Sleeping with my Friend – Bab 12

Comments 2 Standard

 

Bab 12  

 

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie mengenakan gaun pengantin sederhana milik ibunya yang sudah ia modifikasi hingga tak terlihat kuno. Jessie senang mengenakan gaun tersebut, bahkan  ini merupakan cita-citanya, bahwa ia akan mengenakan gaun pengantin ibunya ketika menikah dengan Henry nanti. Nyatanya, mempelai prianya bukan Henry, melainkan Steven Morgan, temannya sendiri.

Jessie menghela napas panjang. Ia merasa gugup dan sedikit gemetar. Keraguannya kembali muncul, ia tidak menyangka jika akan berakhir seperti sekarang ini. Berada di kamar Steve dengan penata rias yang membantunya tampil cantik karena pernikahannya yang akan segera dilaksanakan di lumbung keluarga Morgan yang sudah disulap menjadi tempat pemberkatan yang begitu indah.

Ketika Jessie sangat gugup, sebuah suara ceria mampu mengalihkan perhatiannya. Emily Morgan datang dengan senyum cerianya.

“Kau benar-benar sangat cantik.” Komentarnya sembari menghambur ke arah Jessie.

“Maaf, kau bisa merusak rambutnya.” Si penata rambut berkomentar, dan Emily segera menjauhkan diri dari Jessie.

“Oh maaf. Aku hanya sangat mengaguminya. Astaga, Steve pasti akan terpana denganmu.” Komentar Emily.

“Kau bisa saja.” Jessie merona dengan pujian Emily. Dulu, ia tak pernah malu-malu seperti ini dengan adik Steve itu. Tapi kini, semua seakan berubah. Ada rasa canggung yang sulit dijelaskan, dan hal itu membuat Jessie kurang nyaman.

“Aku ke sini karena ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa?” tanya Jessie penasaran.

Baby Girl.” Itu Frank. Kakaknya itu berdiri di ambang pintu. Jessie berdiri dan menatap Frank dengan mata berkaca-kaca.

Frank mendekat, kemudian memeluk erat tubuh adiknya. Si penata rambut akan berkomentar tapi Emily lebih dulu mengajaknya keluar agar Jessie bisa menikmati waktunya dengan Sang Kakak.

“Frank.” Jessie menangis. Entah kenapa ia ingin menangis, mungkin terharu, mungkin sedih karena setelah ini ia akan memiliki keluarga kecilnya sendiri dan satu langkah sedikit jauh dengan Frank dan juga ayahnya.

“Hei. Kenapa menangis?” tanya Frank yang sudah melepaskan pelukannya. Frank bahkan menghapus bulir airmata Jessie yang jatuh menuruni pipinya. “Maskaramu akan luntur. Kau tak ingin membuat para tamu undangan lari ketakutan saat melihat riasanmu berantakan, bukan?”

Jessie tersenyum, dia bahkan meninju pelan dada kakaknya.

“Kau sangat cantik, Jess. Mom pasti akan sangat senang menyaksikan pernikahanmu dari sana.”

“Bagaimana dengan George?” tanyanya kemudian.

Well. Seperti biasa, pria tua itu bersikap sok kuat. Padahal semalam saat minum denganku, dia gelisah dan mengkhawatirkanmu.”

“Jangan mengajaknya minum lagi, Frank.”

“Ya. Karena setelah ini, aku memiliki teman minum baru di keluarga kita.” Ucap Frank dengan semangat. Jessie hanya menundukkan kepalanya. Frank lalu mengangkup kedua pipi Jessie dan bertanya. “Kenapa? Kau tampak tak bahagia.” Frank menatap Jessie penuh selidik.

“Aku bahagia, Frank. Kau tahu sendiri bukan, Steve adalah cinta pertamaku. Aku tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Kami akan menikah, astaga, aku masih tidak menyangka akan seperti ini.”

“Ada yang kau takutkan, Baby girl?”

“Banyak.” Desah Jessie.

“Katakan, karena jika kau menyimpannya sendiri, kau tak akan berhenti gelisah.”

“Aku takut jika semua akan gagal.”

“Kenapa kau berpikir sampai ke sana?”

“Frank. Tak ada cinta diantara kami.”

“Kau baru saja mengatakan bahwa dia cinta pertamamu.”

