Sleeping with my Friend – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

***  

Bab 13

 

Steve menghujam lagi dan lagi, tak mempedulikan erangan demi erangan yang keluar dari bibir Jessie. Kenikmatan membungkusnya, ia bahkan tak mempedulikan tubuh mereka yang sudah basah kuyub karena guyuran air dari shower.

Jessie tampak sangat bergairah, begitupun dengan dirinya yang seakan tak ingin menghakhiri percintaan panas mereka.

“Ohh, Steve… Astaga…” Jessie meracau, sedangkan yang dapat dilakukan Steve hanya kembali menghujam lagi dan lagi.

Entah sudah berapa lama mereka melakukan penyatuan dalam posisi berdiri. Tubuh Jessie terhimpit dengan dinding dan juga tubuh kekar Steve. Steve bahkan setengah mengangkat tubuh Jessie agar tinggi mereka sejajar. Sesekali Steve mencumbu habis bibir istrinya itu, melumatnya dengan penuh gairah, mengajaknya untuk menari bersama. Oh, Sial! Jessie benar-benar akan membunuhnya.

Beberapa kali Steve akan sampai pada puncak kenikmatan, tapi kemudian Steve memperlambat lajunya, menurunkan ritmenya, menyiksa dirinya sendiri dengan cara menahan agar luapan gairah tak segera meledak dan permainan mereka segera berakhir. Sungguh, Steve tak ingin segera mengakhirinya. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tersiksa.

“Steve, tolong…” Jessie memohon.

Rupanya wanita itu sudah akan sampai pada puncak kenikmatannya lagi, entah sudah yang keberapa kali.  Berkali-kali, Steve merasakan Jessie klimaks, tapi ia masih menahan diri agar tidak terpancing dengan istrinya itu. Steve masih ingin lebih lama lagi, Steve masih ingin lebih banyak lagi mencumbu Jessie. Oh, Jessie, istrinya….

Akhirnya, karena sudah tak sanggup menahan luapan gairah yang menghantamnya lagi-dan lagi, Steve pun meledakkan diri setelah beberapa kali hujaman kerasanya. Steve mengerang, begitupun dengan Jessie. Keduanya saling mengerang satu sama lain, seakan melupakan kecanggungan yang sempat tercipta diantara mereka.

Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, ia tidak mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Steve membuatnya lemas tak bertenaga karena klimaks yang ia dapatkan beberapa kali dalam satu sesi percintaan panasnya bersama dengan lelaki ini. astaga, Steve benar-benar pandai bercinta.

Jessie merasa sangat malu, karena ia merasa tak pandai mambuat Steve senang dengan percintaan mereka. Bagaimana jika lelaki ini bosan nantinya? Jessie menenggelamkan diri pada dada Steve. Ia mengabaikan air Shower yang masih setia mengguyur tubuh mereka. Kemudian, Jessie mulai terisak.

Steve yang baru sadar dari gelombang gairah yang menghantamnya, akhirnya merasakan isakan dari Jessie. Ia melepaskan pelukan Jessie kemudian mengamati wanita itu dengan kekhawatiran yang amat sangat.

“Ada apa? Apa aku menyakitimu? Bayinya?” tanyanya dengan raut khawatir.

Jessie masih terisak. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa seemosional ini, secengeng ini hanya karena merasa bahwa ia tidak bisa memuaskan hasrat seorang Steven Morgan. Padahal, Steve sendiri tidak mengatakan kemungkinan tersebut.

Steve meninggalkan Jessie, lalu kembali dengan sebuah kursi lipat. Ia mendudukkan Jessie di sana dan mencoba mengabaikan ketelanjangan mereka. Steve berjongkok di hadapan Jessie, berharap jika Jessie mengatakan apa masalahnya.

Sial! Steve tadi terbawa dengan suasana. Ia terlalu menikmati percintaan panasnya dengan Jessie, mencoba menahannya agar percintaan mereka tak segera berakhir. Steve bahkan lupa tentang keadaan Jessie yang sedang mengandung bayinya. Bisa saja tadi ia menyakiti wanita itu. Dan hal itulah yang membuat Steve khawatir.

“Kau, baik-baik saja, bukan?” tanya Steve sekali lagi saat Jessie sudah berhenti terisak.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Tampak sangat manja. Steve tak ingat kapan terakhir kali Jessie terlihat menja seperti saat ini. Jessie tentu bukan orang manja seperti itu. Setidaknya, hal itulah yang dilihat Steve selama ini. Setelah kepergian ibu Jessie, Jessie selalu memposisikan diri sebagai gadis kuat, wanita mandiri yang mampu mengurus dirinya sendiri bahkan mengurus ayah dan kakaknya. Tapi kini, Jessie tampak seperti seorang gadis manja yang terisak karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Apa yang terjadi dengan wanita ini?

“Ada yang sakit? Apa aku menyakitimu?” tanya Steve lagi. Karena ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Jessie.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Hanya itu jawabannya.

“Lalu kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja bukan?” Steve masih tampak khawatir.

“Aku baik-baik saja, Steve. Sungguh.”

“Katakan, kenapa kau menangis?” lagi, Steve masih ingin mendapatkan jawaban yang masuk akal dari wanita di hadapannya tersebut.

“Aku… aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu?” Steve masih menuntut.

“Aku juga tidak mengerti, Steve. Aku selalu ingin menangis akhir-akhir ini. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini.” Jessie kembali menangis, dan Steve benar-benar bingung.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin menghadapi wanita hamil akan membuatnya segila ini?

Akhirnya, Steve menghentikan interogasinya, ia memilih bangkit dan memeluk Jessie. “Mungkin ini berhubungan dengan kehamilanmu. Kau sangat sensitif. Seharusnya aku mengerti dan lebih mengalah lagi.” Ucap Steve kemudian.

“Aku… aku hanya takut, Steve.”

“Apa yang membuatmu takut?”

“Kau. Aku takut dengan dirimu.”

Steve melepaskan pelukannya, lalu menatap Jessie penuh tanya. “Aku? Kau takut denganku?” kemudian Steve tertawa lebar menertawakan apa yang baru saja dikatakan Jessie.

Perlu diketahui, bahwa selama ini, Stevelah yang takut dengan Jessie. Jessie kadang memposisikan diri sebagai ibu Steve ketika mereka tinggal di New York. Jessie tak segan-segan mengomel atau bahkan memukuli Steve ketika Steve melakukan perbuatan yang salah.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Jessie dengan kesal.

“Kau takut denganku. Itu tidak masuk akal, Baby girl.” Saat Steve sudah memanggilnya seperti panggilan yang diberikan Frank padanya, maka saat itulah Jessie tahu bahwa sikap menyebalkan Steve mulai kambuh.

“Apanya yang tidak masuk akal?!” nada suara Jessie mulai meninggi.

“Ya ampun. Kau seperti Mom jika sedang marah. Lebih tepatnya, aku yang takut denganmu. Bukan sebaliknya.” Steve berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya.

Jessie bangkit seketika. Dengan marah ia berkata. “Aku hanya takut jika tak dapat memuaskanmu. Seharusnya kau tidak menertawakan aku! Kau membuatku kesal, Morgan!”

Steve sempat membatu setelah mendengar jawaban Jessie. “Kau apa?” tanyanya sekali lagi. Tapi Jessie tidak mengindahkan pertanyaannya. Lalu Steve mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Jessie hingga membuatnya sadar akan maksud dari wanita tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tak kuasa menahan tawanya hingga terpingkal-pingkal.

Melihat Steve yang tak berhenti menertawakannya, Jessie semakin kesal dan marah. Hal itu membuat Jessie berinisiatif pergi meninggalkan Steve. Astaga, Jessie bahkan sempat melupakan jika dirinya masih telanjang bulat saat ini.

Melihat Jessie yang tampak kesal dan akan meninggalkannya membuat Steve menghentikan tawanya seketika. Ia segera menggapai tubuh Jessie kemudian memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Sial! Gesekan kulit lembut Jessie membuat Steve kembali berereksi.

“Lepaskan aku!” Jessie sempat meronta. Tapi Steve mempererat pelukannya.

“Begini saja, Nyonya Morgan.”

Panggilan itu lagi. Sialnya, panggilan itu mampu membekukan tubuh Jessie. Oh ya, ia juga baru ingat bahwa saat ini statusnya sudah menjadi istri Steve, menjadi Jessica Morgan. Bagaimana dia bisa lupa dengan hal itu?

“Maaf jika aku sudah menertawakanmu. Sungguh, aku merasa kau sangat konyol. Mana mungkin kau tidak memuaskanku?” ucap Steve dengan nada parau.

“Kau… Aku… Aku tidak tahu. Maksudku, aku sudah beberapa kali klimaks, dan kau…”

“Karena memang itulah yang kuinginkan.” Steve memotong kalimat Jessie. “Perempuan bisa klimaks beberapa kali dalam satu sesi. Tapi jika lelaki sudah klimaks, maka semuanya selesai. Butuh beberapa menit untuk memulainya lagi. Dan aku hanya ingin, percintaan kita tadi tak cepat selesai.”

“Jadi, semua itu, bukan karena kau tidak menikmatinya?”

Steve melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Jessie hingga menghadap ke arahnya.

“Oh, Demi Tuhan, Jess! Kau benar-benar gadis biara, ya? Jika aku tidak menikmatinya, maka aku akan menyatukan diri, memuntahkan gairahku kemudian meninggalkanmu begitu saja tanpa mempedulikan apa kau klimaks atau tidak. Kau mengerti apa maksudku?”

Jessie tersenyum. Meski kosa kata yang diucapkan Steve sedikit kurang ajar, tapi tetap saja, mendengar kalimat itu membuat Jessie tersenyum malu. Jessie mengerti apa maksud Steve. Yang tidak membuatnya mengerti adalah, kenapa Steve bisa begitu menikmati permainan mereka? Jessie tidak melakukan apapun, dan hal itulah yang membuat Jessie tak percaya diri.

“Uum, aku, tak melakukan apapun. Bagaimana mungkin kau menikmatinya?”

Steve tak tahu harus seperti apa menjelaskan pada Jessie bahwa dirinya begitu menikmati percintaan mereka. Tapi kemudian, Steve memiliki ide untuk memanfaatkan kepolosan Jessie.

Dengan sedikit tersenyum ia berkata “Kau ingin tahu bagaiaman aku menikmatinya?”

“Maksudmu?” Jessie curiga dengan apa yang akan dilakukan Steve. Tanpa banyak bicara, Steve meraih sebelah telapak tangan Jessie kemudian mendaratkan pada ereksinya.

“Kau lihat. Aku selalu menegang saat berdekatan denganmu. Bagaimana mungkin kau memiliki pemikiran sekonyol itu, bahwa aku tidak menikmati semua ini?”

“Aku…” Jessie bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia benar-benar tak pernah seintim ini. Sangat intim hingga menyentuh pusat gairah dari seorang lelaki.

Steve semakin mendekat, membiarkan Jessie menyentuhnya. “Sentuh aku, Jess. Dan lihatlah. Betapa aku menikmati sentuhanmu.” Ucapnya dengan suara parau. Kemudian, Steve menangkup kedua pipi Jessie, mengangkat wajah wanita itu, lalu mendaratkan ciuman lembutnya pada bibir Jessie.

Jessie sangat menikmatinya. Ia bahkan memejamkan matanya, dan juga membalas cumbuan lembut dari suaminya tersebut. Jemarinya masih tak berhenti membelai mesra bukti gairah lelaki itu, dan hal tersebut memancing suatu gairah dari dalam tubuh Jessie.

Steve mencumbu lagi dan lagi. Kakinya melangkah, mendorong tubuh Jessie sedikit demi sedikit hingga mereka keluar dari kamar mandi, kemudian menuju ke arah ranjang mereka. Sampai di sana, Steve melepaskan tautan bibir mereka. Jemari Jessie benar-benar menyiksanya, membuatnya nyaris meledak karena kelembutan yang diberikan oleh istrinya tersebut.

Steve menatap Jessie dengan sungguh-sungguh, lalu ia berkata “Aku ingin kali ini kau yang memegang kendali.”

“Aku? Bagaimana bisa?” tanya Jessie bingung.

Jessie tentu tak perenah berpikir bagaimana caranya memegang kendali sebuah hubungan seksual. Ia tidak semahir atau seliar itu. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya.

Kemudian, Steve mendorong tubuh Jessie hingga keduanya jatuh di atas ranjang dengan Steve berada di atasnya. “Aku akan mengajarkanmu. Kau mau?” tawar Steve kemudian.

“Aku… Umm, aku…” Jessie ragu. Tapi saat dirinya masih ragu, Steve sudah menyatukan diri dengan begitu erotis. Jessie tak mampu menolak karena ia juga menikmati penyatuan tersebut.

Tanpa diduga, dalam sekejap mata, Steve membalikkan posisi mereka hingga kini Jessie berada di atasnya. Steve tersenyum, dan Jessie bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Bergeraklah.” Pinta Steve.

“A-apa maksudmu?”

“Bergeraklah. Puaskan aku.”

Mata Jessie sempat membulat karena ucapan Steve. Tapi kemudian ia mengikuti nalurinya untuk bergerak, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya sendiri, memberikan kenikmatan untuk Steve. Jessie bahkan melupakan kecanggungannya. Semua pergerakan yang ia lakukan itu semata karena nalurinya.

Dengan spontan, Jessie menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir Steve. Mencium suaminya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya.

Steve sangat menyukai apa yang dilakukan Jessie. Ia tak menyangka jika Jessie akan mampu dengan mudah beradaptasi dengannya, dengan kehidupan seksualnya di atas ranjang. Jika boleh jujur, untuk seorang pemula, Jessie benar-benar sangat menggoda, panas dan cukup liar. Meski wanita itu tak berhenti merona karena malu, tapi tetap saja, hal itu tak menyurutkan sedikitpun gairah Steve pada Jessie.

Jessie masih tak berhenti, ia bergerak lagi dan lagi dan hal itu mengantarkan Steve pada puncak kenikmatan. Steve tak mampu menahannya lagi. Dipeluknya erat tubuh Jessie, kemudian ia bergerak secera spontan, membuat Jessie mengerang dengan pergerakan dari Steve.

Jessie kembali hanyut dalam badai kenikmatan, dan tak berapa lama, Steve menyusulnya. Keduanya tenggelam dalam pusaran gairah yang seakan tak ingin meninggalkan mereka.

***

Satu minggu berlalu. Steve dan Jessie kembali ke New York. Mereka harus bekerja kembali dan menjalani kehidupan normal seperti sebelum-sebelumnya.

Berada satu minggu di Pennington dengan status baru membuat hubungan mereka menjadi panas sepanas bara. Bukan karena kemarahan atau emosi, tapi karena gairah yang menyala-nyala.

Hampir setiap malam Steve menyentuh Jessie dengan panas. Mengajari wanita itu bagaimana caranya menikmati hubungan baru mereka. Mengajari Jessie bagaimana cara untuk memuaskannya. Dan Jessie tampak senang dengan peran barunya tersebut.

Sesekali, mereka memang masih canggung dengan status baru yang mereka sandang. Tapi sering kali mereka mengabaikannya. Kedekatan mereka masih sama seperti pada saat mereka berteman dulu. Steve masih suka mengganggu Jessie dan Jessie sering kali marah-marah tak jelas dengan perilaku kekanakan Steve.

Hari-hari di Pennington menjadi hari-hari terindah untuk mereka berdua. Tapi mereka sadar, bahwa mereka tidak bisa berada di sana selamanya. Mereka harus kembali ke New York, dan itu tandanya mereka akan menghadapi berbagai macam masalah.

Seperti, dimana mereka akan tinggal setelahnya?

Oh, tentu saja Jessie bisa pindah ke apartmen Steve. Tapi mengingat bagaimana keras kepalanya wanita itu, Steve mencoba mengalah saat Jessie menolak gagasan tersebut.

Steve mengusulkan agar ia yang pindah ke apartmen Jessie. Jessie tidak menolak, tapi wanita itu hanya berkata bahwa akan bagus jika Steve tak perlu buru-buru memboyong semua barang-barangnya ke apartmen Jessie, mengingat apartmennya tak sebesar milik Steve, dan juga, mereka tentu perlu waktu untuk menyesuaikan keadaan masing-masing.

Setidaknya, Steve bisa lega, karena itu tandanya ia bisa tinggal bersama dengan Jessie, meski tandanya, ia harus lebih banyak mengalah dengan kekeras kepalaan wanita tersebut.

Saat berada di dalam mobil, sesekali jemari Steve terulur dengan sesuka hatinya, mendarat pada perut Jessie kemudian mengusapnya lembut. Steve tidak tahu apa yang membuatnya melakukan hal yang menggelikan seperti itu. Yang ia tahu adalah bahwa hal itu kini menjadi sesuatu yang ia gemari.

Sial! Ada anaknya di sana. Jagoannya. Ya, Steve bahkan sangat yakin dan sudah merasakan bahwa anak yang dikandung Jessie adalah laki-laki. Hal itu benar-benar sangat berarti untuk Steve.

