My Beautiful Mistress – Bab 2

Comment 1 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan seberani itu dengan Jiro.” Ucap Mei ketika keduanya saat ini sudah berada di dalam sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan mingguan Ellie.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sikapku?”

Mei tersenyum lembut. “Enggak, tapi, Jiro pasti sangat terkejut saat mendapati istrinya sekarang menjadi sedikit membangkang.”

Ellie berpikir sebentar. “Membangkang? Seperti tidak menurut?” tanya Ellie. Ia memang kadang masih suka lupa dengan bahasa indonesia.

“Ya. Seperti itu.”

Ellie menghela napas panjang. “Dulu aku tidak memiliki apapun untuk kuperjuangkan. Sekarang aku memiliki dia.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang sudah mulai memiliki gundukan mungil.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Aku akan membuat dia mengerti, bahwa dia tidak bisa seenaknya seperti dulu. James memang Artis, dia memang Bassis ternama di negeri ini. tapi di mataku, dia hanya lelaki biasa, dan dia adalah suamiku. Jadi aku akan berusaha merebut perhatiannya.”

“Bagus sekali, Ellie. Apa kamu tahu, dia benar-benar cengo saat kamu melawannya tadi pagi. Astaga, mukanya lucu sekali.” Mei tertawa lebar saat mengingat bagaimana wajah terkejut Jiro saat Ellie menyebut Jiro adalah salah satu orang yang paling buruk yang pernah wanita itu kenal.

Ellie ikut tertawa lebar, tapi kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari bertanya “Ngomong-ngomong, Cengo itu apa?”

Seketika itu juga, tawa Mei lenyap. Ia memutar bola matanya dengan kesal ke arah Ellie. Ya, bukan salah wanita itu, tapi terkadang, Mei merasa jengkel jika harus menjelaskan setiap kata yang tidak dimengerti oleh wanita itu.

***

Jiro bermain-main dengan gitar milik Ken. Selain memainkan Bass, Jiro memang pandai bermain gitar. Ketika dirinya sedang santai seperti ini, Jiro memilih memainkan gitar dengan sesekali bersenandung sendiri.

Hari ini, mereka tak ada latihan, Jason sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, dan itu benar-benar membuat Jiro kesal. Sebentar lagi mereka akan tampil di sebuah konser yang akan di siarkan secara langsung di beberapa TV nasional. Jiro hanya tak ingin mereka melakukan sebuah kesalahan pada acara Live tersebut.

Meski begitu, Jiro menahan diri agar tidak terlalu memaksa Jason. Bagaimanapun juga, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan Jason. Ketika Jiro tak berada pada mood yang baik, ia juga tak dapat memainkan alat musik apapun. Dan sepertinya, hal itu pulalah yang terjadi dengan Jason.

“Woi, ngelamun aja lo.” Troy datang. Sendiri. sedangkan Ken tak ikut dengan temannya itu.

“Elo sendirian?”

“Ya. Kenapa? Kita kan lagi nggak ada jadwal latihan.”

Jiro hanya mengangguk. “Ken mana?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak tau, mungkin lagi jalan sama ceweknya. Gue telpon dia dari pagi nggak diangkat.”

Troy menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung studio musik tempat mereka latihan. Ia mengambil sekaleng minuman dingin dan kembali menuju ke arah Jiro.

“Elo sendiri ngapain di sini sendirian? Ngelamunin apa lo? Vanesha?” tanya Troy yang kini sudah duduk tepat di sebelah Jiro.

“Elo apaan sih.”

Well, gue sudah baca gosip tentang elo sejak kemaren. Gue pengen tanya tapi, gue tau kalau elo nggak pernah mau bahas masalah pribadi elo dengan kita-kita.”

“Kalau gitu, sekarang ngapain elo bahas masalah ini sama gue. Gue nggak akan mau cerita.”

“Ayolah. Gue bukan wartawan. Dan astaga, asal elo tahu, Vanesha pernah gue tidurin.”

Jiro menatap Troy seketika. “Berengsek lo.” Umpatnya.

Sebenarnya, Troy merasa tak memiliki hubungan apapun dengan Vanesha. Vanesha adalah seorang model. Mereka memang pernah beberapakali bertemu karena pekerjaan, kemudian keluar bersama beberapa kali. Jiro pernah mencium Vanesha saat mabuk, dan sialnya, The Danger (sekumpulan wanita gila yang mengaku fans fanatik mereka) mengetahui hal itu dan memotretnya. Memberi peringatan pada Jiro. Tapi Jiro tentu tak mengindahkannya. Kemudian, foto itu tersebar. Itulah awal mula gosip tentang dirinya dan Vanesha merebak.

Gosip tersebut semakin panas ketika sekitar tiga atau empat hari yang lalu, Jiro kembali kepergok keluar dari gedung apartmen Vanesha pagi-pagi buta. Jiro menghela napas panjang, ia benar-benar menyesali perbuatannya.

Apa karena itu Ellie bersikap berbeda kepadanya? Apa Ellie mengetahui tentang berita itu? Sejauh yang Jiro tahu, Ellie lebih suka menonton acara-acara luar atau memutar DVD. Tapi, mengingat sikap wanita itu yang tak biasa membuat Jiro khawatir. Jangan-jangan, Ellie benar-benar telah mengetahui gosip tentang skandalnya dengan Vanesha.

Mengingat itu, Jiro berdiri seketika. Ia ingin memastikan tentang hal itu. Apa benar, Ellie sudah mengetahui tentang semuanya?

Tanpa banyak bicara, Jiro melesat keluar. Hal itu benar-benar membuat Troy heran. Sambil menggelengkan kepalanya, dia bertanya pada dirinya sendiri. “Gue salah ya, karena sudah jujur tentang cinta semalam gue sama Vanesha?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul Empat sore. Tapi Jakarta hari ini benar-benar panas. Yang membuat kesal Ellie adalah, selain tadi sempat terjebak macet, kini mobil Mei tiba-tiba mogok di jalan, hal itu benar-benar membuat mood Ellie memburuk.

“Aku sudah menelepon Marvin. Dia akan jemput kamu.”

Ellie mengerutkan keningnya. “Marvin? Kenapa harus dia?” Ellie merasa tidak nyaman.

Marvin adalah adik sepupu Mei. Mereka memang pernah beberapa kali bertemu. Yang membuat Ellie tak nyaman adalah karena Marvin pernah secara terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Ellie. Ya, lelaki yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan lebih padanya.

“Karena hanya dia orang yang kukenal dan bisa menjemputmu kapanpun.”

“Nggak perlu.” Ellie menjawab cepat. “Aku akan menunggu di sini denganmu.”

“Ayolah Ellie. Aku tahu kamu kepanasan. Dan menunggu mobil derek akan lama. Lagian, Marvin nggak jauh dari sini. Jadi sebentar lagi dia sampai.”

Ellie menghela napas panjang. Apapun itu, ia akan menerimanya. Ya, bukankah memang Mei yang selalu menjadi bossnya?

Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Lelaki tampan itu keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman khasnya. Siapapun akan terpada dengan lelaki itu, tapi tidak dengan Ellie.

Bagi Ellie, lelaki yang paling tampan adalah suaminya, James Drew Robberth. Tak akan ada yang mampu membuatnya terpesona selain lelaki itu.

“Hai, aku senang dihubungi.” Marvin berbasa-basi.

“Nggak perlu berbasa-basi. Sekarang, angkut saja belanjaan kami, dan antar Ellie pulang.”

Dengan tawa lebar, Marvin menuju ke arah bagasi. “Oke, kebetulan aku sedang ingin minum kopi. Kuharap aku mendapatkan secangkir kopi di sana nanti.”

Ellie mendengus sebal. Ia tahu, bahwa tak akan mudah mengusir Marvin nantinya. Tapi, ya sudahlah. Toh ia sudah menolak lelaki itu secara terang-terangan. Marvin pasti tak akan berbuat macam-macam apalagi mengingat ada dua pengawal yang selalu berjaga di rumahnya.

***

“Oke, ini yang terakhir.” Ucap Marvin setelah menaruh bingkisan terakhir di meja dapur Ellie. Ellie sendiri sedang sibuk membuatkan kopi untuk lelaki itu. Meski sedikit tak nyaman tapi sangat tidak pantas kalau ia mengusir Marvin tanpa memberinya minum terlebih dahulu.

Ellie menyuguhkan kopi untuk Marvin. “Minumlah.” Ucapnya sembari bergegas membuka-buka barang belanjaannya.

“Kalian habis ngerampok supermarket, ya?” tanya Marvin dengan nada bercanda. Lelaki itu memang memiliki selera humor tinggi. Tentu sangat berbeda dengan Jiro, suaminya.

“Ya, selain supermarket, kami juga merampok toko perlengkapan rumah tangga.” Ucap Ellie sembari menunjukkan beberapa pisau dapur yang baru saja ia beli.

Marvin tertawa lebar. “Hahaha, lucu sekali.” Marvin menyesap kopi buatan Ellie. “Kopimu memang selalu yang terbaik.”

“Tentu saja. Karena kamu meminumnya gratis.” Ellie menjawab lagi-lagi dengan nada ketus.

Marvin tersenyum. Ia senang melihat sikap Ellie yang seperti ini. setidaknya, Ellie tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipi wanita itu. Marvin lalu berdiri dan mendekat ke arah Ellie. “Ngomong-ngomong, aku suka dengan sikapmu yang sekarang.” Ucap Marvin dengan parau.

Ellie mengangkat wajahnya seketika menatap ke arah Marvin. “Apa maksudmu?”

Jemari Marvin terulur, mengusap lembut rona merah di pipi Ellie. Ellie ingin sekali menghindar, tapi ia tidak mau sikapnya yang menghindar membuat Marvin berpikir bahwa kehadiran lelaki itu berpengaruh terhadapnya.

“Keketusanmu, sangat kontras dengan rona merah di pipimu.” Bisiknya dengan nada parau. “Akui saja, kamu gugup berada di dekatku, sejak aku menyatakan perasaanku beberapa bulan yang lalu, kan?”

Ellie sangat kesal dengan sikap lelaki di hadapannya ini. Hampir saja ia membuka suara, sebelum suara keras yang lain datang menambah ketegangan diantara mereka.

“Singkirkan tangan sialanmu dari wajah istriku!”

Ellie dan Marvin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Tampak Jiro berdiri menjulang di dekat meja makan dengan mata penuh dengan kemarahan.

“James. Kenapa kamu di sini?” tanya Ellie tak percaya.

Biasanya, setelah mendapatkan ‘jatahnya’, Jiro akan pergi, dan paling cepat akan mengunjungi Ellie Tiga hari setelahnya. Bahkan kemaren, lelaki itu tidak mengunjunginya sama sekali selama Tiga minggu terakhir. Lalu untuk apa lelaki itu datang kemari padahal baru tadi pagi dia keluar dari rumah ini?

“Kenapa aku di sini? Ini rumahku! Seharusnya pertanyaan itu kamu lemparkan pada dia.” Jiro menunjuk Marvin dengan marah.

Marvin mundur menjauh dan mengangkat kedua belah telapak tangannya. Well, sebelumnya, Marvin memang sudah mengetahui tentang Ellisabeth Williams yang merupakan istri dari seorang Bassis terkenal yang bernama Jiro The Batman. Tapi hal itu tak serta merta membuat Marvin mengundurkan diri atau memupus ketertarikannya dengan sosok Ellie. Kecantikan Ellie bahkan mampu membutakan mata Marvin bahwa wanita itu sudah menjadi istri orang. Yang membuat Marvin tak mengerti adalah, kenapa Jiro menyembunyikan istri secantik ini dari publik? Apa pria itu gila?

“Aku disini karena diminta.” Marvin menjawab dengan tenang.

“Diminta?” Jiro mendekat ke arah mereka berdua. Tatapan mata Jiro menajam ke arah Ellie. Jika dulu Ellie akan takut, maka tidak sekarang. “Kenapa kamu memintanya kemari?”

Ellie berusaha mengendalikan dirinya, bahkan ia bersikap seolah-olah tak mempedulikan kemarahan yang tampak jelas terlihat di wajah suaminya.

“Kamu nggak lihat semua ini, James?” ucap Ellie sembari menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Mobil Mei mogok, dan Mei memintanya untuk menjemputku dan mengantarku pulang.” Ellie menjelaskan dengan nada malas.

“Kenapa harus dia?!” tanya Jiro lagi dengan nada yang masih meninggi.

“Kenapa harus dia?” Ellie mengulang lagi pertanyaan Jiro. “Karena suamiku lebih sibuk dengan karir sialannya dibandingkan denganku. Apa kau puas?” Ellie menjawab dengan marah.

Marvin yang berada di sana merasa sedang terjebak diantara dua gunung berapi yang sedang memuntahkan lava.

“Karirku tidak sialan, Ellie!”

“Ya, mungkin tidak. Tapi perempuan-perempuan itu yang membuatnya menjadi sialan dimataku.”

Pada detik itu, Jiro tahu bahwa Ellie ternyata mendengar gosip murahan tentang dirinya dan juga Vanesha. “Jadi kamu cemburu karena gosip-gosip itu?”

“Tidak. Cemburu adalah hal yang sangat kekanakan.”

“Jadi menurutmu aku kekanakan?” dengan spontan Jiro bertanya.

“Jika kamu merasa sedang cemburu, maka ya, kamu kekanakan.” Ellie menjawab dengan santai.

“Aku tidak kekanakan, aku cemburu karena istriku disentuh oleh lelaki lain! Apa itu salah?”

“Oh yang benar saja. Dia hanya menyentuh pipiku, sedangkan kamu. Kamu berciuman dengan perempuan itu!” Ellie berseru keras tak dapat menahan emosinya ketika mengingat gosip yang ia dengar sejak dua hari belakangan. Sungguh, Ellie sangat marah, apalagi kabar tentang Jiro yang keluar dari apartmen wanita itu pagi-pagi buta dan tertangkap oleh kamera wartawan. Untuk apa Jiro berada di sana?

Kali ini, Jiro mengerti kemarahan Ellie bersumber dari mana. Meski begitu, Jiro tahu bahwa hal itu tak membenarkan apa yang dilakukan Ellie tadi. Berduaan dengan lelaki lain di rumah mereka.

Jiro menatap Marvin dengan tatapan membunuhnya. “Gue pikir, mending elo keluar. Gue mau bahas sesuatu dengan istri gue, hanya berdua.” Ucap Jiro dengan penuh penekanan terhadap Marvin.

“Kenapa kamu mengusirnya?” Ellie bertanya.

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Tak ada yang perlu dibahas.” Ellie mengibaskan telapak tangannya seakan tak ingin mendengar apapun penjelasan dari suaminya.

Mata Jiro kembali menatap tajam ke arah Marvin, dan lelaki itu akhirnya mengalah. Ia megerti bahwa ini bukan saat yang baik untuk melanjutkan rencananya menggoda Ellie.

“Oke, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa menghubungiku.” Ucap Marvin pada Ellie.

“Dia tidak akan membutuhkan apapun!” Jiro berseru dengan penuh penekanan.

Sungguh, Jiro tak suka dengan lelaki itu. Caranya menatap Ellie membuat Jiro marah. Dan reaksi yang ditampilkan istrinya itu membuat Jiro tak dapat menahan segala emosinya. Ellie hanya miliknya, dan Jiro tak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyentuh tubuh istrinya tersebut.

