Kuis LOVE IN THE DREAM

Comments 45 Standard

Hallo temen2 semuanya…  okay… karena bang Brand udah End… aku mau bikin sedikit kuis nihhh buat para Readers tersayangku… hehehhehe Udah Baca Love In The Dream dari awal sampek ending kan???? Nahhhhh kuisnya adalah……

Silahkan tulis Satu Adegan yang paling Kamu suka dalam Novel Love In The Dream ini beserta Alasannya kenapa kamu suka adegan tersebut…

Contoh  : Aku suka saat Brandon pertama kali bertemu alisha di Bus… alasannya karena aku ikut dag dig dug saat baca…

Nah misalnya gitu…. komentar terbaik (Menurutku) itulah yang akan jadi pemenangnya… semoga beruntung yaa…..

Syarat dan ketentuannya adalah :

1.) Jawaban harus di kirim di kolom komentar… bisa langsung di blog ini atau di kolom komentar di fanspage facebook -kalo bisa langsung di blog yaaa… yang baru pertama komen, jangan takut komentarnya nggak muncul, pasti nanti muncul setelah saya Approve-

2.) Penilaian berdasarkan alasan kalian kenapa memilih adegan tersebut… kalo alasannya membuat saya tersentuh atau ngakak, bisa jadi saya memilihnya sebagai  pemenang… haha hahaha

3.) Pemenang kuis akan di umumkan 3 hari kemudian… (ingsya alloh kamis yaa)

4.) Maaf. Kuis hanya berlaku untuk orang dalam negri… hehehe (buat yang ada di malaysia dan sekitarnya mohon maaf sekali karena hadiah juga saya nggak bisa kirim kesana.. hehe)

5.) Semakin banyak yang ikut maka semakin banyak pemenang yaa … hehehe

6.) Peserta dari wattpad juga boleh ikut kuis disini asal jawaban nya pun di kirim ke blog ini atau di fanspage FB..

7.) Hadiah Berupa Satu set Novel serial the badboys saya yang berjudul ‘The lady killer, Because its you, dan my everything.’ Lengkap dengan notes manis dan tanda tangan cakar ayam saya… hahahhahaha

8.) Jika pemenang sudah memiliki novel tersebut versi cetak, maka hadiah di nanti dengan Voucer pulsa 150ribu rupiah (lumayan kan…) hehe.. .

9.) Usahakan jawaban tidak sama atau semenarik mungkin

10.) Jikanbanyak yang ikut ingsya alloh akan ada beberapa hadiah hiburan… hehhehe -saya masih mikir hadiah hiburannya apa hahaha #abaikan –

Ku tunggu partisipasinya… 😘😘😘😘😘

image

Gambar Novel Set the badboys series untuk hadiah yaa..

Advertisements

That Arrogant Princess – chapter 6 (“Aku akan menghangatkanmu..”)

Comments 5 Standard

TAP2That Arrogant Princess

Chapter 6

-“Aku akan Menghangatkanmu..”-

Clara merasakan benar- benar ada yang aneh pada diri Reynald. Dia diam dan cenderung datar, dingin dan Ahh… Clara bahkan tak mengerti apa yang sedang di pikirkan Reynald.

“Kamu Aneh.” Clara memulai pembicaraan.

“Apa maksudmu dengan Aneh??”

“Entalah.. Kupikir ada hubungannya dengan pembantu itu.”

Reynald mencengkeram erat kemudi mobilnya?? Pembantu?? Bagaimana mungkin wanita sialan ini menyebut kekasihnya dengan sebutan pembantu?? Kekasih?? Astaga.. bukankah hubungannya dengan Dina sudah berakhir??

“Jangan pernah sebut dia Pembantu.” Ucap Reynald penuh penekanan.

“Please ya Rey.. Kamu benar-benar ada hubungan sama wanita Udik itu??”

Dan seketika itu juga Reynald menghentikan laju mobilnya. Amaharnya sudah sampai keubun-ubun, Clara benar-benar keterlaluan, menyebut Dina sebagai pembantu dan juga Udik. Dan Reynald tak suka itu, Reynald tak pernah suka jika ada orang yang merendahkan Dina.

“Keluar.” Ucap Reynald dengan dingin.

“Apa maksud kamu?”

“Kubilang keluar.” Reynald tak bisa di ganggu gugat.

Akhirnya masih dengan mengangkat Dagunya, Clara keluar dari dalam Mobil Reynald. Menutup mobil Reynald dengan keras hingga berdentum. Sedangnkan Reynald langsung menancap pedal gasnya dan melaju cepat meninggalkan Clara di tengah jalan.

“Sialan Kamu Rey..” Teriak Clara.

Astaga… Apa yang harus ia lakukan??? Clara merogoh saku di bajunya, Tak ada uang, dan Ponsel?? Ya tuhan. Bahkan Ponselnya pun tertinggal di mobil lelaki sialan itu. belum lagi penampilannya saat ini yang astaga…. Clara bahkan tak berani melihat penampilannya yang baginya sangat buruk ini. Akhirnya dengan kesal Clara melanjutkan jalannya.

***

“Sialan..!!! Wanita sialan…!!” Reynald tak berhenti mengumpat kasar karena terlalu marah. Marah pada keadaan yang menimpanya, marah dengan Clara yang berani-beraninya merendahkan wanita yang di cintainya.. dan Marah pada dirinya sendiri yang tanpa sengaja menyakiti hati Dina.

Sungguh, Reynald bahkan tak tega melihat wajah sendu Dina tadi, sekilas Mata Dina terlihat berkaca-kaca, dan itu benar-benar membuat dadanya terasa sesak.

Reynald memukul-mukul kemudi mobilnya. Menambah kecepatan mobilnya, Ia harus segera sampai di rumah dan menjelaskan semuanya pada Dina.

***

Dina membantu Allea berbaring di ranjangnya. Walau kini Ia terlihat baik-baik saja, nyatanya tidak, perasaannya sedang kacau, dadanya terasa di remas-remas saat mengingat Wanita yang mengaku sebagai calon Istri Reynald tadi.

Wanita itu tentu saja cantik. Dia model papan Atas, berbagai macam Iklan kecantikan dan lain sebagainya memakai jasanya. Reynald tentu saja sangat pentas bersanding dengan wanita sekelas Clara. Ya tuhan.. bahkan Dina tak dapat membayangkan bagaimana perasaannya nanti ketika melihat lelaki yang di cintainya bersanding dengan Wanita sempurna seperti Clara.

Wajah Dina mulai muram, matanya kembali berkaca-kaca, dan itu tak luput dari perhatian Allea.

“Kamu nggak enak badan?” Tanya Allea saat melihat Dina yang sejak tadi tak membuka suaranya.

“Tidak Bu, Saya hanya..”

“Apa ada hubungannya dengan Rey??”

Dina hanya bisa menggeleng lemah. “Saya dan Mas Rey sudah tidak ada hubungan apa-apa Bu..”

“Bagaimana kalian bisa pisah??”

“Saya….”

Belum juga Dina melanjutkan kata-katanya, Pintu kamar Allea di buka dengan keras oleh seseorang. Itu Reynald, Dia tampak sedang tergesa-gesa.

“Bisa kita bicara di luar sebentar?” Reynald memandang Dina dengan tatapan memohon. Sedangkan Dina menatap Allea seakan ingin meminta persetujuan.

“Keluarlah, sepertinya dia akan menjelaskan sesuatu.” Kata Allea sambil tersenyum dan mengangguk.

Akhirnya Dina dan Reynald pun keluar dari kamar Allea. Tapi saat mereka sudah berada di luar, Reynald malah menyeret tangan Dina masuk kedalam kamarnya.

“Aku Bisa jelaskann semuanya sama Kamu.” Kata Reynald cepat setelah Ia menutup kamarnya.

“Aku tau Mas.. aku mengerti.”

“Enggak, Kamu nggak tau apa-apa. Dengar, Aku memang akan menikahi Wanita Sialan itu, Tapi aku masih sayang sama Kamu Din..”

“Kamu nggak boleh gitu Mas??”

“Lalu aku harus bagaimana???” Reynald mulai berteriak karena frustasi. “Kamu pikir aku mau jalanin Ini??”

Dina mulai menangis, air matanya jatuh begitu saja. “Aku nggak apa-apa, Aku bisa melupakan kamu kok..” Lirihnya.

“Tapi aku nggak mau Kamu melupakan Aku.. Aku nggak mau kita berakhir seperti ini..” Reynald memeluk erat tubuh Dina. Sungguh Ia sangat mencintai Wanita yang ada dalam pelukannya kini. Tapi di sisi lain Ia harus menuruti kemauan Clara untuk menikahinya, Bukankah Ia sudah berhutang nyawa ibunya??

Lalu Reynald ingat akan sesuatu. Yaa… Perjanjian itu, dalam perjanjian tersebut ditulis jika mereka hanya akan menikah selama kurang lebih dua tahun, haruskah Ia menyuruh Dina menunggunya selama itu?? Tapi bagaimana mungkin?? Reynald tau bahwa dirinya bukanlah lelaki Brengsek yang dapat mempermainkan sebuah pernikahan, Reynald juga tak ingin kawin cerai dengan Wanita hanya karena Kontrak sialan tersebut. Tapi ia tidak bisa seperti ini, Perasaannya kepada Dina masih sama.

“Apa kamu mau menungguku?” Tanya Reynald kemudian.

Dina menatap reynald dengan tatapan tak terbacanya. Menunggu?? Apa maksud Reynald dengan Menunggu??

“Dengar, Pernikahanku dengan Clara hanya sandiwara, Maksudku dia yang menginginkan itu sebagai sandiwara, kamu tau bukan jika aku tidak pernah mempermainkan suatu ikatan??” Reynald mengambil nafas dan mulai bercerita lagi. “Clara ingin kami menikah hanya dalam jangka waktu dua tahun, Walau aku terpaksa menikahinya, tapi tetap saja aku tak bisa mempermainkan sebuah pernikahan. Tapi karena Kamu, Aku akan melakukan itu. Aku akan menceraikan dia setelah Dua tahun pernikahan Kami.”

“Mas… kamu nggak boleh seperti itu, Itu bukan diri Kamu, bagaimana dengan orang tua kamu dan orang tua dia??”

“Dia tidak peduli dan aku juga bisa tidak peduli.”

“Mas…”

“Dina, Ini demi Kamu, demi Kita, Dan Clara juga pasti sangat senang mendengar persetujuanku.”

“Tapi bagaimana jika…”

Reynald lalu memeluk erat tubuh Dina lagi. “Jangan pernaah bertanya pertanyaan yang tidak bisa aku jawab..” Ucap Reynald penuh arti.
Reynald tau apa yang akan di tanyakan Dina. Yaa.. Bagaimana jika dalam jangka waktu dua tahun nanti perasaannya Berubah?? Bagaimana jika Ia tak ingin berpisah dengan Clara?? Bagaimana Jika… Ahhh persetan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.. Gerutu Reynald dalam hati.

***

Aahhhh Sial..!!! hari ini benar-benar Sial untuk Clara. Di turunkan di tengah jalan tanpa telepon tanpa uang dan dengan penampilan berantakan, Ya tuhan…!!! Clara merasa dirinya sudah seperti Gembel atau pengemis. Belum lagi Hujan yang mengguyur langit Ibu kota membuat Clara seperti menerima paket lengkap dari kesialannya.

Kulit kakinya lecet-lecet karena berjalan jauh, kulit tangan dan wajahnya sempat memerah karena tadi sempat terkena Panas, rambutnya berantakan, Bajunya basah, Perutnya terasa keroncongan karena belum makan seharian. Belum lagi kepalanya yang semakin pusing karena tersesat.

Clara tak pernah mengendarai mobil sendiri, dia lebih suka Di temani Mily jika keluar, itupun hanya sekedar nongkrong di tempat biasa atau hanya ketempat pemotretan yang tak jauh. Sifatnya yang pelupa benar-benar membuat parah keadaan, Ia sama sekali tak tau Ada dimana Dirinya saat ini.

Hujan semakin deras, dan langit sebentar lagi menjadi senja. Clara benar-benar tak tau apa yang harus Ia lakukan. Bertanya pada Orang? Tentu saja Tidak, Clara terlalu sombong untuk bertanya apalagi meminta bantuan pada seseorang.

Akhirnya Ia berakir mengenaskan di depan emperan sebuah Ruko. Menyedihkan. Dan Menangis.. Menagis..??? Seorang Clara adista menangis??? Clara tak pernah menangis karea ia tak pernah mau memperlihatkan sisi lemahnya, tapi kini tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis, Ia ingin pulang tubuhnya benar-benar kelelahan, Hatinya terlalu sakit karena di campakan begitu saja oleh lelaki sialan yang berstatus sebagai tunangannya.

