My Pretty Girlfriend – Bab 2

Leave a comment Standard

 

Bab 2

 

Kesha kembali ke rumahnya saat waktu sudah menunjukkan pukul Enam sore. Saat dirinya baru saja mengganti pakaiannya, ponselnya berbunyi. Kesha melirik sekilas, dan terdapat nama Ken di sana.

Setelah mendesah panjang, Kesha akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

“Dimana?” tanya Ken tanpa basa-basi lagi.

“Di rumah.” Kesha menjawab pendek.

“Temui aku.”

“Ken, aku…”

Aku tidak akan menidurimu.” Terdengar suara lelaki itu sedikit menahan kemarahan. “Temui aku di sebuah kafe. Akan kukirimkan alamatnya lewat pesan.”

“Tapi Ken…” panggilan ditutup. Kesha tahu bahwa Ken sedang tidak ingin ditolak. Setelah mendesah panjang lagi, Kesha bangkit, mengganti pakaiannya, kemudian bergegas setelah ia mendapati pesan Ken yang menunjukkan dimana letak tempat Ken menunggunya.

***

Restaurant itu sepi. Itulah kesan pertama yang ada dalam pikiran Kesha. Apa Ken sedang mengerjainya?

Seorang pelayan datang menghampiri Kesha, dan Kesha di bimbing menuju ke sebuah ruangan yang cukup Privat. Rupanya, Ken sudah menunggunya di sana.

Lelaki itu sudah duduk dengan gagah di sebuah kursi, sedangkan meja di hadapannya sudah penuh dengan bergabai macam menu makanan.

Apa Ken sedang mengadakan pesta?

Kesha akhirnya mendekat, dan ketika Ken memepersilahkan Kesha duduk, yang dapat Kesha lakukan adalah menuruti kemauan lelaki itu.

“Makanlah.”

Suara Ken terdengar begitu dingin, perintahnya seakan tak ingin dibantah, dan yang dapat Kesha lakukan adalah menuruti apapun kemaua lelaki itu.

Kesha duduk dengan tenang, tapi ia belum juga menyentuh makanannya. Hal ini sedkit aneh. Ken begitu membencinya tapi kenapa Ken melakukan hal ini padanya? Seakan memanjakan dirinya dengan banyak makanan enak bahkan di restaurant yang mewah dengan privat.

“Kenapa tidak makan?” tanya Ken dengan nada dinginnya.

“Apa yang kamu rencanakan?” Kesha bertanya dengan terang-terangan.

“Ckk, jadi kamu mencurigai niat baikku?” Ken mendesis sinis. “Makan dan habiskan semua makanan di hadapanmu. Aku tidak suka melihat tubuhmu yang semakin hari semakin kurus.”

Dalam diam, Kesha menuruti saja apapun yang diperintahkan Ken padanya. Tak ada gunanya melawan lelaki ini. Lebih baik ia menuruti kemauan Ken setelah itu ia bisa pergi dari hadapan lelaki ini secepatnya.

Disisi lain, Ken manatap Kesha dengan tatapan menyelidik. Jemarinya meraih wine di hadapannya, menggoyangkan gelasnya sebelum menyesap isinya,. Matanya masih mengamati Kesha yang tampak memakan hidangan dihadapan mereka tanpa selera.

“Kalau kamu nggak suka sama makanannya, kamu bisa memesan yang lain.” Ken berkomentar, tapi Kesha tak menghiraukannya. Wanita itu hanya makan seperti yang diperintahkan Ken meski matanya tak tampak menikmati hidangan dihadapannya. Hal itu membuat Ken kesal.

Ken kembali bungkam dan memilih hanya menatap Kesha yang masih setia menyantap hidangan makanan di hadapan mereka.

Tak lama, Kesha menghabiskan makanan di hadapannya, dia meminum air putih yang tersedia di sebelah piringnya, mengelap ujung bibirnya dengan kain yang sudah disediakan. Kemudian wanita itu berdiri.

