Sleeping with My Friend – Bab 9

Comments 4 Standard

 

Bab 9

Steve berhenti di halaman rumah Jessie ketika mendapati Suv tua milik George terparkir di halaman rumah Jessie. George mungkin akan pergi karena Steve melihat mesin Suv tersebut menyala seperti sedang dipanaskan. Dengan cepat Steve menuju ke sana, membuka Suv tersebut kemudian mendudukkan Jessie di kursi penumpang.

“Apa yang terjadi?” George menghampiri Steve dan bertanya.

“Dia kesakitan, aku akan membawanya ke rumah sakit.”

“Apa?” George tampak terkejut dan ikut panik. “Kau baik-baik saja, Jess?” tanyanya pada puterinya tersebut.

“Aku baik-baik saja, Dad.”

“Kau ingin aku ikut?” tanyanya lagi.

“Tidak.” Jessie menjawab cepat. Ia melihat ke arah Steve dan berkata “Aku ingin, hanya Steve yang mengantarku.”

George hanya mengangguk. Ia tahu bahwa Jessie mungkin ingin menyelesaikan masalahnya saat ini hanya bersama dengan Steve. Dan George akan mendukung apapun keputusan Jessie.

***

Steve kembali dari mengurus administrasi ketika seorang dokter menghampirinya dan berkata “Miss Summer baik-baik saja. Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan.”

Steve menghela napas lega dan ia menjawab. “Terimakasih, Dokter.”

“Dia harus dirawat dua atau tida hari di sini sebelum kembali pulang.”

“Oh. Kupikir itu hanya masuk angin biasa, rupanya dia harus dirawat inap.” Jessie sempat berkata di dalam mobil tadi bahwa wanita itu memang sedang tidak enak badan, masuk angin dan stress. Dan Jessie meminta agar Steve tidak khawatir terhadapnya.

“Masuk angin? Dia sedang mengandung, Mr. Morgan. Dan dia kelelahan, stress hingga mengalami sedikit pendarahan.”

“Mengandung apa?”

Dokter tak tahu harus menjelaskan seperti apa pada Steve. “Mengandung, bayi. Ya, dia sedangan hamil.”

Dan wajah Steve memucat seketika karena keterkejutan yang amat sangat. Jessie hamil? Apakah itu anaknya? Tapi kenapa Jessie tidak mengatakan apapun padanya? Apa Jessie sengaja menyembunyikan semua itu darinya? Kenapa?

***

Pintu ruang inap dibuka dengan kasar ketika Jessie baru saja mencoba memejamkan matanya. Ia harus banyak istirahat jika ingin mempertahankan bayinya, itulah yang dikatakan Dokter tadi. Tapi tatapan tak bersahabat dari Steve membuat Jessie tahu bahwa ia tak akan beristirahat sebelum menjelaskan semuanya pada lelaki itu.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi?” Steve membuka suara dengan nada tinggi. Lelaki itu marah, Jessie tahu itu. Marah kenapa? Karena ia sudah menyembunyikan kebenarannya? Atau karena Steve tak suka kenyataan tentang kehamilannya?

“Aku…”

“Apa maksudmu dengan masuk angin? Kau hamil! Astaga, kau hamil!” Steve tidak dapat menahan emosinya.

Tadi, saat di dalam mobil. Jessie memang sempat menyebutkan bahwa dirinya sedang masuk angin. Hal itu secara spontan saja ia mengatakannya. Mungkin karena ia terbiasa menganggap kehamilannya sebagai penyakit masuk angin.

“Kau tidak perlu berseru seperti itu. Aku tahu bagaimana keadaanku.” Jessie mendengus sebal.

“Jika kau tahu, kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Sampai kapan kau ingin menyembunyikannya? Sampai kau melahirkan? Atau mungkin sampai anak itu besar, lalu menikah dan memintaku mengantarkan dirinya berjalan menuju altar?” pertanyaan itu seperti tamparan keras untuk Jessie

“Kau tidak perlu mendramatisir hingga seperti itu.”

“Aku tidak mendramatisir! Kenyataan bahwa kau menyembunyikannya benar-benar membuatku marah.” Steve masih tidak ingin menurunkan nada bicaranya.

“Aku akan mengatakannya padamu, Steve.”

“Kapan?! Setelah kau melahirkan? Demi Tuhan! Itu sudah tiga bulan yang lalu, Jess. Kau punya banyak waktu untuk mengatakannya padaku.”