Tanpa banyak bicara lagi Clara berjalan kembali, kemana, Entahlah.. Bahkan Ia tak tau arah.. setelah beberapa Langkah berjalan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di sebelahnya. Mobil yang tadi pagi meninggalkannya begitu saja di tengah jalan.

Clara mendengus lalu melanjutkan jalannya kembali, tak mempedulikan si pemilik mobil yang sudah keluar mengejarnya sambil berteriak memanggil namanya.

“Apa Kamu nggak dengar aku memanggilmu Hahh?” Reynald sedikit berteria sambil mencengkeram pergelangan tangan Clara.

“Lepaskan sialan..!!!”

“Ayo kita puang.”

“Aku nggak mau.”

Dan sebelum Reynald berbicara lagi, tubuh Clara sudah terlebih dahulu ambuk kedalam pelukannya. Wanita ini pingsan…

***

Clara merasakan tubuhnya terasa Remuk dan Sakit, Ia juga merasa menggigil kedinginan, belum lagi rasa mual di perutnya yang membuatnya terasa begitu menyiksa.

Clara mengerang dalam setengah sadar, “Sakit.. Sakit..” sambil sesekali terisak.

Reynald terbangun dalam tidurnya ketika mendengar rintihan Clara. Saat ini mereka sedang berada di dalam kamar Clara. Mily yang juga tinggal bersamaa Clara di sini kebetulan sedang keluar mengurus sesuatu. Tadi Reynald sebenarnya ingin meninggalkan Clara sendiri, tapi entah kenapa Ia tak tega, Ada apa dengannya??

“Kamu sudah sadar??” Tanya Reynald sambil mengambil Kompres di kening Clara.

“Sakit..” Rintih Clara.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang dapat di ucapkan Reynald.

“Aku dingin..”

“Aku sudah mematikan AC nya. Dan badanmu panas.”

“Tapi aku kedinginan..” bentak Clara.

Dan itu membuat Reynald sedikit menyunggingkan senyumannya. Yaa setidaknya kecerewetan Clara dan sikap menyebalkannya sudah kembali. Reynald kemudian membuka bajunya hingga meninggalkannya dengan kaus dalamnya saja, lalu dibukanya juga kaus dalamnya tersebut hingga Reynald kini bertelanjang dada.

“Apa yang kamu lakukan??” Ucap Clara dengan sudah payah.

“Maaf, kupikir kamu tadi berkata jika kamu kedinginan, aku akan menghangatkanmu.” Lalu tanpa banyak omong Reynald mendudukkan Clara dan membuka piyama yang dikenakan Clara.

“Heii.. Apa yang kamu lakukan??” Lagi-lagi Clara membentaknya. Ya tuhan… jika Ia tidak sedang lemas mungkin saat ini tangannya sudah mendarat sempurna pada pipi Reynald.

Reynald tak menjawab, Ia meneruskan apa yang dilakukannya meski sesekali mengerang dalam Hati. Sialan..!!! wanita sombong di hadapannya ini benar-benar sangat menggoda. Kulitnya putih mulus tanpa cacat sedikitpun, dan tubuhnya, ya tuhan… benar-benar menggoda. Reynald menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat Clara hanya berbalutkan Bra hitamnya yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Sial..!!! Mily benar-benar tau apa yang pantas di kenakan Clara. Yahh.. tadi setelah membawa Clara pulang dalam keadaan basah kuyup, Milylah yang mengganti pakaian Clara.

“Rey… Aku semakin kedinginan..” Ucap Clara lemah dengan gigi yang bergemeletuk. Gemeletuk Gigi Clara menyadarkan Rynald jika Ia terlalu lama membiarkan Wanita di hadapannya ini setengah telanjang.

“Maaf..” entah kenapa Suara Reynald menjadi sangat serak. Ia lantas melompat naik keatas Ranjang, memposisikan diri di sebelah Clara, dan lelu memeluk wanita itu. “Apa sudah hangat??” tanya Reynald masih dengan suara seraknya.

Clara memang merasakan tubuh Reynald yang menghangatkannya. Clara mengangguk dan sedikit menunduk malu. Lagi-lagi Lelaki ini membuatnya merona Malu. Sial..!!!

Reynald mengambil Bed Cover dengan kakinya lalu menyelimuti tubuh mereka dengan Bed cover tersebut. tubuh Clara benar-benar terasa sangat panas, bagaimana mungkin wanita ini merasa sangat kedinginan hingga giginya bergemeletuk???

“Kamu demam, apa kita ke dokter saja??”

“Aku nggak mau.”

“Maafkan aku, aku sudah meninggalkan kamu.”

Clara tak menjewab, ia hanya mengeratkan pelukannya pada Reynald. Lelaki ini entah kenapa membuatnya luluh lantak, Lelaki di luar dugaannya, bukanlah lelaki membosankan seperti pegawai kantoran pada umumnya. Clara Bahkan merasa sangat penasaran dengan Kehidupan Reynald yang sebenarnya.

“Tidurlah.. Aku akan menghangatkanmu..” Kata Reynald lagi.

“Kamu punya tubuh bagus Rey..” Entah kenapa kata itu keluar dari bibir Clara secara tiba-tiba.

Reynald tersenyum, tak menyangka Wanita sombong ini tiba-tiba berkata seperti itu. “Aku nge Gym tiap hari.”

“Tapi kamu juga suka makan banyak. Dan kamu nggak gemuk.”

Reynald tak dapat menahan tawanya. Pada titik ini Reynald merasakan Clara seperti Wanita lugu dan lucu. Jika Clara seperti ini, mungkin Ia tak akan terlalu membencinya.

“Sudahlah.. Ayo tidur, supaya besok kamu sembuh.”

Clara mengangguk dan menenggelamkan Wajahnya di dada Reynald yang hangat dan nyaman. Menghirup aroma lelaki itu yang wanginya benar-benar memabukkan. Lalu mencoba memejamkan matanya berussaha tidur senyenyak-nyenyaknya.

Sedangkan Reynald, entah kenapa perasaannya semakin tak menentu. Ia memikirkan Dina, bagaimana dengan Dina?? Tapi disisi lain Clara juga membuatnya penasaran, seakan selalu membangunkan sesuatu dalam dirinya. Bahkan saat beersama dengan Clara entah kenapa berbagai macam pikiran-pikiran mesum keluar masuk dalam otaknya. Apa karena wajahnya?? Apa karena tubuhnya?? Entahlah.. yang jelas Reynald bahkan merasakan jika tubuhnya seakan terpanggil dengan tubuh Clara. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Astaga… Reynald bahkan sangat frustasi karena ketegangan Seksual yang dirasakannya saat kulitnya bergesekan dengan kulit lembut Clara. Sial..!!!

-TBC-

Ada yang udah kangen abang Rey belom?? Kalo nggak ada ya dah aku kangenin sendiri… haahhahahaha 😛 😛

My Brown Eye – Chapter 1

Comments 9 Standard

mbeMy Brown Eye

NB : Haiii aku kembali dengan cerita baru nih…. ‘My Brown Eye’ (Hurt Love #1) Adalah serial pertama dari ‘Hurt Love’ Karyaku.  udah pernah Baca ‘Please stay With Me’ (PSWM)  Kan..?? Itu tuhh ceritanya Revan dan Dara… nahh ‘My Brown Eye’ ini adalah Prequel dari PSWM yaa… kisahnya Hana Dan Mike. sebenernya aku sedikit nggak nyangka ternyata PSWM banyak yang nunggu.. heheheh padahal dulu aku nggak PD buat Post. moga-moga Aja MBE (My Brown Eye) ini juga banyak peminatnya. kenapa aku kasih judul My Brown Eye..?? nggak tau yaa…. pengen aja kasih judul gitu hahhaha #Plaaakkkk abisnya beberapa kali judul coretanku sama dengan milik seseorang walau sebenernya isiya beda banget. jadi aku cari judul yang aneh aja. hahahahha okkkk langsung aja kalo gitu,,, happy reading… 🙂

