My Beautiful Mistress – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Bab 13

 

Pagi itu, Jiro masih menunggu Ellie keluar dari dalam kamarnya. Sejak semalam, wanita itu tidak mau membuka pintu kamarnya padahal ada hal yang ingin Jiro bahas mengenai hubungan mereka. Jiro merasa tak tahan lagi, Jiro merasa tak sanggup lagi saat membayangkan setiap hari Ellie semakin dekat dengan pria lain sedangkan wanita itu semakin menjaga jarak dengannya.

Jiro memang berengsek, karena sudah ingkar janji. Ia memiliki kesempatan untuk mengatakan di depan umum tentang hubungan mereka dua minggu yang lalu saat jumpa pers. Tapi Jiro tak melakukannya. Entah apa yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan statusnya di depan umum.

Tidak! Bukan karena ia ingin dilihat sebagai seorang lajang. Percayalah bukan itu alasan utama Jiro. Ia hanya tidak ingin media mengorek tentang masalah pribadinya. Belum lagi kenyataan bahwa Ellie sudah beberapa kali mendapatkan tawaran iklan. Jiro tidak bisa membiarkan Ellie ikut masuk ke dalam dunia sialan yang membesarkan namanya. Dan juga, jangan lupakan fakta bahwa Jiro dan The Batman memiliki fans fanatik yang mendekati gila.

Jiro masih berjalan mondar-mandir di ruang makan. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya. Ia sudah telat, karena ia memiliki janji dengan para personel The Batman lainnya.

Sebenarnya Jiro tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan sekarang dengan The Batman. Ia sudah merasa cukup. Konser akbar dua bulan yang lalu berjalan dengan sukses. The Batman disebut-sebut sebagai band paling fenomenal tahun ini, mereka sudah berada pada puncak tertinggi popularitasnya. Tak ada lagi yang diinginkan Jiro saat ini. tapi ia juga tidak bisa meninggalkan The Batman begitu saja. Ada beberapa kontrak yang masih harus berjalan, entah kontrak pribadi maupun kontrak dengan personel The Batman lainnya.

Jiro mendengus sebal, sesekali ia memijit pelipisnya. Jiro benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mundur dari The Batman? Ya Tuhan, apa ia bisa melakukannya?

Sekali lagi Jiro melirik jam tangannya. Waktu sudah semakin siang, Ellie pasti sengaja tidak keluar dari dalam kamarnya. Tak ada gunanya menunggu, mungkin nanti malam mereka bisa bicara bersama dengan baik-baik dan juga dengan kepala dingin. Dan setelah itu, Jiro memutuskan untuk pergi menuju ke studio The Batman.

***

Istirahat dari latihan, Jiro tak banyak bicara ketika Troy sesekali bercerita. Meski lelaki itu tidak bercerita tentang Ellie, tapi Jiro merasa sebal dengan Troy karena sudah lancang mengajak Ellie pergi keluar.

Troy memang tak salah, temannya itu tidak tahu tentang status hubungannya dengan Ellie. Ia yang salah karena pernah menyebut Ellie sebagai adiknya. Jadi bukan salah Troy jika Troy ingin mendekati adiknya. Tapi demi Tuhan! Troy tidak buta. Ellie bahkan sedang hamil besar, bagaimana mungkin Troy bisa tertarik dengan perempuan hamil?

Tanpa diduga, Troy berjalan menuju ke arah Jiro. Dan dengan sok akrab lelaki itu bertanya “Jadi, gimana masalah elo sama Ellie?”

Jiro tak menjawab, ia memilih bungkam dan memainkan bassnya.

“Ayolah, masa elo ngambek karena gue deketin adek elo sih.” Troy kembali membuka suaranya.

“Gue sudah bilang, jangan ikut campur masalah gue.” Jiro memperingatkan dengan nada tajam.

“Oke.” Troy mengangkat kedua belah tangannya sembari mundur menjauh. “Tapi, gue harap semalem gue salah denger.” Ucap Troy lagi dengan wajah seriusnya. Jiro menarap Troy, ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh lelaki tersebut. Sedangkan Troy, Sial! Meski mencoba memungkiri pemikirannya sendiri, nyatanya pernyataan Jiro semalaman mampu membuat ia susah tidur.

‘Rumah tangga gue’ Brengsek Jiro jika itu benar-benar sebuah kenyataan.

Pada saat bersamaan, ponsel Jason berbunyi. Jason bangkit, mengangkat teleponnya. Kemudian wajah lelaki itu memucat setelah mendapatkan kabar dari seberang telepon.

“Bianca? kecelakaan?” tanyanya dengan wajah tak percaya.

Semua yang ada di ruangan trsebut menatap ke arah Jason. Jason tampak ketakutan, lelaki itu tampak begitu khawatir. Dan semua berjalan cepat ketika Jason melesat keluar dari studio tempat mereka latihan.

***

Malam ini, Jiro kembali tidak pulang. Ia menelepon Ellie, tapi ketika Ellie mendengar suaranya, wanita itu menutup teleponnya.

Sialan!

Akhirnya mau tidak mau Jiro menelepon Mei. Teleponnya diangkat pada deringan kedua. Mei bahkan menjawab telepon dari Jiro dengan nada sedikit ketus. Sial! Apa yang terjadi dengan wanita itu?

“Mei, bisakah kamu pindah sementara ke rumahku?”

“Enggak. Kenapa aku harus pindah? Aku memang menyayangi Ellie, tapi yang seharusnya berada di sana dan menemani masa kehamilannya adalah kamu, Jiro. Bukan aku.”

“Mei, Tolong. Situasi sedang tidak kondusif.”

“Apa maksudmu dengan situasi yang tidak kondusif? Kamu jangan mencari-cari banyak alasan untuk membenarkan apa yang sedang kamu lakukan.”

“Aku tidak mencari banyak alasan, Mei!” Jiro berseru keras. “Apa kamu tahu, siang ini, Bianca masuk rumah sakit? Dia ditabrak oleh perempuan gila yang mengaku sebagai fans fanatik kami. Kamu pikir aku mau kejadian itu menimpa Ellie?”

“Astaga.” Mei tampak sangat terkejut.

“Ada banyak hal yang harus aku jelaskan Mei, aku memiliki alasan kenapa aku menolak membawa Ellie masuk terlalu jauh ke dalam duniaku.”

“Jiro.”

“Tapi aku bukan tipe orang yang pandai bicara. Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa dan darimana.”

“Maaf, aku mengerti.” Akhirnya Jiro mendengar suara Mei tanpa keketusan dari wanita itu.

