Sleeping with my Friend – Bab 16

Comment 1 Standard

 

Bab 16

Lumatan mereka semakin intens, semakin panas, seakan keduanya tak ingin mengakhiri tautan bibir masin-masing. Jessie yang pertama kali sadar dari buaian asmara tersebut, segera ia melepaskan diri, membiarkan tautan bibir mereka terputus, dengan napas yang sama-sama saling terengah.

“Steve, aku lapar.” Ucapnya kemudian.

Jessie tidak bohong tentang dirinya yang sudah kelaparan, tapi sebenarnya, Jessie sempat melupakan rasa laparnya ketika Steve mencumbunya dengan begitu panas seperti tadi. Ia merasa bahwa malam ini, tak apa ia melewatkan makan malamnya, asalkan ia bisa bercumbu mesra dengan Steve sepanjang malam. Tapi Jessie juga harus memikirkan bayi yang dikandungnya. Bayinya membutuhkan nutrisi, dan ia harus makan untuk memenuhi nutrisi bagi bayinya tersebut.

“Aku… Maaf, aku terbawa suasana.” Ucap Steve dengan suara parau.

Jessie tentu merasakan bagaimana lelaki di hadapannya ini menegang seutuhnya, ereksinya menempel pada perut Jessie, keras, berkedut, membuat Jessie tak kuasa menahan diri untuk membungkusnya. Hanya saja, mereka bukan lagi remaja yang dimabuk asmara. Ada bayi diantara mereka, ada masalah yang harus mereka bahas sebelum kembali berakhir di atas ranjang.

Jessie mengusap lembut pipi Steve, ia berkata “Akupun demikian. Aku juga terbawa suasana, aku juga menginginkanmu. Mungkin karena hormon, atau yang lain. Aku tidak tahu. Tapi kita tidak bisa selalu menyelesaikan masalah dengan seks.” Ucap Jessie pelan agar Steve mengerti apa yang ia maksud.

Steve menganggukkan kepalanya. Jessie benar, sangat benar. “Baiklah. Kau lapar sekali?”

“Ya. Sangat lapar.” Kali ini Jessie mengusap perutnya dengan manja.

Steve tersenyum. Ia ikut mengusap perut Jessie dan berkata “Maafkan Daddymu yang kurang ajar ini, oke?” Steve berkata pada bayinya, lalu ia menatap ke arah Jessie. “Kau duduk saja. Aku yang akan menghangatkan makanannya dan menyiapkan sisanya.”

Jessie tersenyum bahagia. Steve sudah kembali, dan lebih baik lagi, lelaki ini bersikap begitu perhatian padanya. Jessie senang, sangat senang.

***

Setelah makan malam. Jessie dan Steve segera menuju ke kamar. Ini sudah hampir jam tiga dini hari, jadi mereka tak akan menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap atau bahkan menonton TV lagi.

Bagi Jessie, ia tak butuh lagi penjelasan tentang sikap aneh Steve spanjang hari ini. kenapa lelaki itu tiba-tiba minum hingga larut. Yang terpenting adalah, bahwa Steve sudah kembali seperti semula. Lelaki itu sudah membaik, dan hal itu sudah cukup untuk Jessie.

Tanpa canggung, Jessie mendahului Steve, berjalan di depan lelaki itu, kemudian membuka bajunya sendiri. Meninggalkan dirinya hanya dengan bra dan celana dalamnya saja. Jessie berjalan menuju ke meja rias, mengambil sebotol minyak zaitun dengan aroma mawar, lalu menuju ke arah ranjang, dan duduk dengan pose seksinya, setidaknya dimata Steve seperti itu.

Jessie tampak sedang menggodanya, entah benar atau tidak, hanya wanita itu yang tahu. Tapi demi Tuhan! Steve merasa ketegangan yang tadi sempat lenyap karena makan malam, kini kembali bangkit. Ia kembali bereresi hanya karena melihat Jessie berjalan setengah telanjang di hadapannya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Steve bingung, ketika mendapati Jessie sibuk membuka kemasan botol minyak zaitun tersebut.

Steve berjalan mendekat, ikut duduk di pinggiran ranjang dan mengamati apa yan akan dilakukan Jessie.

“Tadi aku ke butik, karena tak ada yang bisa kukerjakan dan aku cukup bosan di sana, aku memilih menghabiskan siangku untuk mengobrol dengan Miranda sesekali mencari informasi tentang kehamilan. Salah satu artikel menyebut bahwa nanti, perutku akan sering terasa gatal, dan aku tak boleh menggaruknya karena akan meninggalkan bekas luka.”

Well, sepertinya aku juga harus banyak membaca tentang artikel kehamilan. Aku ingin kau melewatinya bersamaku.”

Jessie mengangguk. “Dan, dengan minyak zaitun ini, bisa mengurangi rasa gatal tersebut.”

“Jadi, kau akan melumurkan ke tubuhmu?”

“Kau keberatan?” Jessie bertanya balik.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Kau ingin, aku melakukannya untukmu?” tanya Steve kemudian.

“Kau, bisa melakukannya?” Jessie bertanya balik.

Steve merebut botol tersebut dari tangan Jessie. “Mari kita lihat, seberapa mahir aku melakukannya.”ucapnya sembari membuka botol tersebut, menuangkan isinya pada permukaan perut Jessie hingga membuat Jessie memekik seketika.

“Ohhh…” Jessie mengerang. Apalagi saat jemari Steve mulai mengusap perut hamilnya. “Astaga, ini bagus sekali.” Jessie tak tahu apa yang sudah ia katakan. Ia bahkan sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas ranjang.

Steve mengangkat sebelah alisnya. “Bagus?”

“Ya ampun, rasanya nikmat.”

“Nikmat?” sekali lagi Steve menatap Jessie penuh tanya. Jemarinya masih mengusap lembut perut Jessie sedangkan pangkal pahanya sudah berdenyut nyeri menatap ekspresi nikmat yang ditampilkan oleh istrinya tersebut.

Ya ampun! Jessie benar-benar sedang menggodanya.

“Oooh..” Jessie kembali mengerang ketika jemari Steve dengan nakal merayap naik menelusup kedalam bra yang ia kenakan. “Kau, terlalu ke atas, Mr. Morgan.” Desah Jessie dengan terpatah-patah.

“Heemmm, aku suka merayap ke atas.” Steve menuangkan lagi minyak zaitun di tangannya, kemudian kembali memijat pelan perut Jessie. “Kau, sangat indah.” Steve mengerang. Dengan nakal jemarinya turun mengusap lembut pusat diri Jessie.

“Astaga. Apa yang kau lakukan? Ohhh..” Jessie mengerang, menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan membiarkan ketika Steve dengan cekatan menurunkan celana dalam yang ia kenakan, menyisakan Jessie hanya dengan branya saja. “Steve, apa yang kau lakukan?” tanya Jessie dengan napas yang sudah terengah.

Steve hanya sedikit menunggingkan senyumannya. Ia kembali menuangkan minyak zaitun, lalu mengusapkannya pada sepanjang kaki Jessie dengan gerakan memijat, pelan, pasti dan sangat menggoda.

“Aku ingin membuatmu rileks.”

“Ohh, kau membuatku terbakar.” Jessie melemparkan kepalanya ke belakang saat dengan panas Steve kembali menyentuhkan jemarinya yang licin karena minyak zaitun pada pusat dirinya.

Steve menggodanya, sedangkan jemari lelaki itu yang lain memijat kakinya.

“Steve!! Astaga!” Jessie bahkan akan sampai pada pelepasan pertamanya karena permainan Steve yang lembut tapi sangat menggodanya.

“Ya? Sayang?” Steve kembali mengoda, ia kembali ke atas, dan membantu Jessie melepaskan branya, hingga wanita itu sudah telanjang bulat di bawah matanya. Steve menuang lagi minyak zaitun tersebut tapi langsung pada permukaan payudara Jessie yang padat berisi. Membuat Jessie memekik karena sensasinya.

“Ya Tuhan!” Entah berapa kali Jessie mengerangkan kata itu. Nyatanya ia merasa bahwa gairahnya meningkat lagi dan lagi ketika jemari Steve dengan minyak Zaitun tersebut menyentuh permukaan kulitnya.

Steve mengusapnya lagi dan lagi, menggodanya dengan gerakan lembut tapi panas, membakar apapun yang ia sentuh termasuk tubuh Jessie.

“Katakan, Sayang. Apa yang kau inginkan?” tanya Steve sebelum mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Jessie.

“Ohhh.. Kau. Aku menginginkanmu! Demi Tuhan!” Jessie terengah. Ia sangat jujur, Jessie benar-benar menginginkan Steve saat ini. Jemari Steve bekerja dengan begitu sempurna, menggoda Jessie, membuat Jessie menginginkan lelaki itu untuk berada di dalamnya saat ini juga. Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya?

Secepat kilat Steve bangkit, sempat membuat Jessie menatapnya dengan tatapan kecewa karena Steve menghentikan kenikmatan yang diberikan oleh lelaki itu pada tubuh Jessie. Tapi Steve hanya sedikit tersenyum mirir, penuh arti. Lalu melucuti pakaiannya sendiri kemudian kembali menindih tubuh Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mulai menyatukan diri. Steve tahu bahwa Jessie sudah hampir klimaks karenanya. Karena itu ia tak ingin membuang waktu lagi.

Keduanya mengerang panjang dengan penyatuan yang begitu erotis. Jessie sempat meracau ketika Steve terasa penuh mengisinya, tegang didalamnya, dan lelaki itu tak membuang waktu untuk menggerakkan dirinya.

“Ya Tuhan! Aku sangat menginginkanmu, Jess!” Steve berseru, sebelum ia menggapai bibir Jessie dan melumatnya penuh gairah. Sedangkan yang dilakukan Jesie hanya pasrah, menerima kenikmatan yang diberikan oleh suaminya, dengan sesekali membalasnya. Hingga percintaan mereka menjadi percintaan panas yang mampu membakar apa saja yang ada di antara mereka…

***

Menjelang pagi, Jessie bangung. Ia merasakan jemari Steve mengusap-usap perutnya dengan lembut, membuat Jessie dirayapi rasa geli yang bercampur dengan gairah.

Astaga, semalaman mereka sudah bercinta dengan panas, tapi Jessie merasa masih kurang. Mungkin karena hormon yang mempengaruhinya. Tapi Steve seakan tahu apa yang diinginkan Jessie.

Jessie bahkan sudah merasakan bukti gairah lelaki itu yang tegang menempel pada bagian belakang tubuhnya, membuat Jessie menggeliat dan menolehkan kepalanya ke belakang.

“Steve, kau bangun lagi?”

Steve tersenyum. “Tidak. Tidur saja. Aku ingin memeluk kalian.”

Jessie sangat senang dengan kalimat terakhir Steve. Ia merasa sangat disayangi, bukan hanya fisiknya saja, tapi semuanya. Jessie memposisikan diri untuk tidur lebih nyaman lagi, dan tak lama, kesadarannya mulai menghilang.

Pada saat itu, sama-samar Jessie mendengar ucapan Steve yang entah mengapa terdengar begitu manis dan membuatnya tersenyum dalam tidurnya. Astaga, itu pasti mimpi. Jika iya, maka itu adalah mimpi terindah yang pernah didapatkan oleh Jessie.

‘Jess, kupikir, aku mencintaimu.’

***

Wajah Jessie tak berhenti merona ketika mengingat kejadian panas semalam yang ia lakukan dengan Steve. bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum bahagia. Telapak tangannya sesekali mengusap pipinya sendiri saat ia tak kuasa menahan rasa malunya saat mengingat kejadian itu.

Astaga, bagaimana mungkin ia melakukan malam yang sangat panas dengan seorang Steven Morgan? Steve benar-benar menjadi sosok suami baginya saat ini. Jessie tak bisa lagi melihat Steve sebagai temannya. Dan sepertinya lelaki itu juga merasakan hal yang sama seperti apa yang ia rasakan saat ini.

Tuhan! Ini gila!

Jessie bahkan tak dapat memikirkan hal lain selain kejadian semalam. Membuat Jessie ingin melakukannya lagi. Memberi Steve alasan untuk memijatnya dengan minyak Zaitun, pasti lelaki itu akan melakukannya lagi nanti malam.

Jessie menggelengkan kepalanya saat pikiran mesum mulai menguasainya. Sesekali ia mengusap perutnya dan berterimakasih pada bayinya karena sudah memberikan kesempatan dirinya untuk merasakan pengalaman yang sangat luar biasa.

Ketika Jessie asyik melamunkan malam panasnya dengan Steve, pintu ruangannya di buka, menampilkan sosok Miranda di sana.

Saat ini, Jessie memang sedang berada di butiknya. Meski belum banyak pekerjaan yang dapat ia kerjakan, tapi Jessie tetap ingin berangkat ke butiknya daripada harus seharian di dalam apartmennya dan mati karena bosan.

Steve sendiri tadi yang mengantarnya. Lelaki itu bahkan bersikap manis pagi ini dengan mengecup lembut puncak kepalanya lalu mengecup perutnya juga. Astaga, sejak kapan Steve menjadi semanis itu terhadapnya.

Kembali lagi pada Miranda, wanita itu berjalan mendekatinya dan berkata “Kau benar-benar sedang berpikir yang tidak-tidak, ya? Wajahmu merah padam, Jess.”

Jessie kembali menangkup pipinya sendiri, merasakan panas menjalar di area wajahnya. Ya, ia memang sedang memikirkan hal-hal tak masuk akal dengan Steve.

Jessie tersenyum ke arah Miranda. Ia berkata “Maaf, kau tahu sendiri, kan. Ibu hamil.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya.

“Ya, ya, ya, aku mengerti.” Kata Miranda dengan tawa lebarnya. “Sekarang, bangkitlah. Ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie dengan sedikit penasaran. Ia tidak memiliki janji sebelumnya. Dan Jessie berpikir bahwa ia belum siap untuk bekerja lagi sepenuhnya seperti sebelum ia hamil. Keadaannya saat ini sangat labil. Ia mudah lelah, perasaannya sering kacau, dan ia lebih suka melamunkan tentang hal panas. Tentu saja hal itu akan sangat mengganggu jika Jessie memutuskan untuk bekerja penuh seperti sebelum ia hamil.

“Mungkin seorang calon pengantin. Dia tidak menyebutkan namanya. Dia hanya ingin membahasnya denganmu.”

“Ohh, kalau begitu, suruh saja dia masuk.”

Dan tak lama, Miranda kembali keluar, lalu mempersilahkan seseorang masuk ke dalam ruangan Jessie. Jessie segera berdiri, ia akan menyambut hangat calon pelanggannya. Tapi ketika ia tahu siapa yang datang menemuinya, tubuh Jessie membeku seketika.

Itu Donna Simmon, mantan keksih Steve. mantan? Tunggu dulu, bahkan Jessie tak yakin jika Steve sudah memutuskan Donna. Jessie bahkan melupakan hal sepenting itu selama ini. ia tidak tahu apa Steve sudah tidak memiliki hubungan dengan wanita lain selain dirinya atau tidak.

Yang menjadi pertanyaan untuk Jessie adalah, kenapa Donna Simmon datang ke butiknya? Apa yang diinginkan wanita itu? Apa wanita itu akan membahas tentang Steve dengan dirinya? Apa wanita itu sudah tahu tentang pernikahan kilatnya dengan Steve? atau, apa wanita itu datang kemari untuk menyiapkan gaun pernikahan yang akan wanita itu pakai dengan Steve yang menjadi mempelai prianya?

Tidak! Tidak! Bukan itu yang akan terjadi, kan? Steve tidak akan mungkin mengkhianatinya, atau lebih mengerikan lagi, menikah diam-diam di belakangnya. Tidak! Bukan itu yang akan terjadi.

***

Steve pulang malam. Ia benar-benar kesal karena hari ini mendapat klien yang sangat cerewet dan susah diatur. Sepasang kekasih itu sedang melakukan foto prawedding. Tentu saja mereka dari kalangan konglongmerat karena berani memakai jasanya yang bisa dibilang sangat mahal untuk sebuah foto prawedding.

Mereka mengambil banyak sekali scene. Saat Steve mencoba mengarahkan, si wanita arogan itu malah menolaknya mentah-mentah. Entah jadi apa nanti hasil tangkapan kameranya. Steve tak peduli. Ia benar-benar kesal mendapati klien yang sok tau seperti itu.

Steve sudah sempat menghubungi Jessie, tapi wanita itu tak mengangkat teleponnya. Mungkin Jessie sudah pulang naik taksi, tapi saat Steve sampai di apartmen wanita itu, Jessie tak ada.

Akhirnya, Steve memutuskan untuk menyusul Jessie ke butik wanita itu. Apa Jessie sudah mulai bekerja lagi? Jika iya, kenapa wanita itu bekerja hingga larut? Harusnya Jessie memikirkan tentang keadaannya, tentang kehamilannya, tentang bayi mereka. Steve mendengus sebal, sepertinya ia harus lebih protektif lagi kepada Jessie agar wanita itu mengerti bahwa yang utama saat ini adalah diri Jessie dan juga bayi mereka.

Ketika Steve akan sampai di butik Jessie. Dari jauh ia sudah melihat lampu butik wanita itu sudah padam. Yang artinya, Jessie sudah menutup butiknya. Kemudian Steve segera menghentikan mobilnya saat melihat bayang Jessie keluar dari dalam butiknya. Yang membuat Steve menegang adalah, wanita itu tidak sendiri, ada Henry di sana. Sialan, mereka sedang melakukan apa? Pikir Steve.