“Ya ampun, Frank. Itu sudah Lima belas tahun yang lalu. Aku sudah jatuh cinta dengan pria lain setelahnya. Bahkan mungkin sekarang aku masih mencintai Henry.” Jessie menghela napas panjang. “Maksudku, aku takut, kalau aku kembali menyukainya, terbawa perasaan, padahal hubungan kami tak lebih dari partner untuk membesarkan bayi kami.”

“Steve bukan orang seperti itu, Jess. Aku mengenalnya. Dan kupikir, dia juga menyukaimu.”

“Tolong, Frank! Jangan membuatku berharap dengan hal yang tak mungkin. Kau tahu sendiri bukan, bahwa tipe perempuan kesukaannya adalah….”

“Perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumbah dari branya? Ayolah, itu hanya pemikiranmu saja, Jess. Otak Steve tidak mungkin hanya dipenuhi dengan payudara wanita.”

Meski Frank mengatakannya dengan mimik serius, tapi tetap saja, Jessie tersenyum ketika mendengar kalimat vulgar dari kakaknya tersebut. Pada saat bersamaan, pintu kamar tersebut dibuka, menampilkan sosok Emily dengan George Summer.

“Maaf mengganggu. Tapi acara akan segera dimulai.”

Frank kembali menatap ke arah Jessie, kemudian ia berbisik. “Kau bisa melewati semuanya, Jess. Aku yakin kau bisa. Kau adalah wanita terhebat yang ada di dunia ini. jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mencariku.”

Jessie tersenyum dan mengangguk. Ia sangat bahagia memiliki kakak seperti Frank. Meski kadang Frank menyebalkan, tapi ia tahu bahwa Frank adalah sosok kakak yang sangat sempurna.

George masuk. Berjalan menuju ke arah Jessie. Jessie sendiri segera menghadap ayahnya tersebut. Jemari George terulur mengusap lembut pipi Jessie.

“Kau sangat mirip dengan Marina.” Marina Summer adalah nama ibu Jessie.

Jessie tersenyum. “Apa Steve tampak tampan sepertimu?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja aku lebih tampan.” Jawab George kemudian. “Tapi aku yakin, dia akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik dariku.” Lanjutnya dengan sungguh-sungguh.

“Oh, Dad.” Jessie tak kuasa untuk tidak memeluk ayahnya. Rasa haru menyelimutinya. Ia sangat bersyukur memiliki keluarga seperti ayahnya dan juga kakaknya.

“Kau tahu kemana harus pergi jika ada masalah. Tapi aku selalu berharap jika kau bisa menyelesaikan semua masalahmu secara dewasa.”

Jessie hanya mengangguk. Rasa haru benar-benar membuatnya ingin menangis.

“Baiklah.” George melepaskan pelukan Jessie. “Kau sudah siap?”

Lagi-lagi, Jessie hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Ayo, aku akan mengantarmu pada Steve.” Setelah itu, Jessie mengapit lengan ayahnya, berjalan keluar dari kamar dan menuju ke arah tempat pemberkatan, tempat dimana Steve dan kehidupan baru menunggunya.

***

Malam semakin larut. Pesta semakin ramai. Setelah melakukan pemberkatan di area lumbung yang disulap menjadi tempat yang begitu indah, halaman rumah Steve juga sudah disulap menjadi area pesta dansa yang indah.

Bunga-bunga ditata sedemikian rupa, lilin-lilin berpadu dengan lampu-lampu kecil, membuat suasana terasa begitu romantis. Belum lagi alunan lagu lembut yang mengiringi pesta dansa membuat siapa saja larut kedalam suasana romantis.

Tak terkecuali kedua mempelai yang kini tengah asyik berdansa bersama. Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve, sedangkan Steve sendiri memeluk pinggang wanita yang kini sudah berstatus sebagai istrinya.

Keduanya berdansa dengan mata yang saling menatap satu sama lain. Ada sebuah kecanggungan, tapi keduanya bersikap senormal mungkin. Seperti mereka memang sering melakukan hal seperti ini.

Dengan sedikit nakal, jemari Steve merayap ke atas, menelusuri sepanjang resleting gaun Jessie yang menempel di tulang belakangnya. Hal itu membuat Jessie menatap Steve dengan penuh tanya.

“Istriku.” Ucap Steve dengan pelan, nadanya menggoda, terdengar nakal tapi sedikit jahil. Entah apa maksud Steve mengucapkan kata tersebut dengan nada yang sseperti itu.

