My Beautiful Mistress – Bab 9

Comment 1 Standard

 

Sea world. Kamu mau?”

Mata Ellie membulat seketika. “Itu kan tempat publik. Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?”

Jiro tersenyum, dan Ellie kembali terpana dengan senyuman lelaki itu. Benar-benar curang! Jika Jiro menampilkan sedikit saja senyumannya, maka Ellie akan kalah. Ellie tak akan mampu memusuhi suaminya itu lagi setelahnya.

“Ini bukan minggu atau hari libur, jadi kupikir tak akan seramai biasanya. Lagi pula, aku bisa menyamar.”

“Kamu yakin? Kalau ada yang tahu?”

“Abaikan saja.” Dan setelah itu Ellie bersorak gembira dalam hati, ia tidak menyangka Jiro akan membujuknya hingga seperti ini. kemarahan Ellie menguap seketika, hilang ditelan sikap manis yang ditampilkan Jiro kepadanya. Bagaimana bisa semudah ini menakhlukkan hatinya?

****

Bab 9

Cukup lama Ellie menunggu Jiro di ruang tengah rumah mereka. Saat ini, Ellie sudah siap dengan pakaian santainya. Celana pendek berwarna hitam dengan T-shirt berwarna senada. Tak lupa, ia mengenakan sepatu flat hingga membuatnya tampak lebih muda dari usianya dan juga lebih mungil tentunya.

Perut Ellie bahkan tampak sedikit menyembul, mungil, hingga ketika ada orang yang melihatnya maka segera bisa menebak bahwa Ellie sedang hamil muda.

Saat Ellie sibuk mengusap-usap perutnya sendiri, saat itulah Jiro keluar dari dalam kamar mereka. Lelaki itu tampak keren dan gagah dengan T-shirt berwarna putih dan juga jaket denimnya, celana panjang, serta sepatu bootsnya. Tak lupa, lelaki itu juga mengenakan topi untuk menyembunyikan sebagian wajahnya.

Jiro tampak memperhatikan Ellie dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita tersebut, kemudian dia berkomentar “Kamu hanya pakai itu?” tanyanya.

“Ya. Kenapa memangnya?”

“Itu terlalu mini, kalau masuk angin gimana?” Jiro lantas kembali masuk ke dalam kamar, tak lama lelaki itu kembali dengan sebuah coat miliknya yang pasti akan kebesaran jika dikenakan oleh Ellie. “Pakai ini.” perintahnya.

“Apaan sih. Aku nggak suka.”

“Pakai saja.” Jiro tak ingin dibantah. Kemudian lelaki itu menjauh dan tampak menghubungi seseorang. Dan yang bisa Ellie lakukan hanya menurutinya saja sembari mendengus sebal.

***

Akhirnya, mereka sampai juga di area Sea World. Tempat dimana terdapat akuarium-akuarium besar dengan berbagai macam jenis biota laut didalamnya.

Ellie tampak senang saat sampai disana. Ini adalah pertama kalinya ia ke tempat seperti ini. dulu, saat di Inggris, Ellie hampir tak pernah menghabiskan waktu untuk liburan. Keluarganya bukanlah golongan keluarga yang hobby jalan-jalan dan menghamburkan uang, mereka tergolong dalam keluarga religius. Jika sedang libur sekolah, kedua orang tuanya lebih memilih mengajak Ellie untuk pergi ke kegiatan sosial dan beramal. Sedangkan setelah menikah dengan Jiro, Ellie hampir tak pernah keluar dari rumahnya jika tidak sedang belanja atau memiliki keperluan mendesak.

Ajakan Jiro ke dunia bawah laut saat ini sudah seperti mimpi untuk Ellie. Ellie sangat senang, dan Ellie tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya tersebut.

Ellie mengamati satu demi satu makhluk hidup yang ada di dalam akuarium besar itu. Tangannya menempel pada akuarium , matanya berbinar dengan kekaguman yang ia lihat. Tak pernah ia melihat ikan sebesar itu, atau ikan seindah di dalam akuarium itu. Ia masih mengamati dengan kekagumannya, hingga Ellie tak menyadari jika sejak tadi sepasang mata tengah mengamati tepat di belakangnya.

Ya, itu Jiro.

