Ugly Wife – Bab 1

Comments 5 Standard

 

Bab 1

 

Setelah membereskan meja makan, Shafa menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri. hari ini akan menjadi hari yang melelahkan karena akan ada beberapa tanaman baru yang datang ke tempat kerjanya. Mungkin ia akan pulang sore, atau mungkin ia tidak akan pulang. Shafa merasa senang jika kenyataan terakhir itu yang terjadi. Setidaknya, ia tidak akan bertatap muka dengan suaminya yang selalu menatapnya dengan tatapan jijik dan merendahkan.

Tiga bulan lamanya ia sudah menikah dengan lelaki yang mendatanginya siang itu di toko bunga miliknya. Lelaki yang bernama Elang Abraham. Lelaki yang ia ketahui sebagai seorang yang sudah menghancurkan hidup dan mimpinya.

Ya, ternyata lelaki itu adalah lelaki yang dulu menabraknya. Membuat kakinya cacat, ibunya meninggal ditempat, dan membuatnya kehilangan semuanya. Awalnya, Shafa tak ingin lagi berurusan dengan lelaki itu setelah lelaki itu menceritakan semuanya siang itu juga, tapi Shafa tak bisa berbuat banyak, ia sudah terikat dengan lelaki itu. Mereka sudah dinikahkan saat itu untuk membuat lelaki itu bertanggung jawab atas ulahnya. Istilahnya, mereka sudah kawin gantung selama bertahun-tahun yang lalu.

Saat itu, Shafa masih berusia Tujuh tahun, sedangkan Elang baru berusia Lima belas tahun. Di usianya yang ke lima belas, Elang mendapatkan hadiah mobil dari orang tuanya. Mobil yang seharusnya hanya digunakan untuk mengantar jemput Elang saat sekolah, bukan untuk digunakan lelaki itu. Tapi Elang saat itu adalah pemuda nakal seperti kebanyakan pemuda lainnya, ingin mencoba sesuatu yang baru. Hingga suatu hari, ia memaksa supirnya untuk mengajarinya mengemudikan mobil.

Tragisnya, Elang menabrak dua orang pejalan kaki di atas trotoar. Seorang meninggal ditempat, dan yang satunya kritis. Itu adalah Shafa dan ibunya. Elang tidak bisa dihukum karena masih dibawah umur, sedangkan Ayah Shafa menuntutnya untuk bertanggung jawab. Apalagi saat tahu bahwa Shafa tak akan kembali seperti dulu lagi. Istrinya meninggal sedangkan anaknya akan cacat seumur hidup. Saat itulah ayah Shafa menuntut Elang dan keluarganya untuk bertanggung jawab. Dan tanggung jawab yang setimpal adalah menikahi Shafa.

Mereka dikawin gantung saat itu juga, membuat masalah tersebut selesai dengan cara kekeluargaan. Tapi Ayah Shafa tak tahu, bahwa menikahkan mereka merupakan sebuah masalah baru untuk Shafa kedepannya. Ia tidak suka dijodohkan, ia tidak suka dilihat sebagai orang yang memaksa untuk dinikahi. Apalagi dengan lelaki seperti Elang, lelaki dingin arogan dan tak berpesaraan.

Meski begitu, Shafa mencoba mengendalikan dirinya, menekan perasaannya, mengendalikan egonya, ketika ia mengingat bagaimana janji terakhirnya dengan Sang Ayah sebelum ayahnya meninggal dua tahun yang lalu.

“Dia akan datang untukmu. Kamu akan bahagia dengannya.”

“Aku nggak tahu apa maksud Ayah.” Shafa tidak mengerti, dan ia tak mau mengerti, karena saat ini yang paling ia pikirkan adalah kondisi ayahnya yang semakin memburuk.

“Berjanjilah dengan Ayah, bahwa kamu akan memenangkan hatinya. Jangan lepaskan dia. Jangan membuatnya menjadi mudah untuknya. Dia sudah menghancurkan hidup dan mimpimu, jadi kamu berhak memiliki seluruh hidupnya sebagai imbal baliknya.”

Shafa menggelengkan kepalanya. Ia masih tak mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

“Jangan lepaskan dia, Shafa. Jangan lepaskan dia…”

 

Kini, Shafa tahu apa maksud dari ayahnya. Ayahnya hanya tak mau bahwa Elang dan keluarganya bisa cuci tangan begitu saja. Melenggang pergi setelah menghancurkan hidup mereka. Ayahnya ingin, Elang hidup dengan rasa bersalahnya setiap hari, karena itulah ayahnya meminta Shafa untuk tidak menyerah.

Dan sekarang, baru tiga bulan lamanya mereka mengesahkan pernikahan mereka, tapi Shafa sudah hampir tak sanggup dengan perlakuan suami dan keluarganya. Ia diperlakukan seperti sampah, seperti orang yang menjijikkan. Apa mereka tidak ingat bahwa semua ini karena ulah mereka?

Setelah membereskan bekalnya, dengan langkah tertatih seperti biasanya, Shafa meninggalkan area dapur. Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan dapurnya, sosok yang ada dalam kepalanya tersebut rupanya sudah berdiri di hadapannya. Jika Shafa tidak fokus dengan langkahnya, ia mungkin sudah menabrak lelaki itu.

Shafa menghentikan langkahnya kemudian wajahnya mendongak menatap lelaki yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

“Ikut aku.” Ucapnya sembari menyambar pergelangan tangan Shafa kemudian menyeretnya menuju ke sebuah ruangan. Shafa hanya bisa pasrah, lelaki ini memang sasngat suka berbuat sesuka hatinya.

Sampai di dalam ruangan tersebut, cekalan tersebut dihempaskan degan begitu kasar. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan marahnya. Menyisingkan kemejanya yang masih rapih hingga sesikunya.

“Jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengan supir sialan itu?”

Shafa ternganga dengan apa yang dipertanyakan oleh suaminya tersebut.

Leo, adalah supir pribadi yang disiapkan oleh Elang untuk dirinya. Shafa tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu, tapi Shafa tak pernah melihat Leo sebagai bawahannya atau hanya sekedar sebagai supirnya. Ia memperlakukan Leo sebagai orang yang setara dengannya. sebagai seorag teman. Jika ia ingin menikmati secangkir kopi di starbuck, maka ia akan mengajak Leo atau pegawai tokonya untuk menemaninya. Dan kini, kenapa Elang mempertanyakan hal itu padanya?

“Aku nggak tahu apa maksud kamu?”

“Kamu memiliki hubungan yang special dengan dia, kan? Kamu pikir aku nggak tau?”

“Kenapa kamu menuduhku seperti itu?”

“Karena aku sudah mengawasi apapun yang sudah kamu lakukan di dalam maupun di luar rumah ini.”

“Kami hanya berteman, dan mengawasi apapun yang kulakukan, bukankah itu berlebihan?”

“Oh benarkan? Apa itu juga yang terjadi antara kamu dengan para pelanggan tokomu yang pria? Atau dengan para pegawai tokomu yang pria? Kalian berteman? Seberapa jauh?”

“Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud. Para pegawaiku bekerja secara profesional, dan aku hanya menjual apa yang diinginkan para pelangganku.”

“Seperti menjual kesenangan? Berapa mereka membayarmu?”

Mata Shafa berkaca-kaca seketika dengan tuduhan tersebut. Sebenarnya, Shafa sangat bingung dengan reaksi Elang. Selama ini, Elang tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini terhadapnya. Lelaki itu dingin dan datar-datar saja tanpa ingin tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tapi pagi ini, kenapa sikap lelaki ini berubah seratus delapan puluh derajat?

“Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu? Bukankah selama ini kita baik-baik saja tanpa mengurusi urusan pribadi masing-masing?” tanya Shafa kemudian. Ia masih bingung dengan sikap Elang pada pagi ini.

Hubungannya dengan Elang selama tiga bulan terakhir memang jauh dari kata baik. Elang memang sering menyentuhnya, lebih tepatnya, lelaki itu meminta haknya sebagai seorang suami untuk dipuaskan. Tapi hanya itu, diluar dari itu semua, hubungannya dengan Shafa jauh dari kata baik.

Mereka tidak akan saling bicara jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tidak saling menyapa, bahkan menurut Shafa, mungkin Elang tak pernah mempedulikan tentangnya. Jadi saat Elang berkata bahwa lelaki itu mengawasinya dari jauh, maka Shafa merasa terkejut, tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. selama ini Elang hanya cuek-cuek saja terhadapnya, dan kenapa sekarang Elang seperti orang yang sedang…. Cemburu?

Tidak mungkin. Pikirnya.

Elang mendekat, menghimpit tubuh Shafa diantara dinding terdekat. “Aku hanya tidak suka berbagi dengan orang lain. Kalau aku sudah memilih tidur denganmu, maka aku tidak akan membiarkan orang lain menidurimu.”

“Apa? Aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain.”

“Belum. Kita tidak tahu nanti.”

“Aku bukan perempuan seperti itu.” Ya, Elang tahu. Ia bahkan merasakan bahwa Shafa masih perawan ketika ia menyentuh wanita itu untuk pertama kalinya. Tapi sikap Shafa yang ramah dan membuat siapa saja terpesona, membuat Elang tidak suka. Elang benci kenyataan bahwa Shafa terlihat menarik bagi siapa saja dengan sikap ramah yang ditampilkan wanita itu.

Itu hanya akting.

Elang selalu memarahi dirinya sendiri ketika dirinya mulai terpesona dengan sikap ramah yang ditampilkan Shafa di hadapannya.

Elang melangkah mendekat, dengan penuh penekanan dia berkata “Aku nggak peduli. Leo akan dipecat, dan toko bungamu, cepat atau lambat aku akan membuatnya tutup.”

Setelah ucapannya tersebut, Elang pergi begitu saja, sedangkan Shafa, ia hanya ternganga dengan apa yang baru saj diucapkan oleh suaminya tersebut. Apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba Elang jadi ikut campur dengan semua urusan pribadinya? Dan menutup toko bunganya? Siapa dia? toko bunga itu adalah satu-satunya hal yang ditinggakan oleh kedua orang tuanya, bagaimana mungkin Shafa rela menutupnya?

***

Elang benar-benar melakukan apa yang dia katakan pada Shafa kemarin. Dan Shafa masih tidak menyanga bahwa lelaki itu akan bersikap searogan itu. Memberhintikan seorang dari pekerjaannya hanya karena sebuah kecurigaan yang tak masuk akal.

“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Elang akan benar-benar memecatmu.” Ucap Shafa pada Leo. Saat ini keduanya sedang berada di dalam toko bunga milik Shafa, menikmati kopi mereka. Siang itu suasana toko cukup sepi. Shafa terkejut ketika mendapati Leo mendatanginya. Karena tadi pagi supirnya ini sudah tidak ada di rumahnya. Bahkan menuju ke tokonya saja, Shafa harus naik taksi.

“Saya juga bingung, kenapa tuan tiba-tiba memecat saya.”

