Ugly Wife – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Cumbuan dari Elang begitu kuat, seakan lelaki itu tak ingin melepaskan diri Shafa sedetikpun. Sedangkan Shafa, ia masih meronta sekuat tenaga. Shafa tahu bahwa secara fisik dan kekuatan, ia kalah telak dengan Elang, tapi setidaknya, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya akan memberikan lelaki itu perlawanan ketika Elang memperlakukannya dengan semena-mena.

Ketika keduanya masih bergulat dengan cumbuan mereka, pintu kamar mereka di buka begitu saja dari luar. Gadis yang tadi memeluk Elang berdiri di ambang pintu dan menatap keduanya dengan keterkejutan yang amat sangat.

“Maaf.” ucapnya dengan spontan.

Elang melepaskan cumbuannya pada bibir Shafa. Sedangkan Shafa segera menjauh dan membungkam bibirnya sendiri. suasana canggung menyeruak diantara mereka.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Elang pada gadis tersebut.

“Uum, Maaf, aku ganggu.” Gadis itu menggaruk tengkuknya.

Elang mendengus sebal. Ia lalu menatap ke arah Shafa, perempuan itu masih menundukkan kepalanya, mungkin malu karena baru saja kepergok berciuman dengannya.

“Lain kali, ketuk pintunya dulu.”

“Aku sudah ketuk, tahu. Dan kulihat pintunya nggak dikunci, jadi aku buka aja. Lain kali, kunci pintunya sebelum…”

“Bunga.” Elang memotong kalimat gadis itu. “Katakan, apa yang kamu mau?”

“Aku kan pengen kenal sama kakak iparku, masa nggak boleh.”

Shafa mengangkat wajahnya seketika. Ya Tuhan, bahkan Shafa baru ingat kalimat Elang tadi yang menyebutkan tentang dirinya yang ingin merebut hati adik Elang. Apa gadis ini adalah adik Elang? Kenapa ia sampai tidak tahu?

Jika dipikir-pikir, Shafa memang tak begitu mengenal dekat keluarga Elang. Padahal mereka sudah menikah hampir empat bulan lamanya. Ada beberapa foto keluarga yang tergantung di dinding-dinding rumah Elang. Di sana terlihat kedua orang tua Elang dan juga seorang gadis berkaca mata. Shafa tidak tahu siapa gadis itu, tapi Shafa sempat berpikir mungkin itu adalah Adik Elang.

Shafa tidak pernah menanyakan lebih, pada siapapun. Karena ia tahu, bahkan kehadirannya di rumah itu saja tidak diharapkan, jadi Shafa tidak berniat bertanya pada siapapun. Ia hanya berspekulai sendiri. dan jika di lihat-lihat, gadis di dalam foto tersebut memang sedikit mirip dengan gadis di hadapannya saat ini, hanya berbeda wana rambut serta gaya berpakaiannya saja, serta tampak lebih dewasa.

Elang mendekat pada Bunga dan berkata “Lebih baik kamu keluar.” ucapnya dingin.

“Kak El apaan sih.” Bunga tampak enggan menuruti permintaan Elang.

Pada saat itu, Shafa mendekat, dan berkata “Kita bisa ke kebun samping rumah.”

Hal itu membuat Elang menatap tajam ke arahnya. “Urusan kita belum selesai.” desisnya tajam.

“Setauku, kita tidak memiliki urusan yang lebih penting daripada urusan masing-masing.”

“Sial!” Elang mendesis tajam. Ia tidak percaya bahwa Shafa berani melawannya saat ini, di hadapan Bunga. Sedangkan diantara mereka, Bunga tampak tersenyum melihat reaksi keduanya. Bunga bertepuk tangan seketika hingga membuat Elang dan Shafa menatap ke arahnya.

“Apa yang kamu lakukan?” Elang bertanya dengan nada jengkel.

“Aku senang karena kulihat Kak El punya lawan yang sepadan.”

“Apa?” Elang tidak mengerti apa maksud adiknya tersebut.

Tanpa banyak bicara, Bunga mengapit lengan Shafa kemudian menariknya keluar dari kamar. “Pokoknya, aku mau ada perlu sama Kak Shafa.” Dan sebelum Elang menanggapi ucapan Bunga tersebut, Safa sudah diseret keluar oleh adiknya yang manja itu.

Sial!

***

“Jadi, kakak yang nanem bunga-bunga ini?” bunga bertanya pada Shafa ketika mereka sudah sampai di kebun bunga kecil yang tak jauh dari area kolam renang. Meyirami beberapa tanaman mawar yang sudah tampak bermekaran di sana.

“Iya, aku bawa dari toko bungaku.”

“Wah, keren. Jadi bikin aku betah di rumah.”

Shafa menatap ke arah Bunga. Sejauh ini, hanya Bungalah yang bersikap sangat baik dan ramah padanya. Berbeda dengan perlakuan Elang dan keluarga yang lainnya.

“Kamu, tinggal di mana?”

“Memangnya Kak El nggak ngasih tau ya? Aku kan kuliah di Inggris, Kak. Ini pun aku libur paling nggak sampek satu bulan.” Bunga tampak menggerutu.

Shafa hanya tersenyum menanggapi jawaban manja dari gadis di hadapannya tersebut. Andai saja Bunga tinggal di rumah ini, mungkin mereka bisa menjadi teman yang baik.

“Kak Shafa sendiri gimana? Betah tingga di sini?”

“Aku…”

“Kak El nggak jahat, kan?”

Shafa tersenyum. Jahat sih enggak, tapi bagi Shafa, Elang sudah seperti paket komplit pria biadab yang tak seharusnya bersinggungan dengan dirinya.

“Aku tuh ya, dulu sering dengar cerita tentang Kak Shafa loh.”

Shafa menatap Bunga seketika. “Benarkah?”

“Iya. Sebenarnya, Papa sih yang lebih sering ngingetin sama Kak El, kalo Kak El punya Kak Shafa. Awalnya aku nggak ngerti apa maksudnya, tapi aku tahu sejak Kak El jemput aku pulang sekolah. Dia ngajak mampir ke suatu tempat yang kuyakini adalah toko bunga milik Kak Shafa.”

Mata Shafa membulat seketika ke arah Bunga. “Kalian ke sana? Benarkah?”

“Iya, cuman numpang parkir doang. Nggak tau tuh, sampai sekarang aku nggak tau alasannya kenapa dulu Kak El suka banget parkir mobil di dekat toko Kak Shafa.”

“Suka?” lagi-lagi Shafa tampak tak percaya dengan ucapan Bunga.

“Loh, Kak Shafa memangnya nggak tau ya? Soalnya aku aja sudah beberapa kali nemani dia ke sana saat itu.”

Shafa hanya terpaku mendengar jawaban dari bunga. Pikirannya melayang entah kemana. Benarkah dulu Elang sering melakukan apa yang dikatakan Bunga? Untuk apa?

***

Di lain tempat, Elang mengamati interaksi antara Bunga dan Shafa dari jauh. Ia menatap keduanya dengan tatapan tak suka. Bunga tampak nyaman berada di sekitar Shafa bahkan keduanya tampak akrab satu sama lain. Hal itu membuat Elang tidak suka.

Entahlah, ia memang selalu tidak suka jika melihat Shafa dekat dengan siapapun bahkan dengan keluarganya sendiri. Saat tatapan mata Elang tak lepas dari dua orang wanita muda itu, saat itulah ibunya datang.

Virna menghampiri Elang dan bertnya “Apa yang kamu lakukan di sana?”

“Cuma lihat kolam.” Elang menjawab pendek tanpa mengalihkan pandangannya pada Shafa dan Bunga. Virna mengikuti arah pandang puteranya, dan ia berakhir berdecak.

“Kamu ngapain lihatin adikmu dan istrimu sampai seperti itu?”

“Dia perempuan yang berbahaya, Ma.”

“Maksudmu?”

“Lihat, Bunga dengan mudah terpengaruh padanya.”

“El. Mama mau kasih tau sesuatu sama kamu. Sepertinya, Shafa itu tulus, dia nggak seperti yang kita kira, dia baik, dia pernah nolong mama waktu nggak ada orang di rumah dan Asma mama kumat.”

“Kok mama jadi belain dia? Cuma karena itu? dia sudah mengancurkan masa depanku, Ma.”

“Tapi masa depan dia juga hancur karena semua ini, El. Dia juga terpaksa dengan pernikahan kalian.”

Elang mengepalkan kedua telapak tangannya. “Aku yang paling dirugikan di sini.” desisnya tajam.

“Mama nggak ngebelain dia, tapi dia hampir kehilangan kakinya, dia masih mau menerima kamu, dan bersikap baik sama kita.”

Elang kembali menatap Virna dengan mata tajamnya. “Terserah Mama kalau mau bersikap baik sama dia. Tapi aku, aku nggak akan pernah melakukannya.” Setelahnya, Elang pergi dan Virna hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian putera keras kepalanya tersebut.

Virna kembali menatap ke arah Shafa dan Bunga. Awalnya, ia memang tidak menyukai keberadaan Shafa. Tentu saja, siapa yang mau melihat puteranya terikat dengan perempuan seperti Shafa. Tapi semakin kesini, Virna sadar, ia melihat bagaimana perempuan itu menampilkan ketulusannya. Kekurangan Shafa seakan tertutupi dengan sikap baik yang selalu ditampilkan oleh perempuan itu. Padahal jelas-jelas Virna tahu, bahwa kekurangan yang menimpa Shafa adalah kekurangan yang diberikan oleh puteranya.

***

Makan malam dalam keadaan canggung. Biasanya, Shafa tidak akan ikut makan di meja makan jika Ayah mertuanya tak ada seperti sekarang ini. karena selama ini, hanya Tuan Abrahamlah yang cukup perhatian padanya dan memperlakukannya sebagai seorang menantu. Sayang sekali, pria paruh baya itu memang amat sangat jarang berada di rumah ini karena sibuk dengan pekerjaannya.

Kini, Shafa duduk di meja makan karena permintaan Bunga. Gadis itu tadi bahkan menyeret Shafa dan mengajaknya makan malam bersama.

“Jadi ini juga Kak Shafa yang masak?”

“Tadi cuma ikut bantu sedikit.”

“Wah, keren. Kakak serba bisa. Pantesan Kak El seneng.”

Elang memutar bola matanya ke arah Bunga. Tampak tak suka dengan kalimat terakhir yang keluar dari bibir adiknya tersebut.

Bunga mengabaikan reaksi dari Elang, dan ia memilih membahas masalah lain. “Ngomong-ngomong, besok kita belanja yuk Kak. Kan aku butuh gaun buat datang ke pestanya Bang Nanda. Kak Shafa sudah punya gaunnya?”

“Dia nggak ikut.” Elang menjawab cepat dan dengan nada dingin.

“Dih, apaan sih. Bang Nanda kan sepupu kita, dan salah satu orang terdekat Kak El. Masa dia tunangan, kak Shafa nggak ikut sih..”

Elang mendengsus sebal “Baru sehari kamu di rumah, dan kamu sudah buat pusing. Shafa nggak ikut, dia akan tetap berada di rumah dan tidak akan pergi ke manapun.” Elang berdiri kemudian meninggalkan meja makan.

“Apa-apaan dia? dih, jangan dengarin Kak El. Besok, aku akan ngajak Kak Shafa belanja.” Bunga bersikeras. Ia tidak akan mendengarkan larangan kakaknya. Baginya, tak ada yang bisa melarang Shafa untuk datang ke pesta keluarga mereka.

