahun, dan 2 tahun sisanya sama sekali tidak menjalin komunikasi membuatku merasa jauh dengan Alif. Akhirnya kami hanya say hallo, tanya kabar, dan sedikit bercerita. Tapi kemudian dia mengajakku kembali menjalin kasih, dan dengan bodohnya aku kembali menerimanya.

Kini, ketika aku sudah kembali ke kampung tempat asalku, aku kembali bertemu dengan Alif. Dan kami benar2 kembali menjalin kasih.

Tapi kenapa Kai datang pada saat seperti ini?? Karena lama aku tidak membalas Sms darinya, Kai akhirnya meneleponku, dan mau tak mau aku mengangkatnya.

“Kamu sudah pulang, Dek?”

“Ah, ya.”

“Aku tadi nggak sengaja lihat kamu, pas aku nongkrong di toko kaset tempat langganan kamu dulu beli kaset. Kamu beda ya?”

“Beda apanya mas?”

“Sekarang sudah bisa dandan. Dan… cantik.”

Oke, aku ingin berteriak saat itu juga bahwa AKU TIDAK SUKA DI RAYU!!!!

“Ah, biasa saja mas.”

“Kata teman-teman kamu pulang karena mau lanjutin sekolah di kota ya?”

“Iya.”

“Ngambil jurusan apa, Dek?”

“Informatika dan jaringan, Mas.”

“Wah, pinter main komputer dong nanti, mau ngajarin Mas nggak nanti?”

Astaga, aku ingin melempar ponselku saat itu juga. Apa Kai sedang menggodaku?

“Maaf mas, aku sibuk, lain kali lanjut lagi ya.”

“Dek.. dek..” aku menghentikan aksiku yang mau memutuskan telepon Kai ketika aku mendengar panggilannya.

“Apa mas?”

“Aku kangen sampean.” (Bhs. Indo : Aku kangen kamu)

Kai menutup teleponnya begitu saja. Sedangkan aku sendiri masih tecenung mendengar ucapannya barusan. Jen, cuman kangen, ingat, cuma kangen. Nenekmu juga kangen kamu, so what? Bukan masalah penting. Pikirku.

***

Hari berlalu terasa sangat cepat. Hingga tak terasa sudah bulan September 2010.

Aku menikah.

Ya, aku menikah, bukan dengan Kai, tapi dengan Alif. Banyak hal yang terjadi selama dua bulan terakhir. Dan yang paling tidak bisa ku lupakan hingga kini adalah ketika aku dengan kekeras kepalaanku menyakiti hati kedua orang tuaku, karena aku memilih menikah dengan Brandalan seperti Alif, di bandingkan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Alif bukan orang yang dapat di banggakan. Aku tahu itu. Dia pengangguran, tukang mabuk, dan dia sesekali menggunakan obat. -itu dulu- tapi entahlah, sepertinya perasaanku sudah di butakan oleh cinta. Entah apa yang kulihat dari dia hingga aku berani melawan kedua orang tuaku.

Ahhh mungkin Alif memang jodohku… pungkasku.

Tepat tgl 26 September 2010. Kami sah menjadi suami istri. Meski bapak sempat tidak merestui hubungan kami, tapi akhirnya beliau menerima Alif. Bahkan pesta pernikahanku saat itu di selenggarakan dengan sangat meriah.

Semua yg di undang hadir. Tapi ada dua orang yang tidak hadir dalam pernikahanku. Yang pertama, Sani. Dia tidak hadir, entah karena apa. Padahal aku sangat berharap dia hadir. Terlepas dari aku yang pernah menjalin kasih dengan Sani, Sani adalah orang yang sudah mengenalkanku dengan Alif, dia mak comblang kami, tentu saja aku ingin dia hadir. Tapi nyatanya, dia tidak hadir.

Yang kedua, Kai…..

Ya, dia tidak hadir. Kai saat itu memang sudah lulus kuliah, dan kerja di daerah malang, tapi setiap sabtu dan minggu, dia pasti pulang. Dan pernikahanku saat itu memang jatuh pada hari sabtu dan minggu, tapi dia tetap tidak datang. Entahlah, apa yang terjadi dengannya. Tapi ku harap, hubungan kami nanti tetap baik.

Walau hanya menjadi seorang teman.

***

Pagi itu, aku masih ingat, tepat tanggal 27 september 2010. Aku bangun mendapati Alif yang sudah di sebelahku. Astaga, rasa debar-debar itu hadir begitu saja, aku masih tidak percaya jika aku akan berakhir di plaminan dengan Alif.

