My Beautiful Mistress – Bab 10

Comment 1 Standard

 

Bab 10

Sampai di rumah, Ellie segera bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia menuju ke arah lemari, mengambil baju santainya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ellie ingin membersihkan diri sebelum naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Jiro yang sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Mungkin sekitar setengah jam kemudian, Ellie baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah tampak segar karena berendam cukup lama untuk menghilangkan rasa lelahnya. Berbeda dengan Jiro yang masih tampak tegang karena menunggu Ellie keluar dari dalam kamar mandi.

Jiro bangkit seketika saat melihat Ellie duduk di depan meja riasnya. “Sudah segar?” tanya Jiro sembari mendekat.

“Ya.” Ellie menjawab pendek. Ellie lebih memilih mengeringkan rambutnya sendiri di depan meja riasnya. Ia bahkan tidak mempedulikan Jiro yang mulai berjalan mendekat ke arahnya.

“Aku bingung, kenapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini.”

“Berubah bagaimana?”

“Kupikir, kamu tadi sudah senang setelah aku mengajakmu jalan-jalan. Tapi tiba-tiba kamu berubah lagi. Apa aku membuat salah?”

Ellie menatap Jiro seketika. “Kesalahan utama kamu adalah, bahwa kamu tidak tahu dimana letak kesalahanmu.”

“Kamu marah karena aku tidak merasa bersalah?” Ellie tidak menjawab. Ia memilih membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah cermin. Tapi secepat kilat Jiro duduk di sebelah Ellie. Memutar kursi yang di duduki Ellie hingga menghadap ke arahnya. “Jika kamu marah tentang Vanesha, aku bisa menjelaskannya.”

Oh, Ellie bahkan melupakan tentang wanita itu padahal Jiro belum menjelaskan apapun tentang wanita itu. Kemarin, Ellie memang kesal karena wanita itu, tapi saat ini, bukan hal itu yang membuat Ellie kesal. Ellie sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengatakan masalahnya pada Jiro.

“Vanesha mengira apartmenku adalah milik Troy, karena mereka pernah berkencan di sana. Dia mencari Troy di sana. Dan masalah kontrasepsi itu, semuanya milik Troy.”

“Tapi, bukannya dia kekasih kamu, ya? Aku sudah melihat gosipnya. Jadi kamu tidak perlu mengelak.”

“Ada beberapa gosip yang sengaja di buat oleh pihak management untuk menaikkan pamor artisnya. Saat itu, The Batman sedang mengeluarkan album baru, dan Vanesha sedang bermain Film layar lebar. Jadi, sangat tepat jika…”

“Aku tidak peduli, James.” Ellie menjawab cepat.

Jiro menggenggam kedua telapak tangan Ellie. “Aku sudah mengatakan, bahwa aku ingin kamu peduli.” Ucap Jiro penuh penekanan.

“Kenapa kamu menjelaskan semuanya padaku? Bagiku, tak ada bedanya, entah kamu benar-benar selingkuh dengan perempuan itu atau tidak. Nyatanya, aku hidup seperti seorang simpanan.”

“Nyatanya kamu bukan simpanan. Kamu istriku.”

“Katakan itu pada publik.” Ellie menantang.

Jiro membatu seketika. Jiro tak percaya jika secara terang-terangan Ellie menuntutnya sampai seperti ini. Jiro tidak bisa melakukannya, tidak sekarang, dan mungkin tidak akan selamanya.

Jiro menangkup kedua pipi Ellie. “Aku tidak bisa.” Jawabnya dengan jujur.

“Kalau begitu, lupakan.” Ellie akan memutar tubuhnya kembali, tapi Jiro menghadangnya, dan dengan kurang ajar, lelaki itu segera menyambar bibir Ellie. Mencumbunya, berharap Ellie melupakan kemarahannya.

Tapi sekuat tenaga, Ellie mendorong keras tubuh Jiro hingga tautan bibir mereka terputus.

“James!” Ellie berseru keras.

“Kenapa? Kamu berani menolakku sekarang?”

“Aku tidak pernah takut dengan kamu, James.” Ellie menjawab dengan tegas. “Tapi aku hanya diam selama ini. Seakarang, aku akan menyuarakan apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.” lanjutnya.

“Jadi, apa kamu menolak ini.” Jiro kembali menangkup pipi Ellie lalu mencumbunya kembali.

Ellie mendorog lagi dan berseru sekali lagi “James!” tapi Jiro tak mau kalah, ia kembali menangkup pipi Ellie kemudian mencumbunya dengan penuh gairah. Jiro memang tidak suka saat Ellie bersikap membangkang padanya, tapi di sisi lain, Jiro tergoda dengan sikap Ellie yang berani seperti itu. Membuat Jiro tertantang, membuat Jiro menginginkan lebih.

Jiro masih mencumbu meski ia melihat Ellie meronta. Ia tidak akan menyakiti Ellie tapi ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan meski Ellie menolaknya. Jiro bahkan sudah memaksa Ellie berdiri tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Jemarinya dengan paksa sudah menelusup memasuki pakaian yang dikenakan Ellie, kemudian menggoda istrinya itu agar tidak lagi meronta. Dan benar saja, setelah gigih menggoda Ellie, akhirnya pertahanan Ellie runtuh.

Ellie menikmati setiap sentuhan Jiro, setiap cumbuan dari suaminya tersebut. Jiro tahu bahwa Ellie juga menginginkannya. Istrinya itu pasti dipengaruhi oleh gairah yang ia berikan, belum lagi hormon kehamilan yang membuatnya Ellie labil dan terpancing gairahnya. Ellie hanya berusaha menolak bukan karena tak ingin, tapi karena wanita itu ingin membuatnya kesal. Jiro tahu. Tapi Ellie salah, Jiro tak akan kesal, karena Jiro akan menuruti permainan wanita tersebut.

Sedikit demi sedikit, Jiro membawa tubuh Ellie menuju ke dekat ranjang mereka. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Jiro mulai membuka pakaian yang tadi baru saja dikenakan oleh Ellie. Ellie menuruti saja apapun yang dilakukan Jiro, Ellie benar-benar telah dipengaruhi oleh sebuah gairah yang tak dapat ia tolak.

Jiro melepaskan tautan bibir mereka saat dirasanya napas Ellie sudah terputus-putus. Ia kemudian tersenyum, menunduk, menempelkan keningnya pada kening Ellie.

“Aku benar-benar menginginkanmu, Ellie.”bisiknya dengan suara serak. “Jangan menolakku.”

Dengan spontan Ellie mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian ia berkata “Tidak. Aku tidak akan menolak.”

Ya. Jiro kembali merasa menang. Ellie tak dapat menolaknya, dan Jiro tak akan membuang waktu lagi sebelum pikiran wanita itu berubah dan kembali menjadi sosok pembangkang, penyindir dan juga pendiam yang membuat Jiro kesal.

Dengan cepat Jiro melucuti pakaiannya senidri satu persatu, ia juga membantu Ellie melucuti pakaian wanita itu sebelum kembali menyambar bibir ranum Sang istri.

Oh, Ellie begitu nikmat. Membuat Jiro merasa bodoh karena selama ini hampir tak pernah menikmati permainan panasnya. Ya, ia hanya akan melampiaskan hasrat seksualnya, tanpa menikmati prosesnya, hanya itu. Dan kini, Jiro tak ingin lagi seperti itu lagi.

Jika ia membutuhkan sebuah pelepasan, maka ia akan menikmati keseluruhan prosesnya seperti sekarang ini.

Bukannya mengajak Ellie naik ke atas ranjang mereka, Jiro memilih mendorong wanita itu menuju ke arah dinding terdekat. Jiro menghimpit Ellie diantara dinding. Mengangkat tubuh wanita itu agar sejajar dengan tinggi tubuhnya.

