Catatan Cancer Warrior – Tiga

Comment 1 Standard

 

Ps. aku nggak tau, kenapa aku sangat emosional saat menulis bagian Tiga ini tadi pagi. Ya, aku merasakan perasaan seperti itu lagi hingga mungkin membuat bagian ini kurang dinikmati. 

***

aku ingat, saat itu adalah waktu ibu pulang dari rumah sakit. semua keluarga bisa tertawa karena mungkin merasa lega saat tahu bahwa ibu sudah membaik dan benjolan di payudaranya sudah di angkat. tapi tidak denganku. perkataan Dokter Muhammad terputar lagi dan lagi dalam pikiranku, hingga saat itu, aku tak kuasa menahan tangis saat diperjalanan pulang.

Suamiku bertanya. “Apa yang terjadi?” aku hanya menggelengkan kepala. ingin rasanya aku bercerita padanya, tapi bibir ini terasa kelu. lalu dia bertanya sekali lagi “Apa yang terjadi?” dan akhirnya aku memilih berbohong padanya.

“Mas, aku hanya takut, kamu nggak mau menerima keluargaku.”

“Kamu ngomong apa? mereka juga keluargaku.”

“Tapi Ibu bakal nggak bisa kerja lagi.” tangisku semakin menjadi. “Aku mau merawat dia, tapi aku takut kamu keberatan.”

Aku ingat, saat itu dia segera menghentikan kendaraan kami. ditengah hutan saat perjalanan pulang (Kebetulan rumahku melewati hutan-hutan). lalu dia berkata padaku. “Sayang, Kamu ngomong apa? kenapa kamu berpikiran pendek begitu denganku? selama ini, Kamu sudah menerima keluargaku, merawat mereka dari jauh, menyayangi mereka seperti keluargamu sendiri. kalau aku sampai mengabaikan keluargamu, maka tinggalkan saja aku.”

Ya, kurang lebih ucapannya seperti itu. dan hingga kini, aku mengingatnya. bahkan saat menulis kisah ini dan menulis kalimat di atas, mataku berkaca-kaca.

Sedikit bercerita, Suamiku itu memang bukan orang yang romantis, banyak diam, tapi aku tahu bahwa dia adalah orang yang super sekali pengertiannya. kadang, kediamannya membuatku salah paham, tapi bukankah itu yang namanya hubungan? penuh dengan kesalah pahaman.

baiklah, kita kembali lagi pada cerita awal. Akhirnya, aku tidak memiliki nyali untuk memberitahu suamiku. satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui apapun tentangku. aku tak punya satupun rahasia dengan dirinya, begitupun sebaliknya. kami sering bicara dari hati ke hati saat menjelang tidur, tapi malam itu, aku sama sekali tak bisa mengatakan kondisi Ibu pada suamiku.

akhirnya, aku memilih diam dan memendam semuanya sendiri. bisa dibayangkan, bagaimana stress dan terpuruknya aku saat itu.

Teman?

Ya, aku punya. banyak malah. karena menjadi penulis menambah banyak teman dikalangan penulis maupun reader. setiap harinya, Chat hapeku tak pernah sepi. reader2 yang dekat denganku hobby sekali menggangguku dan menerorku untuk lekas menyelesaikan ceritaku. sedangkan teman-teman penulisku biasanya sering curhat tentang masalah kepercayaan dirinya, maupun tentang yang lainnya hingga berakhir kami saling menyemangati satu sama lain. percayalah, aku mendapatkan kehidupan yang sempurna di dunia maya. tapi saat aku mendapatkan masalah ini, aku sama sekali tak berani bercerita dengan salah satunya.

Sebut saja Tania, dia salah satu teman terdekatku. penulis juga, yang sudah kuanggap sebagai belahan jiwaku. aku bahkan sempat berpikir, jika aku berjenis kelamin laki2 dan masih single, maka aku akan datang kerumahnya untuk menikahinya saat itu juga.

aku banyak bercerita dengan Tania, kebanyakan tentang problem hidup di dunia nyata, begitupun sebaliknya. dia juga sering bercerita padaku tentang dunia nyatanya. aku merasa sangat cocok denganya, bahkan dia termasuk dalam daftar salah satu orang yang ingin kutemui.

tapi saat aku mendapati masaah ini, aku tak bisa bercerita apapun padanya.

Barbie, temanku yang lainnya. pun sama. kebanyakaan dia sering buat aku ketawa. dan akupun tak bisa cerita padanya karena aku nggak mau berbagi kesedihan dengan dirinya.

Echa, dia teman yang benar-benar nyata. karena hanya Echalah teman yang sering mengunjungiku ke rumah. dan ya, bisa ditebak, aku nggaak mungkin bercerita padanya tentang semua ini.

aku merasa sendiri, aku merasa takut, aku merasa terpuruk. apalagi saat itu Dokter muhammad juga berkata padaku “Sepertinya ini ada faktor turunan”. well, itu yang membuatku semakin tidak tenang.

penyakit Kepo yang kuderita akhirnya kambuh. Aku melakukan pencarian lagi di situs internet, tentang penyebab Kanker Payudara dan sejenisnya. Astaga, aku benar-benar panik saat itu.

Oke, kita bisa memutus semuanya dengan kata ‘takdir’. tapi aku adalah salah satu orang yang rasional. yang ingin berpikir tentang sebab akibat. saat aku menerima kabar jika ibuku Kemungkinan menderita kanker Payudara, pertanyaan pertama yaang terlintas dalam kepalaku adalah, Kenapa dia? kenapa bisa dia?

Jika itu karena faktor makanan, aku pikir tidak. kenapa? karena semasa hidup, Ibu tak pernah makan enak. aku berani jamin. dia adalah orang kolot yang lebih suka masak sendiri ketimbang beli makanan di warung apalagi fastfood.

Minuman?

No!

 Dia hanya pernah minum air putih, sesekali kopi.

jadi, kemungkinan besar dia terkena penyakit itu adalah karena turunan.

Huuffttt… tenang.. tenang…. aku meminta diriku untuk lebih tenang dan tidak panik. lalu aku mengingat cerita ibu, bahwa dulu, nenekku juga pernah memiliki benjolan di payudaranya. Kakak dari Nenekku, meninggal karena penyakit di payudaranya. Anaknya kakak dari Nenekku, yang bernama Budhe Wati, juga memiliki benjolan di payudaranya, bahkan anak dari Budhe wati, sudah 2x operasi benjolan di payudaranya.

Fix! pikiranku semakin tidak tenang.

Bukan tentang aku, sungguh. yang kupikirkan adalah puteri kecilku. aku tidak bisa membayangkan dia sakit. aku tidak bisa membayangkan dia tergeletak di ranjang rumah sakit lagi. Aku pernah melihat dia sakit, memasuki Ruang Operasi sebanyak 3x karena keteledoranku. saat itu, dia masuk ke dalam Wajan besar yang penuh dengan air mendidih rebusan ayam. aku berteriak histeris, bahkan saat mengingat kejadian itu saja bulu kudukku meremang seketika. aku tidak bisa melihat dia sakit, aku tidak bisa. dan hal itulah yang membuatku ketakutan.

Informasi di internet membuatu semakin menggila. tertulis di sana, jika Kanker payudara memang kemungkinan besar bisa diturunkan oleh keturunannya.

satu-satunya harapanku saat itu adalah, Semoga Dokter muhammad salah. Semoga itu hanya benjolan biasa tanpa ada sel kanker seperti yang kutakutkan. semoga… semoga…. semoga… tapi sungguh, itu tidak menolongku sama sekali dari stress.

Aku tahu, aku butuh bicara. tapi aku tidak tahu harus bicara dengan siapa.

Chat di hp selalu menumpuk, dari readers, dari teman-teman, dari penulis-penulis baru yang ingin bergabung dengan penerbitan yang sedang kudirikan, dari orang-orang baru yang baru membaca ceritaku (biasanya dari Blog) dan ingin mengenalku secara dekat. tapi aku tak bisa bercerita pada mereka. aku tak bisa bercerita pada salah satunya secara acak. padahal aku tahu, kalaupun aku bercerita pada mereka, mereka tak akan mengatakannya pada Ibuku. kami hanya mengenal di dunia maya, tapi aku tetap tak bisa melakukannya.

Aku merasa duniaku runtuh. tak ada semangat menulis sama sekali. jangankan untuk menulis, untuk berpikir jernih saja susah. aku merasa ada beban berat di pundakku, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengurai beban tersebut.

lalu suatu malam, seorang Reader yang sangat sangat cerewet, menghubungiku. panggil saja dia Memey. si cina surabaya, biasa aku mengoloknya begitu.

Dia berkata melalui Chat “Mom, Elo kapan ngeluarin buku baru? gue mau ke malaysia, awas aja kalau elo ngeluarin buku saat gue di sana.”

Aku hanya menjawab, ‘Masih lama, elo ngapain di malaysia?’

Dan dia bercerita. ‘Gue mau chek up kesehatan. kemaren gue ngerasa ada benjolan gitu di salah satu payudara gue, gue takut kejadian nyokap gue terulang, jadi gue mau chek up semuanya, semoga apa yang gue takutin gak kejadian.’

percaya atau enggak, saat itu aku yang stress seketika itu juga seakan mendapatkan titik terang. kupikir, aku bisa bercerita padanya.

lalu aku bertanya padanya ‘Emangnya nyokap elo kenapa?’

“Dia kena kanker lambung.”

Degg.. Degg.. Degg…

“Dan sekarang?” tanyaku.

“Ya sudah meninggal. soalnya telat pas tau.”

Oh My, aku lemas seketika. 

Hai Memey, kalau kamu baca ini, sungguh, aku minta maaf karena pernah menanyakan hal itu padamu. aku bener-bener menyesal.

