Baby, oh Baby!- Chapter 9 (Berkompromi)

Comments 2 Standard

 

Chapter 9

-Berkompromi-

 

“Tidak!” Rosaline berseru keras. “Aku tidak bisa menerimamu kembali.” Jawabnya dengan ketus sembari memakan kembali steaknya. Rose berusaha bersikap seketus mungkin dan senormal mungkin, meski kini sebenarnya jantungnya tak berhenti berdebar cepat karena perkataan dari Dimitri tadi.

“Aku tahu, ini sulit untukmu.”

“Ya, sangat sulit.”

“Setidaknya, berceritalah padaku tentang apa yang terjadi saat itu. kenapa kau tiba-tiba pergi dari rumah. Mungkin setelah itu aku bisa lebih mengerti.”

“Jadi kau masih belum mengerti juga, ya? Baiklah, aku akan memberitahumu secara singkat. Karena aku tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang kau manfaatkan.”

“Apa maksudmu, Rose?”

Rosaline menatap Dimitri sekletika. “Jadi, Kate tidak bercerita padamu?” Rosaline tertawa lebar. “Seharusnya kau tidak perlu repot-repot memintaku kembali, kau bisa membayar perempuan manapun untuk mengandung calon penerusmu. Lalu mendepaknya keluar dari istanamu, dan setelah itu kau bisa hidup bahagia, sejahtera bersama adik tercintamu itu.”

“Cukup. Kau terdengar berputar-putar.”

“Kau hanya memanfaatkan kebodohanku, aku tahu itu yang kau lakukan padaku Empat tahun yang lalu.”

“Aku tidak pernah memanfaatkanmu, Rose.”

“Ya! Mana mungkin orang sepertimu bisa jatuh cinta padaku dengan begitu mudah? Itu tidak masuk akal!”

“Karena cinta memang tidak masuk akal, Rose.” Dimitri berkata dengan tenang tapi penuh penekanan.

“Ya, seperti kau jatuh cinta pada adikmu sendiri, bukan?”

“Kau sudah berkata terlalu banyak, kau tidak tahu apa yang kurasakan, dan apa yang sudah terjadi.”

Rosaline berdiri seketika. “Yang kutahu kau memiliki kecenderungan mencintai adikmu sendiri! Dan meski aku tahu seperti itu, dengan bodohnya aku tetap jatuh cinta padamu!”

“Siapa yang berkata seperti itu?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Kau tidak bisa menilai orang hanya dengan persepsimu sendiri.”

“Itu bukan persepsiku, itu kenyataan!”

“Kenyataannya aku jatuh cinta padamu, bukan dengan adikku.” Dimitri masih menjawab pernyataan Rosaline dengan nada tenang, tanpa emosi.

Bohong, jika saat ini Rosaline tidak merasakan tubuhnya bergetar, ia merasa salah tingkah dengan ucapan Dimitri tersebut, padahal ia tahu jika mungkin saja itu hanya rayuan dari Dimitri supaya ia bisa kembali luluh.

“Aku akan berpura-pura untuk tidak mendengar ucapanmu yang menggelikan itu.”

“Kau mendengarnya. Aku mencintaimu.”

Rosaline tersenyum mengejek. “Katakan itu pada dirimu sendiri.” Lalu ia bangkit dan segera pergi meninggalkan Dimitri masuk ke dalam kamarnya.

“Aku tidur di sini, malam ini.” Ucap Dimitri masih dengan tenang.

“Terserah.” Rosaline menjawab dengan ketus tanpa membalikkan tubuhnya untuk menatap kembali ke arah Dimitri.

Dimitri menghela napas panjang. “Keras kepala.” Gerutunya sembari menatap kepergian Rosaline.

***

Malamnya, Rosaline tidur dengan gelisah. Sama seperti malam sebelumnya. Tiba-tiba saja ia merasa kepanasan. Ya, Rosaline tahu, mungkin ini salah satu efek dari kehamilannya. Tapi tetap saja, hal ini sangat menyiksanya. Apalagi kenyataan jika sejak tadi ia berpikir bahwa Dimitri ada di ruang tengah flat rumahnya.

Sedang apakah lelaki itu? Apa sedang tidur? Menonton Tv mungkin? Atau sedang apa? Dan pakaiannya? Apa dia telanjang seperti dulu saat tidur bersamanya? Atau tetap mengenakan kemejanya?

Rosaline menenggelamkan wajahnya pada bantal. Astaga Rose, apa yang sudah kau pikirkan? Jeritnya dalam hati.

Rosaline terduduk seketika. Ia sadar jika dirinya semakin merasa panas, tengorokannya kering, dan tubuhnya entah kenapa tiba-tiba ingin menggeliat dengan sendirinya.

Tuhan!

Cukup dengan siksaan ini!

Rosaline bangkit seketika. Ia memilih segera keluar dari kamarnya, menuju ke arah dapur rumahnya. Berharap jika ia bisa meminum segelas air dingin dan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan diri.

Tapi saat Rosaline selesai meminum air dinginnya, ia merasakan sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang.  Lengan kekar yang dulu selalu ia rasakan. Ya, milik siapa lagi jika bukan Dimitri.

Bukannya menolak, Rose malah menikmati sentuhan dari Dimitri, sentuhan yang ia rindukan. Rosaline memejamkan matanya, ia bahkan merasakan sebuah ketegangan yang berasal dari tubuh Dimitri yang menempel pada tubuh bagian belakangnya.

Ya, lelaki itu bergairah, dan Rosalinepun merasakan gairah yang sama dengan lelaki tersebut. Entah karena hormonnya, atau memang karena sentuhan lembut lelaki itu pada tubuhnya.

“Kau, belum tidur?” Dimitri berbisik serak.

“Kau juga.” Secara spontan Rosaline mengucapkan kalimat tersebut. Astaga, apa yang sedang terjadi dengannya?

“Ya, aku tidak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Memikirkanmu.” Dimitri menjawab dengan jujur. Dan itu benar-benar membuat Rosaline semakin tergoda.

Dimitri menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada pundak Rosaline, menghantarkan gelenyar panas pada diri Rosaline. Rosaline memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan dengan rasa yang sedang menghantam dirinya. Bibir Diitri menyapu leher Rosaline, lidahnya yang basah menggoda di sana hingga mau tidak mau Rosaline mengerang secara spontan dengan sentuhan lelaki tersebut.

“Dimitri.” Pangilnya dengan suara serak.

“Heeemmm”

“Apa yang kau lakukan?” tanya Rosaline dengan sedikit terpatah-patah.

“Menggodamu.”

“Untuk apa?”

“Aku menginginkanmu, Rose.” Ucapnya dengan suara parau dan Rosaline semakin tak dapat menahan dirinya.

Dimitri meraih jemari Rosaline lalu membawanya pada bukti gairahnya yang sudah menegang. Rose mengerang saat merasakannya, sangat bergairah, dan Rose tahu jika dirinya juga begitu bergairah malam ini. Apa yang harus ia lakukan?

Tanpa di duga, Dimitri menghentikan aksinya, lalu segera mengangkat tubuh Rosaline, hingga Rosaline memekik seketika.

“Apa yang kau lakukan?”

“Menyelesaikan semuanya.” Jawab Dimitri sembari menggendong tubuh Rosaline masuk ke dalam kamar.

Rosaline tidak menolak, karena ia tahu bahwa dirinya sendiri kewalahan dengan gairah yang tak dapat ia bendung. Tubuh telanjang Dimitri semakin memperparah keadaan, apalagi bukti gairah lelaki itu benar-benar membuat Rosaline sesat dengan apa yang sedang ia rasakan.

Ia menginginkan Dimitri, ya, ingin lelaki itu berada di dalamnya saat ini juga.

***

Di dalam kamar, setelah melucuti pakaian Rosaline dan pakaiannya senidri, Dimitri menatap intens tubuh Rosaline yang sudah polos. Wanita itu terbaring di atas ranjang, tampak sempurna dengan tubuh berisinya. Perutnya sedikit membuncit, tempat dimana bayi mereka berlindung, dan Dimitri ragu saat akan melakukan penyatuan dengan tubuh Rosaline.

“Apa yang kau tunggu?” tanya Rosaline yang sudah tampak tidak sabar dengan permainan yang akan diberikan oleh Dimitri.

“Aku…” Dimitri sedikit ragu. “Tidak, kupikir, kau ingin aku lebih lama lagi melakukan pemanasa.”

“Tidak! Cukup! Sekarang kemarilah dan buat aku berteriak.”

“Kau benar-benar menginginkanku, Rose?” Dimitri bertanya dengan nada menggoda.

“Berterimakasihlah pada hormon sialanku.” Meski kesal, tapi Rosaline tidak bisa berbuat banyak. Ia benar-benar membutuhkan Dimitri saat ini, ia tidak bisa menundanya lagi. Gairahnya benar-benar sudah memuncak. Ia ingin dipuaskan malam ini juga.

“Well, terimakasih.” Setelah ucapan singkatnya itu, Dimitri segera memposisikan diri untuk menindih Rosaline. “Apa kau baik-baik saja saat aku menindihmu.”

“Tentu saja, perutku tidak akan meletus hanya karena kau menindihku.”

Dimitri sedikit tersenyum mendengar ucapan Rosaline, “Kau, sekarang lebih banyak bicara.”

“Ya, dan kau sekarang suka menggoda.” Rosaline tak lagi melanjutkan kata-katanya karena Dimitri segera menundukkan kepalanya dan menggapai bibirnya.

Dimitri menciumnya, melumatnya, mencumbunya dengan cumbuan panas. Ya, lelaki itu memang sangat pandai berciuman, bahkan Rosaline masih ingat dengan jelas bagaimana panasnya hubungan ranjang mereka Empat tahun yang lalu, ketika gelora cinta masih ia rasakan. Kini, saat ia melakukannya hanya sebatas ingin mendapatkan pelepasan, nyatanya, tak mengurangi suasana panas diantara mereka.

Dimitri menyiapkan diri untuk menyatu dengan tubuh Rosaline, dan ketika tubuh mereka menyatu sepenuhnya, yang dapat Rosaline lakukan hanya mengerang panjang ketika ia merasakan tubuh Dimitri terasa penuh mengisinya.

“Kau, kau..”

“Apa?” tanya Dimitri dengan tenang tapi penuh penekanan.

“Astaga… kita melakukannya lagi? Oh, aku benar-benar gila.”

“Bukan hanya kau, aku juga.”

“Bergeraklah, kumohon.”

Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya, lalu menundukkan wajahnya kembali untuk meraih bibir Rosaline. “Kau adalah milikku, Rose, dan akan selalu menjadi milikku.” Ucapnya dalam bahasa Rusia sebelum ia menautkan bibirnya kembali dengan bibir Rosaline.

Sedangkan Rosaline sendiri, ia tidak mengerti dan ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Dimitri. Yang terpenting baginya saat ini adalah gairah sialan yang seakan membakar tubuhnya. Ya, ia membutuhkan Dimitri untuk memadamkan gairahnya, ia membutuhkan lelaki itu untuk mendinginkan rasa panas yang seakan membakar tubuhnya. Tidak salah, bukan, jika ia hanya memanfaatkan kehadiran lelaki itu seperti apa yang diusulkan Ana?

***

Keesokan harinya…

Rosaline terbangun dan mendapati tirai jendela kamarnya sudah setengah terbuka. Matanya menelusuri ke segala penjuru ruangan, dan ia mendapati Dimitri yang sudah tampan duduk di sebuah kursi di ujung ruangan.

Sangat tidak adil! Kenapa lelaki itu selalu tampak tampan dimanapun dan kapanpun dia berada? Sedangkan dirinya? Astaga… Rosaline menggerutu kesal dalam hati sembari menatap dirinya sendiri yang masih telanjang dan berantakan di bawah selimut yang menyelimuti tubuhnya.

“Kau, belum pergi?” tanya Rosaline dengan nada yang kembali di buat ketus seperti tadi malam. Ya, setidaknya ia ingin Dimitri sudah pergi saat ia membuka mata, karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat lelaki itu masih berada di sekitarnya saat ini.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja setelah tadi malam-”

“Cukup. Jangan membahas tentang tadi malam.” Rosaline memotong kalimat Dimitri.

“Kenapa, Rose? Mau dipungkiri seperti apapun juga, tadi malam termasuk dalam salah satu malam terpanas yang pernah kita lalui bersama.”

