Sleeping with my Friend – Bab 17

Leave a comment Standard

 

Nyatanya, setelah melihat kejadian ini, Steve merasa bahwa Jessie hanya berusaha membohongi dirinya. Membuatnya terlihat bodoh dengan rasa cinta yang ia rasakan dan bertepuk sebelah tangan.

Sial!

Cinta?

Ya Tuhan! Kenapa ia harus mengaku jatuh cinta pada saat seperti ini?

Kenapa ia harus jatuh cinta pada Jessie, wanita yang bahkan selalu melihatnya sebagai teman? Kenapa harus seperti ini?

Bab 17

Jessie masih tidak menyangka bahwa Henry akan datang kembali padanya setelah apa yang mereka bahas siang itu di apartmennya. Jessie mengira, bahwa Henry akan membencinya, dan menolak untuk bertemu lagi dengannya. Nyatanya, hati lelaki ini benar-benar seperti malaikat.

Tadi Siang, Jessie cukup terkejut dengan kehadiran Donna Simmon, kekasih Steve, dan dan setelah wanita itu pergi, pikiran Jessie tak bisa lepas dari apa yang dikatakan wanita itu sepanjang siang di hadapannya.

“Aku benar-benar tidak menyangka jika kau akan menggunakan cara selicik ini untuk mengikatnya, Summer!” Jessie melihat mata Donna yang penuh dengan kemarahan. Hingga detik ini, Jessie tidak tahu apa tujuan Donna datang kepadanya. Meski begitu, Jessie tetap menerima Donna sebagai tamunya dan mengurung diri mereka berdua di dalam ruang kerjanya.

“Aku sendiri tidak mengerti apa yang kau maksud.”

“Dengar, aku sudah tahu semuanya! Kau membiarkan dirimu hamil agar kau mendapatkan perhatiannya, bukan? Agar dia menikahimu!”

Oh, perkataan itu sangat menyinggung Jessie.

“Donna, kau tidak tahu apa yang terjadi diantara kami.” Jessie masih berusaha bersikap tenang, ia tak ingin berakhir saling menjambak rambut satu sama lain karena masalah sepele ini.

“Kau yang tidak tahu apa yang sudah kami miliki!” Donna berseru keras. Wanita itu tampak tak dapat mengontrol emosinya. “Dengar, Jess. Dia mencintaiku! Sangat mencitaiku hingga dia memperlakukan aku dengan begitu istimewa!”

Itu bukan hal yang bagus untuk didengar.

“Seistimewa apa?” tantang Jessie. Karena baginya, wanita yang diistimewakan Steve adalah, ibu dan adik lelaki itu, serta dirinya. Setidaknya, dulu itu yang ia tahu.

“Seistimewa dia tak berani menyentuhku! Membawaku ke atas ranjang sialannya sebelum kami menikah!”

Oh… Sudah! Semua selesai! Pikir Jessie.

“Kau, dia hanya menganggapmu seperti perempuan jalang semalamnya, karena itulah dia berani menidurimu.”

“Dia tidak menganggapku seperti itu!”

“Well, nyatanya itu yang terjadi, Jess.” Donna masih menegaskan apa yang wanita itu pikirkan. “Dan kau, dengan tak tahu malu malah menjeratnya dengan hubungan pernikahan. Ya Tuhan! Jika aku jadi dirimu, maka aku akan menenggelamkan diriku ke dasar laut!”

Itu benar-benar kalimat yang sangat menghina. Jessie tak pernah berpikir untuk menjerat Steve dengan sebuah pernikahan. Ia tidak pernah memaksa lelaki itu untuk menikahinya. Kemudian Jessie melihat Donna berdiri dan dengan begitu arogan, wanita itu berkata “Dia akan selalu mencintaiku, dia akan selalu mengistimewakanku, dan kau, kau hanya akan menjadi budak seksnya. Selamat berbahagia, Mrs. Morgan.”

