Sleeping with my Friend – Bab 14

Leave a comment Standard

 

Haloooooooo semuanya.. huwaaa lama bgt aku nggak update di Blog/ ini semua karena kemaren aku Pulkam ke jawa, yaaa tau sendiri kalo di sana sekarang susah sekali sinyalnya. buka wordpress selalu loading mulu.. but, kalian jangan sedih, aku bakal update banyaaakkkkk lohh hahahah oke, happy reading yaaa.. muwaahhhh

 

“Ohh, selamat. Kenapa aku tidak diundang?”

“Hanya pernikahan sederhana yang diadakan di lumbung rumahku.” Jawab Steve. “Tapi lain kali, aku akan mmeneraktirmu minum untuk merayakannya. Boleh kan Sayang?’ tanyanya pada Jessie.

“Ya. Tentu saja.” Jessie baru membuka suaranya.

“Baiklah, Cod. Kami akan naik dulu.” Steve berpamitan dan Cody hanya menganggukkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar bahwa kedua orang tersebut nyatanya sudah menikah.

Saat Steve dan Jessie baru saja masuk ke dalam lift, Cody baru saja ingat bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Jessie. Seseorang yang datang setiap hari ke apartmen ini selama Empat hari terakhir. Seseorang yang Cody kenal sebagai tunangan Jessie. Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Bab 14

Di dalam lift. Jessie dan Steve saling berdiam diri. Jessie masih membiarkan lengan Steve merangkul pinggangnya. Ia merasa nyaman, karena itulah ia membiarkan saja apa yang dilakukan Steve padanya.

Sesekali telapak tangan lelaki itu mengusap perutnya. Astaga, Steve benar-benar mampu membungkam kecerewetan Jessie dengan sikap manisnya ini. Jessie tak pernah mendapatkan perhatian hingga seperti ini dari seorang Steve, rasa posesif lelaki itu begitu tampak, dan hal itu membuat Jessie bingung, sebenarnya apa yang dirasakan lelaki itu padanya?

Ping

Pintu lift terbuka. Mereka akhirnya sampai di lantai apartmen Jessie. Keduanya keluar dari dalam lift, dan menghentikan langkah mereka secara bersamaan setelah mendapati seseorang yang duduk di sebuah kursi lipat di sebelah pintu apartmen Jessie.

Orang itu adalah Henry, yang saat ini sudah bangkit dan melihat kedatangan mereka berdua.

“Jess.” Ucap Henry yang dengan spontan sudah mendekat. Tiba-tiba, tanpa diduga lelaki itu memeluk erat tubuh Jessie “Astaga, akhirnya kau kembali.” Ucap Henry masih dengan memeluk tubuh Jessie.

Jessie hanya membatu, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Henry. Kenapa lelaki ini kembali padanya. Bukankah mereka sudah putus? Henry sudah tahu keadaannya yang tengah hamil, dan mereka sudah benar-benar putus malam itu. Henry bahkan sudah tak pernah lagi menghubunginya. Jessie mengira bahwa lelaki itu sangat membencinya, dan hal itu sebenarnya wajar terjadi.

Tapi kini? Kenapa Henry datang kembali? Kenapa lelaki ini memeluknya seperti ini? apa lelaki ini lupa dengan kehamilannya?

“Henry. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jessie kemudian.

Henry melepaskan pelukannya. “Bisakah kita bicara? Aku perlu bicara denganmu.”

Jessie menatap ke arah Steve. lelaki itu tampak keras ekspresinya. Matanya menatap tajam ke arah Henry. Menyala-nyala menunjukkan emosinya. Jessie bahkan sempat melirik telapak tangan Steve yang sudah saling mengepal, seakan menunggu untuk mendaratkan tinjunya pada sesuatu.

“Steve. Kau, bisa meninggalkan kami?”

“Kenapa aku harus meninggalkanmu?” Steve menatap Jessie dengan mata tajamnya. Bahkan, nada bicara lelaki itu terdengar keras penuh emosi.

“Kumohon, aku perlu berbicara dengannya.”