Shafa merasa kasihan dengan Leo. Ia tahu bagaimana susahnya lelaki itu. Selama bekerja di tempatnya, hubungan mereka memang cukup dekat. Shafa selalu menganggap Leo sebagai temannya. Karena selama ini, Leolah yang menemaninya kemana-mana. Sesekali lelaki itu bercerita tentang keluarganya. Mereka hidup kesusahan, jadi Shafa merasa kasihan jika tiba-tiba Leo diputus kerja secara sepihak oleh Elang.

“Begini saja, aku kan juga butuh tenaga kerja di toko ini, dibagian taman belakang. Kamu bisa kerja sama aku.” Usul Shafa.

Memang, jika menyangkut pekerjaan di rumah, Elang dan keluarganya berkuasa untuk memecat siapa saja. Tapi ini adalah toko bunga miliknya, tak akan ada yang bisa memecat siapapun dari sini kecuali dirinya sendiri.

“Mbak Shafa yakin? Saya takut nanti Tuan tahu terus marah.”

“Ini bukan lagi urusan Elang. Kamu kan kerja sama saya, bukan sama dia.”

“Tapi kalau Tuan tahu nanti….”

“Yang penting, kamu mau apa tidak kerja sama saya di sini?” tanya Shafa lagi. Ia tidak ingin memaksa, ia hanya mau membantu sebisa yang ia lakukan.

Leo tampak berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk setuju. “Saya mau.” Shafa tersenyum senang. Ia tahu bahwa Leo adalah orang baik, dan ia akan mempertahankan orang-orang baik untuk bekerja dengan dirinya.

***

Di lain tempat…..

“Brengsek! Berani-beraninya wanita itu.” Elang mengumpat kasar setelah ia menerima telepon dari seorang pesuruhnya yang ia bayar untuk  mengawasi Shafa, istrinya.

Elang sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sebenarnya, Elang cukup muak dengan sikap sok ramah yang ditampilkan Shafa pada semua orang. Hal itu membuat Shafa seolah-olah bagaikan malaikat. Sedangkan ia menjadi iblisnya. Elang tak suka.

Kenyataan bahwa perempuan itu mampu memikat hati siapa saja yang dikenalnya membuat Elang kesal.

Contohnya saja, dulu, pertama kali ia membawa Shafa pulang ke rumahnya, Ibunya amat sangat tidak suka dengan sosok Shafa. Pertama, karena bagi ibunya, Shafa dan keluarganya adalah tipe orang yang suka memanfaatkan keadaan. Memang benar bahwa Elang bersalah karena sudah menabrak Shafa dan ibu wanita itu. Membuat Shafa kehilangan ibunya dan wanita itu cacat seumur hidupnya. Tapi bagi ibu Elang, tak seharunya puteranya dipaksa bertanggung jawab untuk menikahi wanita cacat itu. Itulah yang membuat Ibu Elang sempat membenci kehadiran Shafa. Tapi kini, ibunya itu malah sesekali membela Shafa.

Elang berpikir, mungkin ini semua karena sikap ramah yang selalu ditampilkan Shafa meski wanita itu sedang diinjak-injak. Tak memungkiri juga, beberapa kali Elang merasa bahwa dirinya terjerat dalam pesona istrinya tersebut, tapi secepat kilat Elang mencoba mengendalikan dirinya.

Shafa hanya akting, tak ada perempuan sebaik dan seramah itu apalagi saat perempuan itu diperlakukan sebagai seorang rendahan. Pikir Elang.

Elang mendengus sebal. Ia tidak akan termakan oleh akting perempuan itu. Bagaimanapun juga, perempuan itu sudah menghancurkan dirinya dengan cara memaksa dirinya menikahi perempuan itu. Sangat wajar jika kini dirinya merasa sangan membenci sosok Shafa, bukan?

Ketika Elang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang. Wanita cantik dan seksi itu masuk dan segera menghambur ke arahnya, mengecup sisi kanan dan kiri pipi Elang. Seketika itu juga suasana hati Elang berubah. Yang tadinya dia ingin marah-marah karena memikirkan istrinya, kini berubah seketika, membara dengan kehadiran kekasih hatinya.

Namanya Salsabilah. Salsa sendiri awalnya hanya partner kerja Elang. Karena mereka sering bertemu dan saling menghabiskan waktu bersama karena pekerjaan, akhirnya benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Mereka sudah cukup lama menjalin kasih, bahkan sejak sebelum Elang menikahi Shafa secara sah.

Meski Salsa tahu bahwa Elang kini sudah meiliki istri, nyatanya hal itu tak menyurutkan niatnya untuk memiliki hati lelaki di hadapannya itu sepenuhnya. Salsa cukup tahu bagaimana ceritanya hingga Elang harus menikahi perempuan cacat itu.

“Sepertinya kamu sedang bad mood.” Salsa berkomentar masih dengan mengalungkan lengannya pada leher Elang.

“Ya. Sedikit.”

“Mau kuobati?” tawarnya.

Elang tersenyum, ia tahu apa maksud dariucapan kekasinya ini. “Dimana?” tanyanya secara langsung tanpa basa-basi.

Jemari Salsa menggoda dada Elang, “Kamu maunya dimana? Di sini, atau kita cari hotel terdekat sambil makan siang bareng?”

“Hotel saja.” Dan akhirnya, keduanya kembali bercumbu mesra sebelum keluar dari ruang kerja Elang.

-TBC-

Advertisements

Missing Him – Bab 6

Comment 1 Standard

 

Klik untuk membaca Bab sebelumnya…..

 

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Tasya? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Tasya nggak ikut pindah saja Mas?”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku?

 

***

Chapter 6

 

Mas Rangga masih melanjutkan sarapannya, sedangkan aku masih sibuk menenangkan Tasya  yang entah kenapa sejak tadi tak berhenti menangis. Apa Tasya merasakan apa yang kurasakan saat ini? Karena jujur saja, setelah mendengar kenyataan tentang kepindahan Mas Rangga, saat ini yang ingin kulakukan hanya menangis.

“Ven, sini, biar Mas gendong Tasyanya.” Suara itu terdengar tepat di belakangku.

“Nggak usah Mas, Mas lanjutin aja makannya, nanti Tasya juga baikan setelah menyusu.” Jawabku dengan suara yang sudah serak.

“Aku… Aku minta maaf, Ven.”

“Untuk apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Karena kepindahanku yang mendadak.” Jawabnya dengan nada lirih.

Seharusnya dia tak perlu meminta maaf. Maksudku, semua akan baik-baik saja jika dia mengajakku dan juga Tasya turut serta bersamanya. Tapi sepertinya Maas Rangga menolak gagasan itu.

“Tidak, kamu nggak perlu minta maaf, Mas. Toh itu kan untuk keperluan kerja. Untuk masa depan kita. Aku mengerti. Meski sebenarnya ini juga sangat berat untukku.” Ucapku sembari mencoba menyunggingkan sebuah senyuman.

Aku tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Mas Rangga dariku. Tapi aku tak mengerti apa itu. kenapa dia bisa berubah sedrastis ini? Kenapa ia tampak sedang menghindariku?

***

Tiga hari kemudian, Mas Rangga benar-benar pergi. Aku mengantarnya hingga di bandara. Dia menciumi Tasya, matanya tampak berkaca-kaca. Kemudian, dia mengecup lembut puncak kepalaku. Berkata padaku jika aku harus menjaga diri dan juga menjaga Tasya. Mas Rangga juga berjanji akan sering-sering menelepon. Dan dia juga berjanji akan segera pulang.

Dia pergi, hingga pesawatnya terbang, aku masih tak percaya jika Mas Rangga benar-benar pergi meningalkanku.

Maksudku, aku merasa aneh. Dua tahun lamanya kami selalu hidup bersama. Selalu ada dia di sampingku. Dan kini, dia meninggalkanku sendiri. Aku tidak dapat menahan tangisku lagi. Aku menangis tersedu-sedu, tak peduli jika saat ini banyak mata yang menatap penuh tanya kearahku.

Aku merasa kehilangan dirinya…

Aku merasa sakit karena hal itu…

Ini sama seperti apa yang kurasakan dulu ketika aku memutuskan untuk berpisah selamanya dengan Edo…

Tuhan! Kenapa kau mempermainkanku hingga seperti ini?

Ketika aku tak berhenti menangis tersedu, aku merasakan seseorang duduk tepat di sebelahku. Aku menghentikan tangisku seketika dan menolehkan kepalaku ke arahnya. Itu Edo. Untuk apa dia berada di sini?

“Kamu butuh ini.” Ucapnya sembari memeberiku sebuah sapu tangan.

Tak segera mengambilnya, aku malah bertanya padanya. “Kamu, kenapa bisa di sini?”

Edo tersenyum. “Aku kembali untukmu.”

Sungguh. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku berpikir bahwa ini tidak baik. Mas Rangga, suamiku, baru saja pergi, dan aku tidak ingin ada seseorang yang akan memanfaatkan keadaan ini.

***

Aku masih tak berhenti menatap Edo dengan penuh curiga. Tadi, dia memaksaku untuk ke kafe terdekat. Masih di area bandara. Dan aku tidak bisa menolaknya. Maksudku, aku memang membutuhkan tempat yang lebih privat untuk menenangkan hatiku. Aku butuh minum, dan butuh duduk dengan tenang untuk menghilangkan emosiku karena sepeninggalan Mas Rangga. Dan kini, Edo memberikannya.

Lelaki itu masih  asyik mengaduk kopinya, sesekali menatap ke arah Tasya yang berada di atas kereta bayinya.

“Dia, mirip sekali denganmu.” Ucapnya masih dengan tatapan mata ke arah puteri mungilku.

“Mirip dengan ayahnya.” Ralatku. Dan aku melihat senyuman miris dari Edo.

Edo menatapku seketika kemudian ia bertanya. “Bagaimana kabarmu, Ven?”

Apa dia baru saja menanyakan kabarku? Astaga, apa dia tak bisa melihatnya? Aku baru saja berpisah dan akan hidup berjauhan dengan suamiku. Aku baru saja menangis, bukankah dia baru saja meminjamkan sapu tangannya untukku? Kenapa dia harus menanyakan kabarku disaat yang seperti ini?

“Edo, jangan basa-basi lagi. Aku tahu, kamu nggak tiba-tiba datang seperti ini jika tidak ada yang kamu rencanakan.”

“Kamu berpikiran buruk tentangku? Ayolah, kamu tentu tahu bagaimana perasaanku padamu, Ven. Aku tidak mungkin menyakitimu.”

Dan aku tidak percaya.

“Maaf, karena selama ini aku menghilang. Aku hanya mencoba melupakanmu. Tapi ternyata, aku nggak bisa.”

“Cukup, Do.” Aku memotong kalimatnya. “Tolong, jangan bahas apapun lagi tentang kita di masa lalu.”

“Kenapa Ven? Karena kamu sudah melupakanku? Akui saja, kalau selama ini kamu masih memikirkanku. Kamu belum bisa berpindah hati bahkan dengan suamimu sendiri.”

“Apa? Lancang sekali kamu mengatakan hal itu.”