***

“Apapun yang terjadi, kamu nggak bisa datang ke pesta itu.” Elang berkata dengan lantang karena saat ini dirinya sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Sedangkan Shafa sedang berada di dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

Shafa keluar, wanita itu sudah mengenakan piyamanya, wajahnya sudah segar, sedangkan rambutnya masih dia gelung, menampilkan leher jenjangnya hingga mau tidak mau hal itu menarik perhatian Elang.

Bagaimanapun juga, Elang adalah pria dewasa yang memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Tak jarang, Elang menegang hanya karena melihat lekuk leher Sang istri, atau hanya karena melihat bibir ranum maupun kulit lembut istrinya tersebut.

Elang menelan ludah dengan susah payah saat melihat leher jenjang Shafa yang tampak menggodanya.

“Maaf, aku datang dengan Bunga. Jadi kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak perlu malu karena aku sebisa mungkin akan menghindar dari kamu agar kamu tidak malu berada di sekitar orang cacat sepertiku.”

“Sial.” Elang mengumpat pelan nyaris tak terdengar. Ia mendekat ke arah Shafa, sedangkan Shafa masih berdiri menatapnya seakan tak gentar dengan tatapan membunuh yang dilemparkan Elang.

“Aku tidak mengizinkan kamu datang.” ucap Elang penuh penekanan.

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak pantas berada di sana.” Jawabnya dengan penuh penghinaan.

Shafa merasa sakit karena jawaban tersebut. “Bunga yang mengajakku datang.”

“Aku tidak mau tahu pokoknya kamu tidak boleh ikut.”

Shafa tak bisa lagi menjawab. Ya, apa gunanya juga ikut jika dirinya tidak pernah dianggap di sana. Shafa bisa memberi alasan pada Bunga bahwa ia tidak enak badan. Beres bukan?

Ketika Shafa masih sibuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak sadar bahwa sejak tadi Elang sudah mengamatinya dengan mata laparnya. Elang bahkan sudah melangkah mendekat. Jemarinya terulur mengangkat dagu Shafa, membuat Shafa tersadar sepenuhnya dari lamunannya.

“Kamu, jangan terus-terusan menggodaku seperti ini.” Elang mendesis tajam.

“Aku nggak ngerti.”

“Apa kamu diciptakan untuk menggodaku?”

“Apa?”

“Buka bajumu, dan kita selesaikan apa yang tertunda tadi siang.” titahnya penuh keangkuhan. Belum sempat Shafa mencerna apa yang baru saja diucapkan suaminya, Elang sudah lebih dulu menundukkan kepalanya, meraup bibir ranumnya, menggodanya, hingga mau tidak mau Shafa kembali terjerumus pada godaan mematikan dari seorang Elang Abraham.

-TBC-

Advertisements

Affair – (short story)

Comment 1 Standard

 

1

 

Damian bergerak menghujam ke dalam diriku. Bergerak cepat. Sedangkan aku mengerang, mendesah karena kenikmatan yang dia berikan.

God… lagi… lagi.. teruskan.. Ohh…” Aku meracau dan dia semakin menggila.

Damian memang pria panas, dan dia selalu mampu membuatku puas dengan kejantanannya. Tubuhku membungkusnya dengan begitu pas, menghisapnya hingga dia tak berhenti mengumpat ketika menyatu denganku.

Kepalanya menunduk, meraup payudaraku, menggodanya, bermain di sana menggunakan lidahnya. Ya Tuhan! Dia membunuhku. Aku memejamkan mata, tak berhenti mengerang karena ulahnya, kemudian dia bergerak semakin cepat, semakin intens, dan tak lama, dia meledakkan diri di dalam tubuhku.

Napas kami memburu, menyatu dengan keringat dan juga gairah panas kami berdua. Damian menarik tubuhnya, mengecupku singkat kemudian dia bangkit dan menatapku dari tempatnya berdiri.

“Kau selalu terasa nikmat, Sayang.” ucapnya dengan nada menggoda.

Aku tahu bahwa dia akan selalu mengatakan kalimat itu padaku. Ya, aku menghabiskan banyak uang untuk memberinya service yang layak. Kulakukan semua itu untuknya, agar dia selalu terjerat denganku dan tidak main-main di luaran sana.

Well, kalian perlu tahu, bahwa dia, Damian Robinson merupakan pengusaha matang yang terkenal di kota ini –New York. Wajahnya sering kali keluar di majalah-majalah bisnis, bahkan sesekali media memberitakan tentangnya layaknya seorang selebriti. Semua itu tentu karena ketampanannya, aurahnya yang panas dan menggoda, serta hubungan asmaranya denganku yang merupakan salah seorang Aktris populer di negeri ini.

Ya, Aku Maureen Bright. Aktris sekaligus model populer di New York. Karirku berawal sejak aku masih berusia belasan tahun. Aku menjadi salah seorang pemain teater di Broadway.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat setelah aku menerima beberapa tawaran iklan. Kemudian, kehadiranku di sebuah pesta amal menuntunku bertemu dengannya. Ya, Damian Robinson, kekasihku. Dan setelah menjadi kekasihnya, namaku semakin melambung.

Aku meninggalkan dunia teater, fokus degan dunia modelingku, dan juga dengan kekasihku, Damian. Dia pria posesif, dia tidak suka jika aku berada jauh dari dirinya, karena itulah aku memilih meninggalkan semuanya demi dia.

Tapi, dua tahun menjalani hidup seperti ini, aku merasa dikekang, aku merasa terkurung dalam sebuah senggkar emas. Aku mencintai Damian, tentu saja, tapi ada satu hal di dalam diriku yang seakan ingin menolak sikapnya yang kelewat posesif.

“Aku tahu kau akan berkata seperti itu.” aku menjawab dengan nada menggoda.

Damian meraih jam tangannya di nakas, melihat jarumnya, lalu ia mendengus sebal. “Sayang sekali, aku tidak bisa melanjutkan yang lebih panas lagi. Pesawatku menunggu.”

Aku menggulingkan tubuhku dengan gerakan menggoda. Terbaring miring dengan posisi yang seksi, kemudian aku bertanya “Kali ini berapa lama?”

Aku tahu, bahwa kepergian Damian kali ini bukan hanya sehari dua hari. Beberapa hari yang lalu aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang di seberang telepon. Sepertinya, dia memiliki sedikit masalah. Keningnya tak berhenti berkerut, dan sesekali dia menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia memiliki masalah, dengan pekerjaannya, aku tahu itu. Lalu setelahnya, dia memberiku banyak hadiah, mengajakku menonton theater beberapa kali, makan malam romantis, dan juga membelikanku barang-barang branded. Well, dia sedang menyogokku, aku tahu itu.

“Mungin satu atau dua bulan.”

“Dan selama itu, apa yang akan kulakukan? Apa aku harus terkurung di penthousemu ini?” tanyaku yang lebih cocok kusebut dengan sebuah sindiran.

Selama ini, jika Damian pergi karena urusan pekerjaan, dia akan menahanku di dalam penthousenya. Dia pernah berkataa, bahwa aku selalu menjadi wanita yang diinginkan oleh kebanyakan pria di New York. Karena itulah dia tak ingin mengambil resiko aku dilirik oleh pria lain. Tapi bagiku, mengurungku di dalam sini selama dia tidak ada sepertinya sangat keterlaluan.

“Sayang, kita sudah pernah membahasnya, bukan?”

“Tapi mengurungku di sini selama satu atau dua bulan terakhir benar-benar tidak masuk akal. Kau boleh pergi, tapi biarkan aku bersenang-senang sebentar.”

“Mou. Kau ingin melawanku?”

“Tidak, aku hanya menuntut sedkit keadilan.” Jawabku tegas sembari bangkit dan mulai memunguti pakaianku.

Tampak Damian menghela napas panjang. “Baiklah, kau boleh keluar, hanya rabu malam.”

“Apa? Kenapa harus rabu malam? Kenapa bukan sabtu atau minggu malam dan sejenisnya?”

“Sabtu atau minggu malam adalah tempat para buaya berkeliaran. Jadi tolong, hormati keinginanku.”

Aku mendesah panjang. “Baiklah, setidaknya aku bisa jalan-jalan sebentar tanpa pengawalanmu.”

“Mou, kau akan tetap pergi bersama dengan Hilton.” Hilton adalah pria sialan yang mengabdikan diri pada Damian. Dia pengawal pribadiku yang selalu setia mengawalku

“Ayolah…” aku merengek.

“Tidak ada bantahan lagi.”

Ya Tuhan! Aku merasa tercekik. “Terserah kau saja.” Pungkasku dengan wajah yang sudah kutekuk sembari bersiap pergi meninggalkannya. Tapi baru berapa langkah, Damian sudahmenarik tubuhku, hingga punggungku menempel pada tubuhnya.

“Aku tahu ini sulit untukmu. Tapi ketahuilah, aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

Aku tersenyum mendegar pernyataan cintanya. Dasar murahan, hanya dengan ucapan itu saja kau sudah luluh?

“Baiklah, jika kau belum juga menerima tawaranku, aku akan melonggarkannya lagi. Hilton akan tetaap ikut, dia akan menunggumu di dalam mobil.”

Jiwaku berteriak kegirangan. Dengan spontan kubalikkan tubuhku, kemudian kukalungkan lenganku pada lehernya. “Benarkah? Jika benar maka kau adalah orang yang paling murah hati yang pernah kutemui.”

Damian tersenyum, dia mencubit hidungku. “Jangan menggodaku lagi. Aku sudah hampir telat.”

Well, kau yang memelukku lebih dulu.”

“Karena kau merajuk.” Jawabnya cepat. Aku tertawa lebar, lalu Damian melepaskan pelukannya. “Jangan lupa, besok jadwalmu bertemu dengan Dokter Anna.”

Oh ya, Damian bahkan selalu ingat kapaan aku harus memasang kontrasepsiku.

“Ya, aku tak aakan lupa.” Jawabku dengan sungguh-sungguh.

“Aku akan sangat merindukanmu, Mou.”

Aku tersenyum. “Aku juga, aku pasti akan sangat merindukanmu…” bisikku dengan suara serak. Damian menundukkan kepalanya, lalu dalam sekejap mata, bibir kami sudah saling bertemu, saling mencumbu mesra….

-TBC-

CErita ini sudah tersedia di Google Playbook dg harga 10rbu…. 🙂

Ugly Wife – Bab 2

Comments 3 Standard

Yeaaayyy aku seneng bgt dehhh karena ada yang nunggu cerita ini. hohoho, so, selamat membaca… muwaaahhhhhhh

 

Bab 2

 

Sore itu, Shafa merasa tubuhnya sangat lelah. Mungkin karena sepanjang hari ramai pengunjung toko bunga miliknya. Shafa duduk di sebuah kursi, dekat dengan salah satu pot besar tanaman palm. Sesekali ia memijit kakinya sendiri, dan hal itu tak luput dari perhatian Leo.

Leo datang menghampiri Shafa, dan bertanya “Ada yang sakit, Mbak?” tanyanya dengan sopan.

Shafa tersenyum dan menggeleng. Padahal, Shafa sudah berkata pada Leo bahwa lelaki itu hanya perlu memanggil nama saja tanpa perlu embel-embel yang lainnnya. Tapi lelaki ini sangat baik hingga ia menolaknya dengan alasan bahwa Shafa adalah bossnya.