Ellie merasa bahwa Jiro begitu kuat, lelaki itu mengengkatnya dengan begitu perkasa, seperti Ellie seringan kapas. Padahal Ellie tahu bahwa bobot tubuhnya saat ini mulai bertambah karena kehamilannya. Hal itu semakin membuat Ellie mengagumi Jiro, membuat Ellie ingin selalu memiliki lelaki ini di sisinya untuk melindungi dirinya dan juga bayi mereka. Ahhh, andai saja Jiro sepeka itu.

Bibir Jiro masih mencumbu Ellie, sesekali melepaskan cumbuannya kemudian beralih pada leher jenjang Ellie. Dan ketika Jiro tak mampu menahan gairahnya lagi, ia mulai menyatukan diri masih dengan posisi berdiri.

“Ohhhh…” Ellie melenguh panjang ketika merasakan Jiro penuh mengisinya.

“Apa, aku menyakitimu?” tanya Jiro sedikit khawatir. Selama ini, Ellie bahkan tampak sulit mengekspresikan dirinya ketika mereka bercinta. Dan kini, Jiro melihat Ellie tampak kewalahan dengan gairah yang telah ia berikan.

Ellie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Jawabnya setengah mendesah.

“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”

“Ya. Lakukanlah.”

“Lebih keras dari sebelumnya.” Ucap Jiro dengan mata yang menatap tajam ke arah Ellie.

“Apa?” Ellie tidak mengerti apa artinya lebih keras dari sebelumnya.

“Aku tidak bisa terlalu lama menahan diri.” Kemudian Jiro mulai menghujam keras, membuat Ellie mengerang seketika. “Aku begitu menginginkanmu, hingga rasanya nyaris meledak.” Jiro meracau. Sedangkan Ellie lebih memilih menikmati hujaman keras dari Jiro.

Biasanya, Jiro melakukanya dengan lembut, kadang dengan cepat, tapi tak pernah sekeras ini, seperti lelaki itu tidak bisa mengendalikan dirinya. Meski begitu, Ellie tidak merasakan sakit. Sensasinya membuat Ellie merasa terbakar, gairahnya semakin membumbung tinggi. Ya Tuhan! Ellie tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Ellie.” Tanpa menghentikan pergerakannya, Jiro mencengkeram rahang Ellie kemudian menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya. “Kamu hanya milikku! Kamu hanya miliku!” Serunya berkali-kali sebelum kembali menyambar bibir ranum Ellie, melumatnya dengan panas dan membawa diri mereka terbang ke puncak gairah yang tiada duanya…

***

Setelah percintaan panas mereka dan mendapatkan beberapa kali pelepasan, keduanya tertidur. Menjelang tengah malam, Ellie terbangun. Ia kelaparan karena melewatkan jam makan malamnya. Saat tengah gelisah di atas ranjangnya, Jiro terjaga dari tidurnya.

“Kamu bangun?” tanyanya dengan suara serak.

“Aku lapar.” Ellie menjawab dengan nada polos membuat Jiro tersenyum kemudian bangun dan segera bangkit.

“Mau pesan makan?”

“Tengah malam begini mana ada orang jualan?” Ellie menggerutu sebal. Ia benar-benar merasa kelaparan.

“Kalau begitu, aku akan membuatkanmu sesuatu.” Jiro bergegas pergi meninggalkan Ellie, sedangkan Ellie segera mengikuti lelaki itu. Tak lupa, Ellie mengenakan pakaian tidurnya karena ia tidak mungkin mengikuti Jiro dalam keadaan telanjang bulat.

Ellie sampai di dapur saat Jiro sudah mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari pendingin. “Hanya ada telur dan sosis. Kamu mau dibuatkan apa?”

“Omlet saja.” Jawab Ellie sembari duduk di bangku yang ada di depan meja dapur.

“Yakin hanya itu? Nasi goreng nggak mau?”

“Tidak ada nasi. Kalau menunggu masak nasi dulu, aku keburu mati kelaparan.”

Jiro tersenyum sekilas. Hanya sekilas saja, kemudian ia kembali menampilkan wajah tanpa ekspresinya. “Baiklah, aku akan membuatkanmu Omlet.” Lalu Jiro mulai sibuk dengan masakannya, sedangkan Ellie memilih mengamati suaminya itu dari belakang.

Entah sudah berapa kali Ellie mengatakan bahwa Ellie benar-benar mengagumi sosok Jiro. Meski lelaki itu tampak mengabaikannya, nyatanya bagi Ellie, Jiro adalah satu-satunya lelaki yang ia kagumi. Ketampanan lelaki itu, kegagahannya, belum lagi sikapnya yang sedikit misterius membuat Ellie benar-benar jatuh pada sosok suaminya tersebut. Apalagi saat kini, Jiro memposisikan sebagai suami yang baik dan perhatian, sebagai calon ayah yang siaga, membuat Ellie seakan tak mampu berpaling dari sosok tersebut.

Meski begitu, Ellie tak ingin mengakuinya secara gamblang. Bagaimanapun juga, ia ingin membuat Jiro peduli dengannya, ia ingin merebut perhatian Jiro dengan cara yang tak biasa, jadi ia tidak ingin menunjukkan semua perasaannya pada lelaki itu kemudian membuat lelaki itu berrpikir bahwa Ellie tak memiliki kekuatan untuk melawannya. Tidak, Ellie tak ingin Jiro menyepelekannya seperti itu.

Saat Ellie sibuk dengan pemikirannya sendiri, saat itulah Jiro sudah berdiri menghadapnya dengan sebuah omlet yang memenuhi piring yang dibawanya. Jiro menyuguhkannya pada Ellie, tak lupa lelaki itu juga membuatkan Ellie segelas susu hingga membuat Ellie sempat terpana karena perhatian lelaki tersebut.

“Habiskan, lalu kita akan kembali tidur.”

“Kamu tidak lapar?” Ellie bertanya masih dengan wajah polosnya.

“Enggak.” Jiro menjawab pendek.

Karena Jiro berkata tidak lapar, maka Ellie tidak sungkan lagi menyantap omlet buatan Jiro dengan lahap. Sesekali Ellie meneguk susunya. Rasanya sangat enak. Jiro rupanya pandai masak, atau, apa karena ia terlalu senang mendapatkan perhatian seperti ini dari Jiro hingga makanan tersebut terasa sangat enak? Mungkin memang seperti itu.

Saat Ellie asyik manyantap makanannya, saat itulah Jiro kembali memperhatikan Ellie. Wanita di hadapannya itu tampak polos, tapi berani. Bukan perempuan yang mudah dimengerti. Kadang Jiro tak habis pikir, sebenarnya, apa yang sedang dirasakan Ellie? Apa yang diinginkan wanita itu?

“Jadi, apa hubungan Vanesha dengan Troy?” pertanyaan Ellie yang tiba-tiba itu membuat Jiro terkejut. Ellie tadi sempat bilang bahwa wanita itu tak mempedulikan tentang dirinya apalagi tentang Vanesha dan yang lainnya. Tapi kenapa wanita ini tiba-tiba bertanya padanya tentang hal ini? apalagi, Ellie menanyakan kalimat itu dengan santai dan masih menyantap makanannya tanpa menatap ke arah Jiro sedikitpun.

“Aku nggak tahu.”

“Kamu kan temannya Troy. Masa nggak tahu?”

“Dia kan banyak kencan sama perempuan, bukan hanya dengan Vanesha.”

“Wahhh, sepertinya semua anak band sama seperti itu ya?” Ellie kembali menyindir.

“Tidak semuanya. Aku nggak pernah kencan sama perempuan sembarangan.”

“Iya, karena kalau kamu sembarangan kencan, akan menjadi gosip. Suamiku ini kan paling anti digosipkan yang enggak-enggak.” Lagi-lagi Ellie menyindir Jiro.

“Ellie, kadang aku berpikir bahwa mulut kamu sangat tajam.” Jiro berkomentar.

Ellie tersenyum, ia kembali meneguk susunya sebelum berkata “Baguslah, kalau kamu berpikir seperti itu. Jadi kamu bisa berpikir dua kali jika ingin menciumku.”

