My Beautiful Mistress – Epilog

Comments 2 Standard

 

Epilog

 

 

 

Ellie sedang sibuk menggendong puteranya, Cedric Devian Robberth, ketika sebuah rombongan yang terdiri dari Jason, Bianca, Ken dan juga Troy datang mengunjungi dirinya ke dalam ruang inapnya di sebuah rumah sakit.

Ya, ia baru saja melahirkan Cedric tadi malam, dan pagi ini teman-teman suaminya datang menjenguknya.

“Hai… ya ampun, lucu sekali.” Bianca menghambur ke arahnya. Wanita itu tapak berharap diperbolehkan menggendong bayi mungil yang ada atas pangkuan Ellie.

“Kamu mau menggendongnya?” tawar Ellie.

“Ya. Tentu saja.” Dan akhirnya Ellie memberikan puteranya untuk digendong oleh Bianca.

Bianca dan Jason sendiri sudah menikah beberapa minggu yang lalu, pernikahannya sangat meriah, dan Ellie cukup senang karena di sana mereka juga disuguhi oleh penampilan The Batman. Kini, kehamilan Bianca sudah semakin terlihat, dan Ellie juga senang karena pertemanan Jiro dengan Jason membuat Ellie dan Bianca ikut berteman baik dan semakin dekat seperti saat ini.

“Jiro mana?” tanya Jason kemudian.

“Kenapa nyari gue?” suara itu berasal dari kamar mandi yang baru saja dibuka. Jiro tampak segar karena baru saja selesai mandi. Sangat tidak adil, padahal kini, Ellie merasa tampak berantakan karena belum bisa beranjak dari tempat tidurnya.

Jiro menuju ke arah sofa panjanng yang tersedia di ujung ruangan. Jason, Ken dan Troy mengikuti lelaki tersebut sesekali saling menggoda satu sama lain.

“Sialan, elo sudah jadi bapak-bapak ya sekarang.” Goda Troy.

“Brengsek! Elo kapan nyusul?” Jiro balik menggoda.

“Gue? Yang bener aja. Tuh, si Jase yang bentar lagi nyusul. Lagian gue masih suka main-main.” Ucap Troy penuh canda.

Semua yang ada di sana tertawa, tapi Jiro sempat melihat bahwa tawa Ken tak sama seperti tawa mereka semua, seakan temannya itu tertawa karena sebuah keterpaksaan.

“Ken, elo sendiri gimana?” tanya Jiro kemudian.

“Gue? Kenapa sama gue?”

“Katanya elo mau keliling dunia dulu, ngabisin tabungan sebelum mulai solo karir?”

Ken mengangguk. “Ya, minggu depan gue berangkat.”

“Sendiri?” pancing Jiro.

“Iya lah, memangnya sama siapa lagi?” Ken mencoba tertawa tapi tawanya tampak hambar.

Jiro kemudian mendekat ke arah Ken. Ia lalu berbisik “Gue nggak sengaja ketemu Kesha kemarin, keadaannya menyedihkan.”

Ken tampak sedikit menegang. Kemudian lelaki itu mencoba mengendalikan dirinya dan membalas ucapan Jiro dengan sedikit tertawa. “Elo apaan sih, gue kan sudah putus sama dia, mau dia ngapain juga terserah.”

Jiro menghela napas panjang, kemudian ia menepuk bahu Ken. “gue hanya berharap, elo mendapatkan kebahagiaan elo, seperti gue, seperti Jase. Elo akan menemukan perempuan yang tepat, Ken.”

Ken hanya mengangguk dengan pasti.

“Elo nggak berharap gue bahagia gitu, kayak kalian?” tanya Troy kemudian.

Jiro tertawa lebar. “Kayaknya elo selalu bahagia, jadi gue nggak perlu berharap lebih tentang kehidupan elo.”

“Brengsek lo!” setelah umpatan Troy tersebut, semua yang ada di sana tertawa penuh dengan kebahagiaan.

Jiro bahagia dengan kehidupan barunya bersama dengan Ellie dan juga putera pertama mereka, Cedric. Jason bahagia dengan Bianca karena mereka juga sedang menantikan buah hati pertama mereka. Troy juga bahagia, karena melihat semua temannya berbahagia membuat Troy ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Begitupun dengan Ken, bedanya, meski Ken juga bahagia karena kebahagian yang didapatkan oleh teman-temannya, dalam hatinya yang paling dalam, Ken masih tak dapat mengobati luka patah hatinya.

Ya, siapa lagi dalangnya jika bukan Kesha.

