My Beautiful Mistress – Bab 19

Comment 1 Standard

Bab 19

 

 

 

“Jiro, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” pertanyaan Ken menyadarkan Jiro dari lamunan. Bayangan manis yang terjadi tadi pagi sungguh membuat hati Jiro diliputi sebuah kepiluan.

Bagaimana jika Ellie benar-benar pergi meninggalkannya? Bagaimana jika wanita itu tak mau lagi memaafkan dirinya karena kesalahpahaman sialan ini? sungguh, Jiro sangat menyesal.

Selama ini, ia sudah sangat banyak berbuat salah. Meski yang terakhir ini hanya sebuah kesalah pahaman, dan Jiro bersumpah bahwa ia tidak tahu menahu tentang viralnya gosip yang beredar, tapi hal itu tak mengurangi ketakutan Jiro bahwa Ellie benar-benar meninggalkannya. Masalahnya adalah, bahwa selama ini, ia tidak cukup banyak meminta maaf pada Ellie, ia meremehkan bahkan cenderung tak memikirkan perasaan wanita itu. Yang Jiro tahu adalah bahwa Ellie seorang yang sangat sabar dan cukup pemaaf, dan kini, Jiro takut, tak akan ada lagi kata maaf untuknya.

“Jiro.” Ken memanggil nama Jiro lagi karena Jiro tampak tak fokus dengan dirinya.

“Mei bilang Ellie pergi, dia kembali ke inggris.”

“Tidak mungkin!” Troy menyahut cepat. “Mana ada penerbangan yang mau menerimanya. Maksud gue, dia sudah hamil besar, kalaupun ada penerbangan yang mau menerimanya, prosesnya tak akan semudah penerbangan biasa. Apalagi ini ke luar negeri.”

“Troy benar. Mei mungkin hanya menggertak. Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana mengakhiri gosip murahan ini.”

Ya, Ken dan Troy benar. Ellie tidak mungkin pergi jauh darinya. Meski ia kini tidak tahu kemana wanita itu pergi, tapi ia harus tetap berpikir realistis. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah menyelesaikan kerumitan ini.

“Jiro?” Ken kembali memanggil nama Jiro, seakan menunggu keputusan dari temannya tersebut.

“Kita akan ke tempat Vanesha.” Jiro berkata dengan sungguh-sungguh.

“Elo yakin? Maksud gue, dalam keadaan seperti ini, Vanesha juga mungkin sedang diteror oleh awak media. Kalau sampai  awak media tahu elo ketemu sama dia, itu hanya akan memperkeruh gosip.” Troy berpendapat.

“Kita ke kantor managementnya saja. Lebih formal kan?” Ken mengusulkan.

“Ya. Elo benar.” Jiro menjawab cepat. “Gosip ini, pasti berhubungan dengan orang-orang di management Vanesha.”

“Maksud lo?” Troy bingung.

“Beberapa minggu yang lalu, Fahri ingin gue dan Vanesha menciptakan skandal lagi, untuk mengangkat nama Vanesha lagi, meski saat itu gue menolak mentah-mentah, gue curiga kalau rencana itu tetap mereka lakukan tanpa persetujuan dari gue.”

“Brengsek! Kalau itu benar-benar terjadi, mungkin Fahri juga ikut campur. Apa kita ke tempat dia juga?” Troy merasa ikut marah, karena ia merasa jika mereka hanya dijadikan ladang bisnis untuk kepentingan pribadi beberapa orang.

“Menurut gue, kita memang harus menghubungi Fahri.” Ken kembali megusulkan.

“Ya. Kita akan kesana, sebelum ke tempat management Vanesha.” Itulah keputusan yang diambil Jiro. Ellie, mungkin ia akan berhenti mencari wanita itu sebentar. Jiro tahu Mei berbohong, Ellie pasti sedang bersama dengan Mei, dan ketika wanita itu bersama dengan Mei, maka tak ada yang perlu ia khawatitrkan. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana menyelesaikan masalahnya ini  agar tidak berlarut-larut.

***

Jiro semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia, Ken dan juga Troy sudah menemui Fahri, tapi lelaki itu menegaskan bahwa semua pemberitaan tak ada hubungannya dengan lelaki tersebut. Fahri sendiri tidak tahu bahwa akan timbul skandal lainnya tentang Jiro.  Ia sudah menolak tawaran dari management Vanesha jadi tak ada alasan pihak management Vanesha untuk membawa Jiro dalam drama skandal yang mereka ciptakan.

Fahri kini bahkan sudah ikut serta menuju ke tempat management Vanesha, meluruskan bahwa seharusnya hal ini tak terjadi.

Sudah hampir seperempat jam, kempatnya berada di ruang tunggu, hingga kemudian tak lama orang yang mereka tunggu akhirnya tiba juga. Toni, si Manager Vanesha menyambut mereka dengan ramah. Keempatnya bahkan sudah dipersilahkan masuk ke ruangan lelaki tersebut. Belum lama mereka masuk, Vanesha juga datang dan ikut bergabung di ruangan tersebut.

