Sleeping with my Friend – Bab 18

Comment 1 Standard

 

 

“Katakan! Apa kau ingin aku tidur dengannya?” tanya Steve sekali lagi.

“Jika kau ingin menidurinya, maka silahkan saja! Kau pikir aku peduli denganmu?” masih dengan emosi, Jessie menjawab pertanyaan Steve.

Steve mundur satu langkah. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan melakukannya.”

“Ya. Pergi saja sana!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Steve. sedangkan Steve, ia mundur perlahan, tak menyangka jika dirinya begitu tak berarti untuk Jessie. Haruskah ia melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu?

Bab 18

Menjelang pagi, Steve baru pulang.

Sebenarnya, Steve ingin pulang ke apartmennya sendiri, tapi hatinya tidak bisa berkompromi. Ia terlalu khawatir dengan keadaan Jessie. Akhirnya Steve memilih pulang ke apartmen Jessie.

Masuk ke dalam, Steve mendapati Jessie tertidur di sofa ruang tengah. Kakinya melangkah dengan sendirinya menuju ke arah Jessie, berjongkok di hadapan wanita itu, lalu mengamatinya.

“Sial! Apa kau tidak bisa melihat keberadaanku, Jess? Bagaimana mungkin kau meminta suamimu untuk meniduri perempuan lain? Apa aku begitu tak berarti untukmu?”

Steve menatap Jessie dengan tatapan penuh luka. Baru kali ini ada seorang wanita yang membuatnya sakit hingga seperti ini. baru kali ini ia merasa tidak diinginkan oleh seorang wanita. Kenapa harus Jessie yang melakukannya? Kenapa harus wanita ini yang menyakitinya?

Steve tahu, bahwa sampai kapanpun, ia tidak akan bisa membenci Jessie. Wanita ini akan selalu menjadi wanita istimewa di hatinya, wanita yang akan selalu ia puja dalam diam. Tapi, apa Jessie merasakan perasaan yang sama dengannya?

Tanpa banyak bicara, Steve bangkit lalu meraih tubuh Jessie, menggendong wanita yang masih asyik tertidur pulas itu menuju ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Jessie terjaga karena hal itu.

“Steve.” panggilnya.

Jessie terduduk, mengucek matanya. Sedangkan Steve segera menjauh, Steve membuka pakaiannya sendiri lalu memutari ranjang dan melemparkan diri di sisi lain dari ranjang tersebut.

Jessie hanya menatap apa yang dilakukan suaminya itu. Bahkan ia melihat Steve tidur miring memunggunginya. Steve tidak seperti biasanya. Kenapa? Apa lelaki itu benar-benar melakukan apa yang ia inginkan?

Sungguh, Jessie berharap jika hal itu tak terjadi. Setelah kepergian Steve tadi malam, Jessie tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Steve. Apa benar lelaki itu akan menuruti kemauannya? Meniduri Donna Simmon?

Beberapa kali Jessie menghubungi Steve, meminta lelaki itu untuk pulang, tapi ponsel Steve mati. Jessie bingung dengan kegalauannya. Ia tidak bisa memikirkan jika Steve benar-benar tidur dengan wanita lain. Hingga akhirnya, Jessie tertidur di sofa ruang tengah apartmennya.

Kini, sudah menjelang pagi, Steve baru pulang. Tubuhnya bau alkohol, meski Jessie tidak mendapati bau parfum wanita tapi melihat kelakuan lelaki itu membuat Jessie tak tenang. Apa benar Steve melakukan apa yang ia inginkan? Meniduri Donna Simmon?

“Steve.” Jessie kembali melirih. Ia melihat Steve miring memunggunginya.

“Tidurlah, Jess.”

“Kau benar-benar melakukan apa yang kukatakan?” tanyanya nyaris tak terdengar. Jika Steve benar-benar melakukan hal itu, maka Jessie benar-benar hancur.

Tapi tak ada jawaban dari lelaki itu.

“Steve.” sekali lagi Jessie memanggil dengan suara lirihnya.

“Demi Tuhan, tidurlah.” Pinta Steve.