Dari caranya bercerita, Memey terlihat sangat tegar. dia bercerita semuanya, tentang Ibunya, pengobatannya, dan juga tentang dirinya sendiri. Dari sana aku bisa menangkap, kalau Memey juga memiliki ketakutan yang sama denganku. dia bahkan berkata padaku, bahwa jika nanti hasil pemeriksaannya baik-baik saja, dia bersumpah jika dia tidak akan makaan-makanan cepat saji lagi.

kemudian, meledaklah semua beban yang kupendam selama beberapa hari itu padanya.

Dengan Memey aku bisa bercerita semuanya, semua ketakutan yang kurasakan, semua kegalauanku, kegelisahanku, semua tangis terpendamku. dan dia bilang “Bangun Mom, itu belum terjadi. Ibu kamu bakal baik -baik saja, kamu juga akan baik-baik saja, dan anakmupun bakal baik-baik saja. itu belum terjadi, bangun dan berdoalah pada Tuhanmu agar semua itu tak terjadi.” Ya, kami memang berbeda keyakinan, tapi dia tak pernah bosan mengingatkan aku untuk sholat dan berdoa.

Bercerita padanya membuatku merasa plong. aku merasa lebih tegar dari sebelumnya. Memey mengemas semua percakapan serius kami dengan santai dan penuh canda. dan hal itu benar-benar membuatku nyaman.

Stress sedikit demi sedikit menghilang. kemudian, aku kembali menjalani hidup dan berusaha berpikir positif seperti yang dikatakan Memey. toh, vonis itu belum kami dapatkan, jadi, kenapa aku harus stress?

lalu, aku bertemu orang lainnya. kini, aku menganggap dia sebagai salah satu adikku. Fransiska namanya, nama asli, karena aku tahu dia nggak mungkin membaca cerita ini.

awal perkenalanku dengannya adalah saat itu di akun Gosip sedang ramai membahas tentang anak salah satu artis yang menderita kanker darah (Leukimia). dia berkomentaar di sana tentang ibunya yang terkena kanker payudara, dan dengan spontan, aku memberinya pesan pribadi melalui instagram.

kami berkenalan, dan dia banyak bercerita. Ibunya divonis kanker payudara sekitar Tiga tahun yang lalu, saat itu dia masih kuliah. dan saat mengetahui hal itu, dia sama terpukulnya seperti aku.

dia tidak keluar kamar selama kurang lebih seminggu lamanya, dia tidak kuliah selama berbulan-bulan. dan aku mengerti apa yang dirasakannya saat itu.

lalu dia bangkit, karena ibunya memiliki kemauan keras untuk sembuh. Ibunya di rawat di salah satu Rumah sakit kanker ternama dan terbaik di negeri ini. MRCCC (kalau nggak salah) nama Rsnya. disana dia menggunakan asuransi (Bpjs), dan sama sekali tidak dikenakan biaya. Fransiska bilang, bahkan banyak orang dari luar (negara tetangga) yang ikut berobat di sana.

kini, ibunya sudah dinyatakan bersih dari kanker. dan dia harus chek up minimal Enam bulan sekali ke Rs. Ya, Fransiska juga, karena katanya, keturunan kanker, lebih beresiko terkena kanker ketimbang orang normal pada umumnya.

Oke, mendengar cerita panjang dari Fransiska membuatku semangat. apalagi Memey saat itu juga bilang ‘Lagi pula, Kanker Payudara itu Survive hidupnya paling tinggi, jadi jangan terlalu stress, itu malah nggak baik buat kesehatan.’

aku memiliki semangat kembali dari mereka, aku memiliki kekuatan kembali, dan hal itulah yang membuatku berani membuka suara.

pertama-tama, aku mengatakan pada Tania, Echa, dan Barbie. lalu aku mengatakannya pada suamiku. kemudian, saat waktu senggang, aku memberanikan diri mengatakan pada ibuku.

Aku ingat saat itu di sore hari. dia bertanya padaku “Kapan hasil lab keluar?”

dan aku menjawab “Mungkin minggu depan.” aku diam sebentar untuk memberanikan diri mengatakan kemungkinan terburuk pada ibuku. lalu, terucaplah kalimat itu. “Kalau misalnya, hasilnya nggak sesuai harapan gimana Bu?”

“Nggak sesuai harapan gimana?”

“Kita kan berharap kalau itu tumor jinak, nah kalau jinak kan berarti pengobatan sudah selsai. sedangkan kalau sebaliknya, berarti perjalanan kita masih panjang.”

“Jadi?” tanyanya lagi.

“Kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya, Bu.”

“Memangnya kalau ganas, aku harus apa?”

Aku menghela napas panjang. “Ya, harus di angkat payudaranya.”

“Kok diangkat? terus bagaimana?”

aku sedikit panik saat dia terlihat ketakutan “Ya, itu kan kemungkinan terburuk, dan itu belum pasti, Bu. misalnya, ini misalnya loh ya, kalau misalnya kemunginannya kayak begitu, Ibu mau di operasi lagi?”

“Gimana? aku takut.”

“Ibu nggak sendiri, ada aku.”

“Tapi yang operasi nanti kan aku.”

“Iya, tapi kemaren nggak apa-apa kan? kemaren nggak berasa kan?”

“Iya juga sih.” jawabnya.

“Jadi, Ibu mau di operaasi lagi kalau misalnya…”

“Kalau setelah itu bisa sembuh, aku mau.”

Alhamdulillah. tak ada kelegaan yang kurasakan seperti saat itu. beban-beban yang menumpuk beberapa hari belakangan sirnah sudah setelah mengetahui jawaban ibuku tersebut. aku merasa dia bisa menerimanya, aku merasa dia bisa menghadapinya. dan hal itu pulalah yang membuatku tegar dan seakan berani menghadapi apapun kenyataan dihadapan kami.

Lalu…….

mimpi buruk itu benar-benar nyata.

Saat hasil lab keluar. Dokter benar-benar memvonis Ibuku Kanker Payudara stadium 2 Grade III. Dokter berkata Payudaranya harus segera diangkat (Kalau setuju). dan, kami menangis berdua di dalam ruang Dokter saat itu.

Hari itu masuk ke dalam jajaran Hari terburuk dalam hidupku. Ibuku tak berhenti gemetar, tangisnya membuatku ikut menangis. bahkan saat keluar dari Ruangan Dokter muhammad, tangisnya pecah. dia memelukku, dan tak berhenti bertanya ‘Aku harus bagaimana? aku harus bagaimana? aku harus bagaimana?’ berkali-kali tanpa putus.

Aku ikut menangis, bahkan puteri kecilku yang saat itu kuajak ke rumah sakit pun, ikut menangis.

Kami menangis bersama…

aku merasakan apa yang dia rasakan..

aku merasakan bagaimana ketakutannya…

aku merasakan bagimana kegelisahan dan kekhawatirannya…

Aku harus bagaimana? apa yang harus kulakukan selanjutnya? itupulalah pertanyaan yang ada dibenakku saat itu.

Samarinda

10 – Oktober – 2018

Advertisements

Catatan Cancer Warrior – Dua

Leave a comment Standard

 

 

Menjadi penulis membuatku dapat menciptakan kebahagiaanku sendiri, meski sebenarnya banyak tekanan hidup di dunia nyata. Sering kali aku menyebutnya sebagai sebuah pelarian. Aku sangat suka menulis, dan hal itu membuatku lupa dengan masalah besar yang seharusnya kuhadapi di dunia nyata.

Tepatnya, akhir Juni, Bapak telepon dan berkata jika Ibu sakit. Malam itu juga, melewati hutan-hutan yang panjangnya hampir 37 Km, aku ke rumah Ibu dan Bapak.

Ibu bilang jika dia merasakan dadanya panas, sesak, perut tidak enak, dan sejenisnya. Padahal setahuku, Ibu tidak pernah mengalami sakit seperti itu. Aku sempat mengajaknya ke IGD, tapi dia menolak mentah-mentah.

Ya, sebelumnya, dia memang belum pernah di rawat di rumah sakit. Karena itulah, mendengaar kata IGD membuatnya ngeri. Ibu berkata jika dia ingin periksa ke Dokter langganannya. Dan akhrnya aku menyetujui apapun keinginannya.

Esoknya, kami benar-benar ke Dokter. Sebenarnya, Dokter hanya memeriksa tekanan darah, gula, kolesterol dan sejenisnya. Dokter lalu meresepkan obat. Dan pada saat itu, entah kenapa Ibuku berkata dengan sendirinya pada dokter terseut.

“Dok, saya ada benjolan di payudara saya, apa in berhubungan dengan sakitnya saya?”

Aku terkejut, tentu saja.

Sejak hari dimana aku dengan sok tahunya memvonis ibuku itu, kami tak pernah lagi membahas tentang benjolan itu lagi. Ibu tampak baik-baik saja, dan kupikir, obat itu bekerja dengan baik. Tapi saat ibu menanyakan hal itu secara langsung pada Dokter, aku melihat sebuah kekhawatiran di wajahnya. Ketakutan itu tampak jelas terlihat, dan bodohnya, selama ini aku tak memperhatikaan hal itu.

Dia tertekan, aku tahu itu. dia tertekan dan dia tidak memiliki orang yang bisa diajak bicara.

Aku lebih fokus dengan keluarga kecilku, aku lebih fokus dengan dunia fantasiku hingga aku tidak tahu, bahwa dia sebenarnya sangat membutuhkan dukungan dariku.

Tuhan! Aku benar-benar tak berguna!

Mendengar itu, Dokter meminta ibuku kembali berbaring, dan dia mulai memeriksa dimana letak benjolan tersebut.

“Besar ini Bu, Ibu ada Bpjs? Kalau ada langsung konsul ke rumah sakit saja Bu. Bawa surat rujukan dulu dari Faskes pertama.” Dokter menyarankan.

“Apa parah, Dok? Apa itu yang membuat ibu saya sakit sesak seperti kemarin.” Tanyaku kemudian.

“Semuanya butuh pemeriksaan lebih lanjut, Mbak. Tidak bisa langsung di diagnosis. Lebih baik langsung ke spesialis tumornya. Nanti di sana Dokternya yang akan menangani.”