Aku bangun, lalu mandi. Dan ketika aku kembali masuk ke dalam kamar, Alif sudah duduk menungguku.

“Nggak mandi, mas?”

“Nanti aja.” Jawabnya.

“Pemalas.” Dan alif hanya menampilkan cengirannya.

“Dek, kamu nggak mau bukain itu?” Alif bertanya sembari membuka bungkusan-bungkusan kado yang berada di ujung ruangan.

Aku tersenyum penuh semangat. ahh ya, kata teman-temanku, salah satu yang mengasyikkan ketika menjadi pngantin baru adalah membuka kado dan juga amplop yang di terima dari sanak dan teman yang hadir.. hahahahhaha dan pagi itu, aku berdua dengan Alif sibuk membuka kado dari teman-teman kami.

Sialan!!! Kebanyakan kado berisi barang yang tidak penting. Bahkan bisa di bilang membuat ngakak sampek perutku mulas.

Ada yg memberi sebungkus kondom, pil kontrasepsi, plastik2 bekas, mentimun, mangga muda (apa mereka pikir aku mau buka warung rujak?) Dan masih banyak lagi kado2 tidak masuk akal yg membuat ngakak.

Tapi kemudian, ada sebuah kado yang membuatku tercenung cukup lama sebelum membukanya.

Kado dari Kai…

“Kenapa Dek?” Tanya Alif.

Aku sadar saat Alif bertanya padaku. “Ini, dari Kai, dia ke sini? Kok aku nggak lihat?”

“Dia nggak datang, cuma dia nitip itu aja buat kamu katanya.”

Aku tidak akan menulis di sini apa yang di berikan Kai padaku saat itu. Hanya saja, note yang di tulis Kai masih dapat ku ingat hingga saat ini.

‘Semoga berbahagia dek, aku yakin, Alif yang terbaik untuk kamu. Salam sayang, Kai.’

Alif bahkan ikut membaca note tersebut, dan berakhir tertawa lebar.

“Lebay.” Kata Alif.

Ya, Alif memang bukan orang yang romantis. Dan aku yakin, dia tidak akan pernah memperlakukanku seromantis mantan-mantanku yang lainnya.

“Apaan sih mas.”

“Kamu pernah jadian sama Kai?”

“Kenapa memangnya?” Aku balik bertanya.

“Kai pernah bilang sama aku, pas aku baru pulang bulan 5 kemaren. Dia minta maaf karena pernah jadian sama kamu, dan katanya sih, dia beneran suka sama kamu.”

“Ah yang bener mas?”

“Iya Dek, aku nggak bohong.”

“Tapi kan dia udah punya tunangan mas.”

“Tunangan? Dia udah putus lama kali dek sama tunangannya itu, bahkan sebelum aku berangkat ke kalimantan waktu itu.”

“Terus, kenapa dia nggak bilang sama aku?”

Alif mengangkat kedua bahunya. “Aku nggak tahu. Sudah lupain aja, jangan inget-inget dia lagi.”

“Kenapa?”

“Kok kenapa? Kamu kan sudah punya suami, masa inget-inget cowok lain sih?”

“Hahahha iya, aku lupa.”

Alif menyentil keningku. “Dasar bocah gemblung. Sudah, aku tak mandi dulu.”

Akhirnya Alif keluar dari kamar, dan mandi. Sedangkan aku, hanya mampu menatap bingkisan kertas kado dari Kai dengan mata nanar tapi dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.

Kai…. mungkin kita tidak berjodoh. Tapi aku yakin, Tuhan menyiapkan jodoh yang lebih baik untukmu. Terimakasih, sudah pernah mengisi hariku, saat Alif tak berada di sisiku. Terimakasih…..

 

***The End***

Diary Kepenulisan – Part 4 (Wattpad yang semakin tidak Nyaman)

Comments 4 Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

 

Part 4

Wattpad yang semakin Tidak nyaman…

 

Wattpad….

Aku nggak tau apa yang terjadi di wattpad akhir-akhir ini….

Menulis di wattpad kini bukan sesuatu yang nyaman lagi untukku… Kenapa?? Entahlah…. Mungkin kini terlalu banyak akun yang memang tak menyukai ke suksesan beberapa author di sana.