“Sekarang kumohon, pindahlah sementara ke rumahku. Jangan pernah tinggalin Ellie sendiri. mungkin, aku tidak akan pulang beberapa hari kedepan. Tolong, hanya kamu yang bisa kupercaya untuk merawat Ellie melebihi siapapun.”

Terdengar helaan napas panjang dari seberang. “Ya. Aku akan lakukan apa yang kamu mau. Tapi Jiro, apapun itu, kamu harus ingat, bahwa Ellie begitu membutuhkanmu. Hubunganku dengannya memang sangat dekat, tapi tak ada yang dia inginkan kecuali selalu berada di sisimu setiap saat. Kamu harus mengerti hal itu, Jiro.”

“Ya. Aku mengerti, dan aku sedang berusaha untuk mewujudkannya.”

“Maksudmu?”

“Mungkin aku akan mengundurkan diri dari The Batman, secepatnya, bahkan sebelum kontrakku berakhir.”

“Jiro!” Mei berseru keras. “Itu akan menjadi hal yang paling keren yang pernah kamu lakuin. Kalau kamu melakukannya.”

“Ya. Aku akan melakukannya. Untuk Ellie.”

Mei bersorak gembira. Jiro bahkan menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Ya ampun, kamu benar-benar jatuh cinta sama Ellie, ya?”

“Enggak.”

“Ayolah…”

“Mei, secara teknis aku ini boss kamu. Sekarang, dari pada kamu membahas masalah pribadiku, lebih baik segeralah pindah ke rumahku.”

“Oke. Ya ampun, nggak tahu kenapa aku seneng banget.”

Jiro menggelengkan kepalanya, dan tanpa basa-basi ia mematikan ponselnya begitu saja. Jiro menghela napas panjang. Benarkah jalan ini yang harus ia ambil? Melepaskan semuanya untuk seorang Ellisabeth Julia Williams? Jika dengan ini Ellie percaya lagi dengannya, jika dengan keluar dari The Batman membuat wanita itu kembali lagi ke sisinya, maka Jiro akan melakukannya. Ya, ia akan melakukan apapun agar Ellie setia berada di sisinya.

***

Setelah Bianca masuk rumah sakit, situasi semakin tak terkendali. Jason seperti orang stress yang bahkan tak mau melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Bianca sebelum wanita itu sadar. Sedangkan media semakin menggila. Sosial media gempar dan viral tentang kabar simpang siur tentang fans The Batman yang brutal dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuat Jiro, Ken dan Troy harus menghindar sementara dari publik. Beberapa jadwal mereka batal karena Jason dengan seenaknya sendiri menolak untuk hadir dan menjadi orang yang paling tidak profesional.

Meski begitu, para personel The Batman lainnya cukup mengerti keadaan Jason. Mungkin Jason merasa bersalah, mungkin Jason merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal serius yang akan menimpa Bianca. karena jika Jiro berada di posisi Jason, maka Jiro akan melakukan hal yang sama.

Malam ini, setelah dua hari berlalu, Jiro, Ken dan Troy memutuskan untuk mengunjungi Bianca dan juga Jason. Mungkin sedikit menghibur temannya itu agar tidak terlalu tenggelam dalam rasa bersalahnya.

“Kalian kesini?” pertanyaan itu terucap dari Jason yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka. Jiro melihat wajah Jason yang tampak lelah, temannya itu seperti baru bangun dari tidurnya dengan posisi duduk di sebelah ranjang rawat inap Bianca.

“Ya. Mau nemenin elo.” Jiro yang menjawab. Ia mendekat ke arah Jason dan menatap Bianca yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas ranjangnya.

“Kok kalian bisa masuk? Jam besuk kan sudah habis.” Tanya Jason lagi, sembari melirik jam tangannya.

“Apa gunanya jadi terkenal kalau nggak bisa membujuk satpam atau suster yang jaga.” Troy yang menjawab, dan jawaban tersebut sedikit mencairkan suasana.

“Gimana keadaannya?” tanya Ken yang juga ikut mengamati Bianca yang masih tak bergerak sedikitpun.

“Sudah dua hari. Tapi dia belum sadar juga.” Ucap Jason dengan nada putus asa.

“Jase.” Troy menepuk bahu Jason, seakan memberikan kekuatan untuk temannya itu.

“Dia sedang hamil, Troy. Dia sedang mengandung anak gue. Dan dia celaka karena gue.” Jason sungguh tak dapat mengenyahkan rasa bersalahnya.

Sejak Dokter mengatakan keadaan Bianca yang sebenarnya, rasa bersalah Jason meningkat berkali-kali lipat. Beruntung, tak ada sesuatu yang serius terjadi dengan kehamilan Bianca. hal itu pulalah yang membuat Jason bahkan tak ingin beranjak dari kamar inap Bianca. Padahal Papa dan Mama Bianca meminta Jason pulang tapi Jason menolaknya. Jason juga sudah tak peduli lagi dengan jadwalnya menjadi publik figur, yang ia pedulikan saat ini hanya Bianca, ia berjanji tak akan keluar dari ruangan tersebut sebelum Bianca membuka matanya.

“Sial! Perempuan-perempuan itu benar-benar gila!” Troy mengumpat kesal.

“Terus, keadaan dia gimana?” kali ini Jiro yang bertanya.

“Bayinya baik-baik aja. Tapi Bee belom sadar juga dari kemarin.”

“Elo harus tenang, Jase. Elo harus sabar. Semua akan baik-baik saja, oke?” Ken menenangkan Jason.

Jason berdiam sebentar, lalu ia menatap intens pada diri Bianca yang masih menutup matanya rapat-rapat.

“Gue sudah memikirkan semuanya.”

“Tentang?” Jiro bertanya.

Jason menghela napas panjang. “Gue akan berhenti dari The Batman. Gue akan fokus sama dia, nikahin dia, jagain dia. Gue nggak mau profesi gue ngebahayain dia. Kalian tetap bisa lanjut, cari pengganti gue dengan warna suara yang sama. Lagu-lagu gue, kalian bisa pakai, karena gue nyiptain semua itu untuk The Batman.” Lalu Jason menggelengkan kepalanya. “Tapi gue nggak bisa lanjut lagi. Gue rasa, semuanya sudah cukup. Gue akan berhenti.”

Jiro, Troy dan Ken sempat kaget dengan keputusan Jason. Mereka memang ingin membahas tentang Band mereka nanti setelah keadaan Bianca membaik dan Jason sudah kembali lagi pada keadaan semula. Tapi Jiro, Ken dan Troy tak menyangka jika Jason akan mengambil keputusan seberani dan secepat ini.