Jessie sendiri, ia memilih megabaikan apa yang dilakukan Steve. seperti tak terjadi apapun. Padahal dalam dirinya, Jessie merasakan sebuah pergolakan. Kehangatan menerpanya, tapi ia juga merasa kurang nyaman dengan sikap manis berlebihan yang diberikan Steve padanya.

Jessie tahu, hubungan mereka memang jauh lebih baik ketimbang setelah malam panas saat itu. Tapi ia juga sadar, bahwa semua ini semata-mata karena mereka ingin memperbaiki semuanya. Jessie akan sangat berhati-hati dengan hal ini, karena ia tahu, satu kali saja ia tergelincir, maka ia akan jatuh, dan hubungan mereka tak akan tertolong lagi.

Pada saat itu, keduanya sudah sampai di gedung apartmen mereka. Dengan sigap Steve keluar dari dalam mobilnya, ia memutarinya kemudian membukakan pintu penumpang agar Jessie keluar dari sana.

Manis sekali.

Keduanya masuk. Mendapati Cody si penjaga apartmen yang tersenyum ramah ke arah mereka.

“Mr. Morgan, Miss Summer.” Sapanya dengan ramah.

“Ahhh. Biar kukoreksi. Mrs. Morgan.” Ucap Steve dengan sungguh-sungguh.

“Apa? Maksudnya, kalian?” Cody menatap ke arah Steve dan Jessie secara bergantian.

Jessie hanya menunduk. Sedangkan Steve dengan penuh rasa posesif ia menarik pinggang Jessie agar masuk ke dalam lengannya.

“Ya. Kami sudah menikah.” Jawab Steve dengan penuh penegasan.

Jessie tidak membantah, ia pun tidak meralat ucapan Steve karena memang benar seperti itulah kenyataannya. Mereka sudah menikah, ia sudah menjadi Nyonya Morgan saat ini.

“Ohh, selamat. Kenapa aku tidak diundang?”

“Hanya pernikahan biasa yang diadakan di lumbung rumahku.” Jawab Steve. “Tapi lain kali, aku akanmmeneraktirmu minum untuk merayakannya. Boleh kan Sayang?’ tanyanya pada Jessie.

“Ya. Tentu saja.” Jessie baru membuka suaranya.

“Baiklah, Cod. Kami akan naik dulu.” Steve berpamitan dan Cody hanya menganggukkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar bahwa kedua orang tersebut nyatanya sudah menikah.

Saat Steve dan Jessie baru saja masuk ke dalam lift, Cody baru saja ingat bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Jessie. Seseorang yang datang setiap hari ke apartmen ini selama Empat hari terakhir. Seseorang yang Cody kenal sebagai tunangan Jessie. Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 7

Comments 2 Standard

 

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

***

Bab 7

 

Jiro membalas setiap cumbuan dari istrinya tersebut. Ia menyukai Ellie yang berinisiatif untuk menyentuhnya seperti ini. Ellie membangkitkan sesuatu didalam dirinya, membuat Jiro membuka diri untuk wanita tersebut.

Jiro menurunkan resleting dress yang dikenakan Ellie. Melepaskan tautan bibir mereka, lalu melepsakan dress tersebut melewati kepala Ellie. Jiro menatap tubuh istrinya dengan mata terkagum-kagum.

Ellie sangat indah, dan begitu cantik. Kulitnya putih pucat, rambutnya kuning keemasan, matanya berwarna biru laut, dan bibirnya, astaga, merona seperti ceri. Jiro benar-benar bodoh karena selama ini mengabaikannya.

Saat Jiro mulai membuka kaitan bra yang dikenakan Ellie, saat itulah Ellie tertunduk malu. Jiro tahu, bahwa mereka memang hampir tak pernah seintim ini. tak ada waktu untuk mengenali tubuh masing-masing, karena biasanya Jiro hanya melakukan apa yang ia inginkan setelah itu pergi begitu saja. Dan kini, ia seakan ingin mengenal setiap inchi dari tubuh Sang isteri.

Jiro melepaskan bra tersebut. Menjatuhkannya begitu saja di atas lantai, dan Jiro kembali terpesona dengan tubuh istrinya.

Seingatnya, Ellie tidak memiliki lekuk seindah ini. Apa karena Jiro tak pernah memperhatikan sebelumnya? Buah dada Sang istri tampak padat, tapi lembut, dan sangat menggoda. Sial! Kemana saja ia selama ini?

Jiro mendaratkan jemarinya di sana, menyentuhnya, menggodanya. Kakinya mendekat, kepalanya menunduk dan menggapai kembali bibir ranum Ellie. Jiro mencumbu lembut bibir Sang istri sedangkan jemarinya tak ingin berhenti menggoda.

Ellie sendiri menikmati cumbuan tersebut. Dengan pelan tapi pasti ia membalas setiap cumbuan lembut dari suaminya.

Bibir Jiro mulai turun, menuruni leher jenjang Ellie, turun lagi berhenti pada kedua puncak payudara sang istri. Jiro sempat menggoda di sana sebentar, membuat Ellie melemparkan kepalanya ke belakang karena tak kuasa menahan kenikmatan.

Jiro bahkan sudah menekuk lututnya dihadapan Ellie, bibirnya kembali turun lalu matanya mengamati perut Ellie yang tampak sedikit berisi daripada biasanya. Dengan spontan Jiro menarik ujung bibirnya. Ada sebuah kebanggaan yang merayapi hatinya, bangga karena ia akan menjadi seorang ayah, bangga karena sebagian dari dirinya tumbuh di dalam sana.

Jiro mengusap lembut perut Ellie, kemudian mulai mencumbunya lagi dan lagi.

Ellie sendiri hanya bisa meremas rambut Sang Suami. Menikmati setiap belaian bibir Jiro yang berada pada perutnya. Jiro tak pernah selembut ini padanya, dan Ellie begitu menimkati cumbuan lembut dari Jiro.

Sedikit demi sedikit Jiro mendorong tubuh Ellie agar terduduk di pinggiran ranjang. Kemudian ia kembali melanjutkan aksinya lagi, mencumbui setiap inchi dari kulit Sang Istri. Oh, Jiro sangat memuja tubuh Ellie, sekali lagi Jiro berpikir, kemana saja ia selama ini? empat tahun lamanya dan ia baru menyadari bagaimana menggodanya tubuh Sang Istri. Benar-benar bodoh!

Setelah cukup lama bermain-main dengan kulit sang istri, Jiro merasa bahwa dirinya sudah tak mampu mengendalikan gairahnya lagi. Ia bangkit, melucuti sisa kain yang membalut tubuhnya dan juga tubuh Ellie. Kemudian ia kembali pada Ellie, menatap wanita yang sudah tampak tak berdaya di bawah tubuhnya.

“Kamu sangat cantik dan indah. Kemana saja aku selama ini?” tanya Jiro secara terang-terangan.

“Mungkin kamu terlalu sibuk.”

“Ya. Dan terlalu bodoh.” Jawab Jiro. Tanpa banyak bicara lagi, Jiro mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie, pelan tapi pasti, mendesah bersama ketika penyatuan sempurna itu terjadi.

Jiro kembali menatap tubuh Ellie, dan istrinya itu benar-benar tampak indah. Sedangkan Ellie, ia merasa begitu disayangi. Tatapan mata Jiro yang menyiratkan sebuah kekaguman membuat Ellie bahagia. seingatnya, Jiro tak pernah menatapnya seperti itu. Dan Ellie tidak munafik, jika ia memang menginginkan Jiro menatapnya seperti itu.

Tubuh Jiro mulai bergerak seirama, pelan tapi pasti, perlahan dan hati-hati, mencari kenikmatan untuk dirinya, memberi kenikmatan untuk diri Ellie. Jiro tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi ia benar-benar merasa sedang bercinta seutuhnya dengan diri Ellie.

Jiro begitu menikmati permainan panasnya saat ini, berbeda dengan sebelum-sebelumnya, yang hanya akan menyatu, kemudian berharap secepat mungkin mendapatkan klimaks tanpa menghiraukan apa yang dirasakan Ellie.

Kini, Jiro merasa bahwa Ellie juga menikmatinya, wanita itu tak berhenti memejamkan matanya, mengerang, seakan menikmati setiap pergerakan yang ia berikan pada tubuh wanit tersebut. Ellie bahkan terasa erat mencengkeramnya, seakan meminta agar Jiro tak segera menghentikan permainan panas mereka.

Dengan spontan Jiro menundukkan kepalanya, menggapai bibir Ellie, kemudian mencumbunya dengan lembut. Oh, bibir yang sangat menggoda. Ellie membalasnya, hal itu membuat Jiro semakin menggila.

Ya Tuhan!  Jiro benar-benar tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Ketika Ellie semakin rapat membungkusnya, Jiro merasakan tubuh wanita itu kaku, melengkungkan punggungnya, kemudian melenguh panjang. Jiro tahu bahw Ellie sudah sampai pada pelepasannya, dan Jiro tak menunggu lama lagi untuk menyusul istrinya itu pada puncak kenikmatan.

***

Setelah tenggelam dalam pusaran gairah, Jiro merasakan napas Ellie mulai teratur. Ia melihat wanita itu yang nyatanya sudah tertidur pulas. Jiro tersenyum. Ia tak pernah merasakan perasaan sebahagia ini sebelumnya, bahagia hanya karena sebuah percintaan panas. Jika sebelum-sebelumnya ia hanya merasakan rasa lega, maka saat ini, perasaannya sulit digambarkan.

Jiri merengkuh tubuh Ellie dalam pelukannya, sebisa mungkin ia meredam pergerakannya agar tidak membangunkan Ellie. Ellie mungkin lelah, dan Jiro akan membiarkan istrinya itu istirahat sebentar di kamar apartmennya sebelum kembali pulang.

Jemari Jiro mencari permukaan perut Ellie, mengusapnya lembut, merasakan perasaan aneh yang kembali menerpa dirinya. Jiro tak pernah berpikir akan menjadi ayah, tapi dia juga tidak menolak jika Tuhan memberinya seorang bayi secepat ini.

Mereka dulunya memang sepakat untuk menunda. Ellie benar, tak terasa semua itu sudah berjalan empat tahun lamanya, sudah saatnya mereka memiliki bayi, bahkan Jiro mengabaikan kedua orang tuanya ketika bertanya tentang mongmongan.

Kini, Jiro merasa sudah memiliki semuanya, karir yang berada di puncak, istri yang cantik jelita, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, apalagi yang ia inginkan? Semuanya tampak sempurna. Tapi Jiro merasa ada yang salah, ia merasa harus memperbaiki semuanya agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Sialnya, Jiro tak tahu apa yang membuatnya merasa bersalah.

Saat Jiro sedang nyaman memeluk tubuh Ellie, saat itulah ponselnya berbunyi. Jiro ingin mengabaikannya, tapi bunyinya akan mengganggu Ellie. Akhirnya Jiro memilih mengangkatnya saat tahu bahwa si penelepon adalah Troy.

“Elo dimana?”

“Di apartmen. Kenapa?”

“Buka sosmed, gila! Di sosmed lagi rame gosip tentang elo.”

Perasaan Jiro tidak enak. Akhirnya ia segera mematikan panggilan dari Troy dan mulai membuka akun sosial medianya. Jiro benar-benar terkejut ketika news feednya dipenuhi dengan foto-foto dirinya dan juga Ellie yang berada di rumah sakit tadi siang.

Sebenarnya, Jiro sudah memikirkannya. Hal ini pasti akan terjadi, tapi Jiro tidak berpikir bahwa akan secepat ini, dan beritanya akan menjadi viral seperti saat ini. Salah satu akun gosip bahkan dengan terang-terangan menyebut bahwa Jiro sedang mengantar istrinya memeriksakan kandungan. Meski sebenarnya itu benar, tapi Jiro benar-benar tidak suka digosipkan.

Ponselnya kembali berbunyi, Troy kembali meneleponnya. Mau tidak mau Jiro mengangkatnya.

“Ada apa lagi?” tanya Jiro berusaha bersikap setenang mungkin.

“Elo sudah lihat?”

“Ya.”

“Dan Cuma gini aja reaksi elo?”

“Terus, gue harus apa?” Jireo bertanya balik.

“Sial! Manager sejak tadi ngehubungin kita. Elo harus nemuin dia.”

“Ya.”

“Dan setelah itu, kita tunggu di Studio Jason.” Setelah itu telepon ditutup. Jiro mendengus sebal, ia menatap Ellie yang masih pulas dalam tidurnya.

Jiro lalu bangkit, membersihkan diri, menulis pesan singkat untuk Ellie agar Ellie tetap di apartmennya dan menunggunya kembali. Kemudian ia pergi meninggalkan wanita tersebut untuk menyelesaikan masalahnya.

***

Ellie bangun beberpa jam kemudian, sendiri. Setelah bangkit dan membersihkan diri, ia menemukan note yang ditulis oleh Jiro di atas meja tepat di bawah ponselnya. Ellie cukup lega setelah membacanya. Tadi, ia berpikir bahwa Jiro akan meninggalkannya setelah apa yang sudah mereka lalui bersama, tapi ternyata lelaki itu hanya pergi sebentar untuk mengurus urusannya.

Akhirnya, Ellie memilih menghabiskan waktunya dengan berkeliling kamar Jiro. Ini adalah kamar suaminya, sepertinya tidak masalah jika ia melihat-lihat barang apa saja yang ada di sana. Beberapa pintu lemari dalam keadaaan terkunci, yang artinya ia tidak bisa atau tidak boleh melihat apa yang ada di dalam, tapi yang lain dalam keadaan terbuka.

Tak ada barang-barang berharga di sana, hanya ada baju-baju lelaki itu, mungkin sebagian barang-barang Jiro sudah dipindahkan ke rumah mereka seperti yang dikatakan lelaki itu tadi.

Ellie lalu duduk di pinggiran ranjang, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kemudian matanya teralih pada laci meja yang berada di sebelah ranjang. Ellie membuka-buka laci tersebut. Tak ada yang special di sana, hanya ada kertas note, pulpen, dan sekotak…. Tunggu dulu, Ellie mengambil kotak tersebut.

Itu adalah sekotak kondom yang bahkan sudah berkurang isinya. Ellie sempat tak percaya saat melihatnya. Kenapa Jiro memiliki kondom di laci kamarnya? Ia bahkan tidak pernah ke apartmen ini. Lagi pula Jiro tak pernah mengenakan kondom ketika bercinta dengannya. atau jangan-jangan…..

Ellie menggelengkan kepalanya saat pikiran buruk mulai menguasainya. Saat Ellie masih shock melihat sekotak kondom tersebut, ia mendengar bell pintu apartmen Jiro berbunyi.

Ellie mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu siapa yang datang, dan Ellie merasa ragu, apa ia harus membukakan pintu atau tidak. Tapi rasa ingin tahunya terlalu tinggi. Tadi, Ellie berpikir bahwa Jiro tak pernah membawa siapapun ke apartmennya, tapi setelah mendapati sekotak kondom tersebut di dalam laci meja suaminya, pikiran tersebut hilang.

Jiro tentu pernah membawa seseorang ke apartmennya, dan orang tersebut pasti perempuan. Ellie merasa bahwa ia harus tahu siapa perempuan itu? Siapa yang sudah tidur dengan suaminya? Dan siapa orang yang sedang datang ke apartmen Jiro saat ini? mungkinkah itu adalah orang yang sama?

Dengan cepat Ellie bangkit, keluar dan menuju ke arah pintu. Ellie ingin segera tahu siapa si pengetuk pintu. Apa itu  adalah orang yang sama dengan orang yang mungkin saja sering di ajak Jiro bermalam di apartmennya?

Dan ketika Ellie membukanya, Ellie merasa bahwa semua menjadi semakin masuk akal saat mendapati seorang wanita cantik dan seksi dengan rambut yang di cat pirang. Wanita yangakhir-akhgir ini sering digosipkan dekat dengan Jiro. Vanesha, kalau ia tidak salah ingat. Apa benar wanita ini memiliki hubungan serius dengan Jiro? Jika tidak, kenapa Vanesha tahu dimana tempat tinggal suaminya?

***

Jiro menghela napas lega setelah keluar dari ruangan managernya. Sejak tadi, semua mata menuju ke arahnya saat ia memsuki gedung managementnya. Mungkin mereka semua yang ada di sana sudah melihat gosip itu, dan seharusnya Jiro tak peduli, bukankah selama ini ia memang jarang mempedulikan orang-orang disekitarnya?

Beruntung, si Manager memang sudah mengetahui statusnya yang sudah menikah. Ya, hanya managernya dan beberapa asesten kepercayaannya. Sang Manager tak berkomentar apapun, Jiro hanya diminta untuk tenang dan menghindari awak media. Maka semua gosip itu akan kembali mereda. Meski managernya tidak menyarankan hal tersebut, Jiro tetap akan melakukan hal itu. Satu-satunya hal yang masih mengganjal pikiran Jiro adalah, bagaimana caranya ia menghadapi para personel The Batman lainnya?

Disatu sisi, Jiro ingin berkata jujur, tapi di sisi lain, ia tidak bisa melakukannya. Jiro tidak ingin mempublikasikan tentang Ellie, setidaknya, bukan sekarang. Lagipula, mereka harusnya disibukkan dengan konser yang semakin dekat, bukan dengan hubungan rumah tangganya bersama dengan Ellie.