Tanpa diduga, Jiro segera mengangkat dagu Ellie kemudian menyambar bibir Ellie. Jiro bahkan menggoda Ellie dengan cara menjilati bekas susu yang tertinggal di area bibir Ellie.

“Kamu salah, aku suka mencium bibir-bibir yang tajam.” Ucapnya sebelum melepaskan dagu Ellie.

Pipi Ellie merona seketika. Ia tidak menyangka jika Jiro akan berbuat senakal itu. Tapi Ellie mencoba mengendalikan dirinya. Ia tidak akan membuat Jiro kembali merasa menang lagi dengan perang psikis yang entah sejak kapan terjadi diantara mereka.

“Kenapa diam saja?” Jiro kembali menantang Ellie.

“Enggak.” Ellie kembali memakan omletnya. Sumpah demi apapun juga, Ellie tidak ingin melanjutkan makan malamnya. Astaga, Jiro begitu mempengaruhinya, ciuman lelaki itu serta godaannya tadi membuat Ellie meremang. Tapi di sisi lain, Ellie tidak ingin Jiro sadar bahwa lelaki itu begitu mempengaruhinya.

“Cepat habiskan makananmu, setelah itu kita tidur, sudah sangat malam.” Ucap Jiro sembari meningalkan Ellie menuju ke arah lemari pendingin.

Ellie tidak tahu bahwa Jiro juga terpengaruh dengan kedekatan mereka. Entah kenapa, sekarang setiap kali berdekatan dengan Ellie, Jiro merasa sesuatu terpantik di dalam dirinya. Jiro ingin memiliki Ellie lagi dan lagi, memperlakukan wanita itu dengan manis, membuat wanita itu merona-rona karena ulahnya. Tapi di sisi lain, Jiro ingin menolak perasaan menggelikan itu. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin Ellie membuatnya candu. Jiro tak ingin terpengaruh lebih dari ini dan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya seperti tadi. Ia adalah lelaki yang realistis, yang tidak ingin terbawa oleh perasaan, meski itu dengan istrinya sendiri. tapi dapatkah Jiro menahannya? Menahan perasaannya yang semakin hari semakin tak terkendali?

***

Saat keduanya sudah berada di ranjang mereka, keduanya tak segera tidur. Tampak sebuah kegelisahan diantara mereka. Ellie ingin membuka suaranya tapi ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan dengan Jiro. Begitupun dengan Jiro. Jiro ingin membuka percakapan kemudian keduanya lelah karena saling bercerita dan tidur bersama hingga pagi, tapi Jiro tahu bahwa ia bukanlah tipe yang suka bicara. Jiro adalah tipe pendiam, kalaupun dia berbicara, dia akan berbicara seperlunya saja. Bukan berbasa-basi seperti lelaki kebanyakan.

Akhirnya, ketika Ellie tak dapat menahan rasa bosan dan rasa kesalnya akibat tak dapat tidur, Ellie memilih memiringkan tubuhnya ke arah Jiro kemudian mulai membuka suaranya.

“James, jika kebersamaan kita nanti masuk ke dalam akun gosip, apa yang akan kamu lakukan?” itu hanya pertanyaan iseng, tapi Ellie berharap Jiro menjawabnya dengan jawaban yang berbobot.

“Apalagi? Aku hanya bisa diam.” Ellie memutar bola matanya kesal. Seperti yang diduga, jawaban Jiro benar-benar tidak memuaskan.

“Kalau media ngejar-ngejar kamu bagaimana?” tanya Ellie lagi.

“Tinggal lari dan diam.” Lagi-lagi jawaban Jiro membuat Ellie kesal.

“Kalau mereka tak juga berhenti dan ngejar kamu terus dimanapun kamu berada bagaimana?” Ellie tidak ingin mengalah.

Jiro menatap Ellie seketika. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Ellie? Kamu ingin aku jujur dengan mereka? Jika itu yang kamu inginkan, maka itu tak akan terjadi.” Jawab Jiro dengan pasti.

Ellie merasa sakit dengan jawaban jujur tersebut. “Kenapa? Apa aku begitu memalukan untuk menjadi istrimu?”

“Ellie…”

“Kamu selalu meniduriku, James. Aku bahkan sudah mengandung bayimu. Begitukah penghargaan yang kamu berikan pada ibu yang mengandung anakmu?”

“Ellie, dengar. Semua butuh proses.”

“Tapi aku tidak suka prosesnya, James. Aku sudah muak. Aku sudah bosan. Ini sudah Empat tahun dan aku masih tetap jadi simpananmu.”

“Istri.” Jiro meralat. “Kamu istriku, bukan simpananku.”

“Ya, istri rasa simpanan.” Ellie membenarkan. Mata Ellie sudah berkaca-kaca. Bahkan beberapa bulir bening itu sudah jatuh dari pelupuk matanya.

Dengan spontan Jiro menghapus airmata Ellie. “Ada waktunya untuk mengakui semua. Tapi tidak sekarang, Sayang. Tidak saat ini.” Entah perasaan Ellie saja atau saat ini Jiro menjelma menjadi sosok yang sangat lembut. Ellie bahkan tidak dapat mengingat, apa Jiro pernah memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’ atau tidak.

“Lalu kapan? Aku, aku hanya tidak suka kenyataan bahwa kamu dikenal sebagai seorang lajang. Banyak perempuan memujamu, bahkan tak sedikit fans kamu yang menjodohkan kamu dengan artis perempuan lainnya. Aku tidak suka.”

“Ellie. Sebentar lagi akan ada konser besar yang akan ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun Tv nasional. Mungkin bagi kamu atau yang lain, konser ini tak berarti, tapi bagiku, konser ini sangat berarti. Aku ingin fokus dan menyukseskan konser ini. karena bagiku, konser ini seperti titik balik saat The Batman berada di puncak kepopuleran.”

“Lalu?”

Jiro mengusap lembut pipi Ellie. “Setelah semuanya selesai, mungkin aku akan mengaku didepan publik.”

“Kamu yakin?” Ellie tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jiro.

“Mungkin.” Jiro masih kurang yakin dengan apa yang ia katakan “Ada beberapa kontrak yang tidak bisa dilanggar. Konsekuensinya aku harus membayar denda dan kontrak dibatalkan. Itupun kita harus mendiskusikannya dengan pihak management dan juga para personel The Batman lainnya.”

“Dan jika mereka menolak atau tidak sepemikiran denganmu?”

Jiro menghela napas panjang. “Maka aku harus keluar.”

Mata Ellie berbinar seketika. Jujur saja, Ellie memang kurang suka dengan pekerjaan suaminya yang menjadi anak band. Apalagi semenjak Jiro terkenal, Ellie merasa semakin jauh dengan lelaki ini. belum lagi kenyataan bahwa mereka tidak bisa kemanapun tanpa ada yang mengenali. Hal itu benar-benar membuat Ellie risih. Membayangkan bahwa Jiro akan vakum dari menjadi artis membuat Ellie senang. Tapi benarkah Jiro akan melakukannya? Membuang ambisinya selama ini hanya demi mengakui dirinya dan juga bayi mereka di depan publik?

-TBC-

Advertisements

My Beautiful Mistress – Bab 9

Comment 1 Standard

 

Sea world. Kamu mau?”

Mata Ellie membulat seketika. “Itu kan tempat publik. Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?”

Jiro tersenyum, dan Ellie kembali terpana dengan senyuman lelaki itu. Benar-benar curang! Jika Jiro menampilkan sedikit saja senyumannya, maka Ellie akan kalah. Ellie tak akan mampu memusuhi suaminya itu lagi setelahnya.

“Ini bukan minggu atau hari libur, jadi kupikir tak akan seramai biasanya. Lagi pula, aku bisa menyamar.”

“Kamu yakin? Kalau ada yang tahu?”

“Abaikan saja.” Dan setelah itu Ellie bersorak gembira dalam hati, ia tidak menyangka Jiro akan membujuknya hingga seperti ini. kemarahan Ellie menguap seketika, hilang ditelan sikap manis yang ditampilkan Jiro kepadanya. Bagaimana bisa semudah ini menakhlukkan hatinya?

