Ugly Wife – Bab 2

Comments 3 Standard

Yeaaayyy aku seneng bgt dehhh karena ada yang nunggu cerita ini. hohoho, so, selamat membaca… muwaaahhhhhhh

 

Bab 2

 

Sore itu, Shafa merasa tubuhnya sangat lelah. Mungkin karena sepanjang hari ramai pengunjung toko bunga miliknya. Shafa duduk di sebuah kursi, dekat dengan salah satu pot besar tanaman palm. Sesekali ia memijit kakinya sendiri, dan hal itu tak luput dari perhatian Leo.

Leo datang menghampiri Shafa, dan bertanya “Ada yang sakit, Mbak?” tanyanya dengan sopan.

Shafa tersenyum dan menggeleng. Padahal, Shafa sudah berkata pada Leo bahwa lelaki itu hanya perlu memanggil nama saja tanpa perlu embel-embel yang lainnnya. Tapi lelaki ini sangat baik hingga ia menolaknya dengan alasan bahwa Shafa adalah bossnya.

“Aku baik-baik saja. Kamu belum pulang?” tanyanya. Padahal, Shafa melihat pegawainya yang lain sudah pulang. Tinggallah ia hanya berdua dengan Leo di tempat tersebut. Dan mungkin beberapa orang yang ada di bagian pembuatan pot.

Toko bunga milik Shafa memang bukan toko bunga biasa. Tempatnya besar, dan sangat luas. Terdapat sebuah rumah kaca kecil di sana, kemudian ada juga sebuah bangunan bersih yang menghadap ke jalan raya. Disana, Shafa biasanya menyambut para pelanggannya dengan berbagai bunga yang kebanyakan sudah dirangkai. Di belakang bangunan itu ada beberapa bangunan lagi, seperti bangunan untuk membuat pot-pot, beberapa kebun kecil, dan yang lainnya.

Shafa dan keluarganya memanglah bukan dari kalangan orang tak punya, mereka hanya hidup sederhana dengan apa yang mereka sukai. Ayah dan ibu Shafa lebih suka berkebun, karena itulah mereka menghabiskan waktu mereka di toko bunga ini. Bahkan, Ayah Shafa sengaja menjual rumahnya untuk memperlebar area toko bunga dan tanaman miliknya ini.

Letak toko bunganya memang bukan ditengah-tengah kota, tapi untuk pelangan, tak perlu diragukan lagi. Toko bunga keluarga Shafa memang sudah memiliki banyak pelangggan sejak dulu. Dan kebanyakan mereka adalah pelanggan setia.

“Belum. Beberapa tanaman palm akan datang sore ini, dan mungkin sedikit telat.”

Shafa mengangguk. Sudah hampir satu bulan Leo bekerja dengannya, dan selama itu, Shafa benar-benar merasa terbantu. Ia memang kekurangan tenaga kerja, apalagi dibagian belakang, untuk mengurus tanaman dan yang lainnya. Dan beruntung ia mendapatkan pegawai seperti Leo.

Seseorang datang saat Shafa dan Leo sedang bercakap-cakap. Seseorang dengan tatapan mata tajamnya. Siapa lagi jika bukan Elang.

Shafa berdiri seketika, ia bahkan megabaikan nyeri di kakinya yang sejak tadi ia rasakan. Baginya saat ini yang terpenting adalah, Elang tidak mengetahui bahwa Leo sedang bekerja dengannya. Shafa tak munafik, Elang memiliki segalanya, lelaki itu bisa melakukan apa saja keinginannya, dan Shafa takut, bahwa salah satunya adalah menyingkirkan Leo dari hadapannya.

“Kenapa dia masih di sini?” tak ada basa-basi, Elang bertanya langsung pada intinya.

Dengan spontan, Shafa menarik Leo ke belakang tubuhnya, hingga ia menghadap suaminya secara langsung. Ada ketakutan dalam diri Shafa, tapi ia tak akan pernah menunjukkan hal itu pada suaminya.

“Dia bekerja denganku.”

“Ohh, bagus sekali. Jadi setelah dipecat dari rumah, kamu memperkerjakan dia?”

“Dia orang baik dan rajin, aku membutuhkan tenaganya.”

Tampak, rahang elang mengetat, tatapannya menajam membuat siapa saja bergidik ngeri ketik melihatnya. Elang amat sangat tidak suka dengan kalimat yang terlontar dari bibir istrinya. Shafa membela lelaki lain di hadapannya dan itu membuat Elang murka.

Tanpa banyak bicara, Elang meraih pergelangan tangan Shafa, menyeretnya keluar dari tempat tersebut dengan kasar.

