My Beautiful Mistress – Bab 18

Comment 1 Standard

 

Bab 18

 

 

 

Siang itu, Ellie sedang bersantai di rumah dengan ditemani Mei. Jiro sedang keluar, karena ada acara dengan personel The Batman. Jika sebelumnya, Ellie merasa sebal karena alasan tersebut, maka kini, Ellie tidak merasakan perasaan tersebut.

Ellie hanya berpikir bahwa Jiro mungkin sedang melakukan kewajiban terakhirnya sebelum benar-benar vakum dari dunia hiburan. Dan hal itu bukanlah sebuah masalah untuk Ellie, mengingat Jiro sudah menepati janjinya untuk selalu berada di sisi Ellie.

Ya, selama beberapa hari terakhir, hubungan mereka berdua memang semakin dekat. Jiro selalu pulang ke rumah mereka, selalu memeluk Ellie ketika malam, perhatian dengan Ellie, dan seakan tidak mempedulikan jika mungkin saja ada media yang sedang menguntitnya atau mencari tahu tentangnya.

Jiro kembali memposisikan diri sebagai suami dan calon ayah yang perhatian, bagi Ellie, hal itu sudah cukup. Meski Jiro tak akan pernah mempublikasikan hubungan mereka di depan umum, Ellie tak akan menuntut lebih andai saja Jiro melakukan hal ini sejak dulu.

Ellie menyantap bubur gandum buatanya, ketika Mei mulai mengajaknya bergosip ria di ruang tengah didepan televisi.

“Jadi beneran ya kalau Bianca itu sedang hamil juga?”

“Iya.” Ellie menjawab cuek karena ia memilih fokus dengan bubur gandumnya.

“Gila, instagramnya penuh hujatan.” Ucap Mei setelah kemarin ia sempat berkunjung ke halaman akun sosial media milik Bianca.

“Itu sudah resikonya menjadi kekasih selebritis.”

“Kalau kamu ada di posisi Bianca, bagaimana?”

“Aku tidak punya sosial media. Bagaimana aku bisa ada di posisinya?”

“Ya Tuhan Ellie! Ini kan perumpamaan saja.” Sungguh, Mei merasa sebal dengan jawaban Ellie yang polos dan terkesan cuek.

“Ya, mau bagaimana lagi, mungkin aku akan menutup semua akun sosial mediaku.”

“Rupanya kamu tidak sekuat Bianca, ya?” Ejek Mei.

“Jangan salah, aku lebih kuat dari dia. Buktinya aku bisa bertahan selama ini dengan orang seperti James.”

Mei tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Ellie. Ellie memang benar, Ellie adalah perempuan terkuat versi dirinya. Kemudian, tawa Mei lenyap seketika saat ia melihat berita di Tv yang ada di hadapan mereka.

“Vanesha, apa komentar kamu tentang hal ini?”

“Bagaimana bisa foto-foto syur kalian tersebar?”

“Bagaimana komentar kamu tentang Jiro yang katanya sudah beristri?”

Pertanyaan tersebut dilontarkan lagi dan lagi oleh beberapa wartawan pada sosok cantik berkacamata hitam yang tampak fokus berjalan dan bungkam, seakan tak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Apa yang terjadi?” tanya Mei sembari menyaringkan volume Tv  di hadapannya.

“….. Foto-foto Syur seorang perempuan dan seorang lelaki di dalam hotel yang diduga mirip dengan Vanesha dan Jiro The Batman beredar luas di sosial media pagi ini. hal itu membuat gempar warga Net. Jiro sendiri belum dapat dihubungi untuk mengonfirmasi berita yang beredar. Pasalnya, sejak gosip tentang dirinya yang sudah menikah beredar luas, Bassis The Batman itu sudah sangat sulit untuk ditemui para awak media. Sedangkan Vanesha sendiri masih bungkam seribu bahasa dan memilih pergi ketika awak media berbondong-bondong menyerbunya ketika keluar dari gedung managementnya…”

 Kalimat tersebut menjadi backsoud dari kolase potongan foto-foto yang ditampilkan oleh acara gosip tersebut.

Mei segera menatap ke arah Ellie, dan Ellie sudah memucat dengan wajah ternganga ketika melihat berita di hadapannya tersebut.

“Ellie, jangan mudah percaya.” Mei berkata dengan cepat, padahal Mei sendiri tidak yakin, apa Jiro tidak melakukan semua itu.