Chapter 1

-Kadang Kebencian bisa menuntunmu kepada Cinta…-

Hana sangat senang karena ini malam pertama dirinya berkencan dengan Lelaki yang sangat di cintainya. Lelaki yang belum genap sebulan ia kenal karena pertemuan tak terduganya. Pertemuan di dalaam sebuah toko kaset, sangat klasik tapi entah kenapa membuat Hana benar-benar merasa jatuh cinta pada pandangan pertama kepada lelaki tersebut.
Namanya Mike, Mike Handerson. Lelaki keturunan Indo jerman dengan ketampanan diatas Rata-rata dan juga mata Coklat yang membuatnya semakin mempesona. Sebenanya Hana sedikit Haran, kenapa Lelaki yang mengenakan Setelan Jas Rapi tersebut masuk kedalam Toko Kaset kecil langganannya. Tapi tentu saja Hana tak mempedulikan hal itu. Nyatanya pertemuan mereka saat itu benar-benar memberikan hasil yang membahagiakan untuk Hana.
Tiga hari yang Lalu, Hana Resmi menerima Mike sebagai kekasihnya. Meski itu dilakukan diam-diam karena tak ada yang mengetahuinya kecuali Dara, sahabatnya. Hana tak mungkin memberi tau keluarganya, mereka kurang pergaulan dan sangat patuh pada aturan-aturan kuno. Apalagi Kakaknya. Revan. Revan benar-benar sangat Overprotektif terhadap Hana, entah apa alasaannya tapi semenjak tiga tahun yang Lalu Revan benar-benar berubah menjadi Sosok yang menyebalkan untuk Hana.
Hana benar-benar sangat menunggu hari ini. Hari dimana dirinya menjadi wanita yang berkencan untuk pertama kalinya. Tentu saja Hana tak bisa melewati semua ini tanpa Dara, Sahabatnya. Dara membantunya memilihkan pakaian, mendandaninya, dan juga membantunya memberikan alaasan kepada Revan dan kedua orang tuanya jika mereka saat ini sedang bekerja lembur. Hana dan Dara saat ini memang sedang bekerja bersama di sebuah perusahaan periklanan di kota ini.
Sebenarnya Hana sedikit Heran dengan Dara, dengan wajah cantiknya, keahliannya dalam mengenakan Make Up, Dara tak pernah sekalipun terlihat tertarik dengan Lelaki, apalagi mengingat banyak lelaki yang mendekatinya. Apa ada yang salah dengan Dara..?? tapi Hana tak mau mengambil pusing, dengan Adanya Dara dirinya benar-benar sangat terbantu.
Hana Menunggu kedatangan Mike di halte pertama setelah keluar dai kompleks perumahannya. Tentu saja saat ini Dara menemaninya.
“Hana, Apa Kau baik-baik saja..?” tanya Dara yang ternyata ikut merasakan kegugupan Hana.
“Yaa.. aku aik-baik saja, aku hanya sedikit Gugup.” Jawab Hana kemudian.
“Tenanglah.. Mike sepertinya orang baik. Aku tau dia benar-benar menyukaimu.” Kata Dara meyakinkan, Hana sudah mengenalkan Mike dengan Dara beberapa hari yang lalu. Kesan pertama yaang Dara dapatkan adalah Mike terlihat baik dan benar-benar terlihat tulus. Sejak saat itu Dara mendukung hubungan Hana dan Mike walau itu dengan membantu Hana berbohong kepada Kakak dan orang tuanya.
“Terimakasih Dara, aku benar-benar tak tau bagaimana jika bukan karena bantuanmu.”
“Kau tak perlu berlebihan.” Jawab Dara sambil tersenyum manis.
“Apa Kau tau Dara jika aku mengkhawatirkanmu, Kau tak pernah sekalipun terlihat berkencan dengan Lelaki. “
Dara lalu tersenyum manis. “Hana, Aku lebih senang menghabiskan waktuku dengan buku-buku novel atau Map-Map periklanan kita.”
“Tapi Kau juga harus bersenang-senang Dara.”
“Aku sudah senang, aku sudah bahagia..”
“Hanya dengan seperti ini..? Ayolah Dara, Kau haruss memiliki teman kencan.” Kata Hana lagi.
Dara Hanya tesenyum simpul. “Aku sudah memiliki teman kencan, dia ada dirumah.”
“Benarkah..? Siapa.?”
“Bantal dan gulingku, Hahahah.” Jawab Dara sambil tertawa terbahak-bahak.
“Sial…!!! kupikir Kau benar-benar sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuanku.” Gerutu Hana.
Tak lama, Mobil Sedan Hitam mengkilap yang terlihat sangat Mahal berhenti tepat dihadapan mereka. Hana dan Dara tau jika itu adalah Mike. Mike dimata mereka adalah seorang lelaki bersih dan Rapi khas peminpin-pemimpin perusahaan dalam drama-drama yang pernah mereka tonton. Tubuh tinggi tegap dan wajah tampannya benar-benar membuatnya sangat cocok untuk berperan sebagai tokoh utama dalam drama-drama tersebut. Maka jangan Heran jika wanita sepolos Hana akan berada dalam genggamannya hanya dalam sekali tepuk.
Mike keluar dari dalam mobil, masih mengenakan setelan hitamnya dengan kemeja putih di dalamnya, Mengenaakan kacamata hitam dan melemparkan sebuah senyuman mempesona dari bibir indahnya.
“Nona, pangeranmu sudah datang.” Goda Dara kepada Hana.
“Haisshh.. Kau benar-benar.” Gerutu hana, sedangkan Dara hanya bisa terkikik saat melihat kegugupan sahabatnya tersebut.
“Hai.. Maaf jika aku sedikit terlambat.” Sapa Mike saat berada di hadapan mereka.
“Bukan sedikit terlambat Mike, Kau Memang sangat terlambat.” Jawab Dara sambil tertawa dan menggoda Hana.
“Aku benar-benar minta Maaf.”
“Tidak, Kau tak perlu minta Maaf, Mike.” Jawab Hana kemudian.
“Baiklah, kalau begitu aku kembali dulu. Ingat, Jam sembilan aku sudah menunggumu di sini Hana.” Kata Dara sambil berpamitan.
“Baiklah, Terimakasih Dara.”
“Yaa.. berhati-hatilah, Dan Kau Mike, jangan sakiti dia.”
Mike hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Apa dia tidak berkencan..?” Tanya Mike ketika Dara Sudah menjauh dari mereka.
“Aku tidak tau, tapi kupikir Dara memiliki orang yang dia Cintai. Sungguh, Banyak lelaki yang mendekatinya, Tapi Dara tak pernah mau menghiraukannya.”
Mike lalu menatap Hana dengan Seksama, “Astaga Hana, Kau sangat Cantik malam ini.”
“Kau berlebihan Mike.”
“Tidak Sayang, Kau benar-benar sangat Cantik.” Kali ini Mike sudah mengusap lembut pipi Hana.
“Terimakasih.”
“Baiklah, sepertinya kita sudah terlambat, Ayo masuk.” Mike membukakan pintu depan untuk Hana.
Mike memutari mobilnya dan masuk lalu duduk di kursi kemudi sebelah Hana. “Kuharap ini menjadi kencan pertama yang menyenangkan untuk kita.” Kata Mike sambil menyalakan Mobilnya dan mulai menginjak pedal Gas. “Aku ada hadiah untukmu.” Kata Mike sambil menunjuk kebelakang.
Hana mengangkat sebelah alisnya lalu menoleh dearah Jok belakang kursinya. Seikat bunga Mawar berwarna Pink yang sangat besar , dengan Kotak berpita besar disebelahnya.
Hana menutup mulutnya dengan telapak tangannya, tak menyangka jika Mike adalah orang yang benar-benar Romantis.
“Astaga.. Kau tak perlu melakukan ini Mike..”
“Aku akan melakukan apapun untukmu sayang.” Kata Mike sambil mengecup telapak tangan Hana. “Dan Kau benar-benar Cantik hari ini.” Puji Mike lagi. Sedangkan Hana hanya bisa tersipu-sipu malu saat Mike tak henti-hentinya bersikap manis terhadapnya.
***
Tujuan pertama mereeka adalah Bioskop. Terlihat biasa-biasa saja untuk kencan pertama, tapi itu benar-benar sangat berarti untuk Hana. Sejak Dulu Hana menginginkan menonton film Romantis bersama dengan sang Pacar karena memang selama ini Hana belum pernah pacaran, tentu saja itu karena sikap Overprotektif Sang Kakak. Kini dirinya sangat bahagia memiliki seorang kekasih, Apalagi Kekasih itu baginya adalah kekasih yang diatas Rata-rata.
Ya tuhan.. Hana tak akan pernah berhenti memuji kesempurnaan Mike.
Saat ini Mike memberi kebebasan Hana untuk Memilih Film. Hana memilih sebuah Film Roman yang dibumbuhi dengan adegan Action, Semoga saja Mike suka dengan pilihannya. Sdangkan Mike sendiri kini sedang memesankan minuman dan juga Popcorn untuk menemani mereka saat film di putar nanti.
“Kau hanya membeli satu..?” Tanya Hana sedikit heran ketika melihat Mike haanya membawa sebuah gelas plastik ukuran besar dengan minuman di dalamnya dan juga sebungkus besar Popcorn.
“Yaa tentu saja.” Jawab Mike santai.
“Kau tidak makan nanti.?”
“Tentu saja aku memakannya.”
“Lalu bagaimana denganku.?”
Dan Mike hanya tersenyum. “Astaga Sayang… lihat ini.” Kata Mike menusukkan duaa buah sedotan kedalam gelas plastiknya tersebut. “Kita akan meminumnya bersama.” Lanjut Mike sambil mengerlingkan matanya.
Dan Hana hanya bisa tersenyum bahkan tersipu malu. “Kau aneh.”
“Ini tidak Aneh Sweety.. Semua pasangan melakukan ini saat menonton.”
Dan Hana lagi-lagi hanya bisa tersipu malu dengan perlakuan Mike, Mike ternyata orang yang sangat penyayang dan romantis, itu membuat Hana merasa sangat beruntung mengenal apalagi sampai mendapatkan hati Mike.
***
Setelah menonton Film Roman Action bersama, merekapun makan malam bersama. Makan malam yang menurut Hana sangat Romantis. Mike benar-benar membuatnya berbunga-bunga malam ini. Membuatnya menjadi seorang Ratu yang dilayani dengan sepenuh hati.
Tepat jam setengah sembilan malam Mike mengajak Hana pulang. Berhenti di depan Halte tempat mereka bertemu tadi.
“Sepertinya Cinderella sudah pulang lebih awal.” Goda Mike dengan melemparkan sebuah senyuman hangatnya.
“Kau tak perlu menggodaku Mike.”
Mike menggeleng. “Tidak Hana, Kau memang seperti Cinderellaku.” Kata Mike yang kali ini sudah mengecup punggung tangan Hana.
Mike turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Hana, Hana keluar dan Mike masih menemaninya.
“Sebaiknya Kau cepat pulang, ini sudah malam.” Kata Hana dengan sedikit gugup.
Mike menggeleng. “Aku tak akan membiarkanmu duduk disini sendiri, aku akan menemanimu hingga Dara kesini menjemputmu.”
“Mike, Apa kau tau jika Aku… emm.. sepertinya aku…”
“Katakan Hana.”
“Aku benar-benar jatuh hati padamu.” Kata Hana dengan menunduk karena Merona malu.
Mike tersenyum, lalu diaangkatnya dagu Hana, dan Mike pun mendaratkan Ciuman hangatnya kepada Hana. Ciuman pertama mereka. Hana merasa Aneh dengan sensasi ini, ini pertama kalinya dirinya berciuman dengan Lelaki dan Lelaki ini adalah Lelaki yang sangat di cintainya.
Sebisa mungkin Hana membalas Ciuman Mike, dengan tekhnik seadanya, dan itu membuat Mike tersenyum di sela-sela Ciumannya.
“Kenapa..?”
“Tidak..” mike Masih tersenyum. “Aku hanya ingin bertanya, apa Kau tak pernah berciuman..? Kau tak bisa berciuman..?” tanya Mike masih dengan tersenyum.
Hana Menunduk, dia benar-benar sangat Malu karena Mike menanyakan Hal itu. Tentu saja dirinya tak pernah berciuman. Selama 24 tahun dirinya tak pernah sekalipun pacaran, Orang tuanya memberi batasan Hana untuk mengenal lelaki, dan Hana sendiripun takut dan tak pernah berpikir untuk melanggar aturan orang tuanya tersebut. Belum lagi Kakaknya, Revan, yang sejak tiga tahun yang lalu berubah menjadi sosok yang over protektif dan menyebalkan. Tentunya dengan kehadiran Mike entah kenapa membuat Hana ingin melanggar semua aturan dari orang tuanya.
“Aku tak pernah memiliki kekasih Mike, wajar jika aku tak pernah berciuman.” Kata hana malu-malu.
“Hei.. kau tak perlu malu.” Kata Mike kali ini sambil mengangkat dagu Hana kembali. “Aku akan mengajarimu.” Kata Mike Kemudian.
Dan Hana semakin malu dengan perkataan Mike, diajari Berciuman adalah bukan hal yang petut dibanggakan mengingat Usianya yang sudah tak ABG lagi. Mike pasti menertawakannya, bagaimana mungkin Orang setua dirinya tak pernah berpacaran apalagi berciuman.
Mike memegang kedua bahu Hana. “Hana.. aku mencintaimu apa adanya, Dan aku sangat bahagia saat mendengar jika aku adalah Lelaki pertamamu. Jadi Kau tak perlu memikirkan Hal-hal aneh lainnya.” Kata Mike menenangkan Hana.
Dan bukannya tenang, Hana Malah semakin dibuat gugup. Gugup karena ssentuhan Mike, Perkataannya, pernyataan Cintanya. Dan gugup karena kedekatan Mereka.
“Ehhheeemm.” Suara seseorang mengagetkan mereka berdua.
“Kau sudaah datang.?” Dengan sedikit gugup Hana bertanya pada pemilik suara tersebut. Dia Dara.
“Yaa… tapi sepertinya aku melewatkan sesuatu yang harusnya kuihat.”
“Kau Ada-ada saja.” Kata Hana berpaling.
“Baiklah Sweety… Sepertinya aku memang harus pulang. Jaga dirmu baik-baik, dan jangan lupa hubugi aku.” Kata Mike kemudian. Lalu..
‘Cup’
Mike mencium Hana tepat dikeningnya. Ciuman sangat lembut tapi mempu membuat Kaki hana gemetaran, Membuat Perut Hana terasa dipenuhi puluhan kupu-kupu. Ya tuhan… perasaan apa ini..? pikir hana kemudian.
Hana Masih diam terpaku meski kini Mike sudah berada didalam mobilnya dan melambaikan tangan padanya.
“Heii.. Kau Kenapa..? Kuharap Kau baik-baik saja.” Kata Dara menyadarkan Hana yang sepertinya sudah linglung sedari tadi.
Hana yang kini membawa seikat besar bunga mawar Pink dan sebuah kotak besar berpita pemberian Mike hanya bisa tersenyum sendiri menertawai kegilaannya.
“Kau kenapa..?” Tanya Dara lagi.
“Dara..” Panggil Hana sambil menatap Dara dengan tatapan seriusnya. “Sepertinya.. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padanya.” Kata Hana yang kini sudah tersenyum lebar sambil sesekali meloncat-loncat layaknya anak kecil.
“Ya Tuhan… Kau akan Gila Hana.” Kata Dara sambil tertawa menyeringai.
“Yaaa… biarlah… aku senang Gila, jika itu karena Mike.. Hahhaha” Hana masih tertawa senang sambil meninggalkan Dara. Dara menyusulnya dan ikut tertawa bersama. Dirinya sangat senang mendapati Hana yang sangat bahagia saat menemukan tambatan hatinya. Bisakah dirinya sebahagia Hana nantinya…??
***
Mike Masih menyesap Anggur yang kini berada di dalam genggamannya. Matanya Beraapi-api tapi bibirnya tak berhenti mengulaskan sebuah senyuman, senyuman kemenangan. Yaa.. sebentar lagi…
“Mike… Kau kah itu..?” Tanya sebuah suara lembut yang lalu diikuti dengan Lampu yang menyala.
Mike manatap Wanita paruh baya itu dengan tatapan lembutnya. “Hai bu.. Ibu belum tidur..?”
“Ibu tak bisa tidur, Ibu menunggumu Mike. Apa yang kau Lakukan dengan bergelap-gelapan seperti tadi.?”
“Tak Ada Bu.”
“Kau tau, Ibu khawatir dengan keadaanmu, Kau menutup diri setelah Kepergian Thalita.”
“Aku hanya banyak pekerjaan Bu.”
“Carry menghubungiku terus, dia ingin menanyakan keadaanmu, tapi saat dia menghubungimu Kau tak mengangkatnya.” Mike hanya terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari ibunya tersebut. “Berhenti meminum itu Mike, Kau kacau.” Kata Ibunya saat melihat Mike ingin menyesap Anggurnya lagi.
“Aku istirahat dulu Bu.” Kata Mike sambil bergegas pergi.
“Kau ada masalah.?” Tanya ibunya yang langsung membuat Mike berhenti ditempatnya.
“Tidak.”
“Mike, Berjanjilah pada ibu kalau Kau tak akan melakukan Hal-hal nekat. Ibu hanya tak ingin kehilanganmu.”
Mike lalu beerjalan menuju ketempaat ibunya berdiri, Lalu memeluknya. “Aku janji Bu, Aku tak akan meninggalkan ibu Sendiri. Aku akan selalu menemanimu. Dan aku janji akan membalas dengan setimpal perbuatan orang yang membuat kita seperti ini Bu.”
Ibunya mengernyit mendengar perkataan Mike yang Sarat akan Emosi. “Apa maksudmu Mike.?”
“Ibu tak perlu tau, Ibu hanya boleh menonton dan menertawakan mereka nantinya.” Kata Mike penuh penekanan.
“Mereka siapa Mike.?”
Tapi Mike lebih memilih diam, Masih dengan memeluk ibunya, Mike sedikit menyunggingkan senyuman liciknya. Sebentar lagi.. sebentar lagi…