-TBC-

Special Pict mereka berdua nihhh aku editin special buat kalian, hahhahaha

Advertisements

Sleeping with my Friend – Bab 7

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 7

 

Jessie mengambilkan beberapa gelas untuk sampanye yang dibawakan oleh Frank, kakaknya. Sesekali matanya melirik ke arah ruang tamunya. Disana, Frank duduk dengan santai bersama Steve di sebelahnya, sedangkan Henry memilih duduk di sofa yang lainnya.

Frank memang kurang akrab dengan Henry, karena kekasihnya itu memang jarang bisa diajak kumpul bersama. Tentu saja karena pekerjaan lelaki itu yang tak bisa ditinggal begitu saja.

Saat Jessie menuju ke arah ruang tengah dengan empat gelas dan juga seember es batu, saat bersamaan panggilan kerja Henry berbunyi. Sebuah benda kecil yang akan berbunyi jika ada pasien yang membutuhkan pertolongannya.

Henry menatap Jessie dengan penuh penyesalan. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan Jessie dan juga Frank tentunya, tapi apa daya, pekerjaan telah memanggilnya.

“Kau akan pergi?” tanya Jessie kemudian.

Henry berdiri dan menuju ke arah Jessie. “Maaf, sebenarnya aku ingin lebih lama lagi. Kau tentu tahu.”

Jessie mengangguk. Jemari henry terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. Kemudian tanpa canggung sedikitpun ia mengecup singkat bibir Jessie. “Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu, Jess. Aku hanya ingin kau tahu tentang itu.”

Jessie tersenyum. “Aku mengerti.”

Henry lalu menatap ke arah Frank. “Kuharap, kau mengundangku lain kali. Dan kupastikan saat itu aku sedang bebas dari tugas.” Ucap Henry lamah sebelum pamit undur diri.

Beberapa menit kemudian setelah kepergian Henry. Suasana di ruang tengah apartmen Jessie sepi. Jessie sibuk membuka tutup sampanye, Steve sibuk dengan perasaannya, sedangkan Frank memilih mengamati keduanya.

“Apa ada yang kulewatkan disini?” Frank membuka suara hingga Jessie menatap ke arah kakaknya tersebut.

“Apa?” tanya Jessie berpura-pura tak mengerti.

“Hubungan kalian, kenapa jadi secanggung ini?”

Steve masih diam. Ia tak ingin membuka suara. Pikirannya masih jatuh pada kejadian sebelumnya, dimana Jessie dan kekasihnya sedang mencumbu mesra, dimana Steve tahu bahwa mereka saling mencintai sedangkan ia tak memiliki apapun untuk diperjuangkan.

“Frank, bukankah kau datang kemari untuk merayakan bukumu yang lagi-lagi difilmkan? Kenapa kau tidak menceritakan saja buku mana yang akan difilmkan itu.” Jessie mencoba menghindari topik pembicaraan. Ia tidak suka kakaknya ikut campur urusan mereka.

Well, Ya. Salah satu buku misteriku. Dan kau tahu, siapa produser fimnya?” Jessie menggelengkan kepalanya. “Warner Bros.” lanjut Frank.

“Wow, itu keren.” Jessie bertepuk tangan. “Ini memang harus dirayakan, Frank.”

Steve masih memberengut di ujung sofa.

“Kau yakin kalian tidak ada masalah.”

“Ya. Sebenarnya kami baik-baik saja. Mungkin Steve sedang ada masalah di tempat kerjanya.” Jessie mencoba menutupi permasalahan mereka. Lagipula Jessie tak mengerti kenapa Steve memberengut kesal seperti anak kecil. Memang apa salahnya?

“Kami sedang bermasalah.” Steve menjawab cepat. Entah kenapa ia ingin menunjukkan pada Frank tentang apa yang terjadi diantara mereka.

“Steve. Apa yang kau bicarakan?” sungguh, Jessie ingin Steve bisa lebih dewasa lagi menyikapi permasalahan mereka. Itu hanya terjadi diantara mereka. Jessie tak ingin keluarganya ikut campur diantara masalah mereka.

“Kau bisa saja bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apapun diantara kita. Tapi aku tidak! Bagaimanapun juga-”

“Steve!” Jessie berseru keras memotong kalimat Steve sembari berdiri.

Steve ikut berdiri “Kenapa? Kau ingin aku diam saja dan tidak mengungkapkan semua kekesalanku?” Steve mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Sungguh, bukan ini yang ia inginkan. Tapi mengingat bagaimana Jessie mampu dengan mudah bercumbu dengan pria lain setelah malam panas bersamanya sedangkan dirinya setiap saat gila memikirkan Jessie, benar-benar membuat Steve marah.

Frank yang duduk diantara keduanya hanya membiarkan saja, ia bahkan menuang sampanye dan menyesapnya dengan santai sembari memperhatikan lelaki dan perempuan yang sedang beradu urat di hadapannya.

“Lebih baik kau keluar.”

“Oh, tidak bisa. Aku sudah berjanji bahwa aku akan menyelesaikan semuanya malam ini juga.”

“Apa yang ingin kau selesaikan?” Jessie menantang. Persetan jika Frank mengetahui tentang hubungan mereka.

“Hubungan sialan kita.”

Well. Kita tidak memiliki hubungan kecuali pertemanan. Hanya itu.”

Steve tertawa mengejek. “Benarkah? Kau tidak ingat bahwa aku sudah menidurimu Tiga minggu yang lalu?”

“Bajingan kau, Steve!”

“Ya, aku memang bajingan. Dan kau sialan! Kau tahu, aku tidak ingin lagi berteman denganmu.”

“Terserah kau saja.”

“Kau juga ingin mengakhiri pertemanan ini?” tanya Steve. “Bagus. Ini lebih baik. Jadi aku tak perlu lagi bertemu denganmu.”

“Kalau begitu kau boleh keluar.”

Steve tak percaya. “Kau mengusirku?”

“Apa lagi yang kau inginkan?” nada suara Jessie masih meninggi.

Steve mengusap rambutnya kasar. “Brengsek! Kau pikir aku tahu apa yang kuinginkan? Jika keinginanku sesederhana menidurimu, maka aku tak akan repot-repot datang merangkak padamu untuk memperbaiki hubungan kita.”

“Jadi kedatanganmu kemari untuk memperbaiki hubungan kita? Inikah yang kau sebut memperbaiki hubungan? Kau sudah menghancurkannya, Morgan!” Jessie berseru keras.

“Kau yang lebih dulu menghancurkanku!” Steve tak tahu apa yang sudah dia katakan.

“Apa?” Jessie tak mengerti.

Well. Kupikir kalian perlu bicara baik-baik tanpa mengeluarkan urat.” Frank berdiri menengahi keduanya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Steve berkata penuh penekanan. Matanya masih menatap tajam ke arah Jessie.

“Ya, akupun demikian. Tak ada yang perlu dibicarakan.” Jessie setuju dengan apa yang dikatakan Steve, bagaimanapun juga, Steve keterlaluan karena sudah mengatakan hubungan semalam mereka dihadapan Frank.

Tanpa bicara lagi, Steve meninggalkan apartmen Jessie. Membanting pintuya hingga berdentum. Kemarahan jelas terpancar di wajah lelaki itu. Dan Jessie tak peduli. Ia juga marah terhadap Steve yang tampak sangat kekanakan.

***

Jessie berdiri di depan bak cuci piring dengan segelas sampanye. Ia meminumnya lagi dan lagi, dengan sedikit menenangkan pikirannya. Frank masih duduk di ruang tamunya, dan Jessie tak peduli.

Brengsek Steve! Bagaimana mungkin lelaki itu meninggalkannya dalam keadaan seperti ini? Jessie tak tahu bagaimana caranya menghadapi Frank yang pastinya akan menuntut penjelasan tentang apa yang sudah dikatakan Steve tadi.

Meski ia sudah dewasa dan dan Frank tak akan ikut campur tentang masalahnya yang paling pribadi, tapi Jessie tahu, bahwa Frank pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” tanya Frank yang ternyata sudah duduk di bar dapur, tepat di belakang Jessie.

“Kau, masih disini?” Jessie berharap Frank sudah pergi dan melupakan semuanya.

“Kau berharap aku pergi?” tanya Frank, Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. “Dengar, Jess. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan Steve. Dan aku tak mau tahu hubungan intim kalian. Hanya saja, kalian sudah dewasa. Kalian menyelesaikan ini seperti anak-anak. Saling memaki dengan emosi masing-masih.”

“Dia yang memulainya dulu, Frank. Kau ada di sana, kau tentu tahu dia dulu yang memulainya.”

“Dan kau tidak tahu kenapa dia marah denganmu?”

“Aku tak peduli. Dia memang selalu marah-marah tak jelas.”

“Jess. Dia melihatmu berciuman dengan Henry di depan pintu.” Frank berkata dengan nada sungguh-sungguh.

“Lalu apa masalahnya? Aku sering melakukan itu. Kami akan menikah, jadi sangat wajar kalau kami saling berciuman.”

“Kau, benar-benar tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?”

“Aku tak mau mendengarnya.” Jessie membalikan tubuh membelakangi Frank.

“Dia cemburu, Jess.”

“Tidak.”

“Dia menyukaimu.”

“Hentikan, Frank!” Jessie berbalik dan menatap sengit ke arah kakaknya. “Kau pikir aku gadis kecil yang bisa kau bodohi? Steve hanya suka perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumpah dari branya. Aku mengenalnya! Jadi aku tahu siapa dan orang seperti apa yang dia sukai.”

Frank tersenyum miring. “Kau juga menyukainya, Jess.”

“Oh Frank. Tidak bisakah kau meninggalkan aku sendiri? aku ingin sendiri tanpa memikirkan apapun tentang seorang Steven Morgan!”

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi jika ada sesuatu, kau tahu harus kemana. Ingat, aku hanya beberapa blok dari sini. Jadi jangan menyembunyikan apapun dariku. Oke?”

Meski kesal, Jessie merasa sangat senang karena memiliki kakak yang begitu perhatian dengannya. Jessie mengantarkan Frank hingga pintu. Setelah Frank memasuki lift, Jessie segera kembali masuk ke dalam apartmennya. Ia menguncinya kemudian segera menuju ke arah kamar.

Entah Kenapa Jessie ingin menangis. Menenggelamkan diri diantara bantal dan selimutnya. Astaga, semuanya tak bisa tertolong lagi. Pertemanannya dengan Steve tak akan bisa tertolong lagi. Jessie tahu itu.

***

Dua bulan kemudian…

Semuanya menjadi kacau. Jessie berdiri di depan cermin dengan wajah pucatnya. Jemarinya saling meremas satu sama lain karena kegugupan yang melandanya. Ia sudah merias diri secantik mungkin, tapi ia berpikir bahwa malam ini ia sama sekali tidak cantik. Matanya sembab karena menangis berhari-hari. Astaga, apa yang sudah terjadi dengan dirinya?

Dua minggu yang lalu, Jessie bahkan mengurung diri selama beberapa hari dan enggan keluar. Itu karena penyakit barunya, yaitu masuk angin. Ya, Jessie lebih suka menyebutnya seperti itu. Ia masuk angin karena setiap hari harus mual muntah, dan Jessie tahu bahwa tak lama lagi perutnya akan menggembung sebesar bola basket.

Karena hal itulah hari ini ia baru berani memutuskan untuk makan malam bersama kekasihnya. Jessie akan mengakhiri semuanya, karena Jessie tak ingin melanjutkan pernikahannya dengan Henry dalam keadaaan seperti sekarang ini.

Mengingat itu, kegugupan kembali terasa. Astaga, Jessie tak sanggup. Sungguh.

Bajingan Steve! Kenapa lelaki itu harus meninggalkan sebagian dari dirinya untuk tumbuh di dalam perutnya? Lebih bajingan lagi, karena setelah pertengkaran hebatnya dua bulan yang lalu, Steve seperti tak ingin lagi bertemu dengannya.

Beberapa kali, mereka bertemu, di basement, di depan lift, di tempat kerja. Tapi temannya yang bajingan itu tampak enggan menatapnya. Steve tidak berbicara sama sekali dengannya, dan Demi Tuhan! Jessie juga tak ingin berbicara dengan lelaki itu.

Frank berkali-kali menghubunginya dan menanyakan hubungan mereka, tapi Jessie hanya mengatakan bahwa mereka sudah selesai. Nanti, setelah menyelesaikan hubungannya dengan Henry, Jessie akan menelepon Frank dan juga ayahnya, bahwa semuanya benar-benar telah usai.

Jessie menghela napas panjang. Pada saat bersamaan ia mendengar bunyi ketukan pintu. Henry sudah datang, dan Jessie harus benar-benar siap dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Beberapa menit berlalu, mereka sudah berada di dalam mobil Henry, menuju ke sebuah restoran Prancis. Diam tanpa kata, sunyi, hening, dan hal itu membuat suasana menjadi canggung.

Henry tahu jika ada yang berbeda dengan Jessie, sejak dua minggu yang lalu, wanita ini berubah, dan Henry berharap malam ini berjalan dengan lancar hingga bisa memperbaiki hubungannya dengan Jessie.

Memasuki restoran, keduanya masih saling berdiam diri, bahkan hingga seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Jessie memesan beberapa hidangan utama hingga membuat Henry mengerutkan keningnya.

“Kau kelaparan?” tanyanya setelah si pelayan pergi.

“Mungkin.” Hanya itu jawabannya.

Terdengar helaan napas panjang dari Henry. “Jadi, ada yang ingin kau bahas?”

Tentu saja ada, tapi Jessie merasa bahwa ia takut mengutarakannya. “Lebih baik kita makan dulu. Aku tidak ingin pesanan kita tak termakan setelah aku mengutarakan maksudku.”

Henry merasa bahwa Jessie akan mengatakan sesuatu yang penting hingga wanita itu tampak menyiapkan diri. Apa yang akan dikatakan Jessie padanya.

Makan malam berlangsung dengan hening. Sesekali Henry bertanya tentang apa yang dilakukan Jessie sepanjang hari ini, dan Jessie hanya menjawab tanpa bertanya balik kepada Henry.

Waktu cukup singkat, karena tak ada juga yang mereka bicarakan. Setelah menyantap Raspberry Clafoutis sebagai makanan penutupnya, Jessie merasa bahwa perutnya sudah penuh. Apa perutnya sekarang sudah menggembung? Tidak! Jessie berharap bahwa hal itu tidak terjadi.

Hingga masuk kembali ke dalam mobil Henry, Jessie belum juga mengatakan maksud hatinya. Ia tidak bisa, Demi Tuhan ia tidak bisa mengatakannya. Jessie menyayangi Henry, ia tidak bisa membatalkan pertunagan mereka karena penyakit masuk anginnya ini.

Henry akan sangat hancur, dan Jessie tak bisa melihat hal itu terjadi.

“Jess. Ada yang kau pikirkan?”

Karena melamun sepanjang jalan, Jessie bahkan tidak sadar jika mereka sudah berada kembali di basement gedung apartmennya.

“Ya?”

“Ada yang ingin kau katakan? Kau tampak pucat, dan tertekan.” Ucap Henry dengan lembut.

Jessie ingin menangis, sungguh. Kapan lagi ia memiliki kekasih yang begitu pengertian seperti Henry? Dia adalah lelaki sempurna. Tampan, dokter, pengertian, dan begitu menyayanginya. Dan kini, ia akan mencampakan lelaki itu. Tuhan! Bagaimana mungkin semuanya berakhir seperti ini?

