Because It’s You (Novel Online) – Epilog

Comments 11 Standard

BIY Cover Fix 3NewBecause It’s You

 

#Epilog
Pesta Resepsi sederhana pernikahan Renno dan Allea masih berlangsung malam ini. Sangat sederhana karena hanya di selenggarakan di halaman belakang Mansion milik Renno dan hanya mengundang keluarga dekat serta teman dekat saja.
Allea yang sudah lelah kini sudah berada di dalam kamar Renno. Sedikit tersenyum memandangi dirinya sendiri di depan kaca besar Renno. Mengenakan gaun indah dengan perut buncitnya benar-benar tak seperti bayangannya dulu saat ia membayangkan menikah.
“Ada apa..?” Tanya Renno yang saat ini sudah memeluknya dari belakang dan ikut memandangi bayangannya di hadapannya.
“Enggak.. aku hanya sangat bahagia..”
“Aku juga sangat bahagia.. semua orang bahagia malam ini..” jawab Renno kemudian.
Allea lalu menghadap kearah Renno. “Mas.. Aku pikir ada sesuatu antara Mas Ramma dan Shasha.. mereka tadi aneh.” Kata Allea kemudian.
Sebenarnya sejak tadi Allea ingin menanyakan tentang Ramma dan Shsha yang terlihat aneh olehnya. Keduanya sama-sama terlihat canggung satu sama lain. Bahkan Ramma yang dikenalnya sebagai sosok yang suka bercanda dan menggoda berubah 180 derajat menjadi sosok yang dingin dan pendiam. Shashapun demikian. Walau tadi Shasha mengundang teman prianya tapi Saat Allea memperhatikan tatapan Shasha tak pernah lepas dari Sosok Ramma. Ada apa dengan mereka..??
“Nggak ada apa-apa diantara mereka sayang..”
“Tapi jika benar.. apa itu akan..”
“Heii..” Renno memotong kalimat Allea sambil menangkup kedua pipi Allea. “Nggak akan pernah ada apa-apa diantara Mereka. Shasha memang pernah menyukai Ramma, tapi itu dulu. Dan tentu saja Ramma nggak akan mungkin suka dengan gadis manja seperti Shasha. Dia sudah seperti adiknya sendiri..” Renno menjelaskan.
“Tapi bagaimana jika seandainya ada sesuatu diantara mereka..?”
“Aku nggak akan Membiarkan ada sesuatu diantara mereka. Aku mengerti bagaimana wanita dalam pandangan Ramma, Dan aku nggak akan membiarkan Shasha jadi salah satunya.”
“Dan jika Mas Ramma berubah..??”
“Ayolahh sayang… Ramma bukan seperti aku atau Dhanni.. dia nggak akan bisa berubah, karena dia nggak pernah punya Cinta di hatinya..” jawab Renno dengan tersenyum namun serius dalam setiap katanya.
Sedangkan Allea hanya mangut-mangut mendengar penjelasan Renno. Benarkah Ramma separah itu…???
***
Di tempat lain…
Setelah selesai menghadiri pesta Resepsi pernikahan Renno dan Allea, Ramma dengan saling berdiam diri dengan Zoya, mengantar Zoya kembali ke apartemennya. Namun bukannya ikut istirahat, Ramma malah kembali menjalankan mobilnya menuju kesebuah Club malam langganannya.
Sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk minum sepuasnya hingga pagi. Pikirnya kemudian. Dan Rammapun mulai minum dan Mabuk-mabukan disitu. Entah apa yang ada dalam fikirannya. Yang jelas fikirannya kini sedang sangat kacau… dia ingin minum.. dan hanya minum..
***
Jam 3 dini hari Dhanni di bangunkan oleh suara yang membangunkannya.
“Kak.. bangun… Ada orang yang mengetuk pintu tengah malam begini…” Kata Nessa sedikit takut sambil menepuk-nepuk pipi Dhanni supaya Dhanni bangun.
Akhirnya Dhannipun bangun. “Sialan..!!! malam-malam gini siapa sihh yang gangguin kita..??” Umpat Dhanni sedikit kesal.
Dhannipun Akhirnya membuka Pintu dan Mendapati Ramma sahabatnya sedang dipapah oleh seseorang. Keadaan Ramma sangat kacau, mirip dengan Renno saat itu. Bedanya Ramma saat ini masih bisa meracau tak jelas dengan sesekali menangis dan tertawa Khas orang yang sedang mabuk.
“Maaf Mas.. mas ini tadi minta di antar kealamat ini..” Kata orang yang sedang memapah Ramma yang tak lain adalah seorang pelayan di Club malam tempat Ramma mabuk-mabukan tadi.
“Ooo iya.. terimakasih Mas sudaah mau mengantar teman saya kesini.” Kata Dhanni sambil mengambil alih tubuh Ramma.
Setelah pelayan Club itu pergi, Dhannipun menutup pintu dan memapah Ramma masuk kedalam Apartemennya. “Sayang, tolong ambilkan Air hangat dan handuk.” Kata Dhanni menyuruh Nessa. “Sialan.. !!! Apa mereka pikir rumah ini Hotel yang bisa dijadikan tempat tidur setelah mabuk..??” Gerutu Dhanni.
“Sudahlah Kak… Memangnya apa yang terjadi dengannya..?? Dia ada masalah sama Pacarnya..?” tanya Nessa kemudian.
Dhanni mengangkat kedua bahunya. “Aku sendiri nggak tau, setauku mereka nggak pernah bertengkar.”
“Dhann…. Ajari Gue Supaya bisa membencinya…. Ajari Gue Cara untuk membenci seseorang Dhann…” Racau Ramma sambil setengah berteriak.
“Sialan..!!! Apa Lo bisa berhenti berteriak..?? Brandon bisa bangun karena teriakan Lo..” Umpat Dhanni kemudian yang langsung mendapat hadiah cubitan dari Nessa.
“Ajari Gue cara membencinya..”
“Gue pengen Membencinya..”
“Gue pengen membenci Shasha….”
Dan setelah Racauan terakhir Ramma, Dhanni dan Nessapun saling pandang dengan tatapan tak percayanya masing-masing. “Shasha..???” Gumam Dhanni dan Nessa secara bersamaan..
***

Okk… cukup sampai disini Epilognya… dan untuk yang penasaran dengan kisah Ramma nantikan kisahnya di “My Everything” yaa… (Buku ke 3 serial the badboys). sekali lagi terimakasih sebanyak-banyaknya karena sudah mau membaca karya yang nggak jelas ini hehhehe BTW yang pengen memiliki bukunya bisa di pesan di Nulisbuku.com.  sampai disini dulu perjumpaan kita… untuk Renno dan Allea.. Semoga kalian berbahagia.. 🙂 😉 :*

Advertisements

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 14 (END)

Comments 7 Standard

BIY Cover Fix 3NewBecause It’s You

Nb : Jujur saja.. saat menulis dan membaca Chapter ini aku sesekali menangis.. hehehehe Sungguh.. aku sudah benar-benar jatuh cinta terhadap sosok yang kuciptakan sendiri… terimakasih buat teman-teman yang sudah mau membaca kisah ini dari awal sampai akhir… maaf jika banyak Typo dan lain sebagainya.. dan double terimakasih buat yang sudi memberikan Like dan komentarnya di kisah ini.. salam sayang… Author… :* 🙂 😉 😥

 

Chapter 14

Pagi ini pagi yang cukup menyibukkan untuk Renno karena nanti siang dia berniat untuk memberi kejutan buat Allea. Renno berangkat pagi-pagi sekali hanya untuk menyiapkan semuanya. Dia meninggalkan sebuah Note kecil untuk Allea. Bertuliskan…

Kutunggu kamu nanti siang di kantorku yaa…
Kenakan baju itu..
Dan dandan secantik mungkin…

I Love You…
Ps. Jangan membawa makan siang.

Renno bahkan tersenyum-senyum sendiri saat menulis Note tersebut. Dirinya merasa seperti anak muda yang sedang dilanda kasmaran, yang baru tau rasanya jatuh cinta.. Astaga… bahkan dulu saat bersama Nessa dan Tannia dirinya tak pernah merasa seperti sekarang ini.
Rennopun bergegas kesebuah Restoran mewah yang tempatnya tak jauh dari kantornya. Restoran itu disewanya seharian untuk acara dirinya dan Allea. Renno bahkan menyulap Restoran tersebut menjadi Restoran Teromantis yang pernah ada.
Dia ingin melamar Allea kembai..
Melamar dalam arti yang sebenarnya, bukan dengan tak sengaja atau dengan cincin sedotanya. Ahh… semoga saja Allea menyukainya. Dia juga berharap semoga momen ini menjadi momen yang tak kan pernah terlupakan untuk Allea.
Dari Restoran Rennopun bergegas ke sebuah Toko emas berlian. Disana sudah ada Mamanya dan Shasha yang sudah menunggu.
“Mas Renn lama banget.. capek tau nunggunya..” Gerutu Shasha.
“Iya.. iya.. Maaf.. dasar Bawel.”
“Renn.. mama sudah pilihkan yang ini, gimana..? Apa dia suka..?” Tanya mamanya sambil menyodorkan sebuah Cincin yang sanngat indah lengkap dengan beberapa mata berlian menghiasinya.
“Dia nggak akan suka Ma.. Pilih yang biasa saja.”
“Mas Renn kok gitu sih.. Mas Renn setengah-setengah sama Mbak Allea.” Lagi-lagi Shasha menggerutu.
“Iyaa.. kamu gimana sih.. milihin calon istri masak yang biasa-biasa saja.” Mamanyapun ikut menggerutu.
“Ma.. Aku kenal dia, dia wanita yang sederhana, dia nggak akan suka dengan barang yang mewah. Karena itulah aku memilihnya, Aku mencintai kesederhanaannya, aku Mencintai dia yang apa adanya.” Jelas Renno.
Dan Astaga… Mama dan adiknyapun ikut tersenyum sendiri karena terbuai dengan kata-kata manis Renno. Shasha bahkan berpikir ‘Yaaa ampunn… Mas Renn benar-benar sedang jatuh cinta..’ dan itu membuat Shasha kegirangan.
“Baiklah.. kalau begitu kamu saja yang pilih.” Kata mamanya mempersilahkan.
Dan Akhinya Rennopun mulai memilih. Pandangannya tertuju pada sebuah Cincin emas putih yang berada di pojok, sebuah cincin kecil sederhana. Tak ada ukiran-ukiran aneh bahkan tak ada satupun mata berliannya. Hanya ada garis tengah yang melingkari cincin tersebut. Cincin yang sangat sederhana tapi tak mengurangi pancaran keindahan dari cincin tersebut.
Sangat Cocok dengan Allea… Pikir Renno kemudian.
“Saya pilih itu..” kata Renno kemudian. Sedangkan Mama dan Shasha hanya ternganga saat melihat cincin pilihan Renno. Sesederhana itukah Alleaa…????
***
Renno akhirnya kembali kekantornya untuk menunggu Allea. Sedikit bosan karena memang hari ini dia tak ada pekerjaan. Tiba-tiba Renno merasakan jika pintu ruangannya di buka, Mungkin itu Allea. Dan ternyata dugaannya salah. Itu adalah Tannia.
Untuk apa dia kemari..?
“Apa Kamu bisa ketuk pintu terlebih dahulu..??” Tanya Renno yang raut wajahnya berubah menjadi dingin.
Tannia tak menjawab. Dia malah menutup pintu dan berjalan kearah Renno. Dan tanpa segan lagi Tannia duduk diatas pangkuan Renno membuat Renno terkejut.
“Apa yang kamu lakukan..?”
Tannia menatap Renno dengan tajam, Dan mulai mencengkeram Kerah kemeja Renno. “Aku mencintaimu Kak, Aku membutuhkanmu, Dan aku tak akan menyerah begitu saja dengan Cinta Kita.” Kata Tannia Kemudian diikuti dengan Ciuman panasnya yang diberikan untuk Renno.
Renno sendiri sudah tak dapat berkata apa-apa lagi, pikirannya Kosong. Otaknya terlalu terkejut mendapat perlakuan berani dari Tannia. Hingga suara itu menyadarkannya. Suara Lembut yang akhir-akhir ini menyejukkan hatinya.
“Mass….”
Renno mengangkat kepalanya dan mendapati Allea ternganga lengkap dengan beeberapa bulir air mata di pipinya. Astaga… apa yang sudah dia lakukan…?? Apa yang dilihat Allea..??? Pikirannya bingung untuk mencerna kejadian ini.
Dan Rennopun melihat Allea pergi meninggakan Ruangannya. Pergi dengan setumpuk luka dihatinya, tapi apa yang dia lakukan..?? Dia hanya memandangnya tanpa menjelaskan ataupun mengejarnya..
Apa kau Seberengsek ini Renn…???
Akhirnya pikiran Rennopun kembali waras. Ditatapnya tannia dengan tatapan membunuhnya. “Pergi dari sini..” Kata-kata singkat itu dikatakan dengan penuh penekanan.
“Kak.. Aku hanya mau buktikan Kalau aku hanya…”
“Wanita Jalang.” Renno melanjutkan kalimat Tannia dengan nada dingin.
“Kak… Bisa-bisanya Kak Renno menyebutku seperti itu..??” Tannia benar-benar Sakit hati dengan apa yang dikatakan Renno sedangkan Renno sendiri sudah tak menghiraukan Tannia pikirannya saat ini hanya tertuju pada seseorang. Yaitu Allea… Apa yang akan dilakukannya…???
***
Allea menatap nanar pandangan di luar jendela.. matanya sembab bekas menangis bahkan saat inipun dirinya masih menangis. Sudah satu minggu ini dia meninggalkan Renno, Meninggalkan orang yang dicintainya. Dirinya kini menangis bukan karena marah atau kesal, Tapi karena Rindu.. dia amat sangat merindukan Renno. Astaga… kenapa bisa sampai separah ini..??
Saat itu Allea hilang Arah, tak tau harus kemana. Kembali kepanti juga tak mungkin. Akhirnya Allea mengingat jika dirinya memiliki sahabat Baik, Nessa. Dan akhirnya kini dirinya berada di dalam Apartemen Nessa. Nessa benar-benar sangat baik, dia mau menerimanya dan juga keluh kesahnya. Berkali-kali Nesssa berkata, mungkin semua itu hanya salah faham, Kak Renno nggak akan seperti itu. Tapi Allea mencoba untuk Menulikan Telingannya. Dia sakit saat melihat Renno seperti itu bahkan setelah melakukan hal-hal manis bersamanya.
Tapi Allea juga tak dapat membohongi dirinya sendiri jika dia amat sangat merindukan Renno. Itu yang membuatnya tak berhenti menangis. Renno sangat mempengaruhinya, Semua hal indah bersama Renno bahkan menari-nari di ingatannya membuatnya semakin tersakiti… Kenapa dirinya jatuh sedalam ini terhadap Renno…???
***
Terbangun dalam keadaan sendirian benar-benar membuat Renno merasa Terpukul.
Kamu dimana All…???
Berkali-kali Renno meneriakkan kata-kata itu di hatinya, tapi tentu saja itu tak akan membuat Allea kembali. Renno sudah benar-benar seperti orang gila. Ketika mandi, dia melihat bayangan Allea di cermin. Ketika kedapur, Renno juga merasakan Allea sedang memasak untuknya bahkan Tak jarang Rennopun menghirup aroma nasi goreng buatan Allea.
Di ruang televisipun sama, Renno merasakan Allea sedang menontn Tv bersamanya, Melihat Allea membersihkan Rak-rak bukunya, Melihat kaki telanjang Allea melangkah kesana kemari, Rambut Basah Allea yang meneteskan Air di karpetnya….
Astaga… Renno benar-benar sudah Gila. Gila hanya karena seorang Allea…
Renno menangis.. Menangis sejadi-jadinya, kadang dia tertawa, Menertawakan dirinya sendiri. Semudah inikah dia jatuh teramat dalam kepada pesona seorang Allea..?? Apa dia mampu sembuh kembali seperti saat menyembuhkan luka Akibat patah hati dengan Tannia dan Nessa..??? Sepertinya tidak.
Dia tak akan pernah Sembuh…
Ini terlalu dalam.. terlalu menyakitkan… ya ampunn… bahkan mereka kurang dari 3 bulan saling mengenal. Tapi Efek yang diberikan Allea sungguh sangat dalam.
Kembalilah… Aku mohon kembalilah….
Renno selalu memohon dalam hati. Sejak ditinggal Allea, dia tak lagi bekerja. Pekerjaannya terbengkalai. Setiap hari dia akan mengelilingi kota hanya untuk mencari Allea, sisanya dia habiskan di Apartemennya mengenang setiap kejadian yang pernah dialaminya dengan Allea.
Dua hari setelah kejadian itu Tannia datang mengunjunginya. Tapi sambutan Renno amat sangat tak Ramah. Renno sama sekali tak menganggapnya ada. Dan itu benar-benar membuat Tannia kesakitan. Renno bahkan berkata dengan dinginnya tanpa sedikitpun memandang kearah Tannia.
“Pergilah.. aku tak ingin melihatmu lagi.” Kata Renno saat itu.
“Tapi aku membutuhkanmu Kak..”
“Tapi aku membutuhkan Allea, apa kamu nggak lihat bagai mana hancur dan kacaunya hidupku saat ini tanpa kehadiran Allea..? Kumohon.. Pergilah.. aku tak ingin melihatmu lagi.” Kata Renno dengan Lirih.
Dan Akhirnya Tanniapun pergi dengan luka di hatinya. Tak tau pergi kemana Renno juga tak mau tau, yang dipikirkannya saat ini hanyalah menemukan Allea. Renno sudah tak peduli dengan semua keadaan di sekitarnya.
Ramma dan Dhannipun sempat mengunjunginya.Keadaan Renno saat itu amat sangat kacau. Kembuat kedua sahabatnya tersebut menggelengkan kepalanya.
“Renn Ayolah.. Lo nggak perlu sampek kayak Gini..” Ajak Ramma kala itu.
“Iya Renn.. kita bisa cari Allea bareng-bareng, Lo nggak perlu Gila kayak gini.” Tambah Dhanni.
“Gimana Kalo ini Nimpa Lo, Lo kehilangan istri dan Anak Lo..? Dan Lo Ramm, Gue harap Lo nggak akan ngrasain apa yang Gue Rasain saat ini.” Kata Renno kemudian sambil berlalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya tersebut.
Akhirnya Dhanni dan Ramma menyadari jika Renno memang butuh waktu untuk menyendiri. Dan setelah itu mereka tak menemui Renno lagi sebelum Renno kembali seperti sedia kala.
***
Setelah makan malam, Seperti biasa Allea membantu Nessa membersihkan dapurnya. Allea sedikit tak enak karena harus menumpang lama dengan Nessa, tapi mau bagaimana lagi, dirinya tak punya siapa-siapa lagi. Mengingat itu Allea kembali terisak.
“Heii.. kamu kenapa..?” Tanya Nessa yang menyadari jika Allea menangis.
“Enggak.. Aku nggak apa-apa Kok.” Jawab Allea kemudian.
“All.. Aku tau kamu nggak baik-baik saja, Aku selalu mendengarmu menangis setiap malam. Ini nggak baik untukmu dan bayi kamu All…” Jelas Nessa.
“Dan tentunya itu juga nggak baik untuk Renno, dia semakin memburuk.” Kali ini Dhanni yang masih berada di meja makan ikut menyahut.
“All.. Temuilah Kak Renno, aku tau dia memiliki penjelasan untuk dijelaskan padamu, dan jika pada Akhirnya kamu tetap ingin pergi, kamu bisa kembali lagi kemari dan tinggal disini bersamaku selamanya.” Kata Nessa lagi. Dhannipun menganggukkan kepalanya mendukung pernyataan Nessa.
Belum sempat Allea menanggapi pernyataan Nessa, Pembicaraan mereka terhenti oleh gedoran pintu kasar dari Apartemen Dhanni.
“Siapa yang malam-malam gini bertamu yaa…?” Tanya Nessa sambil bergegas membuka pintu.
“Tunggu disitu sayang, Aku saja yang Buka.” Kata Dhanni yang sudah berlari kearah pintu dan membukanya.
Dan ketika Dhanni membuka pintunya, betapa terkejutnya ia mendapati Renno yang jatuh tersungkur karena mabuk berat.
***
Perasaan Allea saat ini bercampur aduk jadi satu, tak menentu. Senang kaarena bertemu dengan Renno, sedih karena melihat kedaan Renno yang berantakan seperti ini, kesal karena sudah meninggalkan Renno. Astaga… seharusnya dia tau jika Renno tak mungkin dengan sngaja melakukan Hal itu, Semuanya pasti ada sebabnya.
Diusapnya Wajah Renno menggunakan handuk basah. Rennonya yang sangat tampan, tapi kini sedikit lebih kurus, penampilan Rapinya kini berubah jadi berantakan, Bahkan ada bulu-bulu tipis di bawah hidungnya hampir seperti kumis, Apa Renno lupa bercukur pagi ini..???
Renno yang masih tak sadarkan diri tiba-tiba menggenggam tangan Allea dan mulai mengigau.
“Jangan tinggalkan Aku All.. jangan tinggalkan Aku..”
“Aku sayang Kamu… jangan tinggalkan Aku..”
“Kembalilah All.. Aku butuh kamu…”
“Jangan tinggalin Aku.. Jangan Tinggalin Aku..”
Dan selalu saja seperti itu saat Renno mengigau. Itu membuat hati Allea pilu.. Lelaki ini sangat menderita.. sama halnya seperti dirinya.. haruskah ia kembali kepada Lelaki ini..??
***
Esok harinya, Menjelang Sore Renno baru membuka matanya. Dirinya sedikit terkejut karena bangun di tempat Asing. Diedarkannya pandangannya keseluruh penjuru ruangan dan dia mendapati Dhanni dan Nessa sedang memandangnya.
“Kenapa Gue disini..?” Tanya Renno sambil duduk dan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
“Lo mabuk dan kesini..” Jawab Dhanni Cuek.
“Sorry Gue ngerepotin kalian.” Kata Renno yang kali ini bergegas mengenakan pakaiannya.
“Kita nggak Repot Kak, Kak Renno mau kemana..? Badan Kak Renno masih demam.” Kata Nessa kemudian.
“Aku harus mencarinya Ness.. Aku harus menemukannya.” Renno bersungguh-sungguh.
Dhanni lalu mendekati Renno dan memberikan sesuatu untuk Renno, Sebuah surat. “Dia sudah pergi Renn… Beberapa hari ini dia tinggal di sini, dan tadi pagi kita mendapati kamarnya kosong. Dia sudah pergi dan meninggalkan ini.” Kata Dhanni sambil memberikan surat tersebut.
Dibukanya surat tersebut dan Renno mendapati tulisan tangan Allea.