“Kenapa? Bukankah itu kenyataan? Aku bisa melihat dengan jelas apa yang kamu rasakan padaku, Ven. Dan itu sangat berbeda dengan apa yang kamu rasakan pada Rangga.”

Aku berdiri seketika. Kesal? Tentu saja. Bahkan Mas Rangga saja tak pernah kuizinkan untuk membaca apa yang sedang kurasakan. Suamiku itu selama ini hanya diam ketika aku tak fokus dan tiba-tiba melamunkan Edo. Mas Rangga tak pernah menuntut, tapi kenapa Edo melakukannya? Astaga, kami sudah berpisah bertahun-tahun lamanya, seharusnya Edo mengerti itu.

“Kamu tahu, Ven. Aku merasa dihianati dengan pernikahanmu. Aku merasa sangat kecewa karena kamu menikah begitu saja dengan orang yang tak seberapa mengenalmu. Seputus asa itukah kamu, Ven?”

“Cukup! Kamu berkata seolah-olah kamu mengetahui semuanya! Padahal kamu tidak tahu apapun! Ingat, kamu yang pergi setelah aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.”

“Aku memang mengetahui semuanya, Ven. Aku mengetahui semua detailnya. Dan tinggal menunggu waktu saja sampai kamu mengetahui semuanya dan berakhir menyesal karena menerima seorang bajingan seperti Rangga.”

Tidak! Tidak! Aku tak akan pernah menyesal karena sudah menerima Mas Rangga. Bagaimanapun juga, Mas Rangga adalah sosok malaikat dingin yang mampu menyentuh hatiku. Meski belum sepenuhnya Mas Rangga melepaskanku dari belenggu masa lalu, setidaknya dengan dia aku sudah berani mencoba melangkah kedepan.

Aku tak akan berhenti, apalagi mundur ke belakang, meninggalkan Mas Rangga dan kembali pada Edo. Itu tak akan pernah terjadi. Bagaimanapun juga, aku akan menjaga pernikahan kami. Edo bisa mengatakan apapun sesuka hatinya, tapi aku memiliki hak untuk tidak mempercayai setiap perkataannya lagi.

-TBC-

Ugly Wife – Prolog

Comment 1 Standard

 

Tittle : Ugly Wife

Penulis : Zenny Arieffka

Semoga kalian suka yaaa…. hahahahhaahaha

 

 

Prolog

 

Shafa mengangkat wajahnya ketika mendapati seorang lelaki masuk ke dalam toko bunga miliknya. Dengan ramah ia menyapa lelaki tersebut. Bertanya apa yang diinginkan lelaki itu.

Mendekati hari valentine seperti ini, memang akan banyak sekali pelanggan laki-laki datang ke tokonya. Biasanya mereka akan mencarikan bunga untuk kekasih atau istrinya. Sangat bahagia sekali jika Shafa menjadi salah satunya. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi mimpinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah.

Lelaki itu tampak sangat tampan. Rapih dengan kemeja yang melekat pas di tubuhnya. Sangat modis dengan rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Lelaki ini bukan lelaki biasa, bahkan Shafa bisa melihat mobil mewahnya terparkir tepat di depan toko bunganya.

“Shafa Amanda?” tanyanya.

Suaranya terdengar berat, sikapnya begitu mengintimidasi. Tapi Shafa mencoba untuk tak terpengaruh. Ia sering sekali bertemu dengan banyak orang. Meski kebanyakan tak seperti lelaki ini. tapi Shafa mencoba tetap percaya diri ditengah kekuarangan yang ia miliki.

Tapi Shafa baru sadar jika lelaki ini mengetahui nama lengkapnya. Dari mana?

Shafa mengerutkan keningnya kemudian dia menjawab “Ya, saya.”

Lelaki itu tampak mengamati Shafa. Menatap diri Shafa dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kemudian matanya berhenti pada kaki kiri Shafa. Di pergelangan kakinya masih tampak bekas jahitan di masa lalu. Luka itu tak akan pernah hilang, bahkan efeknya berbekas hingga saat ini. Shafa tak akan bisa berjalan dengan normal lagi. Meski begitu, hal itu tak akan mengurangi rasa percaya diri wanita itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Shafa lagi karena lelaki itu hanya fokus melihat pada bekas jahitan di kaki kiri Shafa, membuat Shafa tak nyaman dengan tatapan mata lelaki itu.

“Tutup toko kamu dan mari ikut saya.”

“Apa? Kenapa?” Shafa bingung. Memangnya siapa lelaki ini? kenapa lelaki ini memerintahnya dengan suka-suka hatinya?

“Ikut saja.”

“Tidak. Maaf, saya tidak akan kemanapun apalagi dengan orang yang tidak saya kenal.”

“Begitukah? Kamu tidak lihat ini.” lelaki itu mengeluarkan sebuah kalung putih dari sakunya. Tapi yang membuat Shafa terkejut adalah bandul dari kalung tersebut. Itu sebuah cincin yang sangat mirip dengan cincin yang menjadi bandul kalung yang ia kenakan. Dengan spontan Shafa memegang kalungnya sendiri. bagaimana mungkin? bagaimana bisa? Apakah lelaki ini adalah lelaki yang dikatakan mendiang ayahnya?

“Sekarang, ikut saya, kita akan membahas rencana pernikahan kita.” Ucapnya dengan dingin dan datar.

Pernikahan? Ya Tuhan, jadi apa yang dikatakan ayahnya dulu adalah kenyataan? Bahwa nanti saat ia dewasa, akan ada seorang pria yang datang padanya dengan membawa cincin itu untuk menikahinya secara sah? Shafa masih tak percaya. Benarkah ini sebuah kenyataan? Benarkah ia akan menikah dengan lelaki di hadapannya tesebut?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 17

Comment 1 Standard

 

Bab 17

 

Jiro semakin memperdalam cumbuannya, tubuhnya semakin mendekat menempel sepenuhnya pada tubuh Ellie. Kejantanannya menegang, berdenyut nyeri menahan desakan gairah yang luar biasa. Tak pernah Jiro merasa seingin ini memiliki seorang wanita, hanya Ellie yang membuatnya seperti ini, hanya wanita itu, istrinya.

Masih dengan bibir yang saling bertaut satu sama lain, Jiro membantu Ellie melepaskan blouse dan bawahan yang dikenakan oleh wanita itu. Ellie tidak membantah maupun menolaknya, hal itu semakin membuat Jiro senang. Jiro ingin menguasai tubuh wanita mungil di hadapannya ini, Jiro ingin menguasai semua isi didalam hati wanita ini.

Jiro lalu melepaskan tautan bibir mereka saat ia merasakan napas Ellie mulai habis karena ulahnya. Ia menatap tajam ke arah wanita yang terengah kehabisan napas di hadapannya tersebut. Sedikit tersenyum, Jiro mulai melucuti pakaiannya sendiri. menarik kausnya ke atas melewati kedua belah telapak tangannya dan juga kepalanya, hingga Jiro hanya bertelanjang dada dengan celananya saja.

Jiro kembali menatap Ellie. Tubuh wanita itu tampak begitu indah. Kehamilannya membuat Ellie tampak mempesona. Dengan cekatan Jiro membantu Ellie melepaskan bra yang dikenakan istrinya itu, hingga dalam sekejap mata, Ellie sudah polos hanya berbalutkan celana dalamnya saja.

Keindahan Ellie benar-benar membuat Jiro tak mampu bertahan. Dengan spontan ia menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada tulang selangka Ellie yang tampak begitu indah di matanya. Jiro mengecupnya lembut, memuja keindahannya, hingga membuat Ellie memejamkan matanya seketika.

“Ya Tuhan! Kamu benar-benar indah, Sayang…” Jiro mengerang diantara kekaguman yang ia rasakan.

Ellie sendiri hanya bisa pasrah ketika Jiro tampak begitu memuja tubuhnya. Ellie merasa begitu dicintai, hingga yang bisa ia lakukan hanya pasrah dengan sesekali mengerang karena godaan yang diberikan Jiro padanya.

Jiro merayap turun, hingga bibir lelaki itu berhenti pada puncak payudaranya. Ellie mengerang seketika saat Jiro mulai menggodanya, mengirimkan kembali getaran panas yang bersumber dari bibir lelaki tersebut.

Oh, Jiro begitu panas, membuat Ellie tak kuasa untuk mengalungkan lengannya pada leher Jiro. Ellie berusaha untuk membuat Jiro agar tak menghentikan apa yang lelaki itu lakukan. Ellie sangat menyukainya, ketika bibir lelaki itu membelai kulitnya, menggoda setiap inchi dari tubuhnya hingga bergetar dan siap untuk dipuaskan.

Ellie mengerang tak tertahankan saat jemari Jiro mengusap lembut perutnya, kemudian dengan nakal jemari itu merayap turun, menelusup masuk ke dalam panty yang ia kenakan. Ya Tuhan! Jiro kembali menggodanya, menggoda dengan bibir dan juga jemari nakal lelaki tersebut.

Ellie melemparkan kepalanya ke belakang, kakinya seakan tak mampu berdiri dengan sendirinya, ia merasa lemas dengan hantaman gairah yang diberikan oleh Jiro lagi dan lagi. Hingga kemudian, Ellie merasa tak sanggup menahannya lebih lama lagi.

“James, Astaga…” erangnya dengan suara tertahan.

Jiro menghentikan aksinya, ia menatap dengan intens ekspresi keenakan yang terpampang jelas di hadapannya. Wajah Ellie memerah, entah karena gairah, atau karena yang lainnya. Mata biru wanita itu tampak berkabut, bibirnya ternganga, terengah karena napas yang tak beraturan. Hingga Jiro tak mampu untuk tidak menyambar bibir tersebut.

Jiro melumat habis bibir Ellie. Jemarinya dengan nakal melepas paksa sisa kain yang membalut tubuh istrinya tersebut. Hingga kini, Ellie sudah berdiri polos tanpa sehelai benangpun.

Masih dengan mencumbu bibir Ellie, Jiro melanjutkan aksinya, mendorong tubuh Ellie sedikit demi sedikit hingga sampai pada ranjang mereka. Jiro membaringkan Ellie di sana, kemudian melepaskan tautan bibir mereka.

Mata Jiro kembali menatap Ellie dengan intens. Sial! Jiro tak akan pernah bosan untuk mengagumi keindahan yang terpampang sempurna di hadapannya.

 

Jiro kemudian bangkit, melucuti sisa pakaian yang membalut tubuhnya sendiri, lalu ia kembali pada Ellie, dan berbisik pelan pada wanita itu.

“Bolehkah aku memulainya?”

Ya Tuhan! Jiro tak pernah melakukan ini sebelumnya, meminta izin dengan begitu lembut pada Ellie. Ellie tak bisa berbuat banyak, ia tidak mungkin menolak Jiro ketika gairahnya sendiri saja sudah sulit untuk dikendalikan. Akhirnya yang bisa Ellie lakukan hanya mengangguk, dan menjawab “Ya. Lakukanlah.”