Belaian tangan Henry pada puncak kepalanya membuat Jessie mengangkat wajahnya dan menatap Henry dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia harus, karena ia menyayangi Henry, ia harus memutuskan pertunangan mereka demi lelaki itu.

“Kupikir, kupikir, kita sampai disini saja.” Suara Jessie hampir tak terdengar.

“Apa maksudmu, Jess?”

Jessie tak dapat menahan luapan airmatanya. Beberapa hari terakhir ia memang tak dapat menahan diri untuk tidak menangis. Dan Jessie tahu bahwa ini karena penyakit masuk anginnya.

“Kau menangis. Ada apa, Jess?”

“Henry. Aku ingin semuanya selesai. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku masuk angin, Karena tubuhku akan membengkak beberapa bulan kedepan, karena aku akan, aku akan… Astaga, aku akan memiliki bayi.” Jessie menangis, sedangkan Henry tercengang. Henry merasa baru saja dijatuhi sebuah bom tepat di kepalanya.

Jessie hamil? Dan wanita itu ingin memutuskannya? Ya Tuhan! Henry tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

 

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 3

Comment 1 Standard

 

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

***

 

Bab 3

 

 

“Kau hanya perlu bilang jika kau butuh minum, maka aku akan mengajakmu berpesta dengan wanita-wanita tadi.” Ucap Steve saat ia sudah mempersilahkan Jessie duduk di bar kecilnya dan menuangkan minuman beralkohol untuk Jessie.

“Kau gila? Aku tidak akan mau berpesta dengan kalian. Apalagi sampai melihat kalian telanjang satu sama lain.”

“Itu keterlaluan, Jess. Aku tidak mungkin telanjang di hadapanmu.”

“Tapi kau melakukannya kemarin.” Jessie menjawab cepat sembari menenggak minuman yang dituangkan Steve hingga tandas.

“Wow, wow, wow, Hei, apa yang terjadi denganmu, gadis biara? Kau tak pernah minum sampai seperti ini.”

“Aku benar-benar butuh minum, Steve.” Ucap Jessie lagi kali ini yang sudah menuangkan minuman kembali pada gelasnya. Secepat kilat, Steve menghalangi Jessie hingga mata Jessie menatap ke arah lelaki itu.

“Apa kau sudah gila? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Steve dengan raut wajah seriusnya. Ia tak pernah melihat Jessie minum seperti ini. Mungkin mereka pernah minum bir bersama tapi tidak dengan cara bar-bar seperti saat ini.

“Aku mengacaukan semuanya.” Jessie mendesah panjang.

“Apa maksudmu?” tanya Steve kemudian.

 

“Henry. Dia pergi setelah aku menolaknya. Astaga, kami bahkan sudah merencanakan malam ini.”

Steve kesal jika membahasnya, tentu saja. Tapi dia juga senang saat memikirkan bahwa Jessie dan laki-laki bajingan itu tidak jadi melakukan rencana mereka.

“Oke, aku tahu.” Steve mendekatkan kursinya pada Jessie, memutar kursi Jessie hingga wanita itu menghadap ke arahnya. “Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu menolaknya padahal kau sudah merencanakannya?”

“Aku tidak tahu.”

“Jess, masalah tidak akan selesai saat kau sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan.”

Jessie kembali mendesah panjang. “Masalahnya, aku merasa belum siap. Dan astaga, aku takut mengecewakannya.”

Steve mendengus sebal. “Kan aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku bisa membantumu.”

“Aku tidak sedang bercanda, Steve.” Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve.

“Kau pikir aku sedang bercanda? Jika masalahnya adalah kepercayaan dirimu, maka kau bisa meminta bantuan padaku. Kau meragukan pengalamanku?”

Jessie berdiri seketika. “Sepertinya aku salah datang kemari.”

“Jess, Jess.” Steve meminta Jessie duduk kembali. “Oke, aku tidak akan mengatakan apapun tentang ide gila itu lagi.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Maaf.” Ucapnya kemudian.

Jessie memutar bola matanya, ia kembali meminum minuman di hadapannya, sedangkan Steve, ia hanya mengamati temannya itu dari tempatnya duduk.

Jessie tampak kacau, tapi sialnya, hal itu tak mengurangi daya tarik dari wanita itu. Jika boleh jujur, bagi Steve, Jessie adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat. Sebagai designer, pakaian Jessie tentu selalu fashionable, tapi saat santai di rumah, wanita itu selalu tampak sederhana. Make up yang dikenakan Jessie pun tergolong wajar. Tak seperti kebanyakan teman kencannya yang tampak terlalu tebal. Dan Stve juga berani jamin jika semua yang ada pada diri Jessie adalah asli. Tak mungkin ada silikon di hidung mancung wanita itu, dan tak mungkin juga payudara Jessie yang tampak padat menggoda itu berisi dengan implan-implan sialan seperti milik teman-teman kencannya.

Sial! Kenapa juga ia berpikir tentang implan?

“Kau, benar-benar menyukainya?” tanya Steve kemudian.

“Henry? Jika tidak, aku tak mungkin menerima lamarannya.”

Steve menganggukkan kepalanya. Sedangkan Jessie masih meminum minumannya lagi dan lagi. Steve kembali menatap ke arah Jessie, wanita itu sedang sibuk menatap ke arah minumannya hingga tak sadar jika saat ini Steve sedang mengamati setiap inci dari wajahnya.

“Kau tahu, Steve. Kadang aku merasa iri denganmu.” Ucap Jessie yang saat ini sudah menolehkan kepalanya ke arah Steve. Ia sempat terkejut saat mendapati Steve yang ternyata sedang mengamati wajahnya. Secepat kilat Jessie memalingkan wajahnya. Ia tak pernah melihat Steve menatapnya seperti itu.

“Apa yang membuatmu iri?” tanya Steve kemudian.

Entah perasaan Jessie saja atau memang ia mendengar suara Steve yang sudah terdengar parau di telingannya. “Kau, bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Meniduri banyak wanita tanpa beban. Dan aku…”

“Semua itu pilihan, Jess. Lagi pula aku pria. Kau wanita. Aku tidak mau membayangkan jika kau sama bejatnya denganku.”

“Tentu saja aku tidak akan memilih jalan itu. Maksudku, kenapa kau bisa melakukan hal itu? Apa kau tidak merasa berdosa sedikitpun?”

“Tidak. Toh aku tidak tidur dengan perempuan baik-baik.”

Ya, Jessie tahu kenyataan itu. Pacar Steve biasanya bukan wanita baik-baik. Mungkin karena itulah Jessie bisa memaklumi keberengsekan temannya ini.

Jessie kembali meminum minumannya. Pikirannya melayang entah kemana. Ia masih sedih karena rencananya dengan Henry batal. Tapi disisi lain, ia merasa lega karena ada Steve yang menemaninya.

Kemudian Jessie melihat Steve berdiri, lelaki itu tiba-tiba saja membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Jessie menelan ludah dengan susah payah. Ia memang sering melihat tubuh telanjang Steve, tapi entah kenapa malam ini ia merasa tubuh itu tampak indah dan menggairahkan.

Steve berjalan menjauhinya, menuju ke arah lemari pendingin. Membungkukkan tubuhnya entah mengambil apa dari sana. Demi Tuhan! Baru kali ini Jessie melihat Steve tampak begitu berbeda.

Jessie merasakan pusat dirinya berkedut seketika. Apa ini ada hubungannya dengan minuman yang baru saja ia minum? Jessie megamati minumannya, berharap bahwa pemikiran kotor yang baru saja melintasi kepalanya segera hilang.

Tapi sialnya, itu hanya harapan Jessie saja. Saat Steve melangkah ke arahnya, pada saat itulah Jessie merasa jantungnya berdebar tak menentu. Ia tidak pernah melihat tubuh Steve setegap itu. Pikir Jessie, dada lelaki itu tidak sebidang saat ini. Jessie juga tak pernah melihat bahwa Steve memiliki otot-otot perut yang tampak menggoda, bahkan lengan lelaki itu, Oh, Jessie tiba-tiba berpikir bagaimana lengan kekar itu melingkari tubuh mungilnya.

Jessie kembali menelan ludah dengan susah payah. Ia tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa reaksinya saat melihat Steve seperti itu membuat Jessie kalang kabut. Ini bukan pertama kalinya Steve bertelanjang di hadapannya, tapi kenapa Jessie merasakan perasaan seperti ini untuk yang pertama kalinya?

Segera Jessie memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena kepanasan ke arah minumannya. Ia kembali menenggak minumannya, dan hal tersebut membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

“Kau, baik-baik saja, kan?” tanya Steve sembari mendaratkan telapak tangannya pada pundak Jessie.

Pada detik itu, Jessie merasakan aliran listrik bersumber dari telapak tangan Steve. Ia menolehkan kepalanya menatap ke arah telapak tangan temannya itu. Jessie lalu menatap Steve dengan tatapan anehnya.

“Kenapa kau menyentuhku?” tanya Jessie dengan spontan.

“Menyentuh?” tanya Steve tak mengerti. Steve menatap tangannya pada pundak Jessie, lalu mengangkatnya dengan spontan. “Aku tak mengerti apa maksudmu.” Ucap Steve bingung.

Steve melihat wajah Jessie sudah merah merona, seperti sedang kepanasan. Memangnya apa yang sedang terjadi? Steve kembali bangkit mencari remote AC untuk mendinginkan ruangan tengah apartmennya. Tapi saat Steve akan pergi, Jessie dengan spontan menggapai lengan Steve hingga membuat lelaki itu menatap ke arahnya penuh tanya.

Jessie tersenyum malu. “Kau tahu, Steve. Untuk sesaat, aku memikirkan tentang ide gilamu itu.”

“Maksudmu?” dengan spontan Steve bertanya.

Jessie mengangkat kedua bahunya. “Well, tidur bersama. Astaga, apa sih yang sedang kupikirkan?” Jessie akhirnya memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu. tapi secepat kilat Steve menangkup kedua pipi Jessie, memaksa wanita itu menghadap ke arahnya, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Steve menyambar bibir ranum Jessie.

Oh, Steve tak pernah merasakan bibir selembut itu bahkan di dalam fantasinya. Ia merasakan Jessie membalas cumbuannya, wanita itu bahkan sudah ikut berdiri dan mengalungkan lengannya pada leher Steve.

“Ohh Jess,” Steve mengerang ketika gairahnya mulai terbangun dengan sendirinya.

“Steve… Steven…” Jessie pun ikut mengerang saat ia merasakan gairah yang sama dengan apa yang dirasakan Steve. Keduanya dimabuk oleh gairah, dibutakan oleh rasa primitif yang menghilangkan akal sehat mereka.

***

Pagi sialan yang sangat canggung.

Sebenarnya, Jessie ingin sekali pergi dari meninggalkan kamar Steve saat lelaki itu masih tidur pulas. Tapi nyatanya, lelaki itu seakan tak membiarkan dirinya pergi karena ketika Jessie bergerak, Steve seakan mengeratkan pelukannya pada tubuh telanjang Jessie.

Kini, Jessie merasa terjebak dalam suasana sialan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa sangat canggung saat berhadapan dengan Steve. Bayang-bayang panas kejadian semalam membuatnya tak dapat berkutik. Tapi kenapa Steve seakan tak canggung sedikitpun?

Saat ini, Steve sedang sibuk membuat sesuatu di dapurnya. Lelaki itu bahkan tak malu bertelanjang dada di hadapannya.

Malu? Ayolah Jess, bukankah kau tahu bahwa temanmu itu memang tak punya malu? Kau saja yang terlalu terbawa suasana.

Jessie sempat berpamitan pulang tadi, tapi Steve memaksa dirinya untuk sarapan bersama sebelum pergi. Karena Steve begitu santai, maka Jessie tak bisa menolak dan bersikap sesantai mungkin meski sebenarnya dalam dirinya terjadi bergulatan batin tentang apa yang ia rasakan saat ini terhadap sosok Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah Steve datang menghampirinya dan menyuguhkan dua potong roti isi bacon panggang, keju dan juga selada.

“Aku hanya memiliki itu di dalam lemari pendingin.” Ucap Steve yang saat ini sudah duduk tepat di hadapan Jessie. “Kuharap kau mau memakannya.”

“Oh Steve, kau tak perlu repot-repot. Aku bisa makan di tempat kerjaku nanti.”

“Tidak segampang itu, Jess. Ada banyak hal yang harus kita bahas.”

Jessie menghela napas panjang. “Apa lagi?”

Steve sedikit tersenyum. “Kau, tampak tak nyaman, Jess. Kenapa? Karena aku sudah ‘membaptismu’ semalam?”

“Ayolah! Berhenti menggodaku. Sekarang katakan, apa yang ingin kau bahas denganku.” Jessie memberengut kesal.

Dengan santai, Steve menyantap roti miliknya. “Yang pertama, kau sungguh luar biasa. Kau tak perlu merasa tak percaya diri lagi saat akan melakukannya dengan Henry nanti. Oke?”

Dan setelah aku tidur denganmu, aku bahkan melupakan tentang Henry. Pikir Jessie dalam hati.

“Tubuhmu, payudaramu, semuanya…”

“Cukup!” Jessie memotong kalimat Steve. “Kau mau memancingku, ya? Jangan bahas apapun tentang bagian tubuhku!” sungguh, Jessie merasa kesal dengan Steve saat temannya itu secara terang-terangan menyebutkan bagian tubuhnya. Jika Steve menceritakan tentang bagian tubuh teman kencannya, Jessie tak akan peduli. Masalahnya, yang dibahas Steve saat ini adalah payudaranya. Hal itu membuat Jessie malu, sangat malu.

Steve mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. Aku hanya ingin mengatakan kalau semuanya asli. Dan pria manapun akan mengagumimu.”

“Memangnya kau pikir aku perempuan yang gemar mengkoleksi implan di tubuhku? Yang benar saja.” Jessie memutar bola matanya jengah. Ia meraih kopinya kemudian meminumnya sedikit.

Steve tak dapat menahan tawanya. “Tapi ada hal serius lagi yang harus kita bahas, Jess.”

“Apa lagi? Kau tidak berharap aku akan melakukan hubungan itu denganmu lagi, bukan?”

Steve tersenyum. “Sejujurnya, aku masih ingin. Kau tahu sendiri bukan, bagaimana gilanya kita semalam. Meski sudah berkali-kali, tapi aku masih ingin.”

“Jangan bermimpi! Aku tidak akan tidur denganmu lagi.” Jessie menjawab dengan ketus.

Steve tertawa lebar. “Ingat, kau yang mengajakku.”

“Sepertinya lebih baik aku pulang.” Jessie sudah berdiri tapi Steve segera menghentikan pergerakan Jessie dengan menyambar pergelangan tangan temannya itu.

“Oke, aku akan bersikap baik dan membahas hal ini dengan serius.”

“Ya. Dan cepat.” Lanjut Jessie. “Demi Tuhan! Aku harus segera ke kantor, Steve.”

Steve menganggukkan kepalanya. Ia meminum kopinya sebelum mulai membuka suaranya kembali. “Kuharap, kau sudah memasang sesuatu di dalam tubuhmu, atau mungkin meminum pil.” Ucapnya dengan serius.

“Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

Well, karena terbawa suasana, dan terlalu menikmati, aku tidak menggunakan pengaman.”

