My Beautiful Mistress – Bab 14

Comment 1 Standard

 

Bab 14

 

“Elo?” Jason menatap Jiro penuh tanya.

Jiro menganggukkan kepalanya. “Gue sudah nikah, sejak lama. Sekarang dia lagi hamil, dan butuh gue di sampingnya. Gue mau jagain dia.” perkataan Jiro benar-benar membuat Jason dan yang lainnya terkejut. Troy bahkan sudah memucat mendengar pernyataan tersebut. Tapi kemudian, suasana hening setelah pernyataan Jiro tersebut segera berakhir saat Ken mengungkapkan alasannya.

“Gue akan bersolo karir.” Kali ini Ken berkata. “Mungkin, gue akan vakum sementara sebelum mulai lagi karir gue. Gue stress karena masalah percintaan sialan gue. Jadi gue mau menghilang sebentar dari dunia hiburan.”

“Elo lagi ada masalah sama Kesha?” tanya Jason kemudian. Jason dan yang lain  baru sadar jika selama beberapa minggu terakhir, mereka sangat jarang bahkan hampir tak pernah melihat Kesha di studionya untuk menemani Ken latihan.

“Kami putus.”

Ruangan tersebut kembali hening, tapi kemudian Troy mencairkannya kembali.

“Woww, ada apa dengan kalian semua?” Troy yang membuka suara. “Oke, mungkin di sini gue yang nggak punya masalah. Gue berhenti karena gue tahu, nggak akan ada lagu yang bisa gue iringin jika bukan lagu-lagu The Batman. Gue nggak mau ngiringin band lain. Jadi gue akan berhenti dan memilih karir lain.”

“Misalnya?” tanya Jason.

“Model. Elo tahu sendiri kan, diantara kalian gue yang paling sering dipanggil buat pemotretan majalah-majalah panas? Dan gue bener-bener menikmatinya. Disana gue bisa kenal banyak perempuan, tentunya.”  Semuanya tersenyum dengan perkataan Troy. “Tapi gue mau, kita tetap kompak. Sekali dua kali ketemu buat latihan. Kalian masih mau, kan? Bagaimanapun juga, musik adalah hidup gue.” Lanjut Troy lagi.

“Studio gue akan selalu menyambut kalian semua.” Jason menjawab. “Gue juga berharap kita masih sering main di sana walau nanti sudah nggak eksis lagi.”

“Tentu saja.” Jiro mengiyakan, sedangkan Ken hanya tersenyum dan mengangguk setuju.

Jason tampak senang saat akhirnya ia mendapatkan sebuah kesepakatan dengan yang lainnya, padahal dalam hati, Jason masih berharap jika mereka tetap melanjutkan karir walau tanpa dirinya. Tapi jika teman-temannya itu memilih berhenti seperti dirinya, maka Jason tak dapat berbuat banyak.

Begitupun dengan Jiro, ia tidak menyangka bahwa The Batman akan berakhir seperti sekarang ini. Jiro memang sempat berpikir akan mengundurkan diri, tapi ia masih tidak percaya bahwa yang lain juga memikirkan hal yang sama. Mereka jenuh, mereka cukup lelah dengan kepopuleran mereka, dan mereka ingin kehidupan lama mereka kembali lagi. Itulah yang dirasakan Jiro saat ini.

***

Sampai di parkiran rumah sakit, Troy mendekati Jiro ketika Jiro akan masuk ke dalam mobilnya.

“Gue pengen ngomong.” Ucap Troy kemudian. Jiro tahu apa yang akan dibicarakan Troy. Temannya itu pasti akan membahas status yang baru saja ia ungkap, dan itu pasti berhubungan dengan Ellie.

Ken yang tak jauh dari sana akhirnya ikut mendekat. Ken takut ada hal serius yang terjadi. Karena Ken cukup tahu apa masalah Jiro dengan Troy. Troy sering bercerita tentang adik Jiro, Troy sedang mendekati wanita itu, dan tadi dengan begitu mengagetkan, Jiro mengakui statusnya yang sudah menjadi seorang suami dan calon ayah. meski Jiro tak mengatakan secara gamblang siapa wanita itu, tapi Ken bukan orang bodoh yang tak dapat menerka siapa orangnya.