Aku juga heran. Kenapa bisa ada orang-orang seperti itu. Bebebrapa saat yang lalu, ada beberapa akun yang memang sengaja mencari-cari kekurangan di ceritaku.

Ya, tentunya aku tau bahwa ceritaku memang banyak kurangnya.. tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya saja mencari-cari kekurangan tersebut….

Beberapa kali aku Down.. saat ingat komentar-komentar miring mereka.. yaa… tak di pungkiri kalau komentar buruk pada suatu cerita sedikit banyak itu pasti akan berpengaruh pada Mood penulis itu sendiri.. seperti yang ku rasakan…

Tapi saat membaca komen positif, semangat itu datang lagi…  membara lagi… aku ingin lanjut nulis dan nulis… menciptakan duniaku sendiri… dunia dari imajinasiku… tak peduli betapa tak masuk akalnya ceritaku… yang penting tujuannya hanya satu, aku ingin mencurahkan semuanya yang mengganjal di hatiku supaya aku lega… aku ingin menghibur diriku sendiri dengan dunia yang ku ciptakan sendiri…  aku ingin membuat beberapa orang tersenyum seperti orang gila saat membaca ceritaku… yang ku inginkan hanya itu…

Tapi nyatanya beberapa akun di Wattpad tidak berpikir seperti itu… tidak berpikir bahwa ini hanya suatu hiburan… Astaga.. ayolah… Buat para akun tersebut.. Kalian terlalu KAKU…!!!

Sepagi tadi aku mendapat gonjang ganjing jika beberapa cerita populer di wattpad ada yang me Report… mereka bilang karena cerita tersebut mengandung unsur dewasa.

Begitukah??

Bukannya kalian yang meReport itu hanya iri karena cerita tersebut Populer berikut penulisnya??? Ayolahh jangan munafik.

Ada banyak… BANYAK sekali cerita esek2 di wattpad tanpa alur cerita yang jelas, dan mereka tidak pernah masuk Rank, alias tidak populer,,, lalu kenapa kalian tidak meReport cerita tersebut?? kenapa hanya cerita2 populer saja???

Ceritaku memang bukan cerita populer, aku tau itu… tapi karena MYW pernah masuk Rank #2  di wattpad, dan juga banyak sekali mengandung unsur Dewasa, maka tak ada salahnya bukan aku curiga jika pasti ceritaku juga akan masuk list Report…

Tadi, beberapa pembaca setiaku menghubungiku secara langsung dan mengusulkan hal ini padaku… Aku di minta Unpub sementara MYW dari wattpad, dan ku pikir itu memang ide bagus…

Ya… Malam ini juga MYW SEMENTARA akan aku UNPUBLISH dari wattpad…. jika keadaan sudah kembali memungkinkan, maka aku akankembali mempublishnya, Aku janji…!!

‘Alahhhh Thorrr.. Lu cemen Banget, di Report juga kagak, pakek acara di unpub segala… populer juga kagak.. sok-sok’an lu.. bilang aja cari sensasi…’

Kalo ada yang komentar seperti di atas, maka aku akan tertawa nyaring di depan mukanya… dan berkata..

Helloooo…. Satu juta Viewer itu sudah banyak sekali buatku… 102K Voters itu sudah banyak sekali buatku.. Rank #2 juga sudah luar biasa buatku, mengingat ceritaku nggak ada yang se Rame MYW.. Aku nggak mungkin membiarkan Ceritaku itu tiba-tiba ilang tanpa bekas karena di Report orang… Apa nggak sayang sama Vote yang di berikan Reader untukku?? Apa nggak sayang ama komenan-komenan lucu mereka?? Kalo aku sih sayang banget…. Jadi, Sebelum ceritaku itu di hapus dari Wattpad, Maka SEMENTARA akan aku UNPUBLISH sampai kondisi lebih baik lagi…

Aku tidak mencari keuntungan, SAMA SEKALI TIDAK.  Karena kalian masih bisa baca gratis di blog ku ini kalau kalian kangen sama kak Aldo. Blog ini pun Bebas dari iklan. Jadi, aku benar-benar TIDAK mencari keuntungan dari hal ini…

Terimakasih sebelumnya sudah mampir di sini… Ingat, Kalau bertamu harus selalu menghormati yang punya rumah. Sampai jumpa di diary kepenulisanku selanjutnya….

