My Beautiful Mistress – Bab 7

Comments 2 Standard

 

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

***

Bab 7

 

Jiro membalas setiap cumbuan dari istrinya tersebut. Ia menyukai Ellie yang berinisiatif untuk menyentuhnya seperti ini. Ellie membangkitkan sesuatu didalam dirinya, membuat Jiro membuka diri untuk wanita tersebut.

Jiro menurunkan resleting dress yang dikenakan Ellie. Melepaskan tautan bibir mereka, lalu melepsakan dress tersebut melewati kepala Ellie. Jiro menatap tubuh istrinya dengan mata terkagum-kagum.

Ellie sangat indah, dan begitu cantik. Kulitnya putih pucat, rambutnya kuning keemasan, matanya berwarna biru laut, dan bibirnya, astaga, merona seperti ceri. Jiro benar-benar bodoh karena selama ini mengabaikannya.

Saat Jiro mulai membuka kaitan bra yang dikenakan Ellie, saat itulah Ellie tertunduk malu. Jiro tahu, bahwa mereka memang hampir tak pernah seintim ini. tak ada waktu untuk mengenali tubuh masing-masing, karena biasanya Jiro hanya melakukan apa yang ia inginkan setelah itu pergi begitu saja. Dan kini, ia seakan ingin mengenal setiap inchi dari tubuh Sang isteri.

Jiro melepaskan bra tersebut. Menjatuhkannya begitu saja di atas lantai, dan Jiro kembali terpesona dengan tubuh istrinya.

Seingatnya, Ellie tidak memiliki lekuk seindah ini. Apa karena Jiro tak pernah memperhatikan sebelumnya? Buah dada Sang istri tampak padat, tapi lembut, dan sangat menggoda. Sial! Kemana saja ia selama ini?

Jiro mendaratkan jemarinya di sana, menyentuhnya, menggodanya. Kakinya mendekat, kepalanya menunduk dan menggapai kembali bibir ranum Ellie. Jiro mencumbu lembut bibir Sang istri sedangkan jemarinya tak ingin berhenti menggoda.

Ellie sendiri menikmati cumbuan tersebut. Dengan pelan tapi pasti ia membalas setiap cumbuan lembut dari suaminya.

Bibir Jiro mulai turun, menuruni leher jenjang Ellie, turun lagi berhenti pada kedua puncak payudara sang istri. Jiro sempat menggoda di sana sebentar, membuat Ellie melemparkan kepalanya ke belakang karena tak kuasa menahan kenikmatan.

Jiro bahkan sudah menekuk lututnya dihadapan Ellie, bibirnya kembali turun lalu matanya mengamati perut Ellie yang tampak sedikit berisi daripada biasanya. Dengan spontan Jiro menarik ujung bibirnya. Ada sebuah kebanggaan yang merayapi hatinya, bangga karena ia akan menjadi seorang ayah, bangga karena sebagian dari dirinya tumbuh di dalam sana.

Jiro mengusap lembut perut Ellie, kemudian mulai mencumbunya lagi dan lagi.

Ellie sendiri hanya bisa meremas rambut Sang Suami. Menikmati setiap belaian bibir Jiro yang berada pada perutnya. Jiro tak pernah selembut ini padanya, dan Ellie begitu menimkati cumbuan lembut dari Jiro.

Sedikit demi sedikit Jiro mendorong tubuh Ellie agar terduduk di pinggiran ranjang. Kemudian ia kembali melanjutkan aksinya lagi, mencumbui setiap inchi dari kulit Sang Istri. Oh, Jiro sangat memuja tubuh Ellie, sekali lagi Jiro berpikir, kemana saja ia selama ini? empat tahun lamanya dan ia baru menyadari bagaimana menggodanya tubuh Sang Istri. Benar-benar bodoh!

Setelah cukup lama bermain-main dengan kulit sang istri, Jiro merasa bahwa dirinya sudah tak mampu mengendalikan gairahnya lagi. Ia bangkit, melucuti sisa kain yang membalut tubuhnya dan juga tubuh Ellie. Kemudian ia kembali pada Ellie, menatap wanita yang sudah tampak tak berdaya di bawah tubuhnya.

“Kamu sangat cantik dan indah. Kemana saja aku selama ini?” tanya Jiro secara terang-terangan.

“Mungkin kamu terlalu sibuk.”

“Ya. Dan terlalu bodoh.” Jawab Jiro. Tanpa banyak bicara lagi, Jiro mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie, pelan tapi pasti, mendesah bersama ketika penyatuan sempurna itu terjadi.

Jiro kembali menatap tubuh Ellie, dan istrinya itu benar-benar tampak indah. Sedangkan Ellie, ia merasa begitu disayangi. Tatapan mata Jiro yang menyiratkan sebuah kekaguman membuat Ellie bahagia. seingatnya, Jiro tak pernah menatapnya seperti itu. Dan Ellie tidak munafik, jika ia memang menginginkan Jiro menatapnya seperti itu.

Tubuh Jiro mulai bergerak seirama, pelan tapi pasti, perlahan dan hati-hati, mencari kenikmatan untuk dirinya, memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Jiro tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi ia benar-benar merasa sedang bercinta seutuhnya dengan diri Ellie.

Jiro begitu menikmati permainan panasnya saat ini, berbeda dengan sebelum-sebelumnya, yang hanya akan menyatu, kemudian berharap secepat mungkin mendapatkan klimaks tanpa menghiraukan apa yang dirasakan Ellie.

Kini, Jiro merasa bahwa Ellie juga menikmatinya, wanita itu tak berhenti memejamkan matanya, mengerang, seakan menikmati setiap pergerakan yang ia berikan pada tubuh wanit tersebut. Ellie bahkan terasa erat mencengkeramnya, seakan meminta agar Jiro tak segera menghentikan permainan panas mereka.

Dengan spontan Jiro menundukkan kepalanya, menggapai bibir Ellie, kemudian mencumbunya dengan lembut. Oh, bibir yang sangat menggoda. Ellie membalasnya, hal itu membuat Jiro semakin menggila.

Ya Tuhan!  Jiro benar-benar tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Ketika Ellie semakin rapat membungkusnya, Jiro merasakan tubuh wanita itu kaku, melengkungkan punggungnya, kemudian melenguh panjang. Jiro tahu bahw Ellie sudah sampai pada pelepasannya, dan Jiro tak menunggu lama lagi untuk menyusul istrinya itu pada puncak kenikmatan.

***

Setelah tenggelam dalam pusaran gairah, Jiro merasakan napas Ellie mulai teratur. Ia melihat wanita itu yang nyatanya sudah tertidur pulas. Jiro tersenyum. Ia tak pernah merasakan perasaan sebahagia ini sebelumnya, bahagia hanya karena sebuah percintaan panas. Jika sebelum-sebelumnya ia hanya merasakan rasa lega, maka saat ini, perasaannya sulit digambarkan.

Jiri merengkuh tubuh Ellie dalam pelukannya, sebisa mungkin ia meredam pergerakannya agar tidak membangunkan Ellie. Ellie mungkin lelah, dan Jiro akan membiarkan istrinya itu istirahat sebentar di kamar apartmennya sebelum kembali pulang.

Jemari Jiro mencari permukaan perut Ellie, mengusapnya lembut, merasakan perasaan aneh yang kembali menerpa dirinya. Jiro tak pernah berpikir akan menjadi ayah, tapi dia juga tidak menolak jika Tuhan memberinya seorang bayi secepat ini.

Mereka dulunya memang sepakat untuk menunda. Ellie benar, tak terasa semua itu sudah berjalan empat tahun lamanya, sudah saatnya mereka memiliki bayi, bahkan Jiro mengabaikan kedua orang tuanya ketika bertanya tentang mongmongan.

Kini, Jiro merasa sudah memiliki semuanya, karir yang berada di puncak, istri yang cantik jelita, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, apalagi yang ia inginkan? Semuanya tampak sempurna. Tapi Jiro merasa ada yang salah, ia merasa harus memperbaiki semuanya agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Sialnya, Jiro tak tahu apa yang membuatnya merasa bersalah.

Saat Jiro sedang nyaman memeluk tubuh Ellie, saat itulah ponselnya berbunyi. Jiro ingin mengabaikannya, tapi bunyinya akan mengganggu Ellie. Akhirnya Jiro memilih mengangkatnya saat tahu bahwa si penelepon adalah Troy.

“Elo dimana?”

“Di apartmen. Kenapa?”

“Buka sosmed, gila! Di sosmed lagi rame gosip tentang elo.”

Perasaan Jiro tidak enak. Akhirnya ia segera mematikan panggilan dari Troy dan mulai membuka akun sosial medianya. Jiro benar-benar terkejut ketika news feednya dipenuhi dengan foto-foto dirinya dan juga Ellie yang berada di rumah sakit tadi siang.

Sebenarnya, Jiro sudah memikirkannya. Hal ini pasti akan terjadi, tapi Jiro tidak berpikir bahwa akan secepat ini, dan beritanya akan menjadi viral seperti saat ini. Salah satu akun gosip bahkan dengan terang-terangan menyebut bahwa Jiro sedang mengantar istrinya memeriksakan kandungan. Meski sebenarnya itu benar, tapi Jiro benar-benar tidak suka digosipkan.

Ponselnya kembali berbunyi, Troy kembali meneleponnya. Mau tidak mau Jiro mengangkatnya.

“Ada apa lagi?” tanya Jiro berusaha bersikap setenang mungkin.

“Elo sudah lihat?”

“Ya.”

“Dan Cuma gini aja reaksi elo?”

“Terus, gue harus apa?” Jireo bertanya balik.

“Sial! Manager sejak tadi ngehubungin kita. Elo harus nemuin dia.”

“Ya.”

“Dan setelah itu, kita tunggu di Studio Jason.” Setelah itu telepon ditutup. Jiro mendengus sebal, ia menatap Ellie yang masih pulas dalam tidurnya.

Jiro lalu bangkit, membersihkan diri, menulis pesan singkat untuk Ellie agar Ellie tetap di apartmennya dan menunggunya kembali. Kemudian ia pergi meninggalkan wanita tersebut untuk menyelesaikan masalahnya.

***

Ellie bangun beberpa jam kemudian, sendiri. Setelah bangkit dan membersihkan diri, ia menemukan note yang ditulis oleh Jiro di atas meja tepat di bawah ponselnya. Ellie cukup lega setelah membacanya. Tadi, ia berpikir bahwa Jiro akan meninggalkannya setelah apa yang sudah mereka lalui bersama, tapi ternyata lelaki itu hanya pergi sebentar untuk mengurus urusannya.

Akhirnya, Ellie memilih menghabiskan waktunya dengan berkeliling kamar Jiro. Ini adalah kamar suaminya, sepertinya tidak masalah jika ia melihat-lihat barang apa saja yang ada di sana. Beberapa pintu lemari dalam keadaaan terkunci, yang artinya ia tidak bisa atau tidak boleh melihat apa yang ada di dalam, tapi yang lain dalam keadaan terbuka.

Tak ada barang-barang berharga di sana, hanya ada baju-baju lelaki itu, mungkin sebagian barang-barang Jiro sudah dipindahkan ke rumah mereka seperti yang dikatakan lelaki itu tadi.

Ellie lalu duduk di pinggiran ranjang, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kemudian matanya teralih pada laci meja yang berada di sebelah ranjang. Ellie membuka-buka laci tersebut. Tak ada yang special di sana, hanya ada kertas note, pulpen, dan sekotak…. Tunggu dulu, Ellie mengambil kotak tersebut.

Itu adalah sekotak kondom yang bahkan sudah berkurang isinya. Ellie sempat tak percaya saat melihatnya. Kenapa Jiro memiliki kondom di laci kamarnya? Ia bahkan tidak pernah ke apartmen ini. Lagi pula Jiro tak pernah mengenakan kondom ketika bercinta dengannya. atau jangan-jangan…..

Ellie menggelengkan kepalanya saat pikiran buruk mulai menguasainya. Saat Ellie masih shock melihat sekotak kondom tersebut, ia mendengar bell pintu apartmen Jiro berbunyi.

Ellie mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu siapa yang datang, dan Ellie merasa ragu, apa ia harus membukakan pintu atau tidak. Tapi rasa ingin tahunya terlalu tinggi. Tadi, Ellie berpikir bahwa Jiro tak pernah membawa siapapun ke apartmennya, tapi setelah mendapati sekotak kondom tersebut di dalam laci meja suaminya, pikiran tersebut hilang.

Jiro tentu pernah membawa seseorang ke apartmennya, dan orang tersebut pasti perempuan. Ellie merasa bahwa ia harus tahu siapa perempuan itu? Siapa yang sudah tidur dengan suaminya? Dan siapa orang yang sedang datang ke apartmen Jiro saat ini? mungkinkah itu adalah orang yang sama?

Dengan cepat Ellie bangkit, keluar dan menuju ke arah pintu. Ellie ingin segera tahu siapa si pengetuk pintu. Apa itu  adalah orang yang sama dengan orang yang mungkin saja sering di ajak Jiro bermalam di apartmennya?

Dan ketika Ellie membukanya, Ellie merasa bahwa semua menjadi semakin masuk akal saat mendapati seorang wanita cantik dan seksi dengan rambut yang di cat pirang. Wanita yangakhir-akhgir ini sering digosipkan dekat dengan Jiro. Vanesha, kalau ia tidak salah ingat. Apa benar wanita ini memiliki hubungan serius dengan Jiro? Jika tidak, kenapa Vanesha tahu dimana tempat tinggal suaminya?

***

Jiro menghela napas lega setelah keluar dari ruangan managernya. Sejak tadi, semua mata menuju ke arahnya saat ia memsuki gedung managementnya. Mungkin mereka semua yang ada di sana sudah melihat gosip itu, dan seharusnya Jiro tak peduli, bukankah selama ini ia memang jarang mempedulikan orang-orang disekitarnya?

Beruntung, si Manager memang sudah mengetahui statusnya yang sudah menikah. Ya, hanya managernya dan beberapa asesten kepercayaannya. Sang Manager tak berkomentar apapun, Jiro hanya diminta untuk tenang dan menghindari awak media. Maka semua gosip itu akan kembali mereda. Meski managernya tidak menyarankan hal tersebut, Jiro tetap akan melakukan hal itu. Satu-satunya hal yang masih mengganjal pikiran Jiro adalah, bagaimana caranya ia menghadapi para personel The Batman lainnya?

Disatu sisi, Jiro ingin berkata jujur, tapi di sisi lain, ia tidak bisa melakukannya. Jiro tidak ingin mempublikasikan tentang Ellie, setidaknya, bukan sekarang. Lagipula, mereka harusnya disibukkan dengan konser yang semakin dekat, bukan dengan hubungan rumah tangganya bersama dengan Ellie.

Jiro menghela napas panjang saat ia akan memasuki studio tempatnya latihan. Setelah ia membuka pintunya, semua yang ada di sana menghentikan aksinya dan menatap ke arahnya.

Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Jiro melangkah masuk, kemudian duduk dengan santai di sofa yang tesedia. Jason, Ken dan Troy akhirnya mendekat, sedangkan Jiro berusaha agar dirinya tak terpengaruh dengan tatapan mata teman-temannya tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro tanpa ekspresi sembari membuka sekaleng bir yang ada di hadapannya.

“Jadi, apa bener tentang gosip bahwa elo punya istri?” Troy yang mulai membuka suara. Bahkan tanpa basa-basi lagi temannya itu bertanya tentang statusnya. Sialan!

“Enggak.” Jiro menjawab setelah menenggak minumannya. Entahlah, jawabannya tersebut hanya spontanitas. Ia hanya belum ingin mempublikasikan sosok Ellie di depan umum, bahkan didepan teman-temannya sekaligus.

“Elo yakin? Terus siapa perempuan yang ada di salah satu akun gosip itu?” Jason menuntut. Jason dan yang lain tahu bahwa ini adalah urusan pribadi Jiro. Jiro sangat misterius dengan masalah pribadinya, bahkan hampir tak pernah membahas masalah pribadinya. Kini, Jason dan teman-temannya hanya ingin tahu kebenarannya. Jika benar, bukan masalah. Mereka hanya ingin membantu Jiro menghadapi media.