Ness… terimakasih untuk semuanya, kamu memang sahabat terbaikku. Aku tau apa yang harus kulakukan, Aku mengerti apa yang kuinginkan. Terimakasih sudah mau menerimaku beberapa hari ini. Aku janji padamu jika aku akan bahagia, Dengan atau Tanpa kehadiran Mas Renno..
Allea…

Dan setelah membaca Surat itu Renno kembali lemas. Tadi malam dia merasakan Kelembutan Allea, jadi tadi malam itu bukan mimpi..?? Itu Nyata.. Allea yang merawatnya. “Kenapa Lo nggak bilang kalo dia Berada disini Dhann..?” Tanya Renno lirih.
“Maafin Gue, Gue nggak bemaksud..”
“Gue udah kehilangan dia.. Gue udah kehilangan dia..” Dan Rennopun mulai menangis.
Dhanni yang melihatnya langsung memeluk Renno, sedangkan Nessa yang melihatnya hanya bisa menangis. Astaga… Kenapa Allea tega melakukan ini..???
***
Renno pulang dengan langkah Gontainya, kepalanya sedikit pusing, Bahkan kini badannya sedikit demam. Sepertinya dia akan sakit. Renno masuk kedalam Apartemennya, Saat membuka sepatunya dia sedikit terkejut karena melihat Sendal jepit Allea berada di Rak sepatunya, padahal beberapa hari ini ia tak melihatnya. Ahhh mungkin kemarin pikirannya sedang kacau makanya tak terlalu memperhatikan sendal tersebut, pikirnya kemudian.
Sampai di Ruang Tengah, Rennopun Sedikit hran dengan suara-suara berisik Khas orang yang sedang memasak. Siapa yang memasak di dapurnya..?? Belum lagi Aroma masakan yang tercium indera penciumannya, Aroma yang amat sangat nikmat.
Rennopun bergegas kedapur. Dan sedikit ternganga mendapati seorang wanita sedang sibuk memasak sesuatu lengkap dengan Celemek Hello Kittynya. Pemandangan yang bagi Renno sudah sangat lama Tak di lihatnya.
Tidak.. tidak… ini hanya halusinasinya saja.. Dirinya kini bahkan sudah Gila karena berhalusinasi tentang Allea. Separah inikah dirinya…??? Ahhh… setidaknya dirinya kini bisa melihat Allea sedikit lebih nyata.. pikirnya kemudian.
Rennopun tersenyum terhadap dirinya sendiri. ‘Tak Apa jika gila membuatku merasa dekat denganmu, Aku akan senang melakukannya.’ Pikirnya kala itu. Yaa ampun… Bahkan Renno dapat mencium aroma wangi khas tubuh Allea. Dipejamkannya matanya, dan dihirupnya dalam-dalam aroma tersebut, Aroma yang sangat dirindukannya.
“Mas…”
Astaga… Bahkan Renno bisa mendengar Suara lembut Allea. Renno tersenyum masih dengan memejamkan matanya. Seperti inikah menjadi Gila..??? semuanya bahkan terasa nyata untuknya. Bahkan kini Renno merasakan Tangan rapuh Allea mengusap pipinya. Nyata… terasa sangat nyata…
“Kamu demam Mas..” kata suara itu lagi.
Akhirnya Rennopun membuka matanya, Melihat Sosok yang benar-benar terlihat nyata di hadapannya. “All.. Apa benar ini Kamu…?”
Allea tersenyum manis. “Ini aku Mas.. Aku sudah pulang..”
“Apa Aku benar-benar sudah Gila..? Bahkan halusinasiku terasa begitu nyata.”
Allea lalu menangkup kedua pipi Renno. “Kamu nggak berhalusinasi Mas.. Ini aku… Aku bahkan sudah memasak untukmu.. Jika kamu masih nggak percaya, kamu bisa memakan semuanya. Ini Nyata…” Kata Allea dengan tersenyum manis.
Dan tanpa banyak kata lagi Rennopun memeluk Allea dengan Erat. Seerat-eratnya.. “Astaga.. aku nggak tau harus ngomong apa.. Aku benar-benar takut kehilangan kamu.. Jangan Tinggalin Aku lagi…”
“Iyaa.. aku tau.. kita ngomong nanti saja yaa… Kamu pasti lapar, Kita makan dulu..” Jawab Allea dengan lembut sambil mengusap punggung Renno.
***
Setelah makan, Allea membantu membaringkan tubuh Renno di ranjang kamarnya. Allea lalu bergegas untuk mengambil handuk dan air, tapi baru berdiri Renno sudah menggenggam tangannya erat-erat.
“Jangan pergi..” Renno memohon.
Allea tersenyum dan duduk kembali. “Aku nggak akan Pergi Mas.. Aku hanya ingin mengambil Handuk dan air untuk menyeka tubuhmu. Kamu demam.”
Dan Rennopun akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Lalu Allea pergi dan beberapa menit kemudian kembali membawa beberapa peralatan yang dibutuhkannya untuk merawat Renno.
Renno hanya bisa diam terpaku menatap Allea yang kini sedang menyeka seluruh tubuhnya. Wanita ini benar-benar seperti malaikat. Terbuat dari apakah hatinya..??? Berulang kali Dia menyakiti hati Wanita ini, tapi Wanita ini tetap saja datang kepadanya. Apa wanita ini tak punya Emosi..? Atau wanita ini tak punya batas kesabaran..?? Harusnya Dirinya kini sadar betapa beruntungnya dirinya karena sudah mendapatkan Wanita Seperti Allea. Pikir Renno tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Wajah Allea.
“Kamu kacau Mas..” Kata Allea dengan tersenyum yang kali ini Menyeka permukaan dada Renno.
“Semua itu karena Kamu.” Jawab Renno cepat.
“Kenapa bisa..?”
“Aku Kacau karena Gila memikirkan kamu.”
Dan Alleapun hanya tersenyum. “Kamu nggak usah berlebihan, Bilang saja Kalau kamu akhir-akhir ini malas mandi dan bercukur.” Canda Allea.
“Apa Kamu mengajakku untuk Bercanda..?”
“Apa Kamu nggak mau bercanda lagi denganku..?” Allea bertanya balik.
Renno menghembuskan Nafas panjangnya. “Kupikir ada yang perlu kita bahas mengenai apa yang kamu lihat saat di Kantor waktu itu.”
“Nggak ada yang perlu dibahas Mas..”
Renno lalu menggenggam tangan Allea. “Kenapa..? Kamu belum mau memaafkan Aku..?”
Allea menggeleng sambil tersenyum. “Nggak Ada yang perlu dimaafkan. Aku percaya sama Kamu.”
“Tapi Aku belum menjelaskannya sama kamu..”
“Yang aku lihat saat ini sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semua yang ada di hatimu Mas.. Aku tak peduli dengan apa yang kulihat Saat itu, bisa jadi itu hanya salah paham Atau memang mungkin itu kesalahan kamu, aku tak peduli. Yang aku tau saat ini Kamu membutuhkanku dan aku pun Membutuhkanmu. Kita berdua sama-sama saling membutuhkan.” Jelas Allea panjang lebar.
“Tapi bagaimana jika Aku yang salah karena membiarkannya menciumku..?”
“Bukankah setiap Orang memiliki kesalahan..?? tak ada yang sempurna di dunia ini. Yang penting kamu tak akan mengulanginya lagi.” Jawab Allea dengan tersenyum.
Dan Rennopun sontak menarik Allea kedalam pelukannya. “Aku janji nggak akan ngelakuin itu lagi..”
“Iyaa… Ayoo sekarang duduk, Aku bantu mencukur kumismu.” Dan Rennopun menurut saja dengan perkataan Allea. Allea dengan lembut dan perlahan mengoleskan krim untuk bercukur di wajah Renno. Lalu mulai Mencukur sedikit demi sedikit.
“All.. Ada yang ingin kuberikan untukmu.”
“Apa..?”
“Ada di laci Meja kerjaku.”
Dan Alleapun bergegas mengambilnya. Sebuah kotak kecil berwarna biru tua lengkap dengan pita diatasnya. “Apa ini..?” Tanya Allea yang kini sudah kembali duduk di sebelah Renno.
Rennopun mengambil kotak itu dari tangan Allea dan membukanya. Allea menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang dia lihat, sebuah cincin cantik dan sederhana namun tampak menawan untuknya.
“Mungkin sedikit terlambat karena aku mengacaukan semuanya. Hari itu aku ingin melamar Kamu dihadapan Adik dan kedua orang tuaku, tapi karena… yaa.. kamu tau sendiri, Aku Berengsek, jadi aku mengacaukan Semuanya.”
“Kamu nggak Berengsek Mas..” Allea mulai menangis terharu.
Renno lalu meraih tangan Allea. “Semoga kamu masih mau menjadi istriku.” Kata Renno dengan tatapan memohonnya.
“Tentu saja. Sampai kapanpun Cuma Kamu yang pantas menjadi suamiku Mas..”
Dan rennopun menyematkan cincin sederhana itu di jari manis Allea.
“Mas.. Ada yang ingin kutanyakan. Kenapa Kamu memilihku..? Aku bukan Wanita cantik dan kaya seperti wanita-wanita di sekitarmu, aku juga bukan wanita yang pintar, aku hanya wanita biasa yang dengan tidak sengaja mengandung anakmu. Apa kamu memilihku karena Anak ini..??” Tanya Allea denga wajah seriusnya.
“Aku nggak tau harus bagaimana menjawabnya. Karena aku juga nggak tau kenapa aku memilihmu. Kupikir semua itu bukan karena kamu cantik, atau memiliki sesuatu. Kupikir itu juga bukan karena Anak ini.. Aku memilihmu Karena itu Kamu. Dan bukan karena Alasan lainnya.” Jawab renno dengan pasti.
“Kenapa bisa seperti itu…?”
“Emm.. sekarang aku bertanya padamu. Jika Aku tak tampan dan tak Kaya, Apa kamu masih mau bersamaku..?”
“Tentu saja aku masih mau bersamamu Mas..” jawab Allea dengan pasti.
“Kenapa..?”
“Karena itu Kamu, Bukan Orang lain..”
“Dan itupun alasan yang sama kenapa aku memilihmu. Karena itu Kamu, Bukan orang lain.” Jawab Renno kemudian. Keduanyapun saling pandang sambil tersenyum lalu mendekatkan diri masing-masing dan tenggelam dalam cumbuan penuh hasrat Cinta yang membara….
Renno sedikit tersenyum ditengah-tengah ciumannya.
“Kenapa..?” Tanya Allea yang baru sadar jika Renno sudah tersenyum sejak tadi.
“Enggak.. Hanya saja wajah kamu lucu..” Kata Renno sambil tertawa.
“Lucu kenapa..?” Allea bertanya sambil mengusap-usap pipinya yang sedikit basah karena sesuatu. Dan benar saja saat dia mengaca di cermin, dia mendapati wajahnya belepotan dengan Sisa-sisa krim Cukur yang berada di wajah Renno. “Yaaa…. tu kan.. aku jadi belepotan..” gerutu Allea.
“Hhahahaha nggak apa-apa.. kita bisa mandi bersama setelah ini.” Kata Renno dengan tertawa.
“Mandi..?? Kamu masih demam Mas..”
“Aku nggak peduli. Bagiku aku sudah sembuh. Dan kita sudah bisa mandi bersama bahkan melakukan hal-hal lainya.” Kata Renno yang sudah melompat berdiri dengan penuh semangat dan mulai menggendong Allea.
“Melakukan Hal-hal lainnya..??” Allea sedikit tak mengerti dengan pernyataan Renno. Dan Allea mulai mengerti ketika Renno kembali mendaratkan ciuman-ciuman panas untuknya.. “Dasar mesumm..” Kata Allea disela-sela ciumannya.
“Aku nggak peduli apa katamu..” jawab Renno yang tak mau mengalah. Akhirnya mereka berdua tenggelam dalam kebahagiaan yang penuh dengan Cinta…..
Pada Akhirnya Cinta menemukan jalannya masing-masing… Walau berawal dari rasa kasihan, rasa Tanggung jawab, rasa benci, atau rasa Kagum, semuanya sama saja… jika Kau mencintai seseorang dengan tulus, mau berusaha keras untuk mendapatkannya dan juga mau memberi kesempatan untuknya…. yakinlah.. jika semuanya akan berakhir manis dan bahagia seperti Renno dan Allea saat ini…
____END____

 

Dan untuk Epilognya Klik disini yaa…. !!! Epilog.

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 13

Comments 7 Standard
BIY Cover Fix 3NewBecause It’s You

 

 

Chapter 13

 

