My Pretty Girlfriend – Bab 1

Leave a comment Standard

Masih ingat ini? ini kisahnya Ken. dan alhamdulillah aku sudah namatin kisah ini. tinggal di share aja di blog hehheheh ya sudah selamat membaca yaa…

kalo mau baca PROLOGnya, silahkan klik di sini….

 

Bab 1

 

Kesha membiarkan seluruh tubuhnya terguyur oleh air shower. Tubuhnya terasa sakit, begitupun dengan jiwanya. Ken benar-benar memperlakukan dirinya dengan sangat buruk. Kesha bahkan tak ingin mengingat bagaimana kasarnya lelaki itu saat menyentuhnya tadi malam.

Dulu, Ken yang dikenal oleh Kesha adalah Ken yang baik hati. Perhatian, pengertian, dan sangat menghargai yang namanya wanita. Tapi tadi malam, Kesha sama sekali tidak mengenal diri Ken. Apa karena dirinya? Apa ken masih sakit hati dengan putusnya hubungan mereka dua tahun yang lalu?

Kesha memejamkan matanya frustasi. Bayangan masa lalunya bersama dengan Ken tiba-tiba menyeruak dalam ingatannya.

 

“Sayang, apa kamu tau? Kami dapat tawaran dari  suatu label musik.”

“Yang bener? Jangan ngada-ngada.” Kesha menjawab dengan cuek.

“Astaga, masa kamu nggak percaya sih? Kamu lihat aja, beberapa bulan kemudian, tampang kami akan keluar di Televisi.”

“Ahhh, biasa aja.” Kesha masih bersikap cuek. Hingga kemudian Ken memilih menggoda Kesha dengan mencubit gemas hidung Kesha. “Ken!! Sakit tau!” Kesha mengerang kesakitan.

“Abisnya, kamu cuekin aku.”

Kesha menghela napas panjang. “Iya, iya. Maaf, aku hanya takut kalau kamu sudah terkenal nanti, kamu akan lupa denganku.”

“Kamu bercanda? Itu nggak akan terjadi.” Ucap Ken dengan sungguh-sungguh.

“Janji?” Kesha mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji.” Ken menyambutnyaa dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingkin Kesha. Keduanya terikat dengan janji manis saat itu.

 

Kesha menghela napas panjang. Ken memang menepati janjinya. Lelaki itu selalu setia dengannya meski lelaki itu sedang berada di puncak kepopulerannya. Hingga kemudian, masalah itu muncul. Mau tak mau Kesha memilih untuk melepaskan Ken.

Dan kini, Kesha benar-benar tidak menyangka jika akan berada di sisi Ken kembali. Meski Kesha tahu bahwa saat ini posisinya bukan sebagai kekasih Ken lagi, melainkan sebagai musuh lelaki itu untuk membalaskan dendam atas sakit hati yang pernah ia berikan pada lelaki itu.

***

Kesha menuju ke arah balkon, menikmati pagi yang begitu dingin. Ya, hari ini memang mendung, bahkan hujan semalaman mengguyur kota Jakarta. Tapi tentu itu tak membuat malamnya dingin, karena tadi malam, Ken menjamahnya dengan begitu panas.

Kepala Kesha menoleh sebentar ke arah Ken yang ternyata masih tidur telungkup. Kemudian ia mendesah panjang. Tadi malam, Ken begitu kasar dengannya. Apalagi saat lelaki itu menyadari jika ternyata dirinya sudah tak perawan lagi. Ken tampak sangat marah, sesekali lelaki itu bahkan menampar pinggulnya. Mungkin Ken akan berpikir bahwa dirinya adalah seorang perempuan murahan. Tapi apa pedulinya? Hubungan mereka sudah putus sejak dua tahun yang lalu. Kini, hubungan mereka tak lebih dari sekedar jual beli kepuasan.

Ken membayar ibunya Dua puluh juta sebulan, sebagai gantinya, ia harus ikut dengan lelaki itu dan menuruti apapun keinginannya.

Kesha tersenyum masam. Harga dirinya dihargai sangat murah. Dua puluh juta sebulan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, karena si pembeli itu merupakan mantan kekasih yang dulu begitu mencintainya. Sungguh, Kesha seakan tak dapat mengenyahkan rasa malunya di hadapan Ken.

Kesha tahu, bahwa sebenarnya, bisa saja ia menolak. Tapi Kesha sadar dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin kembali bersama dengan Ken, meski itu tandanya ia harus menjadi seorang pelacur di hadapan lelaki itu.

Kesha memejamkan matanya, menikmati hembusan angin pagi menerpa tubuhnya. Pada detik itu, ia merasakan sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang. Mata Kesha membuka seketika saat mendapati bibir Ken sudah mendarat pada leher jenjangnya.

“Menikmati pagimu, sayang?” sapa Ken dengan nada menggoda.

“Ken.” Ucap Kesha sembari menolehkan kepalanya ke arah Ken.

“Aku masih nggak nyangka kalau kita akan kembali bersama.” Ken berkata dengan nada menggoda.

“Aku tak mengerti apa maksudmu melakukan ini, Ken. Kupikir, kamu sangat membenciku. Tapi kenapa kamu malah melakukan ini? menjadikan aku tawananmu?”

“Memang.” Ken menjawab cepat. “Sangat benci malah.” Kali ini perkataan ken penuh penekanan. “Dan aku berencana untuk membalasnya. Sekarang.” Lagi-lagi Ken mengucapkan kalimat tersebut penuh penekanan sebelum ia menggigit pundak Kesha hingga membuat wanita itu mengerang kesakitan.

“Kamu berbeda, Ken… kamu berbeda…” rintih Kesha sebelum Ken menolehkan kepalanya ke arah lelaki tersebut kemudian mencumbu habis bibirnya. Kesha pasrah dengan apa yang dilakukan Ken. Raganya menikmati sentuhan lelaki itu, meski hatinya tersakiti karenannya.

***

Kesha terbangun sendiri. setelah kembali melakukan hubungan intim, Kesha tertidur karena kelelahan. Ken begitu panas, dan lelaki itu seakan tak berhenti bergairah karenanya. Apa ini Ken yang sekarang?

Dulu, Ken bukan orang yang hanya memikirkan selangkangannya saja. Ken bahkan dengan gentle mengatakan bahwa ia tak akan menyentuh Kesha sebelum mereka menikah. Karena itulah dulu mereka tak pernah bercinta. Ken sangat baik, Ken menjaganya seperti menjaga sebuah permata. Dan kini, lelaki itu berbeda.

Apa yang dipikirkan Ken saat tahu bahwa ia sudah tidak perawan ketika Ken menyentuhnya untuk pertama kalinya kemarin? Mungkin, Ken sangat marah, sangat kecewa, sangat membencinya. Dan seharusnya, Kesha tak perlu ambil pusing. Bukankah lelaki itu sudah membencinya sejak dua tahun yang lalu? Apa bedanya dengan sekarang?

Hanya saja, sampai saat ini, perasaan Kesha kepada Ken masih sama. Ia masih begitu mencintai lelaki itu, hingga ketika Ken melecehkannya seperti kemarin dan tadi, rasa sakit menghantam diri Kesha.

Kesha tak ingin memikirkan hal itu lagi. Ia bangkit, duduk dipinggiran ranjang. Mengamati pakaiannya yang berserahkan. Ken seperti seekor hewan buas, bergairah, membara, keras, dan begitu menakutkan. Kesha tak pernah setakut ini dengan Ken sebelumnya, tapi ia tak bisa selalu menampilkan ketakutannya pada lelaki itu.

Kesha harus ingat, statusnya dengan Ken saat ini bukan lagi sepasang kekasih. Ia sudah seperti pelacur pribadi Ken yang hanya dibayar dua puluh juta setiap bulannya. Dan ia harus menerima itu.

Kesha memejamkan matanya, merasakan kesakitan yang amat sangat di dalam dadanya. Lagi-lagi ia berpikir, sebenarnya, bisa saja ia menolak, tapi jika menjadi pelacur Ken bisa membuatnya berada didekat lelaki itu, maka Kesha akan melakukannya.

Saat Kesha menikmati kesakitannya. Ponselnya berbunyi. Kesha meraihnya dan mengangkat panggilan tersebut.

“Tuan Puteri. Apa kamu sudah bosan kerja di sini?” sial! Itu Bossnya.

“Maaf, aku akan terlambat lagi.”

“Kesha, Kesha. Kamu pikir ini salon milik nenek moyang kamu? Cepat datang dalam Lima menit, jika tidak, kamu akan dipecat!” setelah itu telepon ditutup.