“Adek gue.” Jiro masih menjawab dengan enggan,

Troy mendekat seketika. “Boleh kenalin? Gue sudah lihat foto-fotonya, bahkan ada videonya yang di posting di salah satu akun gosip.  Gue rasa, gue tertarik, kebetulan gue nggak pernah deket sama cewek bule berambut kuning kemerahan.”

Tanpa diduga, secepat kilat Jiro mencengkeram kerah baju yang dikenakan Troy. “Jangan coba-coba.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Elo kenapa si? Emang salah kalau kita pengen kenal sama adek elo?” Troy tersinggung. Padahal belum tentu wanita itu menolaknya, kenapa Jiro sibuk dengan egonya sendiri?

“Salah, sangat salah!” nada bicara Jiro masih penuh emosi. Kemudian Jiro melepas cengkerangannya, ia bangkit dan bersiap pergi meninggalkan studio latihannya. Tapi sebelum itu, ia berpesan pada semua yang ada di dalam ruangan tersebut, terutama pada Troy. “Jangan pernah mencari tahu tentang dia. Mata Jiro menatap tajam ke arah Troy. Jiro benar-benar tidak suka ketertarikan yang amat jelas terlihat di wajah temannya yang brengsek itu. “Dia sudah bersuami!” lanjutnya sebelum pergi membanting keras pintu studio Jason.

Sial! Jiro bingung dengan apa yang ia rasakan. Disatu sisi, ia ingin mengklaim diri Ellie dihadapan umum, tapi disisi lain, ia tidak bisa membuka rahasianya begitu saja apalagi saat egonya masih terlalu tinggi untuk menuruti ambisinya. Padahal Jiro tahu, bahwa tak ada salahnya memberi tahu Jason, Ken dan Troy. Mereka tak akan membocorkan rahasianya. Tapi tetap saja, rasanya Jiro sulit memberi tahu mereka begitu saja.

Sedangkan Jason, Ken dan Troy, saling pandang satu sama lain, bingung dengan sikap Jiro yang tak seperti biasanya.

“Dia kenapa sih? Ada yang salah sama ucapan gue? Gue kan tertarik sama adeknya.” Troy membuka suara.

“Troy, belum tentu juga itu adek Jiro. Kalau dia sampai semarah itu, pasti hubungan mereka bukan kakak-adik.” Jason menjawab.

“Bisa jadi mereka memang kakak-adik. Jiro marah karena dia tidak mau adeknya ditaksir oleh Troy.” Ken yang berbicara.

“Sialan lo Ken. Memangnya apa salahnya gue taksir?” Troy mendengus sebal. “Siapapun itu, cewek itu cantik banget. Sumpah. Gue beneran tertarik sama dia.” ucap Troy yang seketika itu juga membuat Ken dan Jason saling pandang kemudian menggelengka kepalanya. Astaga, Troy benar-benar laki-laki hidung belang!

***

Msih dengan kesal, Jiro memilih untuk segera pulang. Ia ingin segera bertemu dengan Ellie.mengingat bahwa Ellie kini mungkin dikenali oleh publik membuat Jiro khawatir dengan istrinya tersebut.

Kurang dari setengah jam kemudian, Jiro sudah sampai pada apartmennya. Dan ketika ia memasuki apartmennya. Ia terkejut mendapati tamu tak diundang berada di sana.

Itu Vanesha. Kenapa wanita itu kemari?

Jiro melihat Ellie yang tampak sedang menyuguhkan sesuatu untuk Vanesha. Astaga, apa yang sudah terjadi? Apa yang dikatakan Vanesha pada Ellie? Apa Ellie mengaku tentang hubungan rumah tangga mereka?

Dengan sedikit panik Jiro masuk kemudian dia bertanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” bahkan suara Jiro terdengar begitu tajam. Ia tidak ingin Vanesha berada di sana, diantara dirinya dan juga Ellie. Mereka tak memiliki hubungan apapun, jadi Jiro tidak ingin  Vanesha mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ellie.

“Jiro, kamu..” Vanesha berdiri seketika.

“Ya. Aku. Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Jiro sekali lagi. Sesekali matanya melirik ke arah Ellie. Wajah wanita itu sudah sendu. Apa yang sudah dikatakan Vanesha pada istrinya itu?

“Mungkin kamu lupa sudah janjian sama dia.” Ellie membuka suaranya. Ellie bahkan segera meninggalkan Vanesha dan juga Jiro untuk masuk ke dalam kamar Jiro.

Tanpa menghiraukan keberadaan Vanesha, Jiro menyusul Ellie. Mengunci diri mereka di dalam kamar. Ada yang harus mereka bahas. Sikap Ellie yang ketus menandakan bahwa ada yang terjadi saat ia meninggalkan wanita itu. Dan jiro ingin menyelesaikannya.

“Apa yang sudah dia katakan sama kamu?” tanya Jiro secara terang-terangan setelah mengunci pintu kamarnya.

“Tidak ada.” Ellie berkata jujur. Memang mereka belum sempat bercakap-cakap. Ellie hanya mempersilahkan wanita itu masuk, lalu membuatkan minuman, pada saat itu, Jiro sudah datang. Meski begitu hal tersebut tidak mengurangi kecurigaan Ellie tentang siapa dan apa sebenarnya hubungan antara Jiro dengan wanita tersebut.

“Lalu kenapa kamu bersikap ketus begini?”

“Kenapa?” Ellie bertanya balik. “Suamiku suka membawa perempuan lain ke apartmennya! Apa aku tidak boleh marah?”

“Kamu tidak memiliki bukti saat menuduhku seperti itu, Ellie.”

“Bukti? Dia bahkan mengetahui dimana tempat tinggal sialanmu ini! dan ini!” Ellie melempar sekotak kondom yang ia temukan tepat pada dada Jiro. “Kamu perlu bukti lain lagi?” tantangnya.

“Ini bukan milikku.” Jiro mengamati kondom-kondom yang berserahkan di lantai.

“Oh tentu saja. Ini adalah milik si penjaga gedung apartmen yang mampir untuk menyewa kamarmu!” Sindir Ellie. “Aku tidak sebodoh itu, James. Aku tidak sebodoh itu!”

Jiro mendekat, dan Ellie mundur. “Ellie tolong, kita bisa membahas ini dengan baik-baik.”

“Tidak!” Ellie berseru keras. “ini tidak akan berhasil jika kamu tidak jujur, James.”

“Aku jujur, Ellie! Barang sialan ini bukan milikku, dan aku tidak tahu bahwa Vanesha mengetahui tempat tinggalku.”

Ellie mengangkat kedua tangannya, seraya mengatakan bahwa sudah cukup. Jawaban Jiro tak masuk akal. Jadi ia tidak ingin memperpanjang lagi cek cok mereka. Lagi pula, memang keadaannya seperti itu, Jiro memang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik, lelaki masih lajang di depan publik, jadi sangat tidak masuk akal bahwa Jiro tak pernah mengajak salah satunya menginap di apartmennya. Yang Ellie inginkan hanyanya agar Jiro berkata jujur padanya, meski kejujuran itu bagaikan pil pahit untuknya.

“Ellie, tolong.” Jiro memohon. Tak pernah ia memohon sebelumnya jika bukan dengan Ellie

“Aku pulang.”

Jiro menghela napas panjang. “Oke, kita akan pulang.”

“Tidak. Aku pulang sendiri.”

“Ellie, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri.”

“Kenapa tidak? Bukannya selama ini kamu mengabaikan keberadaanku? Maka anggap saja seperti itu.”

Ellie kembali lagi mengungkit sikap buruk Jiro, dan ketika Ellie sudah mengungkitnya, maka yang bisa Jiro lakukan hanya mengalah. Ya, ia memang selalu salah.

“Ellie, kamu hamil. Setidaknya, biarkan aku menghubungi Mei untuk menjemputmu.”

“Terserah.” Jawaban kasar Ellie membuat Jiro tahu bahwa istrinya itu benar-benar sedang marah terhadapnya. Jiro tahu, ada banyak hal yang harus ia jelaskan pada Ellie, tapi emosi Ellie yang meledak seperti sekarang ini membuat Jiro tak berkesempatan untuk menjelaskannya. Bahkan jika Jiro sudah menjelaskannya, Jiro tak yakin Ellie mau menerima penjelasannya. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah membiarkan Ellie sampai emosi wanita itu mereda, kemudian menjelaskan semuanya pada istrinya tersebut.

Ya, Jiro merasa tak bersalah karena hal ini, jadi ia pasti bisa menjelaskan semuanya tanpa menimbulkan masalah baru lainnya.

-TBC-

Advertisements

Sleeping with my Friend – Bab 12

Comments 2 Standard

 

Bab 12  

 

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie mengenakan gaun pengantin sederhana milik ibunya yang sudah ia modifikasi hingga tak terlihat kuno. Jessie senang mengenakan gaun tersebut, bahkan  ini merupakan cita-citanya, bahwa ia akan mengenakan gaun pengantin ibunya ketika menikah dengan Henry nanti. Nyatanya, mempelai prianya bukan Henry, melainkan Steven Morgan, temannya sendiri.

Jessie menghela napas panjang. Ia merasa gugup dan sedikit gemetar. Keraguannya kembali muncul, ia tidak menyangka jika akan berakhir seperti sekarang ini. Berada di kamar Steve dengan penata rias yang membantunya tampil cantik karena pernikahannya yang akan segera dilaksanakan di lumbung keluarga Morgan yang sudah disulap menjadi tempat pemberkatan yang begitu indah.

Ketika Jessie sangat gugup, sebuah suara ceria mampu mengalihkan perhatiannya. Emily Morgan datang dengan senyum cerianya.

“Kau benar-benar sangat cantik.” Komentarnya sembari menghambur ke arah Jessie.

“Maaf, kau bisa merusak rambutnya.” Si penata rambut berkomentar, dan Emily segera menjauhkan diri dari Jessie.

“Oh maaf. Aku hanya sangat mengaguminya. Astaga, Steve pasti akan terpana denganmu.” Komentar Emily.

“Kau bisa saja.” Jessie merona dengan pujian Emily. Dulu, ia tak pernah malu-malu seperti ini dengan adik Steve itu. Tapi kini, semua seakan berubah. Ada rasa canggung yang sulit dijelaskan, dan hal itu membuat Jessie kurang nyaman.

“Aku ke sini karena ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie penasaran.

Baby Girl.” Itu Frank. Kakaknya itu berdiri di ambang pintu. Jessie berdiri dan menatap Frank dengan mata berkaca-kaca.

Frank mendekat, kemudian memeluk erat tubuh adiknya. Si penata rambut akan berkomentar tapi Emily lebih dulu mengajaknya keluar agar Jessie bisa menikmati waktunya dengan Sang Kakak.

“Frank.” Jessie menangis. Entah kenapa ia ingin menangis, mungkin terharu, mungkin sedih karena setelah ini ia akan memiliki keluarga kecilnya sendiri dan satu langkah sedikit jauh dengan Frank dan juga ayahnya.

“Hei. Kenapa menangis?” tanya Frank yang sudah melepaskan pelukannya. Frank bahkan menghapus bulir airmata Jessie yang jatuh menuruni pipinya. “Maskaramu akan luntur. Kau tak ingin membuat para tamu undangan lari ketakutan saat melihat riasanmu berantakan, bukan?”

Jessie tersenyum, dia bahkan meninju pelan dada kakaknya.

“Kau sangat cantik, Jess. Mom pasti akan sangat senang menyaksikan pernikahanmu dari sana.”

“Bagaimana dengan George?” tanyanya kemudian.

Well. Seperti biasa, pria tua itu bersikap sok kuat. Padahal semalam saat minum denganku, dia gelisah dan mengkhawatirkanmu.”

“Jangan mengajaknya minum lagi, Frank.”

“Ya. Karena setelah ini, aku memiliki teman minum baru di keluarga kita.” Ucap Frank dengan semangat. Jessie hanya menundukkan kepalanya. Frank lalu mengangkup kedua pipi Jessie dan bertanya. “Kenapa? Kau tampak tak bahagia.” Frank menatap Jessie penuh selidik.

“Aku bahagia, Frank. Kau tahu sendiri bukan, Steve adalah cinta pertamaku. Aku tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Kami akan menikah, astaga, aku masih tidak menyangka akan seperti ini.”

“Ada yang kau takutkan, Baby girl?”

“Banyak.” Desah Jessie.

“Katakan, karena jika kau menyimpannya sendiri, kau tak akan berhenti gelisah.”

“Aku takut jika semua akan gagal.”

“Kenapa kau berpikir sampai ke sana?”

“Frank. Tak ada cinta diantara kami.”

“Kau baru saja mengatakan bahwa dia cinta pertamamu.”

“Ya ampun, Frank. Itu sudah Lima belas tahun yang lalu. Aku sudah jatuh cinta dengan pria lain setelahnya. Bahkan mungkin sekarang aku masih mencintai Henry.” Jessie menghela napas panjang. “Maksudku, aku takut, kalau aku kembali menyukainya, terbawa perasaan, padahal hubungan kami tak lebih dari partner untuk membesarkan bayi kami.”

“Steve bukan orang seperti itu, Jess. Aku mengenalnya. Dan kupikir, dia juga menyukaimu.”

“Tolong, Frank! Jangan membuatku berharap dengan hal yang tak mungkin. Kau tahu sendiri bukan, bahwa tipe perempuan kesukaannya adalah….”

“Perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumbah dari branya? Ayolah, itu hanya pemikiranmu saja, Jess. Otak Steve tidak mungkin hanya dipenuhi dengan payudara wanita.”

Meski Frank mengatakannya dengan mimik serius, tapi tetap saja, Jessie tersenyum ketika mendengar kalimat vulgar dari kakaknya tersebut. Pada saat bersamaan, pintu kamar tersebut dibuka, menampilkan sosok Emily dengan George Summer.

“Maaf mengganggu. Tapi acara akan segera dimulai.”

Frank kembali menatap ke arah Jessie, kemudian ia berbisik. “Kau bisa melewati semuanya, Jess. Aku yakin kau bisa. Kau adalah wanita terhebat yang ada di dunia ini. jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mencariku.”

Jessie tersenyum dan mengangguk. Ia sangat bahagia memiliki kakak seperti Frank. Meski kadang Frank menyebalkan, tapi ia tahu bahwa Frank adalah sosok kakak yang sangat sempurna.

George masuk. Berjalan menuju ke arah Jessie. Jessie sendiri segera menghadap ayahnya tersebut. Jemari George terulur mengusap lembut pipi Jessie.

“Kau sangat mirip dengan Marina.” Marina Summer adalah nama ibu Jessie.

Jessie tersenyum. “Apa Steve tampak tampan sepertimu?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja aku lebih tampan.” Jawab George kemudian. “Tapi aku yakin, dia akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik dariku.” Lanjutnya dengan sungguh-sungguh.

“Oh, Dad.” Jessie tak kuasa untuk tidak memeluk ayahnya. Rasa haru menyelimutinya. Ia sangat bersyukur memiliki keluarga seperti ayahnya dan juga kakaknya.

“Kau tahu kemana harus pergi jika ada masalah. Tapi aku selalu berharap jika kau bisa menyelesaikan semua masalahmu secara dewasa.”

Jessie hanya mengangguk. Rasa haru benar-benar membuatnya ingin menangis.

“Baiklah.” George melepaskan pelukan Jessie. “Kau sudah siap?”

Lagi-lagi, Jessie hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Ayo, aku akan mengantarmu pada Steve.” Setelah itu, Jessie mengapit lengan ayahnya, berjalan keluar dari kamar dan menuju ke arah tempat pemberkatan, tempat dimana Steve dan kehidupan baru menunggunya.

***

Malam semakin larut. Pesta semakin ramai. Setelah melakukan pemberkatan di area lumbung yang disulap menjadi tempat yang begitu indah, halaman rumah Steve juga sudah disulap menjadi area pesta dansa yang indah.

Bunga-bunga ditata sedemikian rupa, lilin-lilin berpadu dengan lampu-lampu kecil, membuat suasana terasa begitu romantis. Belum lagi alunan lagu lembut yang mengiringi pesta dansa membuat siapa saja larut kedalam suasana romantis.