“Kau apa?” Jessie terperanjat dengan ucapan Steve.

“Dan, berkali-kali.” Lanjut Steve dengan cengiran sialannya.

Jessie berdiri seketika. “Kau gila? Kau adalah playboy cap kakap, Steve! Bagaimana mungkin kau melupakan hal seserius itu?” tentu saja Jessie terkejut. Semalam ia tak memikirkan apapun saat Steve meledak di dalam dirinya. Karena ia terlalu menikmati rasa yang baru saja ia rasakan.

“Aku terlalu menikmatinya, Jess. Dan kupikir kau sudah menyiapkan diri. Mengingat kau akan melakukannya dengan kekasih Gaymu itu.”

“Aku tak mempersiapkan apapun, oke?!” seru Jessie dengan marah sembari mengusap wajahnya dengan frustasi.

Steve ikut berdiri. “Maksudmu, kau membiarkan dirimu tidur dengannya tanpa pengaman dan berharap jika kau akan memiliki bayi bersamanya.”

“Kau terlalu jauh, Steve. Lagi pula, aku tidak tidur dengannya, tapi denganmu!”

“Tapi kau berharap tidur dengannya tadi malam, Jess!” entah kenapa Steve merasa sangat marah. Kenyataan bahwa Jessie tidak mengamankan dirinya sendiri saat sudah merencanakan akan tidur dengan seseorang membuat Steve sangat marah.

Jessie menatap Steve penuh tanya. “Jadi ini adalah salahku?”

“Ya. Kau yang salah karena kau tidak meminum pil-pil sialan itu saat kau sudah merencanakan untuk tidur dengan kekasihmu!” Steve tak bisa menahan emosinya.

Jessie menatap Steve dengan tatapan tak percayanya. Sungguh, ia tak menyangka jika Steve akan seberengsek ini padanya. Tanpa banyak bicara lagi, Jessie memilih membalikkan tubuhnya kemudian meninggalkan Steve begitu saja.

Yang bisa dilakukan Steve hanya berdiri ternganga. Ia bahkan tak mengejar Jessie. Rasa frustasi menyergapnya begitu saja. Dengan spontan, Steve menendang salah satu kursinya karena emosi. Berengsek! Apa yang sudah kau lakukan? Steve mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

-TBC-

My Sex(y) Partner – Bab 1

Comment 1 Standard

yeaayyyy mana yang nungguin Troy dan kawan2 bejatnya?? hahahhahah untuk Jiro dan Ken, sabar yaa… aku cuma mau pamerin Prolognya aja dulu, karena aku mau pokus kalian gak banyak terbagi. hahahahahah Yang nunggu Mr. Morgan di Sleeping with my friend, bakal aku update insha allah malam minggu yaa… yeaaayyyyyy happy reading. muaahhhhh

 

Bab 1  

 

Sambil mengetatkan gerahamnya, Troy mendekap wanita setengah telanjang yang berada di hadapannya tersebut. Hari sudah semakin sore, tapi pemotretan sialan ini belum juga rampung. Troy benar-benar kesal karena beberapa jam terakhir dirinya mengetat nyeri tak tertahan. Semua tentu karena keindahan sempurna yang terpampang jelas di hadapannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah, bahwa wanita di hadapannya ini malah tampak tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran dirinya.

One, two, three, oke. Sip.” Akhirnya, si fotografer sialan di hadapannya itu menyatakan jika tangkapan kameranya yang terakhir selesai.

Troy menghela napas panjang, dan secepat kilat ia melepaskan tubuh si wanita seksi di hadapannya kemudian dengan terburu-buru, ia keluar dari dalam kamar tersebut lalu menuju ke arah kamar mandi.

“Elo mau ngapain Troy?” tanya salah seorang kru dengan nada mengejek.

“Berengsek!” Troy hanya menjawab dengan sebuah umpatan khasnya.

***

Setelah pekerjaan tersebut selesai, semuanya menuju ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Sejak tadi, mata Troy tak pernah lepas menatap ke arah wanita yang sejak tadi pagi sudah membuatnya tergoda, wanita yang yang bernama Alice Philips. Wanita yang membuatnya mau tak mau mencapai klimaks di dalam kamar mandi dengan dibantu oleh jemarinya sendiri. Sialan! Dan yang lebih membuat Troy penasaran dengan wanita tersebut adalah, bahwa wanita itu tampak sama sekali tak memperhatikannya.

Kenapa? Apa wanita itu tak tahu siapa dirinya?

Pada saat bersamaan, wanita itu menatap ke arahnya. Troy mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangkat gelas anggurnya, seakan mengajak wanita itu bersulang.

***

Alice, yang berada di seberang meja, akhirnya ikut mengangkat gelasnya yang berisi Jus jeruk saat ia melihat Troy mengangkat gelas anggur ke arahnya. Alice tersenyum, lalu menenggak jus tersebut, matanya lalu menatap ke arah lain, mencoba mengalihkan perhatiannya dari sosok yang sejak tadi mempengaruhinya.

Ya, Alice tentu tahu dengan siapa dia berhadapan. Awal tahu bahwa ia akan disandingkan dengan seorang Troy untuk berpose panas di salah satu majalah dewasa saja membuat Alice ragu, apa akan melakukannya atau membatalkannya. Tapi karena didorong oleh kebutuhan yang mendesak, akhirnya Alice melakukannya dan mencoba melupakan jika lawan mainnya dalam berpose panas adalah seorang Troy, mantan Drumer terpanas di negeri ini.

Tak sulit bagi Alice untuk mengetahui latar belakang atau bisa dibilang, keberengsekan-keberengsekan lelaki itu dimasalalu. Entah ketika lelaki itu masih menjadi anak band, atau saat lelaki itu berkarir sendiri seperti saat ini. Tak sedikit gosip buruk yang pernah ia dengar tentang Troy. Bahkan, beberapa teman seprofesinya mengaku pernah ditiduri Troy dan dicampakan begitu saja oleh lelaki itu setelah lelaki itu puas mendapatkan beberapa kali pelepasan.

Sangat Berengsek, bukan?

Kini, Alice tentu tak ingin hal tersebut menimpanya. Tujuannya tinggal di negeri ini adalah karena ia ingin mempelajari budaya negeri ini, bukan untuk main-main lalu jatuh hati pada pria berengsek seperti Troy.

Ya, Alice yang merupakan warga negara asing, memang sangat tertarik dengan Indonesia. Ayah ibunya tinggal di LA Carlifornia. Dulu, keduanya pernah berpelesir ke negeri ini, kemudian tak sengaja bertemu satu sama lain di pulau Bali, memadu kasih saat itu juga, lalu berakhir bersama hingga kini. Dan kedua orang tua Alice tak pernah melupakan pengalamannya tersebut. Hingga saat Alice lahir, keduanya selalu bercerita lagi dan lagi tentang pengalaman keduanya hingga membuat Alice tertarik dengan Indonesia.

Saat dirinya besar, ketertarikan itu semakin nyata, apalagi saat Alice pertama kalinya datang ke negeri ini. Ia jatuh cinta seketika, dengan budayanya, dengan alamnya, dengan orang-orangnya. Bagi Alice, ke Indonesia sama saja dengan pulang. Hingga sejak Tiga tahun terakhir, ia lebih sering menghabiskan waktunya di Indonesia dari pada di LA. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya lebih, mengingat orang tuanya bukanlah orang yang berkelebihan harta. Beruntung Alice memiliki kenalan di Indonesia yang menawarinya pekerjaan menjadi model. Pekerjaan itu tentu sangat begus untuk Alice, ia bisa mendapatkan biaya tambahan selama hidup di sini, sehingga dirinya bisa menikmati kecintaannya pada negeri ini tanpa membebankan biaya pada kedua orang tuanya yang ada di LA.

Kembali lagi pada Troy. Alice tentu tak ingin terlibat dengan lelaki di hadapannya tersebut, tapi demi Tuhan! Lelaki itu memang sangat menggoda. Sialnya, jadwal pemotretannya dengan Troy tak hanya berakhir hari ini saja. Karena masih ada beberapa scene tambahan yang akan diambil besok.

Tiba-tiba, Alice melihat Troy berdiri membawa minumannya, mata lelaki itu tak berhenti menatap ke arahnya. Kemudian, langkah kaki lelaki itu mendekat ke arah mejanya.

Seorang yang duduk tepat di sebelah Alice akhirnya berdiri ketika Troy secara terang-terangan meminta orang tersebut bangkit dan menggantikan tempatnya.

“Boleh duduk di sini, kan?” tanya Troy dengan nada yang dibuat mengggoda. Alice tahu, bahwa mungkin saat ini Troy sedang menjalankan aksinya untuk membawa Alice ke atas ranjang lelaki itu. Tapi Troy salah, Alice sudah cukup tahu bagaimana bejatnya lelaki itu, jadi Alice tak akan masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Troy.

“Silahkan saja. Ini kan tempat umum.” Alice menjawab dengan nada yang dibuat cuek dan ketus.

“Woww. Bukan cewek gampangan, ehh?” goda Troy sembari menyesap apapun itu yang ada di dalam gelas yang dibawah lelaki itu.

Alice tidak mengindahkan apapun itu perkataan Troy. Karena ia memilih melirik ke arah jam tangannya kemudian berkata pada orang disebelahnya. “Aku akan pulang, sudah malam.” Ucapnya sembari berdiri. Alice menatap sekilas ke arah Troy lalu tersenyum singkat pada lelaki itu. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mejanya secepat mungkin.

Sedangkan Troy, ia tersenyum masam, menenggak semua isi dari gelas yang dibawanya kemudian bangkit dan segera menyusul wanita yang sudah sejak tadi siang tadi menggodanya.

***

Sial! Troy merasa ada yang salah di sini. Tak biasanya ia begitu tertarik dengan seseorang, hingga saat melihatnya saja membuat pangkal pahanya berdenyut nyeri seketika. Ia sangat menginginkan Alice Philips di atas ranjangya malam ini, dan apapun itu, ia akan melakukannya untuk mendapatkan keinginannya tersebut.

Yang membuat Troy sangat kesal adalah saat Troy tahu bahwa wanita itu tampak tidak tertarik dengannya. Jangankan tertarik, Alice bahkan lebih terlihat enggan berurusan dengannya. Kenapa? Apa Alice Philips tak tahu siapa dia sebenarnya? Apa ia tak tampak seperti seorang lelaki yang panas dan menggairahkan?

Berengsek!

Dengan segera Troy mengikuti Alice keluar dari dalam restoran. Ia mendapati Alice berjalan diatas trotoar sembari mengenakan tundung hoody yang dikenakan wanita tersebut.

Troy berlari mengikuti wanita itu, kemudian dengan spontan ia menarik lengan Alice dan menghentikan wanita itu sembari berkata “Tunggu.”

Alice menghentikan langkahnya kemudian menatap Troy penuh tanya. “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.

Troy memiringkan kepalanya. “Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu.”

“Aku lebih suka jalan kaki.”

“Nggak baik jalan kaki malam-malam sendiri, apalagi kamu seorang model.”

Alice berkacak pinggang, dengan menantang dia bertanya “Apa hubungannya denganmu?”

Troy sedikit tersenyum dengan reaksi yang ditampilkan oleh Alice. Ia tak menyangka jika Alice akan seberani ini padanya. “Nggak ada.” Jawab Troy dengan santai.

“Kalau begitu, biarkan aku pergi.”

Troy mengangkat kedua tangannya, dengan tersenyum ia mundur teratur. Alice mendengus sebal, lalu wanita itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Troy. Tanpa diduga, Troy malah mengikuti Alice. Berjalan kaki di atas trotoar tepat di belakang wanita itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Troy saat ini. Yang jelas, ia sangat ingin memiliki wanita yang kini berjalan di hadapannya tersebut.

Alice yang merasa diikuti akhirnya merasa tak nyaman. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya kemudian bertanya pada Troy “Apa yang kamu lakukan?”

Troy mengangkat kedua bahunya. “Apa? Aku cuma jalan-jalan malam.”

“Sialan!” akhirnya, Alice tak mampu menahan umpatannya, dan hal tersebut membuat Troy tak kuasa menahan senyuman lebarnya. Alice kembali berjalan lagi, dan Troy mengikuti kemanapun kaki wanita itu melangkah.

Gila! Troy benar-benar merasa gila karena penolakan dan sikap ketus yang diberikan Alice Philips padanya. Kenapa wanita itu bersikap seperti itu padanya? Apa sebelumnya ia memiliki salah dengan wanita tersebut?

Pertanyaan itu terputar berkali-kali dalam kepala Troy sepanjang ia menyusuri trotoar bersama dengan Alice Philips di hadapannya.

***

Alice menghela napas panjang, karena tak lama, akhirnya sampailah juga ia ditempat kostnya. Sebenarnya, selama tinggal di Indonesia, ia menyewa sebuah tempat di Bali. Tapi karena pekerjaannya kali ini, ia sementara tinggal di Jakarta sampai pemotretannya selesai.

Alice membalikkan diri, berharap jika Troy sudah tak ada dibelakangnya, tapi ia salah. Nyatanya, Troy masih berada di sana, dengan senyuman miringnya, dengan kearoganannya, dengan kepedean tingkat dewanya, dan sialnya, dengan ketampanan dan kegagahan lelaki itu yang mampu memancing sesuatu di dalam diri Alice.

Dengan mendengus sebal, Alice bertanya pada Troy “Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?”

Bukannya menjawab, Troy malah menyandarkan diri di pagar, mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya yang diyakini Alice adalah sebuah rokok, menyalakan batang sialan itu dan menghisapnya sebelum menjawab “Cuma pengen tau dimana tempat tinggalmu.”

“Memangnya apa urusanmu?”

“Nggak ada, cuma penasaran aja.”

“Dasar sinting!” Alice mengumpat dalam bahasa asing, dan hal tersebut membuat Troy tak mampu menahan tawanya.

Ah ya, satu hal lagi yang disukai Troy adalah, bagaimana logat wanita itu ketika berbahasa indonesia. Hal itu membuat Troy seakan gemas pada seorang Alice Philips.

Alice akhirnya memilih segera memasuki rumah tersebut, kemudian mengunci pintu gerbangnya. Sebelum itu Troy sudah mengucapkan kalimat “Aku tak sabar melihatmu besok siang di kolam renang.” Ejeknya dengan nada menggoda.

“Bajingan!” lagi, Alice mengumpat dengan bahasa asing, dan hal tersebut benar-benar membuat Troy tak kuasa menahan tawanya. Alice tentu mengerti apa maksud Troy saat lelaki itu bilang mengunggunya di kolam renang, karena besok adalah jadwal pemotretan mereka dengan set di area kolam renang. Alice akan mengenakan bikini di sana, tentu saja Alice sangat tahu apa yang ada di dalam otak porno lelaki itu.

Sialan! Jika hari ini Alice mampu menahan dirinya dan bersikap ketus pada Troy, apa besok wanita itu bisa melakukannya lagi? Alice tak tahu. Tapi yang terpenting adalah, ia tak ingin terlibat dalam hubungan dengan seorang Troy Yoseph. Tidak tadi, tidak sekarang, tidak juga nanti.

-TBC-

 

Sleeping with my Friend – Bab 2

Comment 1 Standard

 

Bab 2

 

Emosinya tak dapat ia kontrol. Steve melayangkan pukulannya lagi dan lagi pada wajah Henry. Sungguh, Steve sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi dengannya. Ia hanya tidak bisa membayangkan ketika Jessie akan melepas kehormatannya dengan laki-laki bajingan ini. Padahal Steve sadar, jika itu bukanlah urusannya.