“Elo yakin, Jase? Maksud gue, gue nggak mau elo nyesel nantinya.” Troy mengingatkan.

“Ya, gue sangat yakin. Gue sudah mikirin dari kemarin. Gue rasa sudah cukup apa yang gue dapetin selama ini dari The Batman.”

Jiro menepuk bahu Jason. “Kalau elo berhenti, gue juga akan berhenti dari The Batman.” Entah kenapa, mendengar Jason ingin berhenti dari The Batman membuat Jiro semakin memantapkan hatinya, bahwa ia juga harus segera mengakhiri semuanya.

“Jiro. Apa maksud elo?” tanya Jason tak mengerti. Jason bahkan sempat terkejut dengan pernyataan Jiro. Selama ini, Jirolah yang selalu tampak serius, sungguh-sungguh dengan karir mereka. Jadi Jason dan yang lain tak mengerti kenapa lelaki itu mengambil keputusan yang sama dengan dirinya.

“The Batman adalah milik elo. Elo sudah punya band itu sejak sekolah. Gue nggak akan lanjut pakai The Batman.”

“Tapi yang lain….”

“Gue juga akan berhenti.” Ken angkat suara.

Setelah menatap Ken, Jason lalu menatap ke arah Troy. “Well, nggak mungkin kan kalau gue nge-band sendiri? gue akan dukung apapun mau kalian.”

Guys, kalian nggak perlu sampai kayak gini. Kalian bisa lanjut tanpa gue.” Jason masih berharap jika teman-temannya tetap melanjutkan karir mereka.

“Gue mau jaga istri gue.” Ucap Jiro tiba-tiba. Semua yang berada di sana menatap ke arah Jiro seketika. Tentu saja, selama ini Jiro adalah orang yang paling misterius. Meski belakangan ini banyak gambar dan gosip yang menunjukkan bahwa Jiro tinggal atau sering mengunjungi seorang perempuan hamil, nyatanya sampai sekarang ini Jiro tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki istri.

Jiro hanya mengaku bahwa wanita itu adalah adiknya. Bahkan Troy sedang gencar mendekati adik Jiro tersebut. Tapi, pengakuan lelaki itu saat ini benar-benar membuat semua yang ada di ruangan tersebut tercengang, ternganga tak percaya bahwa apa yang dikatakan Jiro adalah kenyataan. Telebih lagi Troy, Ya Tuhan! Troy berharap bahwa Jiro sedang bercanda.

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 12

Comment 1 Standard

Bab 12

 

Dua minggu berlalu setelah kejadian menegangkan di malam itu. Ellie benar-benar melakukan apa yang wanita itu katakan. Ellie sama sekali tak peduli dengan Jiro. Bahkan wanita itu memilih tidak mempedulikan keberadaan Jiro saat Jiro sedang berada di rumah.

Semua semakin menyebalkan ketika Jiro tahu, bahwa Mei bersikap sama seperti sikap Ellie. Bahkan beberapa kali secara terang-terangan Ellie mengajak Mei dan Marvin makan-makan di rumahnya tanpa mengajak Jiro yang nyata-nyatanya berada dirumah tersebut.

Belum lagi kenyataan menyebalkan seperti yang dikatakan Troy, bahwa temannya yang brengsek itu rupanya beberapa kali sudah bertemu dengan Ellie, membuat Jiro geram saat secara terang-terangan Troy menceritakan pertemuannya tersebut kepada Ken saat mereka sedang latihan bersama.

Arrggghhh… Jiro merasa kepalanya nyaris pecah hanya karena memikirkan satu nama, yaitu Ellisabeth Julia Williams. Istrinya yang beberapa bulan terakhir menjelma sebagai sebuah virus yang merusak akal sehatnya.

Jiro mendengus sebal. Saat ini, Jiro tidak bisa banyak bertindak, ia hanya bisa diam bahkan ketika Ellie tak berhenti menyindirnya dan memojokkannya. Jiro memiliki sebuah alasan, dan ia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tak ada yang mengerti, apa alasan sebenarnya ia tidak ingin mengakui Ellie didepan publik.

Jiro masuk ke dalam sebuah ruangan. Hari ini, ia memang dipanggil oleh manager The Batman. Ada sesuatu yang ingin dibahas oleh managernya tersebut dengannya. hanya dia, bukan dengan personel lain. Hal itu membuat Jiro bertanya-tanya, apa ia terlibat dalam sebuah masalah?

Fahri, si Manager meminta Jiro duduk di depan meja kerjanya. Kemudian lelaki itu mulai membahas apa yang baginya cukup penting hingga meminta Jiro menemuinya Empat mata.

“Lihatlah.” Fahri memberikan sebuah map. Jiro membukanya dan map tersebut berisi beberapa surat pengajuan. “Ada tawaran lagi.” Setelah perkataan managernya tersebut, Jiro menutup map sialan tersebut lalu mengembalikannya pada Fahri.

“Sudah kubilang. Aku menolaknya.”

“Jiro, tak bisakah kamu memikirkannya lagi?”

Jiro berdiri seketika. “Dengar. Aku bahkan ingin segera mengakhiri karir sialan ini karena terasa mencekikku. Jadi aku tidak akan membiarkan Ellie ikut terjun didalamnya.”

“Kamu yakin? Bukannya kamu dulu sangat berambisi untuk menjadi populer?”

“Aku sudah mendapatkannya. The Batman sudah berada dipuncak. Jadi setelah kontrak selesai, aku tidak akan memperpanjangnya.”

“Jiro, tolong.” Fahri memohon. “Aku tahu bahwa kamu tidak memerlukan uang lagi. Kepopuleran sudah tidak berarti untukmu. Tapi setidaknya, beritahu Ellie, bahwa dia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang selebriti.”

“Dia tidak tertarik. Aku tahu bahwa dia tidak akan tertarik.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Demi Tuhan! Dia sedang hamil. Tak bisakah kalian berhenti mengganggunya?!” Jiro benar-benar murka.

Ini bukanlah pertama kalinya Jiro diminta untuk datang ke ruangan managernya dan membahas tentang Ellie, istrinya. Entah sudah berapa kali Ellie mendapatkan tawaran sejak foto-foto dan video wanita itu berdar di akun sosial media. Wajah Ellie yang rupawan tentu menarik minat beberapa produsen untuk menjadikannya seorang model dari brandnya. Dan Jiro tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ellie, wanita itu hanya miliknya. Kecantikan wanita itu hanya boleh ia nikmati, karena itulah Jiro tak ingin membaginya dengan publik.