-TBC-

Bagaimana Chapter perdana ini menurutmu..?? Tinggalkan Comentarar yaa…. OOiyaa sapa tau ada yang lupa prolognya.. bisa di klik disini untuk Prolognya yaa… ‘PRolog’

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

My Everything (Novel Online) – Chapter 12

Comments 8 Standard

me12My Everything

NB : Nahh… tuhh lihat covernya… mereka udah tersenyum2 nggak jelas tuh…. wahh,,, semoga saja hubungan mereka semakin membaik ya… hehheheeh yang nunggu Revan dan Dara sabar yaaa…. heheheeh

Chapter 12

 

Memutari Kota adalah jalan satu-satunya untuk menenangkan fikiranku. Aku tak mungkin pergi minum karena saat ini Mama membutuhkanku. Mama..? Sialan, Aku baru sadar jika Mama sedang sakit dan mungkin saja saat ini sedang menungguku. Ketika ingin menghubungi Ponsel Papa tiba-tiba Ponselku berbunyi. Ternyata Papa lebih dulu menghubungiku.
“Halo Pa..”
“Ramma Kamu dimana.? Papa mencarimu di kantin rumah sakit, kata Mama tadi kamu kesana.”
“Aku diluar Pa.. tadi ketemu teman.”
“Kalau begitu kamu pulang saja, Kamu pasti capek, Biar Papa yang menunggu Mama disini.”
“Enggak Pa.. sebentar lagi aku balik, Aku nggak mau ninggalin Mama sendiri.”
“Anak Bandel, Ya sudah, hati-hati jangan ngebut.” Pungkas Papa lalu memutus sambungan telepon begitu saja. Yaa Papa memang seperti itu orangnya.
Lagi-lagi aku mengacak Rambutku. Sungguh, aku benar-benar tak habis fikir. Jadi selama ini aku sudah di bohongi mentah-mentah oleh seorang Zoya..? seharusnya aku tau jika Zoya bukanlah wanita polos biasa, aku cukup tau sejarahnya. Dia wanita sosialita yang berkelas. Gaya hidupnya bak selebriti belum lagi dunia malam yang selalu dijalaninya, Harusnya aku tau jika dia tak sebaik dan sepolos yang kukira.
Sialan…!!!!
Aku lalu memutar balikkan Mobilku, kembali menuju rumahsakit. Semoga saja Zoya sudah tak ada di sana. Aku benar-benar sudah terlalu muak untuk melihat wajahnya.
***
Pagi ini aku terbangun di sofa rumahsakit. Mama sudah bangun dan saat ini sedang sarapan makanan yang di siapkan oleh rumahsakit dengan Papa yang menyuapinya.
“Kamu sudah bangun sayang..?” tanya Mama yang melihatku bau terbangun dan masih mengcek-ucek mataku.
“Heemm.. Pagi Ma.. Pa..”
“Lebih baik kamu kembali pulang, Tidur. Kamu terlihat berantakan Ramm..” Kata Papa kemudian.
“Iya Pa.. sepertinya aku memang harus pulang.”
“Salam Buat Zoya yaa… jangan bilang kalau Mama sakit.” Kata Mama kemudian. Dan aku hanya mengangguk. Aku belum bisa menceritakan batalnya pernikahanku dengan Zoya saat ini terhadap Mama dan Papa. Bagaimanapun juga kesehatan Mama adalah yang paling utama.
Keluar Rumah sakit, aku kembali menuju kerumah. Sepertinya mandi air hangat akan menyegarkan otot-ototku. Menyegarkan pikiranku kembali. Tak sengaja aku mengingat kejadian tadi malam. Dimana aku memutuskan hubungank dengan Zoya.
Aku tersenyum…
Yaa…. setelah berhari-hari dan berminggu-minggu, Baru kali ini aku bisa tersenyum lepas, Aku merasa bebas… Aku merasa bisa bernafas kembali setelah akhir-akhir ini aku merasa sesak karena memaksakan hubunganku dengan Zoya.
Lalu bagaimana selanjutnya…?
Tiba-tiba pertanyaan itu datang di Otakku. Yaa.. bagaimana selanjutnya..? Haruskah aku kembali kepada Shasha dan mengajaknya kembali berhubungan denganku..?? Masihkah dia bersedia menerimaku..? yaa mungkin saja. Aku kan belum mencoba.
Akhirnya dengan semangat kulajukan mobilku supaya cepat sampai di rumah, Mandi lalu berangkat menemui Shasha. Aku tak peduli jika ini terlalu pagi atau apalah, yang jelas aku ingin semua kerumitan ini cepat berakhir dan aku kembali lagi dengan Shasha.
***
Sejak jam sepuluh siang aku sudah menunggu Shasha di depan Cafe tepat kerjanya. Tapi dia tak juga datang. Apa hari ini dia sedang Off..? tapi tak lama aku melihat sepasang lelaki dan Wanita sedang berboncengan Mesrah dan berhenti tepat didepan Cafe tersebut.
Wanita itu adalah Shasha.. dan lelaki sialan itu Adalah Ricky…
Brengsek..!!!
Apa Shasha kembali menjalin hubungan dengan Lelaki sialan itu..? Kenapa mereka mesrah sekali.? Aku bahkan melihat si Ricky sedang melepaskan Helm yang sedang di kenakan Shasha. Sialan..!!! apa aku sudah terlambat.? Tidak.. tidak mungkin. Aku bahkan masih melihat Shasha masih mengenakan Kalung pemberianku.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan mereka, tiba-tiba Ponselku berbunyi. Sialan..!! ternyata Dhanni yang menelepon.
“Lo Dimana.?”
“Ada Apa..?” tanyaku ketus tanpa menghiraukan pertanyaannya.
“Sialan.. ita ada Meeting mendadak. Gue tunggu di ruangan Renno.” Dan Dhanni langsung menutup teleponnya begitu saja.
Sial..!! Aku benar-benar Malas jika harus berhadapan dengan Wajah dingin Renno hari ini..? Apa Metting sialan ini tak bisa di batalkan..?
Yaaa.. hingga sekarang, Si Renno sialan itu masih bersikap dingin terhadapku. Bahkan tak jarang dia menganggapku tak ada di ruangannya saat aku jelas-jelas berada disana. Sial..!!
Aku memutar balikan Mobilku dan mengemudikannya menuju kekantor Renno. Semoga saja hari ini tak bertambah berat dengan Sikap sialannya si Renno.
***
Tak ada masalah serius di kantor. Dan itu membuatku cukup lega. Apalagi mengingat tadi Renno sudah bersikap cukup baik terhadapku. Mungkin Dhanni sedikit menasehatinya hingga dia sedikit berubah terhadapku.
Sore ini aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Aku ingin menemui Shasha kembali. Ingin mengajaknya bicaraa, apa aku masih memiliki kesempatan atau tidak. Jika aku masih memiliki kesempatan aku akan memperjuangkannya, jika tidak.. kita lihat saja nanti, apa aku sanggup melepaskannya atau aku akan berubah menjadi lelaki brengsek yang merebutnya paksa dari genggaman kekasihnya.
Mengingat hubungan ini lagi-lagi aku mengutuk diriku sendiri. Sialaan….!!! aku masih tak percaya jika aku sudah menjadi Lelaki terbodoh yang pernah ada di dunia ini. Di tipu mentah-mentah dan ya tuhan…. aku melepaskan orang yang kucintai..??? Mengingat itu aku bersumpah jika aku tak akan pernah memaafkan Zoya lagi.
Aku sudah membuat gadisku menangis semalaman hanya karena aku lebih memilih bersama wanita penipu itu, Sial..!! Aku bahkan masih ingat saat aku dan Shasha menghabiskan malam terakhir kami. Malam yang benar-benar penuh dengan gairah, Perasaan, serta Emosi. Aku tak pernah bercinta hingga seperti itu. Bercinta sambil terisak seakan-akan sesuatu yang kumiliki akan pergi jauh dan itu benar-benar menyakitkan.
Sungguh… Aku tak akan pernah bisa melepaskan Shasha sampai kapanpun juga. Aku sadar.. aku sadar jika aku sangat membutuhkannya. Aku sangat menginginkannya..
Dia segalanya untukku… Dan aku tak bisa lepas dari kenyataan itu..
Memarkirkan mobilku di tempat biasa aku mengamati Shasha, aku berharap jika saat ini dia keluar dan melihatku. Ini masih jam 5 sore. Tapi aku bersikeras untuk menunggunya. Tapi tentu saja aku tak berani menghampiriya begitu saja saat ini juga, aku takut, aku takut jika dia akan menolakku dan aku tak bisa menerima hal itu.
Lama aku menunggunya hingga beberapa kali aku menguap bahkan tertidur di dalam mobil. Aku terbangun ketika hari sudah mulai gelap. Aku melihat jika Cafe tempat Shasha bekerja sudah tutup, Sial..!! apa Shasha sudah pulang..?
Ketika aku memperbaiki letak dudukku di dalam mobil, tak sengaja mataku menatap ke arah depan, seorang laki-laki dengan motor sialannya itu berhenti tepat di depan Cafe tempat Shasha bekerja. Siapa lagi, tentunya dia adalah Lelaki Brengsek yang beberapa hari ini mengantar jemput Shasha sesuka hatinya.
Sepertinya Emosiku sudah tak terbendung lagi. Aku ingin menemuinya dan merebut Shasha kembali. Tapi ketika aku akan membuka pintu Mobilku, aku melihat Shasha keluar dengan wajah sumringahnya, senyum bahagianya jelas terpancar dari wajah Cantiknya. Sebahagia itukah dirinya dengan lelaki tersebut..?? Aku mengurungkan niatku dan berakhir membuntuti mereka seperti seorang pengecut yang tak memiliki keberanian.
***
Memata-matai orang layaknya seorang Agen rahasia adalah satu-satnya hal terakhir yang pernah kupikirkan, nyatanya saat ini aku melakukannya, Sial..!!
Aku memata-matai Shasha, membuntuti kemanapun mereka pergi. Mereka tadi sempat makan malam bersama, meski makan malam itu tak terkesan romantis, tapi tetap saja itu bisa membakar api cemburu dalam hatiku. Api cemburu..??? Ayolah.. apa sekarang aku berubah menjadi seorang lelaki pencemburu bahkan ketika aku sama sekali tak memiliki hubungan apapun dengan wanita tersebut..?? Aku tak peduli. Nyatanya sekarang aku benar-benar merasa cemburu.
Shasha disana sedang tersenyum bahagia disebelah Lelaki brengsek yang bertampang Sok imut dihadapnnya. Sedangkan aku..? Sungguh aku sangat menyedihkan. Pernikahanku batal, meski aku bahagia dengan batalnya pernikahan tersebut tapi tentu saja itu tak mengurangi kesedihanku karena sudah meninggalkan Shasha demi wanita penipu itu. Bahkan sekarang aku tak sudi untuk menyebut namanya. Aku kesal.. aku marah… karena dia aku kehilangan Shasha, bahkan mungkin kini aku sudah terlambat untuk kembali padanya.
Aku masih mengikuti Shasha dan juga lelaki itu, Mereka kini berhenti disebuah Rumah kontrakan. Aku memicingkan mataku, untuk apa mereka berhenti disitu.? Lelaki itu bahkan memasukkan motornya kehalaman rumah kontrakan tersebut, mereka berdua sama-sama masuk kedalam rumah tersebut. Dan itu membuatku murka.
Apa Shasha tinggal disana..? Dengan Lelaki itu..? Sialan..!! Apa mereka sedekat itu..? ingin rasanya aku masuk kedalam rumah tersebut, memukuli bahkan mungkin mencincang lelaki itu, tapi sekali lagi aku harus ingat, Aku siapa..?
Mungkin jikka Renno memukuliku karena aku memiliki hubungan dengan Shasha itu masih dibenarkan, karena Renno adalah kakaknya, Dia tak ingin adiknya memiliki hubungan dengan lelaki Brengsek sepertiku, tapi Aku..? Apa aku punya Hak untuk memukuli pacar Shasha saat ini..? harusnya aku tau diri jika aku hanya Mantan pacar Brengseknya yang dengan mudah mencampakkannya.
Sial.. siall…!! kenapa hidpku kini begitu sial.. tak lama aku melihat Lampu rumah tersebut padam seketika. Sialan..!! Apa yang mereka lakukan dengan keadaan gelap seperti itu..?
Emosiku benar-benar tak terbendung lagi, Daripada malam ini aku berakhir menghilangkan nyawa seseorang, lebih baik aku pergi. Aku akan kembali besok. Yaaa aku akan kembali menyelidiki mereka besok.
***
Aku menjatuhkan diri di Sofa ruang inap mama. Lelah.. sangat lelah. Hari ini pikianku sangat penuh dengan Shasha, aku bahkan Lupa jika ada wanita yang paling kucintai di dunia ini yang sedang sakit di hadapanku saat ini.
“Ada apa sayang.. kamu sepertinya ada beban..?” Tanyanya mengagetkanku, kupikir Mama sudah tidur.
“Mama belum tidur..?”
“Mama sudah tidur seharian, jadi sepertinya malam ini Mama nggak akan bisa tidur. Ada apa..?” laagi-lagi Mama bertanya, apa aku harus memberitahukan semuanya..??
“Maa… Sepertinya aku sudah telat.” Kataku sambil berjalan menuju keranjang Mama, duduk di kursi di sebelah ranjangnya, menggenggam tangan rapuhnya dan menciuminya.
“Telat kenapa Sayang..? Zoya mana..? Kenapa Mama nggak melihatnya..?”
“Jangan sebut namanya lagi Ma.”