Takut, tentu saja. Bahkan wajah ibukupun tampak pucat dibuatnya. Astaga…. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pikirku saat itu.

***

20 Juli 2018

Sebenarnya, Ibu tidak ingin melakukan ini. Tapi karena sejak saat itu aku khawatir dan aku melihat dengan jelas bagaimana dia juga khawatir dengan keadaannya sendiri sampai darah tingginya kambuh, akhirnya aku memintanya periksa ke Dokter Spesialis onkologi. Tiga hari sebelumnya, kami sudah berkonsultasi, lalu tgl 20 juli ini, Ibu melakukan pemeriksaan USG Mamae seperti yang di jadwalkan.

Sejak pagi, kami di Rumah sakit. Melakukan USG lalu bertemu lagi dengan Dokternya, Dokter Muhammad Sp. B Onk sorenya untuk membaca hasil USG tersebut.

“Lumayan besar, Bu. Dan nggak hanya satu. Harus di angkat ini.” Ucap Dokter Muhammad sembari membaca hasil USG ibuku tersebut.

“Operasi, Dok?” tanyaku kemudian.

“Ya, Mbak. Harus di operasi ini.”

“Tapi itu nggak ganas kan Dok?” tanyaku lagi.

“Kalau di lihat dari ciri-cirinya dan juga dari gambar USG seharusnya ini nggak ganas. Tapi kita tidak bisa mendiagnosis hanya dari gambar. Nanti, kalau sudah di angkat, akan ada tahap Patologi anatomi, yaitu benjolan yang diangkat itu akan diteliti lagi di Lab, untuk memastikan ganas atau tidaknya.”

“Kalau jinak bagaimana? Dan kalau ganas bagaimana?” aku masih tak ingin diam.

Dokter Muhammad tersenyum. “Kalau Jinak, alhamdulillah, pengobatan slesai, tapi kalau ganas, akan ada tahapan pengobatan selanjutnya.”

Aku menatap ke arah Ibu seketika. “Ibu mau di operasi?”

“Gimana? Aku takut.” Jawabnya.

“Nggak apa-apa, Bu. Kan nanti di bius.” Dokter Muhammad menenangkan dengan begitu sabar. “Saya sendiri yang operasi Bu, insha allah baik-baik saja. Yang penting berdo’a ya Bu.”

Akhirnya, Ibuku memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Dia hanya ingin jika semua ini segera selesai dan dia tidak kepikiran lagi. Akupun demikian, aku mendukung penuh apapun arahan dari Dokter. A Ibu akhirnya mendapatkan jadwal Operasi tgl 26 Juli 2018.

***

26 Juli 2018

Jam 5 sore, Ibu masuk ruang operasi. Lama kami menunggu, sekitar Jam 7 Ibu keluar ddari ruang operasi dan diaa sudah sadar sepenuhnya. Dia menatapku dan tersenyum , matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi tampak jelas kelegaan di wajahnya.

“Gimana Bu?” tanyaku saat kami memasuki lift menuju ke ruang perawatan yang berada di lantai Tiga rumah sakit tersebut.

“Aku nggak ingat apa-apa. Dokternya mijetin aku, suruh aku baca Do’a. lalu ada dokter yang lain suruh baca Bismillah sebelum nyuntik di pangkal infusku. Lalu aku nggak ingat apapun.”

“Nggak sakit kan?” tanyaku kemudian.

“Iya, nggak sakit. Malah tadi, aku di bangunin suster. ‘Bu, bangun, Bu, bangun. Sudah selesei operasinya.’ Aku buka mataku, terus aku jawab ‘Belum’ Susternya ketawa terus bilang ‘Maksudnya, Ibu sudah selesai di Operasi, Bu.’ Abis itu aku merasa plong banget.”

Aku tertawa mendengar ceritanya. Ternyata, dia mampu melewati semuanya. Kupikir, dia akan menyerah.

Melihat Ibuku yang kondisinya sangat baik itu, membuatku semangat. Ya, dia akan sembuh aku tahu itu. tapi ternyata, mimpi burukku saat itu belum di mulai.

Esoknya. Tepatnya tanggal 27 Juli. Saat kami sedang asyik di ruang rawat Ibuku. Dokter Muhammad datang, dia memeriksa ibuku dengan sesekali bercanda di sana. Ya, Dokternya memang sangat ramah dan luar biasa. Aku bahkan merasa sangat dekat dengannya.

Saat dia keluar dari ruang inap ibuku, aku melihat dia melambaikan tangannya padaku, seakan-akan memintaku untuk menemuinya. Akhirnya, aku menuruti saja. Dan aku menemuinya di ruang perawat yang berada tepat di sebelah ruang inap ibuku.

“Ya, Dok. Ada apa?” tanyaku. Aku sedikit curiga karena saat itu, Dokter Muhammad sudah menampilkan raut wajah seriusnya. Tak ada lagi senyum terukir seperti di ruang inap ibuku tadi.

“Mbak jangan panik, Ya. Saya mau bilang ini supaya nanti mbak nggak kaget. Sepertinya ada kemungkinan ini ganas, Mbak.”

“Apa? Maksud Dokter?”

“Benjolannya tidak hanya satu, dan beruntung segera ketahuan. Ada benjolan lainnya yang kemungkinan besar ganas.”

Aku ternganga tak bisa membuka suara satu katapun.

“Kemungkinan Ibu kena Kanker Payudara. Tapi lebih pastinya kita tunggu hasil PA ya Mbak. Jangan bilang sama Ibunya dulu, kita berdoa saja semoga saya salah.”

“Kalau, kalau itu beneran ganas, bagaimana, Dok?”

“Ada pengobatan selanjutnya, biasanya kalau ukurannya besar dan sudah menyebar, kita rekomendasikan untuk kemoterapi dulu, baru pengangkatan Payudara. Tapi kalau ukurannya masih kecil, kami rekomendasikan segera di angkat saja payudara beserja jaringannya.”

“Maksudnya, Ibu saya bakal nggak punya payudara lagi?”

“Iya, Mbak, memang seperti itu prosedur pengobatan dari Kami. Tapi tentunya itu meminta persetujuan dari pasiennya. Jika pasiennya tidak ingin, Ya, kami tidak memaksa.”

“Apa nggak ada lagi pengobatan yang lain selain mengangkat payudaranya, Dok?”

Dokter Muhamman menggelengkan kepalanya. “Dari kami, prosedur pengobatannya memang seperti itu.”

Mataku berkaca-kaca seketika. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Aku ingin menangis, tapi Dokter bilang kalau aku tidak boleh mengatakan apapun pada Ibu atau keluargaku yang lain sebelum hasilnya benar-benar keluar.

Dengan sedikit lemas, aku kembai ke ruang inap ibuku yang di sana ternyata sudah ada beberapa saudaraku. Kalian tahu apa yang kulakukan di sana? Aku tertawa lebar dan berkata jika malam itu juga, Ibu sudah boleh pulang. Semuanya baik-baik saja, tinggal kontrol saja. Lalu entah mereka kembali membahas apa sembari saling melemparkan candaan.

Aku ikut tersenyum, ikut tertawa, tapi dalam hati, aku merasakan kekhawatiran yang amat sangat. Ketakutan seakan menghantuiku, menyelimuti diriku, padahal di sisi lain, aku harus tetap tersenyum dan menunjukkan jika semuanya baik-baik saja.

Tuhan! Kenapa ini terjadi padaku?

Samarinda 

10 oktober 2018

Catatan Cancer Warrior – Satu

Leave a comment Standard

 

 

Perkenalkan dulu. Aku Enny, perempuan usia 25 Tahun. Aku sudah menikah dan sudah memiliki satu anak perempuan yang kini duduk di bangku TK. Selama ini, aku hanya tinggal bertiga dengan puteri kecilku itu dan juga Suamiku.

Aku memiliki seorang Kakak yang sudah berkeluarga dan tinggal di rumahnya sendiri dengan puteri dan istrinya. Kedua orang tuaku masih lengkap. Ibu, Bapak, meski usianya tak muda lagi, tapi mereka masih giat bekerja sendiri tanpa meminta-minta pada anak-anaknya.

Ya, padahal anak-anaknya bekerja. Kakakku memiliki usaha rumah makan, begitupun denganku dan juga suamiku. Hobby menulisku pun menjadi penghasilan sampinganku. Tapi hebatnya kedua orang tuaku itu tak pernah sekalipun meminta-minta padaku atau pada kakakku.

Semuanya berjalan dengan sempurna. hingga suatu hari, tepatnya bulan Lima kemarin, mimpi burukku itu baru saja dimulai.

Ibu baru berani jujur padaku jika ada yang salah dengan tubuhnya. ia merasakan sebuah benjolan yang terasa ketika di raba di area payudara kanannya.

Shock? tentu saja.

Selama ini, Ibuku tidak pernah sakit. Dia adalah wanita terkuat yang pernah kukenal. Dulu, saat aku masih kecil, Bapak pergi merantau ke Negeri seberang tanpa kabar. dan hebatnya, Ibuku mampu membiayahi sekolahku dan sekolah kakakku saat itu dengan hanya menjadi buruh tani. Ya, dia benar-benar wanita terkuat yang pernah kukenal.

Tapi saat dia menceritakan keadaannya saat itu padaku, kulihat ada sebuah ketakutan yang begitu kentara di matanya. kulihat kerapuhan yang tampak jelas di wajahnya. Ya, dia takut. begitupun denganku.

Aku bukanlah wanita kuno, aku adalah wanita yang suka memanfaatkan teknologi saat ini untuk kepentingan yang lebih positif. seperti belajar sesuatu, atau mencari kabar-kabar melalui artikel-artikel di internet.

mendengar kata Benjolan di payudara, tentu saja pikiranku segera menjurus ke sana. Ya, Kanker payudara. Jika kalian mengetik kata kanker wanita di internet, maka akan banyak sekali artikel-artikel kesehatan yang akan membahas tentang 1. Kanker Serviks, 2. Kanker payudara. Dan saat itu, ketika ibuku berkata tentang benjolan di dadanya, maka yang kupikirkan hanya Kanker Payudara.