Steve hanya mengamati dari jauh. Jessie tampak mengikuti Henry menuju ke arah mobil tersebut. Dan ketika keduanya sudah berada di dekat mobil, tanpa diduga, Jessie melemparkan diri pada Henry, memeluk lelaki itu dengan erat.

Steve tak tahu apa yang sedang terjadi, ia bahkan tak ingin memikirkan apapun saat ini. Jessie tak mungkin mengkhianatinya, Jessie tak mungkin menduakannya.

Sialan!

Tapi Steve tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa apa yang ia lihat dengan mata kepalanya saat ini adalah hal yang nyata. Hal yang begitu menyakiti hatinya dan melukai harga dirinya.

Steve marah, sangat marah.

Seharusnya, jika Jessie tidak memiliki perasaan untuknya, wanita itu tak perlu bersikap seperti begitu menginginkannya. Steve ingat dengan jelas, bagaimana semalaman mereka berdua bercinta dengan panas, bagaimana Jessie memohon padanya untuk segera dipuaskan. Hal itu membuat Steve melambungkan perasaannya, berpikir bahwa Jessie sudah mulai membuka hati untuknya.

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

-TBC-

Yuuuhuuuu adakah hatinya yang ikutan ‘kreeteekkk-kreeetekkk’ kayak Stipe??

Advertisements

Sleeping with my Friend – Bab 15

Comment 1 Standard

 

“Dia bahkan berkata bahwa dia tak peduli tentang kehamilanku. Dia tetap ingin menikahiku meski aku hamil dengan lelaki lain. Dia sangat mencintaiku, dan aku sudah menyakitinya.”

Sesuatu yang retak kembali terasa di dalam dada Steve. Steve merasakan perasaan yang sama ketika ia melihat Jessie dan Henry berciuman pada sore itu. Jessie benar-benar mencintai Henry, Steve tahu itu. Dan kini, ia sudah menghancurkan semuanya, membuat Jessie tersakiti karena perpisahannya dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Steve tahu bahwa semua ini karena salahnya. Ia sudah menyakiti Jessie dengan cara yang paling buruk. Bagaimana mungkin ia menjadi seberengsek ini?

Bab 15

Untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, Steve tidak ingin menyentuh Jessie. Mereka bahkan tidur saling memunggungi satu sama lain.

Setelah puas menangis, Jessie tertidur dalam pelukan Steve. Jessie banyak bercerita tentang apa yang terjadi sepanjang siang ini. Bagaimana cara wanita itu menjelaskan pada Henry, bagaimana reaksi lelaki itu. Dan Steve hanya diam, mendengarkan bagaimana kecewanya Jessie atas apa yang sudah menimpa hubungannya dengan Henry.

Jessie sangat kecewa, Jessie sangat sedih. Setidaknya, hal itulah yang bisa ditangkap Steve. Wanita itu tak berhenti menangis, hingga lelah dan tertidur dalam pelukan Steve. setelah itu, Steve menidurkan Jessie kembali ke atas ranjang. Kemudian, Steve memilih tidur di sebelahnya dengan posisi memunggungi Jessie.

Ia tidak ingin melihat Jessie saat wanita itu bersedih karena pria lain, ia tidak ingin melihat tangis Jessie yang bersumber dari dirinya. Sial! Steve benar-benar menjadi orang yang sangat berengsek.

Seharusnya, sebelum memutuskan untuk menikahi Jessie, ia harus memikirkan perasaan wanita itu dulu. Kini, Jessie hancur karenanya, dan lebih menyebalkan lagi bahwa ia juga merasakan perasaan sakit ketika Jessie tersakiti.

Steve mendesah panjang, ia memilih memejamkan matanya, tidur dan melupakan semuanya. Ya, ia harus melupakan semuanya…

***

Keesokan harinya, Jessie terbangun saat hari sudah siang. Ia terbangun sendiri. Jessie mencari Steve tapi lelaki itu tak ada di kamarnya. Apa Steve sedang sedang ada pekerjaan?

Jessie menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia menuju ek arah dapur dan akan memasak sarapan untuk dirinya sendiri. rupanya, Steve sudah menyiapkan sarapan untuknya di meja makan.

Astaga, sejak kapan lelaki itu menjadi semanis ini? Jessie tersenyum sendiri. ia mendapati note yang ditempelkan Steve pada pintu lemari pendinginnya. Steve berkata bahwa lelaki itu ada jadwal pemotretan, jadi ia harus pergi pagi-pagi sekali. Jessie mengerti jika Steve adalah oraang yang sibuk. Akhirnya, Jessie memilih duduk di kursi meja makan sembari menikmati sarapan buatan Steve.

Kemudian, ia kembali teringat dengan Henry.

Ohh, lelaki itu.

Saat Jessie mengingat tentang Henry, saat itulah perasaannya kembali kacau. Jessie benar-benar merasa bersalah kepada mantan tunangannya tersebut. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Semuanya sudah terjadi, jadi apa yang ia lakukan sudah benar, yaitu mengakhiri hubungannya dengan Henry.

Jessie menghela napas panjang. Bacon panggang dengan saus keju buatan Steve bahkan terasa hambar setelah ia mengingat tentang Henry. Sepertinya ia harus keluar, mencari udara segar agar bisa melupakan tentang masalahnya.

Jessie lalu bangkit, ia bersiap untuk mengganti pakaiannya. Sepertinya ia akan menuju ke butiknya. Bercakap-cakap dengan Miranda, atau mungkin menanyakan tentang Carmella Jackson, teman Miranda saat itu yang tampak serasi berdansa dengan Frank, kakaknya.

***

Di lain tempat….

“Jadi mereka benar-benar sudah menikah?” Donna bertanya sekali lagi pada Natalia, kekasih Hank.

“Ya. Maaf. Aku tidak berani memberitahumu. Ini adalah masalah pribadimu dengan Steve, jadi kupikir, aku tidak memiliki kapasitas untuk mengatakannya secara langsung kepadamu.”

“Nath! Bagaimana mungkin kau menyembunyikan hal seserius ini? Astaga! Aku sudah sangat tertarik dengan Morgan! Aku sudah banyak berharap padanya, dan kemarin dia memutuskan hubungan kami.”

“Maaf. Sejujurnya, aku dan Hank juga tidak tahu, kenapa semua jadi rumit seperti ini. yang kutahu dari Hank, Jess hamil, dan ya, kau tahu, Steve harus menikahinya.”

“Apa?! Jadi mereka menikah karena bayi?”

“Aku tidak tahu, Donna. Sungguh. Dan aku tak mau ikut campur masalah mereka. Maksudku, Steve bebas memilih harus dengan siapa dia menikah.”

“Maksudmu kau mendukung pernikahan mereka?”

“Mereka akan memiliki bayi, Donna. Hal yang paling masuk akal adalah menikah.”

“Tapi dia kekasihku, Nath! Dan kau temanku.”

Sungguh. Natalia tak tahu harus bersikap bagaimana dan berkata apalagi. Ia benar-benar tak ingin tahu dan ikut campur masalah Steve, Jessie dan Donna. Tapi disisi lain, ia juga merasa bersalah karena sudah mengenalkan Donna pada Steve.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Hubungan kalian sudah berakhir. Dan biar kukoreksi, kupikir kalian saat itu belum benar-benar menjadi sepasang kekasih.”

“Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa Steve tidak meniduriku karena ingin membangun hubungan serius. Dia menghormatiku. Karena itulah dia tidak meniduriku.”

“Ya. Awalnya memang seperti itu. Tapi sekarang sudah berbeda, Donna. Dia tak lagi membutuhkan seseorang untuk membangun hubungan yang serius. Satu-satunya orang yang dia butuhkan adalah Jessie, istrinya. Jadi, saranku, lebih baik kau melupakannya.”

Melupakannya? Melupakan Steven Morgan? Yang benar saja. Lelaki itu adalah lelaki tampan, panas, dan mapan. Mana mungkin Donna bisa melepaskannya begitu saja saat lelaki itu sudah berada di dalam genggaman tangannya?

***

Jessie menghabiskan siangnya di ruang kerjanya yang berada di dalam butiknya. Tak banyak ia kerjakan, karena Jessie memang belum membuka pesanan lagi untuk baju-baju yang akan ia rancang.

Jessie ingin menikmati waktunya. Seperti yang dikatakan dokter, ia tidak boleh terlalu stress, atau kecapekan. Steve juga selalu berkata seperti itu.

Mengingat tentang Steve, Jessie melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tapi Steve belum juga menghubunginya sejak tadi pagi. Apa lelaki itu sangat sibuk?

Akhirnya Jessie memutuskan untuk menghubungi lelaki tersebut.

“Halo.” Panggilannya diangkat pada deringan kedua.

“Hai.” Jessie membenarkan tatanan rambutnya, padahal ia tahu bahwa Steve tak sedang melihatnya. Tapi tetap saja, dengan spontan ia melakukannya, merasa bahwa Steve beisa melihatnya dari seberang telepon.

“Jess? Ada masalah?”

Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja, Jessie merasa bahwa ia ingin sekali mendengar suara Steve saat ini. Astaga, Jessie tak pernah menginginkan keinginan yang menggelikan seperti itu, entah kenapa saat ini ia sangat menginginkannya.

“Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu.” Jessie menjawab dengan jujur. Tapi kejujurannya membuat Steve membisu cukup lama. Jessie mengerutkan keningnya. Tak biasanya Steve bersikap seperti itu padanya. “Kau, masih di sana?” tanya Jessie kemudian.

“Ya. Uuum, Jess. Aku sedang ada pekerjaan, jadi kupikir…”

“Baiklah. Matikan saja. Aku sudah cukup.” Jessie merasa bahwa Steve tak sedang ingin diganggu. Padahal Jessie masih ingin berbicara dengan lelaki itu, meski ia tidak tahu apa yang harus ia bicarakan.

Ya Tuhan! Jika dulu akan ada banyak sekali topik pembicaraan yang ia bahas dengan Steve, maka sekarang semuanya seakan lenyap ditelan oleh kecanggungan.

“Maaf, tapi jika sudah selesai, aku akan menghubungimu.”

“Ya. Baiklah.” Dan setelah itu, panggilan diakhiri.

Jessie menghela napas panjang. Entah perasaannya saja atau Steve tampak berbeda dengan biasanya. Lelaki itu, tampak sedang menghindarinya. Tapi kenapa? Apa yang sudah ia lakukan sampai Steve ingin menghindarinya?”

***

Di Studionya. Steve memijat pelipisnya. Ia merasa pusing. Ia bergairah pada Jessie, seperti biasanya, tapi ia tidak bisa menyalurkannya karena ia tahu bahwa ia sangat berengsek!

Steve merasa sudah memanfaatkan Jessie dengan menghamili wanita itu lalu mengikatnya dalam tali pernikahan. Steve merasa menjadi seorang bajingan karena sudah membuat Jessie berpisah dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Dan hal itu benar-benar membuat Steve muak.

Sial! Steve benar-benar tak tahu bahwa Jessie mencintai Henry begitu dalam. Hal itu membuat Steve benar-benar tersakiti. Entah kenapa ia merasa sakit, yang pasti, ia benar-benar tersakiti karena rasa cinta sialan Jessie pada Henry. Hal itulah yang membuat Steve bersikap seperti pengecut, menghindari istriya yang sedang hamil muda dan membutuhkan dirinya.

Steve mengusap kasar rambutnya. Ia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri, tapi disisi lain, ia juga merasa kesal dengan Jessie. Kenapa Jessie harus begitu mencintai lelaki itu? Ya ampun, bahkan menurut Steve, Henry tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Harusnya Jessie lebih memilihnya, harusnya Jessie senang menikah dengannya, bukan sedih dan tertekan seperti yang ia lihat semalam.

Steve kembali mengusap rambutnya dengan frustasi. Sepertinya ia butuh minum. Ya, Hank mungkin mau menemaninya minum sebentar di bar.

***

Sorenya….

Jessie menyibukkan diri di dapur apartmennya. Sore ini ia ingin memasak, karena nanti malam ia ingin makan malam bersama dengan Steve. Jessie menghela napas panjang. Ia sudah menjadi seorang istri sekarang, calon ibu, jadi Jessie ingin memposisikan diri seperti statusnya.

Mungkin, akan ada banyak kecanggungan kedepannya, tapi Jessie mencoba mengabaikannya. Bagaimanapun juga, Steve sekarang adalah suaminya, bukan lagi teman dekatnya. Jadi ia harus memperlakukan Steve seperti status lelaki itu.

Sepanjang siang, Jessie banyak bercerita dengan Miranda. Dulu, Jessie biasanya bercerita dengan Frank, kakaknya. Tapi Jessie tak ingin lagi bercerita dengan kakaknya itu, karena Jessie tahu bahwa Frank akan menggodanya. Selain Frank, Jessie juga terkadang bercerita dengan Emily, adik Steve. tapi sekarang, ia tidak bisa menceritakan tentang hubungannya dengan Steve pada Emily, Lily adalah adik Steve, akan sangat canggung jika menceritakan hubungan mereka pada wanita itu.

Satu-satunya orang yang bisa Jessie percaya untuk mendengarkan ceritanya adalah Miranda. Beruntung Miranda adalah pendengar yang baik, bahkan Miranda banyak menyarankan apa yang harus Jessie lakukan kedepannya. Dan saran-saran tersebut nyatanya cukup masuk akal.

Miranda membenarkan apa yang ia lakukan pada Henry. Memutuskan hubungan dengan lelaki itu adalah hal yang paling benar. Agar kedepannya tak ada lagi yang tersakiti. Yang harus Jessie lakukan saat ini adalah fokus kepada kehidupan barunya dengan Steve dan calon bayi mereka, itulah yang disarankan Miranda.

Dan seperti inilah, Jessie berakhir di dapurnya, berperang dengan pan dan pisau yang hampir tak pernah ia gunakan. Jessie memang bukan wanita yang pandai memasak, tapi bukan berarti ia tidak bisa masak.

Saat pulang ke Pennington, ia sesekali memasakkan Daddynya dan juga Frank. Meski begitu, Jessie bukan tipe orang yang hobby masak. Ia adalah wanita karir, yang lebih sering makan diluar daripada menghabiskan waktu di dapurnya.

Tapi karena saran Miranda, ia akan mulai menggunakan dapur kecil di apartmennya untuk memasak makan malam untuk dirinya dan juga Steve.

Jessie memasak dengan sesekali melirik ke arah ponselnya yang memutar chanel youtube untuk orang-orang memasak. Malam ini, ia akan membuat Steak dengan saus jamur. Tak ada yang special, tapi setidaknya ia membuatkan masakan itu untuk Steve, dan baginya itu sudah cukup special.

Dengan Henry saja, Jessie tidak pernah memasak, masakan berat seperti ini. Astaga, Henry lagi.

Jessie menghela napas panjang. Ia kembali melanjutkan acara memasaknya. Sebenarnya, sepanjang siang, ia sedikit bingung dengan sikap Steve yang terkesan menghindarinya, tapi kemudian Jessie berpikir positif saja. Mungkin, Steve memang sedang banyak pekerjaan, mengingat mereka sempat cuti lebih dari seminggu untuk pernikahan mereka.

Ingin melupakan tentang Steve dan juga Henry, Jessie memilih menuju ke arah home teater miliknya, memutar lagu romantis, dan kembali ke area dapurnya. Sesekali Jessie bersenandung, sembari menyiapkan masakannya. Ia akan membuatkan Steak yang paling enak untuk Steve, karena lelaki itu sudah bekerja keras. Dan Jessie juga tak melupakan perhatian special yang diberikan lelaki itu selama Jessie menjadi istrinya.

***

Hingga jarum jam menunjukkan pukul satu malam, Steve belum juga pulang. Jessie sudah beberapa kali menghubungi lelaki itu, tapi ponselnya tak diangkat. Jessie khawatir, ia juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan Steve?

Sesekali Jessie berjalan mondar-mandir di ruang tengah apartmennya. Apa Steve pulang ke apartmennya sendiri? mungkin saja. Tapi tadi siang lelaki itu berkata akan menghubunginya, dan hingga kini, Steve tak sekalipun menghubungi Jessie.

Makanan yang berada di atas meja makan sudah dingin, Jessie tak peduli. Jessie bahkan tak mempedulikan perutnya yang sudah kelaparan, karena yang paling ia pedulikan saat ini adalah keadaan Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu apartmennya dibuka dari luar. Tampak sosok Steve berdiri dengan wajah yang sudah ditekuk, baju yang sudah sedikit berantakan. Apa yang terjadi dengan lelaki itu?

Jessie berjalan mendekat, dan ia tahu bahwa Steve baru saja selesai minum. Mengingat cara berdiri lelaki itu yang tidak seimbang.

“Dari mana saja, kau?” Jessie bertanya dengan nada tinggi.

“Aku, minum. Dengan Hank.”

“Oh Ya Ampun! Apa kau tidak bisa mengangkat telepon dariku? Aku meneleponmu ribuan kali. Kau pikir aku tidak khawatir denganmu?”

Steve hanya menunduk. Ia tidak menjawab kemarahan Jessie, karena ia masih merasa bersalah. Steve merasa menjadi orang yang brengsek karena sudah menghamili Jessie dan memaksa menikahi wanita itu, karena itulah Steve minum malam ini.

“Apa yang terjadi denganmu, Steve? kau memiliki masalah? Kau bisa bercerita padaku.” Jessie menurunkan nada bicaranya.