“Aku baik-baik saja. Kamu belum pulang?” tanyanya. Padahal, Shafa melihat pegawainya yang lain sudah pulang. Tinggallah ia hanya berdua dengan Leo di tempat tersebut. Dan mungkin beberapa orang yang ada di bagian pembuatan pot.

Toko bunga milik Shafa memang bukan toko bunga biasa. Tempatnya besar, dan sangat luas. Terdapat sebuah rumah kaca kecil di sana, kemudian ada juga sebuah bangunan bersih yang menghadap ke jalan raya. Disana, Shafa biasanya menyambut para pelanggannya dengan berbagai bunga yang kebanyakan sudah dirangkai. Di belakang bangunan itu ada beberapa bangunan lagi, seperti bangunan untuk membuat pot-pot, beberapa kebun kecil, dan yang lainnya.

Shafa dan keluarganya memanglah bukan dari kalangan orang tak punya, mereka hanya hidup sederhana dengan apa yang mereka sukai. Ayah dan ibu Shafa lebih suka berkebun, karena itulah mereka menghabiskan waktu mereka di toko bunga ini. Bahkan, Ayah Shafa sengaja menjual rumahnya untuk memperlebar area toko bunga dan tanaman miliknya ini.

Letak toko bunganya memang bukan ditengah-tengah kota, tapi untuk pelangan, tak perlu diragukan lagi. Toko bunga keluarga Shafa memang sudah memiliki banyak pelangggan sejak dulu. Dan kebanyakan mereka adalah pelanggan setia.

“Belum. Beberapa tanaman palm akan datang sore ini, dan mungkin sedikit telat.”

Shafa mengangguk. Sudah hampir satu bulan Leo bekerja dengannya, dan selama itu, Shafa benar-benar merasa terbantu. Ia memang kekurangan tenaga kerja, apalagi dibagian belakang, untuk mengurus tanaman dan yang lainnya. Dan beruntung ia mendapatkan pegawai seperti Leo.

Seseorang datang saat Shafa dan Leo sedang bercakap-cakap. Seseorang dengan tatapan mata tajamnya. Siapa lagi jika bukan Elang.

Shafa berdiri seketika, ia bahkan megabaikan nyeri di kakinya yang sejak tadi ia rasakan. Baginya saat ini yang terpenting adalah, Elang tidak mengetahui bahwa Leo sedang bekerja dengannya. Shafa tak munafik, Elang memiliki segalanya, lelaki itu bisa melakukan apa saja keinginannya, dan Shafa takut, bahwa salah satunya adalah menyingkirkan Leo dari hadapannya.

“Kenapa dia masih di sini?” tak ada basa-basi, Elang bertanya langsung pada intinya.

Dengan spontan, Shafa menarik Leo ke belakang tubuhnya, hingga ia menghadap suaminya secara langsung. Ada ketakutan dalam diri Shafa, tapi ia tak akan pernah menunjukkan hal itu pada suaminya.

“Dia bekerja denganku.”

“Ohh, bagus sekali. Jadi setelah dipecat dari rumah, kamu memperkerjakan dia?”

“Dia orang baik dan rajin, aku membutuhkan tenaganya.”

Tampak, rahang elang mengetat, tatapannya menajam membuat siapa saja bergidik ngeri ketik melihatnya. Elang amat sangat tidak suka dengan kalimat yang terlontar dari bibir istrinya. Shafa membela lelaki lain di hadapannya dan itu membuat Elang murka.

Tanpa banyak bicara, Elang meraih pergelangan tangan Shafa, menyeretnya keluar dari tempat tersebut dengan kasar.

Leo yang berada di sana tak bisa melihat Shafa diperlakukan seperti itu. ia segera menyusul Shafa dan Elang, kemudian meraih tangan Shafa yang lainnya, membuat Elang menghentikan langkahnya, menatap cekalan tangan Leo lalu menatap lelaki itu dengan mata marahnya.

“Berani kamu menyentuhnya?” desisnya tajam.

“Anda sudah bersikap sangat kasar, Tuan.”

Tanpa banyak bicara, Elang segera melepaskan cekalannya pada tangan Shafa kemudian mendaratkan pukulan kerasnya pada Leo hingga lelaki itu tersungkur ke tanah.

“Elang!” Shafa berteriak histeris ketika melihat kejadian tersebut.

Beberapa pegawai Shafa yang masih di gudang belakang akhirnya keluar. Melihat kejadian tersebut membuat mereka maju, tapi dengan spontan Shafa menghadangnya karena tak ingin mereka berakhir memukuli suaminya.

“Bu, ada apa?” tanya salah satunya.

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia akan membuka suaranya, tapi Elang seakan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Secepat kilat dia kembali menyeret Shafa, menuju ke arah mobilnya, memaksa Shafa masuk dan dirinya juga ikut masuk sembari meninggalkan tatapan mata membunuhnya ke arah para pegawai Shafa.

Tanpa banyak bicara, Elang menginjak pedal gasnya, mobilnya melaju cepat meninggalkan area toko bunga milik Shafa.

***

“Bedebah!” Shafa tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Elang tidak berhenti mengumpat kasar di dalam mobilnya. Padahal seharusnya, disini dialah yang marah. Elang dengan seenaknya menyeret Shafa, memukuli Leo yang jelas-jelas tidak memiliki kesalahan apapun.

Meski begitu, Shafa hanya diam. Ia tidak tahu apa yang sedang ingin dilakukan Elang. Mungkin lelaki itu memiliki masalah di kantornya dan berakhir dengan melampiaskan kemarahan padanya. Ya, bukankah selama ini memang seperti itu?

Tanpa diduga, tiba-tiba saja Elang menghentikan mobilnya, membuat Shafa terkejut dengan apa yang telah dilakukan suaminya itu.

“Katakan padaku. Apa yang sudah kamu lakukan sama dia?” desisnya tajam.

“Aku masih tidak mengerti arah dari pembicaraanmu?”

“Oh, apa kurang jelas? Sudah berapa jauh hubungan kalian? Ciuman? Bercinta?”

“Jangan samakan aku dengan kamu. Meski pernikahan kita hanya sebuah ikatan tanpa perasaan apapun, tapi aku tetap menjaga kesetiaanku dengan orang yang menjadi suamiku.”

“Setia katamu? Begitukah bentuk kesetiaanmu pada suamimu? Berduaan dengan pria yang jelas-jelas sudah dipecat dan di usir dari rumah suamimu?”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengamu. Kenapa kamu jadi mengurus hal sepele ini?”

“Brengsek!” Elang mengumpat kasar. Ia marah karena sadar bahwa apa yang dipertanyakan Shafa memang benar. Kenapa dia jadi peduli dengan wanita cacat ini? “Cepat atau lambat, aku akan membuat toko bungamu ditutup.”

“Elang…”

“Aku nggak butuh rengekanmu.” Setelahnya, Elang kembali menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya kembali. Sedangkan Shafa, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Elang memiliki segalanya, Shafa tahu bahwa ketika Elang menginginkan sesuatu, maka pria itu dapat dengan mudah mendapatkannya, termasuk membuat toko bunganya tutup selamanya.

***

Sampai di rumah, Elang masih menekuk wajahnya. Ia keluar dari dalam mobilnya dan berjalan begitu saja meninggalkan Shafa. Shafa hanya menatap kepergian suaminya itu penuh tanya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan lelaki itu?

Shafa mengabaikan pertanyaannya, ia keluar dari dalam mobil, dan menyusul Elang masuk ke dalam rumah, tapi baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya saat mendapati seorang gadis muda menghambur memeluk suaminya.

Shafa hanya ternganga melihat pemandangan itu. memang, bukan sekali ini saja ia melihat kedekatan Elang dengan wanita lain. Sudah beberapa kali. Bahkan suaminya itu mengenalkan dirinya dengan kekasihnya sejak hari pertama mereka menikah. Keterlaluan bukan?

Belum lagi kenyataan bahwa setiap kali pesta, Elang selalu pergi sendiri, berkata padanya dengan kalimat menyakitkan, bahwa ia tidak mungkin membawa Shafa ikut serta pesta bersamanya dengan keadaannya yang memiliki kekurangan.

Shafa juga cukup tahu diri, ia juga tidak ingin bergaul dengan teman-teman maupun keluarga Elang yang lain. Ibaratnya, mereka memiliki dunia yang berbeda. Shafa hanya tidak ingin berakhir di hina oleh salah satunya.

Selama ini, Shafa merasa baik-baik saja dengan hal itu, hubungannya dengan Elang yang seakan memiliki dinding pembatas. Elang enggan menariknya lebih jauh ke dunia lelaki itu, dan Shafa juga enggan masuk ke dalamnya. Semuanya baik-baik saja ketika mereka hanya melakukan kewajiban masing-masing tanpa ikut campur urusan pribadi masing-masig. Tapi kini, kenapa Elang mencampuri urusan pribadinya? Shafa hanya merasa bahwa semua itu tak adil untuknya.

Mengabaikan hal itu, Shafa kembali melangkahkan kakinya, menuju ke dalam rumah. Mau tidak mau ia melewati Elang dengan gadis muda yang masih setia memeluk suaminya tersebut.

Saat melihat kedatangan Shafa, gadis itu lantas segera melepaskan pelukannya pada Elang. Menatap Shafa dengan tatapan menilai. Mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki Shafa.

Biasanya, jika yang melakukan itu adalah orang-orang terdekat Elang, seperti keluarga atau teman lelaki itu, Shafa harus mempersiapkan diri dengan ucapan sinis yang akan keluar dari bibir orang tersebut. Seperti, bahwa Shafa harus bersyukur karena sudah memiliki suami sempurna seperti Elang, yang dalam arti lain adalah bahwa Elang cukup sial karena sudah menikahinya. Biasanya juga, Shafa hanya tersenyum dan mengabaikannya. Toh, yang membuatnya cacat seperti ini adalah Elang, bukan? Jadi seharusnya, mereka berdua sama-sama impas, kan?

Shafa mencoba mengabaikan tatapan mata itu. Ia memilih tersenyum, mengangguk dan terus berjalan masuk ke dalam rumah. Saat ini, Shafa berada pada titik tak ingin mendengar komentar ataupun penghinaan untuk dirinya.

“Dia, Istri Kakak?” disisi lain, gadis itu bertanya pada Elang.

“Lupakan saja.” Elang menjawab enggan.

“Kok gitu. Kak El lagi marahan, ya?”

Elang memutar bola matanya jengah. “Jadi kamu pulang hanya untuk mengurus masalah kakak?” tanyanya dengan nada jengkel.

Gadis itu malah tertawa lebar. “Ternyata Kak El masih kayak dulu ya. Suka marah-marah. Awas cepat tua loh… Nanti kalau tua ditinggalin sama istrinya.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, gadis itu berlari masuk ke dalam rumah. Sedangkan Elang hanya bisa menyerukan nama gadis itu dengan nada kesal.

***

Setelah membersihkan diri, Shafa mengganti pakaiannya, lalu duduk di pinggiran ranjang. Sesekali ia memijit kakinya yang kembali terasa nyeri. Mungkin ia memang sedikit kelelahan, mungkin juga karena Elang yang tadi menyeretnya dengan kasar. Shafa tidak tahu, ia hanya merasa pegal hari ini.