“Bagaimana setelah melahirkan.”

“Tidak, Fahri!” Jiro berseru keras. “Sebagai suaminya, aku melarang keras. Jangan pernah menawarkan hal itu lagi padaku.” Jiro memperingatkan.

Fahri menghela napas panjang. Ia tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah. Tapi ini…” Fahri menyodorkan map lainnya pada Jiro.

“Apa lagi?”

“Karena kontribusi Vanesha saat itu hingga membuat beritamu dan juga The Batman terangkat hingga mempengaruhi penjualan albummu, maka pihak management Vanesha menuntut timbal balik.”

Jiro mengerutkan keningnya. “Timbal balik? Bukankah saat itu kami sudah sama-sama diuntungkan? Dia bermain film saat itu.”

“Tapi filmnya tidak ramai, dan jauh dari kata sukses.”

“Itu bukan menjadi urusanku.”Jiro berkata dengan nada tajam.

“Jiro, kamu tidak bisa berbuat seenaknya. Mereka akan membongkar semuanya dan menyudutkan pihak kita.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin segera lepas dari kontrak-kontrak sialan ini. Jadi, aku tak akan menerima lagi kontrak-kontrak baru lainnya.”

“Jiro.” Fahri masih tak ingin mengalah.

“Fahri, aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Aku tidak ingin memperkeruh semuanya. Ellie sudah sangat membenciku karena aku belum bisa mempublikasikannya di depan umum. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk kembali berpura-pura mengencani Vanesha?”

“Kamu memiliki kesempatan untuk mengatakan hal itu seminggu yang lalu saat kita preskon. Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya? Kenapa kamu memilih diam?”

“Karena aku tidak ingin media mengusik kehidupan pribadi kami.”

“Itu tidak masuk akal, Jiro! Kamu seorang selebritis, kamu harus siap dengan media-media yang usil. Katakan saja, bahwa kamu hanya tidak ingin mempublikasikan diri Ellie di hadapan publik. Kenapa? Kenapa kamu melakukannya?”

Jiro hanya diam. Ia tidak ingin menjawab. “Aku memiliki alasan yang tepat. Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu.”

“Jiro…”

“Fahri. Bisakah sekali ini saja hormati keinginanku?”

Fahri menghela napas panjang. “Oke. Kontrakmu masih beberap bulan lagi. Setelah selesai, apa yang ingin kamu lakukan?”

“Menghilang.”

“Tidak mungkin. Kamu tidak akan mungkin bisa melakukannya.”

“Tapi aku akan melakukannya. Aku akan menghilang dari media.”

“Tidak adakah yang ingin kamu katakan pada para fansmu? Jiro, kamu tidak bisa selamanya menyembunyikan Ellie.”

Jiro hanya terdiam. Kemudian ia memilih segera pergi. Baginya, urusannya dengan Fahri sudah berakhir. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi tentang tawaran untuk Ellie atau tawaran untuk skandal yang dibuat management tentang hubungannya dengan Vanesha. Jiro tak ingin membahasnya lagi.

***

Ellie merasa sebal saat ini.  Bagaimana tidak? Hari ini, ia merasa sedang di permainkan oleh Mei, karena tanpa sepengetahuannya, Mei menerima ajakan Troy untuk nonton dan makan malam bersama dengan lelaki itu. Padahal Ellie sudah jelas-jelas menolak permintaan Troy beberapa hari yang lalu.

Sejak lelaki itu mengantarnya pulang pada siang hari saat itu, Troy memang secara terang-terangan menunjukkan minatnya pada Ellie. Ketertarikan lelaki itu begitu jelas dan hal itu membuat Ellie tidak suka. Astaga, apa Troy sudah buta dengan keadaanya yang sedang berbadan dua saat ini? tapi di sisi lain, Ellie cukup merasa senang karena kehadiran Troy mampu membuat Jiro kelabakan.

Beberapa kali Jiro bertanya secara terang-terangan pada Ellie, apa Ellie jalan dengan Troy, dan dengan santai Ellie menjawab Ya. Padahal, Ellie dan Troy hanya bertemu beberapa kali, dan mereja tidak melakukan apapun karena mereka bersam dengan Mei juga. Malah, Ellie lebih banyak diam karena kurang suka dengan sosok Troy yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Ellie.

Meski begitu, hal tersebut mampu membuat Jiro murka. Ellie tidak tahu kenapa reaksi Jiro akan sekeras itu. Di satu sisi Ellie merasa bahwa Jiro begitu cemburu dengan kedekatannya dengan pria lain, entah itu Marvin atau Troy, tapi disisi lain, Ellie merasa bahwa Jiro tak peduli padanya dan tak memiliki perasaan apapun padanya. Hal itu cukup membut Ellie bingung.

“Jadi, kita ke mana lagi?” Troy yang bertanya ketika lelaki itu baru saja menghabiskan makanan penutupnya.

“Kita pulang saja, aku capek.” Ellie menjawab.

Mei berbisik kepada Ellie seketika. “Kamu yakin? Mungkin Jiro belum pulang. Dia nggak akan tahu kalau kamu jalan sama Troy.”

“Aku nggak peduli, Mei. Aku capek.” Ellie membalas pelan.

Mei menghela napas panjang. Mei benar-benar berharap bahwa setiap kali mereka jalan keluar dengan Troy atau Marvin, Jiro melihatnya. Mei tahu bahwa Ellie sebenarnya tidak suka dan kurang nyaman melakukan hal ini pada Jiro. Karakter Ellie dia sudah mengenalinya. Tapi setidaknya Mei ingin, Jiro paham bahwa Ellie sangat berharga dan patut untuk diperjuangkan, bukan diabaikan seperti sekarang ini.

“Ya sudah, kita pulang saja.” Akhirnya mau tidak mau, Mei setuju dengan perkataan Ellie.

Meski berat, Troy pun akhirnya menuruti keinginan dua perempuan di hadapanya tersebut. Setidaknya, Troy  senang karena hari ini ia bisa kembali jalan dengan Ellie, bisa mengenal wanita itu lebih dekat lagi meski sebenarnya Troy tak mendapatkan apapun karena Ellie nyatanya tampak sedikit terpaksa keluar bersamanya.

***

Troy mengantar Ellie hingga di halaman rumah wanita itu setelah ia lebih dulu menurunkan Mei di rumah perempuan itu tadi. Pada saat bersamaan Troy melihat mobil Jiro baru saja memasuki halaman rumah tersebut. Troy keluar dan pada saat bersamaan, Jiro juga keluar dari dalam mobilnya.