“Aku sudah selesai, terimakasih makan malamnya.” Kesha berharap dirinya bisa pergi meninggalkan Ken secepatnya, tapi ia salah.

“Duduklah kembali.”

“Apa yang kamu inginkan?”

“Aku belum selesai. Duduklah kembali.” Ken tidak meminta, kalimat itu lebih terdengar sebagai sebuah perintah.

Kesha menuruti saja apa yang diinginkan Ken.

Lalu lelaki itu mulai membuka suaranya kembali. “Aku butuh asisten pribadi.”

“Maaf, aku nggak bisa.” Kesha menjawab cepat. Jika Ken ingin ia bekerja lagi dengan lelaki itu, maka Kesha akan menolaknya. Bukan karena ia tidak menyukai pekerjaan tersebut, tapi karena ia memang tidak bisa melakukannya.

Sudah cukup Kesha merasa sesak saat harus bekerja dengan Ken di atas ranjang lelaki itu. Kesha tak ingin hari-harinya ia habiskan dengan Ken dan membuat hatinya pilu mengingat masa lalu mereka. Kesha tak ingin hal itu terjadi.

Well, sayangnya, aku sedang tidak memintamu untuk melakukannya.”

“Lalu?”

“Lebih tepatnya, aku memaksamu.”

“Aku sudah kerja, Ken. Aku tidak bisa menjadi asisten pribadimu lagi.”

“Sayangnya, besok aku akan membuatmu dipecat dari pekerjaanmu itu.”

“Tidak!” Kesha berseru keras. “Jangan lakukan itu. Aku menyukai pekerjaanku.” Lanjut Kesha lagi. Ya, dengan bekerja di salon, setidaknya ia memiliki sedikit penghasilan untuk kebutuhan hidupnya. Kesha juga bisa melupakan kehidupan kelamnya karena berinteraksi dengan orang baru setiap harinya, dan yang terpenting, Kesha memiliki Mr. X di sana. Seorang yang selalu mengirim minuman manis dan membuat harinya sedikit lebih manis.

“Dan aku sudah membayar di muka.”

Kesha mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Lima puluh juta sebulan pada ibumu, dan kamu akan tinggal bersamaku.”

“Tidak, Ken.”

“Ya. Dia sudah menandatangani kontraknya, dan jika kamu menolak, maka aku bisa menjebloskannya ke penjara.”

“Tidak, kamu tidak akan sekejam itu, Ken.”

“Jika Ken yang dulu kamu kenal memang ya, dia tak akan sekejam itu. Tapi Ken yang ada di hadapanmu adalah Ken yang berbeda. Ken yang sudah dicampakan oleh perempuan jalang hingga membuatnya nyaris gila.” ucapnya penuh arti.

“Kenapa Ken? Kenapa? Apa tujuanmu sebenarnya?” lirih Kesha.

Ken bangkit, ia mengitari menja dan berhenti tepat di belakang kursi yang diduduki Kesha. Ken lalu memenjarakan tubuh Kesha di hadapannya. Lengannya yang kokoh bertumpu pada meja di hadapannya. Tubuhnya sedikit membungkuk, membuat Kesha mau tidak mau terintimidasi dengan apa yang dilakukan lelaki itu padanya.

“Kamu tahu tujuanku, Kei.” Bisik Ken dengan serak, ia kembali memanggil Kesha dengan panggilan sayangnya dulu, hanya Ken dan ibunya yang memanggilnya dengan panggilan tersebut. “Aku ingin kamu merasakan apa yang kurasakan selama dua tahun terakhir. Rasanya sakit, dan sesak, seperti jiwaku dipaksa untuk meninggalkan ragaku. Aku nyaris gila saat kamu meninggalkanku demi pria lain. Dan aku akan membalaskan apa yang kurasakan saat itu padamu, Kei…”

Kesha bergidik ngeri dengan ucapan Ken yang pelan, penuh penekanan serta sarat akan sebuah ancaman mengerikan. Ken tampak begitu dendam dengannya. Sedalam itukah kebencian lelaki ini padanya?