Mencoba mengabaikan rasa pegalnya, Shafa bangkit, ia akan keluar dari dalam kamarnya dan menyambangi tanamannya yang ia tanam di kebun kecil tepat di samping rumah Elang. Memang, saat di rumah, hanya dengan tanaman-tanaman itulah Safa merasa lebih baik.

Dulu, saat pertama kali pindah ke rumah Elang dengan status seorang istri dan menantu di rumah ini, Shafa merasa tidak kerasan. Pertama, tentu karena perlakuan kurang bersahabat yang ia dapatkan dari keluarga Elang dan Elang sendiri, sisanya, karena Shafa tidak terbiasa jauh dari tanaman-tanamannya.

Karena itulah, saat Shafa melihat kebun kecil yang tak terawat di samping rumah Elang, di dekat area kola renang, Shafa berinisiatif membawa tanaman-tanaman bunga kesukaannya satu persatu ke sana.

Kini, kebun kecil itu menjadi tempat paling favorite di rumah ini untuk Shafa. Ya, hanya di kebun kecil itu Shafa bisa merasakan kebahagiaan di rumah ini.

Ketika Shafa membuka pintu kamarnya, pada saat bersamaan Elang masuk, hingga dengan spontan wajah Shafa membentur dada bidang suaminya tersebut.

Postur tinggi Elang mau tidak mau membuat Shafa mendongkakkan wajahnya, mendapati wajah Elang sedang menunduk menatapnya dengan begitu dekat. Secara sponta, Shafa kembali menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang tiba-tiba saja menyembul keluar tanpa tahu malu hanya karena tatapan mata dari Elang.

“Mau kemana?” Elang bertanya dengan nada dingin. Seperti biasa.

“Melihat tanamanku.”

“Berpikir untuk mencuri hati adikku?”

Shafa mengangkat wajahnya seketika menatap Elang penuh tanya. “Aku tidak mengerti apa maksud kamu.”

“Lagi-lagi kamu berpura-pura polos. Kamu pikir aku lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Ibuku?”

“Aku nggak ngerti.”

Elang melangkah mendekat, sedangkan Shafa dengan spontan ia mundur.

“Sikapmu yang sok baik, sok polos, sok ramah, seperti malaikat itu membuatku muak.” Elang mendekat lagi, sedangkan Shafa masih mundur karena terintimidasi dengan ulah suaminya.

“Aku selalu bersikap seperti itu pada siapapun, dan itu bukan suatu kepura-puraan.”

Elang tersenyum menyeringai. “Itu senjatamu untuk membuat banyak orang tertarik. Tapi tidak denganku.”

“Aku tidak bermaksud membuat orang tertarik denganku.”

“Kalau begitu berhenti bersikap sok polos dan sok ramah.”

“Kamu tidak bisa melarang orang bersikap baik. Sikapku sudah seperti ini sejak dulu, jadi bukan kapasitasmu untuk merubahku.”

Tampak sebuah kemarahan di mata Elang. Shafa tidak tahu kenapa Elang tampak sangat marah padanya. Apa ia salah? Shafa tidak merasa bersalah sama sekali, karena itulah Shafa mencoba memasang wajah tak gentar di hadapan suaminya tersebut.

Lalu, tanpa diduga, dengan gerakan secepat kilat, Elang sudah menangkup kedua pipi Shafa, mengangkat ke arahnya, kemudian menyambar bibir ranum Shafa yang entah kenapa sejak tadi sudah menggodanya.

Shafa terkejut, matanya membulat seketika, meski begitu ia belum sempat menghindar dari Elang. Ketika Elang mencumbu habis bibirnya, yang bisa Shafa lakukan hanya meronta.

Bukannya Shafa menolak, tidak. Meski ia belum memiliki perasaan apapun dengan Elang, tapi sebisa mungkin Shafa memposisikan dirinya sebagai istri lelaki itu. Shafa selalu memenuhi kebutuhan biologis suaminya, tidak pernah menolaknya, meski mereka melakukan hal tersebut tanpa cinta. Tapi saat ini, Shafa hanya ingin bahwa Elang melakukannya dengan baik, bukan dengan kasar seperti ini. Hal itu membuat Shafa tidak suka.

Sekuat tenaga Shafa meronta, mendorong-dorong tubuh suaminya yang lebih tinggi dan lebih besar dari tubuhnya. Hingga kemudian tautan bibir mereka terlepas. Napas keduanya memburu. Shafa mengusap bibirnya bekas dari cumbuan panas Elang, sedangkan Elang, ia menatap Shafa masih dengan tatapan marahnya.

“Kamu menatapku seolah-olah apa yang kulakukan adalah hal yang menjijikkan.” desis Elang dengan marah.

“Kamu melakukannya dengan kasar dan tanpa permisi.”

“Oh, apa kamu cukup pantas kuperlakukan dengan sopan?”

Shafa kesal dengan pertanyaan tersebut. Tak ada gunanya lagi ia beradu argumen dengan Elang. Sembari bersiap pergi, Shafa berkata “Sepertinya, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”

Baru beberapa langkah ia melewati Elang, dan lelaki itu segera menyambar pergelangan tangannya, menariknya, kemudian berkata “Kita belum selesai, aku sedang menginginkan hakku.” Setelah ucapannya yang penuh penekanan tersebut, Elang kembali mencumbu paksa bibir Shafa, melumatnya dengan panas, mencecap rasanya dengan penuh paksaan. Rasa marah dan gairah sedang bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Elang, dan ketika hal itu terjadi, maka tak ada penolakan yang bisa diterima oleh lelaki itu.

-TBC-

Ugly Wife – Bab 1

Comments 5 Standard

 

Bab 1

 

Setelah membereskan meja makan, Shafa menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. hari ini akan menjadi hari yang melelahkan karena akan ada beberapa tanaman baru yang datang ke tempat kerjanya. Mungkin ia akan pulang sore, atau mungkin ia tidak akan pulang. Shafa merasa senang jika kenyataan terakhir itu yang terjadi. Setidaknya, ia tidak akan bertatap muka dengan suaminya yang selalu menatapnya dengan tatapan jijik dan merendahkan.

Tiga bulan lamanya ia sudah menikah dengan lelaki yang mendatanginya siang itu di toko bunga miliknya. Lelaki yang bernama Elang Abraham. Lelaki yang ia ketahui sebagai seorang yang sudah menghancurkan hidup dan mimpinya.

Ya, ternyata lelaki itu adalah lelaki yang dulu menabraknya. Membuat kakinya cacat, ibunya meninggal ditempat, dan membuatnya kehilangan semuanya. Awalnya, Shafa tak ingin lagi berurusan dengan lelaki itu setelah lelaki itu menceritakan semuanya siang itu juga, tapi Shafa tak bisa berbuat banyak, ia sudah terikat dengan lelaki itu. Mereka sudah dinikahkan saat itu untuk membuat lelaki itu bertanggung jawab atas ulahnya. Istilahnya, mereka sudah kawin gantung selama bertahun-tahun yang lalu.

Saat itu, Shafa masih berusia Tujuh tahun, sedangkan Elang baru berusia Lima belas tahun. Di usianya yang ke lima belas, Elang mendapatkan hadiah mobil dari orang tuanya. Mobil yang seharusnya hanya digunakan untuk mengantar jemput Elang saat sekolah, bukan untuk digunakan lelaki itu. Tapi Elang saat itu adalah pemuda nakal seperti kebanyakan pemuda lainnya, ingin mencoba sesuatu yang baru. Hingga suatu hari, ia memaksa supirnya untuk mengajarinya mengemudikan mobil.

Tragisnya, Elang menabrak dua orang pejalan kaki di atas trotoar. Seorang meninggal ditempat, dan yang satunya kritis. Itu adalah Shafa dan ibunya. Elang tidak bisa dihukum karena masih dibawah umur, sedangkan Ayah Shafa menuntutnya untuk bertanggung jawab. Apalagi saat tahu bahwa Shafa tak akan kembali seperti dulu lagi. Istrinya meninggal sedangkan anaknya akan cacat seumur hidup. Saat itulah ayah Shafa menuntut Elang dan keluarganya untuk bertanggung jawab. Dan tanggung jawab yang setimpal adalah menikahi Shafa.

Mereka dikawin gantung saat itu juga, membuat masalah tersebut selesai dengan cara kekeluargaan. Tapi Ayah Shafa tak tahu, bahwa menikahkan mereka merupakan sebuah masalah baru untuk Shafa kedepannya. Ia tidak suka dijodohkan, ia tidak suka dilihat sebagai orang yang memaksa untuk dinikahi. Apalagi dengan lelaki seperti Elang, lelaki dingin arogan dan tak berpesaraan.

Meski begitu, Shafa mencoba mengendalikan dirinya, menekan perasaannya, mengendalikan egonya, ketika ia mengingat bagaimana janji terakhirnya dengan Sang Ayah sebelum ayahnya meninggal dua tahun yang lalu.

“Dia akan datang untukmu. Kamu akan bahagia dengannya.”

“Aku nggak tahu apa maksud Ayah.” Shafa tidak mengerti, dan ia tak mau mengerti, karena saat ini yang paling ia pikirkan adalah kondisi ayahnya yang semakin memburuk.

“Berjanjilah dengan Ayah, bahwa kamu akan memenangkan hatinya. Jangan lepaskan dia. Jangan membuatnya menjadi mudah untuknya. Dia sudah menghancurkan hidup dan mimpimu, jadi kamu berhak memiliki seluruh hidupnya sebagai imbal baliknya.”

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia masih tak mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

“Jangan lepaskan dia, Shafa. Jangan lepaskan dia…”

 

Kini, Shafa tahu apa maksud dari ayahnya. Ayahnya hanya tak mau bahwa Elang dan keluarganya bisa cuci tangan begitu saja. Melenggang pergi setelah menghancurkan hidup mereka. Ayahnya ingin, Elang hidup dengan rasa bersalahnya setiap hari, karena itulah ayahnya meminta Shafa untuk tidak menyerah.

Dan sekarang, baru tiga bulan lamanya mereka mengesahkan pernikahan mereka, tapi Shafa sudah hampir tak sanggup dengan perlakuan suami dan keluarganya. Ia diperlakukan seperti sampah, seperti orang yang menjijikkan. Apa mereka tidak ingat bahwa semua ini karena ulah mereka?

Setelah membereskan bekalnya, dengan langkah tertatih seperti biasanya, Shafa meninggalkan area dapur. Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan dapurnya, sosok yang ada dalam kepalanya tersebut rupanya sudah berdiri di hadapannya. Jika Shafa tidak fokus dengan langkahnya, ia mungkin sudah menabrak lelaki itu.

Shafa menghentikan langkahnya kemudian wajahnya mendongak menatap lelaki yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

“Ikut aku.” Ucapnya sembari menyambar pergelangan tangan Shafa kemudian menyeretnya menuju ke sebuah ruangan. Shafa hanya bisa pasrah, lelaki ini memang sasngat suka berbuat sesuka hatinya.

Sampai di dalam ruangan tersebut, cekalan tersebut dihempaskan degan begitu kasar. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan marahnya. Menyisingkan kemejanya yang masih rapih hingga sesikunya.

“Jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengan supir sialan itu?”

Shafa ternganga dengan apa yang dipertanyakan oleh suaminya tersebut.