“Aku mau mandi.” Steve hanya melewati Jessie begitu saja. Dan yang bisa Jessie lakukan hanya menatap bayang punggung Steve yang semakin menjauh. Apa yang terjadi dengan lelaki itu?

***

Steve menenggelamkan diri di dalam bathub. Rasa pusingnya sedikit ringan setelah ia berendam cukup lama di dalam bathub Jessie. Entahlah, Steve merasa tak tahu bagaimana caranya menghadapi Jessie. Mungkin, saat ini Jessie masih bisa bersikap biasa-biasa saja dan tidak mementingkan perasaannya, tapi Steve tahu, cepat atau lambat Jessie akan bosan dengan pernikahan mereka yang tidak dilandasi dengan cinta.

Mungkin juga, diam-diam, Jessie akan bertemu dengan Henry, lelaki yang begitu dicintai wanita tersebut. Dan Steve tidak bisa memikirkan hal itu. Jika Jessie memutuskan untuk mengkhianatinya, maka lebih baik semuanya selesai.

Oh Sial! Apa yang sudah ia pikirkan?

Akhirnya Steve memilih bangkit. Ia harus segera mengenyahkan pikiran buruknya. Meski Jessie mencintai lelaki itu, tapi Jessie tak akan berbuat seperti yang ia pikirkan.

Setelah mengeringkan tubuhnya dan mengenakan celana pendek santainya, Steve keluar tanpa mengenakan atasan apapun. Ia segera mencari Jessie, dan mendapati wanita itu sibuk di dapurnya.

Steve hanya mengamati Jessie dari belakang. Sesekali ia melirik ke arah meja makan yang tampak sudah rapi.

Apa Jessie yang menyiapkan semuanya? Untuk dirinya? Jika iya, maka terkutuklah dirinya karena lebih mementingkan perasaan sialannya dan juga sikapnya yang terkesan kekanakan.

Saat Jessie masih sibuk menghangatkan masakannya, saat itulah Steve berjalan ke arahnya, kemudian dengan spontan Steve memeluk Jessie dari belakang. Melingkari perut Jessie dengan lengannya, dan Jessie membatu seketika.

“Maafkan aku.” Suara Steve terdengar serak, tapi Jessie tak mengerti kenapa Steve meminta maaf kepadanya? Karena sudah minum?

“Lupakan saja, lebih baik duduklah, aku kelaparan.” Jawab Jessie dengan sedikit malas. Jika boleh jujur, Jessie sangat kesal dengan Steve, tapi ia mencoba mengendalikan diri. Bagaimanapun juga, mereka bukan lagi sepasang teman yang hobby bertengkar seperti dulu. Mereka kini sepasang suami istri yang harus memelihara keharmonisan, Jessie akan mengesampingkan egonya untuk bertahan dengan sikap Steve yang kadang tidak ia mengerti.

“Kau belun makan?”

“Ya, sepanjang sore, aku menunggumu, untuk makan malam bersama.”

Steve semakin merasa bersalah dan dengan spontan ia membalikkan tubuh Jessie, menangkup kedua pipi wanita tersebut. “Astaga, aku benar-benar bodoh.”

Jessie tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, kau mungkin hanya memiliki beberapa masalah. Aku mengerti.”

“Tapi seharusnya aku memikirkan kemungkinan ini. bukannya sibuk dengan perasaanku sendiri.”

“Setidaknya aku senang. Kau pulang, sendiri, tidak dengan perempuan malam.”

Dan secepat kilat Steve menyambar bibir Jessie, melumatnya dengan lembut, kemudian berkata “Tak akan ada lagi tempat untuk perempuan malam setelah aku menjadikanmu sebagai istriku.” Lalu Steve kembali mencumbu Jessie, melumatnya penuh gairah, dan terbakar bersama-sama. Astaga, Steve benar-benar bodoh karena sudah mengabaikan dan menghindari Jessie sepanjang hari ini. Steve berjanji bahwa tak akan melakukannya lagi. Jika Jessie masih mencintai lelaki lain, maka yang harus ia lakukan adalah membuat Jessie berpaling padanya. Ya, itu yang paling benar!

-TBC-

Kyaaaaa bab Selanjutnya HOOOTTTTTTTTTTTTTTT hahahhahah

Sleeping with my Friend – Bab 14

Comment 1 Standard

 

Haloooooooo semuanya.. huwaaa lama bgt aku nggak update di Blog/ ini semua karena kemaren aku Pulkam ke jawa, yaaa tau sendiri kalo di sana sekarang susah sekali sinyalnya. buka wordpress selalu loading mulu.. but, kalian jangan sedih, aku bakal update banyaaakkkkk lohh hahahah oke, happy reading yaaa.. muwaahhhh

 

“Ohh, selamat. Kenapa aku tidak diundang?”

“Hanya pernikahan sederhana yang diadakan di lumbung rumahku.” Jawab Steve. “Tapi lain kali, aku akan mmeneraktirmu minum untuk merayakannya. Boleh kan Sayang?’ tanyanya pada Jessie.

“Ya. Tentu saja.” Jessie baru membuka suaranya.

“Baiklah, Cod. Kami akan naik dulu.” Steve berpamitan dan Cody hanya menganggukkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar bahwa kedua orang tersebut nyatanya sudah menikah.

Saat Steve dan Jessie baru saja masuk ke dalam lift, Cody baru saja ingat bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Jessie. Seseorang yang datang setiap hari ke apartmen ini selama Empat hari terakhir. Seseorang yang Cody kenal sebagai tunangan Jessie. Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Bab 14

Di dalam lift. Jessie dan Steve saling berdiam diri. Jessie masih membiarkan lengan Steve merangkul pinggangnya. Ia merasa nyaman, karena itulah ia membiarkan saja apa yang dilakukan Steve padanya.

Sesekali telapak tangan lelaki itu mengusap perutnya. Astaga, Steve benar-benar mampu membungkam kecerewetan Jessie dengan sikap manisnya ini. Jessie tak pernah mendapatkan perhatian hingga seperti ini dari seorang Steve, rasa posesif lelaki itu begitu tampak, dan hal itu membuat Jessie bingung, sebenarnya apa yang dirasakan lelaki itu padanya?

Ping

Pintu lift terbuka. Mereka akhirnya sampai di lantai apartmen Jessie. Keduanya keluar dari dalam lift, dan menghentikan langkah mereka secara bersamaan setelah mendapati seseorang yang duduk di sebuah kursi lipat di sebelah pintu apartmen Jessie.

Orang itu adalah Henry, yang saat ini sudah bangkit dan melihat kedatangan mereka berdua.

“Jess.” Ucap Henry yang dengan spontan sudah mendekat. Tiba-tiba, tanpa diduga lelaki itu memeluk erat tubuh Jessie “Astaga, akhirnya kau kembali.” Ucap Henry masih dengan memeluk tubuh Jessie.

Jessie hanya membatu, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Henry. Kenapa lelaki ini kembali padanya. Bukankah mereka sudah putus? Henry sudah tahu keadaannya yang tengah hamil, dan mereka sudah benar-benar putus malam itu. Henry bahkan sudah tak pernah lagi menghubunginya. Jessie mengira bahwa lelaki itu sangat membencinya, dan hal itu sebenarnya wajar terjadi.

Tapi kini? Kenapa Henry datang kembali? Kenapa lelaki ini memeluknya seperti ini? apa lelaki ini lupa dengan kehamilannya?

“Henry. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jessie kemudian.

Henry melepaskan pelukannya. “Bisakah kita bicara? Aku perlu bicara denganmu.”

Jessie menatap ke arah Steve. lelaki itu tampak keras ekspresinya. Matanya menatap tajam ke arah Henry. Menyala-nyala menunjukkan emosinya. Jessie bahkan sempat melirik telapak tangan Steve yang sudah saling mengepal, seakan menunggu untuk mendaratkan tinjunya pada sesuatu.

“Steve. Kau, bisa meninggalkan kami?”

“Kenapa aku harus meninggalkanmu?” Steve menatap Jessie dengan mata tajamnya. Bahkan, nada bicara lelaki itu terdengar keras penuh emosi.

“Kumohon, aku perlu berbicara dengannya.”

“Kami memiliki masalah yang belum diselesaikan. Jadi tolong, tinggalkan kami.” Henry membuka suara. Jika boleh jujur, Henry sangat kesal melihat kedekatan Steve dengan Jessie. Meski Jessie selalu bilang bahwa Steve hanya temannya, tapi tetap saja, kecemburuan menguasai dirinya saat melihat kedekatan mereka apalagi ketika hubungannya dengan Jessie sedang berada di ujung tanduk.

Steve malah maju satu langkah ke hadapan Henry. Ia tidak suka lelaki itu seakan memerintahkan dirinya untuk menjauhi Jessie, istrinya. “Kau tahu, kau sedang berhadapan dengan siapa, Walter?” tanya Steve dengan dingin.

“Aku tidak peduli denganmu, Morgan. Yang kupedulikan saat ini hanya kekasihku!” Henry tampak terpancing emosinya. Jessie tahu bahwa ini tak akan berakhir dengan baik.

Saat Steve akan membalas perkataan Henry, saat itulah Jessie menengahi keduanya. Jessie menarik Steve agar menjauh, kemudian berkata pada lelaki itu “Tolong, beri kami waktu.”

“Aku tidak suka, Jess.”

“Aku tahu, tapi kami harus bicara dengan baik-baik.”

Steve menghela napas panjang. “Baiklah.” Akhirnya ia mengalah. Walau sebenarnya ia tidak ingin.

Steve menatap tajam ke arah Henry ketika ia melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Jessie. Henry terlihat sedikit tersenyum dan hal itu benar-benar membuat Steve kesal.

Akhirnya, dengan lantang Steve berkata “Aku pergi, tapi aku akan kembali lagi secepatnya, Mrs. Morgan.” Mata Jessie membulat seketika. Ia tidak percaya Steve akan memanggilnya dengan panggilan tersebut.

Jessie menatap Henry saat Steve sudah menghilang dibalik lift. Henry tampak memucat. Astaga, orang bodohpun tahu apa maksud Steve memanggilnya dengan panggilan itu. Dan kini Henry pun tahu apa maksud Steve. Steve seperti sengaja mengatakan hal itu. Astaga, apa tujuannya? Jessie memang akan mengatakan status barunya pada Henry, tapi Jessie tak ingin Henry mengetahuinya dengan cara seperti ini.

Oh Tuhan! Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

***

Jessie menyuguhkan secangkir kopi untuk Henry. Wajah lelaki itu sudah tak sepucat tadi. Tapi lelaki itu belum juga membuka suaranya sejak ia memutuskan mengajak Henry masuk ke dalam apartmennya.

Akhirnya, mau tidak mau Jessie membuka suaranya. “Kau baik-baik saja?” tanya Jessie dengan sedikit ragu.

“Baik-baik saja katamu? Kau tidak dengar apa yang dikatakan Si Bajingan Morgan tadi? Nyonya Morgan? Apa kau sudah berganti nama?”

“Henry. Aku tahu ini sulit dan rumit, aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa berakhir seperti ini.”

Henry berdiri seketika. “Sial!” lelaki itu mengumpat. Umpatan pertama sejauh yang bisa Jessie ingat. “Beberapa minggu terakhir aku tidak bisa fokus bekerja karena kabar yang mengejutkan darimu, Jess. Ya Tuhan! Tunanganku hamil padahal aku tak pernah menyentuhnya. Yang lebih gila adalah dia memutuskanku tanpa menanyakan bagaimana perasaanku!” Henry berseru keras.

“Kau hancur. Aku tahu perasaanmu hancur. Jadi aku memilih mengakhiri semuanya.”

“Tidak pernahkah kau berpikir bahwa aku akan melupakan semuanya dan menganggap anak itu adalah milikku?”

Jessie menatap Henry seketika. “Kau tidak mungkin berpikir seperti itu.”

“Tapi aku memikirkan hal itu beberapa minggu terakhir, Jess! Dan hal itu pulalah yang membawaku kemari menemuimu!” Henry berseru keras. Tanpa diduga, Henry menuju ke arah Jessie, ia berlutut dihadapan Jessie yang duduk menghadapnya. “Demi Tuhan! Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Katakan padaku bahwa aku belum terlambat.” Henry memohon.

Mata Jessie berkaca-kaca. Sial! Hormonnya benar-benar memperkeruh suasana.

“Jess. Katakan. Bahwa panggilan yang dia berikan padamu tadi hanya leluconnya.” Henry mendesak.

“Maaf. Aku memang sudah menikah.” Henry ternganga dengan jawaban jujur dari Jessie.

“Kau… kau…”

“Maafkan aku.” Hanya kata maaf yang bisa Jessie berikan pada Henry, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Semuanya sudah terjadi, Jessie tahu tak akan ada masa depan lagi untuk hubungannya bersama dengan Henry, karena itulah mau tidak mau ia harus berkata sejujur-jujurnya dengan lelaki itu agar semuanya selesai dan tak ada yang tersakiti lagi karena permasalahan ini.

***

“Kau gila? Jadi kau belum mengatakan pada Donna tentang pernikahanmu dengan Jessie?” tanya Hank dengan raut terkejutnya.

Steve memilih ke tempat Hank ketika pergi meninggalkan Jessie tadi. Keduanya banyak berbincang dan hal itu memperbaiki suasana hati Steve. hingga kemudian, Hank bertanya tentang hubungan Steve dengan Donna. Bagaimanapun juga, Steve mengenal wanita itu dari Hank, Donna adalah salah satu teman Natalia, kekasih Hank. Jadi, Hank hanya ingin semuanya berakhir baik dan tak akan menimbulkan masalah kedepannya.

Tapi Hank sangat terkejut saat dengan santai Steve menjawab bahwa temannya yang gila ini belum memberitahu Donna tentang status barunya. Bahkan Steve belum memutuskan hubungan mereka.

“Aku terlalu fokus dengan Jessie hingga melupakan dia, Hank.”

“Aahh!! Itu hanya alasanmu saja. Sekarang, aku ingin kau segera menghubunginya, dan katakan padanya bahwa semuanya sudah berakhir.” Hank menuntut.

“Oh, ayolah Hank. Aku sedang dalam suasana hati yang buruk. Istriku sedang berduaan dengan mantan kekasihnya. Dan aku tidak dapat memikirkan apapun lagi selain apa yang sedang mereka lakukan di sana.”

“Kau berlebihan. Sekarang cepat, hubungi Donna.”

Steve mendengus sebal. Hank memang benar. Ia memang harus segera menyelesaikan hubungannya dengan Donna karena jika tidak, Jessie mungkin akan salah paham kedepannya. Atau mungkin, ia akan membuat Donna semakin tersakiti. Meski ia hanya sebatas tertarik dengan Donna, tapi wanita itu adalah wanita yang baik, dan Steve tak ingin menyakiti wanita baik-baik.

***

Siang itu juga, Steve bertemu dengan Donna, di sebuah kafe tak jauh dari gedung apartmennya. Hank juga ikut, tapi temannya itu memilih duduk di meja lain. Bagaimanapun juga Steve harus menyelesaikan hubungannya secara pribadi, empat mata. Jadi Hank memilih duduk di tempat lain sembari menikmati kopinya.

“Jadi, apa yang membuatmu sangat ingin bertemu denganku siang ini juga?” tanya Donna dengan percaya diri. Donna sangat terkejut saat Steve meneleponnya dan memintanya bertemu siang ini juga. Padahal, ia sedang kerja. Untung saja tak lama jam makan siang berdenting hingga Donna memutuskan untuk menghabisakan waktu makan siangnya bersama dengan Steve.

Sebenarnya, Donna sudah sangat berharap banyak dengan Steve. Steve sangat keren dan seksi. Lelaki itu mampu membuatnya tertarik seketika sejak pertama kali melihatnya. Meski begitu, Donna menahan diri agar tak terlihat agresif dimata Steve.

Natalia, temannya yang merupakan kekasih Hank, pernah berkata bahwa Steve sedang mencari seorang perempuan dan mencoba membangun sebuah hubungan yang sehat. Steve menghormatinya hingga lelaki itu tak pernah sekalipun membahas tentang ranjang saat di hadapannya. Donna sempat tak percaya diri. Ia berpikir bahwa Steve tak cukup tertarik dengannya. tapi perkataan Natalie yang mengatakan bahwa Steve sangat menghormatinya dan ingin membuat hubungan mereka menjadi istimewa membuat Donna semakin terpukau dengan lelaki itu.

Astaga, kapan lagi ia menemukan lelaki seperti Steven Morgan?

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Steve berkata dengan sungguh-sungguh. Wajahnya sangat serius saat akan membahas tentang hubungannya mereka.

“Ya. Kau tampak sangat serius.”

“Ya. Karena apa yang akan kubicarakan memang sangat serius.”

Donna tersenyum. Tidak mungkin Steve akan menaikkan tingkat hubungan mereka, bukan? Donna belum siap. “Jadi, apa itu?” tanyanya lagi.

Dengan spontan Steve meraih kedua telapak tangan Donna yang berada di atas meja, kemudian ia meremasnya dengan erat. “Donna, kupikir, lebih baik kita memperbaiki hubungan kita.”

“Ya. Tentu saja.” Donna masih tak mengerti apa yang akan dikatakan Steve.

“Maksudku. Kupikir, lebih baik kita berteman biasa saja.”

Donna sempat membatu, mencerna apa yang baru saja ia dengar dari bibir Steve. apa maksud lelaki itu dengan berteman saja?