. “Allea Ananta…. Menikahlah denganku…”
Kalimat itu terngiang di telinga Allea. Bagaikan nyanyian Merdu yang sama sekali tak ingin Allea lupakan. Dan bukannya menjawab tanpa di duga Allea malah memeluk Renno dengan Erat. Ada Rasa haru dihatinya. Astaga… apa ini Nyata..??
“Heii… Aku bertanya apa Kamu mau menikah denganku atau tidak..?” tanya Renno yang sedikit terkejut dengan Reaksi Allea.
Allea mengangguk dengan pasti. “Iyaa… aku mau mas.. aku mau…”
Renno lalu tersenyum dengan tanggapan Allea dan membalas pelukan Allea. “Terimakasih..” Kata Renno kemudian. Lalu Renno melepaskan pelukannya dan mulai mengulum bibir indah Allea. Malam ini menjadi malam yang membahagiakan dan tak terlupakan untuk mereka berdua.
***
Untuk kesekian kalinya pagi ini menjadi pagi yang indah untuk Allea. Mengingat kejadian semalam benar-benar membuat Allea amat sangat bahagia. Mencintai Lelaki yang juga mencintainya, menyatakan Cinta dan mendapatkan Lamaran Romantis, belum lagi Cincin yang ia kenakan kini yang benar-benar tiada duanya membuat Allea tak berhenti tersenyum saat membayangkannya.
Kini Alleapun masih merasakan kebahagiaan tersebut. Melihat Renno yang tidur dengan damai dan tampannya di sebelahnya dan dibawah selimut yang sama dengannya. Tampan.. Amat sangat tampan… Allea benar-benar tak menyangka jika akan mencintai dan di cintai Lelaki seperti Renno. Lelaki pertamanya dalam segala Hal.
“Pagi..” Suara Serak Renno menyadarkan Allea dari lamunannya.
“Pagi..” Jawab Allea dengan malu-malu.
Renno lalu tersenyum dan mengecup kening Allea. “Kita tidur lagi yaa.. Aku maasih capek.” Ajak Renno sambil mengeratkan pelukannya.
“Mas Renno nggak Kerja..?”
“Aku bolos.”
“Loh.. kok Bolos..??”
“Aku mau seharian sama Kamu, nemani Kamu, Kalau bisa Lanjutin Aktifitas kita tadi malam.” Jawab Renno sedikit menggoda.
“Ihh… Mas Renno apaan sih..” Allea terlihat malu-malu dengan Godaan Renno.
“Kenapa..? Nggak usah malu Gitu, kamu tau nggak, Satu hal yang bikin Aku suka sama Kamu..?”
“Apa..?”
“Kamu yang suka Memerah dan malu-malu kaya gini.” Kata Renno sambil mencubit Hidung mancung Allea.
“Hehhehe aku memang nggak pernah diperlakukan Seseorang Seperti Mas Renno memperlakukanku selama ini.”
“Nggak Pernah..?” Tanya Renno dengan sedikit tak percaya.
“Iyaa.. Nggak pernah, Mas Renno nggak percaya..?”
Renno lalu tersenyum. “Tentu saja Aku percaya, Apa Kamu tau, kadang aku sempat Geli saat menyentuh kamu lalu tubuh kamu seketika langsung Kaku, Aku tau Kamu Gugup. Dan aku mengerti ini hubungan yang Pertama untuk Kamu. Aku akan Mengajari Kamu dan tentunya kamu juga harus sabar menghadapi sikapku.”
“Iyaa.. Aku akan sabar Mas..” Jawab Allea yang kini sudah tak sungkan-sungkan lagi memeluk Renno.
“Ngomong-ngomong Apa nanti kita bisa kedokter..? Aku ingin melihat dia.” Kata Renno sambil mengelus Perut telanjang Allea membuat Allea sedikit geli dengan sentuhan Renno.
“Kapan saja bisa.” Jawab Allea kemudian.
“Ok… Emm.. Aku pikir dia laki-laki.” Kata Renno kemudian.
“Darimana Mas Renno tau..?” Allea sedikit terkejut saat Renno mulai membicarakan tentang bayinya, selama ini mereka memang tak pernah membicarakan Tentang Bayi mereka, tapi kini Renno terlihat sangat Antusias saat membicarakannya.
“Dia pernah masuk dalam mimpiku.”
“Benarkah..? Apa dia tampan.”
“Pastinya sangat tampan sepertiku.” Jawab Renno sambil tersenyum. “Aku yakin dia Laki-laki.” Tambah Renno lagi.
“Tapi aku ingin dia perempuan.”
“Kalau dia Laki-laki, Nanti kita akan membuat satu lagi yang perempuan. Dan aku benar-benar berharap dia Laki-laki.”
“Membuat Lagi..??”
“Iya.. memangnya kenapa..? Kamu nggak mau hamil lagi..?”
“Apa Mas Renno pikir Hamil itu tidak melelahkan..??” Tanya Allea sedikit Kesal dan itu membuat Renno lagi-lagi tersenyum geli.
“Ok… Aku mengerti.. Baiklah,, Mulai sekarang aku akan menjadi pelayanmu Nona.. apapun yang kamu inginkan aku akan menurutinya.”
“Apa itu benar..??”
“Ya.. Tentu saja..” Jawab Renno kemudian. “Tapi Kamu juga harus menuruti kemauanku..” Kata Renno yang Kini sudah membalik Tubuh Allea hingga berada di bawahnya.
“Mas Renno mau Apa..?” Allea masih tak mengerti dengan perubahan sikap Renno, dan bukannnya menjawab, Renno malah mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Allea, membuat Alea tak bisa berkata-kata lagi dan tenggelam dalam cumbuan mesrah Renno.
***
Di sebuah kursi Tunggu di Rumah sakit, Renno sudah seperti Orang gila karena tersenyum-senyum sendiri saat memandangi sebuah Foto hitam putih yang berada di tangannya. Foto Scan hasil USG kandungan Allea. Renno terlihat bahagia bercampur dengan takjub. Apalagi dokter tadi sempat billang jika kemungkinan besar bayi mereka Laku-laki.
Didalam ruangan USG tadi Renno hanya ternganga sambil memandang layar monitor di hadapannya, meski tak begitu mengerti gambar tersebut tapi Renno tau Jika bayinya kini lebih besar dibandingkan terakhir mereka bertemu saat Akan menggugurkannya dulu. Mengingat Hal itu, Renno merutuki dirinya sendiri, Namun Juga berterimakasih karena sempat menghentikan Dokter melakukan Aborsi. Renno tak tau harus berkata apa lagi, yang jelas saat ini dirinya merasa amat sangat bahagia.
“Mas Renno nggak apa-apa kan..?” Tanya Allea yang kini masih bergelayut mesrah di lengan Renno.
Renno menggeleng sambil tersenyum. “Aku nggak apa-apa, aku hanya terlalu bahagia.”
“Apa itu benar..?”
Dan Rennopun lalu memeluk Allea. “Astaga.. aku benar-benaar bahagia, Terimakasih, Kamu sudah hadir dalam hidupku dan memberiku seorang Jagoan. Kamu sudah mau mempetahankan dia saat aku nggak ada dan bahkan saat Aku dengan Brengseknya menyuruhmu untuk menggugurkannya.”
“Kamu nggak Brengsek Mas..” Jawab Allea sambil mengusap-usap punggung Renno.
“Aku Brengsek.” Kata Renno tak mau mengalah.
Lalu Allea melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Renno dengan kedua tangannya. “Bagiku Kamu nggak Brengsek Mas..” Kata Allea sambil tersenyum. Dan tanpa diduga Allea dengan keberaniannya yang terbatas mulai mendekatkan diri kearah Renno dan mulai menciumnya.
Rennopun sedikit terkejut dengan perilaku Allea. Wanita yang biasanya malu-malu ini, kini sudah berani menciumnya lebih dulu bahkan didepan umum dan dengan Ciuman seadanya tanpa Tekhnik seperti dirinya, Membuat Allea terlihat seperti wanita yang tak pernah berciuman sama sekali. Dan entah kenapa itu membuat Renno Terpancing gairahnya. Rennopun mulai tersenyum dan tersenyum dalam Ciumannya.
Allea yang merasakan Renno tersenyum akirnya menghentikan Ciumannya. “Kenapa..?” Tanya Allea dengan polosnya.
Sedangkan Renno sudah tak dapat menahan tawanya lagi. “Kamu lucu… Hahhaha” Kata Renno sambil tertawa.
“Apanya yang lucu..?” Allea tampak sedikit bingung.
“Apa Kamu nggak sadar Kalau tadi kamu baru saja menciumku di depan umum..?”
Dan Alleapun baru tersadar jika kini dirinya masih berada di bangku Rumah sakit. Dilayangkannya pandangannya dan dia mendapati beberapa suster dan Pasien sedang memandang kearah mereka dan bahkan ada beberapa orang yang sedikit tersenyum kearah mereka, itu benar benar membuat Allea sangat malu.
“Ya.. ampun… Aku malu sekali…” Kata Allea sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sedangkan Renno masih saja tak berhenti menertawakannya.
“Dan Astaga… Apa kamu benar-benar tak bisa berciuman..?? Apa tak ada yang mengajarimu tentang teknik dasar berciuman..?” Tanya Renno dengan sedikit menggoda.
“Ahh… Mas Renno, Aku ingin pulang.” Kata Allea merajuk sambil berdiri dan bergegas meningggalkan Renno karena tak sanggup menahan rasa malunya.
Rennopun mengejar Allea sambil memanggil-manggilnya. “Heii… tunggu Aku..”
***
Saat ini Renno dan Allea sudah tak segan-segan lagi untuk mengumbar kemesraan didepan umum. Memakan Ice Cream bersama sambil berangkulan di sebuah pusat perbelanjaan tentu saja membuat semua mata yang memandangnya iri.
“Kamu minta apa Lagi..?” tanya Renno kemudian.
“Emm… dari dulu aku nggak pernah nontn film, Apa aku boleh minta untuk Menonton Film di sebuah bioskop..?”
“Apa ini yang namanya Ngidam..?”
“Enggak.. ini bukan keinginan bayi Kita, Ini aku yang ingin..”
Renno lalu tersenyum. “Tentu saja Boleh. Anggap saja saat ini kita sedang Kencan.” Dan tanpa aba-aba lagi Rennopun mengecup pipi Allea. Astaga.. mereka benar-benar membuat iri semua mata yang memandang.
***
Renno sedikit bosan dengan suasana di sekitarnya,berkali-kali dia menguap bahkan memejamkan matanya karena mengantuk dan Bosan. Allea sungguh menjengkelkan, mengajaknya menonton Film dengan Genre Romantis dengan bumbu Melankolis, tentu saja itu bukan Type Film yang disukai Renno.
“Astaga… ini membosankan sekali.” Gerutu Renno.
“Tadi Mas Renno bilang nggak apa-apa Nonton Film, terus kenapa sekarang bilang ini sangat membosankan..?”
“Apa kamu nggak lihat Film itu..? Ya Ampun.. Kamu bahkan bisa menontonnya di Tv nanti.”
“Aku kan pengen Nonton di Bioskop..”
“Ya… ya… ya… sepertinya aku memang harus mengalah dengan Wanita Hamil.” Kata Renno menyerah, dan Alleapun tersenyum penuh dengan kemenangan. “Kenapa Kamu ketawa..?” Tanya Renno kemudian.
“Enggak… Mas Renno Lucu aja Kalo lagi Merajuk.”
“Aku nggak merajuk, Aku hanya kesal.” Gerutu Renno dan Alleapun Tertawa lagi.
***
“Lain kali biar aku saja yang memilih Filmnya.” Renno masih saja menggerutu walau kini mereka sudah berada di dalam Apartemennya.
“Iyaa.. Terserah Mas Renno saja.”
Dan tiba-tiba Renno Memeluk Allea dari belakang. “Gitu dong.. Aku Kangen kamu yang penurut.”
“sudah yaa.. Aku mau mandi dulu, ini sudah lengket semua.” Kata Allea sambil melepaskan pelukan Renno.
“Aku Ikut..”
“Heii… kita nggak boleh mandi bersama.”
“Memangnya siapa yang nggak ngebolehin..?” Tanya Renno yang kini sudah membuka Kaos yang dikenakannya. Sedangkan Allea menelan ludahnya dengan susah payah tak menyangka jika Renno akan melakukan hal tersebut. Dan belum juga Allea menjawab pertanyaan Renno, Renno sudah menggendong Allea masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Allea sudah tak dapat berkata-kata lagi dengan kelakuan Renno yang menurutnya sangat kekanak-kanakan tersebut.
***

Robby dengan gusar memasukkan seluruh pakaiannnya kedalam koper. Dirinya kesaal dan hatinya hancur karena patah hati terhadap Allea. Allea yang dicintainya ternyata akan menikah dengan sepupunya sendiri, mengingat itu Robby tak akan sanggup jika harus berdiri dalam pernikahan Allea. Lebih baik dirinya pergi jauh.
“Kak Robby mau kemana..?” Suara itu menyadarkan Robby dari angan-angannannya.
“Aku harus pergi.”
“Apa hanya segini Rasa cinta Kak Robby dengan wanita itu..? Kak.. Kita bahkan belum melakukan apa-apa Kak..”
“Kamu nggak akan tau bagaimana besarnya rasa Cintaku terhadap Allea.”
“Tapi mana buktinya..?”
“Buktinya adalah Ketika aku pergi meningggalkannya dan merelakannya dengan orang yang di cintainya.”

“Itu bukan Bukti Kak.. Itu hanya karena Kak Robby menyerah dan takut Kalah sebelum berperang.” Kata Tannia sedikit mencibir.
Robby lalu berbalik dan menghadap Tannia dengan seksama. “Tan.. Kita memang sudah kalah.. kita sudah kalah bahkan sebelum mulai berperang. Aku hanya tak ingin menyakiti hati wanita yang kucintai Tan..” Robby berkata dengan lirih.
“Tapi dengan begini Kak Robby menyakiti hatiku, Adik Kamu sendiri Kak..”
“Aku minta maaf Tann.. Kamu seharusnya sudah tau sejak dulu jika Mencintai Renno akan membuatmu tersakiti. Bagaimanapun juga Kamu dan Renno tidak bisa bersatu.”
“Enggak… itu nggak mungkin. Aku nggak akan menyerah. Aku akan buktikan dengan semua orang jika hanya aku yang pantas bersanding dengan Kak Renno.” Pungkas Tannia sambil meninggalkan Robby di kamarnya sendiri.
***
Siang ini menjadi siang yang sedikit menyibukkan untuk Allea. Renno tadi sungguh cerewet. Renno lagi-lagi menyuruhnya kekantor tapi bukan untuk membawakan makan siang seperti biasanya, Entah untuk apa Allea sendiri juga tak tau yang jelas Allea di suruh datang dengan mengenakan Gaun pemberian Renno.
“Apa dikantor ada acara atau Sesuatu..?? Ah.. entahlah.. Astaga.. aku bahkan belum siap untuk acara-acara seperti ini.” Allea bergumam sendiri di depan kaca Riasnya.
“Andai saja disini Ada Zoya, mungkin dia bisa mendandaniku.” Lagi-lagi Allea bergumam sambil tersenyum sendiri setelah sentuhan terakhir terhadap wajahnya.
Lama Allea memandangi wajahnya di cermin. “Apa yang kamu Lihat dariku Mas…??? Aku bukan wanita Cantik seperti mantan-mantanmu, aku juga bukan Wanita kaya seperti wanita-wanita di sekitarmu, Aku tak punya apa-apa, Aku bahkan merasa tak pantas bersanding denganmu. Jika boleh jujur, Aku bahkan tak percaya sedikitpun jika Kamu punya perasaan yang sama terhadapku mas..” Allea memejamkan matanya sebentar lalu menghela nafas panjang.
“Tapi aku akan belajar mempercayaimu Mas..” Tekad Allea kemudian. Akhirnya berangkatlah Allea kekantor Renno dengan di antar Supir suruhan Renno.
***
Suasana dikantor Renno cukup ramai, Ahh.. mungkin ini jam istirahat dan jam makan siang makanya semua karyawan keluar dari ruangan masing-masing. Beberapa Karyawan bahkan mengangguk hormat terhadap Allea, dan Allea dengan polosnya mengangguk dengan hormatnya kembali kepada Karyawan tersebut. Sesampainya di lantai paling Atas suasana berubah sangat sepi. Yaa tentu saja, lantai itu adalah lantai Khusus ruangan CEO, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk.
Allea melihat Meja di depan Ruangan Renno yang tak lain adalah Meja Chika (Asisten pribadi Renno) Kosong. Ahh mungkin Chikka sedang makan siang, Pikir Allea kala itu. Dan tanpa Ragu-ragu lagi Allea membuka pintu Ruangan Renno dan masuk kedalam. Tapi baru dua angkah Allea ternganga melihat pemandangan Di hadapannya.
Sebuah pemandangan yang membuatnya merasa sakit dan dihiananti, pemandangan yang membuat matanya meneteskan buliran-buliran bening jatuh dengan sendirinya.
“Masss….” tak sadar Allea mengucapkan panggilan itu dengan Lirih.
Sedangkan orang yang dipanggil itu langsung mengangkat kepalanya dan memandang kearah Allea dengan tatapan terkejutnya. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir Renno. Dia sungguh tak menyangka jika Allea akan secepat ini kekantornya dan mendapatinya sedang memangku seorang gadis dan Bercumbu mesrah dengan panasnya.
Allea sungguh kecewa, Tak ada penjelasan yang keluar dari Renno. Seperti inikah Renno yang sesungguhnya. Dan tanpa pikir panjang Lagi Allea akhirnya meninggalkan Ruangan tersebut, meninggalkan Renno dengan setumpuk penyesalan dan kebingungannya

 

__TBC___

 

Ahhh… Seperti terbang di awan-awan dan jatuh terhempas begitu saja saat membaca chapter ini.. hehhehe awal-awalnya enak.. bikin senyum-senyum sendiri, lah kokk akhirnya… hahhhahaha Aku mau kabur dulu… tauk dibawain Golok ama yang baca… hehhehe sedikit Info, Next chapter adalah chapter terakhir dan akan di post beserta Epilognya yaa… 🙂

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 12

Comments 13 Standard

BiycoverBecause It’s You

 

 

Chapter 12

 

“Kak Renno..” Tannia yang dengan sengaja membuka paksa ruangan Renno ternganga ketika mendapati lelaki yang dicintainya sedang bercumbu mesrah dengan seorang wanita dengan posisi yang sangat intim.
Renno dan Allea yang saat itu mendengar panggilanTannia langsung menghentikan aksinya dan segera melihat dearah pintu masuk. Disana sudah ada Tannia yang ternganga dan juga Chika Skertaris Renno tepat di belakang Tannia ikut terngaga juga.
Renno lalu berdiri dengan sangarnya sambil membenarkan penampilannya, begitupun Allea, dia juga Sontak terbangun, dan sedikit memerah karena malu.
“Ma… Maaf Pak, Saya sudah melarang Mbak Tannia tapi dia tidah menghiraukan saya.” Kata Chika dengan takut-takut.
“Tidak apa-apa, Kamu boleh keluar dan tutup pintunya.” Kata Renno dengan nada dingin.
Chikapun mengangguk dan mulai bergegas pergi sambil menutup ruangan Renno.
“Ada perlu apa Kamu kesini..?” Tanya Renno masih dengan nada dingin terhadap Tannia.
Tannia mencoba untuk meredam sakit hatinya dan mulai berbicara. “Apa benar tadi Kak Renno sudah memecat seseorang..?”
“Iya, Memangnya kenapa..?”
“Dan Kak Renno memecatnya hanya karena dia..?” Kali ini Tannia bertanya sambil menunjuk Allea.
“Iya.” Jawab Renno singkat.
“Apa itu yang dinamakan profesional Kak..? Kak Renno memecat seseorang hanya karena tak menghormati wanita yang bahkan bukan bagian dari kantor ini.”
“Jaga mulut kamu. Dia memang bukan bagian dari kantor ini sekarang, tapi dia sedang mengandung pewaris dari kantor ini. Dan aku nggak akan segan-segan untuk memecat siapapun yang merendahkannya termasuk kamu.”
“Ohh… Jadi ini hanya karena bayi itu.. Kak Renno melakukan ini hanya karena tanggung jawab pada bayi itu kan..??”
Renno lalu mendekati Rannia sambil membenarkan letak dasinya. “Kamu nggak akan mengerti, Sampai kapanpun Kamu nggak akan mengerti betapa dalamnya perasaanku padanya Apa Kamu nggak lihat betapa bahagianya kami beberapa menit yang lalu sebelum kamu datang mengganggu..??” kata Renno penuh dengan penekanan.
Allea menegang saat Renno mengatakan kata-kata tersebut dengan tenang dan penuh penekanan. Benarkah apa yang dikatakan Renno tersebut..?? benarkah dirinya sangat berarti untuk Renno..??
Sedangkan Tannia entah sejak kapan sudah berurai air mata karena terpukul dengan perkataan Renno. “Tidak, itu tidak Benar. Kak Renno bilang Kak Renno akan selalu menungguku. Kak Renno nggak mungkin dengan gampangnya jatuh pada wanita seperti dia.”
“Tannia, Aku mohon, akhiri semua ini.. Kita sudah berakhir, dan kita nggak akan mungkin bisa bersatu kembali. Please… Biarkan aku mengejar kebahagiaanku.”
“Enggak Kak… Kebahagiaan Kak Renno hanya Aku, dan aku akan buktikan itu.” Kata Tannia lalu bergegas pergi dengan melempaerkan tatapan membunuhnya terhadap Allea.
Setelah kepergian Tannia, Allea lalu bergegas meuju kearah Renno yang masih berdiri membatu menatap kepergian Tannia. “Mas Renno nggak apa-apa..?” Tanya Allea sambil menggenggam tangan Renno yangsudah basah karena keringat dingin.
Renno lalu menatap Allea, dan tanpa di duga Renno lalu memeluk Allea dengan sangat Erat. “Apapun yang terjadi, aku mohon.. jangan pernah tinggalin aku. Aku nggak mau kamu ninggalin aku.. Aku Lelah… Aku mohon jangan tinggalin aku..” kata Renno dengan tulus saat memeluk Allea.
Allea sendiri berusaha untuk tak menghiraukan ketegangannya karena perkataan Renno. “Iya Mas.. Aku nggak akan pernah Ninggalin Mas Renno.” Jawab Allea dengan lembut.. Dia berusaha untuk menenangkan perasaaan Renno.
***
“Apa Mas Renno selalu pulang selarut ini..?” Tanya Allea yang kini membantu Renno menata berkas-berkas kerjanya di meja.
“Tidak, hanya sesekali.”
“Tapi beberapa Hari yang lalu Mas Renno berangkat pagi dan pulang malam terus, Aku pikir Mas Renno sibuk.”
Renno lalu mentap Allea dengn lembut, dan mulai melangkah mendekati Allea. “Apa Kamu tau kenapa Aku lakuin itu..?” Tanya Renno kemudian. Allea hanya menggelengkan kepalanya. “Karena aku ingin menghindari kamu.”
Allea sedikit tak mengerti dengan apa yang dikatakan Renno. “Menghindari..?? Maksudnya..??”
Renno lalu tersenyum masam terhadap dirinya sendiri, “Kamu tau setelah malam itu Aku nggak pernah bisa berpikir jernih tentang kamu.”
“Malam Itu..??” Allea masih tak mengerti dengan apa yang di bicarakan Renno.
“Malam Saat kita bercinta untuk yang kedua kalinya dengan sadar.” Renno menjawab penuh dengan penekanan.
Sedangkan Allea langsung menunduk malu mengingat kejadian di malam itu.
“Ramma Berkata jika Aku sudah parah, dan jika aku mau sembuh, Aku harus menghindarimu. Akhirnya aku berangkat pagi dan pulang sedikit larut, Atau jika tidak aku akan menunggumu tidur terlebih dahulu supaya aku bisa mengontrol diriku.”
“Dan apa sekarang Mas Renno sudah semuh..?”
“Tidak, Aku bahkan semakin parah.”
Dan Alleapun menelan ludahnya dengan susah payah karena gugup. Astaga… apa yang akan dilakukan Renno terhadapnya kini..?
Renno tersenyum melihat tingkah Allea. “Kamu kenapa..? Kamu mikir yang enggak-enggak yaa..??”
“Ahhh enggak, aku nggak mikir apa-apa kok.”
“Hahahaha, Kamu tenang saja. Aku nggak akan nglakuin itu sekarang Kok.”
‘Gleekk’ lagi-lagi Allea menelan ludahnya dengan susah payah karena mendengar pernyataan Renno.
“Ayoo kita pulang, Aku akan mengajakmu untuk makan malam Special.” Ajak Renno yang kini sudah tak segan-segan lagi menggandeng pinggang Allea.
***
Robby sepertinya sudah tak dapat menahan dirinya lagi. Sejak Bertemu Allea, Robby menyadari jika Allea adalah wanita yang baik dan pantas untuknya. Kehamilan Allea bahkan tak menyurutkan niatnya untuk mendekati wanita tersebut. Setiap Hari, Walau lelah sepulang dari bekerja, Robby tetap menyempatkan diri untuk menjemput Shasha di tempat kerjanya, karena hanya itulah alasannya untuk menemui Allea. Tapi saat mereka semakin dekat Allea menghilang.
Beberapa hari kemudian Robby bertemu dengan Allea di sebuah taman pada kawasan kompleks Apartemen mewah, Sebelumnya Robby mengira jika Allea bekerja di salah satu Apartemen yang ada di sana, namun ternyata kenyataannya membuat Robby sedikit limbung.
Allea tinggal disalah satu Apartemen tersebut bersama dengan ayah dari bayi yang dikandungnya yang tak lain adalah Renno, Sepupunya sendiri.
Kenapa harus Renno..??
Haruskah ia merebut kembali milik dari sepupunya tersebut..? Astaga… bahkan dirinya kini masih sangat ingat bagaimana Renno memohon pada hari itu, tapi dirinya tetap mengacaukan semuanya.