 

KissHug

Zenny Arieffka

Diary Kepenulisan – Part 3 (My Lovely Readers)

Comments 2 Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

Part 3

My Lovely Readers

 

Hallo.. ketemu sama aku lagi.. heheheh, nggak taulah, malam ini aku lagi galau sekali, jadi nyempatin bikin diary deh.. huehehehhehe. okay, langsung saja. Judulnya My Lovely Readers. jika di tanya “Readers itu apa sih buat kamu??”

Aku akan menjawab jika mereka adalah penyemangatku. ya, mereka benar-benar seperti suntikan penyemangat untukku. saat aku lelah dengan dunia nyata, aku mencoba membuka beberapaa akun sosmedku atau blog ini lalu membaca komen mereka tentang ceritaku, sungguh, lelah itu hilang sudah. aku jadi senyum2 sendiri seperti orang gila, dan semangatku pun bangkit lagi.

Kalian benar2 penyemangatku…

“Lalu, bagaimana jikaa komennya buruk??”

Aku tidak munafik. rasa kesal dan kecewa itu pasti ada saat mendapat komentar buruk, tapi tentu saja itu menjadikanku sosok yang lebih kuat lagi, sosok yang lebih baik lagi tentunya, so, jangan segan2 berkomentar, tapi ingat, haruss dengan kata2 yang baik dan sopan.

Di wattpad sendiri, banyak sekali macam2 Readers. ada yang sangat ramah, suka vote cerita dan komen, suka nyapa2 author kesukaanya, tapi tak sedikit juga Readers yaang bianya hanya mengkritik nggak jelas tanpa memberikan saran, suka jelek2in penulis lainnya.

Come on Girls.. dunia nyata sudah sangat ruwet bin rumit, masak iyaa dunia khayalan seperti tulis menulis juga di buat ruwet kayak di dunia nyata?? kalo nggak suka, Please, silahkan di tinggalkan, gampang toh?? -Bukan hanya berlaku di ceritaku, tapi di cerita2 yang lain juga-

oke, balik pada tema dan aku nggak ngurusin wattpad lagi. aku nulis diary ini malam ini adalah karena aku sedih baca beberapa review di Google playstore. Tidak, bukan sedih karena komennya buruk, tapi aku sedih sudah mengecewakan My Lovely Readers…

Banyak dari pembaca di Playstore (Di cerita Novel dewasa The Lady Killer) yang menuntut aku untuk segera merilis seri kedua the bad boys, yaitu kisah Renno (Because its you).

Dear… sungguh, aku ingin merilisnya, untuk kalian. tapi aku minta maaf banget, karena aku sudah memutuskan jika Because its you dan My Everything TIDAK akan pernah Rilis di playstore.

Kenapa??

Cukup aku yang tau yaa… memang harusnya Because its you sudah bisa kalian download dari bulan 3 lalu, tapi dengan Egois aku menarik kembali naskahku tersebut dengan alasan yang tak perlu ku jabarkan di sini. So, aku benar-benar minta maaf bgt kalau sudah ngecewain kalian, membuat kalian menunggu sesuatu yang memang tak akan datang.

Jadi, lewat tulisanku kali ini, Aku ingin memberikan informasi. jika dari kalian yang baca diaryku ini nyatanya sedang menunggu Noveku Because its you rilis di Playstore, Please, Jangan menunggu lagi. karena sampai kapanpun Mas Renno dan Mas Ramma nggak akan pernah menyusul Kak Dhanni di Playstore. dan kalian cukup membacanya di sini. di Blog pribadi authornya secara langsung. 🙂

 

Terimakasih sudah membaca catatan Gaje ini..

BigHug

 

ZennyArieffka

 

 

Diary Kepenulisan – Part 2 (My First Love)

Leave a comment Standard

01Diary Kepenulisan

Part 2

-My Firs Love-

 

Halo.. Ketemu lagi sama saya… hehhehe dengan tulisan gaje saya ini.. hahahhaha. Okay, bicara tentang judul di atas, jangan harap kalau saya akan bercerita tentang Cinta pertama saya yang Sumpah demi apapun juga Nyesekkkkkk bgt se nyesek-nyeseknya,,, hhahahha

Cinta pertama yang kita bahas saat ini adalah Cinta pertama pada Tokoh Ciptaan saya. Meskipun Tokoh pria pertama yang saya Ciptakan Adalah Kim Joon di fansfic Korea “The passionnate of Love”, Tapi entah kenapa kalau bicara Cinta Pertama, Saya menunjuk Tokoh Dhanni Revaldi pada Novel saya yang berjudul “The Lady killer”. Yaa.. Kak Dhanni lah yang menjadi Cinta  pertama Si Author Gaje ini.. hhahahahah

tumblr_m5q04fFsAN1ryhc5ho4_r1_250Sejak Awal saya sudah pernah menceritakan. kalau Novel The Lady killer inspirasinya dari kisah tragis saya dengan Suami dan juga sahabat dari suami saya, Meski kisah kami sebenarnya jauh berbeda dan jauh dari kara Romance, hehhehe.