Jiro menghela napas panjang saat ia akan memasuki studio tempatnya latihan. Setelah ia membuka pintunya, semua yang ada di sana menghentikan aksinya dan menatap ke arahnya.

Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Jiro melangkah masuk, kemudian duduk dengan santai di sofa yang tesedia. Jason, Ken dan Troy akhirnya mendekat, sedangkan Jiro berusaha agar dirinya tak terpengaruh dengan tatapan mata teman-temannya tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro tanpa ekspresi sembari membuka sekaleng bir yang ada di hadapannya.

“Jadi, apa bener tentang gosip bahwa elo punya istri?” Troy yang mulai membuka suara. Bahkan tanpa basa-basi lagi temannya itu bertanya tentang statusnya. Sialan!

“Enggak.” Jiro menjawab setelah menenggak minumannya. Entahlah, jawabannya tersebut hanya spontanitas. Ia hanya belum ingin mempublikasikan sosok Ellie di depan umum, bahkan didepan teman-temannya sekaligus.

“Elo yakin? Terus siapa perempuan yang ada di salah satu akun gosip itu?” Jason menuntut. Jason dan yang lain tahu bahwa ini adalah urusan pribadi Jiro. Jiro sangat misterius dengan masalah pribadinya, bahkan hampir tak pernah membahas masalah pribadinya. Kini, Jason dan teman-temannya hanya ingin tahu kebenarannya. Jika benar, bukan masalah. Mereka hanya ingin membantu Jiro menghadapi media.

“Adek gue.” Jiro masih menjawab dengan enggan,

Troy mendekat seketika. “Boleh kenalin? Gue sudah lihat foto-fotonya, bahkan ada videonya yang di posting di salah satu akun gosip.  Gue rasa, gue tertarik, kebetulan gue nggak pernah deket sama cewek bule berambut kuning kemerahan.”

Tanpa diduga, secepat kilat Jiro mencengkeram kerah baju yang dikenakan Troy. “Jangan coba-coba.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Elo kenapa si? Emang salah kalau kita pengen kenal sama adek elo?” Troy tersinggung. Padahal belum tentu wanita itu menolaknya, kenapa Jiro sibuk dengan egonya sendiri?

“Salah, sangat salah!” nada bicara Jiro masih penuh emosi. Kemudian Jiro melepas cengkerangannya, ia bangkit dan bersiap pergi meninggalkan studio latihannya. Tapi sebelum itu, ia berpesan pada semua yang ada di dalam ruangan tersebut, terutama pada Troy. “Jangan pernah mencari tahu tentang dia. Mata Jiro menatap tajam ke arah Troy. Jiro benar-benar tidak suka ketertarikan yang amat jelas terlihat di wajah temannya yang brengsek itu. “Dia sudah bersuami!” lanjutnya sebelum pergi membanting keras pintu studio Jason.

Sial! Jiro bingung dengan apa yang ia rasakan. Disatu sisi, ia ingin mengklaim diri Ellie dihadapan umum, tapi disisi lain, ia tidak bisa membuka rahasianya begitu saja apalagi saat egonya masih terlalu tinggi untuk menuruti ambisinya. Padahal Jiro tahu, bahwa tak ada salahnya memberi tahu Jason, Ken dan Troy. Mereka tak akan membocorkan rahasianya. Tapi tetap saja, rasanya Jiro sulit memberi tahu mereka begitu saja.

Sedangkan Jason, Ken dan Troy, saling pandang satu sama lain, bingung dengan sikap Jiro yang tak seperti biasanya.

“Dia kenapa sih? Ada yang salah sama ucapan gue? Gue kan tertarik sama adeknya.” Troy membuka suara.

“Troy, belum tentu juga itu adek Jiro. Kalau dia sampai semarah itu, pasti hubungan mereka bukan kakak-adik.” Jason menjawab.

“Bisa jadi mereka memang kakak-adik. Jiro marah karena dia tidak mau adeknya ditaksir oleh Troy.” Ken yang berbicara.

“Sialan lo Ken. Memangnya apa salahnya gue taksir?” Troy mendengus sebal. “Siapapun itu, cewek itu cantik banget. Sumpah. Gue beneran tertarik sama dia.” ucap Troy yang seketika itu juga membuat Ken dan Jason saling pandang kemudian menggelengka kepalanya. Astaga, Troy benar-benar laki-laki hidung belang!

***

Msih dengan kesal, Jiro memilih untuk segera pulang. Ia ingin segera bertemu dengan Ellie.mengingat bahwa Ellie kini mungkin dikenali oleh publik membuat Jiro khawatir dengan istrinya tersebut.

Kurang dari setengah jam kemudian, Jiro sudah sampai pada apartmennya. Dan ketika ia memasuki apartmennya. Ia terkejut mendapati tamu tak diundang berada di sana.

Itu Vanesha. Kenapa wanita itu kemari?

Jiro melihat Ellie yang tampak sedang menyuguhkan sesuatu untuk Vanesha. Astaga, apa yang sudah terjadi? Apa yang dikatakan Vanesha pada Ellie? Apa Ellie mengaku tentang hubungan rumah tangga mereka?

Dengan sedikit panik Jiro masuk kemudian dia bertanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” bahkan suara Jiro terdengar begitu tajam. Ia tidak ingin Vanesha berada di sana, diantara dirinya dan juga Ellie. Mereka tak memiliki hubungan apapun, jadi Jiro tidak ingin  Vanesha mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ellie.

“Jiro, kamu..” Vanesha berdiri seketika.

“Ya. Aku. Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Jiro sekali lagi. Sesekali matanya melirik ke arah Ellie. Wajah wanita itu sudah sendu. Apa yang sudah dikatakan Vanesha pada istrinya itu?

“Mungkin kamu lupa sudah janjian sama dia.” Ellie membuka suaranya. Ellie bahkan segera meninggalkan Vanesha dan juga Jiro untuk masuk ke dalam kamar Jiro.

Tanpa menghiraukan keberadaan Vanesha, Jiro menyusul Ellie. Mengunci diri mereka di dalam kamar. Ada yang harus mereka bahas. Sikap Ellie yang ketus menandakan bahwa ada yang terjadi saat ia meninggalkan wanita itu. Dan jiro ingin menyelesaikannya.

“Apa yang sudah dia katakan sama kamu?” tanya Jiro secara terang-terangan setelah mengunci pintu kamarnya.

“Tidak ada.” Ellie berkata jujur. Memang mereka belum sempat bercakap-cakap. Ellie hanya mempersilahkan wanita itu masuk, lalu membuatkan minuman, pada saat itu, Jiro sudah datang. Meski begitu hal tersebut tidak mengurangi kecurigaan Ellie tentang siapa dan apa sebenarnya hubungan antara Jiro dengan wanita tersebut.

“Lalu kenapa kamu bersikap ketus begini?”

“Kenapa?” Ellie bertanya balik. “Suamiku suka membawa perempuan lain ke apartmennya! Apa aku tidak boleh marah?”

“Kamu tidak memiliki bukti saat menuduhku seperti itu, Ellie.”

“Bukti? Dia bahkan mengetahui dimana tempat tinggal sialanmu ini! dan ini!” Ellie melempar sekotak kondom yang ia temukan tepat pada dada Jiro. “Kamu perlu bukti lain lagi?” tantangnya.

“Ini bukan milikku.” Jiro mengamati kondom-kondom yang berserahkan di lantai.

“Oh tentu saja. Ini adalah milik si penjaga gedung apartmen yang mampir untuk menyewa kamarmu!” Sindir Ellie. “Aku tidak sebodoh itu, James. Aku tidak sebodoh itu!”

Jiro mendekat, dan Ellie mundur. “Ellie tolong, kita bisa membahas ini dengan baik-baik.”

“Tidak!” Ellie berseru keras. “ini tidak akan berhasil jika kamu tidak jujur, James.”

“Aku jujur, Ellie! Barang sialan ini bukan milikku, dan aku tidak tahu bahwa Vanesha mengetahui tempat tinggalku.”

Ellie mengangkat kedua tangannya, seraya mengatakan bahwa sudah cukup. Jawaban Jiro tak masuk akal. Jadi ia tidak ingin memperpanjang lagi cek cok mereka. Lagi pula, memang keadaannya seperti itu, Jiro memang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik, lelaki masih lajang di depan publik, jadi sangat tidak masuk akal bahwa Jiro tak pernah mengajak salah satunya menginap di apartmennya. Yang Ellie inginkan hanyanya agar Jiro berkata jujur padanya, meski kejujuran itu bagaikan pil pahit untuknya.

“Ellie, tolong.” Jiro memohon. Tak pernah ia memohon sebelumnya jika bukan dengan Ellie

“Aku pulang.”

Jiro menghela napas panjang. “Oke, kita akan pulang.”

“Tidak. Aku pulang sendiri.”

“Ellie, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri.”

“Kenapa tidak? Bukannya selama ini kamu mengabaikan keberadaanku? Maka anggap saja seperti itu.”

Ellie kembali lagi mengungkit sikap buruk Jiro, dan ketika Ellie sudah mengungkitnya, maka yang bisa Jiro lakukan hanya mengalah. Ya, ia memang selalu salah.

“Ellie, kamu hamil. Setidaknya, biarkan aku menghubungi Mei untuk menjemputmu.”

“Terserah.” Jawaban kasar Ellie membuat Jiro tahu bahwa istrinya itu benar-benar sedang marah terhadapnya. Jiro tahu, ada banyak hal yang harus ia jelaskan pada Ellie, tapi emosi Ellie yang meledak seperti sekarang ini membuat Jiro tak berkesempatan untuk menjelaskannya. Bahkan jika Jiro sudah menjelaskannya, Jiro tak yakin Ellie mau menerima penjelasannya. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah membiarkan Ellie sampai emosi wanita itu mereda, kemudian menjelaskan semuanya pada istrinya tersebut.

Ya, Jiro merasa tak bersalah karena hal ini, jadi ia pasti bisa menjelaskan semuanya tanpa menimbulkan masalah baru lainnya.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 12

Comments 2 Standard

 

Bab 12  

 

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie mengenakan gaun pengantin sederhana milik ibunya yang sudah ia modifikasi hingga tak terlihat kuno. Jessie senang mengenakan gaun tersebut, bahkan  ini merupakan cita-citanya, bahwa ia akan mengenakan gaun pengantin ibunya ketika menikah dengan Henry nanti. Nyatanya, mempelai prianya bukan Henry, melainkan Steven Morgan, temannya sendiri.

Jessie menghela napas panjang. Ia merasa gugup dan sedikit gemetar. Keraguannya kembali muncul, ia tidak menyangka jika akan berakhir seperti sekarang ini. Berada di kamar Steve dengan penata rias yang membantunya tampil cantik karena pernikahannya yang akan segera dilaksanakan di lumbung keluarga Morgan yang sudah disulap menjadi tempat pemberkatan yang begitu indah.

Ketika Jessie sangat gugup, sebuah suara ceria mampu mengalihkan perhatiannya. Emily Morgan datang dengan senyum cerianya.

“Kau benar-benar sangat cantik.” Komentarnya sembari menghambur ke arah Jessie.

“Maaf, kau bisa merusak rambutnya.” Si penata rambut berkomentar, dan Emily segera menjauhkan diri dari Jessie.

“Oh maaf. Aku hanya sangat mengaguminya. Astaga, Steve pasti akan terpana denganmu.” Komentar Emily.

“Kau bisa saja.” Jessie merona dengan pujian Emily. Dulu, ia tak pernah malu-malu seperti ini dengan adik Steve itu. Tapi kini, semua seakan berubah. Ada rasa canggung yang sulit dijelaskan, dan hal itu membuat Jessie kurang nyaman.

“Aku ke sini karena ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie penasaran.

Baby Girl.” Itu Frank. Kakaknya itu berdiri di ambang pintu. Jessie berdiri dan menatap Frank dengan mata berkaca-kaca.

Frank mendekat, kemudian memeluk erat tubuh adiknya. Si penata rambut akan berkomentar tapi Emily lebih dulu mengajaknya keluar agar Jessie bisa menikmati waktunya dengan Sang Kakak.

“Frank.” Jessie menangis. Entah kenapa ia ingin menangis, mungkin terharu, mungkin sedih karena setelah ini ia akan memiliki keluarga kecilnya sendiri dan satu langkah sedikit jauh dengan Frank dan juga ayahnya.

“Hei. Kenapa menangis?” tanya Frank yang sudah melepaskan pelukannya. Frank bahkan menghapus bulir airmata Jessie yang jatuh menuruni pipinya. “Maskaramu akan luntur. Kau tak ingin membuat para tamu undangan lari ketakutan saat melihat riasanmu berantakan, bukan?”

Jessie tersenyum, dia bahkan meninju pelan dada kakaknya.

“Kau sangat cantik, Jess. Mom pasti akan sangat senang menyaksikan pernikahanmu dari sana.”

“Bagaimana dengan George?” tanyanya kemudian.

Well. Seperti biasa, pria tua itu bersikap sok kuat. Padahal semalam saat minum denganku, dia gelisah dan mengkhawatirkanmu.”

“Jangan mengajaknya minum lagi, Frank.”

“Ya. Karena setelah ini, aku memiliki teman minum baru di keluarga kita.” Ucap Frank dengan semangat. Jessie hanya menundukkan kepalanya. Frank lalu mengangkup kedua pipi Jessie dan bertanya. “Kenapa? Kau tampak tak bahagia.” Frank menatap Jessie penuh selidik.

“Aku bahagia, Frank. Kau tahu sendiri bukan, Steve adalah cinta pertamaku. Aku tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Kami akan menikah, astaga, aku masih tidak menyangka akan seperti ini.”

“Ada yang kau takutkan, Baby girl?”

“Banyak.” Desah Jessie.

“Katakan, karena jika kau menyimpannya sendiri, kau tak akan berhenti gelisah.”

“Aku takut jika semua akan gagal.”

“Kenapa kau berpikir sampai ke sana?”

“Frank. Tak ada cinta diantara kami.”

“Kau baru saja mengatakan bahwa dia cinta pertamamu.”

“Ya ampun, Frank. Itu sudah Lima belas tahun yang lalu. Aku sudah jatuh cinta dengan pria lain setelahnya. Bahkan mungkin sekarang aku masih mencintai Henry.” Jessie menghela napas panjang. “Maksudku, aku takut, kalau aku kembali menyukainya, terbawa perasaan, padahal hubungan kami tak lebih dari partner untuk membesarkan bayi kami.”

“Steve bukan orang seperti itu, Jess. Aku mengenalnya. Dan kupikir, dia juga menyukaimu.”

“Tolong, Frank! Jangan membuatku berharap dengan hal yang tak mungkin. Kau tahu sendiri bukan, bahwa tipe perempuan kesukaannya adalah….”

“Perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumbah dari branya? Ayolah, itu hanya pemikiranmu saja, Jess. Otak Steve tidak mungkin hanya dipenuhi dengan payudara wanita.”

Meski Frank mengatakannya dengan mimik serius, tapi tetap saja, Jessie tersenyum ketika mendengar kalimat vulgar dari kakaknya tersebut. Pada saat bersamaan, pintu kamar tersebut dibuka, menampilkan sosok Emily dengan George Summer.

“Maaf mengganggu. Tapi acara akan segera dimulai.”

Frank kembali menatap ke arah Jessie, kemudian ia berbisik. “Kau bisa melewati semuanya, Jess. Aku yakin kau bisa. Kau adalah wanita terhebat yang ada di dunia ini. jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mencariku.”

Jessie tersenyum dan mengangguk. Ia sangat bahagia memiliki kakak seperti Frank. Meski kadang Frank menyebalkan, tapi ia tahu bahwa Frank adalah sosok kakak yang sangat sempurna.

George masuk. Berjalan menuju ke arah Jessie. Jessie sendiri segera menghadap ayahnya tersebut. Jemari George terulur mengusap lembut pipi Jessie.

“Kau sangat mirip dengan Marina.” Marina Summer adalah nama ibu Jessie.

Jessie tersenyum. “Apa Steve tampak tampan sepertimu?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja aku lebih tampan.” Jawab George kemudian. “Tapi aku yakin, dia akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik dariku.” Lanjutnya dengan sungguh-sungguh.

“Oh, Dad.” Jessie tak kuasa untuk tidak memeluk ayahnya. Rasa haru menyelimutinya. Ia sangat bersyukur memiliki keluarga seperti ayahnya dan juga kakaknya.

“Kau tahu kemana harus pergi jika ada masalah. Tapi aku selalu berharap jika kau bisa menyelesaikan semua masalahmu secara dewasa.”

Jessie hanya mengangguk. Rasa haru benar-benar membuatnya ingin menangis.

“Baiklah.” George melepaskan pelukan Jessie. “Kau sudah siap?”

Lagi-lagi, Jessie hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Ayo, aku akan mengantarmu pada Steve.” Setelah itu, Jessie mengapit lengan ayahnya, berjalan keluar dari kamar dan menuju ke arah tempat pemberkatan, tempat dimana Steve dan kehidupan baru menunggunya.