Ya, hubungan intim mereka memang sudah Tiga bulan yang lalu, tapi Jessie baru mengetahui kehamilannya sejak lebih dari sebulan terakhir. Ia memang mengalami tanda-tanda kehamilan, tapi Jessie memilih tak peduli dan mencoba mengingkari dirinya tentang tanda-tanda tersebut. Ia takut bahwa dirinya benar-benar hamil. Hingga ketika ia pingsan di butiknya pada suatu hari dan memaksa Miranda membawanya ke rumah sakit, Jessie baru tahu keadaaannya saat itu. Ia hamil, bukan masuk angin. Tapi ia masih ingin mengingkari kenyataan itu.

“Aku baru mengetahuinya kemarin.” Jessie menundukkan kepalanya.

“Itu tidak masuk akal!” Steve masih tak mau mengalah.

Jessie tahu apapun yang dikatakannya pasti tak akan membuat Steve percaya. Lagi pula, lelaki itu sedang dalam mode emosi yang mengerikan, ia cukup mengenal Steve. Hal ini mengingatkan dirinya pada beberapa bulan yang lalu, ketika Jessie memberitahu Steve tentang pertunangannya dengan Henry. Saat itu, memang hanya Steve yang terakhir tahu, kemarahan Steve hempir sama seperti saat ini. Steve bahkan tidak ingin berbicara dengannya selama dua minggu jika bukan ia yang merangkak dan memohon agar lelaki itu mengakhiri kegilaannya.

Ketika suasana diantara mereka masih tegang dan belum sedikitpun mencair. Pintu ruang inap Jessie kembali dibuka dan menampilkan tiga sosok paruh baya, yaitu, George, Paul, dan Patty.

Baiklah, apa lagi ini? pikir Steve.

“Oh, sayangku. Aku bersyukur kau baik-baik saja.” Patty menghambur ke arah Jessie. “Aku sempat bertemu dengan perawat Louise, menanyakan keadaanmu. Katanya kau dan bayimu baik-baik saja. Dan kau dirawat di ruangan ini.”

Steve mengerutkan keningnya. “Mom, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan tajam.

“Apa maksudmu menanyakan itu? Jess sedang mengandung cucuku, tentu saja aku khawatir dengan keadaannya.”

“Dad?” Jessie menatap ayahnya dengan tatapan tajamnya. Sungguh, Jessie tidak menyangka jika ayahnya akan mengatakan hal ini dengan keluarga Morgan.

“Aku khawatir denganmu. Jadi aku mengajak mereka kemari.”

“Bagus.” Steve bahkan bertepuk tangan. “Hebat sekali, Jess. Jadi hanya aku yang tidak mengetahuinya?”

Keadaan semakin runyam. Jessie tahu itu.

“Steve, aku minta maaf. Aku hanya..”

“Kau tidak perlu meminta maaf, sayang.” Patty memotong kalimat Jessie. “Jika ada yang harus meminta maaf. Dialah orangnya.” Patty bahkan menunjuk ke arah Steve.

“Aku?” Steve tidak mengerti jalan pikir ibunya.

“Ya, kau. Kau sudah menghamili puteri George. Seharusnya kau segera menikahinya, bukan malah membawa si pirang itu pulang.” Patty tampak sangat marah.

“Aku bahkan baru tahu tentang kehamilannya, Mom.”

“Bibi.” Jessie membuka suaranya. “Ini bukan salah Steve. Aku bahkan belum sempat mengatakan padanya. Dan, dia tak perlu menikahiku karena hal ini.”

“Apa maksudmu?” Patty tampak tak setuju dengan ucapan Jessie.

“Karena dia bermaksud untuk tetap menikahi kekasih Gaynya itu!” Steve menuduh dengan marah. Semua yang ada di sana menatap Steve dengan mata membulat masing-masing.

Lama ruangan itu hening, hingga kemudian, Paul, Ayah Steve membuka suara “Sepertinya, kita harus mencari kopi, George.”

George tahu apa maksud Paul “Ya. Kopi akan lebih baik.” Kedua lelaki itu akhirnya keluar.

“Jaga ucapanmu, Steve!” Patty berseru keras pada puteranya. Ia lalu menatap Jessie dengan tatapan lembutnya. “Apa yang dia katakan tidak benar, bukan? Kau tidak akan melanjutkan pernikahanmu dengan Henry, bukan? Maksudku, bukankah tadi malam George berkata jika kalian sudah putus?”