“Kau tahu, aku hanya melakukannya karena hormon sialanku.”

“Aku tidak peduli. Yang terpenting, kita kembali menyatu.”

Rosaline mendengus sebal. “Sebenarnya, apa yang kau inginkan? Kau ingin meniduriku? Kau seudah mendapatkannya, sekarang pergilah.”

“Bukan hanya menidurimu, aku ingin kau kembali, Rose.”

“Tidak! Kau tahu bahwa jawabannya selalu Tidak!”

Dimitri berdiri, dan berjalan menuju ke arah Rosaline. Ia duduk di pinggiran ranjang dan berkata “Kalau begitu, mari kita berkompromi, demi bayi kita.”

“Apa yang akan kau tawarkan padaku?”

“Aku memiliki apartemen di tengah kota, tak jauh dari pet shopmu. Tinggalah di sana, bersamaku.”

“Tidak, aku lebih suka tinggal sendiri di sini.”

“Kalau begitu, jangan menolak ketika aku mengunjungimu.”

“Tergantung seberapa sering kau mengunjungiku.”

“Setiap hari.”

“Tidak! Kau gila? Aku cukup stress saat kau berada di sekitarku.”

“Tapi semalam kau menikmatinya.”

“Ya, itu hanya seks. Aku menikmati hubungan ranjang kita karena hormonku, bukan berarti aku senang kau selalu berada di sekitarku.”

“Lalu, apa yang kau mau?”

Rosaline berpikir sebentar. “Akhir pekan, kau boleh mengunjungiku sat akhir pekan saja.”

“Kau yakin hanya itu?”

“Ya, dan, uum, mungkin saat aku membutuhkanmu.”

Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya. “Hubungi aku saat kau membutuhkanku. Aku akan datang.”

“Benarkah? Kupikir yang paling penting untukmu adalah pekerjaanmu dan juga-”

“Cukup, Rose.” Dimitri memotong kalimat Rosaline. “Aku tahu di masa lalu aku salah. Karena itu aku ingin menebus semua kesalahanku. Dan kumohon, jangan lagi mengungkitnya. Kita sudah berkompromi, yang artinya kau mau mencoba hubungan ini denganku. Lupakan semua yang terjadi di Rusia.”

“Aku mau berkompromi bukan berarti aku akan melupakannya. Aku masih membencimu.”

“Ya, aku memang pantas di benci.”

Rosaline menghela napas panjang. “Sudahlah, lebih baik kau pergi.”

Dimitri mengangguk sambil melirik jam tangannya. “Aku akan pergi.” Ia lalu melirik ke arah perut Rosaline yang tersembunyi di dalam selimut. Ada sebuah keinginan untuk menyentuhnya, tapi ia tahu, Rose tidak akan membiarkannya.

Dimitri memilih berdiri dan bersiap meningalkan Rosaline.

“Aku sudah membuatkanmu roti isi bacon panggang dengan saus keju. Kupikir kau menyukainya.”

“Kau memasak untukku?”

Dimitri mengangguk. “Sedikit.”

“Baiklah, aku akan memakannya.”

“Hubungi aku, saat kau membutuhkan sesuatu.”

“Ya.” Rose menjawab pendek.

Dengan berat hati, Dimitri membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya meninggalkan Rosaline sendiri di dalam kamarnya. Ya, setidaknya ia tahu bahwa Rosaline sudah bersedia berkompromi dengannya, dan ia tahu bahwa ini adalah langkah besar untuk mendapatkan Rosaline kembali ke sisinya.

Sedangkan Rosaline, ia segera menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Astaga… apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa ia merasakan pipinya memanas hanya karena sadar jika Dimitri begitu perhatian padanya? Ya, dibandingkan Empat tahun yang lalu, Dimitri memang cukup berbeda, lelaki itu lebih perhatian padanya, dan lebih banyak mengalah. Apa Dimitri memiliki rencana lain dibalik itu semua? Ya, pasti lelaki itu memiliki rencana lain. Dan Rose tahu, jika ia harus lebih berhati-hati dan pandai mengontrol dirinya di hadapan Dimitri, agar ia tidak jatuh ke jurang yang sama seperti Empat tahun yang lalu.

 

-TBC-

Advertisements

Baby, Oh Baby! – Chapter 8 (Anak Daddy)

Comments 2 Standard

 

Chapter 8

-Anak Daddy-

 

“Ceritakan padaku, maka aku bisa mengerti apa yang kau rasakan.Aku bisa menerima kebencianmu jika kau mau mengungkapkan semuanya.Bukan malah kabur dengan surat sialan itu.”Dimitri berkata dengan lembut.Ia mendekat ke arah Rosaline, sedangkan Rosaline sendiri sudah mulai terpana dengan kelembutan Dimitri.

Jemari Dimitri kembali terulur meraih dagu Rosaline, mengangkatnya, sedangkan kakinya semakin mendekat hingga jarak diantara keduanya semakin dekat.

“Kau, masih secantik dulu, Rose.”Dimitri berbisik dalam bahasa Rusia. “Aku begitu rindu menyentuhmu.” Bisiknya lagi.

Rosaline tidak menjawab, ia kembali terpana dengan mata Hazel milik Dimitri. Begitu indah, begitu mempesona hingga ketika Dimitri mendekatkan wajahnya, yang dapat Rose lakukan hanya menutup matanya.

Dimitri mendaratkan bibirnya pada bibir Rosaline.Melumatnya dengan lembut, lidahnya menari dengan begitu indah hingga membuat Rosaline terbuai dalam cumbuan lelaki tersebut.

Jemari Dimitri yang lain menelusup masuk ke dalam baju yang dikenakan Rosaline, mendaratkannya pada perut Rose yang sudah membuncit tempat bayinya berlindung di sana. Ya, ini adalah pertama kalinya Dimitri menyentuhnya, padahal sudah sejak lama ia ingin mencurahkan kasih sayangnya pada calon bayi mereka, bahkan kepada Rosaline juga, tapi wanita itu yang selalu menolak kehadirannya.

Dimitri tak kuasa menahan diri saat Rosaline juga membalas cumbuannya.Jemarinya dengan spontan merayap ke atas, dan mendarat sempurna pada payudara ranum milik Rosaline.Dimitri menggodanya, hingga membuat Rosaline mengerang seketika dalam cumbuannya.

Ya, payudaranya memang sangat sensitif semasa hamil ini, bahkan tak jarang Rosaline hampir orgasme saat membersihkannya ketika mandi.Saat Rosaline mengingat itu, Rosaline seakan tersadarkan oleh sesuatu.

Matanya membuka seketika, dan ia begitu terkejut saat sadar jika bibirnya kini masih bertautan dengan bibir mantan suaminya itu.Dengan sisa-sisa kesadarannya, Rosaline mendorong dada Dimitri sekuat tenaga agar tautan bibir mereka terputus dan lelaki itu menjauh darinya.

Napas keduanya memburu ketika bibir mereka tak lagi bertautan.Mata Rosaline menatap marah ke arah mata Dimitri. Oh, bagaiamana mungkin ia tergoda hingga seperti ini? Hampir saja ia takhluk dalam gairah yang diciptakan oleh lelaki itu.

“Kau menikmatinya, Rose.” ucap Dimitri dengan sedikit mengejek.

Rosaline sangat marah dengan ejekan Dimitri.“Pergi saja kau!”

“Tidak, aku akan menginap di sini malam ini.”jawab Dimitri santai sembari membuka mantel yang dikenakannya, menggantungnya di tempat gantungan yang tersedia. Ia lalu menyisingkan kemejanya hingga sesiku, dan sialnya, hal itu membuat Rosaline seakan terbakar oleh sesuatu.

Dimitri tampak begitu panas, otot-otot dilengannya menyembul, dadanya tampak bidang dengan kemeja yang memang didesain melekat pas di tubuhnya. Rosaline merasa iri, Dimitri masih tampak begitu mempesona, begitu menggoda meski usia lelaki sudah menginjak Tiga puluh tiga tahun. Pastinya akan banyak wanita yang tertarik dengan lelaki itu, apalagi saat tahu jika lelaki itu salah seorang pewaris keluarga terkaya di Rusia.

Rosaline menatap dirinya sendiri. Astaga, dibandingkan dengannya, ia sungguh tak ada apa-apanya. Tak ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari dirinya, apalagi saat sadar jika kini tubuhnya sudah membengkak karena kehamilannya.Sungguh, ini benar-benar tidak adil untuknya.Dan hal itu membuat Rosaline semakin kesal dengan lelaki tersebut.

“Apa yang kau pikirkan, Rose?”

“Tidak ada.” Jawabnya ketus.

“Kau, ingin berciuman lagi?”

“Yang benar saja.Kalau kau masih berpikiran kotor seperti itu, lebih baik kau angkat kakimu dari flatku.”

Dimitri tersenyum menanggapi keketusan Rosaline. Tanpa diduga, ia malah menuju ke arah dapur sembari membawa bingkisan yang tadi ia bawa dari luar. “Sikapmu berubah drastis, kau sekarang menjadi pemarah, Rose.Dan aku semakin tertarik denganmu.” Dimitri berkomentar sembari mengeluarkan daging yang ia bawa.

“Apa yang kau lakukan?”

“Memasak.”Dimitri menjawab pendek.

“Aku tidak mengizinkanmu memasak di dapurku.”

“Aku tidak meminta izin darimu.”

“Oh Dimitri, sebenarnya apa yang kau inginkan? Tidak bisakah kau meninggalkanku sendiri agar lebih tenang?Kau membuatku stress, dan stress tidak bagus untuk bayi.”

“Kau boleh mengunci dirimu di dalam kamar dengan anjing kecilmu itu, tapi kau tidak bisa mengusirku keluar dari dalam flatmu.”

“Kenapa?”

“Karena aku kan menginap di sini malam ini.Aku yang memutuskan, dan kau tidak bisa melarangku.”

Rosaline mendengus sebal. Dengan kesal ia mengajak Snowky masuk ke dalam kamarnya. Ya, ia tidak dapat berbuat banyak. Memaksa lelaki itu pergi?Yang benar saja. Dimitri tidak akan pergi jika bukan karena keinginannya sendiri. Menyeretnyapun tidak mungkin.Tubuh lelaki itu tinggi besar, berotot dan tampak kuat.Ia tidak mungkin menyeretnya keluar dengan tubuh mungilnya. Oh, bahkan membayangkannya saja membuat Rosaline bergairah.

Sial! Apa-apaan ini? Kenapa juga ia membayangkan tentang tubuh Dimitri?

Sedangkan Dimitri, ia hanya tersenyum mentap kepergian Rosaline. Ya, setidaknya, ia bisa tidur di dalam Flat Rosaline, dan tidur di sana membuat Dimitri lega karena dapat satu langkah lebih dekat dengan wanita itu.

***

Satu setengah jam berlalu, Dimitri sudah selesai dengan masakannya. Ia bahkan sudah menatanya dengan rapih di sebuah meja kecil yang ia yakini sebagai meja makan Rosaline. Aroma masakannya menguar hingga membuat Rosaline mau tidak mau mengintipnya dari balik pintu kamarnya.

Tampak makanan tertata rapih di meja makannya, dan melihat itu membuat perut Rosaline berbunyi. Ya, satu lagi kebiasaan yang ia rasakan ketika hamil. Ia jadi mudah sekali lapar.

Sesekali Rosaline memang masih merasakan mual muntah, tapi sering kali ia merasa jika nafsu makannya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Dan saat ini, ia sedang merasakannya. Sungguh, kenapa harus saat ini?Ia tidak suka membayangkan makan malam satu meja dengan Dimitri yang begitu mengintimidasinya. Ia tidak suka!

“Ada yang kau inginkan?”Saat Rosaline sibuk dengan lamunannya.Pertanyaan Dimitri sontak membuatnya gelagapan.Rose merasa menjadi orang bodoh saat ini.

Rosaline mencoba mengendalikan dirinya dengan berdiri tegap dan bersedekap.“Kau sungguh tidak sopan, memasak ditempat orang tapi kau akan memakannya secara diam-diam.”

“Aku belum memakannya, aku menunggumu.”

“Oh ya?Sayang sekali aku sedang tidak ingin makan malam bersamamu?”

Dimitri tersenyum melihat tingkah Rosaline.“Benarkah?Padahal aku sudah memasakkan steak yang enak, apa lebih baik aku memakannya dengan Snowky?”

