Ugly Wife – Bab 1

Comments 5 Standard

 

Bab 1

 

Setelah membereskan meja makan, Shafa menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. hari ini akan menjadi hari yang melelahkan karena akan ada beberapa tanaman baru yang datang ke tempat kerjanya. Mungkin ia akan pulang sore, atau mungkin ia tidak akan pulang. Shafa merasa senang jika kenyataan terakhir itu yang terjadi. Setidaknya, ia tidak akan bertatap muka dengan suaminya yang selalu menatapnya dengan tatapan jijik dan merendahkan.

Tiga bulan lamanya ia sudah menikah dengan lelaki yang mendatanginya siang itu di toko bunga miliknya. Lelaki yang bernama Elang Abraham. Lelaki yang ia ketahui sebagai seorang yang sudah menghancurkan hidup dan mimpinya.

Ya, ternyata lelaki itu adalah lelaki yang dulu menabraknya. Membuat kakinya cacat, ibunya meninggal ditempat, dan membuatnya kehilangan semuanya. Awalnya, Shafa tak ingin lagi berurusan dengan lelaki itu setelah lelaki itu menceritakan semuanya siang itu juga, tapi Shafa tak bisa berbuat banyak, ia sudah terikat dengan lelaki itu. Mereka sudah dinikahkan saat itu untuk membuat lelaki itu bertanggung jawab atas ulahnya. Istilahnya, mereka sudah kawin gantung selama bertahun-tahun yang lalu.

Saat itu, Shafa masih berusia Tujuh tahun, sedangkan Elang baru berusia Lima belas tahun. Di usianya yang ke lima belas, Elang mendapatkan hadiah mobil dari orang tuanya. Mobil yang seharusnya hanya digunakan untuk mengantar jemput Elang saat sekolah, bukan untuk digunakan lelaki itu. Tapi Elang saat itu adalah pemuda nakal seperti kebanyakan pemuda lainnya, ingin mencoba sesuatu yang baru. Hingga suatu hari, ia memaksa supirnya untuk mengajarinya mengemudikan mobil.

Tragisnya, Elang menabrak dua orang pejalan kaki di atas trotoar. Seorang meninggal ditempat, dan yang satunya kritis. Itu adalah Shafa dan ibunya. Elang tidak bisa dihukum karena masih dibawah umur, sedangkan Ayah Shafa menuntutnya untuk bertanggung jawab. Apalagi saat tahu bahwa Shafa tak akan kembali seperti dulu lagi. Istrinya meninggal sedangkan anaknya akan cacat seumur hidup. Saat itulah ayah Shafa menuntut Elang dan keluarganya untuk bertanggung jawab. Dan tanggung jawab yang setimpal adalah menikahi Shafa.

Mereka dikawin gantung saat itu juga, membuat masalah tersebut selesai dengan cara kekeluargaan. Tapi Ayah Shafa tak tahu, bahwa menikahkan mereka merupakan sebuah masalah baru untuk Shafa kedepannya. Ia tidak suka dijodohkan, ia tidak suka dilihat sebagai orang yang memaksa untuk dinikahi. Apalagi dengan lelaki seperti Elang, lelaki dingin arogan dan tak berpesaraan.

Meski begitu, Shafa mencoba mengendalikan dirinya, menekan perasaannya, mengendalikan egonya, ketika ia mengingat bagaimana janji terakhirnya dengan Sang Ayah sebelum ayahnya meninggal dua tahun yang lalu.

“Dia akan datang untukmu. Kamu akan bahagia dengannya.”

“Aku nggak tahu apa maksud Ayah.” Shafa tidak mengerti, dan ia tak mau mengerti, karena saat ini yang paling ia pikirkan adalah kondisi ayahnya yang semakin memburuk.

“Berjanjilah dengan Ayah, bahwa kamu akan memenangkan hatinya. Jangan lepaskan dia. Jangan membuatnya menjadi mudah untuknya. Dia sudah menghancurkan hidup dan mimpimu, jadi kamu berhak memiliki seluruh hidupnya sebagai imbal baliknya.”

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia masih tak mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

“Jangan lepaskan dia, Shafa. Jangan lepaskan dia…”

 

Kini, Shafa tahu apa maksud dari ayahnya. Ayahnya hanya tak mau bahwa Elang dan keluarganya bisa cuci tangan begitu saja. Melenggang pergi setelah menghancurkan hidup mereka. Ayahnya ingin, Elang hidup dengan rasa bersalahnya setiap hari, karena itulah ayahnya meminta Shafa untuk tidak menyerah.

Dan sekarang, baru tiga bulan lamanya mereka mengesahkan pernikahan mereka, tapi Shafa sudah hampir tak sanggup dengan perlakuan suami dan keluarganya. Ia diperlakukan seperti sampah, seperti orang yang menjijikkan. Apa mereka tidak ingat bahwa semua ini karena ulah mereka?

Setelah membereskan bekalnya, dengan langkah tertatih seperti biasanya, Shafa meninggalkan area dapur. Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan dapurnya, sosok yang ada dalam kepalanya tersebut rupanya sudah berdiri di hadapannya. Jika Shafa tidak fokus dengan langkahnya, ia mungkin sudah menabrak lelaki itu.

Shafa menghentikan langkahnya kemudian wajahnya mendongak menatap lelaki yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

“Ikut aku.” Ucapnya sembari menyambar pergelangan tangan Shafa kemudian menyeretnya menuju ke sebuah ruangan. Shafa hanya bisa pasrah, lelaki ini memang sasngat suka berbuat sesuka hatinya.

Sampai di dalam ruangan tersebut, cekalan tersebut dihempaskan degan begitu kasar. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan marahnya. Menyisingkan kemejanya yang masih rapih hingga sesikunya.

“Jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengan supir sialan itu?”

Shafa ternganga dengan apa yang dipertanyakan oleh suaminya tersebut.