Jiro bahkan tak sadar, jika sejak tadi ia mengamati Ellie dengan intens. Ellie yang tampak senang dan berbinar membuat Jiro puas, karena sudah berhasil membuat wanita itu ceria lagi. Secara sepontan kaki Jiro melangkah, mendekat ke arah Ellie, dan berdiri tepat di belakang wanita tersebut.

“Kamu senang?” tanyanya.

Ellie sempat terkejut saat mendapati Jiro begitu dekat dengannya. ia membalikkan tubuhnya sekilas kemudian menatap kembali ke arah akuarium. “Ya, sangat.”

“Kalau kamu suka, kita bisa ke sini seminggu sekali.”

“Uuum, sepertinya tidak perlu. Kamu kan sibuk. Lagi pula, kalau banyak orang pasti akan repot sekali.” Ellie melayangkan pandangannya ke sekeliling, dan ia sempat heran, karena tempat tersebut bersih dari pengunjung. Hanya ada beberapa petugas yang tengah bekerja. “Tapi ngomong-ngomong, tempat sebagus ini masa sepi pengunjung.” Ucap Ellie kemudian.

“Mungkin keberuntungan kita.” Jawab Jiro asal.

“Masa sih? Aku jadi merasa menjadi pemilik tempat ini.” Ellie kembali mengamati satwa laut di hadapannya. “Indah sekali.” Ucapnya dengan spontan.

Tanpa diduga, tiba-tiba Ellie merasakan sebuah lengan memeluknya dari belakang. Lengan Jiro. Ellie bahkan sempat membatu sesaat ketika Jiro melakukan hal tersebut.

“Kamu polos sekali.” Jiro berkomentar. Jiro bahkan sudah menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya pada pundak Ellie. Sedangkan Ellie merasa tak dapat berbuat apapun. Ia salah tingkah, karena tak pernah mendapati Jiro melakukan hal ini padanya saat di depan umum.

“Polos bagaimana?”

“Hanya dengan melihat satwa laut, kamu sudah tampak sangat senang. Kamu bahkan melupakan permasalahan kita, atau mungkin kesalahan yang sudah kuperbuat.”

“Aku sudah pernah bilang, bahwa aku sudah tidak peduli lagi denganmu, James.”

“Jangan.” Jiro menjawab cepat.

“Jangan apa?” Ellie tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jiro.

“Jangan tidak peduli denganku.”

“Tapi kamu juga tidak peduli denganku, jadi lebih baik…”

“Aku peduli.” Jiro lagi-lagi menjawab cepat. “Aku peduli sama kamu, sama bayi kita.” Ucap Jiro dengan suara yang sudah serak. Telapak tangannya sudah mendarat pada perut Ellie, sedangkan bibirnya sudah mengecup lembut pundak Ellie.

Ellie sempat tak percaya dengan apa yang dilakukan Jiro. Sekali lagi, Jiro melakukan hal-hal yang sama sekali tak terpikirkan dalam benak Ellie. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan lelaki ini?

***

Ellie sedikit terkejut saat keluar dari area sea world, ternyata, sudah banyak orang yang menunggu di sana. Rupanya area tersebut sempat ditutup tadi. Apa Jiro yang menutupnya? Yang benar saja, memangnya siapa lelaki ini?

Ellie menatap penuh tanya pada Jiro, sedangkan lelaki itu masih berjalan santai sembari menggenggam erat telapak tangannya.

“Kamu yang membuat tempat ini ditutup sementara?” tanya Ellie kemudian.

“Ya. Kenapa memangnya?”

“Kenapa harus di tutup? Kamu takut ketahuan sama fans kamu karena sudah jalan sama wanita berperut buncit?”

“Aku nggak pernah takut.”

“Lalu kenapa pakai ditutup?”

“Cuma pengan buat kamu menikmati tempat-tempat tadi tanpa ada yang berisik. Seharusnya kamu berterimakasih sama aku, bukan malah menggerutu.” Jiro mendengus sebal.

Tanpa banyak bicara, Jiro menggenggam telapak tangan Ellie lalu mengajaknya keluar dari sana. Beberapa orang tentu menyadari keberadaan Jiro, tapi Jiro berusaha untuk tidak mempedulikannya. Sedangkan Ellie sendiri masih tidak mengerti apa yang dilakukan Jiro padanya.