“Kau putus dengannya?” kali ini Steve bertanya. Steve menurunkan nada bicaranya untuk pertama kalinya sejak lelaki itu mengetahui kabar tentang kehamilan Jessie.

Jessie menatap Ibu Steve dengan lembut. “Ya, Bibi. Kami sudah putus. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Sekarang, bolehkah aku beristirahat? Aku sangat lelah.”

“Oh, Ya. Tentu saja, Sayang. Kau harus istirahat.” Patty setuju.

“Kau juga, Steve. Aku ingin istirahat dengan tenang.”

“Aku tidak akan kemanapun.” Steve berkata penuh penekanan. Dan Jessie tidak bisa berbuat banyak karena hal itu. Lelaki itu masih marah, yang dapat ia lakukan hanya mengalah.

***

Jessie bangun jam Tujuh malam. Ia melirik ke sekeliling ruangan. Hanya terdapat Steve yang masih tertidur pulas di sofa panjang ruang inapnya. Lelaki itu sudah mengganti pakaiannya dengan T-shirt santai dan juga celana jeans. Tampak sangat keren padahal lelaki itu sedang dalam posisi tidur.

Tidak adil! Dalam hati Jessie berseru. Dalam beberapa bulan kedepan, tubuhnya akan membengkak, sedangkan Steve masih sama, keren dan mempesona seperti itu.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu ruang inapnya di buka. Sosok Emily datang menghambur ke arahnya.

“Jess. Astaga. Aku benar-benar terkejut mendengar kabar itu. Bagaimana keadaanmu?”

Jessie tersenyum. “Sangat baik.” Ia melirik sekilas kearah Steve dan lelaki itu masih tertidur pulas.

“Dia sama sekali tak ingin keluar dari ruangan ini. Aku yang membawakan pakaian ganti untuknya tadi.”

Jessie hanya menghela napas panjang.

“Katakan, bahwa apa yang dikatakan Mom benar. Kau, mengandung anaknya?” tanya Emily dengan antusias.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Lily.”

“Apa lagi? Astaga, sejujurnya, aku kurang setuju dengan Donna. Maksudku, dia memang cantik, tapi aku tidak benar-benar menyukainya. Satu-satunya hal yang membuatku senang adalah akhirnya Steve mengajak atau mengenalkan seseorang ke rumah. Dan jika disuruh memilih antara dia atau kau, tentu saja aku memilihmu. Kau temanku.”

Jessie tersenyum lembut. “Aku sudah berkata jika ini bukan seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu apa?” Emily mendesak. “Katakan, apa yang terjadi diantara kalian.”

Jessie menunduk malu. “Kau, dokter. Kau tentu tahu proses untuk menjadi hamil.”

“Oh lucu sekali. Kau pikir aku ingin tahu detail prosesnya? Yang benar saja. Maksudku, apa yang terjadi diantara hubungan kalian? Bagaimana bisa kau mengandung anaknya?”

Jessie semakin malu, rupanya yang ditanyakan Emily bukanlah proses secara biologisnya, melainkan tentang hubungan mereka. “Ceritanya panjang, aku tidak tahu kenapa bisa serumit ini.”

“Rumit? Ayolah. Ini tidak rumit. Kau hanya perlu menikah dengannya.”

“Tidak!” Jessie menjawab cepat. “Kau tidak mengerti, Lily.”

Ya, tak akan ada yang mengerti. Ia tidak ingin menikah hanya karena sebuah kecelakaan. Ia tidak ingin mengikat Steve dalam suatu hubungan hanya karena kehamilannya. Jika mereka harus menikah, maka mereka harus menikah dengan cinta. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Sedangkan Emily, ia mengerti apa yang dirasakan Jessie. Hubungan pertemanan wanita itu dengan kakaknya begitu kental. Pasti akan sangat aneh jika diantara pertemanan mereka hadir seorang bayi yang akan merubah semuanya. Akhirnya, Emily mulai mengubah topik pembicaraan. Bagaimanapun juga ia mengerti bahwa Jessie tidak boleh banyak pikiran.

***

Steve keluar dari dalam kamar mandi ketika Emily sudah meninggalkan ruang inap Jessie. Emily berkata jika dirinya ada kencan malam ini, jadi ia harus pulang lebih cepat.

