My Pretty Girlfriend – Bab 1

Leave a comment Standard

Masih ingat ini? ini kisahnya Ken. dan alhamdulillah aku sudah namatin kisah ini. tinggal di share aja di blog hehheheh ya sudah selamat membaca yaa…

kalo mau baca PROLOGnya, silahkan klik di sini….

 

Bab 1

 

Kesha membiarkan seluruh tubuhnya terguyur oleh air shower. Tubuhnya terasa sakit, begitupun dengan jiwanya. Ken benar-benar memperlakukan dirinya dengan sangat buruk. Kesha bahkan tak ingin mengingat bagaimana kasarnya lelaki itu saat menyentuhnya tadi malam.

Dulu, Ken yang dikenal oleh Kesha adalah Ken yang baik hati. Perhatian, pengertian, dan sangat menghargai yang namanya wanita. Tapi tadi malam, Kesha sama sekali tidak mengenal diri Ken. Apa karena dirinya? Apa ken masih sakit hati dengan putusnya hubungan mereka dua tahun yang lalu?

Kesha memejamkan matanya frustasi. Bayangan masa lalunya bersama dengan Ken tiba-tiba menyeruak dalam ingatannya.

 

“Sayang, apa kamu tau? Kami dapat tawaran dari  suatu label musik.”

“Yang bener? Jangan ngada-ngada.” Kesha menjawab dengan cuek.

“Astaga, masa kamu nggak percaya sih? Kamu lihat aja, beberapa bulan kemudian, tampang kami akan keluar di Televisi.”

“Ahhh, biasa aja.” Kesha masih bersikap cuek. Hingga kemudian Ken memilih menggoda Kesha dengan mencubit gemas hidung Kesha. “Ken!! Sakit tau!” Kesha mengerang kesakitan.

“Abisnya, kamu cuekin aku.”

Kesha menghela napas panjang. “Iya, iya. Maaf, aku hanya takut kalau kamu sudah terkenal nanti, kamu akan lupa denganku.”

“Kamu bercanda? Itu nggak akan terjadi.” Ucap Ken dengan sungguh-sungguh.

“Janji?” Kesha mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji.” Ken menyambutnyaa dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingkin Kesha. Keduanya terikat dengan janji manis saat itu.

 

Kesha menghela napas panjang. Ken memang menepati janjinya. Lelaki itu selalu setia dengannya meski lelaki itu sedang berada di puncak kepopulerannya. Hingga kemudian, masalah itu muncul. Mau tak mau Kesha memilih untuk melepaskan Ken.

Dan kini, Kesha benar-benar tidak menyangka jika akan berada di sisi Ken kembali. Meski Kesha tahu bahwa saat ini posisinya bukan sebagai kekasih Ken lagi, melainkan sebagai musuh lelaki itu untuk membalaskan dendam atas sakit hati yang pernah ia berikan pada lelaki itu.

***

Kesha menuju ke arah balkon, menikmati pagi yang begitu dingin. Ya, hari ini memang mendung, bahkan hujan semalaman mengguyur kota Jakarta. Tapi tentu itu tak membuat malamnya dingin, karena tadi malam, Ken menjamahnya dengan begitu panas.

Kepala Kesha menoleh sebentar ke arah Ken yang ternyata masih tidur telungkup. Kemudian ia mendesah panjang. Tadi malam, Ken begitu kasar dengannya. Apalagi saat lelaki itu menyadari jika ternyata dirinya sudah tak perawan lagi. Ken tampak sangat marah, sesekali lelaki itu bahkan menampar pinggulnya. Mungkin Ken akan berpikir bahwa dirinya adalah seorang perempuan murahan. Tapi apa pedulinya? Hubungan mereka sudah putus sejak dua tahun yang lalu. Kini, hubungan mereka tak lebih dari sekedar jual beli kepuasan.

Ken membayar ibunya Dua puluh juta sebulan, sebagai gantinya, ia harus ikut dengan lelaki itu dan menuruti apapun keinginannya.

Kesha tersenyum masam. Harga dirinya dihargai sangat murah. Dua puluh juta sebulan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, karena si pembeli itu merupakan mantan kekasih yang dulu begitu mencintainya. Sungguh, Kesha seakan tak dapat mengenyahkan rasa malunya di hadapan Ken.

Kesha tahu, bahwa sebenarnya, bisa saja ia menolak. Tapi Kesha sadar dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin kembali bersama dengan Ken, meski itu tandanya ia harus menjadi seorang pelacur di hadapan lelaki itu.

Kesha memejamkan matanya, menikmati hembusan angin pagi menerpa tubuhnya. Pada detik itu, ia merasakan sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang. Mata Kesha membuka seketika saat mendapati bibir Ken sudah mendarat pada leher jenjangnya.