Ellie mengikuti saja kemanapun kaki Jiro melangkah, hingga kemudian mereka berada pada tempat yang mirip dengan taman hiburan. Tempat tersebut masih satu kompleks dengan Sea world tadi.

“Ini dimana?”

“Dufan.” Jiro menjawab singkat.

“Kok kamu ngajak kesini?”

“Mumpung sepi. Kan aku sudah bilang, ini bukan minggu atau hari libur, jadi tidak seramai hari-hari itu.”

Ellie melihat ke sekeliling. Masih ada orang berlalu-lalang. “Kamu tidak menutup tempat ini juga, kan?”

Jiro tak dapat menahan tawanya. “Enggak. Cuma yang tadi saja.”

“Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?” tanya Ellie dengan wajah polosnya.

“Aku sudah pakai topi, dan masker.”

“Tapi orang tetap bisa menebak jika itu kamu, dari postur tubuhmu.”

“Aku nggak peduli.” Jiro menjawab dengan santai. Ya, baru kali ini Jiro berjalan di luar akal sehatnya dan menuruti apa yang ia inginkan. Yang ia inginkan saat ini hanyalah bersenang-senang dengan Ellie. Jiro akan melakukannya dan ia mencoba untuk tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Jiro masih mengajak Ellie berjalan menelusuri taman bermain tersebut. Jemarinya tak lepas dari menggenggam telapak tangan Ellie. Sedangkan mata Jiro mengawasi siapa saja yang mencoba melirik istrinya tersebut.

Ya, penampilan Ellie memang sangat mencolok. Kulitnya putih bersih, rambutnya yang panjang terurai, berwarna kuning kemerahan, posturnya mungil, tapi berisi. Membuat siapa saja menatap ke arah wanita tersebut. Belum lagi paras Ellie yang cantik rupawan membuat siapapun menoleh dua kali ketika melihatnya.

Jiro tak suka.

Ia tidak suka ketika Ellie menarik perhatian publik. Apalagi saat mata-mata pria nakal menatap ke arah tubuh istrinya. Sial! Rasanya Jiro ingin mencongkel mata-mata kerangjang tersebut.

Dengan spontan, Jiro menarik tubuh Ellie agar masuk dalam dekapan lengannya. Hal itu tentu membuat Ellie semakin bingung dengan sikap Jiro.

“Ada apa?”

“Enggak.” Jiro menjawab pendek. Padahal Jiro melakukan hal itu agar semua orang yang berada di taman hiburan itu tahu bahwa Ellie sudah menjadi miliknya. “Jadi, mau naik apa?”

“Naik apa? Aku hamil, mana boleh naik wahana begituan.”

“Kalau begitu, kita jalan-jalan saja sampai sore.” Dan Ellie mengikuti saja apapun keinginan Jiro.

Mereka berkeliling, melihat aneka wahana, mulai dari wahana air, hingga wahana yang memacu adrenalin. Ellie sempat meminta Jiro untuk menaiki salah satu wahana tersebut, tapi Jiro menolaknya mentah-mentah dengan alasan bahwa lelaki itu tak ingin meninggalkan Ellie sendiri.

Tiba saatnya Ellie merasa lelah. Ia kehausan dan dengan perhatian, Jiro sudah membelikannya sebuah minuman. Coklat dingin yang sangat menyegarkan. Ellie senang dengan perhatian yang diberikan oleh Jiro, tapi entah kenapa Ellie merasa belum cukup puas. Lelaki itu seperti sedang menyogoknya untuk sesuatu, dan Ellie tidak tahu sesuatu apakah itu.

Ellie melihat seorang pengamen yang membawa gitar. Berdiri di depan salah satu wahana, memainkan gitarnya, menyanyi dengan suara merdunya dan para mengunjung mendatanginya untuk memberikan uang. Dalam sesaat, Ellie memiliki sebuah pemikiran jahil untuk Jiro, ia ingin Jiro melakukan hal itu untuknya. Membuat lelaki itu bernyanyi di depan banyak orang seperti seorang pengamen, sepertinya lucu.

Dengan manja, Ellie menarik-narik jaket Jiro hingga lelaki itu menatap ke arahnya.

“Apa?”

“Uum, kamu mau nurutin mau aku, James?”

“Kamu minta apa?”