Sosok Dhanni Revaldi sendiri benar-benar terinspirasi dari sosok suami saya yang Cueknya nggak ketulungan, Pemarah, Dingin seperti kutub, nggak romantis, dan masih banyak sekali kekurangan dia yang akan membuat siapapun nggak betah hidup bersamanya. Real, ini benar-benar realita, kalau boleh saya curhat, sudah berapa kali saya mengucapkan kata “Aku nggak kuat Mas, Kita sudahan saja.” tapi mungkin Allah masih sayang sama kami berdua hingga kami masih bisa bersama dalam bahtera rumah tangga yang umurnya baru menginjak 6 tahun ini (Alhamdulillah..)

Kembali ke sosok Dhanni Revaldi. Kak Dhanni di ceritakan Sebagai sosok yang sangat sayang sekali pada Sosok Nessa, tampan, Kaya, Tapi kekurangannya jelas ada di Sifatnya yang menurut saya benar-benar Minus. coba kalau dia nggak tampan dan kaya, mana ada orang yang mau hidup bersama orang yang Cuek, nggak romantis, pemarah, suka ngatur dan sikap buruk lain sebagainya. tapi di sini, Saya mencoba menggambarkan dia sebagai sosok manusia yang memang memiliki kekurangan. dan saya harap para pembaca bisa mencintai kekurangan dari Kak Dhanni tersebut.

Pemilihan cast, Setelah berputar-putar, akhirnya waktu itu saya benar-benar menemukan sosok yang saya anggap Klik menjadi sosok Kak Dhanni dalam gambaran saya. dan inilah gambar pertama Kak Dhanni yang saya temukan di Mbah Google.

Screenshot_2015-06-30-20-22-04-1Setelah menemukan gambar ini, Pikirku ‘Ehh Busyeettt ini bener-bener mirip sama gambaranku, sumpah’. lalu ku telusuri dah tuh gambar ini. dan taraaa… aku menemukan sebuah nama..

Chinawut Indracusin…

Sumpah demi apapun juga waktu itu saya sedikit ngakak saat membaca namanya. oke lupakan. Jadi saya cari tuh, nama Chinawut indracusin di Mbah Google. dan alhamdulillah ternyata benar, Dialah sosok yang saya cari.

Dia seorang penyanyi asal thailand yang sampai sekarang pun saya tak tau mana lagunya, wkwkkwkwkwk. Jujur, Saya melihatnya sebagai Kak Dhanni, Bukan sebagai Chinawut si penyanyi. hahhahahaha -namanya juga udah di butakan dengan cinta wkkwk-

lanjut lagi… Setelah saya menemukan foto-foto ini Akhirnya saya dan hati saya menyepakati bahwa dia akan menjadi kak Dhanni untuk saya. Kak Dhanni yang selalu menemani malam-malam galau saya dengan menulis cerita The lady killer ini… So, terserah kalian para pembaca mau menjadikan siapa saja pada sebagai kak Dhanni kalian.

Semangat nulis semakin menjadi saat mendapat Cast yang menurut saya benar-benar klik, Pikiran saya seakan penuh dengan Kak Dhanni pada saat itu. Hingga pada Akhirnya saya bisa menyelesaikan cerita The lady killer dengan sebaik-baiknya -Menurut saya-.

Sedih saat mengingat saya harus berpisah dengan Sosok Kak Dhanni. Sosok yang saya Ciptakan dalam imajinasi saya, Sosok yang menemani malam-malam panjang saya, Sosok yang bagi saya cukup membuat bergetar hati saya saat saya membaca uang cerita The lady killer. Adakah sosok seperti Dia dalam Dunia nyata ini?? jika Ada, Katakan padanya, “Bahwa aku sudah jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Sosok Fiksi yang telah ku ciptakan sendiri..”

