Affair – (short story)

Comment 1 Standard

 

1

 

Damian bergerak menghujam ke dalam diriku. Bergerak cepat. Sedangkan aku mengerang, mendesah karena kenikmatan yang dia berikan.

God… lagi… lagi.. teruskan.. Ohh…” Aku meracau dan dia semakin menggila.

Damian memang pria panas, dan dia selalu mampu membuatku puas dengan kejantanannya. Tubuhku membungkusnya dengan begitu pas, menghisapnya hingga dia tak berhenti mengumpat ketika menyatu denganku.

Kepalanya menunduk, meraup payudaraku, menggodanya, bermain di sana menggunakan lidahnya. Ya Tuhan! Dia membunuhku. Aku memejamkan mata, tak berhenti mengerang karena ulahnya, kemudian dia bergerak semakin cepat, semakin intens, dan tak lama, dia meledakkan diri di dalam tubuhku.

Napas kami memburu, menyatu dengan keringat dan juga gairah panas kami berdua. Damian menarik tubuhnya, mengecupku singkat kemudian dia bangkit dan menatapku dari tempatnya berdiri.

“Kau selalu terasa nikmat, Sayang.” ucapnya dengan nada menggoda.

Aku tahu bahwa dia akan selalu mengatakan kalimat itu padaku. Ya, aku menghabiskan banyak uang untuk memberinya service yang layak. Kulakukan semua itu untuknya, agar dia selalu terjerat denganku dan tidak main-main di luaran sana.

Well, kalian perlu tahu, bahwa dia, Damian Robinson merupakan pengusaha matang yang terkenal di kota ini –New York. Wajahnya sering kali keluar di majalah-majalah bisnis, bahkan sesekali media memberitakan tentangnya layaknya seorang selebriti. Semua itu tentu karena ketampanannya, aurahnya yang panas dan menggoda, serta hubungan asmaranya denganku yang merupakan salah seorang Aktris populer di negeri ini.

Ya, Aku Maureen Bright. Aktris sekaligus model populer di New York. Karirku berawal sejak aku masih berusia belasan tahun. Aku menjadi salah seorang pemain teater di Broadway.

Lalu semuanya terjadi begitu cepat setelah aku menerima beberapa tawaran iklan. Kemudian, kehadiranku di sebuah pesta amal menuntunku bertemu dengannya. Ya, Damian Robinson, kekasihku. Dan setelah menjadi kekasihnya, namaku semakin melambung.

Aku meninggalkan dunia teater, fokus degan dunia modelingku, dan juga dengan kekasihku, Damian. Dia pria posesif, dia tidak suka jika aku berada jauh dari dirinya, karena itulah aku memilih meninggalkan semuanya demi dia.

Tapi, dua tahun menjalani hidup seperti ini, aku merasa dikekang, aku merasa terkurung dalam sebuah senggkar emas. Aku mencintai Damian, tentu saja, tapi ada satu hal di dalam diriku yang seakan ingin menolak sikapnya yang kelewat posesif.

“Aku tahu kau akan berkata seperti itu.” aku menjawab dengan nada menggoda.

Damian meraih jam tangannya di nakas, melihat jarumnya, lalu ia mendengus sebal. “Sayang sekali, aku tidak bisa melanjutkan yang lebih panas lagi. Pesawatku menunggu.”

Aku menggulingkan tubuhku dengan gerakan menggoda. Terbaring miring dengan posisi yang seksi, kemudian aku bertanya “Kali ini berapa lama?”

Aku tahu, bahwa kepergian Damian kali ini bukan hanya sehari dua hari. Beberapa hari yang lalu aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang di seberang telepon. Sepertinya, dia memiliki sedikit masalah. Keningnya tak berhenti berkerut, dan sesekali dia menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia memiliki masalah, dengan pekerjaannya, aku tahu itu. Lalu setelahnya, dia memberiku banyak hadiah, mengajakku menonton theater beberapa kali, makan malam romantis, dan juga membelikanku barang-barang branded. Well, dia sedang menyogokku, aku tahu itu.