Kesha kembali memejamkan matanya frustasi. Seharusnya tidak begini, seharusnya bukan seperti ini….. Akhirnya, Kesha memilih bangkit, memunguti pakaiannya kemudian segera ia membersihkan diri dan berangkat ke tempat kerjanya.

Ia harus kerja, ia membutuhkan pekerjaan itu. Meski Ken sudah membayarnya sebanyak itu setiap bulan, nyatanya Kesha tak ingin menyentuh sedikitpun uang itu. Uang dari Ken hanya akan masuk ke rekening ibunya, dan Kesha bersumpah tak ingin menyentuh uang hasil melacur dengan mantan kekasihnya itu.

***

Sepanjang sore, Kesha sangat sibuk dengan pelanggan salon. Selama ini, Kesha memang bekerja di sebuah salon kecantikan. Dan pada malam harinya ia bekerja serabutan, kadang membantu tetangganya berjualan, kadang juga menggantikan ibunya bekerja sebagai pengantar minuman di salah satu kafe malam. Hidupnya sudah hancur sejak dua tahun yang lalu, cahaya positif yang dulu selalu bersinar diwajahnya dulu kini sudah pupus. Kesha seakan tak memiliki semangat untuk hidup lagi. Meski begitu, ia tak ingin mengakhiri hidupnya.

Denting dari pintu salon membuat Kesha mengangkat wajahnya. Ia berpikir itu adalah salah seorang pelanggannya, tapi ternyata, bukan. Itu adalah seorang pengantar minuman dingin yang entah sudah sejak berapa lama rutin mengantarkan minuman dingin kepadanya.

Kesha tersenyum dan si pelayan itu memberikan minuman dingin kepada Kesha.

“Mr. X sepertinya mengganti pesanannya. Hari ini, dia memesankanmu Cokelat Strawberry. Kamu suka?” tanya gadis cantik yang sebaya dengannya tersebut.

Kesha tersenyum dan menerimanya. “Terimakasih.”

“Ya, tentu saja.” Kemudian si pengantar minuman tersebut pergi.

Entah, ini sudah keberapa kalinya ia menerima pemberian berupa sebuah minuman dari si pengirim yang cukup misterius ini. Sejak ia bekerja di salon ini hampir dua tahun yang lalu, Kesha mendapatkan minuman ini hampir setiap hari.

Namanya Mr. X. Kesha tak ingin GR bahwa ia memiliki penggemar rahasia, tapi siapapun itu, Mr. X mampu membuat Kesha tersenyum sendiri saat membayangkan siapakah orang itu.

Awal-awal ia bekerja di salon ini, adalah awal yang sangat berat. Dulu, saat masih menjadi kekasih Ken, Kesha bekerja sebagai asisten pribadi lelaki itu. Saat itu, Ken sedang berada di puncak karirnya bersama dengan The Batman. Peraturan management yang melarang hubungan asmara di depan publik membuat Ken berpikir bagaimana caranya tetap berdekatan dengan Kesha tanpa ketahuan publik. Dan ide menjadikan Kesha sebagai asisten pribadinya membuat semuanya menjadi lebih muda.

Kesha digajih dengan pekerjaannya saat itu, meski begitu, Kesha melakukan pekerjaannya dengan senang hati karena selalu dekat dengan Ken adalah kebahagiaan sejati untuknya.

Lalu semuanya berubah, saat Kesha memutuskan hubungan mereka. Kesha juga berhenti dari pekerjaannya tersebut. Beberapa bulan terpuruk, akhirnya Kesha memutuskan melamar pekerjaan di sebuah salon kecantikan. Dan beberapa bulan setelahnya, Mr. X datang dengan minuman-minuman manisnya.

Kehidupan Kesha saat itu benar-benar sedang buruk dan berantakan, tapi minuman-minuman manis dan dingin pemberian Mr. X benar-benar menghiburnya. Dulu sekali, Kesha sempat berpikir jika Mr. X adalah Ken. Tapi itu tidak mungkin, nyatanya, saat Ken sedang disibukkan dengan karir barunya, saat lelaki itu sibuk berlibur ke luar negeri dengan teman-teman kencannya, Kesha tetap mendapatkan minuman tersebut dari Mr. X. itu tandanya jika Mr. X dan Ken adalah orang yang berbeda.

Kadang Kesha ingin bertemu dengan sosok itu. Memaksa si pengantar minuman untuk mengatakan, siapa sebenarnya Mr. X. tapi rupanya ia tidak memiliki kemampuan untuk memaksa gadis itu untuk berterus terang.

Kesha menghela napas panjang. Ia mulai menikmati minuman dinginnya tersebut. Memejamkan matanya, merasakan sensasi kedamaian menerpa jiwanya. Setidaknya, ia memiliki orang yang perhatian dengannya, meski bagi Kesha orang itu malu menunjukkan batang hidungnya. Itulah yang dipikirkan Kesha saat ini hingga membuatnya spontan menyunggingkan senyuman lembutnya.

Ketika Kesha sibuk menikmati minuman tersebut, ia tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata tajam mengamatinya dari jauh. Mata itu menatap Kesha dari luar kaca transparan salon tempat Kesha bekerja. Mata itu menatapnya dengan marah, entah karena apa. Mata itu adalah milik Ken.

Astaga, apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya?

-TBC-

Advertisements

About The Batman

Comments 2 Standard

About The Batman

  • James  Drew Roberth (Jiro The Batman) 

James, biasa dikenal dengan nama Jiro adalah Personel The Batman yang paling tua. Usianya 32 th. Blasteran indo inggris. Bertubuh tinggi, kekar, dengan rambut panjang sebahu berwarna cokelat kepirangan. Jiro adalah personel dengan tampang yang mendekati cantik. Dia paling kritis tetang penampilan diantara personel yang lain, meski begitu, dia juga punya banyak Tatto ditubuhnya loh… Hubungan percintaannya tak pernah terekspos.  Bahkan dimata para personel The Batman, Jiro ini yang paling misterius karena Jiro gak pernah ngomongin masalah pribadinya saat mereka kumpul2 gitu. Meski begitu, Jiro pernah sekali kepergok kamera The Danger sedang berciuman dengan seorang cewek di kelab malam.  Dan hal itu benar2 membuat dia super marah.  Dia paling gak suka ada yang ngorek atau bahas tentang masalah pribadinya. 

  • Kenzo Arya (Ken The Batman) 

Kenzo, atau biasa dikenal dengan Ken The Batman adalah salah satu personel yang paling bersih diantara personel yang lain.  Dia juga memiliki satu dua Tatto, tapi itu tersembunyi di balik bajunya. Dia juga dikenal sebagai personel yang setia.  Karena sejak sebelum jadi artis hingga terkenal seperti saat ini, dia setia dengan seorang kekasihnya. Ken adalah sosok yang romantis. Memiliki paras tampan, tinggi tegap namun sedikit lebih pendek dibandingkan dengan Jiro. Wajah tampannya khas cowok2 kalem, tapi gaya alisnya yang terbelah membuat Dia kadang terlihat keras dan keren, tak sekalem biasanya. Dan dia tidak pernah main2 dengan wanita2 bayaran ataupun fans2nya untuk mencari kepuasan dan sejenisnya. Pokoknya dia itu good boy nya The Batman. 

  • Thomas Ryan Yoseph (Troy The Batman) 

Thomas, atau biasa dipanggil Troy ini kebalikan dari Ken sifatnya. Kalau Ken itu good boynya The Batman, maka Troy ini Bad boynya. Dia memiliki darah Amerika dari ayahnya. Dia paling sebel kalo ada yg manggil nama aslinya. Posturnya tinggi tegap seperti Jiro,  bedanya, Troy ini gaya rambutnya lebih suka tipis2 stengah gundul gitu, trus di ukir2 gitu. Dia lebih pede kalo pakek topi, padahal walau gak pekek topi dia kelihatan keren bgt. Troy ini paling berengsek diantara yg lain, dan dia masuk dalam jajaran cowok2 penjahat kelamin.  Hahhaha. Ehh iya, dia paling muda lohh diantara yang lain. Usianya 27th. Dan dia sering banget nongol di majalah2 dewasa dengan setengah telanjang bersama beberapa model cewek lainnya. Yaaa kalian bisa bayangin lah seperti apa.  Hahhahahha 

  • Jason Febrian (Jason The Batman) 

Seperti yang sudah digambarkan sebelumnya, Jason punya postur tinggi tegap dengan Tato yang menghiasi kedua belah lengannya. Usianya 28th. Tapi dia lebih suka menumbuhkan bulu2 diwajahnya hingga membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya. Jason punya suara emas. Dia vokalis sekaligus pencipta lagu di The Batman (meski yg lain juga sesekali nyiptain lagu tapi yaa banyakan Jason). Dia lebih suka punya gaya rambut seperti anak Punk dan juga hobby ganti2 gaya rambutnya. Pun dengan gaya berpakaiannya,  lebih suka tanpa lengan dengan celana robek2. Selain hobby Tatto, dia juga hobby pasang tindik, katanya itu membuatnya lebih percaya diri. Jason itu tipe cowok setia kayak Ken, tapi karena dia patah hati, dia jadi ketularan berengsek seperti Troy. Meski begitu,  jika dia sudah menyukai seorang gadis, maka dia gak akan melepaskannya, bahkan sifat over posesifnya benar2 membuat siapa saja merasa tercekik.