Ken lalu menegakkan tubuhnya kembali, dengan dingin dia berkata “Sekarang, ambil barang-barangmu secukupnya, mulai malam ini, kamu akan tinggal di tempatku.”

Kesha menggelengkan kepalanya, meski sebenarnya ia tahu bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Ken. Ya, jika tidak, Ken benar-benar akan menjebloskan ibunya ke penjara, dan Kesha tidak ingin hal itu terjadi.

***

Ken memarkirkan mobilnya di halaman gedung apartmen tempat dimana Kesha dan ibunya tinggal. Meski Kesha tampak miskin dan menyedihkan, wanita itu memang tinggal di kawasan apartmen yang cukup mewah. Itu adalah gaya hidup ibunya sejak dulu. Sedikit banyak Ken tahu karena dulu, sejak sekolah, Kesha sering bercerita dengan Ken tentang hal ini.

Kedekatannya dengan Ken memang begitu intim, bahkan ketika mereka tidak pernah bercinta sekalipun saat masih berpacaran dulu, kedekatan mereka lebih intim dari pasangan lainnya. Ken tahu semua tentang Kesha begitupun sebaliknya. Hingga kemuidan, wanita itu berubah dan pergi meninggalkannya. Ken tidak akan pernah melupakan masa-masa itu.

“Ambil pakaian seperlunya saja.” Ucap Ken dengan dingin.

Kesha hanya diam dan ia hanya menurut saja apapun yang dikatakan Ken. Dengan sedikit lemas, Kesha keluar dari dalam mobil lelaki itu lalu memasuki gedung apartmen tersebut. Ken yang berada di dalam mobilnya hanya menatap punggung Kesha yang semakin jauh dari pandangannya.

Hatinya terasa sakit, bahkan ketika ia mencoba membalaskan kesakitan hatinya pada sosok Kesha, Ken tetap merasa sakit. Apa yang terjadi? Seharusnya Ken puas karena kini Kesha berada dalam genggaman tangannya. Tapi saat melihat wanita itu menurut seakan tak memiliki jiwa, Ken hancur.

Ken ingat dengan jelas, saat itu, dua tahun yang lalu, ia berada di parkiran ini. Malam itu mendung, tak ada satupun bintang yang menampakan sinarnya. Ken tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir ia memiliki perasaan yang bernama cinta…..

Ken keluar dari mobilnya. Ia masih mencoba menghubungi Kesha, meminta agar wanita itu turun dan menemuinya, untuk menyelesaikan masalah mereka.

Masalahnya bermula saat kemarin siang, tiba-tiba Kesha mengundurkan diri dari team Ken. Kesha memang bekerja sebagai salah satu asisten pribadi Ken. Menyiapkan segala keperluan Ken ketika Ken akan manggung dan sejenisnya. Tapi tiba-tiba, wanita itu berkata bahwa dia ingin berhenti.

Ken mencoba berpikir positif, mungkin Kesha lelah, dan ia ingin memberi Kesha waktu untuk liburan. Tapi siapa sangka, bahwa sorenya, Kesha dengan dingin berkata bahwa ia tidak bisa lagi menjadi kekasih Ken. Hubungan yang mereka bangun sejak SMA Kesha putuskan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ken Shock, bahkan ia tidak sempat mengejar Kesha saat wanta itu pergi meninggalkannya.