“Robb… Please.. Gue sayang sama Adek Lo, Gue nggak minta Lo kasih Restu karena Gue tau Kita nggak akan pernah bisa bersatu. Tapi setidaknya kasih Gue Waktu Robb..” Renno memohon.
“Renn.. Lo sadar nggak sih, Apa yang kalian lakuin ini salah. Kalian masih saudara.”
“Gue nggak akan nglakuin apa-apa. Gue sayang sama Tannia. Kasih kita waktu supaya kita siap untuk berpisah.”
“Sorry Renn.. Gue akan tetap bilang sama Oom. Mau Nggak mau kalian harus segera berpisah.” Kata Robby sambil meninggalkan Renno yang ternganga dan Tannia yang menangis terisak.

Akhirnya saat itu Juga Robby mengacaukan semuanya dengan mengadu kepada Ayah Renno. Membuat Renno dengan terpakasa berpisah dengan gadis yang dicintaiya, Membuat Adiknya terpaksa menjalani masa-masa sulit di luar negeri, membuat Renno berubah menjadi sosok berengsek kepada wanita dan dingin terhadap dirinya dan keluarganya. Tak ada kata teman lagi diantara Diriya dan Renno. Mereka memang sering bertemu tapi hanya bicara seadanya dan seperlunya saja.
Hingga beberapa hari yang lalu Robby menemukan wanita yang dicintainya tinggal bersama Renno, Perasaannya menjadi tak karuan, Haruskah ia merebut kembali milik Renno..?? tidak… Mungkin saja Renno hanya menganggap Allea ibu dari anaknya, mungkin saja Renno tak mencintai Allea hingga secara tidak langsung Dirinya kini masih ada kesempatan untuk memiliki Allea.
Robby mencoba memanfaatkan kedatangan Tannia dan membuat Tannia bekerja dengannya hingga secara tidak Langsung dirinya kini membantu Tannia supaya dekat lagi dengan Renno. Tapi perkataan Renno saat itu selalu terngingang di telinganya.

“Kamu salah. Aku sudah menghilangkan perasaan itu sejak lama, Jauh sebelum kedatangan Allea. Dan betapa kerasnya kamu berusaha, perasaanku tak akan berubah. Aku sudah menemukan Rumahku, Rumah sebagai tujuanku untuk pulang, Dan Itu bukan Kamu, Tapi Allea.”

Secara tidak langsung perkataan Renno itu mampu membuatnya mundur teratur. Renno juga mencintai Allea. Bagaimana bisa..? dan apakah dia mampu untuk merebut Allea dari sisi Renno..??
Dipukul-pukulnya kemudi mobil yang ada di hadapanya. Hari ini Robby sangat rindu dengan Allea, dengan Alasan sakit dirinya tidak masuk ke kantor hanya bermaksud untuk bertemu dengan Allea. Tapi ketika sampai di Apartemen Renno, Robby melihat Allea keluar dengan wajah berbinarnya. Akhirnya Robbypun mengikutinya hingga kini Dirinya berada di tempat parkir Kantor Renno. Untuk Apa Allea kemari..??
Robby masih setia menunggu hingga malam. Dan betapa sakit hatinya ketika mendapati pemandangan di hadapannya. Allea keluar dengan Renno yang dengan mesrahnya merangkul pinggangnya. Keduanya sama-sama terlihat bahagia membuat Emosi Robby seakan-akan naik ke-ubun-ubun. Sialan…!!!!
Robbypun menjalankan Mobilnya dan berhenti tepat dihadapan Allea dan Renno. Diapun akhirnya keluar dari Mobil dan mendapat tatapan terkejut dari keduanya.
“Mas Robby..” Allea terlihat terkejut saat melihat Robby berdiri dihadapanya dengan tatapan menyala.
“Aku mau bicara sama Kamu.” Kata Robby kemudian.
***
“Ada apa Mas, Sepertinya ada yang serius.” Allea melangkahkan beberapa langkah kedepan untuk mendekati Robby, dia masih tak mengerti dengan tatapan Robby yang sepertinya menyala-nyala ingin membakar semua yang berada di hadapannya.
“Aku mau bicara. Bisa kita pindah..?” Tanya Robby kemudian.
“Nggak bisa. Bicara saja disini.” Renno menyahut dengan melangkah mendekati Allea tepat dihadapan Robby dan melemparka tatapan membunuhnya terhadap Robby.
Allea yang sedikit bingung memandang dua lelaki tampan yang berada di hadapannya ini secara bergantian.
Tiba-tiba Robby menatapnya dengan seksama. “All… Aku Cinta kamu, Aku sayang kamu, aku ingin selalu bersamamu.” Allea menegang dengan pernyataan Robby yang seakan-akan seperti hujan yang mengguyurnya di tengah terik matahari.
Rennopun demikian. Penyataan Robby itu membuatnya murka. Ingin Rasanya saat itu juga dirinya memukuli Robby hingga babak belur, tapi diredamnya amarahnya karena bagaimanapun juga Robby masih sepupunya. Renno hanya bisa mengepalkan tangannya saja.
“All… Bagaimana..?” Robby bertanya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Allea.
“Maaf Mas… Aku nggak bisa.” Jawab Allea sedikit pelan.
“Kenapa..?”
“Karena aku Cinta sama Lelaki lain mas..” Jawab Allea dengan suara yang sangat pelan.
“Apa..??” Robby tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan Allea.
Sedangkan Renno hanya diam membatu diantara mereka. Sedikit tegang karena Allea bilang mencintai lelaki lain. Apakah itu dirinya..?? Ahhh bagaimana bisa..? Renno tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang menari-nari di otaknya.
“Nggak.. Aku nggak percaya.” Kata Robby lagi.
“Maaf mas… tapi aku benar-benar mencintainya, Mencintai Lelaki itu bahkan sebelum aku mengenalnya.”
“Siapa Dia..” Tana Robby dengan nada dinginya.
“Ayah dari bayi yang aku kandung.” Jawab Allea dengan tegas. Yah… benar kata Nessa, suka tidak suka dirinya memang harus menyatakan ini terhadap Renno meski dengan cara seperti ini.
Seketika itu juga Robby lemas dengan pernyataan Allea, dirinya tau kini dirinya sudah tak memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkan allea.
Sedangkan Renno berbeeda. Tubuhya semakin menegang seiring dengan perkataan Allea tersebut. Ditatapnya Allea dengan tajam. Wanita ini… Astaga… Renno benar-benar tak menyangka Jika Allea akan seberani ini menyatakan Cinta dihadapannya. Benarkah..?? Apa ini nyata…??? mengingat akan hal itu Renno sedikit tersenyum.
“Sekarang Lo sudah tau yang sebenarnya, jadi Gue harap jangan ganggu hubungan kita lagi.” Pungkas Renno sambil menarik tangan Allea menjauhi Robby yang masih limbung dengan prkataan Allea tadi.
***
Renno benar-benar sudah seperti orang Gila . Sejak tadi dirinya tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat pernyataan Allea. Sedangkan Allea sendiri tak berani bertanya. Dirinya masih takut karena sudah lancang mengucapkan Kalimat Cinta Terhadap Renno.
“Kamu kenapa..? Kok nggak dimakan..?” tanya Renno dengan Raut berbinarnya terhadap Allea yang terlihat sedikit tak nyaman dengan keadaan disekitarnya.
Saat ini mereka sudah berada di sebuah Restoran Out Door mewah nan Romantis. Masing-massing meja Restoran tersebut berada di sebuah Gazebo yang mengambang diatas Kolam-kolam kecil. Seperti berada di tengah-tengah taman nan indah karena jarak antara Gazebo satu dengan Gazebo lainnya cukup jauh hingga memberika privasi bagi pera pengunjung. Belum lagi rumput-rumput dan bunga-bunga yang sengaja di tumbuhkan di area terebut membuatnya terlihat sangat indah.
Penerangannyapun membuat tempat ini semakin terlihat menawan dan Romantis. Hanya ada beberapa Lampu khas taman yang berada di pinggiran-pinggiran jalan sedangkan didalam Gazebo tersebut hanya ada beberapa lampu kuning kecil dan beberapa lilin hingga membuat tempat tersebut terlihat dan terasa begitu romantis.
“Kamu nggak suka sama makannanya..? Atau… sama tempatnya..?” Tanya Renno lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Allea.
“Ahh enggak kok, aku suka.”
“Truss… kenapa…”
“Emmm… Mas… Yang tadi itu aku minta supaya Dilupa…”
“Ssshhhttt…..” Renno memotong kalimat Allea dan meminta Allea untuk diam. Renno lalu mendekatkan diri kepada Allea tepat di sebelah Allea. Digenggamnya tangan Allea. “Jika kamu minta supaya aku melupakan kata-kata Kamu tadi, Aku minta maaf, Aku tak akan melupakannya.” Kata Renno kemudian.
“Kenapa..?” Allea memberanikan diri untuk bertanya.
“Karena aku juga memiliki perasaan yang sama utuk kamu.” Allea menegang saat mendengar pernyataan Renno. “Aku juga mencitai seseorang yang sedang mengandung Anakku.” Lanjut Renno lagi.
“Ke… Kenapa bisa..?” Allea masih terlihat tak percaya.
“Kenapa Bisa..?? Aku juga tak tau, aku juga tak memiliki alasan kenapa aku bisa Cinta sama kamu. Baiklah, aku akui. Hubungan kita memang diawali dengan situasi yang tak baik, dan kita juga baru saling mengenal. Tapi entah kenapa Hatiku sangat yakin jika Kamulah wanita terakhirku nantinya.”
Allea benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah di dengarnya. Seorang Renno Handoyo menyatakan Cinta di hadapannya dalam suasana paling Romantis yang pernah dia alami.
“Bagaimana..? Apa kamu menerima Cintaku..? Menerima lamaranku..?” tanya Renno lagi.
“Lamaran..?? Dengan atau tanpa lamaran kita akan tetap menikah mas..” Jawab Allea dengan tersenyum.
“Dan walaupun kita akan menikah, Aku pikir nggak ada salahnya jika aku ngelamar kamu terlebih dahulu..” Renno masih tak mau mengalah.
Alleapun lalu tersenyum. “Baiklah… tapi bukannya jika melamar harus ada Cincinnya..?”
“hahhaha kamu mulai menjadi wanita mata duitan eehh…” Goda Renno dan Allea hanya tersenyum malu –malu. “Baiklah, Tutup mata kamu.” Lanjut Renno lagi.
Allea mengangkat sebelah alisnya, sedikit heran dengan apa yang di suruh Renno. Tapi Allea tetap melakukan apa yang di katakan Renno, ditutupnya matanya tersebut, tak lama Allea merasakan telapak tangan kirinya diangkat oleh Renno dan Allea merasakan sesuatu melingkar di jari manisnya, Sesuatu bukan seperti cincin, tapi Allea juga tak tau apa itu.
“Yeepp… Kamu sudah boleh buka mata.” Kata Renno kemudian.
Dan Alleapun membuka matanya, terkejut dengan apa yang sudah melingkar di jari manisnya. Sebuah sedotan dari Jus yang berada di hadapannya tadi telah di sulap Renno menjadi Cincin yang Cantik. Ternganga dan sedikit tak percaya, Haru bercampur bahagia itulah yang dirasakan Allea saat ini.
“Oke.. ini memang bukan Emas ataupun berlian seperti pada umumnya karena jujur saja aku belum membelinya untuk Kamu, tapi setidaknya aku berharap semoga ini bisa mengikat kamu dan meyakinkan kamu jika aku benar-benar dan sungguh-sungguh dengan perkataanku.” Kata Renno kemudian . Renno lalu mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. “Allea Ananta…. Menikahlah denganku…”

 

__TBC__

 

Renno :  “Cie.. cie… kayaknya ada yang senyum-senyum sendiri nihh..”

Allea : “Siapa mas..?”

Renno : “Itu.. tu.. Mereka…” (Sambil nunjuk kedepan)

Allea : “Siapa sih..?”

Renno : “Astaga sayang… itu.. tuhh yang sedang baca cerita kita… hehhehe”

Allea : “Owww… pasti mereka  senyum-senyum sendiri karena liat kamu yang lebbay dan suka nggombal.”

Renno : “Yang suka Nggombal itu Ramma sayang, kalo yang lebbay itu mahh Authornya.. heheh”

Allea : “Trus dimana nihh Authornya..? kok nggak kelihatan batang hidungnya..?”

Renno : “Nggak tau tuhh.. katanya dia sakit pinggang, mungkin sakit kepala juga gara-gara mikirin kelakuan Ramma.. hahahhaah”

Allea : “Mikirin kelakuan kamu juga kali mas… hehhehe”

Renno : “Gitu yaa,, mentang-mentaang udah di lamar.. jadi berani sama aku..”

Allea : “Hehhehe udah-udah.. mending kita ajak aja yang baca untuk nungguin kisah kita selanjutnya.”

Renno & Allea : “Hai… Makasih yaa.. sudah membaca kisah kami… jangan lupa selalu tunggu Chapter selanjutnya yaa… “

Allea : “Salam sayang… Emmuaacchh,,,”

Renno : “Ehh.. ehh.. Ehh.. tadi Authornya nggak nyuruh pakek salam-salam sayangan kayak gitu.”

Allea : “Ihh.. kenapa sihh cemburu yaa..”

Renno : “enggak..”

Allea :”Iyaa…

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 11

Comments 4 Standard
BIY Cover Fix 3New
Because It’s You

NB: Maaf yaa telat postnya… tadi maunya post sekitar jam 10an tapi ternyata ada sodara yang tiba-tiba datang berkunjung, hehheehe Ehhyaa aku usahakan supaya sering ngepost BiY yaa akhir2 ini,,, soalnya udah mau End Nihh… jadi nanti tinggal konsen ama Ramma Storynya aja,, hehheeh dan Cover diatas memang bukan Renno dan Allea, tapi nanti kalo BIY naik Cetak di nulisbuku.com Sampul novelnya akan seperti itu(Yg ungu nggak jadi yaa.. heheheh) ok langsung saja…

 

 

Rennopun menatap Tannia dengan tersenyum. “Kamu salah. Aku sudah menghilangkan perasaan itu sejak lama, Jauh sebelum kedatangan Allea. Dan betapa kerasnya kamu berusaha, perasaanku tak akan berubah. Aku sudah menemukan Rumahku, Rumah sebagai tujuanku untuk pulang, Dan Itu bukan Kamu, Tapi Allea.” Kata Renno dengan tegas sambil melepas paksa cekalan tangan Tannia.
Rennopun pergi diikuti Ramma di belakangnya meninggalkan Tannia yang lemas karena pernyataan Renno tersebut dan juga Robby yang sedikit ternganga karena pengakuan Renno tersebut.

 

Chapter 11
Renno membuka pintu ruangannya dengan gusar lalu melemparkan dirinya di Sofa ruanganya dengan Raut Frustasi. “Sialan..!!!” berkali-kali Renno mengumpat karena kekesalannya. Ramma yang melihatnya hanya tersenyum sambil ikut duduk di sebelah Renno.
“Apa coba maksudnya si Robby mempekerjakan Adiknya disini..? Sialan..!!!” lagi-lagi Renno menggerutu lengkap dengan umpatan-umpatannya.
“Memangnya kenapa Kalau Tannia kerja disini..?”
“Gue nggak suka.”
“Jangan bilang kalo yang dikatakan Robby tadi benar, bahwa Lo takut dekat dengan Tannia.”
“Sialan Lo..!!! Apapun yang terjadi perasaan Gue ke Tannia sudah Pupus, Nggak ada lagi Ramm.”
“Lo Yakin..?”
“Gue akan buktiin ke Elo nanti.” Kata Renno dengan pasti.
Dan Rammapun mengangguk. “Ok, kayaknya Gue musti balik dulu.” Kata Ramma kemudian sambil melirik kearah jam tangannya. Rennopun Mengangguk ketika Ramma berpamitan untuk pergi.
Seperginya Ramma, Renno menyandarkan kepalanya pada sandaran Sofanya. Maksud hati untuk menenangkan fikiranya tapi ternyata bayangan akan masa lalunya melayang-layag difikirannya.

“Hai… aku Renno,.” Kata Renno sambil mendekati seorang gadis yang yang duduk sendiri di taman belakang Rumah Renno.
“Tannia.” Kata gadis berwajah cantik namun sendu tersebut.
“Aku turut berduka atas kematian Oom, Semoga setelah ini kita akan menjadi teman baik.” Dan Tanniapun hanya mengangguk dengan perkataan Renno.
Saat itu Renno masih kelas 3 SMA, sedangkan Tannia masih kelas 3 SMP. Ayah tannia yang merupakan Adik dari Mama Renno meninggal karena serangan jantung akibat perusahaannya yang bangkrut. Semua aset keluarga Tannia di sita oleh Bank, Mengakibatkan Tannia Robby Dan Mamanya harus numpang sementara di rumah Renno.
Robby yang saat itu Sebaya dengan Renno sekolah di sekolahan yang sama dengan Renno, sedangkan Tannia Sekolah di SMP yang bersebelahan dengan Sekolahan Renno.Tannia yang saat itu tertutup dan terpukul dengan keadaan keluarganya lama-lama semakin terbuka dengan Renno. Mereka jadi semakin dekat dan perasaan tersebutpun tak terhindarkan lagi.
“Itu bintangku..” kata Tannia yang saat itu sedang tiduran menghadap keatas langit dan menunjukkan sebuah bintang yang sangat terang.
“Mana..?” Tanya Renno yang juga tidur disebelahnya. Mereka saat itu berada di taman belakang Rumah Renno, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah itu sekedar mengerjakan PR atau bercanda gurau bersama.
“Itu.. yang kelap-kelip dan paling terang.”
“Kenapa kamu milih itu..? kenapa nggak yang besar itu..?” Tanya Renno dengan heran.
“Karena aku tidak mencari yang paling besar, tapi aku mencari yang paling terang, supaya dia bisa menuntunku pulang.”
Renno mengangkat sebelah Alisnya. “Menuntunmu Pulang..?”
“Iya… Menuntunku pulang.. Kak Renno adalah Rumahku, Tempatku untuk pulang, Dan Jika Aku tersesat, bintang itu yang akan menuntunku pulang kerumah, Kepada Kak Renno.” Kata Tannia menjelaskan.
Renno lalu tersenyum sambil mengacak-acak poni milik Tannia. “Dan aku akan selalu menunggumu disini..menantimu untuk kembali pulang.”Kata Renno dengan tersenyum hangat, Rennopun lalu mengecup kening Tannia dengan Lembut.