“Kamu marahan sama dia..? Ramma kamu harus mengontrol emosi Kamu Nak.. kalian akan menikah, jadi harus meredam ego masing-masing.”
“Nggak akan ada pernikahan antara aku dan dia Ma.”
“Apa yang kamu bicarakan..??” tanya Mama dengan wajah terkejutnya.
“Aku sudah membatalkan pernikahan kami.” Jawabku kemudian, lalu aku mulai bercerita tentang semua yang terjadi, jika Zoya menipuku, bahkan mungkin memanfaatkanku karenya nyatanya sampai saat ini dirinya masih mencintai mantan suaminya tersebut.
“Ya tuhan. Kamu yakin itu yang terjadi..?”
“Jika aku mendengarnya dari orang lain mungkin aku akan sedikit tak percaya Ma, Tapi aku mendengar darinya secara langsung ketika dia tak menyadarai keberadaanku. Sungguh, aku sangat membencinya Ma..”
“Apa kamu mencintainya..?” Tanya Mama kemudian.
“Tidak.” Jawabku dengan tegas.
“Lalu kenapa kamu sangat membencinya..? Bukankah lepas dari tangannya saja sudah Cukup..?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Secara tidak langsung dia yang bembuatku meninggalkan Wanita yang kucintai Ma.. dan sekarang, Aku sepertinya sudah terlambat untuk mendapatkannya kembali.” Kataku sambil menunduk lesu.
“Apa wanita itu Shasha..?”
Aku mengangguk lemah.
Mama lalu tersenyum. “Apa kamu belum makan seharian..? Kenapa kamu selemah dan selembek ini..? ini bukan seperti Ramma yang Mama kenal. Ramma yang Mama kenal adalah Ramma yang giat berusaha, bahkan dia mampu membangun perusahaannya sendiri dari Nol, jadi kenapa sekarang dia menjadi tak bergairah seperti ini ketika dia menginginkan Sesuatu untuk dimilikinya..?”
“Dia sudah memiliki orang yang bisa membahagiakannya Ma..”
“Apa Kamu tak dapat membahagiakannya juga..?”
“Aku tak Yakin Ma.. Yang kutau, Aku selalu membuatnya menangis.”
“Ramma… Orang yang sering membuat kita menangis adalah orang yang kita Cintai.”
Aku mengernyit dengan perkataan Mama. “Kenapa seperti itu..?”
“Karena Kamu tidak akan sakit hati begitu dalam dan menangis terisak-isak jika Kamu tak mencintai orang itu.” Jawab Mama dengan pasti.
“Jadi.. dengan kata lain dia menangis karena dia mencintaiku..?”
“Yaa seperti itulah. Ramma… Kejar dia jika kamu benar-benar yakin bahwa dia yang terbaik untukmu.” Nasehat Mama.
“Dia bukan hanya yang terbaik untukku Ma.. Dia bahkan sudah membuatku gila, menjungkir balikkan perasaanku, dan dia juga yang membuatku ingin merasakan bahagianya mempunyai seorang istri.” Kataku jujur dengan Mama.
“Lalu.. kamu tunggu Apa lagi.?”
Aku tersenyum kearah Mama. “Sepertinya Mama sudah ngebet banget ingin melihatku Menikah.”
“Mama kepengen punya menantu Ramma, Menantu yang tiap pagi memasakkan masakan enak untuk Mama.”
Dan mendengar kata-kata Mama aku langsung tertawa terbahak-bahak. “Ma… jika Shasha benar-benar menjadi Istriku nanti, Aku Mohon, jangan menyuruhnya memasak, masakannya Aneh, aku tak Mau Mama dan papa keracunan karena memakan masakannya.. hahaha” kataku masih dengan tertawa.
“Tapi kamu menyukainya Kan..? Mama Bahkan pernah dengar kalau kamu kangen sama masakannya.”
Aku mendelik mendengar ucapan Mama. “Mama dengar dari mana.?”
“Saat kamu Mabuk berat, kamu ngelantur ngomongnya, Sayurnya Aneh, Telur yang masih banyak kulitnya, ikannya Gosong, Astaga… sejak saat itu Mama tau Kalau perasaan Kamu kepada Shahsa bukan perasaan yang biasa.”
Aku menggaruk tengkukku, memerah karena Malu. “Tapi Mama nggak masalah kan kalau punya menantu yang nggak bisa masak..?”
Mama menggeleng sambil tersenyum. “Asal dia bisa membuat putra Mama bahagia, Apapun itu akan Mama terima.”
Aku memeluk Mama dengan sangat erat. “Aku sayang Mama.” Bisikku kemudian. Oh tuhan.. Aku benar-benar menyayangi Wanita ini. Meski bukan dia yang mengandung dan melahirkanku, nyatanya aku menyayanginya lebih dari apapun di bumi ini. Mama bahkan bisa membuat hari yang melelahkan bagiku berubah menjadi hari yang membuatku penuh dengan semangat. Mama menyemangatiku untuk mendapatkan kebahagiaanku seperti dia menyemangatiku saat aku berusaha membangun perusahaanku sendiri Dari Nol. Aku menyayanginya.. sungguh sangat menyayanginya..
***
Entah ini sudah hari keberapa aku mebuntuti Shasha dan Lelaki sialan itu. Oke, Aku memang pengecut. Malam itu dengan penuh semangat dihadapan Mama aku bertekat untuk merebut Shasha. Nyatanya… Sampai sekarang Aku masih tak berani menghampirinya, bahkan aku lebih memilih mengintainya seperti seorang Banci sejati. Sialan..!!!
Mereka sering jalan Bersama, Sejauh ini mereka memang terlihat sangat dekat. Mereka belanja bersama, Nonton bersama, Nongkrong bersama, dan yang kutau mereka tinggal bersama.. Sialan..!! Aku benar-benar tak bisa terima kenyataan terakhir tentang mereka tinggal bersama. Shahsa hanya boleh tinggal bersamaku. God… Mau tak mau malam ini aku harus merebut Shasha entah itu dengan sukarela atau dengan paksaan.
Aku mengikuti mereka seperti biasanya. Ternyata mereka berhenti di Taman Hiburan, Taman hiburan yang penuh dengan kenanganku dan Shasha. Sialan..!! untuk Apa mereka kemari..? Apa Shasha ingin menghapus semua kenangan Kami dan menggantinya dengan kenangan bersama Lelaki busuk itu..? tidak.. Kenangan kami tak akan pernah terhapuskan.
Aku turun dari Mobil dan mengikuti mereka sedekat mungkin. Aku tak mau kehilangan jejak mereka diantara Ratusan orang yang berada di taman hiburan ini. Ini Malam minggu dan masih jam 7 malam. Pantas saja sangat Ramai.
Aku melihat mereka berdua menghampiri seorang gadis yang tengah melambaikan tangan kepada mereka. Siapa lagi gadis ini..? Mereka lalu berjalan bersama. Mencoba beberapa Wahana. Kumohon Sha… Jangan sampai kamu menaiki Kincir Ria bersama Lelaki itu. Itu akan menyakiti hatiku. Kamu hanya boleh menaiki wahana itu denganku, Karena hanya Kincir Ria itu satu-satunya saksi betapa aku sangat tulus ingin melamarmu dan menjadikanmu sebagai istriku.
Dan terimakasih tuhan.. Do’aku terjawab Sudah. Shasha lebih Memilih duduk di tempat tunggu dari pada harus ikut naik di wahana tersebut. Aku memperhatikannya dari jauh. Wajahnya terlihat sendu, tangannya menggenggam kalung yang melingkari lehernya. Kalung pemberianku. Dan pada saat ini aku tau jika dia sedang mengingatku. Apa dia rindu terhadapku..?? Aku memejamkan Mata, merasakan sakit yang sangat menusuk di dadaku.
Astaga… bahkan hanya dengan melihat wajah sendunya saja aku sudah merasa sakit. Melihatnya sedih membuatku turut sedih, melihatnya menangis membuatku sangat marah hingga aku ingin menangis juga. Apa ini..? Perasaan apa ini..? Aku Parah.. Benar-benar sangat parah hingga tak ada yang dapat menolongku jika itu bukan Shasha sendiri.
Aku melihat mereka sudah berkumpul bersama lagi setelah Lelaki dan teman wanitanya itu turun dari wahana Kincir Ria. Mereka lantas bergegas menuju ke Danau buatan. Manaiki perahu kecil. Lagi-lagi aku melihat Shahsa hanya duduk menunggu di Gazebo yang disediakan disebelah danau sedangkan Lelaki sialan itu tetap naik perahu-perahu kecil yang disiapkan dengan Teman wanita Shasha. Sial..!! Sebenarnya Mereka sedang pacaran atau sedang apa..? jika Shasha tak mau naik harusnya lelaki sialan itu juga tak naik, bukan malah meninggalkan Shahsa sendirian.
Lagi-lagi aku memperhatikan wajah sendu Shahsa. Wajahnya terlihat sangat sedih. Ya tuhan.. Aku benar-benar tak tega melihatnya seperti itu..?? Apa itu karena aku..? Atau karena Cemburu pada Lelaki sialan itu karena terlihat mesrah dengan teman Wanitanya..? Sungguh, jika aku jadi Renno, aku akan memukuli Lelaki bajingan itu habuis-habisan. Bisa-bisanya dia membuat Shasha sedih seperti itu.
Tak lama aku melihat mereka berkumpul kembali. Duduk bersila bertiga di dalam Gazebo tersebut. Aku iri. Aku ingin berada di sana dengan Shahsa, tertawa bersamanya dan mengatakan jika semua masalah ini sudah berakhir, Aku ingin mengatakan jika aku kini sepenuhnya hanya miliknya. Tapi…. Ahhh lupakan Saja. Itu tak akan mungkin.
Aku melihat Shasha bergegas meninggalakan lelaki dan teman wanitanya itu. Mau kemana dia..? Bisa-bisanya dia meninggalkan pacarnya dengan teman wanitanya, Ketika aku akan mengikuti Shahsa, Langkahku terhenti ketika melihat Lelaki busuk itu tiba-tiba mendekati teman Wanita Shahsa. Sangat dekat. Aku bahakan melihat dia menggenggam tangan wanita itu dengan mesrahnya. Sialan…!!!
Tanganku mengepal saat tau jika Lelaki yang bersama Shahsa tersebut tak ada bedanya dengan Lelaki Brengsek yang hanya mempermainkan perasaan Shasha. Emosiku semakin menjadi-jadi ketika melihat Lelaki itu… sialan… Mereka berciuman.. Berciuman dengan panas Di belakang Shasha..??
Tanpa pikir panjang lagi aku melangkahkan kakiku dengan Cepat kearah mereka. Menarik lelaki brengsek itu dengan sekali tarikan dan memukulnya hingga tersungkur di tanah. Aku memberikan berkali-kali pukulan kearah Wajahnya. Biar saja, biar dia babak belur dan tak ada wanita yang mau dengannya lagi. Aku mendengar teriakan-teriakan histeris dari wanita teman Shasha tersebut, tapi aku tak mempedulikannya.
Tapi ketika aku sedikit lengah, dia memberiku sebuah pukulan yang tepat mengenai ujung bibir kananku. Aku berhenti sejenak, Rasa pedih langsung menghampiri tepat di bibirku, Aku tau saat itu jika bibir Seksiku Robek dan berdarah, Sialan..!! Aku tak akan dapat melakukan Ciuman panas dengan bibir terluka seperti ini. Amarahku semakin memuncak Mataku Berapi-api. Aku menerjangnya memberinya beberapa jurus Taekwondo yang kupelajari. Saat dia jatuh ketanah, bukan berhenti aku malah menguncinya dan ‘Bugghh…’ ‘bugghh..’ kudaratkan berkali-kali pukulan kerasku tepat di wajahnya, tanganku kini penuh dengan darahnya, mungkin hidungnya patah, aku tak peduli. Dia sudah memukulku dan yang terpenting dia Sudah menyakiti Shashaku….
Tak lama setelah itu aku merasakan tangan halus memeluk tubuhku dari belakang. Aku masih tak menghentikan Aksiku hingga aku mendengar suaranya. Suara lembut yang sudah sangat lama kurindukan.
“Mas.. Hentikan Mas.. aku mohon hentikan…”
Aku berhenti seketika, aku tau jika itu suara Shasha. Aku berdiri meninggalkan Tubuh lelaki sialan itu tergolek lemah penuh darah. Wanita teman Shasha itu langsung menghampiri lelaki itu dan menangisinya, sedangkan Shasha masih memelukku dari belakang, menenangkanku. Banyak orang yang berkumpul melihat kejadian tadi bahkan petugas keamana Taman hiburan inipun hanya melihat kami. Yaaa tentu saja, mereka tak akan berani melerai jika itu aku yang berkelahi. Mereka tau jika Ayahku yang memiliki tempat ini, maka jangan Heran jika aku bisa masuk sesuka hatiku bahkan mengosongkan tempat ini saat aku melamar Shasha dulu.
“Mas Ramma Kenapa..? Aku takut melihatmu seperti itu..” Kata Shasha yang masih memelukku dari belakang.
Aku menggenggam tangannya, lalu berbalik dan memeluknya erat. “Dia Brengsek, Tinggalkan dia.” Kataku dingin sambil sesekali menghirup aromanya, Astaga.. Aroma yang sangat kurindukan.
Aku lalu melepaskan pelukan kami. Masih dengan menggenggam erat Tangan Shasha dengan posesif. Aku lalu menatap lelaki itu dengan tatapan membunuhku. “Kalo Lo berani deketin Shasha lagi, Gue Bunuh Lo.” Ancamku dengan nada dingin.
Lalu aku pergi begitu Saja dengan menggenggam tangan Shasha meninggalkan semua orang yang sedang ternganga menatap kepergian kami.