****

Bab 9

Cukup lama Ellie menunggu Jiro di ruang tengah rumah mereka. Saat ini, Ellie sudah siap dengan pakaian santainya. Celana pendek berwarna hitam dengan T-shirt berwarna senada. Tak lupa, ia mengenakan sepatu flat hingga membuatnya tampak lebih muda dari usianya dan juga lebih mungil tentunya.

Perut Ellie bahkan tampak sedikit menyembul, mungil, hingga ketika ada orang yang melihatnya maka segera bisa menebak bahwa Ellie sedang hamil muda.

Saat Ellie sibuk mengusap-usap perutnya sendiri, saat itulah Jiro keluar dari dalam kamar mereka. Lelaki itu tampak keren dan gagah dengan T-shirt berwarna putih dan juga jaket denimnya, celana panjang, serta sepatu bootsnya. Tak lupa, lelaki itu juga mengenakan topi untuk menyembunyikan sebagian wajahnya.

Jiro tampak memperhatikan Ellie dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita tersebut, kemudian dia berkomentar “Kamu hanya pakai itu?” tanyanya.

“Ya. Kenapa memangnya?”

“Itu terlalu mini, kalau masuk angin gimana?” Jiro lantas kembali masuk ke dalam kamar, tak lama lelaki itu kembali dengan sebuah coat miliknya yang pasti akan kebesaran jika dikenakan oleh Ellie. “Pakai ini.” perintahnya.

“Apaan sih. Aku nggak suka.”

“Pakai saja.” Jiro tak ingin dibantah. Kemudian lelaki itu menjauh dan tampak menghubungi seseorang. Dan yang bisa Ellie lakukan hanya menurutinya saja sembari mendengus sebal.

***

Akhirnya, mereka sampai juga di area Sea World. Tempat dimana terdapat akuarium-akuarium besar dengan berbagai macam jenis biota laut didalamnya.

Ellie tampak senang saat sampai disana. Ini adalah pertama kalinya ia ke tempat seperti ini. dulu, saat di Inggris, Ellie hampir tak pernah menghabiskan waktu untuk liburan. Keluarganya bukanlah golongan keluarga yang hobby jalan-jalan dan menghamburkan uang, mereka tergolong dalam keluarga religius. Jika sedang libur sekolah, kedua orang tuanya lebih memilih mengajak Ellie untuk pergi ke kegiatan sosial dan beramal. Sedangkan setelah menikah dengan Jiro, Ellie hampir tak pernah keluar dari rumahnya jika tidak sedang belanja atau memiliki keperluan mendesak.

Ajakan Jiro ke dunia bawah laut saat ini sudah seperti mimpi untuk Ellie. Ellie sangat senang, dan Ellie tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya tersebut.

Ellie mengamati satu demi satu makhluk hidup yang ada di dalam akuarium besar itu. Tangannya menempel pada akuarium , matanya berbinar dengan kekaguman yang ia lihat. Tak pernah ia melihat ikan sebesar itu, atau ikan seindah di dalam akuarium itu. Ia masih mengamati dengan kekagumannya, hingga Ellie tak menyadari jika sejak tadi sepasang mata tengah mengamati tepat di belakangnya.

Ya, itu Jiro.

Jiro bahkan tak sadar, jika sejak tadi ia mengamati Ellie dengan intens. Ellie yang tampak senang dan berbinar membuat Jiro puas, karena sudah berhasil membuat wanita itu ceria lagi. Secara sepontan kaki Jiro melangkah, mendekat ke arah Ellie, dan berdiri tepat di belakang wanita tersebut.

“Kamu senang?” tanyanya.

Ellie sempat terkejut saat mendapati Jiro begitu dekat dengannya. ia membalikkan tubuhnya sekilas kemudian menatap kembali ke arah akuarium. “Ya, sangat.”

“Kalau kamu suka, kita bisa ke sini seminggu sekali.”

“Uuum, sepertinya tidak perlu. Kamu kan sibuk. Lagi pula, kalau banyak orang pasti akan repot sekali.” Ellie melayangkan pandangannya ke sekeliling, dan ia sempat heran, karena tempat tersebut bersih dari pengunjung. Hanya ada beberapa petugas yang tengah bekerja. “Tapi ngomong-ngomong, tempat sebagus ini masa sepi pengunjung.” Ucap Ellie kemudian.

“Mungkin keberuntungan kita.” Jawab Jiro asal.

“Masa sih? Aku jadi merasa menjadi pemilik tempat ini.” Ellie kembali mengamati satwa laut di hadapannya. “Indah sekali.” Ucapnya dengan spontan.

Tanpa diduga, tiba-tiba Ellie merasakan sebuah lengan memeluknya dari belakang. Lengan Jiro. Ellie bahkan sempat membatu sesaat ketika Jiro melakukan hal tersebut.

“Kamu polos sekali.” Jiro berkomentar. Jiro bahkan sudah menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya pada pundak Ellie. Sedangkan Ellie merasa tak dapat berbuat apapun. Ia salah tingkah, karena tak pernah mendapati Jiro melakukan hal ini padanya saat di depan umum.

“Polos bagaimana?”

“Hanya dengan melihat satwa laut, kamu sudah tampak sangat senang. Kamu bahkan melupakan permasalahan kita, atau mungkin kesalahan yang sudah kuperbuat.”

“Aku sudah pernah bilang, bahwa aku sudah tidak peduli lagi denganmu, James.”

“Jangan.” Jiro menjawab cepat.

“Jangan apa?” Ellie tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jiro.

“Jangan tidak peduli denganku.”

“Tapi kamu juga tidak peduli denganku, jadi lebih baik…”

“Aku peduli.” Jiro lagi-lagi menjawab cepat. “Aku peduli sama kamu, sama bayi kita.” Ucap Jiro dengan suara yang sudah serak. Telapak tangannya sudah mendarat pada perut Ellie, sedangkan bibirnya sudah mengecup lembut pundak Ellie.

Ellie sempat tak percaya dengan apa yang dilakukan Jiro. Sekali lagi, Jiro melakukan hal-hal yang sama sekali tak terpikirkan dalam benak Ellie. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan lelaki ini?

***

Ellie sedikit terkejut saat keluar dari area sea world, ternyata, sudah banyak orang yang menunggu di sana. Rupanya area tersebut sempat ditutup tadi. Apa Jiro yang menutupnya? Yang benar saja, memangnya siapa lelaki ini?

Ellie menatap penuh tanya pada Jiro, sedangkan lelaki itu masih berjalan santai sembari menggenggam erat telapak tangannya.

“Kamu yang membuat tempat ini ditutup sementara?” tanya Ellie kemudian.

“Ya. Kenapa memangnya?”

“Kenapa harus di tutup? Kamu takut ketahuan sama fans kamu karena sudah jalan sama wanita berperut buncit?”

“Aku nggak pernah takut.”

“Lalu kenapa pakai ditutup?”

“Cuma pengan buat kamu menikmati tempat-tempat tadi tanpa ada yang berisik. Seharusnya kamu berterimakasih sama aku, bukan malah menggerutu.” Jiro mendengus sebal.

Tanpa banyak bicara, Jiro menggenggam telapak tangan Ellie lalu mengajaknya keluar dari sana. Beberapa orang tentu menyadari keberadaan Jiro, tapi Jiro berusaha untuk tidak mempedulikannya. Sedangkan Ellie sendiri masih tidak mengerti apa yang dilakukan Jiro padanya.

Ellie mengikuti saja kemanapun kaki Jiro melangkah, hingga kemudian mereka berada pada tempat yang mirip dengan taman hiburan. Tempat tersebut masih satu kompleks dengan Sea world tadi.

“Ini dimana?”

“Dufan.” Jiro menjawab singkat.

“Kok kamu ngajak kesini?”

“Mumpung sepi. Kan aku sudah bilang, ini bukan minggu atau hari libur, jadi tidak seramai hari-hari itu.”