Leo, adalah supir pribadi yang disiapkan oleh Elang untuk dirinya. Shafa tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu, tapi Shafa tak pernah melihat Leo sebagai bawahannya atau hanya sekedar sebagai supirnya. Ia memperlakukan Leo sebagai orang yang setara dengannya. sebagai seorag teman. Jika ia ingin menikmati secangkir kopi di starbuck, maka ia akan mengajak Leo atau pegawai tokonya untuk menemaninya. Dan kini, kenapa Elang mempertanyakan hal itu padanya?

“Aku nggak tahu apa maksud kamu?”

“Kamu memiliki hubungan yang special dengan dia, kan? Kamu pikir aku nggak tau?”

“Kenapa kamu menuduhku seperti itu?”

“Karena aku sudah mengawasi apapun yang sudah kamu lakukan di dalam maupun di luar rumah ini.”

“Kami hanya berteman, dan mengawasi apapun yang kulakukan, bukankah itu berlebihan?”

“Oh benarkan? Apa itu juga yang terjadi antara kamu dengan para pelanggan tokomu yang pria? Atau dengan para pegawai tokomu yang pria? Kalian berteman? Seberapa jauh?”

“Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud. Para pegawaiku bekerja secara profesional, dan aku hanya menjual apa yang diinginkan para pelangganku.”

“Seperti menjual kesenangan? Berapa mereka membayarmu?”

Mata Shafa berkaca-kaca seketika dengan tuduhan tersebut. Sebenarnya, Shafa sangat bingung dengan reaksi Elang. Selama ini, Elang tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini terhadapnya. Lelaki itu dingin dan datar-datar saja tanpa ingin tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tapi pagi ini, kenapa sikap lelaki ini berubah seratus delapan puluh derajat?

“Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu? Bukankah selama ini kita baik-baik saja tanpa mengurusi urusan pribadi masing-masing?” tanya Shafa kemudian. Ia masih bingung dengan sikap Elang pada pagi ini.

Hubungannya dengan Elang selama tiga bulan terakhir memang jauh dari kata baik. Elang memang sering menyentuhnya, lebih tepatnya, lelaki itu meminta haknya sebagai seorang suami untuk dipuaskan. Tapi hanya itu, diluar dari itu semua, hubungannya dengan Shafa jauh dari kata baik.

Mereka tidak akan saling bicara jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tidak saling menyapa, bahkan menurut Shafa, mungkin Elang tak pernah mempedulikan tentangnya. Jadi saat Elang berkata bahwa lelaki itu mengawasinya dari jauh, maka Shafa merasa terkejut, tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. selama ini Elang hanya cuek-cuek saja terhadapnya, dan kenapa sekarang Elang seperti orang yang sedang…. Cemburu?

Tidak mungkin. Pikirnya.

Elang mendekat, menghimpit tubuh Shafa diantara dinding terdekat. “Aku hanya tidak suka berbagi dengan orang lain. Kalau aku sudah memilih tidur denganmu, maka aku tidak akan membiarkan orang lain menidurimu.”

“Apa? Aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain.”

“Belum. Kita tidak tahu nanti.”

“Aku bukan perempuan seperti itu.” Ya, Elang tahu. Ia bahkan merasakan bahwa Shafa masih perawan ketika ia menyentuh wanita itu untuk pertama kalinya. Tapi sikap Shafa yang ramah dan membuat siapa saja terpesona, membuat Elang tidak suka. Elang benci kenyataan bahwa Shafa terlihat menarik bagi siapa saja dengan sikap ramah yang ditampilkan wanita itu.

Itu hanya akting.

Elang selalu memarahi dirinya sendiri ketika dirinya mulai terpesona dengan sikap ramah yang ditampilkan Shafa di hadapannya.

Elang melangkah mendekat, dengan penuh penekanan dia berkata “Aku nggak peduli. Leo akan dipecat, dan toko bungamu, cepat atau lambat aku akan membuatnya tutup.”

Setelah ucapannya tersebut, Elang pergi begitu saja, sedangkan Shafa, ia hanya ternganga dengan apa yang baru saj diucapkan oleh suaminya tersebut. Apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba Elang jadi ikut campur dengan semua urusan pribadinya? Dan menutup toko bunganya? Siapa dia? toko bunga itu adalah satu-satunya hal yang ditinggakan oleh kedua orang tuanya, bagaimana mungkin Shafa rela menutupnya?

***

Elang benar-benar melakukan apa yang dia katakan pada Shafa kemarin. Dan Shafa masih tidak menyanga bahwa lelaki itu akan bersikap searogan itu. Memberhintikan seorang dari pekerjaannya hanya karena sebuah kecurigaan yang tak masuk akal.

“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Elang akan benar-benar memecatmu.” Ucap Shafa pada Leo. Saat ini keduanya sedang berada di dalam toko bunga milik Shafa, menikmati kopi mereka. Siang itu suasana toko cukup sepi. Shafa terkejut ketika mendapati Leo mendatanginya. Karena tadi pagi supirnya ini sudah tidak ada di rumahnya. Bahkan menuju ke tokonya saja, Shafa harus naik taksi.

“Saya juga bingung, kenapa tuan tiba-tiba memecat saya.”

Shafa merasa kasihan dengan Leo. Ia tahu bagaimana susahnya lelaki itu. Selama bekerja di tempatnya, hubungan mereka memang cukup dekat. Shafa selalu menganggap Leo sebagai temannya. Karena selama ini, Leolah yang menemaninya kemana-mana. Sesekali lelaki itu bercerita tentang keluarganya. Mereka hidup kesusahan, jadi Shafa merasa kasihan jika tiba-tiba Leo diputus kerja secara sepihak oleh Elang.

“Begini saja, aku kan juga butuh tenaga kerja di toko ini, dibagian taman belakang. Kamu bisa kerja sama aku.” Usul Shafa.