Yang bisa Jessie lakukan hanya menurut. Ia kembali terbaring. Miring memunggungi Steve. lalu air matanya tumpah begitu saja. Steve benar-benar melakukan apa yang ia katakan, Jessie tahu itu.

***

Jessie bangun saat matahari sudah membumbung tinggi. Ia bangun sendiri, tak ada Steve di sisinya. Jessie segera bangkit, ia menuju ke arah kamar mandi, membersihkan diri secepatnya, setelah itu ia keluar dari kamarnya. Jessie berharap setidaknya ia mendapati Steve di dapurnya, atau paling tidak lelaki itu sedang menontonn tv di ruang tengah, tapi nyatanya, lelaki itu tak ada di sana.

Dengan lemas kakinya melangkah menuju ke arah meja makan. Disana sudah disiapkan dua potong sandwich. Jessie tahu bahwa itu buatan Steve, tapi ia tidak mengerti kenapa Steve menghindarinya.

Jessie ingin bicara dengan lelaki itu. Membahas tentang masalah mereka. Ia tahu bahwa semalam ia terlalu emosi. Dirinya terlalu diliputi dengan rasa marah hingga tak sadar apa yang sudah ia ucapkan. Bahkan setelah kepergian Steve, Jessie baru menyadari kesalahannya.

Tak seharusnya ia meminta Steve meniduri wanita lain hanya karena ia merasa tak diistimewakan. Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan emosinya. Tapi, setelah dipikir-pikir, semalam memang Steve dulu yang bersikap aneh padanya. Marah-marah tak jelas, dan apa? Astaga, Jessie bahkan melupakan fakta jika Steve menyebut-nyebut nama Henry.

Darimana lelaki itu tahu bahwa semalam ia bertemu dengan Henry? Apa jangan-jangan, Steve melihat kebersamaannya dengan Henry sore itu? Apa Steve salah paham? Astaga, tak seharusnya Steve salah paham. Bahkan Steve seharusnya berterimakasih dengan Henry karena malam itu Henry membuka kembali mata hati Jessie hingga Jessie menyadari satu fakta, bahwa hingga kini, perasaan Jessie terhadap Steve masih sama sebesar dulu…

“Apa yang terjadi denganmu, Jess? Katakan padaku.” Henry membuka suara ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil lelaki itu. Lelaki itu belum juga menyalakan mesin mobilnya. Mungkin Henry sedang ingin memperjelas semuanya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku.” Jessie menjawab masih dengan terisak. “Tadi siang, kekasih Steve datang. Dan dia mengatakan kenyataan yang benar-benar menyakitiku.”

“Seperti apa?”

Jessie menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak akan membaik jika menyimpan semuanya sendiri. Katakan padaku, apa yang dikatakan wanita itu padamu?”

“Steve meniduriku.” Jessie menghentikan kalimatnya, ia merasa ragu untuk melanjutkannya, tapi kemudian Jessie melanjutkan kalimatnya. “Seperti meniduri teman kencan semalamnya. Sedangkan dia tidak meniduri kekasihnya karena menghormati wanita itu.”

“Kau tidak terima dengan kenyataan itu?”

Jessie menghela napas panjang. “Ya. Aku tidak suka dia mengistimewakan perempuan lain, sedangkan aku dipandang sama dengan perempuan jalang teman kencan semalamnya.”

Henry tampak tersenyum. “Jadi, kau, benar-benar menyukainya, ya?”

Jessie menatap Henry seketika. “Henry, aku memang pernah menyukainya. Tapi itu dulu sekali. Dia cinta pertamaku. Tapi sekarang sudah beda. Maksudku, hubunganku dengannya sangat rumit.”

Henry meraih telapak tangan Jessie. “Kau, hanya memungkiri perasaanmu, Jess.”

“Tidak. Aku tahu apa yang kurasakan.”

“Lalu, apa perasaanmu semarah ini jika aku yang ada dalam posisi Steve? apa jika aku tidak menidurimu tapi meniduri wanita lain, kau merasa senang karena kuistimewakan.”

“Henry, semuanya berbeda.”