Oh Tuhan! Tidak. Aku berharap jika itu hanya sebuah benjolan biasa, tumor jinak yang mungkin tak perlu di angkat. Atau mungkin hanya sebuah kelenjar normal yang membesar karena pengaruh hormon wanita atau sejenisnya.

“Sejak kapan, Bu?” tanyaku padanya. Dalam hati aku berharap jika dia menjawab bahwa dia baru merasakannya.

“Baru kurasakan minggu lalu.”

Aku menghela napas lega. Kupikir, jika itu baru saja kemarin, mungkin itu hanya sebuah benjolan biasa yang tidak berbahaya.

“Boleh kulihat?” tanyaku padanya.

Ibu mempersilahkan aku memeriksa dirinya. Kuraba dan kurasakan, ternyata ya, memang ada sebuah benjolan yang bagiku cukup besar.

“Bu, Yakin ini baru kemaren dirasainnya?” Aku curiga jika dia sudah merasakannya sejak lama tapi takut untuk memberitahukannya padaku atau pada yang lainnya.

“Ya, Baru kemaren aku tahu.”

Kemudian aku lanjut memeriksa dia. Hanya berbekalkan artikel-artikel yang kubaca di internet atau situs-situs kesehatan, aku dapat menghela napas lega. Tak ada ciri-ciri Kanker seperti yang kubaca di artikel-artikel tersebut. Padahal, aku tak tahu jika ada beberapa kasus yang berbeda, sedangkan apa yang di tulis di artikel-artikel itu adalah kasus kebanyakan.

Dengan begitu bodohnya aku berkata “Jinak ini Bu. Mau di operasikan atau gimana?”

Sombong? Ya, itulah aku. Padahal aku bukan orang kesehatan, aku bukan dokter, tapi dengan begitu angkuhnya, aku bisa memvonis ibuku sendiri hanya berbekalkan artikel di internet.

“Kok din operasi, apa nggak bisa di obatin aja? obat herbal misalnya.”

“Kalau menurutku, bagus di operasi, Bu. kok Ibu seneng sih, ngerawat penyakit. kalau sudah ketahuan benjolan, mending langsung di angkat.”

“Enggak, Ahh, aku takut. di obatin dulu aja ya.” ucapnya lagi dengan nada memohon.

Aku menghela napas panjang. “Ya sudah lah, terserah Ibu aja.”

Pikirku saat itu adalah, Ya sudahlah, toh itu hanya tumor jinak, biar saja di obatin herbal, nanti juga hilang sendiri, karena kata Ibuku sebelumnya, nenekku juga pernah punya benjolan di payudaranya, lalu hilang seiring berjalannya waktu dengann dia mengkonsumsi obat herbal itu. jika nenekku sembuh, ibuku pasti juga akan sembuh. pikirku saat itu.

Tapi bodohnya, aku tidak memikirkan kemungkinan terburuknya. Hatiku dipenuhi dengan kesombongan, dengan keangkuhan bahwa aku maha tahu semuanya dengan pengalamanku yang hanya melalui artikel-artikel kesehatan yang pernah kubaca. seharusnya aku tahu, bahwa sebuah vonis baru bisa didapatkan setelah melalui proses pemeriksaan, bukan hanya melalui pengalaman membaca.

Aku tidak menyalahkan artikel itu, Tidak! aku hanya tidak tahu, bahwa ada beberapa keadaan yang memang tidak sama. Pasien satu dengan pasien lainnya memiliki keadaan yang berbeda. seharusnya aku bisa memikirkan hal itu saat itu. tapi karena aku terlalu sombong, aku terlalu bodoh, maka aku membiarkan saja apa yang sudah diputuskan oleh ibuku.

Ya, itu bukan sebuah tumor jinak….

Itu bukan sebuah benjolan biasa…

Itu adalah Kanker…

Penyakit yang selama ini menjadi penyakit yang begitu menakutkan untuk kebanyakan orang. dan penyakit itu, kini sedang tumbuh di tubuh orang yang begitu kusayangi, dia Ibuku….

Samarinda

10 – Oktober – 2018

Catatan Cancer Warrior – Awalan

Leave a comment Standard

 

Hai, Aku Enny.

Sebenarnya, aku tidak ingin menceritakan ini semua. aku tidak ingin orang melihat kesedihanku, tapi di sisi lain, aku berpikir kalau ini penting kulakukan. Mungkin dengan menulis ini, sedikit banyak, aku bisa mengingatkan wanita-wanita di luaran sana yang tak sengaja membaca kisahku ini.

Ini Bukan sebuah kisah yang istimewa, bukan pula kisah yang luar biasa. Ini hanya kisah sederhana tentang kebodohanku, tentang perjuanganku untuk menyembuhkan orang yang begitu kusayangi.

Apa kalian pikir ini adalah novel?

Bukan. Kalian salah.

Jika kalian ingin membaca novel, maka bukan di sini tempatnya.

Maaf membuat kecewa.

Untuk kalian yang tetap ingin membaca kisah ini, kuharap, kalian bisa memetik hikmahnya. Ya, karena aku ingin, tidak ada lagi orang yang bernasib sama sepertiku. Tujuanku menulis tentang hal ini karena aku ingin kalian lebih menyayangi apa yang kalian miliki saat ini.

Terimakasih.

Samarinda

10 – Oktober -2018

Salam Sapa – Im Back!

Comments 3 Standard

 

Halooo, apa kabar semuanya? masih ingat aku? hehhehehe

Pertama, aku mau minta maaf karena sudah berbulan-bulan lamanya aku nggak nengokin Blog aku ini. Aku nggak ngilang, kok. beneran deh. dan aku masih berkarya, kalau kalian lihat akun sosmedku. hehehhehehe.

Kalau boleh cerita, beberapa bulan terakhir memang menjadi bulan-bulan yang cukup berat untukku. karena itulah, aku hanya fokus dengan dunia nyata. ceritaku banyak yang terbengkalai karena mood aku yang jatuh terpuruk. semua bermula saat aku pulang kampung, karena di kampung sulit sinyal jadi buka WordPress hanya loading mulu dan itu buat aku males buka Blog. lalu masalah mulai muncul saat Ibuku tervonis sebuah penyakit yang membuat aku lebih fokus pada dunia nyata, pada keluargaku, pada dia, ibuku.

rumah sakit menjadi tempatku bermain, bahkan hingga kini. aku benar-benar terpuruk saat itu. tapi semakin aku menjalaninya, semakin aku mengerti, bahwa inilah arti sebuah kehidupan. sekarang, semuanya mulai membaik, mood nulis aku sudah mulai terbangun kembali, dan aku memiliki banyak hal yang ingin kuceritakan pada kalian, aku memiliki banyak kisah yang ingin kudongengkan pada kalian. dan…. seperti inilah, aku sudah kembali…

sekali lagi, aku minta maaf kalau aku terkesan PHP atau mungkin menggantung cerita. hehehehe. sekarang, aku akan memberi Jadwal Update buat kalian. mungkin insha allah setiap rabu malam dan Sabtu malam, aku akan update cerita di Blog ini. dan aku akan update lagi dan lagi di hari lain jika aku sedang tidak sibuk atau memiliki sesuatu yang ingin kuceritakan atau kubagi pada kalian. so, tetap bersamaku ya….

oke, sepertinya itu saja salam sapaku malam ini. nanti malam, aku akan update kelanjutan kisah Pak Evan. aku tahu kalian sudah menunggunya, bahkan sebagian mungkin sudah membeli ebooknya di google play. hehhehhe. nantikan yaa…

 

salam sayang.

Zenny Arieffka

 

04 Oktober 2018

Mengenangnya (With Sani)

Comments 2 Standard

Mengenangnya (With Sani)

Mengenangnya [With Sani]

 

 

Halo.. ketemu sama aku lagi. Hehehehe oke, alasan pertama kenapa aku menulis ini, karena ternyata kemaren banyak yang baca kisahku dengan Kai, bahkan nada beberapa Reader yang inbox atau chat aku tanya apa sih hadiah yang di berikan Kai untukku? tapi maafffff bgt, aku nggak bisa bilang.. wkwkwkwkkwkwk

Sebagian dari mereka juga penasaran dengan kisahku yang lainnya dengan Sani, atau bahkan Alif. So, aku akan coba bercerita seingatku ya…

ya, ini nyata, kisah nyata tapi ku ceritakan dengan bumbu drama hingga kalian bisa menikmatinya….. dan aku bercerita semampu kepalaku mengingat.

Aku lupa, tepatnya kapan aku kenal dengan Sani. Yang pasti saat itu aku masih SMA kelas 1 di sebuah sekolahan Islam menengah atas di daerah rumahku –yang di desa-. Biasanya, ketika aku berangkat sekolah atau pulang sekolah, aku mengendarai motorku dengan membonceng temanku. Kami biasanya bergantian, misalnya hari ini aku bawa motorku, maka besok temanku itu membawa motornya. Dan bukan hanya satu teman, tapi kami bergantian dengan Lima temanku lainnya.

Setiap kali aku pulang sekolah dengan temanku yang bernama Dewi, pasti aku tidak langsung pulang. Dewi selalu mengajakku mampir ke sebuah peternakan ayam yang memang tidak jauh dari sekolah kami. Untuk apa? Tentu saja untuk menemui kekasihnya.

Dewi, temanku yang satu itu terkenal dengan kecaantikannya, banyak sekali yang menyukai temanku itu, bahkan rela di jadikan yang kedua atau ketiga. Ahh mengenangnya, aku jadi merindukan sosok Dewi. Tentu saja saat ini dia sudah menikah dan sudah memiliki seorang putera yang tampan.

Balik lagi ke cerita. Dewi mengajakku ke sebuah peternakan untuk menemui seseorang. Namanya Sani. Ahh, namanya benar-benar tidak seperti orangnya.

Sani memiliki wajah yang biasa-biasa saja, rambutnya sedikit panjang, beranting, serta memiliki beberapa tato. Ketika itu aku belum mengenal lelaki sebelumnya, dan saat pertama kali melihat Sani, aku takut.