“Hei, Snowky tidak bisa sembarangan makan dengan orang asing.”

Well, kalau begitu aku akan memakannya sendiri.”Dimitri berjalan dengan santai menuju ke arah meja makan.

Rosaline mendengus sebal, ia mengesampingkan rasa malunya dan memilih berjalan mengikuti Dimitri tepat di belakang lelaki itu. Ya, perutnya benar-benar tak dapat di ajak kompromi.Apa karena bayinya? Yang benar saja, bagaimana mungkin bayinya bisa mendukung ayahnya untuk mengerjai dirinya seperti ini?

Kau benar-benar nakal, Baby!Serunya dalam hati sembari melirik ke arah perutnya sendiri.

Tanpa tahu malu, Rosaline duduk begitu saja di kursi yang sudah disiapkan Dimitri.Ia benar-benar mengesampingkan rasa malunya, karena masakan Dimitri tampak begitu menggoda untuknya.

“Rupanya, kau benar-benar lapar.”Dimitri berkomentar.

“Aku akan pura-pura tidak mendengar setiap ejekanmu.”

Dimitri tertawa lebar.“Apa anak Daddy yang ingin makan malam dengan Daddy?”

“Apa?” Rosaline tidak mengerti apa yang diucapkan Dimitri.

“Kau berkata jika kau akan pura-pura tidak mendengarku, maka sekarang aku tidak sedang berbicara denganmu.”

“Lalu?”

“Aku berbicara dengan bayiku.”Dimitri menjawab dengan cuek.

Bayiku?Jadi, Dimitri sedang berbicara dengan bayi mereka?Apa tadi dia bilang? Anak Daddy? Astaga, mengingatnya saja membuat sesuatu berdesir di dadaRosaline.

“Kupikir sekarang kau pandai merayu.”

“Benarkah?Apa kau sedang merasa terayu oleh perkataanku? Padahal aku tidak sedang merayumu.”

“Baiklah, lebih baik kita segera makan, makanannya sudah mendingin.” Rosaline memilih mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Sungguh, ia tak dapat lagi menyembunyikan rona merah di pipinya karena pengaruh dari Dimitri.

Perkataan lelaki itu, pergerakannya, setiap lirikan matanya, bahkan setiap desah napasnya mampu mempengaruhi Rosaline, menarik Rosaline hingga ia merasakan panas yang bersumber dari dalam dirinya. Astaga, apa yang sudah dilakukan lelaki ini terhadapnya?

Dimitri duduk dengan tenang, ia meraih steak yang ada di hadapan Rosaline, dan memotongkannya untuk wanita tersebut.

“Aku bisa memotongnya sendiri.”

“Aku ingin memotongkannya untukmu.”Dimitri menjawab dengan santai.Dan Rosaline kembali kalah dengan lelaki tersebut.

“Makanlah yang banyak, aku bisa memasakkannya untukmu lagi.” Ucap Dimitri sembali memberikan piring tersebut.Lalu Dimitri kembali pada makanannya sendiri.

Rosaline tidak membuang waktu lagi, ia segera menyantap masakan Dimitri. Rasanya sangat Enak, dan Rosaline tidak dapat menyembunyikan ekspresi kenikmatannya setelah menyantap masakan tersebut.

“Kupikir selama ini kau tidak makan dengan baik.”

“Ya, menurutmu bagaimana?Aku masih harus membayar sewa flat ini, dan juga kebutuhan lainnya, setidaknya aku masih memiliki penghasilan yang cukup, dan aku harus menabung untuk bayiku.”

“Kembalilah padaku, kau tidak perlu kesulitan seperti ini.”

Rosaline tertawa seakan mengejek Dimitri.“Ya, kembali padamu dan menjadi barang pajanganmu?”

“Kau memulainya lagi, Rose?”Dimitri mencoba mengendalikan dirinya. Ya, ia tidak suka kembali membahas masalah mereka. Tidak cukupkah mereka hanya hidup bersama tanpa membahas masalah-masalah tersebut?

“Kau yang lebih dulu memulainya.”

“Aku hanya memintamu untuk kembali padaku.”

“Dan aku tidak mau.”

“Baiklah, sebagai gantinya, aku yang akan pindah ke sini dan menemanimu.”

“Hei, aku tidak memintamu.”

“Ya, kau tidak perlu memintaku, karena ini adalah inisiatifku sendiri.”

“Benarkah?Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Bisa dikerjakan secara online, mungkin sekali dua kali pertemuan.”

Rosaline berpikir sebentar.“Tidak, aku tetap tidak mengizinkanmu tinggal di sini.”

“Rose, kita harus mencoba lagi, demi bayi kita.”

“Bayiku. Aku mengandungnya bukan karena kau! Maksudku..”

“Apa?Jika tidak ada aku, kau tak mungkin dapat mengandung.”

“Jika kau mempermasalahkan keterlibatanmu dalam kehamilanku, maka aku bisa membayar sperma yang sudah kau donorkan agar kau bisa melupakannya.”

“Benarkah? Kau mau membayarku dengan apa?” tantang Dimitri.

Ya, dengan apa? Bahkan apa yang ia punya saja tidak sebanding dengan apa yang dimiliki lelaki tersebut.

“Rose, kau tahu yang kuinginkan bukanlah uangmu.Aku ingin kau kembali, aku ingin kau mau berkompromi demi bayi kita.Bisakah?”

Rosaline hanya diam, ia tidak mampu menjawab, bahkan untuk menolak gagasan Dimitri saja, ia tidak sanggup. Perkataan Ana kembali terputar dalam ingatannya, usulan jika ia dapat memanfaatkan kehadiran Dimitri untuk memuaskan hasrat sialannya karena hormonnya yang kacau tampak menggoda untuk Rosaline, dapatkah ia melakukannya? Menerima Dimitri kembali dan hanya memanfaatkan kehadiran lelaki tersebut untuk meredakan dahaga primitifnya?

 

-Tbc-

Baby, oh Baby! – Chapter 6 (Membuat Bayi)

Comments 2 Standard

Chapter 6

-Membuat Bayi-

 

Empat tahun yang lalu….

Dimitri menyusul Katavia dan menghentikan adiknya itu saat gadis itu berada tepat di sebelah kolam renang. Katavia tampak menangis, dan Dimitri tahu jika semua itu karenanya.

Ya, Katavia memang sedikit berbeda, adiknya itu mengidap Brother Complex, dan Dimitri tak dapat berbuat banyak tentang hal itu. Dimitri ingin pergi, agar Katavia bisa sembuh, tapi tidak bisa, karena keluarganya sedang membutuhkan dirinya untuk membantu mengurus perusahaan. Belum lagi ayahnya yang tidak mengetahui keadaan Katavia, dan Dimitri tidak ingin ayahnya tahu, karena jika ayahnya tahu, Dimitri takut Katavia akan di tendang dari rumah mereka seperti apa yang dilakukan ayahnya dulu pada Anastasya dimasa lalu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Dimitri sedikit kesal. Ya, sikap Katavia dapat memicu kecurigaan orang tuanya.Padahal Dimitri sedang berusaha menyembunyikan keadaan Katavia dari keluarganya.

“Kau menikahinya!Bagaimana mungkin kau menikahinya sedangkan kau tahu bahwa aku menyukaimu!”

Secepat kilat Dimitri menyeret Katavia ke tempat yang lebih sepi. Sungguh, ia tidak mau apa yang dikatakan Katavia didengar oleh banyak orang apalagi sampai terdengar kedua orang tua mereka.

“Kate, kau sudah janji tak akan mengungkapkan perasaanmu di hadapan umum.”

“Aku tidak bisa menahannya lagi!Aku mencintaimu!”

“Itu salah, Kate! Aku kakakmu!”

“Kau juga pernah merasakan perasaan seperti ini pada Ana, jadi apa salah jika aku merasakannya padamu.”

“Salah!Aku menyukainya karena aku belum tahu jika dia adikku. Sekarang perasaanku padanya sudah hilang, sejak aku tahu bahwa dia saudara kita. Kau harus mengerti bahwa apa yang kau rasakan padaku ini salah.”

“Aku tidak ingin jauh darimu.Aku mencintaimu.”

“Kate, aku berusaha menyembunyikan keadaanmu dari orang tua kita, karena aku menyayangimu. Aku tidak mau kau ditendang dari rumah ini karena membuat malu nama keluarga dengan perasaan sialanmu.”

Katavia hanya diam, ia tidak dapat menjawab karena apa yang dikatakan Dimitri benar adanya. Ya, jika perasaannya atau kelainannya diketahui oleh kedua orang tua mereka, maka sudah pasti dirinya akan ditendang dari rumah. Tidak mungkin Dimitri, karena Dimitri adalah satu-satunya penerus keluarga mereka.

“Aku menyayangimu, tapi kau harus berusaha untuk sembuh, untuk mengontrol dirimu, dan kau harus kembali melakukan terapi.”

“Tidak.”

“Kate.”

“Aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini padamu.Aku mencintaimu.”

Dimitri menghela napas panjang. “Kalau begitu, kau sendiri. Mulai sekarang, aku tidak akan berdiri dipihakmu lagi. Jika ayah dan ibu mengetahui semuanya, aku tidak bisa membantumu.”

“Kau meninggalkanku?”

“Kau yang membuatku pergi. Kate, aku cukup takut dengan keadaanmu, tapi aku mencoba mengendalikan diriku dan berusaha menyembuhkanmu dengan terapi. Tapi semua percuma jika kau sendiri tidak berusaha.”

“Aku hanya ingin kau.”

“Maka nikmatilah kesendirianmu.” Dimitri akan pergi, tapi langkahnya terhenti dengan pertanyaan Katavia.

“Kenapa kau melakukan ini?Karena wanita Amerika itu?Kau tidak mungkin menyukainya.Dia bahkan tak lebih cantik daripada aku ataupun Ana.”

“Karena cinta tidak butuh kata cantik.”

“Kau tidak mungkin mencintainya!”

Dimitri membalikkan badannya menatap Katavia kembali dan menjelaskan apa yang ada dalam kepalanya. “Kau mengenalku, aku tak banyak dekat dengan perempuan, jika aku menikahinya, itu tandanya aku sudah memilihnya. Dan ketika aku sudah memilih seseorang, maka aku tak akan pernah melepaskannya. Bagiku, itulah yang namanya cinta.”

Setelah kalimat panjang lebarnya tersebut, Dimitri pergi meninggalkan Katavia, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Rosaline berdiri tak jauh dari tempat ia beradu argumen dengan Katavia.

Sial! Berapa banyak Rosaline mendengar percakapan mereka? Apa Rose mengerti apa yang mereka ucapkan tadi?

“Kau, kenapa di sini?” tanya Dimitri yang sudah sedikit khawatir dengan apa yang sudah di dengar Rosaline.

“Aku menyusul kalian, kupikir kau butuh aku untuk menjelaskan pada Kate.”

“Apa yang sudah kau dengar?” tanya Dimitri secara langsung.

“Semuanya, tapi kau tahu jika aku tak bisa bahasa Rusia sama sekali, jadi aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan.Apa yang kalian bahas? Kenapa Kate tampak marah dan sedih?”

“Bukan masalah serius.Ayo, kutunjukkan kamar kita.Kau pasti lelah.”

Rosaline hanya mengikuti saja apa yang dikatakan Dimitri, meski dalam hati sebenarnya ia sudah mencurigai sesuatu, jika pasti ada yang tidak beres dengan Dimitri dan Katavia. Cara mereka berdua meluapkan emosi, lebih mirip dengan sepasang kekasih ketimbang sepasang adik kakak. Tidak! Tidak mungkin seperti itu, mungkin ini hanya perasaannya saja. Pikirnya dalam hati.

***  

Rosaline terbangun dini hari, ketika ia merasakan sebuah lengan merengkuh tubuhnya. Ia membuka matanya lebar-lebar, dan tampak asing dengan tempat tidurnya. Ya, itu adalah kamar Dimitri yang super besar dan tampak mewah. Dan Rose benar-benar merasa kurang nyaman. Ini sudah satu minggu berlalu sejak pertama kali ia diajak ke rumah Dimitri.

Ia hanya takut jika apa yang ia alami saat ini hanyalah mimpi. Sepertinya, sangat mustahil jika tiba-tiba orang seperti Dimitri Armanzandrov jatuh hati padanya. Rose merasa ada sesuatu yang janggal, yang disembunyikan oleh lelaki itu.