“Ya, berbeda Jess. Karena kau tidak mencintaiku sebesar mencintainya.” Henry menyahut cepat. “Kumohon. Jangan membohongi dirimu sendiri dan jangan membuatku menjadi orang tolol karena mencoba membohongi diriku sendiri.”

“Aku tidak bermaksud membuatmu tolol. Aku hanya….”

“Kau hanya takut mengakuinya.” Lagi-lagi Henry menjawab cepat. Kemudian Henry mengembuskan napas panjang. “Sejak awal kau mengenalkanku pada Steven Morgan, sejak saat itu aku sudah menaruh curiga. Hubungan kalian tidak masuk akal. Kalian sekan terikat dengan sesuatu yang tak terlihat. Kadang, aku bahkan merasa bahwa kau memiliki zona yang tak dapat kusentuh, sedangkan dia dengan mudah keluar masuk kedalam zona itu.”

“Henry…”

“Aku cemburu, Jess. Sangat. Dan itu sudah sejak lama. Tapi aku mencoba bertahan. Aku mencoba menelan mentah-mentah kecemburuanku dan bersikap seolah-olah dia adalah kakakmu yang menyebalkan. Tapi semakin hubungan kita serius, semakin aku sadar, bahwa aku tidak ada apa-apanya dimatamu daripada dia.”

Jessie menggelengkan kepalanya, tapi Henry melanjutkan kalimatnya.

“Tidak Jess. Aku sudah merasakan ini sejak lama, dan aku akan mengatakannya sekarang. Aku mencintaimu, sangat. Kau tentu tahu itu. Dan aku tahu, bahwa cintamu tak sebesar yang kumiliki untukmu.”

Jessie mulai meneteskan airmatanya. Henry benar. Ya, lelaki itu benar.

“Katakan dengan jujur, maka aku akan menerimanya. Aku akan menerima perpisahan kita jika kau mengaku bahwa selama ini kau tidak mencintaiku.”

“Tidak.” Jessie berkata cepat. “Aku mencintaimu. Sungguh.” Ya, Jessie jujur. Ia memang mencintai Henry. Karena itulah ia menerima lamaran lelaki itu.

“Tapi rasa cintamu padaku tak sebesar rasa cintamu padanya, Jess. Tolong, berkatalah dengan jujur padaku.”

Jessie hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. “Aku… Aku…”

“Kau mencintainya, kan?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. “Ya….” Desahnya.

Kali ini giliran Henry yang memejamkan matanya frustasi. Henry sudah curiga dengan kenyataan itu. Sudah sejak lama. Dan dia baru berani mengutarakan kecurigaannya hari ini. saat hubungan mereka sudah benar-benar berakhir.

“Aku minta maaf, aku hanya…’

“Bagaimana jadinya jika hubungan kita masih tetap berlanjut? Aku tahu bahwa itu tak akan baik. Aku tidak bisa membayangkan jika istriku masih selalu dekat dengan lelaki yang dicintainya. Aku tidak bisa membayangkan hal itu.”

“Maafkan aku…”

Henry menggelengkan kepalanya. “Semua sudah terjadi. Aku tahu ini yang terbaik untuk kita. Terimakasih kau sudah mau berkata jujur padaku.”

“Henry…”

“Jess.” Henry memotong kalimat Jessie. “Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang.”

“Kau, akan menemuiku lagi?” jika tadi sore Jessie berpikir bahwa seharusnya Henry tak lagi menemuinya, maka malam ini ia ingin lelaki itu tetap menjadi teman terbaiknya. Astaga, lelaki ini benar-benar sangat baik, Jessie tak ingin kehilangan lelaki ini, meski status mereka hanya sebagai teman.

Henry menggelengkan kepalanya. “Apa yang kau katakan tadi sore benar. Seharusnya, aku tak lagi menemuimu. Itu akan menyakitiku. Jadi, mungkin aku tak akan menemuimu lagi sampai perasaanku benar-benar sembuh.”

“Maafkan aku…” lagi-lagi Jessie melirih.