Setelah itu Donna pergi, dan setelahnya, pikiran Jessie berubah menjadi sangat kacau. Donna Simmon benar-benar menghancurkan perasaannya. Ia tidak tahu bahwa Steve menilainya serendah itu. Hal tersebut membuat Jessie marah, tapi disisi lain ia tidak dapat menyalurkan kemarahannya karena Steve memang tak bersalah. Donna benar, ialah yang harus disalahkan karena sudah menggoda lelaki itu. Belum lagi kenyataan bahwa ia sudah teledor karena tidak mengamankan dirinya sendiri dan membiarkan kehamilan ini terjadi. Dan kesalahannya semakin fatal saat ia setuju untuk menikah dengan Steve.

Jessie memijit pelipisya. Sepanjang siang itu ia merasa sangat pusing, perasaannya kacau, dan ia hanya ingin menangis.

Lalu ketika sore tiba, para pegawainya bersiap untuk pulang, saat itu Miranda datang dan mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya.

Henry….

Lelaki itu datang.

Sungguh, Jessie tak menyangka jikaa Henry akan kembali menemuinya setelah ia sudah menyakiti perasaan lelaki itu.

Jessie meminta Miranda untuk pulang saja setelah ia mempersilahkan Henry masuk ke dalam ruangannya. Tak lupa, Jessie juga menyiapkan kopi untuk lelaki itu agar suasana tegang sedikit mencair.

“Aku, sangat terkejut kau mengunjungiku.” Jessie mulai membuka suara.

“Kenapa? Kau ingin aku benar-benar meninggalkanmu dan melupakanmu begitu saja?”

“Henry, aku minta maaf. Tapi aku memang berharap jika kau melakukan hal itu. Ini akan menyakitimu, jika kita tetap bertemu seperti ini.”

Henry menundukkan kepalanya. “Aku sudah tidak bisa lagi memilikimu, Jess. Tak bisakah kau setidaknya menerimaku seperti ini? aku hanya ingin melihatmu, berhubungan baik denganmu, salahkah?”

“Tidak.” Jessie menggelengkan kepalanya. “Tapi ini akan menyakitimu.”

Henry sedikit tersenyum. “Kau tahu, aku memilih kesakitan setiap hari asalkan tetap bisa berjumpa denganmu.”

Astaga, Jessie tak bisa membiarkan Henry kesakitan setiap saat. “Jangan seperti ini.” lirih Jessie. Perasaan Jessie benar-benar kacau, dan kehadiran Henry semakin memperkeruh semuanya.

Pikirannya semakin kacau. Jessie bahkan berpikir pada titik jika semua ini seharusnya tak terjadi. Ia seharusnya tak mengandung anak Steve, mereka tak seharusnya menikah, dan seharusnya, hubungannya dengan Henry masih baik-baik saja bahkan lebih romantis dari sebelumnya.

Tapi bagaimanapun juga, Jessie tidak bisa mengingkari hubungannya saat ini. statusnya sudah jelas, bahwa ia adalah seorang istri. Ia tidak boleh kembali tergoda dengan Henry maupun lelaki lain.

Tapi…

Tapi….

Astaga, Jessie benar-benar bingung. Ia kembali mengingat perkataan Donna Simmon tadi. Hal itu membuat Jessie ingin menangis. Padahal tak seharusnya ia menangis di hadapan Henry. Itu akan sangata memalukan, dan tak masuk akal, tapi Jessie tak mampu menahan tangisnya.

Henry yang melihat segera menghampiri Jessie mendekat ke arah wanita yang tampak sangat tertekan tersebut.

“Hei, maafkan aku. Jika kehadiraanku membuatmu tertekan, maka aku akan pergi.” Henry bangkit, ia bersiap pergi, tapi kemudian Jessie menghentikannya.

Henry menatap pergelangan tangannya yang ditahan oleh Jessie. Wanita itu masih setia menangis, dan Henry tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu.