Kegelisahan Rosaline akhirnya membangunkan Dimitri, membuat lelaki itu semakin erat memeluk tubuhnya.

“Ada apa? Kau bangun?” tanya Dimitri dengan suara lembut menggoda.

“Ya, aku hanya sedikit berpikir.”

“Apa yang mengganggu pikiranmu?”

“Semuanya.Aku merasa ini hanya mimpi. Aku merasa menjadi seorang cinderella.”

“Ini bukan mimpi, dan kau bukan cinderella. Aku bukan pangeran.”

Rosaline sedikit tersenyum.“Apa yang membuatmu mencintaiku?”

“Lagi-lagi kau bertanya tentang hal itu.Rose, aku tidak mengerti devinisi cinta.Yang kutahu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.Itu saja.”

“Uum, bagaimana jika suatu saat nanti kau bertemu dengan perempuan yang membuatmu lebih tertarik dibandingkan denganku?”

“Aku tidak mudah tertarik dengan seseorang.”

“Tapi kau mudah tertarik denganku.”

“Karena itu kau.Apa kau belum puas?”

Rosaline tersenyum.Ia lalu membalikkan tubuhnya hingga menghadap Dimitri seketika. Jemarinya terulur, meraba dada bidang Dimitri yang telanjang tepat di hadapannya, lalu ia bergumam. “Sebenarnya, aku masih memikirkan Katavia.”

“Kate? Ada apa dengannya?”

“Kau, Uum, maksudku, aku kurang nyaman dengan tatapan matanya.”

“Kenapa?”

“Dia tampak membenciku, bukan sekedar tidak suka. Dia melihatku seakan aku ini musuhnya.”

“Rose, kau hanya belum mengenalnya saja.Begitupun sebaliknya.”

“Aku ingin mengenalnya, tapi dia tampak tidak bersahabat denganku, dia selalu berbahasa Rusia, sedangkan aku tidak mengerti banyak.”

“Dia bisa bahasa inggris, kau bisa mengajaknya bicara terlebih dahulu nanti.”

Rosaline mendesah panjang.“Ya, akan kucoba.”

Lalu tanpa diduga, Dimitri tiba-tiba mendorong tubuh Rosaline hingga kini Rosaline sudah telentang di bawah tindihannya.

“A-apa yang kau inginkan?”

“Membuat bayi.” Jawab Dimitri dengan jujur.Rosaline tersenyum mendengar jawaban tersebut.

“Kau, benar-benar menginginkan seorang bayi?”

“Ya, apa lagi yang kutunggu? Aku sudah 29 tahun, dan aku sudah memiliki istri yang sangat cantik. Apa lagi yang kutunggu?”

Rosaline tersenyum, ia mengulurkan lengannya melingkari leher Dimitri lalu berbisik pelan “Maka mari kita membuat bayi.” Setelah ucapannya tersebut, Rosaline mendekatkan wajahnya, menggapai bibir Dimitri, mencumbunya, seakan meminta Dimitri untuk segera menyentuhnya.

Dimitri tidak menolak. Ia membalas cumbuan Rosaline dengan lumatan lembut dari bibirnya, jemarinya sudah memposisikan bukti gairahnya menyentuh pusat diri Rosaline yang ternyata sudah basah dan siap menerimanya. Lalu, dalam satu kali hentakan, Dimitri menyatukan diri sepenuhnya pada tubuh Rosaline.

Rosaline mengerang dalam cumbuan mereka, begitupun dengan Dimitri, yang segera menggerakkan diri, menghujam lagi dan lagi, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya dan juga diri Rosaline.

“Aku mencintaimu, Rose. Aku begitu mencintaimu.” Racaunya lagi-lagi dalam bahasa Rusia.

“Aku tak mengerti.” ucap Rosaline disela-sela desahannya.

Dimitri menghentikan pergerakannya seketika.“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Racauanmu, aku tidak mengerti.”

“Kau tidak perlu mengerti.”

“Tapi aku ingin tahu.”

“Aku mencintaimu, Rose. Aku begitu mencintaimu.”Kali ini Dimitri mengucapkannya dalam bahasa inggris.

“Apa?”

“Ya, itu tadi artinya.” Rosaline tak dapat menjawab saat mengerti apa maksud Dimitri, hanya rona merah di pipinyalah yang mampu menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, bahagia, senang, gembira, dan entah perasaan apa lagi yang saat ini membuncah di hatinya.

Dimitri mencintainya, dan ia sadar jika dirinyapun sudah jatuh cinta pada lelaki tersebut. sangat sempurna, bukan?

 

-tbc-

Baby, oh baby! – Chapter 7 (Ya, Aku mencintaimu!)

Comment 1 Standard

 

Chapter 7

-Ya, Aku mencintaimu!-

 

Empat tahun yang lalu…..

 

Pagi itu, Rosaline sedikit merajuk dengan Dimitri karena Dimitri baru saja mengatakan padanya jika lelaki itu besok akan ada perjalanan bisnis ke London. Ya, selama tinggal di rumah Dimitri, Rose memang sering kali ditinggal Dimitri pergi ke luar kota, atau bahkan luar negeri, namun itu tak lebih lama dari satu atau dua hari. Tapi besok, Dimitri akan berada di London selama mungkin dua minggu lamanya. Bisa dibayangkan bagaimana bosannya Rosaline berada di rumah besar tersebut.

Hubungannya dengan Katavia belum juga membaik, karena gadis itu seakan tidak memberi kesempatan padanya untuk sekedar menyapa. Padahal, Rosaline sudah berusaha belajar bahasa Rusia dengan ibu Dimitri.

Yang dapat Rosaline lakukan saat Dimitri tak berada di rumah nanti mungkin hanya membaca atau menghabiskan waktu di dalam kamar menonton film-film romantis komedi kesukaannya.

Dimitri yang tahu sikap Rosaline yang merajuk akhirnya mendekat ke arah Rosaline, mengusap lembut pipi istrinya itu sembari bertanya. “Kau marah?”

“Tidak, aku hanya kesal.”

“Apa yang membuatmu kesal?”

“Kau.”

“Aku? Ada apa denganku?”

“Kau pergi lama sekali.”Rosaline merajuk, astaga, sepertinya sudah cukup lama ia tidak merajuk dengan seseorang. Dan tidak salah bukan jika ia merajuk dengan suaminya sendiri?

“Aku kerja, Rose. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.”

“Bagaimana jika terjadi sesiatu denganku?”

“Misalnya?”

“Melahirkan mungkin?”

Dimitri tertawa lebar. “Kau tidak hamil, mana mungkin kau melahirkan?”

“Itu perumpamaan, mungkin nanti. Apa kau akan tetap lebih mementingkan pekerjaanmu dibandingkan denganku?”

“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, tapi aku akan pulang secepat yang kubisa jika aku dalam keadaan seperti itu.”

Rosaline memainkan dasi Dimitri. “Artinya, kau akan tetap mengutamakan pekerjaanmu.”

“Kau juga.” Dimitri tak mau mengalah.

“Ckk, kau ini, aku hanya…”

“Dimitri, buka pintunya.” Suara panik dari luar disertai dengan ketukan pintu kamar mereka yang cukup keras membuat Dimitri dan Rosaline saling pandang.

“Ibu, apa yang terjadi?”tanya Dimitri pada Rosaline. Rosaline hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tak mengerti kenapa suara itu terdengar sedikit panik.

Akhirnya Dimitri membuka pintu kamarnya dan mendapati Ibunya yang sudah menangis. “Apa yang terjadi?” tanya Dimitri yang sedikit panik.

“Katavia. Astaga, dia pingsan di dalam kamarnya.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Dimitri segera berlari menuju ke arah kamar Katavia dengan panik, begitupun dengan Rosaline yang segera menyusul di belakangnya.

Sampai di sana, Rosaline melihat Dimitri sudah memeluk tubuh Katavia yang terkulai lemas di atas lantai. Dengan panik suaminya itu memanggil-manggil nama Katavia sembari menepuk-nepuk pipi gadis itu.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat saat Rosaline melihat Dimitri menggendong Katavia melewati dirinya. Rose hanya ternganga, ia tidak tahu apa yang terjadi, ia seperti orang bodoh yang diacuhkan.

***  

Rosaline masuk ke dalam ruang inap Katavia dan melihat Dimitri masih setia menunggu Katavia di sana. Tadi, saat ibu Dimitri pulang untuk mengambil barang-barang Katavia, Rosaline meminta untuk diajak ke rumah sakit. Dan kini, ia cukup menyesal berada di sana.

Rosaline tahu jika Katavia adalah adik kandung Dimitri, tapi melihat Dimitri yang begitu perhatian pada gadis tersebut hingga mengacuhkannya benar-benar membuat Rose kesal. Cemburu, ya, itulah yang dirasakan Rosaline. Padahal tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti itu terhadap Dimitri dan Katavia.

“Bagaimana? Apa dia sudah sadar?” pertanyaan Nyonya Armanzandrov membuat Dimitri menolehkan kepalanya ke arah sang Ibu yang berdiri tepat di sebelah Rosaline.

“Belum, tapi Dokter sudah memberikan penanganan.” Dimitri lalu menatap ke arah Rosaline. “Kau, kemari?”

“Ya, aku mau menggantikanmu.” Jawa Rosaline.

“Jangan, kau pulang saja.”

“Tapi kau besok harus ke London.”

“Aku menunda keberangkatanku.” Dimitri kembali menatap ke arah Katavia yang masih terbaring lemah. “Dia membutuhkanku.” lanjutnya dengan serius.

Sakit, itulah yang dirasakan Rosaline. Entah apa yang membuat hatinya sakit, mungkin karena penolakan Dimitri, atau mungkin karena perhatian yang diberikan lelaki itu pada adiknya hingga membuat Rosaline cemburu dan sakit hati. Entahlah…

“Rose, lebih baik kita keluar.” Nyonya Armanzandrov meminta Rosaline keluar bersamanya. Rosaline hanya menggelengkan kepalanya, “Rose, biarkan Dimitri di sana, kita keluar sebentar, ada yang ingin aku sampaikan.” Rosaline menatap wanita paruh baya itu, lalu menurut saja ketika tubuhnya di ajak keluar oleh wanita tersebut.

***  

Di taman rumah sakit.

Rosaline masih diam tak mengerti apa yang sedang terjadi. Hatinya semakin merasa gelisah saat tahu jika perhatian yang diberikan Dimitri begitu besar terhadap Katavia. Padahal, tadi pagi lelaki itu sudah mengatakan jika akan tetap mempeoritaskan pekerjaannya meski ia sedang dalam kondisi melahirkan, dan tadi, suaminya itu dengan mudah mengatakan jika ia menunda keberangkatannya hanya untuk menemani Katavia.

Sedalam itukah rasa sayang Dimitri terhadap adiknya?

Dan astaga, seharusnya ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Katavia adalah adik kandung Dimitri, tak seharusnya ia merasa cemburu seperti ini.

“Rose, kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Armanzandrov yang kini sudah duduk tepat di sebelah Rosaline.

“Apa, mereka memang sedekat itu?” tanya Rosaline yang wajahnya masih menatap jauh ke arah hamparan taman rumah sakit yang cukup luas tersebut.

“Kau, mungkin sedikit risih.”

“Tidak, aku tidak risih, aku hanya merasa cemburu, padahal aku tidak seharusnya memiliki perasaan itu terhadap hubungan mereka berdua.”

“Rose, berjanjilah padaku jika kau akan berpikiran terbuka dengan semua ini.” Ucap ibu Dimitri sembari menggenggam erat telapak tangan Rosaline.

“Ada apa? Ada yang kalian sembunyikan?” tanya Rosaline penasaran.

“Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin, bagaimana bisa Dimitri membawamu pulang, bahkan sudah menikahimu. Aku tidak yakin kenapa dia melakukan itu.”

“Karena dia mencintaiku.” Rosaline menjawab cepat. “Bukankah begitu?” tanyanya meyakinkan pendapatnya.

“Rose, aku ingin bercerita, tapi tolong cerna baik-baik apa yang kuceritakan. Ini hanya berdasarkan pemikiranku, berdasarkan sudut pandang yang kulihat, karena aku sendiri tidak mengerti apa yang dirasakan Dimitri.”

