Sleeping with my Friend – Bab 13

Comment 1 Standard

 

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

***  

Bab 13

 

Steve menghujam lagi dan lagi, tak mempedulikan erangan demi erangan yang keluar dari bibir Jessie. Kenikmatan membungkusnya, ia bahkan tak mempedulikan tubuh mereka yang sudah basah kuyub karena guyuran air dari shower.

Jessie tampak sangat bergairah, begitupun dengan dirinya yang seakan tak ingin menghakhiri percintaan panas mereka.

“Ohh, Steve… Astaga…” Jessie meracau, sedangkan yang dapat dilakukan Steve hanya kembali menghujam lagi dan lagi.

Entah sudah berapa lama mereka melakukan penyatuan dalam posisi berdiri. Tubuh Jessie terhimpit dengan dinding dan juga tubuh kekar Steve. Steve bahkan setengah mengangkat tubuh Jessie agar tinggi mereka sejajar. Sesekali Steve mencumbu habis bibir istrinya itu, melumatnya dengan penuh gairah, mengajaknya untuk menari bersama. Oh, Sial! Jessie benar-benar akan membunuhnya.

Beberapa kali Steve akan sampai pada puncak kenikmatan, tapi kemudian Steve memperlambat lajunya, menurunkan ritmenya, menyiksa dirinya sendiri dengan cara menahan agar luapan gairah tak segera meledak dan permainan mereka segera berakhir. Sungguh, Steve tak ingin segera mengakhirinya. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tersiksa.

“Steve, tolong…” Jessie memohon.

Rupanya wanita itu sudah akan sampai pada puncak kenikmatannya lagi, entah sudah yang keberapa kali.  Berkali-kali, Steve merasakan Jessie klimaks, tapi ia masih menahan diri agar tidak terpancing dengan istrinya itu. Steve masih ingin lebih lama lagi, Steve masih ingin lebih banyak lagi mencumbu Jessie. Oh, Jessie, istrinya….

Akhirnya, karena sudah tak sanggup menahan luapan gairah yang menghantamnya lagi-dan lagi, Steve pun meledakkan diri setelah beberapa kali hujaman kerasanya. Steve mengerang, begitupun dengan Jessie. Keduanya saling mengerang satu sama lain, seakan melupakan kecanggungan yang sempat tercipta diantara mereka.

Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, ia tidak mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Steve membuatnya lemas tak bertenaga karena klimaks yang ia dapatkan beberapa kali dalam satu sesi percintaan panasnya bersama dengan lelaki ini. astaga, Steve benar-benar pandai bercinta.

Jessie merasa sangat malu, karena ia merasa tak pandai mambuat Steve senang dengan percintaan mereka. Bagaimana jika lelaki ini bosan nantinya? Jessie menenggelamkan diri pada dada Steve. Ia mengabaikan air Shower yang masih setia mengguyur tubuh mereka. Kemudian, Jessie mulai terisak.

Steve yang baru sadar dari gelombang gairah yang menghantamnya, akhirnya merasakan isakan dari Jessie. Ia melepaskan pelukan Jessie kemudian mengamati wanita itu dengan kekhawatiran yang amat sangat.

“Ada apa? Apa aku menyakitimu? Bayinya?” tanyanya dengan raut khawatir.

Jessie masih terisak. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa seemosional ini, secengeng ini hanya karena merasa bahwa ia tidak bisa memuaskan hasrat seorang Steven Morgan. Padahal, Steve sendiri tidak mengatakan kemungkinan tersebut.

Steve meninggalkan Jessie, lalu kembali dengan sebuah kursi lipat. Ia mendudukkan Jessie di sana dan mencoba mengabaikan ketelanjangan mereka. Steve berjongkok di hadapan Jessie, berharap jika Jessie mengatakan apa masalahnya.

Sial! Steve tadi terbawa dengan suasana. Ia terlalu menikmati percintaan panasnya dengan Jessie, mencoba menahannya agar percintaan mereka tak segera berakhir. Steve bahkan lupa tentang keadaan Jessie yang sedang mengandung bayinya. Bisa saja tadi ia menyakiti wanita itu. Dan hal itulah yang membuat Steve khawatir.