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka berfoto seperti itu?” Ellie bertanya-tanya. Matanya sudah berkaca-kaca, dan Mei tahu bahwa hal ini tak akan baik untuk kelanjutan hubungan Ellie dengan Jiro.

“Ellie Tolong.” Mei mendekat ke arah Ellie, menggenggam erat telapak tangan wanita tersebut. “Kita akan cari tahu dulu kebenarannya, oke? Jangan dipikirkan.”

“James, bagaimana mungkin dia melakukan hal itu….”

***

Jiro baru saja selesai kumpul dengan Troy dan Ken di sebuah kafe yang sangat privat, dan membicarakan penampilan terakhir mereka nanti di sebuah acara musik. Mereka ingin jika acara tersebut berjalan dengan sukses, dan tak ada kendala. Karena penampilan mereka di acara tersebut akan menjadi penampilan terakhir yang akan dilihat oleh publik.

Jason masih fokus dengan Bianca, dan rencana pernikahan mereka, tapi Jiro dan yang lain tak mempermasalahkannya. Bagaimanapun juga, mereka sudah memutuskan untuk berhenti, meski ada beberapa hal yang tetap harus mereka selesaikan.

Ketika Jiro, Ken dan Troy keluar dari dalam kafe tersebut, para awak media sudah menyerbu mereka. Sial! Pasti ada salah seorang pelayan kafe yang membocorkan keberadaan mereka di depan wartawan.

Lagi pula, apalagi yang mereka inginkan? Bukankah semua sudah dijelaskan saat jumpa pers beberapa hari yang lalu?

Jiro, Ken dan Troy memilih bungkam dan tetap berjalan menuju ke arah mobil mereka. Mereka memang bertemu di studio Jason dan ke kafe tersebut dengan satu mobil. Tapi kemudian, pertanyaan seorang wartawan mampu menghentikan langkah Jiro seketika.

“Bagaimana tanggapanmu tentang foto-foto syur yang diduga milikmu dan juga Vanesha tersebar dan viral di media sosial pagi ini?”

Jiro menghentikan langkahnya seketika dan menatap wartawan tersebut dengan keterkejutan yang amat-sangat. “Apa?”

“Apa kamu belum tahu tentang berita tersebut?”

“Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Jadi benarkah Vanesha adalah kekasihmu?”

“Bagaimana dengan perempuan yang dicurigai sebagai istrimu?”

Jiro masih membeku, ia bahkan tak mampu mencerna pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan media kepadanya, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, ia tidak mengerti kenapa beritanya jadi seperti ini. Dan tentang foto, foto apa maksudnya?

Saat Jiro tak mampu menggerakkan badannya karena keterkejutan tersebut, saat itulah ia merasakan Troy menggelandangnya dengan paksa untuk segera masuk ke dalam mobil mereka.

“Brengsek! Apa-apaan itu.” Troy mengumpat keras saat ketiganya sudah ada di dalam mobil tersebut.

“Jiro, apa yang sedang terjadi?” Ken menatap Jiro penuh tanya, sedangkan Jiro masih membatu, mencoba mencerna semuanya.

Foto-foto syur tersebut, bagaiamana rupanya? Sepanjang pagi ia memang tidak membuka sosial media. Jiro bukan orang atau artis yang diperbudak oleh sosial media, sangat jarang ia membuka akun sosial medianya. Dan kini, Jiro ingin membukanya.

Secepat kilat Jiro mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka sosial medianya, dan seketika itu juga matanya membulat mendapati feednya dipenuhi oleh berita-berita tentang dirinya dan juga Vanesha.

“Apa-apaan ini?” Jiro mendengus sebal. Ia masih membuka lagi dan lagi berita tentang dirinya dan juga Vanesha. Benar-benar menggemparkan Warga Net.

“Jiro, elo masih beneran berhubungan sama dia? Ya Ampun, setelah gue bilang kalau gue pernah nidurin dia?” Troy masih tak percaya jika Jiro mengiyakan pertanyaannya.

“Enggak.” Jiro menjawab cepat. “Gue nggak ada hubungan apapun sama Vanesha.”

“Kalau gitu, kenapa bisa ada foto-foto itu? Sial! Elo nggak mikirin perasaan Ellie apa?”

“Ellie?” Ya Tuhan! Jiro bahkan baru mengingat tentang istrinya tersebut. Jiro sangat berharap bahwa Ellie tidak melihat atau mendengar tentang berita murahan ini. hubungan mereka selama beberapa hari terakhir sudah sangat bagus, mereka sudah layaknya sepasang suami istri yang normal. Jiro tak ingin semuanya hancur dalam sekejap mata karena hal ini.