Bayangan tersebut sangat jelas Terngiang di benak Renno. Astaga… Apa yang harus dirinya lakukan..?? Akankah ia mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya..?? apa ini Rencana Robby untuk mengacaukan perasaannya dan merebut Allea dari tangannya..?? mengingat itu, Rennopun kembali murka. Jika itu Rencana Robby, Maka Renno bersumpah tak akan pernah terperangkap dalam Rencana Sialan tersebut.
***
Allea setengah melamun ketika menyirami Bunga-bunga yang berada di halaman samping panti. Pikirannya menerawang, mengingat-ingat kata Nessa. Bagaimanapun juga dirinya kini sedikit lega karena memiliki Nessa sebagai temannya yang baik, Nessa bahkan menyemangatinya untuk tetap bersama Renno. Nessa juga mengajarinya menjadi Wanita yang berani, bukan wanita seperti dirinya saat ini yang hanya menerima keadaan saja.
Pertanyaannya adalah, ‘Beranikah Ia meghadapi semuanya..?’ ‘Beranikah ia mengungkapkan perasaannya terhadap Renno..?’ ‘Bagaimana jika Renno menolaknya..?’ Ahhh… selalu pertanyaan itu yang membuatya melamun sore ini hingga ia tak menyadari ketika ada sebuah Lengan yang sudah melingkari perutnya dari belakang.
“Melamunkan Apa.?” Tanya Renno yang saat ini sudah memeluk Allea dari belakang.
Allea terkesiap dengan pertanyaan sekaligus tingkah Renno yang sedikit berbeda dari tadi pagi. “Ahh enggak, Aku hanya…”
“Ayo kita pulang, Aku lapar.” Potong Renno kemudian.
“Kenapa nggak makan disini saja..? Disini sama Saja Kok.”
“Enggak, Aku hanya mau makan malam sama kamu.” Dan Jantung Alleapun berdetak lebih kencang karena pernyataan Renno. Allea hanya terdiam tak bisa berkata-kata lagi. “Ayoo…” Kata Renno lagi sambil menarik tangan Allea.
Setelah berpamitan dengan ibu panti, merekapun pulang. Sesampainya di Apartemen Allea langsung menuju kedapur dan bersiap-siap untuk masak, tapi lagi-lagi dirinya terkejut dengan tingkah Renno yang sama sekali tak dimengertinya.
Lagi-lagi Renno memeluknya dari belakang sambil sesekali mengecup lehernya, seperti Tak ada rasa canggung lagi untuk Renno. Ada apa dengan lelaki ini..?? Allea hanya bisa diam membatu.
“Ada apa..?” Tanya Renno dengan serak.
“Eng.. Enggak..”
“Kamu kaku sekali.”
“Emm.. Aku.. Aku nggak terbiasa.”
“Mulai sekarang biasakan.” Dan Alleapun hanya mengangguk meski tak tau apa maksud Renno tersebut. “Maafkan Aku..” kata Renno kemudian.
“Maaf untuk apa..?”
“Tadi pagi sudah kasar sama Kamu.”
“Aku ngak apa-apa kok.” Jawab Allea kemudian.
“Aku sama Tannia nggak ada apa-apa kok, itu hanya masa lalu. Yang penting sekarang masa depanku adalah Kamu dan dia.” Kata Renno sambil mengusap perut Allea. Renno teringat kata-kata Ramma, Jika Allea tak mencintainya maka ia harus Membuat Allea mencintainya, Tak ada salahnya kan bersikap manis terhadap Allea, karena kini tujuan Renno hanya satu, Membuat Allea jatuh cinta padanya.Dan persetan dengan Si Robby.
Allea hanya tertegun mendengar pernyataan Renno.
“Ya sudah, Lanjutin masaknya, Aku sudah lapar. Aku mandi dulu yaa..” Kata Renno sambil mencuri kecupan dipipi Allea lalu berlari pergi meninggalkan Allea yang ternganga sambil memegangi pipinya.
***
“Besok kekantorku ya..” kata Renno sambil mengusap-usap perut Allea. Setelah makan malam saat ini mereka sedang santai di depan televisi. Allea duduk di ujung sofa panjang dengan kakunya karena Renno tak Canggung-canggung lagi bermesra-mesraan dengan tidur di pangkuan Allea.
“Emm.. ngapain kesana..?”
“Bawakan aku makan siang.”
“Tapi biasanya Mas Renno..”
“Mulai besok kamu yang harus bawakan aku makan siang dan menemaniku makan di kantor.” Potong Renno dengan tegas dan tanpa mau di ganggu gugat.
Sebenarnya Renno memiliki rencana Khusus dengan menyuruh Allea datang kekantornya setiap hari untuk menemaninya makan siang. Selain akan lebih dekat dengan Allea, Renno juga berfikir siapa tau saja dengan melihat Kedekatan dirinya dengan Allea Si Robby dan Tannia akan menyerah untuk memisahkan mereka.
“Memangnya Mas Renno mau dimasakain apa..?” Tanya Allea sambil tersenyum dan memberanikan diri membelai lembut rambut Renno.
“Terserah kamu saja, yang penting Enak.” Lalu tiba-tiba Renno terduduk di sebelah Allea, menatap Allea dengan tajam. “All… Jangan Terlalu dekat dengan Lelaki lain.” Kata Renno tiba-tiba dengan ekspresi seriusnya. “Aku… Aku nggak suka.” Lanjut Renno lagi.
Apa maksud dari perkataan lelaki ini..?? Allea masih terdiam karena tak mengerti dengan apa yang dimaksud Renno. Hanya pikiranya saja yang bertanya-tanya dalam hati.
Renno kini semakin mendekatkan diri kepada Allea, diusapnya pipi Allea, terpesona dengan kecantikan allea yang terlihat polos dan alami, hingga dirinya tak sadar jika bibirnya sudah menempel sempurna pada bibir Allea. Renno mulai mengulumnya, melumatnya tak memperhatikan eksprsi terkejut dari Allea. Ohhh sialan…!!! ini Nikmat.. bahkan lebih nikmat daripada ciumannya dulu kepada Nessa ataupun Tannia… mengingat nama itu.. bayangan akan Tanniapun keluar di benak Renno.

“Kak… sini deh..” Ajak Tannia sambil menyeret tangan Renno kedapur.
“Mau apa..?”
‘Cuuppp..’ Renno menegang ketika bibir mungil Tannia menempel pada pipinya.
“Aku sayang sama Kak Renno.” Kata Tannia kemudian, Renno belum bisa menjawab karena sibuk dengan debaran jantungnya. Akhirnya setelah sadar Renno langsung menarik tubuh Tannia dan menciumnya saat itu juga. Ciuman yang sangat Nikmat karena itu merupakan Ciuman Pertama Renno pada Cinta pertamanya.

Seketika itu juga Renno melepaskan Ciumannya terhadap Allea. Kenapa bayangan itu muncul kembali..?? Dan kenapa Tannia..? Kenapa bukan Nessa..?? Sialan..!!! Renno mengumpati dirinya sendiri dalam hati.
“Kenapa..?” Allea memandang Renno dengan tatapan tanda tanya.
“Enggak…” Jawab Renno singkat sambil sedikit salah tingkah. “Lebih baik kamu tidur, Ini sudah malam.” Lanjut Renno lagi. Dan Alleapun mengangguk sambil bergegas masuk kedalam kamar walau hatinya masih diliputi dengan beberapa pertanyaan. Kenapa Renno menciumnya..?? Kenapa Renno tiba-tiba menghentikan ciumannya..?? Kenapa Ekspresi Renno berubah jadi seperti itu..?? Apa yang dia sembunyikan..?? Pertanyaan-ertanyaan itu terngiang-ngiang di benak Allea.
Sedangkan Renno sendiri saat ini sedang diam membatu di Sofa depan Televisi. Apa yang terjadi dengannya..?? Kenapa dirinya ingat kembali masa-masa terlarang itu..?? Apa dirinya masih menyimpan sedikit perasaan terhadap Tannia..?? Tidak… Tannia hanya masalalunya. Masa depannya saat ini hanya Allea dan bayinya. Pikir Renno sambil mengacak-acak Rambutnya.
***
Siang ini merupakan salah satu siang Terburuk yang pernah Renno alami. Bagaimana tidak, harusnya Siang ini Renno Meeting bersama Robby untuk membahas tentang kinerja beberapa Karyawannya. Namun Ternyata Robby tidak masuk kerja hari ini karena sakit. Entah itu kenyataan atau hanya alasannya saja yang pasti hari ini Renno sangat kesal karena tidak masuknya Robby berarti Renno hanya akan Meeting berdua dengan Tannia yang sejak kemarin sudah menjadi Sekertaris pribadi Robby.
Siall…!!!
Tentu saja sangat Sial… berada dalam satu ruangan dengan orang yang pernah Dicintainya tentu saja sangat berat untuk Renno. Apalagi mengingat mereka putus hanya karena hubungan darah, bukan karena tak saling cinta lagi.
Sedangkan Tannia sendiri terlihat tak segan-segan untuk mendekati Renno, menggoda Renno hingga Renno kini benar-benar merasa cintaya Kepada Allea sedang di uji.
“Kak… bukankah seharusnya dia di keluarkan dari perusahaan ini..? Dia sangat tidak kompeten, dan hanya suka menyebarkan Gossip murahan.” Kata Tannia yang kini sangat dekat dengan Renno lalu memberikan sebuah Map berisi data diri seorang Karyawati yang tak lain Adalah Maya, Mantan pacar sekaligus mantan Sekertaris pribadi Renno.
“Kenapa harus dia yang dikeluarkan..?” tanya Renno sambil sedikit menjauh dari Tannia.
“Karena aku nggak suka, Dia terlihat sangat murahan.”
“Kamu belum tau kinerjanya, dia sudah lama Kerja disini.”
“Kak Renno kok membelanya sih..??”
“Aku nggak membela. Aku tau berdasarkan pengalamanku, dia pernah bekerja denganku.”
“Dan juga pernah menjadi teman kencanmu..? Iya kan..?” Tannia melanjutkan kalimat Renno.
“Kurasa itu bukan urusan Kamu, lagi pula kita di sini untuk membahas karyawan bukan masalah Pribadi.” Kata Renno dengan dingin.
“Kakk…” Rengek Tannia yang kini sudah bergelayut di lengan Renno.
“Lepaskan Tannia, Aku ingin kita sama-sama Profesional.” Kata Renno sambil melepaskan Rangkulan Tannia.
“Apa kamu juga bertindak profesional saat mengencani sekertaris pribadi kamu sendiri..?” Tanya Tannia dengan sedikit menyindir. Dan tentu saja Renno tak bisa menjawabnya karena dulu saat mengencani Maya, renno tak pernah bertindak profesional, bahkan Renno sering melakukannya di ruang kerjanya, apa itu Profesional..?? tentu saja tidak.
“Itu beda.”
“Apa yang membuat Beda..?”
“Dulu aku belum memiliki Allea, sekarang aku sudah memilikinya.”
“Tapi kamu juga memilikiku Kak..? Hati ini masih milikmu, Bertahun-tahun aku hidup menjauh, tapi aku tak pernah bisa melupakanmu, karena Hati ini memang sudah menjadi milikmu, Jiwaku bahkan sudah terbang bersamamu.” Kata Tannia yang sudah tak bisa membendung perasaannya kembali.
“Maafkan aku Tann… Tapi aku sudah berpaling darimu, bahkkan sebelum kedatangan Allea. Dan kini setelah datangnya Allea, Aku tak bisa berpaling lagi dengan wanita lain, Meski itu dengan kamu, Cinta pertamaku.” Kata Renno menjelaskan dengan tegas.
****
Sedikit tidak percaya diri karena ini hari pertama Allea memasuki Kantor besar Renno. Besar.. amat sangat besar.. Allea bahkan sempat ternganga saat memandang luarnya saja.
“Ada yang bisa saya bantu bu..?” Tanya seorang satpam yang berjaga di depan pintu Lobi.
“Emm… saya ingin bertemu dengan Pak Renno..” Kata Allea dengan lembut dan sopan.
“Pak Renno siapa yaa bu..? Disini Nama Renno banyak.”
Allea bingung mau menjawab Apa tapi kemudian Allea ingat jika Nama Shasha Adalah Nattasha Handoyo, mungkin itu nama keluarga sekaligus juga nama kepanjangan Renno “Emm.. Pak Renno Handoyo.” Kata Allea kemudian yang langsung dapat tatapan terkejut dan menyelidik dari Satpam tersebut.
Satpam itu langsung menatap Allea dari ujung Rambut sampai ujung kaki. Membuat Allea sedikit risih dengan tatapan Satpam tersebut. Untung saja saat ini dirinya mengenakan baju yang cukup rapi. Sebuah baju hamil dengan celananya lengkap dengan sendal Tanpa Hak-nya dan juga tak lupa Rantang makan siangnya yang sederhana. Tapi tetap saja, baju seperti itu sepertinya tak akan pantas untuk dikenakan saat menemui pimpinan tertinggi kantor tersebut.
“Ayoo bu.. ikut saya..” Kata Satpam tersebut.
Tapi bukannya mengantar keruangan Renno, satpam tersebut malah Mengantarnya kebagian informasi.
“Mbak.. ibu ini ingin bertemu dengan Pak Renno.” Kata Satpam tersebut pada seorang wanita yang berjaga pada bagian informasi.
“Pak Renno siapa ya..?” Tanya Wanita tersebut dengan sedikit ketus.
“Pak Renno Handoyo.” Dan setelah perkataan satpam tersebut Wanita itu langsung menatap Allea dengan tatapan mencemoohnya. Astaga… untuk apa wanita gembel seperti ini ingin menemui Big Boss..? tanya Wanita itu dalam hati.
“Embak ada perlu apa ya dengan Pak Renno..?” Tanya Wanita tersebut dengan ketus dan angkuhnya.
“Saya membawakan makan siang untuknya.” Kata Allea sambil memperlihatkan Rantang bawaannya.
“Maaf mbak, Pak Renno sibuk, nggak bisa di ganggu.” Kata Wanita tersebut masih dengan nada ketusnya.
“Emm.. Apa saya boleh menunggu..?”
“Terserah mbak aja.” Kata Wanita tersebut sambil duduk lalu membenarkan dandanannya.
“Lohh mbak, apa nggak sebaiknya mbak telepon Asisten atau sekertarisnya pak Renno, siapa tau penting.” Kata Satpam itu mengingatkan. Tapi wanita teersebut tak mengindahkan nasihat dari satpam tersebut.
“Alahh pak, itu kan cuma makan siang, lagian bisa jadi wanita itu hanya penggemar pak Renno. Lihat saja, penampilannnya saja nggak banget kayak gitu.” Jawab Wanita tersebut dengan nada mencibir sambil melihat Allea yang kini sudah duduk di ruang tunggu dengan santainya. Dan satpam tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergegas pergi meninggalkan Wanita tersebut.
***
Renno berjalan mondar-mandir didalam Ruangannya sambil sesekali melihat pada Arlojinya, ini sudah hampir jam 3, tapi Allea masih juga belum datang. Renno memang sudah kelaparan, tapi yang dipikirkannya bukan soal makan siangnya, tapi Allea. Ada apa dengannya..?? Apa terjadi sesuatu dengannya..? Jangan-jangan dia tersesat..?? Atau lebih buruk lagi mengalami sebuah kecelakaan.. Ahh.. tidak.. Tidak mungkin.
Renno lalu bergegas menghubungi Chika, Sekertaris Pribadinya pengganti Maya.
“Iya Hallo pak..?” Kata suara di seberang.
“Chika, Apa ada tamu untuk saya..?”
“Sepertinya tidak Pak, Tidak ada bagian informasi yang menanyakan tentang keberadaan bapak.”
“Baiklah kalau begitu.” Kata Renno sambil bersiap untuk menutup teleponnya tapi entah kenapa pikirannya sedikit tak tenang. “Emm Chika, Tolong hubungi bagian informasi untuk saya, tolong tanyakan apakah tadi ada seseorang yang mencari saya..” lanjut Renno lagi sebelum menutup teleponnya.
“Ohh… baik Pak, saya akan menghubungi bagian informasi untuk bapak.”
“Terimakasih.” Dan Rennopun menutup teleponnya.
Rennopun duduk di atas kursi kebesarannya, menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Tadi setelah Renno sedikit berdebat dengan Tannia, Rennopun mengusir Tannia dengan sedikit kasar dari dalam Ruangannya. Renno tak tau harus bersikap seperti apa lagi dihadapan Tannia. Jujur saja, Saat ini Renno sangat ingin memperlakukan Tannia sebagai Adiknya, tapi tentu saja Tannia akan salah mengartikan itu. Tannia mungkin akan mengartikan jika Renno masih memiliki perasaan untuk Dirinya, Dan Renno tak bisa membiarkan itu terjadi.
Akhirnya Renno harus memilih jalan kedua, yaitu dengan memperlakukan Tannia sedingin dan sekasar yang ia bisa, supaya Tannia mengerti jika hubungan mereka sudah benar-benar berakhir.
Tiba-tiba Telepon diruangannya Berbunyi.
“Hallo..?”
“Pak ini saya Chika pak.”
“Ada apa Chika..?”
“Maaf sebelumnya pak, Tapi sepertinya memang ada yang menunggu bapak sejak lebih dari 2 Jam yang lalu, Seorang wanita hamil..”
“Apa..??” Teriak Renno tak percaya. “Sekarang Dimana Dia..?” Tanya Renno dengan sedikit Geram.
“Emm… Wanita itu masih menunggu di ruang tunggu di Lobi depan Ruang informasi Pak..”
“Sialan..!!!” Rennopun tak Segan-segan mengumpat dihadapan Karyawannya. Lalu menutu telepon dan berlari keluar dari dalam ruagan kerjanya.
Chikka sempat takut mendengar umpatan Renno yang terdengar sangat marah, dan tak lama Rennopun keluar dengan wajah Sangarnya sambil setengah berlari keluar, dan mau tak mau Chika pun mengikutinya dari belakang.
***
Capek dan Lelah, Itulah yang dirasakan Allea saat ini. Duduk Selama lebih dari 2 jam untuk menunggu Renno, belum lagi Rasa kantuknya yang amat sangat menyiksanya. Astaga… dirinya kini benar-benar sangat ingin Tidur.
Ruangan ini benar-benar sangat sejuk, bahkan lebih dari sekedar sejuk, Membuat Allea menguap beberapa kali dan juga Beberapa kali buang air kecil. Sejak beberapa minggu terakhir ini dirinya memang mengidap efek terakhir dari orang yang sedang hamil yaitu sering sakit pinggang dan juga sering buang air kecil. Apalagi di tempat yang dingin seperti ini membuatnya berkali-kali ingin masuk kedalam Toilet.
Untung saja ada pak Satpam tadi yang baik hati mau mengantarnya ke toilet. Bahkan satpam tersebutpun memberinya sebuah air mineral untuk diminumnya.
Astaga… Sampai kapan Renno sibuk..?? Apa dia tak beristirahat..?? Apa setiap hari selalu seperti ini..? Pasti dia sangat kelelahan. Pikir Allea kemudian.
Allea melamun dengan setengah mengantuk sehingga tak tau jika sudah ada seseorang yang berada di hadapanya.
“Hei..” Suara tersebut menyadarkan Allea dari tidur-tidur ayamnya.
Allea sedikit terkejut mendapati Renno yang sudah duduk berlutut di hadapannya dengan beberapa pegawai yang memandang mereka.
Rennopun menggenggam dan mengecup telapak tangan Allea, tak memperdulikan tatapan terkejut dari para bawahannya. “Maafkan Aku, aku nggak tau kalau kamu datang, kamu pasti sudah menunggu lama.”
Allea lalu tersenyum, “Enggak, hanya beberapa Jam saja. Mas Renno pasti kelaparan ya..”
Renno lalu menggeleng. “Aku nggak peduli dengan makan siangku, yang aku pedulikan hanya keadaan kamu.” Kata Renno kemudian sambil membuak Jasnya dan mengenakannya di pundak Allea. “Kamu pasti kedinginan disini.” Kata Renno lagi sambil memberdirikan Allea dan mmperbaiki letak Jasnya.
Allea hanya tertegun dengan perhatian Renno, Sangat manis. Seperti Drama-drama percintaan yang pernah ia tonton dulu saat masih di panti asuhan.
Renno Lalu mentap tajam para pegawai yang memperhatikannya sejak tadi. “Siapa yang menerimanya sebagai tamu..?” Tanya Renno dengan dingin.
“Sa.. Saya pak..” Kata seorang Satpam memberanikan diri.
“Kenapa Kamu tidak mengantarnya keruanganku..?”
“Saya sudah mengantar ibu ini ke Mbak Lisa, di bagian informasi, karena saya takut mengganggu jadwal bapak.” Jawab Satpam tersebut dengan takut-takut.
“Mana yang namanya Lisa bagian informasi..?” Renno masih saja tak menurunkan nada bicaranya yang terdengar Angkuh dan berkuasa tersebut.
“Sa.. Saya Pak..” Kali ini Lisa, wanita yang berjaga di ruang informasi tersebut yang langsung menghadap Renno dengan wajah takutnya.
“Kenapa kamu nggak menghubungi jika ada yang mencari saya.”
“Emm… saya pikir bapak tidak bisa di ganggu.”
“Bisa atau tidaknya saya diganggu apa itu urusan kamu..? Seharusnya kamu menghubungi saya, bukan malah menyuruhnya untuk menunggu saya. Apa kamu tau siapa dia..?” Omel Renno pada wanita tersebut.
“Tii.. tidak pak..”
“Dia istri saya, dan sedang mengandung anak saya.”
Dan wajah Lisa si wanita tersebut itupun langsung memucat. “Maa.. maafkan saya pak.. Maafkan saya bu…” kata Lisa dengan takut-takut.
Allea yang berada di belakang Renno merasa kasihan menatap wanita tersebut yang secara tidak langsung dipermalukan Renno dihadapan banyak orang. Allea lalu merangkul sebelah Lengan Renno. “Mas.. aku nggak apa-apa Kok.”
“Nggak apa-apa bagaimana.” Jawab Renno sambil menatap Allea. Lalu Rennopun menatap sekertarisnya dengan tajam. “Chika, Pecat dia.” Kata Renno dengan dingin sambil menarik tangan Allea meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Lisa, wanita itu langsung lemas, terduduk sambil menangisi nasib sialnya.
***
“Mas Renno nggak perlu nglakuin itu terhada Wanita tersebut.” Kata Allea yang kini sudah berbaring santai di atas Sofa panjang empuk milik Renno.
“Dia pantas mendapatkannya.” Jawab Renno cuek sambil menyantap makan siangnya.
“Bukankah itu namanya tidak profesional..?”
“Dia sudah membuatmu lelah karena lama menunggu, membuat bayi kita kedinginan dan juga membuatku kelaparan. Apa aku harus memperkerjakan orang seperti dia..? Dia tidak kompeten dan hanya memikirkan penampilannya saja. Jadi wajar jika aku memecatnya.”
“Tapikan Kasihan Mas..?”
“Jika kerja di kantor hanya mengandalkan Rasa Kasihan, maka aku akan memperkerjakan seluruh orang miskin di negri ini tanpa melihat kepandaian ataupun latar belakang pendidikannya.”
Dan Allepun hanya terdiam. Perkataan Renno memang benar, rasa kasihan saja tak cukup untuk menjadi modal bekerja di kantor sebesar ini.
“Apa kamu sudah mengaku kalah..?” Tanya Renno yang saat ini sudah duduk di sebelah Allea.
Allea lalu tersenyum. “Iya.. aku kalah, aku memang tak mengerti bagaimana syarat-syarat masuk kantor sebesar ini.”
“Aku juga masih belum mengerti cara memperlakukan orang dengan baik, Dan aku masih harus banyak belajar, Apa kamu mau mengajariku untuk menjadi orang yang lebih baik Lagi..??” Tanya Renno yang saat ini sudah menunduk menjajarkan Wajahya hingga sejajar dengan wajah Allea.
Alleapun gugup dengan tingkah Renno. Dan hanya menganggukan kepalanya. Renno yang melihat kegugupan Allea hanya tersenyum karena semakin gemas dengan ekspresi wajah Allea ditambah lagi semburan warna merah dipipi Allea membuat Renno tak bisa menahan diri lagi.
Di kecupnya bibir Allea berkali-kali, mulanya hanya kecupan-kecupan singkat. Namun lama-lama Berubah menjadi sebuah ciuman Panas penuh gairah.
Allea menikmatinya, Allea bahkan sudah meremas-remas kemeja rapi Renno tepat didada Renno. Keduanya sama-sama saling menikmati cumbuan masing-masing. Hingga cumbuan tersebut terhenti karena seorang telah membuka pintu ruangan Renno diikuti beberapa keramaian dibelakangnya.
“Kak Renno..” Kata Wanita yang kini berdiri di tengah-tengah pintu ruangan Renno dengan ternganga karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