***

Malam semakin larut. Pesta semakin ramai. Setelah melakukan pemberkatan di area lumbung yang disulap menjadi tempat yang begitu indah, halaman rumah Steve juga sudah disulap menjadi area pesta dansa yang indah.

Bunga-bunga ditata sedemikian rupa, lilin-lilin berpadu dengan lampu-lampu kecil, membuat suasana terasa begitu romantis. Belum lagi alunan lagu lembut yang mengiringi pesta dansa membuat siapa saja larut kedalam suasana romantis.

Tak terkecuali kedua mempelai yang kini tengah asyik berdansa bersama. Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, sedangkan Steve sendiri memeluk pinggang wanita yang kini sudah berstatus sebagai istrinya.

Keduanya berdansa dengan mata yang saling menatap satu sama lain. Ada sebuah kecanggungan, tapi keduanya bersikap senormal mungkin. Seperti mereka memang sering melakukan hal seperti ini.

Dengan sedikit nakal, jemari Steve merayap ke atas, menelusuri sepanjang resleting gaun Jessie yang menempel di tulang belakangnya. Hal itu membuat Jessie menatap Steve dengan penuh tanya.

“Istriku.” Ucap Steve dengan pelan, nadanya menggoda, terdengar nakal tapi sedikit jahil. Entah apa maksud Steve mengucapkan kata tersebut dengan nada yang sseperti itu.

“Apa?” akhirnya Jessie mengangkat wajahnya dengan berani.

“Kau. Istriku.” Ucap Steve lagi dengan senyuman mengembang di wajahnya. Keduanya bahkan masih asyuk berdansa meski ketegangan seksual kembali terpantik begitu saja karena godaan dari Steve.

Well. Seluruh warga Pennington sudah tahu hal itu.”

“Aku tidak menegaskan pada mereka. Aku menegaskannya padamu.”

“Dan untuk apa kau menegaskan hal itu padaku?”

“Karena aku ingin kau ingat bahwa malam ini adalah malam pengantin kita.”

Jessie tergelak karena ucapan Steve. “Oh yang benar saja. Kau akan membahas tentang seks saat ini?”

“Tidak. Kita tak akan melakukan seks. Tapi kita akan bercinta.”

“Hemmm. Aku jadi penasaran. Apa perbedaan antara seks dan bercinta versi tuan Steven Morgan.” Sindir Jessie.

Steve tersenyum penuh arti. “Kau akan tahu. Mrs. Morgan.” Jessie sempat berdebar-debar tak jelas setelah Steve memanggilnya dengan panggilan Mrs. Morgan. Astaga, ia sudah menjadi seorang nyonya? Nyonya Morgan? Bahkan dalam mimpi terindahnyapun Jessie tak pernah memimpikan hal ini terjadi. Pernikahannya benar-benar sempurna, meski cinta belum ada diantara mereka, tapi Jessie akan berusaha untuk tidak gagal dan keluar sebagai pemenangnya.

Frank benar, ia harus lebih berani dan lebih positif melihat kedepan hubungannya dengan Steve. Jika ia ingin berhasil, maka ia tidak boleh berpikiran buruk. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan bisa menjalani semuanya dengan baik.

***

Mereka tidak bulan madu!

Steve tak berhenti menggerutu kesal saat itu, ketika mereka ,merundingkan tentang bulan madu dan Jessie memilih untuk tidak pergi kemanapun. Jessie hanya ingin menghabiskan waktunya di kampung halaman mereka sebelum kembali ke New York. Dan kini, saat pesta pernikahan mereka sudah usai, mereka hanya menghabiskan waktu di kamar Steve.

Jessie tampak sedikit canggung dengan status barunya, tapi Steve mencoba menghilangkan kecanggungan diantara mereka dengan cara bersikap sesantai mungkin.

Setelah melepaskan tuksedonya, Steve bahan segera melemparkan diri ke atas ranjangnya, dan hal itu sempat membuat Jessie mengerutrkan keningnya.

“Kau, tidak mandi?” tanyanya. Karena saat ini, Jessie sudah segar karena baru selesai mandi dan kini sedang menatap Steve dari balik cermin meja rias di hadapannya.

“Tidak. Kenapa? Kau keberatan?”

“Astaga, kita akan tidur bersama. Mencobalah untuk lebih bersih dengan mandi terlebih dahulu sebelum tidur.” Gerutu Jessie.

Bukannya tersinggung, Steve malah tertawa lebar. Ia bangkit, bukannya segera menuju ke kamar mandi, tapi malah menuju ke arah Jessie. Dengan begitu kurang ajarnya, Steve malah memeluk tubuh Jessie dari belakang, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup lembut leher jenjangnya.

“Aku ingin dimandikan.” Bisiknya parau dan seketika itu Juga, Jessie menjauhkan diri.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Morgan!”

“Kenapa? Kau istriku sekarang.”

“Tapi aku setuju menjadi istrimu bukan karena alasan ingin memandikanmu. Demi Tuhan! Kau sudah dewasa, apa masuk akal jika kau ingin kumandikan?”

“Ayolah sayang, itu hanya istilah saja. Intinya, aku ingin mandi bersamamu. Berdua, bersama.” Jelasnya.

“Aku sudah mandi.”

“Kita bisa mandi lagi.”

Dan dengan seenaknya sendiri, Steve mengangkat tubuh Jessie dengan paksa. Jessie meronta dalam gendongannya. Tapi Steve tak mempedulikannya. Steve bahkan tertawa bahagia karena membuat wajah Jessie panik seperti saat ini.

“Hei! Lepaskan aku!” Jessie masih meronta. Tapi secepat kilat Steve menyambar bibir ranumnya, membungkamnya hingga Jessie tak mengeluarkan suara lagi. Bahkan, Jessie hanya membeku ketika Steve melakukan hal tersebut.

Setelah Jessie tak lagi melawannya, Steve menghentikan cumbuannya. Pada detik itu, kakinya sudah sampai di dalam kamar mandi. Steve menatap tajam ke arah Jessie, pun dengan Jessie yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

Jessie benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Steve tadi. Sejak kapan Steve jadi tukang cium seperti tadi? Ini bukan pertama kalinya, tentu saja Jessie masih mengingat saat Steve menciumnya di dalam lift dengan posisi yang sama seperti ini. kenapa Steve melakukannya? Bukankah mereka menikah hanya karena bayi yang dikandungnya saja?

“Kau, terkejut?” Steve membuka suara.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Jessie mencoba mengalihkan perhatiannya dari mata Steve yang begitu memabukkan untuknya.

“Menciummu.” Jawab Steve dengan santai.

“Aku tahu. Tapi kenapa kau melakukannya?”

“Karena aku ingin.” Lagi-lagi Steve menjawabnya dengan nada santai.

“Steve. Aku sedang tidak bercanda.”

“Kau pikir aku sedang bercanda? Ayolah, Sayang jangan membohongi dirimu sendiri, kau juga menginginkanku. Dan akupun sama. Lagi pula, ini malam pengantin kita.”

“Steve jangan, kumohon.” Pinta Jessie. Jessie hanya ingin membatasi apa yang akan dilakukan Steve. Ia belum siap. Baginya ini terlalu terburu-buru.

Astaga, Steve benar, ketegangan seksual memang selalu terpercik diantara mereka setelah malam sialan itu, tapi tetap saja, Jessie merasa ragu melakukannya lagi. Jessie bukanlah orang yang percaya diri jika itu tentang seks. Apalagi mengingat Steve adalah orang yang sangat mahir dalam urusan itu.

Steve menurunkan tubuh Jessie, dengan cepat ia mengurung tubuh Jessie diantara dinding. Lengannya mengurung di sisi kanan dan kiri tubuh Jessie kemudian dia berkata dengan suara parau.

“Aku menginginkanmu.” Ucapnya jujur.

Jessie mengangkat wajahnya seketika menatap tepat pada mata Steve. Mata lelaki itu berkabut, dan Jessie tahu bahwa kini Steve benar-benar sedang menginginkannya. Dengan spontan Steve  membawa telapak tangan Jessie menyentuh bukti gairahnya, menunjukkan bahwa lelaki itu benar-benar bergairah pada sosok Jessie.

“Kumohon, aku benar-benar menginginkanmu.” Steve memohon dan Jessie tahu bahwa ia tidak bisa menolak lelaki itu.

Maka ketika Steve mulai mendekatkan diri, menggapai bibir Jessie, yang dapat Jessie lakukan hanya memejamkan matanya kemudian membalas setiap cumbuan yang diberikan Steve terhadapnya.

Mereka saling mencumbu mesra, lidahnya menari bersama, seakan ikut serta merayakan status baru yang telah mereka sandang.

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 11

Comments 3 Standard

 

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

Bab 11

 

“Kau mendengarku?” tanya Steve ketika ia tidak mendapatkan respon dari Jessie. “Menikahlah denganku. Dan aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, serta ayah yang hebat untuk anak kita. Kumohon. Menikahlah denganku.” Lanjut Steve dengan nada lirih.

“Kita sudah sepakat untuk tidak membahas tentang hal ini, Steve.”

“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Jess.”

“Kenapa tidak?” Jessie melepaskan pelukan Steve lalu menatap lelaki itu dengan sungguh-sungguh. “Bukankah selama ini komitmen atau pernikahan tak pernah mampir dalam pikiranmu? Kenapa sekarang Steve?”

“Sebab seluruh warga Pennington akan tahu bahwa kau hamil dan akan memiliki anak. Mereka harus tahu siapa ayahnya, dan itu adalah aku.”

“Kau ingin menikah karena bayi ini?”

“Jess. Aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Meski bayi itu adalah alasan utama, tapi bukan hanya karena itu aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Aku merasa, kau adalah orang yang sangat tepat, yang mengerti semua tentangku, dan tentunya, kita juga cocok dalam urusan ranjang.”

“Jika kau kembali membahas masalah ranjang, maka aku akan menendang bokongmu dari tempat tidurku.”

Steve terkikik geli. Sepertinya sudah sangat lama ia tidak mendengar kemarahan Jessie yang membuatnya semakin ingin menggoda wanita itu.

“Oke. Aku akan serius.” Kali ini Steve menghilangkan tawanya seketika. “Menikahlah denganku. Kumohon. Demi bayi kita, demi hubungan kita, demi keluarga kita.”

“Lalu, apa lagi yang akan terjadi jika kita sudah menikah?” tanya Jessie kemudian.

“Aku juga tidak tahu, Jess. Aku belum menikah sebelumnya.”

“Maksudku, hubungan kita…..”

“Jika yang kau tanyakan adalah hubungan ranjang, maka aku akan menyentuhmu layaknya seorang suami yang menyentuh istrinya. Aku tidak akan membuat peraturan-peraturan sialan atau menerima peraturan-peraturan sialan untuk hidup selibat jika kau mengajukannya. Jika aku menikahimu, maka kau adalah istriku sepenuhnya, di dalam atau diluar kamar.”

“Steve. Hubungan ini tak akan berhasil?”

“Apa yang kau takutkan, Jess?”

Jessie tak tahu. Ia hanya tak mau jika semuanya akan berakhir dengan buruk lalu ia benar-benar kehilangan Steve.

“Kau tahu, aku juga takut. Aku tak pernah berkomitmen sebelumnya. Tapi aku akan berusaha untuk membuat hubungan kita berhasil. Aku akan berusaha, Jess. Dan aku ingin, kau juga berusaha bersamaku.”

“Kau tidak mencintaiku, Steve. Bagaimana mungkin pernikahan….”

“Aku mencintaimu. Aku menyayangimu.” Jawab Steve cepat.

Tentu saja Jessie tahu apa maksud Steve. Dalam hal ini, Steve memang mencintai dan menyayanginya. Tapi sebagai teman, bukan kekasih. Mereka tidak sedang memadu kasih. Tidak ada keromantisan diantara mereka, dan hal itulah yang membuat Jessie sangsi dengan hubungan mereka kedepannya.

“Dengar.” Steve menangkup kedua pipi Jessie. “Kita akan melewati semuanya. Kita bisa melewati semuanya, oke. Semua akan baik-baik saja. Aku akan menyayangimu sebagai istriku, dan sebaliknya, kaupun akan menyayangiku sebagai suami. Sederhana, bukan?”

Ya. Sangat sederhana jika diucapkan. Tapi ketika dilakukan, ada banyak hal yang membuatnya rumit.

Steve kembali memeluk tubuh Jessie. “Aku benar-benar ingin menikahimu, Jess. Pikirkanlah lagi. Tolong.” Ucapnya sesekali mengecup lembut puncak kepala Jessie.

Jessie mengangguk. “Baiklah. Kita akan menikah.” Desahnya yang seketika itu juga membuat Steve menatap Jessie tak percaya. “Kenapa?” tanya Jessie kemudian.

“Kau menjawabnya sekarang? Kau benar-benar menerima lamaranku?”

“Kau ingin aku menolaknya?” Jessie bertanya cepat.

“Tidak! Tentu saja tidak!” Steve juga menjawab dengan cepat dan tegas. “Oh, Jess. Kita benar-benar akan menikah. Aku akan mengabari Mom dan Dad. Mereka pasti akan sangat senang menyiapkan pesta pernikahan kita.”

“Steve.” Jessie memotong kalimat Steve. “Kupikir, lebih baik kita menikah di kantor catatan sipil saja.”

“Apa? Kenapa?” tanya Steve dengan wajah terkejutnya.

“Uum, aku, aku tidak ingin terlalu memberikan banyak harapan pada keluarga kita tentang pernikahan kita.”

“Kau gila. Kita memang harus berharap banyak dengan pernikahan kita.”

“Tapi Steve, jika kita gagal, bukan hanya kita yang hancur, tapi keluarga kita.”

“Jess. Ketika aku sudah memutuskan untuk menikahimu, maka aku akan melakukannya sampai akhir. Aku tak akan membiarkan hubungan kita gagal dan berhenti ditengah jalan. Tidak akan pernah.”

“Steve…”

“Tolong. Jika kita akan menikah, maka pernikahan itu harus diadakan di Pennington. Di tanah kelahiran kita.”

Seperti yang dikatakan Steve, Jessie tak akan mungkin dapat menolak keinginan lelaki itu. Ia terlalu lemah untuk berdebat. Lagi pula, ia hanya perlu menuruti saja apapun yang dikatakan oleh lelaki itu, bukan?

***

Beberapa hari kemudian, Semuanya berjalan dengan baik. Steve sudah mengatakan rencana pernikahan mereka yang disambut dengan suka cita oleh keluarga mereka. Patty bahkan sudah menyiapkan segala sesuatunya tentang pernikahan mereka. Mereka akan menikah di lumbung yang berada di belakang rumah Steve. Sampai saat ini, Steve dan Jessie tak pernah berpikir jika mereka akan menikah di sebuah lumbung.

Kini, Jessie dan Steve memiliki waktu seminggu untuk menyelesaikan urusan mereka di New York sebelum kembali lagi ke Pennington.

Steve membuka pintu sebuah Suv baru yang terparkir di basement. Jessie mengerutkan keningnya, meski begitu, ia masuk saja ke dalam Suv tersebut.

“Milik siapa?” tanya Jessie ketika Steve sudah masuk dan duduk di depan kemudi.

“Milikku.” Jawabnya pendek. Steve bahkan memilih memasangkan sabuk pengaman untuk Jessie daripada harus menatap wanita yang kini sedang melemparkan pandangan penuh tanya padanya. “Ada apa?” akhirnya, Steve tak kuasa menahan pertanyaannya ketika Jessie menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Maksudmu, kau membeli Suv ini?”

“Ya. Kenapa?”

“Tapi, aku mengenalmu, Steve. Kau lebih menyukai super car, mobil sport, dan sejenisnya. Kenapa kau membeli Suv ini?”

“Well, kupikir, aku butuh ruang untuk kereta bayi dan segala perlengkapannya jika aku dan istriku nanti pergi piknik bersama.”

“Kau, kau, membelinya karena aku?” Sungguh, Jessie tak percaya.

Steve hanya melihatnya dan menyunggingkan senyuman khasnya. “Kenapa? Kau keberatan? Kau tidak menyukai modelnya.”

Jessie menggeleng. “Bukan.”

“Lalu?”

Tiba-tiba Jessie memalingkan wajahnya ke luar jendela. Matanya berkaca-kaca seketika. Jessie tak tahu kenapa ia sangat mudah sekali tersentuh secara emosional hingga berkaca-kaca seperti ini. dan ia benar-benar tak suka Steve melihatnya seperti ini.

“Hei, kenapa? Kau menangis? Kau tidak suka naik Suv? Apa Suv ini membuatmu mual?”

“Tidak. Steve.”

“Lalu?” Steve bingung. Sangat malah.

“Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis. Mungkin hormonku saja yang perlu disalahkan.”

“Kau, benar-benar baik-baik saja, bukan? Aku tidak ingin kau tertekan karena hal ini.”

Jessie menatap Steve seketika. “Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku hanya…. Aku hanya…” Jessie tak tahu apa yang ingin ia katakan, bahkan ia sendiri tak mengerti apa yang sedang ia rasakan terhadap lelaki yang duduk di sebelahnya itu.

Dengan spontan, Steve merengkuh Jessie dan memeluk wanita itu. Sesekali Steve mengecupi puncak kepala wanita tersebut.