Leo yang berada di sana tak bisa melihat Shafa diperlakukan seperti itu. ia segera menyusul Shafa dan Elang, kemudian meraih tangan Shafa yang lainnya, membuat Elang menghentikan langkahnya, menatap cekalan tangan Leo lalu menatap lelaki itu dengan mata marahnya.

“Berani kamu menyentuhnya?” desisnya tajam.

“Anda sudah bersikap sangat kasar, Tuan.”

Tanpa banyak bicara, Elang segera melepaskan cekalannya pada tangan Shafa kemudian mendaratkan pukulan kerasnya pada Leo hingga lelaki itu tersungkur ke tanah.

“Elang!” Shafa berteriak histeris ketika melihat kejadian tersebut.

Beberapa pegawai Shafa yang masih di gudang belakang akhirnya keluar. Melihat kejadian tersebut membuat mereka maju, tapi dengan spontan Shafa menghadangnya karena tak ingin mereka berakhir memukuli suaminya.

“Bu, ada apa?” tanya salah satunya.

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia akan membuka suaranya, tapi Elang seakan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Secepat kilat dia kembali menyeret Shafa, menuju ke arah mobilnya, memaksa Shafa masuk dan dirinya juga ikut masuk sembari meninggalkan tatapan mata membunuhnya ke arah para pegawai Shafa.

Tanpa banyak bicara, Elang menginjak pedal gasnya, mobilnya melaju cepat meninggalkan area toko bunga milik Shafa.

***

“Bedebah!” Shafa tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Elang tidak berhenti mengumpat kasar di dalam mobilnya. Padahal seharusnya, disini dialah yang marah. Elang dengan seenaknya menyeret Shafa, memukuli Leo yang jelas-jelas tidak memiliki kesalahan apapun.

Meski begitu, Shafa hanya diam. Ia tidak tahu apa yang sedang ingin dilakukan Elang. Mungkin lelaki itu memiliki masalah di kantornya dan berakhir dengan melampiaskan kemarahan padanya. Ya, bukankah selama ini memang seperti itu?

Tanpa diduga, tiba-tiba saja Elang menghentikan mobilnya, membuat Shafa terkejut dengan apa yang telah dilakukan suaminya itu.

“Katakan padaku. Apa yang sudah kamu lakukan sama dia?” desisnya tajam.

“Aku masih tidak mengerti arah dari pembicaraanmu?”

“Oh, apa kurang jelas? Sudah berapa jauh hubungan kalian? Ciuman? Bercinta?”

“Jangan samakan aku dengan kamu. Meski pernikahan kita hanya sebuah ikatan tanpa perasaan apapun, tapi aku tetap menjaga kesetiaanku dengan orang yang menjadi suamiku.”

“Setia katamu? Begitukah bentuk kesetiaanmu pada suamimu? Berduaan dengan pria yang jelas-jelas sudah dipecat dan di usir dari rumah suamimu?”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengamu. Kenapa kamu jadi mengurus hal sepele ini?”

“Brengsek!” Elang mengumpat kasar. Ia marah karena sadar bahwa apa yang dipertanyakan Shafa memang benar. Kenapa dia jadi peduli dengan wanita cacat ini? “Cepat atau lambat, aku akan membuat toko bungamu ditutup.”

“Elang…”

“Aku nggak butuh rengekanmu.” Setelahnya, Elang kembali menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya kembali. Sedangkan Shafa, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Elang memiliki segalanya, Shafa tahu bahwa ketika Elang menginginkan sesuatu, maka pria itu dapat dengan mudah mendapatkannya, termasuk membuat toko bunganya tutup selamanya.

***

Sampai di rumah, Elang masih menekuk wajahnya. Ia keluar dari dalam mobilnya dan berjalan begitu saja meninggalkan Shafa. Shafa hanya menatap kepergian suaminya itu penuh tanya.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan lelaki itu?

Shafa mengabaikan pertanyaannya, ia keluar dari dalam mobil, dan menyusul Elang masuk ke dalam rumah, tapi baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya saat mendapati seorang gadis muda menghambur memeluk suaminya.

Shafa hanya ternganga melihat pemandangan itu. memang, bukan sekali ini saja ia melihat kedekatan Elang dengan wanita lain. Sudah beberapa kali. Bahkan suaminya itu mengenalkan dirinya dengan kekasihnya sejak hari pertama mereka menikah. Keterlaluan bukan?

Belum lagi kenyataan bahwa setiap kali pesta, Elang selalu pergi sendiri, berkata padanya dengan kalimat menyakitkan, bahwa ia tidak mungkin membawa Shafa ikut serta pesta bersamanya dengan keadaannya yang memiliki kekurangan.