Jiro tersenyum simpul. Tanpa banyak bicara lagi, ia mulai memposisikan diri untuk menyatu dengan Ellie. Mendesak pelan tapi pasti, hingga kemudian, tubuh mereka menyatu dengan begitu sempurna.

Ellie merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Jiro terasa penuh mengisinya, sedangkan Jiro, ia memilih mengendalikan diri agar bisa mengontrol gairahnya yang semakin menggebu saat merasakan Ellie terasa sesak menghimpitnya.

Jiro kembali membungkukan badannya, jemarinya mengusap lembut pipi Ellie, lalu bibirnya sesekali mengecup singkat bibir Ellie. Sedangkan yang dibawah sana tak berhenti bergerak, memompa seirama, mencari kenikmatan dan juga memberikan kenikmatan pada sang empunya.

Di satu sisi, Jiro tak ingin segera mengakhiri percintaannya dengan Ellie. Ia masih ingin memuja setiap inchi dari tubuh istrinya tersebut, Jiro masih ingin mencumbu bibir lembut Ellie yang seperti ceri. Tapi di sisi lain, Jiro tak dapat menahan gairahnya terlalu lama. Ia ingin segera meledak kemudian memulainya lagi dengan Ellie. Dan sepertinya, pemikiran terakhir tersebut menjadi pilihan Jiro.

Tak menunggu lama lagi, Jiro mulai menaikkan ritme permainannya. Bibirnya kembali mencumbu bibir Ellie, melumatnya dengan panas. Pergerakannya semakin cepat, menghujam lagi dan lagi, hingga kemudian, Jiro merasakan Ellie menegang, kewanitaannya mengencang, mencengkeram dengan erat, dan erangan tertahan oleh wanita itu menandakan bahwa Ellie baru saja sampai pada puncak kenikmatannya.

Jiro masih bergerak, lebih cepat dari sebelumnya, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri, hingga tak lama, ia menyusul Ellie sampai pada puncak kenikmatan tersebut.

Jiro menggeram saat bukti cintanya penuh mengisi Ellie, napasnya memburu, begitupun dengan napas Ellie. Keringatnya bercucuran, padahal kamarnya tentu berAC. Sesekali Jiro masih mengecubi bibir Ellie, pipi wanita itu, hingga kemudian ia berinisiatif untuk menarik diri dan menggulingkan tubuhnya ke samping Ellie.

Jiro mendesah panjang. Ia masih mengontrol diri dari gelombang gairah yang baru saja menghantamnya.

Jiro menolehkan kepalanya ke arah Ellie, wanita itu masih terengah, masih kelelahan karena orgasme yang baru saja menghantamnya. Lalu Jiro berinisiatif untuk bangkit meraih kotak tissue yang berada di atas nakas, menarik beberapa lembar untuk membersihkan dirinya, lalu menarik lagi beberapa lembar untuk membersihkan diri Ellie dari sisa-sisa percintaan panas mereka.

Ellie berjingkat seketika saat Jiro kembali menyentuhnya. Ia menatap penuh tanya pada lelaki di sebelahnya.

Jiro sendiri hanya tersenyum dan berkata “Aku akan membersihkanmu.”

“Aku, aku bisa sendiri.” jawab Ellie dengan gugup. Sungguh, tak pernah Jiro melakukan hal seintim ini padanya.

“Jangan. Aku ingin melakukannya untukmu.”

Ya Tuhan! Ellie merasa luluh lantak karena perlakuan lelaki ini. Pada akhirnya, Ellie memilih pasrah. Ia membiarkan Jiro untuk membersihkan dirinya, membersihkan bagian paling intim dari tubuhnya.

Jiro sendiri benar-benar melakukannya, mengusap lembut bagian intim dari tubuh Ellie dengan tissue-tissue tersebut. Membersihkannya dengan gerakan pelan. Tanpa diduga, Jiro mendengar Ellie sesekali mengerang karena ulahnya, hingga kemudian ia menatap Ellie dan bertanya “Ellie?”

Ellie yang tadi memejamkan matanya karena sentuhan Jiro tersebut akhirnya membuka matanya. Ellie tahu bahwa niat Jiro hanya untuk membantunya, tapi Demi Tuhan, sentuhan lelaki itu kembali membangkitkan gairahnya.

“James…” Ellie hanya bisa melirih, dan Jiro masih tidak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh istriny tersebut.

“Ada apa?” tanya Jiro sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Sentuhanmu membuatku kembali bergairah.” Ellie berkata dengan jujur.

Jiro sempat terkejut dengan kejujuran Ellie tersebut, kemudian ia tersenyum dan menjawab “Kamu ingin lagi?” tawar Jiro.

Ellie tampak bingung, ia harus menjawab apa. “Aku, aku tidak tahu.” Bisiknya nyaris tak terdengar.

“Pasti karena bayinya. Ya?” Jiro menatap perut Ellie yang sudah semakin membesar, mengusapnya lembut, lalu mengecupnya lagi dan lagi.

“Karena kamu juga.” Perkataan Ellie menghentikan aksi Jiro. Jiro mengangkat wajahnya dan menatap Ellie penuh tanya.

“Maksudmu?”

“Uum…” Ellie tampak ragu menjawabnya. “Ini, bukan sekedar karena hormon. Aku, aku menginginkanmu meski mungkin hormonku tidak sekacau saat ini.”

Jiro sempat tercenung mencerna apa yang dikatakan Ellie, tapi kemudian ia mengerti apa yang dimaksud oleh perkataan Ellie tersebut.

“Kamu benar-benar menginginkanku?” tanya Jiro lagi dengan nada yang begitu lembut.

Wajah Ellie kembali merah padam karena malu, tapi ia tidak ingin menolak dan bersikap munafik. Ia memang menginginkan Jiro, sentuhan lelaki itu seakan menggodanya kembali. Akhirnya Ellie hanya bisa mengangguk pasrah.

Jiro tersenyum, mendekat pada wajah Ellie kemudian ia berbisik “Kalau begitu, kamu hanya perlu mengakuinya, maka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan.”  Setelah itu, Jiro kembali mencumbu lembut bibir Ellie, melumatnya dengan panas, dan kembali membangun gairah untuk mereka berdua.

Jiro tidak tahu, kenapa hubungannya bisa seintim ini dan juga sepanas ini dengan Ellie dalam waktu yang cukup singkat. Maksudnya, selama Empat tahun terakhir, Jiro tidak pernah memperlakukan Ellie seperti ini. Elliepun tidak pernah menampilkan reaksi sepanas ini, tapi kini, keduanya seakan terbuka dengan apa yang mereka inginkan, keduanya seakan membiarkan saja semuanya berjalan dengan sendirinya, mengalir seperti air tanpa ingin menahan diri atau memungkiri diri sendiri. hal itulah yang membuat hubungan keduanya semakin dekat dalam jangka waktu beberapa minggu terakhir.

Kini, Ellie tak hanya cukup menarik untuk Jiro, bukan hanya kecantikan wanita itu yang mampu memikatnya. Tapi semuanya, semua yang ada pada diri Ellie seakan mampu mengikat Jiro hingga Jiro yakin bahwa ia tak akan mungin bisa lari dari diri Ellie.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin seorang Ellie mampu membuat dirinya berada pada titik seperti ini?

 

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 16

Comment 1 Standard

 

Bab 16

 

Masih mencoba mengendalikan dirinya akibat dari ucapan Ellie tadi, Jiro mengajak Ellie masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Mereka menuju ke ruang inap Bianca dan disambut dengan ramah oleh Jason dan juga Bianca.

“Elo belum pulang dari kemarin?” tanya Jiro yang segera mendekat ke arah Jason dan juga Bianca.

“Belum. Paling besok gue pulang sebentar terus balik lagi. Bee masih harus banyak istirahat.” Jawab Jason sembari menatap lembut ke arah Bianca. sedangkan Bianca hanya bisa menyunggingkan senyuman manisnya.

Kemudian, Jason menatap ke arah Ellie dan bertanya “Jadi ini….” ucapnya menggantungkan kalimat.

“Ellisabeth, istriku.” Dengan penuh percaya diri Jiro memperkenalkan Ellie pada Jason.

Jason tersenyum dan bertepuk tangan “Wow, wow, keren sekali, Bro.” goda Jason. Selama ini, Jiro memang tak mau membahas apapun tentang masalah pribadinya, tapi kemarin, temannya itu jujur dengan statusnya, dan kini, temannya itu memperkenalkan istrinya pada dirinya dan juga Bianca.

“Halo, Ellie. Aku Jason, panggil saja Jase.” Ucap Jason sembari mengulurkan telapak tangannya. Ellie menyambutnya dengan menyebutkan namanya. “Dan ini, Bianca, tunanganku.”

“Hai..” Bianca menyapa dengan ceria, meski wajah wanita itu masih tampak pucat.

Semua terjadi begitu cepat, Jason mengajak Jiro duduk di sofa panjang ujung ruangan, sedangkan Bianca meminta Ellie untuk tetap berada di dekatnya dan membahas tentang kehamilan.

“Uum, James bilang, kamu juga sedang hamil.” Ucap Ellie mencoba mencairkan suasana canggung. Bagaimanapun juga, mereka baru saling mengenal, jadi Ellie tidak tahu apa yang harus dibahas selain tentang kehamilan mereka.

“Iya. Aku juga baru tahu kemarin sebelum kecelakaan. Bahkan aku belum sempat memberitahu Jase.”

“Ohh.” Ellie menganggukkan kepalanya.

“Jadi, kamu benar-benar istri Jiro, ya?”

Ellie tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab apa. “Apa kurang pantas?” tanyanya kemudian.

“Oh tidak, tentu saja tidak. Maksudku, Jiro yang selama ini kukenal adalah pria pendiam, misterius, dan kupikir dia tipe orang yang sangat serius. Aku masih nggak nyangka kalau selama ini dia menyembunyikan suatu rahasia yang sangat besar.”

Ellie kembali menganggukkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu, bagaimana bisa aku bertahan selama ini. diperlakukan seperti seorang simpanan yang hanya dikunjungi saat perlu.”

“Benarkah dia memperlakukanmu seperti itu?” Bianca tampak terkejut.

“Ya. Aku tinggal di rumah kami, dan dia tinggal di apartmennya. Hanya beberapa bulan terakhir saja dia tinggal di rumah kami. Itupun tidak setiap hari.”

“Ohh, itu benar-benar menyebalkan.”

“Sangat.” Ellie setuju dengan ucapan Bianca.

“Tapi Ellie. Mungkin dia melakukan itu untuk kebaikanmu juga.”

“Maksudmu?”

“Dulu, aku juga tidak mengerti kenapa Jase menyembunyikan tentang hubungan kami. Jase hanya bilang bahwa itu bertentangan dengan kontrak mereka dengan management. Kemudian, karena rasa posesifnya yang berlebihan, Jase tetap mempublikasikan hubungan kami. Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Berbagai serangan datang padaku.”

“Kamu pasti bercanda.” Ellie tidak percaya.

Well. Kamu bisa melihat akun sosial mediaku yang sekarang menjadi sarang haters yang tak lain adalah fans Jase yang tidak suka Jase akan mengakhiri masa lajangnya.”