“Ada apa lagi, Troy? Ini sudah malam, gue mau pulang.”

“Gue cuma mau memperjelas. Lo beneran sudah nikah?”

“Ya.” Jiro menjawab seadanya.

“Sejak kapan?”

“Lebih dari Empat tahun yang lalu.”

“Brengsek lo!” Troy mengumpat keras. “Dan selama itu elo nyembunyiin istri elo?”

“Troy. Ini bukan urusan elo. Ini masalah pribadi gue.” Jiro akan pergi, tapi Troy kembali menghadangnya.

“Satu lagi.”

“Apa?” Sungguh, Jiro merasa enggan membahasnya, apalagi dengan Troy.

“Apa perempuan itu adalah Ellie?” tanpa basa-basi, Troy bertanya. Jiro tampak tak ingin menjawab, tapi Troy kembali mendesaknya. “Katakan, Jiro! Apa istri elo itu adalah Ellie?”

Dengan sebal Jiro menjawab, “Kalau iya kenapa?”

Dan secepat kilat bogem mentah Troy mendarat pada wajah Jiro. Ken yang berada di sana segera menengahinya, memaksa Troy untuk mundur menjauh dari Jiro.

“Elo apa-apaan Troy?” Sungguh, Ken tak percaya bahwa Troy akan mendaratkan pukulannya pada Jiro. Bukankah seharusnya Jiro yang melakukan hal itu? Troy sudah terang-terangan mendekati istri Jiro, kenapa jadi Troy yang memukuli Jiro?

“Itu hadiah yang sepadan untuk orang yang sudah mengabaikan istri seperti Ellie.”

“Sial Troy! Elo sudah gila?” Ken masih tak habis pikir.

“Gue pernah bersumpah kalau gue akan memukuli suami Ellie kalau gue ketemu, dan gue sudah melakukannya saat ini.”

“Brengsek! Gue juga bersumpah akan mematahkan kaki dan tangan siapa saja yang berani nyentuh seujung rambut istri gue, dan itu juga berlaku untuk elo.” Setelah perkataannya tersebut, secepat kilat Jiro menerjang tubuh Troy. Jiro bahkan mengabaikan keberadaan Ken. Ia membabi buta, saling baku hantam dengan Troy dan juga Ken, hingga kemudian, satpam rumah sakit merelai ketiganya.

***

Malam itu, Jiro pulang ke rumahnya. Setelah ia, Ken dan juga Troy diamankan di pos satpam rumah sakit, ketiganya dilepaskan karena ketiganya sudah menunjukkan sikap baik mereka.

Jiro sudah menahan emosinya, begitupun dengan Troy yang emosinya pun sudah menguap entah kemana. Mereka bahkan sempat saling berbicara sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.

“Jadi benar-benar Ellie, ya?” tanya Troy yang masih kurang yakin dengan apa yang ia dengar tadi.

“Ya.”

“Sial! Kalau sejak awal elo bilang, gue nggak mungkin dekatin istri teman gue sendiri.”

“Elo pikir mengakui semua itu gampang?” Jiro bertanya pada Troy.

“Apa susahnya ngakuin semua itu sama kita? Kita semua temen elo. Lo pikir kita bakal buka mulut ke Lambe Turah? Yang bener aja.”

“Sial!” Jiro mengumpat. Apa Troy sedang melemparkan sebuah lawakan?

“Denger, kita semua bakal dukung elo.” Ken yang membuka suara. “Punya istri atau tidak, elo bakal tetap menjadi bagian dari The Batman. Kita gak mungkin buka rahasia elo di depan umum.”

“Kalian nggak ngerti.”

“Kalau begitu buat kami supaya ngerti.” Troy menjawab cepat. “Elo pikir ada perempuan yang mau disembunyikan selama itu? Gue bersikap seperti ini bukan hanya karena gue peduli sama Ellie, tapi karena apa yang elo lakuin emang salah. Elo beruntung punya istri sesabar dia.”