Jessie sudah dewasa, jadi ia tidak bisa melarang Jessie untuk tidak melakukan hal tersebut.

Saat Steve tak juga berhenti memukuli wajah henry, pada saat bersamaan pintu dibuka dan menampilkan Jessie yang baru kembali dari apartmen Steve dengan membawa baju ganti untuk lelaki itu.

Jessie sempat terkejut dengan apa yang terjadi. Ia melihat Henry terkapar diatas lantai dengan Steve yang berada di atasnya dan memukuli Henry berkali-kali. Jessie memekikkan nama Steve dan segera berlari menuju ke arah dua orang lelaki tersebut.

“Steve! Apa yang sudah kau lakukan?” Jessie menarik tubuh Steve agar lelaki itu bangkit meninggalkan Henry yang sudah terkapar di atas lantai.

Jessie menghampiri Henry, dan membantu lelaki itu agar bisa bangkit dan duduk sendiri.

“Henry, kau tidak apa-apa?” tanyanya. Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve. “Apa yang kau lakukan Steve?!” Jessie berseru keras kepada Steve. Sedangkan Steve hanya bisa menatap Henry dengan tatapan membunuhnya.

Kemudian, tanpa banyak bicara lagi, Steve meraih baju ganti yang dibawakan Jessie, kemudian ia masuk ke dalam kamar Jessie untuk mengganti pakaiannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

***

Masih dengan kekesalan yang entah bersumber darimana, Steve mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Ia tidak sudi berlama-lama berada di dalam apartmen Jessie ketika ada si bajingan itu di dalamnya.

Steve lalu menghela napas panjang. Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Itu bukan urusannya, ketika Jessie akan memberikan kehormatannya pada lelaki itu malam ini, tapi entah kenapa memikirkan hal itu membuat Steve kesal setengah mati.

Setelah mengenakan pakaiannya, Steve segera keluar dari dalam kamar Jessie. Matanya lalu menangkap sepasang kekasih itu sedang berduaan di area dapur. Jessie tampak sedang mengobati memar-memar di wajah kekasihnya, dan itu kembali membuat Steve mendengus sebal.

Steve berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu depan apartemen Jessie, melewati sepasang kekasih itu tanpa ingin menatapnya. Hal tersebut membuat Jessie menghentikan aksinya, lalu meninggalkan Henry dan menyusul Steve.

Bagi Jessie, bagaimanapun juga, Steve harus meminta maaf terhadap Henry karena lelaki itu sudah memukuli wajah Henry hingga babak belur. Lagi pula, apa masalah mereka? Jessie tidak pernah berpikir jika keduanya memiliki masalah serius hingga membuat keduanya baku hantam seperti tadi.

Jessie mengejar Steve, dan menghentikan temannya itu saat Steve baru saja membuka pintu apartmen Jessie.

“Hei, kau mau kemana?” Jessie menghentikan Steve dengan menepuk bahu lelaki itu.

“Keluar.”

“Kau belum meminta maaf padanya. Kau tidak lihat mukanya babak belur karena ulahmu?”

Steve hanya menatap Jessie dengan tatapan membunuhnya. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Jessie tanpa sepatah katapun.

“Hei, Steve! Apa otakmu masih terendam alkohol? Steve! Steven!” Jessie berseru keras, tapi Steve masih melanjutkan langkahnya seakan tak peduli dengan teriakan-teriakan Jessie.

Dengan kesal, Jessie kembali masuk ke dalam apartemennya, sambil menggerutu, ia menuju ke arah Henry kembali dan melanjutkan aksinya untuk mengobati memar-memar di wajah lelaki itu.

“Apa dia gila? Apa otaknya masih terendam dengan alkohol? Dasar tidak tahu diri.” Jessie masih menggerutu sebal, dan itu membuat Henry sedikit tersenyum melihat kekasihnya tersebut.

Ya, itulah yang disukai Henry dari Jessie, wanita yang ceria dan juga cerewet.

“Kau, kenapa kau malah tersenyum seperti itu?”

“Sudahlah, lupakan saja dia.”

“Aku masih tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba dia memukulimu seperti itu? Kau tidak mungkin berbuat macam-macam dengannya, bukan?”

Henry sedikit salah tingkah. “Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya bertanya, kenapa dia mengenakan piyamamu, lalu tiba-tiba dia menerjangku dan memukuliku.”

“Mungkin dia masih terpengaruh dengan alkohol.”

“Dia mabuk lagi?” tanya Henry. Ya, setahu Henry, Steve adalah seorang pemabuk. Playboy cap kakap, dan ketika lelaki itu memiliki masalah atau sedang mabuk, lelaki itu lebih memilih menghabiskan waktunya di apartmen Jessie, dan itu benar-benar membuatnya tidak suka.

“Ya, dia gila. Bahkan tadi malam dia telanjang bulat di hadapanku dan memuntahkan isi di dalam perutnya di atas karpetku.” Ucap Jessie yang kini sudah kembali mengobati memar-memar di wajah Henry.

“Jess, jika boleh jujur, aku tidak suka melihat kedekatanmu yang tak wajar dengannya.”

Jessie menghentikan pergerakannya seketika. Ia menatap Henry dengan serius. “Apa maksudmu? Kami hanya teman, tak lebih.”

“Ya, tapi kalian sudah sama-sama dewasa. Aku cemburu melihatnya. Apa salah jika aku cemburu padanya?” pancing Henry.

Jessie tersenyum lembut. Ia menangkup kedua pipi Henry dan berkata. “Honey, kau tak perlu khawatir. Steve sudah seperti saudara bagiku. Kami tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak.”

“Tapi aku tidak percaya padanya.”

“Dia tidak akan berani macam-macam denganku, jika dia berani macam-macam sedikit saja, maka akan kutendang bokongnya dari sini.”

Henry mencoba tersenyum. Ia bersikap seolah-olah percaya dengan apa yang dikatakan Jessie, padahal sebenarnya, Henry merasa jika dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat cemburu dengan kedekatan yang terjalin antara Steve dan juga Jessie.

***

Steve tak berhenti mendengus sebal. Hari ini, ia menghabiskan waktunya di rumah Hank, temannya. Bukan tanpa alasan, karena hanya Hanklah yang mungkin mengerti bagaimana perasaannya saat ini.

Biasanya, Hank adalah orang yang menasehati Steve, memberi masukan, bahkan terkadang dia adalah orang yang mengenalkan Steve dengan beberapa wanita yang pernah menjadi teman kencan semalamnya.

Kini, Steve memilih mengubur dirinya pada sofa panjang milik Hank sembari menonton televisi dengan sesekali meminum bir yang memang selalu tersedia di dalam rumah lelaki itu.

“Kau, sebenarnya aku cukup muak melihatmu berada di sini.” Ucap Hank sembari melompat duduk tepat di sebelah Steve. “Ayolah, aku ada kencan, dan aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini seperti orang gila.”

“Kalau begitu, ajak aku kencan.” Jawab Steve dengan wajah cueknya.

“Kau akan menggangguku, Steve.”

“Berengsek! Apa kau tidak bosan berkencan dengan Natalia? Kau bisa memutuskannya dan mencari wanita baru, Sialan!” Steve mengumpat kesal. Hank memang sangat berbeda dengan Steve. Jika Steve memilih hubungan satu malam dengan seorang wanita, maka Hank adalah sosok yang setia.

Entah sudah berapa tahun lamanya Hank menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Natalia tersebut.

“Steve, aku bukan kau yang tidak punya perasaan. Saat kau tak bisa berpaling dari seorang wanita, saat itulah kau sudah benar-benar jatuh cinta padanya.”

“Omong kosong tentang cinta! Bagiku, cinta adalah seberapa besar payudaranya.”

Hank tertawa lebar. “Berengsek. Otakmu benar-benar sudah parah. Lebih baik kau pergi dari sini. Aku benar-benar sedang ingin berkencan minggu ini.”

Steve bangkit seketika. “Aku masih bingung. Kenapa ada orang-orang yang membosankan seperti kalian?”

Hank mengangkat sebelah alisnya. “Kalian?”

“Ya, kau dan Jessie. Kalian benar-benar membosankan.”

Hank tersenyum, ia ikut bangkit dan menepuk pundak Steve. “Kau hanya iri pada kami, Steve. Kami memiliki orang yang mencintai kami, dan kau belum memiliki hal itu.”

“Sialan!” lagi-lagi Steve mengumpat kesal. Lalu Steve berjalan pergi keluar dari apartmen Hank.

“Steve, aku akan ke apartemenmu nanti malam.”

“Tak perlu, karena aku akan berpesta dengan beberapa wanita bayaran.”

“Ayolah Steve.” Sungguh, Hank merasa tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi. Hari ini adalah hari dimana ia akan melamar kekasihnya. Jadi ia tak mungkin membatalkannya.

“Nikmati saja kencanmu yang membosankan itu.” Ucap Steve dengan nada kesal sembari meninggalkan apartemen Hank. Ya, Steve merasa sangat kesal. Tapi, kenapa juga ia merasa kesal? Apa benar yang dikatakan Hank, bahwa ia hanya merasa iri saja karena tak memiliki wanita yang ia sukai? Ya, mungkin saja.

***

Jessie tidak bisa menghilangkan degup jantungnya yang semakin menggila. Masalahnya, hari ini ia sudah memutuskan untuk melepas kehormatannya dengan Henry, lelaki yang ia cintai. Disisi lain, ia merasa takut jika Henry akan kecewa dengan dirinya yang tak tahu apapun tentang seks.

Jessie mencoba menenangkan diri dengan meminum anggur yang tadi memang dibawakan Henry untuk mereka. Saat ini, keduanya sedang menonton film bersama di ruang tengah apartmen Jessie. Tak ada suara diantara mereka. Henry tampak menikmati jalannya film yang sedang mereka putar, sedangkan Jessie tampak sedang berusaha mengendalikan dirinya agar tak tampak salah tingkah.

“Sepertinya, kau sedikit tidak nyaman.” Ucap Henry kemudian.

“Maaf, aku hanya tidak bisa mengendalikan degup jantungku.” Jawab Jessie dengan jujur.

Henry tertawa lebar. Jemarinya terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Kalau kau belum siap, aku tidak akan memaksa.”

“Tidak! Aku sudah siap. Uum, maksudku, aku sudah menunggu malam ini.”

Henry menatap Jessie dengan intens. “Kalau begitu, bolehkah aku memulainya sekarang?”

Keterkejutan tampak jelas terukir di wajah Jessie. “Apa? Uum, bukankah ini masih sore, dan aku…” Jessie tampak tidak siap dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya tersebut.

Henry tersenyum lembut. “Aku tahu, kau hanya belum siap, Jess.”

“Henry, aku hanya…” Jessie tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Nyatanya apa yang dikatakan Henry adalah hal yang benar. Bahwa ia memang tidak siap melakukan ini. memang pikirannya sangat kuno, tapi mau bagaimana lagi. Jessie menghela napas panjang, lalu ia menjawab. “Ya, sebenarnya, aku belum cukup siap.”

“Aku mengerti.” Henry lalu melirik ke arah jam tangannya, kemudian ia berkata “Sebenarnya, hari ini aku ada janji dengan seorang pasien. Kau, tidak apa-apa bukan jika aku pergi sekarang?”

“Kau pergi karena aku belum siap melakukan seks denganmu?”

“Tidak, bukan begitu.”

“Tapi kita sudah sepakat kalau kita akan menghabiskan malam bersama malam ini. dan kini, kau berkata jika kau memiliki janji dengan pasienmu setelah aku menolakmu.”

“Jess. Tidakkah kau mengerti bahwa ini juga terasa sulit untukku? aku laki-laki normal yang sangat menginginkanmu. Mana mungkin kita bisa menghabiskan malam bersama tanpa melakukan apapun.”

Jessie berdiri seketika. “Kalau begitu, sentuh aku.”

Henry menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku berusaha menghormatimu. Saat kau berkata belum siap, maka aku tak akan melakukannya.”

“Oh Henry.” Jessie terpana dengan lelaki di hadapannya tersebut.

“Biarkan aku pergi. Oke?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. Ia tidak ingin Henry pergi dengan kekecewaan yang tampak jelas di wajahnya, tapi mau bagaimana lagi. Jessie juga tidak  bisa membohongi dirinya senidri jika dirinya memang belum siap untuk melakukan hal seintim itu dengan Henry. Astaga, apa yang terjadi dengannya?

“Baiklah. Tapi, kau tidak marah denganku, bukan?”

Henry tersenyum lembut. “Tentu saja tidak.” Jawabnya sembari mengusap lembut pipi Jessie. Jessie ikut tersenyum, ia mersa lega, tapi di sisi lain, ia tetap merasa tidak enak karena sudah membatalkan rencana mesra mereka berdua.

***

Jessie mengantar Henry hingga basement. Saat ia kembali, ia mendapati Cody yang berada di sebelah lift. Lelaki paruh baya itu tampak sedang memapah seorang wanita dengan pakaian minimnya.

“Woow, aku tidak menyangka jika kau memiliki teman seperti ini, Cod.” Wanita itu memang tampak seperti wanita jalang dengan pakaian ketatnya, belum lagi gayanya yang sudah seperti wanita yang sedang mabuk membuat Jessie sulit mencerna sebenarnya apa yang sedang terjadi.

“Kau tahu? Temanmu sedang menggila.” Ucap si penjaga apartemen tersebut.

Jessie mengangkat sebelah alisnya. “Teman? Steve? Apa yang dia lakukan?”

“Dia sedang berpesta dengan banyak sekali wanita. Dan aku di sini dibayar lebih untuk mengantar mereka-mereka yang sudah teler seperti ini.”

Jessie menggelengkan kepalanya. “Astaga, apa dia sudah gila? Aku akan menegurnya.” Ucap Jessie kemudian yang segera menuju ke lantai dimana Apartmen Steve berada.

Tak menunggu lama, Jessie akhirnya sampai di depan pintu apartmen Steve. Setelah itu ia membuka begitu saja pintu tersebut karena Jessie memang sudah mengetahui passwordnya.

Jessie sangat terkejut ketika mendapati apa yang ada di dalam apartmen Steve. Musik diputar dengan nyaring, lampu dimatikan dan hanya terdapat lampu gemerlap hingga suasana seperti sedang berada di dalam sebuah kelab malam. Dua orang wanita setengah telanjang menari dengan gaya erotis di atas meja Steve, sedangkan Steve sendiri sedang duduk menikmati tarian tersebut dengan segelas minuman yang berada di tangannya. Tak lupa, terdapat juga dua orang wanita di sisi kiri dan kanannya.

Melihat itu membuat Jessie kesal, dangat kesal. Steve seperti seorang yang kekanakan. Bagaimanapun juga, Jessie merasa jika hal seperti ini tak seharusnya dilakukan oleh Steve. Apa lelaki itu akan mengadakan pesta seks?

Jessie berjalan cepat menuju ke arah hometeater yang memutar lagu-lagu tersebut, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Jessie mematikannya. Membuat semua yang berada di ruangan tersebut menatap ke arah Jessie seketika. Tak terkecuali Steve.

Steve berdiri seketika, ia tidak menyangka jika Jessie berada di sini dan melihatnya seperti ini.