“Ya Ampun, sampai seperti itu?”

Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Jadi, pandai-pandailah mengerti. Kadang, mereka melakukan apa yang tidak kita suka untuk kebaikan kita.”

Ellie menganggukkan kepalanya. “Kalau boleh jujur, aku sudah tidak berminat tentang publikasi hubungan kami. James sudah berhenti jadi artis, bagiku itu sudah cukup.”

“Jadi, kamu mendukung keputusannya?”

“Sebenarnya, aku kurang suka dengan profesinya saat ini. tapi, ada satu sisi dimana aku mengaguminya sebagai seorang artis papan atas.”

“Ya. Mungkin itu akan menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita. Banyak perempuan di luar sana yang berharap bisa mengenal ataupun dekat dengan mereka, dan mereka memilih kita.” Ucap Bianca dengan pasti. “Ngomong-ngomong, kamu sudah berapa bulan?” tanya Bianca sembari melirik ke arah perut Ellie.

Ellie mengusao lembut perutnya. “Tujuh bulan.”

“Sudah mendekati masa persalinan, ya.” Ellie hanya mengangguk. Kemudian keduanya melanjutkan obrolan mereka tentang kehamilan masing-masing.

Di sudut lain ruang inap Bianca, Jason dan Jiro sedang membahas hal lainnya berdua, hingga keduanya tak sempat mendengarkan obrolan dari Bianca dan juga Ellie.

“Jadi, benar-benar The Danger ya, pelakunya?” Tanya Jiro sembari meneguk soda kaleng di hadapannya.

“Ya. Sudah ketangkep. Kamu tahu siapa? Cinta.”

Jiro tersedak seketika. “Apa? Jadi selama ini….”

“Ya, dia dalangnya.” Jason menghela napas panjang. Nama itu tentu tidak asing untuk Jiro. Cinta merupakan salah satu teman dekat Jason, Ken dan Troy, teman sejak sekolah. Dan Jiro benar-benar tidak mengerti untuk apa Cinta mendirikan sekumpulan fans fanatik untuk The Batman.

“Ini bukan pertama kalinya dia bertindak sesuka hatinya sendiri.”

“Maksudmu?”

“Dia dulu juga ngasih sesuatu di minuman Felly, dan ya, lo tau sendiri berakhir seperti apa.”

“Sialan! Gue nggak tahu apa rencara perempuan itu.”

“Sepertinya, dia cuma nggak mau gue dimilikin oleh seorang perempuan. Karena itulah dia ngelakuin hal yang nekat.”

Jiro menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Matanya menatap ke arah Ellie yang tampak asyik saling bercerita dengan Bianca. “Tapi sekarang semuanya sudah berakhir, Jase. Kita sudah selesai, jadi, nggak akan ada lagi fans-fans brutal seperti mereka kedepannya.”

“Ya, gue harap juga gitu.” Lalu Jason ikut menatap arah pandang Jiro. “Elo nggak marah kan, kalau kita benar-benar selesai?” tanya Jason kemudian. Ia tahu bahwa yang paling berambisi dan serius dengan The Batman selama ini adalah Jiro.

“Enggak, kenapa harus marah?”

“Gue pikir, diantara kita semua, elo yang hanya mikirin masa depan The Batman. Gue nggak nyangka kalau elo juga setuju untuk berhenti.”

Jiro tersenyum sedikit. “Kontrak gue sama The Batman sebenarnya tinggal Tiga sampai Lima bulan lagi. Dan gue memang sengaja untuk menyudahinya setelah kontrak berakhir. Dengan atau tanpa adanya masalah elo ini. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Dengan adanya masalah ini, gue hanya bisa mempercepat masa pensiun gue dari The Batman.

“Kenapa elo memilih berhenti?”

“Kemarin, gue kan sudah bilang. Gue mau fokus jagain dia.”

“Hanya itu?”

“Jase, Gue sudah membuat Ellie menunggu terlalu lama. Gue nggak tahu, sampai kapan dia memiliki kesabaran untuk gue. Gue hanya ingin berhenti sebelum kesabarannya habis.”

“Elo takut kehilangan dia? atau, dia ninggalin elo?”

Jiro mengangkat kedua bahunya. “Takut ditinggal sih enggak. Asal elo tahu, dia di sini sendiri, memangnya dia bisa ninggalin gue kemana?” ucapnya dengan nada sombong sembari sedikit tersenyum. “Tapi gue merasa sakit, saat dia berhenti peduli sama gue, gue kesal saat dia mengabaikan gue. Gue nggak mau itu terjadi.”

Jason menepuk bahu Jiro. “Berarti apa yang elo lakuin sudah benar. Perjuangkan dia.” ucapnya.

Jiro mengangguk dengan pasti. “Ya. Gue pasti akan lakuin itu.” Lalu Jiro menghela napas panjang. “Elo sendiri, apa yang akan elo lakuin selanjutnya?”

“Gue sudah bilang kemarin, Gue akan nikahin Bianca, lalu fokus sama usaha orang tua gue.”

Well, sepertinya, kita satu jalan.”

Jason tertawa lebar, Jiropun demikian. Keduanya lalu bersulang dengan minuman soda dalam kaleng yang berada di hadapan mereka dengan mata yang masing-masing menatap kepada perempuan yang mereka cintai di hadapan mereka.

***

Jiro dan Ellie sampai di rumah mereka pukul sepuluh malam. Keadaan di dalam rumah sepi, mungkin Mei pulang karena tahu bahwa Jiro malam ini pulang dengan Ellie, sedangkan dua pengawal yang ditugaskan Jiro untuk berjaga di luar rumah tentu sudah memiliki tempat istirahatnya sendiri yang tempatnya terpisah dengan bangunan utama rumah mereka.

Mengingat jika mereka hanya berdua, entah kenapa suasana diantara mereka menjadi canggug. Jiro tidak tahu apa yang terjadi dengannya, ia tidak pernah merasa secanggung ini dengan perempuan, apalagi perempuan itu adalah Ellie.

Maksudnya, selama ini, ialah yang selalu membuat Ellie malu-malu hingga pipi wanita itu merona-rona. Ia tidak pernah salah tingkah saat dihadapan Ellie apalagi memiliki kecanggungan hingga taraf setinggi ini.

Sial! Jiro sadar jika wanita ini semakin mampu mempengaruhinya. Apa Ellie sudah mengutuknya? Tidak! Yang Jiro tahu adalah bahwa semuanya berubah setelah Ellie menyatakan perasaan cintanya tadi dengan Jiro saat sebelum masuk ruang inap Bianca.

Bukannya Jiro tidak suka, hanya saja, Jiro merasa sedikit terganggu. Ia merasa bahwa ia ingin, Ellie tetap mencintainya. Ia tidak ingin berbuat salah sedikitpun di hadapan Ellie hingga membuat Ellie berhenti jatuh cinta padanya. Hal itulah yang membuat Jiro sedikit berubah.

Mengabaikan kecanggungannya, Jiro hanya berjalan tepat di belakang Ellie. Mengikuti kemana saja kaki mungil itu melangkah. Ellie rupanya segera menuju ke arah kamar mereka dan Jiro hanya mengikuti saja. Hingga ketika Ellie masuk dan akan menyalakan lampu kamar mereka, Jiro menghentikan pergerakannya dengan cara mencekal pergelangan tangan Ellie.

“Ada apa?” Ellie menatap Jiro dengan penuh tanya.

“Jangan dinyalakan.” Ucap Jiro dengan suara yang sudah serak. Kamar mereka memang tak gelap gulita, ada sebuah lampu tidur yang menyala di atas meja di dekat ranjang.

Ellie bingung apa yang diinginkan Jiro, tapi kemudian ia tahu apa maksud lelaki itu ketika lelaki itu mendekat ke arahnya. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Ellie, dan tampak, Jiro sedang menatapnya dengan mata berkabut. Jiro sedang menginginkan ‘jatahnya’ Ellie tahu itu.

“James.” Ellie menahan Jiro dengan mendaratkan telapak tangannya pada dada lelaki itu.

Jiro tidak mempedulikan Ellie yang manahannya. Lelaki itu tetap mendekat, merapatkan diri dengan tubuh Ellie. “Katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya.” Bisiknya dengan suara serak.

“Apa?” Ellie benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud Jiro.

Jiro tidak menjawab, ia memilih menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Ellie, mengecupnya dengan lembut, melumatnya dengan penuh gairah. Jiro mencumbu bibir Ellie hingga mau tak mau Ellie larut terbawa oleh pusaran gairah yang diciptakan oleh suaminya tersebut.

Ya Tuhan! Ellie tidak mampu menolak Jiro, tidak salah bukan, jika ia lagi-lagi jatuh terlena dengan pesona suaminya tersebut?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 15

Comments 2 Standard

Bab 15  

 

Jason, Jiro, Ken dan Troy duduk bersama dengan Fahri dan juga pendamping mereka. Di hadapan mereka terdapat sebuah meja panjang dengan berbagai macam mikrofon dari berbagai stasiun televisi.

Semua yang berada di sana merasa gugup, tapi kemudian, Farhi mulai membuka suara, menyapa semua media yang berada di sana dan kemudian sedikit mencairkan suasana.

“Jadi, tujuan kami untuk mengumpulkan semuanya di sini adalah untuk melakukan jumpa pers terakhir dari band kami, The Batman.” Semua yang ada di sana masih hening, karena ingin tahu apa selanjutnya yang akan diutarakan oleh Fahri. “The Batman akan vakum, selamanya.”

Setelah kalimat terakhirnya, suasana di ruangan tersebut menjadi riuh. Para wartawan memberondong mereka dengan berbagai macam pertanyaan, dan karena mereka tak tertib, maka tak ada satu pertanyaanpun yang mampu di dengar dengan sempurna oleh pihak The Batman.

Akhirnya, Jason berinisiatif membuka suara. Ia mengambil alih mikrofon yang digunakan oleh Fahri tadi lalu mulai membuka suaranya.

“Mohon untuk tenang, kami akan menjelaskan kepada kalian. Dan mungkin akan menjawab beberapa pertanyaan kalian.”

Setelah perkataannya tersebut, awak media akhirnya kembali tenang.

“Jadi, apa ini fakta? Atau hanya sensasi kalian semata untuk persiapan album baru kalian?” Seorang wartawan memberanikan diri untuk bertanya seperti itu.

“Ini fakta. The Batman benar-benar vakum. Tidak akan ada lagi album baru, atau konser-konser baru. Kami hanya akan melanjutkan beberapa kontrak yang ada yang memang tidak bisa dibatalkan seperti tampil di beberapa acara dalam waktu dekat dan melanjutkan sisa kontrak menjadi brand ambasador beberapa produk.”

“Lalu bagaimana dengan karir kalian? Bagaimana dengan fans-fans kalian?”

“Aku tau ini akan menyakiti penggemar kami. Tapi kami sudah sepakat. The Batman tidak akan ada lagi. Kami sudah memutuskan untuk berhenti. Aku dan Jiro akan fokus dengan kehidupan pribadi kami. Sedangkan Troy dan Ken akan tetap di dunia hiburan dengan bersolo karir.”