My Everything (Novel Online) – Chapter 11

Comments 5 Standard

Me New..My Everything

Chapter 11

 

Lagi-lagi aku terbangun dalam keadaan kepala yang berdenyut. Mabuk lagi dan mabuk lagi, hanya itu yang bisa kulakukan setiap malamnya. Jika pagi akau bersikap biasa-biasa saja, maka dimalam hari aku menggila.
Ini sudah dua minggu setelah aku mempertemukan Zoya da kedua orang tuaku untuk membahas tentang pernikahan. Sialnya, Pernikahanku akan dilaksanakan akhir bulan depan. Saat ini Zoya dan Mama sedang sibuk mengurus segala sesuatunya.
Aku bergegas bangun tak memperdulikan kepalaku yang seakan-akan ingin pecah karena berdenyut, Efek dari kelebihan Alkohol. Aku ingat jika hari ini ada jadwal pemotretan, Bukan aku yang memotret model-model Cantik, Melainkan Akulah yang akan di Potret.
Pemotretan Untuk Prewedding.
Sialan..!!!
Lagi-lagi aku tak berhenti mengumpat kesal dengan semua keadaan ini. Masuk kedalam Bathup menenggelamkan diri lalu mengguyur kepalaku dengan Air dingin dari Shower. Kadang aku berfikir, haruskah aku mati saja supaya tak sesakit ini..? Aku bisa saja menenggelamkan diri sekarang juga atau menelan obat hingga overdosis, percayalah, itu yang kuinginkan.
Tapi melihat Wajah Shasha setiap harinya membuatku sedikit lebih kuat. Yaa…. setiap hari aku selalu mengunjunginya di depan Cafe tempatnya bekerja. Diapun seakan-akan menungguku. Meski kami tak bertemu secara langsung, dan tak berbicara secara langsung, tapi aku merasa sangat dekat dengannya ketika kami saling memandang dan saling melemparkan senyuman meski hanya beberapa detik. Mungkinkah sampai nanti akan seperti itu.?? Apakah aku akan menjadikannya simpananku setelah aku menikahi Zoya..?
Sial..!!
Aku keluar dari kamar mandi mengenakan Celana pendek olah ragaku, Dan Kaus Dalam warna Hitamku. Memasang mengaman di tangan dan menuju keruangan Olahraga yang ada di halaman belakang rumah. Aku ingin memukul Orang, Sepertinya tak ada salahnya jika memukuli Samsak Pagi ini.
Entah sudah berapa Lama aku memukuli Samsak di hadapanku hingga aku kelelahan, tubuhku penuh dengan keringat. Sialan…!!! sepertinya aku harus mandi lagi. Kelika aku mengambi handuk kecil dan mengelap seluruh keringat di wajah dan leherku, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan melingkari perutku. Aku menghentikan semuanya, dari Aromanya aku tau jika itu Zoya. Untuk apa dia pagi-pagi kesini..??
“Kamu Capek..?” Tanyanya Manja.
“Hemmbb.” Hanya itu yang bisa kujawab.
“Aku bawakan makanan, buatanku sendiri.” Katanya lalu menarik tanganku dan mengajakku duduk di kursi ujung ruangan. Dia membawakanku sebuah bekal. Ayam Rica kesukaanku. Akupun memakannya dalam diam. Enak.. ini enak.. Zoya memang pandai memasak, masakannya selalu enak untukku, tapi nyatanya kali ini aku memakannya tanpa Nafsu, Aku mengingikan Masakan Aneh buatan Shasha…
“Gimana sayang..? Enak kan..?”
Aku mengangguk. “Ini enak.” Kataku datar. Lalu aku meanjutkan makan lagi tanpa banyak kata. Sebenarnya aku sedikit kasihan dengan Zoya, tak seharusnya aku memperlakukannya seperti ini, Dialah disini yang menjadi Korban, kenapa aku bersikap dingin dan berengsek terhadapnya.
Zoya juga membuatkanku segelas Jus Jeruk. Aku menegaknya hingga tandas. Lalu aku menatapnya, wajahnya terlihat sendu, aku tau jika dia terluka, sama sepertiku.
“Maafkan aku..” Kataku sambil mengusap pipinya.
Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Semua salahku.. aku minta maaf, tak seharusnya aku bersikap dingin kepadamu.” Kataku lagi.
Dia lalu memelukku, terisak didadaku. “Aku juga minta maaf, Aku membuatmu menjadi sulit.. tapi aku janji, aku akan melakukan yang lebih baik lagi untuk kamu kedepannya.”
Aku mengangguk. “Kita akan memulainya dari awal lagi.” Kataku kemudian sambil mengusap rambut panjangnya. Yaaa… sepertinya aku memang harus Move On. Shasha memang bukan jodohku, aku harus melupakannya. Cinta memang tak harus memiliki, dan Cinta memiliki jalannya masing-masing. Jika aku berjodoh dengan Dia, aku yakin suatu saat nanti Cinta akan mempertemukan kami kembali.
***
Mama terlihat sangat senang melihat senyumku hari ini. Senyuman yang sepertinya sudah lama menghilang dari wajahku beberapa hari ini.
Karena aku sudah sarapan makanan buatan Zoya, makaa saat ini aku hanya bisa puas menemaninya sarapan bersama Mama dan papaku di ruangan makan. Kami banyak bercerita saat sarapan kali ini, Ralat, Maksudku bukan kami, tapi mereka. Dan aku hanya bisa diam mendengarkannya saja.
Andai saja yang duduk disebelahku kali ini Shasha…
Sialan..!! bukankah tadi aku sudah mengatakan jika akan melupakannya..?? Dan sepertinya aku memang tak bisa melupakannya. Sial..!!!!
“Sayang hari ini kita jadi Prewednya kan..?” tanya Zoya tiba-tiba.
“Iyaa jadi..” jawabku seadanya. Yaa aku kali ini memang harus menemaninya Prewed, setelah kemarin dia belanja kebutuhan pernikahan sendiri, memesan baju pengantin sendiri, hingga mengurus undangan sendiri. Lagi-lagi aku merasa kasihan terhadapnya. Tidak seharusnya aku memperlakukannya seperti itu.
“Terimakasih..” katanya lembut.
“Tak perlu berterimakasih.” Kataku sambil tersenyum dan tanpa sungkan mengusap pipinya dengan ibu jariku.
“Sepertinya kalian sudah baikan.” Kata Mama menengahi. Sedangkan Aku dan Zoya hanya tersenyum simpul menanggapi pernyataan Mama.
***
“Hadohhh… senyum dikit dong.. Kalian Mau nikah, bukan mau perang.” Teriak si Rio yang sejak tadi mengarahkanku di depan kameranya. Sialan…!!! dia pikir pada saat seperti ini aku masih bisa tersenyum apa.?
“Lo sinting.” Kataku datar.
Dan kamipun memulai lagi Aksi mengambil gambarku dan Zoya yang setengah telanjang. Yaaa.. Tema Prewed kali ini adalah ‘Passion’. Passion dalam arti yang sesungguhnya. Yaa… setidaknya itu sedikit nyambung dengan kisahku dan Zoya, Kisah kami bermula hanya didasari dari rasa Gairah, dan baguslah Zoya menunjuk Tema itu sebagai Tema Prewed kami.
Kami mengambil gambar di studioku sendiri. Di kamar yang menjadi properti untuk pemotretan. Tubuh bagian atas kami sama-sama polos. Tapi Zoya menutupnya dengan Bed Cover yang sudah disiapkan, dia duduk di atas pangkuanku dan aku memeluknya dari belakang, mengecup lehernya sedangkan dia berpose menggigit bibir bawahnya layaknya menikmati sentuhanku, kami sudah seperti pasangan yang selesai bercinta.
Berbagai macam pose panas sudaah kami lakukan. Hasilnya cukup baik. Dan akhirnya pemotretan panjang ini selesai juga. Jika tak ada Shasha yang memporak-porandakan perasaanku, mungkin saat ini aku sudah bercinta dengan panas bersama Zoya mengingat tubuh kami tadi saling bergesekan. Tapi nyatanya, aku tak menginginkannya.
Sialan..!!! apa ini yang dirasakan Renno saat dia tak bisa bercinta dengan wanita lain selain wanita yang diinginkannya..? jika iya, maka aku menyesal jika dulu pernah menertawakannya. Ini benar-bena membuatku frustasi.
Aku mengenakan pakaianku dan bersiap pergi ketika tiba-tiba tangan Zoya menahanku.
“Mau kemana..?”
“Aku pergi sebentar.”
“Kita tidak melakukannya..? Kupikir kamu..”
Aku menggeleng. “Sepertinya kita tak akan bisa melakukannya lagi.” Jawabku lirih sambil meninggalkannya begitu saja.
***
Jika tadi aku bicara untuk melupakan Shasha, Maka jangan percaya dengan kata-kataku tersebut. Nyatanya saat ini aku sudah memarkirkan mobilku di depan Cafe tempatnya bekerja, melihatnya dari jauh seperti seorang pengecut.
Dia masih sama, membersihkan meja demi meja. Lalu mungkin dia merasa di perhatikan hinga dia menoleh kearahku. Menatapku dengan tatapan sendunya dan melemparkan senyuman khasnya. Hanya seperti itu saja rasanya jantungku berdetak kembali. Sial..!!! Aku benar-benar semakin Parah.Shasha sekarang sudah seperti obat yang dapat menyambung nyawaku. Senyumannya sudah seperti Heroin yang membuatku Candu. Bagaimana aku bisa mengakhiri kegilaan ini..??
Tak lama aku melihat seorang lelaki mendekatinya. Lelaki Bajingan yang dulu diknalkannya sebagai pacarnya, Ricky. Untuk apa Banci sialan itu datang menemui Shasha.? Bukannya mereka sudah putus..?
Aku memejamkan mataku, meredam semua amarah yang sudah sampai di ubun-ubun ketika melihatnya tanpa banyak kata memeluk Shasha begitu saja di hadapanku. Ingin rasanya aku keluar dari mobil lalu menghajarnya habis-habisan dan memtahkan tangan dan kakinya karena berani menghampiri dan memeluk Shasha. Tapi sekali lagi aku harus ingat. Aku bukan siapa-siapanya lagi.
Tanpa pikir panjang, Aku menginjak pedal Gas, dan mengemudikan Mobilku seperti setan. Yaaa… aku harus meninggalkan mereka sebelum tangan dan kakiku berjalan dengan sendirinya untuk menghajar lelaki brengsek tersebut.