“Apa?” akhirnya Jessie mengangkat wajahnya dengan berani.

“Kau. Istriku.” Ucap Steve lagi dengan senyuman mengembang di wajahnya. Keduanya bahkan masih asyuk berdansa meski ketegangan seksual kembali terpantik begitu saja karena godaan dari Steve.

Well. Seluruh warga Pennington sudah tahu hal itu.”

“Aku tidak menegaskan pada mereka. Aku menegaskannya padamu.”

“Dan untuk apa kau menegaskan hal itu padaku?”

“Karena aku ingin kau ingat bahwa malam ini adalah malam pengantin kita.”

Jessie tergelak karena ucapan Steve. “Oh yang benar saja. Kau akan membahas tentang seks saat ini?”

“Tidak. Kita tak akan melakukan seks. Tapi kita akan bercinta.”

“Hemmm. Aku jadi penasaran. Apa perbedaan antara seks dan bercinta versi tuan Steven Morgan.” Sindir Jessie.

Steve tersenyum penuh arti. “Kau akan tahu. Mrs. Morgan.” Jessie sempat berdebar-debar tak jelas setelah Steve memanggilnya dengan panggilan Mrs. Morgan. Astaga, ia sudah menjadi seorang nyonya? Nyonya Morgan? Bahkan dalam mimpi terindahnyapun Jessie tak pernah memimpikan hal ini terjadi. Pernikahannya benar-benar sempurna, meski cinta belum ada diantara mereka, tapi Jessie akan berusaha untuk tidak gagal dan keluar sebagai pemenangnya.

Frank benar, ia harus lebih berani dan lebih positif melihat kedepan hubungannya dengan Steve. Jika ia ingin berhasil, maka ia tidak boleh berpikiran buruk. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka akan bisa menjalani semuanya dengan baik.

***

Mereka tidak bulan madu!

Steve tak berhenti menggerutu kesal saat itu, ketika mereka ,merundingkan tentang bulan madu dan Jessie memilih untuk tidak pergi kemanapun. Jessie hanya ingin menghabiskan waktunya di kampung halaman mereka sebelum kembali ke New York. Dan kini, saat pesta pernikahan mereka sudah usai, mereka hanya menghabiskan waktu di kamar Steve.

Jessie tampak sedikit canggung dengan status barunya, tapi Steve mencoba menghilangkan kecanggungan diantara mereka dengan cara bersikap sesantai mungkin.

Setelah melepaskan tuksedonya, Steve bahan segera melemparkan diri ke atas ranjangnya, dan hal itu sempat membuat Jessie mengerutrkan keningnya.

“Kau, tidak mandi?” tanyanya. Karena saat ini, Jessie sudah segar karena baru selesai mandi dan kini sedang menatap Steve dari balik cermin meja rias di hadapannya.

“Tidak. Kenapa? Kau keberatan?”

“Astaga, kita akan tidur bersama. Mencobalah untuk lebih bersih dengan mandi terlebih dahulu sebelum tidur.” Gerutu Jessie.

Bukannya tersinggung, Steve malah tertawa lebar. Ia bangkit, bukannya segera menuju ke kamar mandi, tapi malah menuju ke arah Jessie. Dengan begitu kurang ajarnya, Steve malah memeluk tubuh Jessie dari belakang, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup lembut leher jenjangnya.

“Aku ingin dimandikan.” Bisiknya parau dan seketika itu Juga, Jessie menjauhkan diri.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak, Morgan!”

“Kenapa? Kau istriku sekarang.”

“Tapi aku setuju menjadi istrimu bukan karena alasan ingin memandikanmu. Demi Tuhan! Kau sudah dewasa, apa masuk akal jika kau ingin kumandikan?”

“Ayolah sayang, itu hanya istilah saja. Intinya, aku ingin mandi bersamamu. Berdua, bersama.” Jelasnya.

“Aku sudah mandi.”

“Kita bisa mandi lagi.”

Dan dengan seenaknya sendiri, Steve mengangkat tubuh Jessie dengan paksa. Jessie meronta dalam gendongannya. Tapi Steve tak mempedulikannya. Steve bahkan tertawa bahagia karena membuat wajah Jessie panik seperti saat ini.

“Hei! Lepaskan aku!” Jessie masih meronta. Tapi secepat kilat Steve menyambar bibir ranumnya, membungkamnya hingga Jessie tak mengeluarkan suara lagi. Bahkan, Jessie hanya membeku ketika Steve melakukan hal tersebut.

