(Mini Story) – Wedding Day (Sleeping with my Friend)

Comments 9 Standard

Haiiii mini story tentang Steve dan Jess nihhh… ingat yaaa Scene mini Story ini gak ada di dalam novel…. hahhahahhaa happy reading… muwaahhhh

 

 

(Sleeping with my Friend) – Wedding Day

 

Jessica Summer

 

“Mencintai dalam susah maupun senang, sehat maupun sakit, akan tetap bersama hingga maut memisahkan.”

Ucapan Steve membuatku tersenyum. Aku senang mendengarnya mengatakan kalimat tersebut, ketika aku berada di sisinya. Meski sebenarnya, aku tahu, bahwa hal ini hanya untuk latihan drama disekolah yang akan diselenggarakan akhir bulan nanti.

Ya, kami didaulat menjadi pemeran utama. Steve sangat senang. Ia tampak antusias, begitupun denganku.

Sudah sejak lama aku memendam perasaan ini pda Steve, temanku. Aku tidak tahu, hal ini terjadi sejak kapan. Intinya, aku tak berhenti berdebar ketika dia berada di sekitarku. Steve mampu mempengaruhiku, Steve mampu membuatku salah tingkah.

Dengan polos, aku pernah menceritakan hal ini pada Frank, dan Frank berkata kemungkinan besar aku sedang jatuh cinta. Cinta pertamaku jatuh pada seorang Steven Morgan. Temanku sendiri. Astaga, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Steve kemudian mengecup keningku, dan semuanya bertepuk tangan. Latihannya sudah berakhir, tapi aku masih merasakan kehangatan dari perkataan Steve tadi. Oh, andai saja hal ini benar-benar terjadi. Menikah dengan Steve? mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini.

***

Tiga hari berlalu….

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba Steve bersikap aneh terhadapku. Dia sedkit menjauhiku, dan aku tidak tahu, apa salahku.

Aku menghampirinya ketika kami berada di rumahnya. Mencoba bersikap natural seperti tak terjadi apapun, dan dengan begitu menyebalkan, Steve menghindariku.

Astaga, apa yang terjadi dengannya?

Akhirnya aku mendekatinya lagi, kemudian aku bertanya “Apa yang terjadi denganmu?”

Steve menjawab. “Tak ada.”

“Kau menghindariku, aku merasakannya.”

Steve memutar bola matanya jengah. “Dengar, Jess. Sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini padamu. Tapi Frank sudah mengatakannya padaku, bahwa kau, kau menyukaiku?”

“Astaga!” aku berseru keras. Tak percaya bahwa Frank akan mengkhianatiku.

“Kami minum saat itu, dia mabuk dan dia meracau.”

“Kalau begitu jangan percaya apa yang dikatakannya.”

“Orang mabuk biasanya mengatakan hal yang sebenarnya.”

“Tapi tidak dengan Frank! Dia gila!” aku mencoba mengelak. Ya Tuhan Frank! Aku tak akan memaafkannya.

“Maksudmu, kau… Kau… tidak memiliki perasaan lebih terhadapku, bukan?”

“Tentu saja Tidak! Kau bukan tipeku, Morgan!” Ya, aku harus berbohong, jika hal itu mengembalikan sikap Steve kapadaku. Pertemananku dengan Steve terlalu berharga untuk dikorbankan dengan perasaan cinta.

Lagipula, kupikir perasaan ini hanya sementara. Semua akan hilang dengan berjalannya waktu. Tapi aku tidak ingin pertemananku dengan Steve hancur karena masalah ini. aku rela memendam semuanya asalkan hubungan kami kembali normal. Aku tidak ingin Steve menghindariku lagi.

Steve tertawa lebar. Aku tahu bahwa dia lebih memercayaiku ketimbang Frank, dan aku bersyukur karena hal itu. Dia kembali, Steveku telah kembali…

“Dan kau juga bukan tipeku, Miss Summer.” Steve berucap dengan santai. Meski dia berkata diiringi dengan senyuman lebarnya, tapi tetap saja, aku tersakiti karena perkataannya.

“Kau tahu, aku lebih suka gadis pirang. Dan tentunya, berpayudara besar.” Lagi perkataan Steve seakan seperti tombak yang menghancurkan hatiku. Aku tak memiliki rambut pirang. Mungkin aku bisa mendapatkannya dengan cara mewarnai rambutku, tapi itu tak bisa menarik hati Steve, karena akupun tak memiliki sepasang payudara besar seperti apa yang dia katakan.

“Aku tahu.” Aku bersungut-sungut.

Steve lalu menangkup kedua bahuku, menghadapkan diriku ke arahnya. Kemudian dia berkata dengan sungguh-sungguh. “Jess, kau mungkin bukan tipe wanita yang ingin kukencani, tapi percayalah, hanya kau wanita yang paling special yang pernah kukenal. Kau selalu menempati salah satu tempat di sudut hatiku, dan tempat tersebut tak akan tergantikan oleh siapapun.”

Aku kembali menghangat dengan ucapan Steve. Steve benar, meski aku bukan tipenya, meski aku tak akan pernah menjadi teman kencannya. Tapi aku cukup senang dengan status kami. Dengan kedekatan kami. Ya, aku cukup senang dengan hal itu…..