Setelah memutari jalanankota berkaali-kali, akhirnya aku kembali pulang. Setidaknya pikiranku sedikit lebih tenang saat ini. Sampai dirumah sudah jam lima Sore. Mama pasti sibuk menyiapkan makan malam. Aku berlari kedapur dan disana hanya ada beberapa pelayan. Dimana Mama..? Apa dia pergi lagi dengan Zoya..?
Maklum saja aku berpikir seperti itu, beberapa hari ini memang hanya Zoya yang menyiapkan semuanya, dia bahkan meminta Mama untuk menemaninya. Akupun langsung bergegas menuju kekamarku, tapi ketika melewati depan pintu kamar Mama, aku mendengar sesuatu seperti barang yang pecah dari dalam.
Sedikit curiga akupun mengetuk pintu kamar Mama. “Ma.. Mama…” panggilku sambil mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Padahal jelas-jelas aku mendengar barang jatuh dari dalam tadi. Akupun mengetuk lebih keras dengan panggilan yang semakin keras lagi.
Dan karena tak ada jawaban, aku mencoba membuka handle pintu, pintupun terbuka, ternyata Mama tak menguncinya. Dan aku ternganga mendapati pemandangan di depanku. Mama tersungkur di lantai dengan beberapa pecahan gelas di sebelahnya, dan aku melihat nafasnya terputus-putus.
Penyakitnya kambuh. Aku menghampirinya dengan panik dan mengambilkan inhaler miliknya. Tapi sialnya Inhaler itu habis. Dengan kesal aku membuangnya dan mulai membopong Mama.
“Bertahan yaa Ma.. bertahan… jangan Tinggalin Ramma sendiri Ma..” Kataku panik, Lalu memasukkan mama kedalam Mobilku dan mulai menjalankannya menuju kerumahsakit terdekat.
***
Aku terbangun ketika mendapati sebuah tangan lemah membelai rambutku.
“Ma..” Aku menatap Mama yang sudah sadar, ternyata tadi aku ketiduran di sebelahnya. “Mama tadi membuatku takut.” Kataku kemudian.
Yaa… aku memang benar-benar takut kehilangannya. Walau diaa bukan ibu kandungku sendiri, tapi Aku menyayanginya, dia yang merawatku hingga seperti sekarang ini, dan aku belum bisa membalas budi kebaikannya.
“Mama nggak akan meninggalkan kamu sendiri sebelum melihat kamu bahagia sayang.” Kata Mama mengusap pipiku.
Aku menikmatinya. Ya tuhan.. aku sangat merindukan saat-saat seperti sekaran ini. Sejatinya aku adalah Anak Mama sebelum aku terjerumus kedalam dunia malam. Dan setelah bertahun-tahun menjadi lelaki dewasa dengan petualangan Cinta, baru kali ini aku ingin menjadi anak Mama kembali, aku ingin bermanja-manja dengan Mamaku.
“Kamu sudah makan..? Pasti belum.”
Aku mengangguk. Aku melihat jam di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam. “Yaa aku belum makan Ma..”
“Makanlah dulu. Mama menunggumu disini.”
“Mama yakin nggak apa-apa aku tinggal..?”
“Iyaa sayang, Makanlah dulu. Mama nggak apa-apa.” Jawab Mama lemah. Aku mengecup tangan Mama dan pamit untuk pergi membeli makanan di kantin rumahsakit.
Akhirnya aku keluar dari ruangan Mama, menuju kekantin rumahsakit. Tapi ketika aku akan masuk kesebuah lorong menuju kantin, Aku melihat Zoya yang baru sampai di Lobi rumah sakit ini. Untuk apa dia kesini..? Apa dia tau Kalau Mama kambuh dan di rawat disini..? Itu tidak mungkin, bahkan Papa saja belum kuhubungi. Sial..!! aku benar-benar Lupa menghubungi Papa.
Akupun membatalkan pergi kekantin dan lebih memilih mengikuti Zoya di belakangnya sambil menghubungi Papa. Ternyata Zoya masuk kedalam ruangan yang bertuliskan Dr. Nadia Spog. Yaaaa.. tentu saja dia keruangan Nadia temannya, Aku bahkan tak sadar jika ini rumahsakit yang sama diamana Nadia bekerja. Aku sudah memegang Handel pintu dan bersiap masuk ketika aku mendengar suara itu aku menghentikan Aksiku. Terdiam membatu dan mendengarkan semua kebenaran yang selama ini disembunyikan dariku.
“Kamu Gila.. Kamu sudah keterlaluan Zoya..” Nadia sedikit berteriak.
“Maaf, aku tak butuh nasehatmu, aku hanya mengantarkan undangan ini untukmu.”
“Zoya, mereka saling Cinta, kamu nggak patut memisahkan mereka seperti ini.”
“Aku juga mencintainya Nad..”
“Tidak.. aku tau kamu nggak mencintai Ramma, Sampai sekarang kamu hanya Cinta kepada Ardi, hingga sampai detik inipun kamu belum bisa melepaskannya. Kamu hanya membutuhkan Ramma Zoya, kamu hanya terobsesi dengan keberadaannya disisimu. Dan itu bukan Cinta. Kalau kamu mencintainya, kamu akan bersedia melepaskannya untuk melihatnya bahagia”
“Seperti ketika kamu melepaskan Ardi untukku..?” Tanya Zoya dengan sedikit sinis, Nadia terlihat sedikit menegang dengan pertanyaan Zoya. “Aku tidak peduli. Aku akan tetap Menikah dengannya. Masalah Ardi, Aku bisa melupakannya dengan berjalannya waktu.”
“Lalu bagaimana jika Kamu hamil Lagi..? Ramma akan tau jika kamu membohonginya. Dia akan membencimu”
“Setidaknya jika aku Hamil, Ramma nggak akan mungkin ninggalin aku dan Anaknya, dengan kata Lain, kita akan tetap hidup bersama.”
Dan aku sudah tak dapat menahan Amarahku lagi. Dia sudah menipuku, Menipu habis-habisan. Kulepaskan pegangan pintu hingga pintu ruangan Nadia terbuka dengan sendirinya.Nadia menatapku dengan tatapan terkejutnya. Begitupun Zoya yang kini sudah membalik tubuhnya, Dia menatapku dengan tatapan tak percayanya. Wajahnya memucat.
Aku tersenyum Sinis. “Dan Sepertinya Rencana Kamu berantakan.” Kataku dingin. Aku melihat Zoya masih diam membatu, dia ternganga ketika melihatku mengatakan kata-kata tersebut. Aku menghampirinya, berhenti tepat beberapa inci dihadapannya. “Kamu sudah menipuku, Kamu menjadikanku Lelaki Bodoh yang bisa kamu Mainkan, dan aku membenci itu.” Kataku dingin hingga mungkin bisa membekukan semua barang-barang di ruangan ini.
“Ramma.. Aku bisa menjelaskannya padamu.”
“Dan aku tak butuh penjelasan.” Kataku sambil meninggalkannya begitu saja.
Aku berjalan cepat kearah parkiran, tak mempedulikan Zoya yang mengikutiku dari belakang sambil memanggil-manggil namaku. Emosiku benar-benar tak terkendali lagi. Tanganku sudah mengepal sejak tadi ingin memukul sesuatu. Sebegitu bodohnya kah Aku bisa di bohongi oleh Wanita Jalang seperti Zoya..? Bahkan saat ini aku sudah berani memanggilnya sebagai wanita jalang. dimana IQ 180 ku ketika Zoya mengatakan dia tak bisa hamil dan aku mempercayainya begitu saja..? ini terlalu menggelikan, ini terlalu lucu karena aku dengan mudah bisa dipermainkan oleh Seorang wanita yang bahkan sampai saat ini masih terbelenggu dengan masalalunya, Sialan..!!!
Aku merasakan Dia memelukku dari belakang. Dan menangis. Apa dia ingin meuluhkan hatiku..? Maaf, Aku sama sekali tak tertarik lagi.
“Maafkan aku.. maafkan aku.. aku bisa menjelaskan semuanya.” Katanya sambil terisak.
Aku melepaskan paksa pelukannya, menarik tangannya, membaawanya ke sebuah Area yang cukup gelap. Menghempaskan tubunya di dinding.
“Apa kamu tau kalau kamu sudah menghancurkan semuanya.” Teriakku padanya.
“Aku minta maaf, aku hanya tak ingin kamu meninggalkanku.”
“Apa..?? sampai saat ini kamu bahkan masih berhubungan dengan mantan suamimu Zoya, lalu untuk apa kamu menahanku..?”
“Aku membutuhkanmu.. aku membutuhkanmu.” Dia berbalik meneriakiku.
Aku tersenyum sinis. “Yaa… tentu saja kamu membutuhkanku. Kamu membutuhkanku saat mantan suamimu itu tak bisa menemanimu dan memenuhi gairahmu, iya kan..”
‘Plaakkkkk’ dia menamparku.
“Kamu keterlaluan Ramma, Kamu berkata seakan-akan aku memanfaatkan tubuhmu seperti seorang wanita jalang yang kekurangan belaian laki-laki.”
Aku memukul dinding di sebelahknya keras dengan kepalan tanganku, aku tak peduli jika jari-jariku patah atau terluka, tapi aku memang sedang ingin memukul sesuatu. “Tapi kenyataannya memang seperti itu.” Jawabku tajam. “Dari awal hubungan kita tak sehat, tak ada Cinta, Hanya Seks dan kepuasan yang mendasarinya.” Desisku tajam.
“Tapi aku membutuhkanmu Ramma, aku sungguh membutuhkanmu, dan Sepertinya.. sepertinya aku sudah mulai mencintaimu.”
“Jangan bicara tentang Cinta jika kamu tak tau apa Artinya. Tak ada Cinta diantara kita Zoya.”
“Tidak.. kita bisa belajar saling mencintai nantinya.”
“Maaf.. Aku tidak bisa belajar mencintaimu. Karena Aku sudah mencintai Wanita lain, Dari dulu sekarang dan seterusnya.” Kataku sambil berbalik dan bersiap meninggalkannya.
“Apa Gadis itu..? Gadis manja sialan itu yang kamu Cintai..?”
“Iya… Gadis manja sialan yang sudah kusakiti demi bertahan dengan Wanita penipu sepertimu.”
“Jangan seperti itu Ramma, Kita bisa memperbaiki semuanya.” Katanya lagi-lagi dengan memelukku dari belakang.
Aku melepaskan pelukan tangannya dengan paksa sambil berkata dengan Dingin. “Maaf, Kita sudah berakhir.” Lalu aku pergi meninggalkannya dan tak menoleh kebelakang lagi sedikitpun.

 

___TBC__

Next Chap semoga lebih bagus lagi yaa.. karenaa ini mendekati akhir nihh kawan.. HHehheheh ayooo elalu baca

Please Stay With Me – Chapter 3

Comments 6 Standard
PSWMPlease Stay With Me

 

NB ; Chapter ini POV Revan yaa.. 🙂

 