“Aku tahu, kau pasti kurang nyaman. Tapi kita akan segera melewati semuanya, kita akan baik-baik saja, oke.”

Ya. Itulah yang dirasakan Jessie. Ada sebuah rasa tidak nyaman, tapi juga bercampur dengan rasa haru yang membahagiakan, hingga Jessie sendiri tidak mengerti bagaimana cara ia melukiskan apa yang ia rasakan saat ini. Steve benar, semuanya akan berlalu, dan Jessie harus yakin jika mereka bisa melewati semuanya.

***

Sampai di butiknya, Steve memperlakukan Jessie dengan begitu manis hingga Jessie merasa bahwa kini Steve sedang bersandiwara dihadapan para bawahannya.

Dan benar saja, Miranda sempat mengerutkan keningnya sembari menatapnya penuh tanya ketika Steve bersikap seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

Miranda dan yang lainnya tentu belum tahu tentang rencana pernikahan Jessie dengan Steve. Bahkan Jessie tak berniat untuk memberitahunya. Bagi Jessie, pernikahan mereka hanya karena kehamilannya, dan kemungkinan besar akan berakhir. Jessie hanya ingin, tak banyak orang tahu tentang kegagalannya dalam berumah tangga.

“Ada masalah?” tanya Jessie ketika ia akan masuk ke dalam ruangannya melewati Miranda yang masih menatap kebersamaannya dengan Steve yang tampak berbeda dari biasanya.

“Tidak.” Miranda mencoba mengendalikan diri agar rasa keingin tahuanya tidak terlalu tampak. “Kupikir kau belum masuk kerja hari ini.” karena selama Jessie tidak masuk, butiknya memang tetap buka dan hanya melayani pembelian model yang sudah ada di sana. Dan hal tersebut cukup bisa ditangani oleh Miranda dan pegawainya yang lain.

“Aku harus menyelesaikan urusan-urusan disini, karena minggu depan akan menjadi minggu yang sibuk untukku. Kemungkinan kalian akan mendapatkan cuti.”

“Kenapa? Kau tidak sakit, bukan?” Miranda tampak khawatir.

“Tidak. Aku hanya….”

“Hamil. Kau hamil.” Steve menyahut. Steve hanya tidak ingin jika Jessie menutupi kehamilannya dan menyebut hal itu sebagai masuk angin atau penyakit lainnya.

“Jadi, dia sudah tahu?” Miranda bertanya.

Steve menatap Miranda dengan penuh tanya juga. “Kaupun sudah tahu?” Steve bertanya pada Miranda.

“Mr. Morgan, akulah orang pertama yang tahu, karena aku yang membawanya ke rumah sakit saat dia pingsan sebulan yang lalu dan dokter mengatakan bahwa dia hamil.”

“Kau pingsan?” kali ini Steve menatap Jessie penuh tanya.

“Aku terlalu stress saat itu.”

“Tapi kau tidak mengatakan apapun padaku.”

“Hubungan kita tidak sebaik ini saat itu, Steve. Astaga, bisakah kita berhenti membahas masalah itu?”

“Oke.” Steve mengangkat kedua belah telapak tangannya. “Dan kau, Miranda. Kuharap, kau dan teman-temanmu dapat menghadiri pernikahan kami di Pennington minggu depan.”

“Steve!” Jessie berseru keras.

“Apa lagi?”

“Kalian akan menikah?” miranda bertanya.

“Ya, tentu saja. Dia mengandung anakku, jadi kami akan menikah.” Jawab Steve dengan santai bahkan dia sudah menggandeng Jessie dengan mesra.

“Astaga Steve. Kau benar-benar menyebalkan.” Dan Jessie segera meninggalkan Steve masuk ke dalam ruangannya.

Jessie masih tak habis pikir kenapa Steve mengatakan semua itu pada Miranda. Ia tidak suka. Pertama, karena Miranda dan yang lain tahu bahwa sebelumnya ia bertunangan dengan Henry. Akan sangat tidak msuk akal jika saat ini ia mengandung bayi Steve dan menikah dengan lelaki itu, setidaknya, mungkin itu yang ada di dalam pikiran Miranda dan yang lainnya. Itu pulalah yang menjadi kekhawatiran Jessie jika ingin menceritakan hubungannya dengan Steve. Reaksi mereka, atau mungkin pandangan mereka terhadapnya.

Jessie tentu tak ingin dilihat sebagai perempuan murahan yang gampang tidur dengan banyak pria karena ia tdak seperti itu.

Yang kedua adalah, karena Jessie berpikir bahwa pernikahannya dengan Steve tak akan berlangsung lama. Semakin sedikit orang yang tahu maka semakin baik.

Dengan kesal Jessie menuju ke arah kursi kerjanya dan ia menyadari bahwa Steve mengikutinya sampai ke dalam.

Jessie berbalik dan seger menyembur lelaki itu dengan pertanyaannya. “Apa yang kau pikirkan dengan mengatakan semua itu pada mereka, Steve?”

“Apa? Apa aku salah mengundang mereka di hari kebahagiaan kita?”

“Jangan membohongi dirimu sendiri. pernikahan itu bukan seperti yang kita inginkan.”

Steve mendekat. “Mungkin kau tidak menginginkannya, tapi aku ingin.” Steve menjawab penuh penekanan.

“Aku hanya…. Aku hanya tidak ingin mereka melihat kegagalan kita.” Desah Jessie kemudian.

“Kegagalan?” Steve menatap Jessie penuh tanya. “Apa maksudmu?”

“Kita menikah demi bayi ini. Jadi kupikir, setelah bayi ini lahir, kita akan….”

“Jess, dengar.” Steve memotong kalimat Jessie. “Jika aku memutuskan untuk menikah, maka aku akan melakukannya sampai akhir. Tidak akan ada perpisahan diantara kita. Kau mengerti?”

“Tapi…”

Steve segera meraih tubuh Jessie, memeluk wanita itu dengan lembut. “Aku tahu, hormonmu sedang kacau, pikiranmu sedang labil. Seharusnya aku lebih mengerti hal itu. Aku membuatmu semakin tidak nyaman. Tapi kau harus tahu satu hal, Jess. Bahwa aku bersungguh-sungguh dengan pernikahan ini. Jangan pernah berpikir bahwa ini hanya permainanku yang akan selesai saat aku sudah bosan. Kita tidak akan pernah selesai, Jess. Dan aku tak akan pernah bosan jika itu tentangmu.” Steve berkata dengan sungguh-sungguh.

Bohong, jika Jessie mengabaikan semua pernyataan lelaki itu. Steve tak pernah seserius ini sebelumnya, dan entah kenapa hal tersebut membuat Jessie semakin tidak nyaman dengan sikap lelaki itu yang banyak berubah terhadapnya.

***

“Jadi, kau benar-benar akan menikah dengannya?” tanya Miranda yang saat ini sudah menyuguhkan teh herbal di meja Jessie.

“Menurutmu bagaimana?” Jessie bertanya balik.

“Kau meminta pendapatku?” tanya Mirada tak percaya.

Sedangkan Jessie hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus bercerita pada siapa, ia tidak ingin lagi menceritakan masalahnya kepada si berengsek Frank. Kakaknya itu tentu akan mendukung Steve. Atau paling tidak, kakaknya itu pasti akan mengolokinya habis-habisan.

Well, itu luar biasa. Demi Tuhan! Steven Morgan itu salah satu bujangan yang paling diinginkan di New York. Dia tampan, mapan, memiliki koneksi banyak dari kalangan atas, dan dia seksi. Kau bodoh jika menolaknya.”

“Seksi?” tanya Jessie tak percaya bahwa Miranda menggunakan kata itu untuk menggambarkan tubuh Steve.

“Ayolah, jangan menutup mata atau membohongi dirimu sendiri. Mr. Morgan itu seksi, sangat seksi malah. Kau mengandung anaknya, kau tentu tahu bagaimana…”

“Cukup.” Jessie memotong kalimat Miranda. “Jika kau ingin membahas hubungan ranjang kami, maka itu tak akan berhasil.”

Miranda tertawa lebar. Jessie memang orang yang cukup tertutup dengan hubungan asmaranya. “Baiklah. Tapi aku hanya mengatakan dari sudut pandangku. Mungkin, kau akan merasa tidak nyaman karena reputasinya selama ini. Tapi kau lebih mengenalnya, dan kupikir dia orang baik. Kau akan baik-baik saja jika bersamanya.”

“Masalahnya, aku tak yakin dengan pernikahan ini, Miranda. Aku selalu merasa tak nyaman jika memikirkannya.”

“Kau tahu, Jess. Menikah bukan hanya tentang cinta. Ada juga orang menikah hanya karena gairah, ada lagi yang menikah karena tanggung jawab, ada juga yang menikah karena sebuah pengorbanan. Banyak alasan bagi seseorang untuk menjalani sebuah pernikahan. Dan tidak semua alasan tersebut berakhir mengenaskan dengan kata perpisahan.”

“Kau berbicara seolah-olah kau ahli dalam bidang ini.”

Lagi-lagi, Miranda tertawa lebar. “Aku memiliki teman seorang penulis fiksi, jadi aku cukup tahu pengalaman itu ketika membaca buku-bukunya.”

“Jadi, apa yang kau katakan padaku tadi sesuai dengan buku fiksi? Astaga, perlu kau tahu, bahwa pernikahan di dalam novel dengan pernikahan sungguhan itu sangat berbeda! Bahkan aku berani jamin jika adegan ranjangnya juga sangat berbeda.”

Miranda benar-benar tergelak tawanya. “Kau mengatakan itu seolah-olah kau ahli dalam bidang seks.”

“Oh Miranda, aku hamil, ingat. Jadi aku sudah melakukannya.”

“Berapa kali?” pancing Miranda.

“Meski itu hanya satu malam, tapi kami bercinta berkali-kali secara gila-gilaan.” Jawab Jessie dengan spontan. Tapi setelah itu ia membungkam bibirnya sendiri. “Astaga, apa yang sudah kukatakan padamu?”

Sungguh, Jessie tak mampu menahan rasa malunya. Ia tak percaya jika dirinya mengatakan hal tersebut pada Miranda. Sedangkan Miranda, wanita itu tak berhenti tertawa lebar menertawakan Jessie yang tak berhenti merona karena malu.

“Sudah-sudah. Lebih baik kau keluar. Kau membuatku malu setengah mati.” Jessie berkata pada Miranda.

Masih dengan tertawa, Miranda akhirnya bangkit. “Baiklah. Tapi Jess, perlu kau tahu, bahwa aku mendukungmu. Mr. Morgan tampaknya adalah orang yang baik. Dia perhatian denganmu, jadi kupikir, menikah dengannya bukan suatu kesalahan.” Ucap Miranda sambil berlalu.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Terlepas dari sikap Steve yang menyebalkan dan kekanakan, apa yang dikatakan Miranda memang benar. Steve orang yang sangat perhatian terhadapnya. Dan ia cukup mengenal lelaki itu. Mungkin tak ada salahnya untuk mencoba dan menganggap semuanya normal seperti pernikahan pada umumnya. Akhirnya Jessie bangkit dan memanggil Miranda kembali ketika wanita itu sampai di pintu ruang kerjanya.

“Miranda. Kau akan datang?”

“Ya?”

“Uuumm, itu pernikahanku di Pennington minggu depan.”

Miranda tersenyum. “Kau mengundangku?”

“Ya, tentu saja. Kau mau datang? Ajaklah pegawai lainnya. Kau juga boleh mengajak pasanganmu.” Ucap Jessie dengan antusias.

“Oh Jess. Terimakasih. Aku akan mengajak yang lainnya. Untuk pasangan, sepertinya tidak. Tapi, bolehkah aku mengajak temanku si penulis yang tadi baru saja kuceritakan padamu.”

“Ahhh ya, kau boleh mengajaknya.”

“Bagus. Carla pasti senang ikut denganku.”

Jessie tersenyum. “Aku akan senang mengenalnya.” Keduanya saling tersenyum, kemudian Miranda keluar dari ruang kerjanya. Jessie menghela napas panjang. Berbicara dengan Miranda membuat Jessie membulatkan tekadnya, bahwa menikah dengan Steve sepertinya tidak salah. Ia hanya perlu bersikap senormal mungkin, menyikapi semuanya dengan normal dan tidak berlebihan. Tapi bisakah ia melakukananya?

My Beautiful Mistress – Bab 6

Comments 2 Standard

 

Tanpa diduga, jemari mungil Ellie mencari jemari Jiro, menggenggamnya dengan erat, kemudian ia berkata. “Perlu kamu tahu bahwa aku juga takut. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami masa kehamilan. Aku takut, dan aku merasa sendiri.” kemudian dengan spontan Ellie membawa jemari Jiro peda perutnya. “Aku butuh kamu, bayi kita juga butuh kamu. Maukah kamu menemaniku menghadapi ketakutan kita bersama-sama?”

Jiro menatap Ellie dengan intens, secara spontan Jiro mengangguk. Ya, ia mau melewati semuanya dengan Ellie, ia mau mengadapi ketakutannya bersama istrinya tersebut. Tapi dapatkah ia melakukannya? Sanggupkah ia menghadapinya?

***

Bab 6

 

Jiro masih bungkam seribu bahasa, bahkan setelah Dokter Sandra selesai melakukan USG. Ellie sendiri tidak bisa menebak apa yang dirasakan Jiro, apa yang dipikirkan oleh lelaki itu. Meski sejak tadi Jiro tak berhenti menggenggam telapak tangannya, tapi Ellie masih merasa sedikit takut, jika Jiro tak siap menjadi orang tua dan memilih untuk menyerah.

Akhirnya, Ellie bangkit, ia membersihkan sisa gel pada permukaan kulit perutnya dengan tissue yang tersedia di sana. Jiro hanya mengamatinya saja dan hal itu benar-benar membuat Ellie tak nyaman.

“Kamu kenapa James? Apa yang kamu pikirkan?” Ellie bertanya dengan sedikit kesal karena sejak tadi Jiro tak menampilkan reaksi apapun selain hanya diam dengan wajah datarnya.

“Tidak ada.” Hanya itu jawabannya dan hal itu membuat Ellie semakin kesal.

“Kalau kamu tidak suka dengan hal ini. Maka aku janji bahwa ini akan menjadi pengalaman terakhir kamu mengantarku ke sini.”

“Aku tidak bilang tidak suka. Jangan berpikir macam-macam.”

“Tapi kamu hanya diam dan tidak bereaksi apapun!” Ellie berseru keras.

“Diam bukan berarti tidak suka.” Dengan sendirinya jemari Jiro mendarat pada perut Ellie, dan hal tersebut benar-benar membuat Ellie terkejut. “Aku hanya masih tidak percaya, ada sebagian dari diriku yang tumbuh di sini.” Jiro berkata dengan sangat lembut. Padahal Ellie hampir lupa, kapan terakhir kali Jiro berkata dengan nada selembut ini.

Dan tanpa diduga, Ellie segera memeluk Jiro. Membuat Jiro tertegun dengan apa yang dilakukan istrinya tersebut. “Terimakasih, James.” Ucapan terimakasih tersebut bahkan tak dimengerti Jiro. Untuk apa Ellie berterimaksih kepadanya?

***

“Ini resep yang harus ditebus di apotek.” Ucap Dokter Sandra sembari menyodorkan sebuah kertas bertuliskan daftar obat.

“Obat? Apa ada masalah? Kenapa harus minum obat?” tanya Jiro khawatir.

Dokter Sandra tersenyum. “Itu hanya vitamin untuk ibu hamil, dan obat mual. Walau Nyonya Ellie bilang jika dia tidak merasakan mual muntah sepereti kebanyakan ibu hamil, tapi untuk berjaga-jaga saja. Tidak perlu diminum jika tidak mual.”

Jiro hanya mengangguk.

“Jadi, saya jadwalkan untuk kesini lagi bulan depan, di tanggal yang sama.” Dokter Sandra menandai pada kalendernya. “Saya harap, Anda juga ikut kembali, Tuan Jiro.” Ucap Dokter Sandra sungguh-sungguh.

“Sebenarnya, saya sangat ingin. Dan saya ingin membahas hal ini sejak tadi. Apa Rumah sakit ini melindungi privasi pasiennya?”

“Saya kira semua rumah sakit memiliki privasi. Ada masalah?”

Jiro ingin mengatakan kekhawatirannya tentang media yang mungkin saja memergokinya di tempat ini dengan Ellie. Tapi sepertinya, tak ada gunanya membahas tentang masalahnya ini dengan Dokter Sandra.

Akhirnya Jiro hanya menjawab “Tidak.”

Dokter Sandra sendiri mengerti apa yang ada di dalam pikiran Jiro. “Anda tenang saja, Saya dan staf saya akan melindungi privasi pasien dan keluarga.”

Dokter Sandra dan susternya memang iya, tapi Jiro tak bisa menjamin pengunjung rumah sakit lain atau bahkan mungkin suster-suster lain.

Jiro hanya tersenyum dan mengangguk. “Terimakasih.” Kemudian ia dan Ellie bangkit dan bersiap meninggalkan ruangan Dokter Sandra. Dokter Sandra sempat berpesan agar Ellie menjaga kesehatan dirinya dan juga bayinya sebelum keduanya hilang dibalik pintu ruangannya.