“Gue harus pulang.” Ucap Jiro kemudian.

Troy dan Ken setuju. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera mengantar Jiro pulang ke rumahnya.

***

Sampai di rumah, Jiro segera keluar dari dalam mobil dan melesat masuk ke dalam. Ia memanggil-manggil nama Ellie sembari mencari-cari keberadaan wanita itu. Tapi nihil, Ellie tidak ada di sana.

“Ellie…” lagi, Jiro memanggil-manggil nama Ellie. Jiro bahkan sudah mencari Ellie di kamar mereka. Tapi Ellie benar-benar tak ada di sana, rumah itu kosong.

Jiro membuka lemari pakaian yang ada di sana, dan tubuhnya bergetar hebat ketika mendapati lemari-lemari itu kosong. Ellie benar-benar pergi, wanita itu membawa semua pakaiannya. Tapi pergi kemana?

Jiro melesat keluar, menuju ke arah kedua pengawal yang ada di luar rumahnya. Dan bertanya pada mereka.

“Dimana Ellie?!” Jiro bahkan tak bisa menahan emosinya. Ia berseru keras karena masih tak percaya bahwa Ellie benar-benar meninggalkannya.

“Maaf, maksud Tuan?”

Jiro segera mencengkeram kerah Si Pengawal. “Dengar! Ellie pergi! istriku pergi dari rumah! Apa yang sudah kalian kerjakan sepanjang hari sampai kalian tidak tahu bahwa dia pergi dari rumah?!”

“Jiro. Apa yang terjadi?” Ken bertanya, ia dan Ken segera mendekat ke arah Jiro yang tampak tak dapat mengontrol emosinya.

“Nyonya memang keluar, tapi dengan Nona Mei.”

“Oh ya? Kemana mereka pergi? Apa kalian tahu?” tantang Jiro. Tapi kedua pengawalnya itu hanya menundukkan kepalanya saja.

“Jiro.” Ken masih mencoba menenangkan Jiro.

Jiro lalu melepaskan cengkeramannya pada kerah baju yang dikenakan Si pengawal. Lalu ia mengusap rambutnya sendiri dengan kasar. “Dia pergi, dia benar-benar pergi.”

“Apa maksud elo?” kali ini Troy yang bertanya.

“Ellie, dia pergi. Semua pakaiannya tidak ada di dalam lemari. Dia benar-benar pergi. Sial!” sungguh. Jiro tampak tak dapat menahan emosinya. Lelaki itu tampak sangat kacau. Padahal sebelum-sebelumnya, Troy dan Ken tak pernah melihat Jiro sekacai ini. Jiro selalu bersikap dewasa dan bisa mengendalikan dirinya. Tapi sekarang…

“Dia pergi dengan Mei. Apa nggak bisa kita hubungi Mei saja? Atau, kita langsung ke rumahnya.”

Tanpa banyak bicara, Jiro mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menghubungi Mei, tapi Mei tidak mengangkatnya. Tentu saja Jiro tahu bahwa Mei akan selalu berada di kubu Ellie ketika ia bermasalah dengan Ellie seperti saat ini. satu-satunya cara untuk mengetahui dimana keberadaan Ellie adalah ia harus mendatangi rumah Mei. Semoga saja ia mendapati Ellie di sana.

Akhirnya, Jiro memutuskan untuk menuju ke rumah Mei ditemani dengan Troy dan juga Ken saat itu juga. Semoga saja Ellie ada di sana. Jika tidak, Jiro tidak tahu harus mencari Ellie kemana lagi.

***

Sampai di rumah Mei, tak ada tanda-tanda jika wanita itu ada di rumahnya. Rumah tersebut kosong, tak tampak juga mobil Mei di garasi rumahnya, pertanda jika memang Mei tak ada di sana. Jiro semakin bingung di buatnya.

Jiro kembali mencoba menghubungi Mei. Tapi berkali-kali ia menghubungi wanita itu, berkali-kali pula panggilannya ditolak.

“Brengsek Mei!” Sungguh, Jiro tak pernah merasa semarah ini. ia tak pernah merasa segila ini. ia harus segera menemukan Ellie, secepatnya.

“Tenang. Coba gue hubungi pakai nomor gue.” Ken mencoba menenangkan Jiro. Ia mulai menghubungi Mei. Satu kali, dua kali, dan pada panggilan ketiga, wanita itu akhirnya mengangkat teleponnya.

“Siapa?”

