Sleeping with My Friend – Bab 19

Comments 2 Standard

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk  menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

 

Bab 19

Jessie sudah bulat pada keputusannya, bahwa ia akan pulang ke Pennington sementara waktu. Memang terlihat sangat kekanakan, tapi ia tidak bisa selalu memikirkan tentang Steve dan Donna Simmon lalu berakhir stress dan membahayakan kandungannya. Jessie ingin menenangkan diri di rumah Sang ayah.

Tadi siang, setelah berperang dengan batinnya sendiri, Jessie berinisiatif untuk menemui Steve lebih dulu. Ia ke tempat kerja lelaki itu, dan di sana, Jessie mendapati Steve  sedang menerima tamunya.

Tamu istimewa tentunya.

Jessie bahkan sempat melihat posisi wanita itu yang duduk dengan berani di meja kerja Steve, dengan jemari yang menggoda dada Steve. Tentu Jessie belum sempat mendengar apa yang mereka bahas, karena Jessie memilih untuk kembali pergi setelah membuka sedikit pintu ruang kerja Steve dan mendapati pemandangan tersebut.

Mungkin, mereka baru saja membahas tentang malam panas mereka semalam, mungkin mereka sedang membahas waktu untuk bercinta lagi selanjutnya. Jessie tidak tahu dan demi Tuhan, ia tidak ingin tahu!

Pikiran tersebut keluar dengan sendirinya di kepalanya, terputar lagi dan lagi, lalu Jessie mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk seperti perpisahannya dengan Steve, nasib anaknya yang tidak akan memiliki ayah sebelum ia dilahirkan, dan banyak lagi. Jessie tidak tahu kenapa ia sampai berpikir kesana, Jessie bahkan merasa bahwa dirinya tidak akan dapat berpikir secara realistis lagi jika itu menyangkut hubungannya dengan Steve.

Jessie menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil sewaan yang ia tumpangi.

Memasuki kawasan Pennington, ponsel Jessie berbunyi. Jessie melirik sekilas, rupanya Steve yang meneleponnya. Jessie memutuskan untuk tak mengangkatnya, karena ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa untuk lelaki itu.

Ponselnya lalu berbunyi lagi dan lagi, dan Jessie tetap memilih untuk tidak mengangkatnya. Lalu pesan singkat Steve sempat membuat Jessie membatu.

Steve : Apa kau sedang tidur? Aku hanya ingin mengabari bahwa aku pulang cepat, dan aku akan membawa makan malam. Jangan masak.

Ya Tuhan! Apa ia harus kembali ke New York sekarang? Tidak! Ia tidak akan kembali hanya karena pesan singkat dari lelaki itu. Jessie tidak menjawab pesan tersebut dan memilih mengabaikannya.

Ia memilih bersiap-siap untuk menghadapi ayahnya. Ya, beberapa meter lagi ia akan sampai, dan ia tahu bahwa George tak akan berhenti bertanya padanya sebelum ia jujur tentang apa yang sedang menimpa hubungannya dengan Steve hingga membuatnya kabur dari rumah.

***

Tepat jam Enam sore, steve sampai di apartmen Jessie dengan beberapa bingkisan makan malam mereka. Sedikit heran karena ia mendapati apartmen wanita itu kosong. Apa Jessie belum pulang dari butiknya?

Lalu bayangan tentang kebersamaan Jessie dengan Henry kemarin malam membuat Steve kesal. Apa jessie kembali menemui kekasihnya itu?

Tak ingin menebak-nebak keadaan, Steve memilih menghubungi Jessie. Tapi teleponnya tak diangkat. Bahkan sejak sore tadi, Jessie tak mengangkat teleponnya, pesannya pun tak dibalas. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan wanita itu? Dimana dia?

Akhirnya Steve memilih menghubungi Frank. Mungkin Frank tahu dimana keberadaan Jessie dan apa yang terjadi dengan wanita itu.

“Ada apa, Steve?” Akhirnya Frank menjawab teleponnya.

“Frank, kau tahu dimana Jessie?”

“Kenapa kau mencarinya ditempatku?”

“Aku tidak tahu harus mencarinya kemana, Frank. Dia tidak mengangkat teleponku, tidak membalas pesanku. Dan dia tidak ada di apartmen.”

“Kau sudah mencarinya di butik?”

“Belum. Dan aku tidak ingin mencarinya kesana.”

“Ayolah, Steve. Jangan kekanakan. Kalaupun kau mendapati Henry datang menemui Jess lagi di sana, tandanya mereka tak ada hubungan apapun. Karena jika mereka berniat bermain dibelakangmu, mereka tak akan bertemu di butik Jess. Kau harus lebih realistis.” Frank menyarankan.