Tak terkecuali kedua mempelai yang kini tengah asyik berdansa bersama. Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, sedangkan Steve sendiri memeluk pinggang wanita yang kini sudah berstatus sebagai istrinya.

Keduanya berdansa dengan mata yang saling menatap satu sama lain. Ada sebuah kecanggungan, tapi keduanya bersikap senormal mungkin. Seperti mereka memang sering melakukan hal seperti ini.

Dengan sedikit nakal, jemari Steve merayap ke atas, menelusuri sepanjang resleting gaun Jessie yang menempel di tulang belakangnya. Hal itu membuat Jessie menatap Steve dengan penuh tanya.

“Istriku.” Ucap Steve dengan pelan, nadanya menggoda, terdengar nakal tapi sedikit jahil. Entah apa maksud Steve mengucapkan kata tersebut dengan nada yang sseperti itu.

“Apa?” akhirnya Jessie mengangkat wajahnya dengan berani.

“Kau. Istriku.” Ucap Steve lagi dengan senyuman mengembang di wajahnya. Keduanya bahkan masih asyuk berdansa meski ketegangan seksual kembali terpantik begitu saja karena godaan dari Steve.

Well. Seluruh warga Pennington sudah tahu hal itu.”

“Aku tidak menegaskan pada mereka. Aku menegaskannya padamu.”

“Dan untuk apa kau menegaskan hal itu padaku?”

“Karena aku ingin kau ingat bahwa malam ini adalah malam pengantin kita.”

Jessie tergelak karena ucapan Steve. “Oh yang benar saja. Kau akan membahas tentang seks saat ini?”

“Tidak. Kita tak akan melakukan seks. Tapi kita akan bercinta.”

“Hemmm. Aku jadi penasaran. Apa perbedaan antara seks dan bercinta versi tuan Steven Morgan.” Sindir Jessie.

Steve tersenyum penuh arti. “Kau akan tahu. Mrs. Morgan.” Jessie sempat berdebar-debar tak jelas setelah Steve memanggilnya dengan panggilan Mrs. Morgan. Astaga, ia sudah menjadi seorang nyonya? Nyonya Morgan? Bahkan dalam mimpi terindahnyapun Jessie tak pernah memimpikan hal ini terjadi. Pernikahannya benar-benar sempurna, meski cinta belum ada diantara mereka, tapi Jessie akan berusaha untuk tidak gagal dan keluar sebagai pemenangnya.

Frank benar, ia harus lebih berani dan lebih positif melihat kedepan hubungannya dengan Steve. Jika ia ingin berhasil, maka ia tidak boleh berpikiran buruk. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan bisa menjalani semuanya dengan baik.

***

Mereka tidak bulan madu!

Steve tak berhenti menggerutu kesal saat itu, ketika mereka ,merundingkan tentang bulan madu dan Jessie memilih untuk tidak pergi kemanapun. Jessie hanya ingin menghabiskan waktunya di kampung halaman mereka sebelum kembali ke New York. Dan kini, saat pesta pernikahan mereka sudah usai, mereka hanya menghabiskan waktu di kamar Steve.

Jessie tampak sedikit canggung dengan status barunya, tapi Steve mencoba menghilangkan kecanggungan diantara mereka dengan cara bersikap sesantai mungkin.

Setelah melepaskan tuksedonya, Steve bahan segera melemparkan diri ke atas ranjangnya, dan hal itu sempat membuat Jessie mengerutrkan keningnya.

“Kau, tidak mandi?” tanyanya. Karena saat ini, Jessie sudah segar karena baru selesai mandi dan kini sedang menatap Steve dari balik cermin meja rias di hadapannya.

“Tidak. Kenapa? Kau keberatan?”

“Astaga, kita akan tidur bersama. Mencobalah untuk lebih bersih dengan mandi terlebih dahulu sebelum tidur.” Gerutu Jessie.

Bukannya tersinggung, Steve malah tertawa lebar. Ia bangkit, bukannya segera menuju ke kamar mandi, tapi malah menuju ke arah Jessie. Dengan begitu kurang ajarnya, Steve malah memeluk tubuh Jessie dari belakang, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup lembut leher jenjangnya.

“Aku ingin dimandikan.” Bisiknya parau dan seketika itu Juga, Jessie menjauhkan diri.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Morgan!”

“Kenapa? Kau istriku sekarang.”

“Tapi aku setuju menjadi istrimu bukan karena alasan ingin memandikanmu. Demi Tuhan! Kau sudah dewasa, apa masuk akal jika kau ingin kumandikan?”

“Ayolah sayang, itu hanya istilah saja. Intinya, aku ingin mandi bersamamu. Berdua, bersama.” Jelasnya.

“Aku sudah mandi.”

“Kita bisa mandi lagi.”

Dan dengan seenaknya sendiri, Steve mengangkat tubuh Jessie dengan paksa. Jessie meronta dalam gendongannya. Tapi Steve tak mempedulikannya. Steve bahkan tertawa bahagia karena membuat wajah Jessie panik seperti saat ini.

“Hei! Lepaskan aku!” Jessie masih meronta. Tapi secepat kilat Steve menyambar bibir ranumnya, membungkamnya hingga Jessie tak mengeluarkan suara lagi. Bahkan, Jessie hanya membeku ketika Steve melakukan hal tersebut.

Setelah Jessie tak lagi melawannya, Steve menghentikan cumbuannya. Pada detik itu, kakinya sudah sampai di dalam kamar mandi. Steve menatap tajam ke arah Jessie, pun dengan Jessie yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

Jessie benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Steve tadi. Sejak kapan Steve jadi tukang cium seperti tadi? Ini bukan pertama kalinya, tentu saja Jessie masih mengingat saat Steve menciumnya di dalam lift dengan posisi yang sama seperti ini. kenapa Steve melakukannya? Bukankah mereka menikah hanya karena bayi yang dikandungnya saja?

“Kau, terkejut?” Steve membuka suara.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Jessie mencoba mengalihkan perhatiannya dari mata Steve yang begitu memabukkan untuknya.

“Menciummu.” Jawab Steve dengan santai.

“Aku tahu. Tapi kenapa kau melakukannya?”

“Karena aku ingin.” Lagi-lagi Steve menjawabnya dengan nada santai.

“Steve. Aku sedang tidak bercanda.”

“Kau pikir aku sedang bercanda? Ayolah, Sayang jangan membohongi dirimu sendiri, kau juga menginginkanku. Dan akupun sama. Lagi pula, ini malam pengantin kita.”

“Steve jangan, kumohon.” Pinta Jessie. Jessie hanya ingin membatasi apa yang akan dilakukan Steve. Ia belum siap. Baginya ini terlalu terburu-buru.

Astaga, Steve benar, ketegangan seksual memang selalu terpercik diantara mereka setelah malam sialan itu, tapi tetap saja, Jessie merasa ragu melakukannya lagi. Jessie bukanlah orang yang percaya diri jika itu tentang seks. Apalagi mengingat Steve adalah orang yang sangat mahir dalam urusan itu.

Steve menurunkan tubuh Jessie, dengan cepat ia mengurung tubuh Jessie diantara dinding. Lengannya mengurung di sisi kanan dan kiri tubuh Jessie kemudian dia berkata dengan suara parau.

“Aku menginginkanmu.” Ucapnya jujur.

Jessie mengangkat wajahnya seketika menatap tepat pada mata Steve. Mata lelaki itu berkabut, dan Jessie tahu bahwa kini Steve benar-benar sedang menginginkannya. Dengan spontan Steve  membawa telapak tangan Jessie menyentuh bukti gairahnya, menunjukkan bahwa lelaki itu benar-benar bergairah pada sosok Jessie.

“Kumohon, aku benar-benar menginginkanmu.” Steve memohon dan Jessie tahu bahwa ia tidak bisa menolak lelaki itu.

Maka ketika Steve mulai mendekatkan diri, menggapai bibir Jessie, yang dapat Jessie lakukan hanya memejamkan matanya kemudian membalas setiap cumbuan yang diberikan Steve terhadapnya.

Mereka saling mencumbu mesra, lidahnya menari bersama, seakan ikut serta merayakan status baru yang telah mereka sandang.

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 11

Comments 3 Standard

 

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

Bab 11

 

“Kau mendengarku?” tanya Steve ketika ia tidak mendapatkan respon dari Jessie. “Menikahlah denganku. Dan aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, serta ayah yang hebat untuk anak kita. Kumohon. Menikahlah denganku.” Lanjut Steve dengan nada lirih.

“Kita sudah sepakat untuk tidak membahas tentang hal ini, Steve.”

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Jess.”

“Kenapa tidak?” Jessie melepaskan pelukan Steve lalu menatap lelaki itu dengan sungguh-sungguh. “Bukankah selama ini komitmen atau pernikahan tak pernah mampir dalam pikiranmu? Kenapa sekarang Steve?”

“Sebab seluruh warga Pennington akan tahu bahwa kau hamil dan akan memiliki anak. Mereka harus tahu siapa ayahnya, dan itu adalah aku.”

“Kau ingin menikah karena bayi ini?”

“Jess. Aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Meski bayi itu adalah alasan utama, tapi bukan hanya karena itu aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Aku merasa, kau adalah orang yang sangat tepat, yang mengerti semua tentangku, dan tentunya, kita juga cocok dalam urusan ranjang.”

“Jika kau kembali membahas masalah ranjang, maka aku akan menendang bokongmu dari tempat tidurku.”

Steve terkikik geli. Sepertinya sudah sangat lama ia tidak mendengar kemarahan Jessie yang membuatnya semakin ingin menggoda wanita itu.

“Oke. Aku akan serius.” Kali ini Steve menghilangkan tawanya seketika. “Menikahlah denganku. Kumohon. Demi bayi kita, demi hubungan kita, demi keluarga kita.”

“Lalu, apa lagi yang akan terjadi jika kita sudah menikah?” tanya Jessie kemudian.

“Aku juga tidak tahu, Jess. Aku belum menikah sebelumnya.”

“Maksudku, hubungan kita…..”

“Jika yang kau tanyakan adalah hubungan ranjang, maka aku akan menyentuhmu layaknya seorang suami yang menyentuh istrinya. Aku tidak akan membuat peraturan-peraturan sialan atau menerima peraturan-peraturan sialan untuk hidup selibat jika kau mengajukannya. Jika aku menikahimu, maka kau adalah istriku sepenuhnya, di dalam atau diluar kamar.”

“Steve. Hubungan ini tak akan berhasil?”

“Apa yang kau takutkan, Jess?”

Jessie tak tahu. Ia hanya tak mau jika semuanya akan berakhir dengan buruk lalu ia benar-benar kehilangan Steve.

“Kau tahu, aku juga takut. Aku tak pernah berkomitmen sebelumnya. Tapi aku akan berusaha untuk membuat hubungan kita berhasil. Aku akan berusaha, Jess. Dan aku ingin, kau juga berusaha bersamaku.”

“Kau tidak mencintaiku, Steve. Bagaimana mungkin pernikahan….”

“Aku mencintaimu. Aku menyayangimu.” Jawab Steve cepat.

Tentu saja Jessie tahu apa maksud Steve. Dalam hal ini, Steve memang mencintai dan menyayanginya. Tapi sebagai teman, bukan kekasih. Mereka tidak sedang memadu kasih. Tidak ada keromantisan diantara mereka, dan hal itulah yang membuat Jessie sangsi dengan hubungan mereka kedepannya.

“Dengar.” Steve menangkup kedua pipi Jessie. “Kita akan melewati semuanya. Kita bisa melewati semuanya, oke. Semua akan baik-baik saja. Aku akan menyayangimu sebagai istriku, dan sebaliknya, kaupun akan menyayangiku sebagai suami. Sederhana, bukan?”

Ya. Sangat sederhana jika diucapkan. Tapi ketika dilakukan, ada banyak hal yang membuatnya rumit.

Steve kembali memeluk tubuh Jessie. “Aku benar-benar ingin menikahimu, Jess. Pikirkanlah lagi. Tolong.” Ucapnya sesekali mengecup lembut puncak kepala Jessie.

Jessie mengangguk. “Baiklah. Kita akan menikah.” Desahnya yang seketika itu juga membuat Steve menatap Jessie tak percaya. “Kenapa?” tanya Jessie kemudian.

“Kau menjawabnya sekarang? Kau benar-benar menerima lamaranku?”

“Kau ingin aku menolaknya?” Jessie bertanya cepat.

“Tidak! Tentu saja tidak!” Steve juga menjawab dengan cepat dan tegas. “Oh, Jess. Kita benar-benar akan menikah. Aku akan mengabari Mom dan Dad. Mereka pasti akan sangat senang menyiapkan pesta pernikahan kita.”

“Steve.” Jessie memotong kalimat Steve. “Kupikir, lebih baik kita menikah di kantor catatan sipil saja.”

“Apa? Kenapa?” tanya Steve dengan wajah terkejutnya.

“Uum, aku, aku tidak ingin terlalu memberikan banyak harapan pada keluarga kita tentang pernikahan kita.”

“Kau gila. Kita memang harus berharap banyak dengan pernikahan kita.”

“Tapi Steve, jika kita gagal, bukan hanya kita yang hancur, tapi keluarga kita.”

“Jess. Ketika aku sudah memutuskan untuk menikahimu, maka aku akan melakukannya sampai akhir. Aku tak akan membiarkan hubungan kita gagal dan berhenti ditengah jalan. Tidak akan pernah.”

“Steve…”

“Tolong. Jika kita akan menikah, maka pernikahan itu harus diadakan di Pennington. Di tanah kelahiran kita.”

Seperti yang dikatakan Steve, Jessie tak akan mungkin dapat menolak keinginan lelaki itu. Ia terlalu lemah untuk berdebat. Lagi pula, ia hanya perlu menuruti saja apapun yang dikatakan oleh lelaki itu, bukan?

***

Beberapa hari kemudian, Semuanya berjalan dengan baik. Steve sudah mengatakan rencana pernikahan mereka yang disambut dengan suka cita oleh keluarga mereka. Patty bahkan sudah menyiapkan segala sesuatunya tentang pernikahan mereka. Mereka akan menikah di lumbung yang berada di belakang rumah Steve. Sampai saat ini, Steve dan Jessie tak pernah berpikir jika mereka akan menikah di sebuah lumbung.

Kini, Jessie dan Steve memiliki waktu seminggu untuk menyelesaikan urusan mereka di New York sebelum kembali lagi ke Pennington.

Steve membuka pintu sebuah Suv baru yang terparkir di basement. Jessie mengerutkan keningnya, meski begitu, ia masuk saja ke dalam Suv tersebut.

“Milik siapa?” tanya Jessie ketika Steve sudah masuk dan duduk di depan kemudi.

“Milikku.” Jawabnya pendek. Steve bahkan memilih memasangkan sabuk pengaman untuk Jessie daripada harus menatap wanita yang kini sedang melemparkan pandangan penuh tanya padanya. “Ada apa?” akhirnya, Steve tak kuasa menahan pertanyaannya ketika Jessie menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Maksudmu, kau membeli Suv ini?”

“Ya. Kenapa?”

“Tapi, aku mengenalmu, Steve. Kau lebih menyukai super car, mobil sport, dan sejenisnya. Kenapa kau membeli Suv ini?”

“Well, kupikir, aku butuh ruang untuk kereta bayi dan segala perlengkapannya jika aku dan istriku nanti pergi piknik bersama.”

“Kau, kau, membelinya karena aku?” Sungguh, Jessie tak percaya.

Steve hanya melihatnya dan menyunggingkan senyuman khasnya. “Kenapa? Kau keberatan? Kau tidak menyukai modelnya.”

Jessie menggeleng. “Bukan.”

“Lalu?”

Tiba-tiba Jessie memalingkan wajahnya ke luar jendela. Matanya berkaca-kaca seketika. Jessie tak tahu kenapa ia sangat mudah sekali tersentuh secara emosional hingga berkaca-kaca seperti ini. dan ia benar-benar tak suka Steve melihatnya seperti ini.

“Hei, kenapa? Kau menangis? Kau tidak suka naik Suv? Apa Suv ini membuatmu mual?”

“Tidak. Steve.”

“Lalu?” Steve bingung. Sangat malah.

“Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis. Mungkin hormonku saja yang perlu disalahkan.”