Ps. Jika Jason, Troy dan Ken berteman dan ngeband bareng sejak sekolah,  maka Jiro baru bergabung ama mereka saat mereka mulai debut jadi artis.  Itu sebabnya umur dia beda jauh.
 😁😁

Oke, cukup itu aja kayaknya gambarannya. Update lagi malam minggu lah…  Hhehehe minggu ini bener2 sibuk.  Aku bolak balik Rs. 😂😂😂😂😂 see you…  Muaaahhh 😚😚😚💋💋💋❤❤❤

Bianca – Prolog

Comments 4 Standard

Bianca

 

Judul : Bianca

Seri : The bad Girls #3

Penulis : Zenny Arieffka

Genre : Romance Adult

Seri sebelumnya : Elena (The Bad Girls #1). Evelyn (The Bad Girls #2).

Cerita yang sedikit berkaitan : My Young Wife, My Beloved Man.

 

 

Prolog

 

-Bianca-

Aku melihatnya.

Vokalis itu bergaya ala penyanyi Rock dengan rambutnya yang setengah plontos, telinga yang beranting, beberapa tindik di wajahnya, dan tak lupa tato yang menghiasi lengannya. Astaga, kupikir aku tak akan menemukan lelaki seperti ini di dunia nyata. Karena lelaki ini adalah lelaki yang kubayangkan saat aku membaca novel dewasa karya salah satu penulis best seller di New York. Tapi aku melihatnya di sini? Di ndunia nyata?

Tuhan! Kupikir aku sudah mulai gila. Bagaimana mungkin aku kepanasan hanya karena melihat aksinya di atas panggung?

Sienna benar. Jason adalah penggambaran sempurna dari seorang lelaki. Dia tampan, berkarisma dan tampak panas.

Dan sialnya, aku menginginkannya.

***

 

 

-Jason-

 

Bianca tampak begitu mempesona.

Ya, tentu saja. Dia adalah salah seorang yang kukenal beberapa saat yang lalu. Mengaku menjadi penggemarku, dan aku tertarik dengannya.

Selama ini aku menutup mata, hati, dan pikiranku karena aku sudah memiliki seorang yang kucintai. Tapi ketika aku memutuskan untuk berhenti mencintai orang itu, Bianca datang. Kupikir aku sedikit beruntung, disaat aku membutuhkan orang untuk menghibur diri, aku mengenal Bianca.

Dia sedikit berbeda dengan gadis-gadis yang kukenal, sedikit polos, tapi kepolosannya kadang menggelitikku, membuatku semakin tertarik dengannya, membuatku semakin menginginkannya.

Bianca mampu dengan mudah menggodaku, dan aku tak memungkiri jika diriku mulai tergoda dengannya.

 

-TBC-

Yeaayyy kenalan dulu ama abang Jase dan non Bee..

Venom Publisher – Penerbit Ebook di Google Playbook

Comments 10 Standard

Venom Publisher

 

Haiiiiii huaaa aku seneng bangettt iya seneng banget,,, kenapa? karena mulai sekarang aku sudah bisa menerbitkan bukuku sendiri di google playbook. yeaaayyyyy

sejak tgl 13 bulan agustus kemarin, aku secara resmi mendirikan sebuah penerbitan. uumm, bukan penerbitan sih, lebih tepatnya sebuah wadah untuk aku dan teman-teman penulis lainnya yang mempublikasikan karya di google playbook.

jadiiiii, untuk kalian-kalian para penulis yang sedang bingung mau nerbitin karyanya, bisa nerbitin karya kalian lewat aku, nanti akan aku bantu mempublikasikan karya kalian tersebut di Google Playbook.

berikut ketentuannya, baca baik-baik yaaa.. hihihi

 

Tentang Venom Publisher

Menganut tujuan utama kami saat mendirikan penerbitan ini yaitu untuk memudahkan penulis dalam  mempublikasikan  atau  menjual  ebook  mereka  di  google  playbook,  mempermudah mereka,  dan  memberi  keuntungan  bagi  mereka,  maka  berikut  sistem  kerja  dalam  Venom Publisher :

  1. Kami  tidak  menyediakan  layanan  ISBN.  Ya,  karena    kami  bukan  penerbit  yang sebenarnya, kami  hanya membantu penulis mempublikasikan  atau menjualkan hasil karyanya di google playbook.
  2. Tidak ada kontrak.Ya, Naskah masih menjadi hak milik penulis, kami tidak mengikatnya dengan kontrak, jadi jika penulis ingin mencetak karya tersebut ke penerbit lain, maka silahkan. Atau jika mungkin saja di tengah-tengah kerja sama kita, karya tersebut di lirik oleh  penerbit  besar,  maka  kami  dengan  senang  hati  melepasnya  dan  membantu menghapusnya dari google play.
  3. Kami tidak menyediakan layanan Editing.Ya, Naskah yang sudah di kirim pada kami adalah Naskah yang sudah rapih dan sudah dalam bentuk Pdf. Kami tidak akan mengedit apapun atau menambahkan apapun karena kembali pada poin pertama, tujuannya hanyamembantu penulis mempublikasikan karyanya di google playbook.
  4. Harga di tentukan oleh penulis. Ya, Harga jual di tentukan oleh kalian sendiri yaa.
  5. Tidak di pungut biaya karena menggunakan sistem royalti. Jadi begini, setelah naskah masuk, kalian di minta menentukan harga. Misalkan, harga jual novel kalian adalah 50.000, maka 48% dari harga tersebut adalah milik google play, sedangkan 52% dari harga tersebut adalah Laba penerbit ( 50.000 x 52% : 26.000). dan 62% dari Laba Penerbit adalah Royalti Penulis (Jadi 26.000 x 62% : 16.120) gitu cara ngitungnya yaa… bisa di sebut royalti kalian lebih dari 32% harga Buku.
  6. Menerima Naskah dalam Genre apapun dan tidak  ada proses seleksi. Ya, tidak perlu di seleksi ya, jadi jangan takut naskahnya nggak keterima.. wkwkkwkwkkw. (Pastikan naskah tersebut original karya kalian, bukan hasil plagiat.)
  7. Hanya menerbitkan Ebook, bukan mencetak versi buku.Jadi kalau kalian ingin memiliki cerita kalian dalam bentuk buku, maka silahkan di cetak ke percetakan lain, kami hanya membantu mempublikasikan di google playbook dalam bentuk ebook.
  8. Royalti akan di bayarkan pada bulan selanjutnya.Jadi, misalkan bulan 8 kalian sudah masukin naskah, dan sudah terjual, maka royalti kalian di bulan 8 akan di cairkan pada bulan 9 (Di atas tangal 15, karena google membayarkan royaltinya pada tgl 15). Dan seterusnya. (Royalti di bawah 50.000 akan di tahan dan di cairkan kembali bulan selanjutnya setelah cukup 50.000 atau mungkin lebih)
  9. Setiap pertengahan bulan akan ada penampakan penjualan yang akan di update di IG story Zennyarieffka (maap pakek akun pribadi karena kami belum buat akun Venom, hihihi)
  10. Wilayah  penjualan.  Nahh,  berhubung  saya  belum  memiliki  NPWP,  maka  wilayahpenjualan google play pada penerbitan Venom Publihser saya persempit dan hanya bisa di  beli  di  negara-negara  yang  mata  uangnya  tidak  menggunakan  US  Dolar  seperti,indonesia, malaysia, singapura, Hongkong dan taiwan (Untuk saat ini, hanya negara ini dulu yaa).

 

Tamabahan :

* Yg pertama. Venom Publisher tidak menerima Naskah yang sedang di publish oleh penerbit lain di google playbook. Jadi, kalau naskah kamu masih di publish oleh penerbit lain, tolong jangan di kirimkan ke Venom. Kenapa? Karena itu melanggar kebijakan konten di google playbook. Google playbook akan secara otomatis membaca jika ada kesamaan konten. (Jadi misalnya, aku punya cerita Lady killer di penerbit A yang sedang di publish di playbook. Aku mau masukin ke Venom, untuk di publis juga di playbook. Maka itu tidak bisa karena google akan membaca secara otomatis jika konten tersebut sama). tapi, jika kalian tetap ingin terbit di Venom, maka silahkan Terlebih dulu menarik naskah tersebut di penerbit google playbook sebelumnya.