Jessie sendiri tak tahu apa yang sedang menimpanya. Batinnya berperang, antara membiarkan Henry pergi, atau meminta lelaki itu untuk menemaninya. Jessie tak ingin sendiri dan kembali memikirkan tentang perkataan Donna Simmon. Ia ingin ditemani, dan melupakan perkataan perempuan berambut pirang tadi.

“Kau ingin aku tetap di sini?” tanya Henry karena ia tidak mendapati Jessie melarangnya atau mempersilahkan dirinya pergi. Padahal Jessie dengan jelas menahan pergelangan tangannya agar tidak pergi dari sana.

Jessie tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dan hal itu cukup membuat Henry kembali duduk di sebelah Jessie. Keduanya diam tanpa kata. Hanya pergelangan tangan Henry yang setia dicekal oleh Jessie. Henry tak tahu apa yang terjadi dengan Jessie dan yang diinginkan wanita tersebut. Yang ia tahu hanyalah, bahwa ia harus berada di sisi Jessie ketika Jessie tampak hancur dan kacau seperti saat ini.

***

Setelah merasa cukup, Jessie memilih untuk segera mengajak Henry pulang. Hari sudah gelap, mungkin Steve akan khawatir terhadapnya karena belum pulang, atau mungkin sebaliknya, lelaki itu tak akan peduli dengan apa yang sedang ia lakukan.

Masih saling berdiam diri, Henry mengikuti tepat di belakang Jessie. Membuat Jessie merasa nyaman, dan merasa lebih baik dengan kehadiran lelaki itu disekitarnya. Meski mereka tak melakukan apapun dan hampir tak membicarakan apapun, tapi kehadiran Henry cukup mengobati suasana hati Jessie yang sedang kacau karena kehadiran Donna Simmon.

Setelah mematikan semua lampu dan mengunci butiknya. Jessie mengikuti Henry menuju ke arah mobil lelaki itu. Steve mungkin tak menjeputnya. Bahkan mungkin saja lelaki itu sedang sibuk dengan kesenangannya sendiri. memikirkan hal itu membuat Jessie kembali sedih.

Astaga, kenapa jadi seperti ini?

Percaya dengan Steve saat ini sudah menjadi hal yang sulit untuk Jessie. Pemikiran buruk tentang Steve selalu bersarang di kepalanya sejak tadi siang. Ya, baginya, Steve bukan orang yang jujur. Padahal, bisa saja Donna mengada-ada, atau sengaja membuat hubungnnya dengan Steve merenggang. Tapi nyatanya Jessie tidak mempercayai kemungkinan itu. Ia lebih mempercayai perkataan Donna Simmon, bahwa Steve mencintai wanita berambut pirang itu, pernikahannya dengan Steve hanya sebuah sandiwara lelaki itu, dan Steve hanya melihatnya sebagai seorang pemuas daripada seorang istri.

Jessie sempat berdiri melamun, dan matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat kenyataan itu. Hal itu membuat Henry menolehkan kepalanya ke arah Jessie.

“Jess?”

Panggilan Henry menyadarkan Jessie dari lamunan. Dalam sekejap mata, Jessie menghambur ke arah Henry, memeluk lelaki itu begitu erat, kemudian ia terisak.

Ya Tuhan! Jessie tidak tahu apa yang terjadi dengannya. ia tidak ingin melakukan hal ini, tapi disisi lain, Jessie tak kuasa menahan diri untuk memeluk lelaki itu. Jessie sedang membutuhkan sebuah penopang agar dirinya tidak jatuh terpuruk. Perkataan Donna Simmon, dan kenyataan yang ada membuat Jessie tersakiti. Ia tidak tahu kenapa bisa tersakiti seperti ini. Maksudnya, ia bahkan menikah dengan Steve hanya karena hamil, seharusnya ia tak perlu merasa sesakit ini.

Atau jangan-jangan……

“Kau memiliki masalah dengan Steve?” tiba-tiba saja Henry bertanya seperti itu. Mereka masih saling berpelukan satu sama lain, dan Jessie senang, ia tak harus melihat ekspresi Henry saat ini.