___TBC___

ehhmmm.. udah mendekati akhir nihh… Untuk next Chapter aku akan Post sekalian Ramma Story (My Everything) prolog dan chapter 1nya di blog ini, Mugkin teman2 di fbku udah tau karena memang udah ku Share di Fb Sebelumnya. dijamin akan lebih seru karena genrenya Roman Erotis (Yang dibawah umur jangan baca dulu yee.. hahha) dan terimakasih buat yang udah mau baca.. selamat menunggu chapter selanjutnya yaa.. jangan bosan2 aa TBC nya,,, hehhehehe

Me cover3 Untuk Cover My Everyting yaa,,, hayukkk ada yg mulai penasaran nggak nihh..???

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 10

Comments 7 Standard

Untitled-1Because It’s You

NB: Haii… baru sempat post lagi ih.. Hiksss.. Hiks… karena baru sembuh dari sakit… hehhehehe di chapter ini akan sedikit menjengkelkan jadi sabar aja yaa buat yang baca. sengaja aku kasih Cover ‘Trilogy The BadBoys’ Supaya kalian nggak melupakan Sosok Dhanni yang Cuek dan juga selalu menantikan Sosok Ramma yang benar-benar playboy Abiss… hehhehe ok.. happy reading aja dehh kalo gitu..

Chapter 10
“Haii Kak… Lama nggak ketemu..” Sapa wanita tersebut yang tanpa aba-aba langsung memeluk Renno yang masih kaku dan ternganga karena kehadirannya.
“Tannia…..” Tanpa sadar Renno menyebutkan nama itu.. Nama yang sudah terdengar tabu di telinganya.. Nama yang sudah Renno kubur dalam-dalam bersama dengan pemilik nama tersebut.
“Kak Aku Kangen sama kak Renno..” Kata gadis yang bernama Tannia tersebut masih dengan memeluk Renno. Renno masih kaku dengan pelukan Tannia sedangkan Allea hanya Ternganga saat melihatnya. Ada perasaan aneh yang merayapi dirinya, perasaan sakit seperti ada sebuah belati yang mengiris-iris hatinya.
Rennopun akhirnya melepaskan pelukan Tannia, dia sadar jika ada Allea didekatnya. “Kamu ngapain kesini..?”
“Aku mau ketemu Kak Renno, aku kangen..”
Mendengar pernyataan Tannia tersebut entah kenapa membuat Allea sedikit berkaca-kaca. Wanita ini tentu ada hubungannya dengan Renno dan Alleapn teringat cerita Shasha tadi malam sebelum mereka tidur bersama.
FlashBack
“Mbak kok bisa sih kenal sama Mas Renn. Dan bayi ini berarti..”
“Ini Nggak seperti yang kamu bayangin Nat..”
“Panggil Shasha aja mbak biar lebih akrab, Mbak Allea kan akan jadi kakak iparku.”
“Iya Sha..”
“Apa maksud Mbak Allea dengan tidak seperti yang kupikirkan..? Mbak Allea pacaran kan sama Mas Renn..?”
“Kami nggak ada hubungan apapun Sha..”
“Lohh kok… tapi tadi aku sempat lihat kalian berciuman.”
Dan Alleapun menunduk malu salah tingkah karenya pernyataan Shasha. “Kehamilan ini hanya kesalahan Sha.. Dan kakak kamu hanya berniat untuk bertanggung jawab. Hanya itu saja.” Jawab Allea dengan nada sedih. “Mungkin dia masih memiliki kekasih. Dan aku merasa sedikit bersalah karena mengikatnya seperti ini”
“Astaga Mbak, itu nggak mungkin.. kalau Mas Renn punya pacar kenapa nggak di bawah kesini dari dulu..? lagian Mbak, Mas Renn itu udah nutup hatinya karena kegagalannya terdahulu. Makanya dia jadi dingin gitu.” Jelas Shasha.
“Kegagalannya dulu..?” Allea masih tak mengerti dengan apa yang di jelaskan Shasha.
“Iyaa.. dulu Mas Renn pernah pacaran dan jatuh cinta setengah mati sama sepupu kandung kami, Kak Tannia namanya. Tapi mereka terpaksa putus karena hubungan darah diantara kami. Kak Tannia sekolah keluar negeri sedangkan Mas Renn melanjutkan hidupnya menjadi Lelaki brengsek disini. Tapi kejadian itu terulang lagi 3 tahun yang lalu ketika Mas Renn Mencintai Wanita yang menjadi istri sahabatnya sendiri, Kak Nessa istri Mas Dhanni. Mas Renn benar-benar sangat terpukul hingga dia kabur keluar Negeri, dan baru kembali beberapa bulan yang lalu menjadi sosok yang benar-benar sangat berbeda. Sosok dingin yang tak tersentuh.”
“Astaga.. aku tak menyadari jika masalalunya berat seperti itu.”
“Maka dari itu aku yakin jika Mas Renn belum punya kekasih dan wanita disisinya selain Mbak Allea. Mungkin bayangan dari kedua wanita itu masih terngiang di benakya, tapi itu kan masa lalu, yang penting Mbak Allealah sekarang yang akan jadi masa depannya.” Kali ini Shasha berbicara dengan raut wajah yang amat sangat bahagia.

“All.. kamu nggak apa-apa kan..?” Allea tersadar dari lamunannya Saat Renno memanggilnya. Allea menatap Renno lalu kembali menatap wanita dihadapannya itu. Wanita yang amat sangat cantik, seperti Nessa. Pantas saja Renno mencitaiya setengah mati. Dan entah mengapa tiba-tiba Allea merasa jika dirinya menjadi orang ketiga diantara Renno dan Tannia.
“Ehh.. Maaf aku tadi melamun..”
“Dia siapa Kak..?” Tanya Tannia dengan tatapa menyelidik kearah Allea.
“Dia Allea, Calon istriku.” Kata Renno dengan tegas.
Tannia menatap Renno dengan tatapan terkejutnya. “Calon istri..??” Tanya Tannia tak percaya. Lalu memandangi Allea dari ujung kepala hingga ujung Kaki. Calon istri..? tidak, Kak Renno tak mungkin menikahi wanita biasa-biasa saja seperti ini. Ini pasti hanya sandiwara Kak Renno untuk menjauhiku, pikir Tannia dalam hati.
“Emm… ini tidak seperti yang kamu pikir, kami akan menikah, tapi kamu tentu tau kenapa kami menikah.” Kata Allea sambil memegang perutnya.
Renno lalu menatap tajam kearah Allea. “Apa yang sedang kamu katakan..?” Desis Renno kepada Allea.
“Aku hanay tak mau ada kesalah pahaman diantara kita.” Jawab Allea dengan lembut.
Renno lalu tersenyum sinis mengerti apa yang ada dalam pikiran Allea. “Yaa… tentu saja Kamu nggak mau ada kesalah pahaman antara Kamu dan Robby nantinya.”
Dan tanpa berkata-kata Lagi Renno meninggalkan Allea dan Tannia yang berdiri sibuk dengan fikiran masing-masing.
“Kamu yakin nggak ada apa-apa sama Kak Renno..?” Tanya Tannia kemudian ketika Renno sudah meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Allea hanya terdiam membatu. Dia ingin bilang jika dirinya tak ada hubungan apa-apa dengan Renno, tapi entah kenapa bibirnya terasa kelu. Allea tak bisa memungkiri dirinya sendiri jika perasaannya sakit saat mengatakan hal itu.
“Baiklah… aku hanya ingin mengatakan jika sebenarnya kami masih saling menyayangi hanya saja hubungan darah sialan ini yang menghalangi kami bersatu. Jadi Please… jangan bertindak aneh-aneh dengan Kak Renno. Dan Lagi.. apa kamu ada hubungan dengan Kakakku..?” kali ini Tannia bertanya tentang Robby, Kakaknya. Karena tadi Tannia sempat mendengar Renno menyebut nama kakaknya.
Lagi-lagi Allea hanya terdiam tak menanggapi pertanyaan Tannia, entah kenapa matanya sudah berkaca-kaca saat mendengar penjelasan Tannia tadi. “Kamu bisa mendapatkan kakakku setelah aku mendapatkan Kak Renno kembali.” Kata Tannia lagi. Lalu Tanniapun meninggalkan Allea membatu sendiri ditengah-tengah heningnya taman Pagi itu.
***
Rasanya pagi ini Renno ingin meledak-ledak. Penyakit Dinginnya kambuh lagi. Tanpa bersuara sedikitpun dia mengenakan pakaiannya dengan cepat. Masih dengan berwajah sangar sesekali Renno mengumpat, entah mengumpat untuk siapa yang jelas pagi ini Moodnya benar-benar berubah menjadi sangat buruk.
“Loh.. Mas Renno kok sudah Rapi..?” Tanya Allea yang baru masuk kedalam Kamar Renno.
“Kita pulang sekarang.” Jawab Renno dingin.
“Kita nggak sarapan dulu..? Kasihan Mama sudah nyiapin sarapan untuk kita.”
Renno lalu menatap Allea dengan tajam. “Kalau kamu ingin makan disini, makan saja. Aku akan berangkat dulu.” Renno berkata dengan nada yag tak enak di dengar.
“Lalu aku pulang dengan siapa..?”
“Kamu bisa minta antar Pacar kamu.” Desis Renn dengan nada dingin lalu Renno pergi meninggalkan Allea keruang pakaiannya untuk mengambil sepasang sepatu. Alleapun mengikutinya dari belakang.
“Mas Renno kenapa..? Kupikir tadi pagi kita baik-baik saja. Apa karena Tannia..?” Allea mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
Rennopun akhirnya menghentikan aktifitasnya dan menatap Allea dengan tatapan membunuhnya. “Tannia..? Kamu tau apa tentang kami..? Dan lagi itu bukan urusanmu.” Jawab Renno dengan dingin.
Alleapun hanya terdiam tak menjawab lagi perkataan Renno. Hanya sesekali suara isakan keluar dari dirinya. Kenapa Renno berubah menjadi seperti ini lagi terhadapnya..??