Memang, jika menyangkut pekerjaan di rumah, Elang dan keluarganya berkuasa untuk memecat siapa saja. Tapi ini adalah toko bunga miliknya, tak akan ada yang bisa memecat siapapun dari sini kecuali dirinya sendiri.

“Mbak Shafa yakin? Saya takut nanti Tuan tahu terus marah.”

“Ini bukan lagi urusan Elang. Kamu kan kerja sama saya, bukan sama dia.”

“Tapi kalau Tuan tahu nanti….”

“Yang penting, kamu mau apa tidak kerja sama saya di sini?” tanya Shafa lagi. Ia tidak ingin memaksa, ia hanya mau membantu sebisa yang ia lakukan.

Leo tampak berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk setuju. “Saya mau.” Shafa tersenyum senang. Ia tahu bahwa Leo adalah orang baik, dan ia akan mempertahankan orang-orang baik untuk bekerja dengan dirinya.

***

Di lain tempat…..

“Brengsek! Berani-beraninya wanita itu.” Elang mengumpat kasar setelah ia menerima telepon dari seorang pesuruhnya yang ia bayar untuk  mengawasi Shafa, istrinya.

Elang sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sebenarnya, Elang cukup muak dengan sikap sok ramah yang ditampilkan Shafa pada semua orang. Hal itu membuat Shafa seolah-olah bagaikan malaikat. Sedangkan ia menjadi iblisnya. Elang tak suka.

Kenyataan bahwa perempuan itu mampu memikat hati siapa saja yang dikenalnya membuat Elang kesal.

Contohnya saja, dulu, pertama kali ia membawa Shafa pulang ke rumahnya, Ibunya amat sangat tidak suka dengan sosok Shafa. Pertama, karena bagi ibunya, Shafa dan keluarganya adalah tipe orang yang suka memanfaatkan keadaan. Memang benar bahwa Elang bersalah karena sudah menabrak Shafa dan ibu wanita itu. Membuat Shafa kehilangan ibunya dan wanita itu cacat seumur hidupnya. Tapi bagi ibu Elang, tak seharunya puteranya dipaksa bertanggung jawab untuk menikahi wanita cacat itu. Itulah yang membuat Ibu Elang sempat membenci kehadiran Shafa. Tapi kini, ibunya itu malah sesekali membela Shafa.

Elang berpikir, mungkin ini semua karena sikap ramah yang selalu ditampilkan Shafa meski wanita itu sedang diinjak-injak. Tak memungkiri juga, beberapa kali Elang merasa bahwa dirinya terjerat dalam pesona istrinya tersebut, tapi secepat kilat Elang mencoba mengendalikan dirinya.

Shafa hanya akting, tak ada perempuan sebaik dan seramah itu apalagi saat perempuan itu diperlakukan sebagai seorang rendahan. Pikir Elang.

Elang mendengus sebal. Ia tidak akan termakan oleh akting perempuan itu. Bagaimanapun juga, perempuan itu sudah menghancurkan dirinya dengan cara memaksa dirinya menikahi perempuan itu. Sangat wajar jika kini dirinya merasa sangan membenci sosok Shafa, bukan?

Ketika Elang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang. Wanita cantik dan seksi itu masuk dan segera menghambur ke arahnya, mengecup sisi kanan dan kiri pipi Elang. Seketika itu juga suasana hati Elang berubah. Yang tadinya dia ingin marah-marah karena memikirkan istrinya, kini berubah seketika, membara dengan kehadiran kekasih hatinya.

Namanya Salsabilah. Salsa sendiri awalnya hanya partner kerja Elang. Karena mereka sering bertemu dan saling menghabiskan waktu bersama karena pekerjaan, akhirnya benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Mereka sudah cukup lama menjalin kasih, bahkan sejak sebelum Elang menikahi Shafa secara sah.

Meski Salsa tahu bahwa Elang kini sudah meiliki istri, nyatanya hal itu tak menyurutkan niatnya untuk memiliki hati lelaki di hadapannya itu sepenuhnya. Salsa cukup tahu bagaimana ceritanya hingga Elang harus menikahi perempuan cacat itu.

“Sepertinya kamu sedang bad mood.” Salsa berkomentar masih dengan mengalungkan lengannya pada leher Elang.

“Ya. Sedikit.”

“Mau kuobati?” tawarnya.

Elang tersenyum, ia tahu apa maksud dariucapan kekasinya ini. “Dimana?” tanyanya secara langsung tanpa basa-basi.

Jemari Salsa menggoda dada Elang, “Kamu maunya dimana? Di sini, atau kita cari hotel terdekat sambil makan siang bareng?”

“Hotel saja.” Dan akhirnya, keduanya kembali bercumbu mesra sebelum keluar dari ruang kerja Elang.

-TBC-

Advertisements

Rex Spencer – Bab 2

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

Malam semakin larut,  tapi Renne tak juga dapat memejamkan matanya. Sesekali ia menengok ke belakang, nyatanya, Rex belum juga naik ke atas peraduan mereka.

Setelah makan malam menegangkan tadi, Rex segera pergi tanpa sepatah katapun. Dan hal itu membuat Renne semakin yakin bahwa memang ada yang disembunyikan oleh suaminya tersebut.

Renne segera bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan mondar mandir kesana-kemari dengan sesekali berpikir keras. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi. Kenapa setelah percakapannya dengan perempuan yang berada di telepon Rex tadi siang, Renne merasa bahwa masih banyak sekali sesuatu yang tidak ia ketahui tentang diri Rex.

Ketika Renne masih dalam kebingungannya, suara pintu dibuka membuat Renne mengangkat wajahnya menatap ke arah pintu kamarnya tersebut. Rupanya, Rex sudah berdiri di sana, di ambang pintu dengan tatapan tak biasanya.

“Rex? Kau baru pulang?” tanya Renne sembari berjalan mendekat ke arah Rex, suaminya.