“Apa ini ada hubungannya dengan rumor The Danger yang mencelakai kekasihmu?”

“Apa ini berhubungan dengan gosip Jiro yang ternyata sudah menikah?”

“Tolong.” Jason berdiri. “Ini keputusan kami bersama. Aku akan menikah dan akan melanjutkan usaha keluargaku. Teman-temanku mendukung. Mereka tidak bisa berkarir lagi dengan The Batman tanpa aku karena kesetiaan mereka yang patut dihargai. Karena itulah kami memutuskan untuk berhenti. The Batman akan menjadi sebuah nama, sebuah cerita, sebuah kenangan indah untuk kita bersama. Tolong, jangan lagi timbul gosip yang tidak-tidak.”

Jason dan yang lain  benar-benar berharap, bahwa tak akan ada lagi timbul gosip-gosip yang tidak diinginkan. Bagaimanapun juga mereka ingin mengakhiri semuanya dengan baik-baik tanpa ada skandal atau kontroversi yang mengirinya.

***

“Jiro, apa benar alasanmu berhenti karena kamu sudah memiliki istri?”

“Jiro, Tolong dong, komentarnya.”

“Jiro, bagaimana komentarmu tentang The Danger?”

“Jiro, bagaimana dengan Vanesha?”

Dari dalam layar televisi, tampak Jiro sedang dikerubungi oleh banyak wartawan, begitupun dengan para personel lainnya. Tapi Jiro tampak enggan membuka mulutnya. Lelaki itu hanya sesekali menampakkan senyumannya tapi tetap melenggang masuk meninggalkan tempat dimana mereka melakukan jumpa pers.

Mei yang melihatnya sempat kesal. Ia bahkan menggerutu sendiri ketika melihat tayangan ulang tersebut.

“Aku masih nggak nyangka kalau kamu tenang-tenang saja, Ellie. Dia tidak mengungkapkan hubungan kalian.” Ucap Mei dengan nada kesal sedangkan Ellie masih asyik mengupas jeruk yang ada di tangannya.

“Aku tidak peduli, Mei. Yang kupedulikan adalah, bahwa dia menepati janjinya untuk selalu berada di sisiku.”

“Tapi itu mungkin akan menjadi kesempatan terakhir untuknya, Ellie. Kesempatan terakhir untuk menunjukkan kamu dihadapan publik.”

“Itu sudah tidak berarti untukku lagi, Mei. James sudah berhenti dari dunia hiburan, jadi untuk apa dia mempublikasikan hubungan kami? Kupikir itu sudah tidak diperlukan lagi. Beberapa bulan kedepan, dia akan menjadi orang biasa, bukan artis yang setiap pergerakannya akan dipantau oleh kamera.”

“Kamu pikir akan semudah itu?”

“Ya.” Ellie menjawab dengan santai.

“Ellie…”

“Mei, bagiku dia sudah pulang, dia sudah kembali padaku, itu sudah cukup.”

Mei menghela napas panjang. “Kadang aku bingung. Sebenarnya apa yang kamu inginkan, dan apa yang kamu rasakan, Ellie?”

Ellie tersenyum. Ia menyantap satu sisir buah jeruk yang ada di genggamannya. “aku hanya mencintainya, Mei. Kemarin, aku ingin sebuah pengakuan karena James adalah artis populer, dan aku tak mau dia dikenal sebagai seorang lajang. Kini, dia sudah memutuskan untuk berhenti, dia akan menjadi orang biasa, jadi kupikir pengakuan itu tak lagi penting.”

“Aku hanya nggak mau kamu tersakiti lagi, Ellie. Kamu sudah seperti saudaraku sendiri, jika Jiro menyakitimu, akupun merasa sakit karena perlakuannya padamu.”

Ellie tersenyum lembut. “Astaga, Mei. Kamu manis sekali.” Godanya.

Mei mendengus sebal. “Aku sedang tidak bercanda tahu.” Gerutunya.

“Iya. Aku mengerti, Mei.” Lalu Ellie bergegas menuju ke arah Mei dan memeluk tubuh wanita di hadapannya tersebut. “Terimakasih, kamu selalu ada untukku dan selalu mendukungku, Mei.”

Mei tersenyum. “Tentu saja. Kamu sudah seperti saudaraku sendiri, Ellie.” Keduanya saling berpelukan satu sama lain. Ellie merasa senang dan sangat beruntung karena sudah memiliki sosok Mei, sosok yang selalu berada di sisinya, mendukungnya dalam keadaan apapun.

***

Siang itu, Ellie diminta untuk bersiap-siap karena Jiro akan mengajaknya ke suatu tempat. Ketika Ellie bertanya akan kemana? Dengan santai Jiro menjawab bahwa nanti, Ellie akan tahu kemana mereka akan pergi.

Akhirnya Ellie menuruti saja apapun keinginan Jiro. Mereka berhenti pada sebuah gedung tunggal yang tak cukup besar. Jiro keluar dari dalam mobilnya dan meminta Ellie untuk keluar bersamanya.

“Ini dimana?” tanya Ellie saat mereka berada di depan pintu gedung tersebut.

“Ini Studio musik milik Jason, kami biasanya nongkrong dan latihan di sini?”

“Oh ya? Lalu, kenapa kamu mengajakku ke sini?” Ellie tampak bingung.

“Aku akan mengenalkanmu dengan teman-temanku.”

“Apa?” sungguh. Ellie terkejut dengan apa yang dikatakan Jiro. Dengan penuh perhatian Jiro meraih telapak tangan Ellie, mengecupnya singkat kemudian menggenggamnya erat.

“Ayo masuk.” Ajaknya. Dan Ellie menuruti saja apapun yang akan dilakukan lelaki itu terhadap dirinya.

Mereka memasuki gedung tersebut, lalu berjalan dan berhenti di ruangan paling ujung. Jiro menatap Ellie sebelum ia membuka pintu ruangan tersebut.

Di dalam studio sudah ada Ken dan juga Troy. Ellie hanya bisa menundukkan kepalanya ketika mendapati dua lelaki itu menatap ke arahnya.

“Jiro?” Ken terkejut saat Jiro datang dengan seorang perempuan di sisinya. Ken segera menatap ke arah Troy, tapi tampaknya Troy tak mempermasalahkan kedatangan Ellie. Lelaki itu tampak santai dengan keadaan ini.

“Ya.” Hanya itu yang diucapkan Jiro. “Jase mana? Masih di rumah sakit?” tanyanya kemudian.

“Ya. Dia masih di sana.” Jawab Ken kemudian. “Dia hanya keluar saat kita ketemu media dua hari yang lalu, setelah itu dia balik lagi ke rumah sakit dan nggak keluar lagi. Kabarnya, pagi ini Bianca sudah sadar.”

“Syukurlah kalau dia sudah sadar.” Jiro lalu menarik Ellie mendekat. “Gue cuma mau kenalin dia sama kalian.”

Troy mendekat, lengkap dengan senyumannya. “gue sudah kenal.” Ucapnya.

“Troy.” Ken mengingatkan. Ia tidak ingin mereka berakhir seperti malam itu saat di parkiran rumah sakit.

“Ellie, adik elo, kan?”

“Istri. Dia istri gue.” Ralat Jiro penuh penekanan.

Troy tertawa lebar. Seperti orang gila, lelaki itu melemparkan diri ke sofa panjang yang berada di ujung ruangan.

“Ya ampun Jiro. Elo lucu banget sih. Elo takut banget ya, kalau Ellie gue terkam. Hahahahha.” Ucap troy masih dengan tawa lebarnya.

“Brengsek!” mau tak mau Jiro mengumpat. Tapi kemudian ketegangan segera menguap. Jiro tahu bahwa Troy menghormatinya. Lelaki itu hanya menggodanya dan membuatnya kesal. Troy pasti tak akan berbuat macam-macam dengan Ellie, karena Jiro cukup tahu bahwa Troy tidak akan main-main dengan perempuan baik-baik seperti Ellie.

Ken kemudian tersenyum. Ia merasa lega karena tak ada ketegangan lagi diantara mereka. Ken lalu mendekat dan mengulurkan jemarinya pada Ellie.

“Jadi ini, istrinya Jiro si Misterius?” tanyanya. “Kenzo. Panggil aja Ken.” Ucapnya sembari memperkenalkan diri.

“Ellie.” Ellie membalas uluran tangan Ken.

Ellie dipersilahkan duduk, dan Ellie menurut saja. Dengan perhatian Ken mengambilkan sebotol air dingin untuk Ellie. Ya, diantara mereka Ken memang personel yang paling baik dan menghormati sosok perempuan. Ellie berterimakasih, ia masih tidak menyangka jika dirinya disambut dengan baik oleh teman-teman Jiro.

“Ellie, maaf. Karena aku sempat terang-terangan ngedeketin kamu. Kalau si brengsek ini jujur dari awal, mungkin aku nggak akan ngelakuin itu.” Troy berujar.

“Iya, aku mengerti.” Ellie membalas.

“Jadi, sejak kapan kalian nikah?” Ken yang bertanya. Sebenarnya Ken sudah pernah mendengar dari Jiro tentang berapa lama usia pernikahan mereka, tapi Ken ingin mendengar sendiri dari bibir Ellie.

Ellie menatap Jiro, sedangkan Jiro tampak menyerahkan semua jawaban pada Ellie. “Sudah lebih dari Empat tahun yang lalu.” Jawab Ellie kemudian.

“Dan selama itu, kamu mau disembunyikan?” tanya Ken lagi.

“Ya.” Jawab Ellie dengan nada lirih.

“Apa bedanya elo sama Kesha? Elo juga nyembunyiin hubungan elo dengan Kesha selama ini.” Jiro akhirnya membela diri.

“Beda.” Ken menjawab dengan cepat. Tubuhnya menegang ketika nama perempuan itu disebut oleh Jiro. “Kesha dan gue cuma pacaran. Lagian kalian tahu status kami, hanya media yang nggak tahu. Dan jangan lupakan fakta, kalau gue sudah putus.”

“Tunggu dulu.” Troy memotong kalimat Ken. “Jadi elo benar-benar putus sama dia?”

“Ya.” Ken menjawab dengan cepat dan pasti.

“Sialan. Bukannya elo cinta mati sama dia.”

“Dia yang mutusin gue! Brengsek, Troy!”

Jiro dan Troy saling pandang, kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak. Tak pernah ia melihat Ken bersikap seperti ini. Ken adalah tipe pria yang kalem, tapi sekarang, lihat, temannya itu tampak berapi-api.

“Sinting kalian berdua.” Akhirnya Ken memilih bangkit dan menjauh, menuju ke arah gitarnya.

Ellie yang melihat interaksi dan kedekatan diantara mereka bertiga hanya bisa tersenyum simpul. Jika dulu, Ellie enggan mengenal salah satu dari personel The Batman, maka kini, Ellie ingin mengenal mereka semua dan berteman dengan mereka semua seperti Jiro.