Hingga kemudian, malam ini ia datang ke tempat wanita itu untuk membahas masalah mereka. Jika Kesha memutuskannya karena wanita itu lelah akibat teror-teror dari fans fanatiknya atau dari hatersnya yang curiga dengan kedekatan hubungan mereka, maka Ken akan mencarikan jalan terbaik untuk mengatasinya asalkan mereka tidak putus. Jika Kesha memutuskannya karena wanita itu tidak sanggup menjadi kekasih gelap sang gitaris populer, maka Ken akan mengumumkan pada dunia jika ia memiliki kekasih, dan kekasihnya itu adalah Kesha, Kesha tak akan menjadi kekasih gelap Ken lagi. Bahkan jika Kesha memutuskannya karena wanita itu lelah dengan hubungan mereka yang monoton karena kesibukannya sebagai seorang artis, maka Ken akan memilih berhenti dari dunia hiburan. Ken berada pada titik dimana ia tidak bisa berpisah dengan sosok Kesha. Ia akan melakukan apapun agar wanita itu tidak meninggalkannya.

Entah dalam deringan keberapa, panggilannya akhirnya diangkat oleh Kesha. Wanita itu terdengar terisak. Ada apa? Apa Kesha menangis? Apa wanita itu juga terpaksa berpisah dengannya? Jika iya, seharusnya wanita itu tidak perlu mengusulkan untuk berpisah.

“Sayang, aku ada di parkiran. Tolong, temui aku, kita bicara baik-baik. Oke?” ucap Ken dengan lembut.

“Maaf, Ken, aku nggak bisa.”

“Kei, Aku akan nunggu kamu di sini sampai kamu nemuin aku.”

“Tolong jangan.”

“Aku tetap menunggu, Kei.” Setelah itu Ken memutuskan sambungan teleponnya. Ken tahu pasti Kesha tidak akan tega membiarkannya berada sepanjang malam di parkiran apartmen. Wanita itu terlalu lembut hatinya untuk mengabaikan keberadaan dirinya. Ken tahu itu.

Ken masih setia menunggu, hingga tak lama, ia melihat sosok itu. Kesha datang menemuinya, dan wanita itu tidak sendiri.

Seorang pria mengikuti tepat di belakang Kesha, Kesha tampak meminta pria itu berhenti dengan jarak yang cukup jauh dari Ken dan mobilnya, lalu Kesha melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ken sendiri.

“Sayang…” Ken segera meraih kedua belah telapak tangan Kesha.

“Ken, jangan.” Kesha menampik genggaman tangan Ken. Ken mengerutkan keningnya, bingung dengan sikap aneh Kesha.

“Sayang, apa yang terjadi? Tolong, jangan begini.”

Kesha berdiri dan hanya diam cukup lama, sebelum ia mulai membuka suaranya. “Kamu tahu pria di belakangku itu?” tanya Kesha kemudian. “Aku mencintainya. Maaf, aku sudah mengkhianati cinta kita.”

Bagaikan tersambar petir saat itu juga, Ken hanya ternganga, tak percaya dengan apa yang dikatakan Kesha. Ken mundur dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin, kamu tidak mungkin melakukannya.”

“Ya, aku melakukannya. Aku sudah pacaran sama dia dibelakang kamu. Rasa cintaku kini semakin besar bahkan lebih besar lagi daripada kepadamu. Aku merasa bosan hidup menjadi kekasihmu. Kita tidak bisa berkencan, kita tidak bisa nonton bareng, dan sejenisnya. Aku tidak bisa lagi mendapatkan hal itu darimu, dan aku mendapatkan hal itu darinya.”

“Kamu nggak mungkin mutusin aku hanya harena hal sepele ini, Kei! Kamu mendukungku sejak awal, sejak kita masih sekolah dulu! Sejak aku bukan artis seperti sekarang ini. Tapi kenapa kamu berubah?!” Ken mulai berseru keras.

“Karena aku usah jenuh, Ken. Aku benci kehidupan selebritimu. Aku benci tidak bisa berkencan dengan normal, aku benci disembunyikan, dan aku paling benci dihujat sama ribuan fans-fans atau haters kamu yang sok tahu itu.”

“Kalau masalahnya hanya itu, aku akan berhenti, Kei. Aku akan berhenti demi kamu. Kembalilah padaku, kumohon.”