“Kenapa kau belum tidur?” pertanyaan Rex terdengar begitu dingin, hingga menghentikan langkah Renne yang mendekat ke arah lelaki itu.

“Aku, aku tidak bisa tidur.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Rex yang saat ini sudah berjalan mendekat ke arah Renne.

Entah kenapa dengan spontan Renne berjalan mundur menjauhi suaminya tersebut. Aurah Rex tampak suram, terasa mencekam, dan Renne dengan spontan ingin menjauhi suaminya tersebut saat ini.

“Tak ada.” Hanya itu Jawaban Renne. Kakinya terus saja mundur ketika Rex tak berhenti berjalan mendekat ke arahnya layaknya singa yang siap memangsa buruannya.

Jemari Rex terulur, berusaha meraih pipi Renne, tapi dengan spontan Renne menghindar. “Kau, menghindariku?” tanya Rex dengan mata yang sudah menajam ke arah Renne.

Satu hal yang selalu Renne ingat tentang diri Rex, bahwa lelaki itu tak pernah terima dengan sebuah penolakan.

“Ti-tidak. Kau, hanya tampak sedikit mengerikan saat ini.” Renne berkata jujur.

Rex tersenyum miring. “Kau takut bahwa aku adalah jelmaan hantu Lucas?”

“Maaf?” sungguh, Renne ingin bahwa ia sedang salah dengan.

“Kau melihatku seolah-olah aku ini adalah hantu.” Rex mengoreksi kalimat yang ia katakan sebelumnya.

“Kau tak terlihat seperti biasanya, Rex. Aku melihat ada yang lain dari dirimu.”

“Karena aku sedang memiliki banyak sekali masalah, Rheinata.” Oh, Renne tahu, ketika Rex sudah memanggil nama panjangnya, maka Rex sedang dalam mode marah. “Tak bisakah kau hanya diam dan menurut saja apa perkataanku? Aku tak menyembunyikan apapun darimu. Dan lupakan tentang telepon sialan dari Kara tadi siang. Dia tak akan mengganggumu lagi.” Jawab Rex kemudian.

“Apa yang kau lakukan dengannya?”

“Tak ada.” Rex menjawab sembari memalingkan wajahnya. Saat itu, Renne tahu bahwa suaminya itu sedang berbohong padanya.

Dengan spontan, Renne mencengkeram kemeja Rex tepat di dada lelaki itu. “Lihat aku, dan jawab. Apa yang sudah kau perbuat padanya, Rex?” Renne tentu tahu bahwa Rex adalah sosok yang tegas dan tak kenal ampun. Lelaki itu pernah memecat puluhan bawahannya sekaligus ketika mendapati pegawai-pegawainya itu merayakan pesta ulang tahun ketika jam kerja. Dan masih banyak lagi kengerian yang dilakukan oleh Rex padahal seharusnya Rex dapat mentolelirnya.

“Aku memecatnya. Apa kau puas?” jawab Rex penuh penekanan.

Cengkeraman Renne lepas sektika. “Apa? Kau tak perlu melakukan itu, Rex! Dia hanya mengangkat teleponmu. Kau…”

“Apa kau suka jika suamimu digoda oleh pelacur jalanan seperti dia?” tanya Rex dengan memotong kalimat Renne.

“A-apa maksudmu?”

“Kau tahu kenapa dia mengatakan yang tidak-tidak padamu? Semua itu karena dia menyukaiku.”

“Tidak mungkin.” Renne mundur dan menggelengkan kepalanya.

“Ayolah, Renne. Berpikirlah secara logis. Aku tentu sangat menarik bagi siapapun apalagi bawahanku sendiri. tak heran jika mereka berlomba-lomba untuk menarik perhatianku.”

Ya, tentu saja. Renne tahu bahwa Rex tentu sangat menggoda untuk siapa saja yang melihat lelaki itu. Parasnya tegas, tampan, dan menyiratkan kemaskulinan sejati. Tubuhnya tinggi tegap dan selalu dibalut dengan pakaian-pakaian mahal yang melekat pas. Belum lagi reputasi lelaki itu dalam bidang bisnisnya. Renne bahkan sudah sempat tertarik dengan Rex saat masih di perguruan tinggi. Namun, Renne memendam perasaannya tersebut karena ia merasa tidak pantas bersanding dengan Rex. Kini, Renne bahkan masih sesekali tak percaya jika dirinya sudah menjadi istri sah dari seorang Rex Spencer.

“Kau, percaya dengan apa yang kukatakan, bukan?” tanya Rex membuyarkan lamunan Renne.

Renne mengangguk pelan. Nada suara Rex sudah melembut, dan hal itu membuat Renne ketakutan Renne sedikit demi sedikit menghilang. “Ya, tapi kau tak perlu memecatnya, Rex.”

“Dia duri didalam daging. Dan pantas kusingkirkan sebelum merusak semuanya.”

Rex tampak takut, Rex tampak panik. Kenapa Rex harus takut jika lelaki itu tak melakukan apapun? Tapi Renne tak mengungkapkan apa yang dia pikirkan kepada Rex, karena ia tahu, Rex pasti akan marah saat ia curiga dengan apa yang sedang disembunyikan lelaki itu.

Tiba-tiba, jemari Rex kembali terulur, mengusap lembut pipi Renne, dan yang bisa Renne lakukan hanya diam, mencoba menikmati sentuhan lembut dari suaminya tersebut.

“Lupakan dia, Sayang. Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana kelanjutan hubungan kita.” Bisik Rex dengan suara serak dan nada sensualnya. Renne tahu jika Rex mulai menggodanya.

“Kelanjutan? Maksudmu?” tanya Renne tak mengerti.

Rex tersenyum penuh arti. “Spencer kecil. Bukankah kita sudah sepakat untuk berusaha mendapartkannya secepat mungkin?”