Ellie tahu, bahwa ia salah karena ia pernah membenci The Batman dan para personelnya karena baginya, band itulah yang membuat Ellie jauh dengan Jiro. Tapi kini, sepertinya Ellie tak perlu membenci mereka semua. Jiro sudah kembali padanya, Jiro sudah melepaskan semuanya untuk dirinya.

***

“Kenapa kita ke rumah sakit?” tanya Ellie ketika Jiro memarkirkan mobilnya di tempat parkir sebuah rumah sakit.

“Kenapa? Kamu nggak mau? Kamu lelah?” Jiro malah bertanya balik pada Ellie.

“Tidak. Aku hanya bingung, kenapa kita ke rumah sakit.”

“Aku mau ngenalin kamu sama satu lagi personel The Batman. Jason, dialah yang punya The Batman. Dan dia sedang menunggui tunangannya di dalam.”

“Oohh, yang tadi kalian bahas ya? Jadi, tunangan Jason benar-benar ditabrak oleh perempuan gila itu?” tanya Ellie. Tadi, Jiro memang sempat membahas masalah ini dengan Ken dan Troy. Ellie sedikit mengabaikannya karena tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.

Jiro membuka sabuk pengamannya, kemudian ia membantu Ellie membuka sabuk pengaman yang dikenakan wanita tersebut. “Ya, mereka menyebut dirinya sebagai The Danger. Perempua-perempuan gila yang fanatik dengan The Batman.”

“Terus gimana?”

“Sudah ditangkap karena kasus Bianca ini. Bee nggak sekali dua kali mereka teror. Tapi ini yang terparah. Sampai dia masuk rumah sakit, padahal lagi hamil. Itu juga menjadi salah satu alasan kenapa aku nggak mau ngenalin kamu di depan publik.” Ucap Jiro sembari mengusap lembut pipi Ellie.

“James.” Entah kenapa tiba-tiba Ellie ingin memeluk Jiro. Ia merasa terharu, ia merasa tersentuh dengan pernyataan Jiro tersebut. Ia tidak tahu bahwa Jiro berpikir sampai kesana, dan hal itu benar-benar membuat Ellie tersentuh.

“Ada apa?” Jiro bingung dengan sikap Ellie yang tiba-tiba berubah menjadi semanja ini.

“Aku mencintaimu, James. Aku mencintaimu….”

Deggg….

Deggg….

Deggg….

Jiro tak tahu apa yang terjadi, kenapa ia merasakan jantungnya berdebar, memukul rongga dadanya hingga terasa sakit. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti ini, Ya Tuhan! Apa yang sedang terjadi? Apa ia juga jatuh cinta pada wanita ini??

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 14

Comment 1 Standard

 

Bab 14

 

“Elo?” Jason menatap Jiro penuh tanya.

Jiro menganggukkan kepalanya. “Gue sudah nikah, sejak lama. Sekarang dia lagi hamil, dan butuh gue di sampingnya. Gue mau jagain dia.” perkataan Jiro benar-benar membuat Jason dan yang lainnya terkejut. Troy bahkan sudah memucat mendengar pernyataan tersebut. Tapi kemudian, suasana hening setelah pernyataan Jiro tersebut segera berakhir saat Ken mengungkapkan alasannya.

“Gue akan bersolo karir.” Kali ini Ken berkata. “Mungkin, gue akan vakum sementara sebelum mulai lagi karir gue. Gue stress karena masalah percintaan sialan gue. Jadi gue mau menghilang sebentar dari dunia hiburan.”

“Elo lagi ada masalah sama Kesha?” tanya Jason kemudian. Jason dan yang lain  baru sadar jika selama beberapa minggu terakhir, mereka sangat jarang bahkan hampir tak pernah melihat Kesha di studionya untuk menemani Ken latihan.

“Kami putus.”

Ruangan tersebut kembali hening, tapi kemudian Troy mencairkannya kembali.

“Woww, ada apa dengan kalian semua?” Troy yang membuka suara. “Oke, mungkin di sini gue yang nggak punya masalah. Gue berhenti karena gue tahu, nggak akan ada lagu yang bisa gue iringin jika bukan lagu-lagu The Batman. Gue nggak mau ngiringin band lain. Jadi gue akan berhenti dan memilih karir lain.”

“Misalnya?” tanya Jason.

“Model. Elo tahu sendiri kan, diantara kalian gue yang paling sering dipanggil buat pemotretan majalah-majalah panas? Dan gue bener-bener menikmatinya. Disana gue bisa kenal banyak perempuan, tentunya.”  Semuanya tersenyum dengan perkataan Troy. “Tapi gue mau, kita tetap kompak. Sekali dua kali ketemu buat latihan. Kalian masih mau, kan? Bagaimanapun juga, musik adalah hidup gue.” Lanjut Troy lagi.

“Studio gue akan selalu menyambut kalian semua.” Jason menjawab. “Gue juga berharap kita masih sering main di sana walau nanti sudah nggak eksis lagi.”

“Tentu saja.” Jiro mengiyakan, sedangkan Ken hanya tersenyum dan mengangguk setuju.

Jason tampak senang saat akhirnya ia mendapatkan sebuah kesepakatan dengan yang lainnya, padahal dalam hati, Jason masih berharap jika mereka tetap melanjutkan karir walau tanpa dirinya. Tapi jika teman-temannya itu memilih berhenti seperti dirinya, maka Jason tak dapat berbuat banyak.

Begitupun dengan Jiro, ia tidak menyangka bahwa The Batman akan berakhir seperti sekarang ini. Jiro memang sempat berpikir akan mengundurkan diri, tapi ia masih tidak percaya bahwa yang lain juga memikirkan hal yang sama. Mereka jenuh, mereka cukup lelah dengan kepopuleran mereka, dan mereka ingin kehidupan lama mereka kembali lagi. Itulah yang dirasakan Jiro saat ini.

***

Sampai di parkiran rumah sakit, Troy mendekati Jiro ketika Jiro akan masuk ke dalam mobilnya.

“Gue pengen ngomong.” Ucap Troy kemudian. Jiro tahu apa yang akan dibicarakan Troy. Temannya itu pasti akan membahas status yang baru saja ia ungkap, dan itu pasti berhubungan dengan Ellie.

Ken yang tak jauh dari sana akhirnya ikut mendekat. Ken takut ada hal serius yang terjadi. Karena Ken cukup tahu apa masalah Jiro dengan Troy. Troy sering bercerita tentang adik Jiro, Troy sedang mendekati wanita itu, dan tadi dengan begitu mengagetkan, Jiro mengakui statusnya yang sudah menjadi seorang suami dan calon ayah. meski Jiro tak mengatakan secara gamblang siapa wanita itu, tapi Ken bukan orang bodoh yang tak dapat menerka siapa orangnya.

“Ada apa lagi, Troy? Ini sudah malam, gue mau pulang.”

“Gue cuma mau memperjelas. Lo beneran sudah nikah?”

“Ya.” Jiro menjawab seadanya.

“Sejak kapan?”

“Lebih dari Empat tahun yang lalu.”

“Brengsek lo!” Troy mengumpat keras. “Dan selama itu elo nyembunyiin istri elo?”

“Troy. Ini bukan urusan elo. Ini masalah pribadi gue.” Jiro akan pergi, tapi Troy kembali menghadangnya.

“Satu lagi.”

“Apa?” Sungguh, Jiro merasa enggan membahasnya, apalagi dengan Troy.

“Apa perempuan itu adalah Ellie?” tanpa basa-basi, Troy bertanya. Jiro tampak tak ingin menjawab, tapi Troy kembali mendesaknya. “Katakan, Jiro! Apa istri elo itu adalah Ellie?”

Dengan sebal Jiro menjawab, “Kalau iya kenapa?”

Dan secepat kilat bogem mentah Troy mendarat pada wajah Jiro. Ken yang berada di sana segera menengahinya, memaksa Troy untuk mundur menjauh dari Jiro.

“Elo apa-apaan Troy?” Sungguh, Ken tak percaya bahwa Troy akan mendaratkan pukulannya pada Jiro. Bukankah seharusnya Jiro yang melakukan hal itu? Troy sudah terang-terangan mendekati istri Jiro, kenapa jadi Troy yang memukuli Jiro?

“Itu hadiah yang sepadan untuk orang yang sudah mengabaikan istri seperti Ellie.”

“Sial Troy! Elo sudah gila?” Ken masih tak habis pikir.

“Gue pernah bersumpah kalau gue akan memukuli suami Ellie kalau gue ketemu, dan gue sudah melakukannya saat ini.”

“Brengsek! Gue juga bersumpah akan mematahkan kaki dan tangan siapa saja yang berani nyentuh seujung rambut istri gue, dan itu juga berlaku untuk elo.” Setelah perkataannya tersebut, secepat kilat Jiro menerjang tubuh Troy. Jiro bahkan mengabaikan keberadaan Ken. Ia membabi buta, saling baku hantam dengan Troy dan juga Ken, hingga kemudian, satpam rumah sakit merelai ketiganya.

***

Malam itu, Jiro pulang ke rumahnya. Setelah ia, Ken dan juga Troy diamankan di pos satpam rumah sakit, ketiganya dilepaskan karena ketiganya sudah menunjukkan sikap baik mereka.

Jiro sudah menahan emosinya, begitupun dengan Troy yang emosinya pun sudah menguap entah kemana. Mereka bahkan sempat saling berbicara sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.

“Jadi benar-benar Ellie, ya?” tanya Troy yang masih kurang yakin dengan apa yang ia dengar tadi.

“Ya.”

“Sial! Kalau sejak awal elo bilang, gue nggak mungkin dekatin istri teman gue sendiri.”

“Elo pikir mengakui semua itu gampang?” Jiro bertanya pada Troy.

“Apa susahnya ngakuin semua itu sama kita? Kita semua temen elo. Lo pikir kita bakal buka mulut ke Lambe Turah? Yang bener aja.”

“Sial!” Jiro mengumpat. Apa Troy sedang melemparkan sebuah lawakan?

“Denger, kita semua bakal dukung elo.” Ken yang membuka suara. “Punya istri atau tidak, elo bakal tetap menjadi bagian dari The Batman. Kita gak mungkin buka rahasia elo di depan umum.”

“Kalian nggak ngerti.”

“Kalau begitu buat kami supaya ngerti.” Troy menjawab cepat. “Elo pikir ada perempuan yang mau disembunyikan selama itu? Gue bersikap seperti ini bukan hanya karena gue peduli sama Ellie, tapi karena apa yang elo lakuin emang salah. Elo beruntung punya istri sesabar dia.”

“Gue hanya nggak mau menarik dia terlalu jauh ke dalam urusan gue di dunia intertain.”

“Itu bukan alasan yang masuk akal. Elo nikahin dia sejak elo belum jadi artis. Kalau elo berpikir seperti itu, kenapa elo memutuskan menjadi artis setelah nikah sama dia?” Troy tak mengerti apa maksud Jiro karena itulah ia kekeh bertanya apa alasan Jiro memperlakukan Ellie seperti itu selama ini.