Leo, adalah supir pribadi yang disiapkan oleh Elang untuk dirinya. Shafa tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu, tapi Shafa tak pernah melihat Leo sebagai bawahannya atau hanya sekedar sebagai supirnya. Ia memperlakukan Leo sebagai orang yang setara dengannya. sebagai seorag teman. Jika ia ingin menikmati secangkir kopi di starbuck, maka ia akan mengajak Leo atau pegawai tokonya untuk menemaninya. Dan kini, kenapa Elang mempertanyakan hal itu padanya?

“Aku nggak tahu apa maksud kamu?”

“Kamu memiliki hubungan yang special dengan dia, kan? Kamu pikir aku nggak tau?”

“Kenapa kamu menuduhku seperti itu?”

“Karena aku sudah mengawasi apapun yang sudah kamu lakukan di dalam maupun di luar rumah ini.”

“Kami hanya berteman, dan mengawasi apapun yang kulakukan, bukankah itu berlebihan?”

“Oh benarkan? Apa itu juga yang terjadi antara kamu dengan para pelanggan tokomu yang pria? Atau dengan para pegawai tokomu yang pria? Kalian berteman? Seberapa jauh?”

“Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud. Para pegawaiku bekerja secara profesional, dan aku hanya menjual apa yang diinginkan para pelangganku.”

“Seperti menjual kesenangan? Berapa mereka membayarmu?”

Mata Shafa berkaca-kaca seketika dengan tuduhan tersebut. Sebenarnya, Shafa sangat bingung dengan reaksi Elang. Selama ini, Elang tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini terhadapnya. Lelaki itu dingin dan datar-datar saja tanpa ingin tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tapi pagi ini, kenapa sikap lelaki ini berubah seratus delapan puluh derajat?

“Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu? Bukankah selama ini kita baik-baik saja tanpa mengurusi urusan pribadi masing-masing?” tanya Shafa kemudian. Ia masih bingung dengan sikap Elang pada pagi ini.

Hubungannya dengan Elang selama tiga bulan terakhir memang jauh dari kata baik. Elang memang sering menyentuhnya, lebih tepatnya, lelaki itu meminta haknya sebagai seorang suami untuk dipuaskan. Tapi hanya itu, diluar dari itu semua, hubungannya dengan Shafa jauh dari kata baik.

Mereka tidak akan saling bicara jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tidak saling menyapa, bahkan menurut Shafa, mungkin Elang tak pernah mempedulikan tentangnya. Jadi saat Elang berkata bahwa lelaki itu mengawasinya dari jauh, maka Shafa merasa terkejut, tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. selama ini Elang hanya cuek-cuek saja terhadapnya, dan kenapa sekarang Elang seperti orang yang sedang…. Cemburu?

Tidak mungkin. Pikirnya.

Elang mendekat, menghimpit tubuh Shafa diantara dinding terdekat. “Aku hanya tidak suka berbagi dengan orang lain. Kalau aku sudah memilih tidur denganmu, maka aku tidak akan membiarkan orang lain menidurimu.”

“Apa? Aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain.”

“Belum. Kita tidak tahu nanti.”

“Aku bukan perempuan seperti itu.” Ya, Elang tahu. Ia bahkan merasakan bahwa Shafa masih perawan ketika ia menyentuh wanita itu untuk pertama kalinya. Tapi sikap Shafa yang ramah dan membuat siapa saja terpesona, membuat Elang tidak suka. Elang benci kenyataan bahwa Shafa terlihat menarik bagi siapa saja dengan sikap ramah yang ditampilkan wanita itu.

Itu hanya akting.

Elang selalu memarahi dirinya sendiri ketika dirinya mulai terpesona dengan sikap ramah yang ditampilkan Shafa di hadapannya.

Elang melangkah mendekat, dengan penuh penekanan dia berkata “Aku nggak peduli. Leo akan dipecat, dan toko bungamu, cepat atau lambat aku akan membuatnya tutup.”

Setelah ucapannya tersebut, Elang pergi begitu saja, sedangkan Shafa, ia hanya ternganga dengan apa yang baru saj diucapkan oleh suaminya tersebut. Apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba Elang jadi ikut campur dengan semua urusan pribadinya? Dan menutup toko bunganya? Siapa dia? toko bunga itu adalah satu-satunya hal yang ditinggakan oleh kedua orang tuanya, bagaimana mungkin Shafa rela menutupnya?

***

Elang benar-benar melakukan apa yang dia katakan pada Shafa kemarin. Dan Shafa masih tidak menyanga bahwa lelaki itu akan bersikap searogan itu. Memberhintikan seorang dari pekerjaannya hanya karena sebuah kecurigaan yang tak masuk akal.

“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Elang akan benar-benar memecatmu.” Ucap Shafa pada Leo. Saat ini keduanya sedang berada di dalam toko bunga milik Shafa, menikmati kopi mereka. Siang itu suasana toko cukup sepi. Shafa terkejut ketika mendapati Leo mendatanginya. Karena tadi pagi supirnya ini sudah tidak ada di rumahnya. Bahkan menuju ke tokonya saja, Shafa harus naik taksi.

“Saya juga bingung, kenapa tuan tiba-tiba memecat saya.”

Shafa merasa kasihan dengan Leo. Ia tahu bagaimana susahnya lelaki itu. Selama bekerja di tempatnya, hubungan mereka memang cukup dekat. Shafa selalu menganggap Leo sebagai temannya. Karena selama ini, Leolah yang menemaninya kemana-mana. Sesekali lelaki itu bercerita tentang keluarganya. Mereka hidup kesusahan, jadi Shafa merasa kasihan jika tiba-tiba Leo diputus kerja secara sepihak oleh Elang.

“Begini saja, aku kan juga butuh tenaga kerja di toko ini, dibagian taman belakang. Kamu bisa kerja sama aku.” Usul Shafa.

Memang, jika menyangkut pekerjaan di rumah, Elang dan keluarganya berkuasa untuk memecat siapa saja. Tapi ini adalah toko bunga miliknya, tak akan ada yang bisa memecat siapapun dari sini kecuali dirinya sendiri.

“Mbak Shafa yakin? Saya takut nanti Tuan tahu terus marah.”

“Ini bukan lagi urusan Elang. Kamu kan kerja sama saya, bukan sama dia.”

“Tapi kalau Tuan tahu nanti….”

“Yang penting, kamu mau apa tidak kerja sama saya di sini?” tanya Shafa lagi. Ia tidak ingin memaksa, ia hanya mau membantu sebisa yang ia lakukan.

Leo tampak berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk setuju. “Saya mau.” Shafa tersenyum senang. Ia tahu bahwa Leo adalah orang baik, dan ia akan mempertahankan orang-orang baik untuk bekerja dengan dirinya.

***

Di lain tempat…..

“Brengsek! Berani-beraninya wanita itu.” Elang mengumpat kasar setelah ia menerima telepon dari seorang pesuruhnya yang ia bayar untuk  mengawasi Shafa, istrinya.

Elang sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sebenarnya, Elang cukup muak dengan sikap sok ramah yang ditampilkan Shafa pada semua orang. Hal itu membuat Shafa seolah-olah bagaikan malaikat. Sedangkan ia menjadi iblisnya. Elang tak suka.

Kenyataan bahwa perempuan itu mampu memikat hati siapa saja yang dikenalnya membuat Elang kesal.

Contohnya saja, dulu, pertama kali ia membawa Shafa pulang ke rumahnya, Ibunya amat sangat tidak suka dengan sosok Shafa. Pertama, karena bagi ibunya, Shafa dan keluarganya adalah tipe orang yang suka memanfaatkan keadaan. Memang benar bahwa Elang bersalah karena sudah menabrak Shafa dan ibu wanita itu. Membuat Shafa kehilangan ibunya dan wanita itu cacat seumur hidupnya. Tapi bagi ibu Elang, tak seharunya puteranya dipaksa bertanggung jawab untuk menikahi wanita cacat itu. Itulah yang membuat Ibu Elang sempat membenci kehadiran Shafa. Tapi kini, ibunya itu malah sesekali membela Shafa.

Elang berpikir, mungkin ini semua karena sikap ramah yang selalu ditampilkan Shafa meski wanita itu sedang diinjak-injak. Tak memungkiri juga, beberapa kali Elang merasa bahwa dirinya terjerat dalam pesona istrinya tersebut, tapi secepat kilat Elang mencoba mengendalikan dirinya.

Shafa hanya akting, tak ada perempuan sebaik dan seramah itu apalagi saat perempuan itu diperlakukan sebagai seorang rendahan. Pikir Elang.

Elang mendengus sebal. Ia tidak akan termakan oleh akting perempuan itu. Bagaimanapun juga, perempuan itu sudah menghancurkan dirinya dengan cara memaksa dirinya menikahi perempuan itu. Sangat wajar jika kini dirinya merasa sangan membenci sosok Shafa, bukan?

Ketika Elang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang. Wanita cantik dan seksi itu masuk dan segera menghambur ke arahnya, mengecup sisi kanan dan kiri pipi Elang. Seketika itu juga suasana hati Elang berubah. Yang tadinya dia ingin marah-marah karena memikirkan istrinya, kini berubah seketika, membara dengan kehadiran kekasih hatinya.

Namanya Salsabilah. Salsa sendiri awalnya hanya partner kerja Elang. Karena mereka sering bertemu dan saling menghabiskan waktu bersama karena pekerjaan, akhirnya benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Mereka sudah cukup lama menjalin kasih, bahkan sejak sebelum Elang menikahi Shafa secara sah.

Meski Salsa tahu bahwa Elang kini sudah meiliki istri, nyatanya hal itu tak menyurutkan niatnya untuk memiliki hati lelaki di hadapannya itu sepenuhnya. Salsa cukup tahu bagaimana ceritanya hingga Elang harus menikahi perempuan cacat itu.

“Sepertinya kamu sedang bad mood.” Salsa berkomentar masih dengan mengalungkan lengannya pada leher Elang.

“Ya. Sedikit.”

“Mau kuobati?” tawarnya.

Elang tersenyum, ia tahu apa maksud dariucapan kekasinya ini. “Dimana?” tanyanya secara langsung tanpa basa-basi.

Jemari Salsa menggoda dada Elang, “Kamu maunya dimana? Di sini, atau kita cari hotel terdekat sambil makan siang bareng?”

“Hotel saja.” Dan akhirnya, keduanya kembali bercumbu mesra sebelum keluar dari ruang kerja Elang.

-TBC-

Ugly Wife – Prolog

Comment 1 Standard

 

Tittle : Ugly Wife

Penulis : Zenny Arieffka

Semoga kalian suka yaaa…. hahahahhaahaha

 

 

Prolog

 

Shafa mengangkat wajahnya ketika mendapati seorang lelaki masuk ke dalam toko bunga miliknya. Dengan ramah ia menyapa lelaki tersebut. Bertanya apa yang diinginkan lelaki itu.

Mendekati hari valentine seperti ini, memang akan banyak sekali pelanggan laki-laki datang ke tokonya. Biasanya mereka akan mencarikan bunga untuk kekasih atau istrinya. Sangat bahagia sekali jika Shafa menjadi salah satunya. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi mimpinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah.

Lelaki itu tampak sangat tampan. Rapih dengan kemeja yang melekat pas di tubuhnya. Sangat modis dengan rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Lelaki ini bukan lelaki biasa, bahkan Shafa bisa melihat mobil mewahnya terparkir tepat di depan toko bunganya.

