Ugly Wife – Bab 1

Comments 5 Standard

 

Bab 1

 

Setelah membereskan meja makan, Shafa menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. hari ini akan menjadi hari yang melelahkan karena akan ada beberapa tanaman baru yang datang ke tempat kerjanya. Mungkin ia akan pulang sore, atau mungkin ia tidak akan pulang. Shafa merasa senang jika kenyataan terakhir itu yang terjadi. Setidaknya, ia tidak akan bertatap muka dengan suaminya yang selalu menatapnya dengan tatapan jijik dan merendahkan.

Tiga bulan lamanya ia sudah menikah dengan lelaki yang mendatanginya siang itu di toko bunga miliknya. Lelaki yang bernama Elang Abraham. Lelaki yang ia ketahui sebagai seorang yang sudah menghancurkan hidup dan mimpinya.

Ya, ternyata lelaki itu adalah lelaki yang dulu menabraknya. Membuat kakinya cacat, ibunya meninggal ditempat, dan membuatnya kehilangan semuanya. Awalnya, Shafa tak ingin lagi berurusan dengan lelaki itu setelah lelaki itu menceritakan semuanya siang itu juga, tapi Shafa tak bisa berbuat banyak, ia sudah terikat dengan lelaki itu. Mereka sudah dinikahkan saat itu untuk membuat lelaki itu bertanggung jawab atas ulahnya. Istilahnya, mereka sudah kawin gantung selama bertahun-tahun yang lalu.

Saat itu, Shafa masih berusia Tujuh tahun, sedangkan Elang baru berusia Lima belas tahun. Di usianya yang ke lima belas, Elang mendapatkan hadiah mobil dari orang tuanya. Mobil yang seharusnya hanya digunakan untuk mengantar jemput Elang saat sekolah, bukan untuk digunakan lelaki itu. Tapi Elang saat itu adalah pemuda nakal seperti kebanyakan pemuda lainnya, ingin mencoba sesuatu yang baru. Hingga suatu hari, ia memaksa supirnya untuk mengajarinya mengemudikan mobil.

Tragisnya, Elang menabrak dua orang pejalan kaki di atas trotoar. Seorang meninggal ditempat, dan yang satunya kritis. Itu adalah Shafa dan ibunya. Elang tidak bisa dihukum karena masih dibawah umur, sedangkan Ayah Shafa menuntutnya untuk bertanggung jawab. Apalagi saat tahu bahwa Shafa tak akan kembali seperti dulu lagi. Istrinya meninggal sedangkan anaknya akan cacat seumur hidup. Saat itulah ayah Shafa menuntut Elang dan keluarganya untuk bertanggung jawab. Dan tanggung jawab yang setimpal adalah menikahi Shafa.

Mereka dikawin gantung saat itu juga, membuat masalah tersebut selesai dengan cara kekeluargaan. Tapi Ayah Shafa tak tahu, bahwa menikahkan mereka merupakan sebuah masalah baru untuk Shafa kedepannya. Ia tidak suka dijodohkan, ia tidak suka dilihat sebagai orang yang memaksa untuk dinikahi. Apalagi dengan lelaki seperti Elang, lelaki dingin arogan dan tak berpesaraan.

Meski begitu, Shafa mencoba mengendalikan dirinya, menekan perasaannya, mengendalikan egonya, ketika ia mengingat bagaimana janji terakhirnya dengan Sang Ayah sebelum ayahnya meninggal dua tahun yang lalu.

“Dia akan datang untukmu. Kamu akan bahagia dengannya.”

“Aku nggak tahu apa maksud Ayah.” Shafa tidak mengerti, dan ia tak mau mengerti, karena saat ini yang paling ia pikirkan adalah kondisi ayahnya yang semakin memburuk.

“Berjanjilah dengan Ayah, bahwa kamu akan memenangkan hatinya. Jangan lepaskan dia. Jangan membuatnya menjadi mudah untuknya. Dia sudah menghancurkan hidup dan mimpimu, jadi kamu berhak memiliki seluruh hidupnya sebagai imbal baliknya.”

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia masih tak mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

“Jangan lepaskan dia, Shafa. Jangan lepaskan dia…”

 

Kini, Shafa tahu apa maksud dari ayahnya. Ayahnya hanya tak mau bahwa Elang dan keluarganya bisa cuci tangan begitu saja. Melenggang pergi setelah menghancurkan hidup mereka. Ayahnya ingin, Elang hidup dengan rasa bersalahnya setiap hari, karena itulah ayahnya meminta Shafa untuk tidak menyerah.

Dan sekarang, baru tiga bulan lamanya mereka mengesahkan pernikahan mereka, tapi Shafa sudah hampir tak sanggup dengan perlakuan suami dan keluarganya. Ia diperlakukan seperti sampah, seperti orang yang menjijikkan. Apa mereka tidak ingat bahwa semua ini karena ulah mereka?

Setelah membereskan bekalnya, dengan langkah tertatih seperti biasanya, Shafa meninggalkan area dapur. Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan dapurnya, sosok yang ada dalam kepalanya tersebut rupanya sudah berdiri di hadapannya. Jika Shafa tidak fokus dengan langkahnya, ia mungkin sudah menabrak lelaki itu.

Shafa menghentikan langkahnya kemudian wajahnya mendongak menatap lelaki yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

“Ikut aku.” Ucapnya sembari menyambar pergelangan tangan Shafa kemudian menyeretnya menuju ke sebuah ruangan. Shafa hanya bisa pasrah, lelaki ini memang sasngat suka berbuat sesuka hatinya.

Sampai di dalam ruangan tersebut, cekalan tersebut dihempaskan degan begitu kasar. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan marahnya. Menyisingkan kemejanya yang masih rapih hingga sesikunya.

“Jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengan supir sialan itu?”

Shafa ternganga dengan apa yang dipertanyakan oleh suaminya tersebut.

Leo, adalah supir pribadi yang disiapkan oleh Elang untuk dirinya. Shafa tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu, tapi Shafa tak pernah melihat Leo sebagai bawahannya atau hanya sekedar sebagai supirnya. Ia memperlakukan Leo sebagai orang yang setara dengannya. sebagai seorag teman. Jika ia ingin menikmati secangkir kopi di starbuck, maka ia akan mengajak Leo atau pegawai tokonya untuk menemaninya. Dan kini, kenapa Elang mempertanyakan hal itu padanya?

“Aku nggak tahu apa maksud kamu?”

“Kamu memiliki hubungan yang special dengan dia, kan? Kamu pikir aku nggak tau?”

“Kenapa kamu menuduhku seperti itu?”

“Karena aku sudah mengawasi apapun yang sudah kamu lakukan di dalam maupun di luar rumah ini.”

“Kami hanya berteman, dan mengawasi apapun yang kulakukan, bukankah itu berlebihan?”

“Oh benarkan? Apa itu juga yang terjadi antara kamu dengan para pelanggan tokomu yang pria? Atau dengan para pegawai tokomu yang pria? Kalian berteman? Seberapa jauh?”

“Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud. Para pegawaiku bekerja secara profesional, dan aku hanya menjual apa yang diinginkan para pelangganku.”

“Seperti menjual kesenangan? Berapa mereka membayarmu?”

Mata Shafa berkaca-kaca seketika dengan tuduhan tersebut. Sebenarnya, Shafa sangat bingung dengan reaksi Elang. Selama ini, Elang tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini terhadapnya. Lelaki itu dingin dan datar-datar saja tanpa ingin tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tapi pagi ini, kenapa sikap lelaki ini berubah seratus delapan puluh derajat?

“Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu? Bukankah selama ini kita baik-baik saja tanpa mengurusi urusan pribadi masing-masing?” tanya Shafa kemudian. Ia masih bingung dengan sikap Elang pada pagi ini.

Hubungannya dengan Elang selama tiga bulan terakhir memang jauh dari kata baik. Elang memang sering menyentuhnya, lebih tepatnya, lelaki itu meminta haknya sebagai seorang suami untuk dipuaskan. Tapi hanya itu, diluar dari itu semua, hubungannya dengan Shafa jauh dari kata baik.

Mereka tidak akan saling bicara jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tidak saling menyapa, bahkan menurut Shafa, mungkin Elang tak pernah mempedulikan tentangnya. Jadi saat Elang berkata bahwa lelaki itu mengawasinya dari jauh, maka Shafa merasa terkejut, tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. selama ini Elang hanya cuek-cuek saja terhadapnya, dan kenapa sekarang Elang seperti orang yang sedang…. Cemburu?

Tidak mungkin. Pikirnya.

Elang mendekat, menghimpit tubuh Shafa diantara dinding terdekat. “Aku hanya tidak suka berbagi dengan orang lain. Kalau aku sudah memilih tidur denganmu, maka aku tidak akan membiarkan orang lain menidurimu.”

“Apa? Aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain.”

“Belum. Kita tidak tahu nanti.”

“Aku bukan perempuan seperti itu.” Ya, Elang tahu. Ia bahkan merasakan bahwa Shafa masih perawan ketika ia menyentuh wanita itu untuk pertama kalinya. Tapi sikap Shafa yang ramah dan membuat siapa saja terpesona, membuat Elang tidak suka. Elang benci kenyataan bahwa Shafa terlihat menarik bagi siapa saja dengan sikap ramah yang ditampilkan wanita itu.

Itu hanya akting.

Elang selalu memarahi dirinya sendiri ketika dirinya mulai terpesona dengan sikap ramah yang ditampilkan Shafa di hadapannya.

Elang melangkah mendekat, dengan penuh penekanan dia berkata “Aku nggak peduli. Leo akan dipecat, dan toko bungamu, cepat atau lambat aku akan membuatnya tutup.”

Setelah ucapannya tersebut, Elang pergi begitu saja, sedangkan Shafa, ia hanya ternganga dengan apa yang baru saj diucapkan oleh suaminya tersebut. Apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba Elang jadi ikut campur dengan semua urusan pribadinya? Dan menutup toko bunganya? Siapa dia? toko bunga itu adalah satu-satunya hal yang ditinggakan oleh kedua orang tuanya, bagaimana mungkin Shafa rela menutupnya?

***

Elang benar-benar melakukan apa yang dia katakan pada Shafa kemarin. Dan Shafa masih tidak menyanga bahwa lelaki itu akan bersikap searogan itu. Memberhintikan seorang dari pekerjaannya hanya karena sebuah kecurigaan yang tak masuk akal.

“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Elang akan benar-benar memecatmu.” Ucap Shafa pada Leo. Saat ini keduanya sedang berada di dalam toko bunga milik Shafa, menikmati kopi mereka. Siang itu suasana toko cukup sepi. Shafa terkejut ketika mendapati Leo mendatanginya. Karena tadi pagi supirnya ini sudah tidak ada di rumahnya. Bahkan menuju ke tokonya saja, Shafa harus naik taksi.

“Saya juga bingung, kenapa tuan tiba-tiba memecat saya.”

Shafa merasa kasihan dengan Leo. Ia tahu bagaimana susahnya lelaki itu. Selama bekerja di tempatnya, hubungan mereka memang cukup dekat. Shafa selalu menganggap Leo sebagai temannya. Karena selama ini, Leolah yang menemaninya kemana-mana. Sesekali lelaki itu bercerita tentang keluarganya. Mereka hidup kesusahan, jadi Shafa merasa kasihan jika tiba-tiba Leo diputus kerja secara sepihak oleh Elang.

“Begini saja, aku kan juga butuh tenaga kerja di toko ini, dibagian taman belakang. Kamu bisa kerja sama aku.” Usul Shafa.

Memang, jika menyangkut pekerjaan di rumah, Elang dan keluarganya berkuasa untuk memecat siapa saja. Tapi ini adalah toko bunga miliknya, tak akan ada yang bisa memecat siapapun dari sini kecuali dirinya sendiri.

“Mbak Shafa yakin? Saya takut nanti Tuan tahu terus marah.”

“Ini bukan lagi urusan Elang. Kamu kan kerja sama saya, bukan sama dia.”

“Tapi kalau Tuan tahu nanti….”

“Yang penting, kamu mau apa tidak kerja sama saya di sini?” tanya Shafa lagi. Ia tidak ingin memaksa, ia hanya mau membantu sebisa yang ia lakukan.

Leo tampak berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk setuju. “Saya mau.” Shafa tersenyum senang. Ia tahu bahwa Leo adalah orang baik, dan ia akan mempertahankan orang-orang baik untuk bekerja dengan dirinya.

***

Di lain tempat…..

“Brengsek! Berani-beraninya wanita itu.” Elang mengumpat kasar setelah ia menerima telepon dari seorang pesuruhnya yang ia bayar untuk  mengawasi Shafa, istrinya.

Elang sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sebenarnya, Elang cukup muak dengan sikap sok ramah yang ditampilkan Shafa pada semua orang. Hal itu membuat Shafa seolah-olah bagaikan malaikat. Sedangkan ia menjadi iblisnya. Elang tak suka.

Kenyataan bahwa perempuan itu mampu memikat hati siapa saja yang dikenalnya membuat Elang kesal.

Contohnya saja, dulu, pertama kali ia membawa Shafa pulang ke rumahnya, Ibunya amat sangat tidak suka dengan sosok Shafa. Pertama, karena bagi ibunya, Shafa dan keluarganya adalah tipe orang yang suka memanfaatkan keadaan. Memang benar bahwa Elang bersalah karena sudah menabrak Shafa dan ibu wanita itu. Membuat Shafa kehilangan ibunya dan wanita itu cacat seumur hidupnya. Tapi bagi ibu Elang, tak seharunya puteranya dipaksa bertanggung jawab untuk menikahi wanita cacat itu. Itulah yang membuat Ibu Elang sempat membenci kehadiran Shafa. Tapi kini, ibunya itu malah sesekali membela Shafa.

Elang berpikir, mungkin ini semua karena sikap ramah yang selalu ditampilkan Shafa meski wanita itu sedang diinjak-injak. Tak memungkiri juga, beberapa kali Elang merasa bahwa dirinya terjerat dalam pesona istrinya tersebut, tapi secepat kilat Elang mencoba mengendalikan dirinya.

Shafa hanya akting, tak ada perempuan sebaik dan seramah itu apalagi saat perempuan itu diperlakukan sebagai seorang rendahan. Pikir Elang.

Elang mendengus sebal. Ia tidak akan termakan oleh akting perempuan itu. Bagaimanapun juga, perempuan itu sudah menghancurkan dirinya dengan cara memaksa dirinya menikahi perempuan itu. Sangat wajar jika kini dirinya merasa sangan membenci sosok Shafa, bukan?

Ketika Elang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang. Wanita cantik dan seksi itu masuk dan segera menghambur ke arahnya, mengecup sisi kanan dan kiri pipi Elang. Seketika itu juga suasana hati Elang berubah. Yang tadinya dia ingin marah-marah karena memikirkan istrinya, kini berubah seketika, membara dengan kehadiran kekasih hatinya.

Namanya Salsabilah. Salsa sendiri awalnya hanya partner kerja Elang. Karena mereka sering bertemu dan saling menghabiskan waktu bersama karena pekerjaan, akhirnya benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Mereka sudah cukup lama menjalin kasih, bahkan sejak sebelum Elang menikahi Shafa secara sah.