“Kau, benar-benar baik-baik saja, bukan? Aku tidak ingin kau tertekan karena hal ini.”

Jessie menatap Steve seketika. “Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku hanya…. Aku hanya…” Jessie tak tahu apa yang ingin ia katakan, bahkan ia sendiri tak mengerti apa yang sedang ia rasakan terhadap lelaki yang duduk di sebelahnya itu.

Dengan spontan, Steve merengkuh Jessie dan memeluk wanita itu. Sesekali Steve mengecupi puncak kepala wanita tersebut.

“Aku tahu, kau pasti kurang nyaman. Tapi kita akan segera melewati semuanya, kita akan baik-baik saja, oke.”

Ya. Itulah yang dirasakan Jessie. Ada sebuah rasa tidak nyaman, tapi juga bercampur dengan rasa haru yang membahagiakan, hingga Jessie sendiri tidak mengerti bagaimana cara ia melukiskan apa yang ia rasakan saat ini. Steve benar, semuanya akan berlalu, dan Jessie harus yakin jika mereka bisa melewati semuanya.

***

Sampai di butiknya, Steve memperlakukan Jessie dengan begitu manis hingga Jessie merasa bahwa kini Steve sedang bersandiwara dihadapan para bawahannya.

Dan benar saja, Miranda sempat mengerutkan keningnya sembari menatapnya penuh tanya ketika Steve bersikap seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

Miranda dan yang lainnya tentu belum tahu tentang rencana pernikahan Jessie dengan Steve. Bahkan Jessie tak berniat untuk memberitahunya. Bagi Jessie, pernikahan mereka hanya karena kehamilannya, dan kemungkinan besar akan berakhir. Jessie hanya ingin, tak banyak orang tahu tentang kegagalannya dalam berumah tangga.

“Ada masalah?” tanya Jessie ketika ia akan masuk ke dalam ruangannya melewati Miranda yang masih menatap kebersamaannya dengan Steve yang tampak berbeda dari biasanya.

“Tidak.” Miranda mencoba mengendalikan diri agar rasa keingin tahuanya tidak terlalu tampak. “Kupikir kau belum masuk kerja hari ini.” karena selama Jessie tidak masuk, butiknya memang tetap buka dan hanya melayani pembelian model yang sudah ada di sana. Dan hal tersebut cukup bisa ditangani oleh Miranda dan pegawainya yang lain.

“Aku harus menyelesaikan urusan-urusan disini, karena minggu depan akan menjadi minggu yang sibuk untukku. Kemungkinan kalian akan mendapatkan cuti.”

“Kenapa? Kau tidak sakit, bukan?” Miranda tampak khawatir.

“Tidak. Aku hanya….”

“Hamil. Kau hamil.” Steve menyahut. Steve hanya tidak ingin jika Jessie menutupi kehamilannya dan menyebut hal itu sebagai masuk angin atau penyakit lainnya.

“Jadi, dia sudah tahu?” Miranda bertanya.

Steve menatap Miranda dengan penuh tanya juga. “Kaupun sudah tahu?” Steve bertanya pada Miranda.

“Mr. Morgan, akulah orang pertama yang tahu, karena aku yang membawanya ke rumah sakit saat dia pingsan sebulan yang lalu dan dokter mengatakan bahwa dia hamil.”

“Kau pingsan?” kali ini Steve menatap Jessie penuh tanya.

“Aku terlalu stress saat itu.”

“Tapi kau tidak mengatakan apapun padaku.”

“Hubungan kita tidak sebaik ini saat itu, Steve. Astaga, bisakah kita berhenti membahas masalah itu?”

“Oke.” Steve mengangkat kedua belah telapak tangannya. “Dan kau, Miranda. Kuharap, kau dan teman-temanmu dapat menghadiri pernikahan kami di Pennington minggu depan.”

“Steve!” Jessie berseru keras.

“Apa lagi?”

“Kalian akan menikah?” miranda bertanya.

“Ya, tentu saja. Dia mengandung anakku, jadi kami akan menikah.” Jawab Steve dengan santai bahkan dia sudah menggandeng Jessie dengan mesra.

“Astaga Steve. Kau benar-benar menyebalkan.” Dan Jessie segera meninggalkan Steve masuk ke dalam ruangannya.

Jessie masih tak habis pikir kenapa Steve mengatakan semua itu pada Miranda. Ia tidak suka. Pertama, karena Miranda dan yang lain tahu bahwa sebelumnya ia bertunangan dengan Henry. Akan sangat tidak msuk akal jika saat ini ia mengandung bayi Steve dan menikah dengan lelaki itu, setidaknya, mungkin itu yang ada di dalam pikiran Miranda dan yang lainnya. Itu pulalah yang menjadi kekhawatiran Jessie jika ingin menceritakan hubungannya dengan Steve. Reaksi mereka, atau mungkin pandangan mereka terhadapnya.

Jessie tentu tak ingin dilihat sebagai perempuan murahan yang gampang tidur dengan banyak pria karena ia tdak seperti itu.

Yang kedua adalah, karena Jessie berpikir bahwa pernikahannya dengan Steve tak akan berlangsung lama. Semakin sedikit orang yang tahu maka semakin baik.

Dengan kesal Jessie menuju ke arah kursi kerjanya dan ia menyadari bahwa Steve mengikutinya sampai ke dalam.

Jessie berbalik dan seger menyembur lelaki itu dengan pertanyaannya. “Apa yang kau pikirkan dengan mengatakan semua itu pada mereka, Steve?”

“Apa? Apa aku salah mengundang mereka di hari kebahagiaan kita?”

“Jangan membohongi dirimu sendiri. pernikahan itu bukan seperti yang kita inginkan.”

Steve mendekat. “Mungkin kau tidak menginginkannya, tapi aku ingin.” Steve menjawab penuh penekanan.

“Aku hanya…. Aku hanya tidak ingin mereka melihat kegagalan kita.” Desah Jessie kemudian.

“Kegagalan?” Steve menatap Jessie penuh tanya. “Apa maksudmu?”

“Kita menikah demi bayi ini. Jadi kupikir, setelah bayi ini lahir, kita akan….”

“Jess, dengar.” Steve memotong kalimat Jessie. “Jika aku memutuskan untuk menikah, maka aku akan melakukannya sampai akhir. Tidak akan ada perpisahan diantara kita. Kau mengerti?”

“Tapi…”

Steve segera meraih tubuh Jessie, memeluk wanita itu dengan lembut. “Aku tahu, hormonmu sedang kacau, pikiranmu sedang labil. Seharusnya aku lebih mengerti hal itu. Aku membuatmu semakin tidak nyaman. Tapi kau harus tahu satu hal, Jess. Bahwa aku bersungguh-sungguh dengan pernikahan ini. Jangan pernah berpikir bahwa ini hanya permainanku yang akan selesai saat aku sudah bosan. Kita tidak akan pernah selesai, Jess. Dan aku tak akan pernah bosan jika itu tentangmu.” Steve berkata dengan sungguh-sungguh.

Bohong, jika Jessie mengabaikan semua pernyataan lelaki itu. Steve tak pernah seserius ini sebelumnya, dan entah kenapa hal tersebut membuat Jessie semakin tidak nyaman dengan sikap lelaki itu yang banyak berubah terhadapnya.

***

“Jadi, kau benar-benar akan menikah dengannya?” tanya Miranda yang saat ini sudah menyuguhkan teh herbal di meja Jessie.

“Menurutmu bagaimana?” Jessie bertanya balik.

“Kau meminta pendapatku?” tanya Mirada tak percaya.

Sedangkan Jessie hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus bercerita pada siapa, ia tidak ingin lagi menceritakan masalahnya kepada si berengsek Frank. Kakaknya itu tentu akan mendukung Steve. Atau paling tidak, kakaknya itu pasti akan mengolokinya habis-habisan.

Well, itu luar biasa. Demi Tuhan! Steven Morgan itu salah satu bujangan yang paling diinginkan di New York. Dia tampan, mapan, memiliki koneksi banyak dari kalangan atas, dan dia seksi. Kau bodoh jika menolaknya.”

“Seksi?” tanya Jessie tak percaya bahwa Miranda menggunakan kata itu untuk menggambarkan tubuh Steve.

“Ayolah, jangan menutup mata atau membohongi dirimu sendiri. Mr. Morgan itu seksi, sangat seksi malah. Kau mengandung anaknya, kau tentu tahu bagaimana…”

“Cukup.” Jessie memotong kalimat Miranda. “Jika kau ingin membahas hubungan ranjang kami, maka itu tak akan berhasil.”

Miranda tertawa lebar. Jessie memang orang yang cukup tertutup dengan hubungan asmaranya. “Baiklah. Tapi aku hanya mengatakan dari sudut pandangku. Mungkin, kau akan merasa tidak nyaman karena reputasinya selama ini. Tapi kau lebih mengenalnya, dan kupikir dia orang baik. Kau akan baik-baik saja jika bersamanya.”

“Masalahnya, aku tak yakin dengan pernikahan ini, Miranda. Aku selalu merasa tak nyaman jika memikirkannya.”

“Kau tahu, Jess. Menikah bukan hanya tentang cinta. Ada juga orang menikah hanya karena gairah, ada lagi yang menikah karena tanggung jawab, ada juga yang menikah karena sebuah pengorbanan. Banyak alasan bagi seseorang untuk menjalani sebuah pernikahan. Dan tidak semua alasan tersebut berakhir mengenaskan dengan kata perpisahan.”

“Kau berbicara seolah-olah kau ahli dalam bidang ini.”

Lagi-lagi, Miranda tertawa lebar. “Aku memiliki teman seorang penulis fiksi, jadi aku cukup tahu pengalaman itu ketika membaca buku-bukunya.”

“Jadi, apa yang kau katakan padaku tadi sesuai dengan buku fiksi? Astaga, perlu kau tahu, bahwa pernikahan di dalam novel dengan pernikahan sungguhan itu sangat berbeda! Bahkan aku berani jamin jika adegan ranjangnya juga sangat berbeda.”

Miranda benar-benar tergelak tawanya. “Kau mengatakan itu seolah-olah kau ahli dalam bidang seks.”

“Oh Miranda, aku hamil, ingat. Jadi aku sudah melakukannya.”

“Berapa kali?” pancing Miranda.

“Meski itu hanya satu malam, tapi kami bercinta berkali-kali secara gila-gilaan.” Jawab Jessie dengan spontan. Tapi setelah itu ia membungkam bibirnya sendiri. “Astaga, apa yang sudah kukatakan padamu?”

Sungguh, Jessie tak mampu menahan rasa malunya. Ia tak percaya jika dirinya mengatakan hal tersebut pada Miranda. Sedangkan Miranda, wanita itu tak berhenti tertawa lebar menertawakan Jessie yang tak berhenti merona karena malu.

“Sudah-sudah. Lebih baik kau keluar. Kau membuatku malu setengah mati.” Jessie berkata pada Miranda.

Masih dengan tertawa, Miranda akhirnya bangkit. “Baiklah. Tapi Jess, perlu kau tahu, bahwa aku mendukungmu. Mr. Morgan tampaknya adalah orang yang baik. Dia perhatian denganmu, jadi kupikir, menikah dengannya bukan suatu kesalahan.” Ucap Miranda sambil berlalu.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Terlepas dari sikap Steve yang menyebalkan dan kekanakan, apa yang dikatakan Miranda memang benar. Steve orang yang sangat perhatian terhadapnya. Dan ia cukup mengenal lelaki itu. Mungkin tak ada salahnya untuk mencoba dan menganggap semuanya normal seperti pernikahan pada umumnya. Akhirnya Jessie bangkit dan memanggil Miranda kembali ketika wanita itu sampai di pintu ruang kerjanya.

“Miranda. Kau akan datang?”

“Ya?”

“Uuumm, itu pernikahanku di Pennington minggu depan.”

Miranda tersenyum. “Kau mengundangku?”

“Ya, tentu saja. Kau mau datang? Ajaklah pegawai lainnya. Kau juga boleh mengajak pasanganmu.” Ucap Jessie dengan antusias.

“Oh Jess. Terimakasih. Aku akan mengajak yang lainnya. Untuk pasangan, sepertinya tidak. Tapi, bolehkah aku mengajak temanku si penulis yang tadi baru saja kuceritakan padamu.”

“Ahhh ya, kau boleh mengajaknya.”

“Bagus. Carla pasti senang ikut denganku.”

Jessie tersenyum. “Aku akan senang mengenalnya.” Keduanya saling tersenyum, kemudian Miranda keluar dari ruang kerjanya. Jessie menghela napas panjang. Berbicara dengan Miranda membuat Jessie membulatkan tekadnya, bahwa menikah dengan Steve sepertinya tidak salah. Ia hanya perlu bersikap senormal mungkin, menyikapi semuanya dengan normal dan tidak berlebihan. Tapi bisakah ia melakukananya?

My Beautiful Mistress – Bab 5

Comment 1 Standard

Aku updateee… yeaaayyy… happy readingg… muwaaahhhh

 

Bab 5

 

Pagi telah tiba. Ellie terbangun dan segera mencari lengan yang semalaman memeluknya. Nyatanya, ia mendapati ranjang sebelahnya kosong. Tak ada Jiro di sana dan hal itu membuat Ellie sedih. Ia terduduk di pinggiran ranjang, kemudian merutuki kebodohannya sendiri. Jiro tak mungkin bisa berubah secepat itu. Mungkin, semalam lelaki itu mengendap-endap pergi meninggalkannya ketika ia tidur.

Akhirnya, Ellie bangkit, dan ia bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat ia sudah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba indra penciumannya menangkap aroma masakan. Apa Mei yang memasak? Dalam hati Ellie yang paling dalam ia berharap bahwa ia akan melihat Jiro di dapur. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Dengan langkah lemah, Ellie keluar dari dalam kamarnya dan menuju ke arah dapur rumahnya. Rupanya, Jiro benar-benar ada di sana.

Ellie melangkah dengan cepat menuju ke arah Jiro. Dan dengan spontan ia memeluk tubuh Jiro dari belakang.

Jiro yang tengah sibuk membuat omlet terkejut ketika tiba-tiba lengan mungil itu memeluk tubuh kekarnya. Jiro bahkan sempat membatu beberapa detik, tubuhnya kaku karena tak menyangka jika akan dipeluk secara tiba-tiba seperti ini.

“Apa yang kamu lakukan?” dengan spontan Jiro menanyakan hal tersebut dengan nada dinginnya. Jika boleh jujur, Jiro benar-benar tak nyaman dengan sikap manja Ellie.

Seketika itu juga Ellie melepaskan pelukannya. Ia tidak berharap reaksi Jiro akan sekeras itu padanya. Astaga, ia hanya memeluknya, seharusnya Jiro tak perlu berkata dengan nada sedingin itu.

Jiro membalikkan tubuhnya seketika. Ia menatap Ellie yang tampak sedih karena ulahnya. “Maaf, aku hanya terlalu terkejut.” Mau tak mau Jiro mengalah.

“Kamu kayak sedang mengantisipasi apa yang sedang kulakukan.”

“Kalau boleh jujur, aku memang merasa tidak nyaman dengan semua ini.”

“Kalau begitu, kamu boleh pergi dan mencari kenyamanan sialanmu.” Ucap Ellie dengan ketus sebelum dia membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi meninggalkan Jiro. Tapi baru beberapa langkah, Jiro tiba-tiba menyusulnya. Lebih mengejutkan lagi, lelaki itu memeluknya dari belakang.

Kali ini, giliran Ellie yang membatu karena ulah suaminya tersebut.

“Maaf, aku sudah minta maaf.”

Entah perasaan Ellie saja atau memang Jiro sejak kemarin sering sekali mengucapkan kata maaf. Kenapa? Apa lelaki itu merasa bersalah padanya? Apa yang membuatnya merasa bersalah padahal selama ini Jiro tak pernah sekalipun menunjukkan sikap tersebut padanya?

“Aku akan menemanimu sepanjang hari, jadi, jangan membuatnya jadi sulit dengan merajuk seperti ini.”

Ellie hampir bersorak saat Jiro mengatakan niatnya untuk menemaninya seharian.

“Jadi, kenapa kamu bisa menemaniku seharian? Memangnya kamu tidak sibuk?”