“Sepertinya ada hal serius hingga kalian semua datang kemari.” Toni membuka suara.

“Bukan tentang gosip yang beredar, kan?” Vanesha menambahi.

“Toni, kita berdua sudah sepakat, bahwa tak akan ada skandal lagi. Jiro dan The Batman sudah berada di penghujung karir mereka, bagaimana mungkin kalian menciptakan skandal baru hingga viral seperti ini?” Fahri yang menjelaskan karena lelaki itu yang mampu mengendalikan emosinya saat ini. sedangkan Jiro, Jiro tampak hanya diam, kedua telpak tangannya mengepal, saat ingat bahwa masalah ini membawa dampak buruk bagi kehidupan rumah tangannya dengan Ellie.

“Maaf, tapi kami tidak memiliki cara lain lagi agar nama Vanesha kembali terangkat.”

Jiro menggebrak meja di hadapannya seketika hingga membuat semua yang ada di sana menatapnya dengan penuh kengerian.

“Bajingan kalian semua! Apa kalian nggak mikir kalau gosip murahan ini sangat ngerugiin gue?!” Jiro berseru keras. Selama ini, Jiro dikenal sebagai orang yang dewasa, yang paling bisa mengendalikan dirinya, tapi kini, pandangan itu seakan lenyap seketika.

“Jiro, tenang.” Ken menenangkan temannya.

“Gue nggak bisa tenang jika ini menyangkut tentang masa depan gue dengan Ellie, Ken!” Jiro kembali berseru keras. “Hubungan gue dengan Ellie sangat rawan, banyak retakan-retakan kecil yang nggak sengaja gue ciptain sejak empat tahun yang lalu. Dan kini, semuanya seakan hancur karena masalah sialan ini. Dia Ninggalin Gue!” Jiro benar-benar tak dapat menahan dirinya lagi dari emosi yang meluap-luap didalam dirinya.

“Siapa Ellie?” Vanesha membuka suaranya.

“Istriku. Perempuan yang menyambutmu di apartmenku.” Bahkan Jiro sudah tak peduli jika nanti management Vanesha membocorkan hal ini didepan publik.

“Jadi, elo benar-benar sudah nikah?” Toni tak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Ya. Dan sekarang istri gue sedang kabur karena berita murakan yang elo buat.” Sungguh, Jiro benar-benar sangat marah dengan pihak management Vanesha.

“Jiro, maaf, kami nggak bermaksud membuat seperti iu, kami hanya…”

“Gue nggak perlu kata maaf dari kalian!” Jiro memotong kalimat Toni. “Yang gue perlukan adalah, agar kalian segera menyelesaikan kekacauan ini tanpa membawa nama gue terlalu jauh.”

“Tapi ini akan sulit. Maksudnya, foto itu sudah viral, meski itu ahanya sebuah editan, akan sulit untuk mengklarifikasinya.”

“Kita hanya perlu membuat preskon.” Troy membuka suaranya.

“Lagi?” Ken menatap Troy penuh tanya. Ken benar-benar muak dengan acara seperti itu. Acara dimana media akan mengorek tentang mereka.

“Bukan kita, tapi pihak Vanesha.” Jawab Troy.

“Lalu? Kita akan mengaku kalau itu hanya sebuah editan untuk menaikkan namaku? Yang benar saja.” Vanesha menyahut.

“Kalau begitu kalian hanya perlu mencari kambing hitamnya.” Lanjut Troy. “Siapa akun pertama yang mengunggah foto itu? Kalian hanya perlu bekerja sama dengannya.”

“Pengunggahnya adalah fansbase kami. Dan, memang kami yang meminta mengunggah foto tersebut dengan caption profokatif.”

“Sempurna.” Troy bertepuk tangan. “Kalian hanya perlu mengatakan pada media kalau itu hanya ulah iseng fans Vanesha, tidak ada kejadian dan juga skandal seperti itu. Selesai, kan?”

“Tidak akan semudah itu, Troy!” Vanesha tidak setuju. “Bagaimana dengan  imageku? Aku nggak mau disebut-sebut sebagai satu-satunya orang yang berharap adanya hubungan ini.”

“Ya. Apalagi jika suatu saat nanti Jiro mengumumkan tentang status pernikahannya, media dan publik akan mengusik atau bahkan menghujat Vanesha karena sudah menggoda suami orang.” Toni menambahi.

“Kalau begitu kalian hanya perlu menunjukkan bahwa Vanesha memiliki kekasih lain, dan itu bukan Jiro. Gosip tentang Vanesha dan Jiro hanya dari sebuah fansbase yang berkembang menjadi spekulasi publik. Gampang, bukan?”

“Masalahnya, aku nggak punya kekasih, Troy.”

“Punya.” Troy menjawab cepat. “Aku mau mendampingimu.” Lanjutnya lagi.

“Troy?” Jiro menatap Troy penuh tanya.