Meski Salsa tahu bahwa Elang kini sudah meiliki istri, nyatanya hal itu tak menyurutkan niatnya untuk memiliki hati lelaki di hadapannya itu sepenuhnya. Salsa cukup tahu bagaimana ceritanya hingga Elang harus menikahi perempuan cacat itu.

“Sepertinya kamu sedang bad mood.” Salsa berkomentar masih dengan mengalungkan lengannya pada leher Elang.

“Ya. Sedikit.”

“Mau kuobati?” tawarnya.

Elang tersenyum, ia tahu apa maksud dariucapan kekasinya ini. “Dimana?” tanyanya secara langsung tanpa basa-basi.

Jemari Salsa menggoda dada Elang, “Kamu maunya dimana? Di sini, atau kita cari hotel terdekat sambil makan siang bareng?”

“Hotel saja.” Dan akhirnya, keduanya kembali bercumbu mesra sebelum keluar dari ruang kerja Elang.

-TBC-

Advertisements

Ugly Wife – Prolog

Comment 1 Standard

 

Tittle : Ugly Wife

Penulis : Zenny Arieffka

Semoga kalian suka yaaa…. hahahahhaahaha

 

 

Prolog

 

Shafa mengangkat wajahnya ketika mendapati seorang lelaki masuk ke dalam toko bunga miliknya. Dengan ramah ia menyapa lelaki tersebut. Bertanya apa yang diinginkan lelaki itu.

Mendekati hari valentine seperti ini, memang akan banyak sekali pelanggan laki-laki datang ke tokonya. Biasanya mereka akan mencarikan bunga untuk kekasih atau istrinya. Sangat bahagia sekali jika Shafa menjadi salah satunya. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi mimpinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah.

Lelaki itu tampak sangat tampan. Rapih dengan kemeja yang melekat pas di tubuhnya. Sangat modis dengan rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Lelaki ini bukan lelaki biasa, bahkan Shafa bisa melihat mobil mewahnya terparkir tepat di depan toko bunganya.

“Shafa Amanda?” tanyanya.

Suaranya terdengar berat, sikapnya begitu mengintimidasi. Tapi Shafa mencoba untuk tak terpengaruh. Ia sering sekali bertemu dengan banyak orang. Meski kebanyakan tak seperti lelaki ini. tapi Shafa mencoba tetap percaya diri ditengah kekuarangan yang ia miliki.

Tapi Shafa baru sadar jika lelaki ini mengetahui nama lengkapnya. Dari mana?

Shafa mengerutkan keningnya kemudian dia menjawab “Ya, saya.”

Lelaki itu tampak mengamati Shafa. Menatap diri Shafa dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kemudian matanya berhenti pada kaki kiri Shafa. Di pergelangan kakinya masih tampak bekas jahitan di masa lalu. Luka itu tak akan pernah hilang, bahkan efeknya berbekas hingga saat ini. Shafa tak akan bisa berjalan dengan normal lagi. Meski begitu, hal itu tak akan mengurangi rasa percaya diri wanita itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Shafa lagi karena lelaki itu hanya fokus melihat pada bekas jahitan di kaki kiri Shafa, membuat Shafa tak nyaman dengan tatapan mata lelaki itu.

“Tutup toko kamu dan mari ikut saya.”

“Apa? Kenapa?” Shafa bingung. Memangnya siapa lelaki ini? kenapa lelaki ini memerintahnya dengan suka-suka hatinya?

“Ikut saja.”

“Tidak. Maaf, saya tidak akan kemanapun apalagi dengan orang yang tidak saya kenal.”

“Begitukah? Kamu tidak lihat ini.” lelaki itu mengeluarkan sebuah kalung putih dari sakunya. Tapi yang membuat Shafa terkejut adalah bandul dari kalung tersebut. Itu sebuah cincin yang sangat mirip dengan cincin yang menjadi bandul kalung yang ia kenakan. Dengan spontan Shafa memegang kalungnya sendiri. bagaimana mungkin? bagaimana bisa? Apakah lelaki ini adalah lelaki yang dikatakan mendiang ayahnya?

“Sekarang, ikut saya, kita akan membahas rencana pernikahan kita.” Ucapnya dengan dingin dan datar.

Pernikahan? Ya Tuhan, jadi apa yang dikatakan ayahnya dulu adalah kenyataan? Bahwa nanti saat ia dewasa, akan ada seorang pria yang datang padanya dengan membawa cincin itu untuk menikahinya secara sah? Shafa masih tak percaya. Benarkah ini sebuah kenyataan? Benarkah ia akan menikah dengan lelaki di hadapannya tesebut?

-TBC-

My Everything (Novel Online) – Epilog

Comments 8 Standard

mecover1My Everything

#Epilog

 

 

Tiga bulan kemudian…
Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk dan Rambut yang masih basah, Shasha pasti akan mengomel jika melihatku saat ini karena aku sudah membasahi karpet Hello kittynya dengan rambut basahku. Hahha biarlah… aku sangat suka saat melihatnya mengomel.
Tiga bulan pernikahan kami benar-benar sangat membahagiakan, jika tau menikah akan seperti ini aku akan Menikah sejak dulu. Bagaimana tidak, Setiap saat Shasha selalu menghubungiku, menanyakan keadaanku, setiap pagi selalu mebantuku menyiapkan diri keekantor, setiap sore selalu menyambutku, dan Setiap malam selalu bercumbu mesrah layaknya pasangan muda yang di buai asmara –Walau tak setiap malam berakhir dengan bercinta-.
Kehidupanku benar-benar sangat berubah 180 derajat. Jika dulu dalam pikiranku hanya main, bercinta, main, dan Bercinta, maka kini dalam otakku hanya Kerja dan pulang menemui istri cantikku. Beginikah yang dirasakan Dhanni dan Renno..?? Ahhh sialan..!!! Mau tak mau aku harus mengakui jika aku saat ini sama Bodoh dan lembeknya dengan Mereka.
Mengingat nama Renno, aku jadi teringat tentang kejadian beberapa saat yang lalu. Ketika aku dan Shasha mengabarkan kehamilannya untuk pertama kali. Ekspresi Renno saat itu benar-benar sangat lucu, dia menatapku dengan tatapan ‘Sialan..!!! Gue Kecolongan’ dan aku benar-benar tak dapat menahan tawaku saat itu. Hubungan kami semaakin membaik, meski tak ada rasa canggung atau hormat sebagai Saudara, Aku suka itu. Renno sudah sepenuhnya percaya padaku, percaya jika aku benar-benar mencintai adiknya.
Zoya..? tak ada kabar lagi darinya, dan akupun tak mau lagi mendengar kabar darinya atau dari wanita lain mantan kekasihku dulu. Shasha saat ini menjadi wanita pencemburu dan sedikit Rewel, aku tau itu karena kehamilannya, makanya aku tak mau mengambil Resiko dia ngambek karena mengetahui aku masih berhubungan dengan wanita lain.
Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, sejak setahun yang lalu, Aku sudah berhenti menjadi Fotografer, tapi tentu saja aku masih sering membawa kamera meski itu hanya untuk Memotret Shasha yang masih tidur pulas atau memotret kemesraan kami untuk koleksi pribadi.
Perubahan sekarang juga terjadi pada Kamarku. Kamar yang saat ini kutinggali adalah kamarku di rumah Mama, yaa.. aku tinggal di rumah Mama. Keseluruhan warnanya menjadi warna Pink, mulai dari karpet, selimut, Sarung bantal, BedCover, hingga Gorden semuanya berwarna Pink. Aku tak bisa menolaknya karena entah kenapa jika Shasha yang meminta maka aku hanya akan mengangguk dan Takhluk dengan permohonannya. Sial..!!
Masalah Masakan.. Dia masih belum bisa memasak. Masakannya masih aneh. Tapi mama dengan sabar mau mengajarinya untuk memasak, dan aku tau suatu saat nanti dia akan menjadi Istri dan ibu yang sempurna untukku dan anak kami.
Aku meelihat pintu kamar kami di buka menampilkan sossok cantik dengan perut besarnya masuk membawa beberapa barang dari luar.
“Heii apa yang kamu lakukan..? kenapa nggak minta baantuan aku.?” Kataku menghampirinya sambil membawa barang tersebut.
“Kamu saja belum pakek baju Mas, mau bantuin dari mana..? dan ya tuhan… ini sudah jam delapan, kita akan telat nanti.” Dia mulai mengomel.
Saat dia hendak meninggalkanku, aku memeluknya dari belakang. “Kita nggak usah ikut yaa… dirumah saja.”
Dia melepas paksa pelukanku lalu menghadap kearahku. “Kita harus tetap ikut, aku mau piknik Mas.. Sumpek di rumah terus.”
“Tapi aku kasihan sama dia.” Kataku sambil mengusap perut buncitnya.
“Ini permintaan dia, pokoknya kita harus ikut Piknik, titik.” Katanya dengan bibir mengerucut.
Dan aku tak bisa menahannya lagi. Kusambar bibir itu, melumatnya hingga dia terengah-engah. Masalah gairah, jangan ditanya lagi. Kami akan selalu bergairah jika hanya berduaan meski lagi-lagi tak berakhir dengan bercinta. Sial..!!! namun kali ini sepertinya berbeda. Aku menginginkannya saat ini juga, dan dia tak boleh menolak.
Kulepaskan pangutanku dan berbisik di telinganya. “Aku ingin kamu menaikiku saat ini juga.” Dia terlihat sangat terkejut dengan ucapan sensualku, tapi sebelum dia berbicara dengan cerewet lagi aku kembali memangut bibir Seksinya, mencumbunya hingga dia tak mampu menolak permintaanku tersebut.
***
Siang ini kami berada di sebuah taman yang rindang dengan banyak pepohonan dan juga lengkap dengan Danau buatanya. Sejuk dan sangat sejuk. Apa lagi ditemani dengan orang-orang yang kita sayangi.
Disebelah kiri aku melihat Dhanni yang sedang sibuk bermain Bola dengan Jagoan pertamanya, Brandon Revaldi, sedangkan istrinya Nessa, sedang asying menggendong Jagoan kedua Mereka Aaron Revaldi.
Didepaanku, Di jalan setapak dekat Danau, aku melihat Renno sedang mengajari Jagoannya Reynald Handoyo untuk berlari-lari kecil. Reynald Memang sudah bisa berjalan tapi masih sedikit tertatih-tatih. Sedangkan Allea istrinya sibuk menyiapkan makan siang kami. Yaaa… Allea memang bisa diandalkan, dia pandai memasak.
Sedangkan aku sendiri, Ya tuhan… saat ini aku sudah menjadi seorang budak karena sedang memijat betis istriku yang berperut buncit. Dia berdalih, katanya Aktifitas kami tadi pagi sebelum Piknik membuat kakinya pegal. Dan aku hanya bisa menurutinya. Sungguh, aku benar-benar berubah menjadi lelaki Bodoh saat di hadapannya. Sesekali aku mengusap Perutnya, membuat putri kami menendang-nendang. Putri..?? Yaa.. ternyata Anak pertamaku kemungkinan besar adalah seorang Putri. Dan aku bertekat akan menjadikannya Putri terkuat melebihi jagoan-jagoan Dhanni dan Renno.
Aku Sangat bahagia….
Melihat Akhir seperti ini benar-benar membahagiakan untukku. Berkumpul dengan sahabat-sahabatku, berbahagia dengaan orang-orang yang kami sayangi, adalah Hal yang sangat harus di syukuri meski sebenarnya kami tak pernah bersyukur dengan keadaan kami.
Aku tau… Aku Dhanni dan Renno adalah lelaki Brengsek yang tak pantas bersanding dengan malaikat-malaikat kami saat ini. Kami masih banyak memiliki kekurangan mengingat kami bukan lelaki baik-baik. Tapi aku yakin jika Kami akan berubah, kekurangan kami akan tertutupi dengan kelebihan Wanita kami. Karena pada dasarnya tak ada manusia yang sempurna, kita hidup saling berpasangan untuk melengkapi dan menyempurnakan pasangan kita. Itulah yang terjadi denganku Dhanni dan Renno saat ini.
Cinta saat ini bukan menjadi ‘Zona Bahaya’ Bagi kami, kami sekarang menyebutnya sebagai ‘Zona Bahagia’ karena kami bahagia dengan Cinta yang berada di sisi kami saat ini.

 

******

 

Huaaa…. Akhirnya lunas juga nihhh janjiku untuk menyelesaikan Trilogi ini.. Hufft… #NgelapKeringat Cukup panjang yaa perjalanan Dhanni Renno daan Ramma.  Ooo iyaa untuk yang Nungguin My Everything di Playstore, maaf banget yaa… My Everything nggak akan ada Di Playstore karenaa Genrenya Erotis, dan aku akan membuat Versi buku novelnya mulai dari Dhanni Renno dan Ramma.. jadi yang berminat bisa Pesan di aku nanti yaaa (Add fbku atau Like Halaman Fb Dengan Nama Mamabelladraamalovers – Zenny Arieffka )…. hehehe

   10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n  Nahhh untuk yang disebelah ini aku kan belum cerita siapa mereka, Merekaa adalah Brandon (Anak Dhanni) Reynald (Anak Renno) dan Aaron (Anak kedua Dhanni). Semogaa aku masih punya banyak waktu penjaang supaya bisa mnyelesaikan kisah mereka. OOppss untuk anak Ramma sendiri tenang.. pasti ada kok… hheheheh. Tapi tentunya nunggu PSWM sama MBE selesai dulu yaaa.. biar yang baca dn yang nulis nggaak pusing 7 keliling.. hahahahha okkk terima kasih banyakk udah mau mampir ke blog ini.. See You Next Story… #KissHugFromAuthor

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

My Everything (Novel Online) – Chapter 15 (End)

Comments 11 Standard

mecover1My Everything

NB : ye.. ye… ye… Congrulations… Akhirnya ME tamat juga yaa… Walau nggak sekeren atau semanis yang kalian bayangkan, tapi aku cukup senang karena bisa mengEksekusi ME ini dengan sebaik-baiknya (Setidaknya bagiku sendiri hahah). Aku mau ngucapin terimakasih bangett sama yang sudah mau Baca cerita-cerita nggak jelas ini, Yang sudah Rela ngasih Like Atau Coment buat Cerita ini, Yang sudah mau nunggu bahkan membuang tenaga untuk berbaper2an Ria dengan Cerita ini, yang sudah baca Dari Buku pertama hingga Buku terakhir Serial The Badboys ini (mulai dari Dhanni Renno dan Ramma), Yang mau ngasih masukan-masukan dan juga semangat-semangat untukku. terima kasihhhhh bangettt… tanpa kalian aku bukan apa-apa.. Hikksss… 😥 Okk Langsung saja kalau begitu… Ehhyaa… masih ada Epilognya yaa… jadi tunggu Epilognya juga yaaa.. heheheh

Chapter 15

 