Jiro keluar bersama dengan Ellie di sebelahnya. Orang-orang yang menunggu di sana dan tadi sempat mengerubungi Jiro akhirnya menatap kepergian keduanya. Jiro meraih telapak tangan Ellie, dan dengan posesif ia menggenggam erat telapak tangan istrinya tersebut sembari berjalan lurus seakan tak mempedulikan mata yang menatap ke arahnya.

Di sudut lain, seseorang berkata pada temannya dengan gembira. “Ini kalau gue kirim ke akun gosip, bakal rame. Dan bakal jadi gosip panas mengalahkan gosip tentang gadis misteriusnya Jason.” Ucap orang tersebut sembari membuka-buka gambar yang berhasil ia tangkap dengan ponselnya. Bahkan orang tersebut sempat memvideokan kebersamaan Jiro dengan Ellie.

“Elo yakin?” tanya temannya.

“Yakin lah… Dan gue pasti dapat duit kalo bisa ngasih bukti video dan foto-foto ini.”

“Wahh, jangan lupa teraktir. Oke?”

“Sip. Sekarang, bantu gue cari akun gosip yang berani bayar mahal video gue.”  Setelah itu, keduanya kembali pada pekerjaan masing-masing dengan pikiran masing-masing.

***

Ellie tidak tahu Jiro mengajaknya ke mana. Mereka berhenti di basement sebuah gedung apartmen. Tanpa banyak bicara, Jiro melepas seatbeltnya dan juga membantu Ellie melepaskan seatbealt yang dikenakan Ellie. Ellie tak mengerti, sejak kapan Jiro menjadi semanis ini.

Kemudian Jiro membuka suaranya, berkata bahwa ini adalah gedung apartmen dimana ia tinggal selama ini. Astaga, bahkan Ellie baru tahu jika selama ini Jiro tinggal di gedung ini.

“Kenapa kamu ngajak aku ke sini?” tanya Ellie kemudian.

“Tadi, ada orang yang ngangkut barangku, tapi ada beberapa yang tertinggal dan aku ingin mengambilnya sekalian.”

“Kamu benar-benar pindah?”

“Ya. Bukannya kamu yang minta?”

Ellie tersenyum. Ia senang dengan sikap Jiro yang hangat.

“Ayo keluar.” Ajak Jiro. Dan Ellie hanya menganggukkan kepalanya.

***

Yang ada di dalam benak Ellie saat memasuki apartmen suaminya adalah, bahwa apartmen itu cukup besar dan luas. Interiornya maskulin, bahkan jika ada tamu, si tamu akan mengenali jika apartmen ini milik seorang lelaki. Tak ada hiasan berharga di sana. Hanya ada satu dua lukisan yang terbingkai di dinding. Tak ada foto apapun di sana. Jangankan fotonya, foto lelaki itu sendiripun tak ada.

Ellie menuju ke sebuah lemari besar yang terbuat dari kaca. Di sana ada beberapa benda seperti gitar yang dijadikan menjadi sebuah pajangan. Apakah itu Bass milik Jiro? Apakah alat itu yang biasa dimainkan Jiro? Tiba-tiba, Ellie ingin melihat Jiro memainkan salah satunya.

Selama ini, Ellie hanya melihat penampilan Jiro melalui Youtube. Tak pernah sekalipun ia melihat penampilan Jiro secara nyata di hadapannya. Saat melihat di Youtube, Ellie sangat terpana. Meski suaminya itu bukanlah seorang vokalis atau penyanyi yang merupakan sosok vital di dalam sebuah band, nyatanya, dimata Ellie hanya Jirolah yang paling bersinar di sana.

Ellie mengamati Bass Jiro satu persatu, hingga ia tidak sadar jika saat ini Jiro sedang mengamatinya.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Jiro kemudian.

Ellie membalikkan tubuhnya, dan ia mendapati Jiro berdiri tepat di belakangnya. “Uum, ini gitar?” tanyanya sambil menunjuk salah satunya.

“Bass. Kalau ini.” Jiro membuka lemari tersebut dan mengambil salah satunya. “Ini gitar.”

“Kamu bisa memainkannya?”

“Ya. Selain memainkan Bass, aku juga suka main gitar.”

“Aku tidak pernah melihatmu memainkannya.”

Tentu saja. Bahkan bertemu saja jarang. Ingat, Jiro hanya akan menemui Ellie ketika lelaki itu sedang membutuhkan sebuah pelepasan. Setelah itu, mereka kembali hidup sendiri-sendiri.

“Aku sangat jarang bermain gitar di hadapan orang. Permainanku tak sebagus Ken.”

“Ken?” tanya Ellie. Ellie tahu tentang The Batman. Tapi Ellie tidak peduli tentang personil lainnya kecuali Jiro. Karena baginya, The Batmanlah yang membuat Jiro jauh dari dirinya, jadi Ellie tidak begitu suka dengan band suaminya tersebut.

“Duduklah dulu. Aku akan membuatkanmu minum.”

“Tapi, aku ingin mendengarmu bermain gitar.” Ucap Ellie kemudian. Ellie ingin menguji Jiro, apa lelaki itu akan menuruti keinginannya atau tidak. Bersikap manja dengan Jiro saat ini sepertinya bukan masalah. Ia hanya perlu menggunakan kehamilannya sebagai alasan, seperti yang disarankan Mei.

“Aku akan memainkannya nanti, duduk saja dulu.”

Dengan senang hati, Ellie duduk di sofa panjang milik Jiro yang berada tepat di sebelah jendela apartmen Jiro. Apartmen lelaki ini berada di lantai Lima belas, cukup tinggi hingga bisa membuat Ellie melihat ke arah jalanan kota Jakarta yang terlihat dari dalam apartmen Jiro.

Ketika Ellie menikmati pemandangan di luar jendela. Saat itulah Jiro menghampirinya dengan membawakan sesuatu yang mengepul dari dalam cangkir.

“Cokelat panas.” Ucapnya sembari menyuguhkan cangkir tersebut di hadapan Ellie.

Jiro kembali menuju ke arah jajaran Bass dan juga gitarnya, mengambil sebuah gitar lalu menuju ke arah Ellie. Ia duduk tepat di sebelah Ellie, dan Ellie merasa jantungnya berdebar tak karuan.

“Lagu apa yang mau kamu dengar?” tanya Jiro kemudian.

“Entah. Aku hanya ingin melihatmu bermain musik saja.”

Jiro mulai memetik gitarnya. “Selama ini, apa kamu nggak pernah melihatku bermain musik?”

“Pernah. Sering. Tapi hanya lewat youtube.” Jawab Ellie dengan jujur.

Jiro tersenyum. Kepolosan Ellie telah kembali, Jiro senang.

There goes my heart beating

‘Cause you are the reason

I’m losing my sleep

Please come back now

Jiro mulai bernyanyi. Ternyata, Suara lelaki itu tak kalah bagus dengan suara sang vokalis The Batman. Jiro memiliki suara serak-serak basah yang mebuat Ellie terpana seketika saat mendengarkan lelaki itu bernyanyi.

There goes my mind racing

And you are the reason

That I’m still breathing

I’m hopeless now

Lagu Calum Scott terdengar begitu romantis saat Jiro menyanyikan dengan suara seraknya. Petikan gitar lelaki itu begitu pas. Astaga, sejak kapan lelaki ini terlihat sangat romantis di mata Ellie?

I’d climb every mountain

And swim every ocean

Just to be with you

And fix what I’ve broken

Oh, ’cause I need you to see

That you are the reason

Astaga, entah apa yang membuat lagu tersebut begitu mengena di hati Ellie. Jiro masih melanjutkan lagunya, setiap katanya, setiap artinya, seakan pas dengan apa yang terjadi dengan mereka. Apa Jiro sengaja memilih lagu itu untuk menggambarkan apa yang ia rasakan?

Tidak mungkin!

Mungkin hanya kebetulan saja. Dan mungkin karena hormon sialannya yang membuat Ellie berpikir macam-macam bahwa lagu itu begitu pas dengan apa yang terjadi pada hubungan mereka.

Ellie masih mendengarkan dengan seksama. Jantungnya masih berdebar dengan cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Matanya tak berhenti menatap ke arah Jiro. Jiro begitu menikmati lagunya, lelaki itu seakan bercerita tentang apa yang ia rasakan.

Tapi itu lagi-lagi tidak mungkin!

Jiro bukan pria yang romantis, jadi Ellie cukup tahu bahwa apa yang dilakukan Jiro saat ini hanya sebatas menuruti kemauannya. Hanya memanyi, bukan bercerita tentang apa yang dirasakan lelaki itu. Ya, hanya itu.

Pada saat bersamaan, Jiro telah menyelesaikan lagunya. Dengan spontan Ellie bertepuk tangan. Ia sangat menikmati pertunjukan kecil Jiro tersebut. Jiro menatapnya dan lelaki itu tersenyum. Entah sudah berapa kali lelaki itu tersenyum padanya sepanjang hari ini, Ellie tidak tahu. Yang Ellie tahu adalah bahwa ia sangat menikmati kebersamaannya dengan Jiro.

“Kamu ternyata punya suara yang bagus.”

“Tidak sebagus yang lain. Jase memiliki suara emas dan sangat sempurna ketika bernyanyi, begitupun dengan Ken.”

“Oohh.” Hanya itu tanggapan Ellie, karena ia tidak mengenal Jase atau Ken yang disebutkan Jiro, jadi Ellie tidak tahu harus menanggapi seperti apa.

“Maaf. Aku belum bisa mengenalkanmu pada mereka.” Tiba-tiba saja Jiro mengucapkan kalimat itu.

“Tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin mengenal mereka.” Jawab Ellie cepat.

“Kenapa?”

“Tidak penting.”

Jiro tertawa lebar. Ia tidak menyangka bahwa jawaban istrinya akan seperti itu. Astaga, The Batman saat ini berada di puncak popularitas, siapa saja ingin mengenal mereka secara pribadi, dan Ellie, wanita itu benar-benar tampak enggan membahasnya. Jika Jason, Ken atau bahkan Troy tahu, pasti teman-temannya akan penasaran, seperti apa Ellie sebenarnya.

“Jason itu orang yang sangat diinginkan di kalangan anak muda. Dia memiliki suara emas, penjiwaannya keren. Begitupun dengan Ken. Dia sangat berbakat, juga memiliki suara yang bagus, dia vokalis kedua kami. Jase dan Ken adalah yang paling sering menciptakan lagu-lagu untuk The Batman. Sedangkan Troy, dia terkenal di kalangan model, dia panas dan sangat menggoda untuk wanita-wanita.”

“Kan aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli.”

“Kenapa?” tanya Jiro memancing Ellie.

“Aku sudah bersuami.”

Jiro mengangguk. “Oh ya? Meski suamimu tak sekeren mereka?”

“Kata siapa? Suamiku adalah yang paling keren.”

“Sekeren apa?”

Ellie tidak bisa menjawab. Ellie tidak tahu apa yang membuat Jiro tampak lebih keren dan mempesona dibandingkan dengan lelaki lainnya. Bahkan sejak menikah dengan lelaki itu, Ellie tak pernah berpikir melirik sedikitpun pada lelaki lain. Ia tidak tahu dan ia tidak mengerti kenapa Jiro begitu memikatnya.

“Aku tidak tahu. Yang kutahu, bahwa dia adalah yang paling bersinar diantara yang lain.” Jawab Ellie masih dengan menundukkan kepalanya.

Jiro tertegun mendengar jawaban dari istrinya tersebut. “Kamu menyukainya?” tanyanya dengan spontan, wajah Jiro bahkan lebih serius ketimbang tadi.

“Ya. Jika tidak, maka aku tidak akan bertahan di sisinya.”

Lagi-lagi Jiro bertindak dengan spontan, ia menangkup kedua pipi Ellie lalu mendaratkan bibirnya pada bibir wanita itu. Jiro mencumbu Ellie dengan begitu lembut. Ia menciumnya dengan penuh perasaan. Oh, Jiro tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tidak dengan Ellie, tidak juga dengan wanita lain. Hatinya sangat sulit disentuh, tapi jawaban Ellie tadi benar-benar mampu menyentuh hatinya. Jawaban sederhana dan polos.

Bodoh! Sangat bodoh! Karena selama ini ia sudah menyia-nyiakan istrinya yang cantik jelita ini, mengabaikan keberadaan wanita yang polos dan sederhana seperti Ellie. Jiro benar-benar merasa menjadi seorang yang paling tolol. Bagaimana mungkin ia bisa buta?

Setelah cukup lama saling mencumbu mesra satu sama lain, Jiro melepaskan tautan bibir mereka ketika merasakan napas Ellie sudah terputus-putus. Wanita itu menunduk seketika, kulitnya merah merona, seakan gugup dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.

Jiro mengangkat dagu Ellie, berkata dengan spontan pada wanita itu. “Aku menginginkanmu.”

Jiro tak pernah menunjukkan secara terang-terangan hasrat seksualnya. Karena biasanya, ia hanya akan memulainya begitu saja tanpa banyak bicara. Tapi kini, Jiro seakan ingin menunjukkan pada Ellie, bahwa lelaki itu benar-benar menginginkan Ellie.

Ellie tak dapat menolaknya, karena ia memiliki keinginan yang sama dengan apa yang diinginkan Jiro. Cumbuan lelaki itu benar-benar memabukkan. Ellie ingin mengulangi malam indah saat itu. Ellie ingin bercinta kembali dengan Jiro. Percintaan yang sesungguhnya, bukan hanya seks untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Karena Ellie tidak mengungkapkaan penolakannya, akhirnya Jiro bangkit kemudian tanpa banyak bicara lagi ia mengangkat tubuh Ellie, menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.

Ellie sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Jiro, tapi ia tidak membantah, menolak, apalagi meronta. Ia menginginkan Jiro bersikap lembut seperti ini. Jadi yang bisa Ellie lakukan hanya diam saja, menuruti apapun keinginan lelaki tersebut.

Jiro menurunkan Ellie di dekat ranjang. Ellie sempat mengamati bagaimana interior kamar Jiro yang hampir mirip dengan ruangan tengah. Tak ada hiasan apapun, tapi Ellie juga sempat melihat beberapa gitar dan Bass yang terpajang di sudut ruangan.

Ellie berdiri menghadap ke arah Jiro, Jiro begitu dekat dengannya. Tanpa diduga, lelaki itu membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Ada banyak tatto di tubuh Jiro, membuat Ellie mengagumi bagaimana gagahnya lelaki tersebut. Padahal Ellie tahu ini bukanlah pertama kalinya Ellie melihat Jiro bertelanjang dada.

Jemari mungil Ellie dengan spontan mendarat pada dada bidang Jiro. Menyentuhnya dengan berani, mengamati inchi demi inchi tinta hitam yang terlukis di tubuh suaminya tersebut. Ya, baru kali ini Ellie melihat dengan jelas bagaimana tulisan tersebut terlukis dengan sempurna di tubuh suaminya. Hingga kemudian, jemarinya berhenti pada huru-huruf aneh yang terletak pada dada kiri suaminya.

“Apa ini?” tanyanya.

“Tatto.”

“Aku tahu. Kenapa kamu memiliki tatto seperti ini?” tanya Ellie penasaran. Itu adalah huruf-huruf Yunani kuno. Ellie tidak tahu kenapa Jiro bisa memiliki tato dengan huruf Yunani kuno. Ellie berharap mengetahui apa artinya.

“Kenapa? Kamu tidak suka? Aku bisa menghapusnya jika kamu tidak suka.”

Ellie menggelengkan  kepalanya. Ellie hanya ingin tahu apa artinya.

Elisávet. Itu ejaannya.” Wajah Ellie terangkat menatap ke arah Jiro seketika. “Ellisabeth.” Jiro sedikit tersenyum “Kupikir itu mirip dengan nama istriku, jadi aku menulisnya di sana.” Lanjutnya.

“Kenapa?” dengan spontan Ellie bertanya. Ya, kenapa Jiro menuliskan namanya dalam bahasa Yunani di tubuh lelaki itu?

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

-TBC-

Sleeping with my Friend – Bab 10

Comments 4 Standard

 

Bab 10

 

Setelah dicumbu habis-habisan oleh temannya, ralat, mantan temannya, ralat lagi, ayah dari bayi yang ia kandung, akhirnya Jessie tak kuasa untuk menahan rona merah di pipinya. Masalahnya, meski ia ingin menolak, nyatanya ia menikmati apa yang dilakukan Steve. Jessie bahkan membalas cumbuan dari Steve.

Jujur saja, Jessie tak pernah dicumbu dengan begitu bergairah hingga membuatnya nyaris basah seperti yang dilakukan Steve. Tidak dengan Henry, tidak juga dengan mantan kekasihnya yang lain.

Atau mungkin, ini perasaan Jessie saja? Entahlah. Yang pasti, cumbuan Steve begitu menuntut hingga Jessie yakin jika mereka saat ini berada di dalam sebuah kamar, maka kejadian panas malam itu akan kembali terulang.