“Kami memiliki masalah yang belum diselesaikan. Jadi tolong, tinggalkan kami.” Henry membuka suara. Jika boleh jujur, Henry sangat kesal melihat kedekatan Steve dengan Jessie. Meski Jessie selalu bilang bahwa Steve hanya temannya, tapi tetap saja, kecemburuan menguasai dirinya saat melihat kedekatan mereka apalagi ketika hubungannya dengan Jessie sedang berada di ujung tanduk.

Steve malah maju satu langkah ke hadapan Henry. Ia tidak suka lelaki itu seakan memerintahkan dirinya untuk menjauhi Jessie, istrinya. “Kau tahu, kau sedang berhadapan dengan siapa, Walter?” tanya Steve dengan dingin.

“Aku tidak peduli denganmu, Morgan. Yang kupedulikan saat ini hanya kekasihku!” Henry tampak terpancing emosinya. Jessie tahu bahwa ini tak akan berakhir dengan baik.

Saat Steve akan membalas perkataan Henry, saat itulah Jessie menengahi keduanya. Jessie menarik Steve agar menjauh, kemudian berkata pada lelaki itu “Tolong, beri kami waktu.”

“Aku tidak suka, Jess.”

“Aku tahu, tapi kami harus bicara dengan baik-baik.”

Steve menghela napas panjang. “Baiklah.” Akhirnya ia mengalah. Walau sebenarnya ia tidak ingin.

Steve menatap tajam ke arah Henry ketika ia melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Jessie. Henry terlihat sedikit tersenyum dan hal itu benar-benar membuat Steve kesal.

Akhirnya, dengan lantang Steve berkata “Aku pergi, tapi aku akan kembali lagi secepatnya, Mrs. Morgan.” Mata Jessie membulat seketika. Ia tidak percaya Steve akan memanggilnya dengan panggilan tersebut.

Jessie menatap Henry saat Steve sudah menghilang dibalik lift. Henry tampak memucat. Astaga, orang bodohpun tahu apa maksud Steve memanggilnya dengan panggilan itu. Dan kini Henry pun tahu apa maksud Steve. Steve seperti sengaja mengatakan hal itu. Astaga, apa tujuannya? Jessie memang akan mengatakan status barunya pada Henry, tapi Jessie tak ingin Henry mengetahuinya dengan cara seperti ini.

Oh Tuhan! Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

***

Jessie menyuguhkan secangkir kopi untuk Henry. Wajah lelaki itu sudah tak sepucat tadi. Tapi lelaki itu belum juga membuka suaranya sejak ia memutuskan mengajak Henry masuk ke dalam apartmennya.

Akhirnya, mau tidak mau Jessie membuka suaranya. “Kau baik-baik saja?” tanya Jessie dengan sedikit ragu.

“Baik-baik saja katamu? Kau tidak dengar apa yang dikatakan Si Bajingan Morgan tadi? Nyonya Morgan? Apa kau sudah berganti nama?”

“Henry. Aku tahu ini sulit dan rumit, aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa berakhir seperti ini.”

Henry berdiri seketika. “Sial!” lelaki itu mengumpat. Umpatan pertama sejauh yang bisa Jessie ingat. “Beberapa minggu terakhir aku tidak bisa fokus bekerja karena kabar yang mengejutkan darimu, Jess. Ya Tuhan! Tunanganku hamil padahal aku tak pernah menyentuhnya. Yang lebih gila adalah dia memutuskanku tanpa menanyakan bagaimana perasaanku!” Henry berseru keras.

“Kau hancur. Aku tahu perasaanmu hancur. Jadi aku memilih mengakhiri semuanya.”

“Tidak pernahkah kau berpikir bahwa aku akan melupakan semuanya dan menganggap anak itu adalah milikku?”

Jessie menatap Henry seketika. “Kau tidak mungkin berpikir seperti itu.”

“Tapi aku memikirkan hal itu beberapa minggu terakhir, Jess! Dan hal itu pulalah yang membawaku kemari menemuimu!” Henry berseru keras. Tanpa diduga, Henry menuju ke arah Jessie, ia berlutut dihadapan Jessie yang duduk menghadapnya. “Demi Tuhan! Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Katakan padaku bahwa aku belum terlambat.” Henry memohon.