“Menikmati pagimu, sayang?” sapa Ken dengan nada menggoda.

“Ken.” Ucap Kesha sembari menolehkan kepalanya ke arah Ken.

“Aku masih nggak nyangka kalau kita akan kembali bersama.” Ken berkata dengan nada menggoda.

“Aku tak mengerti apa maksudmu melakukan ini, Ken. Kupikir, kamu sangat membenciku. Tapi kenapa kamu malah melakukan ini? menjadikan aku tawananmu?”

“Memang.” Ken menjawab cepat. “Sangat benci malah.” Kali ini perkataan ken penuh penekanan. “Dan aku berencana untuk membalasnya. Sekarang.” Lagi-lagi Ken mengucapkan kalimat tersebut penuh penekanan sebelum ia menggigit pundak Kesha hingga membuat wanita itu mengerang kesakitan.

“Kamu berbeda, Ken… kamu berbeda…” rintih Kesha sebelum Ken menolehkan kepalanya ke arah lelaki tersebut kemudian mencumbu habis bibirnya. Kesha pasrah dengan apa yang dilakukan Ken. Raganya menikmati sentuhan lelaki itu, meski hatinya tersakiti karenannya.

***

Kesha terbangun sendiri. setelah kembali melakukan hubungan intim, Kesha tertidur karena kelelahan. Ken begitu panas, dan lelaki itu seakan tak berhenti bergairah karenanya. Apa ini Ken yang sekarang?

Dulu, Ken bukan orang yang hanya memikirkan selangkangannya saja. Ken bahkan dengan gentle mengatakan bahwa ia tak akan menyentuh Kesha sebelum mereka menikah. Karena itulah dulu mereka tak pernah bercinta. Ken sangat baik, Ken menjaganya seperti menjaga sebuah permata. Dan kini, lelaki itu berbeda.

Apa yang dipikirkan Ken saat tahu bahwa ia sudah tidak perawan ketika Ken menyentuhnya untuk pertama kalinya kemarin? Mungkin, Ken sangat marah, sangat kecewa, sangat membencinya. Dan seharusnya, Kesha tak perlu ambil pusing. Bukankah lelaki itu sudah membencinya sejak dua tahun yang lalu? Apa bedanya dengan sekarang?

Hanya saja, sampai saat ini, perasaan Kesha kepada Ken masih sama. Ia masih begitu mencintai lelaki itu, hingga ketika Ken melecehkannya seperti kemarin dan tadi, rasa sakit menghantam diri Kesha.

Kesha tak ingin memikirkan hal itu lagi. Ia bangkit, duduk dipinggiran ranjang. Mengamati pakaiannya yang berserahkan. Ken seperti seekor hewan buas, bergairah, membara, keras, dan begitu menakutkan. Kesha tak pernah setakut ini dengan Ken sebelumnya, tapi ia tak bisa selalu menampilkan ketakutannya pada lelaki itu.

Kesha harus ingat, statusnya dengan Ken saat ini bukan lagi sepasang kekasih. Ia sudah seperti pelacur pribadi Ken yang hanya dibayar dua puluh juta setiap bulannya. Dan ia harus menerima itu.

Kesha memejamkan matanya, merasakan kesakitan yang amat sangat di dalam dadanya. Lagi-lagi ia berpikir, sebenarnya, bisa saja ia menolak, tapi jika menjadi pelacur Ken bisa membuatnya berada didekat lelaki itu, maka Kesha akan melakukannya.

Saat Kesha menikmati kesakitannya. Ponselnya berbunyi. Kesha meraihnya dan mengangkat panggilan tersebut.

“Tuan Puteri. Apa kamu sudah bosan kerja di sini?” sial! Itu Bossnya.

“Maaf, aku akan terlambat lagi.”

“Kesha, Kesha. Kamu pikir ini salon milik nenek moyang kamu? Cepat datang dalam Lima menit, jika tidak, kamu akan dipecat!” setelah itu telepon ditutup.

Kesha kembali memejamkan matanya frustasi. Seharusnya tidak begini, seharusnya bukan seperti ini….. Akhirnya, Kesha memilih bangkit, memunguti pakaiannya kemudian segera ia membersihkan diri dan berangkat ke tempat kerjanya.

Ia harus kerja, ia membutuhkan pekerjaan itu. Meski Ken sudah membayarnya sebanyak itu setiap bulan, nyatanya Kesha tak ingin menyentuh sedikitpun uang itu. Uang dari Ken hanya akan masuk ke rekening ibunya, dan Kesha bersumpah tak ingin menyentuh uang hasil melacur dengan mantan kekasihnya itu.