Beberapa teman bertanya. “Kak, Gimana sih cara menciptakan sosok yang kuat seperti Sosok Dhanni Revaldi dalam Novel kakak??” Ini seorang teman dan dia menjadi penulis juga.

Saya hanya menjawab “Saya tidak tau, Saya menulisnya ketika saya membayangkannya, tak ada trik apapu, tak ada rancangan apapun karena waktu itu saya benar-benar baru dalam hal tulis menulis.”

“Tapi karakter yang Kakak ciptakan itu kuat sekali loh, sampai membekas gitu, coba lihat Review di Playstore..” Kata temanku itu lagi.

Dengan tersenyum saya berkata “Mungkin pada saat itu saya menulisnya dengan perasaan, hingga maksud hati saya dapat tersampaikan pada para pembaca.”

yaa.. hanya iyu yang dapat saya jawab. mungkin saya menulisnya dengan perasaan. hanya itu saja.

Setelah The Lady killer Ending. Saya mencoba menciptakan sosok Baru. Sosok Renno Handoyo yang berubah menjadi dingin dan Brengsek karena masa lalunya. Sosok yang dingin tapi bertanggung jawab dan juga perhatian dengan Gadis lugu bak malaikat seperti Allea ananta.

Sosok yang saya Ciptakan ini lagi-lagi mampu membuat saya jatuh cinta untuk kedua kalinya pada Sosok Fiksi yang saya Ciptakan sendiri. Saat Because its you tamat, Saya bahkan menangis. Ini sumpah loh, nggak ngarang. Saya susah Move On dari Renno, bahkan membuat Cerita selanjutnya -My Everything- sempat berantakan karena Mood saya. hahhahahah

Lalu kemudian saya menciptakan sosok Ramma, Revan, Mike, Brandon, Reynald, Aaron dan semua Sosok yang sedang saya tulis saat ini. kalian tau apa yang saya rasakan saat menulis mereka?? Yaa saya merasakan jatuh cinta kembali pada setiap sosok yang sedang saya tulis. setiap sosoknya memiliki keistimewaan tersendiri untuk saya, maka jangan heran kalau saya akan mengumpat dan menyumpahi habis2an saat saya tau karya yang saya buat Diplagiat bahkan di ganti menjadi Billy, Aliando, ikbal dan lain sebagainya.

Mereka.. para Hero yang ku ciptakan, meski tak nyata, tapi mereka punya tempat tersendiri di hati saya, saya ingin menjadikan mereka semua dalam bentuk fisik yang bisa di sentuh dan di rawat. so, saya mencetak mereka semua bukan untuk mencari ke untungan, melainkan untuk menjadikan kenang kenangan saya di hari tua bahwa dulu saat saya muda saya pernah berselingkuh dengan mereka dari Suami saya.. hahahhahaha #LOL

jadi jika di tanya, Siapa di antara sosok yang saya ciptakan yang paling saya cintai,? Saya akan menjawab ‘Tidak Ada’. karena saya mencintai mereka semua, saya menikmati proses saat menulis cerita-cerita mereka, mereka memiliki keistimewaan tersendiri di hati saya.

tapi jika di tanya siapa yang menjadi cinta pertama saya dalam sosok Fiksi yang saya Ciptakan?? Maka jawabannya Jelas. Kak Dhanni Revaldi lah Cinta pertama saya.

Sekian dan terimakasih untuk curahan hati saya yang Gaje ini.. hahhahahha  sampai jumpa di part selanjutnya.. wkwkwkkwkw

 

*Salam Sayang

Zenny Arieffka :*

Diary Kepenulisan – Part 1 (Awal mula)

Leave a comment Standard

01Diary Kepenulisan

Blog ini sudah seperti duniaku.. aku hanya ingin menulis sebagian dari yang ku rasakan di Blog tercintaku ini.. Apapun yang ku rasakan saat aku mulai menulis kisah-kisah yang menurut kalian Romantis.. So.. inilah Kisahku… Kisah sang Author Gaje…

Part 1

Awal Mula

 

September – 2014

 

Happy Birthday Mas…” Ucapku pada Seorang Lelaki di hadapanku.

IMG_20140929_235331

“Apa’an sih kamu.. Lebbay.” Dengan menjengkelkannya dia berkata seperti itu. ya ampun.. Dasar nggak romantis.

IMG_20140926_140251 “Ya udah lah, kalo nggak mau kuenya.”

“Kue.. Buat apa?? di makan habis juga.”