Mata Jessie berkaca-kaca. Sial! Hormonnya benar-benar memperkeruh suasana.

“Jess. Katakan. Bahwa panggilan yang dia berikan padamu tadi hanya leluconnya.” Henry mendesak.

“Maaf. Aku memang sudah menikah.” Henry ternganga dengan jawaban jujur dari Jessie.

“Kau… kau…”

“Maafkan aku.” Hanya kata maaf yang bisa Jessie berikan pada Henry, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Semuanya sudah terjadi, Jessie tahu tak akan ada masa depan lagi untuk hubungannya bersama dengan Henry, karena itulah mau tidak mau ia harus berkata sejujur-jujurnya dengan lelaki itu agar semuanya selesai dan tak ada yang tersakiti lagi karena permasalahan ini.

***

“Kau gila? Jadi kau belum mengatakan pada Donna tentang pernikahanmu dengan Jessie?” tanya Hank dengan raut terkejutnya.

Steve memilih ke tempat Hank ketika pergi meninggalkan Jessie tadi. Keduanya banyak berbincang dan hal itu memperbaiki suasana hati Steve. hingga kemudian, Hank bertanya tentang hubungan Steve dengan Donna. Bagaimanapun juga, Steve mengenal wanita itu dari Hank, Donna adalah salah satu teman Natalia, kekasih Hank. Jadi, Hank hanya ingin semuanya berakhir baik dan tak akan menimbulkan masalah kedepannya.

Tapi Hank sangat terkejut saat dengan santai Steve menjawab bahwa temannya yang gila ini belum memberitahu Donna tentang status barunya. Bahkan Steve belum memutuskan hubungan mereka.

“Aku terlalu fokus dengan Jessie hingga melupakan dia, Hank.”

“Aahh!! Itu hanya alasanmu saja. Sekarang, aku ingin kau segera menghubunginya, dan katakan padanya bahwa semuanya sudah berakhir.” Hank menuntut.

“Oh, ayolah Hank. Aku sedang dalam suasana hati yang buruk. Istriku sedang berduaan dengan mantan kekasihnya. Dan aku tidak dapat memikirkan apapun lagi selain apa yang sedang mereka lakukan di sana.”

“Kau berlebihan. Sekarang cepat, hubungi Donna.”

Steve mendengus sebal. Hank memang benar. Ia memang harus segera menyelesaikan hubungannya dengan Donna karena jika tidak, Jessie mungkin akan salah paham kedepannya. Atau mungkin, ia akan membuat Donna semakin tersakiti. Meski ia hanya sebatas tertarik dengan Donna, tapi wanita itu adalah wanita yang baik, dan Steve tak ingin menyakiti wanita baik-baik.

***

Siang itu juga, Steve bertemu dengan Donna, di sebuah kafe tak jauh dari gedung apartmennya. Hank juga ikut, tapi temannya itu memilih duduk di meja lain. Bagaimanapun juga Steve harus menyelesaikan hubungannya secara pribadi, empat mata. Jadi Hank memilih duduk di tempat lain sembari menikmati kopinya.

“Jadi, apa yang membuatmu sangat ingin bertemu denganku siang ini juga?” tanya Donna dengan percaya diri. Donna sangat terkejut saat Steve meneleponnya dan memintanya bertemu siang ini juga. Padahal, ia sedang kerja. Untung saja tak lama jam makan siang berdenting hingga Donna memutuskan untuk menghabisakan waktu makan siangnya bersama dengan Steve.

Sebenarnya, Donna sudah sangat berharap banyak dengan Steve. Steve sangat keren dan seksi. Lelaki itu mampu membuatnya tertarik seketika sejak pertama kali melihatnya. Meski begitu, Donna menahan diri agar tak terlihat agresif dimata Steve.