Dalam hati Jessie sempat bersyukur karena Steve mencumbunya di dalam lift, karena jika saja mereka saling mencumbu di dalam apartmennya, Jessie tak yakin dapat menolak lelaki itu jika lelaki itu menuntut lebih kepadanya.

Lengan Jessie masih setia mengalung, sedangkan wajahnya yang merah padam ia tenggelamkan ke dalam dada bidang lelaki itu.

Ketika Steve keluar dari dalam lift, lelaki itu menghentikan langkahnya ketika seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya. Itu adalah Frank, dan Jessie benar-benar merasa sial karena harus kepergok kakaknya ketika digendong Steve seperti saat ini.

Masalahnya, kakaknya itu pasti akan mengoloknya habis-habisan. Dan saat ini Jessie sedang dalam mode tak ingin diolok sama sekali.

“Kalian baru datang?” Frank menyapa.

“Kau sendiri, kenapa ada di sini?” Jessie mencoba mengabaikan posisinya yang masih digendong oleh Steve. Kalaupun ia ingin diturunkan, lelaki itu tak akan melakukannya.

“Aku ke tempatmu. Kupikir kau sudah pulang. Ada masalah?”

Ya, bahkan saat Jessie masuk rumah sakit di Pennington kemarin, tak ada yang mengabari Frank. Mungkin semua terlalu kalut, terlalu sibuk dengan keterkejutan yang diumumkan Jessie tentang dirinya, bayinya dan juga hubungannya dengan Steve.

“Ya, ada sedikit insiden.” Ucap Jessie dengan pelan.

“Kau, baik-baik saja bukan?” meski kadang suka menyebalkan, Jessie tahu bahwa Frank adalah sosok yang sangat perhatian kepadanya.

“Lebih baik kita masuk. Jess harus banyak istirahat.” Steve angkat bicara.

“Kau sudah tahu tentang keadaannya?” tanya Frank pada Steve.

“Jika yang kau maksud adalah tentang kehamilannya, maka Ya, aku dan semua warga Pennington sudah tahu.”

“Woww. Kau hebat sekali, Baby girl.”

Jessie mendengus sebal. “Aku sedang tidak ingin bercanda, Frank.”

“Baiklah, baiklah. Aku ikut masuk karena aku ingin mendengar ceritanya dari kalian.” Dan setelah itu, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam apartmen Jessie.

***

Sampai di dalam, Steve menurunkan Jessie di sofa panjang tepat di depan televisi. Kemudian lelaki itu masuk ke dalam kamar Jessie entah mengambil apa. Sedangkan Frank, ia memilih mendekati adiknya dan bersiap untuk menginterogasinya.

“Jadi, dia sudah tahu semuanya?”

“Ya.” Jessie menjawab pendek.

“Kau yang memberitahunya?”

“George memaksaku, dan mau tak mau aku harus memberitahunya.”

“Bagaimana reaksinya?” Frank masih tak ingin tinggal diam.

“Dia mungkin sama terguncangnya denganku. Dan dia marah.” Jawab Jessie lemah.

“Dia marah karena kau hamil?” Frank mulai tak suka ketika membayangkan tentang hal itu. Bagaimanapun juga, mereka menikmati prosesnya. Jika Steve marah karena Jessie mengandung, maka Frank akan memukuli Steve hingga babak belur.

“Lucu sekali. Kalian menggosipkan seseorang yang jelas-jelas masih satu ruangan dengan kalian.” Steve datang membawa selimut tebal serta bantal dan guling untuk Jessie. Dengan penuh perhatian ia meminta Jessie untuk berbaring dengan nyaman di sofa panjang tersebut kemudian menyelimuti tubuh wanita itu. “Ingat, kata Dokter kau harus banyak istirahat.”

“Dokter? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa berada di dokter?” Frank yang masih tak mengerti akhirnya tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

“Sedikit pendarahan karena stress dan kelelahan.” Jessie menjawab kekhawatiran kakaknya.

“Astaga. Kau baik-baik saja bukan? Bayinya bagaimana? Apa ini karena dia?” tanya Frank yang semakin tampak khawatir dengan keadaan adiknya tersebut.

“Frank, semua baik-baik saja. Bayinya juga baik-baik saja. Aku sudah memberitahu Steve dan-”

“Biar kukoreksi.” Steve memotong kalimat Jessie. “Dokter yang meberitahuku, bukan kau.” Steve berkata dengan kesal. Jika Steve mengingat tentang hanya dia sendiri yang belum tahu tentang keadaan Jessie, maka lelaki itu akan kembali dalam mode kesalnya.

“Kau masih kesal karena hal itu?”

“Sangat.” Steve menjawab cepat. “Biar kuperjelas agar kedepannya tidak salah paham. Aku tidak marah karena kehamilanmu. Aku marah karena hanya aku sendiri yang tidak tahu tentang keadaanmu ketika semuanya sudah mengetahuinya bahkan bermaksud untuk menikahkan kita.”

“Steve, kau tak perlu berlebihan. Bibi Patty dan Paman Paul juga baru mengetahuinya.”

“Apa maksudnya, Jess?” Frank yang bingung akhirnya kembali bertanya.

“Semua orang sudah tahu tentang kehamilanku.”

“Ya. Semua orang di Pennington.” Steve mengangguk setuju. “Dan para orang tua sedang menyiapkan pernikahan kami.”

“Kita sudah sepakat bahwa tidak akan ada pernikahan, Steve!” Jessie berkata tajam.

“Aku menyetujui apapun keinginanmu, Sayang. Tapi aku tidak bisa mencegah orang tua kita ketika tiba-tiba mereka mengadakan pesta dan mengundang semua orang di distrik Pennington untuk merayakan pernikahan kita.” Steve berkata dengan tenang dan santai. Suasana kembali mencair tapi tidak dengan Jessie.

Frank berdiri dan menggandeng bahu Steve. “Hebat sekali. Jadi kalian akan menikah tanpa memberitahuku?”

“Kau sedang di sini ketika kami sedang membahas masalah ini, Frank.” Steve menjawab dengan wajah datarnya.

“Hahaha setidaknya, aku senang. Setelah ini aku akan memiliki teman minum dan juga teman untuk bermain kartu. Bukan dengan dokter yang kaku itu.”

“Frank! Hentikan omong kosongmu.” Jessie berseru keras. “Lebih baik kalian keluar. Kalian membuat kepalaku semakin pusing.”

Steve duduk berjongkok di hadapan Jessie. Ia mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Aku akan pergi sebentar, tapi aku akan kembali lagi. Tidurlah.”

Jessie hanya mendengus sebal apalagi ketika ia melihat Frank menatapnya dengan tatapan mengolok. Astaga, menggelikan sekali. Ia tak pernah mendapati Steve selembut ini padanya, Jessie senang, tapi disisi lain, ia tidak suka ketika kelembutan Steve dijadikan bahan olokan Frank pada dirinya nanti. Benar-benar menyebalkan.

Akhirnya, Jessie bisa istirahat dengan tenang beberapa menit kemudian setelah Steve dan juga Frank meninggalkan apartmennya.

***

Steve dan Frank duduk di sebuah bar dengan sesekali bersulang. Frank merasa senang jika pada akhirnya nanti Jessie akan menikah dengan Steve. Frank cukup mengenal Steve bahkan sejak kecil hal itulah yang membuat Frank setuju jika nanti keduanya berakhir dengan sebuah pernikahan. Tapi tampaknya, Frank tak melihat hal serupa pada diri Steve.

“Kau, tampak tidak suka dengan keadaan ini.”Frank membuka suara.

Jika boleh jujur, Steve lebih nyaman berbicara dengan Hank, temannya. Ketimbang dengan Frank. Ia memang mengenal Frank sejak kecil, tapi tetap saja, lelaki itu adalah kakak Jessie. Akan sangat tidak nyaman jika dirinya membicarakan hubungannya dengan Jessie pada Frank.

“Maksudmu?”

“Kau tahu, hubunganmu dengan Jess.”

Steve menghela napas panjang. “Bukan aku tidak suka. Aku hanya terlalu terkejut dan kurang bisa menyesuaikan keadaan. Aku akan jadi ayah, dan jujur saja, aku sedikit tertekan.”

Frank mengangguk dan menepuk bahu Steve. “Jika aku berada di dalam posisimu, maka aku akan merasakan hal yang sama.”

Steve menegak minumannya. “Kau tahu. Jess akan selalu menjadi wanita special di hidupku. Dia sangat istimewa. Teman kencanku tak ada yang bisa menggeser posisinya. Tapi setelah malam itu. Sial! Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang terjadi denganku.”

“Kau melihatnya sebagai teman kencanmu?” tanya Frank sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Bukan. Sial Frank! Jessie tentu sangat berbeda dengan mereka. Tidak ada implan, tidak ada silikon..”

“Woow, wow, wow, kau membicarakan bagian tubuh adikku?”

“Maaf, maksudku. Dia berbeda, dan, dan, dia seakan membuatku candu, terikat dengan tali yang tak terlihat. Aku tidak bisa melihatnya sebagai temanku lagi, Frank. Aku melihatnya sebagai wanita sungguhan, yang, yang, membuatku selalu tergoda.” Steve menjelaskan sengan terpatah-patah karena ia tidak yakin kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan pada Jessie.

“Kau, mencintainya?” tanya Frank dengan hati-hati.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Maksudku, aku tidak yakin apa itu cinta. Jika kau bertanya apa aku ingin memilikinya, maka Ya. Aku ingin.” Steve mengoreksi.

“Maka jalan yang paling benar adalah menikahinya.”

“Aku ingin. Demi Tuhan! Aku tidak menolak gagasan itu. Tapi Jessie menolakku mentah-mentah. Dia tidak ingin menikah, dan aku tidak bisa memaksanya dalam keadaan seperti ini.”

“Kau hanya perlu berusaha. Dan yakinkan dia kalau semua ini untuk kebaikan kalian bersama.”

Steve mengangguk. Ia meminum kembali minumannya, kemudian bertanya pada Frank. “Bicara tentang menikah, kau pun tak kunjung menikah. Kau Tiga tahun lebih tua dari pada aku, Frank.”

Frank tertawa lebar. “Menikah tidak ada dalam kamusku, Steve. Aku ingin melajang seumur hidup.”

“Kau bercanda? George akan membunuhmu karena kau tidak memberikan keturunan keluarga Summer.”

“Jika yang diinginkan George adalah bayi, maka aku hanya perlu menyewa rahim seorang perempuan dan membayarnya untuk melahirkan anakku. Tanpa hubungan intim, tanpa pernikahan dan hal-hal yang rumit lainnya.”

“Kau benar-benar gila, Frank.”

“Well. Aku penulis fiksi. Aku tak ingin fantasiku rusak karena kehadiran istri apalagi anak.” Ucapnya dengan nada canda.

Sedangkan Steve hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika Frank memiliki pemikiran seperti itu. Steve tahu, bahwa untuk dirinya sendiripun, menikah bukanlah pioritasnya. Tapi ia juga tidak seperti Frank yang tampak menentang sebuah pernikahan.

***

Steve kembali saat hari sudah malam. Ia sempat ke apartmennya untuk mengambil beberapa potong pakaian ganti sebelum kembali ke apartmen Jessie. Steve tersenyum saat membuka pintu apartmen Jessie. Rupanya, wanita itu masih menggunakan password lamanya.

Di dalam sana, Jessie tampak masih meringkuk di atas sofa panjangnya. Terlihat juga kotak pizza yang didalamnya masih tersisa tiga potong Pizza dengan topping irisan sosis dan daging asap. Steve membereskan sisa-sisa makanan tersebut kemudian kembali pada Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mengangkat tubuh Jessie menuju ke arah kamar wanita tersebut. Jessie tidak terbangun, wanita itu hanya bergerak-gerak sedikit seakan membuat tubuhnya dalam posisi senyaman mungkin.

Setelah membaringkan Jessie di atas ranjangnya. Steve bangkit, berdiri dan menatap wanita yang tengah tertidur pulas tersebut. Ada sebuah rasa yang sulit ia jelaskan. Rasa untuk memiliki wanita itu seutuhnya. Tapi rasa tersebut seakan tertutup dengan sebuah kabut ketakutan.

Ya, Steve takut dengan sebuah penolakan. Steve takut jika Jessie akan lari meninggalkannya saat ia memaksakan kehendaknya pada wanita itu. Ia tahu betul bagaimana karakter Jessie. Wanita itu keras kepala, dan butuh usaha ekstra untuk membuatnya luluh.

Steve melepaskan pakaiannya kemudian ia naik ke atas ranjang Jessie. Tidur memeluk tubuh Jessie. Oh, Steve sangat merindukan saat-saat seperti ini. Saat ia dengan Jessie bisa tidur bersama tanpa gairah, tanpa seks, dan hanya tidur, damai sebagai teman. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini.

***

Dini hari, Jessie terbangun saat merasakan kandung kemihnya penuh. Astaga, kehamilannya bahkan belum genap Empat bulan, tapi sepertinya toilet sudah menjadi teman akrabnya.

Jessie bangun dan merasakan sebuah lengan memeluknya. Ia menatap lengan tersebut, menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Steve tengah tertidur pulas.

Jessie bahkan baru ingat jika tadi saat tidur, ia berada di sofa bukan di atas tempat tidurnya. Steve pasti yang sudah memindahkan dirinya ke sini. Lalu Jessie tersenyum. Ia merindukan masa-masa seperti ini, ketika mereka tidur bersama tanpa gairah mempengaruhi. Apakah hubungan mereka bisa kembali seperti semula?

“Steve.” Jessie memanggil nama Steve, membangunkan lelaki itu. Tapi tak ada pergerakan yang berarti dari lelaki tersebut. “Steve bangung. Aku mau ke toilet.”

Lelaki tersebut bergerak, lengannya terangkat hingga Jessie bisa bangkit. Jessie duduk dan menatap Steve yang tengah mengucek matanya. Lucu, seperti anak kecil, menggemaskan.

“Ada yang kau inginkan?” tanya Steve dengan suara parau.

“Aku ingin ke kamar mandi, dan tanganmu menghalangiku.”

“Oh. Oke.” Hanya itu tanggapan Steve. Akhirnya Jessie segera bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. Mungkin, Steve akan kembali tertidur, pikirnya. Tapi saat Jessie kembali dari kamar mandi, lelaki itu sudah duduk di pinggiran ranjang menunggunya.

“Kau bangun?”

“Ya, kupikir kau membutuhkan sesuatu.”

“Tidak, aku hanya buang air kecil.”

“Baguslah. Sekarang mari kita tidur kembali.” Ajaknya.

“Kau tidak pulang?” tanya Jessie kemudian.

“Kau ingin mengusirku.”

“Aku tidak-”

“Dengar, Jess.” Steve memotong kalimat Jessie. “Aku tidak akan pergi kemanapun. Sekarang, kembalilah kemari dan ayo kita tidur.”

Jessie menurut, ia naik ke atas ranjang. Terbaring, kemudian merasakan Steve ikut naik ke sebelahnya dan lelaki itu mulai memeluknya.

“Apa perlu berpelukan seperti ini?” tanya Jessie sedikit canggung.

“Aku ingin memelukmu, dan ketika aku ingin, maka aku akan melakukannya tanpa meminta izinmu.”

Jessie menghela napas panjang. “Aku juga ingin dipeluk.” Ya, Jessie jujur. Ia ingin seperti dulu, meski sebenarnya mungkin semua itu mustahil terjadi lagi.

Steve mengeratkan pelukannya. Sesekali kepalanya mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Kau tahu, Jess. Saat tidur, aku tak pernah merasa senyaman ketika memelukmu. Aku suka kehangatanmu, aku suka aroma rambutmu. Semuanya membuatku nyaman dan tenang.” Steve bahkan tak mengerti apa yang sedang ia ucapkan.

“Aku juga senang saat tidur di pelukanmu, Steve. Aku merasa nyaman dan terlindungi.”

Steve kembali mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Perasaan nyaman tersebut sekarang ternodai dengan perasaan yang lainnya, Jess.” Kali ini suara Steve menjadi serak.

“Apa maksudmu?” Jessie mengangkat wajahnya menatap penuh tanya ke arah Steve.

Steve tersenyum, senyum yang dipaksakan. “Kau tentu merasakannya. Aku bergairah. Gairah yang dulu tak pernah ada ketika aku memelukmu saat kita tidur bersama sebagai teman.”

Jessie segera sadar. Tentu saja ia segera merasakan ereksi lelaki itu. Jessie berusaha menjauh, tapi Steve menahannya.

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 5

Comment 1 Standard

Aku updateee… yeaaayyy… happy readingg… muwaaahhhh

 

Bab 5

 

Pagi telah tiba. Ellie terbangun dan segera mencari lengan yang semalaman memeluknya. Nyatanya, ia mendapati ranjang sebelahnya kosong. Tak ada Jiro di sana dan hal itu membuat Ellie sedih. Ia terduduk di pinggiran ranjang, kemudian merutuki kebodohannya sendiri. Jiro tak mungkin bisa berubah secepat itu. Mungkin, semalam lelaki itu mengendap-endap pergi meninggalkannya ketika ia tidur.