*Yang kedua. Hanya menerima naskah siap publish dalam bentuk Pdf dan juga jangan lupa sertakan covernya. jadi tolong, jangan mengirim naskah yang masih mentah dan bentuk format Word. karena kami masih kekurangan admin.. huuuhuuuhuuu T_T

*Yang ketiga. File sinopsis. Sinopsis maksud kami disini adalah keterangan atau deskripsi singkat tentang cerita kalian. Atau bisa juga disebut Blurb yang biasanya ada di Back cover novel2 versi buku. Jadi cuma deskripsi singkat aja biar yang baca penasaran dan tertarik membeli buku kalian. 🙂

*Yang keempat. Laporan penjualan. Jika buku kalian terjual (dalam hal ini memang ada beberapa buku yang tidak terjual sama sekali), maka informasi penjualan akan di kirimkan di email setiap tanggal 3-5. -Jika kalian tidak mendapatkan info penjualan, berarti tidak ada buku yang terjual 🙂

Kayaknya untuk saat ini hanya ini dulu, sisanya menyusul karena ini juga masih baru, jadi kalau ada tambahannya nanti akan di beritahukan.

 

Cara mengirimkan Naskah : 

  1. Naskah sudah harus selesai dan dan sudah di edit. Lalu di kirim dalam Format Pdf ke Email : Venompublisher@gmail.com dengan Subjek GOOGLE PLAY. 
  2. Sertakan juga File Word (Atau bisa ditulis di badan email) yang berisi Judul Cerita, Nama Penulis, Deskripsi cerita /sinopsis,jumlah halaman, dan juga Harga jual. (Jika kalian baru pertama kali mengirimkan naskahke Venom Publisher, maka sertakan juga No. Rek dan juga nama penerima dana royalti).
  3. Jangan lupa sertakan juga File Cover depan cerita kamu dalam bentuk JPG.

Nahh!!! Cukup mudah, kan?? Kalau masih bingung silahkan tanya di komentar.

 

Terimakasih, kami tunggu naskah-naskahnya….

 

 

Lovely Wife – Chapter 1 (Wanita menggoda)

Comments 7 Standard

Lovely Wife

 

Akhirnyaa rilis juga bang Dirganya yaa,,, wakakkaka semoga suka,…

 

Chapter 1

-Wanita yang menggoda-

 

Dua tahun yang lalu…

Pagi itu, nadine sedang sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil mereka. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, jika sebelum-sebelumnya Nadine sarapan dengan santai, maka hari ini ia sedikit terburu-buru.

Ya, hari ini adalah hari pertamanya kerja di salah satu perusahaan besar meilik keluarga dari sahabatnya sendiri. Meski si pemilik perusahaan sangat baik terhadap dirinya dan keluarganya, tapi tetap saja Nadine harus profesional. Ia tidak ingin di terima dalam perusahaan tersebut hanya karena kenal dan dekat dengan si pemiliknya, tapi karena potensinya berada di dalam perusahaan tersebut.

“Nadine, ini bekal untuk kamu, sayang.” Nadine melirik ke arah kotak bekal yang di siapkan sang ibu. Sederhana tapi Nadine suka.

“Terimakasih, Bu.”

“Apa Karin juga ikut kerja di perusahaan ayahnya?”

“Sepertinya tidak.”

Sang ibu hanya menganggukkan kepalanya. Nadine melirik ke arah jam tangannya, waktu menunjukkan jika hari sudah semakin siang, akhirnya ia menyambar tasnya dengan membawa sepotong roti tawar yang sudah di olesi dengan selai cokelat, lalu berpamitan dengan sang ibu untuk segera berangkat.

“Kamu yakin hanya sarapan itu?”

“Ya, Bu. Kan aku sudah bawa bekal.”

“Baiklah, hati-hati di jalan, sayang.” Nadine menganggukkan kepalanya dengan pesan sang ibu, ia mengecup lembut punggung tangan sang ibu tak lupa juga ia berpamitan dengan ayahnya lalu segera berangkat menuju ke tempat kerja barunya.

***

Saat Nadine sibuk menunggu Bus di sebuah halte tak jauh dari gang rumahnya, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Nadine tersenyum saat mendapati siapa pemilik dari mobil tersebut. Itu Darren Pramudya, lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya sejak beberapa minggu yang lalu.

Darren membuka kaca mobilnya lalu melonggokkan kepalanya ke arah Nadine. “Ayo masuk.”

“Uum, kamu mau ngantar aku? Kamu nggak sibuk?” tanya Nadine masih berdiri tepat di sebelah mobil Darrenh.

Ya, setahu Nadine, Darren adalah orang yang sibuk. Lelaki itu juga sibuk dengan perusahaan keluarganya, jadi Nadine tidak enak jika harus merepotkan Darren untuk mengantarnya kerja.

“Untuk kamu, aku nggak akan pernah sibuk. Ayo, masuklah.” Nadine tersenyum lembut. Ah, lelaki ini gampang sekali membuatnya berbunga-bunga.

Nadine akhirnya masuk ke dalam mobil Darren, setelah duduk di sebelah lelaki itu, Nadine sedikit mengerutkan keningnya saat mendapati ada yang berbeda dengan tampilan mobil Darren. Pada Dashboar mobil Darren, dulu terdapat sebuah bingkai mungil yang di dalamnya ada foto Darren, Karina dan dirinya, tapi kini bingkai tersebut hanya berisikan foto dirinya saja. Oh, jangan di tanya bagaimana terkejutnya Nadine saat ini. Pipinya bahkan sudah merona-rona.

“Kenapa?” Darren bertanya sambil mulai mengemudikan mobilnya.

“Fotonya, apa yang terjadi dengan fotonya? Kenapa ganti?”

Darren sedikit tersenyum. “Apa yang terjadi? aku hanya memasang foto wanita yang sedang menjadi kekasihku.”

“Aissh, aku nggak enak sama Karin kalau kamu hanya memasang fotoku di sini.”

“Karin? Kenapa dengan dia? Dia pasti mengerti. Dia adalah sahabat terbaik kita, jadi dia tidak akan mempermasalahkan foto ini.”

“Ya tapi dia belum tahu tentang hubungan kita.”

“Nanti aku yang akan memberi tahunya. Oke?” dan Nadine hanya mampu menghela napas panjang.

Ya, ia Karina dan Darren memang sahabatnya sejak kecil karena orang tua mereka memang bersahabat sejak remaja. Sebenarnya Nadine sedikit tidak enak, ketika tiba-tiba Darren mengungkapkan perasaan lelaki tersebut padanya. Baginya, Darren adalah seorang yang istimewa, sama dengan Karina, tapi hanya itu, tidak lebih. Nadine melihat Darren sebagai sahabat yang ia sayangi, hingga kemudian beberapa minggu yang lalu saat lelaki itu mengungkapkan perasaannya, Nadine jadi galau tak menentu.

Ia ingin menolak, tapi tidak enak, takut jika hubungannya dengan Darren akan merenggang, atau lelaki itu akan menghindarinya. Akhirnya, Nadine mencoba hubungan tersebut dengan Darren, meski sebenarnya tanpa cinta. Saat itu Nadine sedang sendiri karena ia baru putus dengan kekasihnya, dan dengan hadirnya Darren, ia mau mencoba menjalin kasih kembali dengan seorang pria. Setidaknya, ia mengenal Darren, lelaki itu adalah lelaki baik, jadi tidak ada salahnya mencoba dengan Darren.

“Jadi, apa nanti mau makan siang bersamaku?” Nadine menolehkan kepalanya pada Darren.

“Ah, maaf, aku bawa bekal.”

“Aku bisa ke tempat kerjamu dan makan di kantin kantormu nanti.” Darren menjawab lagi.

“Darren, itu nanti akan sangat merepotkan kamu. Lagian aku baru di sana, jadi aku harus banyak bergaul dengan pegawai lainnya-”

“Dari pada makan siang bersamaku?” potong Darren.

Nadine tersenyum. “Bukan begitu maksudku.”

“Oke Princess, aku mengerti. Kalau ada yang jahat sama kamu, lapor saja sama aku.”

Nadine terkikik geli. “Baik Boss.”  Keduanya lalu melanjutkan percakapan ringan mereka dengan sesekali bercanda gurau bersama.

***

“ASTAGAAAAAAAA!!!!”