“Maksudmu?”

“Baiklah. Aku harus mengatakan semuanya.” Steve menghela napas panjang. “Aku sudah menikah. Jadi kupikir, lebih baik hubungan kita hanya sebatas teman saja.”

“Kau apa?” Donna benar-benar tak mampu menahan keterkejutannya. Menikah? Bagaimana mungkin? Pasti Steve sedang bercanda.

“Ya, aku sudah menikah.”

“Kau sedang bercanda, bukan? Aku tidak melihat istrimu saat kau mengajakku ke Pennington beberapa minggu yang lalu.”

“Sebenarnya, itu belum. Maksudku, kau melihatnya di sana, tapi aku belum menikah dengannya.”

“Jadi kapan kau menikah dengannya? dan siapa dia?!” Donna tak mampu menahan diri untuk berseru keras di hadapan Steve. Astaga, ia benar-benar berharap banyak dengan Steve, tapi lelaki itu malah mencampakannya.

“Seminggu yang lalu. Ya, aku sudah menikah dengannya seminggu yang lalu.”

“Siapa dia?” Donna masih mendesak.

“Donna, kau tak perlu tahu. Maksudku, aku salah karena sudah membawamu dalam masalahku, dan sekarang, aku ingin mengakhirinya.”

“Kau memberiku harapan Mr. Morgan. Dan aku tidak menyangka bahwa kau akan mengakhirinya dengan cara seperti ini.”

“Dengar, Donna. Aku tahu bahwa aku salah. Karena itu aku ingin mengakhirinya sekarang sebelum kau semakin tersakiti.”

“Aku sudah tersakiti, kau tahu.” Donna berdiri dan dia bersiap untuk pergi. “Dan satu lagi. Kupikir, aku tahu siapa wanita itu.”

“Kau….”

“Summer. Jessica Summer. Dia bukan istrimu sekarang?”

“Darimana kau tahu?” Steve tidak tahu darimana Donna tahu tentang hal itu. Hank dan kekasihnya memang datang ke pesta pernikahannya, tapi Steve yakin Natalia tidak mengatakan apapun pada Donna. Buktinya, Donna baru tahu tentang pernikahannya tadi.

“Terlihat dengan jelas dari cara kalian bersikap.”

Steve berdiri seketika. “Donna, itu tak seperti yang kau pikirkan.”

“Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?”

“Jika yang kau pikirkan adalah bahwa selama ini aku menjalin kasih dengan Jess dan aku mengenalmu untuk main-main saja, maka kau salah.”

“Sejujurnya, aku sempat berpikir seperti itu. Tapi sepertinya kau tak seburuk itu.”

Steve mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”

“Aku akan mencari tahu. Dan bagiku, semua ini belum berakhir.” Donna pergi. Dia bahkan tidak mengindahkan panggilan Steve. wanita itu tetap saja pergi, dan Steve merasa bahwa permasalahannya dengan Donna belum benar-benar berakhir.

***

Steve kembali ke apartmen dengan sesekali memijat tengkuknya. Setelah bertemu dengan Donna, ia kembali pada Hank, menceritakan apa yang terjadi, dan Hank berkata bahwa Steve sudah gagal mengakhiri hubungannya dengan Donna.

Donna tampak tak terima, dan ketika seorang wanita tidak ingin hubungannya berakhir, maka wanita itu tak akan tinggal diam. Steve tidak tahu apa yang akan dilakukan Donna. Dan seharusnya, ia tidak peduli. Yang harus ia pedulikan saat ini adalah Jessie dan bayi mereka. Astaga, bagaimana mungkin ia sempat melupakannya?

Dengan langkah cepat, Steve menuju ke apartmen Jessie. Steve memasukinya dan mendapati ruang tengah sepi. Dimana Jessie? Dengan setengah berlari Steve menuju ke arah kamar Jessie.

Bodoh! Bagaimana mungkin ia meninggalkan Jessie hanya berdua dengan Henry? Steve tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Jessie, dan ia benar-benar khawatir saat ini.

Setelah membuka kamar Jessie, Steve menghela napas lega saat mendapati Jessie tidur meringkuk di sana. Dengan cepat Steve menuju ke arah istrinya tersebut. Steve bingung, rupanya Jessie tidak tidur, wanita itu sedang menangis, sesenggukan. Apa yang sudah terjadi?

Steve berjongkok di hadapan Jessie, ia bertanya “Apa yang terjadi?”

Jessie hanya diam. Wanita itu tampak tak ingin menjawab.

“Dia menyakitimu?” tanya Steve lagi. Steve tidak suka kenyataan bahwa ada lelaki yang menyakiti Jessie. Entah dulu, atau sekarang.

Jessie menggelengkan kepalanya dan hal itu benar-benar membuat Steve semakin bingung.

“Katakan, Jess. Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” tanya Steve lagi, ia tidak suka melihat Jessie menangis apalagi saat ia tahu bahwa wanita itu menangisi pria lain.

Jessie bangkit, ia terduduk kemudian ia memeluk tubuh Steve. Jessie tidak tahu kenapa ia bisa seemosional ini. Hubungannya dengan Henry benar-benar berakhir, Jessie merasa sangat tersakiti karena hal ini.

“Apa yang terjadi?” tanya Steve lagi.

“Dia mencintaiku. Dia sangat mencintaiku, Astaga.” Ucap Jessie masih dengan memeluk tubuh Steve.

Tubuh Steve menegang tapi Jessie terlalu sedih untuk merasakan ketegangan yang terjadi di dalam tubuh suaminya tersebu.

“Dia bahkan berkata bahwa dia tak peduli tentang kehamilanku. Dia tetap ingin menikahiku meski aku hamil dengan lelaki lain. Dia sangat mencintaiku, dan aku sudah menyakitinya.”

Sesuatu yang retak kembali terasa di dalam dada Steve. Steve merasakan perasaan yang sama ketika ia melihat Jessie dan Henry berciuman pada sore itu. Jessie benar-benar mencintai Henry, Steve tahu itu. Dan kini, ia sudah menghancurkan semuanya, membuat Jessie tersakiti karena perpisahannya dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Steve tahu bahwa semua ini karena salahnya. Ia sudah menyakiti Jessie dengan cara yang paling buruk. Bagaimana mungkin ia menjadi seberengsek ini?

-TBC-

abis ini ada chapter yang huuuoooooooooottttt… hahahhahahah aku lupa tpi, entah bab 15 atau 16 hahhahhaha

Sleeping with my Friend – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

***  

Bab 13

 

Steve menghujam lagi dan lagi, tak mempedulikan erangan demi erangan yang keluar dari bibir Jessie. Kenikmatan membungkusnya, ia bahkan tak mempedulikan tubuh mereka yang sudah basah kuyub karena guyuran air dari shower.

Jessie tampak sangat bergairah, begitupun dengan dirinya yang seakan tak ingin menghakhiri percintaan panas mereka.

“Ohh, Steve… Astaga…” Jessie meracau, sedangkan yang dapat dilakukan Steve hanya kembali menghujam lagi dan lagi.

Entah sudah berapa lama mereka melakukan penyatuan dalam posisi berdiri. Tubuh Jessie terhimpit dengan dinding dan juga tubuh kekar Steve. Steve bahkan setengah mengangkat tubuh Jessie agar tinggi mereka sejajar. Sesekali Steve mencumbu habis bibir istrinya itu, melumatnya dengan penuh gairah, mengajaknya untuk menari bersama. Oh, Sial! Jessie benar-benar akan membunuhnya.

Beberapa kali Steve akan sampai pada puncak kenikmatan, tapi kemudian Steve memperlambat lajunya, menurunkan ritmenya, menyiksa dirinya sendiri dengan cara menahan agar luapan gairah tak segera meledak dan permainan mereka segera berakhir. Sungguh, Steve tak ingin segera mengakhirinya. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tersiksa.

“Steve, tolong…” Jessie memohon.

Rupanya wanita itu sudah akan sampai pada puncak kenikmatannya lagi, entah sudah yang keberapa kali.  Berkali-kali, Steve merasakan Jessie klimaks, tapi ia masih menahan diri agar tidak terpancing dengan istrinya itu. Steve masih ingin lebih lama lagi, Steve masih ingin lebih banyak lagi mencumbu Jessie. Oh, Jessie, istrinya….

Akhirnya, karena sudah tak sanggup menahan luapan gairah yang menghantamnya lagi-dan lagi, Steve pun meledakkan diri setelah beberapa kali hujaman kerasanya. Steve mengerang, begitupun dengan Jessie. Keduanya saling mengerang satu sama lain, seakan melupakan kecanggungan yang sempat tercipta diantara mereka.

Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, ia tidak mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Steve membuatnya lemas tak bertenaga karena klimaks yang ia dapatkan beberapa kali dalam satu sesi percintaan panasnya bersama dengan lelaki ini. astaga, Steve benar-benar pandai bercinta.

Jessie merasa sangat malu, karena ia merasa tak pandai mambuat Steve senang dengan percintaan mereka. Bagaimana jika lelaki ini bosan nantinya? Jessie menenggelamkan diri pada dada Steve. Ia mengabaikan air Shower yang masih setia mengguyur tubuh mereka. Kemudian, Jessie mulai terisak.

Steve yang baru sadar dari gelombang gairah yang menghantamnya, akhirnya merasakan isakan dari Jessie. Ia melepaskan pelukan Jessie kemudian mengamati wanita itu dengan kekhawatiran yang amat sangat.

“Ada apa? Apa aku menyakitimu? Bayinya?” tanyanya dengan raut khawatir.

Jessie masih terisak. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa seemosional ini, secengeng ini hanya karena merasa bahwa ia tidak bisa memuaskan hasrat seorang Steven Morgan. Padahal, Steve sendiri tidak mengatakan kemungkinan tersebut.

Steve meninggalkan Jessie, lalu kembali dengan sebuah kursi lipat. Ia mendudukkan Jessie di sana dan mencoba mengabaikan ketelanjangan mereka. Steve berjongkok di hadapan Jessie, berharap jika Jessie mengatakan apa masalahnya.

Sial! Steve tadi terbawa dengan suasana. Ia terlalu menikmati percintaan panasnya dengan Jessie, mencoba menahannya agar percintaan mereka tak segera berakhir. Steve bahkan lupa tentang keadaan Jessie yang sedang mengandung bayinya. Bisa saja tadi ia menyakiti wanita itu. Dan hal itulah yang membuat Steve khawatir.

“Kau, baik-baik saja, bukan?” tanya Steve sekali lagi saat Jessie sudah berhenti terisak.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Tampak sangat manja. Steve tak ingat kapan terakhir kali Jessie terlihat menja seperti saat ini. Jessie tentu bukan orang manja seperti itu. Setidaknya, hal itulah yang dilihat Steve selama ini. Setelah kepergian ibu Jessie, Jessie selalu memposisikan diri sebagai gadis kuat, wanita mandiri yang mampu mengurus dirinya sendiri bahkan mengurus ayah dan kakaknya. Tapi kini, Jessie tampak seperti seorang gadis manja yang terisak karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Apa yang terjadi dengan wanita ini?

“Ada yang sakit? Apa aku menyakitimu?” tanya Steve lagi. Karena ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Jessie.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Hanya itu jawabannya.

“Lalu kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja bukan?” Steve masih tampak khawatir.

“Aku baik-baik saja, Steve. Sungguh.”

“Katakan, kenapa kau menangis?” lagi, Steve masih ingin mendapatkan jawaban yang masuk akal dari wanita di hadapannya tersebut.

“Aku… aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu?” Steve masih menuntut.

“Aku juga tidak mengerti, Steve. Aku selalu ingin menangis akhir-akhir ini. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini.” Jessie kembali menangis, dan Steve benar-benar bingung.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin menghadapi wanita hamil akan membuatnya segila ini?

Akhirnya, Steve menghentikan interogasinya, ia memilih bangkit dan memeluk Jessie. “Mungkin ini berhubungan dengan kehamilanmu. Kau sangat sensitif. Seharusnya aku mengerti dan lebih mengalah lagi.” Ucap Steve kemudian.

“Aku… aku hanya takut, Steve.”

“Apa yang membuatmu takut?”

“Kau. Aku takut dengan dirimu.”

Steve melepaskan pelukannya, lalu menatap Jessie penuh tanya. “Aku? Kau takut denganku?” kemudian Steve tertawa lebar menertawakan apa yang baru saja dikatakan Jessie.

Perlu diketahui, bahwa selama ini, Stevelah yang takut dengan Jessie. Jessie kadang memposisikan diri sebagai ibu Steve ketika mereka tinggal di New York. Jessie tak segan-segan mengomel atau bahkan memukuli Steve ketika Steve melakukan perbuatan yang salah.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Jessie dengan kesal.

“Kau takut denganku. Itu tidak masuk akal, Baby girl.” Saat Steve sudah memanggilnya seperti panggilan yang diberikan Frank padanya, maka saat itulah Jessie tahu bahwa sikap menyebalkan Steve mulai kambuh.

“Apanya yang tidak masuk akal?!” nada suara Jessie mulai meninggi.

“Ya ampun. Kau seperti Mom jika sedang marah. Lebih tepatnya, aku yang takut denganmu. Bukan sebaliknya.” Steve berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya.

Jessie bangkit seketika. Dengan marah ia berkata. “Aku hanya takut jika tak dapat memuaskanmu. Seharusnya kau tidak menertawakan aku! Kau membuatku kesal, Morgan!”

Steve sempat membatu setelah mendengar jawaban Jessie. “Kau apa?” tanyanya sekali lagi. Tapi Jessie tidak mengindahkan pertanyaannya. Lalu Steve mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Jessie hingga membuatnya sadar akan maksud dari wanita tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tak kuasa menahan tawanya hingga terpingkal-pingkal.

Melihat Steve yang tak berhenti menertawakannya, Jessie semakin kesal dan marah. Hal itu membuat Jessie berinisiatif pergi meninggalkan Steve. Astaga, Jessie bahkan sempat melupakan jika dirinya masih telanjang bulat saat ini.

Melihat Jessie yang tampak kesal dan akan meninggalkannya membuat Steve menghentikan tawanya seketika. Ia segera menggapai tubuh Jessie kemudian memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Sial! Gesekan kulit lembut Jessie membuat Steve kembali berereksi.

“Lepaskan aku!” Jessie sempat meronta. Tapi Steve mempererat pelukannya.

“Begini saja, Nyonya Morgan.”

Panggilan itu lagi. Sialnya, panggilan itu mampu membekukan tubuh Jessie. Oh ya, ia juga baru ingat bahwa saat ini statusnya sudah menjadi istri Steve, menjadi Jessica Morgan. Bagaimana dia bisa lupa dengan hal itu?

“Maaf jika aku sudah menertawakanmu. Sungguh, aku merasa kau sangat konyol. Mana mungkin kau tidak memuaskanku?” ucap Steve dengan nada parau.

“Kau… Aku… Aku tidak tahu. Maksudku, aku sudah beberapa kali klimaks, dan kau…”

“Karena memang itulah yang kuinginkan.” Steve memotong kalimat Jessie. “Perempuan bisa klimaks beberapa kali dalam satu sesi. Tapi jika lelaki sudah klimaks, maka semuanya selesai. Butuh beberapa menit untuk memulainya lagi. Dan aku hanya ingin, percintaan kita tadi tak cepat selesai.”

“Jadi, semua itu, bukan karena kau tidak menikmatinya?”

Steve melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Jessie hingga menghadap ke arahnya.

“Oh, Demi Tuhan, Jess! Kau benar-benar gadis biara, ya? Jika aku tidak menikmatinya, maka aku akan menyatukan diri, memuntahkan gairahku kemudian meninggalkanmu begitu saja tanpa mempedulikan apa kau klimaks atau tidak. Kau mengerti apa maksudku?”

Jessie tersenyum. Meski kosa kata yang diucapkan Steve sedikit kurang ajar, tapi tetap saja, mendengar kalimat itu membuat Jessie tersenyum malu. Jessie mengerti apa maksud Steve. Yang tidak membuatnya mengerti adalah, kenapa Steve bisa begitu menikmati permainan mereka? Jessie tidak melakukan apapun, dan hal itulah yang membuat Jessie tak percaya diri.

“Uum, aku, tak melakukan apapun. Bagaimana mungkin kau menikmatinya?”

Steve tak tahu harus seperti apa menjelaskan pada Jessie bahwa dirinya begitu menikmati percintaan mereka. Tapi kemudian, Steve memiliki ide untuk memanfaatkan kepolosan Jessie.

Dengan sedikit tersenyum ia berkata “Kau ingin tahu bagaiaman aku menikmatinya?”

“Maksudmu?” Jessie curiga dengan apa yang akan dilakukan Steve. Tanpa banyak bicara, Steve meraih sebelah telapak tangan Jessie kemudian mendaratkan pada ereksinya.

“Kau lihat. Aku selalu menegang saat berdekatan denganmu. Bagaimana mungkin kau memiliki pemikiran sekonyol itu, bahwa aku tidak menikmati semua ini?”

“Aku…” Jessie bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia benar-benar tak pernah seintim ini. Sangat intim hingga menyentuh pusat gairah dari seorang lelaki.

Steve semakin mendekat, membiarkan Jessie menyentuhnya. “Sentuh aku, Jess. Dan lihatlah. Betapa aku menikmati sentuhanmu.” Ucapnya dengan suara parau. Kemudian, Steve menangkup kedua pipi Jessie, mengangkat wajah wanita itu, lalu mendaratkan ciuman lembutnya pada bibir Jessie.