“Gue hanya nggak mau menarik dia terlalu jauh ke dalam urusan gue di dunia intertain.”

“Itu bukan alasan yang masuk akal. Elo nikahin dia sejak elo belum jadi artis. Kalau elo berpikir seperti itu, kenapa elo memutuskan menjadi artis setelah nikah sama dia?” Troy tak mengerti apa maksud Jiro karena itulah ia kekeh bertanya apa alasan Jiro memperlakukan Ellie seperti itu selama ini.

“Ketertarikan gue dengan dia tidak sebesar sekarang, Troy! Elo nggak akan ngerti.” Jiro mengusap rambutnya kasar.

“Maksud elo?” kali ini Ken yang bertanya.

“Gue nikahin dia hanya karena perjodohan. Gue nggak ada perasaan apapun sama dia. dia hanya sebatas cantik dan menarik hati gue. Hanya itu. Dan sekarang, semua berubah. Dia menjelma menjadi sosok yang begitu mempengaruhi diri gue. Gue hanya nggak mau melibatkan dia terlalu jauh dengan urusan-urusan gue yang memusingkan.”

“Tapi dengan elo nyembunyiin dia, elo juga menyakitinya, Jiro.” Ken berkomentar. “Benar apa yang dikatakan Troy, nggak seharusnya elo ngelakuin hal ini, minimal, biarkan dia mengenal kita, agar dia tenang, bahwa suaminya tidak berbuat macam-macam di luar.”

Jiro menganggukkan kepalanya. “Gue akan kenalin dia sama kalian.”

“Gue udah kenal.” Troy menjawab cepat dengan raut kesalnya.

“Sebagai adik gue.” Jiro meralatnya. “Gue akan ngenalin dia sebagai istri gue pada kalian.”

 

Jiro menghela napas panjang, kakinya melangkah menuju ke arah kamar. Membuka pintunya dan bersyukur karena Ellie tidak mengunci dari dalam kamar tersebut.

Tanpa menyalakan lampu kamarnya, Jiro masuk ke dalam, ia berjalan mendekat ke arah ranjang, kemudian menatap tubuh Ellie yang tampak tertidur pulas, meringkuk memeluk sebuah guling. Jiro merasa perasaannya seperti diremas-remas ketika menatap bayangan itu. Ellie tampak menyedihkan, wanita itu tampak kesepihan, tidur sendiri memeluk gulingnya. Jiro merasa menjadi suami yang paling brengsek di dunia ini.

Mei benar, Ellie tidak membutuhkan apapun. Ellie hanya membutuhkan dirinya untuk berada di sisi wanita itu, menemani melewati masa kehamilannya. Ellie tak butuh penjagaan, Ellie tak butuh fasilitas, Ellie hanya butuh dirinya.

Apa yang dikatakan Troy juga benar. Tak ada perempuan yang mau disembunyikan status pernikahannya, dikenalkan sebagai seorang adik, dicampakan dan diperlakukan layaknya seorang simpanan, hanya Ellie yang bisa menerima hal itu, hanya Ellie yang mampu bersabar dengan keegoisannya.

Ya Tuhan! Jiro benar-benar merasa bersalah.

Dengan spontan, Jiro melepaskan T-shirt yang ia kenakan, bertelanjang dada kemudian ia naik ke atas ranjang. Jiro memposisikan dirinya tidur miring menghadap ke arah Ellie. Jiro mengamati wajah istrinya, jemarinya terulur mengusap lembut pipi Ellie.

Halus, dan lembut. Putih, mendekati pucat. Jiro merasakan sebuah kedamaian. Ia tidak tahu bahwa menatap Ellie sedekat ini membuatnya begitu damai.

Kemudian, Jiro terkejut saat mendapati Ellie membuka matanya. Jemari Jiro membatu pada pipi Ellie saat wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“James? Apa yang kamu lakukan?” Ellie bertanya dengan suara seraknya.

Sial! Jiro tergoda.