“Mungin satu atau dua bulan.”

“Dan selama itu, apa yang akan kulakukan? Apa aku harus terkurung di penthousemu ini?” tanyaku yang lebih cocok kusebut dengan sebuah sindiran.

Selama ini, jika Damian pergi karena urusan pekerjaan, dia akan menahanku di dalam penthousenya. Dia pernah berkataa, bahwa aku selalu menjadi wanita yang diinginkan oleh kebanyakan pria di New York. Karena itulah dia tak ingin mengambil resiko aku dilirik oleh pria lain. Tapi bagiku, mengurungku di dalam sini selama dia tidak ada sepertinya sangat keterlaluan.

“Sayang, kita sudah pernah membahasnya, bukan?”

“Tapi mengurungku di sini selama satu atau dua bulan terakhir benar-benar tidak masuk akal. Kau boleh pergi, tapi biarkan aku bersenang-senang sebentar.”

“Mou. Kau ingin melawanku?”

“Tidak, aku hanya menuntut sedkit keadilan.” Jawabku tegas sembari bangkit dan mulai memunguti pakaianku.

Tampak Damian menghela napas panjang. “Baiklah, kau boleh keluar, hanya rabu malam.”

“Apa? Kenapa harus rabu malam? Kenapa bukan sabtu atau minggu malam dan sejenisnya?”

“Sabtu atau minggu malam adalah tempat para buaya berkeliaran. Jadi tolong, hormati keinginanku.”

Aku mendesah panjang. “Baiklah, setidaknya aku bisa jalan-jalan sebentar tanpa pengawalanmu.”

“Mou, kau akan tetap pergi bersama dengan Hilton.” Hilton adalah pria sialan yang mengabdikan diri pada Damian. Dia pengawal pribadiku yang selalu setia mengawalku

“Ayolah…” aku merengek.

“Tidak ada bantahan lagi.”

Ya Tuhan! Aku merasa tercekik. “Terserah kau saja.” Pungkasku dengan wajah yang sudah kutekuk sembari bersiap pergi meninggalkannya. Tapi baru berapa langkah, Damian sudahmenarik tubuhku, hingga punggungku menempel pada tubuhnya.

“Aku tahu ini sulit untukmu. Tapi ketahuilah, aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

Aku tersenyum mendegar pernyataan cintanya. Dasar murahan, hanya dengan ucapan itu saja kau sudah luluh?

“Baiklah, jika kau belum juga menerima tawaranku, aku akan melonggarkannya lagi. Hilton akan tetaap ikut, dia akan menunggumu di dalam mobil.”

Jiwaku berteriak kegirangan. Dengan spontan kubalikkan tubuhku, kemudian kukalungkan lenganku pada lehernya. “Benarkah? Jika benar maka kau adalah orang yang paling murah hati yang pernah kutemui.”

Damian tersenyum, dia mencubit hidungku. “Jangan menggodaku lagi. Aku sudah hampir telat.”

Well, kau yang memelukku lebih dulu.”

“Karena kau merajuk.” Jawabnya cepat. Aku tertawa lebar, lalu Damian melepaskan pelukannya. “Jangan lupa, besok jadwalmu bertemu dengan Dokter Anna.”

Oh ya, Damian bahkan selalu ingat kapaan aku harus memasang kontrasepsiku.

“Ya, aku tak aakan lupa.” Jawabku dengan sungguh-sungguh.

“Aku akan sangat merindukanmu, Mou.”

Aku tersenyum. “Aku juga, aku pasti akan sangat merindukanmu…” bisikku dengan suara serak. Damian menundukkan kepalanya, lalu dalam sekejap mata, bibir kami sudah saling bertemu, saling mencumbu mesra….

-TBC-

CErita ini sudah tersedia di Google Playbook dg harga 10rbu…. 🙂

Advertisements

One thought on “Affair – (short story)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s