Akhirnya, Ellie bangkit, dan ia bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat ia sudah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba indra penciumannya menangkap aroma masakan. Apa Mei yang memasak? Dalam hati Ellie yang paling dalam ia berharap bahwa ia akan melihat Jiro di dapur. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Dengan langkah lemah, Ellie keluar dari dalam kamarnya dan menuju ke arah dapur rumahnya. Rupanya, Jiro benar-benar ada di sana.

Ellie melangkah dengan cepat menuju ke arah Jiro. Dan dengan spontan ia memeluk tubuh Jiro dari belakang.

Jiro yang tengah sibuk membuat omlet terkejut ketika tiba-tiba lengan mungil itu memeluk tubuh kekarnya. Jiro bahkan sempat membatu beberapa detik, tubuhnya kaku karena tak menyangka jika akan dipeluk secara tiba-tiba seperti ini.

“Apa yang kamu lakukan?” dengan spontan Jiro menanyakan hal tersebut dengan nada dinginnya. Jika boleh jujur, Jiro benar-benar tak nyaman dengan sikap manja Ellie.

Seketika itu juga Ellie melepaskan pelukannya. Ia tidak berharap reaksi Jiro akan sekeras itu padanya. Astaga, ia hanya memeluknya, seharusnya Jiro tak perlu berkata dengan nada sedingin itu.

Jiro membalikkan tubuhnya seketika. Ia menatap Ellie yang tampak sedih karena ulahnya. “Maaf, aku hanya terlalu terkejut.” Mau tak mau Jiro mengalah.

“Kamu kayak sedang mengantisipasi apa yang sedang kulakukan.”

“Kalau boleh jujur, aku memang merasa tidak nyaman dengan semua ini.”

“Kalau begitu, kamu boleh pergi dan mencari kenyamanan sialanmu.” Ucap Ellie dengan ketus sebelum dia membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi meninggalkan Jiro. Tapi baru beberapa langkah, Jiro tiba-tiba menyusulnya. Lebih mengejutkan lagi, lelaki itu memeluknya dari belakang.

Kali ini, giliran Ellie yang membatu karena ulah suaminya tersebut.

“Maaf, aku sudah minta maaf.”

Entah perasaan Ellie saja atau memang Jiro sejak kemarin sering sekali mengucapkan kata maaf. Kenapa? Apa lelaki itu merasa bersalah padanya? Apa yang membuatnya merasa bersalah padahal selama ini Jiro tak pernah sekalipun menunjukkan sikap tersebut padanya?

“Aku akan menemanimu sepanjang hari, jadi, jangan membuatnya jadi sulit dengan merajuk seperti ini.”

Ellie hampir bersorak saat Jiro mengatakan niatnya untuk menemaninya seharian.

“Jadi, kenapa kamu bisa menemaniku seharian? Memangnya kamu tidak sibuk?”

“Troy menelepon tadi pagi. Katanya hari ini tidak akan ada latihan dan jadwal lain. Aku bebas.”

Ellie tersenyum senang. Ia tahu bahwa Jiro tak akan mungkin bisa melihatnya. Karena lelaki itu sekarang masih sibuk memeluk tubuhnya dari belakang. Wajah lelaki itu bahkan sesekali tersembunyi dibalik rambut kuning keemasa milik Ellie.

“Apa yang bisa memperbaiki kesalahanku?” tanya Jiro kemudian. Ellie memiliki sebuah rencana. Tapi ia sangsi jika Jiro mau menuruti kemauannya.

Akhirnya Ellie melepaskan pelukan Jiro, kemudian membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Jiro.

Ya Tuhan! Lelaki ini benar-benar tinggi, dan tampak gagah. Ellie selalu menyadari hal itu ketika ia berada di hadapan Jiro dalam keadaan tidak mengenakan sepatu hak tinggi. Ellie lebih pantas dilihat sebagai adik lelaki itu, mengingat usia mereka yang memiliki selisih cukup jauh, ditambah lagi postur tubuh mereka yang benar-benar tidak cocok. Jiro dengan tubuh tinggi kekarnya, sedangkan Ellie dengan tubuhnya yang mungil. Bahkan tingginya tak lebih dari sebahu Jiro.

“Sebenarnya ada.” Jawab Ellie masih dengan mengendalian diri penuh. Ia tidak boleh tergoda dengan Jiro. Meski ia menginginkan berhubungan intim lagi dengan Jiro seperti malam itu, nyatanya Ellie memilih menahannya. Ia tahu bahwa Jiro sedang berusaha untuk berubah. Ia ingin Jiro berada di sampingnya karena perhatian dan pengertian padanya, bukan karena lelaki itu sedang ingin memuaskan hasrat seksualnya.

“Apa?” tanya Jiro kemudian. Ia tidak suka basa-basi. Lebih cepat menuruti apa kemauan Ellie maka lebih baik agar ia tidak terlalu terbawa dengan permainan yang seakan sengaja di mainkan oleh Ellie.

“Jadi, maukah kamu mengantarku ke Dokter siang nanti?”

“Apa? Itu tidak mungkin.”

“Kenapa tidak?”

“Karena orang-orang di rumah sakit akan melihatku dan mengenaliku.”

“Aku tidak peduli. Kamu kan bisa menyamar. Pakai rambut palsu atau sejenisnya.”

Jiro bergidik ngeri saat ia membayangkan mengenakan rambut palsu. “Tidak lucu, Ellie. Aku tidak bisa mengantarmu ke sana. Oke?”

Ellie tahu bahwa rencananya akan gagal jika ia memaksa Jiro. Akhirnya, Ellie menggunakan cara lain. Ia hanya menatap Jiro dengan mata sendunya, kemudian membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan lelaki itu.

Jiro sendiri yang menatapnya segera ditumbuhi oleh rasa kasihan. Jiro tahu bahwa memang seharusnya ia yang mengantar Ellie ke dokter. Bagaimanapun juga, ia ingin mengetahui keadaan anaknya yang kini sedang dikandung oleh wanita itu.

Anaknya?

Sembari menggelengkan kepalanya, Jiro berjalan cepat menyusul Ellie. “Oke, aku akan mengantarmu.”

“Biasanya, rumah sakit memiliki privasi. Seharusnya kamu tidak perlu khawatir. Lagi pula, tak mungkin semua orang disana mengenalmu. Kamu hanya seorang Bassis dari band Rock. Menurutku, hanya satu dua orang kesehatan menyukai band rock, itupun belum tentu mereka suka The Batman.” Gerutu Ellie.

Jiro mengangguk. Ellie memang benar. Tapi tetap saja, rasa khawatir itu masih ada. Mengingat mereka juga memiliki beberapa fans fanatik mendekati gila yang menyebut diri mereka The Danger. Jiro hanya tak ingin jika bertemu dengan salah satu fansnya dan membuat keributan di sana.

“Oke, aku akan pakai topi, dan masker. Cukup, bukan?” tanya Jiro dengan nada lembut.

Pakai masker di rumah sakit tentu hal yang wajar. Jadi sepertinya, ia tak perlu menyamar berlebihan. Ellie tersenyum dan mengangguk. Ia senang saat Jiro menuruti kemauannya.

“Sekarang duduklah. Aku membuatkanmu sarapan.”

Jiro membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah kompor yang tadi sempat ia matikan karena gangguan Ellie. Tapi baru beberapa langkah, perkataan Ellie membuat Jiro menghentikan langkahnya dan berdiri membatu memunggungi wanita tersebut.

“Kamu berubah banyak, James.” Ucap Ellie dengan nada lembut. “Dan aku senang.” Lanjutnya.

“Aku hanya berusaha.” Jawab Jiro sebelum melanjutkan langkahnya.

Ya, bagi Jiro, ia belum berubah. Ia masih berusaha untuk berbuat seadil mungkin pada Ellie. Jiro berusaha agar Ellie mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Bagaimanapun juga, ia sudah memperistri Ellie, dan membuat wanita itu menjalani kehidupan baru, jauh dari orang tuanya. Jiro tidak ingin menjadi jahat dengan mengabaikan keberadaan Ellie saat ia menyadari bahwa wanita itu tengah membawa sebagian dari dirinya di dalam rahim wanita tersebut. Jiro akan berusaha berubah, meski nyatanya, ia merasa sulit.

***

Persetan dengan perubahan!

Jika tadi Jiro berpikir bahwa ia ingin selalu menemani Ellie memeriksakan kandungannya dan menjadi suami dan calon ayah yang baik, maka kini saat ia berada di ruang tunggu dokter spesialis kandungan, ia merasa bahwa ini akan menjadi hari terakhir ia memasuki poliklinik sialan ini.

Bagaimana tidak? Meski ia sudah mengenakan masker, dan juga topi, nyatanya, ada saja beberapa orang yang mengenalinya.

Seorang wanita muda berambut pendek yang kini tengah hamil dan menunggu di ruang yang sama dengannya akhirnya mengenalinya. Rupanya, wanita itu baru berusia Dua puluh tahun. Tentu saja wanita itu mengenalnya mengingat dirinya populer dikalangan anak muda.

Yang membuat Jiro kesal adalah, dengan cerewetnya wanita itu berkata bahwa ia adalah fans Jiro dan The Batman. Hal itu membuat pasien lain yang juga menunggu di sana penasaran. Akhirnya mau tak mau Jiro membuka topi dan maskernya. Dan kini, Jiro berakhir dengan duduk diantara wanita-wanita berperut sebesar semangka yang mengerubunginya dan memintanya untuk mengelus perut mereka secara bergantian.

Walau tak semua ibu hamil di sana mengenalnya, tapi mereka tetap ingin perutnya dielus oleh Jiro dan berharap bahwa anak mereka nanti jika laki-laki akan setampan Jiro.

Wajah Jiro yang khas seperti orang bule, serta mata abu-abu terang lelaki itu membuat siapa saja terpesona pada detik pertama saat melihatnya. Sangat wajar jika mereka menginginkan anak mereka mirip dengan Jiro dan meminta Jiro mengelus perut mereka.

Sedangkan Ellie, ia memilih duduk menjauh, melihat Jiro dari jauh dan tersenyum sendiri saat melihatnya. Padahal, Ellie tahu bahwa tak mungkin semua ibu-ibu hamil di sana mengenal Jiro yang artinya taak semua ibu hamil di sana adalah fans Jiro. Jiro mampu menarik banyak wanita untuk terpesona padanya, padahal wanita-wanita itu belum tahu jika Jiro adalah artis terkenal.  Bagaiama jika mereka ke suatu tempat dan bertemu sekumpulan fans Jiro? Mungkin, Ellie akan benar-benar diabaikan.

Ellie menundukkan kepalanya menatap perutnya sendiri yang belum kelihatan karena tersembunyi di dalam coat yang ia kenakan. Kemudian ia mengusapnya lembut. Ini adalah resiko menikah dengan seorang James Drew Robberth. Lelaki tampan dan terkenal yang mempesona bagi kebanyakan wanita di luar sana.

Pada saat itu, Ellie mendengar namanya dipanggil. Ia segera bangkit dan masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada seorang suster menunggunya di ambang pintu. Ellie bahkan tak menghiraukan Jiro yang masih asyik dengan beberapa wanita hamil di sekitarnya.

Saat Ellie sudah duduk di hadapan seorang dokter dengan papan bernama Dr. Sandra Spog, saat itulah ia melihat Jiro ikut duduk di bangku sebelahnya.

“Kamu masuk?” tanya Ellie kemudian.

“Bukannya kamu memintaku untuk mengantarmu? Maka aku akan masuk.”

“Kupikir kamu lebih asyik dengan para wanita di luar.”

“Yang benar saja. Aku bahkan berpikir untuk tidak mengantarmu lagi karena keberisikan mereka.” Gerutu Jiro. Jiro lalu menatap ke arah Sang Dokter yang tampak tersenyum melihat tingkah mereka. “Jadi, apa selanjutnya?” tanyanya.

“Sepertinya, Nyonya Ellie tidak mengatakan kalau suaminya adalah seorang artis.” Ucap Dokter Sandra kemudian. “Tuan James?” tanya Sang Dokter pada Jiro.

“Jiro, panggil saja begitu.” Entah kenapa, sekarang Jiro seperti Troy, yang tak suka jika ada yang memanggil nama aslinya. Jiro merasa, hanya Ellie yang pantas memanggilnya dengan panggilan James. Dan Jiro tak tahu, kenapa ia berpikiran seperti itu.

“Baiklah, Tuan Jiro. Jadi, Anda sudah tahu bukan tentang keadaan istri Anda?”

Jiro mengangkat kedua bahunya. “Sejujurnya, dia baru memberitahu saya kemarin. Apa ada masalah?”

Dokter Sandra tersenyum sembari membuka buku kesehatan ibu dan anak milik Ellie. Ini memang bukan yang pertama kalinya Ellie memeriksakan diri ke tempat Dokter Sandra, jadi Dokter Sandra cukup tahu bagaimana kondisi Ellie saat ini.

“Delapan belas minggu, dan Anda baru tahu? Wowww, suami yang perhatian.” Sindir Dokter Sandra. Sedangkan Ellie hanya bisa menunduk dan tersenyum dengan sindiran tersebut.

Jiro segera menatap ke arah Ellie. Astaga, jika benar usia kandungan Ellie sudah Delapan belas minggu maka artinya sudah lebih dari Empat bulan. Lalu kenapa Ellie baru memberitahunya kemarin?

“Saya sangat sibuk.” Desis Jiro masih menatap ke arah Ellie. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak begitu saja saat melihat istrinya itu menundukkan kepalanya. Dengan spontan ia mendaratkan telapak tangannya mengusap rambut Ellie. “tapi setelah ini, saya akan melakukan yang terbaik.” Lanjutnya.

Ellie sempat tertegun dengan apa yang dikatakan Jiro. Bahkan, sikap manis lelaki itu benar-benar membuatnya tersentuh. Ellie merasa jatuh cinta sekali lagi dengan suaminya tersebut. Apa Jiro melakukan ini dengan tulus? Atau lelaki itu hanya melakukannya karena Dokter Sandra mengenal bahwa dia seorang artis yang artinya Jiro harus menjaga image di hadapan dokter Sandra? Entahlah. Ellie sendiri tak tahu yang mana yang menjadi alasan Jiro bersikap manis seperti ini padanya.

“Baiklah. Saya mengerti. Kalau begitu, kita lihat, apa yang terjadi dengan si kecil.” Ucap Dokter Sandra sembari bangkit dan menuju ke sebuah ruangan yang diyakini Ellie adalah ruang USG.

Dalam beberapa menit kemudian, Ellie sudah terbaring di sebuah ranjang dengan baju yang sudah di naikkan ke atas memperlihatkan perut telanjangnya. Ellie sedikit gugup dan canggung. Mereka hanya berdua di dalam ruangan itu, karena Dokter Sandra sedang sibuk menyiapkan sesuatu di luar ruangan USG tersebut. Jiro sendiri setia duduk di sebelahnya. Mata lelaki itu bahkan tak berhenti menatap ke arah perutnya. Apa yang sedang dipikirkan Jiro saat ini? dan Astaga, kenapa juga dokter Sandra belum memulai pemeriksaannya?

Sedangkan Jiro, ia merasakan sebuah perasaan aneh. Matanya seakan tak ingin berpaling dari perut Ellie yang berwarna putih pucat itu. Sial! Disana ada anaknya, anak yang nanti akan memanggilnya papa. Jiro tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. perasaannya campur aduk, dia merasa senang, bangga, dan juga…. Takut. Jiro merasa belum siap, tapi disisi lain, ia merasa begitu antusias ketika membayangkan bahwa ia akan memiliki seorang bayi bersama dengan Ellie.

“Ada apa?” pertanyaan Ellie mau tak mau membuat Jiro mengangkat wajahnya menatap ke arah wanita tersebut.

Jiro hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu aneh, James. Kenapa? Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Ellie lagi.

“Aku, aku… masih tak menyangka bahwa ini terjadi.”

“Apanya?”

“Menjadi suami dan calon ayah. Jujur saja, aku tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.”

“Kamu menyesal?” tanya Ellie kemudian, karena raut wajah Jiro sama sekali tak menunjukkan rasa senang.

Jiro menggelengkan kepalanya. “Aku hanya…… takut.” Ya, sepertinya, kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Jiro. Jiro memang senang, tapi ia takut, bahwa ia tak akan menjadi suami dan ayah yang baik kedepannya. Ia masih memiliki ambisi yang besar, dia Jiro benar-benar takut jika akan menghancurkan semuanya.

Tanpa diduga, jemari mungil Ellie mencari jemari Jiro, menggenggamnya dengan erat, kemudian ia berkata. “Perlu kamu tahu bahwa aku juga takut. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami masa kehamilan. Aku takut, dan aku merasa sendiri.” kemudian dengan spontan Ellie membawa jemari Jiro peda perutnya. “Aku butuh kamu, bayi kita juga butuh kamu. Maukah kamu menemaniku menghadapi ketakutan kita bersama-sama?”

Jiro menatap Ellie dengan intens, secara spontan Jiro mengangguk. Ya, ia mau melewati semuanya dengan Ellie, ia mau mengadapi ketakutannya bersama istrinya tersebut. Tapi dapatkah ia melakukannya? Sanggupkah ia menghadapinya?

-TBC-