Ya Tuhan! Padahal Jiro tahu bahwa ia harus bicara, ia harus meminta maaf kepada Ellie, ia harus mengatakan pada Ellie bahwa kini dirinya sudah siap meninggalkan semuanya untuk wanita itu. Tapi Jiro tak mampu mengatakannya. Ia bukan tipe lelaki yang pandai berbicara, ia hanya akan melakukan hal tersebut tanpa banyak omong.

Bukannya menjawab pertanyaan Ellie, Jiro malah mendekatkan diri, mengangkat dagu Ellie kemudian mencumbu bibir lembut istrinya tersebut. Ohh, Jiro merindukan cumbuan ini, Jiro merindukan menyentuh Ellie. Ia terbuai dengan kelembutan bibir Sang Istri, tapi kemudian Jiro tersadar dari buaiannya ketika Ellie dengan paksa melepaskan tautan bibirnya kemudian mendorong Jiro menjauh.

“James. Kamu kenapa?” Sungguh, Ellie merasa bingung. Kenapa Jiro tiba-tiba datang dan memperlakukannya seperti itu.

“Aku… menginginkanmu.”

Jiro berbisik dengan suaranya yang sudah parau, kemudian ia kembali mencumbu bibir Ellie, melumatnya dengan lembut, hingga kemudian, Ellie tak mampu menolak apa yang akan dilakukan oleh suaminya tersebut.

***

Setelah melakukan percintaan panas, Ellie segera memposisikan dirinya miring memunggungi Jiro. Jika boleh jujur, Ellie merasa malu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menolak Jiro, ia berusaha untuk tidak mempedulikan Jiro, tapi ketika Jiro menyentuhnya dengan lembut, Ellie tak mampu menolaknya.

Ellie terbawa dengan pusaran gairah yang dibawa oleh lelaki tersebut, Ellie tergoda, Ellie tidak mampu untuk menahan diri agar tidak tertarik dengan sosok Jiro. Ya Tuhan! Ellie merasa kalah.

Sembari mengeratkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, Ellie berusaha untuk memejamkan matanya, ia berharap bahwa Jiro segera tidur tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena Ellie benar-benar merasa malu ketika mungkin saja Jiro akan membahas tentang hubungan tak masuk akal mereka.

Nyatanya, itu hanya harapan Ellie saja. Ellie merasakan bahwa Jiro mendekat ke arahnya. Lelaki itu mulai membuka suaranya hingga mau tidak mau Ellie berhadapan dengan rasa malunya.

“Besok, akan ada jumpa pers lagi.” Jiro membuka suaranya.

Ellie mendengus sebal. Jika Jiro ingin membahas tentang karir sialannya dengan The Batman, maka sumpah, Ellie tidak mau tahu.

“Aku tidak peduli, James.” Ucapnya dengan nada ketus.

“Kami akan vakum.” Tiga kata itu membekukan diri Ellie. “Kami sudah memutuskan kalau kami akan berhenti.” Lanjut Jiro lagi.

Ellie segera membalikkan tubuhnya, ia menatap Jiro, mencari-cari kebohongan di saja. Jika boleh jujur, Ellie memang sudah kehilangan kepercayaan dengan Jiro sejak lelaki itu mengingkari janjinya untuk mempublikasikan hubungan mereka setelah konser The Batman saat itu. Dan kini, Ellie tak mendapatkan sedikitpun kebohongan di mata Jiro.

“Kenapa?” dengan spontan Ellie bertanya.

“Mungkin kami sudah lelah.”

“Ke –kenapa sekarang?” tanya Ellie lagi.

Jemari Jiro terulur, mengusap lembut pipi Ellie. “Mungkin, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengakhiri semuanya.”

“James…” Ellie melirih, ia melihat dengan jelas raut sedih di wajah suaminya. Musik mungkin adalah hidup Jiro, dan lelaki itu kini sedang melepaskan semuanya.

“Ellie.” Jiro menyebut nama Ellie dengan begitu lembut. “Maafkan aku. Aku sudah membuatmu menunggu begitu lama.”