“Saya ingin Melamar Shasha Oom.”
Setelah perkataanku itu semuanya tampak hening. Tak ada yaang bersuara satupun.Ada apa.. Apa tak ada yang mau menerimaku sebagai menantu di rumah ini..?
“Oom. Bagaimana..? Saya benar-benar ingin menikahi Shasha Oom.” Kataku lagi karena tak ada sedikitpun Respon dari semua orangyang berada di dalam ruangan ini.
“Nak Ramma yakin dengan ucapan Nak Ramma.?”
“Saya yakin Oom.” Kataku dengan pasti.
“Apa yang membuat nak Ramma yakin.?”
“Saya mencintainya.”
“Hanya itu.?”
“Saya tidak bisa hidup tanpanya.”
“Bagaimana denganmu Sha..?” Kali ini Oom Handoyo menatap Shasha yang kini sedang meremaas tanganku.
“Aku.. Aku sayang Mas Ramma Pa..”
“Pa.. Apa Cinta cukup untuk menjadi modal berumah tangga.?” Kali ini Renno mulai berbicara. Sialan.. dia pasti mengacaukan semuanya.
“Maksud kamu apa Renn.?”
“Aku nggak akan terima dia jika dia hanya melamar bermodalkan Cinta.”
“Lalu.. Apa mau kamu.?” Oom Handoyo masih tak mengerti arah pembicaraan Renno.
“Aku hanya butuh bukti dan kepercayaan.” Jawabnya tegas sambil menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Papa masih tak mengerti.”
“Shasha adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam keluarga ini. Aku nggak akan membiarkan seorangpun menyakitinya. Aku hanya butuh bukti bahwa dia berubah dan tak akan menyakiti Shasha lagi..” katanya dengan pasti.
“Saya akan membuktikannya Oom.” Kataku pada Oom Handoyo tapi tatapan mataku terarah pada Renno.
“Dengan Apa.?” Kali ini Renno menantang.
Aku berdiri tepat di hadapannya. “Lo Akan tau, tapi saat Gue sudah memenuhi Syarat Lo, Gue akan tagih Janji Lo ntuk merestui hubungan Kami.”
Renno mengangguk pasti. Aku tau dia tak akan ingkar janji.
Akhirnya malam menegangkan itu di tutup dengan kepergianku. Meski aku belum mendapat jawaban pasti, setidaknya aku senang karena Renno mau memberiku kesempataan untuk membuktikan padanya jika aku bisa berubah.
***
Siang ini aku berada di sebuah Butik langganan Mamaku untuk mengambil baju untuk resepsi pernikahanku besok. Resepsi pernikahan..? Yaaa… Akhirnya besok, hari yang kutunggu-tunggu itu tiba juga.
Ini Sudah setahun setelah kejadian dimalam Aku melamar Shasha di hadapan kedua orang tuanya. Apa kalian fikir aku mendapatkan Shasha dengan begitu mudah..? Seperti Dhanni yang hanya mengandalkan Perjodohan kunonya untuk mendapatkan Nessa..? Atau seperti Renno yang hanya mengandalkan Keadaan yang membuatnya harus bertanggung jawab terhadap Allea..? Ayolah… ini tak sesederhana itu. Bisa di bilang waktu setahun terakhir ini adalah Waktu dimana aku memasuki Neraka. Sialan..!!
Aku benar-benar berusaha sangat keras untuk mendapatkan kepercayaan dari keluarga Shasha terutama Kakak Sialannya itu. Dimulai dari berbenah diri, Aku memutuskan semua kontakku terhadap para wanita-wanita yang dekat denganku entah itu Model atau sekertaris-sekertaris Seksi yang sering kutemui. Aku berhenti menjadi Fotografer, mungkin ini terdengar lebih berani, tapi aku sudah bertekat akan melakukan apapun demi mendapatkan Shasha.
Belum lagi Kantor pribadiku yang saat ini sudah seperti Asrama Pria karena tak ada seorang wanitapun yang bekerja disana. Sialan…!!!
Tak hanya itu. Tak Jarang Renno memperburuk suasana dengan mengadakan Rapat santai disebuah Pub atau mengadakan acara-acara minum bersama disebuah Club dengan wanita bayaran untuk menemani minum disebelah kami. Aku tau dia hanya mengujiku, bahkan mungkin mengerjaiku. Dan aku berusaha sekuat tenaga jika aku tak akan tergoda meski sebenarnya tubuhku berkata lain. Yaa tentu saja aku tergoda dan berakhir Mastrubasi didalam kamar mandi. Sial…!!!
Renno juga membatasi pertemuanku dengan Shahsa, kami hanya bertemu seminggu duaa kali dan itupun harus di ruang tamu mereka.
Shiitt…!!! Dia benar-benar membunuhku.
Larangan Renno hanya berlaku beberapa bulan bagiku, sisanya tentu saja aku melanggarnya. Dengan diam-diam dan mengendap-endap seperti seorang pencuri, aku memasuki kamar Shasha yang berada di lanta dua. Tentu saja aku menyuap beberapa pelayan dan penjaga rumah mereka. Aku tak peduli lagi dengan Syarat Sialan Renno yang terakhir itu.
Pada akhirnya, Dua bulan yang lalu Renno menyerah dan menyetujui Lamaranku. Dia mengakui bahwa kini aku sudah berubah. Yahh tentu saja sudah berubah, berubah total malah. Tak ada kata wanita atau Seks lagi dalam hidupku setahun terakhir ini.
“Ramma..” Suara lembut itu mengalihhkan pikiranku. Jangan bilang kalau itu mantanku.
Aku menoleh kebelakang dan mendapati sosok wanita yang cukup lama tak kutemui. “Nadia.” Yah.. dia Dokter Nadia teman Zoya.
“Heii… lama Nggak ketemu, apa kabar.?” Sapanya.
“Aku baik, kamu sendiri.?”
“Seperti yang kamu lihat, Aku juga baik.” Jawabnya kemudian. “Ramma, apa kita bisa ngopi sebentar.? Ada yang pengen aku omongkan.” Kataanya kemudian.
Aku melihat jaam tanganku, sepertinya ada cukup waktu. “Baiklah, tapi aku tak bisa lama.” Kataku kemudian lalu kami menuju kesebuah Cofee shop dissebelah Butik langganan mamaku.
***
“Kamu ngapain kebutik itu sendirian.?” Tanyanya saat kami sudah duduk menikmati Cofee pesanan kami.
“Aku mengaambil baju pesanan Mama untuk resepsi pernikahanku besok.”
“Apa..? Kamu menikah.? Sama Shasha..?” Tanyanya dengan raut terkejut.
“Kamu tau dari mana tentang aku dan Shasha.?”
“Kamu kan pernah mengajaknya ketempatku untuk memasang kontrasepsi.” Dan aku mengangguk, sejujurnya aku sudaah lupa.
“Ramm, Bagaimana kabar Zoya.?”
Sontak aku menatap mta Nadia. “Harusnya kamu yang tau kabarnya, kamu kan sahabatnya. Aku nggaak tau apa kabarnya dan aku nggak mau tau.”
“Kamu pikir sejak kejadian itu dia mau mengaanggapku sebagai temannya lagi.?”
Aku mengangkat kedua bahuku. “Mungkin.”
Nadia menggeleng. “Dia sangat marah kepadaku karena secara tak langsung aku yang membuat hubungan kalian putus.”
Aku tersenyum hambar. “Sialan..!!! Harusnya dia sadar jika da sendiri yang menghancurkan hubungan kami.” Gerutuku.
“Kupikir dia sekarang berada di rumahnya di Singapore, Apa kamu nggak mau menemuinya..?”
“Untuk apa..? hubungan kita sudah selesai malam itu juga. Aku terlalu muak dengannya apa lagi saat mengingat jika selama ini dia sudah membohongiku.”
Nadia hanya terdiam dambil sesekali memainkan cangkir Cofeenya.
“Nad.. apa benar jika Zoya sebenarnya masih cinta dengan suaminya walau sudah hidup bersamaku saat itu.?”
Nadia menghembuskan nafas panjang. “Sejujurnya aku juga tak tau bagaimana perasaannya, aku hanya berpikir bahwa dia belum mau berpisah dengan Ardi karena setauku Dia masih sering menemui Ardi.”
Sial..!! Ternyata wanita itu benar-benar sudah menipuk selama ini.
“Ramma.. apa nggak sebaiknya kamu berbaikan dengannya, walau kalian nggak mungkin bersama tapi setidaknya hubungi dia, aku benar-benar merasa tak enak dengannya.”
“Maaf Nad.. Aku nggak bisa, aku nggak akan mau mengenalnya lagi.” Kataku dengan pasti. “Emm… Siapa tau kamu nggak ada acara besok, datangah ke resepsi pernikahanku.” Kataku mengalihkan pembicaraan.
Nadia tersenyum. “Aku minta maaf sebelumnya, besok aku juga ada acara lamaran adikku.”
Akupun tersenyum kepadanya. “Baiklah, Sepertinya memang kamu sangat sibuk. Kupikir kita masih tetap bisaberteman walau tanpa Zoya.”
“Tentu saja.” Jawabnya cepat. “Aku masih ingin melihat tampang bodohmu nanti saat kamu mengantar istrimu melahirkan.” Katanya sambil tertawa.
“hahhaha Kamu salah, aku nggak akan memperlihatkan tampang bodohku. Lihat saja nanti.”
Dan begitulah, kami mengobrol sepanjang siang itu… seperti menemukan teman baru. Nadia akan menjadi teman baikku dengan Shasha nantinya, tentunya teman untuk konsultasi masalah Seks dan sebagainya. Sial..!! kenapa aku sudah memikirkan hal itu..??
***
Aku keluar dari kamar Rias mendapati wanita yang sangat kucintai menatapku dengan berlinang air mata. Air mata bahagia tentunya, dia menghampiriku dan memelukku dengan sesenggukan.
“Mama nggak nyangka Kamu sudah gede seperti ini bahkan sudah memiliki istri.” Kata Mama dalam pelukanku. Yaaa wanita itu adalah Mama. Mama tek berhenti menangis haru sejak upacara pernikahan yang terasa sangat sakral tadi pagi. Kini Mama menghampiriku sebelum acara Resepsi dimulai.
“Mama udah Ahh… nanti jelek loh..” kataku menenangkannya.
Mama melepaskan pelukannya. “Ingat, Jadi suami yang baik, janganpernah sakitin istri kamu.”
“Tentu Ma… astaga.. aku bahkan bisa gila saat berusaha mendapatkannya. Aku nggak akan menyia-nyiakannya lagi.” Janjiku pada Mama.
“Permisi, Acara sudah akan dimulai.” Kata seorang yang kuyakini sebagai Wedding Organizer pernikahanku. Aku ngangguk dan mengikuti orang tersebut masuk kedalam Pesta.
Disana sudah ramai sekali orang. Aku melihat Dhanni dengan istrinya sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang yang kuyakini sebagai Klien perusahaan mereka. Dhanni lalu melihat kearahku, dia tersenyum sambil mengangkat Gelasnya. Tak jauh dari sana aku melihat Renno sedang berkumpul dengan keluarga besarnya, yang kini juga sudah menjadi keluarga besarku. Dia menatapku, tersenyum lalu mengangkat gelasnya juga untukku seperti yang dilakukan Dhanni. Aku tersenyum melihat tingkah Mereka.
Tiba-tiba kurasakan tanganku di genggam oleh sebuah tangan Mungil Nan lembut. Menoleh kesebelahku dan aku sudah mendapati Shasha berdiri dengan Anggun dan cantiknya. Sialan..!! dia benar-benar sangat cantik. Dan dia milikku.
Kami menuju ketengah-tengah pesta, Berbaur bersama, berdansa bersama, nuansa hitam menyelimuti ruangan ini karena tema dari resepsi kami adalah ‘Dark Heaven’ jadi seluruh tamu di wajibkan mengenakan pakaian Hitam.
Begitupun dengan aku Dan Shasha. Aku mengenakan Tuxedo hitamku yang kata Mama terlihat sangat gagah saat kukenakan, Dan Shahsa, Ya tuhan.. aku tak dapat berkata-kata lagi. Dia terlihat sempurna. Dan sepertinya aku tak bisa lama-lama berada di dalam Pesta ini.
***
Malam ini aku masih harus pulang kerumah Shasha, dan baru besok pagi kami akan pindah kerumahku. Shasha masih membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan aku masih sibuk mengatur peralatan kami kedalam Koper. Tiba-tiba aku mendengar pintu diketuk. Kubuka dan mendapati Sosok itu, Sosok yang beberapa bulan terakhir ini menjadi Sosok yang menyebalkan untukku, Renno.
“Bisa keluar sebentar.?” Ajaknya kemudian, aku tak menjawab, aku hanya mengikutinya dari belakang.
Dia menuju kesebuah Balkon yang berada di tengah-tengaah antara kamarnya Dan kamar Shasha. Mau apa dia mengajakku kemari.? Apa dia ingin memberi Syarat sialannya lagi.?
“Gue nggak nyangka Kalo Lo yang bakalan jadi Adek ipar Gue.” Kata Renno tiba-tiba. Aku hanya Diam mendengarkan semua ocehannya. “Ramm, Shasha sangat berarti buat Gue, Gue Harap Lo….”
“Renn.” Aku memotong kalimatnya. “Shasha juga sangat berarti buat Gue, Gue nggak mungkin ngotot melakukan semuanya sampai saat ini jika Gue nggak benar-benar sayang sama Dia.”
“Gue Ngerti, Gue Cuma…”
“Renn… Gue tau Lo sayang sama Shasha, Lo nggak mau dia tersakiti, Tapi Please… Kali ini pegang janji Gue, Gue nggak akan nyakitin dia, Gue akan berusahaa sekeras mungkin untuk membahagiakanya. Gue janji.” Kataku dengan sungguh-sungguh.
Renno menepuk bahuku. “Gue percaya sama Lo.” Aku menghembuskan nafas lega. “Ramm.. gimana, Apa Lo menikmati siksaan Gue setahun belakang ini..??” Tanyanya yang kali ini disertai dengan senyuman mengejeknya.
“Sialan Lo..!! Gue sudah seperti masuk Neraka.” Dan kamipun lalu tertawa terbahak-bahak bersama. “Thanks Renn.. Lo mau kasih Gue kesempatan.” Kataku lagi dengan serius.
“Itu sebagai imbalan, jadi sekarang kita impas.”
“Imbalan apa maksud Lo..?”
“Imbalan karena Dulu Lo mau minjamin Apartemen Lo ke Gue, dan Akhirnya Gue Bertemu dengan Allea disana.” Aku mengangguk.
“Itu Takdir Renn yang mempertemukan Kalian, Sama seperti Dhanni dan Nessa, atau Gue Dan Shasha. Semua karena takdir.”
“Sialan..!!! Sejak Kapan Lo bisa bicara lebbay kayak gini..? Hhahaha”
“Brengsek Lo.” Umpatku kemudian. “Renn.. Apa Gue harus panggil Lo Kakak..?” Tanyaku dengan wajah sok serius. Kami saling pandang dan terdiam sebentar lalu mulai tertawa terbahak-bahak lagi.
“Hahhaha Brengsek Lo..!!” Kali ini Renno yang mengumpat kepadaku masih dengan tertawa.
“Heiii.. kalian Sedang apa.? Ini sudah malam, Mas… Reynald Nanti bangun kalau kamu teriak-teriak kayak gitu lagi.” Allea menegur kami.
“Ooo iya sayaang aku lupa.” Renno lalu Meninju bahuku. “Gue Balik dulu, istri Gue sudah marah-marah.”
“Ok… Gue juga harus balik, Karena ada Hal yang harus Gue lakuin dengan istri baru Gue.” Kataku sambil menyeringai.
“Sialan Lo..!!” Umpatnya.
***
Aku kembali kekamar, dan sudah mendapati Shasha yang sudah duduk manis dan masih mengenakan Juba mandinya. Dia terlihat segar. Dan Astaga… mengingat ini malam pengantin kami, Gairah langsung menyelimuti tubuhku.
Aku menuju kearahnya dan duduk disebelahnya. Aku menggenggam tangannya dan sesekali mengecupnya. Shiitt…!!! perasaan apa ini.? Kenapa aku jadi segugup ini..? tanpa kusangka tiba-tiba Shasha duduk diatas pangkuanku. Membuka dua kancing atasku. Sialan..!! ini terlihat begitu Erotis, dan dia terlihat begitu menggairahkan.
Aku menggenggam telapak tanganya. “Aku belum mandi sayang..”
“Tidak perlu mandi.”
“Kamu ingin aku melakukannya tanpa mandi..?”
Dia mengangkat sebelah alisnya, “Siapa bilang aku ingin melakukannya.?” Katanya dengan suara manja, “Aku hanya mau menggodamu saja.” Lanjutnya lagi.
“Beneran..?” Kali ini aku yang menggoda.
Dia mengangguk dengan pelan. Aku ingin menjawab namun dia menutup mulutku dengan telunjuknya. “Mas Ramma, Aku tau mungkin kamu akan bosan mendengarkan ini, Tapi aku hanya ingin bilang jika dari dulu aku mencintaimu, tak bisa berpaling darimu, dan kamu sudah seperti segalanya untukku, jadi aku mohon jangan pernah tinggalin aku.” Katanya dengan sungguh-sungguh.
Aku menangkup kedua pipinya. “Harusnya aku yang berkata dan memohon seperti itu. Aku mencintimu sejak dulu, kamu juga sudah seperti segalanya untukku. Jadi sebrengsek apapun aku nanti, aku mohon tetaplah bersamaku, jangan pernah tinggalin aku.”
“Jadi, ini sudah seperti janji kita berdua..?” tanyanya dengan polos.
“Tentu saja sayang.” Jawabku dengan mencubit pipinya. Lalu aku memeluknya, memeluknya dengan erat. “Makasih Sayang.. kamu sudah mau nunggu aku dan mau melalui semua kerumitan ini untukku.”
“Aku juga berterimakasih karena kamu mau kembali padaku Mas,.. Kembali mengakui bahwa kamu memang mencintaiku sejak dulu.”
“Dulu, sekarang dan seterusnya.” Ralatku.
“Baiklah-baiklah… terserah Mas Ramma saja. Tapi ngomong-ngomong, apa bisa pelukannya nggak seerat ini..? Kami nggak bisa bernafas.”
Dan aku tersenyum mendengar pernyataannya. Tapi tunggu dulu, Kami..? Apa maksudnya..? Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan tajam.
“Kami..?” Tanyaku dengan sedikit heran.
Dia meraih telapak tangan kananku lalu membawanya keperutnya. Aku menatapnya dengan ternganga. “Me And Her.”
“Her..?” tanyaku lagi kali ini dengan nada tak percaya.
Yes.. Kupikir dia seorang Princess.” Katanya dengan pasti.
“Princess.?” Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dia tersenyum kearahku. “Kamu nggak Shock Kan Mas..?”
“Maksud Kamu.. Kamu.. Hamil..?”
Dia terkikik melihat ekspresi bodohku. “Yaa… Sudah Dua belas minggu.” Bisiknya ketelingaku.
“Apa..?” aku sedikit berteriak. Menatapnya masih dengan tatapan tak percaya. “Kamu nyembunyiin semua ini dariku..?”
“Aku hanya mau kasih kamu kejutan.”
“Bagaimana dengan yang lain.?”
Dia masih saja tersenyum melihat tingkahku. “Nggak ada yang tau, kamu orang pertama yang kukasih tau.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi kupeluk kembali tubuhnya, menciumi leher jenjangnya. “Kamu nakal.” Bisikku di telinganya. Aku melepaskan pelukanku, lalu manatap perut datarnya, mengusapnya dan menciumnya lembut.
Sialan..!!! Aku akan jadi ayah.. Aku akan jadi ayah… dan ini benar-benar sangat membuatku bahagia. Membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Aku menatap Shasha penuh dengan kasih sayang, begitupun tatapannya terhadapku. “Terimakasih, Kamu sudah memberikan semuanya untukku. Aku nggak tau harus bilang apa lagi terhadapmu.”
Dia menangkup kedua pipiku. “Kamu cukup bilang mencintaiku setiap Harinya, dan aku akan sangat senang dan berterima kasih terhadapmu Mas..”
“Yaa.. aku akan mengatakannya, aku akan mengatakan itu setiap hari untuk kamu.” Kataku dengan semangat.
“Mengatakan Apa..?”
“Mengatakan Bahwa aku mencintaimu, Nattasha Handoyo.”
Kataku dengan pasti, kaami sama-sama tersenyum, lalu tanpa pikir panjang lagi aku mendekatkan bibirku kepada bibirnya, lebih dekat hingga ciuman ini tak terelakkan lagi. Ciuman Lembut dan manis, seperti kebahagiaan kami saat ini.

