Missing Him – Bab 6

Comment 1 Standard

 

Klik untuk membaca Bab sebelumnya…..

 

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

 

***

Chapter 6

 

Mas Rangga masih melanjutkan sarapannya, sedangkan aku masih sibuk menenangkan Tasya  yang entah kenapa sejak tadi tak berhenti menangis. Apa Tasya merasakan apa yang kurasakan saat ini? Karena jujur saja, setelah mendengar kenyataan tentang kepindahan Mas Rangga, saat ini yang ingin kulakukan hanya menangis.

“Ven, sini, biar Mas gendong Tasyanya.” Suara itu terdengar tepat di belakangku.

“Nggak usah Mas, Mas lanjutin aja makannya, nanti Tasya juga baikan setelah menyusu.” Jawabku dengan suara yang sudah serak.

“Aku… Aku minta maaf, Ven.”

“Untuk apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Karena kepindahanku yang mendadak.” Jawabnya dengan nada lirih.

Seharusnya dia tak perlu meminta maaf. Maksudku, semua akan baik-baik saja jika dia mengajakku dan juga Tasya turut serta bersamanya. Tapi sepertinya Maas Rangga menolak gagasan itu.

“Tidak, kamu nggak perlu minta maaf, Mas. Toh itu kan untuk keperluan kerja. Untuk masa depan kita. Aku mengerti. Meski sebenarnya ini juga sangat berat untukku.” Ucapku sembari mencoba menyunggingkan sebuah senyuman.

Aku tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Mas Rangga dariku. Tapi aku tak mengerti apa itu. kenapa dia bisa berubah sedrastis ini? Kenapa ia tampak sedang menghindariku?

***

Tiga hari kemudian, Mas Rangga benar-benar pergi. Aku mengantarnya hingga di bandara. Dia menciumi Tasya, matanya tampak berkaca-kaca. Kemudian, dia mengecup lembut puncak kepalaku. Berkata padaku jika aku harus menjaga diri dan juga menjaga Tasya. Mas Rangga juga berjanji akan sering-sering menelepon. Dan dia juga berjanji akan segera pulang.

Dia pergi, hingga pesawatnya terbang, aku masih tak percaya jika Mas Rangga benar-benar pergi meningalkanku.

Maksudku, aku merasa aneh. Dua tahun lamanya kami selalu hidup bersama. Selalu ada dia di sampingku. Dan kini, dia meninggalkanku sendiri. Aku tidak dapat menahan tangisku lagi. Aku menangis tersedu-sedu, tak peduli jika saat ini banyak mata yang menatap penuh tanya kearahku.

Aku merasa kehilangan dirinya…

Aku merasa sakit karena hal itu…

Ini sama seperti apa yang kurasakan dulu ketika aku memutuskan untuk berpisah selamanya dengan Edo…

Tuhan! Kenapa kau mempermainkanku hingga seperti ini?

Ketika aku tak berhenti menangis tersedu, aku merasakan seseorang duduk tepat di sebelahku. Aku menghentikan tangisku seketika dan menolehkan kepalaku ke arahnya. Itu Edo. Untuk apa dia berada di sini?

“Kamu butuh ini.” Ucapnya sembari memeberiku sebuah sapu tangan.

Tak segera mengambilnya, aku malah bertanya padanya. “Kamu, kenapa bisa di sini?”

Edo tersenyum. “Aku kembali untukmu.”

Sungguh. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku berpikir bahwa ini tidak baik. Mas Rangga, suamiku, baru saja pergi, dan aku tidak ingin ada seseorang yang akan memanfaatkan keadaan ini.

***

Aku masih tak berhenti menatap Edo dengan penuh curiga. Tadi, dia memaksaku untuk ke kafe terdekat. Masih di area bandara. Dan aku tidak bisa menolaknya. Maksudku, aku memang membutuhkan tempat yang lebih privat untuk menenangkan hatiku. Aku butuh minum, dan butuh duduk dengan tenang untuk menghilangkan emosiku karena sepeninggalan Mas Rangga. Dan kini, Edo memberikannya.

Lelaki itu masih  asyik mengaduk kopinya, sesekali menatap ke arah Tasya yang berada di atas kereta bayinya.