“Ehhh jangan salah, kalau aku sih nggak akan ngasih kue aja, aku ada hadiah untuk kamu, iya kalau kamu nggak pernah sekalipun ngasih aku hadiah.”

“Kayak anak muda aja pakek hadiah-hadiahan..”

Dan akhirnya aku keluar, mengambil sebuah Bingkisan untuknya. “Taraaaaa….” Ucapku sambil membawa kardus sedang yaang di dalamnya terdapat hadiahku untuknya.

10403016_981644101852139_5425814570130264405_n

Sebuah laptop baru yang bisa di buat untuk memainkan PS 3.. Yaa suamiku itu memang sedang mendambakan PS 3, tapi karena di rumah udah ada PS 2 yang nganggur dan jarang di pakek, akhirnya aku memilih membelikannya Laptop yang bisa di pakai untuk PS 3 sekaligus dipakai menyimpan data-data kami lainnya.

“Apa ini Dek?” Dia terlihat bingung.

“Sini, aku kemaren udah tanya-tanya ama Mas Dafit, katanya ini Laptop bisa buat PS 3, nanti tinggal tak belikan stik nya aja.”

“Beneran nihh?” Dia bertanya kegirangan.

Aku mengangguk dan dia langsung memelukku kayak anak kecil sambil loncat-loncat. Yaa dia memang begitu. Umurnya 10 taun lebih tua dariku, tapi kelakuannya Jauhh di bawahku. wkwkwkwkwk ini aku jujur bukan mendramatisir atau membagus-baaguskan diriku. tapi memang, Sifat asli Mas ku itu kekanak-kanakan, dan dia selalu seperti anak muda. kalian pasti nggak akan percaya kalau banyak yang mengira jika dia itu adikku. Yaa karena aku sejatinya bertampang Boros alias tampag tua, sedangkan dia Babby Face, alias nggak sesuai ama umurnya, hehehhe. Okay lupakan, kembali keceritaku di awal.

Akhirnya setelah menerima hadiahku, Dan belanja lain sebagainya, Mulailah dia memainkan PS 3 nya di Laptop. Aku juga nggak tau seperti apa persisnya, karena aku memang aslinya cuek, dan terlalu malas ngursin urusan Mas apalagi menyangkut kebutuhan laki-lakiannya seperti PS, Gitar, alat pancing, dan lain sebagainya.

mungkin sekitar beberapa minggu setelah aku memberi hadiah itu, Dengan cueknya dia bilang seperti ini padaku.

“Nah Dek, Jual lagi aja. Mana seru main di situ, Layarnya kecil banget.” Katanya datar sambil memberikan Laptop putih itu padaku.

Sedikit kesal aku berkata “Ya udah lah, buang aja. Kamu itu di beli-belikan, nggak terima kasih malah nyuruh jual.” tapi dia nggaak jawab, dan malah lempeng aja ke kamar belakang. Dasar Kutub. Yaa julukanku padanya itu banyak.hehhehe (Jangan di tiru). Dan pada Akhirnyaa Laptop ini pun menganggur lumayan lama.

Waktu itu entah bulan berapa aku lupa, Saat aku Browsing internet, aku baca-baca gitu dehh fansfiction online, novel-novel online juga. lalu aku berpikir, Aahh enak kali yaa bisa nulis gitu? dan malam itu juga aku mencoba menulis..

Awalnya aku hanya nulis fansfiction korea, Yaa, Aku adalah orang yang sangat menggilai korea.. hehehhe Fansfic pertamaku adalah “The passionnate of love”. Kisah cinta antara Wanita penghibur dengan seorang CEO muda. idenya dari pengalaman pribadi teman di dumay ku. tentunya aku kasih bumbu drama gitu.. hehheheh awal bikin itu, Sumpah, Aku sedikit geli. yaa tentu saja, Itu Fansfic erotis, dan Seorang pemula sepertiku nulis adegan ‘Begituan??‘ Astaga…. Belepotan banget dan pastinya banyak baanget kata-kata joroknya hahhahahaha -maklumi saja yaa…-

Aku hanya Post di Blog baru ku ini. Blog yang dulu menurutku akan tenggelam karena nggak akan ada yang mau melirik apalagi membukanya. hehehhe. Akhirnya Aku nulis, dan nulis, walau dengan bahasa berantakan dan EYD yang tak kalah berantakannya, belum lagi jari yang belum terbiasa ngetik membuat Typo semakin bertaburan hahhahah pikirku, Bodo amat lah. nggak ada yang baca juga, toh aku cuma iseng-iseng aja, dari pada ini laptop nggak kepakek kan..  akhirnya aku lanjutin nulis.