Secepat kilat Jiro menghampiri Troy dan bertanya dengan nada yang tak enak didengar. “Dari mana saja kalian?”

“Ayolah, Kita cuma nonton aja. Jangan jadi kakak yang posesif.” Troy menjawab dengan santai.

Sialan! Hampir saja Jiro mengatakan bahwa ia adalah suami Ellie bukan kakak Ellie, jika Ellie tidak keluar dari dalam mobil Troy dan menatapnya dengan tatapan tak suka. Jiro memilih mengabaikan Troy dan berjalan menuju ke arah Ellie.

“Sejak kapan kamu suka nonton sama dia?” tanya Jiro dengan nada tajamnya.

“Sejak suamiku kembali mengabaikanku seperti dulu.” Ellie menyindir.

“Ellie.” Sungguh, Jiro tidak ingin bertengkar dengan Ellie di hadapan Troy.

“Kenapa? Kamu hanya kakakku, jadi jangan ikut campur masalah pribadiku.”

“Aku bukan kakakmu! Aku…..” Jiro tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia teringat jika Troy masih berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Tidak! Ini belum saatnya ia mengatakan kebenaran tersebut. Belum saatnya….

“Kenapa? Kamu tidak berani mengatakannya?”

“Ellie, kita bisa membahas ini di dalam.”

“Tidak ada yang perlu dibahas, James. Aku lelah.” Dan setelah itu, Ellie memilih meninggalkan Jiro masuk ke dalam rumahnya.

“Oke, gue mau pulang, gue nggak mau ikut campur masalah kalian berdua.” Troy berkomentar sembari bersiap masuk ke dalam mobilnya.

“Ya. Elo memang nggak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga gue.” Setelah itu jiro pergi menyusul Ellie masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Troy, lelaki itu sempat membeku sesaat setelah mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Jiro.

“Sial! Gue pasti salah dengar.” Troy menggumam sendiri sembari masuk ke dalam mobilnya. “Ya, gue pasti salah denger.” Lanjutnya lagi sebelum menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Ellie.

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 11

Comments 2 Standard

Pertama-tama, aku terimakasih sekali karena masih ada yang menunggu atau membaca di blog aku ini. terimakasih banyak. karena itu, aku akan menghidupkan kembali blog ini dengan cara rutin Update. aku usahakan setiap hari 1 bab aku update setiap selesai jualan sampai hutangku lunas. btw, aku banyak nulis tapi memang banyak yang belum aku post di sini. jadi aku harap kalian mau baca yaa…..

 

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

***

 

 

 

Bab 11

 

Jiro menatap Ellie. Sebelah alisnya terangkat, menilai apa yang sedang bersarang di kepala cantik istrinya tersebut. “Kamu, terlihat senang.”

“Tentu saja.” Ellie menjawab dengan jujur. “Kalau boleh jujur, Aku memang senang jika kamu berhenti menjadi anak band.”

“Kenapa? Kupikir, banyak wanita yang ingin suaminya populer menjadi artis.”

“Tapi wanita itu bukan aku. Aku lebih suka memiliki suami dari kalangan orang biasa. Jadi aku bisa kemanapun sesuka hati dengannya tanpa merasa risih atau cemburu jika ada yang terang-terangan mengaguminya.”

“Hanya itu?”

“Dan setidaknya, jika suamiku orang biasa, aku tidak perlu disembunyikan seperti seorang simpanan.”

Jiro sedikit tersenyum. “Kamu mulai lagi, Ellie.”

“Mulai apa?”

“Menyindir dengan mulut manismu.” Jiro menghela naps panjang. Ia menatap ke arah langit-langit kamarnya. “Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Tinggal selangkah lagi. Setelah The Batman menyelesaikan konser akbar nanti, maka kupikir, semua sudah tuntas. Aku sudah sangat puas berada pada titik tertinggi pencapaian yang ingin kucapai.”

“Jadi, kamu benar-benar ingin berhenti?” tanya Ellie masih dengan tak percaya.

Jiro menatap Ellie seketika. Ia bahkan sudah menggenggam telapak tangan Ellie. “Dengar. Aku butuh kamu untuk mendukungku. Menuju konser, aku akan sangat sibuk. Dan setelahnya, aku akan menyelesaikan semuanya.”

Ellie terpana dengan janji yang diberikan Jiro. “Kamu janji, James?” tanyanya lagi.

Jiro menganggukkan kepalanya. “Ya, aku janji, Ellie. Aku janji, asalkan kamu mau bersabar, sedikit lagi.” Ucap Jiro dengan lembut.

Ellie tersenyum manis. “Tenntu saja. Aku akan bersabar. Aku akan bersabar lebih lama lagi untukmu, James.”

Dan setelah itu, Jiro tak kuasa menahan diri untuk mencumbu bibir ranum istrinya. Ranum dan manis. Jiro senang, dan Ellie menikmatinya. Keduanya berciuman, bercumbu mesra dengan lembut dan penuh kebahagiaan.

***

Dua bulan kemudian…

Konser yang dikatakan Jiro sudah berakhir sekitar sebulan yang lalu, tapi tetap saja, Jiro belum melaksanakan janjinya hingga kini. Ellie sendiri tidak tahu apa yang ditunggu lagi oleh lelaki itu. Padahal, malam itu Jiro berkata bahwa Jiro akan segera mengumumkan statusnya dihadapan publik, bahkan jika konsekuensinya ia harus keluar dari The Batman. Tapi nyatanya?

Hal itu membuat Ellie sebal. Apalagi kenyataan jika Jiro sepertinya kembali menjadi sosok yang menyebalkan. Lelaki itu kembali jarang pulang dengan alasan kesibukan. Ellie benar-benar kesal. Sesekali Ellie mengusap perutnya yang sudah semakin besar. Usia kandungannya sudah hampir Tujuh bulan. Semakin mendekati masa persalinan membuat Ellie semakin gelisah. Apalagi saat ia berpikir bahwa ia sendiri. Ellie merasa bahwa Jiro tak benar-benar setia berada di sisinya.

Ellie menghela napas panjang, hal itu membuat Mei yang berada di sebelahnya menatap ke arahnya.

“Ada apa?” Mei bertanya. Mei khawatir jika Ellie merasa sakit atau sejenisnya. Akhir-akhir ini, Ellie memang sering murung. Padahal saat itu, Ellie sempat bercerita pada Mei jika wanita ini akan mendukung Jiro hingga lelaki itu vakum dari The Batman.

“Enggak.” Ellie menjawab pendek.