***

Semua kejadian itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Aku tak menyangka jika kini, hari itu benar-benar terjadi. Hari dimana aku akan menikah dengan temanku sendiri, Steven Morgan.

Semua berawal ketika aku menghabiskan sebuah malam dengan Steve, kemudian aku hamil. Mungkin pernikahan ini hanya karena kehamilanku. Mungkin Steve melakukan semua ini karena kewajiban bertanggung jawab terhadapku maupun dengan bayiku, tapi bolehkah aku bahagia karena hal ini? karena kejadian tak masuk akal ini?

Mataku tak berhenti menatap ke arah Steve. saat ini, dia sedang berdiri di atas panggung dan memberikan kata sambutan. Menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

“Dulu aku berkata bahwa Jess bukanlah tipe wanita yang ingin kukencani. Ya, itu memang benar. Bahkan hingga kinipun sama. Karena Jess bukan wanita yang ingin kukencani, tapi dia adalah wanita yang ingin kunikahi.”

Suara tepuk tangan meledak setelah ucapan Steve itu. Wajahku memanas seketika. Aku tahu bahwa Steve mengatakan hal itu agar terlihat manis saja. Dia tak ingin  menikahiku jika bukan karena bayi ini. tapi aku tetap menikmati sandiwaranya. Bagaimanapun juga, dia memang terlihat manis.

Entah, dia berkata apa lagi, aku tak tahu, dan aku tak ingin tahu. Aku hanya takut perasaanku yang dulu sudah pupus kembali tumbuh untuknya. Steve bukanlah lelaki yang cocok untuk dicintai. Bahkan aku yakin, dia tidak mengenal apa itu cinta. Aku hanya tidak ingin mengalami patah hati lagi seperti beberapa tahun yang lalu. Jadi aku memilih menjaga diriku agar tidak jatuh terlalu dalam pada seorang Steven Morgan.

Kemudian, tanpa kuduga, Steve bernyanyi. Ya ampun, apa yang sedang dia lakukan? Setahuku, Dia tidak memiliki suara bagus, bahkan sejak dulu, Steve paling benci menyanyi. Tapi kini, dia menyanyi, untukku? Tidak! Itu tidak mungkin! (Kalian bisa putar lagu dibawah sambil baca. ini lagu yg dinyanyiin Steve)

I found a love for me

Darling just dive right in

And follow my lead

Aku tak menyangka dia menyanyikan lagu itu. Ini adalah salah satu lagu favoritku. Dan Steve menyanyikannya di sini, dihadapan semua orang, pada pernikahan kami.

Well I found a girl beautiful and sweet

I never knew you were the someone waiting for me

Steve turun dari panggung dan dia menuju ke arahku.

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was

I will not give you up this time

Dia menarikku agar berdiri dan akupun ikut berdiri bersamanya. Musik mulai mengalun dengan lembut mengiringi lagunya. Jemari Steve terulur mengusap lembut pipiku. Dia kembali bernyanyi.

But darling, just kiss me slow, your heart is all I own

And in your eyes you’re holding mine

Steve mulai mengajakku menari. Kaki kami bergerak seirama dengan musik yang mengalun lembut dan terdengar romantis. Steve tetap melanjutkan lagunya, dan aku benar-benar tak menyangka jika dia bisa menyanyi dengan begitu baik seperti ini.

Baby, I’m dancing in the dark with you between my arms

Barefoot on the grass, listening to our favorite song

When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath

But you heard it, darling, you look perfect tonight

Pada saat itu, kening Steve menempel pada keningku. Bahkan setelah dia menyelesaikan bait terakhir, sekilas dia menyapu lembut bibirku, hanya sekilas tapi itu mampu membuatku bergetar. Suara tepuk tangan pecah. Tapi aku tak menghiraukannya.

Aku lebih fokus dengan debaran jantungku. Dan entah perasaanku saja atau memang benar bahwa Steve juga sama berdebarnya dengan apa yang kurasakan. Oh Tuhan! Tidak! Ini tak bisa seperti ini.

Jika Steve selalu memperlakukanku dengan semanis ini, maka perasaanku yang dulu akan kembali tumbuh. Atau, apa memang perasaan itu sudah tumbuh tanpa kusadari?

Astaga, apa yang harus kulakukan selanjutnya?

Bagaimana ini?

Aku…. Astaga…. Apa benar, bahwa aku… Aku sudah kembali mencintainya?

-End-

Bonus Pict

 

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “(Mini Story) – Wedding Day (Sleeping with my Friend)

  1. Bingung mau coment apa…
    Amazing… Perfect,,, so sweet skali babam Stev bikin hati tata Jessy cenat cenut… 😍😍😍😍😍

    Tapi mom jgn lupa mini story Babam Stev nya juga… Please… 🙏🙏🙏🙏🙏

    Like

  2. omegat…. mom, suka banget sama lagu nya ed seheran. this my favorite song… kok bisa pas banget ya lirik lagu nya sama cerita jessy dan mr. morgan? pas banget setingan nya mom….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s