“Aku tidak tahu, kenapa aku menginginkannya, tapi…. Aku benar-benar sangat ingin.”

“Apa? Katakan saja.” Jiro tak suka Ellie yang tampak berputar-putar dengan ucapannya.

“Itu. Kamu lihat pengamen itu.” Ellie menunjuk pada si pengamen.

“Kenapa?”

“Kayaknya, aku pengen lihat kamu melakukan itu, deh.”

“Apa?” Sungguh, Jiro tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Pengamen itu. Aku pengen lihat kamu nyanyi seperti dia. bawa gitar seperti itu.”

“Jangan konyol. Aku bahkan menggunakan topi dan masker agar tidak banyak yang tahu siapa aku. Kalau aku melakukan itu, sama saja kamu meminta aku untuk mengumumkan bahwa Jiro The Batman ada di tempat ini.”

Ellie mendengus sebal. “Lagi pula, memangnya kenapa kalau mereka tahu kamu di sini? Tidak semua orang tahu kok kalau kamu artis.” Ucapnya dengan jengkel. “Aku hanya ingin melihatmu seperti itu. Tapi kamu tidak bisa menurutinya. Padahal banyak orang hamil yang meminta hal-hal yang tak masuk akal dan suaminya tetap menuruti saja demi bayinya. Tapi kamu….”

Jiro bangkit seketika. “Aku akan menuruti apa mau kamu.” Ucapnya cepat sambil bergegas.

Ellie sempat ternganga dengan kelakuan Jiro. Tapi kemudian ia tersenyum saat Jiro benar-benar melakukan apa yang ia inginkan.

Sedangkan Jiro, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa Ellie bisa memerintah dirinya dan kenapa juga dirinya menuruti kemauan perempuan itu.

Jiro menghampiri si pengamen, meminjam gitarnya dan beruntung pengamen itu menuruti keinginan Jiro. Kemudian, Jiro mulai membuka maskernya dan bernyanyi, menggantikan Sang pengamen tersebut.

Spent 24 hours

I need more hours with you

Lagu Maroon 5 menjadi pilihan Jiro untuk bernyanyi siang itu. Lagu yang ceria, dan Ellie cukup suka. Ellie tersenyum dan mendekat ke arah Jiro. Menatap lelaki itu dengan tatapan sulit diartikan.

You spent the weekend

Getting even, ooh ooh

We spent the late nights

Making things right, between us

Mata Jiro menatap ke arah Ellie, meski tersembunyi dibalik topinya, tapi Ellie tahu bahwa tatapan mata lelaki itu menjurus ke arahnya.

But now it’s all good baby

Roll that Backwood baby

And play me close

Beberapa orang pengunjung mulai mendekat, menikmati pertunjukan Jiro.

‘Cause girls like you

Run around with guys like me

‘Til sundown, when I come through

I need a girl like you, yeah yeah

Girls like you

Love fun, yeah me too

What I want when I come through

I need a girl like you, yeah yeah

Yeah yeah yeah

Yeah yeah yeah

I need a girl like you, yeah yeah

Jiro masih terus bernyanyi. Para pengunjung berdatangan ingin melihatnya karena ada beberapa orang yang memang mengenalinya.

“Itu Jiro kan? Iya itu Jiro.”

Samar-samar, Ellie bahkan mendengar beberapa gadis muda terang-terangan mengenali Jiro.

“Ya ampun, dia keren banget sih. Gosip itu pasti bohong, Jiro nggak mungkin punya istri, enak aja.” Yang lain berkomentar.

Ellie segera menatap ke arah Jiro. Jiro tampak menikmati kepopulerannya. Hal itu kembali membuat Ellie merasa minder. Ellie menatap dirinya sendiri. ia bukan siapa-siapa, tak ada yang mengenalinya, bahkan Jiro sepertiya tak pernah berpikir untuk mengenalkan dirinya di depan publik.

Dengan spontan Ellie merapatkan coat kebesaran Jiro yang ia pakai, seakan melindungi dirinya dari rasa sakit. Ia tidak suka kenyataan bahwa Jiro dikenal banyak orang sebagai lelaki lajang. Jiro adalah suaminya, tapi Ellie tidak bisa berbuat banyak ketika Jiro sendiri tidak mau mengakuinya sebagai istri di depan umum.