***

Allea masih terdiam menatapi pemandangan di luar jendela pintu mobil Renno. Pagi ini Akhirya dirinya menuruti permintaan Renno untuk pulang cepat meski sebenarnya tak enak dengan Mama Renno yang sudah sejak pagi menyiapakan makanan untuk dirinya namun dirinya tak sedikitpun mencicipi masakan tersebut.
Renno berbeda dari biasa-biasanya. Dia kembali menjadi sosok yang dingin tak tersentuh seperti pertama kali mereka bertemu. Ada apa denganya..?? apa ini ada hubugannya dengan Tannia..? Apa Dia masih mencintai gadis itu..? Mungkin saja. Karena jujur, Tannia amat-sangat cantik. Mungkin Tannia memang sangat susah untuk di lupakan. Allea meratapi dirinya sendiri, dirinya yang Astaga… bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan gadis tersebut. Mengingat itu mata Allea kembali berkaca-kaca. Haruskah ia menerima pinangan Renno sedangkan Allea sendiri tau jika Renno tak menginginkannya..??
Renno yang sejak tadi diam terlalu malas untuk mengajak bicara Allea. Dirinya terlalu kesal dengan pernyataan Allea tadi pagi. Akhirnya saat ini dirinya berubah menjadi lelaki brengsek kembali di hadapan Allea. Kenapa..? Apa yang terjadi..?Apa yang membuatnya kesal..?? tentu saja pernyataan Allea yang menyangkal hubungan mereka selama ini. Apa benar Allea melakukan itu hanya supaya Robby tak salah paham dengannya…? tapi jika benar memangnya apa yang salah..? bukankah dirinya menikahi Allea hanya karena Kasihan dan tanggung jawab saja..?
“Aku ingin turun didepan sana saja Mas..” Suara lembut Allea membuyarkan lamunanya.
“Kenapa..?”
“Aku mau ke panti.”
“Sama siapa..?”
“Sendiri.”
“Aku antar.”
Dan kedua-duanya sama-sama terdiam kembali. Lagi-lagi suasana diantara mereka kembali seperti dulu lagi.
***
“Saya Renno, Saya akan bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan terhadap Allea.” Kata Renno menjelaskan kepada sesosok wanita paruh baya yang ada dihadapannya.
“Saya tidak hanya butuh tanggung jawab kamu. Saya butuh Kamu sendiri yang menjaganya dan Membahagiakannya.“ kata wanita tersebut yang ternyata adalah ibu panti tempat Allea di besarkan.
“Saya akan menjaganya..”
“Dan membahagiakannya.?”
“Saya akan membahagiakannya.” Jawab Renno dengan tegas. Entah apa yang membuatnya tegas seperti itu.
“Baiklah, saya percaya dan saya akan menyerahkan Allea kepadamu.” Kata ibu panti kemudian. Tak lama setelah itu Allea masuk kedalam ruang tamu tersebut dengan dua cangkir minuman yang berada di atas nampan yang sedag di bawanya.
“Minum dulu..”
Renno lalu meminum Teh buatan Allea. “Baiklah Bu, sepertinya saya harus pamit undur diri.” Kata Renno sambil berdiri dan melihat kearah jam tagannya.
“Kenapa buru-buru..?” Tanya Allea yang ikut berdiri di sebelah Renno.
“Aku sudah telat. Disini saja, nanti sore kujemput.” Dan Allea hanya menganggukkan kepalanya. Rennopun lalu berpamitan dengan ibu panti.
***
Allea terlalu bosan untuk menunggu Renno di panti, jika biasanya dia ikut membantu bersih-bersih. Maka kali ini ibu panti melarangnya keras untuk melakukan pekerjaan itu karena tau jika Allea sedang hamil. Dan itu benar-benar membuat Allea bosan.
Allea lalu teringat akan sesuatu. Yaa… kenapa tak menghubunginya saja untuk ketemuan dan ngobrol bersama..?? Di carinya kartu nama yang di beri Nessa saat mereka bertemu. Lalu Alleapun menghubungi Nessa mengajaknya ketemuan untuk sekedar ngobrol bersama.
Akhirnya kini mereka bertemu di sebuah Cafe sederhana. “Haii…” Nessa terlihat melambaikan tangannya saat melihat Allea yang sudah duduk menuggunya di pojok cafe tersebut.
“Ehh.. Haii..” Allea berdiri dan membalas lambaian tangan Nessa.
Nessapun lalu memeluk Allea membuat Allea sedikit terkejut dengan sambutan Nessa yang terasa sangat Akrab. “Aku nggak nyangka kalau kamu benar-benar mau berteman sama aku.”
“Aku juga Nggak nyangka kalau kamu mau bertemu sama Aku.”
“Tentu saja, Kapanpun kamu mau bertemu aku akan bersedia menemuimu, sejujurnya aku sedikit jenuh karena tidak punya teman, dan hanya mengurus dua Lelaki bandel, hehehe.” Jawab Nessa sambil tersnyum.
Merekapun akhirnya ngobrol bersama, menanyakan kabar masing-masing. Allea cukup senang karena ternyata Nessa orang yang sangat ramah dan mudah diajak bergaul. Dhanni sungguh beruntung memiliki istri seperti Nessa.
“Emm.. oo iyaa Ness, Aku hanya ingin memberi tau sesuatu, Aku… Sepertinya Mas Renno akan menikahiku.” Kata Allea kemudian.
“Apa..? yang benar..? Kamu nggak bercanda kan..?? Astaga.. jadi kalian akan menikah..?” terlihat wajah terkejut namun bercampur dengan ekspresi bahagia dari Nessa, sangat berbeda dengan ekspresi yang diberikan Tannia tadi pagi.
“Kamu.. Kamu senang lihat aku menikah dengan Mas Renno..?”
“Astaga… tentu saja aku senang All.. Kak Renno orang yang baik, dia pantas mendapatkan wanita baik seperti kamu.”
“Tapi.. bukankah kamu….” Allea sepertiya enggan melanjutkan kata-katanya.
Nessa sedikit herang dengan tingkah Allea “Aku kenapa..?”
“Kamu mantan pacarnya Mas Renno.”
“Haahh..!!” Nessa terkejut dengan pernyataan Allea. “Darimana kamu tau kabar itu..?” dan Alleapun hanya terdiam tak menanggapi pernyataan Nessa.
***
Renno memejamkan matanya sakan-akan frustasi dengan keadan yang menimpanya saat ini. Sialan..!! kenapa dia kembali,..? Kenapa dia kembali pada saat seperti ini..?? Dan Allea, apa benar wanita itu memiliki hubungan spesial dengan Robby..?? Sialan…!!! apa yang membuat dirinya kini seakan-akan ingin meledak saat mengingat nama Allea dan Robby..??
Pintu ruangannyapun dibuka oleh seseorang yang tersenyum lebar terhadapnya kini. “Hai Renn, gimana tadi malam..?” Tanya Ramma yang kini sudah melemparkan dirinya diatas sofa ruang kerja Renno.
“Ngapain sih Lo kesini..? Apa Lo nggak punya kerjaan lain selain gangguin Gue..?”
“Gue sedang nunggu berkas-berkas yang masih disiapin sama Robby. Gimana, Apa tadi malam acaranya lancar..?”
“Lancar.”
“Kalau lancar Kenapa Muka Lo suntuk kayak gitu..?” Ramma sedikit heran dengan Ekspresi Renno yang lagi-lagi seperti orang yang igin menelan orang hidup-hidup.
“Ramm.. Gue mau tanya, kenapa Gue selalu ingin meledak-ledak saat Gue lihat seorang wanita tertentu dekat dengan seorang Lelaki.?”
“Ya itu karena Lo sedang cemmburu.” Jawab Ramma cuek.
“Tapi Gue nggak sedang dalam hubungan pacaran atau memadu kasih dengan wanita tersebut.”
“Emangnya Lo pikir Cemburu itu Cuma punya orang yang sedang pacaran..? Semua juga bisa ngrasain Cemburu Renn walau kalian nggak sedang dalam suatu hubungan.”
“Tapi kenapa..?”
“Ya itu karena Lo suka sama Wanita itu, makanya Lo cemburu saat dia dekat dengan Lelaki lain.”
“Suka..??” Renno terkejut dengan jawaban Ramma. “Nggak.. itu nggak mungkin, Gue Cuma bertanggung jawab Aja.” Renno mengelak.
“Bahkan bisa jadi Lo sudah cinta mati sama dia hanya saja Lo yang memungkiri perasaan Lo sendiri.” Kali ini Ramma menjawab lengkap dengan seringaian liciknya.
“Cinta..?? Sialan..!!! Gue nggak mungkin Cinta sama Allea”
“Hahahhahah Jadi Allea wanita itu..? Astaga Renn… Bahkan Anak kecilpun saat liat Lo kayak gini pasti tau kalau Lo benar-benar sudah masuk dalam perangkap Cinta Allea.” Kata Ramma menertawakan Renno.
Rennopun lemas mendengar pernyataan Ramma. Cinta..?? Nggak dirinya tak sedang jatuh cinta dengan Allea, tapi memangnya kenapa jika dirinya Cinta terhadap Allea? Toh mereka juga akan segera menikah.. Tapi bagaimana jika Allea tidak mencintainya..? Bagaimana jika Allea mencintai lelaki lain dan meninggalkannya seperti Tannia dan Nessa..??
Rammapun menghampiri Renno yang wajahnya sudah memucat. “Renn.. memangnya kenapa kalau Lo cinta sama Allea..? itu nggak salah Renn, Allea wanita yang baik. Dan dia pantas mendapatkan Cinta Lo.” Kata Ramma tulus sambil menepuk-nepuk bahu Renno.
“Tapi gimana kalau dia nggak Cinta sama Gue Ramm..? Gimana kalau dia ninggalin Gue seperti yang sebelum-sebelumnya yang gue alami..?”
“Lo nggak akan tau sebelum Lo mencoba Renn.. Dan Kalau dia nggak Cinta sama Lo, Buat dia supaya Cinta sama Lo.”
“Lo yakin dia bisa cinta sama Gue..?”
“Sialan..!!! sejak kapan Lo Raguin Gue, lagi pula kalian pernah melakukan Seks dengan sadar, jadi gue fikir kalian sama-sama tertarik satu sama lain.”
“Brengsek Lo..!! bisa-bisanya lo ngomongin soal Seks dalam keadaan seperti ini.” Umpat Renno.
“Hahhaha memangnya kenapa..? Lo kayak nggak tau Gue aja.”
“Gue serius Ramm.. Trus Gue harus lakuin apa sekarang…?”
“Berusaha Renn.. Kalo dia nggak Cinta sama Elo, Lo harus berusaha membuat dia jatuh cinta sama Lo.”
“Gimana Caranya.?”
“Astaga.. Lo kayak nggak pernah pacaran aja Renn.”
“Allea beda sama pacar-pacar Gue Ramm.. dan dia.. dia istimewa, Gue nggak tau karena apa tapi Gue tau jika Allea beda dengan mantan-mantan Gue.”
“Ok, Gue tau maksud Lo. Lo hanya perlu ngasih dia ekstra perhatian, Paling Nggak kasih dia sesuatu yang romantis, misalnya sering-sering dinner bareng mungkin. Gue yakin dia pasti akan luluh sama Lo.” Saran Ramma.
“Jadi itu cara Lo supaya para wanita itu rela bertekuk lutut dihadapan Lo..?”
“hahhaha, Gue cukup tersenyum saja mereka sudah melemparkan diri keranjang Gue.” Gumam Ramma dengan sombongnya.
“Siaalan Lo..!!!” Umpat Renno.
Tiba-tiba pintu ruangannya di buka oleh seseorang. Baik Renno maupun Ramma sama-sama ternganga dengan kedatangan orang tersebut. Tannia.. Sedang apa dia disini..?? pikir Renno kemudian.
“Kamu.. Kamu ngapain disini..?” Tanya Renno pada sosok yang berdiri dengan cantiknya lengkap dengan beberapa map-map di tangannya.
“Aku Kerja disini.” Kata Tannia dengan santainya.
“APA…??” Renno dan Rammapun sama-sama tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Untuk apa Tannia kerja disini..? Kenapa bisa kerja disini..?? Pertanyaan-pertanyaan tersebutpun berputar-putar pada pikiran Renno dan Ramma.
***
“Darimana Kamu tau kabar tersebut..?” Nessa bertanya kepada Allea dengan Raut terkejutnya.
“Emm.. Shasha sudah menceritakan semuanya padaku. Kupikir…”
“All… dulu… dulu sekali, aku memang memiliki perasaan khusus dengan Kak Renno, Kami sempat pacaran, tapi itu dulu. Kami sudah berpisah secara baik-baik. Aku bahkan berdo’a supaya Kak Renno mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku. Sekarang dia sudah seperti kakakku sendiri meski aku tau Kami tak akan sedekat dulu.” Jelas Nessa.
“Kamu wanita yang baik Ness..”
Nessa lalu tersenyum. “Kamu juga wanita yang baik, Aku yakin Kak Renno akan bahagia bersamamu.”
“Emmm… tapi hubungan kami tak seperti itu.”
“Tak seperti itu bagaimana maksudmu..?”
“Kami tak saling cinta.”
“Tak saling Cinta..?? astaga.. kamu bisa membohongi semua orang tapi kamu nggak bisa membohongi diri kamu sendiri All.. Aku tau, jauh dalam lubuk hati kamu yang paling dalam kamu memiliki Rasa itu terhadap Kak Renno, hanya saja kamu lebih memilih menyembunyikannya.”
“Aku hanya terlalu takut untuk mengugkapkannya Ness.. Aku tau siapa aku dan siapa Dia.”
“Aku tau apa yang kamu rasakan, tapi aku yakin Kak Renno juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu.”
Alleapun terdiam mendengar setiap kata demi kata kalimat yang diucapkan Nessa. Benarkah jika Renno memiliki rasa yang sama terhadapnya…??
***
“Kerja disini..? Apa maksud kamu dengan kerja disini..?” Tanya Renno setengah kesal saat tau jika Tannia akan bekerja di kantornya.
“Aku menjadi asisten pribadi Kak Robby.” Lagi-lagi Tannia menjawab dengan santainya.
“Sialan Si Robby.” Umpat Renno sambil bergegas pergi diikuti dengan Ramma dan Tannia di belakangnya.
Ternyata Renno pergi keruangan Robby. Renno membuka pintu ruangan Robby dengan kasar dan mendapati Robby yang duduk di dalam ruangannya dengan ekspresi seriusnya.
“Apa maksud Lo nyuruh Tannia kerja disini..?” Tanya Renno yang benar-benar sudah terlihat menyeramkan karena marah.
“Dia kerja sama Gue.” Robby menjawab dengan entengnya.
Renno mendekati Robby tepat dihadapannya. “Tapi kenapa harus disini, keapa harus di kantor ini, Lo bisa menempatkan dia dicabang lain.” Kata Renno yang masih dengan ekspresi menyala-nyalanya. Ramma yang melihat Renno meledak-ledak seperti itu sempat ingin menengahi tapi diurungkannya niatnya, sedangkan Tannia hanya melihat kejadian itu dengan Ekspresi tak terbacanya.
“Kenapa Renn.. Kenapa Lo terlihat khawatir saat Tannia kerja disini..? Lo nggak mungkin takut kejadian dulu terulang lagi kan..?? Lo nggak mungkin takut tergoda oleh Tannia lagi kan..?” Tanya Robby dengan ekspresi tenangnya.
“Brengsek Lo..!!” Umpat Renno terhadap Robby, lalu Rennopun pergi. Tapi ketika melewati Tannia Renno merasakan lengannya dicekal oleh Seseorang.
“Kak, Aku tau Kak Renno masih memiliki perasaan itu, Aku nggak akan nyerah untuk Kak Renno, aku nggak perduli dengan hubungan darah sialan ini, Dan aku akan mendapatkan Kak Renno kembali.” Kata Tannia kemudian.
Rennopun menatap Tannia dengan tersenyum. “Kamu salah. Aku sudah menghilangkan perasaan itu sejak lama, Jauh sebelum kedatangan Allea. Dan betapa kerasnya kamu berusaha, perasaanku tak akan berubah. Aku sudah menemukan Rumahku, Rumah sebagai tujuanku untuk pulang, Dan Itu bukan Kamu, Tapi Allea.” Kata Renno dengan tegas sambil melepas paksa cekalan tangan Tannia.
Rennopun pergi diikuti Ramma di belakangnya meninggalkan Tannia yang lemas karena pernyataan Renno tersebut dan juga Robby yang sedikit ternganga karena pengakuan Renno tersebut.

 

___TBC___

Emm,,, untuk Next Chapter akan ada kilasan-kilasan hubungan Renno dan Tannia jadi lagi-lagi aku meminta untuk sabar menunggu yaa…

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 9

Comments 18 Standard

BiyCover3Because It’s You

NB: haii.. udah pada lupa yaa ama cerita ini karena saking lamanya nggak ku post.. hehehehhe mian yaa.. kemaren sibuk tuhh ama My Wife yang alhamdulillah sekarang udah tamat… hehheh jad sekarang bisa konsen lanjutin BIY lagi nih… okk langsung aja yaaa…

 