Natalia, temannya yang merupakan kekasih Hank, pernah berkata bahwa Steve sedang mencari seorang perempuan dan mencoba membangun sebuah hubungan yang sehat. Steve menghormatinya hingga lelaki itu tak pernah sekalipun membahas tentang ranjang saat di hadapannya. Donna sempat tak percaya diri. Ia berpikir bahwa Steve tak cukup tertarik dengannya. tapi perkataan Natalie yang mengatakan bahwa Steve sangat menghormatinya dan ingin membuat hubungan mereka menjadi istimewa membuat Donna semakin terpukau dengan lelaki itu.

Astaga, kapan lagi ia menemukan lelaki seperti Steven Morgan?

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Steve berkata dengan sungguh-sungguh. Wajahnya sangat serius saat akan membahas tentang hubungannya mereka.

“Ya. Kau tampak sangat serius.”

“Ya. Karena apa yang akan kubicarakan memang sangat serius.”

Donna tersenyum. Tidak mungkin Steve akan menaikkan tingkat hubungan mereka, bukan? Donna belum siap. “Jadi, apa itu?” tanyanya lagi.

Dengan spontan Steve meraih kedua telapak tangan Donna yang berada di atas meja, kemudian ia meremasnya dengan erat. “Donna, kupikir, lebih baik kita memperbaiki hubungan kita.”

“Ya. Tentu saja.” Donna masih tak mengerti apa yang akan dikatakan Steve.

“Maksudku. Kupikir, lebih baik kita berteman biasa saja.”

Donna sempat membatu, mencerna apa yang baru saja ia dengar dari bibir Steve. apa maksud lelaki itu dengan berteman saja?

“Maksudmu?”

“Baiklah. Aku harus mengatakan semuanya.” Steve menghela napas panjang. “Aku sudah menikah. Jadi kupikir, lebih baik hubungan kita hanya sebatas teman saja.”

“Kau apa?” Donna benar-benar tak mampu menahan keterkejutannya. Menikah? Bagaimana mungkin? Pasti Steve sedang bercanda.

“Ya, aku sudah menikah.”

“Kau sedang bercanda, bukan? Aku tidak melihat istrimu saat kau mengajakku ke Pennington beberapa minggu yang lalu.”

“Sebenarnya, itu belum. Maksudku, kau melihatnya di sana, tapi aku belum menikah dengannya.”

“Jadi kapan kau menikah dengannya? dan siapa dia?!” Donna tak mampu menahan diri untuk berseru keras di hadapan Steve. Astaga, ia benar-benar berharap banyak dengan Steve, tapi lelaki itu malah mencampakannya.

“Seminggu yang lalu. Ya, aku sudah menikah dengannya seminggu yang lalu.”

“Siapa dia?” Donna masih mendesak.

“Donna, kau tak perlu tahu. Maksudku, aku salah karena sudah membawamu dalam masalahku, dan sekarang, aku ingin mengakhirinya.”

“Kau memberiku harapan Mr. Morgan. Dan aku tidak menyangka bahwa kau akan mengakhirinya dengan cara seperti ini.”

“Dengar, Donna. Aku tahu bahwa aku salah. Karena itu aku ingin mengakhirinya sekarang sebelum kau semakin tersakiti.”

“Aku sudah tersakiti, kau tahu.” Donna berdiri dan dia bersiap untuk pergi. “Dan satu lagi. Kupikir, aku tahu siapa wanita itu.”

“Kau….”

“Summer. Jessica Summer. Dia bukan istrimu sekarang?”

“Darimana kau tahu?” Steve tidak tahu darimana Donna tahu tentang hal itu. Hank dan kekasihnya memang datang ke pesta pernikahannya, tapi Steve yakin Natalia tidak mengatakan apapun pada Donna. Buktinya, Donna baru tahu tentang pernikahannya tadi.

“Terlihat dengan jelas dari cara kalian bersikap.”

Steve berdiri seketika. “Donna, itu tak seperti yang kau pikirkan.”

“Memangnya kau tahu apa yang kupikirkan?”

“Jika yang kau pikirkan adalah bahwa selama ini aku menjalin kasih dengan Jess dan aku mengenalmu untuk main-main saja, maka kau salah.”