“Kau tak pernah seperti ini saat bersamaku, Jess.” Lirih lelaki itu.

“Maaf….” Ucap Jessie disela isakannya.

“Kau, mencintainya?”

Jessie melepaskan pelukannya seketika. Ia menatap Henry, kemudian mundur satu langkah.

“Kau, mencintainya, Jess?”

“Aku… Aku…” Jessie tak dapat menjawab, ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Sudah sejak lama aku ingin bertanya hal ini padamu. Kau, mencintainya, bukan?”

Jessie menggeleng, air matanya jatuh dengan begitu deras. Ia tidak tahu bahwa Henry bisa menebak apa yang ia rasakan. Apa ia begitu tampak mencintai seorang Steven Morgan? Tidak, ia tidak mencintai Steve. maksudnya, ia hanya menganggap Steve sebagai temannya sendiri. mungkin Steve memang merupakan cinta pertamanya, tapi hanya itu, dan itu sudah terjadi Lima belas tahun yang lalu, ia sudah tidak lagi mencintai Steven Morgan.

“Kau, tidak bisa membohongiku, Jess.”

“Henry…”

“Aku sudah merasakan itu sejak lama.”

Jessie masih menggelengkan kepalanya.

“Kau hanya perlu jujur.”

Jessie kembali memeluk Henry, kemudian ia berkata “Maafkan aku..” entah apa yang membuat Jessie meminta maaf. Apa karena sudah membohongi Henry dengan perasaannya?

***

Setelah melihat pemandangan yang mambuatnya panas karena emosi, Steve segera kembali ke apartmen Jessie. Ia membuka jaket yang ia kenakan kemudian membantingnya dengan kesal.

Sekali lagi, Steve tak menyangka jika Jessie akan melakukan itu. Steve tahu bahwa Jessie masih sangat mencintai mantan tunangannya itu, tapi seharusnya Jessie tak perlu berhubungan secara sembunyi-sembunyi dengan lelaki itu. Jessie seharusnya tahu statusnya yang sudah menjadi seorang istri. Kenapa Jessie tega melakukan hal ini padanya?

Seumur hidupnya, Steve tidak pernah merasakan yang namanya diselingkuhi. Dan kini, Steve merasakan perasaan itu saat melihat Jessie berpelukan dengan mantan kekasihnya.

Steve merasa dikhinati, Steve merasa menjadi orang yang paling bodoh karena sudah diduakan. Padahal Steve belum tahu, apa sebenarnya yang telah terjadi. Mata Steve terlalu dibutakan dengan kata cemburu.

Ya, Steve merasa sangat cemburu. Bahkan ia tak pernah merasakan kecemburuan hingga taraf setinggi ini. Steve tak mengerti, kenapa Jessie bisa begitu mempengaruhinya, membuatnya sakit hingga seperti ini.

Saat Steve masih belum dapat mengendalikan emosinya, saat itulah pintu apartmen Jessie dibuka. Menampilkan sosok Jessie yang baru saja masuk ke dalam.

Steve berdiri seketika, ia menatap Jessie dan wanita itu tampak menatapnya dengan tatapan kesal.

Kenapa?

Apa Jessie tidak suka melihatnya berada di apartmen wanita itu? Apa Jessie berharap bahwa yang ada di sana adalah Henry? Sialan!

Steve mendekat, dan ia bertanya. “Kenapa pulang sendiri? mana teman kencanmu?”

Jessie mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Steve. lagi pula, kenapa Steve bersikap seperti ini kepadanya? Bukankah seharusnya ia yang menyembur Steve dengan kata-kata pedasnya?

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Si Gay itu.” Steve mencoba mengendalikan emosinya. “kau pikir aku tidak tahu tentang pertemuanmu dengan dia?”

“Apa?”

“Kau memeluknya!” ya, meledaklah sudah emosinya.