Ya, tentu saja. Dia terlihat seperti preman. Dan astaga, aku masih nggak percaya kalau aku pernah menyukainya. Ooppss…

Sekali dua kali aku bertemu dengan Sani, aku merasa biasa-biasa saja. Bahkan aku memasang wajah cuek dan jutekku seakan tidak ingin mengenal dia atau teman-temannya. Tapi ketika aku melihatnya berkali-kali, yang kurasakan adalah rasa Iba untuknya.

Sani benar-benar menyukai Dewi. Aku tahu itu. Apapun yang di inginkan Dewi, pasti di turutin oleh Sani. Dewi sendiri terlihat hanya memanfaatkan Sani, karena saat ku tanya apa hubungan mereka, Dewi hanya bilang jika mereka tak lebih dari teman. Hanya saja… Ah, Sani terlalu menuruti apa mau Dewi. Aku kasihan terhadapnya.

Suatu malam, saat aku dan teman-temanku berkumpul bersama di rumah Dewi, Sani datang dengan seseorang.

Dia terlihat tampan di mataku, dan… pendiam.

Namnya Alif. Ya, Dia Alif. Lelaki yang kini sudah sah menjadi suamiku dan ayah dari puteri kecilku.

Kembali lagi ke cerita, saat itu aku terkejut, karena tiba-tiba teman-temanku meninggalkanku hanya berdua dengan Alif. Ada apa ini? Pikirku saat itu, dan dua hari kemudian aku baru tahu jika mereka memang sengaja menjodohkanku yang masih Jomblo ini dengan seorang Alif.

Astaga, jangan di tanya bagaimana suasana pertamaku dengan Alif saat itu. Dia pendiam, super pendiam malah, dan aku benar-benar tidak tahu harus membahas apa dengannya saat itu.

Ahh lupakan!!! Aku malu kalau mengingatnya. Hahahhaha.

Dua hari kemudian, Sani menghubungiku. Aku terkejut saat mendapati dia mempunyai nomor ponselku saat itu. Dan ternyata dia memang sengaja meminta nomorku dari Dewi.

Aku tahu, Sani hanya berbasa-basi saja saat itu, karena setiap kali nomornya menghubungiku, maka yang berbicara bukanlah Sani, tapi Alif. Ya, Alif memang selalu numpang pada Sani saat meneleponku. Dia tidak memiliki Handphone saat itu.

***

Malam itu, seingatku mungkin saat itu tengah malam. Nomor Sani kembali menghubungiku. Kupikir itu adalah Alif yang meminjam Hp Sani, tapi ternyata, itu benar-benar Sani yang berbicara denganku.

“Jen, sedang apa?”

“Sedang apa lagi? Tidur lah.” jawabku ketus

“Aku mau cerita.” Aku mengerukan kening ketika mendengar suara Sani yang sedikit aneh. Ahh dia seperti orang yang…. Mabuk.

“Aku ngantuk San, besok aja.” Aku kembali menjawab dengan nada ketus.

“Kenapa semua menjauhiku?” tanyanya yang seketika itu juga membuatku tercenung.

“Semuanya? Apa maksudmu?”

“Dewi, kamu, dan semuanya tidak ada yang peduli padaku, kenapa?”

“Udah ah, aku mau tidur, kamu mabuk, aku malas ngomong sama kamu.”

“Aku hanya menyukainya, apa dia tidak bisa sedikit membalas cintaku?” aku kembali terdiam cukup lama dan membiarkan Sani berceloteh tentang kisahnya.

Satu hal yang kusadari malam itu, jika Sani ternyata sangat menderita. Cintanya tak terbalas, dia ingin melupakan Dewi, tapi nyatanya dia tidak bisa, dan itu menumbuhkan suatu rasa di dalam dadaku yang entah aku sendiri tidak tahu rasa apa itu. Hingga kini, aku benar-benar menyesalinya karena telah menumbuhkan rasa itu.

***

Malam itu bukanlah malam terakhir Sani menghubungiku, karena setelah itu, hampir tiap malam dia meneleponku hingga jam 3 dini hari.

Nenekku bahkan tidak berhenti mengomel ketika Sani meneleponku tengah malam. Tentunya Sani meneleponku tanpa sepengetahuan Alif. Aku benar-benar merasa dekat dengannya. Di balik sosoknya yang seperti preman, ternyata dia adalah orang yang penyayang.

Sani masih terus mengejar Dewi, sedangkan aku sendiri masih dalam masa pendekatan dengan Alif. Hingga suatu hari, Alif menyatakan perasaan cintanya padaku. Entah itu cinta beneran atau hanya pura-pura. Tapi yang ku lakukan saat itu hanyalah menerimanya.

Ya, akhirnya aku jadian dengan Alif.

Sosok Sani tiba-tiba menjauhiku. Dia tak pernah lagi menghubungiku. Dan akupun mulai melupakannya.

***

Waktu berlalu cepat. Alif meninggalkanku, kemudian sosok Kai hadir menemani hari-hariku.

Entah apa yg saat itu terjadi pada Alif hingga dia pergi. Dia hanya pernah bercerita jika dia memiliki masalah dengan keluarganya. Tapi saat kutanya masalah apa? sampai saat inipun dia tak pernah mau menjawabnya.

Kai hanya mampir sekejap dalam hidupku. Dia pergi dan kembali menorehkan luka di hatiku. Aku kembali patah hati, dan salah satu temanku lagi-lagi mengenalkanku dengan seseorang.

Dia Randy.

Aku biasa memanggilnya Kak Ran. Dalam waktu dekat kami sangat akrab karena saat itu dia juga sedang dalam masa patah hati dan katanya, aku adalah teman yg baik ntuk mengalihkan rasa patah hatinya. Dia lelaki yang baik, tapi bagiku, dia sedikit Psyco, dan menakutkan bagiku hingga kini.

Ketika aku dekat dengan Kak Ran, Sani kembali mengusik hidupku. Setiap malam dia tidak berhenti menghubungiku, bercerita banyak padaku, dia seakan mendekatiku dan yang paling gila, setiap kali mabuk, dia menuju ke rumahku. Oh yang benar saja. Saat itu, aku yang hanya tinggal dengan nenekku (karena ibu dan ayahku sudah lebih dulu merantau ke samarinda) benar-benar ingin menghilang dari muka bumi ini. Bisa di bayangkan, bagaimana reaksi nenek ku yang memiliki sikap kuno. Ahh, dia tidak berhenti marah dan mengomel padaku.

Aku benar-benar membenci Sani atas kejadian itu. Dia gila, dan aku juga kembali gila karenanya.

Meski saat itu aku sedang dekat dengan Kak Ran, tapi Sani mencuri kembali hatiku, aku benar-benar dibuat gila oleh para lelaki di dekatku.

Alif masih sesekali menghubungiku. Aku masih menyukainya, aku tahu itu. Tapi ketika aku bersama dengan kak Ran, pikiran tentang Alif menghilang. Sedangkan Sani, astaga, dia selalu membuat jantungku cenat-cenut ketika mengingatnya.

Suatu malam, aku masih ingat dengan jelas. Saat itu hari jum’at malam. Sani datang ke rumah temanku yang bernama Lilis. Tentunya dia datang ke sana karena ingin menemuiku yang saat itu sedang belajar kelompok di sana.

Mau tak mau aku menemuinya. Dan ketika aku bertatap muka dengannya, dua kata itu terucap dengan jelas di dari bibirnya.

“Kamu sialan!!!”

Dia mengumpat tepat ke arahku. Rahangnya mengeras, bibirnya menipis, pipinya sedikit berkedut, tatapan matanya menajam, serta tangannya mengepal. Oh apa yg terjadi? Kenapa dia memeperlakukanku seperti itu?

Dua kata itu membuatku tersentak. Aku tidak mengerti apa yg terjadi dengan Sani, kenapa dia terlihat sangat marah denganku?

“Kamu kenapa?” Tanyaku dengan wajah bingung.

Dengan spontan Sani menarik lenganku dan memaksaku menaiki motornya, akhirnya aku mengikuti apa maunya.

Sani memboncengku menuju sebuah jembatan yang cukup sepi. Dia berhenti kemudian berteriak keras di sana. Apa dia gila? Kalau iya aku mau pulang. Karena aku sangat malu saat ada orang lalu-lalang di jalan dan melihat ke arah kami.

“Sani, kamu kenapa? Ada masalah sama Dewi?”

“Dewi, dewi, dewi. ini bukan tentang Dewi, ini tentang kamu Sialan!!!”

Kenapa sama Aku?

Sani mencengkeram rahangku dengan kasar. “Kenapa kamu menyembunyikan semuanya?”

“Apa? Menyembunyikan apa?”

“KALAU KAMU PERNAH SUKA SAMA AKU!!!” Serunya dengan nada yg lantang dan benar-benar kasar.

Aku menangis, cengkraman Sani terasa sakit di kedua pipiku. Sikapnya membuatku takut, belum lagi kenyataan jika dia sedang mabuk. Aku harus bagaimana?

Astaga, dan dari siapa juga dia tahu semua ini? Apa Nana yg bercerita? Karena seingatku, aku hanya bilang sama Nana kalau aku pernah mengagumi sosok Sani.

“Kenapa kamu nggak bilang Jen? Kenapa?”

“Kenapa kamu bilang? Kamu adalah pacar Dewi, mana mungkin aku bilang kalau aku suka dengan pacar Dewi?”

“Pacar?”

“Ya, setidaknya umumnya seperti itu. Dan kamu menjodohkanku dengan Alif, lalu apa kamu pikir aku cukup tidak tahu malu kalau aku meneruskan perasaanku padamu?”

“Aku nggak mau tahu!!! Mulai malam ini kamu jadi punyaku.”

Aku terbelalak dengan ucapan Sani saat itu. “Enggak!!!!”

“Kenapa? Karena si Randy? Aku akan nyuruh teman-teman mukulin dia kalau kamu masih dekat sama dia.”