Jessie sangat menikmatinya. Ia bahkan memejamkan matanya, dan juga membalas cumbuan lembut dari suaminya tersebut. Jemarinya masih tak berhenti membelai mesra bukti gairah lelaki itu, dan hal tersebut memancing suatu gairah dari dalam tubuh Jessie.

Steve mencumbu lagi dan lagi. Kakinya melangkah, mendorong tubuh Jessie sedikit demi sedikit hingga mereka keluar dari kamar mandi, kemudian menuju ke arah ranjang mereka. Sampai di sana, Steve melepaskan tautan bibir mereka. Jemari Jessie benar-benar menyiksanya, membuatnya nyaris meledak karena kelembutan yang diberikan oleh istrinya tersebut.

Steve menatap Jessie dengan sungguh-sungguh, lalu ia berkata “Aku ingin kali ini kau yang memegang kendali.”

“Aku? Bagaimana bisa?” tanya Jessie bingung.

Jessie tentu tak perenah berpikir bagaimana caranya memegang kendali sebuah hubungan seksual. Ia tidak semahir atau seliar itu. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya.

Kemudian, Steve mendorong tubuh Jessie hingga keduanya jatuh di atas ranjang dengan Steve berada di atasnya. “Aku akan mengajarkanmu. Kau mau?” tawar Steve kemudian.

“Aku… Umm, aku…” Jessie ragu. Tapi saat dirinya masih ragu, Steve sudah menyatukan diri dengan begitu erotis. Jessie tak mampu menolak karena ia juga menikmati penyatuan tersebut.

Tanpa diduga, dalam sekejap mata, Steve membalikkan posisi mereka hingga kini Jessie berada di atasnya. Steve tersenyum, dan Jessie bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Bergeraklah.” Pinta Steve.

“A-apa maksudmu?”

“Bergeraklah. Puaskan aku.”

Mata Jessie sempat membulat karena ucapan Steve. Tapi kemudian ia mengikuti nalurinya untuk bergerak, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya sendiri, memberikan kenikmatan untuk Steve. Jessie bahkan melupakan kecanggungannya. Semua pergerakan yang ia lakukan itu semata karena nalurinya.

Dengan spontan, Jessie menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir Steve. Mencium suaminya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya.

Steve sangat menyukai apa yang dilakukan Jessie. Ia tak menyangka jika Jessie akan mampu dengan mudah beradaptasi dengannya, dengan kehidupan seksualnya di atas ranjang. Jika boleh jujur, untuk seorang pemula, Jessie benar-benar sangat menggoda, panas dan cukup liar. Meski wanita itu tak berhenti merona karena malu, tapi tetap saja, hal itu tak menyurutkan sedikitpun gairah Steve pada Jessie.

Jessie masih tak berhenti, ia bergerak lagi dan lagi dan hal itu mengantarkan Steve pada puncak kenikmatan. Steve tak mampu menahannya lagi. Dipeluknya erat tubuh Jessie, kemudian ia bergerak secera spontan, membuat Jessie mengerang dengan pergerakan dari Steve.

Jessie kembali hanyut dalam badai kenikmatan, dan tak berapa lama, Steve menyusulnya. Keduanya tenggelam dalam pusaran gairah yang seakan tak ingin meninggalkan mereka.

***

Satu minggu berlalu. Steve dan Jessie kembali ke New York. Mereka harus bekerja kembali dan menjalani kehidupan normal seperti sebelum-sebelumnya.

Berada satu minggu di Pennington dengan status baru membuat hubungan mereka menjadi panas sepanas bara. Bukan karena kemarahan atau emosi, tapi karena gairah yang menyala-nyala.

Hampir setiap malam Steve menyentuh Jessie dengan panas. Mengajari wanita itu bagaimana caranya menikmati hubungan baru mereka. Mengajari Jessie bagaimana cara untuk memuaskannya. Dan Jessie tampak senang dengan peran barunya tersebut.

Sesekali, mereka memang masih canggung dengan status baru yang mereka sandang. Tapi sering kali mereka mengabaikannya. Kedekatan mereka masih sama seperti pada saat mereka berteman dulu. Steve masih suka mengganggu Jessie dan Jessie sering kali marah-marah tak jelas dengan perilaku kekanakan Steve.

Hari-hari di Pennington menjadi hari-hari terindah untuk mereka berdua. Tapi mereka sadar, bahwa mereka tidak bisa berada di sana selamanya. Mereka harus kembali ke New York, dan itu tandanya mereka akan menghadapi berbagai macam masalah.

Seperti, dimana mereka akan tinggal setelahnya?

Oh, tentu saja Jessie bisa pindah ke apartmen Steve. Tapi mengingat bagaimana keras kepalanya wanita itu, Steve mencoba mengalah saat Jessie menolak gagasan tersebut.

Steve mengusulkan agar ia yang pindah ke apartmen Jessie. Jessie tidak menolak, tapi wanita itu hanya berkata bahwa akan bagus jika Steve tak perlu buru-buru memboyong semua barang-barangnya ke apartmen Jessie, mengingat apartmennya tak sebesar milik Steve, dan juga, mereka tentu perlu waktu untuk menyesuaikan keadaan masing-masing.

Setidaknya, Steve bisa lega, karena itu tandanya ia bisa tinggal bersama dengan Jessie, meski tandanya, ia harus lebih banyak mengalah dengan kekeras kepalaan wanita tersebut.

Saat berada di dalam mobil, sesekali jemari Steve terulur dengan sesuka hatinya, mendarat pada perut Jessie kemudian mengusapnya lembut. Steve tidak tahu apa yang membuatnya melakukan hal yang menggelikan seperti itu. Yang ia tahu adalah bahwa hal itu kini menjadi sesuatu yang ia gemari.

Sial! Ada anaknya di sana. Jagoannya. Ya, Steve bahkan sangat yakin dan sudah merasakan bahwa anak yang dikandung Jessie adalah laki-laki. Hal itu benar-benar sangat berarti untuk Steve.

Jessie sendiri, ia memilih megabaikan apa yang dilakukan Steve. seperti tak terjadi apapun. Padahal dalam dirinya, Jessie merasakan sebuah pergolakan. Kehangatan menerpanya, tapi ia juga merasa kurang nyaman dengan sikap manis berlebihan yang diberikan Steve padanya.

Jessie tahu, hubungan mereka memang jauh lebih baik ketimbang setelah malam panas saat itu. Tapi ia juga sadar, bahwa semua ini semata-mata karena mereka ingin memperbaiki semuanya. Jessie akan sangat berhati-hati dengan hal ini, karena ia tahu, satu kali saja ia tergelincir, maka ia akan jatuh, dan hubungan mereka tak akan tertolong lagi.

Pada saat itu, keduanya sudah sampai di gedung apartmen mereka. Dengan sigap Steve keluar dari dalam mobilnya, ia memutarinya kemudian membukakan pintu penumpang agar Jessie keluar dari sana.

Manis sekali.

Keduanya masuk. Mendapati Cody si penjaga apartmen yang tersenyum ramah ke arah mereka.

“Mr. Morgan, Miss Summer.” Sapanya dengan ramah.

“Ahhh. Biar kukoreksi. Mrs. Morgan.” Ucap Steve dengan sungguh-sungguh.

“Apa? Maksudnya, kalian?” Cody menatap ke arah Steve dan Jessie secara bergantian.

Jessie hanya menunduk. Sedangkan Steve dengan penuh rasa posesif ia menarik pinggang Jessie agar masuk ke dalam lengannya.

“Ya. Kami sudah menikah.” Jawab Steve dengan penuh penegasan.

Jessie tidak membantah, ia pun tidak meralat ucapan Steve karena memang benar seperti itulah kenyataannya. Mereka sudah menikah, ia sudah menjadi Nyonya Morgan saat ini.

“Ohh, selamat. Kenapa aku tidak diundang?”

“Hanya pernikahan biasa yang diadakan di lumbung rumahku.” Jawab Steve. “Tapi lain kali, aku akanmmeneraktirmu minum untuk merayakannya. Boleh kan Sayang?’ tanyanya pada Jessie.

“Ya. Tentu saja.” Jessie baru membuka suaranya.

“Baiklah, Cod. Kami akan naik dulu.” Steve berpamitan dan Cody hanya menganggukkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar bahwa kedua orang tersebut nyatanya sudah menikah.

Saat Steve dan Jessie baru saja masuk ke dalam lift, Cody baru saja ingat bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Jessie. Seseorang yang datang setiap hari ke apartmen ini selama Empat hari terakhir. Seseorang yang Cody kenal sebagai tunangan Jessie. Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 7

Comments 2 Standard

 

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

***

Bab 7

 

Jiro membalas setiap cumbuan dari istrinya tersebut. Ia menyukai Ellie yang berinisiatif untuk menyentuhnya seperti ini. Ellie membangkitkan sesuatu didalam dirinya, membuat Jiro membuka diri untuk wanita tersebut.

Jiro menurunkan resleting dress yang dikenakan Ellie. Melepaskan tautan bibir mereka, lalu melepsakan dress tersebut melewati kepala Ellie. Jiro menatap tubuh istrinya dengan mata terkagum-kagum.

Ellie sangat indah, dan begitu cantik. Kulitnya putih pucat, rambutnya kuning keemasan, matanya berwarna biru laut, dan bibirnya, astaga, merona seperti ceri. Jiro benar-benar bodoh karena selama ini mengabaikannya.

Saat Jiro mulai membuka kaitan bra yang dikenakan Ellie, saat itulah Ellie tertunduk malu. Jiro tahu, bahwa mereka memang hampir tak pernah seintim ini. tak ada waktu untuk mengenali tubuh masing-masing, karena biasanya Jiro hanya melakukan apa yang ia inginkan setelah itu pergi begitu saja. Dan kini, ia seakan ingin mengenal setiap inchi dari tubuh Sang isteri.

Jiro melepaskan bra tersebut. Menjatuhkannya begitu saja di atas lantai, dan Jiro kembali terpesona dengan tubuh istrinya.

Seingatnya, Ellie tidak memiliki lekuk seindah ini. Apa karena Jiro tak pernah memperhatikan sebelumnya? Buah dada Sang istri tampak padat, tapi lembut, dan sangat menggoda. Sial! Kemana saja ia selama ini?

Jiro mendaratkan jemarinya di sana, menyentuhnya, menggodanya. Kakinya mendekat, kepalanya menunduk dan menggapai kembali bibir ranum Ellie. Jiro mencumbu lembut bibir Sang istri sedangkan jemarinya tak ingin berhenti menggoda.

Ellie sendiri menikmati cumbuan tersebut. Dengan pelan tapi pasti ia membalas setiap cumbuan lembut dari suaminya.

Bibir Jiro mulai turun, menuruni leher jenjang Ellie, turun lagi berhenti pada kedua puncak payudara sang istri. Jiro sempat menggoda di sana sebentar, membuat Ellie melemparkan kepalanya ke belakang karena tak kuasa menahan kenikmatan.

Jiro bahkan sudah menekuk lututnya dihadapan Ellie, bibirnya kembali turun lalu matanya mengamati perut Ellie yang tampak sedikit berisi daripada biasanya. Dengan spontan Jiro menarik ujung bibirnya. Ada sebuah kebanggaan yang merayapi hatinya, bangga karena ia akan menjadi seorang ayah, bangga karena sebagian dari dirinya tumbuh di dalam sana.

Jiro mengusap lembut perut Ellie, kemudian mulai mencumbunya lagi dan lagi.

Ellie sendiri hanya bisa meremas rambut Sang Suami. Menikmati setiap belaian bibir Jiro yang berada pada perutnya. Jiro tak pernah selembut ini padanya, dan Ellie begitu menimkati cumbuan lembut dari Jiro.

Sedikit demi sedikit Jiro mendorong tubuh Ellie agar terduduk di pinggiran ranjang. Kemudian ia kembali melanjutkan aksinya lagi, mencumbui setiap inchi dari kulit Sang Istri. Oh, Jiro sangat memuja tubuh Ellie, sekali lagi Jiro berpikir, kemana saja ia selama ini? empat tahun lamanya dan ia baru menyadari bagaimana menggodanya tubuh Sang Istri. Benar-benar bodoh!

Setelah cukup lama bermain-main dengan kulit sang istri, Jiro merasa bahwa dirinya sudah tak mampu mengendalikan gairahnya lagi. Ia bangkit, melucuti sisa kain yang membalut tubuhnya dan juga tubuh Ellie. Kemudian ia kembali pada Ellie, menatap wanita yang sudah tampak tak berdaya di bawah tubuhnya.

“Kamu sangat cantik dan indah. Kemana saja aku selama ini?” tanya Jiro secara terang-terangan.

“Mungkin kamu terlalu sibuk.”

“Ya. Dan terlalu bodoh.” Jawab Jiro. Tanpa banyak bicara lagi, Jiro mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie, pelan tapi pasti, mendesah bersama ketika penyatuan sempurna itu terjadi.

Jiro kembali menatap tubuh Ellie, dan istrinya itu benar-benar tampak indah. Sedangkan Ellie, ia merasa begitu disayangi. Tatapan mata Jiro yang menyiratkan sebuah kekaguman membuat Ellie bahagia. seingatnya, Jiro tak pernah menatapnya seperti itu. Dan Ellie tidak munafik, jika ia memang menginginkan Jiro menatapnya seperti itu.

Tubuh Jiro mulai bergerak seirama, pelan tapi pasti, perlahan dan hati-hati, mencari kenikmatan untuk dirinya, memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Jiro tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi ia benar-benar merasa sedang bercinta seutuhnya dengan diri Ellie.

Jiro begitu menikmati permainan panasnya saat ini, berbeda dengan sebelum-sebelumnya, yang hanya akan menyatu, kemudian berharap secepat mungkin mendapatkan klimaks tanpa menghiraukan apa yang dirasakan Ellie.

Kini, Jiro merasa bahwa Ellie juga menikmatinya, wanita itu tak berhenti memejamkan matanya, mengerang, seakan menikmati setiap pergerakan yang ia berikan pada tubuh wanit tersebut. Ellie bahkan terasa erat mencengkeramnya, seakan meminta agar Jiro tak segera menghentikan permainan panas mereka.

Dengan spontan Jiro menundukkan kepalanya, menggapai bibir Ellie, kemudian mencumbunya dengan lembut. Oh, bibir yang sangat menggoda. Ellie membalasnya, hal itu membuat Jiro semakin menggila.

Ya Tuhan!  Jiro benar-benar tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Ketika Ellie semakin rapat membungkusnya, Jiro merasakan tubuh wanita itu kaku, melengkungkan punggungnya, kemudian melenguh panjang. Jiro tahu bahw Ellie sudah sampai pada pelepasannya, dan Jiro tak menunggu lama lagi untuk menyusul istrinya itu pada puncak kenikmatan.

***

Setelah tenggelam dalam pusaran gairah, Jiro merasakan napas Ellie mulai teratur. Ia melihat wanita itu yang nyatanya sudah tertidur pulas. Jiro tersenyum. Ia tak pernah merasakan perasaan sebahagia ini sebelumnya, bahagia hanya karena sebuah percintaan panas. Jika sebelum-sebelumnya ia hanya merasakan rasa lega, maka saat ini, perasaannya sulit digambarkan.

Jiri merengkuh tubuh Ellie dalam pelukannya, sebisa mungkin ia meredam pergerakannya agar tidak membangunkan Ellie. Ellie mungkin lelah, dan Jiro akan membiarkan istrinya itu istirahat sebentar di kamar apartmennya sebelum kembali pulang.

Jemari Jiro mencari permukaan perut Ellie, mengusapnya lembut, merasakan perasaan aneh yang kembali menerpa dirinya. Jiro tak pernah berpikir akan menjadi ayah, tapi dia juga tidak menolak jika Tuhan memberinya seorang bayi secepat ini.

Mereka dulunya memang sepakat untuk menunda. Ellie benar, tak terasa semua itu sudah berjalan empat tahun lamanya, sudah saatnya mereka memiliki bayi, bahkan Jiro mengabaikan kedua orang tuanya ketika bertanya tentang mongmongan.

Kini, Jiro merasa sudah memiliki semuanya, karir yang berada di puncak, istri yang cantik jelita, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, apalagi yang ia inginkan? Semuanya tampak sempurna. Tapi Jiro merasa ada yang salah, ia merasa harus memperbaiki semuanya agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Sialnya, Jiro tak tahu apa yang membuatnya merasa bersalah.

Saat Jiro sedang nyaman memeluk tubuh Ellie, saat itulah ponselnya berbunyi. Jiro ingin mengabaikannya, tapi bunyinya akan mengganggu Ellie. Akhirnya Jiro memilih mengangkatnya saat tahu bahwa si penelepon adalah Troy.

“Elo dimana?”

“Di apartmen. Kenapa?”

“Buka sosmed, gila! Di sosmed lagi rame gosip tentang elo.”

Perasaan Jiro tidak enak. Akhirnya ia segera mematikan panggilan dari Troy dan mulai membuka akun sosial medianya. Jiro benar-benar terkejut ketika news feednya dipenuhi dengan foto-foto dirinya dan juga Ellie yang berada di rumah sakit tadi siang.