“Shafa Amanda?” tanyanya.

Suaranya terdengar berat, sikapnya begitu mengintimidasi. Tapi Shafa mencoba untuk tak terpengaruh. Ia sering sekali bertemu dengan banyak orang. Meski kebanyakan tak seperti lelaki ini. tapi Shafa mencoba tetap percaya diri ditengah kekuarangan yang ia miliki.

Tapi Shafa baru sadar jika lelaki ini mengetahui nama lengkapnya. Dari mana?

Shafa mengerutkan keningnya kemudian dia menjawab “Ya, saya.”

Lelaki itu tampak mengamati Shafa. Menatap diri Shafa dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kemudian matanya berhenti pada kaki kiri Shafa. Di pergelangan kakinya masih tampak bekas jahitan di masa lalu. Luka itu tak akan pernah hilang, bahkan efeknya berbekas hingga saat ini. Shafa tak akan bisa berjalan dengan normal lagi. Meski begitu, hal itu tak akan mengurangi rasa percaya diri wanita itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Shafa lagi karena lelaki itu hanya fokus melihat pada bekas jahitan di kaki kiri Shafa, membuat Shafa tak nyaman dengan tatapan mata lelaki itu.

“Tutup toko kamu dan mari ikut saya.”

“Apa? Kenapa?” Shafa bingung. Memangnya siapa lelaki ini? kenapa lelaki ini memerintahnya dengan suka-suka hatinya?

“Ikut saja.”

“Tidak. Maaf, saya tidak akan kemanapun apalagi dengan orang yang tidak saya kenal.”

“Begitukah? Kamu tidak lihat ini.” lelaki itu mengeluarkan sebuah kalung putih dari sakunya. Tapi yang membuat Shafa terkejut adalah bandul dari kalung tersebut. Itu sebuah cincin yang sangat mirip dengan cincin yang menjadi bandul kalung yang ia kenakan. Dengan spontan Shafa memegang kalungnya sendiri. bagaimana mungkin? bagaimana bisa? Apakah lelaki ini adalah lelaki yang dikatakan mendiang ayahnya?

“Sekarang, ikut saya, kita akan membahas rencana pernikahan kita.” Ucapnya dengan dingin dan datar.

Pernikahan? Ya Tuhan, jadi apa yang dikatakan ayahnya dulu adalah kenyataan? Bahwa nanti saat ia dewasa, akan ada seorang pria yang datang padanya dengan membawa cincin itu untuk menikahinya secara sah? Shafa masih tak percaya. Benarkah ini sebuah kenyataan? Benarkah ia akan menikah dengan lelaki di hadapannya tesebut?

-TBC-

My Everything (Novel Online) – Epilog

Comments 8 Standard

mecover1My Everything

#Epilog

 

 

Tiga bulan kemudian…
Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk dan Rambut yang masih basah, Shasha pasti akan mengomel jika melihatku saat ini karena aku sudah membasahi karpet Hello kittynya dengan rambut basahku. Hahha biarlah… aku sangat suka saat melihatnya mengomel.
Tiga bulan pernikahan kami benar-benar sangat membahagiakan, jika tau menikah akan seperti ini aku akan Menikah sejak dulu. Bagaimana tidak, Setiap saat Shasha selalu menghubungiku, menanyakan keadaanku, setiap pagi selalu mebantuku menyiapkan diri keekantor, setiap sore selalu menyambutku, dan Setiap malam selalu bercumbu mesrah layaknya pasangan muda yang di buai asmara –Walau tak setiap malam berakhir dengan bercinta-.
Kehidupanku benar-benar sangat berubah 180 derajat. Jika dulu dalam pikiranku hanya main, bercinta, main, dan Bercinta, maka kini dalam otakku hanya Kerja dan pulang menemui istri cantikku. Beginikah yang dirasakan Dhanni dan Renno..?? Ahhh sialan..!!! Mau tak mau aku harus mengakui jika aku saat ini sama Bodoh dan lembeknya dengan Mereka.
Mengingat nama Renno, aku jadi teringat tentang kejadian beberapa saat yang lalu. Ketika aku dan Shasha mengabarkan kehamilannya untuk pertama kali. Ekspresi Renno saat itu benar-benar sangat lucu, dia menatapku dengan tatapan ‘Sialan..!!! Gue Kecolongan’ dan aku benar-benar tak dapat menahan tawaku saat itu. Hubungan kami semaakin membaik, meski tak ada rasa canggung atau hormat sebagai Saudara, Aku suka itu. Renno sudah sepenuhnya percaya padaku, percaya jika aku benar-benar mencintai adiknya.
Zoya..? tak ada kabar lagi darinya, dan akupun tak mau lagi mendengar kabar darinya atau dari wanita lain mantan kekasihku dulu. Shasha saat ini menjadi wanita pencemburu dan sedikit Rewel, aku tau itu karena kehamilannya, makanya aku tak mau mengambil Resiko dia ngambek karena mengetahui aku masih berhubungan dengan wanita lain.
Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, sejak setahun yang lalu, Aku sudah berhenti menjadi Fotografer, tapi tentu saja aku masih sering membawa kamera meski itu hanya untuk Memotret Shasha yang masih tidur pulas atau memotret kemesraan kami untuk koleksi pribadi.
Perubahan sekarang juga terjadi pada Kamarku. Kamar yang saat ini kutinggali adalah kamarku di rumah Mama, yaa.. aku tinggal di rumah Mama. Keseluruhan warnanya menjadi warna Pink, mulai dari karpet, selimut, Sarung bantal, BedCover, hingga Gorden semuanya berwarna Pink. Aku tak bisa menolaknya karena entah kenapa jika Shasha yang meminta maka aku hanya akan mengangguk dan Takhluk dengan permohonannya. Sial..!!
Masalah Masakan.. Dia masih belum bisa memasak. Masakannya masih aneh. Tapi mama dengan sabar mau mengajarinya untuk memasak, dan aku tau suatu saat nanti dia akan menjadi Istri dan ibu yang sempurna untukku dan anak kami.
Aku meelihat pintu kamar kami di buka menampilkan sossok cantik dengan perut besarnya masuk membawa beberapa barang dari luar.
“Heii apa yang kamu lakukan..? kenapa nggak minta baantuan aku.?” Kataku menghampirinya sambil membawa barang tersebut.
“Kamu saja belum pakek baju Mas, mau bantuin dari mana..? dan ya tuhan… ini sudah jam delapan, kita akan telat nanti.” Dia mulai mengomel.
Saat dia hendak meninggalkanku, aku memeluknya dari belakang. “Kita nggak usah ikut yaa… dirumah saja.”
Dia melepas paksa pelukanku lalu menghadap kearahku. “Kita harus tetap ikut, aku mau piknik Mas.. Sumpek di rumah terus.”
“Tapi aku kasihan sama dia.” Kataku sambil mengusap perut buncitnya.
“Ini permintaan dia, pokoknya kita harus ikut Piknik, titik.” Katanya dengan bibir mengerucut.
Dan aku tak bisa menahannya lagi. Kusambar bibir itu, melumatnya hingga dia terengah-engah. Masalah gairah, jangan ditanya lagi. Kami akan selalu bergairah jika hanya berduaan meski lagi-lagi tak berakhir dengan bercinta. Sial..!!! namun kali ini sepertinya berbeda. Aku menginginkannya saat ini juga, dan dia tak boleh menolak.
Kulepaskan pangutanku dan berbisik di telinganya. “Aku ingin kamu menaikiku saat ini juga.” Dia terlihat sangat terkejut dengan ucapan sensualku, tapi sebelum dia berbicara dengan cerewet lagi aku kembali memangut bibir Seksinya, mencumbunya hingga dia tak mampu menolak permintaanku tersebut.
***
Siang ini kami berada di sebuah taman yang rindang dengan banyak pepohonan dan juga lengkap dengan Danau buatanya. Sejuk dan sangat sejuk. Apa lagi ditemani dengan orang-orang yang kita sayangi.
Disebelah kiri aku melihat Dhanni yang sedang sibuk bermain Bola dengan Jagoan pertamanya, Brandon Revaldi, sedangkan istrinya Nessa, sedang asying menggendong Jagoan kedua Mereka Aaron Revaldi.
Didepaanku, Di jalan setapak dekat Danau, aku melihat Renno sedang mengajari Jagoannya Reynald Handoyo untuk berlari-lari kecil. Reynald Memang sudah bisa berjalan tapi masih sedikit tertatih-tatih. Sedangkan Allea istrinya sibuk menyiapkan makan siang kami. Yaaa… Allea memang bisa diandalkan, dia pandai memasak.
Sedangkan aku sendiri, Ya tuhan… saat ini aku sudah menjadi seorang budak karena sedang memijat betis istriku yang berperut buncit. Dia berdalih, katanya Aktifitas kami tadi pagi sebelum Piknik membuat kakinya pegal. Dan aku hanya bisa menurutinya. Sungguh, aku benar-benar berubah menjadi lelaki Bodoh saat di hadapannya. Sesekali aku mengusap Perutnya, membuat putri kami menendang-nendang. Putri..?? Yaa.. ternyata Anak pertamaku kemungkinan besar adalah seorang Putri. Dan aku bertekat akan menjadikannya Putri terkuat melebihi jagoan-jagoan Dhanni dan Renno.
Aku Sangat bahagia….
Melihat Akhir seperti ini benar-benar membahagiakan untukku. Berkumpul dengan sahabat-sahabatku, berbahagia dengaan orang-orang yang kami sayangi, adalah Hal yang sangat harus di syukuri meski sebenarnya kami tak pernah bersyukur dengan keadaan kami.
Aku tau… Aku Dhanni dan Renno adalah lelaki Brengsek yang tak pantas bersanding dengan malaikat-malaikat kami saat ini. Kami masih banyak memiliki kekurangan mengingat kami bukan lelaki baik-baik. Tapi aku yakin jika Kami akan berubah, kekurangan kami akan tertutupi dengan kelebihan Wanita kami. Karena pada dasarnya tak ada manusia yang sempurna, kita hidup saling berpasangan untuk melengkapi dan menyempurnakan pasangan kita. Itulah yang terjadi denganku Dhanni dan Renno saat ini.
Cinta saat ini bukan menjadi ‘Zona Bahaya’ Bagi kami, kami sekarang menyebutnya sebagai ‘Zona Bahagia’ karena kami bahagia dengan Cinta yang berada di sisi kami saat ini.