Suara teriakan tersebut seketika menghentikan pergerakan Dirga, membuat Dirga dan Amel, wanita yang kini masih menyatu dengannya menolehkan kepalanya ke arah wanita yang berteriak tersebut.

“Ada apa?” seorang lelaki datang menghampiri wanita yang sedang berteriak tersebut, wanita itu menutup matanya karena melihat pemandangan yang menurutnya amat sangat vulgar. Dan lelaki itu segera menatap pemandangan di hadapannya.  Tampak seorang lelaki yang kembar identik dengannya sedang bersenggama dengan seorang wanita dalam posisi yang begitu panas dan berani.

“Brengsek lo Ga! Apa yang lo lakuin di sini?!” Seru lelaki itu lantang. Dia Davit, saudara kembar Dirga yang kini tinggal di Bandung.

Dirga mengumpat dalam hati. Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya, tapi di ganggu oleh Davit dan juga Sherly, istri dari kembarannya tersebut. Ah sial! Apa juga yang di lakukan Davit di sini? Bukankah mereka seharusnya berada di Bandung?

Dirga menarik dirinya dari penyatuan terhadap tubuh Amel, dan tanpa mempedulikan ketelanjangannya, ia bertanya balik pada Davit.

“Lo sendiri ngapain di sini?”

“Ini apartemen gue, jadi terserah gue mau ke sini atau enggak.”

Sial! Tentu saja. Harusnya Dirga sadar diri karena apartemen yang ia jadikan sebagai  basecamp untuk bercinta dengan para wanitanya adalah apartemen milik Davit.

“Setidaknya lo bisa ketuk pintu sebelum masuk.” gerutu Dirga sambil menyambar kimono tidurnya. Ia melirik ke arah Amel, wanita itu tampak sangat malu karena kini menutupi sekujur tubuh telanjangnya dengan selimut tebal mereka.

“Ketuk pintu? Ngapain gue ketuk pintu kalau kue punya kuncinya? Lo benar-benar sialan.”

Slow man, lo kayak nggak kenal gue, keluar dulu sana, lo mau seharian di situ dan lihat gue telanjang?”

Davit menggelengkan kepalanya. “Sinting lo!” lalu ia mengajak istrinya pergi meninggalkan kamar yang masih di tempati Dirga tersebut.

Dirga menyambar baju wanita teman kencannya yang berserahkan di lantai, dan melemparkannya begitu saja pada wanita itu. “Pakai bajumu, kita akan pergi dari sini.”

“Kita nggak lanjutin tadi?”

“Kamu bercanda? Aku sudah tidak bergairah. Cepat pakai.” Dirga lalu melirik ke arah jam tangannya dan mendapati jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. “Sial! Kita ada rapat jam satu siang.”

“Kamu kan bisa batalin rapatnya.” Wanita itu berkata sambil mengenakan pakaiannya satu persatu.

“Membatalkan? Meski aku brengsek, aku tidak pernah mangkir dari pekerjaanku.” Dirga memakai kembali kemejanya. “Brengsek! Ngapain juga si Davit ke sini.”

Setelah memakai pakaiannya, Dirga keluar menghampiri kakak kembarnya. “Lo ngapain ke sini? Bukannya harusnya lo ada di Bandung?”

“Gue lagi ada kerjaan di sini. Sialan! Bukannya wanita itu sekertaris pribadi lo? Lo kencan sama dia?”

Dirga meraih sebotol air mineral di dalam lemari pendingin lalu meminumnya. “Dia suka godain gue di kantor, jadi gue kencani aja.” Jawab Dirga dengan datar.

“Bener-bener sinting lo. Lo nggak akan bisa profesional sama dia nantinya, Ga.”

Well, setelah gue selesai sama dia, gue akan pindah tugaskan dia ke bagian lain.”

“Dan lo akan cari sekertaris pribadi baru gitu? Seperti sebelum-sebelumnya?”

“Tepat sekali.”

“Lo benar-benar gila.”

“Jadi kamu mau memecatku?” terdengar suara Amel yang baru saja keluar dari kamar.

Dirga menghampiri wanita tersebut. “Oh, aku tidak sekejam itu sayang, kamu hanya akan di pindah tugaskan ke tempat lain.”

“Kenapa? Supaya kamu tidak ada yang menggoda?”

“Tepat sekali.” Dirga menjawab santai.

Wanita itu akan menjawab lagi, tapi suaranya tercekat di tenggorokan ketika seorang wanita lainnya menuju ke arah dapur melewati dirinya dan juga Dirga. Itu wanita tadi yang memergoki mereka saat sedang asik menyatu dan bergerak seirama, itu Sherly, istri Davit.

Dirga melirik sekilas ke arah istri Davit, lalu menyapanya dengan suara menggoda. “Pagi, Kak.”

Sherly  hanya melirik sekilas ke arah Dirga, lalu melanjutkan langkahnya mendekat ke arah suaminya tanpa menghiraukan Dirga. Dirga tampak kesal dengan istri dari kembarannya itu, ia hanya bisa berakhir dengan mendengus sebal.

“Gue cabut.” Dirga berkata dengan wajah yang sudah masam.

“Lo nggak mandi? Badan lo masih bau seks.”

“Nggak.” Hanya itu jawaban Dirga sambil bergegas pergi menuju pintu keluar apartemen Davit.

Sialan! Sherly benar-benar mampu membuat moodnya memburuk.

***

“Jadi kamu benar-benar memecatku?!” Amel, sekertaris pribadi Dirga akhirnya tak kuasa menahan amarahnya saat Dirga memberika surat pernyataan jika dirinya di pindah tugaskan ke bagian lain saat setelah mereka sampai di kantor. Astaga, padahal baru beberapa jam yang lalu Dirga bercinta dengannya, bagaimana mungkin lelaki ini melakukan hal sekejam ini padanya?

“Jangan berlebihan, aku tidak memecat, kamu hanya di pindah tugaskan ke tempat lain.”

“Ya, dan artinya aku nggak akan bisa berhubungan lagi denganmu.”

“Sayangnya, memang seperti itu tujuannya. Maaf.” Dengan begitu menjengkelkan, Dirga mengucapkan kalimat tersebut dengan senyuman miringnya.

“Kamu benar-benar keterlaluan, baru beberapa jam yang lalu kamu memasukiku, dan sekarang-”

“Sekali lagi, jangan berlebihan. Aku belum klimaks.” Dirga memotong kalimat Amel lagi-lagi dengan begitu menjengkelkan.

“Brengsek!” setelah mengumpat keras,  Amel keluar dari ruangan Dirga. Dan Dirga hanya menatapnya dengan tersenyum penuh kemenangan. Ia bahkan tidak menghiraukan Amel yang membanting keras-keras pintu ruangannya.

Dirga kembali duduk di kursi kebesarannya, tapi baru beberapa detik ia duduk, pintunya kembali di ketuk oleh seseorang. Siapa lagi ini? Pikirnya.

“Masuk.” Dengan malas Dirga mengucapkan perintah tersebut.

Pintu di buka, Dirga mengangkat wajahnya dan mendapati sosok cantik berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Sosok yang tidak asing baginya, karena dulu, ia sering sekali bertemu dengan sosok tersebut, tapi kini, entah apa yang membuat Dirga ternganga mendapati penampilan sosok tersebut yang baginya cukup berbeda.

Itu Nadine, sahabat dari Karina, adiknya.

Kenapa Nadine di sini?

Dirga mengangkat sebelah alisnya, menatap penampilan Nadine dari ujung rambut sampai ujung kaki wanita tersebut.

Rambutnya tergerai indah, dia mengenakan kemeja dan juga rok yang menurut Dirga terlihat begitu seksi saat di kenakannya, belum lagi sepatu hak yang membuat kaki jenjang wanita itu terlihat begitu menggoda untuk Dirga.

What the F*ck!

Sejak kapan Nadine menjadi wanita menggoda seperti saat ini? Sejak kapan ia menegang seutuhnya hanya karena melihat teman dari adiknya itu berdiri dengan pakaian lengkapnya?

Dirga menelan ludahnya susah payah. Ia mulai tidak nyaman dalam duduknya, dan entah mengapa dahinya mulai berkeringat.

Sial! Ia kepanasan.

“Siang Pak, saya di suruh megantar dokumen ini pada Pak Dirga.” Nadine berkata seformal mungkin. Meski sebelumnya ia sudah mengenal Dirga, tapi tetap saja saat ini Dirga adalah atasannya.

Dengan gerakan pelan tapi mengintimidasi, Dirga melangkah menuju ke arah Nadine. Jemarinya dengan spontan melonggarkan ikatan dasinya yang entah kenapa terasa mencekiknya.

“Nadine, kamu, kerja di sini?”

“Uum, iya pak, ini hari pertama saya kerja di sini.”

