My Beautiful Mistress – Bab 12

Comment 1 Standard

Bab 12

 

Dua minggu berlalu setelah kejadian menegangkan di malam itu. Ellie benar-benar melakukan apa yang wanita itu katakan. Ellie sama sekali tak peduli dengan Jiro. Bahkan wanita itu memilih tidak mempedulikan keberadaan Jiro saat Jiro sedang berada di rumah.

Semua semakin menyebalkan ketika Jiro tahu, bahwa Mei bersikap sama seperti sikap Ellie. Bahkan beberapa kali secara terang-terangan Ellie mengajak Mei dan Marvin makan-makan di rumahnya tanpa mengajak Jiro yang nyata-nyatanya berada dirumah tersebut.

Belum lagi kenyataan menyebalkan seperti yang dikatakan Troy, bahwa temannya yang brengsek itu rupanya beberapa kali sudah bertemu dengan Ellie, membuat Jiro geram saat secara terang-terangan Troy menceritakan pertemuannya tersebut kepada Ken saat mereka sedang latihan bersama.

Arrggghhh… Jiro merasa kepalanya nyaris pecah hanya karena memikirkan satu nama, yaitu Ellisabeth Julia Williams. Istrinya yang beberapa bulan terakhir menjelma sebagai sebuah virus yang merusak akal sehatnya.

Jiro mendengus sebal. Saat ini, Jiro tidak bisa banyak bertindak, ia hanya bisa diam bahkan ketika Ellie tak berhenti menyindirnya dan memojokkannya. Jiro memiliki sebuah alasan, dan ia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tak ada yang mengerti, apa alasan sebenarnya ia tidak ingin mengakui Ellie didepan publik.

Jiro masuk ke dalam sebuah ruangan. Hari ini, ia memang dipanggil oleh manager The Batman. Ada sesuatu yang ingin dibahas oleh managernya tersebut dengannya. hanya dia, bukan dengan personel lain. Hal itu membuat Jiro bertanya-tanya, apa ia terlibat dalam sebuah masalah?

Fahri, si Manager meminta Jiro duduk di depan meja kerjanya. Kemudian lelaki itu mulai membahas apa yang baginya cukup penting hingga meminta Jiro menemuinya Empat mata.

“Lihatlah.” Fahri memberikan sebuah map. Jiro membukanya dan map tersebut berisi beberapa surat pengajuan. “Ada tawaran lagi.” Setelah perkataan managernya tersebut, Jiro menutup map sialan tersebut lalu mengembalikannya pada Fahri.

“Sudah kubilang. Aku menolaknya.”

“Jiro, tak bisakah kamu memikirkannya lagi?”

Jiro berdiri seketika. “Dengar. Aku bahkan ingin segera mengakhiri karir sialan ini karena terasa mencekikku. Jadi aku tidak akan membiarkan Ellie ikut terjun didalamnya.”

“Kamu yakin? Bukannya kamu dulu sangat berambisi untuk menjadi populer?”

“Aku sudah mendapatkannya. The Batman sudah berada dipuncak. Jadi setelah kontrak selesai, aku tidak akan memperpanjangnya.”

“Jiro, tolong.” Fahri memohon. “Aku tahu bahwa kamu tidak memerlukan uang lagi. Kepopuleran sudah tidak berarti untukmu. Tapi setidaknya, beritahu Ellie, bahwa dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang selebriti.”

“Dia tidak tertarik. Aku tahu bahwa dia tidak akan tertarik.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Demi Tuhan! Dia sedang hamil. Tak bisakah kalian berhenti mengganggunya?!” Jiro benar-benar murka.

Ini bukanlah pertama kalinya Jiro diminta untuk datang ke ruangan managernya dan membahas tentang Ellie, istrinya. Entah sudah berapa kali Ellie mendapatkan tawaran sejak foto-foto dan video wanita itu berdar di akun sosial media. Wajah Ellie yang rupawan tentu menarik minat beberapa produsen untuk menjadikannya seorang model dari brandnya. Dan Jiro tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ellie, wanita itu hanya miliknya. Kecantikan wanita itu hanya boleh ia nikmati, karena itulah Jiro tak ingin membaginya dengan publik.

“Bagaimana setelah melahirkan.”