Kesha menggelengkan kepalanya. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca, dan dengan reflek wanita itu mundur menjauhi Ken. “Nggak bisa. Aku sudah nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena…” Kesha menggantung kalimatnya, tapi kemudan wanita itu melanjutkannya “Karena aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan pria lain. Dia Dafa, pria yang sedang mengamati kita di belakangku.”

Ken menggelengkan kepalanya. “Jangan begini, Kei, tolong. Beri aku kesempatan lagi buat merebut cintamu. Pikirkan apa yang sudah kita miliki selama ini, Kei.”

Kesha menggelengkan kepalanya, air matanya tumpah dan dia mulai membalikkan tubuhnya. “Maaf.” Hanya itu yang diucapkan Kesha.

Tampa diduga, Ken bahkan sudah menekuk lututnya, membuang harga dirinya sebagai seorang lelaki demi cinta dan kasihnya pada seorang Kesha Kirana. “Demi Tuhan, Kei. Jangan lakukan ini. Aku sangat mencintaimu. Kamu, kamu boleh jatuh cinta pada pria lain, tapi jangan tinggalkan aku. Kumohon.”

Ken melihat Kesha tidak berbalik padanya, wanita itu hanya membatu dan tampak sesenggukan sebelum kemudian pergi begitu saja meninggalkannya, mengabaikan permintaannya, dan juga mencampakan cinta dan kasihnya. Ken tak percaya bahwa Keshanya akan melakukan hal ini padanya. Mencampakaannya hingga seperti ini.

Ken merasa hancur, jiwanya tersasa tercabut saat itu juga,. Dan seakan belum lengkap penderitaaannya, hujan tiba-tiba turun, mengguyur tubuh Ken, menyamarkan airmata lelaki itu. Ken tetap di sana, dalam posisi berlutut, dengan hujan mengguyurnya, mengikis semua perasaan cintanya, hingga pagi menjelang….

***  

Kesha memasukkan beberapa potong bajunya. Dari sudut matanya, Lira, Sang Ibu menatapnya sembari menyandarkan tubuhnya pada pintu, sesekali menyesap batang rokok sialannya.

“Dia pria baik, Mama tahu itu.”

“Dia adalah pria yang kejam.” Kesha meralat.

“Dia tampak mencintaimu, Kei. Kamu nggak bisa lihat matanya?”

“Yang kulihat dia begitu membenciku, Ma.” Kesha benar-benar merasa kesal dengan Ibunya. Bagaimana mungkin Ibunya melakukan hal ini padanya? Menjualnya dengan Ken?

“Mama butuh uang, Kei. Kamu harus mengerti.”

Kesha menghentikan aksinya, ia menatap ibunya dengan tatapan nanar. “Kita semua butuh uang, Ma. Tapi kita harus menyesuaikan kebutuhan kita dengan kemampuan kita. Mama nggak butuh uang sebanyak itu setiap bulannya.”

“Anggap saja ini sebagai bayaran buatku setelah aku melahirkan dan membesarkanmu.”

Oh, Kesha sudah kalah jika Ibunya sudah membahas hal itu. Kesha tahu karena Ibunya sering membahas masalah ini dengannya. Ibunya sering melimpahkan semua kesalahan padanya. Semuanya karena ibunya hamil, pacarnya pergi, ibunya sendirian melahirkan dan membesarkannya, dan setelahnya, Kesha tidak bisa menyalahkan ibunya. Selalu seperti itu jika ia dan ibunya bertengkar. Kesha selalu salah.

Lira mendekat “Dengar, Mama sudah menghabiskan separuh hidup mama untuk kamu. Tidak bisakah kamu membalasnya hanya dengan hal ini?”

“Hanya? Ini berat untukku, Ma.”

“Apa yang membuatnya berat? Dia melukaimu? Tidak bukan? Dia hanya membutuhkanmu, dan dia harus membayar karena kebutuhan itu.”