“Ibu, Kau jangan membuatku takut.” Ya, Rosaline merasa takut, takut jika apa yang akan diceritakan sang mertua adalah sesuatu yang membuatnya terluka.

Nyonya Armanzandrov menggelengkan kepalanya, lalu ia mulai bercerita. “Dulu, Dimitri pernah menyukai seseorang, namanya Ana. Dan dia adalah adik kandung Dimitri. Bukan puteriku, tapi puteri dari simpanan suamiku.”

Rosaline membungkam mulutnya sendiri. Tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.

“Dimitri hampir menikahinya, tapi suamiku melarangnya dan menggagalkan pernikahan Dimitri. Ana diusir dari rumah, dan entah sekarang di mana. Bertahun-tahun berlalu, Dimitri tak pernah sekalipun membawa wanita untuk berkencan dengannya. Entah memang tidak pernah atau kami tidak tahu. Tapi semuanya menjadi semakin jelas saat aku melihat kedekatan Dimitri dengan Katavia.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak, jangan diteruskan.”

“Rose, kupikir, Dimitri memang memiliki kecenderungan mencintai adiknya sendiri.”

“Tidak! Itu tidak mungkin!”

“Aku tidak memaksamu untuk percaya, karena aku juga berharap apa yang kupikirkan bukan suatu hal yang benar. Selama ini aku hanya menerka-nerka hal itu, dan berpura-pura tidak tahu apapun. Beruntung ayah mereka sangat jarang berada di rumah, jika ayah mereka tahu, Katavia mungkin bernasib sama dengan Ana. Lalu kedatanganmu sedikit menenangkanku. Kupikir aku berpikir terlalu jauh tentang hubungan mereka.” Ibu Dimitri menghela napas panjang. “Aku berharap banyak padamu, Rose. Jika Dimitri memang sakit, aku ingin kau menyembuhkannya. Tapi jika hanya Katavia yang sakit, maka aku akan berusaha menjauhkannya dari Dimitri.”

Tubuh Rosaline terasa lemas. Tidak. Dimitri tidak mungkin sakit. Lelaki itu adalah lelaki normal yang jatuh cinta padanya secara spontan. Lelaki itu tidak sakit, dan ia tidak perlu menyembuhkannya.

***  

Setelah mengetahui secuil rahasia dari suaminya, Rosaline semakin merasa tidak nyaman dengan hubungannya bersama Dimitri. Ia merasa dibodohi, ia merasa sedikit jauh dengan Dimitri, ia merasa jika ia belum sepenuhnya mengenal sosok Dimitri.

Apalagi, saat kini, ketika keadaan Katavia sudah membaik, dan Dimitri memutuskan untuk pergi berbisnis ke London. Ia merasa jika lelaki itu tengah menghindarinya dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah menari-nari dalam kepalanya.

Ya, setelah dipikir-pikir, semuanya jadi lebih masuk akal. Katavia tidak mungkin semarah itu padanya saat setelah tahu bahwa ia sudah dinikahi Dimitri. Katavia tidak akan begitu membencinya jika mereka tidak memiliki hubungan apapun kecuali sebatas adik dan kakak. Seharusnya Rosaline sadar, seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres apalagi setelah ia tahu jika penyebab Katavia pingsan di kamarnya beberapa hari yang lalu adalah karena gadis itu menelan banyak obat penenang hingga overdosis.

Kini, Rosaline merasa kurang nyaman apalagi ketika hanya berdua dengan Katavia di dalam ruang inap gadis tersebut. Karena tadi ia memang diminta ibu Dimitri untuk menemani Katavia sementara wanita itu mengurus segala administrasi rumah sakit karena sore nanti Katavia sudah diperbolehkan pulang.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.”Rosaline mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba Katavia berbicara dengan menggunakan bahasa inggris. Ya, Rose tahu jika gadis itu sedang berbicara dengannya.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.” Emosi Rosaline tersulut begitu saja setelah perkataan terang-terangan yang terucap dari bibir Katavia.

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

Rosaline berdiri seketika. “Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Katavia tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Dimitri sekejam itu. Lelaki itu mencintainya, ya, ia merasakan jika lelaki itu benar-benar mencintainya.

“Kau tahu bukan, yang kami miliki hanya cinta. Meski sebenarnya kami saling bergairah satu sama lain, tapi kami tahu jika kami tidak dapat melakukannya apa lagi membuat keturunan untuk keluarga kami. Maka dari itu, dia mencari seseorang yang dapat dibodohi dengan mudah, dan orang itu adalah Kau.”

“Tidak mungkin.”

“Ya, lihat saja, setelah kau hamil dan melahirkan bayimu nanti, kau akan ditendang dari rumah kami. Anak itu akan menjadi anakku bersama Dimitri, dan kau, kau akan dicampakan dan dilupakan.”

“Kau gila!” karena sudah tidak tahan lagi, Rosaline memilih segera pergi meninggalkan Katavia. Di luar ruang inap Katavia, Rosaline menumpahkan air matanya. Seharusnya ia tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan Katavia, karena mungkin saja itu adalah rencana gadis itu untuk membuatnya membenci Dimitri. Tapi mau memungkiri seperti apapun juga, perkataan Katavia tadi sudah terlanjur menjadi belati yang menyayat hatinya. Jika dipikir, semuanya menjadi lebih masuk akal sekarang.

Ya, Dimitri menginginkan seorang keturunan dan lelaki itu tidak dapat menciptakan seorang keturunan dari wanita yang dicintainya yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, karena itulah lelaki itu memanfaatkan kehadirannya.

Rosaline segera merogoh ponselnya lalu menghubungi Dimitri saat itu juga. Setelah beberapa kali teleponnya tidak di angkat, akhirnya tak lama Dimitri mengangkat telepon darinya.

“Honey? Apa yang terjadi?”

“Kau, apa kau mencintaiku?” tanya Rosaline secara langsung dengan suara yang sudah terisak.

“Rose, apa yang terjadi?”

“Tolong, jawab saja. Apa kau mencintaiku?”

“Rose-”

“Demi Tuhan! Jawab saja, apa kau mencintaiku?”

“Ya, aku mencintaimu! apa yang terjadi?” Rosaline tidak menjawab, ia segera menutup teleponnya.

Dimitri berbohong. Ya, meski lelaki itu tadi menjawab dengan tegas, tapi hati Rosaline sudah tak percaya lagi dengan apa yang dikatakan lelaki itu. Dimitri tidak mencintainya, lelaki itu hanya memanfaatkannya. Benar-benar bodoh!

-TBC-

Yang penasaran ada hubungan apa antara Ana dan Dimitri, sabar yaa, nanti, akan ada ceritanya kok. setelah ini Chapter selanjutnya sudah bukan Flash back lagi yaa.. hehehhehe

Baby, oh Baby! – Chapter 5 (Istana dan Gadis Manja)

Comments 5 Standard

Baby, oh Baby!

 

Dimitri kembali duduk di kursinya, lalu ia mempersilahkan wanita di hadapannya itu duduk. “Duduklah, kita akan makan siang sebelum membahas semuanya, Ana.” ucapan Dimitri tenang, namun matanya menatap wanita itu dengan penuh arti.Sedangkan wanita yang bernama Ana itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Dimitri.

Ahhh, ternyata lelaki itu masih sama, senang sekali mengintimidasi lawannya dengan tatapan mata tajamnya…

***

Chapter 5

-Istana dan Gadis Manja-

 

Setelah menghabiskan makan siangnya, Ana memakan makanan penutupnya dengan mata yang sesekali meliri ke arah Dimitri. Sedangkan Dimitri sendiri tampak sibuk dengan kopinya. Lelaki itu tak tampak ingin memulai pembicaraan hingga Ana akhirnya mebuka suara.

“Apa yang ingin kau bahas?” tanyanya secara langsung.

“Kau, sudah selesai dengan makan siangmu?”Dimitri bertanya balik.

“Seperti yang kau lihat.” jawab Ana. “Jadi, apa yang terjadi dengan Rosaline?”

Dimitri menghela napas panjang.“Mungkin kau pikir ini sedikit menggelikan, tapi aku ingin tahu, apa dia memiliki teman kencan?”

Ana mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kau menanyakan tentang hal itu?”

“Aku melihat dia cukup dekat dengan pria lain di dalam tokonya.”

“Mungkin itu hanya pelanggannya.”

Dimitri sedikit tersenyum masam. “Dia tidak mengakuiku di depan pria itu.”

Ana tertawa lebar.“Jadi kau kesal karena hal itu? Ayolah, kau sudah membiarkannya pergi selama Empat tahun tanpa mengejarnya, kau seharusnya bersyukur karena dia tidak berkencan dengan pria manapun selama itu.”

“Kau yakin?”

“Kak, Aku selalu berada di sisinya, kau tahu.”

Dimitri tersenyum sebal.“Ana, jangan lagi memanggilku dengan panggilan menggelikan itu.”

Lagi-lagi, Ana tersenyum lebar.“Baiklah, tapi kau harus tahu, Rose tidak dekat dengan siapapun.” Ana meminum jusnya, lalu melanjutkan kalimatnya.“Bahkan tadi malam saja, dia berkata jika dia ingin bercinta denganmu.”

“Apa?”

“Ya, kau tahu, hormon ibu hamil.”

“Kau bercanda?”

“Dia meneleponku sepanjang malam, berharap jika aku bisa mengalihkan dia dari gairahnya.Yang benar saja.”Ana tertawa lebar.“Kau harus menempel dengannya agar dia tidak lagi mengganggu malam-malamku bersama Sean.”

Dimitri sedikit tersenyum, ia mengaduk kopinya dan bertanya. “Kau masih dengan pria inggris itu?” tanya Dimitri tanpa melihat ke arah Ana.

“Sean? Ya, tentu saja. Dia sudah melamarku. Lihat ini.”Ana menunjukkan jari manisnya yang sudah dilingkari cincin pemberian Sean, kekasihnya.

Dimitri melirik sekilas lalu berkomentar.“Kau, tampak bahagia dengannya.”

“Ya, dan akupun berharap kau bahagia dengan Rosaline.”Dimitri tersenyum dan kembali menatap ke arah kopinya. Lalu jemari Ana meraih jemari Dimitri. “Aku membantumu untuk kembali mendapatkan Rose, Aku ingin kau memiliki kebahagiaan yang sebenarnya seperti yang kurasakan. Aku tidak ingin kau seperti Katavia.”

Wajah Dimitri mengeras seketika saat mendengar nama itu di sebut. Katavia Armanzandrov, adiknya, dan, adik Ana juga tentunya. Perempuan yang setengah gila karena jatuh cinta pada dirinya yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Tapi Dimitri tak dapat menghakimi Katavia, mengingat itu adalah sebuah kelainan. Tentu saja berbeda dengan apa yang ia rasakan dulu kepada Ana.

“Kau, bisa bahagia, bukan?” tanya Ana sekali lagi.

Dimitri menatap Ana dengan mata tajamnya.“Ya, tentu saja.”

“Rose mencintaimu, aku harap kalian mendapatkan kebahagiaan kalian. Dan sepertinya, kau harus bekerja ekstra.”

“Maksudmu?”

“Sepertinya di tahu hubunganmu yang tak biasa dengan Katavia.”

“Benarkah?”

“Ya, baru tadi malam dia bercerita padaku, bahwa dia pergi karena merasa jika kau memanfaatkannya.”

Dimitri menghela napas panjang.“Apa yang harus kulakukan selanjutnya?”

“Buat dia kembali mencintaimu, aku tahu Rose belum bisa melupakanmu, dia hanya terlalu kecewa padamu.”

“Kau tahu bukan, jika aku bukan tipe pria yang suka menggoda atau merayu wanita? Sungguh, ini sama sekali bukan diriku.”

Ya, tentu saja Ana tahu, lelaki macam apa Dimitri. Lelaki ini memang memiliki segalanya. Tampan, kaya, berkuasa, tapi dia bukan sosok romantis, atau sosok berengsek yang memanfaatkan kekuasaannya untuk bermain-main dengan perempuan.

Ana bahkan tidak yakin, jika dulu Dimitri mampu menakhlukkan hati Rosaline. Ya, walau pertemuan keduanya sudah ia dan Dimitri rencanakan, tapi tetap saja, sikap Dimitri yang kaku membuat Ana sedikit ragu.

“Hei, kau bisa memanfaatkan hormonnya yang sedang kacau.”