Ahh ya, tentang itu. Renne dan Rex memang sepakat untuk tidak menunda lagi tentang bayi. Tapi tiga bulan berlalu setelah pernikahannya, Renne belum juga mendapati dirinya hamil. Jika dulu dengan Lucas Renne menggunakan kontrasepsi karena Lucas belum siap memiliki bayi, maka dengan Rex, Rex sendirilah yang menginginkan agar mereka segera memiliki bayi untuk menguatkan cinta dan juga hubungan mereka.

“Uuum, aku masih tak yakin. Aku takut jika kita terlalu berharap, maka pada akhirnya, kita akan kecewa.”

“Kau, tak akan mengecewakanku, Sayang. Kau adalah sosok yang tepat untuk mengandung dan melahirkan bayi-bayiku kelak.”

Renne hanya mengangguk. Ia bahagia dengan kepercayaan yang diberikan Rex padanya, tapi disisi lain, Renne takut jika dirinya akan mengecewakan lelaki itu.

Kemudian, Rex mendekat lagi, lelaki itu mengangkat dagu Renne kemudian menundukkan kepalanya, dan yang bisa Renne lakukan hanya memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir lelaki yang begitu menggodanya. Lelaki yang kini menjadi suaminya. Renne bahkan membalas setiap cumbuan menggoda dari Rex, membuat Rex tak kuasa menahan diri untuk tidak mengerang diantara cumbuan mereka.

Malam yang menegangkan itu segera berubah menjadi malam yang panas. Renne tahu, bahwa Rex memang sangat pandai mengambil alih siatuasi, lelaki itu sangat pandai menggodanya, membangkitkan gairahnya, hingga Renne yakin, bahwa sampai kapanpun ia tak akan mampu menolak pesona seorang Rex Spencer.

***

Siang itu, Renne berakhir di sebuah kedai burger bersama dengan teman dekatnya, Lucy Bagwell. Lucy adalah satu-satunya teman dekat perempuan yang dimiliki oleh Renne. Perkenalannya dengan Lucy bermula ketika ia menghadiri sebuah pesta amal bersama dengan Lucas. Kemudian mereka saling berkenalan karena ternyata Lucy merupakan istri dari rekan kerja Lucas. Sejak saat itu keduanya sering bertemu hingga terjalinkah hubungan dekat mereka.

Bagi Renne, Lucy tak sekedar teman biasa. Ia merasa bisa menceritakan apapun dengan temannya itu karena Lucy merupakan tipe orang yang sangat pandai menjaga rahasia.

Hingga ketika suasana hati Renne yang sedang galau seperti saat ini, hanya Lucylah yang seakan mengerti tentang apa yang ia rasakan.

Sembari menggigit burger pesanannya, Lucy bertanya “Jadi, kau mulai curiga dengan Rex, begitu?” tanyanya setelah ia mendengar keluh kesah Renne.

“Aku tidak tahu apa yang membuatku curiga. Hanya saja, aku merasa ada sesuatu yaang disembunyikan Rex dariku.”

“Well, mungkin kau terlalu terteka, Renne. Dan kuharap kau tidak memikirkan tentang apa yang dikatakan perempuan itu padamu.” Lucy menyinggung tentang percakapannya siang itu dengan Kara via telepon.

“Sejujurnya, masalah ini bermula karena percakapanku dengan Kara, siang itu.”

“Oh ayolah, kau bahkan tidak mengenalnya.”

“Ya, karena itulah aku berpikir bahwa dia mengatakan yang sebenarnya. Maksudku, kami tak saling mengenal, apa untungnya dia membuatku tak tenang dengan mengatakan hal-hal itu?”

“Renne, bukankah Rex sudah menjelaskan, bahwa perempuan itu hanya ingin hubunganmu dengan Rex renggang. Dia ingin kau berpikiran buruk tentang rex. Dan sepertinya, dia berhasil.”

“Lucy, bukan itu yang kumaksu.” Renne menghela napas panjang, ia tak tahu harus menjelaskan seperti apalagi dengan temannya itu. “Saat itu aku hanya bertanya pada Rex, lalu dia segera merubah ekspresi wajahnya. Dia tampak marah, mengerikan, dan aku benar-benar tak mengenalnya.”

“Jika aku jadi Rex, akupun melakukan hal yang sama. Ayolah, kau menuduhnya membunuh mantan suamimu yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. bagaiman mungkin dia tak marah atau tersinggung dengan ulamu?”

“Aku tidak menuduhnya, Lucy. Bahkan aku belum menjelaskan secara terperinci, apa saja yang dikatakan Kara padaku siang itu.”

“Ya, tapi secara garis besar kau sudah menuduhnya. Dan itu benar-benar bisa menyinggungnya.”

Renne mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, ia ingin ada yang mengerti perasaannya dan juga kegelisahan hatinya.

Lucy kemudian menggenggam jemari Renne sembari berkata “Kau hanya terlalu tegang. Seharusnya kau bisa berpikir, bahwa Rex bukanlah lelaki biasa. Tentu banyak wanita yang menginginkannya. Tapi dia hanya memilihmu. Dan hal itu membuat para wanita lain ingin menjatuhkan hubungan kalian, bagaimanapun caranya.” Ucap Lucy dengan pelan penuh pengertian.

“Aku hanya takut. Dan aku tak mengerti, darimana asal mula ketakutan ini. akhir-akhir ini, aku memang sering mengalami hal-hal seperti ini. kepalaku sering pusing, dan itu membuatku tidak nyaman.”

“Astaga, apa kau sudah memeriksakan dirimu ke Dokter?” tanya Lucy secara tiba-tiba.

“Untuk apa? Maksudku, aku tidak sakit, Lucy.”

“Astaga, kau ini polos atau bodoh? Maksuku, bisa jadi semua perasaan tidak nyaman yang kau rasakan adalah efek dari hormonmu yang kacau.”