Ellie melihat ke sekeliling. Masih ada orang berlalu-lalang. “Kamu tidak menutup tempat ini juga, kan?”

Jiro tak dapat menahan tawanya. “Enggak. Cuma yang tadi saja.”

“Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?” tanya Ellie dengan wajah polosnya.

“Aku sudah pakai topi, dan masker.”

“Tapi orang tetap bisa menebak jika itu kamu, dari postur tubuhmu.”

“Aku nggak peduli.” Jiro menjawab dengan santai. Ya, baru kali ini Jiro berjalan di luar akal sehatnya dan menuruti apa yang ia inginkan. Yang ia inginkan saat ini hanyalah bersenang-senang dengan Ellie. Jiro akan melakukannya dan ia mencoba untuk tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Jiro masih mengajak Ellie berjalan menelusuri taman bermain tersebut. Jemarinya tak lepas dari menggenggam telapak tangan Ellie. Sedangkan mata Jiro mengawasi siapa saja yang mencoba melirik istrinya tersebut.

Ya, penampilan Ellie memang sangat mencolok. Kulitnya putih bersih, rambutnya yang panjang terurai, berwarna kuning kemerahan, posturnya mungil, tapi berisi. Membuat siapa saja menatap ke arah wanita tersebut. Belum lagi paras Ellie yang cantik rupawan membuat siapapun menoleh dua kali ketika melihatnya.

Jiro tak suka.

Ia tidak suka ketika Ellie menarik perhatian publik. Apalagi saat mata-mata pria nakal menatap ke arah tubuh istrinya. Sial! Rasanya Jiro ingin mencongkel mata-mata kerangjang tersebut.

Dengan spontan, Jiro menarik tubuh Ellie agar masuk dalam dekapan lengannya. Hal itu tentu membuat Ellie semakin bingung dengan sikap Jiro.

“Ada apa?”

“Enggak.” Jiro menjawab pendek. Padahal Jiro melakukan hal itu agar semua orang yang berada di taman hiburan itu tahu bahwa Ellie sudah menjadi miliknya. “Jadi, mau naik apa?”

“Naik apa? Aku hamil, mana boleh naik wahana begituan.”

“Kalau begitu, kita jalan-jalan saja sampai sore.” Dan Ellie mengikuti saja apapun keinginan Jiro.

Mereka berkeliling, melihat aneka wahana, mulai dari wahana air, hingga wahana yang memacu adrenalin. Ellie sempat meminta Jiro untuk menaiki salah satu wahana tersebut, tapi Jiro menolaknya mentah-mentah dengan alasan bahwa lelaki itu tak ingin meninggalkan Ellie sendiri.

Tiba saatnya Ellie merasa lelah. Ia kehausan dan dengan perhatian, Jiro sudah membelikannya sebuah minuman. Coklat dingin yang sangat menyegarkan. Ellie senang dengan perhatian yang diberikan oleh Jiro, tapi entah kenapa Ellie merasa belum cukup puas. Lelaki itu seperti sedang menyogoknya untuk sesuatu, dan Ellie tidak tahu sesuatu apakah itu.

Ellie melihat seorang pengamen yang membawa gitar. Berdiri di depan salah satu wahana, memainkan gitarnya, menyanyi dengan suara merdunya dan para mengunjung mendatanginya untuk memberikan uang. Dalam sesaat, Ellie memiliki sebuah pemikiran jahil untuk Jiro, ia ingin Jiro melakukan hal itu untuknya. Membuat lelaki itu bernyanyi di depan banyak orang seperti seorang pengamen, sepertinya lucu.

Dengan manja, Ellie menarik-narik jaket Jiro hingga lelaki itu menatap ke arahnya.

“Apa?”

“Uum, kamu mau nurutin mau aku, James?”

“Kamu minta apa?”

“Aku tidak tahu, kenapa aku menginginkannya, tapi…. Aku benar-benar sangat ingin.”

“Apa? Katakan saja.” Jiro tak suka Ellie yang tampak berputar-putar dengan ucapannya.

“Itu. Kamu lihat pengamen itu.” Ellie menunjuk pada si pengamen.

“Kenapa?”

“Kayaknya, aku pengen lihat kamu melakukan itu, deh.”

“Apa?” Sungguh, Jiro tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Pengamen itu. Aku pengen lihat kamu nyanyi seperti dia. bawa gitar seperti itu.”

“Jangan konyol. Aku bahkan menggunakan topi dan masker agar tidak banyak yang tahu siapa aku. Kalau aku melakukan itu, sama saja kamu meminta aku untuk mengumumkan bahwa Jiro The Batman ada di tempat ini.”

Ellie mendengus sebal. “Lagi pula, memangnya kenapa kalau mereka tahu kamu di sini? Tidak semua orang tahu kok kalau kamu artis.” Ucapnya dengan jengkel. “Aku hanya ingin melihatmu seperti itu. Tapi kamu tidak bisa menurutinya. Padahal banyak orang hamil yang meminta hal-hal yang tak masuk akal dan suaminya tetap menuruti saja demi bayinya. Tapi kamu….”

Jiro bangkit seketika. “Aku akan menuruti apa mau kamu.” Ucapnya cepat sambil bergegas.

Ellie sempat ternganga dengan kelakuan Jiro. Tapi kemudian ia tersenyum saat Jiro benar-benar melakukan apa yang ia inginkan.

Sedangkan Jiro, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa Ellie bisa memerintah dirinya dan kenapa juga dirinya menuruti kemauan perempuan itu.

Jiro menghampiri si pengamen, meminjam gitarnya dan beruntung pengamen itu menuruti keinginan Jiro. Kemudian, Jiro mulai membuka maskernya dan bernyanyi, menggantikan Sang pengamen tersebut.

Spent 24 hours

I need more hours with you

Lagu Maroon 5 menjadi pilihan Jiro untuk bernyanyi siang itu. Lagu yang ceria, dan Ellie cukup suka. Ellie tersenyum dan mendekat ke arah Jiro. Menatap lelaki itu dengan tatapan sulit diartikan.

You spent the weekend

Getting even, ooh ooh

We spent the late nights

Making things right, between us

Mata Jiro menatap ke arah Ellie, meski tersembunyi dibalik topinya, tapi Ellie tahu bahwa tatapan mata lelaki itu menjurus ke arahnya.

But now it’s all good baby

Roll that Backwood baby

And play me close

Beberapa orang pengunjung mulai mendekat, menikmati pertunjukan Jiro.

‘Cause girls like you

Run around with guys like me

‘Til sundown, when I come through

I need a girl like you, yeah yeah

Girls like you

Love fun, yeah me too

What I want when I come through

I need a girl like you, yeah yeah

Yeah yeah yeah

Yeah yeah yeah

I need a girl like you, yeah yeah

Jiro masih terus bernyanyi. Para pengunjung berdatangan ingin melihatnya karena ada beberapa orang yang memang mengenalinya.

“Itu Jiro kan? Iya itu Jiro.”

Samar-samar, Ellie bahkan mendengar beberapa gadis muda terang-terangan mengenali Jiro.

“Ya ampun, dia keren banget sih. Gosip itu pasti bohong, Jiro nggak mungkin punya istri, enak aja.” Yang lain berkomentar.

Ellie segera menatap ke arah Jiro. Jiro tampak menikmati kepopulerannya. Hal itu kembali membuat Ellie merasa minder. Ellie menatap dirinya sendiri. ia bukan siapa-siapa, tak ada yang mengenalinya, bahkan Jiro sepertiya tak pernah berpikir untuk mengenalkan dirinya di depan publik.

Dengan spontan Ellie merapatkan coat kebesaran Jiro yang ia pakai, seakan melindungi dirinya dari rasa sakit. Ia tidak suka kenyataan bahwa Jiro dikenal banyak orang sebagai lelaki lajang. Jiro adalah suaminya, tapi Ellie tidak bisa berbuat banyak ketika Jiro sendiri tidak mau mengakuinya sebagai istri di depan umum.