“Siapa dia? mengganggu saja.” Ucap seorang wanita yang menari di atas meja Steve.

“Keluar dari sini.” Ucap Jessie kemudian.

“Hei, memangnya kau siapa?” tanya perempuan itu. Sedangkan Steve hanya diam masih ternganga dengan kehadiran Jessie.

“Aku kekasihnya. Sekarang kalian keluar dari sini, atau aku akan memanggil polisi untuk menangkap kalian.” Ancam Jessie.

Mendengar itu membuat para wanita yang ada di sana sedikit panik, apalagi saat melihat Steve yang hanya diam ternganga menatap ke arah Jessie. Lelaki itu seakan tak memiliki kemampuan untuk membela mereka dan terkesan membenarkan Jessie. Akhirnya, para wanita itu pergi meninggalkan apartmen Steve dengan sesekali menggerutu kesal pada Jessie.

Setelah para perempuan itu pergi meninggalkan apartmen Steve. Jessie segera memunguti apapun yang berada di ruang tengah tersebut yang baginya tampak berantakan. Sedangkan Steve, ia masih berdiri mematung menatap keberadaan Jessie di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Steve pada Jessie yang tampak lebih fokus pada ruang tengah apartmen Steve ketimbang si pemilik apartmen itu sendiri.

“Kau tidak lihat? Aku sedang membereskan sampah.”

“Kau tahu apa maksud dari pertanyaanku. Kenapa kau disini? Bukankah seharusnya kau kencan dengan pacar Gay mu itu?”

Jessie berkacak pinggang tidak suka dengan pertanyaan Steve. “Yang pertama, kedatanganku kesini karena menyadarkanmu bahwa kelakuanmu ini mengganggu penghuni apartmen lainnya, dan yang kedua, dia tidak Gay!”

Steve malah bersedekap. “Apartmenku kedap suara. Lagi pula, apartmenmu berbeda Lima lantai dari tempatku, jadi aku tak mungkin mengganggumu.”

“Terserah kau saja.” Jessie menjawab dengan acuh. Sebenarnya, Jessie juga tak mengerti apa yang ia lakukan di sini. Seharusnya ia tak peduli dengan Steve, dan bisa dibilang jika ia masih marah dengan lelaki itu. Tapi Jessie tak memungkiri jika malam ini dirinya butuh seorang teman untuk mencurahkan isi hatinya. Mencurahkan kebodohannya karena sudah menolak Henry dan membuat kekasihnya itu kabur begitu saja.

Jessie tahu, bahwa ia butuh teman untuk minum bersama dan menghilangkan kegalauannya yang entah bersumber dari mana. Dan ia juga tahu, bahwa hanya Stevelah teman yang cocok untuk membuatnya lebih baik lagi.

Kenyataan bahwa lelaki itu memilih bersenang-senang dan berpesta dengan banyak wanita jalang membuat Jessie marah. Jessie kesal, kenapa disaat hubungannya terasa sulit dengan Henry, Steve malah bisa sesuka hati tidur dengan berbagai macam wanita. Iri? Tentu saja, tapi Jessie tidak ingin mengungkapkan rasa irinya karena ia tahu bahwa ia tidak berhak merasakan perasaan tersebut.

Ingat, mereka hanya berteman, tidak lebih.

Saat Jessie memilih mengabaikan Steve, saat itulah Steve merasa emosinya terpancing. Secepat kilat Steve mencengkeram kedua bahu Jessie lalu ia bertanya sekali lagi. “Apa yang kau lakukan di sini?” kali ini pertanyaan Steve terdengar tajam dan menuntut.

Jessie tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia butuh teman, sungguh, tapi sepertinya mendatangi Steve adalah salah.

“Oke, aku pergi.” Jessie mengangkat kedua tangannya dan bersiap pergi.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

Bianca – Chapter 8 (Gugup dan salah tingkah)

Comments 2 Standard

 

Chapter 8

-Gugup dan Salah tingkah-

 

Aldo berjalan mondar-mandir di depan UGD sebuah klinik yang tak jauh dari tempat konser band Jason. Sesekali ia tampak menghubungi seseorang, tapi yang membuat ekspresinya keras adalah, orang yang ia hubungi tidak mengangkat telepon darinya sekalipun.

Tak lama, seorang suster keluar dan Aldo segera menghampirinya. “Bagaimana istri saya?” tanya Aldo kemudian.

“Istri bapak baik-baik saja, mungkin sedikit kelelahan.” Jawab suster tersebut sembari mempersilahkan Aldo masuk.

Saat Aldo masuk, ia sudah mendapati Sienna yang ternyata sudah duduk dan tersenyum ke arahnya. Aldo tahu, senyum apakah itu. Apa Sienna sedang mengerjainya? Seperti dulu yang pernah dilakukan istri usilnya itu padanya?

“Hai, kak.” Sapa Sienna sembari mengangkat tangannya.

“Kamu, baik-baik saja, kan?” tanya Aldo yang masih tampak khawatir dengan keadaan Sienna.

Sienna menunggu para suster keluar dari bilik tempatnya duduk di sebuah ranjang UGD. Setelah suster tersebut pergi dari sana, Sienna terkikik sendiri. Ia merengkuh jemari Aldo kemudian berkata “Maaf, aku harus melakukan ini. Habisnya kamu mau gangguin Bianca sama Kak Jason.” Ucap Sienna dengan nada yang dibuat semanja mungkin.

Mata Aldo membulat seketika. “Jadi kamu nggak apa-apa? Nggak ada yang sakit?”

“Ya, maaf, ya…”

“Sienna!” Aldo mendengus sebal. Ia tidak menyangka jika Sienna akan berbuat seperti ini lagi. Menggunakan calon bayi mereka untuk membohonginya. “Apa kamu nggak tahu bagaimana khawatirnya aku? Kita sudah pernah kehilangan calon bvayi kita, bisa-bisanya kamu membuat lelucon ini.” Aldo benar-benar sangat kesal dengan sikap Sienna. Masalahnya, dulu, mereka sudah pernah kehilangan calon buah hati mereka, jadi bisa dibayangkan bagaimana khawatirnya Aldo dengan keadaan Sienna saat ini.

“Kak, aku hanya ingin kamu memberikan Bianca sedikit kebebasan.”

“Kebebasan berciuman di depan umum? Yang benar saja. Dulu, saat Felly menjalin hubungan dengan berandalan itu, aku sangat tidak suka. Dan kini, aku tidak akan membiarkan adikku jatuh ke tangannya.”

“Kak Aldo. Jangan lebay deh. Bianca itu hanya gadis bunga malam ini. Mereka nggak ada hubungan apapun.”

“Jadi dia di cium di depan umum hanya untuk keperluan konser sialan itu?” tanya Aldo yang tampak semakin emosi dengan penjelasan Sienna.

“Enggak kak. Astaga, aku bingung bagaimana jelasinnya. Makanya, kak Aldo jangan terlalu kuno, dong.”

“Apa kamu bilang? Kuno? Di saat-saat seperti ini kamu masih ngolokin aku?”

Kali ini Sienna yang mendengus sebal. “Terserah Kak Aldo deh, aku malas ngomong sama Kak Aldo lagi.” Ucap Sienna dengan kesal sambil membaringkan diri memunggungi Aldo. Sungguh, tak ada gunanya beradu argumen dengan suaminya pada saat seperti ini. Aldo memang sedang emosi, dan ketika lelaki itu sedang emosi, maka tak akan ada yang bisa menenangkannya kecuali Sienna dengan jurus andalannya yaitu merajuk.

“Kamu merajuk? Hei, aku marah dengan berandalan sialan itu, kenapa kamu yang merajuk?” Aldo tak bisa berbuat banyak. Saat Sienna sudah merajuk maka tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah dengan istrinya tersebut.

Sienna tidak mengindahkan perkataan Aldo, ia masih terbaring miring memunggungi suaminya, tapi dalam hati ia tertawa penuh dengan kemenangan. Ya, dengan begini Aldo tak dapat berkutik lagi, dan Sienna berharap jika lelaki itu tak akan lagi membahas apapun tentang ciuman yang terjadi antara Jason dan Bianca di atas panggung tadi.

Ciuman? Astaga, Sienna bahkan baru mengingat hal itu. Bocah nakal sialan itu ternyata menonton konser Jason tanpa sepengatahuannya. Dan entah kenapa, Sienna malah suka dengan kenyataan tersebut.

***

Pagi itu, adalah pagi yang cukup aneh untuk Bianca. ia merasa kurang nyaman dengan tubuhnya. Dan ketika dirinya membuka mata, Bianca baru sadar jika dirinya tidur dalam keadaan telanjang bulat.

Bianca segera duduk, lalu meraih selimut yang melorot hingga pinggangnya. Kemudian sebuah sapaan lembut dari Jason membuat Bianca mengingat, bagaimana panasnya hubungan mereka semalam.

“Pagi, Babee.”

Bianca menatap ke arah Jason. Rupanya lelaki itu sudah mengenakan kimononya, dan lelaki itu sudah tampak tampan dan segar. Mungkin karena baru saja mandi. Bianca merutuki dirinya sendiri, berharap jika saat ini dirinya tidak tampak berantakan. Tapi sepertinya, itu hanya sebuah harapan semu.

Dengan sedikit salah tingkah, Bianca hanya membalas sapaan Jason dengan “Hai.”

Bianca merasakan pipinya memanas, mungkin kini sudah merah merona. Dan astaga, Bianca benar-benar merasa gugup dan salah tingkah ketika berada di hadapan Jason saat ini.

Jika sebelumnya Bianca bisa mengontrol dirinya, maka tidak dengan pagi ini, tidak ketika ia mengingat bagaimana panasnya hubungan mereka semalam. God! Jason tampak sangat berkuasa, dan Bianca benar-benar suka saat membayangkan bagaimana panasnya Jason ketika berada di atasnya.

Sedangkan Jason sendiri, kini hanya bisa menahan senyumnya. Ia tersenyum karena Bianca tampak berbeda dari biasanya. Wanita itu tampak memerah, malu, bercampur dengan gugup. Kenapa? Padahal sebelumnya, Bianca merupakan gadis yang sangat percaya diri bagi Jason. Dan kini, wanita itu benar-benar tampak menggemaskan untuknya.

“Cokelat panasmu.” Ucap Jason sembari memberikan sebuah cangkir yang sejak tadi berada dalam tangannya.

Bianca menerimanya begitu saja, ia bahkan tidak berani menatap mata Jason dengan terang-terangan. Entahlah. Bagi Bianca, ada sebuah gelenyar panas yang seketika merayapi tubuhnya ketika mata mereka saling menatap satu sama lain.

Jason lalu duduk di pinggiran ranjang. Ia mencoba mengabaikan Bianca yang membenarkan letak selimut untuk menutupi tubuh telanjang wanita itu. Astaga, Jason mencoba mengendalikan diri setenang mungkin, padahal saat ini, dirinya sedang menegang kembali karena tergoda dengan keberadaan Bianca di hadapannya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan nada lembut.

“Baik.” Ucap Bianca sembari menundukkan kepalanya. Bianca bahkan memilih menatap ke arah cokelat yang berada di dalam tangannya ketimbang harus menatap ke arah Jason yang begitu mempengaruhinya.

“Tidak perlu malu-malu begitu.” Ucap Jason dengan mata yang tak berhenti menatap ke arah wajah Bianca yang memerah.

“Malu-malu kenapa? Aku nggak malu-malu, kok.” Bianca mencoba mengelak dan hal itu membuat Jason semakin gemas dengan sosok Bianca.

Jason mendekat, dan dengan spontan dia mengecup puncak kepala Bianca hingga membuat Bianca mematung seketika. Bianca merasakan jika jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak ketika Jason mengecup puncak kepalanya.

Astaga, kenapa lelaki ini bisa semanis ini? pikir Bianca saat itu.

“Bee, kamu milikku sekarang.” Jason mengungkapkan kepemilikannya atas diri Bianca.

Bianca mengangkat wajahnya. Ia menatap Jason dengan wajah tak mengertinya. “Maksudmu?”

“Sekarang, kamu benar-benar menjadi kekasihku yang sesungguhnya. Jangan menolakku, jangan tinggalkan aku, dan jangan menyakitiku. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang kusayangi.”

Bianca tersenyum.  Dan hal itu membuat Jason mengerutkan keningnya.

“Kenapa tersenyum? Kamu nggak suka dengan apa yang kukatakan?”

“Bukannya begitu. Kamu sudah mengambil apa yang kupunya. Bukankah seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu? Jangan tinggalkan aku, karena semuanya sudah menjadi milikmu.”

“Kamu belum mengenalku, Bee.” Jason menghela napas panjang. “Sebelum ini, aku pernah mencintai seseorang begitu dalam. Dan dia mematahkan hatiku seketika, aku terluka, aku tersakiti. Benar-benar sangat sakit. Dan aku tidak ingin mengalami hal itu untuk kedua kalinya denganmu.”

Bianca menaruh cokelat panasnya di atas nakas, lalu jemarinya terulur menggenggam erat telapak tangan Jason.

“Aku tidak akan menyakitimu, Jase.”

“Apa ini sebuah janji?”

Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Setelah itu, Jason mendekatkan wajahnya pada wajah Bianca sedangkan Bianca segera memejamkan maytanya. Ia tahu bahwa Jason akan menciumnya. Tapi ketika bibir mereka hampir saja saling menyentuh, suara ketukan pintu menyadarkan keduanya.

Jason menghentikan aksinya. Ia menatap ke arah Bianca, sedangkan Bianca sendiri segera membuka matanya mendapati Jason yang menatapnya dengan tatapan aneh. Keduanya lalu tersenyum satu sama lain.

Jason mengacak poni Bianca, sebelum ia bangkit dan membuka pintu kamarnya.

“Mungkin sarapan pesananku.” Ucapnya sembari meninggalkan Bianca. Bianca hanya tersenyum menanggapinya. Ia melihat Jason pergi menuju ke arah pintu.

Saat Jason membuka pintu kamar hotelnya, rupanya yang datang bukanlah pelayan hotel yang membawakan sarapan pesanannya, melainkan salah seorang personil The Batman, Troy. Untuk apa temannya itu datang pagi-pagi buta seperti ini?

“Sial, lo Jase. Kemana aja semaleman? Elo nggak keliatan setelah konser selesai.”

Jason mendengus sebal. Ia membuka sedikit pintu kamarnya agar Troy bisa melihat apa yang ada di dalam kamarnya. Dan benar saja, kepala Troy melonggok ke dalam dan ia mendapati Bianca yang masih berbalutkan selimut tebal dari hotel. Wanita itu tampk asik menikmati sesuatu di atas ranjang Jason, dan hal itu segera membuat Troy mengumpat keras.

“Berengsek!”

Jason segera mendorong tubuh Troy keluar, dan dirinya sendiri ikut keluar dari kamarnya sebelum menutupnya agar Bianca tidak mendengar umpatan khas dari temannya itu.

Troy tertawa lebar. “Elo benar-benar bajingan ya. Gerak cepet banget lo.”

“Udah, nggak perlu basa-basi. Sekarang kenapa elo ke sini?”

“Produser dan yang lain ngajak meeting pagi ini. Yang lain sudah nunggu di resto.”

Jason menghela napas panjang. Ia tidak suka kebersamaannya dengan Bianca pagi ini terganggu. Lagi pula, tumben sekali produsernya itu mengajak meeting pagi-pagi. “Oke, gue ganti baju dulu.” Jason bersiap masuk, tapi kemudian perkataan Troy membuatnya menghentikan langkahnya.