Shafa juga cukup tahu diri, ia juga tidak ingin bergaul dengan teman-teman maupun keluarga Elang yang lain. Ibaratnya, mereka memiliki dunia yang berbeda. Shafa hanya tidak ingin berakhir di hina oleh salah satunya.

Selama ini, Shafa merasa baik-baik saja dengan hal itu, hubungannya dengan Elang yang seakan memiliki dinding pembatas. Elang enggan menariknya lebih jauh ke dunia lelaki itu, dan Shafa juga enggan masuk ke dalamnya. Semuanya baik-baik saja ketika mereka hanya melakukan kewajiban masing-masing tanpa ikut campur urusan pribadi masing-masig. Tapi kini, kenapa Elang mencampuri urusan pribadinya? Shafa hanya merasa bahwa semua itu tak adil untuknya.

Mengabaikan hal itu, Shafa kembali melangkahkan kakinya, menuju ke dalam rumah. Mau tidak mau ia melewati Elang dengan gadis muda yang masih setia memeluk suaminya tersebut.

Saat melihat kedatangan Shafa, gadis itu lantas segera melepaskan pelukannya pada Elang. Menatap Shafa dengan tatapan menilai. Mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki Shafa.

Biasanya, jika yang melakukan itu adalah orang-orang terdekat Elang, seperti keluarga atau teman lelaki itu, Shafa harus mempersiapkan diri dengan ucapan sinis yang akan keluar dari bibir orang tersebut. Seperti, bahwa Shafa harus bersyukur karena sudah memiliki suami sempurna seperti Elang, yang dalam arti lain adalah bahwa Elang cukup sial karena sudah menikahinya. Biasanya juga, Shafa hanya tersenyum dan mengabaikannya. Toh, yang membuatnya cacat seperti ini adalah Elang, bukan? Jadi seharusnya, mereka berdua sama-sama impas, kan?

Shafa mencoba mengabaikan tatapan mata itu. Ia memilih tersenyum, mengangguk dan terus berjalan masuk ke dalam rumah. Saat ini, Shafa berada pada titik tak ingin mendengar komentar ataupun penghinaan untuk dirinya.

“Dia, Istri Kakak?” disisi lain, gadis itu bertanya pada Elang.

“Lupakan saja.” Elang menjawab enggan.

“Kok gitu. Kak El lagi marahan, ya?”

Elang memutar bola matanya jengah. “Jadi kamu pulang hanya untuk mengurus masalah kakak?” tanyanya dengan nada jengkel.

Gadis itu malah tertawa lebar. “Ternyata Kak El masih kayak dulu ya. Suka marah-marah. Awas cepat tua loh… Nanti kalau tua ditinggalin sama istrinya.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, gadis itu berlari masuk ke dalam rumah. Sedangkan Elang hanya bisa menyerukan nama gadis itu dengan nada kesal.

***

Setelah membersihkan diri, Shafa mengganti pakaiannya, lalu duduk di pinggiran ranjang. Sesekali ia memijit kakinya yang kembali terasa nyeri. Mungkin ia memang sedikit kelelahan, mungkin juga karena Elang yang tadi menyeretnya dengan kasar. Shafa tidak tahu, ia hanya merasa pegal hari ini.

Mencoba mengabaikan rasa pegalnya, Shafa bangkit, ia akan keluar dari dalam kamarnya dan menyambangi tanamannya yang ia tanam di kebun kecil tepat di samping rumah Elang. Memang, saat di rumah, hanya dengan tanaman-tanaman itulah Safa merasa lebih baik.

Dulu, saat pertama kali pindah ke rumah Elang dengan status seorang istri dan menantu di rumah ini, Shafa merasa tidak kerasan. Pertama, tentu karena perlakuan kurang bersahabat yang ia dapatkan dari keluarga Elang dan Elang sendiri, sisanya, karena Shafa tidak terbiasa jauh dari tanaman-tanamannya.

Karena itulah, saat Shafa melihat kebun kecil yang tak terawat di samping rumah Elang, di dekat area kola renang, Shafa berinisiatif membawa tanaman-tanaman bunga kesukaannya satu persatu ke sana.

Kini, kebun kecil itu menjadi tempat paling favorite di rumah ini untuk Shafa. Ya, hanya di kebun kecil itu Shafa bisa merasakan kebahagiaan di rumah ini.

Ketika Shafa membuka pintu kamarnya, pada saat bersamaan Elang masuk, hingga dengan spontan wajah Shafa membentur dada bidang suaminya tersebut.