“Kau, baik-baik saja, bukan?” tanya Steve sekali lagi saat Jessie sudah berhenti terisak.

Jessie hanya menganggukkan kepalanya. Tampak sangat manja. Steve tak ingat kapan terakhir kali Jessie terlihat menja seperti saat ini. Jessie tentu bukan orang manja seperti itu. Setidaknya, hal itulah yang dilihat Steve selama ini. Setelah kepergian ibu Jessie, Jessie selalu memposisikan diri sebagai gadis kuat, wanita mandiri yang mampu mengurus dirinya sendiri bahkan mengurus ayah dan kakaknya. Tapi kini, Jessie tampak seperti seorang gadis manja yang terisak karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Apa yang terjadi dengan wanita ini?

“Ada yang sakit? Apa aku menyakitimu?” tanya Steve lagi. Karena ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Jessie.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Hanya itu jawabannya.

“Lalu kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja bukan?” Steve masih tampak khawatir.

“Aku baik-baik saja, Steve. Sungguh.”

“Katakan, kenapa kau menangis?” lagi, Steve masih ingin mendapatkan jawaban yang masuk akal dari wanita di hadapannya tersebut.

“Aku… aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu?” Steve masih menuntut.

“Aku juga tidak mengerti, Steve. Aku selalu ingin menangis akhir-akhir ini. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini.” Jessie kembali menangis, dan Steve benar-benar bingung.

Ya Tuhan! Bagaimana mungkin menghadapi wanita hamil akan membuatnya segila ini?

Akhirnya, Steve menghentikan interogasinya, ia memilih bangkit dan memeluk Jessie. “Mungkin ini berhubungan dengan kehamilanmu. Kau sangat sensitif. Seharusnya aku mengerti dan lebih mengalah lagi.” Ucap Steve kemudian.

“Aku… aku hanya takut, Steve.”

“Apa yang membuatmu takut?”

“Kau. Aku takut dengan dirimu.”

Steve melepaskan pelukannya, lalu menatap Jessie penuh tanya. “Aku? Kau takut denganku?” kemudian Steve tertawa lebar menertawakan apa yang baru saja dikatakan Jessie.

Perlu diketahui, bahwa selama ini, Stevelah yang takut dengan Jessie. Jessie kadang memposisikan diri sebagai ibu Steve ketika mereka tinggal di New York. Jessie tak segan-segan mengomel atau bahkan memukuli Steve ketika Steve melakukan perbuatan yang salah.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Jessie dengan kesal.

“Kau takut denganku. Itu tidak masuk akal, Baby girl.” Saat Steve sudah memanggilnya seperti panggilan yang diberikan Frank padanya, maka saat itulah Jessie tahu bahwa sikap menyebalkan Steve mulai kambuh.

“Apanya yang tidak masuk akal?!” nada suara Jessie mulai meninggi.

“Ya ampun. Kau seperti Mom jika sedang marah. Lebih tepatnya, aku yang takut denganmu. Bukan sebaliknya.” Steve berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya.

Jessie bangkit seketika. Dengan marah ia berkata. “Aku hanya takut jika tak dapat memuaskanmu. Seharusnya kau tidak menertawakan aku! Kau membuatku kesal, Morgan!”

Steve sempat membatu setelah mendengar jawaban Jessie. “Kau apa?” tanyanya sekali lagi. Tapi Jessie tidak mengindahkan pertanyaannya. Lalu Steve mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Jessie hingga membuatnya sadar akan maksud dari wanita tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Steve tak kuasa menahan tawanya hingga terpingkal-pingkal.

Melihat Steve yang tak berhenti menertawakannya, Jessie semakin kesal dan marah. Hal itu membuat Jessie berinisiatif pergi meninggalkan Steve. Astaga, Jessie bahkan sempat melupakan jika dirinya masih telanjang bulat saat ini.

Melihat Jessie yang tampak kesal dan akan meninggalkannya membuat Steve menghentikan tawanya seketika. Ia segera menggapai tubuh Jessie kemudian memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Sial! Gesekan kulit lembut Jessie membuat Steve kembali berereksi.