“Sani, aku nggak mau! Aku sudah nggak suka sama kamu.”

Tiba-tiba Sani melembut. Keningnya di tempelkan pada keningku. dan berkata pelan di sana.

“Aku akan membuatmu suka sama aku lagi. Aku janji.”

Dan pada detik itu aku sadar, jika aku tidak bisa menolak kemauan Sani untuk menjadikan dia sebagai kekasihku.

***

Hari-hari yang ku alami semakin berat. Tidak ada hari selain melihat pertengkaran Sani dengan Randy, mereka bahkan beberapa kali akan adun hantam. dan jika itu terjadi, aku yakin bahwa aku akan berada dalam sebuah masalah.

Alif sendiri sangat jarang menghubungiku, mungkin dia hanya seminggu sekali menghubungiku. Perasaanku padanyapun mulai terkikis. Apa Alif sudah memiliki kekasih lain? Mungkin saja.

Fokusku kini hanya untuk Sani yang semakin gila dan Randy yang memperburuknya. Hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, mengakhiri hubunganku dengan para lelaki itu.

Aku memutuskan berangkat ke kalimantan, tepatnya di samarinda, dan melanjutkan Sekolah SMAku di sana.

Sani murka. Benar-benar murka!

Dia semakin gila hingga pernah menyusulku ke sekolahan dalam keadaan mabuk. Oh jangan di tanya bagaimana reaksi teman-temanku saat itu saat mendapati Sani mengomel di sana.

Teman-teman bahkan takut menyapa atau membuat masalah padaku karena aku saat itu di kenal sebagai ‘pacar preman’. Oh ya, tentu saja. Aku tidak peduli! Toh aku mau meninggalkan semuanya.

Dewi sendiri sedikit menjauhiku ketika melihat kedekatanku dengan Sani. Dan aku semakin bingung karenanya.

***

Aku ingat, malam itu hari kamis malam, karena jumat pagi aku sudah harus berangkat ke Samarinda.

Sani datang ke rumahku…. dan mau tak mau aku menemuinya. Kamu bertemu di teras rumah yang memang sepi dan sedikit remang karena terhalang pohon-pohon mangga depan rumah.

Dia tidak mabuk, dan dia hanya diam tanpa sedikitpun membuka suara. Tiba-tiba jemarinya terulur menggenggam telapak tanganku.

“Kamu benar-benar akan pergi?” Tanyanya dengan pelan.

“Sepertinya gitu.”

“Jangab pergi Dek, aku… aku sayang kamu.”

Aku mematung dengan apa yang baru saja di katakan oleh Sani. Dia memanggilku dengan panggilan ‘Dek’ seperti yang di lakukan Kai, Alif, maupun Randy. Dan dia bilang sayang?

Sayang???

Please, jangan percaya Jeni…

“Maaf, aku tetap pergi.”

“Kenapa? Karena Alif? Kamu mau ketemuan sama dia di sana?”

“Mana mungkin aku bisa ketemuan? Aku masih sekolah, dan Samarinda Bontang itu jauh. Lagian ngapain juga aku nemuin orang yang nggak benar-benar sayang sama aku.”

“Kalau gitu tetap di sini, Jen, aku sayang kamu. Jangan pergi.” Dan aku masih membatu. Sisa malam itu ku habiskan dengan Sani yang menggenggam telapak tanganku sesekali menciumi jemariku.

Oh aku masih ingat dengan jelas malam itu…

***

Di Samarinda….

Pertama kalinya aku bepergian jauh hingga membuatku langsung sakit ketika menginjak kota Samarinda. Cuacanya yang bisa di bilang ekstrim membuat daya tahan tubuhku menurun hingga aku sakit selama tiga hari saat itu sampai memegang Hppun sulit.

Ketika aku sembuh dan mulai memainkan Hpku, berbagai macam pesan masuk, yang kebanyakan dari Sani. Dia khawatir, dia marah, dia kesal, karena selama tiga hari itu aku tidak menghubunginya.

Akhirnya aku meneleponnya. Meminta maaf padanya dan betapa terkejutnya aku ketika dia bilang jika saat itu dia sudah berada di Jakarta.

‘Untuk apa aku berada di sana lagi, jika di sana sudah nggak ada kamu? Aku ke jakarta cari uang besar, biar bisa ngelamar kamu nanti saat kamu lulus sekolah, kamu mau, kan?’

Hingga kini kata-kata itu masih dapat ku ingat dengan jelas. Sani mengucapkannya, tapi kemudian dia mengkhianatiku. Dia mengingkari janjinya untuk melamarku.

Entah berapa minggu setelah aku tinggal di Samarinda, Sani sudah mulai jarang menghubungiku, begitupun dengan Alif. Ya, nyatanya Alif masih menghubungiku hingga saat itu, meski aku tidak bisa menamai apa status hubungan kami. Dia jarang –amat sangat jarang menghubungiku.

Aku ingat hari itu minggu malam, karena paginya aku tidak sekolah. Alif Meneleponku. Aku mengangkatnya dengan sangat bahagia. Ya, entah kenapa di telepon Alif merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan untukku, dan aku tidak tahu jika malam itu adalah akhir dari semuanya.

Alif meneleponku, tapi secara bersamaan, dia menambahkan panggilannya pada Sani. (Ya, aku sangat ingat. Saat itu memang sedang trend telepon menyambung seperti itu, jadi misalnya aku di Samarinda, Alif di Bontang, dan Sani di Jakarta, kami bisa teleponan dalam satu sambungan, dengan cara, Alif meneleponku, lalu dia menyambungkan juga dengan Sani. Dan akhirnya kami bertiga bisa ngobrol bersama.)

Alif masih tidak tahu jika aku ada hubungan dengan Sani. Yang dia tahu, sahabatnya itu adalah teman dekatku, penjagaku supaya aku tidak di pacarin lelaki lain. Tapi aku mengkhianatinya, aku juga menjalin kasih dengan Sani. Dan Sani mengatakan hubungan kami pada Alif saat itu.

Percakapan yang tadinya bersahabat berubah menjadi saling mengumpat, Alif tidak berhenti misuh2 (Mengumpat ala orang jawa) ketika Sani berkata jujur jika kami menjalin hubungan di belakangnya. Alif menuntut hubungan Sani dan aku segera putus, dan aku bingung. Aku memilih mengakhiri telepon sambungan tersebut karena tidak tahan dengan cara bicara Alif dan Sani yang sama-sama kasar dan saling mengumpati satu dengan yang lainnya.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Ingin menelepon salah satu di antara mereka, tapi aku tidak berani. Hingga kemudian, besok sorenya Alif menghubungiku kembali.

“Aku sudah bicara sama dia.” Suara Alif benar-benar tidak enak di dengar.

“Bicara apa, Mas?”

“Sani, Kalian sudah nggak boleh saling berhubungan lagi.”

“Kamu kok gitu? Kamu kok seenaknya sendiri? Kenapa kamu ninggalin aku kalau aku nggak boleh sama yang lainnya?”

“Kamu boleh sama siapa aja, tapi jangan sama temanku!” Alif terdengar marah.

“Aku nggak peduli, kalau aku sukanya sama Sani memangnya kenapa?”

“Kenapa? Karena kamu nggak boleh suka sama dia. Kamu cuma boleh suka sama aku!”

Tuuttt… tuuutttt… tuuuttt… telepon terputus. Entah pulsanya habis atau apa aku tidak tahu dan aku tidak peduli. Nyatanya itu adalah terakhir kalinya Alif menghubungiku, begitupun dengan Sani yang sudah tidak pernah lagi menghubungiku setelah malam itu.

***

Aku semakin gila…

Kalimat terakhir Alif malam itu seperti mantera yang mengikatku…

‘Kamu nggak boleh suka sama dia. Kamu cuma boleh suka sama aku!’

Setelah malam itu, Alif menghilang. Lost contac denganku selama dua tahun lamanya. Kenapa dia begitu tega padaku? Dia membuat Sani meninggalkanku, tapi kenapa dia juga ikut meninggalkanku? Aku benar-benar seperti orang gila.

Setiap malam aku menulis surat, membentuk surat itu menjadi perahu kecil, kemudian menghanyutkan perahu itu di sungai tepat di bawah rumah kontrakan Ibuku (Ya, rumah kontrakan ibuku di samarinda memang rumah panggung yang bawahnya adalah sungai yang mengalir, jadi kalau hujan deras kami sering kebanjiran hehheheheh) berharap jika surat itu sampai pada Alif, bukan pada Sani…

Ya… Surat itu untuk Alif….

Alifku yang selalu menyakiti hatiku…

Dia…

Kenapa dia meninggalkanku…

Kenapa dia memisahkanku dengan Sani….

Kenapa dia meninggalkanku lagi…..

***

Agustus 2014…..

 

Ini adalah pertama kalinya aku mengajak Bella, puteri kecilku yang hampir berumur satu tahun, pulang ke kampung halamanku di Lamongan, tentunya kami pulang bertiga dengan Alif, suami yang sudah hampir Empat tahun ku nikahi, suami yang sangat ku cintai tapi sepertinya dia tidak mencintaiku, huehehhehehe.

Sangat menyenangkan karena aku kembali bertemu dengan teman-teman di kampung. Aku bertemu dengan Nana, Dewi, Lilis, dan temanku lainnya yang ternyata juga sudah pada punya anak.

Kami saling bertukar cerita hingga kemudian Dewi bercerita tentang pertemuannya dengan Sani.

Sani, lelaki itu ternyata juga sudah menikah dengan seorang wanita keturunan sunda ketika lelaki itu ke Jakarta pada saat itu. Sani kini bahkan sudah memiliki seorang putera kecil, seperti itulah yang di ceritakan Dewi.

Ya, sejak saat itu, aku memang tidak tahu menahu tentang kabar Sani. Lelaki itu hilang begitu saja bak di telan bumi. Bahkan ketika aku kembali ke kampung halaman dan  menikah dengan Alif, lelaki itu tidak menampakan batang hidungnya, padahal aku sangat berharap jika lelaki itu memberikan kami ucapan selamat.