Hening, setelah seruan keras yang dilontarkan Steve pada Jessie. Jessie menatap Steve dengan mata nanarnya, dan Steve masih sibuk mengendalikan kemarahannya. Napas Steve memburu karena emosi yang mempengaruhinya. Ia masih merasa sangat kesal dan marah saat mengingat bagaimana Jessie memeluk lelaki itu tadi.

“Dengar, Steve. kau tidak bisa mengendalikan apa yang ingin kuperbuat.”

“Kenapa tidak bisa? Kau istriku!”

“Kita menikah bukan karena cinta.”

“Persetan dengan cinta, Sialan!”

Steve menjauh ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Bukan ini yang ia inginkan. Tapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Rasa sakit dan rasa marah mempengaruhinya, membuat Steve tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.

“Dengar, Jess. Dalam sesaat, kau tahu apa yang sudah kupikirkan? Aku berpikir bahwa kau melakukan… kau… Sialan!” Steve tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia tidak dapat mengatakan pikiran buruk apa yang sedang bersarang dikepalanya.

“Katakan saja. Kau pikir aku selingkuh dengannya?” tantang Jessie.

“Ya.”

Jessie mengangguk. Ia tidak menyangka jika Steve berpikiran sejauh itu. “Kau pikir aku tidur dengannya?”

Steve mendekat, dengan spontan ia mencengkeram kedua bahu Jessie. “Katakan kalau kau tidak melakukan itu!” ucapnya penuh penekanan.

“Kalaupun aku membantahnya, kau tetap akan menuduhkau seperti itu, Steve!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah melepaskan diri dari cengkraman tangan Steve di bahunya. “Aku tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan Donna Simmon siang ini adalah suatu kebenaran.”

Steve memicingkan matanya. “Apa maksudmu?”

“Kau, kau melihatku sebagai wanita murahan yang biasa kau kencani, bukan? Karena itulah kau menuduhku serendah ini dan karena itulah kau meniduriku malam itu!” kali ini, giliran Jessie yang tak mampu membendung amarahnya. Semuanya jadi semakin masuk akal. Tuduhan yang diberikan Steve padanya memperkuat apa yang dikatakan Donna Simmon tadi siang.

“Sial! Jess! Aku menidurimu karena kau menyetujui ide gilaku!”

“TAPI KAU TIDAK MENIDURI DONNA SIMMON!” Jessie berseru keras hingga membuat Steve mematung seketika.

“Apa?” Steve tak mengerti apa yang dikatakan Jessie.

Jessie mencengkeram kemeja yang dikenakan Steve. “KENAPA KAU MENIDURIKU TAPI TIDAK DENGAN DIA?!” Jessie masih tak dapat menahan emosinya.

Steve tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Kau membuatnya terlihat istimewa, Steve. Sedangkan kau membuatku terlihat seperti perempuan murahan yang menjadi teman kencan semalammu.” Jessie memukuli dada Steve. “Kau membuatku tersakiti dengan kenyataan itu.” Dan Jessie tak mampu menahan airmatanya lagi. Tangis yang sejak siang tadi keluar karena perkataan Donna Simmon.

“Kau, kau ingin aku menidurinya?”

Jessie membatu dengan pertanyaan itu. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan. Jessie sangat yakin bahwa ia tidak ingin melihat Steve meniduri wanita lain, tapi di sisi lain, apa yang dikatakan Donna Simmon tentang ‘keistimewaan’ wanita itu membuat Jessie kesal.

“Katakan! Apa kau ingin aku tidur dengannya?” tanya Steve sekali lagi.

“Jika kau ingin menidurinya, maka silahkan saja! Kau pikir aku peduli denganmu?” masih dengan emosi, Jessie menjawab pertanyaan Steve.

Steve mundur satu langkah. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan melakukannya.”

“Ya. Pergi saja sana!” Jessie berseru keras. Ia bahkan sudah membalikkan tubuhnya membelakangi Steve. sedangkan Steve, ia mundur perlahan, tak menyangka jika dirinya begitu tak berarti untuk Jessie. Haruskah ia melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu?

-TBC-

jangan pada darah tinggi yaakkk hahahhaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s