Ellie menggelengkan kepalanya, lagi-lagi Ellie kembali luluh dengan lelaki ini.

“Aku memang belum bisa mengatakan semuanya di depan media. Tapi aku akan berhenti, dan aku akan menghabiskan waktuku untuk menemanimu. Apa itu sudah cukup untukmu?”

Ellie tersenyum dan mengangguk dengan antusias. “Apa kamu tahu, James. Aku tidak perlu pengakuan itu andai saja kamu selalu berada di sisiku dan memperlakukan aku dengan benar.” Ya, jika saja Jiro memperlakukan Ellie dengan benar, maka Ellie akan bersabar, lebih banyak bersabar. Yang membuat Ellie kecewa adalah, bahwa selama ini selain tidak diakui, Jiro juga hanya memperlakukannya layaknya seoreang simpanan. Hal itulah yang membuat Ellie menuntut Jiro lebih ketika ia mengandung bayi dari lelaki tersebut.

“Aku akan melakukannya, Ellie. Aku akan melakukannya. Kita akan hidup dengan normal sebagai suami istri dan orang tua yang baik.”

“Aku… ingin percaya, tapi aku takut kecewa….”

Jiro menggelengkan kepalanya. “Kali ini, tolong, percayalah denganku.”

Mata Ellie berkaca-kaca seketika. Ia ingin percaya, sungguh, tapi ia benar-benar takut untuk dikecewakan lagi oleh suaminya tersebut, suami yang begitu ia cintai…

Dengan spontan Jiro meraih tubuh Ellie, menariknya masuk ke dalam pelukannya. “Percayalah denganku lagi, Ellie. Percayalah, aku akan mengakhiri semuanya dan kembali padamu…”

***

Sore itu, akhirnya semua personel The Batman beserta Tim Management mengadakan jumpa pers kembali.

Tadi pagi, Jiro dan teman-temannya sudah menghadap pada Fahri selaku manager The Batman dan juga dengan penasehat hukum managementnya. Jason juga hadir, meski Bianca belum sadar, tapi Jason harus datang untuk menyelesaikan semuanya.

Mereka memutuskan bahwa mereka akan benar-benar vakum dari dunia hiburan. The Batman sudah selesai sampai pada titik ini. Mereka tak akan lagi mengeluarkan lagu atau album baru, tak akan ada lagi konser-konser baru, kontrak-kontrak baru, dan tak akan produktif lagi di dunia hiburan. Meski begitu, mereka menyepakati, bahwa akan menyelesaikan beberapa kontrak yang memang tidak bisa dibatalkan. Seperti misalnya undangan tampil di beberapa acara dalam waktu dekat, kontrak-kontrak menjadi brand ambasador beberapa produk, dan sejenisnya.

Fahri selaku pihak management, benar-benar merasa kehilangan akan hal ini. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa berbuat banyak. Andai saja, hanya Jason yang keluar, atau mungkin hanya Jiro, mungkin Fahri akan mencarikan penggantinya dengan masih menggunakan band The Batman. Tapi sayangnya, mereka semua memutuskan untuk berhenti. The Batman adalah milik Jason, Ken, Troy dan Jiro, jika semua personelnya berhenti, maka Fahri tidak bisa mencegahnya, atau lebih bodoh lagi, tetap menggunakan nama The Batman dengan memperbarui semua personelnya. Ia tahu bahwa jika langkah itu yang ia ambil, maka ia akan gagal.

Kini, Sore ini, mereka dihadapkan dengan puluhan media yang sudah menunggu karena undangan dadakan dari pihak managementnya. Mereka akan mengumumkan bahwa mereka akan berhenti. The Batman sudah selesai, The Batman sudah berada di akhir cerita, dan keputusan tersebut tak dapat diganggu gugat.

-TBC-

Advertisements

One thought on “My Beautiful Mistress – Bab 14

  1. Memang sudah waktu na kalian bubar , sekarang tu para reader lagi menunggu kisah real kalian satu” jadi jangan pada sedih yaa , karna kami akan selalu mengingat kalian .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s