“Di bagian apa?” tanyanya lagi.

“Bagian administrasi.”

“Bereskan barang-barang kamu, mulai hari ini kamu jadi sekertaris pribadi saya.” Dengan arogan Dirga mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa?” Nadine tampak shock dengan ucapan Dirga.

“Ya, saya lagi butuh seorang sekertaris, dan saya rasa, kamu orang yang paling cocok menggantikan sekertaris saya yang baru saja saya pecat.”

“Tapi pak-.”

“Bersikap biasa saja seperti sebelum-sebelumnya.”

“Maaf?”

“Sekarang, kembali ke ruanganmu, dan bereskan barang-barangmu. Sisanya, aku yang akan mengurus semuanya.” Nadine hanya mengangguk patuh lalu ia membalikkan badannya dan mulai pergi meninggalkan ruangan Dirga.

Dirga sendiri menghela napas panjang setelah Nadine keluar dari ruangannya. Sial! Bagaimana mungkin Nadine mampu menciptakan ketegangan seksual di dalam dirinya hanya karena melihat penampilan wanita itu?

***

Cukup lama Nadine membereskan meja kerjanya, meski ini hari pertamanya menempati ruangan mungilnya tersebut, tapi tetap saja banyak yang di bereskan, mengingat ia membawa banyak barang di atas mejanya.

Sedikit risih karena beberapa rekan kerjanya menatap ke arahnya dengan sesekali berbisik pada yang lainnya, seakan dirinya kini menjadi bahan gosip. Tentu saja, siapa yang tidak menggosipkan tentang dirinya dalam keadaan seperti ini? Sangat aneh jika ada seorang pegawai biasa baru yang langsung naik pangkat menjadi sekertaris pribadi wakil direktur utama perusahaan besar tersebut.

Seorang rekan kerja Nadine datang menghampirinya. “Jadi, kiamu benar-benar akan menjadi sekertaris pribadi pak Dirga?” tanya salah satu  rekan kerja wanita Nadine.

“Ya, sepertinya begitu.”

“Wahh, sepertinya Pak Dirga sedang membidik mangsa baru.”

Nadine mengerutkan keningnya. “Membidik mangsa baru?”

“Lihat saja, posisi kamu di sana tidak akan lama. Paling lama juga mungkin dua bulan. Pak Dirga selalu bergonta-ganti sekertaris pribadi setelah dia berhasil mendapatkannya.”

“Mendapatkannya? Maksud kamu, mendapatkan apa?” Nadine benar-benar tidak mengerti.

“Mendapatkannya di ranjang.”

“Apa?” dengan spontan Nadin membulatkan matanya seketika.

“Tenang, itu sudah menjadi rahasia umum, jika atasan kita yang satu itu memang seperti itu. meski begitu, banyak yang mengidamkan menjadi sekertaris pribadi pak Dirga meski nanti ia akan menjadi kekasih semalam pak Dirga dan berakhir di campakan.”

Nadine merasa mual dengan kenyataan tersebut. Tidak! Kak Dirga tidak akan memperlakukannya seperti itu, mereka sudah kenal lama, keluarga mereka sudah saling mengenal dengan baik, tidak mugkin lelaki itu akan memperlakukannya seperti memeperlakukan sekertarisnya yang dulu-dulu.

-TBC-

 

 

Curahan hati – 1

Comment 1 Standard

Curahan Hati – 1

Apakah ini Cinta???

Entahlah….
Ku pikir ini suatu kegilaan…
Ku pikir ini suatu kesalahan….

Ya… aku salah…
Salah karena terlalu mencintainya….
Menginginkanya….
Terlalu ingin selalu berada di sisinya….
Hingga aku tak pernah memikirkan saat dia menyakitiku….
Saat dia meninggalkanku lagi dan lagi….
Saat dia membuat luka di hatiku….

Semuanya seakan tak berbekas…
Aku memaafkannya lagi dan lagi….
Membuatnya tak jera melakukan kesalahan yang sama….
membuatnya selalu merasa menang dan aku selalu kalah karena cinta yang membunuhku ini….

Beginikah orang yang sedang mencintai???
Apa dia selalu kalah sepertiku..??
Selalu menangis sepertiku???

06-06-2016
Zenny arieffka

My Young Wife – Chapter 2

Comments 3 Standard

myw1.jpgMy Young Wife

Ada yang udah kangen bang aldo?? Heheeh Enjoy reading ya… wkwkwkkwkwk Btw setelah ini diriku akan berhenti Update sampek haru rabu.. Astaga,,, kalian pasti bosen banget ketemu sama aku melulu, Seminggu ini udah 4x Up.. wkwkkkwk  jadi Next akan ada bang Aaron, mungkin hari rabu yaa,, hahaha soalnya awal puasa saya mau liburan dulu ..wkwkwkkwk

Chapter 2

 

Setelah pintu tertutup, Aldo kembali melumat habis bibir gadis mungil di hadapnnya. Keduanya sama-sama saling mendesah menikmati permainan yang penuh dengan kenikmatan aneh tersebut.

“Siapa namamu??” Tanya Aldo sambil membantu gadis di hadapnnya tersebut membuka gaun yang Ia kenakan.

“Sienna…” Jawab Gadis itu dengaan suara tertahan-tahan.

“Sial..!! Kamu sangat menggoda..” Ucap Aldo dengan parau lalu mendorong sedikit demi sedikit gadis tersebut hingga jatuh di atas ranjang Mario.

Aldo semaki mennggelap saat melihat pemandangan di hadapannya tersebut. Wanita belia dengan bentuk tubuh wanita dewasa. Ohh yang benar saja, Payudara gadis di hadapannya itu terlihat ranum dan sangat mengoda seakan melambai-lambai ingin di sentuh. Kulit putih polos dengan tekstur lembut dan kencang benar-benar membuat Aldo ingin mendaratkan bibirnya pada sertiap permukaan kulit tersebut.

Serta wajah itu… wajah polos nan penuh dengan ekspresi kenikmatan benar-benar membuat Aldo tak kuasa menahan gairahnya, semua yang di bawah sana sudah menegang seketika.

“Apa kamu pernah melakukan ini sebelumnya??” Tanya Aldo dengan hati-hati.

Sienna hanya menggelengkan kepalanya, dan saat itu, Aldo tampak ragu. Tapi kemudian Hasrat kembali mempengaruhinya, Ia butuh pelepasan malam itu, Akhirnya Aldo memutuskan untuk melanjutkan apa yang akan Ia lakukan.

Aldo kembali menindih Sienna, bibirnya tak pernah lepas dari mencumbu setiap inci dari leher jenjang milik Sienna. “Dengar, Aku jug baru pertama kali melakukan ini dengan seorang perawan, Tapi tenang, Aku akan bersikap baik.” Bisik Aldo tepat pada telinga Sienna.

Sienna yang sudah terlampau sangat mabuk tak mempedulikan apa yang di katakan Aldo, Baginya, rasa aneh yang di rasakannya inilah yang paling utama. dan mungkin karena pengaruh dari mabuk, Sienna kemudian mengangkat wajah Aldo yangmasih di dalam lekukan lehernya, menatap mata coklat tersebut dengan tatapan anehnya, “Lakukan semaumu.” Ucap Sienna pada Aldo, belum sempat Aldo menjawab apa yang di katakan Sienna, Bibir Sienna sudah terlebih dahulu membungkam bibir milik Aldo.

Lagi-lagi Aldo terkejut dengan apa yang di lakukan Sienna. Gadis di hadapannya ini terlampau sangat Agresif saat mabuk seperti sekarang ini, apa kalau tidak mabuk dia juga seperti ini?? Aldo tak ingin terlalu lama berpikir lagi karena yang di bawah sana sudah sangat nyeri seakan ingin meledak karena perlakuan Sienna kepadanya. Gadis itu kini bahkan telah menempelkan pusat dirinya pada bukti gairah milik Aldo, menggoyang-goyangkan pinggulnya seakan mengoda Aldo, dan benar saja, Aldo semakin tergoda seakan ingin meledak saat itu juga.

Secepat kilat, Aldo melucuti pakaiannya sendiri lalu kembali menindih gadis di hadapannya yang sejak tadi memang sudah polos tanpa sehelai benang pun. Aldo memposisikan dirinya mencoba memasuki diri Sienna dan menyatu dengannya, tapi nyatanya sangat sulit.

Saat menemukan penghalang tersebut, Aldo menatap Sienna dengan tatapan tak terbacanya. “Menangislah jika kamu ingin menangis.” Ucap Aldo yang di iringi dengan gerakaan menghujam lebih keras kedalam tubuh Sienna. Dan Akhirnya satu kali hentakan tersebut mampu membuat tubuh mereka menyatu seutuhnya.