Lalu jenuh juga sih, nulis tapi nggak ada yang baca dan cumaa aku dan aku sendiri yang buka ini Blog ku. Akhirnya aku mencoba menshare ceritaku ini di beberapa grup Fansfiction Korea. Namanya Grup FF Big Bang, dan ada juga yang namanya Grup FF All K-Pop kalo nggak salah waktu itu. Dan dari situlah Ceritaaku mulaai ada yang baca..

Haiii para teman-teman K-Pop yang mengenalku dari Grup yang ku sebutka di atas… terimaakasih sekali yaaa kalian bersedia membuka Blog ku ini untuk membaca lanjutan kisah Cinta Kim Joon dan Kang So Ra. terimakasih banyak, karena setelah membaca komentar kalian, aku jadi semangat nulis.

belum selesai dengan fansfic “The Passionnate Of Love,” Aku mencoba membuat Novel Online denga Genree Metropop. Judulnya “The Lady Killer.” Judul itu aku peroleh dari salah satu novel mbak santhy Agatha yang judulnya “Embrace the Chord”. Menceritakan tentang Jason yang menjadi seorang Lady Killer. Nah.. akhirnya julukan Jason tersebutlah yang ku jadikan judul novel online pertamaku.

Awalnya “Lady killer” itu menceritakan kisah Cinta Dhanni dan Maya, baru aku nulis beberapa Page, tulisanku tersebut Hilang, Ke format dan terhapus semua. Streesss sangat Stress.. aku bahkan sudah men screen shoot dan meng upload ke Akun FB ku, tapi nyatanya aku nggak bissa lanjutin itu cerita karena terhapus, Sialan..!!! Aku mencoba nulis lagi, tapi ku hapus lagi, entah kenapa kayak ada yang kurang. dan saat ku bacaa nama tokohnya, Astaga.. benar saja, Dani dan Maya, seakan mengingatkanku pada pasangan Musisi indonesia yang kini sudah bercerai.

Enggak…

Aku nggak boleh pakek nama itu, aku harus ganti. Dan akhirnya ku gantilah nama Maya itu dengan nama Nessa yang sekarang kalian kenal dengan Dhanni Nessa Couple..dhannesss-1_Tlk Cover new

Akhirnya aku mulai melanjutkan cerita Cinta dari Dhanni Revaldi dengan Nessa Arriana ini beriringan dengan kisah cinta Kim Joon dan juga Kang So Ra.

Aku jugaa mulai mengasah ketrampilanku membuat cerita pendek Berbentuk Oneshoot, lalu juga mulai belajar Photoshop untuk membuat Cover2 yang sampai sekarang pun masih belepotan, hhahahhahaha -Maklumi lagi yaa.. wkwkwkwk-

Semakin hari, aku semakin asik dengan dunia baruku ini, Dunia tulis menulis, Dunia yang dulu tak pernah ku pikirkan apalagi ku impikan.

Yaaa Awal mula aku menulis memang hanya karena tak ingin Laptop yang ku hadiahkan dengan suami ini Mubadzir, tak terpakai. dan aku tidak menyangka, jika hanya berawal dari iseng-iseng inilah sedikit banyak aku bisa menghibur beberapa Orang yang tak sengaja mampir di Blog yang sangat ku cintai ini…..

So, Jika ada yang Bertanya. “Kak, kakak kok pinter banget sih nulisnya?? Nulis sejak kecil yaaa??”

Dengan gamblang aku akan menjawab “Enggak Dek, Aku juga baru, dan masih harus banyak belajar lagi, Aku mulai nulis sekitar awal 2015, dan tulisanku pun masih jauh dari kata bagus, Aku masih harus banyak belajar lagi.”

Okay.. hanya itu saja kisahku pada Part Awal mula ini. Masih banyak lagi kisah-kisahku lainnya dalam dunia kepenulisanku ini, Dunia baru yang bagiku bukan hanya sebagaai Dunia khayalan saja. pelajaraan yang bisa di ambil dari part ini adalah lanjutkanlah apapun itu yang membuat hatimu nyaman, karna kamu tak akan tau hasil akhirnya sebelum kamu mencobanya hingga Akhir..

*Salam Sayang…

Zenny Arieffka.. 😉 🙂