Postur tinggi Elang mau tidak mau membuat Shafa mendongkakkan wajahnya, mendapati wajah Elang sedang menunduk menatapnya dengan begitu dekat. Secara sponta, Shafa kembali menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang tiba-tiba saja menyembul keluar tanpa tahu malu hanya karena tatapan mata dari Elang.

“Mau kemana?” Elang bertanya dengan nada dingin. Seperti biasa.

“Melihat tanamanku.”

“Berpikir untuk mencuri hati adikku?”

Shafa mengangkat wajahnya seketika menatap Elang penuh tanya. “Aku tidak mengerti apa maksud kamu.”

“Lagi-lagi kamu berpura-pura polos. Kamu pikir aku lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Ibuku?”

“Aku nggak ngerti.”

Elang melangkah mendekat, sedangkan Shafa dengan spontan ia mundur.

“Sikapmu yang sok baik, sok polos, sok ramah, seperti malaikat itu membuatku muak.” Elang mendekat lagi, sedangkan Shafa masih mundur karena terintimidasi dengan ulah suaminya.

“Aku selalu bersikap seperti itu pada siapapun, dan itu bukan suatu kepura-puraan.”

Elang tersenyum menyeringai. “Itu senjatamu untuk membuat banyak orang tertarik. Tapi tidak denganku.”

“Aku tidak bermaksud membuat orang tertarik denganku.”

“Kalau begitu berhenti bersikap sok polos dan sok ramah.”

“Kamu tidak bisa melarang orang bersikap baik. Sikapku sudah seperti ini sejak dulu, jadi bukan kapasitasmu untuk merubahku.”

Tampak sebuah kemarahan di mata Elang. Shafa tidak tahu kenapa Elang tampak sangat marah padanya. Apa ia salah? Shafa tidak merasa bersalah sama sekali, karena itulah Shafa mencoba memasang wajah tak gentar di hadapan suaminya tersebut.

Lalu, tanpa diduga, dengan gerakan secepat kilat, Elang sudah menangkup kedua pipi Shafa, mengangkat ke arahnya, kemudian menyambar bibir ranum Shafa yang entah kenapa sejak tadi sudah menggodanya.

Shafa terkejut, matanya membulat seketika, meski begitu ia belum sempat menghindar dari Elang. Ketika Elang mencumbu habis bibirnya, yang bisa Shafa lakukan hanya meronta.

Bukannya Shafa menolak, tidak. Meski ia belum memiliki perasaan apapun dengan Elang, tapi sebisa mungkin Shafa memposisikan dirinya sebagai istri lelaki itu. Shafa selalu memenuhi kebutuhan biologis suaminya, tidak pernah menolaknya, meski mereka melakukan hal tersebut tanpa cinta. Tapi saat ini, Shafa hanya ingin bahwa Elang melakukannya dengan baik, bukan dengan kasar seperti ini. Hal itu membuat Shafa tidak suka.

Sekuat tenaga Shafa meronta, mendorong-dorong tubuh suaminya yang lebih tinggi dan lebih besar dari tubuhnya. Hingga kemudian tautan bibir mereka terlepas. Napas keduanya memburu. Shafa mengusap bibirnya bekas dari cumbuan panas Elang, sedangkan Elang, ia menatap Shafa masih dengan tatapan marahnya.

“Kamu menatapku seolah-olah apa yang kulakukan adalah hal yang menjijikkan.” desis Elang dengan marah.

“Kamu melakukannya dengan kasar dan tanpa permisi.”

“Oh, apa kamu cukup pantas kuperlakukan dengan sopan?”

Shafa kesal dengan pertanyaan tersebut. Tak ada gunanya lagi ia beradu argumen dengan Elang. Sembari bersiap pergi, Shafa berkata “Sepertinya, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”

Baru beberapa langkah ia melewati Elang, dan lelaki itu segera menyambar pergelangan tangannya, menariknya, kemudian berkata “Kita belum selesai, aku sedang menginginkan hakku.” Setelah ucapannya yang penuh penekanan tersebut, Elang kembali mencumbu paksa bibir Shafa, melumatnya dengan panas, mencecap rasanya dengan penuh paksaan. Rasa marah dan gairah sedang bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Elang, dan ketika hal itu terjadi, maka tak ada penolakan yang bisa diterima oleh lelaki itu.

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “Ugly Wife – Bab 2

  1. Dasar tukang selingkuh nyebelin …

    marah” az ga usah pake minta jatah segala , bilang az dari awal mang udah niat na ksitu , maka na pas liat shafa ma leo dia kebakaran jenggot .

    Like

  2. Cih, marah2 nggak jelas pake kamar segala lagi. Eh, ujung2nya pengen juga.. Helloooo, Mas. Kasih hati dikit napa sama istri sendiri😤😤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s