Suasana canggung terasa saat Steve bukannya mendekat ke arah Jessie, tapi malah kembali ke arah sofa panjang yang tadi sempat ia tiduri. Jessie hanya memperhatikan apa yang dilakukan Steve. Ia tahu bahwa lelaki itu masih marah padanya.

“Kau, tidak makan?” tanya Jessie memecah keheningan.

“Kau bertanya padaku?” Steve bertanya balik dengan nada menyindir.

Jessie mendengus sebal. Steve benar-benar kekanakan. “Kau tahu, aku minta maaf atas semua ini. Tapi kau tidak perlu bersikap kekanakan seperti ini padaku, Steve.”

“Baiklah.” Akhirnya Steve bangkit. Ia kemudian berjalan menuju ke arah Jessie, dan sialnya hal itu benar-benar mempengaruhi Jessie.

Steve duduk di sebuah kursi yang tersedia di sebelah ranjang Jessie, ia menariknya mendekat hingga jarak diantara dirinya dan juga Jessie sangat dekat. Steve mencoba mengendalikan keinginannya untuk mendekap tubuh Jessie. Bagaimanapun juga, percintaan panas mereka pada malam itu masih mempengaruhi Steve. Dan Steve tahu bahwa pengaruh itu akan ia rasakan sampai kapanpun ketika berada di dekat Jessie.

“Kita perlu bicara. Dengan kepala dingin, tanpa emosi.” Steve mulai membuka suara.

Entah sudah berapa kali Steve berkata bahwa mereka perlu bicara. Nyatanya, setiap kali mereka bicara, keadaan menjadi memburuk. Ego masing-masing mempengaruhi hingga membuat emosi tak terelakkan lagi.

“Bicaralah.” Ucap Jessie kemudian.

“Sejak kapan kau tahu bahwa kau hamil?”

“Entah. Mungkin lebih dari tiga minggu yang lalu.” Jawab Jessie dengan jujur. “Sejujurnya, aku mencoba mengingkari hal ini. Aku merasakan tanda-tandanya sebulan setelah malam itu. Tapi aku mengabaikannya.”

“Kau apa? Kau tidak berpikir kalau akan menyakitinya?”

“Apa maksudmu?”

“Kau mengabaikan jika kemungkinan besar kau hamil. Bagaimana jika saat itu kau melakukan sesuatu yang membahayakannya? Minum bir atau bahkan mungkin bercinta dengan pria lain. Dan jangan lupakan Sampanye yang dibawa oleh Frank.”

“Aku tidak semurahan itu! Dan Sampanye, aku hanya minum dua gelas.” Jessie berseru keras.

Steve memejamkan matanya mencoba mengendalikan emosinya.

“Ini tak akan berhasil kalau kau selalu menuduhku yang tidak-tidak.” Jessie mendengus sebal. “Aku hanya takut, Steve. Seharusnya kau mengerti. Aku takut karena aku tidak pernah seperti ini. Hormonku kacau, aku merasa sendiri, dan diabaikan.”

Steve meraih telapak tangan Jessie kemudian menggenggamnya erat. “Maaf. Aku keterlaluan.” Ia mengecup lembut telapak tangan Jessie. “Baiklah. Sekarang, aku ingin tahu. Kau, tidak tidur dengan Henry setelah malam itu?”

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Jika kau ragu bahwa ini anakmu, maka lebih baik kau pergi saja dari sini.”

“Jess, aku tidak ragu, aku hanya…”

“Hanya apa? Aku tidak tidur dengan siapapun, dan aku tidak akan bisa tidur dengan siapapun setelah malam itu.” Ya, karena Jessie tahu bahwa lelaki yang paling ingin ia tiduri hanya Steve, bukan laki-laki lagi. Sial!

“Maaf. Aku hanya perlu membuatnya menjadi jelas. Aku ingin bayi ini. Jadi aku hanya ingin memperjelasnya saja.”

Hening diantara mereka. Steve merasa bahwa Jessie cukup berubah. Emosi wanita ini meledak-ledak, seperti seorang yang sedang tertekan. Apa Jessie tertekan karena kehamilannya? Jika iya, maka seharusnya Steve lebih mengalah.

“Kau, benar-benar sudah putus dengan Henry?” tanya Steve dengan serius.

“Ya. Seminggu yang lalu.”

“Benar-benar putus?” tanya Steve sekali lagi.

“Dia tidak menghubungiku lagi. Dan aku tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya.”

Steve mengangguk. “Baiklah. Kita sudah sampai pada sebuah kesepakatan.”