Sebenarnya, Jiro sudah memikirkannya. Hal ini pasti akan terjadi, tapi Jiro tidak berpikir bahwa akan secepat ini, dan beritanya akan menjadi viral seperti saat ini. Salah satu akun gosip bahkan dengan terang-terangan menyebut bahwa Jiro sedang mengantar istrinya memeriksakan kandungan. Meski sebenarnya itu benar, tapi Jiro benar-benar tidak suka digosipkan.

Ponselnya kembali berbunyi, Troy kembali meneleponnya. Mau tidak mau Jiro mengangkatnya.

“Ada apa lagi?” tanya Jiro berusaha bersikap setenang mungkin.

“Elo sudah lihat?”

“Ya.”

“Dan Cuma gini aja reaksi elo?”

“Terus, gue harus apa?” Jireo bertanya balik.

“Sial! Manager sejak tadi ngehubungin kita. Elo harus nemuin dia.”

“Ya.”

“Dan setelah itu, kita tunggu di Studio Jason.” Setelah itu telepon ditutup. Jiro mendengus sebal, ia menatap Ellie yang masih pulas dalam tidurnya.

Jiro lalu bangkit, membersihkan diri, menulis pesan singkat untuk Ellie agar Ellie tetap di apartmennya dan menunggunya kembali. Kemudian ia pergi meninggalkan wanita tersebut untuk menyelesaikan masalahnya.

***

Ellie bangun beberpa jam kemudian, sendiri. Setelah bangkit dan membersihkan diri, ia menemukan note yang ditulis oleh Jiro di atas meja tepat di bawah ponselnya. Ellie cukup lega setelah membacanya. Tadi, ia berpikir bahwa Jiro akan meninggalkannya setelah apa yang sudah mereka lalui bersama, tapi ternyata lelaki itu hanya pergi sebentar untuk mengurus urusannya.

Akhirnya, Ellie memilih menghabiskan waktunya dengan berkeliling kamar Jiro. Ini adalah kamar suaminya, sepertinya tidak masalah jika ia melihat-lihat barang apa saja yang ada di sana. Beberapa pintu lemari dalam keadaaan terkunci, yang artinya ia tidak bisa atau tidak boleh melihat apa yang ada di dalam, tapi yang lain dalam keadaan terbuka.

Tak ada barang-barang berharga di sana, hanya ada baju-baju lelaki itu, mungkin sebagian barang-barang Jiro sudah dipindahkan ke rumah mereka seperti yang dikatakan lelaki itu tadi.

Ellie lalu duduk di pinggiran ranjang, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kemudian matanya teralih pada laci meja yang berada di sebelah ranjang. Ellie membuka-buka laci tersebut. Tak ada yang special di sana, hanya ada kertas note, pulpen, dan sekotak…. Tunggu dulu, Ellie mengambil kotak tersebut.

Itu adalah sekotak kondom yang bahkan sudah berkurang isinya. Ellie sempat tak percaya saat melihatnya. Kenapa Jiro memiliki kondom di laci kamarnya? Ia bahkan tidak pernah ke apartmen ini. Lagi pula Jiro tak pernah mengenakan kondom ketika bercinta dengannya. atau jangan-jangan…..

Ellie menggelengkan kepalanya saat pikiran buruk mulai menguasainya. Saat Ellie masih shock melihat sekotak kondom tersebut, ia mendengar bell pintu apartmen Jiro berbunyi.

Ellie mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu siapa yang datang, dan Ellie merasa ragu, apa ia harus membukakan pintu atau tidak. Tapi rasa ingin tahunya terlalu tinggi. Tadi, Ellie berpikir bahwa Jiro tak pernah membawa siapapun ke apartmennya, tapi setelah mendapati sekotak kondom tersebut di dalam laci meja suaminya, pikiran tersebut hilang.

Jiro tentu pernah membawa seseorang ke apartmennya, dan orang tersebut pasti perempuan. Ellie merasa bahwa ia harus tahu siapa perempuan itu? Siapa yang sudah tidur dengan suaminya? Dan siapa orang yang sedang datang ke apartmen Jiro saat ini? mungkinkah itu adalah orang yang sama?

Dengan cepat Ellie bangkit, keluar dan menuju ke arah pintu. Ellie ingin segera tahu siapa si pengetuk pintu. Apa itu  adalah orang yang sama dengan orang yang mungkin saja sering di ajak Jiro bermalam di apartmennya?

Dan ketika Ellie membukanya, Ellie merasa bahwa semua menjadi semakin masuk akal saat mendapati seorang wanita cantik dan seksi dengan rambut yang di cat pirang. Wanita yangakhir-akhgir ini sering digosipkan dekat dengan Jiro. Vanesha, kalau ia tidak salah ingat. Apa benar wanita ini memiliki hubungan serius dengan Jiro? Jika tidak, kenapa Vanesha tahu dimana tempat tinggal suaminya?

***

Jiro menghela napas lega setelah keluar dari ruangan managernya. Sejak tadi, semua mata menuju ke arahnya saat ia memsuki gedung managementnya. Mungkin mereka semua yang ada di sana sudah melihat gosip itu, dan seharusnya Jiro tak peduli, bukankah selama ini ia memang jarang mempedulikan orang-orang disekitarnya?

Beruntung, si Manager memang sudah mengetahui statusnya yang sudah menikah. Ya, hanya managernya dan beberapa asesten kepercayaannya. Sang Manager tak berkomentar apapun, Jiro hanya diminta untuk tenang dan menghindari awak media. Maka semua gosip itu akan kembali mereda. Meski managernya tidak menyarankan hal tersebut, Jiro tetap akan melakukan hal itu. Satu-satunya hal yang masih mengganjal pikiran Jiro adalah, bagaimana caranya ia menghadapi para personel The Batman lainnya?

Disatu sisi, Jiro ingin berkata jujur, tapi di sisi lain, ia tidak bisa melakukannya. Jiro tidak ingin mempublikasikan tentang Ellie, setidaknya, bukan sekarang. Lagipula, mereka harusnya disibukkan dengan konser yang semakin dekat, bukan dengan hubungan rumah tangganya bersama dengan Ellie.

Jiro menghela napas panjang saat ia akan memasuki studio tempatnya latihan. Setelah ia membuka pintunya, semua yang ada di sana menghentikan aksinya dan menatap ke arahnya.

Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Jiro melangkah masuk, kemudian duduk dengan santai di sofa yang tesedia. Jason, Ken dan Troy akhirnya mendekat, sedangkan Jiro berusaha agar dirinya tak terpengaruh dengan tatapan mata teman-temannya tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro tanpa ekspresi sembari membuka sekaleng bir yang ada di hadapannya.

“Jadi, apa bener tentang gosip bahwa elo punya istri?” Troy yang mulai membuka suara. Bahkan tanpa basa-basi lagi temannya itu bertanya tentang statusnya. Sialan!

“Enggak.” Jiro menjawab setelah menenggak minumannya. Entahlah, jawabannya tersebut hanya spontanitas. Ia hanya belum ingin mempublikasikan sosok Ellie di depan umum, bahkan didepan teman-temannya sekaligus.

“Elo yakin? Terus siapa perempuan yang ada di salah satu akun gosip itu?” Jason menuntut. Jason dan yang lain tahu bahwa ini adalah urusan pribadi Jiro. Jiro sangat misterius dengan masalah pribadinya, bahkan hampir tak pernah membahas masalah pribadinya. Kini, Jason dan teman-temannya hanya ingin tahu kebenarannya. Jika benar, bukan masalah. Mereka hanya ingin membantu Jiro menghadapi media.

“Adek gue.” Jiro masih menjawab dengan enggan,

Troy mendekat seketika. “Boleh kenalin? Gue sudah lihat foto-fotonya, bahkan ada videonya yang di posting di salah satu akun gosip.  Gue rasa, gue tertarik, kebetulan gue nggak pernah deket sama cewek bule berambut kuning kemerahan.”

Tanpa diduga, secepat kilat Jiro mencengkeram kerah baju yang dikenakan Troy. “Jangan coba-coba.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Elo kenapa si? Emang salah kalau kita pengen kenal sama adek elo?” Troy tersinggung. Padahal belum tentu wanita itu menolaknya, kenapa Jiro sibuk dengan egonya sendiri?

“Salah, sangat salah!” nada bicara Jiro masih penuh emosi. Kemudian Jiro melepas cengkerangannya, ia bangkit dan bersiap pergi meninggalkan studio latihannya. Tapi sebelum itu, ia berpesan pada semua yang ada di dalam ruangan tersebut, terutama pada Troy. “Jangan pernah mencari tahu tentang dia. Mata Jiro menatap tajam ke arah Troy. Jiro benar-benar tidak suka ketertarikan yang amat jelas terlihat di wajah temannya yang brengsek itu. “Dia sudah bersuami!” lanjutnya sebelum pergi membanting keras pintu studio Jason.

Sial! Jiro bingung dengan apa yang ia rasakan. Disatu sisi, ia ingin mengklaim diri Ellie dihadapan umum, tapi disisi lain, ia tidak bisa membuka rahasianya begitu saja apalagi saat egonya masih terlalu tinggi untuk menuruti ambisinya. Padahal Jiro tahu, bahwa tak ada salahnya memberi tahu Jason, Ken dan Troy. Mereka tak akan membocorkan rahasianya. Tapi tetap saja, rasanya Jiro sulit memberi tahu mereka begitu saja.

Sedangkan Jason, Ken dan Troy, saling pandang satu sama lain, bingung dengan sikap Jiro yang tak seperti biasanya.

“Dia kenapa sih? Ada yang salah sama ucapan gue? Gue kan tertarik sama adeknya.” Troy membuka suara.

“Troy, belum tentu juga itu adek Jiro. Kalau dia sampai semarah itu, pasti hubungan mereka bukan kakak-adik.” Jason menjawab.

“Bisa jadi mereka memang kakak-adik. Jiro marah karena dia tidak mau adeknya ditaksir oleh Troy.” Ken yang berbicara.

“Sialan lo Ken. Memangnya apa salahnya gue taksir?” Troy mendengus sebal. “Siapapun itu, cewek itu cantik banget. Sumpah. Gue beneran tertarik sama dia.” ucap Troy yang seketika itu juga membuat Ken dan Jason saling pandang kemudian menggelengka kepalanya. Astaga, Troy benar-benar laki-laki hidung belang!

***

Msih dengan kesal, Jiro memilih untuk segera pulang. Ia ingin segera bertemu dengan Ellie.mengingat bahwa Ellie kini mungkin dikenali oleh publik membuat Jiro khawatir dengan istrinya tersebut.

Kurang dari setengah jam kemudian, Jiro sudah sampai pada apartmennya. Dan ketika ia memasuki apartmennya. Ia terkejut mendapati tamu tak diundang berada di sana.

Itu Vanesha. Kenapa wanita itu kemari?

Jiro melihat Ellie yang tampak sedang menyuguhkan sesuatu untuk Vanesha. Astaga, apa yang sudah terjadi? Apa yang dikatakan Vanesha pada Ellie? Apa Ellie mengaku tentang hubungan rumah tangga mereka?

Dengan sedikit panik Jiro masuk kemudian dia bertanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” bahkan suara Jiro terdengar begitu tajam. Ia tidak ingin Vanesha berada di sana, diantara dirinya dan juga Ellie. Mereka tak memiliki hubungan apapun, jadi Jiro tidak ingin  Vanesha mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ellie.

“Jiro, kamu..” Vanesha berdiri seketika.

“Ya. Aku. Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Jiro sekali lagi. Sesekali matanya melirik ke arah Ellie. Wajah wanita itu sudah sendu. Apa yang sudah dikatakan Vanesha pada istrinya itu?

“Mungkin kamu lupa sudah janjian sama dia.” Ellie membuka suaranya. Ellie bahkan segera meninggalkan Vanesha dan juga Jiro untuk masuk ke dalam kamar Jiro.

Tanpa menghiraukan keberadaan Vanesha, Jiro menyusul Ellie. Mengunci diri mereka di dalam kamar. Ada yang harus mereka bahas. Sikap Ellie yang ketus menandakan bahwa ada yang terjadi saat ia meninggalkan wanita itu. Dan jiro ingin menyelesaikannya.

“Apa yang sudah dia katakan sama kamu?” tanya Jiro secara terang-terangan setelah mengunci pintu kamarnya.

“Tidak ada.” Ellie berkata jujur. Memang mereka belum sempat bercakap-cakap. Ellie hanya mempersilahkan wanita itu masuk, lalu membuatkan minuman, pada saat itu, Jiro sudah datang. Meski begitu hal tersebut tidak mengurangi kecurigaan Ellie tentang siapa dan apa sebenarnya hubungan antara Jiro dengan wanita tersebut.

“Lalu kenapa kamu bersikap ketus begini?”

“Kenapa?” Ellie bertanya balik. “Suamiku suka membawa perempuan lain ke apartmennya! Apa aku tidak boleh marah?”

“Kamu tidak memiliki bukti saat menuduhku seperti itu, Ellie.”

“Bukti? Dia bahkan mengetahui dimana tempat tinggal sialanmu ini! dan ini!” Ellie melempar sekotak kondom yang ia temukan tepat pada dada Jiro. “Kamu perlu bukti lain lagi?” tantangnya.

“Ini bukan milikku.” Jiro mengamati kondom-kondom yang berserahkan di lantai.

“Oh tentu saja. Ini adalah milik si penjaga gedung apartmen yang mampir untuk menyewa kamarmu!” Sindir Ellie. “Aku tidak sebodoh itu, James. Aku tidak sebodoh itu!”

Jiro mendekat, dan Ellie mundur. “Ellie tolong, kita bisa membahas ini dengan baik-baik.”

“Tidak!” Ellie berseru keras. “ini tidak akan berhasil jika kamu tidak jujur, James.”

“Aku jujur, Ellie! Barang sialan ini bukan milikku, dan aku tidak tahu bahwa Vanesha mengetahui tempat tinggalku.”

Ellie mengangkat kedua tangannya, seraya mengatakan bahwa sudah cukup. Jawaban Jiro tak masuk akal. Jadi ia tidak ingin memperpanjang lagi cek cok mereka. Lagi pula, memang keadaannya seperti itu, Jiro memang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik, lelaki masih lajang di depan publik, jadi sangat tidak masuk akal bahwa Jiro tak pernah mengajak salah satunya menginap di apartmennya. Yang Ellie inginkan hanyanya agar Jiro berkata jujur padanya, meski kejujuran itu bagaikan pil pahit untuknya.

“Ellie, tolong.” Jiro memohon. Tak pernah ia memohon sebelumnya jika bukan dengan Ellie

“Aku pulang.”

Jiro menghela napas panjang. “Oke, kita akan pulang.”

“Tidak. Aku pulang sendiri.”

“Ellie, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri.”

“Kenapa tidak? Bukannya selama ini kamu mengabaikan keberadaanku? Maka anggap saja seperti itu.”

Ellie kembali lagi mengungkit sikap buruk Jiro, dan ketika Ellie sudah mengungkitnya, maka yang bisa Jiro lakukan hanya mengalah. Ya, ia memang selalu salah.

“Ellie, kamu hamil. Setidaknya, biarkan aku menghubungi Mei untuk menjemputmu.”

“Terserah.” Jawaban kasar Ellie membuat Jiro tahu bahwa istrinya itu benar-benar sedang marah terhadapnya. Jiro tahu, ada banyak hal yang harus ia jelaskan pada Ellie, tapi emosi Ellie yang meledak seperti sekarang ini membuat Jiro tak berkesempatan untuk menjelaskannya. Bahkan jika Jiro sudah menjelaskannya, Jiro tak yakin Ellie mau menerima penjelasannya. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah membiarkan Ellie sampai emosi wanita itu mereda, kemudian menjelaskan semuanya pada istrinya tersebut.

Ya, Jiro merasa tak bersalah karena hal ini, jadi ia pasti bisa menjelaskan semuanya tanpa menimbulkan masalah baru lainnya.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 12

Comments 2 Standard

 

Bab 12  

 

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie mengenakan gaun pengantin sederhana milik ibunya yang sudah ia modifikasi hingga tak terlihat kuno. Jessie senang mengenakan gaun tersebut, bahkan  ini merupakan cita-citanya, bahwa ia akan mengenakan gaun pengantin ibunya ketika menikah dengan Henry nanti. Nyatanya, mempelai prianya bukan Henry, melainkan Steven Morgan, temannya sendiri.

Jessie menghela napas panjang. Ia merasa gugup dan sedikit gemetar. Keraguannya kembali muncul, ia tidak menyangka jika akan berakhir seperti sekarang ini. Berada di kamar Steve dengan penata rias yang membantunya tampil cantik karena pernikahannya yang akan segera dilaksanakan di lumbung keluarga Morgan yang sudah disulap menjadi tempat pemberkatan yang begitu indah.

Ketika Jessie sangat gugup, sebuah suara ceria mampu mengalihkan perhatiannya. Emily Morgan datang dengan senyum cerianya.

“Kau benar-benar sangat cantik.” Komentarnya sembari menghambur ke arah Jessie.

“Maaf, kau bisa merusak rambutnya.” Si penata rambut berkomentar, dan Emily segera menjauhkan diri dari Jessie.

“Oh maaf. Aku hanya sangat mengaguminya. Astaga, Steve pasti akan terpana denganmu.” Komentar Emily.

“Kau bisa saja.” Jessie merona dengan pujian Emily. Dulu, ia tak pernah malu-malu seperti ini dengan adik Steve itu. Tapi kini, semua seakan berubah. Ada rasa canggung yang sulit dijelaskan, dan hal itu membuat Jessie kurang nyaman.

“Aku ke sini karena ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie penasaran.