“Maksudmu?”

Ana tersenyum penuh arti.“Kau tentu tahu apa maksudku.”

Ya, Dimitri tahu. Tapi ia tidak yakin dapat melakukannya. Membawa Rosaline ke atas ranjangnya dan menjalin keintiman kembali seperti dulu. Dapatkah ia melakukannya?

***

Malamnya…

Dengan sedikit malas Rosaline membuka pintu flatnya. Dia tahu jika yang datang adalah Dimitri karena lelaki itu sudah bilang padanya tadi siang.Tapi tetap saja, rasa kesalnya tak berkurang sedikitpun saat tahu jika Dimitri memang benar-benar datang untuk mengajaknya makan malam bersama.

“Kau tidak perlu repot-repot. Aku sudah makan malam.”Jawab Rosaline dengan sedikit ketus.

“Kau tidak pandai berbohong.”

“Ayolah, aku hanya tidak ingin menghabiskan malamku denganmu.”Akhirnya Rosaline mengaku.“Kau membuatku terganggu!” lanjutnya lagi.

“Biarkan aku masuk.”

“Tidak!”Rosaline berseru keras. Ya, ia tidak akan membiarkan Dimitri masuk, karena jika lelaki itu masuk ke dalam flatnya malam ini, maka ia tidak dapat berjanji jika bisa menjaga diri dan perasaannya agar tidak tergoda dengan lelaki itu.

“Rose, ini tidak adil untukku.Bayi itu adalah milikku juga.”

“Jika aku tahu bahwa kau sang pendonor sperma, maka aku akan menolak mengandungnya.”

“Ucapanmu sudah keterlaluan, Rose.”

“Maksudku, kau tidak memiliki hak, di sini akulah yang memutuskan untuk mengandung bayi ini. Meski itu bukan dirimu, meski sang pendonor itu adalah pria lain, aku tetap tidak bisa menerimanya. Karena aku memutuskan hal ini sendiri.”

“Dan karena ini milikku, maka aku memiliki hak sebesar dirimu.”Dimitri mengucapkan kalimat tersebut sambil menerobos masuk, mendorong pintu flat Rosaline dan masuk begitu saja meski Rosaline sebenarnya tidak mengizinkannya masuk.

Snowky menggonggong, melompat-lompat kearah Dimitri, seakan tidak suka dengan kedatangan lelaki itu.

“Anjing yang pintar.”Dimitri berkomentar. Ia senang jika Rosaline ada yang menjaga, meski itu hanya seekor anjing.

“Aku tidak mempersilahkan kau masuk. Kenapa kau tetap masuk?”Rosaline bertanya tanpa bisa menyembunyikan kekesalannya. Sungguh, ia tidak ingin Dimitri berada di sini malam ini, apalagi dengan sikap arogan dan begitu mengintimidasinya.

Jemari Dimitri terulur, mencoba meraih pipi Rosaline, tapi secepat kilat Rose menampiknya.

“Jangan coba-coba.”Rosaline mengingatkan.

“Kau masih milikku, Rose.”

Rosaline tertawa seakan menertawakan perkataan Dimitri.“Katakan itu pada adikmu.”

“Apa yang dikatakan Kate kepadamu?”

“Tidak ada.”

“Ceritakan padaku, maka aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Aku bisa menerima kebencianmu jika kau mau mengungkapkan semuanya. Bukan malah kabur dengan surat sialan itu.”

Mengatakannya? Tidak bisa, bahkan untuk mengingatnya saja, Rosaline merasa sakit hati….

Empat tahun yang lalu…

Rosaline masih tidak menyangka jika saat ini, statusnya sudah berubah menjadi seorang istri, setelah kemarin sore, Dimitri memperistrinya di sebuah gereja sederhana yang hanya disaksikan oleh pendeta.

Kini, lelaki itu mengajaknya pulang.Ya, pulang ke rumah lelaki tersebut. Astaga, bahkan hingga saat ini, Rosaline tidak banyak mengenal Dimitri. Ia benar-benar bodoh, padahal belum genap sebulan ia berkenalan dengan Dimitri, dan ia menerima begitu saja ajakan lelaki itu untuk menikah.

Terkadang, Rose takut, jika Dimitri bukanlah orang yang baik.Ia takut karena ia sudah terlanjur jatuh hati dengan lelaki itu bahkan sejak pertama kali bertemu dan menatap mata Hazelnya. Maka dari itu, kini, Rose tak dapat menyembunyikan perasaan gugupnya. Perutnya terasa melilit, seperti ia akan menghadapi sebuah peristiwa besar.

Hal tersebut tak lepas dari pandangan Dimitri, hingga Dimitri bertanya lembut padanya. “Kau, baik-baik saja?” tanya Dimitri yang masih berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.

“Jika boleh jujur, aku sedang tidak baik-baik saja.”

Dimitri sedikit tersenyum.“Ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Ya, Astaga, aku merasa bodoh. Aku masih tidak percaya jika kita sudah menikah. Aku menikah dengan orang asing?”

“Aku bukan orang asing, Rose.Aku suamimu.”

“Well, sebelumnya kau adalah orang asing. Aku bahkan tidak mengenal keluargamu, tidak tahu dimana rumahmu.”

“Kau akan tahu setelah ini.” Dimitri menjawab dengan tenang.

“Maksudku, seharusnya aku tahu sebelum kita menikah, bukan setelahnya.”

“Kupikir itu bukan masalah, karena aku yakin, kau tidak akan berubah pikiran setelah tahu semuanya.”

Well, benarkah? Ya, jika Dimitri bukan seorang gembel dengan banyak hutang, maka Rosaline tidak akan berubah pikiran. Rosaline memang sudah jatuh hati dengan Dimitri, tapi memikirkan jika mungkin saja lelaki itu adalah seorang yang tak memiliki pekerjaan atau bahkan mungkin memiliki banyak hutang membuat Rose berpikir dua kali untuk melanjutkan pernikahan mereka. Bukannya Rosaline mata duitan, tapi ia mencoba berpikir realistis. Hidupnya sendiri saja masih pas-pasan, tidak mungkin ia menerima beban Dimitri jika benar lelaki itu kekurangan seperti yang ia pikirkan.

Tapi kemudian, Rosaline menegakkan punggungnya seketika, ketika Dimitri berhenti di depan sebuah pagar besar yang lebih cocok disebut dengan benteng sebuah istana.

Apa mereka akan mengunjungi tempat bersejarah dahulu sebelum pulang ke rumah Dimitri?

Benteng atau gerbang besar itu akhirnya terbuka secara otomatis setelah Dimitri mengeluarkan sesuatu seperti alat mengenal dari dashboard mobilnya dan ditempelkan pada alat yang tersedia disisi gerbang.

“Kau bekerja di sini?” tanya Rosaline dengan wajah polosnya.

Dimitri tertawa, ia menggelengkan kepalanya dan masih mengemudikan mobilnya masuk  ke dalam gerbang tersebut.

Rosaline sempat ternganga menatap pemandangan di hadapannya. Itu seperti sebuah mansion, tidak. Mungkin lebih cocok di sebut dengan istana. Sangat besar, sangat indah. Tempat apa ini? Tanyanya dalam hati.

“Kau tidak perlu ternganga seperti itu.” Dimitri berkomentar dengan sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Kau bekerja di sini?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Ini rumahku, Rose. Kita akan tinggal di sini sementara dan pindah setelah aku menemukan rumah baru untuk kita berdua.”

“Kau bercanda?” Rosaline masih tidak percaya jika apa yang ia lihat adalah rumah DImitri. Ia memang tidak suka berpikir jika Dimitri adalah lelaki miskin, tapi Astaga, ini terlalu berlebihan untuknya.

Dimitri menggelengkan kepalanya masih dengan senyuman lembutnya ia menjawab “Ini rumah keluarga Armanzandrov.”

Sial! Mengetahui hal ini tidak membuat Rosaline senang atau membaik, tidak, mungkin lebih ke gugup.Ia merasa Dimitri semakin mengintimidasinya berkali-kali lipat dari pada sebelum ia tahu siapa sosok lelaki yang sudah menjadi suaminya itu sebenarnya.

Jika benar Dimitri adalah pemilik istana ini, maka bisa dibilang jika lelaki ini adalah salah satu milyader dari Rusia.Tapi kenapa Dimitri memilihnya? Menikahinya begitu saja padahal mereka belum lama saling kenal. Apa Dimitri tidak takut tertipu dengan orang asing?

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Dimitri saat ia sudah memarkirkan mobil yang mereka kendarai di tempat parkir yang sudah disediakan.

“Kau, tidak bercanda tentang hal ini, bukan?”

“Apa yang membuatmu berpikir aku sedang bercanda?”

“Kau, jika kau pemilik istana ini, maka siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa memilihku?”

Dimitri sedikit tersenyum. Ya, lagi-lagi senyum itu. “Keluarga Armanzandrov adalah salah satu klan keluarga terkaya dan terpandang di Rusia. Aku hanya bisa bercerita tentang itu. Karena jika aku menceritakan usaha kami, maka itu tidak akan ada akhirnya. Kau juga tak akan mengerti.”

“Lalu kenapa aku? Kenapa kau berada di Kremlin saat itu? Kenapa kau menolongku, turis yang sedang sial. Bahkan saat ini aku merasa seperti seorang pengemis saat di hadapanmu.”

“Rose. Jangan seperti ini. Mungkin itu sudah takdir, aku berada di sana karena kupikir aku sudah cukup lama tidak ke sana. Lalu aku melihatmu jatuh tak berdaya, melihat tangismu yang seketika itu juga menyentuh hatiku. Aku tidak pernah merasa kekurangan, tapi denganmu, aku merasakan hal itu. Aku menyukaimu, Rose, aku mencintaimu, karena itulah aku memilihmu.”

“Dan orang tuamu? Apa mereka akan menerima pilihanmu?”

“Ya, tentu saja. Mereka akan menerima apapun pilihanku, apalagi jika wanita itu mampu memberi mereka seorang penerus.”

“Maksudmu, kau ingin, aku mengandung bayimu?” Rosaline bertanya dengan sedikit tak percaya.Ya, karena selama menjalin hubungan dengan Dimitri, mereka tak pernah sekalipun membahas tentang bayi. Bukannya tidak suka, tapi itu malah membuat Rose terharu karena Dimitri rela penerusnya dikandung oleh wanita biasa-biasa saja sepertinya.

Jemari Dimitri terulur mengusap lembut pipi Rosaline.“Ya, tentu saja. Kau istriku, hanya kau yang boleh mengandung dan melahirkan bayi-bayiku nantinya.”

Terharu, tersentuh, dan entah perasaan apalagi yang dirasakan oleh Rosaline saat itu. Ya, setidaknya pengakuan Dimitri saat itu mampu menyuntikkan sebuah kepercayaan diri, bahwa ia memang spesial untuk lelaki ini, dan ia pantas bersanding dengan lelaki ini.

***  

Nyonya Armanzandrov menyambutnya dengan bahagia. Rupaya, ibu Dimitri bukanlah seseorang yang memandang orang lain dari status sosialnya. Dengan senang hati, Rose di ajak berkeliling rumah yang lebih cocok di sebut sebagai istana tersebut.

Entah sudah berapa banyak pelayan berseragam yang ia temui di sana. Sayangnya, tak seorangpun di sana yang dapat berbahasa inggris karena mereka menggunakan bahasa rusia.

“Kau akan senang tinggal di sini.” ucap ibu Dimitri. “Kami akan memanjakanmu seperti seorang puteri.” Lanjutnya lagi dengan aksen khas orang Rusia.

“Terimakasih.” Hanya itu yang dapat Rose ucapkan.Ia tidak tahu harus berkata apa lagi, meskipun wanita itu tak lagi muda, nyatanya ia mampu mengintimidasi Rosaline hanya dengan setiap pergerakannya.

“Dimitri.” Sebuah panggilan memaksa semua orang yang berada di sana menoleh ke arah suara tersebut, termasuk Rosaline.

Rosaline melihat seorang gadis cantik dengan rambut berwarna madu datang menghampiri mereka. Dengan mesra gadis itu merangkul lengan Dimitri tanpa canggung sedikitpun. Bahkan gadis itu melemparkan tatapan tidak sukanya ke arah Rosaline.

“Katavia, kenalkan, ini Rose, istri kakakmu.”