Alif sendiri sama sekali tidak ingin membahas tentang Sani. Alif selalu acuh ketika aku bertanya tentang Sani, ketika aku mengungkit tentang lelaki itu. Bahkan pernah beberapa kali, Alif marah besar hanya karena aku bilang kalo Sani orang yang perhatian.

Oh, ya, suamiku itu memang tipe orang yang pencemburu, bisa di bilang begitu. Dia cuek, tidak seposesif tokoh-tokoh yang aku ciptakan, dia juga sama sekali tak seromantis tokoh2 tersebut. tapi jika aku membahas tentang lelaki lain sedikit saja, pasti emosinya langsung tersulut. Entahlah, dia aneh.

Hari itu, Aku, Alif dan Bella berencana ke rumah orang tua Alif yang memang berbeda desa dengan desa orang tuaku, kami melewati desa tempat tinggal Sani, dan bisa di tebak, kami melihat lelaki itu.

Sani berbeda, rambutnya sudah tidak panjang lagi, dia tampak lebih bersih, bukan seperti preman yang dulu pernah ku kenal. Mungkin karena dia sudah lebih dewasa, karena sudah meiliki istri dan anak.

Jika kalian bertanya apa yang ku rasakan, maka aku jujur, sedikit berdebar, tapi bukan debar-debar asmara karena ketemu dengan sang pujaan hati, percayalah bukan karena itu. Aku hanya berdebar karena takut dengan reaksi yang akan di tampilkan Alif pada Sani.

Nyatanya, Alif tetap santai, ia bahkan terlihat tidak menghiraukan sahabatnya –atau lebih tepatnya, mantan sahabatnya itu.

Kami sampai di rumah orang tua Alif, dan setelah aku turun dari motor, Alif kembali menyalakan mesin motor yang kami tumpangi tadi.

“Loh mas, kamu mau kemana?”

“Ada urusan sebentar.”

“Kamu ke tempat Sani, ya?”

“Enggak.”

“Ayo ngaku.”

“Pokoknya aku nggak ke sana, tenang aja.”

“Aku nggak tenang kalau kamu keluar sama teman-temanmu.” Ya, tentu saja aku nggak tenang. Walau pendiam, Alif adalah tipe orang pemarah. Saat di desa, entah sudah berapa kali aku mendapati Alif pulang dengan muka babak belur karena tawuran. Ya, dia memang suka sekali tawuran-tawuran nggak jelas seperti itu.

“Sudahlah, percaya aja, aku sudah nggak kelahi-kelahi lagi kok. Kamu kan tahu sendiri, aku sudah berhenti minum sejak ada Bella, dan aku juga sudah berhenti kelahi kayak dulu.”

“Nggak percaya.”

“Oke, kalau aku pulang mabuk atau babak belur, kamu boleh nggak ngasih aku jatah seminggu.”

Kucubit hidung mancungnya. “Itu mah curang, kan aku memang lagi dapet, jadi kamu memang nggak dapat jatah seminggu.” Alif hanya tertawa lebar, tapi dia tetap menyalakan motornya.

“Aku nggak lama, nanti balik lagi kok.” Dan dia pergi begitu saja. Sungguh, aku khawatir, aku khawatir karena aku tahu bagaimana dia dan juga bagaimana Sani.

***

Malamnya…

“Dek..”

“Hemm.”

“Besok ke rumah Sani, yuk.”

Aku yang hampir tidur akhirnya bangun seketika. “Ngapain? Enggak, ah!”

“Bagaimanapun juga dia yang ngenalin kita, Dek, harusnya kita ke sana, silaturahmi, berterimakasih.”

“Bukannya kamu yang selama ini nggak pernah mau bahas tentang dia?”

“Ya, aku salah, tapi tadi siang kami sudah baikan, kok, aku sudah ke rumahnya lagi, dan kami banyak cerita.”

“Enggak, aku tetetp nggak mau, kalau mas mau ke sana, ke sana sendiri aja. Bagaimanapun juga bertemu mantan itu canggung, tahu!” Gerutuku.

“Ya sudah. Terserah kamu saja.” Dan kamipun kembali tidur.

***

Sekitar Februari 2015….

Perasaan menggebu, itulah yang kurasakan saat ini, bukan menggebu karena seks, percayalah. Seks itu sudah menjadi makananku sehari-hari dengan Alif, jadi kami tidak menggebu-nggebu seperti ketika pengantin baru dulu, wakakakkakakak. Kali ini perasaan menggebuku hadir untuk hobby baruku, yaitu menulis.

Ya, aku mulai menulis sejak tahun 2014 akhir. Hanya menulis fansfic korea yang aku share di grup-grup saja. Tapi kemudian ada rasa kurang puas. Dan aku memutuskan untuk menulis dengan suasana baru.

Menulis Novel.

Awalnya aku bingung mau menulis tentang apa. Tapi kemudian ide itu muncul begitu saja ketika aku melihat suamiku yang sedang sibuk memainkan gitarnya.

Aku ingat semua kisah yang kulalui bersamanya hingga aku memutuskan untuk menjadikan kisah kami sebagai inti dari cerita pertamaku.

Cinta dan persahabatan…. itulah temanya.

Dan itu kembali mengingatkanku dengan Sani. Aku mulai menulis, dan ketika aku menulis kisah itu, aku kembali mengingat semua kepingan demi kepingan masalaluku yang mulai sedikit terlupakan.

Dhanni, dan Renno. Dhanni sendiri benar-benar mengingatkanku dengan sosok Alif, sosok yang hingga kini masih setia menemaniku. Sedangkan Renno sendiri, ahhh… andai saja hubunganku dengan Sani bisa sebaik hubungan Nessa dan Renno, mungkin akan sangat membahagiakan, tapi namanya kenyataan pasti tak seindah di dalam novel. Heheheheh.

Tapi aku tidak sedih, meski aku tak dapat lagi mengingat wajah Sani, meski aku mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi, setidaknya dia abadi dalam tulisanku. Ya, Kak Renno tetaplah Sani untukku, aku akan selalu mengingatnya ketika membaca novel pertamaku tersebut.

Buat Alif, Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu, kamu tentu tahu itu. Tapi anggap saja ini satu titik –hanya satu titik dari sisi hatiku yang di tempati oleh lelaki lain.

Lelaki yang bernama Sani, dan juga lelaki lainnya yang pernah singgah di hatiku ketika kamu pergi meninggalkanku.

 

-The End-

 

Zenny Arieffka

16 Maret 2017

Behind The Scene – Hurt Love Series & MBA Series

Comments 5 Standard

untitled-1

 

Behind The Scene

 

Aku membuka mataku dan baru menyadari jika kini aku berada di sebuah tempat asing. Tempat yang sama sekali tak pernah ku datangi, tapi secara bersamaan aku juga merasa jika aku pernah melihat tempat ini.

Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru, tapi aku tidak melihat apapun, yang kulihat hanyalah kabut putih di antara sebuah tangga yang terbuat dari kaca yang menjulang tinggi ke angkasa.

Aku mengerutkan kening. Bukankah ini tempat dimana Brandon bertemu dengan Alisha di dalam mimpinya? Pikirku. Apa kini aku juga sedang bermimpi? Oh yang benar saja. Jika aku benar-benar bermimpi maka aku ingin bertemu dengan semua pangeran yang ku ciptakan saat ini juga.

Mengingat hal itu, aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan sesekali memukul kepalaku sendiri. Bodoh!!! Bagaimana bisa aku masih memiliki sebuah fantasi saat umurku sudah tak lagi muda?

Aku memutuskan untuk menaiki tangga-tangga itu dengan sesekali berdoa supaya tangga itu tidak pecah karena berat badanku yang berlebihan. Bicara tentang berat badan, aku menatap tubuhku sendiri, dan rasa shock seketika kurasakan.

Tubuhku benar-benar ramping, padahal aku tidak ingat jika aku pernah diet. Kulitku putih mulus, padahal seingatku aku sudah berhenti melakukan injek sejak Tiga tahun yang lalu dan ku pikir aku sudah kembali menghitam setelah itu. Gaunku berwarna putih bersih dengan beberapa aksesoris yang membuatnya terlihat mewah. Aku juga mengenakan sepatu berwarna putih yang menyatu dengan kulit kakiku. Ku rabakan jemariku ke arah kepalaku dan aku merasakan rambutku yang sudah tertata rapi, belum lagi beberapa aksesoris yang menempel di kepalaku.

Please, aku membutuhkan kaca saat ini juga. Jika apa yang ku bayangkan benar-benar terjadi padaku saat ini, maka aku akan melakukan selfie cantik lalu ku sebarkan di akun instagramku, supaya dapat menampar beberapa kakak kelas yang dulu suka mengejek bahkan sok cantik di depanku.

Lupakan!!!

Lagi pula, bukannya ini hanya mimpi?

Oke, aku melanjutkan langkahku hingga aku berada di ujung tangga. Ku pikir, ujung tangga itu akan membawaku ke luar angkasa seperti impianku selama ini. Ya, satu-satunya hal yang sangan ku inginkan adalah berada di luar angkasa dan melihat bumi dari sana. Well, itu mustahil kecuali jika aku menikah dengan presiden Barack Obama atau Pangeran inggris mungkin. Hahahahha, abaikan.

Di ujung tanga itu aku mendapati sebuah taman, taman indah lengkap dengan kabut warna putihnya.

Tunggu! Aku merasakan De Javu, ku pikir aku pernah membayangkan tempat ini. Ahh ya, ini adalah tempat alam bawah sadar Revan saat dia koma dan bertemu dengan Lita. Jadi, apa aku sekarang sedang koma? Jangan ngelantur!!!