 

___END___

 

 

10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n

Btw… Ada penampakan Cowok2 ganteng Nihhh… hahhahahah See You Next My Story… 😀 :*

 

My Everything (Novel online) – Chapter 14

Comments 10 Standard

MEposter1My Everything

Chapter 14

Renno sialan..!!!
Bisa-bisanya dia menarik Shasha begitu saja dari genggamanku, tak peduli dia menangis dan meringis kesakitan. Apa itu yang disebut dengan seorang Kakak..? Aku tau jika Renno melakukan itu untuk melindungi Shasha dariku yang Brengsek, tapi apa Renno tak bisa membuka mata jika aku juga bisa berubah seperti halnya dia dan Dhanni..?? ini tak adil untukku. Dia menghakimiku dengan apa yang sudah kuperbuat selama ini, padahal aku yakin jika aku bisa memperbaiki semuanya jika itu dengan Shasha..
Dan aku.? Apa aku benar-benar sudah berubah menjadi lelaki yang super bodoh karena aku diam saja saat melihat kekasihku diseret dengan paksa oleh Kakak sialannya..? ingin Rasanya saat itu juga aku menghadiahi Renno dengan Bogem Mentahku, tapi aku masih harus ingat, jika aku harus menghormatinya, Bagaimanapun juga aku ingin dia menjadi Kakak iparku kelak. Aku tak punya pilihan lain selain hanya diam dan mengikuti mereka dari belakang.
Aku mengikutinya hingga sampai di depan Mansionnya. Tentu saja aku tak dapat melihat Shasha dari sini. Aku berusaha menghubunginya tapi Ponselnya tak aktif. Ada apa dengannya..?? Aku benar-benar sangat khawatir terhadapnya. Dan pada Akhirnya aku ketiduran disini, didalam mobilku didepan Mansion Shasha hingga pagi.
***
Masih tak mendapat kabar dari Shasha akhirnya pagi ini aku memilih untuk pulang, mandi, ganti baju lalu bergegas menuju kekantor Renno. Sialan..!!! dia benar-benar mengacaukan semuanya. Aku harus menghampirinya dan menjelaskan semuanya terhadap Si Renno.
Lama aku menunggu Renno didalam ruangannya. Sial..!! dia pasti terlambat lagi hari ini. Tapi aku tetap setia menunggunya. Hingga saat inipun tiba, saat dimana Renno datang di hadapanku dan menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Sedang apa Lo disini.? Kita nggak ada Rapat.” Katanya dingin. Sialan..!!
“Ayolah Renn, Lo tau ngapain Gue kesini.”
“Jika itu menyangkut Shasha, Lupain. Mending Lo Keuar dari ruangan Gue.” Kali ini dia berkata sambil dengan santainya duduk di kursi kebesarannya.
“Sialan Lo..!! Gue pengen Ngomong Baik-baik.” Dan aku tak dapat menahan Emosiku lagi.
Dia Menatapku tajam. “Ramm, Lo lupain semua ini, Lo gila, Lo brengsek, Dan Shasha nggak pantes Buat Lo.”
Aku tersenyum mengejek saat mendengar ucapannya. “Apa Lo terlihat bener.? Apa Lo nggak Brengsek..? Apa Lo pantas bersanding dengan Allea.?”
Kini Renno Sudah terpancing oleh perkataanku. Dia menggebrak meja dihadapannya dengan kedua tangannya. “Sialan..!!! Jangan Samakan Hubugan Gue dan Allea dengan Lo, Bagaimanapun juga Gue sudah berubah.”
“Dan apa Lo tau Gue Bisa berubah atau tidak..?” Tanyaku lantang.
Tiba-tiba pintu di buka oleh seseorang. “Kalian kenapa.?” Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Dhanni.
“Bawa dia pergi, Gue Malas bicara dengannya.” Kata Renno dengan angkuhnya.
Aku tersenyum miring. “Lo nggak berani nyelesein ini kan..?” Renno hanya terdiam.
“Sebenernya kalian Kenapa.? Sialan..!! kalian sudah seperti anak gadis yang berebut boneka dengan temannya. Nggak malu kalian sama umur.?”
“Gue Cinta Shasha dan dia mempersulit kami.” Kataku terang-terangan.
Kali ini Renno tertawa mengejek. “Sejak kapan Lo kenal Cinta.?”
“Dan Sejak kapan juga Lo kenal Cinta.?” Aku balik bertanya padanya.
Dhanni menghembuskan nafas kasar. “Sialan..!!! Ramma, sejak awal Gue sudah bilang sama Lo, Tinggalin Shasha, dia nggak pantes untuk Lo, dia terlalu lugu.”
“Lalu apa Nessa pantes Untuk Lo..? Apa Allea pantes untuk Dia..? Kalian Nggak Ngaca, kita sama-sama Brengsek. Jika kalian bisa berubah, kenapa Gue enggak.”
“Oke.. Gue Akui, perkataan Lo memang bener, kita bertiga memang sama-sama brengsek, tapi setidaknya Gue Dan Renno bisa membuktikan kalau kami bisa berubah.”
“Dan Gue akan Buktikan pada kalian Kalau Gue juga akan berubah.” Jawabku cepat.
Dengan tersenyum Renno berkata “Gue masih nggak percaya.” Sialan..!! Nampaknya Renno benar-benar berniat untuk mempersulitku.
Aku sudah mengepalkan tanganku. Ingin Rasanya mendaratkan Pukulan kerasku ini tepat diwajahnya. Memukulinya habis-habisan hingga dia minta ampun. Sialann..!!!
“Renn, Lo juga nggak bisa gitu, Bagaimanapun juga kita harus Kasih Ramma kesempatan, Bukankah Allea pernah kasih kesempatan sama Lo saat Lo punya salah padanya..?” Pernyataan Dhanni terdengar sedikit membantuku. “Dan Lo Ramm. Kalo Lo benar-benar Cinta Shasha, Buktikan, Bagaimanapun juga Shasha seperti Adek Gue sendiri, Dan Gue nggak mau Shasha jatuh di tangan Orang yang salah.”
“Gue Akan Buktikan.” Kataku dingin dan tajam lalu meninggalkan mereka begitu saja. Sialan..!! bisa-bisanya mereka berdua Kompak memojokkanku.
Aku merogoh saku dan mengambil Ponselku, Semoga Saja Ponsel Shahsa sudah Aktif. Saat kulihat, aku mendapat pesan dari Shasha.
‘Mas.. Aku di Apartemen.’
Pesan singkat namun Mampu membuatku tersenyum di tengah-tengah emosi yang melandaku.
***
Masuk kedalam Apartemen aku mendapati Shasha sedang berkutat dengan peralatan dapur. Apa dia sedang memasak..? Tanpa banyak bicara lagi kuhampiri dirinya dan kupeluk tubuhnya dari belakang. Dia sedikit terkejut dengan tingkahku.
“Kamu nggak apa-apa Kan.? Apa dia nyakitin kamu.?” Tanyaku Khawatir.
Shasha menggeleng. “Aku hanya tak suka sikap Kasarnya Mas… Mas Renn bahkan tak saling tegur sapa dengan Mbak Allea pagi ini. Dan itu gara-gara aku..” dia menangis.
Aku membalik tubuhnya dan kembali memeluknya, kini dia terisak di dadaku. “Kita akan Menyelesaikan semuanya, kita pasti bisa melewati semua ini.”
“Aku takut.. Aku takut Mas Renn nggak akan membiarkan kita bersama.”
Aku menangkup Pipinya. “Lihat aku. Jika Dia tetap bersikeras tak mengijinkan hubungan kita, aku akan membawamu kabur, Kita kawin Lari.”
Dia terlihat terkejut. “Benarkah..?”
“Kamu Nggak mau.?” Aku bertanya balik.
Dia lalu tersenyum, “Sepertinya itu bukan ide buruk.”
Aku mencubit pipinya, “Nah.. gitu dong.. jangan nangis Lagi.” Lalu aku kembali memeluknya. “Aku akan berusaha semampuku Sha… Walaupun nanti aku Gagal, Aku nggak akan membawamu kawin lari. Aku menghormatimu sebagaimana aku menghormati Kakak sialanmu itu.”
Lalu dia terkikik di dadaku. “Mas Renn Nggak sialan.”
“Yaaa bagiku dia sialan. Dhannipun sama. Tak ada satupun orang yang mendukungku.”
“Aku mendukungmu Mas..”
Lalu aku mencubit hidung mancungnya. “Kamu nggak termasuk sayang..” lalu aku mengecup bibirnya, bibir yang kurindukan. “Ehhh… tunggu dulu, Ngomong-ngomong.. ini bau apa..?”
“Bau..?” Dia nampak berfikir. “Astaga… Ayamku…” Teriaknya sambil menuju kekompor yang tak jauh di belakangnya.
***
Kami kini sudah duduk berhadapan di meja makan dengan Ayam Rica yang sudah gosong di tengah-tengah Meja. Aku menatap wajahnya yang terlihat lucu bagiku. Raut sedih, menyesal, dan malu bercampur menjadi satu membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Aku tersenyum saat melihat gadis di hadapanku ini seakan terlihat merajuk.
“Kenapa malah Ketawa.?”
“Kamu lucu.” Kataku masih dengan tersenyum.
“Aku bodoh, masak ayam saja Gosong.” Runtuknya.
“Itu salahku sayang.. kalau aku nggak nggodain kamu pasti hasilnya nggak kayak gini.”
“Sama aja, kalau aku nggak tergoda juga nggak akan kayak gini.”
Aku menghembuskan nafas panjang. “Oke.. karena kita sama-sama salah, bagaimana kalau kita makan siang diluar saja..?”
“Tapi…”
“Aku yakin kamu pasti suka.”
***
Aku memarkirkan Mobilku dihalaman sebuah Rumah besar bercat putih.
“Rumah siapa Ini Mas..?” Tanya Shasha sedikit heran.
“Rumahku.” Kataku sambil tersenyum. Lalu membuka pintu mobil, keluar, dan membukakan pintu mobil untuk Shasha.
“Katanya tadi mau makan diluar, kok kesini..? Kita mau apa kesini.?”
“Kamu nggak mau kenal sama Orang tuaku.?” Seketika itu juga aku melihat raut gugup dari wajahnya. “Kamu tenang aja, mereka baik kok.”
Dia hanya mengangguk. Dia meremas telapak tanganku yang sedang menggenggamnya, tangannya basah penuh keringat. Astagaa.. aku tau kalau dia gugup. Sangat gugup malah.
“Aku… sepertinya aku..”
“Kenapa.?”
“Entahlah.. perutku terasa penuh.”
Dan aku tertawa mendengar ucapan polosnya. “Kamu gugup sayang. Ini bukan pertama kalinya kamu ketemu sama mereka, jadi santai saja.” Lagi-lagi dia hanya mengangguk.
Kami masuk kedalam Rumah, kukira mama masih terbaring di Kamar karena baru keluar dari rumah sakit. Nyatanya saat ini dia sedang membantu para pelayan menyiapkan makan siang.
“Mama..” Kataku sambil berjalan kearahnya dan Memeluknya.
“Hai sayang.. tumben kamu pulang jam segini.?”
“Aku pulang membawa Calon menantumu.” Kataku sambil menunjuk Shasha dibelakangku yang wajahnya sudah pucat karena perkataanku. Dia lucu..
“Halo sayang, lama tak bertemu. Pasti kamu susah sekali yaa menghadapi Ramma, dia memang begitu, kamu harus banyak sabar.” Celoteh Mama yang langsung memeluk Shasha dengan Akrab. Sedangkan Shasha terlihat sangat Kaku sekali. Sungguh, aku benar-benar ingin tertawa saat melihat Ekspresinya saat ini.
***
“Is My Room.” Kataku sambil mempersilahkan Shasha masuk kedalam kamarku. Dia masuk dan melihat-lihat semua perabotan didalam kamarku.
“Mas Ramma suka Kartun.?” tanyanya sambil melihat-lihat Miniatur Kartun koleksiku. Aku hanya mengangguk. Sambil mengekorinya. Lalu dia berjalan kearah Lemari yang penuh dengan Koleksi Kameraku. “Suka Kamera juga,?” Tanyanya lagi.
Kali ini aku mengangguk sambil tersenyum. “Aku Fotografer, pastinya suka dengan kamera.”
“Oww….” Dia terlihat salah tingkah.
Aku menggenggam tangannya. Mengajaknya kedepan sebuah lemari yang berada di ujung ruangan, membuka lemari tersebut dan mengeluarkan sebuah kardus besar yang ada didalamnya.
“Apa ini..?” Tanyanya tak mengerti.
“Bukalah.”
Dan ketika dia membuka Kardus tersebut, dia ternganga dengan apa yang di lihatnya. Sebuah Kardus besar yang penuh dengan Foto dirinya. Itu Koleksi foto Shasha yang kumiliki yang sudah kubersihkan dan kusimpan rapat-rapat. Dulu tanpa ia Sadari Shasha menjadi objek Fotoku. Aku memotretnya setiap hari setiap waktu, dan au baru sadar jika kebiasaan itulah yang membuatku tak memiliki perasaan ini dan tak bisa jauh dari dirinya.
“Astaga.. kenapa bisa..”
“Masih banyak lagi, sebagian ada di ruangan khusus di Studio fotoku.” Ujarku penuh dengan kejujura.
“Tapi… Mas Ramma kenapa bisa…”
Aku menggenggam tangannya. “Sha… ini salah satu bukti jika aku Mencintaimu dari dulu sekarang dan seterusnya, aku memang pernah menyakitimu dan memungkiri perasaan ini, tapi nyatanya perasaan ini masih sama seperti dulu. Aku tak bisa berpaling darimu Sha..” kataku menjelaskan. “Sha… Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku tadi saat makan malam.” Kataku kini sambil menatap tajam bola matanya.
Siang ini dia berada di rumahku, Mama mengajaknya makan siang lalu berbincang hingga Sore. Bahkan tadi Shasha membantu Mama menyiapkan makan malam. Tadi saat makan malam, aku kembali melamar Shasha di hadapan Orang tuaku. Aku ingin dia tau bahwa aku sungguh-sungguh. Mama terlihat sangat senang, begitupun Papa. Sedangkan Shasha masih diam membatu. Aku tak tau apa yang dia fikirkan. Apa kini dia Ragu terhadapku..? padahal aku hanya butuh jawabannya. Jika dia menjawab iya, aku Akan menjalankan Langkah selanjutnya.
“Mas… Hubungan kita Rumit, Mas Renn…”
“Sha… aku butuh jawaban kamu berupa sebuah dukungan.” Aku memotong kalimatya. Aku menatap wajahnya dengan intens. “Sungguh, Aku benar-benar Gila karena kamu, aku nggak bisa jauh darimu. Kamu masih mau kan meneria lamaranku.?” Tanyaku lagi.
“Tapi Mas Renn..”
“Aku akan urus dia, Aku hanya butuh kepastian dari kamu.”
Dia menunduk, lalu menjawab dengan pelan. “Aku mau Mas..”
Dan tanpa banyak bicara Lagi kusambar bibir mungilnya yang sejak tadi sudah menggodaku. Sedikit demi sedikit kudorong tubuhnya kebelakang hingga terjerembab diatas ranjangku. Dia menikmatinya, aku tau itu, dia membalas ciuman panasku sambil sesekali mengacak Rambutku.
“Sial.. Aku menginginkanmu sekarag juga.” Racauku sambil mengecupi rahang dan lehernya.
“Hemmbbb….” Hanya itu jawabannya. Dan tanpa banyak bicara lagi kulanjutkan apa yang sedang kulakukan, mulai melumatnya, menghisapnya dimana-mana. Lalu tiba-tiba aku tersadar jika ini salah. Bukan, Maksudku aku tak bisa bercinta dengannya disini.
Aku melepaskan Cumbuanku membuatnya menatapku dengan tatapan tanda tanya. “Emm… Maaf, Kita nggak bisa melakukannya disini.” Kataku masih dengan suara Parau penuh gairah.
Sial…!!! siapa Suruh tadi aku mencumbunya.? Aku bangun dan duduk di pinggiran ranjang. “Aku tak pernah bercinta di rumah ini, Mama bisa jantungan kalau melihatku ngapa-ngapain kamu disini.” Jelasku.
“iyaa.. aku mengerti.” Jawabnya denganmembenarkan letak bajunya yang berantakan karena ulahku. Sialan…!!!
***
Kali ini giliranku yang Gugup. Keringat dingin tak berhenti keluar dari dahiku. Perutku terasa mulas, tanganku bahkan sedikit gemetar. Kenapa seperti ini..? Malam ini aku mengantar Shasha pulang. Tentu saja aku memiliki tujuan saat mengantarnya.
“Ehh.. Kamu sudah pulang sayang.” Kata wanita paruh baya yang sedang membukakan pintu rumahnya, dia Tante Ria, Mama Renno dan Shasha.
“Lohh.. ada Nak Ramma.” Tante Ria sedikit terkejut saat melihat aku berada di sebelah Shasha, bahkan saat melihat telapak tangan kami saling bertautan satu sama lain.
Aku tersenyum seramah mungkin. “Malam Tante.. Oom nya ada.?”
“Ada.. kebetulan ada di rumah. Nak Ramma ada perlu.?”
“Iya Tante, saya ingin berbicara sesuatu dengan Oom.”
“Ayoo masuk, jangan diluar saja, biar Tante panggil Oom nya.”
Lalu akupun masuk, duduk di ruang tamu dan Shasha masih di sampingku. Dia duduk tak kalah gelisah dariku.
“Ada apa nihh Nak Ramma kok datang malam-malam gini.?” Tanya Oom Handoyo yang kini sudah berada di ruang tamu. Aku berdiri, bersalaman dengannya dan mulai berbicara ketika beliau sudah duduk.
“Ini Oom.. Saya….”
“Ngapain Lo kesini.?” Sial..!!! itu suara Sialannya si Renno. Harusya aku yang tanya, ngapain dia disini. Mengganggu orang saja.
Aku melihat Renno yang menatapku dengan tatapan penuh amarah, apalagi saat melihaat Shasha meremas tanganku seperti orang yang sedang ketakutan.
Tanpa menghiraukan Renno, Aku kembali menatap Oom Handoyo, berkata dengan tegas dan pasti dalam sekali tarikan Nafas. “Saya ingin Melamar Shasha Oom.”