“Tidak. Kau tidak salah. Mungkin memang seperti ini jalannya.” Lalu Henry mulai menyalakan mesin mobilnya, kemudian mengantar Jessie pulang.

Jessie menghela napas panjang. Ia memijit pelipisnya. Astaga, apa harus Henry yang menyadarkan tentang perasaannya kepada Steve? lagi pula, ini tak adil untuk Jessie, kenapa ia harus mengakui perasaannya ketika hubungan mereka sedang seperti sekarang ini?

Membayangkan bahwa kemungkinan tadi malam Steve meniduri Donna Simmon membuat Jessie tak tenang. Ya Tuhan! Ia harus menemui lelaki itu. Siang ini juga. Ia harus membahas masalah mereka sebelum semuanya semakin rumit.

***

Setelah berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya, akhirnya Steve memilih beristirahat sebentar. Proses pengambilan foto untuk salah satu majalah fashion terbesar di New York memang sedikit rumit. Steve harus berkonsentrasi penuh, ia tidak boleh main-main karena namanya yang akan menjadi taruhannya.

Saat Steve akan berjalan menuju ke ruang kerjanya, saat itulah salah satu krunya datang dengan seorang wanita di sebelahnya. Wanita berambut pirang yang sudah ia putuskan beberapa hari yang lalu, Donna Simmon.

Dengan penuh percaya diri, Donna berjalan ke arah Steve dan mengecup sisi kanan dan kiri pipi Steve. Steve sempat membatu karena ulah Donna, bahkan ia mengangkat sebelah alisnya, tak mengerti kenapa Donna bersikap seperti ini padanya, padahal terakhir kali mereka bertemu saat itu, Donna marah karena ia sudah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

“Aku tidak mengganggumu, bukan?”

“Tidak.” Steve menjawab pendek. “Ada masalah?” tanyanya.

“Bisa kita bicara di tempat lain?”

“Tentu. Ikutlah ke ruanganku.” Dan akhirnya, mereka menuju ke ruang kerja Steve.

***

Sepuluh menit berada di dalam ruangan berdua, dan Donna belum juga mengatakan apa niat wanita itu datang kepadanya. Sesekali Steve melirik ke arah jam tangannya. Hari ini bukanlah hari yang bebas, tapi ia juga tidak enak jika harus mengatakan hal itu pada Donna. Belum lagi suasana hati Steve sedang kacau jika mengingat tentang hubungan rumah tangganya dengan Jessie.

“Kau, tidak akan memulai apa yang ingin kaukatakan?” akhirnya Steve membuka suaranya.

“Sejujurnya…” Donna bangkit. Ia berjalan menuju ke arah Steve, dan duduk di meja kerja lelaki itu, tepat di hadapan Steve. hal itu kembali membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

Apa Donna sedang menggodanya? Demi Tuhan! Ia tidak akan tergoda. Satu-satunya hal yang diinginkan Steve tentang seks adalah tubuh istrinya, bukan wanita lain.

“Apa?” tanya Steve karena Donna terkesan menggantungkan kalimatnya.

“Aku tahu, Steve, apa yang terjadi denganmu.”

Steve mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

Dengan genit, Donna menjalankan telunjuknya pada kemeja yang dikenakan Steve, menelusuri dada Steve dengan jemarinya. “Pernikahanmu dengan istrimu itu. Kau, menikahinya hanya karena dia hamil, bukan?”

“Apa maksudmu?”

“Jujur saja. Kau tahu Steve, aku bahkan rela tetap menjadi kekasihmu. Karena bagiku, menjadi seorang kekasih yang dicintai itu lebih istimewa dibandingkan menjadi istri yang diselingkuhi.”

“Donna tunggu dulu. Apa maksudmu?”

Well. Kau mengakhiri hubungan kita karena kau sudah menikahi Jessie yang tak lain adalah teman semasa kecilmu, keluarga kalian sudah berteman sejak lama. Aku tahu bagaimana posisimu. Kau hanya tak ingin menyakitinya, padahal pernikahan kalian hanya karena bayi, bukan?”

“Donna. Kau salah paham.” Steve menjawab cepat. Ia tidak menyangka jika Donna akan salah paham hingga seperti ini.