Saat Ellie asyik memikirkan hal tersebut, rupanya Jiro sudah menyelesaikan lagunya. Beberapa orang secara terang-terangan meminta berfoto dengan Jiro, dan Jiro menurutinya dengan ramah. Kemudian, lelaki itu menuju ke arah Ellie, dan tanpa banyak bicara lagi Jiro segera meraih telapak tangan Ellie, menggenggamnya kemudian mengajak Ellie meninggalkan area tersebut.

Beberapa orang terang-terangan bertanya pada Jiro, siapa Ellie, apa hubungan mereka, tapi Jiro tampak tak mempedulikannya dan fokus untuk membawa Ellie pergi dari sana. Ellie tak tahu harus merasa bagaimana. Di satu sisi ia senang Jiro setidaknya menunjukkan perhatian lelaki itu padanya di depan umum, tapi disisi lain, Ellie tetap kurang suka dengan Jiro yang seakan menyembunyikan identitasnya.

Kenapa? Apa ia tampak memalukan untuk lelaki ini?

***

Sepanjang sore, Ellie hanya diam setelah kejadian tadi. Karena merasa Ellie berada pada mood yang buruk, Jiro akhirnya mengajak Ellie untuk kembali pulang saja. Ia takut jika Ellie kecapekan atau sejenisnya. Sedangkan Ellie hanya menuruti saja apa yang dikatakan Jiro.

Keduanya pulang dalam diam. Sesekali Jiro melirik ke arah Ellie, wanita itu berubah lagi, menjadi murung, menatap jauh ke luar jendela mobilnya, jemarinya sesekali mengusap perutnya sendiri. kenapa? Apa Ellie merasa sakit?

“Ada yang sakit?” tanya Jiro kemudian.

Jiro bahkan sudah meminggirkan mobilnya dan menghentikannya.

Ellie menatap Jiro seketika. “Apa?” tanyanya bingung.

Telapak tangan Jiro dengan sepontan mendarat pada perut Ellie, “Bayinya, ada yang sakit? Kenapa kamu diam saja sejak tadi? Dan mengusap-usap dia?”

Ellie tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia senang dengan perhatian Jiro, tapi di sisi lain ia masih kesal karena sikap lelaki itu tadi yang terkesan menyembunyikannya dan tidak jujur pada beberapa orang yang menanyakan siapa dirinya.

Seharusnya, Ellie tak perlu kekanakan seperti ini. toh Jiro sudah menyembunyikannya sejak Empat tahun yang lalu, jadi hal itu seharusnya sudah tak menjadi masalah serius lagi bagi Ellie. Tapi mau bagaimanapun juga, Ellie tetap tidak suka dengan sikap Jiro. Entah kenapa Ellie merasa sangat kesal dan ingin sekali agar Jiro mempublikasikan hubungan mereka.

“Tidak apa-apa.” Ellie menjawab pendek. Ellie memilih menatap ke luar jendela lagi.

Jiro mengerutkan keningnya. Ia tidak percaya bahwa perhatian yang ia berikan malah diabaikan oleh Ellie.

“Jadi, kita pulang saja? Atau ke rumah sakit?”

“Pulang saja. Aku mau tidur.” Lagi-lagi Ellie menjawab dengan nada cuek.

Jiro mengangguk. Sekali lagi ia mengusap lembut perut Ellie, mengirimkan getaran panas pada diri Ellie, sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya pulang. Ya, mungkin Ellie hanya kecapekan, mungkin Ellie butuh istirahat setelah seharian jalan-jalan dengan dirinya, dan setelah wanita itu kembali pada mood baiknya, Jiro akan mengutarakan sesuatu pada Ellie. Sesuatu tentang hubungan mereka kedepannya.

Tapi Jiro salah. Jiro terlalu tidak peka dengan keadaan di sekitarnya. Ellie bukan lelah secara fisik, tapi wanita itu lelah secara batin. Mungkin, Jiro bisa membuat Ellie senang dan menghibur wanita itu dalam sesaat, tapin sebenarnya, bukan hal itu yang diinginkan Ellie. Keinginan Ellie hanya sederhana, tapi Jiro tak akan bisa menurutinya.

-TBC-

Hayooooo apa yang terjadi di Bab selanjutnya???? hahahhahahha

My Beautiful Mistress – Bab 8

Comment 1 Standard

 

Bab 8

Mei datang setelah Jiro meneleponnya. Ia sempat terkejut saat mendapati Vanesha berada di ruang tengah apartmen Jiro. Apa yang dilakukan wanita itu disini? Pikir Mei saat itu. Tapi kemudian ia segera menuju ke arah kamar, dan disana ia sudah mendapati Jiro yang sedang berdiri tak jauh dari jendela, sedangkan Ellie duduk di pinggiran ranjang dengan posisi membelakangi diri Jiro.

“Apa yang terjadi?” tanya Mei kemudian.

Tanpa diduga, Ellie segera menghambur ke arah Mei, memeluk wanita itu. Wanita yang sudah seperti kakak dan ibunya, dan Ellie tak dapat menahan tangisnya.

“Jiro?” Mei bertanya pada Jiro dengan ekspresi penuh tanya.

“Antar saja dia pulang.”

“Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis? Dan perempuan itu, kenapa bisa disini.”

Jiro mendekat. “Mei, ini bukan urusanmu. Antar saja dia pulang, sisanya aku yang menyelesaikan kekacauan ini.”

Sikap Jiro yang misterius benar-benar membuat Mei kesal. Mei lalu melepaskan pelukannya pada Ellie dan segera mengajak wanita itu pergi dari saja. Sedangkan Ellie sendiri, karena pikirannya yang sudah kacau, ia mengikuti saja apapun yang dilakukan oleh Mei.

Ellie dan Mei bahkan sempat menatap tajam ke arah Vanesha ketika mereka melewati ruang tengah apartmen Jiro. Keduanya tahu bahwa pasti ada yang disembunyikan Jiro dari mereka.

***

Jiro bersedekap dan masih berdiri tak jauh dari tempat Vanesha duduk. Ia menatap Vanesha, meminta agar wanita itu mau menjelaskan apa yang terjadi. Bagaimana wanita itu bisa sampai di sini, dan apa tujuannya.

“Jadi ini apartmen kamu?”

“Kamu pikir punya siapa?” nada jawaban Jiro benar-benar tak enak didengar.

“Dan perempuan tadi?” bukannya menjawab, Vanesha malah bertanya balik.

“Kamu nggak perlu tahu siapa dia. itu bukan urusan kamu. Yang paling penting adalah, kenapa kamu kemari? Apa tujuanmu kemari?” tuntut Jiro masih dengan menampilkan wajah sangarnya.

“Aku kesini karena mencari Troy! Aku ingin bertemu dengannya.”

“Dan kenapa kamu mencarinya di sini?”

“Tentu saja karena dia pernah membawaku kemari. Kamu pikir apa?”

“Sial!” Jiro mengumpat. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang. “Chan. Elo bagi apartmen gue sama Troy?” sembur Jiro secara langsung dengan Chandra, asisten pribadinya. Mereka memang sudah seperti teman. Sama seperti Mei, Chandra sendiri sudah bekerja dengan keluarga Jiro bahkan sebelum Jiro menjadi artis.

“Sorry, gue ada hutang sama dia kemaren, jadi dia nagih dengan minta dicariin tempat semalam. Saat itu kebetulan elo lagi pulang, ya, gue kasih kunci apartmen elo.”

“Sialan!” setelah umpatannya, Jiro menutup teleponnya begitu saja.

Ya, semuanya jadi lebih masuk akal. Yang menempati apartmennya adalah Troy, yang meninggalkan sisa kondom adalah temannya yang brengsek itu, dan Vanesha kemari untuk menemui Troy, bukan dirinya.

“Ada masalah?” tanya Vanesha tanpa dosa.

“Ya, banyak. Yang perlu kamu tahu adalah, bahwa ini bukan apartmen Troy. Dia nggak ada di sini.”

“Ohhh. Jadi?”

“Jadi silahkan keluar.” Jawab Jiro dengan spontan.