Aku melanjutkan langkahku menyusuri jalanan setapak, tamannya benar-benar sangat indah, dan tak lama, keindahan ini semakin sempurna ketika aku mendapati sesosok lelaki yang sedang berdiri menatapku dengan senyuman lembutnya. Lelaki itu hanya mengenakan celana panjang, tanpa atasan apapun, bisa di bayangkan bagaimana perutnya yang kotak-kotak yang biasa di sebut Roti Sobek oleh anak-anak di Grup Edan. Kakinya tidak beralaskan sandal maupun sepatu, ya, dia bertelanjang kaki. Dan dia sangat tinggi.

“Hai.” Sapanya sambil mengulurkan jemarinya padaku.

Kuraih jemari itu dan kurasakan jika dia begitu nyata. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Dia selama ini hanya ada dalam fantasiku, tapi bagaimana mungkin kini aku dapat menyentuhnya dengan sangat nyata?

“Mas Revan.” Kataku.

Ya, dia Revano Putera. Sosok yang kuciptakan dalam novel Please stay with me. Dia adalah sosok yang paling di benci oleh reader, aku tahu karena dia benar-benar menyebalkan, tapi entahlah, ku pikir aku selalu mencintainya ketika aku menulis tentangnya.

“Ya, aku.”

“Kok kamu di sini? Kenapa kita bisa bertemu?”

“Kenapa? Aku juga nggak tahu.”

Dia sedikit menyunggingkan sebuah senyuman dan itu membuatku ikut tersenyum. Jantungku berdegup kencang seketika. Apa ini yang di rasakan Dara ketika bertemu dengan lelaki ini? Ini benar-benar gila.

“Author…”

Aku memekik ketika sebuah lengan memelukku dari belakang. Ku tolehkan wajahku dan aku mendapati sepasang mata cokelat nan indah sedang menatapku dengan tatapan yang paling lembut.

“Mike?” ucapku tak percaya. Sedangkan Mike hanya mampu menganggukkan kepalanya.

Dengan spontan aku membalikkan tubuhku kemudian memeluk Mike erat-erat. Aku tidak peduli jika tiba-tiba Hana datang dan marah denganku, sungguh aku tidak peduli. Karena yang kupedulikan adalah memeluk erat sosok fantasiku ini selagi aku bisa.

Mike Handerson, seorang lelaki keturunan indo-Jerman yang memiliki mata cokelat nan indah. Dia sangat mencintai keluarganya, dan dia juga seorang pendendam, dendam yang membawanya pada cinta. Oh Mike, aku merindukan saat-saat menulismu sembari meneteskan air mata.

Lebay ya? Oke, lupakan.

“Kalian benar-benar nyata?” tanyaku lagi, karena nyatanya aku masih tak percaya.

“Ya, kami nyata.” Jawab Mike dengan pasti.

“Kami juga nyata.” Suara itu memaksaku menoleh dan menatap ke arah dua lelaki yang berjalan menuju ke arahku.

Tuhan!! Jika ini mimpi, aku tidak ingin bangun. Itu adalah Osvaldo Handerson, bersama dengan Araka Andriano. Keduanya berpenampilan sama dengan Mike dan juga mas Revan. Hanya mengenakan celana panjang, kaki yang telanjang dan juga dada sekaligus perut kotak-kotak yang seakan  sengaja di pamerkan.

Aku meraba area bawah hidungku, semoga saja saat ini aku tidak mimisan. Oh, ini benar-benar gila!

Kak Aldo menghambur ke arahku, memelukku erat-erat sesekali mengangkat tubuhku, sedangkan Kak Raka hanya mampu menatapku dengan ekspresi datarnya. Ya, ekspresi itu.

“Astaga, bagaimana mungkin kalian bisa berkumpul di sini?”

“Kami cuma mau pamit, Thor.” Kak Aldo menjawab.

“Pamit? Pamit ke mana?” tanyaku bingung.

Mike mencengkeram kedua bahuku, memutar tubuhku hingga tepat menatap ke arahnya.

“Terimakasih sudah membuatkan kisah indah untuk kami. Kami tahu, kami bukan yang terbaik, tapi kami senang ketika ada beberapa reader yang ikut menangis, tertawa atau bahkan kesal dengan tingkah kami.”

“Ya, aku tahu itu, tapi bukan berarti kalian harus pamit pergi kan?”

“Tidak Thor, kami tidak pergi, sampai kapanpun kami tetap ada di sini.” Mike menunjuk dada kiriku.

“Tapi author tetap harus Move on, membuat kisah-kisah baru yang lebih baik lagi dari kisah kami, kami tidak ingin membayangi Author, jadi kami memutuskan untuk pergi dari ingatan Author.” Kak Raka ikut menjelaskan.

“Tidak!!!” seruku lantang. “Sejelek apapun cerita kalian, aku tidak akan pernah melupakannya. Aku bahkan ingin selalu menghubungkan kalian dengan cerita-ceritaku yang lainnya.”

“Tapi Thor, itu akan sulit.” Kak Aldo memberi pendapat.

“Tidak akan sulit. Selama aku masih bisa menulis, aku ingin selalu mengenang kalian. Kak Aldo, bukannya kamu punya Axel dan Alexa? Apa kamu nggak mau mereka di tuliskan kisahnya? Kak Raka juga kan punya Rafe, apa nggak mau Rafe bertemu dengan Pincessnya?”

Well, semuanya terserah author, sih.”

“Maka dari itu, jangan tinggalkan aku, jangan pergi dari ingatanku. Mungkin semakin lama ingatanku tentang kalian akan sedikit mengabur, tapi aku akan mencoba membaca kisah kalian lagi, supaya aku dapat selalu mengingatnya.”

“Bener sepeti itu Thor?”

Aku mengangguk cepat. “Mas Revan aku ingat dengan sikap dinginnya, Mike, aku sangat ingat dengan mata cokelatmu dan juga sikapmu yang perayu, Kak Aldo adalah sosok yang kekanakan dan juga labil, sedangkan kak Raka adalah sosok datar tanpa ekspresi. Aku akan mengingat kalian semua meski aku menciptakan sosok baru lagi dan lagi, jadi jangan pernah pergi dari ingatanku. Jika aku lupa, maka muncullah dalam mimpiku. Aku akan kembali mengingatnya.”

Tiba-tiba aku merasakan Mike merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

Thanks, Thor. Tanpamu, kami nggak akan ada. Terimakasih sudah memberikan Hana yang begitu baik untuk menyadarkanku.” Aku tersenyum mendengar ucapan Mike. Mike melepaskan pelukannya kemudian tubuhku di raih oleh kak Aldo, dan lelaki itu memelukku erat-erat seperti yang di lakukan Mike padaku.

“Terimakasih sudah memberikan Sienna untukku. Terimakasih sudah menyayangiku.” Aku mengangguk dan membalas pelukan kak Aldo. Kak Aldo melepaskan pelukannya dan kini aku berhadapan dengan Kak Raka.

Kak Raka mengusap lembut puncak kepalaku. “Author membuat Felly sebagai satu-satunya wanita yang ku cintai ketika di dalam novel, apa author tidak ingin aku mencintai wanita lain?”

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Kalau aku melenceng dan memilih mencintai Author, gimana?”

“Uum, mungkin suamiku akan membunuhmu.” Jawabku asal, dan itu membuat semua yang ada di sana menertawakanku.

Kak Raka merengkuhku ke dalam pelukannya. “Aku mencintaimu, Thor, sama seperti kamu mencintaiku ketika menulis tentang kisahku.”

Aku menghela napas panjang. Ya, tentu saja aku mencintai kalian semua. Lirihku dalam hati.

Kak Raka melepaskan pelukannya dan kini aku sudah berhadapan dengan Mas Revan. Sosok yang benar-benar… enthlah, aku sulit menggambarkannya.

Mas Revan mengulurkan jemarinya pada pipiku, mengusapnya lembut hingga aku yakin itu bisa membuat pipiku memerah karena gugup.

“Semua sudah di katakan yang lain, aku nggak tau harus bilang apa lagi. Hanya terimakasih, dan terimakasih yang bisa ku katakan.”

Mas Revan kemudian meundukkan kepalanya dan berbisik di telingaku.

“Aku pernah mencintai Lita, dan kini aku sangat mencintai Dara. Terlepas dari semua sekenario novel yang kamu buat, aku mencintaimu, Thor.” Kalimat itu di ikuti dengan kecupan lembut di pipiku.

Kyaaaaaa aku dicium Revano Putera???? Semoga aku tidak pingsan.

Keempatnya kemudian menatapku dengan tatapan khas masing-masing. Aku sendiri hanya mampu menatap mereka sepuasnya. Ku pikir hanya ini satu-ssatunya kesempatan aku bisa melihat mereka senyata ini.

“Kami harus pergi, kuharap, kamu benar-benar tidak melupakan kami, Thor.” Mas Revan kembali berkata. Aku tersenyum dan mengangguk dengan pasti.

“Salam sayang untuk semua readers yang sudah membaca kisah kami.” Kak Aldo berucap.

“Ya, aku akan menyalamkan ke mereka.” jawabku.

Keempatnya tersenyum, kemudian mereka mulai terlihat samar, sama, dan.. Hilang. Aku berdiri sendiri di sana, di tengah-tengah taman yang indah dengan kabut warna putihnya.

“Mama.. Mama bangun.. Mama, cucu Mama, Mama…” kurasakan tubuhk bergoncang-goncang bersamaan dengan suara lucu dari Bella, puteri kecilku.

“Mama, bangun, cucu Mama..”

Dan aku membuka mata.

Ya, aku cuma bermimpi ketika bertemu dengan mereka. Kulihat Bella yang sudah bangun sambil membawa botol susunya yang sudah kosong. Dan aku tersenyum.

Inilah kehidupan nyataku, kehidupanku sebagai seorang ibu rumah tangga, tapi semua ini tidak menghalangiku untuk mengenal mereka. Revan yang dingin, Mike si perayu, Aldo yang kekanakan, atau Raka yang datar. Aku mencintai mereka semua meski hanya di dalam mimpi, dan ku harap, kalian para readerspun sama, mencintai mereka ketika membaca kisah mereka.

Terimakasih….

ZennyArieffka

12-01-2017