Dan benar saja, Gadis yang berada di bawahnya itu kini menangis dan merintih kesakitan.Masih dengan menyatu, Aldo memeluk tubuh Sienna, menenangkannya sambil sesekali mengecupi bahu gadis tersebut.

“Maafkan aku.. Maafkan aku…” Selalu kata itu yang di ucapkan Aldo tepat pada telinga Sienna.

Sienna sendiri masih tidak berhenti menangis kesakitan, Rasanya sangat tidak nyaman, pedih bercampur menjadi satu dengan rasa nyeri, seakan sesuatu merobek dirinya. Sienna ingin mendorong Lelaki yang kini memeluknya itu menjauh, namun nyatanya lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.

Cukup lama mereka berdua saling berpelukan hingga Aldo melepaskan pelukannya dan menatap Sienna dengan tatapan tak terbacanya.

“Aku harus bergerak Si, Kita tidak mungking seperti ini terus hingga pagi..” ucap Aldo dengan parau.

“Jangan..” Sienna berkata dengan suara seraknya.

“Tenanglah, Tidak akan sakit.” Aldo menenangkan Sienna sambil sesekali mengecup lembut bibir ranum milik Sienna.

Lalu kemudian Aldo mulai menggerakkan tubuhnya. Sienna mengerutkan keningnya merasa tak nyaman dengan apa yang di lakukan Aldo. Kenikmatan yang tadi di rasakannya seakan menghilang begitu saja di gantikan dengan rasa sakit dan tidak nyaman dari lelaki di atasnya tersebut. Namun anehnya semakin lama, rasa sakit dan tak nyaman itu pun kembali menghilang dan di gantikan rasa aneh yang tadi di rasakan Sienna sebelum tubuhnya menyatu dengan tubuh Lelaki di atasnya tersebut.

Napas Sienna terputus-putus seakan kewalahan dengan kenikmatan aneh yang di berikan Oleh Aldo.

Aldo yang memperhatikannya hanya mampu tersenyum melihat Ekspresi kenikmatan yang ditampakkan dari wajah Sienna.

“Bagaimana?? Apa Kamu menyukainya.?” Tanya Aldo dengan nada menggoda.

“Ahhh… yaa.. Astaga….”

“Berapa umurmu??” Tanya Aldo masih dengan sesekali mengecup payudara milik Sienna.

“Tujuh belas….” Hanya itu yang mampu di jawab oleh Sienna.

“Rasamu seperti wanita umur Dua puluh lima.” Ucap Aldo dengan terpatah-patah. “Dan aku suka.” Tambahnya lagi.

“Namamu..???” Sienna ingin bertanya siapa nama Lelaki yang kini berada di atasnya, namun lagi-lagi rasa aneh yang sedang menyelimutinya seakan mencekat suaranya di tenggorokan.

“Aldo.. Osvaldo Handerson..” Aldo kembali melumat bibir Sienna sesekali menjaga ritme permainannya. “Panggil saja Kakak…” tambahnya lagi.

“Kak Aldo….” Desah Sienna.

“Hemmm??”

“Tubuhku gemetar..” Ucap Sienna dengan polosnya masih dengan memejamkan matanya.

Aldo tersenyum mendengar ucapan polos dari Sienna,Gadis di bawahnya ini sebentar lagi pasti akan mencapai klimaks, terbukti dengan Cengkeraman erat pada pusat dirinya yang membuat Aldo semakin tak kuasa menahan kenikmatan yang di tahannya supaya terasa sedikit lebih lama lagi.

“Aku ingin lebih lama lagi..” Ucap Aldo dengan parau,“Tapi sepertinya aku tidak bisa, Kamu mencengkeramku terlalu erat, Seakan aku tak bisa bergerak dan ingin meledk saat ini juga.” Lalu Aldo menggerakkan dirinya semakin cepat, membuat tubuh Sienna menggelinjang, kaku karena sesuatu, dan Desahan panjang lolos begitu saja dari bibir Gadis tersebut. Dan tak menunggu lama, Erangan panjang pun lolos dari bibir Aldo menandakan kepuasan yang sangat mendalam yang di rasakan Lelaki tersebut.

***  

 

“Kak.. Kak… Kok malah melamun sih??” Suara manja itu membuat Aldo sadar dari lamunannya.

Aldo mengedarkan pandangan di sekitarnya, ternyata mereka sudah berhenti di parkiran sebuah rumah makan yang menyediakan aneka macam Sate. Rumah makan tersebut tampak sangat ramai.

“Ayo turun.” Ajak Aldo kemudian.

Sienna pun menuruti perkataan Aldo sambil sesekali melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil. Astaga.. Sienna memang terlampau sangat manja dan kekanak-kanakan.

“Hentikan itu, kamu sedang hamil, ingat.” Ucap Aldo dengan tatapan memperingatkan.

“Maaf..” hanya itu jawaban dari Sienna.

Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah makan tersebut, setelah memesan makanan, mereka memilih duduk di ujung ruangan. Rumah makan tersebut benar-benar sangat ramai, padahal saat ini sudah sedikit larut malam.

“Dari mana kamu tau ada tempat seperti ini?” Tanya Aldo pada Sienna.

Sienna benar-benar tidak suka dengan nada bicara Aldo yang selalu terkesan datar tanpa nada. Itu benar-benar membuat Sienna bosan, padahal mereka baru menikah dua bulan yang lalu.

“Aku sering kesini dengan Kevin.”

Mendengar nama tersebut, Rahang Aldo mengeras. Sial..!! Nama itu lagi. “Apa hubungan mu dengan dia??”

“Kenapa Kak Aldo bertanya tentang kami??”

“Memangnya nggak boleh?” Aldo berbalik bertanya.

“Bukan nya gitu, tapi bukannya Kak Aldo sendiri yang minta supaya hubungan kita tidak saling mencampuri??” Sienna bertanya dengan wajah polosnya. Tentu Ia sangat ingat saat Aldo berkata jika pernikahan mereka hanya demi sang bayi yang kini berada dalam kandungan Sienna.

“Ya, Aku bukannya ikut campur, aku hanya ingin tau, itu saja.”

Dengan tersenyum malu-malu Sienna akhirnya mulai bercerita. “Kami hanya teman. Tapi, Aku suka dia.” Ucap Sienna dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Percakapan mereka akhirnya terpotong oleh kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka.

“Wahh… Ini yang di tunggu-tunggu..” Ucap Sienna sambil berbinar bahagia. Ia sama sekali tak memperhatikan ekspresi Aldo yang sudah mengeras.

“Habiskan.” Hanya itu yang keluar dari mulut Aldo.

“Ya, Tentu saja, aku sangat suka dengan menu ini, Kevin selalu meneraktirku kemari. Makanya, Kak Aldo juga harus sering-sering mengajak ku kemari.”

“Ini yang terakhir kalinya.”

Sienna mengernyit. “Kenapa?”

“Aku nggak suka tempat yang ramai dan berisik seperti ini.”

“Huhhhh Kak Aldo itu harusnya cari suasana Baru, Apa Kak Aldo nggak bosan selalu bertemu orang yang sama dengan suasana yang sama setiap harinya???”

Aldo hanya terdiam, Ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Sienna. Kalau pun Ia bisa menjawab pertanyaan Sienna, Sienna pasti akan mendebatnya lagi dan lagi, maka dari itu Aldo lebih memilih diam dan mengalah.

“Kak Aldo nggak makan?”

“Aku nggak suka apa pun makanan berbahan dasar daging kambing.”

“Kenapa?”

“Kalau nggak suka ya nggak suka.”

“Aku kan Cuma ingin tau lebih banyak lagi tentang Kak Aldo..”

Aldo termangu mendengar ucapan dari Sienna. Yaa.. Selama ini mereka memang tidak terlalu mengenal satu sama lain. Aldo sibuk dengan urusannya meski Ia selalu memantau Sienna dari Fandy, pengawal yang di sediakan untuk Sienna dan juga Bibi Ani, seorang yang bekerja di rumahnya dari pagi sampai Sore sebagai tukang masak dan juga bersih-bersih. Tentu saja Ia tidk seberapa tau tentang Sienna selain keadaan nya yang selalu di pantau olehnya.

“Sudah, lanjutkan makan mu.”

Dan dengan mendengus kesal, Sienna akhirnya melanjutkan makan nya tanpa mempedulikan Aldo yang setia memperhatikan nya dengan tatapan tajam aneh nya.

“Si..” Panggilan itu membuat Sienna menoleh ke belakang.

“Kevin…” Sienna lantas berdiri saat mengetahui siapa orang yang tadi memanggilnya.

“Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini.”