Chapter 9
Allea masih saja menutup matanya merasakan kuas-kuas lembut itu menyentuh permukaan wajahnya. Saat ini dirinya tengah di dandani dengan cantiknya oleh Zoya di ruang pribadinya. Sedangkan Renno dan Ramma sendiri tak tau kemana perginya.
“Kamu cantik..” Kata Zoya masih dengan mempoles-poles wajah Allea.
“Terima kasih, kamu juga Cantik.” Balas Allea masih dengan memejamkan matanya.
Zoya lalu tersenyum. “Aku tidak bercanda.. lihatlah wajahmu di cermin, kamu cantik dan kamu berbeda daripada biasa-biasanya.”
Alleapun akhirnya membuka matanya dan menemukan sosok yang berbeda di hadapannya. Sosok yang amat-sangat cantik. Secantik inikah dirinya..?? Allea hampir saja mengusap pipinya jika Zoya tak menghentikannya.
“Tunggu.. Kamu mau apa..? nanti dandanannya akan berantakan.” Kata zoya sambil menahan tangan allea yang akan menyentuh pipinya sendiri.
“Maaf..” Kata Allea sambil tersenyum malu.
“Kamu cantik, dan baik, tak salah jika Renno mudah tergoda denganmu.” Kata Zoya sambil meraih sebuah gaun utuk Allea. “Ayoo sini, aku bantu memakai ini.” Kata Zoya kemudian.
“Aku bantu..? maksudnya..?” tanya allea tak mengerti.
Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku yang akan menggantikan bajumu, memangnya kamu bisa pakai ini sendiri,..?”
“Tapi..”
“Astaga… kita sama-sama perempuan, jadi kamu nggak usah pasang ekspresi seperti itu..” dan Alleapun sedikit menurut.
“Kupikir ini bukan makan malam resmi, jadi kamu nggak perlu pakai baju yang terlalu mewah. Baju ini terlihat sederhana namun tetap elegan untuk pemakainya.” Kata Zoya masih dengan memakaikan gaun itu untuk Allea.
“Terimakasih.. kamu baik sekali.”
Zoya tersenyum. “Sudah selesai..” kata Zoya sambil mengamati Tubuh Allea. “Perut dan dadamu semakin terlihat besar karena gaun ini..” Kata Zoya lagi-lagi dengan tersenyum.
“Apa itu bagus..? Emm.. aku tidak yakin untuk memakai baju ini.. apa tak ada yang lain..?” Tanya Allea kemudian.
“Tidak.. ini sangat cocok untukmu. Kamu terlihat Elegan dan seksi walau sudah berbadan dua.” Allea hanya bisa menunduk malu dengan perkataan Zoya. “Apa hamil itu menyenangkan..?” tanya Zoya tiba-tiba.
Allea langsung mendongak mendengar pertanyaan Zoya. “Emm aku senang aku bisa mengandung dia..” Kata Allea sambil mengelus perutnya.
Zoya tersenyum pahit. “Kamu calon ibu yang baik, dan aku yakin kamu juga akan jadi istri yang baik untuk Renno.” Kata Zoya kemudian.
“Emm… apa kamu nggak menikah dengan mas Ramma..?”Allea mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
“Menikah..?? Itu tak akan terjadi dengan kami, kami Enjoy dengan hidup seperti ini. Bahkan Ramma tak punya inisiatif untuk mengenalkanku kepada keluarganya.”
“Jika Mas Rama berniat, apa kamu….”
Zoya lalu tersenyum kearah Allea. “Percayalah… Ramma tak akan melakukan itu. Ayoo… mungkin Renno sudah lama menunggumu.” Kata Zoya sambil menarik tangan Allea.
Akhirnya Zoya mengajak Allea kembali keruang kerjanya, disana sudah ada Renno dan Ramma yang masih asyik bercakap-cakap.
“Heii.. dia sudah siap.” Kata Zoya sambil memperlihatkan Allea kepada Renno dan Ramma. Keduanyapun menoleh, dan menatap Allea dengan tatapan takjubnya masing-masing.
Renno langsung berdiri, mengamati setiap jengkal dari tubuh Allea.
Allea tampak Cantik deengan Make Up tipis dan Rambut di sanggul-sanggul Ala Zoya, Gaun sederhana berwarna kuning Gading itu sangat pas melekat pada tubuh Allea yang saat ini terlihat lebih berisi, membuat Renno menelan ludahnya dengan susah payah, Ingin sekali Renno mencumbunya saat ini juga hingga dia kehabisan nafas. Astaga.. apa yang sudah difikirkannya saat ini..?
Allea semakin menunduk malu ketika Renno yang sudah berada dihadapannya memandangnya tanpa sepatah katapun dan tanpa sekalipun berkedip. “Apa ini Aneh..?” tanya Allea kemudian.
“Sialan…!!! Kamu Cantik.. dan Seksi pastinya.” Ramma yang menjawab pertanyaan Allea dengan semangat. “Perutmu yang besar itu membuatku ingin mencicipimu.” Kata Ramma lagi tersenyum menggoda.
“Brengsek Lo Ramm..!!” Umpat Renno kemudian.
Ramma tertawa terbahak-bahak melihat Ekspresi kesal dari Renno. Sedangkan Zoya hanya tersenyum dan menggeleng-gelegkan kepalanya melihat tingkah Ramma yang yang seperti anak kecil.
“Lebih baik kalian segera pergi, sebelum jam makan malam terlewatkan.” Kata Zoya kemudian.
“Ok, Gue pergi dulu, Thanks untuk Semuanya…” Kata Renno kepada Zoya. Dan tanpa pikir panjang lagi di menggandeng tangan Allea dan mengajaknya keluar Tanpa peduli seruan Ramma yang mengejeknya.
***
Didalam Mobil….
Renno seakan-akan susah bernafas saat duduk di dekat Allea, Pandangannya seakan-akan tak ingin berpaling dari sosok yang menjelma sebagai bidadari di sebelahnya itu. Sedangkan Allea sendiri tak mengerti jika Renno sedari tadi sudah menahan diri untuk tak menyentuhnya. Dia merasa nyaman dengan penampilannya saat ini. Tapi tak bisa dipungkiri jika dirinya juga gugup karena akan bertemu dengan keluarga Renno.
“Apa kamu takut..?” tanya Renno kemudian. Allea hanya mengangguk. “Tenang aja, mereka Baik, mereka akan menerimamu.”
“Tapi… Kenapa Mas Renno tiba-tiba…”
“Aku pikir dia harus punya ayah yang sah.” Kata Renno memotong kalimat Allea sambil mengusap perut buncit Allea.
“Apa kita nggak terlalu cepat..?”
“Kamu mau nunggu sampai dia semakin besar..?” Renno bertanya balik.
“Emm.. Enggak juga.. Tapi..”
“Apa kamu punya pacar yang Nungguin kamu makanya kamu nggak mau kunikahi..?” tanya Renno kemudian.
“Eemm. Bukan seperti itu…”
“Kalo memang iya nggak apa-apa Kok, Toh kita nikah juga Cuma buat dia, setelah dia lahir kamu bisa minta cerai dan balik sama pacar kamu.”
‘Deggg…’
Pernyataan Renno entah mengapa membuat hati Allea nyeri. Allea hanya terdiam, matanya sudah berkaca-kaca. Kenapa seperti ini..? Dia tak ingin Renno menikahinya hanya karena alasan itu. Rennopun demikian, meski dia terlihat tenang saat mengucapkan kalimat tersebut tapi sebenarnya entah kenapa hatinya sedikit Sakit saat mengucapkan kalimat tersebut. Dia tak Ingin Allea pergi dari dirinya….
***
“Ayoo cepat selesaikan semuanya, Mereka akan segera datang.” Kata Wanita setengah baya yang sedang sibuk menata meja makan dengan aneka hidangan yang menggugah selera. Wanita itu adalah tante Ria, mama Renno. Renno tadi ternyata sudah menghubungi Mamanya memberitahukan jika dia akan pulang kerumah dengan seseorang.
“Duhh Mahh.. Emangnya Mas Renn pulang sama siapa sih..? Mama kok Sibuk sekali.” Tanya Shasha yang sudah duduk manis di meja makan sambil sesekali mencomot makanan di hadapannya.
“Hentikan itu Sha.. kamu akan mengotori taplak mejanya, sebentar lagi kan ada tamu.”
“Iyaa.. tamunya itu siapa..? Kenapa Mama repot begini Setelah Mas Renn telepon.”
“Yang jelas, tamu itu Calon menantu Mama..” Kata Mama Renno sambil tersenyum bahagia. “Astaga… mama masih nggak nyangka jika mama akan punya menantu.”
“Serius Ma.?? Jadi Mas Renn mau bawa pacarnya pulang..?” Shasha masih terlihat terkejut dan tak percaya.
“Iyaa… Mas mu sendiri tadi yang telepon katanya mau pulang ngenalin seseorang sama kita. Siapa lagi kalau bukan pacarnya.” Mama Renno masih tersenyum bahagia.
“Jangan Senang dulu, siapa tau itu bukan wanita baik-baik. Mama tau sendiri kan bagaimana pergaulan Renno dan teman-temannya.” Kata suara berat namun terdengar bijaksana dari seorang Lelaki yang tak lain adalah Oom Handoyo, Ayah Renno.
“Mau seperti apapun itu, Mama tetap akan menerimanya, karena dia sudah mampu membuat Anak Mama serius ingin menikahinya Pah…” Jawab Mama Renno.
Lalu tiba-tiba Bell pintu Rumah pun berbunyi, tanda jika tamu yang di tuunggu-tunggu sudah datang.
“Biar Mama saja yang buka pintunya.” Kata Mama Renno sambil bergegas pergi kearah pintu depan.
Mama Rennopun akhirnya membuka pintu, dan mendapati puteranya yang tampan berdiri dengan seorang wanita cantik di hadapannya.
“Hai Ma…” Sapa Renno dengan melemparkan sebuah senyuman. “Ini Allea, Calon menantu Mama.” Kata Renno tanpa Basa-basi lagi.
Allea sedikit terkejut dengan cara memperkenalkan Dirinya kepada Mama Renno, “Malam tante..” kata Allea sedikit gugup.
Sedangkan Mama Renno sedikit ternganga melihat Allea. Dipandangnya Allea dari ujung rambut sampai ujung Kaki tak terkecuali perut Allea yang sudah terlihat besar, membuat Allea semakin gugup.
“Kamu.. Kamu hamil..?” Tanya Mama Renno terlihat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Iya Ma.. sudah 5 bulan, dan itu anakku.” Kata Renno mendahului Allea untuk menjawab.
Tanpa di sangka-sangka mama Renno langsung memeluk Allea. “Astaga Sayang… Kenapa baru datang kesini..?” Allea sedikit terkejut dengan tanggapan Mama Renno tentang dirinya. Mama Renno lalu melepaskan pelukannya terhadap Allea dan mulai memukuli Lengan Renno. “Kamu juga ini Yaa.. Anak Nakal, Bisa-bisanya Hamilin anak orang tanpa menikahinya. Memangnya Mama pernah ngajarin kamu kayak gitu..?”
“Maaf Ma..”
“Ayoo sayang, Kita masuk. Kamu pasti lapar Dan capek.” Kata Mama Renno sambil menggandeng tangan Allea menggiringnya keruang Makan. Dan setelah sampai di ruang makan Allea di sambut dengan tatapan tak percaya dari Shasha.
“Mbak Allea..??” Shasha masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“Haii Nat..” Allea menyapa dengan sedikit menyunggingkan senyum Anehnya.
“Ini beneran Mbak Allea..?” tanya Shasha lagi yang masih tak percaya dan mendekat memandangi Allea dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Kalian saling kenal..?” tanya Mama Renno kepada keduanya.
“Tentu saja Ma… dia Mbak Allea, teman kerjaku di Cafe yang pernah aku ceritakan sama Mama.” Jawab Shasha Lagi. Ternyata dulu shasha pernah bercerita dengan mamanya waktu awal kerja di Cafe itu, jika Shasha memiliki Teman yang baik, Bahkan mas Robby terlihat menyukainya, tapi sayang hidup temannya itu menyedihkan, dia Hamil dan Ayah dari anaknya itu tak tau kemana perginya.
“Astaga.. jadi kamu wanita itu..?” kata Mama Renno dengan tatapan iba.
Allea hanya tersenyum walau sebenarnya tak mengerti apa yang dikatakan Shasha dan Mamanya.
“Sudah.. sudah… dibahas nanti saja. Sekarang Ayo makan. Papa sudah lapar.” Papa Renno yang sejak tadi tak bereaksipun akhirnya membuka suara.
Dan merekapun akhirnya makan bersama. Shasha masih saja memandangi Allea dan Renno yang duduk di seberangnya secara bergantian.
“Kamu kenapa sih Sha..? risih tau nggak kalo Kamu liatin kayak gitu.” Renno akhirnya membuka suara saat Shasha masih memandangi dirinya dan Allea secara bergantian.
“Hehhehe aku Cuma nggak nyangka Aja Mas..” kata Shasha sambil cekikikan. “Tapi aku sempat curiga kalau kalian ada hubungan saat Mas Renn njemput aku malam itu.” Lanjut Shasha lagi.
“Itu nggak seperti yang kamu fikir Sha..”
“Tapi Kalian cocok kok… Sumpah. Dan Mbak Allea malam ini cantik Banget, aku benar-benar nggak Menyangka Jika yang akan jadi kakak iparku itu Mbak Allea..”
“Terimakasih.” Hanya itu yang dapat di katakan Allea.
“Ayoo.. makan yang banyak. Apa masakan Mama nggak enak..?” Tanya Mama Renno kemudian pada Allea.
“emm…. Masakan tante enak Kok..”
“Jangan panggil tante, panggil Mama dong..” pinta Mama Renno.
“Ehh iyaa Ma..” Allea sedikit kurang nyaman dengan paggilan itu.
“Dia nggak bisa makan banyak Ma.. Sedikit-sedikit tapi sering.” Renno akhirnya menjawab.
“Jadi.. kapan Kalian akan menikah..?” Tanya Papa Renno kemudian.
“Secepatnya.” Renno menjawab dengan pasti.
“Bagaimana dengan orang tuanya..?” Lagi-lagi Papa Renno bertanya. Dan Renno terkejut dengan pertanyaan tersebut. Selama ini Renno tak tau apa-apa dengan kehidupan Allea, tak tau siapa dan dimana orang tuanya. Renno bahkan menyadari jika dirinya terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri sehingga melupakan keadaan Allea.
“Saya tidak punya orang tua, Saya besar di sebuah panti Asuhan. Ibu panti sudah seperti ibu kandung saya sendiri.” Jawab Allea jujur membuat semuanya ternganga termasuk dengan Renno. Renno tak percaya jika Allea dengan tenang menceritakan asal-usulnya tersebut.
Mama Rennopun langsung bergegas kearah allea daaan memeluknya. “ohh sayang… Kamu sudah mengalami masa-masa berat itu, Mama Janji kamu nggak akan ngalami itu lagi disini nanti.” Ada perasan bahagia yang membuncah di hati Allea saat mendengar pernyataan hangat dari orang yang sedang memeluknya kini. Mama Renno ternyata menerimanya dengan apa adanya.
“Baiklah, berarti sudah tak ada lagi yang keberatan dengan pernikahan kalian nantinya.” Kata Papa Renno kemudian.
“Jadi Papa merestui kami..?” Renno bertanya dengan antusias.
“Papa merestui siapapun pilihan Kamu, asal itu bukan Tannia.” Jawab Papa Renno yang lalu membuat Renno kaku seketika.
“Papa Nggak perlu lagi membahas tentang Tannia disini.” Kata Mama Renno kemudian.
“Robby mana Ma..?” Renno akhirnya mengalihkan topik pembicaraan, dia tak ingin membahas lebih bayak lagi tentang mantannya seperti Tannia ataupun Nessa.
“Dua minggu yang lalu Robby dan tante Mia pindah dari sini. Mereka sudah menemukan Rumah baru. Meskipun Tannia belum bisa kembali ke jakarta, Tapi Tante Mia Dan Robby bersikeras tinggal berdua, mereka tak mau selalu menyusahkan kita.” Jawab mama Renno panjang lebar.
Dan Rennopun hanya terdiam tak menanggapi jawaban Mamanya tersebut karena mendengar nama itu disebut lagi. Selalu seperti ini ketika mereka kumpul bersama pasti selalu ada nama itu disebut lagi. Itu yang membuat Renno kadang enggan pulang kerumah. Mendengar nama itu seakan-akan membuka luka Lama di hatinya, meski Renno sendiri tak yakin apa sampai saat ini masih ada perasaan itu atau tidak, apa perasaan itu tertutup oleh perasaannya kepada Nessa atau tidak, tapi kenyataannya ada Rasa sakit dan canggung Saat Renno mendengar nama itu di sebut.
***
“Kamu harus jaga dia baik-baik Renn… Mama tau dia wanita yang baik.. Mama nggak mau kamu kehilangan dia.” Kata Mama Renno kepada puteranya yang kini sedang duduk di sebelahnya. Keduanya kini berada di ruangan Santai sambil melihat Allea yang membantu para pelayan rumah membersihkan Dapur. Sebenarnya tadi Mama Renno melarang tapi Allea tetap bersikeras mmbantu dengan alasan Wanita hamil harus banyak gerak.
“Hubungan Kami tak seperti yang Mama Kira.” Jawab Renno Lirih.
“Apa maksud Kamu Renn..?? Kalian Akan menikah dan kamu akan jadi Ayah, apa yang kamu maksud dengan perkataanmu itu..?” mama Renno sedikit terkejut dengan pernyataan Renno.
“Ini sedikit Rumit Mah… Dia Hamil karena kesalahan, dan aku hanya mencoba bertanggung jawab..”
“Jadi ini hanya bentuk tanggung Jawab kamu..?”
“Yaa… “ Jawab Renno dengan menghela nafas panjang. “Mungkin dia punya kekasih yang dicintainya, jadi aku nggak mungkin nahan dia Mah..”
“Apa yang kamu maksud itu Robby..?”
Kali ini Renno yang terkejut dengan pernyataan Mamanya. “Dari mana Mama Tau tentang Allea dan Robby..??”
“Shasha pernah bercerita sama Mama, kalau dia punya teman dan Robby sangat menyukainya, begitupun temannya itu juga terlihat suka dengan Robby, tapi temannya itu sedang hamil dengan lelaki lain, dan mama baru tau jika Teman Shasha itu adalah Allea.” Jelas Mamanya panjang lebar dan itu membuat Renno sedikit terdiam.
Ternyata selama ini Allea memang benar-benar ada hubungan dengan Robby. Lalu kenapa malam itu Allea mau disentuh olehnya..?? Dan kenapa juga dirinya mempermasalahkan hubungan Allea dengan Lelaki lain, itu kan Hak Allea mencintai siapapun.
“Renn… Mama suka sama Allea, Mama harap ini bukan sekedar tanggung jawab darimu, Mama harap Allea adalah jodoh yang diberikan tuhan untukmu..”
“Tapi kita tak saling mencintai Mah..”
“Kamu ingat ada pepatah jawa bilang ‘Witing Tresno jalaran Soko Kulino’..?? ‘Cinta itu datang karena terbiasa’ Renn… Belajarlah Mencintai seseorang yang ada di sekitarmu sebelum dia pergi dan membuatmu menyesal.”
Renno hanya terdiam meresapi kata-demi kata dari Mamanya. Sepertinya mamanya ada benarnya juga. Tak ada salahnya jika ia mulai belajar mencintai Allea. Perasaannya dulu terhadap Tannia-Cinta pertamanya sekaligus sepupu kandungnya- adalah perasaan tertarik dan bertumbuh menjadi Cinta. Pun Dengan Nessa, Perasaannya juga sama, tertarik pada pandangan pertama lalu bertumbuh jadi Cinta. Mungkinkah dengan Allea juga bisa..??? perasaan yang pertama hanya karena tanggung jawab dan rasa kasihan apa akan bertumbuh jadi Cinta..?? Ahh mungkin saja cinta itu sudah tumbuh tanpa sepengetahuan Renno sendiri..
Rennopun merenung sendiri setelah ditinggalkan oleh Mamanya. Tanpa sadar kakinya sudah mendekati Allea yang sedang membantu para pelayan Rumahnya mencuci piring. Pelayan-pelayan itupun langsung pergi ketika melihat kedatangan Renno.
“Kamu nggak Capek.?” Tanya Renno kemudian.
“Enggak.. aku biasa lakuin ini Kok.”
“Nanti jangan di biasakan, Kamu Nyonya di rumah ini.”
“Apa Nyonya rumah nggak boleh mencuci piring..?” Tanya Allea dengan sedikit tersenyum.
“Bukan Nggak Boleh, tapi nggak pantes.” Jawab Renno lagi. Lalu Renno mulai menyingsingkan Kemejanya. “Sini aku bantuin.”
“Nggak perlu mas, ini sudah mau selesai.”
“Nggak apa-apa, Sini Aku bantu..”
Dan alleapun mengalah dengan Renno yang keras kepala tak mau mengalah.

 

****

 

“Ini Kamarku.” Kata Renno saat membuka sebuah pintu Ruangan di lantai dua rumahnya.
Allea memandangi kamar itu dengan seksama. Kamar yang amat-sangat Luas. Mungkin seluas seluruh isi Apartemen Ramma yang di pinjam Renno. Ada beberapa ruangan di dalam kamar tersebut. Ada ruang Kerja, Ruang pakaian, dan ada beberapa lagi. “Ini sangat Luas.” Gumam Allea masih dengan melihat-lihat isi dari Kamar Renno.
“Begitupun dengan Kamar Shasha.”
“Jadi Kamar Shasha juga seluas ini..??”
“Iyaa..”
“Kalian benar-benar orang yang sangat beruntung.” Kata Allea kemudian.
Renno lalu mendekati Allea tepat di belakang Allea, Renno lalu memeluk Allea dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan Allea membuat Allea sedikit terkejut dengan tingkah laku Renno.
“Mas..”
“Sebentar.. saja..” Kata Renno kemudian.
“Ada masalah..?” Tanya Allea sedikit Khawatir.
“Enggak.. Aku Cuma Kangen sama Kamu.”
‘Degggggg’
Jawaban Renno membuat jantung Allea kembali berdetak tak menentu. Ada apa dengan Lelaki ini..?? “Emm.. Aku pikir orang tua kamu tadi nggak setuju. Tapi aku bisa mengerti.”
“Mereka sangat mendukungku.” Jawab Renno yang masih memeluk Allea dari belakang. Renno lalu melepaskan Pelukannya dan membalik tubuh Allea hingga menghadap kearahnya. Renno mengusap pipi Allea dengan ibu jarinya. “Kamu Cantik.” Kata Renno kemudian.
Mendengar pujian itu Pipi Allea langsung memerah, malu dan gugup Allea lalu menundukkan kepalanya. Tapi Renno mengangkat Dagu Allea hingga Allea kembali mendongak dan tepat menatap Wajah Renno. Renno semakin mendekatkan Wajahnya hingga Ciuman itupun tak terelakkan lagi.
Ciuman yang sangat lembut seperti Ciuman renno biasanya yang mampu membuat Allea terbuai seakan-akan terbang di awan.. lama mereka saling memangut satu sama lain, bahkan suara decapan ciuman itu berbaur menjadi satu diantara Desahan keduanya. Keduanya sama-sama terbakar dan terpancing gairahnya hingga..
“Mbak.. ayoo tidur…” Suara Shasha mengagetkan keduanya. Shasha yang berniat mengajak Allea tidur dikamarnyapun hanya ternganga mendapati keduanya yang saling Bercumbu mesrah.
Sedangkan Renno dan Allea sontak melepaskan Ciumannya dan saling menjauh membenarkan dandanan masing-masing. Membuat keduanya sama-sama canggung. Sialan..!!! Mau Apa shasha kemari..? Mengganggu saja. Pikir Renno kemudian.
“Ada perlu apa Kamu kemari..?” Tanya Renno kemudian.
“Emmm.. Astaga.. apa Aku mengganggu kalian..?? maaf aku nggak sengaja..” Kata Shasha dengan sedikit tersenyum malu.
“Lain kali ketuk pintunya dulu.” Gerutu Renno sedikit kesal.
“Hehhee Maaf Mas…” jawab Shasha dengan Cengingisan. “Mbak.. Ayoo kekamarku, Aku ingin Cerita dan aku butuh penjelasan Mbak Allea.” Kata Shasha sambil menghampiri Allea dan menarik lengan Allea.
“Kamu mau ngajak dia kemana..? Dia harus istirahat.”
“Mbak Allea tidur sama Aku mas..”
“Apa..??”
“Mama yang Nyuruh Weewwwkk..” Jawab Shasha Sambil menjulurkan lidahnya.
“Dasar Gadis Manja..”
“Biarin..” lagi-lagi Shasha menjulurkan lidahnya sambil berlari pergi dengan menyeret Allea meninggalkan Renno yang sedikit kesal dengan tingkah laku Adeknya tersebut.

***

“Bangunn.. Ayoo bangun..” Samar-samar Alleaa mendengar suara berat tepat di telinganya, bahkan Allea merasakan sesuatu yang basah menyentuh tengkuk leher dan pundaknya membuat Allea sedikit merinding. Ini seperti sebuah cumbuan, Sebuah Cumbuan..?? siapa yang mencumbunya..? bukankah saat ini dirinya sedang tidur di kamar Shasha..? Allea sontak membuka matanya dan Mendapati Renno yang sudah Tampan berada di hadapannya.
“Lohh.. mas Renno, Aku kok ada disini..?” Tanya Allea bingung sambil angun dan mengucek-ucek matanya. Tadi malam dia sangat ingat dengan jelas jika dirinya tidur dikamar Shasha.
“Aku yang menggendongmu kemari. Kamu pikir aku bisa tidur tanpa mengusap-usap anakku..?” Renno mencoba memberikan Alasaan seadanya. Sebenarnya dia berbohong. Renno hanya tak bisa tidur jika tak memeluk dan sesekali mengecup tubuh Allea. Renno juga bingung apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya hingga bisa begitu menginginkan Allea. Yang Renno tau adalah bahwa Kini dirinya sudah semakin Gila karena Allea. “Ya sudah, sekarang pakai itu, dan ayoo temani aku lari pagi..” lanjut Renno lagi.
“Lari pagi..?”
“Iyaa lari pagi sambil mengelilingi Mansion ini kamu nggak mau..?”
“Kalau aku kecape’an nanti gimana..?”
“Aku yang gendong.” Kata Renno cuek sambil menuju kearah kamar mandi. Meski dikatakan dengan nada cuek tapi entah kenapa itu membuat tubuh Allea terasa panas dingin.
***
“Waahh… ini benar-benar indah dan Luas.” Allea yang menemani Renno olahraga pagi sambil mengelilingi Mansionnya. Allea benar-benar kagum dengan halaman belakang Mansion Renno. Luass.. dan amat sangat luas. Bahkan terdapat taman dan jalan setapak seperti yang mereka lewati saat ini.
“Ini sangat mirip dengan punya Dhanni.” Kata Renno sambil berjalan mundur tepat dihadapan Allea.
“Mas Dhanni..?”
“Iyaa Dhanni temanku yang waktu itu pernah bertemu dengan kita. Dia memiliki Mansion yang sama persis dengan ini. Tapi bodohnya dia malah lebih memilih tinggal di Apartemen biasa.”
“Mas Renno juga tinggal di Apartemen.”
“Karena Aku belum punya istri dan Anak. Nanti setelah menikah Kita akan tinggal disini.” Dan mendengar pernyataan Renno tersebut tubuh Allea seakan-akan merinding. Benarkah Renno serius dengan pernikahannya nanti..??
“Kenapa harus disini..?”
“Karena semua petuahku Lahir dan besar disini, Begitupun keturunanku, Dia akan Lahir dan besar disini nantinya.”
Allea hanya terseyum miris mendengar pernyataan Renno. ‘Lahir dan besar disini’. Anaknya mungkin akan lahir disini, tapi Allea tak yakin jika Anaknya akan besar disini juga. Bukankah Renno menikahinya hanya karena tanggung Jawab..? Bahkan Renno sudah membicarakan perceraian tadi malam. Allea cukup tau diri, Renno tak akan mungkin mau mengikatkan diri selamanya kepada Wanita seperti dirinya. Ini hanya sebuah tanggung jawab.
“Ayoo kita kembali, kamu pasti sudah lapar. Aku juga sudah lapar, tapi sayang sekali pagi ini nggak ada nasi goreng buatan kamu.” Kata Renno masih dengan berjalan mundur sambil sedikit menggoda Allea.
“Kalo Mas Renno mau aku bisa membuatkannnya setelah ini.”
“Nggak usah, nanti kamu kecapekan.”
Allea tak lagi menjawab pernyataan Renno karena dirinya terlalu sibuk melihat sosok yang berdiri dihadapannya tepat di belakang Renno. Sesosok wanita yang amat-sangat cantik. Allea mengehentikan langkahnya, begitupun dengan Renno.
Renno memandang Allea dengan tatapan tanda tanya. “Kamu Kenapa..?” Tanya Renno yang melihat Allea ternganga memandangi sesuatu di belakangnya. Dan itu membuat Renno membalikkan badannya dan melihat apa yang sedang membuat Allea ternganga.
Sosok itu… Sosok yang sudah bertahun-tahun tak ditemuinya..
“Haii Kak… Lama nggak ketemu..” Sapa wanita tersebut yang tanpa aba-aba langsung memeluk Renno yang masih kaku dan ternganga karena kehadirannya.
“Tannia…..” Tanpa sadar Renno menyebutkan nama itu.. Nama yang sudah terdengar tabu di telinganya.. Nama yang sudah Renno kubur dalam-dalam bersama dengan pemilik nama tersebut.

__TBC__

 

Ehhh bersambung lagii… jiaahahahha kayak sinetron aja nihhh… hehhehehehe kayaknya udah mulai muncul Cast baru nihh… haduhh gimana kelanjutan hubungan Allea ama Renno yaaa…. Apa Tannia berpengaruh nantinya..??? Ayoo tunggu aja laggi yaa,,, semoga chapter selanjutnya bisa segera di post..