“Lepaskan aku!” Jessie sempat meronta. Tapi Steve mempererat pelukannya.

“Begini saja, Nyonya Morgan.”

Panggilan itu lagi. Sialnya, panggilan itu mampu membekukan tubuh Jessie. Oh ya, ia juga baru ingat bahwa saat ini statusnya sudah menjadi istri Steve, menjadi Jessica Morgan. Bagaimana dia bisa lupa dengan hal itu?

“Maaf jika aku sudah menertawakanmu. Sungguh, aku merasa kau sangat konyol. Mana mungkin kau tidak memuaskanku?” ucap Steve dengan nada parau.

“Kau… Aku… Aku tidak tahu. Maksudku, aku sudah beberapa kali klimaks, dan kau…”

“Karena memang itulah yang kuinginkan.” Steve memotong kalimat Jessie. “Perempuan bisa klimaks beberapa kali dalam satu sesi. Tapi jika lelaki sudah klimaks, maka semuanya selesai. Butuh beberapa menit untuk memulainya lagi. Dan aku hanya ingin, percintaan kita tadi tak cepat selesai.”

“Jadi, semua itu, bukan karena kau tidak menikmatinya?”

Steve melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Jessie hingga menghadap ke arahnya.

“Oh, Demi Tuhan, Jess! Kau benar-benar gadis biara, ya? Jika aku tidak menikmatinya, maka aku akan menyatukan diri, memuntahkan gairahku kemudian meninggalkanmu begitu saja tanpa mempedulikan apa kau klimaks atau tidak. Kau mengerti apa maksudku?”

Jessie tersenyum. Meski kosa kata yang diucapkan Steve sedikit kurang ajar, tapi tetap saja, mendengar kalimat itu membuat Jessie tersenyum malu. Jessie mengerti apa maksud Steve. Yang tidak membuatnya mengerti adalah, kenapa Steve bisa begitu menikmati permainan mereka? Jessie tidak melakukan apapun, dan hal itulah yang membuat Jessie tak percaya diri.

“Uum, aku, tak melakukan apapun. Bagaimana mungkin kau menikmatinya?”

Steve tak tahu harus seperti apa menjelaskan pada Jessie bahwa dirinya begitu menikmati percintaan mereka. Tapi kemudian, Steve memiliki ide untuk memanfaatkan kepolosan Jessie.

Dengan sedikit tersenyum ia berkata “Kau ingin tahu bagaiaman aku menikmatinya?”

“Maksudmu?” Jessie curiga dengan apa yang akan dilakukan Steve. Tanpa banyak bicara, Steve meraih sebelah telapak tangan Jessie kemudian mendaratkan pada ereksinya.

“Kau lihat. Aku selalu menegang saat berdekatan denganmu. Bagaimana mungkin kau memiliki pemikiran sekonyol itu, bahwa aku tidak menikmati semua ini?”

“Aku…” Jessie bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia benar-benar tak pernah seintim ini. Sangat intim hingga menyentuh pusat gairah dari seorang lelaki.

Steve semakin mendekat, membiarkan Jessie menyentuhnya. “Sentuh aku, Jess. Dan lihatlah. Betapa aku menikmati sentuhanmu.” Ucapnya dengan suara parau. Kemudian, Steve menangkup kedua pipi Jessie, mengangkat wajah wanita itu, lalu mendaratkan ciuman lembutnya pada bibir Jessie.

Jessie sangat menikmatinya. Ia bahkan memejamkan matanya, dan juga membalas cumbuan lembut dari suaminya tersebut. Jemarinya masih tak berhenti membelai mesra bukti gairah lelaki itu, dan hal tersebut memancing suatu gairah dari dalam tubuh Jessie.

Steve mencumbu lagi dan lagi. Kakinya melangkah, mendorong tubuh Jessie sedikit demi sedikit hingga mereka keluar dari kamar mandi, kemudian menuju ke arah ranjang mereka. Sampai di sana, Steve melepaskan tautan bibir mereka. Jemari Jessie benar-benar menyiksanya, membuatnya nyaris meledak karena kelembutan yang diberikan oleh istrinya tersebut.