“Kalau kamu capek, biar aku senidri yang turun dan belanja.”

Ya, saat ini memang waktunya Ellie dan Mei belanja kebutuhan mingguan di salah satu supermarket langganan mereka.

“Aku ikut.” Dan akhirnya, saat mereka sudah sampai di parkiran supermarket, Ellie memilih ikut keluar dan ikut berbelanja bersama dengan Mei. Ya, setidaknya dengan belanja bersama, Ellie bisa melupakan kegalauan hatinya untuk sementara waktu, melupakan tentang Jiro tentang hubungan rumit mereka.

***

Troy sedang bersama dengan asisten pribadinya yang bernama Miko saat mereka akan menuju ke tempat meeting. Sial! Meeting kali ini tentu untuk membahas tentang The Batman. Karena Jason yang sesuka hati mengumumkan tentang lamarannya di konser mereka kemaren, Jason dan yang lain diburu oleh wartawan untuk menggali kebenaran berita itu. Bahkan hal itu membuat gosip tentang Jiro dengan seorang perempuan di ancol meredup.

Mereka akan membahas beberapa masalah, tentang kontrak dan ketentuan sialan dalam management mereka yang melarang tentang publikasi hubungan dengan lawan jenis kecuali management sendiri yang sengaja menciptakan skandal itu seperti skandal Jiro dan Vanesha.

Kemungkinan, pihak management akan memberikan kelonggaran, dan membiarkan mereka mempublikasikan hubungan mereka dengan pasangannya dengan beberapa kebijakan. Hal itu tentu tak berpengaruh dengan Troy, karena ia tidak memiliki hubungan special dengan lawan jenis. Ia tidak memiliki pasangan. Berbeda dengan Jason yang memiliki Bianca, dan juga Ken yang memiliki Kesha.

Troy mendengus sebal. “Mik, mampir ke supermarket. Kita beli rokok.” Dan akhirnya, Miko menuruti kemauan Troy.

Sampai di sebuah supermarket, Miko turun dan masuk ke dalam supermarket tersebut. Sedangkan Troy memilih di dalam mobil sembari memainkan ponselnya. Beberapa menit berselang, Miko tak juga kembali, rupanya supermarket tersebut sedang ramai pengunjung, terlihat dari parkirannya yang penuh. Saat troy mengamati parkiran supermarket tersebut, saat itulah ia melihat sosok itu.

Sosok tersebut terlihat berbeda dengan rambut berwarna kuning kemerahannya. Kulitnya putih pucat, dan tubuhnya terlihat mungil. Troy juga melihat dengan jelas perut buncit wanita itu. Rupanya wanita itu benar-benar sedang hamil.

Itu adalah sosok yang Troy kenal sebagai adik Jiro. Beberapa bulan yang lalu Troy sempat melihat gosipnya di salah satu akun gosip populer di sosial media. Troy masih mengingatnya dengan jelas. Dan saat itu, Jiro mengonfirmasi jika itu adalah adiknya yang sudah bersuami.

Meski tampang dan perawakan wanita itu tak mirip dengan Jiro, tapi Troy percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu karewa wanita itu adalah wanita bule, seperti Jiro. Lagipula, Jiro tak mungkin sudah menikah seperti yang digosipkan sampai mereka tak tahu menahu tentang istrinya itu, yang benar saja. Wanita mana yang mau disembunyikan bertahun-tahun lamanya apalagi dalam keadaan hamil seperti itu.

Akhirnya, Troy bersiap keluar. Persetan dengan status wanita itu yang sudah menikah, persetan dengan keadaannya yang tengah hamil besar, dan juga persetan tentang banyak orang yang akan memperhatikannya nanti. Nyatanya, Troy tak dapat membohongi dirinya sendiri jika dirinya tertarik dengan wanita itu. Dan ketika Troy sudah tertarik, maka ia akan berusaha untuk mendapatkannya.

Sembari mengenakan kacamata hitamnya, Troy keluar dari dalam mobilnya kemudian ia menuju ke arah perempuan berambut kuning kemerahan tersebut. Rupanya wanita itu sedang bersama dengan wanita lainnya dan sedang kesusahan karena ban mobil mereka kempes.

“Haduuhh, kenapa sih pas saat seperti ini?” perempuan berambut kuning kemerahan itu mengeluh.

Troy sedkit menyunggingkan senyuman miringnya karena merasa bahwa dewi fortuna sedang berpihak padanya. Troy mendekat kemudian bertanya “Ada yang bisa kubantu?”

Kedua wanita itu menatap ke arah Troy dengan wajah ternganga masih-masing. Sungguh, jika saat ini Troy tak sedang bersikap sok cool, maka ia akan tertawa terbahak-bahak menertawakan ekspresi kedua wanita di hadapannya tersebut. Lucu, sangat lucu dan menggemaskan.

***

“Troy?” Mei yang membuka suaranya setelah ia sadar dari keterkejutannya.

“Ya, aku.” Troy menjawab. Troy bahkan sudah melirik ke arah Ellie, dan Ellie memilih membuang mukanya ke arah lain.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Mei kemudian.

“Aku beli rokok, dan aku melihatnya di sini. Maka aku menghampiri kalian.” Ucap Troy sembari menunjuk ke arah Ellie.

“Kamu kenal dia?” tanya Mei lagi.

“Ya.” Troy yang menjawab.

“Tidak.” Ellie juga ikut menjawab. Keduanya menjawab secara bersamaan hingga membuat Mei mengerutkan keningnya. Memicingkan mata ke arah keduanya.

“Aku nggak pernah merasa kenal sama kamu.” Ellie berkata dengan nada ketusnya.

“Tapi aku mengenalmu. Jiro sudah menceritakan tentang dirimu pada kami.”

Ellie menatap Troy seketika. “Jangan bohong.”

“Aku nggak bohong, kalau tidak, ngapain aku susah-susah menghampiri kalian di depan umum dan menjadi bahan perhatian pengunjung supermarket?”

Ellie dan Mei segera mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru. Rupanya, apa yang dikatakan Troy benar. Banyak yang sedang mengamati mereka, bahkan terang-terangan memotret kebersamaan mereka. Hal itu membuat Ellie semakin kesal.

“Lagi pula, kamu ngapain repot-repot mendatangi kami? Bikin susah aja.”

“Kan aku sudah bilang, itu karena aku sudah mengenalmu dari Jiro. Karena aku lihat kalian sedang kesusahan, makanya aku mendatangi kalian untuk membantu.”