“Troy menelepon tadi pagi. Katanya hari ini tidak akan ada latihan dan jadwal lain. Aku bebas.”

Ellie tersenyum senang. Ia tahu bahwa Jiro tak akan mungkin bisa melihatnya. Karena lelaki itu sekarang masih sibuk memeluk tubuhnya dari belakang. Wajah lelaki itu bahkan sesekali tersembunyi dibalik rambut kuning keemasa milik Ellie.

“Apa yang bisa memperbaiki kesalahanku?” tanya Jiro kemudian. Ellie memiliki sebuah rencana. Tapi ia sangsi jika Jiro mau menuruti kemauannya.

Akhirnya Ellie melepaskan pelukan Jiro, kemudian membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Jiro.

Ya Tuhan! Lelaki ini benar-benar tinggi, dan tampak gagah. Ellie selalu menyadari hal itu ketika ia berada di hadapan Jiro dalam keadaan tidak mengenakan sepatu hak tinggi. Ellie lebih pantas dilihat sebagai adik lelaki itu, mengingat usia mereka yang memiliki selisih cukup jauh, ditambah lagi postur tubuh mereka yang benar-benar tidak cocok. Jiro dengan tubuh tinggi kekarnya, sedangkan Ellie dengan tubuhnya yang mungil. Bahkan tingginya tak lebih dari sebahu Jiro.

“Sebenarnya ada.” Jawab Ellie masih dengan mengendalian diri penuh. Ia tidak boleh tergoda dengan Jiro. Meski ia menginginkan berhubungan intim lagi dengan Jiro seperti malam itu, nyatanya Ellie memilih menahannya. Ia tahu bahwa Jiro sedang berusaha untuk berubah. Ia ingin Jiro berada di sampingnya karena perhatian dan pengertian padanya, bukan karena lelaki itu sedang ingin memuaskan hasrat seksualnya.

“Apa?” tanya Jiro kemudian. Ia tidak suka basa-basi. Lebih cepat menuruti apa kemauan Ellie maka lebih baik agar ia tidak terlalu terbawa dengan permainan yang seakan sengaja di mainkan oleh Ellie.

“Jadi, maukah kamu mengantarku ke Dokter siang nanti?”

“Apa? Itu tidak mungkin.”

“Kenapa tidak?”

“Karena orang-orang di rumah sakit akan melihatku dan mengenaliku.”

“Aku tidak peduli. Kamu kan bisa menyamar. Pakai rambut palsu atau sejenisnya.”

Jiro bergidik ngeri saat ia membayangkan mengenakan rambut palsu. “Tidak lucu, Ellie. Aku tidak bisa mengantarmu ke sana. Oke?”

Ellie tahu bahwa rencananya akan gagal jika ia memaksa Jiro. Akhirnya, Ellie menggunakan cara lain. Ia hanya menatap Jiro dengan mata sendunya, kemudian membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan lelaki itu.

Jiro sendiri yang menatapnya segera ditumbuhi oleh rasa kasihan. Jiro tahu bahwa memang seharusnya ia yang mengantar Ellie ke dokter. Bagaimanapun juga, ia ingin mengetahui keadaan anaknya yang kini sedang dikandung oleh wanita itu.

Anaknya?

Sembari menggelengkan kepalanya, Jiro berjalan cepat menyusul Ellie. “Oke, aku akan mengantarmu.”

“Biasanya, rumah sakit memiliki privasi. Seharusnya kamu tidak perlu khawatir. Lagi pula, tak mungkin semua orang disana mengenalmu. Kamu hanya seorang Bassis dari band Rock. Menurutku, hanya satu dua orang kesehatan menyukai band rock, itupun belum tentu mereka suka The Batman.” Gerutu Ellie.

Jiro mengangguk. Ellie memang benar. Tapi tetap saja, rasa khawatir itu masih ada. Mengingat mereka juga memiliki beberapa fans fanatik mendekati gila yang menyebut diri mereka The Danger. Jiro hanya tak ingin jika bertemu dengan salah satu fansnya dan membuat keributan di sana.

“Oke, aku akan pakai topi, dan masker. Cukup, bukan?” tanya Jiro dengan nada lembut.

Pakai masker di rumah sakit tentu hal yang wajar. Jadi sepertinya, ia tak perlu menyamar berlebihan. Ellie tersenyum dan mengangguk. Ia senang saat Jiro menuruti kemauannya.

“Sekarang duduklah. Aku membuatkanmu sarapan.”

Jiro membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah kompor yang tadi sempat ia matikan karena gangguan Ellie. Tapi baru beberapa langkah, perkataan Ellie membuat Jiro menghentikan langkahnya dan berdiri membatu memunggungi wanita tersebut.

“Kamu berubah banyak, James.” Ucap Ellie dengan nada lembut. “Dan aku senang.” Lanjutnya.

“Aku hanya berusaha.” Jawab Jiro sebelum melanjutkan langkahnya.

Ya, bagi Jiro, ia belum berubah. Ia masih berusaha untuk berbuat seadil mungkin pada Ellie. Jiro berusaha agar Ellie mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Bagaimanapun juga, ia sudah memperistri Ellie, dan membuat wanita itu menjalani kehidupan baru, jauh dari orang tuanya. Jiro tidak ingin menjadi jahat dengan mengabaikan keberadaan Ellie saat ia menyadari bahwa wanita itu tengah membawa sebagian dari dirinya di dalam rahim wanita tersebut. Jiro akan berusaha berubah, meski nyatanya, ia merasa sulit.

***

Persetan dengan perubahan!

Jika tadi Jiro berpikir bahwa ia ingin selalu menemani Ellie memeriksakan kandungannya dan menjadi suami dan calon ayah yang baik, maka kini saat ia berada di ruang tunggu dokter spesialis kandungan, ia merasa bahwa ini akan menjadi hari terakhir ia memasuki poliklinik sialan ini.

Bagaimana tidak? Meski ia sudah mengenakan masker, dan juga topi, nyatanya, ada saja beberapa orang yang mengenalinya.

Seorang wanita muda berambut pendek yang kini tengah hamil dan menunggu di ruang yang sama dengannya akhirnya mengenalinya. Rupanya, wanita itu baru berusia Dua puluh tahun. Tentu saja wanita itu mengenalnya mengingat dirinya populer dikalangan anak muda.

Yang membuat Jiro kesal adalah, dengan cerewetnya wanita itu berkata bahwa ia adalah fans Jiro dan The Batman. Hal itu membuat pasien lain yang juga menunggu di sana penasaran. Akhirnya mau tak mau Jiro membuka topi dan maskernya. Dan kini, Jiro berakhir dengan duduk diantara wanita-wanita berperut sebesar semangka yang mengerubunginya dan memintanya untuk mengelus perut mereka secara bergantian.

Walau tak semua ibu hamil di sana mengenalnya, tapi mereka tetap ingin perutnya dielus oleh Jiro dan berharap bahwa anak mereka nanti jika laki-laki akan setampan Jiro.

Wajah Jiro yang khas seperti orang bule, serta mata abu-abu terang lelaki itu membuat siapa saja terpesona pada detik pertama saat melihatnya. Sangat wajar jika mereka menginginkan anak mereka mirip dengan Jiro dan meminta Jiro mengelus perut mereka.

Sedangkan Ellie, ia memilih duduk menjauh, melihat Jiro dari jauh dan tersenyum sendiri saat melihatnya. Padahal, Ellie tahu bahwa tak mungkin semua ibu-ibu hamil di sana mengenal Jiro yang artinya taak semua ibu hamil di sana adalah fans Jiro. Jiro mampu menarik banyak wanita untuk terpesona padanya, padahal wanita-wanita itu belum tahu jika Jiro adalah artis terkenal.  Bagaiama jika mereka ke suatu tempat dan bertemu sekumpulan fans Jiro? Mungkin, Ellie akan benar-benar diabaikan.

Ellie menundukkan kepalanya menatap perutnya sendiri yang belum kelihatan karena tersembunyi di dalam coat yang ia kenakan. Kemudian ia mengusapnya lembut. Ini adalah resiko menikah dengan seorang James Drew Robberth. Lelaki tampan dan terkenal yang mempesona bagi kebanyakan wanita di luar sana.

Pada saat itu, Ellie mendengar namanya dipanggil. Ia segera bangkit dan masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada seorang suster menunggunya di ambang pintu. Ellie bahkan tak menghiraukan Jiro yang masih asyik dengan beberapa wanita hamil di sekitarnya.

Saat Ellie sudah duduk di hadapan seorang dokter dengan papan bernama Dr. Sandra Spog, saat itulah ia melihat Jiro ikut duduk di bangku sebelahnya.

“Kamu masuk?” tanya Ellie kemudian.

“Bukannya kamu memintaku untuk mengantarmu? Maka aku akan masuk.”

“Kupikir kamu lebih asyik dengan para wanita di luar.”

“Yang benar saja. Aku bahkan berpikir untuk tidak mengantarmu lagi karena keberisikan mereka.” Gerutu Jiro. Jiro lalu menatap ke arah Sang Dokter yang tampak tersenyum melihat tingkah mereka. “Jadi, apa selanjutnya?” tanyanya.

“Sepertinya, Nyonya Ellie tidak mengatakan kalau suaminya adalah seorang artis.” Ucap Dokter Sandra kemudian. “Tuan James?” tanya Sang Dokter pada Jiro.

“Jiro, panggil saja begitu.” Entah kenapa, sekarang Jiro seperti Troy, yang tak suka jika ada yang memanggil nama aslinya. Jiro merasa, hanya Ellie yang pantas memanggilnya dengan panggilan James. Dan Jiro tak tahu, kenapa ia berpikiran seperti itu.

“Baiklah, Tuan Jiro. Jadi, Anda sudah tahu bukan tentang keadaan istri Anda?”

Jiro mengangkat kedua bahunya. “Sejujurnya, dia baru memberitahu saya kemarin. Apa ada masalah?”

Dokter Sandra tersenyum sembari membuka buku kesehatan ibu dan anak milik Ellie. Ini memang bukan yang pertama kalinya Ellie memeriksakan diri ke tempat Dokter Sandra, jadi Dokter Sandra cukup tahu bagaimana kondisi Ellie saat ini.

“Delapan belas minggu, dan Anda baru tahu? Wowww, suami yang perhatian.” Sindir Dokter Sandra. Sedangkan Ellie hanya bisa menunduk dan tersenyum dengan sindiran tersebut.

Jiro segera menatap ke arah Ellie. Astaga, jika benar usia kandungan Ellie sudah Delapan belas minggu maka artinya sudah lebih dari Empat bulan. Lalu kenapa Ellie baru memberitahunya kemarin?

“Saya sangat sibuk.” Desis Jiro masih menatap ke arah Ellie. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak begitu saja saat melihat istrinya itu menundukkan kepalanya. Dengan spontan ia mendaratkan telapak tangannya mengusap rambut Ellie. “tapi setelah ini, saya akan melakukan yang terbaik.” Lanjutnya.

Ellie sempat tertegun dengan apa yang dikatakan Jiro. Bahkan, sikap manis lelaki itu benar-benar membuatnya tersentuh. Ellie merasa jatuh cinta sekali lagi dengan suaminya tersebut. Apa Jiro melakukan ini dengan tulus? Atau lelaki itu hanya melakukannya karena Dokter Sandra mengenal bahwa dia seorang artis yang artinya Jiro harus menjaga image di hadapan dokter Sandra? Entahlah. Ellie sendiri tak tahu yang mana yang menjadi alasan Jiro bersikap manis seperti ini padanya.

“Baiklah. Saya mengerti. Kalau begitu, kita lihat, apa yang terjadi dengan si kecil.” Ucap Dokter Sandra sembari bangkit dan menuju ke sebuah ruangan yang diyakini Ellie adalah ruang USG.

Dalam beberapa menit kemudian, Ellie sudah terbaring di sebuah ranjang dengan baju yang sudah di naikkan ke atas memperlihatkan perut telanjangnya. Ellie sedikit gugup dan canggung. Mereka hanya berdua di dalam ruangan itu, karena Dokter Sandra sedang sibuk menyiapkan sesuatu di luar ruangan USG tersebut. Jiro sendiri setia duduk di sebelahnya. Mata lelaki itu bahkan tak berhenti menatap ke arah perutnya. Apa yang sedang dipikirkan Jiro saat ini? dan Astaga, kenapa juga dokter Sandra belum memulai pemeriksaannya?

Sedangkan Jiro, ia merasakan sebuah perasaan aneh. Matanya seakan tak ingin berpaling dari perut Ellie yang berwarna putih pucat itu. Sial! Disana ada anaknya, anak yang nanti akan memanggilnya papa. Jiro tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. perasaannya campur aduk, dia merasa senang, bangga, dan juga…. Takut. Jiro merasa belum siap, tapi disisi lain, ia merasa begitu antusias ketika membayangkan bahwa ia akan memiliki seorang bayi bersama dengan Ellie.

“Ada apa?” pertanyaan Ellie mau tak mau membuat Jiro mengangkat wajahnya menatap ke arah wanita tersebut.

Jiro hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu aneh, James. Kenapa? Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Ellie lagi.

“Aku, aku… masih tak menyangka bahwa ini terjadi.”

“Apanya?”

“Menjadi suami dan calon ayah. Jujur saja, aku tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.”

“Kamu menyesal?” tanya Ellie kemudian, karena raut wajah Jiro sama sekali tak menunjukkan rasa senang.

Jiro menggelengkan kepalanya. “Aku hanya…… takut.” Ya, sepertinya, kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Jiro. Jiro memang senang, tapi ia takut, bahwa ia tak akan menjadi suami dan ayah yang baik kedepannya. Ia masih memiliki ambisi yang besar, dia Jiro benar-benar takut jika akan menghancurkan semuanya.

Tanpa diduga, jemari mungil Ellie mencari jemari Jiro, menggenggamnya dengan erat, kemudian ia berkata. “Perlu kamu tahu bahwa aku juga takut. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami masa kehamilan. Aku takut, dan aku merasa sendiri.” kemudian dengan spontan Ellie membawa jemari Jiro peda perutnya. “Aku butuh kamu, bayi kita juga butuh kamu. Maukah kamu menemaniku menghadapi ketakutan kita bersama-sama?”

Jiro menatap Ellie dengan intens, secara spontan Jiro mengangguk. Ya, ia mau melewati semuanya dengan Ellie, ia mau mengadapi ketakutannya bersama istrinya tersebut. Tapi dapatkah ia melakukannya? Sanggupkah ia menghadapinya?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 4

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 4

 

Ellie terkikik geli ketika Mei selesai menutup teleponnya. “Jadi, bagaimana?” tanyanya pada Mei. Sedangkan Mei pun ikut terkikik geli karena apa yang baru saja ia katakan pada Jiro.

“Jiro terdengar khawatir, dan dia akan datang.”

“Benarkah? Astaga, aku tidak menyangka.”

“Ya, sebenarnya dia perhatian padamu, Ellie. Dan karena kehamilanmu, dia semakin perhatian.”

Ellie senang dengan kenyataan itu. “Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Ellie kemudian. Karena jujur saja, ini adalah pertama kalinya untuk Ellie bersikap seperti ini. Menjadi wanita pembangkang, dan keras kepala. Ternyata, cukup menyenangkan juga.

“Aku tahu, Jiro tak akan bisa menolakmu.”

“Maksudmu?”

“Astaga, Ellie. Apa kamu nggak sadar? Selama ini, dia sangat perhatian padamu. Meski kadang sikapnya datar-datar saja dan cukup menyebalkan. Dia sering menghubungiku hanya untuk menanyakan bagaimana keadaanmu.”

“Tapi itu tak cukup, Mei. Dia menyembunyikanku. Seakan dia tidak ingin semua orang tahu bahwa dia adalah milikku.”

“Nah. Sekarang, tiba saatnya kamu perjuangkan apa yang kamu inginkan. Bukankah kamu sudah memiliki senjata ampuh untuk melawannya?” ucap Mei sembari melirik sekilas ke arah perut Ellie. Dan Ellie hanya bisa tersenyum senang.