***

Sepanjang sore, Kesha sangat sibuk dengan pelanggan salon. Selama ini, Kesha memang bekerja di sebuah salon kecantikan. Dan pada malam harinya ia bekerja serabutan, kadang membantu tetangganya berjualan, kadang juga menggantikan ibunya bekerja sebagai pengantar minuman di salah satu kafe malam. Hidupnya sudah hancur sejak dua tahun yang lalu, cahaya positif yang dulu selalu bersinar diwajahnya dulu kini sudah pupus. Kesha seakan tak memiliki semangat untuk hidup lagi. Meski begitu, ia tak ingin mengakhiri hidupnya.

Denting dari pintu salon membuat Kesha mengangkat wajahnya. Ia berpikir itu adalah salah seorang pelanggannya, tapi ternyata, bukan. Itu adalah seorang pengantar minuman dingin yang entah sudah sejak berapa lama rutin mengantarkan minuman dingin kepadanya.

Kesha tersenyum dan si pelayan itu memberikan minuman dingin kepada Kesha.

“Mr. X sepertinya mengganti pesanannya. Hari ini, dia memesankanmu Cokelat Strawberry. Kamu suka?” tanya gadis cantik yang sebaya dengannya tersebut.

Kesha tersenyum dan menerimanya. “Terimakasih.”

“Ya, tentu saja.” Kemudian si pengantar minuman tersebut pergi.

Entah, ini sudah keberapa kalinya ia menerima pemberian berupa sebuah minuman dari si pengirim yang cukup misterius ini. Sejak ia bekerja di salon ini hampir dua tahun yang lalu, Kesha mendapatkan minuman ini hampir setiap hari.

Namanya Mr. X. Kesha tak ingin GR bahwa ia memiliki penggemar rahasia, tapi siapapun itu, Mr. X mampu membuat Kesha tersenyum sendiri saat membayangkan siapakah orang itu.

Awal-awal ia bekerja di salon ini, adalah awal yang sangat berat. Dulu, saat masih menjadi kekasih Ken, Kesha bekerja sebagai asisten pribadi lelaki itu. Saat itu, Ken sedang berada di puncak karirnya bersama dengan The Batman. Peraturan management yang melarang hubungan asmara di depan publik membuat Ken berpikir bagaimana caranya tetap berdekatan dengan Kesha tanpa ketahuan publik. Dan ide menjadikan Kesha sebagai asisten pribadinya membuat semuanya menjadi lebih muda.

Kesha digajih dengan pekerjaannya saat itu, meski begitu, Kesha melakukan pekerjaannya dengan senang hati karena selalu dekat dengan Ken adalah kebahagiaan sejati untuknya.

Lalu semuanya berubah, saat Kesha memutuskan hubungan mereka. Kesha juga berhenti dari pekerjaannya tersebut. Beberapa bulan terpuruk, akhirnya Kesha memutuskan melamar pekerjaan di sebuah salon kecantikan. Dan beberapa bulan setelahnya, Mr. X datang dengan minuman-minuman manisnya.

Kehidupan Kesha saat itu benar-benar sedang buruk dan berantakan, tapi minuman-minuman manis dan dingin pemberian Mr. X benar-benar menghiburnya. Dulu sekali, Kesha sempat berpikir jika Mr. X adalah Ken. Tapi itu tidak mungkin, nyatanya, saat Ken sedang disibukkan dengan karir barunya, saat lelaki itu sibuk berlibur ke luar negeri dengan teman-teman kencannya, Kesha tetap mendapatkan minuman tersebut dari Mr. X. itu tandanya jika Mr. X dan Ken adalah orang yang berbeda.

Kadang Kesha ingin bertemu dengan sosok itu. Memaksa si pengantar minuman untuk mengatakan, siapa sebenarnya Mr. X. tapi rupanya ia tidak memiliki kemampuan untuk memaksa gadis itu untuk berterus terang.

Kesha menghela napas panjang. Ia mulai menikmati minuman dinginnya tersebut. Memejamkan matanya, merasakan sensasi kedamaian menerpa jiwanya. Setidaknya, ia memiliki orang yang perhatian dengannya, meski bagi Kesha orang itu malu menunjukkan batang hidungnya. Itulah yang dipikirkan Kesha saat ini hingga membuatnya spontan menyunggingkan senyuman lembutnya.

Ketika Kesha sibuk menikmati minuman tersebut, ia tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata tajam mengamatinya dari jauh. Mata itu menatap Kesha dari luar kaca transparan salon tempat Kesha bekerja. Mata itu menatapnya dengan marah, entah karena apa. Mata itu adalah milik Ken.

Astaga, apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya?

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s