Renne mengerutkan keningnya.

“Maksudmu?”

“Ya. Bisa jadi kau sedang hamil.”

Oh, Tidak. Pasti tidak. Bukannya Renne menolak, tapi Renne tidak ingin kecewa karena terlalu berharap. Ia tidak akan ke dokter sebelum dirinya memastikan bahwa ia benar-benar hamil. Tapi, memikirkan kemungkinan itu membuat dada Renne berdesir. Ia dan Rex sangat menginginkan seorang bayi, dan membayangkan dirinya hamil benar-benar membuat Renne tak kuasa menahan rasa haru di dalam dirinya. Benarkah ia tengah hamil? Benarkah sebagian dari diri Rex kini tengah tumbuh di dalam dirinya?

-TBC-

Wakakakak perasaan ceritaku jadi Baby Love semua dehhh wakakkaka maap yaa… gak tau kenapa kok barengan pada hamil semua ini tokohnya wakakakkakak nikmatin aja yaakkk hahhahaha

 

Rex Spencer (Dark Romance) – Bab 1

Comments 5 Standard

 

Yuhhuuuu yuhhuuuu sapa yang sudah nuggu buat kenalan ama abang Misterius Rex Spencer kita??? marii merapat manjahh.. hahahahhaa

 

Bab 1

 

Renne masih tak dapat mengabaikan apa yang ia alami hari ini.  Seorang wanita mengangkat telepon suaminya,  dan wanita itu berkata seolah-olah apa yang dikatakan wanita tersebut adalah benar adanya.  Bahwa Rex, lelaki yang baru Tiga bulan menikahinya, berhubungan dengan kematian Lucas, mantan suaminya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Renne tentu ingin mengabaikan saja apa yang dikatakan wanita tersebut,  toh,  ia tidak mengenalnya.  Tapi entah kenapa apa yang dikatakan wanita tadi terasa membekas di dalam hatinya.  Seakan terputar berulang kali di kepalanya.  Sebenarnya,  apa yang sedang terjadi?

Hingga kini,  Renne memang tidak tahu dengan jelas apa yang menimpa suaminya saat itu. Lucas memang bekerja di perusahaan Rex, keduanya memang berteman dengan akrab karena mereka memang belajar di perguruan tinggi yang sama. Hingga kemudian Renne dan Lucas memutuskan untuk mengakhiri masa lajang mereka.

Pernikahannya saat itu baru seumur jagung saat kenyataan bahwa Lucas pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Sungguh, Renne cukup terpukul karena hal itu. Polisi setempat hanya mengidentifikasi jika Lucas mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal. Tak ada indikasi pembunuhan di sana,  dan hal itu membuat Renne tak mencari tahu apapun tentang kemungkinan kematian Lucas.  Lagi pula,  saat itu dirinya sedang sangat berduka. Tak ada yang ingin Renne pikirkan kecuali kepergian Lucas yang begitu menyakitkan untuknya.

Lalu Rex, selaku temannya dan juga teman Lucas datang.  Memberikan hiburan tersendiri untuk Renne.  Rex bahkan tampak sedang mencoba menggantikan posisi Lucas,  dan itu benar-benar menyentuh hati Renne.

Hingga kemudian hubungan mereka semakin dekat lagi dan lagi, semakin serius. Renne bahkan mengira jika kehadiran Rex mampu mengobati luka hatinya akibat ditinggalkan oleh Lucas.  Dan benar saja, Rex benar-benar mengobati lukanya.

Keduanya berakhir dengan komitmen serius mereka.  Bahkan awal tahun,  Rex melamar Renne dan berakhir menikahi Renne tiga bulan yang lalu.

Kini, saat hubungan  pernikahannya berjalan dengan baik dan begitu sempurna,  kenapa harua ada seorang wanita gila yang mebcoba menghancurkan semuanya? Renne tahu jika mungkin saja wanita itu menyukai Rex lalu melakukan apapun untuk membuat hubunganya dengan Rex Renggang,  atau bahkan putus. Tapi Renne sama sekali tak bisa mengenyahkan perkataan wanita tadi tentang Rex yang mungkin berhubungan dengan kematian Lucas.

Renne berjingkat seketika saat merasakan sebuah lengan kekar melingkari perutnya. Hal itu membuat si pemilik lengan melepaskan pelukannya pada tubuh Renne dan bertanya “Ada apa?”

Renne membalikkan tubuhnya seketika,  ia medapati Rex yang sudah berdiri tegap dengan kemeja yang sudah tak serapih tadi pagi.  Dasi yang sudah dilonggarkan,  serta lengan panjang yang sudah disisingkan sesikunya.  Oh,  bahkan melihat Rex yang seperti itu saja membuat Renne kepanasan.

Ya, Rex memang memiliki sesuatu yang membuatnya tampak begitu memikat siapa saja yang sedang menatapnya. Lelaki itu memiliki sebuah sisi sensual yang saat menatapnya saja membuat siapa saja kepanasan dan juga sesak napas dibuatnya.  Tak terkecuali dengan Renne.  Hal itu pulalah yang melandasi dirinya menerima Rex ketika lelaki itu menawarkan diri untuk menjaga Renne dan menggantikan posisi Lucas di hatinya.

“Ah,  tidak.  Aku hanya terkejut dengan kedatanganmu. “

“Ada yang kau pikirkan?” Rex bertanya dengan penuh selidik.

“Tidak.” Renne berbohong.

Kemudian tanpa diduga, Rex kembali memeluk erat tubuh Renne.  “Kau tahu,  sepanjang hari ini aku begitu merindukanmu.  Aku tak berhenti memikirkanmu.” Bibir Rex lalu turun pada leher jenjang Renne dan menggodanya dengan kecupan-kecupan basahnya “Memikirkan setiap lekuk tubuhmu.” Lanjut Rex lagi.