Rosaline tersenyum saat tahu siapa gadis yang tampak manja di hadapannya itu. Rupanya itu adik Dimitri. Dengan senang hati Rose mengulurkan telapak tangannya, berharap dapat berkenalan dan menjadi teman baik Katavia.

“Rose.” Rosaline memperkenalkan diri sambil mengulurkan telapak tangannya.

Bukannya menerima uluran tangan Rosaline, Katavia malah menatap Rosaline dengan tatapan penuh kebencian. Lalu ia menatap Dimitri dengan mata marahnya.

“Kau menikah dengannya?” tanya gadis manja itu pada Dimitri dengan nada tidak suka.

Rosaline merasa ada sesuatu yang janggal. Apa mungkin Katavia belum rela ditinggal kakaknya menikah? Apa gadis itu takut perhatian Dimitri kurang terhadapnya? Ya, mungkin saja begitu. Rosaline mencoba berpikir positif.

“Ya, Kate. Rose adalah istriku.” Dimitri menjawab dengan tenang, tapi terselip sebuah ketegasan dalam setiap perkataannya .

“Kau mengkhianatiku! Kau menyakitiku! Aku membencimu!” seruan-seruan itu terucap dalam bahasa Rusia hingga membuat Rosaline bingung karena tak mengerti. Tapi terlihat jelas pada ekspresi wajah Katavia, bahwa gadis itu sedang marah dan sangat tidak suka dengan kehadirannya.

Gadis itu berlari pergi, dan Dimitri segera berlari menyusulnya, meninggalkannya seperti orang bodoh yang tidak mengerti apapun.

Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

-TBC-

Baby, oh Baby! – Chapter 4 (Mengintimidasi)

Comments 2 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 4

-Mengintimidasi-

 

Keesokan harinya, Rosaline merasa tubuhnya letih, karena ia baru tidur ketika pagi menjelang. Saat ini, Rose memilih menenggelamkan diri di meja kasir Pet Shop nya. Perkataan Ana semalaman terputar lagi dan lagi dalam kepalanya.

Apa iya dirinya harus memikirkan kehadiran Dimitri? Memanfaatkan kehadiran lelaki tersebut mungkin? Oh sial! Bahkan hingga kini saja gairahnya masih ada –meski tak separah tadi malam, membuat Rose membayangkan hal-hal panas ketika berada di atas ranjang.

‘Ping’

Pintu Pet Shop nya di buka dari luar, tanda jika ada pelanggan masuk. Rosaline bangkit seketika bersiap untuk menyambut pelanggannya. Tapi yang datang ternyata bukan seorang pelanggan, melainkan lelaki menyebalkan yang semalaman membuatnya tak dapat tidur.

Ya, siapa lagi jika bukan Dimitri.

Rosaline mendengus sebal. Astaga, untuk apa lagi lelaki itu datang kemari? Tidak cukupkah ia terganggu karena gairah sialan yang menimpanya sepanjang malam?

“Untuk apa lagi kau kemari?” tanya Rose dengan nada ketus.

“Itu bukan sapaan yang ramah untuk pelanggan.”

“Kau bukan pelanggan tokoku.”

“Mulai hari ini, aku akan menjadi pelanggan tokomu.”

“Oh ya?” Rosaline bersedekap. “Jadi, apa yang kau cari Tuan Rusia?”

Dimitri tersenyum dengan ucapan Rosaline yang baginya sangat lucu. “Hanya sebuah pengikat untuk anjing kecilku.”

“Kupikir kau tidak memiliki anjing.”

“Rupanya kau sudah cukup mengenalku.”

“Belum cukup jauh, sampai aku tidak sadar jika kau sedang mengelabuiku.”

“Ckk, ayolah Rose, lupakan masa lalu kita.” Dimitri lalu berjalan menuju ke arah jajaran aksesoris untuk hewan-hewan peliharaan. Jemarinya mengamati beberapa kalung anak anjing yang tergantung rapih di sana. “Apa yang terjadi tadi malam?” tiba-tiba Dimitri bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kalung-kalung tersebut. Tentu ia bertanya karena ingin mengubah topik pembicaraan mereka yang selalu berputar pada masa lalu.

“Apa? Memangnya apa yang terjadi?”

“Lampu flatmu menyala hingga pagi, ada apa? Kau susah tidur?”

Bagaimana bisa Dimitri tahu? “Kau, bagaimana bisa tahu?”

“Aku mengamatimu.”

“Astaga, kau bear-benar menyebalkan.” Emosi Rose meledak seketika. Sungguh, ia tidak suka saat tahu jik Dimitri mengetahui setiap gerak-geriknya.

“Aku hanya khawatir terjadi apa-apa denganmu, jika kau mau tinggal bersamaku, mungkin aku bisa tenang.”

“Dalam mimpimu!” Rose berseru kesal. “Aku tidak akan pernah mau tinggal bersamamu.”

“Kau yakin, Rose?”

“Lebih baik kau pergi. Sungguh, aku bisa stress saat kau terlalu lama berada di sekitarku.”

Dimitri hanya tersenyum menanggapi permintaan Rosline, lalu ia meraih sebuah kalung anjing kecil, dan memberikannya pada Rosaline. “Berapa?”

“Ambil saja jika itu bisa membawamu untuk segera pergi dari hadapanku.”

“Rupanya, kau masih sangat membenciku.” Mata Dimitri menatap tajam ke arah Rosaline, lalu matanya turun, menatap perut Rose yang sudah sedikit tampak karena blouse yang dikenakan Rose sedikit ketat. “Jika ada apa-apa, hubungi aku.”

“Tidak perlu.” Rosaline menjawab dengan ketus.

“Kalau begitu, aku akan selalu berada di sekitarmu.”

“Ayolah, kau membuatku seakan tercekik, aku tidak suka diawasi.”

“Kalau begitu, hubungi aku jika ada sesuatu.” Dimitri tampak begitu serius. Dan itu benar-benar membuat Rosaline terbius kembali oleh pesona lelaki itu. Dimitri mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu nama,lalu memberikannya pada Rosaline. “Kontak baruku.”

Rosaline membacanya sekilas, lalu kembali menatap Dimitri “Kau, kau tinggal di sini?” tanyanya tak percaya.

Ya, selama ini Rose berpikir jika Dimitri hanya menginap di sebuah hotel untuk mengganggunya, ia tidak berpikir jika Dimitri akan pindah ke New York.

“Ya, karenamu.”

Rosaline mendengus sebal. “Pergilah.” Sungguh, ia tidak suka dengan ucapan-ucapan Dimitri yang mampu mengintimidasinya.

“Nanti malam, aku akan menjemputmu untuk makan malam bersama.”

“Tidak!”

“Aku sedang tidak meminta izin.” Dimitri masih tersenyum ketika membalikan diri dan bersiap pergi meninggalkan Rosaline.

“Dimitri, kau-” Rose menghentikan kalimatnya saat mendapati seorang pelanggan masuk ke dalam pet shopnya. “Oh, hai.” Itu Alan Parker, pelanggan setia tokonya. Dan ekspresi Rose segera berubah ketika kedatangan Alan.

“Hai.” Alan menyapanya dengan lembut.

Dimitri yang baru akan membuka pintu toko Rosaline menghentikan pergerkannya, ia menatap seketika ke arah Rosline dan lelaki yang baru saja masuk tersebut. Tampak keduanya berinteraksi dengan akrab.

“Kau baru buka?” tanya Alan.

“Ya, tadi malam aku susah tidur.”

“Karena bayinya?”

Rosaline tertawa. “Ya, sepertinya begitu.” Rose melirik sekilah ke arah Dimitri yang ternyata masih berada di ambang pintu tokonya, kenapa lelaki itu tak juga pergi?

Alan akhirnya menyadari jika tatapan mata Rose jatuh pada seseorang di belakangnya. Alan menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Dimitri dan juga Rose yang saling melemparkan pandangan sekan hanya mereka yang tahu apa arti tatapan mata tersebut.

Alan lalu kembali menatap Rose, dan bertanya “Siapa?”

Rose tersenyum menatap Alan dan menjawab “Bukan siapa-siapa, hanya pelanggan biasa.”

Mendengar jawab dari Rosaline membuat Dimitri sedikit menyunggingkan senyumannya, tapi matanya menatap tajam ke arah wanita itu, setelah itu, Dimitri memutuskan untuk keluar. Ya, tak ada gunanya lagi ia di sana, karena jika ia masih berada di sana, ia tidak yakin dapat mengontrol emosinya.

Setelah keluar beberapa langkah dari pintu pet shop Rosaline, Dimitri mengeluarkan ponselnya, ia tampak menghubungi seseorang.

“Temui aku saat makan siang.” ucapnya dengan serius.

“Baiklah. Di tempat biasa.” Jawab suara lembut di seberang. Setelah itu, Dimitri menutup teleponnya tersebut. sebelum ia masuk ke dalam limusinnya yang terparkir tepat di depan pet shop Rosaline.

***

“Jadi, dia ayah dari bayimu?” tanya Alan sekali lagi. Saat ini, Alan dan Rosaline sedang menghabiskan waktu makan siang mereka di sebuah cofee shop tepat di seberang Pet Shop milik Rosaline.

Alan memang merupakan pelanggan setia Rosaline, dari Alan lah, Rose mendapatkan Snowky. Ya, Snowky merupakan salah satu anak dari anjing Alan. Dulu, Rose pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan Alan, tapi karena lelaki itu terlalu baik, Rose tidak bisa memanfaatkan lelaki itu untuk menjadi pelariannya dalam melupakan sosok Dimitri.

Rose juga sempat berpikir jika Alan adalah sosok pendonor yang cocok untuk memberinya bayi, tapi ia berpikir lebih jauh lagi, saat ia hamil anak Alan, mereka pasti tak akan dapat berteman seperti ini lagi.

Rose mendesah panjang. “Ya, dialah orangnya.”

Alan tersenyum. “Sepertinya kau beruntung, Rose. Dia tampak sempurna.”

“Ya, mungkin. Jika kami belum pernah menikah sebelumnya.”

“Apa?” Mata Alan membulat seketika.

“Dia mantan suamiku.” Rosaline mendesah panjang.

“Woww, sepertinya kalian memang berjodoh.”

“Alan, aku sedang tidak ingin bercanda.” Rose memakan saladnya. “Hubungan kami sangat buruk. Aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Dan dengan adanya bayi ini, semuanya jadi semakin rumit.”

Well, aku hanya ingin menghiburmu, kau tampak sedikit tertekan.”

“Ya, setelah aku tahu bahwa dia orangnya, aku merasa kurang nyaman.”

“Kenapa?”

Rosaline menggelengkan kepalanya. Ya, ia tidak mungkin mengatakannya pada Alan, bahkan dengan Ana yang notabene lebih dekat dengannya saja, Rose tak pernah menceritakannya. Karena menceritakan semua masa lalunya seperti sedang mengorek luka lamanya.

“Kau tahu, dia hanya mencintaiku.” Itu bukan sebuah pertanyaan.

“Kau gila? Kau adalah adik kandungnya.”

“Ya, tapi kami saling mencintai.”

“Tidak! Dimitri hanya mencintaiku, itu sebabnya dia menikahiku meski kami belum lama saling kenal.”

Wanita di hadapannya itu tertawa lebar. “Sadarlah, Rose. Kau hanya dijadikan alat untuk menutupi hubungan kami, kau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus Armanzandrov. Itu saja, tidak lebih.” Rosaline hanya ternganga mendengar ucapan wanita itu, ia mencoba memungkiri setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu, tapi pikirannya berkata jika semuanya menjadi sangat masuk akal. Ya, tak ada yang kebetulan, semua memang sudah direncanakan Dimitri. Ia sudah ditipu oleh lelaki itu….

***

Dimitri tersenyum setelah melihat seorang wanita mendatangi meja makannya. Ia segera berdiri dan menyambut kedatangan wanita itu yang segera mengecup sisi kanan dan kiri pipinya dengan lembut.

“Kau tampak sangat tegang.” Wanita itu berucap sembari menyunggingkan senyumannya, jemarinya bahkan mengusap lembut pipi Dimitri, berharap jika ketegangan Dimitri lenyap karena sentuhannya.

“Ya, kau tentu tahu karena siapa.”

“Rosaline? Ayolah, sekarang apa lagi?”