Chapter 3

 
-Revan POV-
Hujan di sore ini tak menyurutkan niatku untuk menemuinya. Tak lupa aku membelikannya seikat bunga mawar merah untuknya, melambangkan perasaan cintaku yang masih membara untuknya. Sang penjual Bunga bahkan hafal dengan bunga pesananku. 8 tangkai bunga mawar merah yang di ikat menjadi satu. Kenapa 8..? aku sendiri juga tak tau. Aku hanya sedikit mengingat perkataannya jika angka delapan melambangkan angka keabadian, angka yang tak ada titik putusnya seperti angka-angka yang lain.
Dan aku berharap Cintaku padanya juga seperti angka 8. Yang abadi dan tak akan pernah putus.
Dengan meengenakan payung hitam dan juga setelan Hitam, seperti biasa aku menghadapnya dengan tenang. Menghadap batu nisannya….
Aku tak mempedulikan hujan yang sedikit membasahi bajuku. Aku tak mempedulikan orang yang melihatku dan berkata jika aku gila. Yaa aku memang gila.. Tuhan… aku benar-benar tak bisa hidup tanpa wanita yang terbujur kaku di balik tanah yang kuinjak sekarang ini…
Aku menatap baatu nisannya seakan-akan aku menatap wajahnya.. wajah yang perlahan mulai memudar dalam ingatanku. Aku berusaha sekeras tenaga untuk mengingat masa-masa dimana kami bahagia bersama.
Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu. Gadis yang ceria, Agresif dan Posesif. Itulah Talita… Lita kekasihku. Aku menyayanginya, sungguh sangat menyayanginya. Dialah wanita satu-satunya untukku. Tapi tentu saja Cinta kami tak berjalan mulus dan itu menyebabkan dia meninggalkanku untuk selama-lamanya…
Seseorang yang ingin memisahan kami membuat kekacauan dengan menfitnahnya berselingkuh dengan lelaki lain. Padahal saat itu dia sedang mengandung Anakku, dan dengan bodohnya aku mempercayai orang tersebut. Aku meningggalkannya, mencampakannya begitu saja. Mungkin karena itu dia bunuh diri dan meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Aku yang saat itu baru tau kebenarannya berusaha untuk mencarinya. Dan dua tahun yang lalu aku mendapati jika dia sudah meninggal karena bunuh diri.
Bodoh.. aku benar-benar lelaki bodoh. Segampang itukah aku mempercayai perkataan orang…??? Aku menggelap, duniaku menghitam. Tak ada lagi cahaya untukku berjalan. Aku hanya bisa berhenti ditempat dan menoleh kebelakang. Menoleh kepada masa-masa indahku dengan Lita, menoleh kepada kesalahanku.. dan menoleh pada penyesalan terdalamku.
Sungguh.. aku sangat menyesal. Aku tak memiliki tujuan hidup lagi. Dan aku tak memikirkannya lagii.. aku hanya ingin meninggalkan semuanya dan kembali bersama Lita.. tapi semuanya menjadi sulit ketika Gadis itu datang.. Gadis Bodoh yang memperlakukan dirinya sebagai pelayan pribadiku demi gelar seorang Istri. Aku tau dia menderita.. tapi aku juga lebih menderita..
“Hai… Bagaimana kabarmu..?” Sapaku pada Batu Nisan Lita.
“Apa Kau tau jika hariku semakin memburuk..?”
“Datanglah kemimpiku.. Aku merindukanmu..”
Aku tersenyum masam, memang seperti ini keseharianku. Saat makan siang atau ada waktu luang di sore hari, aku akan menyempatkan diri untuk mengunjunginya.
“Apa Kau tau, Dia Kacau.. Dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Apa yang harus kulakukan..?” tanyaku lagi.
“Akhir-akhir ini dia berbeda. Dia tak lagi menjadi pelayan pribadiku.” Kataku mulai bercerita.
Dara.. Istriku, Dia adalah Gadis baik tapi Bodoh. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman atau sahabat dari hana, adikku. Tapi aku tak menyangka jika ibu menyuruhku untuk menikahinya.
Saat itu aku hanya menuruti kemauan ibu yang sedang sakit keras. Ibu mau aku menikah dan melupakan semua masa laluku. Dan calonnya adalah Andara.. istri yang sampai kini tak pernah kusentuh karena aku memang tak memiliki perasaan lebih untuknya.
Kupikir Dara akan menolak lamaranku, tapi nyatanya dia menerimanya. Itu yang membuatku marah. Aku hanya ingin hidup sendiri tapi dia selalu menempel disekitarku dengan status seorang istri. Aku membuat hubungan kami sedingin mungkin hingga dia berhenti berharap, lelah dengan keadaan dan ingin berpisah denganku. Namun nyatanya.. dia bertahan hingga 2 tahun lamanya.
Sedikit Iba saat melihatnya. Dia mengabdi layaknya seorang pembantu pada majikannya. Tapi aku tak mengindahkan itu. Itu pilihan yang Dara pilih, itu bukan salahku.
Pertahananku kini sedikit demi sedikit mulai mencair. Wajah Lita mulai samar-samar dalam ingatanku. Dan anehnya wajah Dara lah yang teringat jelas dalam ingatanku. Apa karena hanya Dara yang sering kulihat..??
“Datanglah ke mimpiku… Sungguh, aku ingin melihat wajah manjamu sekali lagi.” Lanjutku kemudian.
“Aku takut Lita.. Aku takut jika Kau tak datang ke mimpiku, Aku akan melupakanmu.”
“Aku takut Tempatmu akan tergantikan dengan wanita lain.. Datanglah Lita.. kumohon.”
Aku berjongkok, mengusap-usap bahkan mencium batu nisannya. Aku merindukannya.. sungguh sangat merindukannya…
***
Saat ini aku sudah berada di halaman depan rumahku. Setelah mengunjungi Lita aku memutuskan untuk pulang. Aku merasa badanku sedikit tak enak. Entahlah… mungkin daya tahan tubuhku menurun.
Masuk kedalam, Aku merasa rumah sangat sepi. Aku memang tak pernah pulang sore seperti ini. Aku melihat kanan kiri dan yang kulihat hanya beberapa pelayan Rumah ini.
“Revan.. kamu kok sudah pulang..?” Tanya ibu yang bergegas keaarahku.
“Aku sedikit tak enak badan Bu.. Aku mau istirahat.”
“Baiklah.. Tidurlah dulu. Nanti ibu bangunkan saat tiba makan malam.”
Dan akupun mengangguk. Lalu bergegas pergi ke kamar. Tapi baru beberapa langkah aku berhenti. Sepertinya ada yang aneh.
“Ada apa Rev..?” tanya ibu lagi.
“Dimana Dara..?” Dan aku sedikit tak sadar ketika menanyakan keberadaan wanita itu.
“Dara Kerja, dia belum pulang. Biasanya jam 6 baru pulang.”
“Kerja..? Kerja apa..?”
“Dia kerja di salah satu restoran cepat saji.”
“Untuk apa dia kerja..?”
“Dia terlalu bosan dirumah sendirian tanpa ada yang di kerjakan.” Jwab ibu kemudian. “Tumben sekali Kau menanyakannya..?”
Dan akupun kembali bergegas menuju kamarku tak mempedulikan pertanyaan terakhir ibu. Yaa… Tumben sekali aku menanyakannya..? Ahh sudah lah…. bukankah itu bagus jika dia kerja berarti semakin kecil kemungkinanku berinteraksi dengannya.
Akupun masuk kedalam kamar. Menaruh tas dan Jasku pada tempatnya. Melonggarkan dasiku lalu duduk di tepian ranjang dan bergegas membuka sepatuku.
‘Degg…’
Aku merasakan ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang salah disini. Apa itu..?? tapi aku tak menghiraukannya. Akupun bergegas masuk kedalam kamar mandi. Dan lagi-lagi perasaan aneh itu datang kembali. Perasaan apa ini..??
Dan ketika aku mengingatnya aku beru menyadari jika aku kehilangan suatu perasaan yang selama dua tahun ini kurasakan. Perasaaan dilayani.
Jika biasanya ada seorang yang menyambutku saat aku pulang dari kantor, saat ini tak ada lagi. Tak ada yang menyiapkanku air hangat, tak ada yang memilihkanku baju bersih, tak ada yang membuka sepatuku, dan tak ada juga yang menyiapkan secangkir kopi saat aku sedang bekerja di ruang kerja.
Kenapa ini…?? Kenapa aku merasa kehilangan dia..??
Beberapa hari ini memang ada yang sedikit berbeda dengan Dara. Dia cenderung menghindariku. Walau selama ini aku berusaha bersikap dingin dan mendiaminya tapi dia selalu mencoba untuk mengajakku berbicara, tapi beberapa hari ini dia berbeda.
Apa karena pernyataan cintanya saat itu..?? Ahh… mungkin saat itu Dara hanya mengada-ada saja.
Apa Dara memiliki kekasih lain di luar rumah..? Dan entah kenapa aku sangat tak setuju dengan pemikiran terakhirku tersebut. Dara tak mungkin memiliki kekasih lain di luar rumah. Aku mengenyahkan semua pikiran-pikiranku dan mulai bergegas masuk kedalam Bathup. Mandi air dngin tentunya. Seusai mandi dan berganti pakaian dan melemparkan diri diatas ranjang empukku. Tak lama kesadarankupun terenggut bersama dengan datangnya mimpi indahku.

“Haii kak..” Walau sedikit samar dia terlihat cantik, sangat cantik. Wajahnya bercahaya, senyumnya mempesona bahkan kini dia terlihat mengenakan sepasang sayap. Sangat mirip dengan seorang bidadari.
“Talita…” ucapku tak percaya dengan apa yang kulihat.
“Apa Kak Revan bahagia..?” tanyanya dengan memberikan sebuah senyman manisnya.
“Aku sangat menderita. Ajak aku bersamamu..”
“Tidak Kak.. Kau akan lebih bahagia bersamanya.. jangan takut untuk bahaga Kak..” kata Lita yang mulai perlahan-lahan menjauh.
“Tidak sayang jangan tinggalkan aku..” tapi bayangan Lita tetap saja menjauh. Cahayanya memudar. Dan perlahan-lahan menghilang digantikan oleh sosok wanita yang selama ini berada di sisiku, Andhara…

Aku terbangun dengan keringat dingin. Tapi aku masih merasakan tubuhku demam. Ada apa ini..? apa arti dari mimpi itu..? kenapa bisa Dara menggantikan posisi Lita..?? aku melihat jam di nakas menunjukkan pukul 10 malam. Menolehkan kepalaku kekanan dan kekiri, dan aku tak mendapati apapun kecuali mampan yang berisi berbagai menu makan malam.
Apakah Dara yang menyiapkannya..??
Ahh kenapa aku memikirkannya. Mungkin ini ibu yang melakukannya. Lagi pula Dara kan belum pulang. Belum pulang..?? Apa yang diaa lakukan hingga malam sudah larut tapi dia belum pulang juga..?? Apa terjadi seuatu padanya..??
Aku lalu menyambar Kimono tidurku dan begegas keluar dari kamar. Sedikit teringat dengan mimpi anehku tadi. Apa artinya itu..?? Apa itu artinya aku harus memulai hidup baru dengan Dara..?? Tidak.. itu tak mungkin terjadi. Karena kesalahanku Lita meninggal. Jadi bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia dengan wanita lain..?? tidak… Aku harus setia dengan Lita hingga hatiku sendiri yang memutuskan untuk menyerah dan kalah….
Dengan sebuah kopi hangat di tanganku, Aku duduk diatas ayunan yang berada di halaman depan rumah. Malam ini sangat tanang dan terang, meski sedikit basah karena di guyur hujan tadi sore, namun aku tetap menikmatinya.
Hingga sebuah motor bebek berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahku. Seorang lelaki berseragam pengantar Pizza memberhentikan motornya didepan gerbang rumahku. Dia membonceng seseorang yang kini kuyakini adalah Dara, Istriku. Dara juga mengenakan pakaian yang sama. Mereka kerja di tempat yang sama.
“Terimakasih Ndre.. mau mengantarku.” Aku sedikit mendengar suara Dara yang terdengar tulus dan riang.
“Iya.. itu bukan masalah.”
“Baiklah, aku masuk dulu, kau berhati-hatilah.” Katanya lagi sambil melambaikan tangannya hingga motor itu mengilang dibalik tikungan jalan.
Aku melihatnya masuk tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya kearahku. Mungkin dia tak tau jika aku berada di sini.
“Dari mana saja Kau..?” Dan suara dinginku tersebut keluar memecah keheningan.
Sedikit terkejut dia menoleh kearahku. “Mas Revan…” Lirihnya.
Aku berjalan dengan langkah sangar kearahnya. Dia terlihat menciut. “Dari mana saja Kau..? Kau tau ini hampir tengah malam..?” Tanyaku lagi penuh dengan penekanan.
“Aku kerja.”
“Apa uangku masih kurang untuk membiayai hidupmu..?”
“Tidak, bukan seperti itu.”
“Lalu apa.?”
“Aku hanya ingin punya kegiatan dan punya banyak teman.”
“Teman yang bisa mengantar jemput sesuka hatinya maksudmu..?” Tanyaku dengan sedikit menyindir. Akupun tak tau kenapa aku ikut campur urusannya, Aku hanya tak suka diabaikan. Tanpa menunggu jawabannya, aku kembali masuk meninggalkannya bediri membatu di depan pintu.
***
Dengan kasar aku duduk dan bersandar di kursi Ruang kerjaku. Sepertinya malam ini dan seterusnya aku harus tidur disini. Kenapa..?? tentu saja semua itu ada hubungannya dengan istri bodohku itu.. sedikit banyak dia mulai mempeengaruhiku. Aku mulai ketagihan dengan kesetiaan dan pelayanannya hingga ketika dia tak melayaniku, aku merasa kehilangan.
Aku harus menghilangkan perasaan ini secepatnya…
Ditambah lagi Lita yang tak pernah masuk dalam mimpiku, kalaupun dia masuk, pasti seperti tadi, Wajahnya terlihat samar tak jelas. Hingga aku takut cepat atau lambat aku akan melupakannya. Tidak.. itu tak boleh terjadi…..
Lita kekasihku.. kekasih hatiku…

 

TBC

ada yang nungguin kelanjutanya nggak…??? Kalo nggak ada yaa nggak apa-apa.. hahhahah