***

Jiro benar-benar datang. Lelaki itu mengetuk pintu kamar Ellie berkali-kali, sedangkan di dalam, Ellie tersenyum penuh dengan kemenangan karena untuk pertama kalinya Jiro memperhatikannya hingga seperti saat ini.

“Tolong, buka pintunya. Atau aku akan mendobraknya.”

Tak ingin pintu kamarnya didobrak, akhirnya Ellie bangkit kemudian memasang wajah datar seakan enggan untuk bertemu dengan lelaki di hadapannya tersebut.

“Ada apa? Kenapa kamu ke sini lagi?”

“Kenapa? Ini rumahku.” Ucap Jiro dengan setengah menggeram.

“Ya, tapi bukankah setelah mendapatkan apa yang kamu mau, kamu sudah harus pergi dari sini?” Ellie sempat melirik Mei yang berdiri jauh dibelakang Jiro dan sedang menahan tawanya.

Jiro lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Mei dengan tatapan tajamnya. “Kamu boleh pulang. Biar aku yang menjaganya.” Ucap Jiro kemudian.

“Hei. Apa-apaan. Aku ingin Mei membuatkanku Pancake. Kenapa kamu mengusirnya?”

“Pancake? Ini sudah malam. Kamu harus makan nasi, bukan Pancake.”

“Tapi aku mau Pancake!” Ellie berseru keras dan tak ingin mengalah.

“Boleh aku tengahi sebentar?” Mei mendekat ke arah keduanya. “Ellie, Jam kerjaku sudah habis sejak dua jam yang lalu. Dan aku harus segera pulang. Oke? Dan kamu.” Mei menatap ke arah Jiro. “Apa kamu nggak bisa lebih mengalah sedikit? Di dalam lemari ada tepung Pancake, kamu cukup membuatkan sesuai aturan pakai.”

“Aku?” Jiro benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan Mei. Berani-beraninya wanita itu memerintahnya seperti yang dilakukan Ellie padanya. Bicara tentang Mei, Mei dan keluarganya memang sudah bekerja cukup lama dengan keluarga Jiro, jadi kadang wanita itu suka seenaknya sendiri. tapi tetap saja, tak ada orang yang dapat Jiro percaya kecuali Mei dan keluarga wanita tersebut.

“Ya, kamu. Dia lagi hamil. Bisa jadi dia sedang ngidam.”

Jiro menatap perut Ellie seketika. Sial! Berani-beraninya wanita ini. pikirnya, tapi meski kesal, Jiro berkata “Baiklah, aku yang akan membuatkanmu.”

Ellie hampir saja bersorak gembira. Bukan karena Pancakenya, sungguh, tapi karena Jiro yang seakan kembali mengalah padanya. Ellie senang, karena Jiro tampak menurunkan harga dirinya untuk menuruti apapun kemauannya.

***

Jiro tak berhenti menatap Ellie saat wanita itu memakan pancake buatannya dengan lahap. Astaga, apa yang sudah dilakukan wanita ini? bagaimana mungkin wanita ini mampu memaksanya memasak beberapa potong pancake?

Sialan! Ia adalah seorang rocker, dan ia memasak pancake? God! Jiro merasa bahwa dirinya benar-benar sudah gila!

Sesekali, Jiro melirik ke arah jam tangannya, dan tiba-tiba, Ellie berkata “Kamu mau pergi? Pergi saja.” Ucapnya yang seketika membuat Jiro tak mengerti, sebenarnya apa rencana wanita ini?

“Aku nggak akan kemana-mana. Aku akan tidur di sini.”

“Ohh.” Hanya itu jawaban Ellie.

“Ellie, kita harus bicara, oke?”

“Tentang apa? Tentang kamu yang belum siap dengan kehamilan ini? Astaga James, berapa kali harus kubilang, bahwa aku tak peduli.”

Jiro menghela napas panjang. Ia tidak suka dengan reaksi Ellie yang tidak mempedulikannya. “Aku menginginkan bayi itu.”

Ellie mengangkat wajahnya seketika. “Maksudmu, kamu, kamu setuju dengan kehamilanku?” tanya Ellie tak percaya.

Jiro menatap Ellie dengan sungguh-sungguh, kemudian ia menganggukkan kepalanya. Jiro tahu bahwa dirinya sudah berumur. Ia sudah menikah, dan kini istrinya tengah mengandung. Jadi, apa lagi yang membuat dirinya ragu untuk memiliki anak?

“Tapi kita harus membuat peraturan, Ellie.”

“Peraturan apa lagi?” Sungguh, jika yang dimaksud Jiro adalah peraturan-peraturan menyebalkan seperti sebelum-sebelumnya, maka lebih baik Ellie tak perlu mengikut sertakan Jiro di masa kehamilannya.

“Kamu menginginkan sebuah pengakuan, kan? Tapi aku tidak bisa melakukannya. Kamu tahu sendiri kalau karirku..”

“Ya, Ya, aku tahu.” Ellie memotong kalimat Jiro sembari mengibaskan telapak tangannya seakantak ingin tahu tentang karir sialan suaminya itu. “Lalu?”

“Sebagai gantinya, aku akan menemanimu dimasa kehamilan ini.”

“Kamu tidak takut kalau ada media yang menguntitmu?”

“Jika kita berhati-hati, mereka tak akan mengetahuinya.”

“Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu?”

“Ellie. Yang ingin kubahas denganmu adalah tentang kehamilanmu.” Jiro tak suka jika Ellie membahas tentang masalah mereka dulu. Ia ingin membahas tentang masalah peraturan hubungan mereka.

“Jadi kamu melakukan ini karena aku hamil? Dan jika aku tidak hamil, maka kamu tetap tak akan mempedulikanku seperti yang kamu lakukan dulu?”

“Begini.” Jiro berusaha bersikap tenang agar ia tidak terpancing oleh Ellie yang tampak emosi. “Aku tahu bahwa aku salah di masa lampau, dan aku ingin memperbaikinya. Dan kehamilan ini membuatku semakin yakin jika aku harus memperbaiki semuanya. Karena itu, aku ingin memberikan sebuah kesepakatan denganmu.”

“Kesepakatan? Seperti apa?”

“Saat ini, The Batman sedang ada di puncak popularitas. Aku tidak bisa menuruti kemauanmu untuk mempublikasikan hubungan kita. Bagaimanapun juga, itu akan menjadi skandal yang akan ramai diperbincangkan.”

“Lalu?”

“Sebagai gantinya, aku akan sering pulang.”

“Hanya itu?”

“Aku akan sering-sering tidur di sini.”

“Dan?”

“Astaga Ellie, aku tidak tahu lagi apa yang harus kutawarkan denganmu karena jujur saja aku tidak bisa menjanjikan apapun.” Akhirnya Jiro tak mampu menahan luapan emosinya. Ia sendiri tak mengerti kenapa Ellie begitu menuntut saat ini.

Ellie berdiri seketika. “Asal kamu tahu, James. Kamu tidak perlu bersikap sok perhatian padaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Jiro ikut berdiri. “Kumohon, jangan membuat ini lebih sulit lagi, Ellie. Aku sudah berusaha untuk bersikap lebih baik. Aku membuat jalan tengah dengan berkompromi denganmu. Ini untuk kebaikan kita bersama.”

“Kompromi katamu? Inikah yang disebut dengan kompromi?”

Jiro menghela napas panjang. “Lalu apa yang kamu inginkan? Jika yang kamu inginkan sebuah pengakuan, maka maaf, aku belum bisa melakukannya.”

Ellie merasa kalah. Jiro sangat keras kepala, lelaki itu terlalu berambisi dengan karirnya. Dan jika Ellie memaksakan kehendaknya, lelaki itu pasti tetap memilih di jalannya seperti sebelumnya. Kini, Ellie harus berganti strategi, mungkin dengan bersikap manja dengan Jiro akan membuat lelaki itu tersentuh sedikit demi sedikit. Lagi pula, bukankah ia sedang hamil? Ia bisa menggunakan kehamilannya untuk bersikap manja dengan suaminya.

“Baiklah. Aku menerima kompromimu. Tapi satu lagi.”

“Apa?” Jiro mengangkat sebelah alisnya.

“Aku ingin, kamu menemaniku kemanapun aku mau. Dan ketika aku menginginkan sesuatu, kamu harus menurutinya.”

“Ellie. Itu akan sangat beresiko. Media akan mengendus keberadaan kita. Dan ketika itu terjadi, semuanya dipertaruhkan.”

“Aku nggak mau tau! Itu syarat mutlak dariku! Terserah, mau kamu menyamar jadi badut atau jadi apapun aku nggak peduli.”

Jiro menghela napas panjang. Haruskah ia menuruti apa kemauan Ellie? Dan astaga, kenapa juga ia bisa bertekuk lutut dihadapan wanita ini?

***

Setelah makan malam yang penuh dengan ketegangan, akhirnya Jiro dan Ellie masuk ke dalam kamar. Ellie sudah mengganti pakaiannya dengan piama tidurnya. Rambut kuning keemasannya terurai indah, dan wanita itu tampak sibuk menata tempat tidurnya.

Hal itu tak lepas dari tatapan mata Jiro. Sesekali Jiro menelan ludah dengan susah payah. Ellie memang sangat cantik. Amat sangat cantik. Tapi hanya itu yang bisa ia lihat dari Ellie selama ini. ia tidak cukup mengenal istrinya itu padahal mereka sudah menikah selama Empat tahun lamanya. Jiro hanya tahu bahwa Ellie cantik dan penurut. Dan hal itu membuat Jiro menutup sebelah matanya dari seorang Ellisabeth Williams.

Kini, Jiro merasa ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu. Keberaniannya, kekeras kepalaannya, dan gairahnya di malam itu membuat Jiro tak bisa mengabaikan istri cantiknya itu. Jiro tertarik, dan hal itu adalah sesuatu yang baru untuknya.

Selama ini, Jiro memang tak pernah tertarik dengan seorang perempuan. Ketertarikannya hanya sebatas di atas ranjang, memuaskan hasratnya tanpa menaruh perasaan apapun. Tapi kini dengan Ellie, ada suatu rasa yang membuatnya ingin menunjukkan kepemilikannya terhadap wanita itu. Tapi di sisi lain, akal sehatnya memaksa untuk berpikir lebih logis lagi.

Secara singkat bisa dikatakan bahwa Jiro mengalami sebuah pergulatan batin. Ia ingin mengklaim diri Ellie di depan publik, tapi ia tidak bisa melakukannya karena ambisinya untuk berada di puncak kepopuleran begitu besar.

Ia tidak bisa mengutamakan Ellie ketimbang karirnya bersama dengan The Batman, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan wanita itu apalagi saat Jiro tahu bahwa istrinya itu kini sedang mengandung bayi mereka.

Jiro menghela napas panjang, dan hal itu membuat Ellie menatap penuh tanya ke arahnya.

“Kalau kamu nggak bersedia tidur di sini bersamaku, maka kamu boleh pergi.”

Lagi-lagi, sikap ketus yang ditampilkan Ellie membuat Jiro semakin enggan meninggalkan wanita itu. “Kata siapa aku tidak ingin tidur di sini?” Jiro merasa ketertarikannya pada Ellie satu tingkat naik lebih tinggi.

“Lalu, kenapa kamu mendesah seperti itu?”

“Udaranya panas.” Jawab Jiro dengan cuek. Kini, Jiro bahkan sudah membuka t-shirt yang ia kenakan hingga membuatnya telanjang dada.

“Besok, mungkin ada beberapa orang yang mengantar barang-barangku kemari.”

“Jadi, kamu benar-benar pindah ke sini?”

“Nggak sepenuhnya. Aku hanya berusaha untuk mencari jalan tengah.”

“Oke. Aku tahu. Suamiku kan memang paling bijaksana.” Ucap Ellie dengan nada menyindir.

Jiro mengabaikan apa yang dikatakan Ellie, karena jika ia menanggapinya, maka mereka akan kembali beradu argumen. Jiro lalu mendekat, dan melemparkan diri di atas ranjang.

Ranjang itu, Jiro hampir tak pernah tidur di sana. Memang, mereka selalu bercinta di atas ranjang ini, tapi hanya itu. Saat sudah selesai, Jiro memilih pergi meninggalkan Ellie. Tidur di atas sofa atau lebih brengsek lagi, pergi pulang ke apartmennya.

Ellie memang lebih mirip seorang simpanan ketimbang seorang istri. Jadi sangat wajar jika wanita itu menuntut lebih saat ini.

Malam ini, Jiro akan tidur di ranjang yang sama dengan Ellie. Tapi bisakah ia tidur tenang tanpa gelisah? Saat Jiro memikirkan hal tersebut, ranjang di sebelahnya melesak. Jiro menolehkan kepalanya, rupanya Ellie sudah terbaring miring memunggunginya. Kenapa?

Jiro yang tidur telentang menghadap langit kamarnya hanya bisa menggumam sendiri dalam hati. Hingga ketika sudah cukup lama ia menggerutu karena tak bisa tidur, akhirnya ia mulai membuka suara.

“Kupikir, ada baiknya kita saling menceritakan diri masing-masing.” Ucap Jiro kemudian. Ia ingin lebih mengenal Ellie. Ia salah karena selama ini sudah mengabaikan wanita itu. Tapi sekarang, ia ingin lebih.

“Apa yang ingin kamu ketahui? Kita sudah empat tahun menikah, James. Apa lagi yang membuatmu ingin tahu tentang diriku?”

“Sejujurnya, aku tak cukup mengenalmu. Dan maaf, aku juga jarang memikirkanmu.”

“Ya. Aku mengerti. Semua karena The Batman, kan?”

“Ya. Dan sepertinya, hubungan kita tidak normal.”

“Kamu yang membuatnya tidak normal.”

“Ellie.” Jiro ingin bahwa mereka tidak kembai ke topik sebelumnya yaitu Jiro yang bersalah karena sikapnya selama ini. tanpa diingatkanpun Jiro tahu bahwa ia memang salah. “Aku hanya ingin berubah. Bisakah kamu membantuku?” tanya Jiro dengan nada lirih.

Ellie membalikkan tubuhnya menatap ke arah Jiro. “Asal kamu tahu, james. Aku merasa bahwa semua ini tidak adil untukku. Aku mengetahui apapun tentangmu, makanan kesukaanmu, sikap aslimu, baju apa yang kamu pakai, dan semuanya. Tapi tak sekalipun kamu menoleh ke arahku jika bukan tentang hasrat seksualmu.”

“Maaf.” Hanya itu yang dapat dikatakan Jiro, apapun yang dikatakan Ellie memang benar. Bahkan Jiro tidak ingat kapan hari ulang tahun istrinya itu.

Ellie kembali membalikkan tubuhnya karena matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa sakit hati. Jiro bukan hanya mengabaikannya, tapi lelaki itu juga membuatnya jatuh cinta, cinta yang bertepuk sebelah tangan, pungguk merindukan bulan, berharap dengan sesuatu yang tak mungkin. Hal itu membuat Ellie merasa sedih.

Tanpa diduga, Ellie mersakan Jiro mendekat, lengan lelaki itu terulur, memeluknya dari belakang. Terasa sangat nyaman, bahkan Ellie tak ingat kapan ia merasa senyaman ini berada di dalam pelukan lelaki ini.

“Aku salah. Aku berdosa denganmu. Dan aku akan berusaha untuk menebusnya.”

“Dengan apa?” tanya Ellie dengan suara seraknya. Jika Jiro hanya menebusnya dengan materi, maka lebih baik Ellie menghentikan harapan semunya.

“Aku tidak tahu, dan aku tidak yakin. Tapi aku tak akan membuatmu sedih lagi. Kita akan memulainya lagi dari awal.”

Jiro mengeratkan pelukannya, bahkan ia mengecup singkat puncak kepala Ellie. Pada detik itu, Ellie tak kuasa menahan bulir air matanya. Empat tahun lamanya, dan baru kali ini ia merasakan betapa lelaki ini menyayanginya. Ellie bertekad bahwa ia akan merubah Jiro, mengubah pandangan lelaki itu terhadapnya, bahkan membuat lelaki itu jatuh cinta padanya. Dan ketika ia berhasil nanti, ia akan mengatakan pada dunia bahwa Jiro adalah miliknya, James Drew Robberth adalah suaminya.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 3

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 3

 

Setelah memastikan Marvin pergi dari rumahnya, Jiro kembali ke dapur dan mencari keberadaan istrinya. Tapi ternyata, Sang istri sudah tidak berada di sana. Jiro akhirnya bergegas menuju ke arah kamar, biasanya, Ellie akan berada di dalam kamar mereka, entah sekedar membaca buku atau menonton film kesukaannya. Dan benar saja, rupanya istrinya itu sedang berada di sana.