_TBC_

Bagaimana..?? ada yang udah berhenti penasaran…?? heheheh ooiyaaa sedikit info bahwa Next Chapter adalah Chapter terakhir, tapi tenang saja.. masih ada Epilognya kok… jadi masih 2X Post yaa… hehheeheh selamat menunggu…!!! 🙂 😉

My Everything (Novel Online) – Chapter 13

Comments 6 Standard

me12My Everything

Chapter 13
-Shasha-

 

 

Saat ini aku sedang mengobati luka yang ada di ujung bibirnya. Kami sama-sama diam sejak di dalam mobil tadi. Rasa canggung bercampur dengan gugup di tambah perasaan rindu yang menggebu-nggebu bercampur jadi satu didalam diriku. Aku ingin memeluknya, sungguh… aku benar-benar merindukannya.
Setelah berpisah, aku sama sekali tak tau harus berbuat Apa. Sedikit terkejut saat diaa kembali dan berkata jika dia tak bisa meninggalkan wanita itu. Tapi aku sadar, mungkin ada suatu alasan yang mendasarinya. Aku melepasnya dengan ikhlas meski sebenarnya hatiku sangat berat menerima kenyataan itu.
Aku mendengar kabar jika ternyata dia akan menikahi Wanita itu. Dia mencampakanku dan ingin menikahi wanita itu, Sungguh, hatiku sangat sakit, sakit yang berkali-kali lipat kurasakan dari pada sakit yang telah kupikul beberapa tahun belakangan ini. Tapi tetap saja, aku tak dapat membencinya, Dia membekas dihatiku, Rasa sakit itu seakan menjelma menjadi butiran-butiran cinta Kecil yang lalu menumpuk dalam hatiku, Pada Akhirnya bukan rasa benci yang kurasakan padanya, tapi rasa Cinta yang semakin membumbung tinggi hingga hatiku seakan-akan tak sanggup lagi menerimanya. Aku harus bagaimana..? Apa yang harus kulakukan dengan rasa Cinta sebanyak ini..??
Hari-hari yang kulalui berubah menjaadi Suram, tak ada harapan lagi untukku hidup apalagi mengenal cinta lagi. Separuh jiwanya kubawa pergi tapi dia juga tak sadar jika dirinya juga membawa separuh jiwaku pergi bersamanya. Aku hanya mencoba menjalani hari-hari dengan biasa walau sebenarnya aku sudah sangat putus asa.
Aku tau jika dia mengunjungiku setiap harinya. Kami sama-sama saling menatap, saling melempar senyum, seakan-akan saling mengatakan jika kami baik-baik saja walau sebenarnya kami sama-sama hancur, sama-sama terluka.
Aku tak sadar jika luka ini lama-lama mengikisku, Merubahku menjadi sosok yang berbeda, yang lebih dewasa hingga diriku sanggup menerima semuanya. Mbak Allea selalu bilang, jika Cinta memiliki jalannya masing-masing. Aku percaya, Sungguh aku percaya itu. Tapi bagaimana jika Cintaku menemui jalan Buntu..?? bagaimana jika aku tak sanggup dan aku memilih menyerah ketika aku menemui jalan yang sangat sulit..??
Menangis.. hanya menangis setiap malam yang bisa kulakukan.
Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar jika Dia membatalkan pernikahannya. Ada apa..?? Senang..? Ya.. tentu saja aku senang, itu tandanya aku masih memiliki kesempatan. Tapi nyatanya hingga saat ini dia tak kembali kepadaku, tak kembali mencariku. Ada apa dengannya..?
Aku sudah mengatakan jika sampai kapanpun aku akan menunggunya, aku akan menerimanya jika dia kembali, nyatanya dia tak kembali padaku walau sudah berpisah dengan Wanita itu. Hingga malam ini aku mendapatinya saling adu pukul Dengan Ricky. Mas Ramma benar-benar terlihat menakutkan, mungkin saja Ricky akan kehilangan nyawanya saat itu juga jika aaku tak menghentikannya.
Aku memeluknya dengan erat, menenangkannya. tubuhnya tegang, sangat tegang. Tatapan matanya tajam membunuh, suaranya sedingin salju. Ada apa dengannya..? Apa dia memiliki masalah dengan Ricky sebelumnya..?
“Ahhhhh..” Dia sedikit mengerang saat aku mengoles lukanya dengan sedikit Salep untuk memar-memar.
“Maafkan aku, tahan sebentar, ini akan sembuh.” Kataku dengan sedikit Canggung.
Saat ini kami sedang berada di dalam Apartemennya, Apartemen yang memiliki banyak kenangan tentang kami. Sedikit gugup karena jarak kami sekarang sangat dekat, mungkin hanya beberapa Inci.
“Kamu Cantik.” Katanya kemudian tanpa basa-basi.
Aku membatu seketika ketika mendengar ucapannya. Jantungku memompa lebih cepat, tubuhku menegang mendengar dua kata tersebut dari bibirnya. Ya tuhan.. kenapa dia memberiku Efek yang sangat serius seperti sekarang ini..?? Tanpa anyak bicara aku membereskan Kotak obat yang berada di sampingku, lalu bergegas pergi mengembalikan pada tempatnya. Tiba-tiba aku merasakan tangannya melingkari perutku. Memelukku dengan Posesif.
“Jangan pergi… Jangan tinggalin aku.” Katanya sambil menyandarkan wajahnya di punggungku.
“Aku tidak pernah pergi Mas… Kamu yang pergi ninggalin aku.” Jawabku lirih.
“Maafkan aku.. Aku bodoh, aku benar-benar sangat bodoh.”
Aku tersenyum. “Bodoh dan brengsek.”
“Yaa itulah Aku.” Jawabnya lagi masih dengan memelukku.
Aku lalu melepaskan pelukannya, dan memutar tubuhku hingga menghadapnya. “Aku harus pulang, ini sudah malam.”
“Enggak.. Kamu nggak boleh pulang Kerumah lelaki Brengsek itu.”
Aku mengernyit, “Lelaki btrengsek..?” tanyaku yang masih tak mengerti apa yang dibicarakannya.
“Iyaa.. selama ini kamu tinggal dengan Lelaki sialan itu kan..?”
Apa..? Apa dia nggak salah bicara..? Apa dia sedang demam atau kehabisan obat..? Seputus asanya aku saat berpisah dengannya aku tak mungkin tinggal dengan lelaki lain apalagi lelaki yang tak kucintai.
“Kamu ngomong apa sih Mas..? aku nggak ngerti.”
“Aku ngikutin kamu dan kamu tinggal di sebuah rumah kecil dengan Lelaki Brengsek itu kan..?” kali ini dia bertanya sambil memicingkan Matanya.
Aku sedikit tersenyum. “Astaga.. Aku memang tinggal disitu, tapi nggak sama Ricky mas..”
Dia sedikit terkejut dengan jawabanku. “Kamu serius..? Aku lihat dia sering antar jemput kamu, Kalian juga belanja bersama, belum lagi saat itu aku melihat kalian mematikan seluruh lampu di rumah itu saat kalian ada didalam.”
Dan akupun tak dapat menahan tawaku lagi. Dia Cemburu. Aku tau itu. “Jadi kamu selalu membuntutiku..?” Tanyaku masih dengan tertawa.
“Nggak sengaja.” Elaknya
“Kalau nggak Sengaja kok bisa tau semuanya..?” Godaku.
“Ah… Sudah, Jangan bohong, Aku sudah menyelidiki kamu.” Jawabnya dengan bersungut-sungut.
Aku tersenyum saat melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. “Jadi karena itu Mas Ramma memukuli Ricky sampai Babak belur..?” Tanyaku kemudian.
“Dia Brengsek, Dia mencium teman kamu dibelakangmu. Aku hanya nggak mau Dia menyakitimu.”
“Mas Ramma juga Brengsek.”
“Yaa aku tau itu, tapi setidaknya aku tak berkencan atau mencium teman dari pacarku sendiri apalagi ketika kami sedang jalan bersama.”
Lagi-lagi aku tersenyum melihat tingkahnya. “Mas.. Ricky bukan Pacarku, Kami nggak sedang dalam suatu hubungan.” Aku menjelaskannya dengan lembut.
Dia membulatkan matanya seakan-akan tak percaya dengan pernyataanku.
“Baiklah, dulu kami memang pernah pacaran, tapi aku sudah memutuskannya karena aku tau aku tak pernah mencintainya. Dia teman yang baik, Dan dia ingin mendekati sahabatku, Devi. Gadis yang diciumnya tadi.”
“Apa..?” Dia terlihat terkejut dengan penjelasanku. “Nggak mungkin. Aku sudah melihat kebersamaan kalian beberapa hari ini.”
Dan lagi-lagi aku tersenyum. “Rumah itu adalah, kontrakan milik Devi. Dan aku menumpang tinggal dirumah kontrakannya karena aku tak mungkin pulang saat aku keluar dari Apartemen Mas Ramma, Mas Renno akan Curiga.”
“Lalu.. Kamu dan lelaaki itu.. kenapa bisa..”
“Ricky sedang PDKT dengan Devi Mas.. Devi yang kerjaannya sebagai perawat di salah satu rumah sakit tentu saja sangat sibuk, jadi mau nggak mau semua urusan Ricky dengan Devi aku yang ngatur. Lagian Ricky teman terbaikku Mas..”
“Kamu Yakin.?”
“Kamu masih nggak percaya..? Astaga..”
“Lalu saat kalian mematikan lampu itu.”
Dan akupun langsung tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, Saat itu Voucer listrik kami habis, dan aku lupa beli, akhirnya kami hanya bisa pasrah dengan lilin sebagai penerangan malam itu, lagian aku nggak hanya berdua Kok, Devi sudah pulang saat itu.”
Aku melihat dia memejamkan matanya, terlihat dengan jelas jika dia sangat lega saat mengetaahui apa yang terjadi denganku.
“Kamu benar-benar Cemburu.?” Tanyaku lagi.
“Kamu pikir Apa..? Aku bisa Gila karena memikirkan kamu. Bahkan aku berencana untuk mencincang kaki tangan Lelaki busuk tersebut.”
“Aku selalu disini Mas, Kapanpun kamu mencari, aku akan disini.”
“Dan apa kamu menerima jika aku kembali lagi kepadamu..?”
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Mungkin aku terlihat Bodoh, tapi sudahlah, dari dulu aku memang bodoh. Aku mencintainya tanpa Syarat. Memujanya walau dengan kesakitan. Aku membutuhkannya seperti aku membutuhkan udara untuk hidup. Aku rela merendahkan harga diriku sendiri hanya demi dia kembali padaku. Semua itu karena aku mencintainya, sungguh mencintainya dari dulu, sekarang dan seterusnya. Mencintai tanpa menggunakan Logika.
Dia lalu mendekatkan bibirnya kepada bibirku, munciumnya, menghisapnya penuh dengan kerinduan. Lalu mulai melumatnya sedikit demi sedikit hingga menjadi lumatan panas.
“Ahhh..” Katanya sambil meringis kesakitan pada bibirnya yang luka.
“Sepertinya kita tak bisa berciuman beberapa waktu dulu.” Kataku sambil tersenyum.
“Kata siapa..?” tanyanya sambil mndorongku hingga kedinding dan memenjarakan aku. “Apa Kamu tau betapa aku merindukan saat-saat seperti ini..? Aku tak peduli jika bibirku sakit atau berdarah, Yang kupedulikan hanyalah melepas rindu denganmu.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi dia mulai melumat bibirku dengan kasar menghisapnya seakan-akan menyesap rasanya. “Sialan Sha..!! aku sangat meindukan ini..” Katana di sela-sela ciumannya. Lida kami sudah bertautan menari-nari layaknya mengiringi sebuah lagu cinta, Aku terbuai, aku terlena oleh cumbuannya.
Tangannya mulai menjelajahi tubuhku, bergerilya didalam T-shirt yang kukenakan. Berhenti di perut datarku. “Astaga Sha.. Aku sangat suka saat meraba perutmu.” Aku sedikit tersenyum mendengar racauannya. Tangannya semakin kebawah hingga menyentuh pusatku sedangkan bibirnya kini sudah mencecap leher jenjangku.
“Heemmbbb..” Erangku tak bisa menahan kenikmatan ini.
Dia menghentikan semua aksinya membuatku sedikit kecewa, menatapku dengan tajam. “Kamarku.” Katanya kemudian. Dan tanpa banyak bicara lagi dia mengangkat tubuhku masuk kedalam kamarnya dan membaringkannya disana.
Melucuti pakaianku dan pakaiannya satu persatu hingga kini kami sama-sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Aku memalingkan wajahku. Sedikit malu karena sudah cukup lama kami berpisah, kami baru bertemu dan langsung melakukan hal panas ini. Dia mengangkat daguku hingga aku menatap wajahnya.
“Kenapa..?” tanyanya sedikit menyunggingkan sebuah senyuman.
Aku hanya menggeleng. “Aku.. Aku merasa seperti wanita murahan.”
Dia lalu tersenyum. “Apa aku membayarmu hingga kamu merasa murah..?”
“Mungkin…” Jawabku dengan nada sedikit menggoda.
Mas Ramma lalu sedikit tertawa. “Yaa.. aku memang membayarmu. Membayarmu sangat mahal.” Katanya kemudian.
Aku mengernyit. “Dengan apa..?”
“Dengan Cinta dan seluruh hidupku.” Katanya dengan tegas dan mantap lalu mulai menciumku kembali. Akupun menikmati cumbuannya walau dalam hati serasa ingin meledak karena pernyataannya.
Menciumi seluruh permukaan kulitku, seperti dia sedang memujaku. Menghisapku dimana-mana menbuatku semakin menggelinjang. Astaga… kapan siksaan ini akan berakhir..?
Tak lama aku merasakan dia menyentuh pusatku. Aku terkesiap ketika dirinya akan menyatukan diri.
“Ada apa..?” tanyanya sedikit heran.
“Mas Ramma nggak pakek pengaman..? Aku.. aku nggak KB lagi.” Kataku sedikit ragu.
“Memangnya kenapa..?”
“Aku takut hamil.”
Dia tersenyum lalu mengecup singkat bibirku. “Aku akan tanggung jawab, dan itu akan mengalahkan kakak sialanmu itu.”
“Maksudnya..?”
“Kalau Kamu Hamil, mau nggak mau dia merestui kita.”
“Tapi aku….”
Dia menutup bibirku dengan bibirnya. “Percaya padaku Sha..” Dan seperti itulah, dengan kelembutan dan bujuk rayunya sekali lagi aku terjatuh dalam pesonanya. Aku tak mampu mengelak atau menolak. Aku juga menginginkannya sebesar dia menginginkanku, kami sama-sama saling membutuhkan.
Akhirnya menyatulah tubuhnya dan tubuhku tanpa celah apapun, Saling mencumbu satu sama lain, saling memuja satu sama lain. Menikmati rasa satu sama lain. Astaga… aku tak pernah sebahagia ini… ini sangat berbeda dengan percintaan panas terakhir kami yang penuh dengan emosi dan air mata.
Sesekali kami terkikik walau masih penuh dengan gairah.
“Kamu menikmatinya sayang..?” tanyanya dengan lembut.
“Hembb..” aku tak dapat menjawab lagi karna tubuhku seakan penuh dengan sengatan kenikmatan yang diberikan olehnya.