Dimitri kembali duduk di kursinya, lalu ia mempersilahkan wanita di hadapannya itu duduk. “Duduklah, kita akan makan siang sebelum membahas semuanya, Ana.” ucapan Dimitri tenang, namun matanya menatap wanita itu dengan penuh arti. Sedangkan wanita yang bernama Ana itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Dimitri.

Ahhh, ternyata lelaki itu masih sama, senang sekali mengintimidasi lawannya dengan tatapan mata tajamnya…

-TBC-

Baby, oh Baby! – Chapter 3 (Aku ingin bercinta)

Comments 3 Standard

Baby, oh Baby!

 

Chapter 3

-Aku ingin bercinta-

 

Empat tahun yang lalu…..

Satu minggu berlalu setelah menghabiskan waktu bersama, membuat Rosaline mengenal Dimitri lebih dekat dari sebelumnya. Lelaki itu sangat perhatian, bahkan bisa dibilang romantis, padahal hubungan mereka tak lebih dari sebatas kenalan.

Tapi tadi, saat keduanya terpana satu sama lain ketika melihat keindahan danau Onega, membuat Rosaline tidak menyangka jika Dimitri akan menautkan bibir mereka disana. Membakar tubuh mereka dengan gairah yang menyala-nyala. Bagaiamana mungkin ia merasakan perasaan seperti ini pada orang seasing Dimitri?

Dimitri lalu mengajaknya kembali dengan cepat, bahkan lelaki itu memilih menyewa hotel yang letaknya tak jauh dari danau. Dan kini, mereka tengah sibuk mencurahkan hasrat masing-masing.

“Aku menginginkanmu, Rose….”

“Aku mencintaimu…”

“Kau begitu cantik…”

“Biarkan aku memilikimu, maka akan kuberikan segalanya untukmu….”

Entah apa saja kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Dimitri. Racauan-racauan tak jelas dalam bahasa Rusia, hingga yang dapat Rosaline lakukan hanya mengerang membalas semua racauan dari lelaki tersebut.

Rosaline telentang dengan pasrah di atas ranjang, sedangkan tubuhnya sudah polos setelah Dimitri melucutinya. Kini, lelaki itu tengah sibuh membuka pakaiannnya sendiri, membuat Rose takjub dengan keindahan yang terpampang sempurna di hadapannya.

Tubuh Dimitri tampak kekar, berotot, dengan kulit putih khas orang Rusia. Lelaki itu tampak menggairahkan ketika tubuhnya sudah polos sama seperti dirinya. Rosaline menggeliat tak menentu di atas ranjang. Padahal Dimitri belum menyentuhnya. Dan ketika Dimitri membebaskan bukti gairahnya, yang bisa Rose lakukan hanya menahan napasnya, saat tahu betapa menakjubkannya bukti gairah lelaki itu.

Rosaline terduduk seketika, berharap jika Dimitri mengizinkannya untuk menyentuh bukti girah lelaki itu. Tapi apa yang Rose inginkan nyatanya tidak terpenuhi, saat Dimitri memilih kembali mendorong tubuh Rosaline hingga wanita itu kembali telentang di bawah tindihannya.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Dimitri dengan suara yang sudah serak.

“Menyentuhmu, aku ingin menyentuh milikmu.”

“Tidak akan kubiarkan.”

“Kenapa?” Rose bertanya dengan penasaran.

“Karena aku yang akan menyentuhmu.” Dan setelah itu, Dimitri kembali melumat bibir Rosaline. Jemarinya sudah bergerilya, mencari pusat diri Rosaline, memainkannya, menggodanya, hingga yang dapat Rose lakukan hanya mengerang pasrah dalam cumbuan Dimitri.

Bibir Dimitri turun kebawah, meninggalkan Rose dengan desahan-desahan panjangnya, lalu bibirnya mendarat pada puncak payudara wanita itu, melumatnya, menghisapnya, sedangkan jemarinya sudah membelai lembut pusat diri Rosaline.

Erangan yang keluar dari bibir Rose tak mampu membuat Dimitri bertahan, erangan itu bagaikan nyanyian erotis yang mampu meningkatkan gairahnya secara pelan tapi pasti. Oh, Rosaline benar-benar membuatnya frustasi dengan gairah yang menghantamnya lagi dan lagi.

Hingga ketika Dimitri tak mampu lagi menahannya, ia menghentikan aksinya lalu berkata lembut pada Rose. “Aku akan memulainya.”

Rosaline tidak menjawab,ia hanya mengangguk pasrah, sibuk dengan kenikmatan yang menyerangnya hingga ia tidak peduli ketika Dimitri memasang pengaman pada bukti gairahnya sebelum menyatukan diri seketika dengan dirinya.

“Rose, kau, luar biasa.” ucapnya dalam bahasa Rusia.

Rosaline tidak menjawab, karena ia masih sibuk mengontrol diri agar tidak berteriak ketika Dimitri terasa penuh mengisinya. Dimitri mulai bergerak, bibirnya kembali meraih bibir Rosaline, melumatnya bahkan sesekali menggigitnya. Keduanya begitu menikmati percintaan panas pertama mereka, hingga mereka tidak sadar, jika sejak saat itu, tubuh mereka seakan candu satu dengan yang lainnya.

“Karena kau, aku melakukannya bukan hanya karena bayinya, tapi karena kau. Karena aku menginginkanmu.”

Dimitri menarik Rosaline mendekat ke arahnya, mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut pipi Rosaline. Rose yang masih terpana dengan kelembutan Dimitri tidak menyadari jika kini wajahnya sudah semakin dekat dengan wajah Dimitri.

“Karena kau, karena aku menginginkanmu.” Dimitri mengulangi kalimtnya lagi dengan suara nyaris tak terdengar, ia semakin mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

Rosaline semakin terpana ketika melihat bibir Dimitri, ia bahkan sudah menjinjitkan kakinya berharp bisa meraih bibir lelaki itu dan melumatya. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Kenapa berdekatan seperti ini saja membuat Rosaline merasa terbakar?

“Kau, ingin menciumku, Rose?” pertanyaan Dimitri sontak menyadarkan Rosaline dari fantasinya.

Ya, sial! Ia bahkan sempat berfantasi bahwa malam ini dirinya akan mendesah dibawah tindihan Dimitri.

Secapat kilat Rosaline melepaskan diri dari Dimitri, ia bahkan mendorong dada Dimitri agar menjauh dari dirinya. Rosaline menatap Dimitri dengan tatapan marah, marah karena lelaki itu sudah mampu membuatnya tergoda kembali. Sedangkan Dimitri, ia malah tersenyum melihat tingkah Rosaline.

Rosaline membalikkan diri, berjalan cepat meninggalkan Dimitri. Lalu langkahnya terhenti saat ia mendengar teriakan Dimitri.

“Kau masih mencintaiku, aku tahu, Rose!” Lelaki itu berteriak tapi dengan nada santai, bahkan lelaki itu menyisipkan senyuman mengejeknya hingga membuat Rosaline semakin kesal.

Dengan kesal Rosaline membalikkan tubuhnya dan berseru keras pada Dimitri “Pergilah ke neraka!” lalu ia kembali berjalan cepat meninggalkan Dimitri yang tak berhenti menyunggingkan senyuman kemenangannya.

Rose masih menjadi miliknya, wanita itu tak akan lepas dari genggaman tanganya….

***

Hingga menjelang pagi, mata Rosaline tak dapat tertutup. Ia gelisah tak menentu di atas ranjangnya. Entahlah, ia bahkan tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Bayangan tubuh telanjang Dimitri menari-nari dalam kepalanya. Membangkitkan fantasinya pada malam ini.

Astaga, apa yang sedang terjadi dengannya?

Rosaline bangkit, menyalakan lampu, lalu memilih keluar dari dalam kamarnya menuju ke arah dapur, sepertinya ia butuh minuman dingin untuk meredakan hawa panas di dalam tubuhnya.

Setelah menuangkan segelas air dingin, Rose menenggaknya hingga tandas, tapi ia merasa panas di dalam dirinya belum juga padam. Apa yang terjadi denganmu, Rose? Tanyanya pada dirinya sendiri.

Akhirnya, Rosaline meraih ponselnya, lalu menghubungi Ana. Ya, hanya Ana lah, teman yang sudah seperti saudaranya sendiri, dan wanita itu pastinya mau ia repotkan dengan curhatannya di tengah malam seperti saat ini.

Ana sepertinya sedang tidur karena temannya itu tak juga mengangkat telepon darinya, tapi Rose tidak patah semangat, ia menelepon lagi dan lagi karena ia memang butuh teman bicara agar pikirannya tidak memikirkan hal-hal panas yang membuat akal sehatnya hilang.

Setelah mencoba berkali-kali, Rosaline bersyukur karena Ana akhirnya mengangkat telepon darinya. Meskipun wanita itu terdengar kesal saat mengangkat telepon darinya.

“Rose,apa yang terjadi?” ya, itu adalah percampuran antara kesal dan juga khawatir.

“Uuum, apa aku mengganggumu? aku hanya butuh teman bicara.”

“Rose, ini sudah menjelang pagi, dan kau menggangguku hanya karena kau butuh teman bicara? Ini tidak lucu. Aku akan menutup teleponnya.”

“Ana, tolong. Jika kau membiarkan aku sendiri malam ini, maka aku bisa gila.”

“Apa yang terjadi? Astaga, aku sedang memiliki malam yang panas dengan Sean, dan kau mengganggunya.” Ana benar-benar terdengar kesal, dan Rose benar-benar menyesal karena sudah mengganggu temannya itu.

“Maaf, tapi kupikir, ini juga kesalahanmu.”

“Apa yang membuatku salah?”

Rosaline memejamkanmatanya frustasi. “Karena kau sudah membiarkan pria Rusia itu mengusik hidupku kembali.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Ada apa dengan Dimitri?” Ya, ketika Rosaline mengatakan ‘Pria Rusia’ maka Ana tahu jika yang dimaksud Rosaline adalah Dimitri.

Rose hanya diam, ia tidak tahu harus bagaimana menceritakan keadaannya pada Ana.

“Kenapa lagi, Rose?” tanya Ana lagi.

“Ya Tuhan! Aku ingin bercinta dengannya.” Rose tidak mengerti setan apa yang saat ini sedang bersemayam di dalam dirinya hingga ia mengucapkan kalimat menggelikan itu.

Setelah beberapa detik tak bereaksi, terdengar tawa lebar dari seberang telepon. “Astaga Rose, kau ingin seks?” tanya Ana dengan nada menggoda, dan sungguh, itu benar-benar membuat Rosaline kesal.

“Sepertinya aku memang salah sudah menghubungimu.” ucap Rosaline sembari bersiap menutup teleponnya

“Rose, tunggu.” Teriakan Ana membuat Rosaline menghentikan aksinya untuk menutup sambungan telepon. “Aku tidak bisa membantu banyak, tapi sedikit informasi, bahwa kebanyakan ibu hamil memang selalu menginginkan seks.”

“Maksudmu?”

“Hormon kalian sedang kacau, jadi keinginan untuk bercintapun semakin meningkat.”

“Jadi, aku akan sering mengalami hal ini?”

“Ya, bahkan mungkin lebih parah lagi.”

“Kau bercanda?” Rosaline bergidik ngeri. Sungguh, ia tidak bisa membiarkan dirinya gila karena ingin bercinta. Apalagi saat ia sedang tidak memiliki teman untuk diajak bercinta.

“Rose, sebaiknya kau memikirkan kahadiran Dimitri. Kupikir… dia cukup menarik untuk dijadikan teman bercinta.” ucap Ana diiringi dengan tawa khasnya.

Ya, sempurna! Ana memang benar-benar sudah gila karena berani mengusulkan ide gila itu padanya.

Dimitri memang cukup menarik, Tidak! Bahkan sangat menarik untuk diajak bercinta. Rosaline tahu bagaimana mahirnya lelaki itu ketika di atas ranjang. Tapi menjadikan lelaki itu hanya sebagai teman bercinta untuk memuaskan dahaganya tanpa melibatkan perasaannya benar-benar mustahil. Ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri, bahkan hingga kini, Rose tidak yakin, apa ia sudah mampu melupakan perasaannya dulu pada lelaki itu, atau belum.

Nyatanya, hingga kini, Dimitri masih sangat mempengaruhinya, mengintimidasinya hingga membuatnya seakan kehilagan akal sehatnya.

Tuhan! Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana mungkin ia mendapatkan nasib sesial ini?

-TBC-