“Aku belum selesai. Masih banyak yang harus kita bahas.”

“Aku tidak ingin membahas apapun.”

Jiro tak tahu harus memulai darimana. Di satu sisi ia ingin menjelaskan pada Ellie tentang gosip yang beredar beberapa hari terakhir, tapi disisi lain, ia merasa Ellie tak perlu mengetahui penjelasannya. Masalahnya, Jiro tak yakin kemarahan Ellie atau perubahan sikap wanita itu berhubungan dengan gosip kedekatan dirinya dengan Vanesha atau tidak.

“Aku tahu, kamu marah karena gosip yang beredar, kan?”

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli.”

Jiro mendekat. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak mendatanginya saat itu.” Terus saja Jiro menjelaskan apa yang terjadi.

Ellie menatap Jiro seketika. “Kamu pikir aku peduli? Bukankah aku tak memiliki hak apapun untuk mempermasalahkannya?” Ellie menatap Jiro dengan tatapan beraninya.

“Kamu sangat berbeda, Ellie. Apa yang terjadi?”

“Pulangkan aku ke inggris.” Ellie berkata cepat. Padahal ia tahu bahwa bukan itu yang ia inginkan.

“Tidak. Aku tahu bukan itu keinginanmu. Kamu bersikap seperti ini hanya untuk mencari perhatianku, kan? Jika ya, maka selamat, kamu berhasil.”

Ellie tertawa lebar. “Aku tidak butuh perhatian sialanmu.”

“Lalu apa yang kamu butuhkan?” tanya Jiro kemudian.

Pengakuan… kasih sayang… dan cinta.. itulah yang Ellie butuhkan. Jika dulu Ellie tak membutuhkan hal itu karena ia cukup menerima keadaannya yang menjadi istri Jiro, maka berbeda dengan sekarang. Sekarang ia sedang mengandung bayi lelaki itu, bayinya. Dan Ellie ingin Jiro mencintainya, mengakuinya di depan umum agar kelak bayi mereka merasakan kebahagiaan yang sempurna.

“Aku sudah memberimu semuanya, Ellie. Apa masih kurang?”

“Benarkah? Coba sebutkan apa saja yang sudah kamu berikan padaku?” Ellie menatap Jiro dengan mata menantangnya.

“Aku sudah memfasilitasimu.”

“Hanya itu! Aku tidak menginginkan fasilitas sialanmu!” ya, meskipun dengan apa yang sudah diberikan Jiro selama ini kepadanya, nyatanya Ellie memilih tak menerima semua itu jika dirinya harus hidup seperti seorang simpanan.

Jiro mendekat hingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti. Jiro meraih dagu Ellie dan bertanya penuh dengan penekanan. “Lalu apa yang kamu inginkan?”

Dengan berani Ellie menjawab. “Pengakuan.”

Jiro tercengang dengan keberanian istrinya tersebut. Selama ini, Ellie yang ia kenal adalah Ellie yang lugu, penurut, pemalu. Ellie yang tak pernah menuntut apapun. Dan kini, istrinya ini berubah seratus delapan puluh derajat. Jiro tak tahu apa yang membuat Ellie menginginkan sebuah pengakuan. Pengakuan yang tak akan pernah bisa Jiro berikan selama ia berambisi di dunia musik.

Dengan spontan, Jiro mundur satu langkah. “Kamu tahu kan, kalau itu tidak akan bisa kuturuti.”

“Ya, aku tahu, Semua itu karena ambisis sialanmu.”

Jiro menarik ujung bibirnya. “Kamu sudah berkali-kali mengumpat, Ellie.”

“Aku tidak mengumpat. Semua yang kamu lakukan memang sialan.”

Jiro tersenyum, kemudian ia kembali mendekat. “Apa yang kulakukan kali ini juga sialan?” tanyanya disertai dengan meraih dagu Ellie kemudian mencumbu habis bibir wanita itu. Ellie sempat meronta, sekuat tenaga ia mendorong Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“Jangan sentuh aku!” Ellie berseru keras.

Jiro kembali mendekat. “Aku ingin.” Ucapnya sebelum kembali mencumbu bibir ranum Sang istri. Kali ini lebih lembut dari yang pertama. Meski awalnya Ellie menolak, tapi hasrat tak dapat membohongi dirinya.

Ellie juga menginginkan Jiro dan mungkin ini berhubungan dengan kehamilannya. Ellie tahu bahwa hormonnya sedang kacau. Beberapa hari terakhir, Ellie bahkan sering menangis sendiri, merindukan kehadiran Jiro. Padahal Ellie tahu, kalaupun Jiro datang, lelaki itu hanya akan menyetubuhinya tanpa tidur bersama dan memeluknya.

Ya, Ellie tau bahwa dirinya hanya sekedar alat pemuas lelaki itu. Tapi bodohnya ia tetap mengagumi sosok Jiro. Ellie merasa bahwa ini semua tak adil untuknya. Bagaimana mungkin ia begitu memuja lelaki itu sedangkan dirinya hanya tampak seperti seorang simpanan yang hanya dimanfaatkan untuk memuaskan lelaki itu?

Cukup!

Saat ini, Ellie tak ingin memikirkan hal itu, karena ia ingin menikmati ketika tubuh Jiro menyentuhnya. Dengan spontan Ellie mengeluarkan erangannya. Jemari Jiro meloloskan pakaiannya satu persatu hingga tanpa sadar saat ini Ellie hanya berdiri mengenakan pakaian dalamnya saja.

Jiro masih mencumbunya dengan intens, dan hal itu membuat Ellie tak mengerti, apa yang sedang terjadi dengan lelaki ini?

Ini memang bukan pertama kalinya Jiro menciumnya. Tapi lelaki itu tak pernah menciumnya dengan begitu bergairah seperti saat ini. biasanya Jiro hanya akan menciumnya sekilas, menyatukan diri, kemudian melakukan seks hanya untuk sebuah kewajiban dan kesenangannya. Tak jarang, hanya Jirolah yang mendapatkan kenikmatan tersebut, sedangkan tidak dengan Ellie.

Tapi kini, Ellie seakan sedang dipancing gairahnya, dan Ellie tak ingin mengakhirinya begitu saja hanya karena rasa sakit hatinya.

Dengan spontan, Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro. Kakinya sedikit berjinjit karena tingginya yang tak sesuai dengan tinggi suaminya tersebut. Jemari Jiro merayap, menuruni perutnya, kemudian lelaki itu menghentikan aksinya.

Pada saat itu, Ellie merasa khawatir. Apa kehamilannya akan ketahuan?

Jiro melepaskan tautan bibir mereka kemudian matanya menatap Ellie penuh tanya. “Kamu…” ucapnya penuh tanya.

Dengan spontan Ellie kembali mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian mencumbu kembali bibir lelaki itu. Demi Tuhan! Ellie tak ingin membahas masalah itu saat ini, ketika gairahnya tumbuh dan menyala-nyala. Ia ingin Jiro berada di dalam dirinya, memuaskannya, bukan membahas tentang kehamilannya.

Dan ketika ia sudah sampai pada puncak kenikmatan nanti, Ellie berjanji akan mengatakan semuanya pada Jiro. Kini, ia hanya ingin melanjutkan apa yang sudah dimulai lelaki itu. Dan Ellie bersyukur karena ternyata Jiro kembali melanjutkan apa yang tadi dilakukan lelaki itu.

Jiro merapatkan tubuh Ellie pada tubuhnya, mencumbu Ellie kembali dengan panas dan menggoda. Oh, Ellie sangat yakin jika dirinya tak pernah dicumbu seperti ini. ia sangat yakin jika ia tak pernah sebergairah seperti saat ini. hingga akhirnya, Ellie tak kuasa menahan erangannya.

Jiro menyukainya, dalam cumbuannya ia tersenyum melihat istrinya begitu bergairah, sangat berbeda dengan biasanya yang hanya diam seperti boneka. Jika seperti ini, Jiro semakin merasa tergoda. Dan sial! Ia merasa tak ingin menunggu lebih lama lagi.

Jiro mengangkat tubuh Ellie, kemudian membaringkan wanita itu di atas ranjangnya. Sesekali ia melepaskan sisa-sisa pakaian yang membalut tubuh Ellie hingga wanita dibawahnya itu polos tanpa selehai benangpun. Jiro mencoba mengabaikan bentuh tubuh Ellie yang lebih berisi dari teakhir kali ia melihatnya. Tentu saja, kemarin, mereka bercinta dalam cahaya remang-remang. Jiro tak dapat melihat dengan jelas bagaimana tampilan tubuh Ellie. Dan kini, ia bisa melihatnya dengan jelas.

Ellie tampak lebih berisi, pinggangnya lebih lebar dari sebelumnya, dan perutnya, sedikit…. Tidak! Mungkin Jiro hanya salah melihat. Mencoba mengabaikan tubuh wanita dibawahnya tersebut yang tampak semakin menggoda, Jiro kembali menundukkan kepalanya. Kali ini ia menggapai sebelah payudara Ellie, mengodanya, hingga membuat istrinya tersebut menggelinjang nikmat.

Oh, Jiro sangat suka. Ia tak pernah melihat Ellie bereaksi seperti ini karena sentuhannya. Bagaiaman mungkin wanita ini bisa begitu berbeda?

Setelah cukup lama melakukan penetrasi, akhirnya Jiro tak dapat menunggu lebih lama lagi. Ia bangkit, melucuti pakaiannya sendiri satu demi satu hingga polos dan kembali menindih tubuh Sang istri. Jiro menatap tajam ke arah wanita di bawahnya tersebut kepalanya menunduk kemudian mencumbu bibir Ellie dengan nikmat sembari mencoba menyatukan diri.

Penyatuan yang begitu sempurna.

Jiro mendesah panjang ketika Ellie terasa begitu nikmat. Wanita itu membungkusnya dengan lembut, dan Jiro akan bersikap lembut pula agar tidak menyakiti wanita di bawahnya tersebut.

Jiro mulai bergerak, pelan tapi pasti. Menghujam lagi dan lagi, mencari kenikmatan untuk dirinya dan memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Erangan Ellie membuat gairahnya semakin menanjak. Ia tak pernah melihat Ellie seperti ini. ia sangat menyukainya, tapi disisi lain, Jiro merasa bahwa pertahanannya mulai runtuh.

Sial! Ia tidak boleh membiarkannya.

Ellie memang istrinya tapi Jiro tahu bahwa dalam waktu dekat, ia tidak akan bisa menuruti kemauan Ellie tentang pengakuan didepan publik tersebut.

Jiro bergerak semakin cepat hingga Ellie tak kuasa menahan diri. Gelombang kenikmatan menghantam wanita itu, membuatnya mengerang, menyebutkan jama Jiro. Jiro sangat suka saat Ellie memangil nama aslinya. “James… James… Ohh…”

Panggilan-panggilan erotis tersebut membuat Jiro tak mampu bertahan lebih lama lagi. Dalam dua kali hentakan, ia kembali menumpahkan gairahnya ke dalam tubuh Ellie.

***

Ellie masih terbaring miring memunggunginya. Sedangkan Jiro tak tahu harus berbuat apa. Percintaan mereka tadi benar-benar sangat panas, bahkan mungkin palig panas diantara percintaan yang pernah mereka lakukan.

Sialnya, setelah mengingat bagaimana panasnya Ellie, Jiro kembali menginginkan wanita itu.

Brengsek!

Padahal Jiro tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menambah ‘jatahnya’ lagi. Ada satu hal yang diembunyikan Ellie dan Jiro harus memaksa wanita itu untuk mengatakannya.

“James.” Suara Ellie terdengar lembut, seakan menggelitik telinganya, menggoda untuk membangkitkan gairahnya. “Ada yang ingin kukatakan.” Wanita itu melanjutkan kalimatnya.

“Katakan.” Jiro berharap jika apa yang ia pikirkan tidak benar, dan Ellie tak akan mengatakan apapun yang tadi sempat ia pikirkan.

“Aku hamil.”

Jiro membeku seketika. Ia salah dengar. Ya, ia pasti salah dengar.

Karena tak mendapatkan tanggapan apapun, Ellie membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Jiro. “Kamu dengar aku, kan? Aku hamil.” Ucapnya dengan jengkel karena tak mendapatkan reaksi apapun dari suaminya tersebut.

“Aku dengar.”

“Lalu?” Ellie masih menunggu reaksi Jiro.

“Kenapa bisa?” tanyanya dengan spontan.

“Kenapa bisa? Kamu meniduriku, tentu saja aku bisa hamil.”

“Kita sudah sepakat Ellie. Kita sudah sepakat untuk mencegahnya.”

Ellie duduk dan membenarkan letak selimutnya. “Sudah Empat tahun dan aku ingin berhenti. Aku ingin memiliki bayi. Persetan dengan apa yang kamu inginkan.”

Jiro ikut terduduk. “Kamu sudah mulai berani membantah.”

“Ya. Kenapa? Kamu ingin marah? Aku tidak peduli.” Ellie bersiap pergi, tapi secepat kilat Jiro meraih pergelangan tangannya.

“Kita belum selesai, Ellie.”

Ellie menghempaskan cekalan tangan Jiro. “Bagiku, tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, Sekarang kamu boleh pergi.” Ucapnya dengan dingin.

Jiro benar-benar tak habis pikir dengan istrinya ini. bagaimana mungkin Ellie bisa berubah sebanyak ini? yang yang lebih menyebalkan lagi adalah, bagaimana mungkin perubahannya sangat berpengaruh terhadap diri Jiro?

***

Jiro benar-benar pergi setelah Ellie memintanya pergi. Meski begitu, ia tidak akan mengabaikan wanita itu begitu saja. Astaga, wanita itu sedang hamil, mengandung anaknya, dan Jiro tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya pada wanita itu.

Kini, ia melemparkan diri di atas sofa panjang apartmennya, kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.

“Halo.” Dalam deringan kedua, panggilan tersebut diangkat.

“Mei. Sial! Bagaimana mungkin kamu tidak memberitahuku tentang kehamilannya?”

“Kamu sudah tahu?”

“Tentu saja. Ellie sendiri yang memberitahuku.”

“Dia memintaku untuk tutup mulut. Aku bisa apa?” Mei tampak mendesah panjang. “Apa lagi yang kamu lakukan padanya? Dia tidak ingin membuka pintu kamarnya sepanjang sore.”

“Kamu yakin?” Jiro sedkit khawatir.

“Ya. Dia sedang merajuk. Aku tahu itu. Dan ketika Ellie sudah merajuk, tidak ada satu hal pun yang bisa kulakukan selain menunggumu kembali.”

“Brengsek, Mei! Aku bahkan baru istirahat di apartmenku. Masa iya aku harus balik lagi?” Jiro benar-benar tak habis pikir dengan Ellie. Tadi, setelah pergi dari rumahnya, Jiro memang sempat mampir ke studio musik Jason untuk menenangkan diri dari rasa shocknya. Setelah itu ia pulang ke apartmennya. Kini, Jiro hanya ingin istirahat. Tapi Ellie, ia tidak bisa mengabaikan wanita yang sedang merajuk itu.

“Lagi pula, ini kan rumahmu. Kenapa kamu nggak tinggal di sini sementara selama dia hamil.”

“Kamu tentu tahu aku nggak bisa ngelakuin itu. Media akan mengendusnya dan itu akan menjadi gosip.”

“Tapi kamu harus memikirkan Ellie dan bayi kalian. Dia membutuhkan kamu di sisinya. Lagi pula, aku tidak yakin dia mau membuka pintunya sampai besok. Dia sangat keras kepala, dan jangan lupakan kalau dia belum makan sejak tadi siang.”

“Sial! Brengsek!” Jiro bangkit seketika. Ia bahkan sudah mematikan sambungan teleponnya.