 

******

 

Huaaa…. Akhirnya lunas juga nihhh janjiku untuk menyelesaikan Trilogi ini.. Hufft… #NgelapKeringat Cukup panjang yaa perjalanan Dhanni Renno daan Ramma.  Ooo iyaa untuk yang Nungguin My Everything di Playstore, maaf banget yaa… My Everything nggak akan ada Di Playstore karenaa Genrenya Erotis, dan aku akan membuat Versi buku novelnya mulai dari Dhanni Renno dan Ramma.. jadi yang berminat bisa Pesan di aku nanti yaaa (Add fbku atau Like Halaman Fb Dengan Nama Mamabelladraamalovers – Zenny Arieffka )…. hehehe

   10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n  Nahhh untuk yang disebelah ini aku kan belum cerita siapa mereka, Merekaa adalah Brandon (Anak Dhanni) Reynald (Anak Renno) dan Aaron (Anak kedua Dhanni). Semogaa aku masih punya banyak waktu penjaang supaya bisa mnyelesaikan kisah mereka. OOppss untuk anak Ramma sendiri tenang.. pasti ada kok… hheheheh. Tapi tentunya nunggu PSWM sama MBE selesai dulu yaaa.. biar yang baca dn yang nulis nggaak pusing 7 keliling.. hahahahha okkk terima kasih banyakk udah mau mampir ke blog ini.. See You Next Story… #KissHugFromAuthor

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

My Everything (Novel Online) – Chapter 15 (End)

Comments 11 Standard

mecover1My Everything

NB : ye.. ye… ye… Congrulations… Akhirnya ME tamat juga yaa… Walau nggak sekeren atau semanis yang kalian bayangkan, tapi aku cukup senang karena bisa mengEksekusi ME ini dengan sebaik-baiknya (Setidaknya bagiku sendiri hahah). Aku mau ngucapin terimakasih bangett sama yang sudah mau Baca cerita-cerita nggak jelas ini, Yang sudah Rela ngasih Like Atau Coment buat Cerita ini, Yang sudah mau nunggu bahkan membuang tenaga untuk berbaper2an Ria dengan Cerita ini, yang sudah baca Dari Buku pertama hingga Buku terakhir Serial The Badboys ini (mulai dari Dhanni Renno dan Ramma), Yang mau ngasih masukan-masukan dan juga semangat-semangat untukku. terima kasihhhhh bangettt… tanpa kalian aku bukan apa-apa.. Hikksss… 😥 Okk Langsung saja kalau begitu… Ehhyaa… masih ada Epilognya yaa… jadi tunggu Epilognya juga yaaa.. heheheh

Chapter 15

 