“Aku juga… Kita akan menikmati ini bersama-sama hingga akhir. Percayalah padaku.” Katanya lalu mengecup keningku dengan lembut. Kata-kata itu menenangkanku. Yaa… aku percaya padanya, percaya seutuhnya, tak ada satu keraguan apapun untuk dirinya…
***
Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi. Yaa… akhinya kami bangun kesiangan setelah pergulatan panas yang seakan-akan tak pernah berakhir tadi malam. Dia memeluk perutku dengan posesif. Saat aku bergerak ingin meninggalkannya, dia mengeratkan pelukannya.
“Pagi… Mau kemana..?” katanya serak khas orang bangun tidur.
“Pagi… Em.. aku mau pipis.” Jawabku dengan polos.
Dan dia sontak tertawa terbahak-bahak. “Mau pipis bareng..?” Godanya. Dan aku langsung membekap wajahnya dengan Bantalku. Tak berapa lama dia membalas dengan membalik tubuhku seketika hingga berada di bawahnya. “Kamu mau bermain nakal..?”
“Astaga.. aku mau kekamar mandi, Aku sudah gerah Mas..”
“Kita kekamar mandi bareng.”
“Enggak aku mau sendiri.”
“Kenapa..?” Dan aku hanya menggelengkan kepalaku. “Dasar manja.” Katanya lagi sambil menggulingkan tubuh polosnya kesebelahku.
Aku berdiri dengan mengenakan selimut dan bergegas pergi meninggalkannya kekamar mandi.
“Sha..” Panggilnya sebelum aku membuka pintu kamar mandi. Aku menatapnya dan dia menatapku dengan sungguh-sungguh. “Tinggalah disini bersamaku.” Katanya dengan sungguh-sungguh. Dan tanpa berfikir lagi aku menganggukkan kepalaku dengan antusias.
***
Saat ini aku sedang berusaha membuatkan Omlet untuknya. Astaga… Omlet apanya.. Ini lebih mirip dengan telur dadar biasa. Tadi aku sudah memanggangkan roti untuknya, maunya aku menyajikan Roti itu dengan isi sayuran, sosis, beberapa saus, dan juga telur setengah matang. Tapi aku menyerah. Berkali-kali aku memecahkan telur, tapi aku tak bisa memecahkannya dengan sempurna. Ya tuhan.. apa yang salah dengan tanganku..?? Akhirnya aku berakhir dengan mengkocok semua telur-telur tersebut dan membuatnya menjadi Omlet yang sekarang terlihat seperti telur dadar biasa. Astaga…
“Sedang bikin apa..?” tanya Mas Ramma yang kini sedang mengambil segelas air dari dalam kulkas.
“Telur dadar.” Jawabku sedikit kesal.
Dia menghampiriku dan sedikit tersenyum kepadaku. “Masih banyak kulitnya.” Ejeknya sambil tersenyum menyeringai.
“Aku tau, Mas Ramma sarapan diluar saja deh..” kataku ketus.
“Kok Gitu, aku kan mau sarapan telur dadar.”
“Yakin.. mau makan ini..?’
“Yakin lah… masakan kamu kan paling enak.” Katanya dengan sedikit tertawa, dan akupun ikut tertawa. Yaaa… aku tau jika dia hanya menggodaku. Enak dari mana…
Kamipun akhirnya berakhir dengan sarapan telur dadar yang ternyata sedikit lebih asin dari pada biasanya. Astaga…!!!
“Mas… Kita kunjungi Ricky yuk… kamu hutang maaf sama dia.” kataku kemudian. Yaa… tadi dengan khawatir Devi menghubungiku, dan aku mengatakan jika aku baik-baik saja, tapi tidak dengan Ricky. Hidung dan satu tulang rusuknya patah, belum lagi tampangnya yang sudah babak belur mengharuskannnya di rawat intensif d rumah sakit. Separah itukah..?? Astaga.. aku benar-benar harus minta maaf dengannya.
“Nggak, ngapain.”
“Kok gitu, bagaimanapun juga Kamu yang salah Mas, untung saja Ricky nggak lapor polisi.”
“Malas Ahh.. aku nggak pernah minta maaf sama orang.”
Aku datang menghampirinya, memelung lehernya dari belakang dan mengecup singkat pipinya. “Ayolah.. dmi aku, Mas Ramma kan sudah salah sama dia.” rengekku.
“Oke.. nanti siang kita kesana.” Dana kupun loncat-loncat kegirangan sambil sesekali mengecup pipinya. “Dasar Manja.”gerutunya kemudian.
***
Mas Ramma menepati janjinya. Jam tiga Sore dia mengajakku kerumah sakit, saat ini aku masih mengenakan Jeansku yang kupakai tadi malam, sedang atasannya aku megenakan T-shirt milik Mas Ramma lengkap dengan jaketnya.
Tadi kami banyak berbicara, yaa.. tentunya banyak yang harus di selesaikan diantara kami, bukan hanya Seks, tapi kerumitan-kerumitan yang selama ini menjadi kerikil kecil dalam hubungan kami. Aku bertanya tentan Wanita itu. Meski tak ingin membahasnya lebih jauh, Mas Ramma hanya bersumpah jika saat ini dia tak ada lagi hubungan bahkan tak ingin bertatap muka dengan wanita itu. Sebegitu bencinyakah dia dengan wanita tersebut.?
Tak berapa lama kamipun sampai di rumah sakit yang dimaksudkan. Aku langsung bergegas keruang inap Ricky, disana aku melihat Ricky masih terkapar dengan beberapa perban di wajah, kepala, dan aku tak tau dimana lagi. Dia parah. Aku juga melihat Devi yang setia menemaninya masih mengenakan seragam perawatnya, dia sedang mengupaskan apel untuk Ricky, dan entah kenapa sedikit senang melihat mereka bisa seakrab ini.
Aku menyeret masuk Mas Ramma untuk masuk. Ketika dia masuk, ada pandangan sedikit terkejut dari Ricky dan Devi.
“Sha.. ngapain kamu ajak dia kesini.?” Tanya Devi yang terlihat setengah takut dan setengah marah.
Aku hanya tersenyum lalu sedikit menyikut perut Mas Ramma karena sejak tadi dia terlihat cuek dan terkesan biasa-biasa saja saat melihat kondidi Ricky.
Dia mengaduh, Lalu berdehem sebentar dan mulai berkata-kata. “Gue minta Maaf.” Katanya datar dan cuek. Astaga.. apaan sih nih cowok.
Kini aku berakhir mencubit lengannya. “Aapa sih sayang..” Desisnya tajam kearahku.
“Itu bukan minta maaf, ayoo minta maaf yang bener.” Ketaku dengan sedikit kesal.
“Maaf, Gue nggak sengaja, Gue salah paham kemarin.” Dan meskipun terdengar sedikit angkuh dan cuek, tapi aku cukup senang karena Mas Ramma mau meminta maaf dengan tulus.
“Ky.. Maafin Mas Ramma ya… dia memang gitu orangnya.” Aku mendekati Ricky dan Ricky tersenyum padaku.
“Aku ngerti kok, Sha… aku malah berterimakasih, karena dengan ini, aku bisa jadian sama Devi.”
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. “Apa… yang bener.. astaga.. aku turut bahagia dengan kalian.”
“Sepertinya kamu juga sudah baikan.” Kata Devi kemudian dan aku hanya berakhir tersipu-sipu malu mendengar pernyataan Devi yang benar tersebut.
***
Tepat jam tujuh malam aku berpamitan pulang. Ya.. tadi cukup lama bercerita dengan Ricky dan Devi sedangkan Mas Ramma lebih memilih tidur di sofa daripada mendengarkan celotehan tak jelas dari kami.
“Kita makan malam diluar yaa..” Ajaknya masih dengan pandangan luruh kedepan., saat ini dirinya sedang mengemudi mobil di sebelahku.
“Mas Ramma memaangnya nggak capek, tadi aku lihat tidur terus.”
“Aku tidur bukan karena Capek, tapi Bosan.” Dan aku hanya terkikik geli saat melihat dia sedikit ketus dan merajuk.
“Maaf, aku memang suka menggosip dengan mereka hingga lupa waktu.”
“Bukan hanya lupa Waktu, aku sampek kelaparan saat nunggu kamu tadi.”
“Kenapa nggak ngajak pulang.?”
“Nggak enak.” Katanya cuek. Dan aku masih tersenyum dengan tingkah lakunya.
Dia berhenti di sebuah cafe yang teerbilang cukup ramai. Mengajakku masuk dan duduk di ujung ruangan.
“Mau pesan apa..?” tanyanya kemudian.
“Memangnya apa yang special disini..?”
Mas Ramma tersenyum. “Semuanya disini Special Sayang..” Dan mendengar panggilannya untukku membuatku merinding.
Dan belum sempat aku memesan, tubuhku menegang seketika saat melihat sosok tegap berdiri disebelah Mas Ramma. Dia Mas Renn.
“Sedang apa Kalian disini..?” tanyanya dingin.
Mas Ramma sontak berdiri dengan wajah terkejutnya menatap kearah Mas Renn. “Renn, Kok Lo disini..?” Tanyanya masih dengan nada tak percayanya.
“Gue yang tanya, Ngapain Lo ajak Adek Gue kesini..?” Kali ii tatapan Mata Mas Renn menajam, sakan-akan menusuk orang yang di tatapnya. Aku melihat Mas Ramma tak getar sedikitpun walau Mas Renn menatapnya dengan tatapan Membunuh.
“Gue Dinner Sama Shasha.” Jawab Mas Ramma yang kali ini Nadanya tak Kalah dingin dengan nada bicara Mas Renn.. Ya tuhan.. aku merasa jika saat ini aku berada diantara dua kutub.
Aku bergegas menengahi mereka berdua, betrdiri didepan Mas Ramma, menggenggam tangannya lalu menghadap kearah Mas Renn. Mungkin memang saat ini aku harus jujur padanya, aku bosan dan tak tenang jika harus kucing-kucingan terus dengan Mas Renn.
“Mas Renn.. Aku mohon jangan buat ini jadi sulit.” Kataku kemudian.
“Kita pulang.” Katanya dingin tapi tatapan matanya masih menjurus kearah Mas Ramma.
“Nggak mau, aku mau sama Mas Ramma.”
“Shasha..” Kali ini tatapan Mas Renn beralih padaku dan dia sedikit terkejut melihat pakaianku. “Ngapain kamu pakek bajunya..?” tanyanya dengan sedikit geram.
“Aku…. Aku..” Aku tak bisa menjawab.
“Dia tinggal di Apartemen Gue.” Jawab Mas Ramma terang-terangan, astaga… kenapa dia memperkeruh suasana..?
Aku melihat Rahang Mas Renn mengeras. Dia marah, aku tau itu, dan aku takut. Ya tuhan.. apa yang akan dilakukan Mas Renn terhadapku dan juga terhadap Mas Ramma..?
“Kita pulang.” Mas Renn menarik tanganku dengan Kasar lalu menyeretku begitu saja tanpa mempedulikan aku yang kesakitan. Sedangkan Mas Ramma hanya bisa menatap kepergianku dengan tatapan sendunya…
***
Mas Renn marah. Sangat Marah. Tak ada yang berani menghentikan kemarahannya untng saja dua hari ini Mama sama Papa keluar kota, jadi mereka tak tau apa yang terjadi saat ini.
“Kamu tau Sha.. Berkali-kali Mas Renn bilang, Jauhi Ramma. Dia Brengsek.” Lagi-lagi Mas Renn memaki-maki sambil terus mondar-mandir tak jelas. Sedangkan aku hanya bisa duduk pasrah berlinang air mata. Mbak Allea belum turun, mungkin dia sedang menidurkan Reynald, putera mereka yang lahir beberapa bulan yang lalu.
“Kamu bisa berkencan dengan siapa saja asal jangan Dengan Ramma, Dia Brengsek dan nggak punya hati apa kamu tau itu Haahh..?” Mas Renn benar-benar sudah seperti bom yang sudah meledak.
“Mas.. jangan sekasar itu dengannya.” Itu suara lembut Mbak Allea, aku tau dia akan menyelamatkanku.
“Tidak, aku tidak kasar, aku hanya terlalu sayang dengannya.. sayang…” Suara Mas Renn mulai melembut.
Aku melihat Mbak allea menangkup keduaa pipi Mas Renn dengan penuh kasih sayang. “Mas.. Bukankah Cinta tak bisa memilih..? mereka hanya merasakan perasaan yang disebut dengan Cinta tanpa bisa memilih mana yang boleh dicintai dan mana yang tak boleh dicintai.”
“Tapi itu bukan Cinta Sayang..”
“Lalu Apa..?”
“Mereka hanya main-main, mereka nggak tau Cinta, apalagi Ramma.”
“Lalu bagaimana dengan kita berdua..? Apa ini Cinta..? Apa yang kamu rasakan dan aku rasakan ini Cinta..?”
“Sayang.. jangan bandingkan mereka dengan Kita.”
“Aku tak membandingkannya Mas, aku hanya mencoba untuk membuka pikiran kamu jika Cinta memiliki jalan dan kisahnya tersendiri. Kasih merekaa kesempatan untuk membuktikan jika mereka tak main-main.”
“Aku tak bisa sayang.. itu terlalu beresiko untuk Shahsa, aku tak ingin dia disakiti oleh sahabatku sendiri.”
“Mas Ramma nggak mungkin menyakitinya Mas..”
“Astaga.. kenapa kamu keras kepala sekali sih.. Dari mana kamu tau jika Ramma nggak akan menyakitinya.?” Suara Mas Renn mulai meninggi lagi. Ini adalah pertama kali aku melihat Mas Renn bertengkar dengan Mbak Allea.
“Oke, Sekarang kita Akhiri semuanya, Sha.. Mas Renn tetap nggak suka lihat kamu dekat sama Ramma. Dan Kamu Sayang… Please… Aku nggak mau bertengkar sama kamu hanya karena masalah sepele ini.” Katanya kemudian lalu meninggalkan kami begitu saja, aku berlari kearah Mbak Allea dan memeluknya.
“Mbak akan membantumu sebisa Mbak Sha..” kata Mbak Allea menenangkanku. sambil mengusap rambutku.
***
Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing dan mata sembab karena bayak menangis.ya tuhan… bagaaimana mengaakhiri semua ini..?? Aku mandi, ganti baju, lalu bergegas keruang makan untuk sarapan bersama.
Di ruang makan ada pemandangan dan suasana yang berbeda. Mama dan Papa masiih belum kembali dari luar kota. Tak Ada Mas Renn yang menempel-nempel dengan Mbak Allea, mereka saling berdiam diri seperti orang yang sedang perang dingin. Dan aku tau jika semua itu karenaku. Astaga…
Dengan sedikit menyesal, aku memutar langkahku untuk kembali kedalam kamar dan menangis lagi. Astaga.. sampai kapan ini akan berakhir..??
Aku mengambil ponselku, menyalakanya karena sejak semalam kumatikan, Aku ingin menghubugi Mas Ramma. Tapi baru kunyalakan, berpuluh-puluh MissedCall masuk kedalam pemberitahuanku. Belum lagi beberapa pesan yang masuk didalamnya. Dan semua itu dari Mas Ramma.
‘Kamu nggak apa-apa kan sayang..?’
‘Renno Nggak nyakitin kamu kan sayang..?’
‘Kenapa telepon kamu mati..?’
‘Aku mau ngomong, Jangan diamkan aku..’
‘Tunggulah, aku akan segera menjemputmu’
Itu beberapa pesan yang masuk dari Mas Ramma. Dia terlihat sangat khawatir dengan keadaanku. Dan astaga.. bagaimana aku harus menghadapi semua ini..? haruskah aku membangkang dengan kakakku sendiri dan berlari kepada orang yang kucintai, Atau haruskah aku menuruti kemauan kakakku dan meninggalkan orang yang sangat kucintai..?? aku bingung, ini snagat rumit..