Baby Girl.” Itu Frank. Kakaknya itu berdiri di ambang pintu. Jessie berdiri dan menatap Frank dengan mata berkaca-kaca.

Frank mendekat, kemudian memeluk erat tubuh adiknya. Si penata rambut akan berkomentar tapi Emily lebih dulu mengajaknya keluar agar Jessie bisa menikmati waktunya dengan Sang Kakak.

“Frank.” Jessie menangis. Entah kenapa ia ingin menangis, mungkin terharu, mungkin sedih karena setelah ini ia akan memiliki keluarga kecilnya sendiri dan satu langkah sedikit jauh dengan Frank dan juga ayahnya.

“Hei. Kenapa menangis?” tanya Frank yang sudah melepaskan pelukannya. Frank bahkan menghapus bulir airmata Jessie yang jatuh menuruni pipinya. “Maskaramu akan luntur. Kau tak ingin membuat para tamu undangan lari ketakutan saat melihat riasanmu berantakan, bukan?”

Jessie tersenyum, dia bahkan meninju pelan dada kakaknya.

“Kau sangat cantik, Jess. Mom pasti akan sangat senang menyaksikan pernikahanmu dari sana.”

“Bagaimana dengan George?” tanyanya kemudian.

Well. Seperti biasa, pria tua itu bersikap sok kuat. Padahal semalam saat minum denganku, dia gelisah dan mengkhawatirkanmu.”

“Jangan mengajaknya minum lagi, Frank.”

“Ya. Karena setelah ini, aku memiliki teman minum baru di keluarga kita.” Ucap Frank dengan semangat. Jessie hanya menundukkan kepalanya. Frank lalu mengangkup kedua pipi Jessie dan bertanya. “Kenapa? Kau tampak tak bahagia.” Frank menatap Jessie penuh selidik.

“Aku bahagia, Frank. Kau tahu sendiri bukan, Steve adalah cinta pertamaku. Aku tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Kami akan menikah, astaga, aku masih tidak menyangka akan seperti ini.”

“Ada yang kau takutkan, Baby girl?”

“Banyak.” Desah Jessie.

“Katakan, karena jika kau menyimpannya sendiri, kau tak akan berhenti gelisah.”

“Aku takut jika semua akan gagal.”

“Kenapa kau berpikir sampai ke sana?”

“Frank. Tak ada cinta diantara kami.”

“Kau baru saja mengatakan bahwa dia cinta pertamamu.”

“Ya ampun, Frank. Itu sudah Lima belas tahun yang lalu. Aku sudah jatuh cinta dengan pria lain setelahnya. Bahkan mungkin sekarang aku masih mencintai Henry.” Jessie menghela napas panjang. “Maksudku, aku takut, kalau aku kembali menyukainya, terbawa perasaan, padahal hubungan kami tak lebih dari partner untuk membesarkan bayi kami.”

“Steve bukan orang seperti itu, Jess. Aku mengenalnya. Dan kupikir, dia juga menyukaimu.”

“Tolong, Frank! Jangan membuatku berharap dengan hal yang tak mungkin. Kau tahu sendiri bukan, bahwa tipe perempuan kesukaannya adalah….”

“Perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumbah dari branya? Ayolah, itu hanya pemikiranmu saja, Jess. Otak Steve tidak mungkin hanya dipenuhi dengan payudara wanita.”

Meski Frank mengatakannya dengan mimik serius, tapi tetap saja, Jessie tersenyum ketika mendengar kalimat vulgar dari kakaknya tersebut. Pada saat bersamaan, pintu kamar tersebut dibuka, menampilkan sosok Emily dengan George Summer.

“Maaf mengganggu. Tapi acara akan segera dimulai.”

Frank kembali menatap ke arah Jessie, kemudian ia berbisik. “Kau bisa melewati semuanya, Jess. Aku yakin kau bisa. Kau adalah wanita terhebat yang ada di dunia ini. jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mencariku.”

Jessie tersenyum dan mengangguk. Ia sangat bahagia memiliki kakak seperti Frank. Meski kadang Frank menyebalkan, tapi ia tahu bahwa Frank adalah sosok kakak yang sangat sempurna.

George masuk. Berjalan menuju ke arah Jessie. Jessie sendiri segera menghadap ayahnya tersebut. Jemari George terulur mengusap lembut pipi Jessie.

“Kau sangat mirip dengan Marina.” Marina Summer adalah nama ibu Jessie.

Jessie tersenyum. “Apa Steve tampak tampan sepertimu?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja aku lebih tampan.” Jawab George kemudian. “Tapi aku yakin, dia akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik dariku.” Lanjutnya dengan sungguh-sungguh.

“Oh, Dad.” Jessie tak kuasa untuk tidak memeluk ayahnya. Rasa haru menyelimutinya. Ia sangat bersyukur memiliki keluarga seperti ayahnya dan juga kakaknya.

“Kau tahu kemana harus pergi jika ada masalah. Tapi aku selalu berharap jika kau bisa menyelesaikan semua masalahmu secara dewasa.”

Jessie hanya mengangguk. Rasa haru benar-benar membuatnya ingin menangis.

“Baiklah.” George melepaskan pelukan Jessie. “Kau sudah siap?”

Lagi-lagi, Jessie hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Ayo, aku akan mengantarmu pada Steve.” Setelah itu, Jessie mengapit lengan ayahnya, berjalan keluar dari kamar dan menuju ke arah tempat pemberkatan, tempat dimana Steve dan kehidupan baru menunggunya.

***

Malam semakin larut. Pesta semakin ramai. Setelah melakukan pemberkatan di area lumbung yang disulap menjadi tempat yang begitu indah, halaman rumah Steve juga sudah disulap menjadi area pesta dansa yang indah.

Bunga-bunga ditata sedemikian rupa, lilin-lilin berpadu dengan lampu-lampu kecil, membuat suasana terasa begitu romantis. Belum lagi alunan lagu lembut yang mengiringi pesta dansa membuat siapa saja larut kedalam suasana romantis.

Tak terkecuali kedua mempelai yang kini tengah asyik berdansa bersama. Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, sedangkan Steve sendiri memeluk pinggang wanita yang kini sudah berstatus sebagai istrinya.

Keduanya berdansa dengan mata yang saling menatap satu sama lain. Ada sebuah kecanggungan, tapi keduanya bersikap senormal mungkin. Seperti mereka memang sering melakukan hal seperti ini.

Dengan sedikit nakal, jemari Steve merayap ke atas, menelusuri sepanjang resleting gaun Jessie yang menempel di tulang belakangnya. Hal itu membuat Jessie menatap Steve dengan penuh tanya.

“Istriku.” Ucap Steve dengan pelan, nadanya menggoda, terdengar nakal tapi sedikit jahil. Entah apa maksud Steve mengucapkan kata tersebut dengan nada yang sseperti itu.

“Apa?” akhirnya Jessie mengangkat wajahnya dengan berani.

“Kau. Istriku.” Ucap Steve lagi dengan senyuman mengembang di wajahnya. Keduanya bahkan masih asyuk berdansa meski ketegangan seksual kembali terpantik begitu saja karena godaan dari Steve.

Well. Seluruh warga Pennington sudah tahu hal itu.”

“Aku tidak menegaskan pada mereka. Aku menegaskannya padamu.”

“Dan untuk apa kau menegaskan hal itu padaku?”

“Karena aku ingin kau ingat bahwa malam ini adalah malam pengantin kita.”

Jessie tergelak karena ucapan Steve. “Oh yang benar saja. Kau akan membahas tentang seks saat ini?”

“Tidak. Kita tak akan melakukan seks. Tapi kita akan bercinta.”

“Hemmm. Aku jadi penasaran. Apa perbedaan antara seks dan bercinta versi tuan Steven Morgan.” Sindir Jessie.

Steve tersenyum penuh arti. “Kau akan tahu. Mrs. Morgan.” Jessie sempat berdebar-debar tak jelas setelah Steve memanggilnya dengan panggilan Mrs. Morgan. Astaga, ia sudah menjadi seorang nyonya? Nyonya Morgan? Bahkan dalam mimpi terindahnyapun Jessie tak pernah memimpikan hal ini terjadi. Pernikahannya benar-benar sempurna, meski cinta belum ada diantara mereka, tapi Jessie akan berusaha untuk tidak gagal dan keluar sebagai pemenangnya.

Frank benar, ia harus lebih berani dan lebih positif melihat kedepan hubungannya dengan Steve. Jika ia ingin berhasil, maka ia tidak boleh berpikiran buruk. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan bisa menjalani semuanya dengan baik.

***

Mereka tidak bulan madu!

Steve tak berhenti menggerutu kesal saat itu, ketika mereka ,merundingkan tentang bulan madu dan Jessie memilih untuk tidak pergi kemanapun. Jessie hanya ingin menghabiskan waktunya di kampung halaman mereka sebelum kembali ke New York. Dan kini, saat pesta pernikahan mereka sudah usai, mereka hanya menghabiskan waktu di kamar Steve.

Jessie tampak sedikit canggung dengan status barunya, tapi Steve mencoba menghilangkan kecanggungan diantara mereka dengan cara bersikap sesantai mungkin.

Setelah melepaskan tuksedonya, Steve bahan segera melemparkan diri ke atas ranjangnya, dan hal itu sempat membuat Jessie mengerutrkan keningnya.

“Kau, tidak mandi?” tanyanya. Karena saat ini, Jessie sudah segar karena baru selesai mandi dan kini sedang menatap Steve dari balik cermin meja rias di hadapannya.

“Tidak. Kenapa? Kau keberatan?”

“Astaga, kita akan tidur bersama. Mencobalah untuk lebih bersih dengan mandi terlebih dahulu sebelum tidur.” Gerutu Jessie.

Bukannya tersinggung, Steve malah tertawa lebar. Ia bangkit, bukannya segera menuju ke kamar mandi, tapi malah menuju ke arah Jessie. Dengan begitu kurang ajarnya, Steve malah memeluk tubuh Jessie dari belakang, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup lembut leher jenjangnya.

“Aku ingin dimandikan.” Bisiknya parau dan seketika itu Juga, Jessie menjauhkan diri.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Morgan!”

“Kenapa? Kau istriku sekarang.”

“Tapi aku setuju menjadi istrimu bukan karena alasan ingin memandikanmu. Demi Tuhan! Kau sudah dewasa, apa masuk akal jika kau ingin kumandikan?”

“Ayolah sayang, itu hanya istilah saja. Intinya, aku ingin mandi bersamamu. Berdua, bersama.” Jelasnya.

“Aku sudah mandi.”

“Kita bisa mandi lagi.”

Dan dengan seenaknya sendiri, Steve mengangkat tubuh Jessie dengan paksa. Jessie meronta dalam gendongannya. Tapi Steve tak mempedulikannya. Steve bahkan tertawa bahagia karena membuat wajah Jessie panik seperti saat ini.

“Hei! Lepaskan aku!” Jessie masih meronta. Tapi secepat kilat Steve menyambar bibir ranumnya, membungkamnya hingga Jessie tak mengeluarkan suara lagi. Bahkan, Jessie hanya membeku ketika Steve melakukan hal tersebut.

Setelah Jessie tak lagi melawannya, Steve menghentikan cumbuannya. Pada detik itu, kakinya sudah sampai di dalam kamar mandi. Steve menatap tajam ke arah Jessie, pun dengan Jessie yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

Jessie benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Steve tadi. Sejak kapan Steve jadi tukang cium seperti tadi? Ini bukan pertama kalinya, tentu saja Jessie masih mengingat saat Steve menciumnya di dalam lift dengan posisi yang sama seperti ini. kenapa Steve melakukannya? Bukankah mereka menikah hanya karena bayi yang dikandungnya saja?

“Kau, terkejut?” Steve membuka suara.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Jessie mencoba mengalihkan perhatiannya dari mata Steve yang begitu memabukkan untuknya.

“Menciummu.” Jawab Steve dengan santai.

“Aku tahu. Tapi kenapa kau melakukannya?”

“Karena aku ingin.” Lagi-lagi Steve menjawabnya dengan nada santai.

“Steve. Aku sedang tidak bercanda.”

“Kau pikir aku sedang bercanda? Ayolah, Sayang jangan membohongi dirimu sendiri, kau juga menginginkanku. Dan akupun sama. Lagi pula, ini malam pengantin kita.”

“Steve jangan, kumohon.” Pinta Jessie. Jessie hanya ingin membatasi apa yang akan dilakukan Steve. Ia belum siap. Baginya ini terlalu terburu-buru.

Astaga, Steve benar, ketegangan seksual memang selalu terpercik diantara mereka setelah malam sialan itu, tapi tetap saja, Jessie merasa ragu melakukannya lagi. Jessie bukanlah orang yang percaya diri jika itu tentang seks. Apalagi mengingat Steve adalah orang yang sangat mahir dalam urusan itu.

Steve menurunkan tubuh Jessie, dengan cepat ia mengurung tubuh Jessie diantara dinding. Lengannya mengurung di sisi kanan dan kiri tubuh Jessie kemudian dia berkata dengan suara parau.

“Aku menginginkanmu.” Ucapnya jujur.

Jessie mengangkat wajahnya seketika menatap tepat pada mata Steve. Mata lelaki itu berkabut, dan Jessie tahu bahwa kini Steve benar-benar sedang menginginkannya. Dengan spontan Steve  membawa telapak tangan Jessie menyentuh bukti gairahnya, menunjukkan bahwa lelaki itu benar-benar bergairah pada sosok Jessie.

“Kumohon, aku benar-benar menginginkanmu.” Steve memohon dan Jessie tahu bahwa ia tidak bisa menolak lelaki itu.

Maka ketika Steve mulai mendekatkan diri, menggapai bibir Jessie, yang dapat Jessie lakukan hanya memejamkan matanya kemudian membalas setiap cumbuan yang diberikan Steve terhadapnya.

Mereka saling mencumbu mesra, lidahnya menari bersama, seakan ikut serta merayakan status baru yang telah mereka sandang.

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 11

Comments 3 Standard

 

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

Bab 11

 

“Kau mendengarku?” tanya Steve ketika ia tidak mendapatkan respon dari Jessie. “Menikahlah denganku. Dan aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, serta ayah yang hebat untuk anak kita. Kumohon. Menikahlah denganku.” Lanjut Steve dengan nada lirih.

“Kita sudah sepakat untuk tidak membahas tentang hal ini, Steve.”

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Jess.”

“Kenapa tidak?” Jessie melepaskan pelukan Steve lalu menatap lelaki itu dengan sungguh-sungguh. “Bukankah selama ini komitmen atau pernikahan tak pernah mampir dalam pikiranmu? Kenapa sekarang Steve?”

“Sebab seluruh warga Pennington akan tahu bahwa kau hamil dan akan memiliki anak. Mereka harus tahu siapa ayahnya, dan itu adalah aku.”

“Kau ingin menikah karena bayi ini?”

“Jess. Aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Meski bayi itu adalah alasan utama, tapi bukan hanya karena itu aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Aku merasa, kau adalah orang yang sangat tepat, yang mengerti semua tentangku, dan tentunya, kita juga cocok dalam urusan ranjang.”

“Jika kau kembali membahas masalah ranjang, maka aku akan menendang bokongmu dari tempat tidurku.”

Steve terkikik geli. Sepertinya sudah sangat lama ia tidak mendengar kemarahan Jessie yang membuatnya semakin ingin menggoda wanita itu.

“Oke. Aku akan serius.” Kali ini Steve menghilangkan tawanya seketika. “Menikahlah denganku. Kumohon. Demi bayi kita, demi hubungan kita, demi keluarga kita.”

“Lalu, apa lagi yang akan terjadi jika kita sudah menikah?” tanya Jessie kemudian.

“Aku juga tidak tahu, Jess. Aku belum menikah sebelumnya.”

“Maksudku, hubungan kita…..”

“Jika yang kau tanyakan adalah hubungan ranjang, maka aku akan menyentuhmu layaknya seorang suami yang menyentuh istrinya. Aku tidak akan membuat peraturan-peraturan sialan atau menerima peraturan-peraturan sialan untuk hidup selibat jika kau mengajukannya. Jika aku menikahimu, maka kau adalah istriku sepenuhnya, di dalam atau diluar kamar.”

“Steve. Hubungan ini tak akan berhasil?”

“Apa yang kau takutkan, Jess?”

Jessie tak tahu. Ia hanya tak mau jika semuanya akan berakhir dengan buruk lalu ia benar-benar kehilangan Steve.

“Kau tahu, aku juga takut. Aku tak pernah berkomitmen sebelumnya. Tapi aku akan berusaha untuk membuat hubungan kita berhasil. Aku akan berusaha, Jess. Dan aku ingin, kau juga berusaha bersamaku.”

“Kau tidak mencintaiku, Steve. Bagaimana mungkin pernikahan….”

“Aku mencintaimu. Aku menyayangimu.” Jawab Steve cepat.

Tentu saja Jessie tahu apa maksud Steve. Dalam hal ini, Steve memang mencintai dan menyayanginya. Tapi sebagai teman, bukan kekasih. Mereka tidak sedang memadu kasih. Tidak ada keromantisan diantara mereka, dan hal itulah yang membuat Jessie sangsi dengan hubungan mereka kedepannya.

“Dengar.” Steve menangkup kedua pipi Jessie. “Kita akan melewati semuanya. Kita bisa melewati semuanya, oke. Semua akan baik-baik saja. Aku akan menyayangimu sebagai istriku, dan sebaliknya, kaupun akan menyayangiku sebagai suami. Sederhana, bukan?”