“Mei, ini…”

“Brengsek Mei!” belum sempat Ken melanjutkan kalimatnya, Jiro sudah merampas ponselnya kemudian mengumpat keras pada wanita di seberang. “Dimana Ellie? Katakan dimana istriku?!”

“Oohh…” dengan begitu menjengkelkan Mei hanya menjawab dengan nada enggan.

“Sial! Aku tidak sedang bercanda. Katakan, dimana dia?!”

“Dia pergi.” Lagi-lagi Mei menjawab dengan nada enggan.

“Sialan! Katakan! Kemana dia pergi?!”

“Dia pulang. Ke negaranya. Apa kamu puas?”

Jiro membeku seketika. “Apa? Enggak. Nggak mungkin!” Ya. Ellie tidak mungkin pergi meninggalkannya, meninggalkan negara ini dalam keadaan hamil besar. Logikanya, tak akan ada penerbangan yang mau menerimanya. “Kamu jangan mengada-ngada. Dimana dia?!”

“Yang pasti dia tidak sedang bersamaku.” Setelah itu panggilan ditutup.

“Mei! Mei! Sialan!” Jiro berseru keras. Sungguh, Emosinya tak dapat terbendung lagi. Ia menenggelamkan wajahnya pada kedua belah telapak tangannya kemudian menyesali apa yang sedang terjadi.

Ya Tuhan! Kenapa jadi seperti ini? Jiro ingat dengan jelas bagaimana hari-hari terakhir ia lalui dengan Ellie. Ellie begitu menyayanginya, wanita itu sangat mendukung apa yang akan ia lakukan karena wanita itu tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Mereka akan berakhir bersama sebagai suami istri yang sesungguhnya. Ia akan selalu menemani Ellie, merawat wanita itu dan juga anak mereka, mersama-sama. Tapi kini…..

Jiro ingat, bagaimana sikap manja Ellie tadi pagi, sebelum ia pergi meninggalkan wanita itu…

“James….” Jiro merasakan lengan Ellie melingkari perutnya dari belakang. Jiro menegang seketika. Beberapa hari terakhir, hubungan mereka memang sudah sangat dekat, lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, tapi ia tidak pernah merasakan Ellie semanja ini dengannya.

“Ada apa?” tanya Jiro sembari menahan diri. Saat ini, Jiro baru saja selesai mandi. Hanya mengenakan kaus dalam dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.

“Kamu mau pergi lagi, ya?” Ellie bertanya dengan nada manjanya.

“Iya. Ada janji sama Ken, sama Troy.”

Ellie terdiam, tapi wanita itu masih setia memeluknya dari belakang. Hal tersebut membuat Jiro melepas paksa pelukan Ellie, lalu berbalik menatap ke arah istrinya tersebut.

Jiro meraih dagu Ellie kemudian mengangkatnya hingga membuat Ellie mendongak ke arahnya. “Katakan, apa yang kamu inginkan?” tanyanya dengan suara yang entah kenapa sudah serak.

Jiro tahu bahwa saat ini dia sudah tersulut gairahnya karena sikap manja yang ditunjukkan Ellie padanya. Ellie tak pernah bermanja-manja ria dengannya seperti tadi, dan entah kenapa. Sikap manja yang ditampilkan wanita itu membuat Jiro tertarik, tersulut gairahnya hingga menegang dan ingin segera dipuaskan.

“James, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi denganku, tapi aku hanya tahu bahwa aku menginginkan kamu.” Ellie berkata dengan jujur, dengan ekspresi polosnya. Hal itu tak mampu membuat Jiro untuk menahan diri lagi.

Secepat kilat Jiro menundukkan kepalanya kemudian mencumbu lembut bibir Ellie. Bibir yang selalu menggodanya. Ellie membalas cumbuan tersebut, dengan berani ia bahkan sudah melepaskan handuk yang melilit di pinggul suaminya hingga kini Jiro sudah berdiri setengah telanjang hanya mengenakan kaus dalamnya saja.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap tubuh bagian bawahnya sendiri, lalu tersenyum dan menatap ke arah Ellie.

“Jadi, istriku sekarang mulai berani, ehh?”

Ellie terkikik geli, wajahnya merah padam. Ia sendiri juga tak menyangka bisa melakukan hal seberani itu. “Uuum, aku… aku….”

Ellie tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena secepat kilat Jiro meraih dagunya, mencumbunya kembali hingga keduanya kembali tersulut oleh gairah, tenggelam dalam kenikmatan yang mereka ciptakan.

-TBC-

Advertisements

One thought on “My Beautiful Mistress – Bab 18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s