“Elo, nggak nganggep dia kayak cewek-cewek yang gue sediain selama ini, kan Jase?” tanya Troy dengan sedikit serius.

Jason mengerutkan keningnya, ia membalikkan tubuhnya dan menatap temannya tersebut. “Kenapa elo tanya begitu?”

“Gue hanya nggak mau elo salah jalan. Fine! Gue memang berengsek karena ngajarin elo yang enggak-enggak selama ini. Tapi, setidaknya, wanita yang selama ini elo tidurin dan elo campakan setelahnya adalah wanita bayaran, bukan wanita kayak Bianca.”

“Tenang saja, dia berbeda.”

Troy menepuk-nepuk pundak Jason. “Oke, kalau gitu, gue bisa lega.”

“Elo, nggak ada maksud lain, kan?” tanya Jason kemudian.

“Maksud lo?” Troy bertanya balik karena tidak mengerti.

“Bianca, elo ngga sedang tertarik sama dia, kan?”

Troy tertawa lebar. “Lo gila? Gue nggak akan pernah macarin cewek temen gue sendiri.”

“Kalau mantan?” tanya Jason kemudian.

Troy tersenyum penuh dengan kemisteriusan. “Gue nggak janji, makanya, jangan sampai buat dia jadi mantan elo. Hahahaha.” Jawab Troy sembari tertawa lebar dan meninggalkan Jason di depan pintu kamarnya.

“Sialan!” Yang bisa Jason lakukan hanya mengumpati kelakukan temannya itu. Mantan? Tidak, ia tidak akan membiarkan Bianca menjadi mantan kekasihnya. Tidak dalam waktu dekat.

***

Jason sarapan bersama dengan teman-teman dan juga official The Batman. Meski dirinya berada di sana, tapi pikiran Jason seakan masih tertinggal di kamarnya. Ditempat Bianca berada. Apa Bianca menghabiskan sarapannya? Apa Bianca sudah mandi? Sudah berpakaian? Apa dia bosan? Dan entah apalagi pertanyaan-pertanyaan tentang Bianca yang kini sedang menari-nari di kepalanya.

Raga, selaku Produser The Batman tampak memperhatikan gelagat Jason. Dan hal itu membuatnya bertanya “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Jason menatap Raga seketika. “Oh, tidak ada.”

“Konser kalian berjalan dengan sangat sempurna tadi malam. Pagi ini, semua media memberitakan tentang konser kalian. Video gadis bunga di youtube bahkan menjadi trending hanya dalam semalam.”

Jason hanya memainkan kopi di hadapannya sembari menganggukkan kepalanya.

“Siapa gadis itu, Jase?” pertanyaan Raga membuat Jason menatap ke arah produsernya tersebut seketika.

Sebenarnya, dalam Band mereka memang ada kontrak yang menyatakan jika semua personel The Batman tidak boleh memiliki kekasih dalam waktu yang sudah ditentukan. Tapi nyatanya, mereka semua memiliki kekasih. Raga, selaku Produser yang mengorbitkan mereka tentu mengetahui hal itu. Tapi Raga tampak enggan mengurus masalah sepele itu. Yang penting, mereka tidak menampakkannya di depan umum dan juga yang penting hal itu tidak berpengaruhi pasar atau image The Batman sendiri. Tapi kini, Raga seakan memiliki keingin tahuan pada hubungan Jason dengan Bianca. Hal tu yang membuat Jason merasa tidak nyaman.

“Ayolah, dia hanya gadis acak yang di pilih Jason. Bukan begitu, Jase?” Troy membela Jason.

Raga bersedekap. “Aku cuma nggak mau timbul gosip yang tidak-tidak tentang kalian, terutama kamu, Jase. Gosip-gosip tentang kamu Gay saja sudah cukup memusingkan.”

“Itu karena peraturan sialan di managemen, lagian, kita bisa dengan mudah menepis gosip itu dengan cara Jason mengenalkan perempuan sebagai kekasihnya.”

“Tidak!” Raga berseru dengan ide yang diungkapkan Ken. “gosip itu sebenarnya cukup menguntungkan pasar kita. Anggap saja itu sebagai bahan promosi album baru kalian nanti. Selagi para media belum mendapatkan bukti yang konkrit maka kalian akan sering di beritakan. Anggap saja itu sebagai promosi gratis.” Raga lalu menatap Jason dengan mata tajamnya. “Lagi pula, aku nggak mau, kalau sampai gadis itu yang akan dikenalkan Jason di depan publik.”

Mata Jason menatap tajam ke arah Raga. “Kenapa?” sungguh, Jason bingung dengan keinginan lelaki yang duduk di hadapannya tersebut. Sedikit informasi, bahwa Raga memang belum pernah sekalipun bertatap muka secara langsung dengan Bianca. Bianca memang selalu memani Jason saat konser selama dua bulan terakhir, tapi Bianca belum pernah bertemu dengan Raga secara langsung.

“Kamu tidak perlu tahu alasannya, kamu bisa mencari gadis lain, tapi tidak dengan dia.”

Mata keduanya saling menatap dengan tatapan tajam masing-masing. Meja mereka tampak hening, suasana terasa tidak enak, hingga kemudian, Troy merasa jika dia harus kembali mencairkan suasana.

“Udahlah, kalian kenapa bahas masalah gak penting ini sih. Mending kita bahas tema konser selanjutnya. Ya nggak?” tanyanya sembari menyikut Ken.

“Bener banget kata Troy.” Ken setuju. Lalu semuanya kembali membahas konser selanjutnya yang akan datang.

Meski begitu, hal tersebut tidak membuat Jason mengenyahkan semua perkataan Raga tadi. Ia merasa ada yang aneh dengan produsernya itu. Biasanya, Raga hanya akan membahas tentang pasar dan sejenisnya. Bukan tentang masalah pribadinya seperti saat ini. Lagi pula, Raga itu siapa? Lelaki itu baru menjadi Produsernya selama setengah tahun terakhir setelah menggantikan kakaknya yang pensiun dini. Kenapa pria itu tampak ingin sekali mengurusi masalah pribadinya?

***

Setelah menghabiskan sarapan paginya dengan lahap. Bianca memilih membuka ponselnya sembari berguling-guling manja di ranjang hotel. Ia mendapati banyak sekali missed call dari Aldo, kakaknya. tapi Bianca malah memilih mengabaikannya.

Bianca membuka sosial medianya. Membuka akun Jason, dan melihat begitu banyak lelaki itu di tandai dalam berbagai macam foto di akun instagramnya.  Yang membuat Bianca kaget adalah, bahwa kebanyakan foto-foto tersebut menampakkan saat Jason berciuman dengannya di atas panggung.

Jason dengan Gadis bunga, tadi malam.

Ceweknya gendut dan jelek.

Jason sangat manis.

Jalang sialan! Menjauh dari pacarku!

Membaca-baca berbagai macam caption dan komentar yang dituliskan para peggemar Jason membuat Bianca kesal.

“Gendut? Astaga, apa matanya rabun?” Bianca menanggapi caption itu dengan kesal.

Dia akan menjadi pelacur Jason.

Jangan cium suamiku!

Bitch!

Dan banyak lagi caption-caption dan juga komentar-komentar yang membuat Bianca kesal. Akhirnya, Bianca tak kuasa menahan diri. Ia membalas sesuatu di kolom komentar di salah satu postingan fans Jason yang membuatnya sangat kesal.

Dia bukan jalang, dia hanya gadis yang beruntung.

Setelah itu, Bianca mengeluarkan diri dari sosial medianya, melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan menenggelamkan wajahnya diantara bantal yang tersedia di sana. Ia benar-benar kesal. Dan mungkin ia tidak akan lagi menanggapi komentar-komentar menyakitkan  dari fans fanatik Jason. Bianca menghela napas panjang. Sungguh, ia menyesal menjadi stalker akun sosial media kekasihnya itu.

“Ada apa?” suara itu membuat Bianca mengangkat wajahnya. Ia tidak menyangka jika Jason sudah kembali dari meetingnya bersama dengan para officialnya.

“Hai.” Bianca duduk seketika. Ia bahkan segera merapikan rambut pirangnya agar tidak terlihat berantakan di mata Jason. Astaga, kenapa ia merasa gugup dan salah tingkah seperti ini saat berhadapan dengan Jason?

“Sudah habis sarapannya?” tanya Jason sambil duduk di pinggiran ranjang.

“Ya, itu sudah habis.”

“Kenapa kayak kesal gitu?”

Dengan nada merajuk, Bianca menjawab “Fans kamu tuh, ngeselin. Masa aku dibilang gendut dan jelek.”

Jason tertawa lebar. Ia mengulurkan jemarinya mengacak poni Bianca, hal yang saat ini sangat ia gemari. “Mereka hanya cemburu.”

“Tapi mereka keterlaluan. Aku dibilang jalang lah, pelacur lah.”

“Maafkan aku, Bee. Seharusnya aku nggak melakukan itu di depan umum tadi malam.”

“Enggak, itu bukan salah kamu. Maksudku, penyanyi luar juga sering melakukan itu.”

“Itu kan budaya luar, bukan budaya kita. Dulu, memang sering ada gadis bunga, tapi aku hanya memberinya bunga, mempersilahkan dia mengecup pipiku, lalu memeluknya dengan kasih sayang. Hanya itu. Tidak sampai menciumnya seperti yang kulakukan padamu tadi malam. Tapi di hadapanmu, aku tidak dapat menahannya. Akhirnya, kamu yang kena bully.”

“Enggak Jase, sungguh, aku nggak menyesali hal itu.”

Jason tersenyum. “Aku tahu.” Lalu dia menghela napas panjang sebelum berkata “Bee, maafkan aku, aku belum bisa mengungkapkan hubungan kita di depan publik.” Ucap Jason dengan serius.

Bianca hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu, apa konsekuensi yang harus ia terima saat memutuskan untuk menjalin kasih dengan seorang superstar. Dan ia akan bertahan. Ya, bukankah dirinya adalah gadis yang kuat?

***

Di lain tempat…

Aldo mengangkat panggilan di ponselnya yang berdering. Sedikit mengereutkan keningnya ketika ia mendapati siapa si pemanggil. Rupanya itu salah seorang teman SMAnya yang sudah cukup lama tidak saling menyapa. Ada apa? Apa mereka akan mengadakan reuni?

“Hei, Ga. Apa kabar?” tanya Aldo dengan sedikit basa basi.

“Baik. Elo sendiri gimana kabarnya?”

“Baik juga. Ada apa? Tumben elo hubungin gue.”

“Al, gue mau tanya. Uuum, Bianca, adek elo sudah pulang dari Inggis, Ya?” tanya suara di seberang.

Aldo mengerutkan keningnya. Oh ya, dulu, temannya ini memang sempat naksir dengan adiknya yang saat itu masih SMP. Dan Aldo masih tidak menyangka jika temannya ini masih ingat dengan Bianca dan menanyakan tentang Bianca secara terang-terangan.

“Ya, dia sudah balik dari beberapa bulan yang lalu. Kenapa Ga? Astaga, jangan bilang kalau elo masih naksir adek gue.”

“Hahahahha” terdengar suara tawa di seberang. “Al, kapan-kapan, kita ngopi bareng. Mau kan?”

“Hahhaha oke, oke. Gue tunggu undangan elo.”

Dan setelah itu panggilan di tutup. Aldo hanya menggelengkan kepalanya. Lelaki itu adalah Raga, temannya dulu semasa SMA dan di bangku perguruan tinggi. Raga sendiri pernah mengaku tertarik dengan Bianca. tapi itu dulu. Dan Aldo tidak menyangka jika sekarang, setelah cukup lama tak saling menyapa, Raga malah menghubunginya lebih dulu dan menanyakan tentang Bianca.

Apa ini tandanya bahwa ia harus mencomblangkan adiknya itu dengan temannya? Sejauh yang Aldo tahu, Raga adalah sosok yang baik. Jadi, kenapa tidak mencobanya saja.

-TBC-

Bianca – Chapter 6 (Gadis Bunga)

Comments 2 Standard

 

Chapter 6

-Gadis Bunga-

Jason mengantar Bianca pulang saat jarum jam menunjukkan pukul Delapan malam. Sebenarnya, Jason ingin sekali masuk ke dalam rumah Bianca dan menyapa Ibu Bianca seperti tadi pagi. Tapi Bianca berkata jika tidak perlu.

“Kenapa?” tanya Jason yang saat ini sudah membuka helmnya. Ia menghentikan motornya tepat di depan pintu pagar rumah Bianca seperti yang diinginkan gadis itu. “Mama kamu baik, aku ingin menyapanya lagi. Lagi pula, nggak pantas kalau kamu pulang sendirian.” Jelas Jason.

Bukan tanpa alasan Bianca melarang Jason turun dan masuk ke dalam rumahnya. Masalahnya, ini sudah malam, yang artinya Papanya sudah pulang. Bianca tidak mau Jason bertemu dengan Papanya dengan penampilan seperti ini. Sedikit informasi, bahwa Mike, Ayah Bianca merupakan sosok yang keras, seperti Aldo, kakaknya. Bianca tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, seperti Sang Papa tidak menyukai Jason karena penampilannya, mungkin.

“Papa sudah pulang, jadi, kamu pulang saja.”

“Memangnya kenapa dengan papamu? Dia galak? Aku nggak takut.” Jason menjawab dengan serius.

Bianca tersenyum. “Aku nggak meragukan keberanianmu, tapi aku belum mau aja mengenalkanmu dengan ayahku.”

“Kenapa? Kamu malu?” tanya Jason penuh selidik.

“Apa yang harus membuatku malu? Pacarku adalah seorang superstar. Satu-satunya alasan adalah, bahwa aku nggak mau hubungan kita menjadi serius dan membosankan karena orang tuaku ikut campur didalamnya.”

“Ikut campur?” Jason mengangkat sebelah alisnya.

“Papaku orang yang sangat mengerikan.” Bisik Bianca. Dan setelah itu, ia tertawa lebar. “Sudah ah, pokoknya, cepat balik.” Lanjut Bianca.

“Oke, tapi ingat, besok malam, kita ada kencan lagi.”

“Oke.” Bianca menyetujui apa yang dikatakan Jason. Kemudian, tanpa di duga, ia menjinjitkan kakinya, dan mengecup singkat pipi Jason. “Selamat malam.” Ucapnya sembari berlari pergi memasuki gerbang rumahnya.

Jason hanya ternganga menatap kepergian Bianca. Gadis itu tampak berlari dengan ceria memasuki rumahnya. Ketika Bianca sudah menghilang di balik pintu pagar rumahnya, Jemari Jason mengusap lembut pipinya sendiri bekas kecupan Bianca di sana.

Ketika Jason sibuk dengan perasaannya sendiri, ponselnya berbunyi. Jason merogohnya dan mengangkat panggilan tersebut saat tahu siapa yang sedang meneleponnya.

“Hai, Li.” Itu Lili, sahabat lamanya yang hubungannya sempat renggang, namun kini hubungan mereka sudah kembali membaik saat kesalahpahaman diantara mereka sudah terselesaikan.

“Jase, maukah kamu menjemputku?” tanya Lili yang terdengar sedikit ragu.

Jason tersenyum “Tentu saja, dimana?” tanyanya kemudian.

“Di kafe, tempat kerjaku. Kutunggu, Jase.”