Setelah Jessie tak lagi melawannya, Steve menghentikan cumbuannya. Pada detik itu, kakinya sudah sampai di dalam kamar mandi. Steve menatap tajam ke arah Jessie, pun dengan Jessie yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

Jessie benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Steve tadi. Sejak kapan Steve jadi tukang cium seperti tadi? Ini bukan pertama kalinya, tentu saja Jessie masih mengingat saat Steve menciumnya di dalam lift dengan posisi yang sama seperti ini. kenapa Steve melakukannya? Bukankah mereka menikah hanya karena bayi yang dikandungnya saja?

“Kau, terkejut?” Steve membuka suara.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Jessie mencoba mengalihkan perhatiannya dari mata Steve yang begitu memabukkan untuknya.

“Menciummu.” Jawab Steve dengan santai.

“Aku tahu. Tapi kenapa kau melakukannya?”

“Karena aku ingin.” Lagi-lagi Steve menjawabnya dengan nada santai.

“Steve. Aku sedang tidak bercanda.”

“Kau pikir aku sedang bercanda? Ayolah, Sayang jangan membohongi dirimu sendiri, kau juga menginginkanku. Dan akupun sama. Lagi pula, ini malam pengantin kita.”

“Steve jangan, kumohon.” Pinta Jessie. Jessie hanya ingin membatasi apa yang akan dilakukan Steve. Ia belum siap. Baginya ini terlalu terburu-buru.

Astaga, Steve benar, ketegangan seksual memang selalu terpercik diantara mereka setelah malam sialan itu, tapi tetap saja, Jessie merasa ragu melakukannya lagi. Jessie bukanlah orang yang percaya diri jika itu tentang seks. Apalagi mengingat Steve adalah orang yang sangat mahir dalam urusan itu.

Steve menurunkan tubuh Jessie, dengan cepat ia mengurung tubuh Jessie diantara dinding. Lengannya mengurung di sisi kanan dan kiri tubuh Jessie kemudian dia berkata dengan suara parau.

“Aku menginginkanmu.” Ucapnya jujur.

Jessie mengangkat wajahnya seketika menatap tepat pada mata Steve. Mata lelaki itu berkabut, dan Jessie tahu bahwa kini Steve benar-benar sedang menginginkannya. Dengan spontan Steve  membawa telapak tangan Jessie menyentuh bukti gairahnya, menunjukkan bahwa lelaki itu benar-benar bergairah pada sosok Jessie.

“Kumohon, aku benar-benar menginginkanmu.” Steve memohon dan Jessie tahu bahwa ia tidak bisa menolak lelaki itu.

Maka ketika Steve mulai mendekatkan diri, menggapai bibir Jessie, yang dapat Jessie lakukan hanya memejamkan matanya kemudian membalas setiap cumbuan yang diberikan Steve terhadapnya.

Mereka saling mencumbu mesra, lidahnya menari bersama, seakan ikut serta merayakan status baru yang telah mereka sandang.

Steve mulai membuka sampul kimono yang sedang dikenakan Jessie, sedangkan Jessie sendiri memilih mengalungkan lengannya pada leher Steve.

Oh, Steve sangat menggoda, lelaki ini sangat pandai berciuman hingga membuat Jessie merasa mabuk kepayang karena cumbuan yang diberikan Steve padanya. Samar-samar, Jessie bahkan mendengar Steve mengerang nikmat karena cumbuan mereka, dan hal itu membuat gairah Jessie naik satu tingkat lebih tinggi lagi.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Jessie tak pernah merasa sebergairah ini dengan seorang lelaki, apalagi jika lelaki itu adalah Steve, temannya sendiri yang kini sudah berstatuskan sebagai suaminya. Apa salah jika ia memiliki gairah yang besar terhadap Steve? Apa salah jika ia menuruti apapun kemauan lelaki itu? Jessie tak tahu, karena sekarang, Jessie merasa tak dapat berpikiran jernih lagi. Steve sangat menggoda untuknya, lelaki itu tak berhenti menyalakan api gairah didalam tubuhnya, hingga Jessie yakin, bahwa ia akan melewati malam pengantinya dengan begitu panas bersama dengan seorang Steven Morgan.

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Sleeping with my Friend – Bab 12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s