Jiro meraih jaket dan juga topinya. Kemudian segera bergegas keluar dari apartmennya. Ya, walau bagaimanapun, Jiro tidak bisa mengabaikan keadaan Ellie, apalagi setelah tahu bahwa wanita itu sedang mengandung anaknya.

Hari ini, Jiro merasa kalah. Ia merasa bahwa Ellie mampu memporak-porandakan perasaannya selama seharian penuh. Tapi Jiro bersumpah bahwa hanya hari ini harga dirinya jatuh pada seorang Ellisabeth Williams. Tidak akan ada hari-hari selanjutnya lagi. Karena setelah ini, Jiro akan membenahi hubungan mereka, ia akan menerapkan beberapa peraturan untuk dipatuhi bersama hingga tak akan ada yang merasa dirugikan lagi diantara mereka. Ya, demi bayi mereka, hubungan mereka, dan juga masa depan mereka kedepannya, Jiro akan berusaha untuk mengalah dan mencari jalan tengah untuk kebaikan bersama.

-TBC-

 

My Beautiful Mistress – Bab 2

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan seberani itu dengan Jiro.” Ucap Mei ketika keduanya saat ini sudah berada di dalam sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan mingguan Ellie.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sikapku?”

Mei tersenyum lembut. “Enggak, tapi, Jiro pasti sangat terkejut saat mendapati istrinya sekarang menjadi sedikit membangkang.”

Ellie berpikir sebentar. “Membangkang? Seperti tidak menurut?” tanya Ellie. Ia memang kadang masih suka lupa dengan bahasa indonesia.

“Ya. Seperti itu.”

Ellie menghela napas panjang. “Dulu aku tidak memiliki apapun untuk kuperjuangkan. Sekarang aku memiliki dia.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang sudah mulai memiliki gundukan mungil.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Aku akan membuat dia mengerti, bahwa dia tidak bisa seenaknya seperti dulu. James memang Artis, dia memang Bassis ternama di negeri ini. tapi di mataku, dia hanya lelaki biasa, dan dia adalah suamiku. Jadi aku akan berusaha merebut perhatiannya.”

“Bagus sekali, Ellie. Apa kamu tahu, dia benar-benar cengo saat kamu melawannya tadi pagi. Astaga, mukanya lucu sekali.” Mei tertawa lebar saat mengingat bagaimana wajah terkejut Jiro saat Ellie menyebut Jiro adalah salah satu orang yang paling buruk yang pernah wanita itu kenal.

Ellie ikut tertawa lebar, tapi kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bertanya “Ngomong-ngomong, Cengo itu apa?”

Seketika itu juga, tawa Mei lenyap. Ia memutar bola matanya dengan kesal ke arah Ellie. Ya, bukan salah wanita itu, tapi terkadang, Mei merasa jengkel jika harus menjelaskan setiap kata yang tidak dimengerti oleh wanita itu.

***

Jiro bermain-main dengan gitar milik Ken. Selain memainkan Bass, Jiro memang pandai bermain gitar. Ketika dirinya sedang santai seperti ini, Jiro memilih memainkan gitar dengan sesekali bersenandung sendiri.

Hari ini, mereka tak ada latihan, Jason sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, dan itu benar-benar membuat Jiro kesal. Sebentar lagi mereka akan tampil di sebuah konser yang akan di siarkan secara langsung di beberapa TV nasional. Jiro hanya tak ingin mereka melakukan sebuah kesalahan pada acara Live tersebut.

Meski begitu, Jiro menahan diri agar tidak terlalu memaksa Jason. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan Jason. Ketika Jiro tak berada pada mood yang baik, ia juga tak dapat memainkan alat musik apapun. Dan sepertinya, hal itu pulalah yang terjadi dengan Jason.

“Woi, ngelamun aja lo.” Troy datang. Sendiri. sedangkan Ken tak ikut dengan temannya itu.

“Elo sendirian?”

“Ya. Kenapa? Kita kan lagi nggak ada jadwal latihan.”

Jiro hanya mengangguk. “Ken mana?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak tau, mungkin lagi jalan sama ceweknya. Gue telpon dia dari pagi nggak diangkat.”

Troy menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung studio musik tempat mereka latihan. Ia mengambil sekaleng minuman dingin dan kembali menuju ke arah Jiro.

“Elo sendiri ngapain di sini sendirian? Ngelamunin apa lo? Vanesha?” tanya Troy yang kini sudah duduk tepat di sebelah Jiro.

“Elo apaan sih.”

Well, gue sudah baca gosip tentang elo sejak kemaren. Gue pengen tanya tapi, gue tau kalau elo nggak pernah mau bahas masalah pribadi elo dengan kita-kita.”

“Kalau gitu, sekarang ngapain elo bahas masalah ini sama gue. Gue nggak akan mau cerita.”

“Ayolah. Gue bukan wartawan. Dan astaga, asal elo tahu, Vanesha pernah gue tidurin.”

Jiro menatap Troy seketika. “Berengsek lo.” Umpatnya.

Sebenarnya, Troy merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Vanesha. Vanesha adalah seorang model. Mereka memang pernah beberapakali bertemu karena pekerjaan, kemudian keluar bersama beberapa kali. Jiro pernah mencium Vanesha saat mabuk, dan sialnya, The Danger (sekumpulan wanita gila yang mengaku fans fanatik mereka) mengetahui hal itu dan memotretnya. Memberi peringatan pada Jiro. Tapi Jiro tentu tak mengindahkannya. Kemudian, foto itu tersebar. Itulah awal mula gosip tentang dirinya dan Vanesha merebak.

Gosip tersebut semakin panas ketika sekitar tiga atau empat hari yang lalu, Jiro kembali kepergok keluar dari gedung apartmen Vanesha pagi-pagi buta. Jiro menghela napas panjang, ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Apa karena itu Ellie bersikap berbeda kepadanya? Apa Ellie mengetahui tentang berita itu? Sejauh yang Jiro tahu, Ellie lebih suka menonton acara-acara luar atau memutar DVD. Tapi, mengingat sikap wanita itu yang tak biasa membuat Jiro khawatir. Jangan-jangan, Ellie benar-benar telah mengetahui gosip tentang skandalnya dengan Vanesha.

Mengingat itu, Jiro berdiri seketika. Ia ingin memastikan tentang hal itu. Apa benar, Ellie sudah mengetahui tentang semuanya?

Tanpa banyak bicara, Jiro melesat keluar. Hal itu benar-benar membuat Troy heran. Sambil menggelengkan kepalanya, dia bertanya pada dirinya sendiri. “Gue salah ya, karena sudah jujur tentang cinta semalam gue sama Vanesha?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul Empat sore. Tapi Jakarta hari ini benar-benar panas. Yang membuat kesal Ellie adalah, selain tadi sempat terjebak macet, kini mobil Mei tiba-tiba mogok di jalan, hal itu benar-benar membuat mood Ellie memburuk.

“Aku sudah menelepon Marvin. Dia akan jemput kamu.”

Ellie mengerutkan keningnya. “Marvin? Kenapa harus dia?” Ellie merasa tidak nyaman.

Marvin adalah adik sepupu Mei. Mereka memang pernah beberapa kali bertemu. Yang membuat Ellie tak nyaman adalah karena Marvin pernah secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Ellie. Ya, lelaki yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan lebih padanya.

“Karena hanya dia orang yang kukenal dan bisa menjemputmu kapanpun.”

“Nggak perlu.” Ellie menjawab cepat. “Aku akan menunggu di sini denganmu.”

“Ayolah Ellie. Aku tahu kamu kepanasan. Dan menunggu mobil derek akan lama. Lagian, Marvin nggak jauh dari sini. Jadi sebentar lagi dia sampai.”

Ellie menghela napas panjang. Apapun itu, ia akan menerimanya. Ya, bukankah memang Mei yang selalu menjadi bossnya?

Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lelaki tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman khasnya. Siapapun akan terpada dengan lelaki itu, tapi tidak dengan Ellie.

Bagi Ellie, lelaki yang paling tampan adalah suaminya, James Drew Robberth. Tak akan ada yang mampu membuatnya terpesona selain lelaki itu.

“Hai, aku senang dihubungi.” Marvin berbasa-basi.

“Nggak perlu berbasa-basi. Sekarang, angkut saja belanjaan kami, dan antar Ellie pulang.”

Dengan tawa lebar, Marvin menuju ke arah bagasi. “Oke, kebetulan aku sedang ingin minum kopi. Kuharap aku mendapatkan secangkir kopi di sana nanti.”

Ellie mendengus sebal. Ia tahu, bahwa tak akan mudah mengusir Marvin nantinya. Tapi, ya sudahlah. Toh ia sudah menolak lelaki itu secara terang-terangan. Marvin pasti tak akan berbuat macam-macam apalagi mengingat ada dua pengawal yang selalu berjaga di rumahnya.

***

“Oke, ini yang terakhir.” Ucap Marvin setelah menaruh bingkisan terakhir di meja dapur Ellie. Ellie sendiri sedang sibuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Meski sedikit tak nyaman tapi sangat tidak pantas kalau ia mengusir Marvin tanpa memberinya minum terlebih dahulu.

Ellie menyuguhkan kopi untuk Marvin. “Minumlah.” Ucapnya sembari bergegas membuka-buka barang belanjaannya.

“Kalian habis ngerampok supermarket, ya?” tanya Marvin dengan nada bercanda. Lelaki itu memang memiliki selera humor tinggi. Tentu sangat berbeda dengan Jiro, suaminya.

“Ya, selain supermarket, kami juga merampok toko perlengkapan rumah tangga.” Ucap Ellie sembari menunjukkan beberapa pisau dapur yang baru saja ia beli.

Marvin tertawa lebar. “Hahaha, lucu sekali.” Marvin menyesap kopi buatan Ellie. “Kopimu memang selalu yang terbaik.”

“Tentu saja. Karena kamu meminumnya gratis.” Ellie menjawab lagi-lagi dengan nada ketus.

Marvin tersenyum. Ia senang melihat sikap Ellie yang seperti ini. setidaknya, Ellie tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipi wanita itu. Marvin lalu berdiri dan mendekat ke arah Ellie. “Ngomong-ngomong, aku suka dengan sikapmu yang sekarang.” Ucap Marvin dengan parau.

Ellie mengangkat wajahnya seketika menatap ke arah Marvin. “Apa maksudmu?”

Jemari Marvin terulur, mengusap lembut rona merah di pipi Ellie. Ellie ingin sekali menghindar, tapi ia tidak mau sikapnya yang menghindar membuat Marvin berpikir bahwa kehadiran lelaki itu berpengaruh terhadapnya.

“Keketusanmu, sangat kontras dengan rona merah di pipimu.” Bisiknya dengan nada parau. “Akui saja, kamu gugup berada di dekatku, sejak aku menyatakan perasaanku beberapa bulan yang lalu, kan?”

Ellie sangat kesal dengan sikap lelaki di hadapannya ini. Hampir saja ia membuka suara, sebelum suara keras yang lain datang menambah ketegangan diantara mereka.

“Singkirkan tangan sialanmu dari wajah istriku!”

Ellie dan Marvin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Tampak Jiro berdiri menjulang di dekat meja makan dengan mata penuh dengan kemarahan.

“James. Kenapa kamu di sini?” tanya Ellie tak percaya.

Biasanya, setelah mendapatkan ‘jatahnya’, Jiro akan pergi, dan paling cepat akan mengunjungi Ellie Tiga hari setelahnya. Bahkan kemaren, lelaki itu tidak mengunjunginya sama sekali selama Tiga minggu terakhir. Lalu untuk apa lelaki itu datang kemari padahal baru tadi pagi dia keluar dari rumah ini?

“Kenapa aku di sini? Ini rumahku! Seharusnya pertanyaan itu kamu lemparkan pada dia.” Jiro menunjuk Marvin dengan marah.

Marvin mundur menjauh dan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Well, sebelumnya, Marvin memang sudah mengetahui tentang Ellisabeth Williams yang merupakan istri dari seorang Bassis terkenal yang bernama Jiro The Batman. Tapi hal itu tak serta merta membuat Marvin mengundurkan diri atau memupus ketertarikannya dengan sosok Ellie. Kecantikan Ellie bahkan mampu membutakan mata Marvin bahwa wanita itu sudah menjadi istri orang. Yang membuat Marvin tak mengerti adalah, kenapa Jiro menyembunyikan istri secantik ini dari publik? Apa pria itu gila?

“Aku disini karena diminta.” Marvin menjawab dengan tenang.

“Diminta?” Jiro mendekat ke arah mereka berdua. Tatapan mata Jiro menajam ke arah Ellie. Jika dulu Ellie akan takut, maka tidak sekarang. “Kenapa kamu memintanya kemari?”

Ellie berusaha mengendalikan dirinya, bahkan ia bersikap seolah-olah tak mempedulikan kemarahan yang tampak jelas terlihat di wajah suaminya.

“Kamu nggak lihat semua ini, James?” ucap Ellie sembari menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Mobil Mei mogok, dan Mei memintanya untuk menjemputku dan mengantarku pulang.” Ellie menjelaskan dengan nada malas.

“Kenapa harus dia?!” tanya Jiro lagi dengan nada yang masih meninggi.

“Kenapa harus dia?” Ellie mengulang lagi pertanyaan Jiro. “Karena suamiku lebih sibuk dengan karir sialannya dibandingkan denganku. Apa kau puas?” Ellie menjawab dengan marah.

Marvin yang berada di sana merasa sedang terjebak diantara dua gunung berapi yang sedang memuntahkan lava.

“Karirku tidak sialan, Ellie!”

“Ya, mungkin tidak. Tapi perempuan-perempuan itu yang membuatnya menjadi sialan dimataku.”

Pada detik itu, Jiro tahu bahwa Ellie ternyata mendengar gosip murahan tentang dirinya dan juga Vanesha. “Jadi kamu cemburu karena gosip-gosip itu?”

“Tidak. Cemburu adalah hal yang sangat kekanakan.”

“Jadi menurutmu aku kekanakan?” dengan spontan Jiro bertanya.

“Jika kamu merasa sedang cemburu, maka ya, kamu kekanakan.” Ellie menjawab dengan santai.

“Aku tidak kekanakan, aku cemburu karena istriku disentuh oleh lelaki lain! Apa itu salah?”

“Oh yang benar saja. Dia hanya menyentuh pipiku, sedangkan kamu. Kamu berciuman dengan perempuan itu!” Ellie berseru keras tak dapat menahan emosinya ketika mengingat gosip yang ia dengar sejak dua hari belakangan. Sungguh, Ellie sangat marah, apalagi kabar tentang Jiro yang keluar dari apartmen wanita itu pagi-pagi buta dan tertangkap oleh kamera wartawan. Untuk apa Jiro berada di sana?

Kali ini, Jiro mengerti kemarahan Ellie bersumber dari mana. Meski begitu, Jiro tahu bahwa hal itu tak membenarkan apa yang dilakukan Ellie tadi. Berduaan dengan lelaki lain di rumah mereka.

Jiro menatap Marvin dengan tatapan membunuhnya. “Gue pikir, mending elo keluar. Gue mau bahas sesuatu dengan istri gue, hanya berdua.” Ucap Jiro dengan penuh penekanan terhadap Marvin.

“Kenapa kamu mengusirnya?” Ellie bertanya.

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Tak ada yang perlu dibahas.” Ellie mengibaskan telapak tangannya seakan tak ingin mendengar apapun penjelasan dari suaminya.

Mata Jiro kembali menatap tajam ke arah Marvin, dan lelaki itu akhirnya mengalah. Ia megerti bahwa ini bukan saat yang baik untuk melanjutkan rencananya menggoda Ellie.

“Oke, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungiku.” Ucap Marvin pada Ellie.

“Dia tidak akan membutuhkan apapun!” Jiro berseru dengan penuh penekanan.

Sungguh, Jiro tak suka dengan lelaki itu. Caranya menatap Ellie membuat Jiro marah. Dan reaksi yang ditampilkan istrinya itu membuat Jiro tak dapat menahan segala emosinya. Ellie hanya miliknya, dan Jiro tak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyentuh tubuh istrinya tersebut.

-TBC-

Special Pict mereka berdua nihhh aku editin special buat kalian, hahhahaha