Renne memejamkan matanya frustasi.  Memang selalu seperti ini ketika berdekatan dengan Rex.  Rex adalah lelaki panas dengan gairah yang selalu menyala-nyala.  Lelaki itu juga sangat menggairahkan bagi siapapun yang melihanya. Ketertarikan seksual diantara mereka seakan tak pernah padam, meski mereka sudah sering kali melakukannya.

“Rex, ini,  di dapur.” Bisik Rennne dengan suaranya yang sudah tertelan oleh gairah.

“Kalau begitu,  kau tak keberatan bukan, jika aku mengajakmu ke kamar kita, saat ini?” Rex melepaskan pelukannya.  Lalu menatap tajam ke arah Renne.

Renne tentu tak dapat menolak permintaan Rex.  Ia sama bergairahnya dengan lelaki itu.  Renne juga ingin disentuh,  dengan sentuhan panas Rex,  dengan cumbuan lembutnya.  Dan akhirnya, Renne menuruti apapun permintaan Rex.

Rex menuntun Renne menuju ke arah kamar mereka,  dan sampai di sana,  Rex tak menunggu lama lagi.  Ia segera menerkam tubuh Renne kemudian mencumbu habis bibir istrinya itu.

Oh,  Rex bahkan tak mengerti,  kenapa ia bisa begitu terobsesi dengan seorang Rheinata MCBride. Rheinata dulu adalah temannya ketika di perguruan tinggi.  Wanita cantik dengan rambut cokelatnya.  Bermata biru dan senyumannya benar-benar manis dan menggoda. Tapi sayang,  wanita itu adalah kekasih dari temannya sendiri, Lucas Hoover. Akhirnya,  Rex hanya mampu memendam keinginannya di dalam hati.

Rex tak tahu,  keinginan itu akan menjadi boomerang baginya seiring berjalannnya waktu.  Ya,  keinginan itu semakin besar lagi dan lagi,  hingga muncul rasa obsesi yang sulit untuk dikendalikan Rex.

Dan kini,  saat Rex benar-benar memiliki diri Renne seutuhnya, Rex tak ingin membuang-buang waktu lagi.  Selama mereka berdekatan,  saat itulah gairah terpantik hingga membakar hangus semuanya.

Jemari Rex melepaskan satu persatu pakaian yang membalut tubuh Renne tanpa menghentikan cumbuannya. Sedangkan Renne sendiri lebih sibuk menikmati cumbuan Rex dengan sesekali mencengkeram kemeja suaminya itu tepat di dadanya.

Renne begitu menikmati cumbuan Rex hingga ia tak sadar jika kini tubuhnya sudah setengah telanjang dengan hanya berbalutkan bra dan juga celana dalamnya saja. Kemudian dengan spontan,  Renne melepaskan dasi yang masih dikenakan Rex, membuka kancing demi kancing kemeja lelaki itu kemudian mepepaskannya hingga kini lelaki itu sudah berdiri telanjang dada.

“Kau, tak pernah membuatku bosan, Renne.” Ucap Rex parau sembari berjalan mendekat.

Dengan senyuman lembutnya,  Renne berjalan mundur,  lagi dan lagi hingga kakinya sampai pada ranjang mereka berdua.

Rex mendorong tubuh Renne hingga kini wanita itu terbaring diatas ranjang dengan dirinya berada di atas wanita tersebut.  Oh,  Renne tampak begitu indah dari tempatnya melihat. Tampak begitu menggairahkan hingga membuat Rex tak dapat menahan diri lagi.

Secepat kilat Rex melucuti sisa-sisa pakaian yang membalut tubuh mereka hingga kemudian keduanya sudah terbaring telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Setelah sesekali mencumbu Renne Rex tak menunggu waktu lama lagi untuk menyatukan diri.

Renne mengerang panjang, begitupun dengan Rex yang tak mampu menahan hasratnya lagi.  Oh,  Renne benar-bebar luar biasa,  hingga membuat Rex merasa tak ingin menarik diri dari balutan lembut tubuh istrinya tersebut.

Rex menundukkan kepalanya.. Ia mengecup lembut bibir Renne,  kemudian bibirnya turun menggapai payudara wanita itu,  lalu memainkannya.  Sedangkan dirinya sendiri mulai menggerakkan dirinya menghujam maju mundur kedalam tubuh istrinya tersebut.

Renne tak mampu menahan kenikmatan bertubi-tubi yang diberikan oleh Rex terhadap tubuhnya.  Yang bisa Renne lakukan hanya mengerang,  pasrah dengan gelombang kenikmatan yang seakan menghilangkan kewarasannya.

***

Makan malam telah tiba.

Renne melayani Rex seperti biasanya. Padahal dirumah Rex tentu banyak pelayan yang siap melayani keduanya.  Tapi sejak awal,  Renne memang ingin dirinyalah yang melayani Rex.  Dan hal itu disetujui oleh Rex karena ia tak akan menolak apapun yang ingin diberikan istrinya itu pada dirinya.

Berbeda dengan malam-malam sebelumnya,  Renne kini tampak banyak diam,  dan hal itu membuat Rex kurang nyaman.

“Kau,  ada masalah?” tanya Rex kemudian.

Renne yang saat itu menuangkan minuman untuk Rex akhirnya menatap suaminya tersebut.  “Tidak,  memangnya ada apa?” Renne berbalik bertanya.

“Kau banyak diam,  apa aku tadi menyakitimu?” tanya Rex lagi.

Tentang hubungan di atas ranjang,  kadang, Rex memang berjalan di luar kendalinya. Lelaki itu memperlakukannya dengan manis,  dengan panas,  tapi saat lelaki itu tak dapat mengendalikan gairahnya lagi, Rex melakukannya dengan keras.  Meski begitu, Renne suka.  Ia tidak pernah merasa sakit atau sejenisnya. Malah,  ia merasa berbeda dan lebih bergairah dari sebelum-sebelumnya.