Sebenarnya, Steve sudah bercerita tentang Henry yang datang menemui Jessie pada Frank. Entah kenapa Steve memilih bercerita pada Frank daripada dengan Hank temannya.

“Entahlah. Aku hanya tidak ingin mendapati kenyataan buruk.”

Frank terdengar mendengus sebal. “Jadi, apa maumu?”

“Bisakah kau menghubungi Jessie? Jika dia mengangat teleponmu, berarti dia memang sedang menghindariku. Dan tolong, tanya dimana dia berada. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.”

Frank tertawa lebar. “Ya Tuhan! Lelaki dewasa dengan Ego dan Cintanya. Sepertinya aku akan menulis kisah cinta kalian menjadi novel.”

“Brengsek Frank! Aku sedang tidak ingin bercanda!”

Lagi-lagi terdengar tawa lebar dari Frank. “Baiklah, aku akan meneleponnya. Jika aku sudah mendapat kabar, aku akan segera menghubungimu agar kau tidak gila karena gelisah.”

“Sialan!” Steve mengumpat. Kemudian telepon ditutup.

Steve lalu melemparkan diri di sofa ruang tengah apartemen Jessie. Meski sudah meminta bantuan Frank, tapi Steve belum bisa tenang sebelum tahu dimana Jessie dan kenapa wanita itu tidak ingin mengangkat telepon darinya.

Dua puluh menit kemudian, ponsel Steve berdering. Steve segera mengangkatnya saat mendapati nama Frank sebagai si pemanggil.

“Ada kabar?” tanyanya dengan segera saat mengangkat telepon.

“Ya. Dia mengangkat teleponku. Dan dia sedang berada di Pennington.”

“Apa? Apa yang dia lakukan di sana?”

Frank menghela napas  panjang. “Steve. Sepertinya kalian harus bicara baik-baik. Kau ingin aku menjadi penengah diantara kalian?”

“Tidak. Aku tidak mengerti, Frank. Kenapa dia meninggalkanku? Astaga! Apa dia memang tidak ingin melanjutkan pernikahan ini?”

“Demi Tuhan, Steve! ini tidak akan selesai jika kau tidak membuang ego dan emosimu. Lagi pula, membahas di telepon tak akan menyelesaikan masalah.” Frank terdengar kesal. Tapi lelaki itu benar.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Jika aku jadi kau, maka aku akan menyusulnya.”

“Frank. Astaga, aku tidak pernah melakukan itu pada wanita sebelumnya. Merendahkan harga diriku hingga seperti itu, yang benar saja.”

“Kau juga tak pernah ingin menikahi perempuan sebelumnya jika bukan dengan Jess. Dan jangan lupakan fakta bahwa kau tidak pernah begitu mencintai perempuan seperti mencintai Jess.”

“Jangan bersikap sok tahu, Frank!”

“Sialan! Kau pikir aku buta setelah semalaman menemanimu mabuk dan merengek seperti anak kecil.”

“Brengsek!” Steve mengumpat keras. Ya, Frank memang brengsek. Tapi apa yang dikatakan kakak iparnya itu memang benar. Ia tidak pernah menginginkan orang seperti menginginkan Jessie, ia tidak pernah berharap memiliki masa depan yang bahagia selain dengan Jessie. Jadi jika ia ingin mempertahankan hubungan mereka, maka saran Frank adalah yang paling benar.

Ya Tuhan! Steve tidak percaya jika ia akan bertekuk lutut seperti ini dengan seorang Jessica Summer.

“Bagaimana? Kau mau menyusulnya?”

Steve mendesah panjang. “Ya. Aku akan melakukannya.”

“Good job, Brother.” Ucap Frank dengan senang. “jika kau ke sana, aku akan menemanimu. Oke?”

“Aku akan melakukannya sendiri.”

“Tidak. Aku tahu itu akan semakin kacau. Aku akan menemanimu.”

Frank benar. Mereka tidak akan bisa bicara berdua dengan kepala dingin. Jadi harus ada penengahnya. Dan menunjuk Frank sepertinya bukan ide buruk.

“Frank.” Tiba-tiba saja Steve ingin menanyakan sesuatu pada lelaki itu.

“Ya?”

“Kau yakin jika aku benar-benar mencintainya?” tanya Steve kemudian.

Sial! Ia benar-benar merasa seperti orang idiot setelah bertanya pada Frank tentang hal sesensitif itu.