 

_TBC_

Aku hadir terlalu cepat yaa… hehhehe nggak apa-apa deh…. selamat menunggu chapter selanjutnya aja dehh kalo gitu…

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

My Everything (Novel Online) – Chapter 10

Comments 10 Standard

meUntitled-12My Everything

Chapter 10

 

Aku tebangun mendapati ranjang disebelahku kosong.. Dingin Dan Kosong.. Shasha sudah pergi, bahkan kini tak ada satupun barang berwarna Pink didalam kamar Apartemenku ini.
Aku terduduk lesu, Kepalaku sakit, hatikupun sama sakitnya. Kenapa seperti ini..? Inikah hukuman untukku karena selama ini aku sudah mempermainkan banyak Wanita..? Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan dan mendapati secarik kertas kecil di meja sebelah ranjangku. Ini Note dari Shasha.

 
Aku tak pernah menyesal mengenalmu.. mencintaimu.. dan memberikan semuanya untukmu….
Aku akan tetap mencintaimu walau raga kita tak kan bisa bersatu….
Apapun alasanmu mengakhiri semua ini aku dapat menerimanya, aku akan menjauh darimu supaya kita tak saling tersakiti saat bertemu, Jika Kamu merindukanku, Lihatlah aku… Aku masih berdiri di tempat yang sama. Kita masih bisa bertemu dalam jauh… dalam mimpi…
Maaf… aku tak bisa mengembalikan Kalung yang Mas Ramma Berikan padaku… Itu sudah menjadi milikku.. Separuh jiwamu sudah kumiliki… dan kalung itu sebagai buktinya..
Terimakasih Untuk semuanya….
I Will Always Love You…..
-Shasha-

 

Aku mememjamkan mataku.. merasakan sakit yang teramat sangat dalaam.. sakit karena ulahku sendiri.. sakit karena kebodohanku sendiri…
Karena curiga, beberapa hari yang lalu aku menyuruh seseorang untuk mencari kabar tentang Zoya di Singapore. Hasilnya sangat mencengangkan. Dia bersama dengan lelaki yang sedang makan malam dengannya waktu kami tak sengaja bertemu saat aku mengajak Shasha makan malam. Dan ternyata setelah di selidiki, Lelaki tersebut adalah Ardi.. mantan suaminya.
Sialan..!!!
Selama ini ternyata mereka masih saling berhubungan. Dan tentu saja itu membuatku marah, marah karena merasa di bohongi. Selama ini kupikir Zoya tersiksa karena aku selalu memikirkan Shasha, Masalaluku. Tapi nyatanya sampai sekarang dia juga masih belum bisa lepas dari Mantan suaaminya.
Hingga hari inipun terjadi. Hari diamana Zoya pulang dan aku siap memuntahkan semua yang ada didalam Otakku. Cemburu..? Yaa.. aku memang sedikit cemburu, tapi Rasa marah karena di bohongi lebih besar dari pada secuil rasa cemburu yang kumiliki terhadapnya. Aku benar-benar siap meninggalkannya tapi ternyata.. Sialan…!!!

“Aku nggak bisa hamil lagi.”
Aku menegang saat mendengar kata-katanya.
“Dokter bilang Rahimku Terinfeksi, penyebabnya bisa macam-macam tapi mengingat aku pernah dua kali menggugurkan kandungan, mungkin itulah penyebabnya.” Dia masih mengatakan semuanya dengaan tenang. Aku yang berdiri membelakanginya masih diam membatu, tak tau harus berkata apa, tak tau harus melakukan apa.
“Jika kamu meninggalkanku, maka siapa yang mau bersamaku..? Siapa yang mau dengan wanita cacat sepertiku..?” dia mulai menangis dan kini sudah memelukku dari belakang. “Jangan tinggalkan aku.. Kumohon jangan tinggalkan aku..”
Dan hanya seperti itulah… Aku tak mengucapkan sepatah katapun untuknya malam itu. Aku terlalu sibuk memikirkan Shashaa.. Apa yaang terjadi dengannya nanti ketika aku meninggalkannya…