Steve menatap Jessie dengan sungguh-sungguh, lalu ia berkata “Aku ingin kali ini kau yang memegang kendali.”

“Aku? Bagaimana bisa?” tanya Jessie bingung.

Jessie tentu tak perenah berpikir bagaimana caranya memegang kendali sebuah hubungan seksual. Ia tidak semahir atau seliar itu. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya.

Kemudian, Steve mendorong tubuh Jessie hingga keduanya jatuh di atas ranjang dengan Steve berada di atasnya. “Aku akan mengajarkanmu. Kau mau?” tawar Steve kemudian.

“Aku… Umm, aku…” Jessie ragu. Tapi saat dirinya masih ragu, Steve sudah menyatukan diri dengan begitu erotis. Jessie tak mampu menolak karena ia juga menikmati penyatuan tersebut.

Tanpa diduga, dalam sekejap mata, Steve membalikkan posisi mereka hingga kini Jessie berada di atasnya. Steve tersenyum, dan Jessie bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

“Bergeraklah.” Pinta Steve.

“A-apa maksudmu?”

“Bergeraklah. Puaskan aku.”

Mata Jessie sempat membulat karena ucapan Steve. Tapi kemudian ia mengikuti nalurinya untuk bergerak, mencari-cari kenikmatan untuk dirinya sendiri, memberikan kenikmatan untuk Steve. Jessie bahkan melupakan kecanggungannya. Semua pergerakan yang ia lakukan itu semata karena nalurinya.

Dengan spontan, Jessie menundukkan kepalanya, mendaratkan bibirnya pada bibir Steve. Mencium suaminya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya.

Steve sangat menyukai apa yang dilakukan Jessie. Ia tak menyangka jika Jessie akan mampu dengan mudah beradaptasi dengannya, dengan kehidupan seksualnya di atas ranjang. Jika boleh jujur, untuk seorang pemula, Jessie benar-benar sangat menggoda, panas dan cukup liar. Meski wanita itu tak berhenti merona karena malu, tapi tetap saja, hal itu tak menyurutkan sedikitpun gairah Steve pada Jessie.

Jessie masih tak berhenti, ia bergerak lagi dan lagi dan hal itu mengantarkan Steve pada puncak kenikmatan. Steve tak mampu menahannya lagi. Dipeluknya erat tubuh Jessie, kemudian ia bergerak secera spontan, membuat Jessie mengerang dengan pergerakan dari Steve.

Jessie kembali hanyut dalam badai kenikmatan, dan tak berapa lama, Steve menyusulnya. Keduanya tenggelam dalam pusaran gairah yang seakan tak ingin meninggalkan mereka.

***

Satu minggu berlalu. Steve dan Jessie kembali ke New York. Mereka harus bekerja kembali dan menjalani kehidupan normal seperti sebelum-sebelumnya.

Berada satu minggu di Pennington dengan status baru membuat hubungan mereka menjadi panas sepanas bara. Bukan karena kemarahan atau emosi, tapi karena gairah yang menyala-nyala.

Hampir setiap malam Steve menyentuh Jessie dengan panas. Mengajari wanita itu bagaimana caranya menikmati hubungan baru mereka. Mengajari Jessie bagaimana cara untuk memuaskannya. Dan Jessie tampak senang dengan peran barunya tersebut.

Sesekali, mereka memang masih canggung dengan status baru yang mereka sandang. Tapi sering kali mereka mengabaikannya. Kedekatan mereka masih sama seperti pada saat mereka berteman dulu. Steve masih suka mengganggu Jessie dan Jessie sering kali marah-marah tak jelas dengan perilaku kekanakan Steve.

Hari-hari di Pennington menjadi hari-hari terindah untuk mereka berdua. Tapi mereka sadar, bahwa mereka tidak bisa berada di sana selamanya. Mereka harus kembali ke New York, dan itu tandanya mereka akan menghadapi berbagai macam masalah.

Seperti, dimana mereka akan tinggal setelahnya?

Oh, tentu saja Jessie bisa pindah ke apartmen Steve. Tapi mengingat bagaimana keras kepalanya wanita itu, Steve mencoba mengalah saat Jessie menolak gagasan tersebut.