Bukannya menjawab dengan serius, Frank malah tertawa lebar. Baiklah, Steve merasa sangat menyesal karena sudah menanyakan hal itu pada si Brengsek Frank Summer.

“Dengar, Brother. Hal itu hanya bisa dijawab oleh dirimu sendiri. Tanyakan pada hatimu, tanyakan ke dasar hatimu yang paling dalam, apa yang paling kau inginkan didunia ini. Jika jawabannya adalah ingin bahagia bersama dengan Jessie, maka Ya, kau benar-benar sedang jatuh cinta padanya.”

Steve hanya mengangguk. “Kau tampak sangat berpengalaman. Aku jadi penasaran, siapa wanita yang mengajarimu tentang kata sialan itu.”

Lagi-lagi, Frank tertawa lebar. “Aku memiliki banyak istri Steve.”

“Sial! Aku tidak sedang bercanda.”

“Aku juga tidak sedang bercanda. Kau tahu, seorang penulis bisa menjadi apa saja dan siapa saja seperti yang ia kehendaki. Bagiku, semua tokoh utama perempuan dalam novel yang kuciptakan adalah istriku, karena aku ingin membangun sebuah keintiman dengan mereka agar pembacaku merasakan apa yang dirasakan oleh para tokoh yang kuciptakan.”

“Sepertinya, butuh imajinasi yang tinggi untuk berbicara denganmu tentang hal ini.”

“Tentu saja.” Jawab Frank masih dengan tawa lebarnya. “Jadi, kapan kita ke Pennington?” tanya Frank kemudian.

“Jika kau tidak keberatan, aku ingin ke sana malam ini juga.”

“Baiklah. Aku akan bersiap-siap.”

Dan setelah itu, telepon di tutup. Steve menghela naps panjang. Ya, semuanya harus ia selesaikan malam ini juga. Semuanya tak boleh berlarut-larut. Bagaimanapun juga, ia ingin semua segerah selesai dengan baik-baik tanpa menimbukan masalah kedepannya.

***

Jam Delapan malam, Steve dan Frank sampai di Pennington. Keduanya disambut hangat oleh George, dan Steve sempat kecewa karena tidak mendapati Jessie berada di sana.

“Dia di rumahmu, dan mungkin tidur di sana karena seharian aku bertanya padanya apa yang terjadi. Mungkin karena risih, dia pergi meninggalkanku.”

Steve menghela napas panjang. “Aku akan menemuinya.”

Steve segera bergegas, tapi George segera menghadang Steve. “Kupikir, biarkan saja dia sendiri. aku tidak pernah melihat Jess sesendu dan sebingung itu.”

“Bingung? Apa yang dia bingungkan? Bukankah seharusnya aku yang bingung? Kenapa dia meninggalkanku disaat seperti ini?”

“Steve, kau sudah berjanji akan mengendalikan emosimu.” Frank mengingatkan.

“Tapi aku tidak mengerti, Frank.” Steve mengusap rambutnya kasar. “Sial! Aku melihatnya berpelukan dengan mantan tunangannya. Bukankah seharusnya aku yang marah? Seharusnya aku yang bingung dengan keadaan kami.”

“Sepertinya kau butuh minum, Nak.” George yang berkata. Lelaki paruh baya itu bahkan sudah menuju ke arah bar mini di ujung rumahnya, menuangkan sesuatu di sebuah gelas dan memberikannya pada Steve.

“Dad, kau sudah berjanji tak akan minum lagi.” Frank mengingatkan.

“Ya, aku tak akan minum, itu untuk Steve. dia butuh minum untuk menenangkan pikirannya.”

Steve menerimanya, meminumnya, dan benar apa yang dikatakan George, bahwa anggur olahannya segera membuat steve tenang.

“Dengan Marina dulu, aku juga sering menghadapi beberapa masalah serius.” George mulai bercerita, lelaki itu menuju ke arah tempat duduk, berharap dua lelaki muda di hadapannya mengikutinya dan mendengarkan ceritanya. “tapi kami selalu bisa menyelesaikan masalah kami dengan kepala dingin. Mengesampingkan ego dan harga diri kami demi cinta dan kasih.”

“Aku sudah mengatakan hal itu padanya, Dad.” Frank menyahut.

“Frank, kau belum mengalaminya. Karena itu, kau bisa mengatakannya dengan mudah. Jika kau berada dalam posisi Steve, maka aku yakin, kau juga sama bingungnya dengan dia. aku pernah mengalaminya.”

“Jadi pertanyaannya adalah, apa yang harus kulakukan?” tanya Steve kemudian.