“Sejujurnya, aku sempat berpikir seperti itu. Tapi sepertinya kau tak seburuk itu.”

Steve mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”

“Aku akan mencari tahu. Dan bagiku, semua ini belum berakhir.” Donna pergi. Dia bahkan tidak mengindahkan panggilan Steve. wanita itu tetap saja pergi, dan Steve merasa bahwa permasalahannya dengan Donna belum benar-benar berakhir.

***

Steve kembali ke apartmen dengan sesekali memijat tengkuknya. Setelah bertemu dengan Donna, ia kembali pada Hank, menceritakan apa yang terjadi, dan Hank berkata bahwa Steve sudah gagal mengakhiri hubungannya dengan Donna.

Donna tampak tak terima, dan ketika seorang wanita tidak ingin hubungannya berakhir, maka wanita itu tak akan tinggal diam. Steve tidak tahu apa yang akan dilakukan Donna. Dan seharusnya, ia tidak peduli. Yang harus ia pedulikan saat ini adalah Jessie dan bayi mereka. Astaga, bagaimana mungkin ia sempat melupakannya?

Dengan langkah cepat, Steve menuju ke apartmen Jessie. Steve memasukinya dan mendapati ruang tengah sepi. Dimana Jessie? Dengan setengah berlari Steve menuju ke arah kamar Jessie.

Bodoh! Bagaimana mungkin ia meninggalkan Jessie hanya berdua dengan Henry? Steve tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Jessie, dan ia benar-benar khawatir saat ini.

Setelah membuka kamar Jessie, Steve menghela napas lega saat mendapati Jessie tidur meringkuk di sana. Dengan cepat Steve menuju ke arah istrinya tersebut. Steve bingung, rupanya Jessie tidak tidur, wanita itu sedang menangis, sesenggukan. Apa yang sudah terjadi?

Steve berjongkok di hadapan Jessie, ia bertanya “Apa yang terjadi?”

Jessie hanya diam. Wanita itu tampak tak ingin menjawab.

“Dia menyakitimu?” tanya Steve lagi. Steve tidak suka kenyataan bahwa ada lelaki yang menyakiti Jessie. Entah dulu, atau sekarang.

Jessie menggelengkan kepalanya dan hal itu benar-benar membuat Steve semakin bingung.

“Katakan, Jess. Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” tanya Steve lagi, ia tidak suka melihat Jessie menangis apalagi saat ia tahu bahwa wanita itu menangisi pria lain.

Jessie bangkit, ia terduduk kemudian ia memeluk tubuh Steve. Jessie tidak tahu kenapa ia bisa seemosional ini. Hubungannya dengan Henry benar-benar berakhir, Jessie merasa sangat tersakiti karena hal ini.

“Apa yang terjadi?” tanya Steve lagi.

“Dia mencintaiku. Dia sangat mencintaiku, Astaga.” Ucap Jessie masih dengan memeluk tubuh Steve.

Tubuh Steve menegang tapi Jessie terlalu sedih untuk merasakan ketegangan yang terjadi di dalam tubuh suaminya tersebu.

“Dia bahkan berkata bahwa dia tak peduli tentang kehamilanku. Dia tetap ingin menikahiku meski aku hamil dengan lelaki lain. Dia sangat mencintaiku, dan aku sudah menyakitinya.”

Sesuatu yang retak kembali terasa di dalam dada Steve. Steve merasakan perasaan yang sama ketika ia melihat Jessie dan Henry berciuman pada sore itu. Jessie benar-benar mencintai Henry, Steve tahu itu. Dan kini, ia sudah menghancurkan semuanya, membuat Jessie tersakiti karena perpisahannya dengan kekasih yang begitu wanita itu cintai. Steve tahu bahwa semua ini karena salahnya. Ia sudah menyakiti Jessie dengan cara yang paling buruk. Bagaimana mungkin ia menjadi seberengsek ini?

-TBC-

abis ini ada chapter yang huuuoooooooooottttt… hahahhahahah aku lupa tpi, entah bab 15 atau 16 hahhahhaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s