Mata Kesha berkaca-kaca. Jika sudah begini, apa bedanya ia dengan ibunya? Kesha menggelengkan kepalanya “Mama nggak ngerti, mama nggak akan ngerti apa yang pernah aku dan Ken miliki.”

“Yang mama tahu adalah bahwa apa yang kalian miliki sudah berakhir, sekarang, kamu bisa memilikinya lagi.”

Ibunya salah, Ya, ibunya salah besar. Kesha tak akan pernah memiliki cinta Ken lagi. Lelaki itu selalu menatapnya dengan tatapan kebencian, selalu memandangnya dengan tatapan merendahkan. Di mata Ken, tak ada lagi cinta untuknya. Hanya dendam dan kemarahan yang ada di mata lelaki itu. Dan Kesha tak sanggup melihat hal itu setiap harinya.

***

Kesha masuk lift saat seorang memanggil namanya. Tapi telat, lift sudah tertutup jadi orang tersebut tidak sempat mengejarnya. Orang tersebut memilih mengejar Kesha melalui tangga darurat. Ketika Kesha sudah sampai di lobi, orang tersebut memanggil-manggil nama Kesha hingga Kesha menolehkan kepalanya ke arah panggilan tersebut.

“Kesha.” Itu Dafa, lelaki itu berlari menghampirinya.

“Hai.” Hanya itu yang diucapkan Kesha. Kesha tidak menyangka akan bertemu Dafa pada saat seperti ini. “Kamu di rumah?” tanyanya.

“Ya, aku tadi baru pulang kerja dan melihatmu memasuki lift. Kamu kemana saja? Aku jarang ketemu sama kamu beberapa hari belakangan.”

Kesha tersenyum. “Aku ada sedikit kerjaan.”

Dafa lalu melirik tas besar yang sedang dibawa Kesha. “Kamu pindah? Pindah kemana? Dan ibumu?” tanyanya.

“Sementara aja, aku ada kerjaan.”

“Kerjaan apa?” Dafa mendesak.

Kesha tidak bisa menjawab. Pada saat bersamaan ponselnya berbunyi. Kesha merogoh ponselnya dan melihat si pemanggil. Rupanya itu dari Ken. “Aku harus pergi.” Hanya itu jawaban Kesha sebelum ia pergi meninggalkan Dafa.

Dafa tidak mau mengalah, ia menyusul Kesha hingga sampai di tempat parkiran. Dan rupanya, disana Kesha sudah ditunggu oleh seseorang yang Dafa tahu adalah mantan kekasih Kesha, Ken ex-The Batman. Untuk apa Kesha kembali lagi dengan pria itu?

Disisi lain, rahang Ken mengetat ketika tahu bahwa Kesha keluar dengan disusul oleh seseorang. Itu adalah bajingan yang sudah merebut Keshanya. Apa mereka masih berhubungan? Apa Kesha tinggal dengan bajingan itu?

“Maaf, aku lama.” ucap Kesha saat setelah masuk ke dalam mobil Ken.

“Aku ngerti, pasti berat mengucapkan kata selamat tinggal untuk pacarmu.” Ken berkata dengan nada dingin.

Kesha menatap Ken penuh tanya, kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk gedung apartmennya. Rupanya Dafa menyusulnya hingga keluar, pantas saja Ken mengucapkan kalimat seperti itu. Kesha memilih tidak membalas ucapan Ken, tapi Ken seakan tidak ingin mengakhiri penghinaannya.

“Benar-benar jalang, rupanya selama ini kamu tinggal sama dia.” gerutunya pelan, meski begitu Kesha mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Ken.

“Kupikir itu sudah bukan urusanmu lagi.” Kesha menjawab dengan tenang.

“Ya, bukan. Tapi sekarang, semua akan menjadi urusanku.” ucapnya penuh penekanan. “Ucapkan selamat datang di nerakamu, Kesha.” Lanjutnya sebelum ia menyalakan mesin mobilnya kemudian melesat meninggalkan parkiran.

-TBC-

Sedia Tissue yaa hahahhahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s