“Lalu apa? Kau mencintaiku. Bagimu, aku adalah wanita istimewa, karena itulah kau yang seorang playboy cap kakap berusaha menjalin hubungan serius denganku tanpa seks. Benar begitu bukan?”

“Astaga Donna.” Steve mengusap rambutnya frustasi. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua itu pada Donna. Kepalanya pusing, sungguh. Bagaimana mungkin Donna tidak mengerti apa maksudnya?

“Dengar.” Steve menggenggam kedua pergelangan tangan Donna. “Selama ini aku hanya mengencani wanita jalang, tentu banyak orang tahu kenyataan itu. Kamudian aku memiliki masalah dengan seseorang. Jessie. Ya, aku memiliki masalah dengan dia, dan aku ingin melupakannya. Karena itulah aku meminta Hank untuk mencarikan seorang wanita baik-baik. Dan kaulah orangnya.”

“Lalu, kau tertarik denganku, bukan?”

“Sejujurnya aku mencoba.” Steve menjawab dengan jujur. Ia tidak mau Donna salah paham lagi. “Aku ingin menjalin hubungan sehat, dan aku mencobanya denganmu. Tapi maaf, aku tidak bisa.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu.” Steve kembali mengusap rambutnya sendiri. “Intinya adalah, entah aku sudah menikah atau tidak, hubungan kita tak akan berhasil. Kita tetap akan selesai.”

“Tapi kau mengajakku pulang ke rumah keluargamu. Dan menurut ibu dan adikmu, kau tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.”

“Karena aku ingin… aku…” Steve tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ya Tuhan! Ia tidak seberengsek itu.

“Katakan. Apa tujuanmu mengajakku ke sana?”

“Aku ingin dia melihatmu.”

Ya. Itulah tujuan Steve. Steve tahu bahwa Jessie akan datang. Karena itulah ia mengajak Donna ke Pennington hari itu. Ia ingin menunjukkan pada Jessie bahwa ia juga bisa memiliki kekasih seperti Jessie yang memiliki Henry. Ia juga bisa berhubungan dengan normal, dan ia ingin melihat reaksi Jessie. Tapi Steve tak mendapatkan apapun setelah mengajak Donna Simmon pulang ke rumah orang tuanya selain kesalah pahaman sialan ini.

“Jadi kau, kau ingin membuatnya cemburu dengan kehadiranku?”

“Donna, aku tahu itu sangat brengsek. Tapi ya, itulah tujuanku.”

“Bajingan kau Steve!” Donna berdiri seketika.

“Maafkan aku. Sungguh.”

“Aku benar-benar tidak menyangka. Astaga… jadi kau, kau sama sekali tak tertarik denganku? Kau hanya… Ya Tuhan! Aku tidak percaya.” Donna bersiap pergi. Ia malu, tentu saja. Ia berharap terlalu banyak dan ia terlalu salah menerka keadaan. Donna merasa sangat malu, ia menganggap dirinya sendiri begitu istimewa untuk seorang Steven Morgan, tapi kenyataan yang ia dapat adalah sebaliknya, bahwa Steven Morgan TIDAK benar-benar tertarik dengannya.

“Donna.” Steve ingin menenangkan wanita itu.

“Tidak! Steve. Jangan!” napas Donna memburu karena kekesalan yang memuncak dikepalanya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Setelah perkataannya tersebut, wanita itu pergi.

Oke, sempurna. Setidaknya Donna Simmon tak akan mengganggu kehidupannya lagi. Tapi bukan seperti itu yang dirasakan Steve. Ia merasa menjadi orang yang sangat brengsek. Membuat wanita itu berharap lebih, membuat wanita itu salah paham dan lebih parah lagi memanfaatkan kehadiran wanita itu untuk menyembunyikan perasaannya sendiri kepada Jessie, perasaan yang selalu ingin ia pungkiri. Sejak lama…..

-TBC-

Aku numpang promo dikit yaa… Ebook aku di google play, bisa kalian beli hihihi

Advertisements

One thought on “Sleeping with my Friend – Bab 18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s