“Gue ngelakuin semua ini buat elo.” Ucap Troy pada Jiro. “Gue tahu, elo tulus dengan Ellie, elo hanya nggak tahu bagaimana cara nunjukinnya. Gue hanya bisa bantu dengan cara seperti ini, sisanya, elo harus berusaha sendiri.” ucap Troy sembari menepuk bahu Jiro.

“Tapi, elo akan terjerat dengan gosip-gosip ini kedepannya, Troy.”

“Gampang saja. Nanti, kita hanya perlu klarifikasi kalau kita sudah putus.” Troy menatap Vanesha seakan meminta dukungan. Sedangkan Vanesha hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa berbuat banyak. Lagi pula, apa bedanya Troy dengan Jiro? Tak ada. Keduanya sama-sama bersinar dengan The Batman, jadi, dalam keadaan seperti ini, ia masih diuntungkan.

“Oke, kalau begitu, kita sepakat untuk mengadakan klarifikasi malam ini juga.” Fahri membuka suaranya. “Dan elo.” Fahri menunjuk ke arah Toni. “Gue harap elo nggak ngelakuin hal seperti ini lagi. Kalau elo bukan temen gue, mungkin elo sudah gue tuntut karena pencemaran nama baik.”

Bukannya takut, Toni malah tertawa lebar. “Iya, iya, sorry. Ini yang terakhir kalinya.”

Semua merasa senang, karena menemukan solusi untuk permasalahan tersebut. Tapi tidak dengan Jiro, masalahnya dengan Ellie belum selesai. Ia tidak yakin bahwa Ellie mau mempercayainya lagi. Lagi pula, ia belum menemukan keberadaan wanita itu. Ya Tuhan! Dimana Ellie berada?

***

 

Tepat jam sebelas malam, Jiro sampai di kamarnya. Kamarnya yang sudah kosong tanpa Ellie di sana. Jiro meleparkan diri di atas ranjang. Kemudian menatap langit-langit kamarnya.

Klarifikasi tadi berjalan dengan lancar. Semua pertanyaan awak media sudah terjawab. Meski hingga kini, Jiro belum buka mulut tentang status pernikahannya dengan Ellie. Jiro tidak mau mengaku dalam keadaan terdesak seperti ini. jika ia kan mengaku, maka ia akan mengaku karena ia ingin, bukan karena terdesak.

Kebanyakan, tadi Troy yang membuka suara. Temannya itu mungkin bisa dianugrahi awards atas aktingnya yang cemerlang. Sedangkan Jiro hanya diam. Ia tidak berkata sepatah katapun. Banyak pertanyaan yang ditunjukkan padanya, tapi Jiro memilih bungkam.

Jiro menghela napas panjang. Ia duduk, mengusap wajahnya dengan kasar. Ellie… kemana perginya wanita itu? Astaga, Jiro bisa gila jika tidak segera menemukannya.

Kemudian Jiro berinisiatif menghubungi Mei lagi, semoga saja perempuan itu mau mengangkat teleponnya.

“Halo.” Jiro sangat bersyukur karena dalam deringan kedua, Mei mengangkat telepon darinya.

“Mei! Ya Tuhan!” Jiro benar-benar berharap bahwa Mei kembali bersikap baik padanya.

“Ada apa lagi? Kamu nggak tahu kalau ini sudah malam?”

“Mei. Kumohon. Tolong. Katakan dimana Ellie.”

“Maaf, Jiro.”

“Mei. Please…” Astaga, Jiro tak pernah memohon seperti ini pada seseorang. “Aku nggak bisa tenang saat aku belum tahu dimana dia berada. Tolong, katakan padaku dimana dia.”

“Jiro. Kamu sudah terlalu banyak…”

“Aku tahu.” Jiro memotong kalimat Mei. “Aku sudah terlalu banyak membuat salah. Aku hanya ingin tahu dimana dia berada. Tolong, aku ingin menebus semuanya, Mei. Tolong….” Jiro benar-benar merendahkan harga dirinya untuk memohon pada sosok Mei. Ya Tuhan, ia benar-benar tak pernah berbuat seperti ini sebelumnya.

Terdengar helaan napas dari seberang. “dia di rumahmu.” Ucap Mei kemudian.

Jiro mengerutkan keningnya. Ia bangkit seketika dan mencari keberadaan Ellie. “Jangan bercanda, Mei! Aku sudah mencari hingga ke sudut rumah ini, tapi aku tidak menemukan dimana dia berada.”

Mei mendengus sebal. “Dia di rumahmu yang lainnya, Jiro. Rumah orang tuamu.” Jiro membulatkan matanya seketika. Ia tidak percaya bahwa Ellie akan kabur ke rumah orang tuanya. Sial! Ini tak akan menjadi sesederhana yang ia pikirkan jika orang tuanya ikut campur didalam urusan rumah tangga mereka nantinya.

Jiro akan mati, ya, ia akan mati ditangan ayahnya.

-TBC-

Advertisements

One thought on “My Beautiful Mistress – Bab 19

  1. Ko rasa na pengen jambak vanesa , cewek ga tau diri mo trkenal dengan gosip” murahan ga jelas gitu , ingin q berkata kasar.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s