“Oke, segera meluncur kesana.” Dan setelah itu. Sambungan teleponnya diputus. Jason kembali menatap singkat ke arah rumah Bianca. Ia tersenyum sendiri sebelum kembali mengenakan helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya. Jason melaju dari rumah Bianca dengan perasaan campur aduk.

Sial, apa ini? tanyanya dalam hati.

***

Jason menunggu di sebuah ruangan yang memang sudah disiapkan. Ruangan khusus untuk dirinya. Kafe tempat Lili bekerja memang sering mendatangkan Jason sebagai bintang tamu untuk bernyanyi di sana, bernyanyi sendiri, bukan dengan teman-teman Bandnya. Si pemiliknya memang kenal dekat dengan Jason, jadi ketika Jason datang ke tempat tersebut, Jason sudah disediakan tempat sendiri.

Saat ini, Jason sedang sibuk memeriksa ponselnya, dimana dia mendapati banyak sekali komentar di akun sosial medianya. Kadang, Jason berpikir, bagaimana jadinya ketika ia memposting sesuatu tentang wanita di akun jejaring sosialnya. Apa para fansnya akan menggila?

Saat Jason masih sibuk dengan ponselnya sendiri, pintu ruangan tersebut di buka dari luar. Jason mengangkat wajahnya dan mendapati Lili sedang masuk ke dalam ruangan tersebut.

Lili merupakan teman Jason sejak SMA, dia bekerja sebagai penyanyi sekaligus waiters di kafe tersebut. Hubungannya dengan Lili dulu sempat memburuk karena sebuah kesalah pahaman, tapi beberapa minggu terakhir, hubungan mereka sudah kembali membaik.

“Hai.” Jason berdiri seketika dan menyapa Lili dengan sedikit canggung. Masalahnya, saat Felly memutuskan hubungannya dengan Jason beberapa minggu yang lalu, Felly juga sempat mengatakan jika Lili memiliki perasaan lebih terhadap Jason. Dan hal tersebut membuat Jason canggung.

Jason sendiri tidak pernah menganggap lebih hubungannya dengan Lili. Lili adalah teman terbaiknya dulu sejak SMA, sejak dirinya belum terkenal. Dan hanya teman dekat, tidak lebih. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin menyakiti perasaan temannya itu dan membuat hubungan mereka kembali merenggang.

“Hai, kamu datang dari tadi?” tanya Lili yang kini sudah berada tepat di hadapan Jason.

“Ya, kamu baru selesai?” Jason bertanya balik.

“Harusnya dari tadi, tapi mereka ingin aku menyanyikan sebuah lagu lagi.”

“Woww, rupanya sudah ada punya penggemar, ehh.” Godan Jason.

“Tetap saja, tidak sebanyak kamu.” Pipi Lili memerah karena godaan Jason tersebut.

Jason tertawa lebar. “Oke, oke, sekarang, ayo kuantar pulang.”

Lili mengangguk, lalu ia berkata “Terimakasih sudah mau menjemputku.”

“Kalau nggak sibuk, apapun yang kamu inginkan, akan kuturuti.” Jawab Jason sembari keluar dari kafe tersebut.

“Aku senang, kamu masih sama dengan Jason yang dulu. Padahal sekarang, karir kamu semakin menanjak.” Lili yang mengekor di belakang Jason berkomentar.

Jason tersenyum. “Karir tidak akan mempengaruhi kehidupan pribadiku. Li.” Jason menanggapi pernyataan Lili.

Pada saat bersamaan, ia sudah memakai penutup wajahnya sebelum keluar dari dalam kafe tersebut. Jason lalu menuju ke arah motornya, memakai helmnya dan memberikan Lili helm.

“Kamu habis keluar? Sama siapa?” tanya Lili kemudian.

“Ya, tadi nonton sama seseorang.”

“Pacar?” tanya Lili yang ingin Ttahu.

Jason tersenyum ia menatap ke arah Lili dan menjawab “Bukan.” Tentu saja Jason tak akan menceritakan tentang Bianca pada Lili. Lili akan sakit hati dengannya, dan ia tidak ingin hubungannya dengan Lili kembali merenggang.

“Ohh, kirain.” Ucap Lili sembari menaiki motor Jason. Keduanya berlalu dari halaman kafe tersebut meninggalkan sepasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka.

***

Jason menatap bayangan di hadapannya. Sesekali ia menghela napas panjang, mengatur perasaannya agar ia tidak merasakan demam panggung.

“Apa kamu deg-degan?” pertanyaan Bianca membuat jason menatap ke arah bayangan wanita itu. Bianca kini memang sedang berdiri di belakangnya. Jason menatap bayangan Bianca dari cermin yang sama.

“Ya, ini sudah biasa.” Jawab Jason mencoba mengendalikan dirinya.

Saat ini, memang sudah tiba waktunya konser band The Batman. Seharusnya Jason tak perlu merasakan deg-degan lagi, karena ini bukan pertama kalinya ia melakukan konser. Hanya saja, kehadiran Bianca saat ini membuat Jason merasa bahwa ia harus membuat wanita itu terkesan nantinya.

Ini sudah lebih dari dua bulan lamanya Jason menjalin hubungan dengan Bianca. dan dalam jangka waktu tersebut, Bianca benar-benar mampu membuat dirinya melupakan sosok Felly. Setidaknya itu yang dirasakan Jason saat ini.

Bianca benar-benar memberikan dampak positif untuk Jason, Jason jadi lebih sering tersenyum dan lebih ceria ketika Bianca berada di sekitarnya. Hal itu membuat semua personel The Batman ikut senang. Troy bahkan terang-terangan memuji Bianca, bahkan temannya itu pernah berkata jika Jason nanti selesai dengan Bianca, maka Troy mau menjadi pengganti Jason untuk Bianca.

Benar-benar berengsek temannya itu.

“Kalau gitu, jangan diem gitu dong. Semangat.” Bianca memberi semangat Jason, dan yang bisa dilakukan Jason hanya tersenyum sembari mengacak poni pirang milik Bianca.

“Kamu duduk di tempat penonton lagi?” tanya Jason kemudian.

“Ya, kan aku juga beli tiket.” Bianca mempamerkan tiketnya.

“Bodoh, aku kan sudah pernah bilang, lain kali nggak usah beli. Kamu bisa duduk di tempat official.”

“Nggak asik, enakan teriak-teriak bareng sama fans-fans kamu.” Jawab Bianca dengan ceria.

Ini memang bukan pertama kalinya Bianca menonton konser Jason setelah hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih Dua bulan yang lalu. Jason sudah beberapa kali melakukan konser, karena jadwal konsernya kini sedang cukup padat. Dan pada saat-saat itu, Bianca meluangkan waktunya untuk menemani Jason, dan menjadi penonton setia diantara ratusan bahkan ribuan fans-fans The Batman.

Hubungan mereka masih tersimpan dengan rapih, bahkan Bianca tidak pernah menceritakan apapun dengan orang-orang terdekatnya, termasuk Sienna.

“Jangan teriak terlalu kencang, tenggorokanmu nanti sakit.”

“Kan biar kamu bisa lihat aku.”

Jason tertawa. “Makanya, duduk saja di Official, atau di barisan depan. Maka aku bisa melihatmu dengan mudah.” Ya, karena selama ini, Jason memang tidak bisa menemukan dimana Bianca berada ketika menyanyi di atas panggung.

“Yee, berusaha mencariku, dong. Nanti aku kasih hadiah.”

“Apa?” tanya Jason penasaran.

Bianca terkikik geli, ia bangkit dan berkata. “Temukan aku, maka aku akan memberimu hadiah.” Setelah itu, Bianca pergi begitu saja dari ruang ganti Jason sembari melambaikan tangannya pada lelaki itu.

Jason hanya tersenyum melihat kepergian Bianca. pada saat bersamaan, Troy masuk ke dalam ruang gantinya. Troy sempat merasa heran dengan Jason yang tersenyum sendirian dalam ruangannya, tapi kemudian, Troy tahu, bahwa semua itu karena Bianca, karena ia baru saja mendapati Bianca keluar dari dalam ruang ganti Jason.

“Jase, elo sudah siap?”tanya Troy kemudian.

“Ya, Tentu saja.”

“Karena Bianca, ya?” pancing Troy.

“Elo apaan, sih.” Jawab Jason dengan tawa lebarnya.

“Jase, gue hanya bisa ngingetin. Jangan terlalu dalam menyukai seseorang, kalau elo nggak mau tersakiti lagi nantinya.” Ucap Troy sembari menepuk-nepuk bahu Jason.

Jason hanya mengangguk. Ia membenarkan apa yang dikatakan Troy. Ya, Jason tak akan membiarkan dirinya jatuh cinta lagi pada seorang wanita. Cukup seorang Fellysia saja yang membuatnya patah hati dan tersakiti. Tidak dengan wanita lain. Tapi Bianca? ahhh, apa yang ia rasakan pada Bianca hanya sebuah ketertarikan sekilas. Ya, hanya sebuah ketertarikan sekilas yang membantunya mendapatkan sebuah kesenangan. Tidak lebih. Pikir Jason dalam hati.

***

Konsernya berjalan dengan begitu meriah. Bahkan tempat tersebut penuh dengan para fans dari The Batman. Mungkin karena ini akhir pekan, atau mungkin karena popularitas The Batman yang semakin menanjak setiap harinya.

Bianca tak berhenti berteriak, memanggil-manggil nama Jason diantara banyak wanita yang mengidolakan lelaki itu. Kadang Bianca berpikir, rupanya, gosip jika Jason Gay tak mempengaruhi wanita-wanita di sekitarnya ini. nyatanya, mereka tetap saja mengeluh-eluhkan nama Jason dengan sesekali berteriak histeris.

Bianca tersenyum memikirkan hal itu. Kemudian ia kembali meneriakkan nama Jason agar lelaki itu dapat menemukan dirinya diantara ratusan fans The Batman. Dan betapa beruntungnya dia, pada detik itu, mata Jason menatap ke arah Bianca.

Bianca melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Jason tersenyum ke arahnya. Lalu Bianca mendengar Jason menyanyikan lagu ‘Pujaan Hatiku’ kali ini aransemennya dirubah menjadi lebih romantis, tidak menyakitkan seperti pertama kali ia mendengar Jason menyanyikan lagu tersebut.

Bianca melihat Jason melompat turun dari panggung. Beberapa bodyguard segera mengamankan diri Jason dari anarkisme para fans The Batman. Yang tidak dipercaya Bianca adalah, bahwa lelaki itu kini sedang berjalan menuju tempatnya berdiri.

Bianca ternganga, ia segera membungkam bibirnya sendiri ketika Jason benar-benar berada di hadpaannya. Lelaki itu masih menyanyi, sedangkan jemarinya yang lain terulur, seperti sedang mengajak Bianca untuk berjalan bersamanya.

Dengan jantung yang berdebar-debar tak karuan, Bianca menyambut uluran tangan Jason. Kemudian ia ikut berjalan disisi lelaki itu dengan diiringi teriakan histeris oleh para penggemar The Batman.

Wahai Gadis cantikku…

Pujaan hatiku…

Aku mencintaimu…

Sungguh sungguh mencintaimu…

Wahai gadis manisku…

Teman dalam candaku….

Aku mencintaimu…

Wahai pujaan hatiku….

Jason masih saja bernyanyi hingga mereka sampai di atas panggung. Bianca bahkan baru sadar jika di atas panggung sudah di siapkan sebuah kursi untuk ia duduki. Bianca akhirnya duduk di sana saat setelah Jason menyelesaikan lagunya.

“Baiklah, sepertinya sudah sangat lama aku tidak melakukan ini.” Jason berkata dengan para penggemarnya. Semua penggemar berteriak histeris setelah mendengar ucapan Jason.

Bianca sendiri masih tak mengerti apa yang akan dilakukan Jason padanya di depan umum. Lalu lelaki itu tampak sedang memanggil seseorang. Dan benar saja, ada seorang panitia konser tersebut yang datang memberikan Jason seikat bunga.

“Malam ini, dia akan menjadi gadis bungaku.” Jason berkata dengan lembut sembari memberikan bunga tersebut pada Bianca. Mata Jason bahkan menatap Bianca dengan begitu intens. Oh, Bianca merasa jika jantungnya akan meledak saat itu juga.

Mengesampingkan dadanya yang terasa nyeri karena debaran jantungnya yang memukul-mukul begitu keras, Bianca menerima bunga tersebut. Jason kembali bernyanyi, kali ini tanpa diiringi dengan musik yang pelan namun terdengar begitu romantis, bernyanyi mengitari kursi yang di duduki Bianca. Lalu lelaki itu menunjuk pipinya sendiri, seakan ingin jika Bianca mendaratkan kecupan lembut di sana.

Bianca menggelengkan kepalanya. Pipinya memerah seperti tomat. Ia tak pernah diperlakukan begitu manis seperti ini, apalagi di depan umum.

Masih dengan bernyanyi, Jason meraih telapak tangan Bianca. ia mendaratkan telapak tangan Bianca pada dadanya. Seakan menunjukkan pada Bianca jika jantung lelaki itu kini sedang berdebar menggila. Bianca yang merasakannya segera mematung, matanya menatap tepat pada mata Jason.

Jason lalu membawa jemari Bianca pada pipinya, seakan meminta Bianca untuk menyentuh pipinya. Sesekali lelaki itu mengangguk, mengisyaratkan agar Bianca menuruti apa maunya.

Dengan setengah melamun karena terbawa suasana, Bianca mendekatkan wajahnya ia memejamkan matanya dan bersiap mengecup lembut pipi Jason. Tapi kemudian, Bianca tersentak, ketika tiba-tiba Jason menghentikan nyanyiannya, menangkup kedua pipinya kemudian menautkan bibirnya pada bibir Bianca.

Mata Bianca terbuka seketika, membulat karena tak percaya jika dirinya akan di cumbu dihadapan banyak orang. Teriakan para fans The Batman tidak menghentikan keduanya saling mencumbu mesra satu sama lain.

Astaga, apa yang sudah terjadi? Pikir Bianca dalam hati.

***

Di sisi lain…

“Apa-apaan itu? Sialan!” Aldo bersiap maju meninggalkan tempat duduknya.

Saat ini, Aldo memang sedang menemani Sienna, istrinya, menonton konser yang baginya tidak masuk akal. Aldo memang bukan tipe orang yang suka hal-hal seperti ini. bahkan Aldo kerap kali melarang Sienna untuk menonton konser-konser seperti ini. Tapi hari ini, ia menuruti kemauan Sienna karena istrinya itu berkata jika sedang mengidam ingin menonton konser The Batman.

Dan kini, saat ia menuruti permintaan tersebut, sebuah fakta menggelikan ia dapatkan. Sang adik, Bianca, kini sedang berada di atas panggung, dan dengan begitu berengseknya si Jason mencium adiknya itu di hadapan banyak orang.

Apa-apaan lelaki itu? Bukankah itu sebuah pelecehan? Aldo tak akan membiarkannya. Sejak dulu Aldo tidak pernah suka dengan sosok Jason, dengan penampilan lelaki itu yang sudah seperti berandalan.

Dan sampai kapanpun, Aldo tidak akan pernah menyukainya!

-TBC-

Next, Part 7 di cerita Bianca adalah ‘First Night with Bee’ hayookkkkkk mikir apa.. hahahhahaa selamat menunggu yaaa…