“Tidak, Fahri!” Jiro berseru keras. “Sebagai suaminya, aku melarang keras. Jangan pernah menawarkan hal itu lagi padaku.” Jiro memperingatkan.

Fahri menghela napas panjang. Ia tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah. Tapi ini…” Fahri menyodorkan map lainnya pada Jiro.

“Apa lagi?”

“Karena kontribusi Vanesha saat itu hingga membuat beritamu dan juga The Batman terangkat hingga mempengaruhi penjualan albummu, maka pihak management Vanesha menuntut timbal balik.”

Jiro mengerutkan keningnya. “Timbal balik? Bukankah saat itu kami sudah sama-sama diuntungkan? Dia bermain film saat itu.”

“Tapi filmnya tidak ramai, dan jauh dari kata sukses.”

“Itu bukan menjadi urusanku.”Jiro berkata dengan nada tajam.

“Jiro, kamu tidak bisa berbuat seenaknya. Mereka akan membongkar semuanya dan menyudutkan pihak kita.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin segera lepas dari kontrak-kontrak sialan ini. Jadi, aku tak akan menerima lagi kontrak-kontrak baru lainnya.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Fahri, aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Aku tidak ingin memperkeruh semuanya. Ellie sudah sangat membenciku karena aku belum bisa mempublikasikannya di depan umum. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk kembali berpura-pura mengencani Vanesha?”

“Kamu memiliki kesempatan untuk mengatakan hal itu seminggu yang lalu saat kita preskon. Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya? Kenapa kamu memilih diam?”

“Karena aku tidak ingin media mengusik kehidupan pribadi kami.”

“Itu tidak masuk akal, Jiro! Kamu seorang selebritis, kamu harus siap dengan media-media yang usil. Katakan saja, bahwa kamu hanya tidak ingin mempublikasikan diri Ellie di hadapan publik. Kenapa? Kenapa kamu melakukannya?”

Jiro hanya diam. Ia tidak ingin menjawab. “Aku memiliki alasan yang tepat. Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu.”

“Jiro…”

“Fahri. Bisakah sekali ini saja hormati keinginanku?”

Fahri menghela napas panjang. “Oke. Kontrakmu masih beberap bulan lagi. Setelah selesai, apa yang ingin kamu lakukan?”

“Menghilang.”

“Tidak mungkin. Kamu tidak akan mungkin bisa melakukannya.”

“Tapi aku akan melakukannya. Aku akan menghilang dari media.”

“Tidak adakah yang ingin kamu katakan pada para fansmu? Jiro, kamu tidak bisa selamanya menyembunyikan Ellie.”

Jiro hanya terdiam. Kemudian ia memilih segera pergi. Baginya, urusannya dengan Fahri sudah berakhir. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi tentang tawaran untuk Ellie atau tawaran untuk skandal yang dibuat management tentang hubungannya dengan Vanesha. Jiro tak ingin membahasnya lagi.

***

Ellie merasa sebal saat ini.  Bagaimana tidak? Hari ini, ia merasa sedang di permainkan oleh Mei, karena tanpa sepengetahuannya, Mei menerima ajakan Troy untuk nonton dan makan malam bersama dengan lelaki itu. Padahal Ellie sudah jelas-jelas menolak permintaan Troy beberapa hari yang lalu.

Sejak lelaki itu mengantarnya pulang pada siang hari saat itu, Troy memang secara terang-terangan menunjukkan minatnya pada Ellie. Ketertarikan lelaki itu begitu jelas dan hal itu membuat Ellie tidak suka. Astaga, apa Troy sudah buta dengan keadaanya yang sedang berbadan dua saat ini? tapi di sisi lain, Ellie cukup merasa senang karena kehadiran Troy mampu membuat Jiro kelabakan.

Beberapa kali Jiro bertanya secara terang-terangan pada Ellie, apa Ellie jalan dengan Troy, dan dengan santai Ellie menjawab Ya. Padahal, Ellie dan Troy hanya bertemu beberapa kali, dan mereja tidak melakukan apapun karena mereka bersam dengan Mei juga. Malah, Ellie lebih banyak diam karena kurang suka dengan sosok Troy yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Ellie.