Vanesha bangkit dan dia tersenyum. “Jadi, kamu menyembunyikan wanita cantik disini?”

Jiro mendengus sebal. “Ayolah, aku tak ingin membahasnya.”

“Aku jadi penasaran apa yang akan dikatakan media selanjutnya. ‘Jiro The Batman mencampakan kekasihnya, Vanesha untuk wanita asing yang sangat cantik’ artikel itu sepertinya akan membuat telingaku panas.”

“Vanesha, cukup! skandal kita sengaja diciptakan untuk bahan promosi. Cepat atau lambat, kita akan mengakhirinya.”

“Oke.” Vanesha mundur sembari mengangkat kedua tangannya. “Tapi aku cukup penasaran dengan wanita tadi. Sepertinya aku akan mencari tahu tentang dia.”

Jiro menegang dengan perkataan Vanesha. Meski begitu ia tidak ingin membalas perkataan wanita itu. Jiro hanya tidak suka bahwa Ellie akan masuk ke dalam dunianya, dunia intertain yang penuh dengan rumor, sandiwara, dan sejenisnya.

***

“Dimana dia?”

Setelah mencari Ellie sampai di sudut-sudut rumahnya dan Jiro tak dapat menemukannya, akhirnya Jiro menghubungi Mei.

“Dia nggak mau pulang.”

“Apa? Lalu dimana dia sekarang?”

“Dirumahku, sedang tidur.”

“Aku akan menjemputnya.”

“Tidak! Biarkan dia disini setidaknya sampai besok. Ya ampun, dia nggak berhenti nangis, kamu apain dia?”

Jiro tak ingin bercerita pada Mei karena baginya itu tak penting. Ia hanya harus menjelaskan pada Ellie, bukan pada yang lainnya.

“Ada salah paham sedikit.” Jawabnya enggan.

“Baiklah kalau kamu nggak mau bercerita. Tapi biarkan dia di sini sampai besok. Aku nggak mau dia stress karena ulah kamu.”

“Ulahku? Aku suaminya.” Jiro merasa tersinggung.

“Ya, suami yang sering membuat masalah. Ya ampun Jiro, apa kamu nggak bisa sedikit mengalah?”

“Aku sudah mengalah, Mei. Aku sudah melewati batas-batas harga diriku dalam menghadapi Ellie.”

“Tapi itu masih kurang. Astaga, aku nggak ngerti lagi harus jelasin bagaimana sama kamu.”

“Nggak perlu dijelasin, aku akan cari tahu sendiri apa yang diinginkan Ellie.” Jiro terdiam sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya lagi. “Besok aku akan menjemputnya.” Setelah itu panggilan dia tutup.

Jiro mendengus sebal. Malam ini, ia akan tidur sendiri. memangnya kenapa? Bukankah ia sering melakukannya? Tidur sendiri tanpa istri disisinya? Tapi entah kenapa, Jiro merasa ada yang berbeda. Ia ingin tidur dengan Ellie, memeluk wanita itu hingga pagi. Ada apa dengannya? apa yang terjadi dengan perasaannya?

***

Pagi itu, Ellie membantu Mei memasak. Sesekali keduanya membahas tentang gosip panas yang tadi pagi beredar tentang Jiro dan Ellie yang berada di rumah sakit.

“Jiro pasti parno keluar setelah ini.” ucap Mei sembari sedikit terkikik.

“Parno itu apa?” Ellie bingung apa maksud Mei.

“Paranoid, merasa terganggu, ketakutan.” Jelas Mei dengan sedikit malas. “Dia kan benci banget sama yang namanya media.”

“Kalau begitu, kenapa dia jadi artis?”

“Ellie. Dia jadi artis kan tidak dengan tujuan masuk ke infotaimen. Dia hanya ingin melakukan apa yang dia inginkan, lalu berhasil berada di puncak. Uang tidak berarti untuk Jiro, kesuksesan baginya bukan tentang berapa banyak ia mendapatkan materi, tapi seberapa tinggi dia berada di puncak kepopuleran, dan masuk ke akun gosip tidak ada dalam agendanya.”

“Kupikir, sekarang dia sudah berada di tempat paling tinggi, kenapa dia masih mengejar mimpinya?”

“Mungkin, dia nggak bisa meninggalkannya begitu saja. Ada beberapa kontrak dan ketentuan yang tak bisa dilanggar. Jadi Jiro hanhya bisa melanjutkannya.”

“Mei, menurutmu, apa Jiro menyukaiku?” tanya Ellie dengan wajah polosnya.

“Kalau dia menyukaimu, dia tidak akan menyembunyikanmu didepan publik.” Suara itu lantas membuat Elie dan Mei menatap ke arah suara tersebut. Marvin tampak berdiri dengan baju santainya. “Aku tau kamu disini, jadi aku kemari.” Ucap Marvin sembari menyunggingkan seringaiannya.

“Kamu ngapain sih, ganggu aja.” Gerutu Mei. Mei tentu tahu bagaimana perasaan Marvin kepada Ellie, dan Mei sudah berkali-kali mengatakan pada Marvin bahwa Ellie sudah memiliki Jiro. Kenapa juga sepupunya ini masih kekeh dengan pendiriannya.

“Kalau aku bilang mau minta gula ke sini, kamu nggak akan percaya, jadi aku jujur saja, kalau aku ingin menemui Ellie.”

“Oh ya ampun, memangnya kamu nggak kerja apa?”

“Enggak, gangguin kalian lebih seru.”

Mei mendengus sebal. Marvin pasti tahu Ellie di sini karena lelaki itu melihat Ellie semalam yang keluar dari mobilnya, mengingat rumah merekabersebelahan. Tapi Mei kesal, kenapa Marvin harus menempel pada Ellie. Apa Marvin tak takut dengan Jiro? Dan Ya Ampun, Mei sempat lupa kalau Jiro akan menjemput Ellie pagi ini. bagaimana kalau lelaki itu mendapati Marvin di sini?

Jiro akan murka, Mei tahu itu.

Tapi di sisi lain, Mei ingin melihat reaksi Jiro, atau memberi pelajaran bagi lelaki itu. Ellie terlalu polos untuk memikirkan hal ini, tapi tidak dengan Mei. Mei ingin Jiro merasakan apa yang dirasakan Ellie saat melihat Jiro dengan wanita lain di luar sana.

Ya, selama ini, Ellie selalu bersama dengan Mei. Jadi Mei tahu apa yang dirasakan Ellie. Tak jarang, saat mereka ke maal, atau ke supermarket bersama, mereka tak sengaja mendapati berita tentang Jiro dengan wanita lain. Saat itu, Mei segera menatap Ellie, dan wajah wanita itu segera menjadi sendu. Kesedihan tampak jelas terlihat. Ellie sakit, Ellie jatuh cinta dengan suaminya, tapi suaminya benar-benar tak tahu diri. Mei ingin membuat Jiro membuka matanya, bahwa Ellie patut untuk diperjuangkan.

“Mendingan kamu duduk. Jangan gangguin aku masak.” Mei kembali menyembur Marvin. “Kamu juga, Ellie, jangan kecapekan. Duduk saja di sana.” Lanjutnya pada Ellie.

Marvin dan Ellie menuruti apa kata Mei. Jika sudah marah, Mei memang tampak mengerikan. Bagi Ellie, Mei seperti ibunya yang cerewet, sedangkan bagi Marvin, Mei sudah seperti nenek-nenek yang cerewet.

Keduanya akhirnya duduk di kursi meja makan. Berdampingan. Marvin tak ingin membuang kesempatan, ia kembali mendekati Ellie, dan bertanya tentang keadaan Ellie.

“Jadi kamu nginep sini? Enak kan di sini?”

Ellie hanya mengangguk. Ia meminum susu hamilnya kemudian meraih selemar roti dan mengolesnya dengan selai coklat.

“Kamu bertengkar lagi sam suamimu?”

“Enggak.” Ellie memilih berbohong. Ia tidak suka membahas masalah pribadinya dengan Marvin.