Ya. Sangat sederhana jika diucapkan. Tapi ketika dilakukan, ada banyak hal yang membuatnya rumit.

Steve kembali memeluk tubuh Jessie. “Aku benar-benar ingin menikahimu, Jess. Pikirkanlah lagi. Tolong.” Ucapnya sesekali mengecup lembut puncak kepala Jessie.

Jessie mengangguk. “Baiklah. Kita akan menikah.” Desahnya yang seketika itu juga membuat Steve menatap Jessie tak percaya. “Kenapa?” tanya Jessie kemudian.

“Kau menjawabnya sekarang? Kau benar-benar menerima lamaranku?”

“Kau ingin aku menolaknya?” Jessie bertanya cepat.

“Tidak! Tentu saja tidak!” Steve juga menjawab dengan cepat dan tegas. “Oh, Jess. Kita benar-benar akan menikah. Aku akan mengabari Mom dan Dad. Mereka pasti akan sangat senang menyiapkan pesta pernikahan kita.”

“Steve.” Jessie memotong kalimat Steve. “Kupikir, lebih baik kita menikah di kantor catatan sipil saja.”

“Apa? Kenapa?” tanya Steve dengan wajah terkejutnya.

“Uum, aku, aku tidak ingin terlalu memberikan banyak harapan pada keluarga kita tentang pernikahan kita.”

“Kau gila. Kita memang harus berharap banyak dengan pernikahan kita.”

“Tapi Steve, jika kita gagal, bukan hanya kita yang hancur, tapi keluarga kita.”

“Jess. Ketika aku sudah memutuskan untuk menikahimu, maka aku akan melakukannya sampai akhir. Aku tak akan membiarkan hubungan kita gagal dan berhenti ditengah jalan. Tidak akan pernah.”

“Steve…”

“Tolong. Jika kita akan menikah, maka pernikahan itu harus diadakan di Pennington. Di tanah kelahiran kita.”

Seperti yang dikatakan Steve, Jessie tak akan mungkin dapat menolak keinginan lelaki itu. Ia terlalu lemah untuk berdebat. Lagi pula, ia hanya perlu menuruti saja apapun yang dikatakan oleh lelaki itu, bukan?

***

Beberapa hari kemudian, Semuanya berjalan dengan baik. Steve sudah mengatakan rencana pernikahan mereka yang disambut dengan suka cita oleh keluarga mereka. Patty bahkan sudah menyiapkan segala sesuatunya tentang pernikahan mereka. Mereka akan menikah di lumbung yang berada di belakang rumah Steve. Sampai saat ini, Steve dan Jessie tak pernah berpikir jika mereka akan menikah di sebuah lumbung.

Kini, Jessie dan Steve memiliki waktu seminggu untuk menyelesaikan urusan mereka di New York sebelum kembali lagi ke Pennington.

Steve membuka pintu sebuah Suv baru yang terparkir di basement. Jessie mengerutkan keningnya, meski begitu, ia masuk saja ke dalam Suv tersebut.

“Milik siapa?” tanya Jessie ketika Steve sudah masuk dan duduk di depan kemudi.

“Milikku.” Jawabnya pendek. Steve bahkan memilih memasangkan sabuk pengaman untuk Jessie daripada harus menatap wanita yang kini sedang melemparkan pandangan penuh tanya padanya. “Ada apa?” akhirnya, Steve tak kuasa menahan pertanyaannya ketika Jessie menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Maksudmu, kau membeli Suv ini?”

“Ya. Kenapa?”

“Tapi, aku mengenalmu, Steve. Kau lebih menyukai super car, mobil sport, dan sejenisnya. Kenapa kau membeli Suv ini?”

“Well, kupikir, aku butuh ruang untuk kereta bayi dan segala perlengkapannya jika aku dan istriku nanti pergi piknik bersama.”

“Kau, kau, membelinya karena aku?” Sungguh, Jessie tak percaya.

Steve hanya melihatnya dan menyunggingkan senyuman khasnya. “Kenapa? Kau keberatan? Kau tidak menyukai modelnya.”

Jessie menggeleng. “Bukan.”

“Lalu?”

Tiba-tiba Jessie memalingkan wajahnya ke luar jendela. Matanya berkaca-kaca seketika. Jessie tak tahu kenapa ia sangat mudah sekali tersentuh secara emosional hingga berkaca-kaca seperti ini. dan ia benar-benar tak suka Steve melihatnya seperti ini.

“Hei, kenapa? Kau menangis? Kau tidak suka naik Suv? Apa Suv ini membuatmu mual?”

“Tidak. Steve.”

“Lalu?” Steve bingung. Sangat malah.

“Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis. Mungkin hormonku saja yang perlu disalahkan.”

“Kau, benar-benar baik-baik saja, bukan? Aku tidak ingin kau tertekan karena hal ini.”

Jessie menatap Steve seketika. “Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku hanya…. Aku hanya…” Jessie tak tahu apa yang ingin ia katakan, bahkan ia sendiri tak mengerti apa yang sedang ia rasakan terhadap lelaki yang duduk di sebelahnya itu.

Dengan spontan, Steve merengkuh Jessie dan memeluk wanita itu. Sesekali Steve mengecupi puncak kepala wanita tersebut.

“Aku tahu, kau pasti kurang nyaman. Tapi kita akan segera melewati semuanya, kita akan baik-baik saja, oke.”

Ya. Itulah yang dirasakan Jessie. Ada sebuah rasa tidak nyaman, tapi juga bercampur dengan rasa haru yang membahagiakan, hingga Jessie sendiri tidak mengerti bagaimana cara ia melukiskan apa yang ia rasakan saat ini. Steve benar, semuanya akan berlalu, dan Jessie harus yakin jika mereka bisa melewati semuanya.

***

Sampai di butiknya, Steve memperlakukan Jessie dengan begitu manis hingga Jessie merasa bahwa kini Steve sedang bersandiwara dihadapan para bawahannya.

Dan benar saja, Miranda sempat mengerutkan keningnya sembari menatapnya penuh tanya ketika Steve bersikap seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

Miranda dan yang lainnya tentu belum tahu tentang rencana pernikahan Jessie dengan Steve. Bahkan Jessie tak berniat untuk memberitahunya. Bagi Jessie, pernikahan mereka hanya karena kehamilannya, dan kemungkinan besar akan berakhir. Jessie hanya ingin, tak banyak orang tahu tentang kegagalannya dalam berumah tangga.

“Ada masalah?” tanya Jessie ketika ia akan masuk ke dalam ruangannya melewati Miranda yang masih menatap kebersamaannya dengan Steve yang tampak berbeda dari biasanya.

“Tidak.” Miranda mencoba mengendalikan diri agar rasa keingin tahuanya tidak terlalu tampak. “Kupikir kau belum masuk kerja hari ini.” karena selama Jessie tidak masuk, butiknya memang tetap buka dan hanya melayani pembelian model yang sudah ada di sana. Dan hal tersebut cukup bisa ditangani oleh Miranda dan pegawainya yang lain.

“Aku harus menyelesaikan urusan-urusan disini, karena minggu depan akan menjadi minggu yang sibuk untukku. Kemungkinan kalian akan mendapatkan cuti.”

“Kenapa? Kau tidak sakit, bukan?” Miranda tampak khawatir.

“Tidak. Aku hanya….”

“Hamil. Kau hamil.” Steve menyahut. Steve hanya tidak ingin jika Jessie menutupi kehamilannya dan menyebut hal itu sebagai masuk angin atau penyakit lainnya.

“Jadi, dia sudah tahu?” Miranda bertanya.

Steve menatap Miranda dengan penuh tanya juga. “Kaupun sudah tahu?” Steve bertanya pada Miranda.

“Mr. Morgan, akulah orang pertama yang tahu, karena aku yang membawanya ke rumah sakit saat dia pingsan sebulan yang lalu dan dokter mengatakan bahwa dia hamil.”

“Kau pingsan?” kali ini Steve menatap Jessie penuh tanya.

“Aku terlalu stress saat itu.”

“Tapi kau tidak mengatakan apapun padaku.”

“Hubungan kita tidak sebaik ini saat itu, Steve. Astaga, bisakah kita berhenti membahas masalah itu?”

“Oke.” Steve mengangkat kedua belah telapak tangannya. “Dan kau, Miranda. Kuharap, kau dan teman-temanmu dapat menghadiri pernikahan kami di Pennington minggu depan.”

“Steve!” Jessie berseru keras.

“Apa lagi?”

“Kalian akan menikah?” miranda bertanya.

“Ya, tentu saja. Dia mengandung anakku, jadi kami akan menikah.” Jawab Steve dengan santai bahkan dia sudah menggandeng Jessie dengan mesra.

“Astaga Steve. Kau benar-benar menyebalkan.” Dan Jessie segera meninggalkan Steve masuk ke dalam ruangannya.

Jessie masih tak habis pikir kenapa Steve mengatakan semua itu pada Miranda. Ia tidak suka. Pertama, karena Miranda dan yang lain tahu bahwa sebelumnya ia bertunangan dengan Henry. Akan sangat tidak msuk akal jika saat ini ia mengandung bayi Steve dan menikah dengan lelaki itu, setidaknya, mungkin itu yang ada di dalam pikiran Miranda dan yang lainnya. Itu pulalah yang menjadi kekhawatiran Jessie jika ingin menceritakan hubungannya dengan Steve. Reaksi mereka, atau mungkin pandangan mereka terhadapnya.

Jessie tentu tak ingin dilihat sebagai perempuan murahan yang gampang tidur dengan banyak pria karena ia tdak seperti itu.

Yang kedua adalah, karena Jessie berpikir bahwa pernikahannya dengan Steve tak akan berlangsung lama. Semakin sedikit orang yang tahu maka semakin baik.

Dengan kesal Jessie menuju ke arah kursi kerjanya dan ia menyadari bahwa Steve mengikutinya sampai ke dalam.

Jessie berbalik dan seger menyembur lelaki itu dengan pertanyaannya. “Apa yang kau pikirkan dengan mengatakan semua itu pada mereka, Steve?”

“Apa? Apa aku salah mengundang mereka di hari kebahagiaan kita?”

“Jangan membohongi dirimu sendiri. pernikahan itu bukan seperti yang kita inginkan.”

Steve mendekat. “Mungkin kau tidak menginginkannya, tapi aku ingin.” Steve menjawab penuh penekanan.

“Aku hanya…. Aku hanya tidak ingin mereka melihat kegagalan kita.” Desah Jessie kemudian.

“Kegagalan?” Steve menatap Jessie penuh tanya. “Apa maksudmu?”

“Kita menikah demi bayi ini. Jadi kupikir, setelah bayi ini lahir, kita akan….”

“Jess, dengar.” Steve memotong kalimat Jessie. “Jika aku memutuskan untuk menikah, maka aku akan melakukannya sampai akhir. Tidak akan ada perpisahan diantara kita. Kau mengerti?”

“Tapi…”

Steve segera meraih tubuh Jessie, memeluk wanita itu dengan lembut. “Aku tahu, hormonmu sedang kacau, pikiranmu sedang labil. Seharusnya aku lebih mengerti hal itu. Aku membuatmu semakin tidak nyaman. Tapi kau harus tahu satu hal, Jess. Bahwa aku bersungguh-sungguh dengan pernikahan ini. Jangan pernah berpikir bahwa ini hanya permainanku yang akan selesai saat aku sudah bosan. Kita tidak akan pernah selesai, Jess. Dan aku tak akan pernah bosan jika itu tentangmu.” Steve berkata dengan sungguh-sungguh.

Bohong, jika Jessie mengabaikan semua pernyataan lelaki itu. Steve tak pernah seserius ini sebelumnya, dan entah kenapa hal tersebut membuat Jessie semakin tidak nyaman dengan sikap lelaki itu yang banyak berubah terhadapnya.

***

“Jadi, kau benar-benar akan menikah dengannya?” tanya Miranda yang saat ini sudah menyuguhkan teh herbal di meja Jessie.

“Menurutmu bagaimana?” Jessie bertanya balik.

“Kau meminta pendapatku?” tanya Mirada tak percaya.

Sedangkan Jessie hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus bercerita pada siapa, ia tidak ingin lagi menceritakan masalahnya kepada si berengsek Frank. Kakaknya itu tentu akan mendukung Steve. Atau paling tidak, kakaknya itu pasti akan mengolokinya habis-habisan.

Well, itu luar biasa. Demi Tuhan! Steven Morgan itu salah satu bujangan yang paling diinginkan di New York. Dia tampan, mapan, memiliki koneksi banyak dari kalangan atas, dan dia seksi. Kau bodoh jika menolaknya.”

“Seksi?” tanya Jessie tak percaya bahwa Miranda menggunakan kata itu untuk menggambarkan tubuh Steve.

“Ayolah, jangan menutup mata atau membohongi dirimu sendiri. Mr. Morgan itu seksi, sangat seksi malah. Kau mengandung anaknya, kau tentu tahu bagaimana…”

“Cukup.” Jessie memotong kalimat Miranda. “Jika kau ingin membahas hubungan ranjang kami, maka itu tak akan berhasil.”

Miranda tertawa lebar. Jessie memang orang yang cukup tertutup dengan hubungan asmaranya. “Baiklah. Tapi aku hanya mengatakan dari sudut pandangku. Mungkin, kau akan merasa tidak nyaman karena reputasinya selama ini. Tapi kau lebih mengenalnya, dan kupikir dia orang baik. Kau akan baik-baik saja jika bersamanya.”

“Masalahnya, aku tak yakin dengan pernikahan ini, Miranda. Aku selalu merasa tak nyaman jika memikirkannya.”

“Kau tahu, Jess. Menikah bukan hanya tentang cinta. Ada juga orang menikah hanya karena gairah, ada lagi yang menikah karena tanggung jawab, ada juga yang menikah karena sebuah pengorbanan. Banyak alasan bagi seseorang untuk menjalani sebuah pernikahan. Dan tidak semua alasan tersebut berakhir mengenaskan dengan kata perpisahan.”

“Kau berbicara seolah-olah kau ahli dalam bidang ini.”

Lagi-lagi, Miranda tertawa lebar. “Aku memiliki teman seorang penulis fiksi, jadi aku cukup tahu pengalaman itu ketika membaca buku-bukunya.”

“Jadi, apa yang kau katakan padaku tadi sesuai dengan buku fiksi? Astaga, perlu kau tahu, bahwa pernikahan di dalam novel dengan pernikahan sungguhan itu sangat berbeda! Bahkan aku berani jamin jika adegan ranjangnya juga sangat berbeda.”

Miranda benar-benar tergelak tawanya. “Kau mengatakan itu seolah-olah kau ahli dalam bidang seks.”

“Oh Miranda, aku hamil, ingat. Jadi aku sudah melakukannya.”

“Berapa kali?” pancing Miranda.

“Meski itu hanya satu malam, tapi kami bercinta berkali-kali secara gila-gilaan.” Jawab Jessie dengan spontan. Tapi setelah itu ia membungkam bibirnya sendiri. “Astaga, apa yang sudah kukatakan padamu?”

Sungguh, Jessie tak mampu menahan rasa malunya. Ia tak percaya jika dirinya mengatakan hal tersebut pada Miranda. Sedangkan Miranda, wanita itu tak berhenti tertawa lebar menertawakan Jessie yang tak berhenti merona karena malu.

“Sudah-sudah. Lebih baik kau keluar. Kau membuatku malu setengah mati.” Jessie berkata pada Miranda.

Masih dengan tertawa, Miranda akhirnya bangkit. “Baiklah. Tapi Jess, perlu kau tahu, bahwa aku mendukungmu. Mr. Morgan tampaknya adalah orang yang baik. Dia perhatian denganmu, jadi kupikir, menikah dengannya bukan suatu kesalahan.” Ucap Miranda sambil berlalu.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Terlepas dari sikap Steve yang menyebalkan dan kekanakan, apa yang dikatakan Miranda memang benar. Steve orang yang sangat perhatian terhadapnya. Dan ia cukup mengenal lelaki itu. Mungkin tak ada salahnya untuk mencoba dan menganggap semuanya normal seperti pernikahan pada umumnya. Akhirnya Jessie bangkit dan memanggil Miranda kembali ketika wanita itu sampai di pintu ruang kerjanya.

“Miranda. Kau akan datang?”

“Ya?”

“Uuumm, itu pernikahanku di Pennington minggu depan.”

Miranda tersenyum. “Kau mengundangku?”

“Ya, tentu saja. Kau mau datang? Ajaklah pegawai lainnya. Kau juga boleh mengajak pasanganmu.” Ucap Jessie dengan antusias.

“Oh Jess. Terimakasih. Aku akan mengajak yang lainnya. Untuk pasangan, sepertinya tidak. Tapi, bolehkah aku mengajak temanku si penulis yang tadi baru saja kuceritakan padamu.”

“Ahhh ya, kau boleh mengajaknya.”

“Bagus. Carla pasti senang ikut denganku.”

Jessie tersenyum. “Aku akan senang mengenalnya.” Keduanya saling tersenyum, kemudian Miranda keluar dari ruang kerjanya. Jessie menghela napas panjang. Berbicara dengan Miranda membuat Jessie membulatkan tekadnya, bahwa menikah dengan Steve sepertinya tidak salah. Ia hanya perlu bersikap senormal mungkin, menyikapi semuanya dengan normal dan tidak berlebihan. Tapi bisakah ia melakukananya?