“Wanita adalah makhluk yang unik. mereka selalu mengatakan jika kita, kaum pria adalah kaum yang tidak peka, saat kita bertanya apa kesalahan kita, bukan menjelaskan, mereka akan semakin marah.”

“Karena itulah aku tak ingin berurusan dengan perempuan nyata.” Frank berkomentan.

“Tapi selain itu, mereka memiliki sisi yang sangat lembut. Tak peduli, berapapun kau melakukan kesalahan, jika wanita itu benar-benar mencintaimu, maka dia akan memaafkanmu.”

“Semudah itu?” Frank bertanya.

“Tidak juga. Jika kau mendapat seorang wanita yang kuat dan tegar, jangan harap jalan mendapatkan maaf darinya akan mudah-mudah saja.”

“Oh. Sepertinya aku memang tak harus berurusan dengan para wanita-wanita itu.” Lagi, Frank berkomentar.

“Jadi menurutmu, aku harus mengalah saat aku tidak tahu apa kesalahanku?” tanya Steve pada George.

George mengangguk. “Aku tahu, kadang itu berbenturan dengan ego kita untuk melindungi harga diri kita sebagai seorang lelaki. Tapi tak ada salahnya mengalah untuk menang. Jess tak mungkin tiba-tiba bersikap seperti itu tanpa alasan. Aku tahu dia memiliki alasan yang kuat. Hanya saja, caranya untuk menghadapi masalah adalah cara yang salah. Kau, sebagai suaminya, harus bisa lebih mengalah. Saat pikiran kalian sudah sama-sama mendingin, saat itulah kalian bisa mulai membahas masalah kalian dengan akal sehat.”

Steve menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan George memang benar. Apalagi mengingat kondisi Jessie yang labil. Apapun yang ia lakukan pasti akan salah di mata wanita itu, jadi jalan yang paling benar adalah mengalah terlebih dahulu untuk mendapatkan hati wanita itu, jika semuanya sudah membaik, ia akan membahas masalah mereka tanpa emosi.

Tapi bisakah ia melakukannya?

“Apa aku sudah boleh menemuinya?” tanya Steve kemudian.

“Ya, tentu saja. Tapi ingat pesanku.” Ucap George kemudian.

Steve segera bergegas. “Ya. Tentu saja.” Jawabnya sebelum pergi.

“Aku akan menemanimu.” Frank akan menyusul, tapi George menghadang anak lelakinya tersebut.

“Tidak, Frank. Karena aku ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Apa?” tanya Frank sedikit curiga.

“Tentang perkataanmu, bahwa kau tak ingin berurusan dengan yang namanya perempuan.”

“Oh, ayolah Dad. Aku hanya bercanda.”

“Tidak, kau tidak sedang bercanda, Frank. Dan karena kau tidak sedang bercanda, maka aku akan memberimu beberapa nasihat.”

Frank memutar bola matanya. Ini tak akan baik, Frank kurang suka dinasehati, apalagi jika tentang perempuan. Demi Tuhan! Ia merasa lebih berpengalaman dengan yang namanya perempuan, meski perempuan-perempuan itu hanya perempuan khayalannya dalam novel yang ia tulis.

***

Steve memasuki rumahnya dan disambut oleh ibunya. Sang Ibu sempat terkejut dengan kehadiran Steve. karena sebelumnya, Jessie berkata bahwa Steve sedang sibuk dengan pekerjaanya karena itu Jessie hanya pulang ke Pennington sendiri. Patty tentu tidak tahu bahwa Jessie sedang memiliki masalah serius dengan Steve.

“Kupikir kau tidak datang.”

“Tentu aku datang, aku akan menjemputnya pulang.”

“Ada masalah?” Patty bertanya.

“Mom. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri.”

“Tidak! Kau selalu payah dalam menyelesaikan masalah.”

“Mom!” Steve bahkan berseru pada ibunya. “Aku benar-benar ingin bicara dengan Jessie dan menyelesaikannya hanya berdua. Tolong.”

Patty menghela napas panjang. “Baiklah. Mungkin dia sudah tidur, di kamarmu.”

Dan tak ingin membuang waktu lagi, Steve segera menuju ke arah kamarnya, menemui Jessie dan menyelesaikan semuanya. Ya, semuanya sampai tuntas.

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Sleeping with My Friend – Bab 19

  1. mana sambungan na ???

    aaaahhhhhhh frank kau kalah cepet dengan zenny dia juga seorang penulis novel dewasa dan dia juga yng udah menulis cerita cinta seorang mr.morga , coba deh u belli novel na dengan judul SLEEPING WITH MY FRIEND pasti ga bakal nyesel .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s