“Lalu, kenapa kamu nginep di sini?”

“Pengen saja.” Ellie menjawab pendek sembari menggingit rotinya.

“Kamu lucu, bikin gemas.” Marvin mencubit gemas pipi Ellie. Membuat Ellie mengaduh kesakitan.

“Sakit tahu!” seru Ellie sembari mengusap pipinya sneidri. Pada detik itu sepasang mata menatap mereka berdua dengan tatapan tajam mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?!” seruan itu membuat semua mata yang berada di dana menatap ke arah sumber suara. Jiro berdiri menjulang di ambang pintu dapur Mei dengan wajah berapi-api.

Ellie yang melihat kedatangan Jiro bukannya takut tapi malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Seakan tak ingin tahu bahwa Jiro ada di sana. Hal itu semakin membuat Jiro kesal.

Kedatangannya ke rumah Mei adalah untuk menjemput Ellie. Sudah cukup semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan Ellie. Sialan! Padahal sebelunya ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi tadi malam, Jiro merasa bahwa diriny berada di neraka.

Ia ingin pagi segera tiba, agar ia segera bisa menjemput Ellie. Tapi saat pagi sudah tiba dan ia benar-benar menjemput Ellie, kenyataan lain ia dapatkan. Ellie sedang asyik dengan pria bajingan yang bernama Marvin, dan hal itu benar-benar mengganggu Jiro.

Apalagi saat ia melihat Ellie yang tampak enggan menatap ke arahnya, seakan wanita itu tidak mengindahkan keberadaannya. Semarah inikah Ellie terhadapnya?

“Kamu sudah datang? Sepagi ini?” tanya Mei sambil menyuguhkan sarapan di atas meja makan.

“Aku akan menjemputnya. Pulang pagi ini juga.”

“Nggak mau.” Ellie berkata cepat.

“Apalagi yang kamu tunggu? Kita harus pulang, aku banyak kerjaan.” Jiro berkata dengan kesal.

“Kalau begitu kamu bisa pergi. Aku bisa menjaga diriku sendiri di sini sepanjang hari.”

“Tidak akan kubiarkan. Apalagi saat aku tahu bahwa ada bajingan yang mengintai kamu.”

“Bajingan? Kamu berlebihan, Jiro.” Mei tahu bajingan yang dimaksud Jiro adalah Marvin.

Jiro tidak mempedulikan apa kata Mei, ia mendekat ke arah Ellie, tapi Ellie malah bangkit dan segera meninggalkannya. Sial! Jiro tak mengerti apa mau wanita aitu. Benar-benar membingungkan.

Mei berkacak pinggang menatap ke arah Jiro. “Jadi ini yang kamu sebut dengan merayu?” sindir Mei.

“Merayu? Aku tidak sedang merayunya.”

“Ya ampun Jiro! aku akan memilih menjadi jomblo seumur hidup daripada harus menikah dengan pria yang super Tak Peka seperti kamu.” Gerutu Mei. “Kamu itu sudah membuatnya marah, setidaknya rayu dia agar dia mau memaafkanmu. Bukan malah bersikap searogan ini.”

Jiro menghela napas panjang. Mei benar.

“Kalau nggak mau, biar aku saja yang merayunya.” Marvin berkata dengan santai, dan Jiro segera menghampiri lelaki itu mencengkeram kerah bajunya.

“Buang pikiran itu atau gue akan mukulin elo sampai elo hilang ingatan.”

Marvin malah tertawa lebar, sedangkan Mei hanya menggelengkan kepalanya melihat dua pria kekanakan sedang melakukan adegan tak masuk akal baginya.

***

Jiro menghampiri Ellie saat ia mendapati Ellie duduk di sebuah ayunan di taman mini samping rumah Mei. Tanpa banyak bicara, ia ikut duduk di sebelah Ellie. Membiarkan Ellie tetap mengayunkan tempat duduk mereka.

Cukup lama keduanya duduk tanpa kata, karena Jiro sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana. Hingga ketika Ellie akan bangkit meninggalkannya, Jiro menghentikan Ellie dan meminta Ellie untuk kembali duduk di sebelahnya.

“Kamu, mau pulang sama aku, kan?” tanya Jiro dengan pelan.

“Tergantung.”

“Apa yang kamu inginkan, Ellie? Kumohon, jangan seperti ini.”

Ellie sendiri tidak tahu kenapa Jiro banyak berubah. Dulu ia memang sering merajuk, tapi sepertinya Jiro tak pernah menghiraukannya. Ya, Jiro jarang memikirkannya, tapi entah kenapa saat ini, lelaki ini seakan terpengaruh dengan dirinya yang tengah merajuk.

“Nggak ada.” Ellie menjawab lagi dengan pendek, seperti sebelumnya.

Jiro menghela napas panjang. “Maafkan aku.” Tiba-tiba saja Jiro mengungkapkan rasa sesalnya.

“Maaf untuk apa? Karena kamu sudah meniduri wanita lain?”

“Ellie, aku tidak pernah melakukan itu.” Jiro tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Ellie pasti tidak mempercayainya. “Kumohon, jangan seperti ini. kamu mau pulang bersamaku, kan?” tanya Jiro lagi dengan nada lembutnya.

Ellie tidak menjawab, ia masih tetap diam. Kemudian Jemari Jiro menggenggam erat telapak tangan Ellie.

“Ellie, kamu mendengarku, kan?” tanya Jiro sekali lagi. Tapi masih tak ada balasan dari Ellie. “Kita pulang, oke?” tanya Jiro lagi.

Dan akhirnya Ellie hanya menganggukkan kepalanya. Jiro tersenyum senang. Ellie lalu bangkit, turun dari ayunan, begitupun dengan Jiro. Dan secepat kilat, Jiro membawa Ellie kedalam pelukannya. Entah kenapa Jiro tak mampu lagi menahan keinginannya untuk merengkuh tubuh Ellie. Sejak tadi, ia ingin memeluk wanita ini, dan kini, Jiro dapat mewujudkan keinginannya tersebut.

Beruntung, Ellie tidak meronta apalagi menolaknya. Dan akhirnya, Jiro memeluk tubuh istrinya itu semakin erat lagi dari sebelumnya.

***

Sesekali Jiro melirik ke arah Ellie. Wanita itu memilih menolehkan kepalanya ke jendela, menikmati pemandangan jalanan kota Jakarta. Ingin rasanya Jiro megajak Ellie bercakap-cakap, tapi ia tidak tahu apa yang harus dibahas.

“Uum, Jadi, apa yang ingin kamu lakukan hari ini?” tanya Jiro kemudian.

“Nggak ada.” Ellie menjawab pendek.

“Mau keluar? Denganku?” tanya Jiro tiba-tiba.

Ellie menatap Jiro seketika. “Kemana?” tanyanya. Sebenarnya, Ellie tak berharap banyak. Jiro sama sekali tak pernah mengajkaknya jalan sebelumnya. Tentu karena ketakutan lelaki itu yang tak masuk akal. Takut kepergok media atau fansnya.

Sea world. Kamu mau?”

Mata Ellie membulat seketika. “Itu kan tempat publik. Kamu nggak takut ketahuan fans kamu?”

Jiro tersenyum, dan Ellie kembali terpana dengan senyuman lelaki itu. Benar-benar curang! Jika Jiro menampilkan sedikit saja senyumannya, maka Ellie akan kalah. Ellie tak akan mampu memusuhi suaminya itu lagi setelahnya.

“Ini bukan minggu atau hari libur, jadi kupikir tak akan seramai biasanya. Lagi pula, aku bisa menyamar.”

“Kamu yakin? Kalau ada yang tahu?”

“Abaikan saja.” Dan setelah itu Ellie bersorak gembira dalam hati, ia tidak menyangka Jiro akan membujuknya hingga seperti ini. kemarahan Ellie menguap seketika, hilang ditelan sikap manis yang ditampilkan Jiro kepadanya. Bagaimana bisa semudah ini menakhlukkan hatinya?

-TBC-