Meski begitu, hal tersebut mampu membuat Jiro murka. Ellie tidak tahu kenapa reaksi Jiro akan sekeras itu. Di satu sisi Ellie merasa bahwa Jiro begitu cemburu dengan kedekatannya dengan pria lain, entah itu Marvin atau Troy, tapi disisi lain, Ellie merasa bahwa Jiro tak peduli padanya dan tak memiliki perasaan apapun padanya. Hal itu cukup membut Ellie bingung.

“Jadi, kita ke mana lagi?” Troy yang bertanya ketika lelaki itu baru saja menghabiskan makanan penutupnya.

“Kita pulang saja, aku capek.” Ellie menjawab.

Mei berbisik kepada Ellie seketika. “Kamu yakin? Mungkin Jiro belum pulang. Dia nggak akan tahu kalau kamu jalan sama Troy.”

“Aku nggak peduli, Mei. Aku capek.” Ellie membalas pelan.

Mei menghela napas panjang. Mei benar-benar berharap bahwa setiap kali mereka jalan keluar dengan Troy atau Marvin, Jiro melihatnya. Mei tahu bahwa Ellie sebenarnya tidak suka dan kurang nyaman melakukan hal ini pada Jiro. Karakter Ellie dia sudah mengenalinya. Tapi setidaknya Mei ingin, Jiro paham bahwa Ellie sangat berharga dan patut untuk diperjuangkan, bukan diabaikan seperti sekarang ini.

“Ya sudah, kita pulang saja.” Akhirnya mau tidak mau, Mei setuju dengan perkataan Ellie.

Meski berat, Troy pun akhirnya menuruti keinginan dua perempuan di hadapanya tersebut. Setidaknya, Troy  senang karena hari ini ia bisa kembali jalan dengan Ellie, bisa mengenal wanita itu lebih dekat lagi meski sebenarnya Troy tak mendapatkan apapun karena Ellie nyatanya tampak sedikit terpaksa keluar bersamanya.

***

Troy mengantar Ellie hingga di halaman rumah wanita itu setelah ia lebih dulu menurunkan Mei di rumah perempuan itu tadi. Pada saat bersamaan Troy melihat mobil Jiro baru saja memasuki halaman rumah tersebut. Troy keluar dan pada saat bersamaan, Jiro juga keluar dari dalam mobilnya.

Secepat kilat Jiro menghampiri Troy dan bertanya dengan nada yang tak enak didengar. “Dari mana saja kalian?”

“Ayolah, Kita cuma nonton aja. Jangan jadi kakak yang posesif.” Troy menjawab dengan santai.

Sialan! Hampir saja Jiro mengatakan bahwa ia adalah suami Ellie bukan kakak Ellie, jika Ellie tidak keluar dari dalam mobil Troy dan menatapnya dengan tatapan tak suka. Jiro memilih mengabaikan Troy dan berjalan menuju ke arah Ellie.

“Sejak kapan kamu suka nonton sama dia?” tanya Jiro dengan nada tajamnya.

“Sejak suamiku kembali mengabaikanku seperti dulu.” Ellie menyindir.

“Ellie.” Sungguh, Jiro tidak ingin bertengkar dengan Ellie di hadapan Troy.

“Kenapa? Kamu hanya kakakku, jadi jangan ikut campur masalah pribadiku.”

“Aku bukan kakakmu! Aku…..” Jiro tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia teringat jika Troy masih berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Tidak! Ini belum saatnya ia mengatakan kebenaran tersebut. Belum saatnya….

“Kenapa? Kamu tidak berani mengatakannya?”

“Ellie, kita bisa membahas ini di dalam.”

“Tidak ada yang perlu dibahas, James. Aku lelah.” Dan setelah itu, Ellie memilih meninggalkan Jiro masuk ke dalam rumahnya.

“Oke, gue mau pulang, gue nggak mau ikut campur masalah kalian berdua.” Troy berkomentar sembari bersiap masuk ke dalam mobilnya.

“Ya. Elo memang nggak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga gue.” Setelah itu jiro pergi menyusul Ellie masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Troy, lelaki itu sempat membeku sesaat setelah mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Jiro.

“Sial! Gue pasti salah dengar.” Troy menggumam sendiri sembari masuk ke dalam mobilnya. “Ya, gue pasti salah denger.” Lanjutnya lagi sebelum menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Ellie.

-TBC-

Advertisements

One thought on “My Beautiful Mistress – Bab 12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s