Ketika Ken melihat ke arah Ellie dan juga Bianca, Ken mendapati bayangan Kesha di sana. Seharusnya, Kesha berada di antara mereka, bahagia bersamanya. Tapi, semuanya hancur dalam sekejap mata, menyisakan sebuah kesakitan yang amat sangat, menyisakan sebuah dendam yang tak akan pernah reda dahaganya, dan semua itu karena pengkhianatan kekasihnya, Kesha Kirana.

Ya Tuhan! Ken ingin melupakan wanita itu. Ken ingin merasakan kebahagiaan yang sempurna seperti yang dirasakan oleh Jiro dan juga Jason. Tapi bisakah ia merasakannya?

***

Ellie dan Jiro beruntung karena malam ini Cedric tidak rewel. Padahal seharusnya Cedric dikembalika ke ruang bayi tadi sore, tapi Ellie memohon pada suster agar Cedric tidur di kamar inapnya saja  malam ini, mengingat sepanjang sore tadi masih banyak tamu berdatangan untuk menjenguknya dan melihat bagaimana tampannya Cedric.

Mei bahkan berkata bahwa Cedric adalah perpaduan sempurna dari Jiro dan Ellie. Bayi itu, jika dewasa nanti pasti akan sangat tampan. Mei bahkan berseloroh bahwa dia akan menunggu Cedric hingga dewasa dan menikahinya sendiri. Ya Tuhan, perempuan itu ada-ada saja.

Tapi apa yang dikatakan Mei memang benar adanya, putera mereka memang sangat tampan, hingga Ellie seakan tak ingin mengalihkan pandangannya satu detikpun dari wajah putera kecilnya tersebut.

“Hemm, jadi, aku mulai diduakan, ya?”

Ellie kemudian menatapke arah Jiro. “Maksudnya?” Ellie tak mengerti apa yang dikatakan Jiro padanya.

“Dia.” Jiro mengusap lembut pipi Cedric. “Mulai mencuri hatimu, kan?”

Ellie lalu tertawa lebar. “Ya ampun, James. Jadi kamu cemburu pada puteramu sendiri?”

“Ya. Karena dia sudah merebut hati wanita yang kucintai.”

“Astaga…” Ellie tergelak tawanya. Dan akhirnya, Jiro juga ikut tertawa.

Cukup lama keduanya saling tertawa, hingga kemudian suasana kembali hening. Jiro menatap Ellie dengan intens. Wanita itu tampak lebih cantik dari sebelumnya, tampak bercahaya dan semakin memukaunya. Hingga kemudian, dengan spontan Jiro berkata “Ellie, terimakasih sudah memberiku semua ini. Aku mencintaimu.”

Ellie yang sejak tadi fokus dengan Cedric akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Jiro seketika. “Kupikir, aku tidak akan pernah mendengar kalimat itu lagi.”

Ya, sejak malam dimana Jiro menyatakan perasaannya, Ellie memang tak lagi mendengar kalimat seperti itu terucap dari bibir Jiro. Ellie tidak akan memaksa ataupun menuntut lebih, karena sebelumnya Jiro juga mengatakan bahwa ia hanya akan mengatakannya sekali. Tapi kini, lelaki itu mengatakannya lagi.

“Kamu akan mendengarnya, sesering mungkin.”

“Ohh, jadi suamiku sudah berubah, ya?” goda Ellie.

“Tidak. Aku hanya semakin mencintaimu lagi dan lagi, hingga rasa ini penuh dan membuncah, dan aku tak dapat menahan diri untuk mengungkapkannya.”

“Ya ampun, manis sekali.”

Jiro lalu tersenyum. “Jadi, apa yang kamu rasakan padaku?”

“Apa?” Ellie bersikap seolah-olah tak mengerti apa yang ditanyakan Jiro, padahal ia tahu pasti apa maksud lelaki itu.

“Perasaanmu.” Jiro mendesak. Ia ingin Ellie mengatakannya lagi, mengakui perasaannya sekali lagi, karena Jiro rindu sensasi yang terjadi akibat ungkapan cinta yang dilontarkan Ellie kepadanya.

Ellie tersenyum lembut, kemudian ia berkata “Aku mencintaimu, James, sampai kapanpun, aku akan mencintaimu.” Dan benar saja, sensasi yang dirasakan Jiro masih seluar biasa dulu, saat pertama kali Ellie menyatakan perasaan wanita itu padanya beberapa bulan yang lalu.

Jiro mendekatkan diri kemudian  mengecup lembut puncak kepala Ellie. “Terimakasih, Sayang.” Keduanya kemudian larut dalam sebuah keharuan, dalam sebuah kebahagiaan, dan juga dalam sebuah cinta yang abadi dan tak akan pernah mati….

 

 

-The End-

Advertisements

2 thoughts on “My Beautiful Mistress – Epilog

Leave a Reply to Nur Aulya Syahruni Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s