Aku mengumpat kasar setelah ingat kejadian tadi malam. Kejadian diamana aku merasa jika semua ini sudah berakhir. Sialan..!! benar-benar sangat sial.. Aku Melangkah kekamar mandi untuk menenggelamkan diri kedalam Bathup.. putus asa.. sangat putus asa..
Kini badanku sudah segar, tapi nyatanya hatiku masih layu, tak ada semangat hidup kembali. Aku melangkah kedapur, membuat sarapan, tapi langkahku terhenti di meja makan, makanan buatan Shasha tadi malam masih ada.
Aku tersenyum penuh luka saat melihat makanan tersebut, Makanan yang tak dapat lagi kulihat, Ikan yang sering gosong, Telur dadar yang kadang tercampur denga kulit telurnya, sayur yang kadang Rasanya Aneh… aku tak dapat memakannya lagi… padahal aku menyukainya…
Sial..!! kubereskan semuanya… membersihkan semua sisa-sisa tentang Shasha di Apartemen ini. Mungkin Apartemen ini tak akan pernah kukunjungi lagi, atau mungkin aku akan menjualnya. Apa ada yang mau membelinya..???
Aku bergegas ke Basement untuk menghampiri mobilku. Masuk kedalam Mobil lalu melesat menuju ke Apartemen Zoya.
Baru kali ini aku merasakan jika aku sangat enggan untuk pergi menemui Zoya, Aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya. Sebut saja aku brengsek, karena itulah Aku.
Aku kesana untuk mengepak seluruh barang-barangku. Aku akan pindah, aku akan tinggal dengaan orang tuaku. Mungkin nanti aku akan menikahi Zoya sebagai tanggung jawab, tapi aku tak yakin jika hubungan kami akan seintim dulu. Aku tak yakin jika kami masih bisa bercinta lagi.
Shasha sudah mempengaruhi semuanya, Dia menenggelamkan aku jauh sangat dalam kedalam ‘Zona Bahaya’ Hingga kini aku yakin jika aku tak akan mungkin bahagia dengan wanita manapun.
Aku masih sama, penampilanku masih terlihat Rapi seperti tak terjadi apa-apa, Masih bisa tersenyum dengan wanita-wanita yang menatapku. Aku tidak terlihat Kesakitan seperti Dhanni saat Nessa meninggalkannya beberapa minggu. Aku juga tak terlihat Berantakan dan Gila seperti Renno saat dia ditinggalkan Allea seminggu lamanya. Aku terlihat baik-baik saja. Diluar……
Tapi diadalam… Aku hancur… Aku tak punya semangat hidup lagi, Keputus-asaan menguasai hatiku. Mungkin Aku akan kembali menggelap, Kembali menjadi lelaki Brengsek dengan banyak wanita di sampingku.
Zoya sedikit terkejut saat melihatku memasukkan barang-barang milikku kedalam kotak-kotak Kardus yang sudah kusiapkan.
“Kamu tetap ninggalin aku..?” tanyanya kemudian.
Aku menatapnya tajam. “Kamu tenang saja, aku nggak akan kemana-kemana.”
“Lalu kenapa barang-barang kamu..”
“Aku akan tinggal dengan Mama.”
“Kenapa dengan Apartemen ini..?”
“Aku tidak bisa Zoya.. aku tak bisa berhubungan denganmu seperti dulu lagi. Ini terlalu berat, terlalu menyakitkan. Aku mencintai seorang wanita tapi hidup dengan wanita lainnya. Aku tidak bisa.” Kataku kemudian.
Dia diam membatu. Sepertinya aku memang sudah keterlaluan mengucapkan kata-kata tersebut. “Dengar, Besok malam aku akan mengajakmu kerumah orang tuaku.” Kataku kemudian. “Kita akan menikah.” Dia terkejut dengan pernyataanku.
Yaa sepertinya memang ini jalan terbaik, kami akan menikah dan melanjutkan hidup seperti biasanya. Hidup yang bagiku sudah hambar, tak ada Rasa, Tak ada warna.
“Kenapa tiba-tiba menikahiku.”
“Apa lagi yang harus aku lakukan terhadapmu..?”
Lalu aku pergi meninggalkannya begitu saja. Brengsek… Lelaki brengsek… yaa itulaah aku, aku tak peduli, toh sejak dulu aku memang Brengsek.
***
Dengan serius aku mempelajari berkas-berkas Meeting di Ruangan Dhanni, Aku terlalu malas ke kantor Renno, Dia sialan. Hingga saat ini dia masih bersikap dingin terhadapku. Bahkan sampai sekarang aku belum menjenguk Allea yang sudah melahirkan tiga minggu yang lalu. Sial…!!!
“Lo berbeda.” Kata Dhanni kemudian.
“Lo nggak usah mulai lagi Dhann.”
“Enggak, Gue pikir ada sesuatu yang membuat Lo berbeda. Lo lebih pendiam.”
“Hhaha sialan..!! Sejak kapan Gue berubah jadi pendiam..?”
“Entahlah… Mungkin…”
“Gue nggak mau bahas itu lagi Dhann.” Aku tau jika Dhanni ingin membahas masalah Shasha, masalah ketika aku mabuk berat setelah pesta pernikahan Renno dan meracau seperti orang Gila di rumahnya.
“Ayoolah Ramm.. Lo terlalu Misterius dengan Kita, Gue nggak bisa bantu Lo kalo Lo sendiri nggak pernah cerita sama Gue.”
Dan Yaaa perkataaan Dhanni ada benarnya juga, Selama ini Dhanni selalu mendukung Renno karena dia tak tau apa yang terjadi. Dan aku tak bisa menyalahkannya.
“Gue putus dengan Shasha.” Kataku kemudian dengan Ekspresi sedatar mungkin.
“Sialan..!! Gue Memang curiga kalau ada sesuatu asama Lo dan Shasha. Kenapa bisa putus..? kapan kalian jadian.? Apa yang terjadi..?”
Dan banyak lagi pertanyaan Dhanni yang memang semuanya harus kujawab. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya, menceritakan tentang hubungan rumitku bersama dengan kedua wanita yang membuatku Gila.
“Sialan..!! Lo brengsek tau nggak.” Umpat Dhanni setelah aku selesai menceritakan semuanya.
“Yaa.. Gue memang Brengsek.” Jawabku datar.
“Kita perlu minum.” Katanya kemudian, Aku mengernyit. Bukankah dia bilang dia nggak akan pergi minum lagi..? “Kita akan minum sampai pagi, Nessa pasti mengijinkan.” Katanya lagi.
Aku memang sedang butuh minum…
Dan seperti inilah sekarang ini… Aku minum seperti orang gila, Dhanni hanya menemaniku, lebih tepatnya dia hanya menjagaku saat aku minum, Aku meracau tak karuan. Semua kenangan Shasha menyeruak begitu saja, Aku tak nyaman.. tak nyaman dengan hidup seperti ini.
***
Bangun dengan kepala berdenyut benar-benar menyusahkanku. Aku melihat sekeliling dan trnyata aku sudah berada di dalam kamar di rumah Mama. Mungkin tadi malam aku meracau tak karuan hingga Dhanni tau jika aku sudah tinggal di rumah Mama sehingga Dhanni mengantarku kemari.
Aku melihat pintu kamarku dibuka, menampilkan Sosok wanita yang sangat kusayangi. Mama. Dia membawa sebuah nampan berisi makanan kesukaanku.
“Kamu sudah bangun..?” Aku hanya mengangguk. “Apa yang terjadi..? Dhanni mengantarmu kesini jam tiga tadi malam, Kamu terlihat Kacau, menangis tak jelas dan selalu menyebut nama Shasha. Kalian ada masalah..?”
“Nggak ada Ma..”
“Ayolah.. Mama ingin tau Cerita tentang kalian.”
“Ma.. Nggak ada cerita apa-apa tentang kami.” Kataku kemudian. Aku tak mungkin bercerita dengan Mama tentang kebrengsekanku karena telah melukai hati banyak Wanita. Apalagi salah satunya Shasha.
“Baiklah kalau kamu belum mau bercerita, Tapi sayang, Dimana kalung kamu, Itu nggak hilang kan..?”
“Hilang saat aku keluar Kota Ma.” Aku berbohong.
“Ya ampun.. kenapa bisa hilang..”
“Biar saja lah Ma.. itu kalung sudah nggak berarti lagi.”
“Kamu kok ngomong gitu sih… itu kan dari orang tua kamu sayang.. siapa tau..”
“Ma…” Aku memotong kalimat Mama. “Kalau mereka orang tuaku, mereka nggak akan ninggalin au di tempat itu, Dan lagian aku sudah memiliki Mama dan Papa, jadi untuk apa lagi aku mencari orang yang jelas-jelas sudah membuangku.”
“Kalau mereka mencarimu.?”
“Kalau kami berjodoh, kami pasti bertemu walau tanpa kalung itu.” Kataku kemudian, sebenarnya aku sedikit enggan membahas tentang kalung itu, Bukan karena itu adalah sebagian dari masalaluku, tapi karena membahas Kalung itu membuatku mengingat Shasha. Sial..!!
“Ma.. Nanti malam masak yang enak yaa.. masak yang banyak.”
Mama terlihat sedikit terkejut dengan permintaanku. “Memangnya kenapa..? Kamu mau ajak teman kamu makan malam disini..?”
“Aku mau ngenalin Mama dengan Calon istriku.”
“Apa..?” Mama menutup mulutnya karena terlalu terkejut. “Kamu nggak bercada kan..?”
“Aku serius Ma.”
“Tapi kamu terlihat nggak senang.” Kata mama sambil memperhatikan Ekspresi wajahku. “Apa dia Shasha..?” tanya Mama kemudian.
Aku menatap Mama dengan Tatapan senduku. Rasanya aku ingin menangis. Sialan..!! sejak kapan aku menjadi Lelaki cengeng seperti sekarang ini..? Jika Dhanni tau, dia pasti akan duduk betepuk tangan dan menertawakan kebodohanku saat ini.
“Ramma, Apa Dia Shasha..?” Tanya Mama lagi karena tadi aku hanya diam membatu.
Aku menunduk dan menggeleng lemah. “Aku berharap saatu-satunya orang yang kunikahi adalah Dia Ma.. tapi ternyata..”
“Mama memang sudah curiga kalau sebenarnya kamu ada masalah. Ayoo ceritakan semuanya sama Mama.”
Dan akupun mulai bercerita. Bercerita semuanya tanpa ada sedikitpun yang tertinggal. Mama kecewa, sungguh sangat kecewa denganku saat mendengar aku pernah menggugurkan Darah dagingku sendiri. Mama Sedih.. sedih ketika mendapatiku tak memiliki pilihan lain selain bertanggung jawab dengan keadaan Zoya, dan juga Mama marah, marah karena aku menyia-nyiakan malaikat seperti Shasha..
Yaa… mungkin ini hukuman untukku, Karma karna sudah banyak mempermainkan wanita.
“Jadi nanti malam kamu akan ajak dia kesini..?”
Aku mengangguk. “Mama jangan Marah sama dia ya… Bagaimanapun juga aku sayang dengan Zoya Ma… meski sebenarnya semua yang kumiliki sudah dimiliki Shasha.”
“Tapi kamu nggak akan bahagia sayang.”
“Anggap saja ini hukuman untukku.” Kataku smbil bergegas pergi kekamar mandi.
Saat aku kembali Mama masih di sana, menungguku. “Ada apa lagi Ma..?”
“Apa Kamu benar-benar yakin akan menikahinya..?”
“Iya Ma..” jawabku dengan lesu.
***
Siang ini aku bolos kerja. Jadwal pemotretanpun jadi berantakan karena patah hati sialan ini. Mobilku seakan-akan berjalan sendiri menuju kesebuah Cafe tempat Shasha bekerja dulu. Kenapa aku mengemudi mobilku kemari..? Dan tentu saja jawabannya karena aku merindukan Shasha, aku ingin melihat wajahnya, senyumannya.
Bodoh… Bukankah aku sendiri yang memintanya berhenti bekerja di tempat ini..?? tapi tak lama aku melihat seorang gadis sedang membawa dua kantung plastik besar dari dalam Cafe, Mungkin itu sampah atau apalah aku sendiri juga tak tau. Dia sedikit keberatan dengan bawaannya tersebut.
Gadis yang kurindukan.. Shasha….
Dia bekerja disini lagi. Dan aku cukup senang karena dapat melihatnya meski itu dari jauh. Aku mengikutinya, melewati blog demi blog. Kenapa dia sendiri yang membuang sampah..? Apa tak ada karyawan lainnya..?? setelah membuangnya Shasha bergegas kembali, dan akupun masih mengikutinya.
Lama aku memandanginya dari dalam mobil, dia membersihkan halaman Depan Cafe tersebut. Dia terlihat biasa-biasa saja, seperti tak terjadi apapun. Tapi aku tau jika dalam hatinya Rapuh, sama sepertiku.
Lalu tiba-tiba aku melihatnya menatap kearahku. Dia menghentikan semua yang dia lakukan dan menatapku dengan tatapan terkejutnya. Cukup lama kami saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. dia Lalu tersenyum, Senyuman yang kurindukan. Dan akupun membalas senyumannya. Kemudian dia masuk kedalam Cafe, dan hanya seperti itulah pertemuan kami. Mungkin setiap hari aku akan mengunjunginya seperti ini, walau tak bisa lagi menyentuhnya tapi melihat senyumannya setidaknya bisa membantuku bertahan melewati semua ini.
***
Aku tak nafsu makan, padahal Mama memasakkan makanan kesukaanku. Tentu saja tak nafsu, entah kenapa masakan Shasha sepetinya lebih enak dimakan saat ini.
Mama sedang asyik bicara dengan Zoya dan Papa, yaa.. akhirnya malam ini terjadi juga. Malam dimana aku membawa pulang calon istriku, dan itu bukan Shasha. Sial..!!! entah kenapa aku masih tak bisa menerima kenyataan itu.
“Makanannya nggak enak..?” Tanya Mama kemudian.
“Enak Kok Ma..”
“Kok Cuma di acak-acak saja..?”
Aku tersenyum hambar, “Tadi sudah makan diluar sama Dhanni.” Aku bohong. Padahal aku terlalu malas untuk berada di dalam keadaan seperti ini.
Dan mereka kembali melanjutkan percakapannya lagi. Sedangkan aku.. Aku hanya bisa menenggelamkan diri dengan pikiran-pikiran yang penuh dengan Shasha dan juga penyesalan-penyesalanku terhadapnya.
***
Makan malam yang seharusnya menjadi makan malam berarti untukku berlalu begitu saja. Aku bahkan tak merasakan jika tadi kami baru saja membicarakan tentang pernikahan. Zoya terlihat sangat antusias sekali saat Mama menyebutkan kata pernikahan. Kenapa..? Apa dia memang ingin menikah denganku..? Bukankah dirinya adalah wanita bebas..? bukankah dirinya masih berhubungan dengan mantan suaminya..? Kadang aku sedikit tak mengerti jalan fikiran Zoya.
Aku mengantarnya pulang dan ketika akan kembali dia menahanku.
“Tinggalah disini malam ini.”
“Maaf.. aku nggak bisa..”
“Ramma… ini menyiksaku.. kita akan menikah tapi kamu bersikap dingin terhadapku.”
“Kamu pikir ini juga tidak menyiksaku..? Aku juga sangat tersiksa Zoya..”
“Itu karena kamu nggak mau melupakan dia.” katanya brteriak histeris.
Aku menghadapnya dan menatapnya tajam. “Terserah apa katamu, kamu nggak akan pernah mengerti apa yang kurasain saat ini.” Lalu aku meninggalkannya begitu saja.
Kemana..? Tentu saja ke Club-club langganan dengan banyak wanita di sampingku. Mabuk adalah jalan terbaik untuk menghilangkan Dua wanita di dalam otakku yang membuat hidupku Hancur dan jungkir balik.
***
Lagi-lagi aku pulang dalam keadaan mabuk berat. Sangat berat hingga aku beberapa kali muntah didalam Mobil. Sialan..!!!
Tapi kali ini aku sedikit tersadar. Aku bahkan meminta salah satu pelayan Di Club tersebut untuk mengantarku pulang. Mama menungguku, saat mengetahui aku pulang dalam keadaan mengenaskan, Mama menatapku dengan tatapan sedihnya.
“Kenapa ini terjadi Ma.. kenapa seperti ini..?” Aku meracau sambil berteriak. Menangis.. tentu saja. Aku tak akan malu menangis di depan Mama.
“Aku meninggalkan wanita yang kucintai hanya karena kesalahan bodohku… Aku bisa melihatnya tapi tak bisa menyentuhnya.. ini benar-benar membuatku frustasi Ma…”
“Tenang sayang.., tenang..” Mama menenangkanku.
“Aku suka masakannya Ma… Sayur anehnya… telur yang masih penuh dengan Kulit..” Lagi-lagi aku meracau tak jelas. “Aku suka semua tentangnya Ma… Aku kangen dia…” aku memeluk Mama sambil menangis. Mirip sekali dengan anak kecil yang minta dimanja dengan ibunya.
“Tolonglah aku Ma… tolong aku… Aku bisa gila karena ini… Tolong aku…”

 

__TBC__

Huaaa… semakin mendekati Akhir nihh… ayooo gimana lanjutannya yaa…????