“Dia, mirip sekali denganmu.” Ucapnya masih dengan tatapan mata ke arah puteri mungilku.

“Mirip dengan ayahnya.” Ralatku. Dan aku melihat senyuman miris dari Edo.

Edo menatapku seketika kemudian ia bertanya. “Bagaimana kabarmu, Ven?”

Apa dia baru saja menanyakan kabarku? Astaga, apa dia tak bisa melihatnya? Aku baru saja berpisah dan akan hidup berjauhan dengan suamiku. Aku baru saja menangis, bukankah dia baru saja meminjamkan sapu tangannya untukku? Kenapa dia harus menanyakan kabarku disaat yang seperti ini?

“Edo, jangan basa-basi lagi. Aku tahu, kamu nggak tiba-tiba datang seperti ini jika tidak ada yang kamu rencanakan.”

“Kamu berpikiran buruk tentangku? Ayolah, kamu tentu tahu bagaimana perasaanku padamu, Ven. Aku tidak mungkin menyakitimu.”

Dan aku tidak percaya.

“Maaf, karena selama ini aku menghilang. Aku hanya mencoba melupakanmu. Tapi ternyata, aku nggak bisa.”

“Cukup, Do.” Aku memotong kalimatnya. “Tolong, jangan bahas apapun lagi tentang kita di masa lalu.”

“Kenapa Ven? Karena kamu sudah melupakanku? Akui saja, kalau selama ini kamu masih memikirkanku. Kamu belum bisa berpindah hati bahkan dengan suamimu sendiri.”

“Apa? Lancang sekali kamu mengatakan hal itu.”

“Kenapa? Bukankah itu kenyataan? Aku bisa melihat dengan jelas apa yang kamu rasakan padaku, Ven. Dan itu sangat berbeda dengan apa yang kamu rasakan pada Rangga.”

Aku berdiri seketika. Kesal? Tentu saja. Bahkan Mas Rangga saja tak pernah kuizinkan untuk membaca apa yang sedang kurasakan. Suamiku itu selama ini hanya diam ketika aku tak fokus dan tiba-tiba melamunkan Edo. Mas Rangga tak pernah menuntut, tapi kenapa Edo melakukannya? Astaga, kami sudah berpisah bertahun-tahun lamanya, seharusnya Edo mengerti itu.

“Kamu tahu, Ven. Aku merasa dihianati dengan pernikahanmu. Aku merasa sangat kecewa karena kamu menikah begitu saja dengan orang yang tak seberapa mengenalmu. Seputus asa itukah kamu, Ven?”

“Cukup! Kamu berkata seolah-olah kamu mengetahui semuanya! Padahal kamu tidak tahu apapun! Ingat, kamu yang pergi setelah aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.”

“Aku memang mengetahui semuanya, Ven. Aku mengetahui semua detailnya. Dan tinggal menunggu waktu saja sampai kamu mengetahui semuanya dan berakhir menyesal karena menerima seorang bajingan seperti Rangga.”

Tidak! Tidak! Aku tak akan pernah menyesal karena sudah menerima Mas Rangga. Bagaimanapun juga, Mas Rangga adalah sosok malaikat dingin yang mampu menyentuh hatiku. Meski belum sepenuhnya Mas Rangga melepaskanku dari belenggu masa lalu, setidaknya dengan dia aku sudah berani mencoba melangkah kedepan.

Aku tak akan berhenti, apalagi mundur ke belakang, meninggalkan Mas Rangga dan kembali pada Edo. Itu tak akan pernah terjadi. Bagaimanapun juga, aku akan menjaga pernikahan kami. Edo bisa mengatakan apapun sesuka hatinya, tapi aku memiliki hak untuk tidak mempercayai setiap perkataannya lagi.

-TBC-

Advertisements

One thought on “Missing Him – Bab 6

  1. Huwaaahhhhhhhhhhhh mimpi apa author satu ini stelah beberpa taun akhir na rangga d lanjut juga , bahkan q sudah berhenti berharap , tapi alhamdulillah author na masih sayang ma mas rangga …
    Trims yaa bu udah mo lanjut mas rangga lagi 😍😍😍

    d tunggu kelanjutan na .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s