Steve mengusulkan agar ia yang pindah ke apartmen Jessie. Jessie tidak menolak, tapi wanita itu hanya berkata bahwa akan bagus jika Steve tak perlu buru-buru memboyong semua barang-barangnya ke apartmen Jessie, mengingat apartmennya tak sebesar milik Steve, dan juga, mereka tentu perlu waktu untuk menyesuaikan keadaan masing-masing.

Setidaknya, Steve bisa lega, karena itu tandanya ia bisa tinggal bersama dengan Jessie, meski tandanya, ia harus lebih banyak mengalah dengan kekeras kepalaan wanita tersebut.

Saat berada di dalam mobil, sesekali jemari Steve terulur dengan sesuka hatinya, mendarat pada perut Jessie kemudian mengusapnya lembut. Steve tidak tahu apa yang membuatnya melakukan hal yang menggelikan seperti itu. Yang ia tahu adalah bahwa hal itu kini menjadi sesuatu yang ia gemari.

Sial! Ada anaknya di sana. Jagoannya. Ya, Steve bahkan sangat yakin dan sudah merasakan bahwa anak yang dikandung Jessie adalah laki-laki. Hal itu benar-benar sangat berarti untuk Steve.

Jessie sendiri, ia memilih megabaikan apa yang dilakukan Steve. seperti tak terjadi apapun. Padahal dalam dirinya, Jessie merasakan sebuah pergolakan. Kehangatan menerpanya, tapi ia juga merasa kurang nyaman dengan sikap manis berlebihan yang diberikan Steve padanya.

Jessie tahu, hubungan mereka memang jauh lebih baik ketimbang setelah malam panas saat itu. Tapi ia juga sadar, bahwa semua ini semata-mata karena mereka ingin memperbaiki semuanya. Jessie akan sangat berhati-hati dengan hal ini, karena ia tahu, satu kali saja ia tergelincir, maka ia akan jatuh, dan hubungan mereka tak akan tertolong lagi.

Pada saat itu, keduanya sudah sampai di gedung apartmen mereka. Dengan sigap Steve keluar dari dalam mobilnya, ia memutarinya kemudian membukakan pintu penumpang agar Jessie keluar dari sana.

Manis sekali.

Keduanya masuk. Mendapati Cody si penjaga apartmen yang tersenyum ramah ke arah mereka.

“Mr. Morgan, Miss Summer.” Sapanya dengan ramah.

“Ahhh. Biar kukoreksi. Mrs. Morgan.” Ucap Steve dengan sungguh-sungguh.

“Apa? Maksudnya, kalian?” Cody menatap ke arah Steve dan Jessie secara bergantian.

Jessie hanya menunduk. Sedangkan Steve dengan penuh rasa posesif ia menarik pinggang Jessie agar masuk ke dalam lengannya.

“Ya. Kami sudah menikah.” Jawab Steve dengan penuh penegasan.

Jessie tidak membantah, ia pun tidak meralat ucapan Steve karena memang benar seperti itulah kenyataannya. Mereka sudah menikah, ia sudah menjadi Nyonya Morgan saat ini.

“Ohh, selamat. Kenapa aku tidak diundang?”

“Hanya pernikahan biasa yang diadakan di lumbung rumahku.” Jawab Steve. “Tapi lain kali, aku akanmmeneraktirmu minum untuk merayakannya. Boleh kan Sayang?’ tanyanya pada Jessie.

“Ya. Tentu saja.” Jessie baru membuka suaranya.

“Baiklah, Cod. Kami akan naik dulu.” Steve berpamitan dan Cody hanya menganggukkan kepalanya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar bahwa kedua orang tersebut nyatanya sudah menikah.

Saat Steve dan Jessie baru saja masuk ke dalam lift, Cody baru saja ingat bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Jessie. Seseorang yang datang setiap hari ke apartmen ini selama Empat hari terakhir. Seseorang yang Cody kenal sebagai tunangan Jessie. Astaga, apa yang akan terjadi selanjutnya?

-TBC-

Advertisements

One thought on “Sleeping with my Friend – Bab 13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s