“Bagus kalau begitu.” Mei bersorak. “Kamu bisa antar Ellie pulang duluan, biar aku cari bantuan untuk mengganti ban mobil ini. kasihan, Ellie pasti lelah.”

“Well, itu memang yang kuinginkan.”

“Mei, kamu apaan sih? Aku nggak mau. Lagi pula, kenapa nggak minta tolong sama dia saja buat gantiin Ban nya?” Ellie mendengus sebal.

“Ellie, dia artis papan atas. Gila aja kalau minta dia gantiin Ban di tempat seperti ini.” Mei berbisik pada Ellie.

“James juga artis papan atas, tapi aku yakin jika dia tidak akan malu dan menolak melakukan hal itu.”

“Tapi sepertinya ide Mei lebih praktis, mengingat saat ini publik semakin ramai, artinya kita harus segera meninggalkan tempat ini.” ucap Troy sembari mengingatkan Ellie tentang orang-orang di sekitar mereka yang semakin ramai memperhatikan keberadaan mereka.

“Kalau kamu pergi, mereka juga akan pergi. Jadi pergi saja sana. Aku akan menunggu Mei di sini.” Ellie berkata dengan nada ketus.

Troy tersenum. “Kamu yakin sekali. Tentu saja mereka nggak akan pergi. Kamu kan adiknya Jiro, tentu mereka ingin tahu banyak tentang kakak kamu yang sama populernya denganku.”

“Apa?” Ellie berharap dia salah dengar. Adik? Apa lelaki ini sinting?

“Ya. Ada yang salah dengan ucapanku?”

“Kenapa kamu bisa mengira bahwa aku adalah adiknya James?”

“Sudah aku bilang, bahwa Jiro sudah mengenalkanmu pada kami, teman-teman sebandnya. Bahwa kamu adalah adiknya yang sudah bersuami dan tengah hamil. Apa salah kalau aku memcoba membantu adik dari temanku sendiri?”

Wajah Ellie memucat seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan melakukan hal itu. Mengenalkan dirinya sebagai adik pada teman-temannya. Ellie mengerti jika Jiro belum siap mengakuinya di depan publik, tapi di depan teman-teman sebandnya? Ellie benar-benar tidak mengerti, kenapa Jiro harus menutupi statusnya hingga seperti ini? apa Jiro benar-benar ingin terlihat sebagai seorang lajang di depan semua orang?

***

Ellie masih termenung dalam duduknya. Sesekali ia mengusap perutnya yang sudah semakin membesar. Dan hal itu tak luput dari perhatian Troy. Troy ingin membuka suara tapi sejak tadi Ellie tampak menampilkan ekspresi tak bersahabatnya. Hal itu membuat Troy ragu dengan apa yang akan ia perbuat.

Troy akhirnya memilih mengemudikan mobilnya. Persetan dengan Miko yang akan kebingungan mencarinya. Tadi, ia meninggalkan supermarket tanpa sepengetahuan Miko, untung saja si Miko tak serta membawa kunci mobilnya hingga Troy bisa pergi sesuka hati dengan Ellie yang duduk di sebelahnya.

“Jadi, mau langsung pulang, atau kita mampir makan dulu?” Troy mulai membuka suara. Ia bukan tipe pendiam seperti Jiro maupun Ken. Ia suka bicara, ia suka melakukan apapun yang ia inginkan. Dan saat ini, Troy ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan perempuan hamil di sebelahnya. Sialan! Sejak kapan perempuan hamil masuk dalam daftar perempuan yang menarik hatinya?

“Pulang saja.” Ellie menjawab pendek.

“Kamu tampak tidak suka. Kamu benci banget sama aku kayaknya. Apa kakak kamu sering cerita yang enggak-enggak tentang aku?” tanya Troy yang seketika itu juga membuat Ellie menatap ke arah lelaki itu.

Kakak? Lagi-lagi Troy menyebut Jiro sebagai kakaknya. Ellie benar-benar kesal dengan kenyataan itu.

“James, nggak pernah bercerita tentang kalian.”

“Lalu, kenapa kamu tampak membenciku?”

“Kamu tampak seperti seorang perayu, dan aku tidak suka dirayu. Aku sudah bersuami.”

Troy tersenyum. “Wah, tipe kesukaanku.” Komentarnya. “Dan, mana suamimu?”tanya Troy kemudian.

Ellie membuang wajahnya ke arah lain. “Dia meninggalkanku.” Hanya itu yang dapat dikatakan oleh Ellie. Jika Jiro tak ingin mengakui dirinya di depan teman-teman lelaki itu, maka Ellie juga tak ingin menunjukkan bahwa Jirolah suaminya. Ya, itu yang terbaik.

***

Siang itu, Troy benar-benar merasa lega, karena setelah kemarin ia dan semua kru dan juga personel The Batman melakukan meeting, management memutuskan bahwa mereka diperbolehkan mengumumkan hubungan mereka dengan pasangan mereka di depan publik. Nyatanya, hanya Jason yang melakukannya.

Jason mengumumkan bahwa temannya itu sudah memiliki kekasih bernama Bianca, bahkan sudah melamar Bianca dan lamarannya diterima. Sedangkan Ken tidak mengatakan apapun. Pun dengan Jiro. Hingga gosip tentang Jiro yang sudah menikah tentu hanya sebuah bualan semata. Jika Jiro benar-benar memiliki istri, lelaki itu pasti akan mengumumkannya pada momen tadi siang. Nyatanya Jiro hanya diam. Dan Ellie, sudah pasti bukan istri Jiro seperti yang digosipkan. Hal itulah yang membuat Troy merasa lega.

Ellie berkata jika suami wanita itu meninggalkannya, dan Troy merasa bahwa Troy ingin mengenal lebih dekat sosok Ellie yang merupakan adik Jiro tersebut.

Saat Troy menuju ke studio musik tempat mereka latihan, saat itulah ia berjalan berdampingan dengan Jiro.

“Suntuk banget muka elo.” Troy berkomentar. Meski Jiro jauh lebih tua dibandingkan dirinya, nyatanya Troy tetap menganggap bahwa mereka seumuran.

“Elo nggak usah ganggu gue.”

Troy tertawa lebar. “Hahaha siapa juga yang mau gangguin elo. Mending ganggu adek elo.”

Jiro menghentikan langkahnya seketika. Apa maksud Troy? Kemudian dengan cepat Jiro menyusul Troy dan dia bertanya dengan nada tajamnya. “Apa maksud elo dengan ganggu adek gue?”

“Ellie. Namanya Ellie, kan?” goda Troy.