“Aku lapar, dan nggak tau kenapa lagi pengen makan sate kambing sama Sup tulang di sini.”

Kevin tersenyum. “Kamu pasti lagi ngidam.” Ucap Kevin sambil membelai lembut rambut Sienna sembari melirik ke arah perut Sienna yang sudah sedikit berbentuk.

“Sepertinya begitu.” Suara berat Aldo menyadarkan keduanya jika mereka melupakan sosok yang masih duduk dengan santai di kursinya sembari menatap tajam ke arah mereka.

“Emm.. kalau gitu aku cari meja dulu ya..” Ucap Kevin karena tidak enak mendapat tatapan tajam dari Aldo.

“Kenapa nggak di sini saja? Kamu sendiri kan???”

Kevin mengangguk.

“Mejanya nggak muat.” Ucap Aldo dengan datar.

Sienna menatap ke arah Aldo dengan tatapan tanda tanya nya. “Nggak muat?? Itu meja nya kan masih kosong Kak, lagian Kak Aldo kan nggak pesan makanan.”

“Siapa Bilang, Aku pesan kok, Bahkan porsi dobel.” Aldo menjawab masih dengan nada datarnya.

“Benarkah?? Bukan nya Kak Aldo nggak suka apa pun yang berbahan daging kambing??”

“Sudah lah.. yang penting meja kita sudah penuh dengan pesananku.” Ucap Aldo lagi.

Sienna hanya menghela napas panjang.

“Biarlah, Kita bisa ke sini nanti bersama.” Bisik Kevin yang langsung di sambut dengan senyuman lebar dari Sienna.

Setelah memesan kembali, Akhirnya pesanan Aldo tersebut benar-benar datang. Meja mereka benar-benar penuh dengan berbagai macam olahan makanan, mulai dari sate, Gulai, Sop, tongseng dan masih ada lagi beberapa masakan yang di olah dari daging kambing.

Sienna membulatkan bola matanya saat melihat berbagai macam menu pesanan Aldo yang membuat meja mereka penuh dengan banyak nya masakan tersebut.

“Kak Aldo yakin mau memakan semua ini?” Sienna masih tak percaya jika Aldo akan memakannya.

Aldo menelan ludahnya dengan susah payah, Seumur hidupnya Ia sama sekali tak pernah memakan makanan olahan dari kambing, karena menurutnya Daging kambing itu berbau, dan dia tak suka memakannya, namun kali ini, Entah apa yang membuatnya begitu kekanak-kanakan seperti saat ini. Ia bahkan memesan semua makanan yang di bencinya hanya untuk membuat meja mereka penuh dan si Kevin tidak duduk se meja dengannya, dan juga dengan Sienna…

“Tentu saja.” Jawab Aldo dengan sedikit ragu. Ia benar-benar tidak yakin dapat memasuk kan makanan-makanan tersebut ke dalam mulutnya.

Akhirnya dengan ragu Aldo pun mencoba memakan masakan di hadapannya. ia memejamkan Matanya saat sesendok tongseng kambing masuk kedalam mulutnya.

Enak… hanya itu yang ada di dalam pikiran Aldo. Aldo kemudian memakannya lagi dan lagi, sedangkan Sienna hanya menatapnya dengan tatapan Anehnya.

Lelaki di hadapannya itu benar-benar sangat Aneh. Lelaki tampan dengan mata coklatnya yang entah sejak kapan membuatnya Terpesona saat menatapnya. Sienna mengusap lembut perutnya yang sudah sedikit berbentuk. Hatinya terasa bimbang dengan semua yang ia jalani. Mampukah ia mempertahankan perasaannya terhadap Kevin, Sahabat yang di cintainya tapi tak pernah mencintainya?? Ataukah Ia akan jatuh pada pesona suaminya sendiri yang cenderung bersikap dingin tapi perhatian?? Ahhhh lupakan..!! lagi pula bukannya Aldo tak pernah mencintainya??? Ingat Sienna, Pernikahan kalian hanya karena sebuah ‘kecelakaan’, Tidak lebih. Sienna membatin dalam hati.

***

Tengah malam Sienna terbangun saat tenggorokannya kering. Sienna meraih gelas yang ada di meja sebelah ranjangnya, namun nyatanya gelas tersebut sudah kosong, mau tak mau ia bangkit dan bergegas menuju ke dapur untuk mengambil Air. Andai saja Aldo tidur sekamar dengannya, mungkin Ia bisa tenang karena bisa menyuruh lelaki itu mengambilkan minum untuknya. Nyatanya…

Yaa, Walau mereka sudah menikah selama kurang lebih dua bulan lamanya, Mereka sepakat untuk tidur di kamar masing-masing, Tidak saling mencampuri urusan masing-masing selalu menjadi patokan kehidupan rumah tangga mereka. Meski sebenarnya Sienna merasa sangat tidak adil.

Aldo seakan mengatur hidupnya. Lelaki itu selalu mengawasi kemanapun ia pergi dan berada, namun nyatanya Sienna tak pernah tau apa yang di lakukan Aldo di luar sana. Apa Aldo dengan wanita lain?? Ohh yang benar saja, memangnya itu urusanmu?? Lagi-lagi Sienna menggerutu dalam hati.

Ketika melewati kamar Aldo, Sienna mengernyit saat mendengar suara Aneh di dalam. Karena penasaran, Sienna mengetuk pintu kamar Aldo. Karena tak ada jawaban Akhirnya Sienna membuka pintunya. Sienna masuk dan mendapati Aldo di kamar mandi dengan wajah pucatnya.

Sienna sontak menghambur ke arah Aldo, lelaki itu tampak Pucat dengan keringat dinginnya. “Kak Aldo kenapa?? Ada yang salah??”

“kamu kenapa di sini?? Ini sudah malam, Cepat tidur, Begadang nggak baik untuk ibu hamil.”

“Aisshhh aku nggak begadang, aku mau ngambil air minum, lalu ku dengar suara aneh dari sini, jadi aku masuk.”

“Aku muntah.”

“Muntah??”

“Sepertinya aku memang nggak bisa makan makanan berbahan dasar daging kambing.” Lirih Aldo.

“Lalu kenapa Kaka Aldo tadi memakannya??”

“Karena aku udah pesan.”

“Dan kenapa Kak Aldo memesan nya??”

“Karena… Karena…” Aldo tak tau harus menjawab Apa, ia tidak mungkin menjawab jika Ia memesan banyak makanan tersebut hanya untuk membuat meja mereka penuh pada saat itu, Sungguh itu kekanak-kanakan sekali. “Ahh sudah, Lupakan.!!” Jawab Aldo dengan ketus.

“Ayo ku bantu.” Dengan polos Sienna mengulurkan telpak tangannya. Aldo menatapnya dengan tatapan tak terbacanya. Akhirnya Aldo menyambut uluran tangan tersebut.

Aldo berbaring di atas ranjangnya. Sienna sudah keluar dari kamar Aldo, entah apa yang di lakukan wanita tersebut Aldo sendiri tak tau. Akhirnya tak lama Sienna kembali masuk ke dalam kamar Aldo dengan membawa sebuah nampan.

“Ini, Makan lah.”

Aldo mengernyit. “Apa ini??”

“Biskuit Asin dan Lemon tea hangat. Kalau aku mual muntah, aku biasanya makan ini, dan ini lumayan berefek.”

“Jadi kamu memberiku makanan Ibu hamil?? Yang benar saja.”

“Ini bukan makanan ibu hamil tau, ini bisa meredakan rasa mual bukan hanya mual pada ibu hamil.” Jelas Sienna.

Sienna lalu megeluarkan minyak kayu putih yang ada di nampan tersebut. “Dan ini, juga bisa meredakan mual sekaligus pusing.” Dengan lembut Sienna menuangkan minyak kayu putih tersebut pada perut Aldo, lalu mengusapnya, kemudian ia juga memeberi sedikit minyak kayu putih tersebut pada pelipis Aldo.

“Nahh Sudah, sekarang Kak Aldo sudah bisa tidur dengan nyaman..” Kata Sienna sambil berdiri dan akan bergegas pergi. Tapi kemudian langkahnya terhenti saat Aldo meraih telapak tangannya.

“Si… Malam ini.. Tidurlah di sini.”

Sienna sontak menatap Aldo dengan tatapan tanda tanyanya, ia tak menyangka Jika Aldo mengajaknya tidur sekamar dan seranjang. Apa yang harus ia lakukan?? Apa Ia harus menerima ajakan tersebut, atau menolaknya??

-TBC-

Gimana Chapter ini?? kasih komen kamu yaa,,, wkkwkwkw jangan lupa, Vote dan Comen selalu di tunggu… *BigHug…