Saat Ellie asyik memikirkan hal tersebut, rupanya Jiro sudah menyelesaikan lagunya. Beberapa orang secara terang-terangan meminta berfoto dengan Jiro, dan Jiro menurutinya dengan ramah. Kemudian, lelaki itu menuju ke arah Ellie, dan tanpa banyak bicara lagi Jiro segera meraih telapak tangan Ellie, menggenggamnya kemudian mengajak Ellie meninggalkan area tersebut.

Beberapa orang terang-terangan bertanya pada Jiro, siapa Ellie, apa hubungan mereka, tapi Jiro tampak tak mempedulikannya dan fokus untuk membawa Ellie pergi dari sana. Ellie tak tahu harus merasa bagaimana. Di satu sisi ia senang Jiro setidaknya menunjukkan perhatian lelaki itu padanya di depan umum, tapi disisi lain, Ellie tetap kurang suka dengan Jiro yang seakan menyembunyikan identitasnya.

Kenapa? Apa ia tampak memalukan untuk lelaki ini?

***

Sepanjang sore, Ellie hanya diam setelah kejadian tadi. Karena merasa Ellie berada pada mood yang buruk, Jiro akhirnya mengajak Ellie untuk kembali pulang saja. Ia takut jika Ellie kecapekan atau sejenisnya. Sedangkan Ellie hanya menuruti saja apa yang dikatakan Jiro.

Keduanya pulang dalam diam. Sesekali Jiro melirik ke arah Ellie, wanita itu berubah lagi, menjadi murung, menatap jauh ke luar jendela mobilnya, jemarinya sesekali mengusap perutnya sendiri. kenapa? Apa Ellie merasa sakit?

“Ada yang sakit?” tanya Jiro kemudian.

Jiro bahkan sudah meminggirkan mobilnya dan menghentikannya.

Ellie menatap Jiro seketika. “Apa?” tanyanya bingung.

Telapak tangan Jiro dengan sepontan mendarat pada perut Ellie, “Bayinya, ada yang sakit? Kenapa kamu diam saja sejak tadi? Dan mengusap-usap dia?”

Ellie tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia senang dengan perhatian Jiro, tapi di sisi lain ia masih kesal karena sikap lelaki itu tadi yang terkesan menyembunyikannya dan tidak jujur pada beberapa orang yang menanyakan siapa dirinya.

Seharusnya, Ellie tak perlu kekanakan seperti ini. toh Jiro sudah menyembunyikannya sejak Empat tahun yang lalu, jadi hal itu seharusnya sudah tak menjadi masalah serius lagi bagi Ellie. Tapi mau bagaimanapun juga, Ellie tetap tidak suka dengan sikap Jiro. Entah kenapa Ellie merasa sangat kesal dan ingin sekali agar Jiro mempublikasikan hubungan mereka.

“Tidak apa-apa.” Ellie menjawab pendek. Ellie memilih menatap ke luar jendela lagi.

Jiro mengerutkan keningnya. Ia tidak percaya bahwa perhatian yang ia berikan malah diabaikan oleh Ellie.

“Jadi, kita pulang saja? Atau ke rumah sakit?”

“Pulang saja. Aku mau tidur.” Lagi-lagi Ellie menjawab dengan nada cuek.

Jiro mengangguk. Sekali lagi ia mengusap lembut perut Ellie, mengirimkan getaran panas pada diri Ellie, sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya pulang. Ya, mungkin Ellie hanya kecapekan, mungkin Ellie butuh istirahat setelah seharian jalan-jalan dengan dirinya, dan setelah wanita itu kembali pada mood baiknya, Jiro akan mengutarakan sesuatu pada Ellie. Sesuatu tentang hubungan mereka kedepannya.

Tapi Jiro salah. Jiro terlalu tidak peka dengan keadaan di sekitarnya. Ellie bukan lelah secara fisik, tapi wanita itu lelah secara batin. Mungkin, Jiro bisa membuat Ellie senang dan menghibur wanita itu dalam sesaat, tapin sebenarnya, bukan hal itu yang diinginkan Ellie. Keinginan Ellie hanya sederhana, tapi Jiro tak akan bisa menurutinya.

-TBC-

Hayooooo apa yang terjadi di Bab selanjutnya???? hahahhahahha

Advertisements

One thought on “My Beautiful Mistress – Bab 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s