“Saya ingin Melamar Shasha Oom.”
Setelah perkataanku itu semuanya tampak hening. Tak ada yaang bersuara satupun.Ada apa.. Apa tak ada yang mau menerimaku sebagai menantu di rumah ini..?
“Oom. Bagaimana..? Saya benar-benar ingin menikahi Shasha Oom.” Kataku lagi karena tak ada sedikitpun Respon dari semua orangyang berada di dalam ruangan ini.
“Nak Ramma yakin dengan ucapan Nak Ramma.?”
“Saya yakin Oom.” Kataku dengan pasti.
“Apa yang membuat nak Ramma yakin.?”
“Saya mencintainya.”
“Hanya itu.?”
“Saya tidak bisa hidup tanpanya.”
“Bagaimana denganmu Sha..?” Kali ini Oom Handoyo menatap Shasha yang kini sedang meremaas tanganku.
“Aku.. Aku sayang Mas Ramma Pa..”
“Pa.. Apa Cinta cukup untuk menjadi modal berumah tangga.?” Kali ini Renno mulai berbicara. Sialan.. dia pasti mengacaukan semuanya.
“Maksud kamu apa Renn.?”
“Aku nggak akan terima dia jika dia hanya melamar bermodalkan Cinta.”
“Lalu.. Apa mau kamu.?” Oom Handoyo masih tak mengerti arah pembicaraan Renno.
“Aku hanya butuh bukti dan kepercayaan.” Jawabnya tegas sambil menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Papa masih tak mengerti.”
“Shasha adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam keluarga ini. Aku nggak akan membiarkan seorangpun menyakitinya. Aku hanya butuh bukti bahwa dia berubah dan tak akan menyakiti Shasha lagi..” katanya dengan pasti.
“Saya akan membuktikannya Oom.” Kataku pada Oom Handoyo tapi tatapan mataku terarah pada Renno.
“Dengan Apa.?” Kali ini Renno menantang.
Aku berdiri tepat di hadapannya. “Lo Akan tau, tapi saat Gue sudah memenuhi Syarat Lo, Gue akan tagih Janji Lo ntuk merestui hubungan Kami.”
Renno mengangguk pasti. Aku tau dia tak akan ingkar janji.
Akhirnya malam menegangkan itu di tutup dengan kepergianku. Meski aku belum mendapat jawaban pasti, setidaknya aku senang karena Renno mau memberiku kesempataan untuk membuktikan padanya jika aku bisa berubah.
***
Siang ini aku berada di sebuah Butik langganan Mamaku untuk mengambil baju untuk resepsi pernikahanku besok. Resepsi pernikahan..? Yaaa… Akhirnya besok, hari yang kutunggu-tunggu itu tiba juga.
Ini Sudah setahun setelah kejadian dimalam Aku melamar Shasha di hadapan kedua orang tuanya. Apa kalian fikir aku mendapatkan Shasha dengan begitu mudah..? Seperti Dhanni yang hanya mengandalkan Perjodohan kunonya untuk mendapatkan Nessa..? Atau seperti Renno yang hanya mengandalkan Keadaan yang membuatnya harus bertanggung jawab terhadap Allea..? Ayolah… ini tak sesederhana itu. Bisa di bilang waktu setahun terakhir ini adalah Waktu dimana aku memasuki Neraka. Sialan..!!
Aku benar-benar berusaha sangat keras untuk mendapatkan kepercayaan dari keluarga Shasha terutama Kakak Sialannya itu. Dimulai dari berbenah diri, Aku memutuskan semua kontakku terhadap para wanita-wanita yang dekat denganku entah itu Model atau sekertaris-sekertaris Seksi yang sering kutemui. Aku berhenti menjadi Fotografer, mungkin ini terdengar lebih berani, tapi aku sudah bertekat akan melakukan apapun demi mendapatkan Shasha.
Belum lagi Kantor pribadiku yang saat ini sudah seperti Asrama Pria karena tak ada seorang wanitapun yang bekerja disana. Sialan…!!!
Tak hanya itu. Tak Jarang Renno memperburuk suasana dengan mengadakan Rapat santai disebuah Pub atau mengadakan acara-acara minum bersama disebuah Club dengan wanita bayaran untuk menemani minum disebelah kami. Aku tau dia hanya mengujiku, bahkan mungkin mengerjaiku. Dan aku berusaha sekuat tenaga jika aku tak akan tergoda meski sebenarnya tubuhku berkata lain. Yaa tentu saja aku tergoda dan berakhir Mastrubasi didalam kamar mandi. Sial…!!!
Renno juga membatasi pertemuanku dengan Shahsa, kami hanya bertemu seminggu duaa kali dan itupun harus di ruang tamu mereka.
Shiitt…!!! Dia benar-benar membunuhku.
Larangan Renno hanya berlaku beberapa bulan bagiku, sisanya tentu saja aku melanggarnya. Dengan diam-diam dan mengendap-endap seperti seorang pencuri, aku memasuki kamar Shasha yang berada di lanta dua. Tentu saja aku menyuap beberapa pelayan dan penjaga rumah mereka. Aku tak peduli lagi dengan Syarat Sialan Renno yang terakhir itu.
Pada akhirnya, Dua bulan yang lalu Renno menyerah dan menyetujui Lamaranku. Dia mengakui bahwa kini aku sudah berubah. Yahh tentu saja sudah berubah, berubah total malah. Tak ada kata wanita atau Seks lagi dalam hidupku setahun terakhir ini.
“Ramma..” Suara lembut itu mengalihhkan pikiranku. Jangan bilang kalau itu mantanku.
Aku menoleh kebelakang dan mendapati sosok wanita yang cukup lama tak kutemui. “Nadia.” Yah.. dia Dokter Nadia teman Zoya.
“Heii… lama Nggak ketemu, apa kabar.?” Sapanya.
“Aku baik, kamu sendiri.?”
“Seperti yang kamu lihat, Aku juga baik.” Jawabnya kemudian. “Ramma, apa kita bisa ngopi sebentar.? Ada yang pengen aku omongkan.” Kataanya kemudian.
Aku melihat jaam tanganku, sepertinya ada cukup waktu. “Baiklah, tapi aku tak bisa lama.” Kataku kemudian lalu kami menuju kesebuah Cofee shop dissebelah Butik langganan mamaku.
***
“Kamu ngapain kebutik itu sendirian.?” Tanyanya saat kami sudah duduk menikmati Cofee pesanan kami.
“Aku mengaambil baju pesanan Mama untuk resepsi pernikahanku besok.”
“Apa..? Kamu menikah.? Sama Shasha..?” Tanyanya dengan raut terkejut.
“Kamu tau dari mana tentang aku dan Shasha.?”
“Kamu kan pernah mengajaknya ketempatku untuk memasang kontrasepsi.” Dan aku mengangguk, sejujurnya aku sudaah lupa.
“Ramm, Bagaimana kabar Zoya.?”
Sontak aku menatap mta Nadia. “Harusnya kamu yang tau kabarnya, kamu kan sahabatnya. Aku nggaak tau apa kabarnya dan aku nggak mau tau.”
“Kamu pikir sejak kejadian itu dia mau mengaanggapku sebagai temannya lagi.?”
Aku mengangkat kedua bahuku. “Mungkin.”
Nadia menggeleng. “Dia sangat marah kepadaku karena secara tak langsung aku yang membuat hubungan kalian putus.”
Aku tersenyum hambar. “Sialan..!!! Harusnya dia sadar jika da sendiri yang menghancurkan hubungan kami.” Gerutuku.
“Kupikir dia sekarang berada di rumahnya di Singapore, Apa kamu nggak mau menemuinya..?”
“Untuk apa..? hubungan kita sudah selesai malam itu juga. Aku terlalu muak dengannya apa lagi saat mengingat jika selama ini dia sudah membohongiku.”
Nadia hanya terdiam dambil sesekali memainkan cangkir Cofeenya.
“Nad.. apa benar jika Zoya sebenarnya masih cinta dengan suaminya walau sudah hidup bersamaku saat itu.?”
Nadia menghembuskan nafas panjang. “Sejujurnya aku juga tak tau bagaimana perasaannya, aku hanya berpikir bahwa dia belum mau berpisah dengan Ardi karena setauku Dia masih sering menemui Ardi.”
Sial..!! Ternyata wanita itu benar-benar sudah menipuk selama ini.
“Ramma.. apa nggak sebaiknya kamu berbaikan dengannya, walau kalian nggak mungkin bersama tapi setidaknya hubungi dia, aku benar-benar merasa tak enak dengannya.”
“Maaf Nad.. Aku nggak bisa, aku nggak akan mau mengenalnya lagi.” Kataku dengan pasti. “Emm… Siapa tau kamu nggak ada acara besok, datangah ke resepsi pernikahanku.” Kataku mengalihkan pembicaraan.
Nadia tersenyum. “Aku minta maaf sebelumnya, besok aku juga ada acara lamaran adikku.”
Akupun tersenyum kepadanya. “Baiklah, Sepertinya memang kamu sangat sibuk. Kupikir kita masih tetap bisaberteman walau tanpa Zoya.”
“Tentu saja.” Jawabnya cepat. “Aku masih ingin melihat tampang bodohmu nanti saat kamu mengantar istrimu melahirkan.” Katanya sambil tertawa.
“hahhaha Kamu salah, aku nggak akan memperlihatkan tampang bodohku. Lihat saja nanti.”
Dan begitulah, kami mengobrol sepanjang siang itu… seperti menemukan teman baru. Nadia akan menjadi teman baikku dengan Shasha nantinya, tentunya teman untuk konsultasi masalah Seks dan sebagainya. Sial..!! kenapa aku sudah memikirkan hal itu..??
***
Aku keluar dari kamar Rias mendapati wanita yang sangat kucintai menatapku dengan berlinang air mata. Air mata bahagia tentunya, dia menghampiriku dan memelukku dengan sesenggukan.
“Mama nggak nyangka Kamu sudah gede seperti ini bahkan sudah memiliki istri.” Kata Mama dalam pelukanku. Yaaa wanita itu adalah Mama. Mama tek berhenti menangis haru sejak upacara pernikahan yang terasa sangat sakral tadi pagi. Kini Mama menghampiriku sebelum acara Resepsi dimulai.
“Mama udah Ahh… nanti jelek loh..” kataku menenangkannya.
Mama melepaskan pelukannya. “Ingat, Jadi suami yang baik, janganpernah sakitin istri kamu.”
“Tentu Ma… astaga.. aku bahkan bisa gila saat berusaha mendapatkannya. Aku nggak akan menyia-nyiakannya lagi.” Janjiku pada Mama.
“Permisi, Acara sudah akan dimulai.” Kata seorang yang kuyakini sebagai Wedding Organizer pernikahanku. Aku ngangguk dan mengikuti orang tersebut masuk kedalam Pesta.
Disana sudah ramai sekali orang. Aku melihat Dhanni dengan istrinya sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang yang kuyakini sebagai Klien perusahaan mereka. Dhanni lalu melihat kearahku, dia tersenyum sambil mengangkat Gelasnya. Tak jauh dari sana aku melihat Renno sedang berkumpul dengan keluarga besarnya, yang kini juga sudah menjadi keluarga besarku. Dia menatapku, tersenyum lalu mengangkat gelasnya juga untukku seperti yang dilakukan Dhanni. Aku tersenyum melihat tingkah Mereka.
Tiba-tiba kurasakan tanganku di genggam oleh sebuah tangan Mungil Nan lembut. Menoleh kesebelahku dan aku sudah mendapati Shasha berdiri dengan Anggun dan cantiknya. Sialan..!! dia benar-benar sangat cantik. Dan dia milikku.
Kami menuju ketengah-tengah pesta, Berbaur bersama, berdansa bersama, nuansa hitam menyelimuti ruangan ini karena tema dari resepsi kami adalah ‘Dark Heaven’ jadi seluruh tamu di wajibkan mengenakan pakaian Hitam.
Begitupun dengan aku Dan Shasha. Aku mengenakan Tuxedo hitamku yang kata Mama terlihat sangat gagah saat kukenakan, Dan Shahsa, Ya tuhan.. aku tak dapat berkata-kata lagi. Dia terlihat sempurna. Dan sepertinya aku tak bisa lama-lama berada di dalam Pesta ini.
***
Malam ini aku masih harus pulang kerumah Shasha, dan baru besok pagi kami akan pindah kerumahku. Shasha masih membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan aku masih sibuk mengatur peralatan kami kedalam Koper. Tiba-tiba aku mendengar pintu diketuk. Kubuka dan mendapati Sosok itu, Sosok yang beberapa bulan terakhir ini menjadi Sosok yang menyebalkan untukku, Renno.
“Bisa keluar sebentar.?” Ajaknya kemudian, aku tak menjawab, aku hanya mengikutinya dari belakang.
Dia menuju kesebuah Balkon yang berada di tengah-tengaah antara kamarnya Dan kamar Shasha. Mau apa dia mengajakku kemari.? Apa dia ingin memberi Syarat sialannya lagi.?
“Gue nggak nyangka Kalo Lo yang bakalan jadi Adek ipar Gue.” Kata Renno tiba-tiba. Aku hanya Diam mendengarkan semua ocehannya. “Ramm, Shasha sangat berarti buat Gue, Gue Harap Lo….”
“Renn.” Aku memotong kalimatnya. “Shasha juga sangat berarti buat Gue, Gue nggak mungkin ngotot melakukan semuanya sampai saat ini jika Gue nggak benar-benar sayang sama Dia.”
“Gue Ngerti, Gue Cuma…”
“Renn… Gue tau Lo sayang sama Shasha, Lo nggak mau dia tersakiti, Tapi Please… Kali ini pegang janji Gue, Gue nggak akan nyakitin dia, Gue akan berusahaa sekeras mungkin untuk membahagiakanya. Gue janji.” Kataku dengan sungguh-sungguh.
Renno menepuk bahuku. “Gue percaya sama Lo.” Aku menghembuskan nafas lega. “Ramm.. gimana, Apa Lo menikmati siksaan Gue setahun belakang ini..??” Tanyanya yang kali ini disertai dengan senyuman mengejeknya.
“Sialan Lo..!! Gue sudah seperti masuk Neraka.” Dan kamipun lalu tertawa terbahak-bahak bersama. “Thanks Renn.. Lo mau kasih Gue kesempatan.” Kataku lagi dengan serius.
“Itu sebagai imbalan, jadi sekarang kita impas.”
“Imbalan apa maksud Lo..?”
“Imbalan karena Dulu Lo mau minjamin Apartemen Lo ke Gue, dan Akhirnya Gue Bertemu dengan Allea disana.” Aku mengangguk.
“Itu Takdir Renn yang mempertemukan Kalian, Sama seperti Dhanni dan Nessa, atau Gue Dan Shasha. Semua karena takdir.”
“Sialan..!!! Sejak Kapan Lo bisa bicara lebbay kayak gini..? Hhahaha”
“Brengsek Lo.” Umpatku kemudian. “Renn.. Apa Gue harus panggil Lo Kakak..?” Tanyaku dengan wajah sok serius. Kami saling pandang dan terdiam sebentar lalu mulai tertawa terbahak-bahak lagi.
“Hahhaha Brengsek Lo..!!” Kali ini Renno yang mengumpat kepadaku masih dengan tertawa.
“Heiii.. kalian Sedang apa.? Ini sudah malam, Mas… Reynald Nanti bangun kalau kamu teriak-teriak kayak gitu lagi.” Allea menegur kami.
“Ooo iya sayaang aku lupa.” Renno lalu Meninju bahuku. “Gue Balik dulu, istri Gue sudah marah-marah.”
“Ok… Gue juga harus balik, Karena ada Hal yang harus Gue lakuin dengan istri baru Gue.” Kataku sambil menyeringai.
“Sialan Lo..!!” Umpatnya.
***
Aku kembali kekamar, dan sudah mendapati Shasha yang sudah duduk manis dan masih mengenakan Juba mandinya. Dia terlihat segar. Dan Astaga… mengingat ini malam pengantin kami, Gairah langsung menyelimuti tubuhku.
Aku menuju kearahnya dan duduk disebelahnya. Aku menggenggam tangannya dan sesekali mengecupnya. Shiitt…!!! perasaan apa ini.? Kenapa aku jadi segugup ini..? tanpa kusangka tiba-tiba Shasha duduk diatas pangkuanku. Membuka dua kancing atasku. Sialan..!! ini terlihat begitu Erotis, dan dia terlihat begitu menggairahkan.
Aku menggenggam telapak tanganya. “Aku belum mandi sayang..”
“Tidak perlu mandi.”
“Kamu ingin aku melakukannya tanpa mandi..?”
Dia mengangkat sebelah alisnya, “Siapa bilang aku ingin melakukannya.?” Katanya dengan suara manja, “Aku hanya mau menggodamu saja.” Lanjutnya lagi.
“Beneran..?” Kali ini aku yang menggoda.
Dia mengangguk dengan pelan. Aku ingin menjawab namun dia menutup mulutku dengan telunjuknya. “Mas Ramma, Aku tau mungkin kamu akan bosan mendengarkan ini, Tapi aku hanya ingin bilang jika dari dulu aku mencintaimu, tak bisa berpaling darimu, dan kamu sudah seperti segalanya untukku, jadi aku mohon jangan pernah tinggalin aku.” Katanya dengan sungguh-sungguh.
Aku menangkup kedua pipinya. “Harusnya aku yang berkata dan memohon seperti itu. Aku mencintimu sejak dulu, kamu juga sudah seperti segalanya untukku. Jadi sebrengsek apapun aku nanti, aku mohon tetaplah bersamaku, jangan pernah tinggalin aku.”
“Jadi, ini sudah seperti janji kita berdua..?” tanyanya dengan polos.
“Tentu saja sayang.” Jawabku dengan mencubit pipinya. Lalu aku memeluknya, memeluknya dengan erat. “Makasih Sayang.. kamu sudah mau nunggu aku dan mau melalui semua kerumitan ini untukku.”
“Aku juga berterimakasih karena kamu mau kembali padaku Mas,.. Kembali mengakui bahwa kamu memang mencintaiku sejak dulu.”
“Dulu, sekarang dan seterusnya.” Ralatku.
“Baiklah-baiklah… terserah Mas Ramma saja. Tapi ngomong-ngomong, apa bisa pelukannya nggak seerat ini..? Kami nggak bisa bernafas.”
Dan aku tersenyum mendengar pernyataannya. Tapi tunggu dulu, Kami..? Apa maksudnya..? Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan tajam.
“Kami..?” Tanyaku dengan sedikit heran.
Dia meraih telapak tangan kananku lalu membawanya keperutnya. Aku menatapnya dengan ternganga. “Me And Her.”
“Her..?” tanyaku lagi kali ini dengan nada tak percaya.
Yes.. Kupikir dia seorang Princess.” Katanya dengan pasti.
“Princess.?” Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dia tersenyum kearahku. “Kamu nggak Shock Kan Mas..?”
“Maksud Kamu.. Kamu.. Hamil..?”
Dia terkikik melihat ekspresi bodohku. “Yaa… Sudah Dua belas minggu.” Bisiknya ketelingaku.
“Apa..?” aku sedikit berteriak. Menatapnya masih dengan tatapan tak percaya. “Kamu nyembunyiin semua ini dariku..?”
“Aku hanya mau kasih kamu kejutan.”
“Bagaimana dengan yang lain.?”
Dia masih saja tersenyum melihat tingkahku. “Nggak ada yang tau, kamu orang pertama yang kukasih tau.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi kupeluk kembali tubuhnya, menciumi leher jenjangnya. “Kamu nakal.” Bisikku di telinganya. Aku melepaskan pelukanku, lalu manatap perut datarnya, mengusapnya dan menciumnya lembut.
Sialan..!!! Aku akan jadi ayah.. Aku akan jadi ayah… dan ini benar-benar sangat membuatku bahagia. Membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Aku menatap Shasha penuh dengan kasih sayang, begitupun tatapannya terhadapku. “Terimakasih, Kamu sudah memberikan semuanya untukku. Aku nggak tau harus bilang apa lagi terhadapmu.”
Dia menangkup kedua pipiku. “Kamu cukup bilang mencintaiku setiap Harinya, dan aku akan sangat senang dan berterima kasih terhadapmu Mas..”
“Yaa.. aku akan mengatakannya, aku akan mengatakan itu setiap hari untuk kamu.” Kataku dengan semangat.
“Mengatakan Apa..?”
“Mengatakan Bahwa aku mencintaimu, Nattasha Handoyo.”
Kataku dengan pasti, kaami sama-sama tersenyum, lalu tanpa pikir panjang lagi aku mendekatkan bibirku kepada bibirnya, lebih dekat hingga ciuman ini tak terelakkan lagi. Ciuman Lembut dan manis, seperti kebahagiaan kami saat ini.

 

___END___

 

 

10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n

Btw… Ada penampakan Cowok2 ganteng Nihhh… hahhahahah See You Next My Story… 😀 :*