Renne tersenyum dengan perhatian yang diberikan Rex padanya.  Ah..  Lelaki ini memang selalu perhatian, sejak dulu hingga sekarang.

“Tidak,  kau sama sekali tidak menyakitiku.” Ucap Renne dengan lembut menggoda.  Saat ini,  Renne bahkan sudah memutari tubuh Rex, berada di belakang lelaki itu kemudian menyandarkan dagunya pada pundak Rex. “Kenapa?” Renne bertanya balik.

“Kau banyak diam.”

“Uum, aku hanya sedikit berpikir.”

“Tentang apa?”

“Tentang seorang wanita yang mengangkat teleponku tadi.”

Renne merasakan jika tubuh Rex menegang seketika.  Ada apa?

“Kau meneleponku?” tanya Rex tak percaya.

“Ya,  memangnya kenapa? Apa perempuan tadi tidak memberitahu jika aku menghubungimu?” tanya Renne kemudian.

“Kara. Sialan!” Rex mengumpat pelan.

“Kara? Sekertaris pribadimu?” tanya Renne tak percaya.  Sebenarnya,  tadi Renne sempat menyangka jika itu adalah suara Kara.  Tapi menurutnya sangat tidak masuk akal jika Kara berani mengangkat telepon dari ponsel pribadi atasannya. Kecuali kalau mereka….

Renne tak ingin memikirkannya.  Sungguh.

“Kenapa kau meneleponku?” tanya Rex yang saat ini nada suaranya sudah berubah, terdengar dingin dan kurang bersahabat.

Renne menjauh seketika Dari Rex. “Ada apa Rex? Apa benar-benar ada yang kau sembunyikan dariku?”

Rex berdiri,  ia membalikkan tubuhnya dan menatap Renne ketika wanita itu mundur menjauhinya.

“Kenapa kau tidak bertanya tentang apa yang dia katakan padaku?” tanya Renne kemudian.

“Aku tahu itu tidak penting.”

Renne tahu bahwa itu sangat penting.  Tapi Rex hanya tak ingin membahas hal itu dengannya.  Apa Rex tahu apa yang sudah dikagakan sekertarisnya itu padanya? Tentang keterlibatan lelaki itu dengan kematian Lucas? Haruskah Renne menanyakannya secara langsung pada Rex? Atau, haruskah ia mencari tahu kepada Kara?

 

-To Be Continue-

Rex Spencer (Dark Romance 1) – Prolog

Comments 10 Standard

 

Haiiiii ada yang baru di sini… ia dong tentu saja. dan yang special adalah, cerita ini TIDAK aku publish di Wattpad, hanya ada di sini dan nanti bakal rilis di google play… yeaayyyy semoga suka yaa…. Genrenya radak beda sih, Dark Romance gitu hahahha semoga sukaa…

 

Prolog

 

 

“Siapa kau?” sekali lagi,  Renne bertanya kepada suara di seberang.  Suara seorang wanita yang sedang mengangkat teleponnya.  Siapa wanita itu? Kenapa ponsel Rex bisa berada dalam genggaman wanita itu?  Tanyanya dalam hati.

“Mrs. Spencer,  kau tidak perlu tahu siapa aku.  Yang perlu kau tahu adalah, siapa lelaki yang kini hidup bersamamu.”

“Apa maksudmu?” Renne tak mengerti.

“Rex Spencer. Teman dari mantan suamimu, Lucas Hoover.”

“Ada apa dengan Rex? Dan kenapa ponselnya bisa berada ditanganmu?”

“Dengar,  Mrs. Spencer. Apa kau tidak curiga dengan kematian mantan suamimu? Apa kau tahu bahwa Rex berhubungan dengan kematian Lucas?”

“Apa maksudmu?” lagi-lagi,  Renne bertanya dengan dua kata tersebut.  Ia tidak mengerti,  karena wanita itu terdengar berbelit-belit.

“Kematian suamimu Tiga tahun yang lalu tidaklah wajar.  Itu bukan sebuah kecelakaan lalu lintas,  karena ada seseorang yang membuatnya terlihat seperti itu. Kau seharusnya sadar, Seorang Rex Spencer,  pengusaha Black Media yang terkenal dengan ketampanan sekaligus kesuksesannya,  bagaimana mungkin bisa jatuh begitu saja dalam pelukanmu yang hanya seorang janda biasa?”

“Karena,  kami saling mengenal sejak kami di perguruan tinggi.”

Terdengar suara tawa mengejek dari seberang “Itu tidak cukup dijadikan sebuah alasan,  Mrs. Spencer. Rex terobsesi padamu, hingga Tiga tahun yang lalu, ia melakukan hal yang kejam dengan membunuh temannya sendiri agar dapat menikahi mantan istri temannya tersebut.”

“Tidak! Itu tidak benar.”

Lagi-lagi,  suara di seberang tertawa lebar.  “Kalau begitu,  tunggu saja.  Cepat atau lambat rahasia suamimu itu akan terbongkar.  Dan ketika kau sudah mengetahui semuanya, maka kau akan mencariku.” Stelah itu,  panggilan tersebut ditutup begitu saja.  Membuat Renne berdiri lemas seakan tak mampu menahan dirinya dengan kedua kakinya.

Benarkah apa yang dikatakan wanita itu? Benqrkan kematian Lucas berhubungan dengan Rex, suaminya saat ini?

-TBC-

Hayooooo seneng gak, seneng gak…. ngacung sini yang seneng.. jangan malu2 gitu dong,,, ayokk komen2 biar rame blognya. hehehe kalo rame kan aku juga bakal sering2 update… janjiii….

Ps. Kalo ada yang tanya, kenapa covernya namanya Ravenwood? jadi ceritanya aku mau buat nama pena baru kemaren, untuk kisah2 Dark Romance. kalian komen2 yaa kalian suka apa enggak sama cerita2 kayak model gini..