Dengan segera Jiro mencengkeram kerah kaus yang dikenakan Troy. “Sialan! Dari mana elo tahu? Jangan coba-coba…”

“Bung.” Troy melepas paksa cengkeraman tangan Jiro. “Gue nggak seberengsek yang elo kira. Gue Cuma pengen kenal dia lebih dekat, apa salah?”

“Salah! Dia sudah bersuami.”

“Gue tahu.”Troy menjawab cepat. “Dia sudah bilang. Lagian, suaminya brengsek karena sudah ninggalin dia. apa salah kalau gue datang untuk mengobatinya?”

“Elo jangan sok tahu!” Jiro semakin murka.

“Hahahaha, sok tahu? Gue dengar sendiri dari mulutnya.” Dengan santai troy menuju ke arah kursi drummernya. “Dan Elo sebagai kakak, Sialan! Elo nggak ada hak buat ngelarang dia bahagia dengan lelaki lain dan melupakan suaminya yang brengsek itu.” Lanjut Troy lagi.

Jiro tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia memukuli wajah temannya yang sok kegantengan itu, tapi Jiro berusaha mengendalikan dirinya. Ia ingin mendengar sendiri dari Ellie. Apa benar Ellie sudah bertemu dengan Troy? Apa benar Ellie sudah mengatakan hal itu pada Troy? Mengatakan bahwa ia sudah meninggalkannya?

***

Jiro sampai di rumahnya saat hari sudah gelap. Ia tidak mendapati siapapun di sana, hanya ada dua orag pengawal yang memang ia sediakan untuk berjaga di area rumahnya. Kemana Ellie?

Jiro memilih menghubungi Mei dan mencari tahu tentang keberadaan wanita itu.

“Kalian dimana?”

“Kami makan malam.” Mei menjawab dengan santai.

“Cepat pulang, aku sudah di rumah.”

“Dih, apaan sih. Suka banget ngatur-ngatur.” Mei berkomentar kemudian telepon di tutup begitu saja.

Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mei seakan sedang memusuhinya?

***

Ellie pulang saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ia tidak bersama dengan Mei, dia pulang sendiri dengan Marvin yang mengantarnya. Hal itu tak luput dari perhatian Jiro yang menatapnya dari dalam jendela ruang tengahnya. Dan Jiro semakin murka ketika menyadari hal tersebut.

Ellie masuk ke dalam rumah, sedangkan Jiro segera menghampiri Ellie dengan wajahnya yang sangar. “Dari mana saja kamu?” tanyanya dengan nada tajam.

“Kamu sudah telepon Mei, kan? Kami makan malam.” Ellie menjawab dengan nada ketus. Ia bahkan memilih meninggalkan Jiro. Dan saat melewati suaminya tersebut, Jiro menghadangnya, mencengkeram pergelangan tangannya. “Ada apa lagi?” tanya Ellie kemudian.

“Dimana Mei? Kenapa kamu hanya berdua dengan si brengsek itu?”

“Dia mabuk, sudah pulang duluan. Makanya Marvin yang nganterin aku.”

“Mabuk? Kalian minum?” Jiro semakin murka.

“Apa aku terlihat seperti orang yang sudah minum-minum?” tantang Ellie. “Lagi pula, ini sudah bukan urusan kamu, James. Lepaskan aku.”

“Ini urusanku! Kamu istriku!” Jiro berseru keras.

Ellie menatap Jiro dan tersenyum mengejek kepada suaminya tersebut. “Istri ya? Lalu kenapa kamu bilang pada teman-temanmu bahwa aku hanya adikmu? Kenapa kamu tidak mengatakan kenyataan itu pada media tadi siang? Kenapa kamu hanya diam saja, James?!” Ellie menghempaskan cengkraman tangan Jiro. Entah ia memiliki kekuatan dari mana melakukan hal tersebut.

Jiro membisu dengan pertanyaan telak tersebut.

“Aku masih ingat, malam itu kamu berjanji, bahwa setelah konser sialanmu, kamu akan menyelesaikan semuanya. Tapi mana buktinya? Katakan padaku mana buktinya, James?!” Ellie mendorong dada Jiro sekuat tenaga agar lelaki itu menjauh darinya.

Jiro sendiri masih membatu, ia tidak bisa membalas apalagi menjawab apa yang dipertanyakan Ellie.

“Sekarang. Aku sudah berhenti peduli tentang karir sialanmu! Aku tak mau tahu lagi, dan aku harap, kamu melakukan hal yang sama.” Setelah ucapannya tersebut, Ellie memilih segera pergi meninggalkan Jiro masuk ke dalam kamarnya. Jiro hanya menatap kepergian istrinya itu dengan sebuah rasa aneh di dadanya. Rasa sakit, seperti ada sesuatu yang retak di sana. Ellie akan berhenti peduli padanya, dan ia diminta untuk melakukan hal yang sama. Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya setelah apa yang sudah terjadi diantara mereka selama beberapa bulan terakhir?

-TBC-

Apa yang akan terjadi??? btw, My Beautiful mistress ini sudah tamat lohh, dan bisa dijumpai di google playbook. silahkan merapat kesana yang mau beli yaa….

Salam Sapa By. Zenny Arieffka

Comments 5 Standard

Haiiii lama sekali aku nggak jumpa kalian. mungkin sejak february, dan sekarang sudah masuk april. bukan aku sedang nggak nulis. bukan. tentu saja aku masih menulis bahkan setiap hari. dan bagi kalian yang nggak tahu, aku bahkan sudah namatin My Beautiful Mistress, kemudian ada satu novelku lainnya yang berjudul Sarah juga sudah aku tamatin. lalu kenapa aku nggak nge blog lagi?

jadi sering kali membuka Blog membuatku sulit. Loadingnya lama, dan juga…… sekarang pengunjung blog ini sudah sepi. aku sedih.

dulu, viewer dalam satu hari bisa mencapai ribuan kali bahkan puluhan ribu. dan kini, hanya tinggal seribu dua ribu saja. mungkin sudah jarang orang ngeblog, baca cerita di blog-blog pribadi seperti ini. aku bener2 sedih.

tapi, mau bagaimana lagi??

ya, salah ku juga sih karena jarang-jarang buka blog ini.  T_T

pengen banget aku balik lagi, aktif nge blog lagi. tapi rasa semangat itu kayaknya sdah menurun gitu.

jadi, kira-kira ada yang masih nungguin nggak ya ceritaku??? aku harap ada, biar aku bisa mulai aktif update di blog ini lagi… hikkkss…

ya sudah gitu aja sih…. semoga masih ada yang mau nunggu aku… hikksss