“Ketertarikan gue dengan dia tidak sebesar sekarang, Troy! Elo nggak akan ngerti.” Jiro mengusap rambutnya kasar.

“Maksud elo?” kali ini Ken yang bertanya.

“Gue nikahin dia hanya karena perjodohan. Gue nggak ada perasaan apapun sama dia. dia hanya sebatas cantik dan menarik hati gue. Hanya itu. Dan sekarang, semua berubah. Dia menjelma menjadi sosok yang begitu mempengaruhi diri gue. Gue hanya nggak mau melibatkan dia terlalu jauh dengan urusan-urusan gue yang memusingkan.”

“Tapi dengan elo nyembunyiin dia, elo juga menyakitinya, Jiro.” Ken berkomentar. “Benar apa yang dikatakan Troy, nggak seharusnya elo ngelakuin hal ini, minimal, biarkan dia mengenal kita, agar dia tenang, bahwa suaminya tidak berbuat macam-macam di luar.”

Jiro menganggukkan kepalanya. “Gue akan kenalin dia sama kalian.”

“Gue udah kenal.” Troy menjawab cepat dengan raut kesalnya.

“Sebagai adik gue.” Jiro meralatnya. “Gue akan ngenalin dia sebagai istri gue pada kalian.”

 

Jiro menghela napas panjang, kakinya melangkah menuju ke arah kamar. Membuka pintunya dan bersyukur karena Ellie tidak mengunci dari dalam kamar tersebut.

Tanpa menyalakan lampu kamarnya, Jiro masuk ke dalam, ia berjalan mendekat ke arah ranjang, kemudian menatap tubuh Ellie yang tampak tertidur pulas, meringkuk memeluk sebuah guling. Jiro merasa perasaannya seperti diremas-remas ketika menatap bayangan itu. Ellie tampak menyedihkan, wanita itu tampak kesepihan, tidur sendiri memeluk gulingnya. Jiro merasa menjadi suami yang paling brengsek di dunia ini.

Mei benar, Ellie tidak membutuhkan apapun. Ellie hanya membutuhkan dirinya untuk berada di sisi wanita itu, menemani melewati masa kehamilannya. Ellie tak butuh penjagaan, Ellie tak butuh fasilitas, Ellie hanya butuh dirinya.

Apa yang dikatakan Troy juga benar. Tak ada perempuan yang mau disembunyikan status pernikahannya, dikenalkan sebagai seorang adik, dicampakan dan diperlakukan layaknya seorang simpanan, hanya Ellie yang bisa menerima hal itu, hanya Ellie yang mampu bersabar dengan keegoisannya.

Ya Tuhan! Jiro benar-benar merasa bersalah.

Dengan spontan, Jiro melepaskan T-shirt yang ia kenakan, bertelanjang dada kemudian ia naik ke atas ranjang. Jiro memposisikan dirinya tidur miring menghadap ke arah Ellie. Jiro mengamati wajah istrinya, jemarinya terulur mengusap lembut pipi Ellie.

Halus, dan lembut. Putih, mendekati pucat. Jiro merasakan sebuah kedamaian. Ia tidak tahu bahwa menatap Ellie sedekat ini membuatnya begitu damai.

Kemudian, Jiro terkejut saat mendapati Ellie membuka matanya. Jemari Jiro membatu pada pipi Ellie saat wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“James? Apa yang kamu lakukan?” Ellie bertanya dengan suara seraknya.

Sial! Jiro tergoda.

Ya Tuhan! Padahal Jiro tahu bahwa ia harus bicara, ia harus meminta maaf kepada Ellie, ia harus mengatakan pada Ellie bahwa kini dirinya sudah siap meninggalkan semuanya untuk wanita itu. Tapi Jiro tak mampu mengatakannya. Ia bukan tipe lelaki yang pandai berbicara, ia hanya akan melakukan hal tersebut tanpa banyak omong.

Bukannya menjawab pertanyaan Ellie, Jiro malah mendekatkan diri, mengangkat dagu Ellie kemudian mencumbu bibir lembut istrinya tersebut. Ohh, Jiro merindukan cumbuan ini, Jiro merindukan menyentuh Ellie. Ia terbuai dengan kelembutan bibir Sang Istri, tapi kemudian Jiro tersadar dari buaiannya ketika Ellie dengan paksa melepaskan tautan bibirnya kemudian mendorong Jiro menjauh.

“James. Kamu kenapa?” Sungguh, Ellie merasa bingung. Kenapa Jiro tiba-tiba datang dan memperlakukannya seperti itu.

“Aku… menginginkanmu.”

Jiro berbisik dengan suaranya yang sudah parau, kemudian ia kembali mencumbu bibir Ellie, melumatnya dengan lembut, hingga kemudian, Ellie tak mampu menolak apa yang akan dilakukan oleh suaminya tersebut.

***

Setelah melakukan percintaan panas, Ellie segera memposisikan dirinya miring memunggungi Jiro. Jika boleh jujur, Ellie merasa malu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menolak Jiro, ia berusaha untuk tidak mempedulikan Jiro, tapi ketika Jiro menyentuhnya dengan lembut, Ellie tak mampu menolaknya.

Ellie terbawa dengan pusaran gairah yang dibawa oleh lelaki tersebut, Ellie tergoda, Ellie tidak mampu untuk menahan diri agar tidak tertarik dengan sosok Jiro. Ya Tuhan! Ellie merasa kalah.

Sembari mengeratkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, Ellie berusaha untuk memejamkan matanya, ia berharap bahwa Jiro segera tidur tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena Ellie benar-benar merasa malu ketika mungkin saja Jiro akan membahas tentang hubungan tak masuk akal mereka.

Nyatanya, itu hanya harapan Ellie saja. Ellie merasakan bahwa Jiro mendekat ke arahnya. Lelaki itu mulai membuka suaranya hingga mau tidak mau Ellie berhadapan dengan rasa malunya.

“Besok, akan ada jumpa pers lagi.” Jiro membuka suaranya.

Ellie mendengus sebal. Jika Jiro ingin membahas tentang karir sialannya dengan The Batman, maka sumpah, Ellie tidak mau tahu.

“Aku tidak peduli, James.” Ucapnya dengan nada ketus.

“Kami akan vakum.” Tiga kata itu membekukan diri Ellie. “Kami sudah memutuskan kalau kami akan berhenti.” Lanjut Jiro lagi.

Ellie segera membalikkan tubuhnya, ia menatap Jiro, mencari-cari kebohongan di saja. Jika boleh jujur, Ellie memang sudah kehilangan kepercayaan dengan Jiro sejak lelaki itu mengingkari janjinya untuk mempublikasikan hubungan mereka setelah konser The Batman saat itu. Dan kini, Ellie tak mendapatkan sedikitpun kebohongan di mata Jiro.

“Kenapa?” dengan spontan Ellie bertanya.

“Mungkin kami sudah lelah.”

“Ke –kenapa sekarang?” tanya Ellie lagi.

Jemari Jiro terulur, mengusap lembut pipi Ellie. “Mungkin, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengakhiri semuanya.”

“James…” Ellie melirih, ia melihat dengan jelas raut sedih di wajah suaminya. Musik mungkin adalah hidup Jiro, dan lelaki itu kini sedang melepaskan semuanya.

“Ellie.” Jiro menyebut nama Ellie dengan begitu lembut. “Maafkan aku. Aku sudah membuatmu menunggu begitu lama.”

Ellie menggelengkan kepalanya, lagi-lagi Ellie kembali luluh dengan lelaki ini.

“Aku memang belum bisa mengatakan semuanya di depan media. Tapi aku akan berhenti, dan aku akan menghabiskan waktuku untuk menemanimu. Apa itu sudah cukup untukmu?”

Ellie tersenyum dan mengangguk dengan antusias. “Apa kamu tahu, James. Aku tidak perlu pengakuan itu andai saja kamu selalu berada di sisiku dan memperlakukan aku dengan benar.” Ya, jika saja Jiro memperlakukan Ellie dengan benar, maka Ellie akan bersabar, lebih banyak bersabar. Yang membuat Ellie kecewa adalah, bahwa selama ini selain tidak diakui, Jiro juga hanya memperlakukannya layaknya seoreang simpanan. Hal itulah yang membuat Ellie menuntut Jiro lebih ketika ia mengandung bayi dari lelaki tersebut.

“Aku akan melakukannya, Ellie. Aku akan melakukannya. Kita akan hidup dengan normal sebagai suami istri dan orang tua yang baik.”

“Aku… ingin percaya, tapi aku takut kecewa….”

Jiro menggelengkan kepalanya. “Kali ini, tolong, percayalah denganku.”

Mata Ellie berkaca-kaca seketika. Ia ingin percaya, sungguh, tapi ia benar-benar takut untuk dikecewakan lagi oleh suaminya tersebut, suami yang begitu ia cintai…

Dengan spontan Jiro meraih tubuh Ellie, menariknya masuk ke dalam pelukannya. “Percayalah denganku lagi, Ellie. Percayalah, aku akan mengakhiri semuanya dan kembali padamu…”

***

Sore itu, akhirnya semua personel The Batman beserta Tim Management mengadakan jumpa pers kembali.

Tadi pagi, Jiro dan teman-temannya sudah menghadap pada Fahri selaku manager The Batman dan juga dengan penasehat hukum managementnya. Jason juga hadir, meski Bianca belum sadar, tapi Jason harus datang untuk menyelesaikan semuanya.

Mereka memutuskan bahwa mereka akan benar-benar vakum dari dunia hiburan. The Batman sudah selesai sampai pada titik ini. Mereka tak akan lagi mengeluarkan lagu atau album baru, tak akan ada lagi konser-konser baru, kontrak-kontrak baru, dan tak akan produktif lagi di dunia hiburan. Meski begitu, mereka menyepakati, bahwa akan menyelesaikan beberapa kontrak yang memang tidak bisa dibatalkan. Seperti misalnya undangan tampil di beberapa acara dalam waktu dekat, kontrak-kontrak menjadi brand ambasador beberapa produk, dan sejenisnya.

Fahri selaku pihak management, benar-benar merasa kehilangan akan hal ini. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa berbuat banyak. Andai saja, hanya Jason yang keluar, atau mungkin hanya Jiro, mungkin Fahri akan mencarikan penggantinya dengan masih menggunakan band The Batman. Tapi sayangnya, mereka semua memutuskan untuk berhenti. The Batman adalah milik Jason, Ken, Troy dan Jiro, jika semua personelnya berhenti, maka Fahri tidak bisa mencegahnya, atau lebih bodoh lagi, tetap menggunakan nama The Batman dengan memperbarui semua personelnya. Ia tahu bahwa jika langkah itu yang ia ambil, maka ia akan gagal.

Kini, Sore ini, mereka dihadapkan dengan puluhan media yang sudah menunggu karena undangan dadakan dari pihak managementnya. Mereka akan mengumumkan bahwa mereka akan berhenti. The Batman sudah selesai, The Batman sudah berada di akhir cerita, dan keputusan tersebut tak dapat diganggu gugat.

-TBC-