“Kesepakatan? Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

“Kita akan menikah. Secepatnya.”

“Apa? Tidak! Aku tidak mau.”

“Jess. Aku tidak sedang meminta persetujuanmu.”

“Pokoknya, aku tidak ingin menikah sekarang.”

“Jadi kau ingin menikah saat perutmu sudah sebesar bola basket?”

“Ini tidak lucu, Steve!”

“Kau pikir aku sedang bercanda?”

Jessie menutup wajahnya sendri dengan kedua belah telapak tangannya. “Oh. Steve. Menikah bukan jalan keluarnya.”

Steve merasa kepalanya ingin meledak. Tapi ia mencoba mengendalikan emosinya. “Lalu kau ingin aku berbuat apa?” tanya Steve dengan pelan.

“Aku tidak tahu.” Ya, Jessie sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Melanjutkan kehamilannya dan membesarkan anaknya tentu menjadi pioritasnya. Yang ia bingungkan adalah, bagaimana menempatkan Steve di dalam kehidupannya setelah ini? bagaimana posisi lelaki itu dalam kehidupannya, bagaimana hubungan mereka kedepannya. Hanya itu yang membuat Jessie bingung.

Tanpa diduga, Steve bangkit dari duduknya kemudian lengannya terulur memeluk tubuh Jessie. “Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu. Pikirkan saja baik-baik tawaranku. Jangan khawatir.”

Entah perasaan Jessie saja atau saat ini, Steve menjelma menjadi sosok dewasa yang begitu lembut. Jessie tak pernah melihat Steve yang seperti ini. tapi Jessie sangat menikmatinya. Menikmati pelukan lembut lelaki itu yang membuatnya merasa begitu nyaman.

***

Tiga hari setelahnya, Jessie dan Steve kembali ke New York. Meski keluarga mereka memaksa untuk segera mengadakan pernikahan, nyatanya mereka belum memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Jessie pulang dengan Steve. Menumpang pada mobil sport lelaki itu. Karena Steve mendesak bahwa Jessie tidak diperbolehkan keluar sendiri lagi. Sedangkan mobilnya ia tinggal di rumah orang tuanya.

Tentang Donna, wanita itu pulang pagi-pagi sekali setelah pesta di rumah Steve malam itu, bahkan Donna pergi sebelum Steve berangkat bersepeda dan berakhir di rumah sakit dengan Jessie. Steve belum mengabari wanita itu hingga kini, bahkan mengingatnya saja tidak. Saat ini yang ada di dalam kepalanya hanya Jessie dan bayi mereka, tak ada yang bisa membuat Steve khawatir seperti ini selain Jessie dan bayinya.

Jessie dan Steve saling berdiam diri ketika berada dalam perjalanan kembali ke New York. Melewati George Washington Bridge, Jessie menghela napas panjang, menolehkan kepalanya ke samping melihat sungai Hudson yang membentang. Ia tampak bosan dengan keadaan disekitarnya.

Hingga kemudian, Steve bertanya. “Ada yang kau inginkan?”

Jika melompat kedalam sungai Hudson bisa mengembalikan suasana dan juga pertemanannya dengan Steve seperti sedia kala, maka Jessie ingin melakukannya.

“Tak ada.” Jawabnya pendek.

“Kau tampak tak senang.”

Ya, tentu. Jessie tertekan, dan ia masih terguncang dengan kejadian demi kejadian yang menimpanya belakangan ini. meski begitu, ia tidak bisa menyalakan siapapun. Jessie bahkan tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini, dan ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ia inginkan.

“Aku hanya terlalu lelah.” Jawabnya masih enggan menatap ke arah Steve.

“Tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu.”

Jessie tidak menjawab, karena ia memilih memejamkan matanya. Ia lelah, dan ia butuh istirahat seperti yang disarankan oleh dokter.

***

Jessie membuka matanya ketika merasakan tubuhnya mengambang di udara. Ia terkejut ketika mendapati posisinya saat ini. Steve sedang menggendongnya, dan jika dilihat sekitarnya, mereka sedang berada dalam sebuah lift.

“Steve, apa yang kau lakukan? Kau bisa membangunkanku.” Jessie berusaha agar Steve mau menurunkannya.

“Berhenti merengek dan meronta. Aku akan menggendongmu sampai di dalam apartmenmu.”

“Kau tak perlu melakukannya, Steve. Aku lebih berat dari sebelumnya.”

“Jika kau tak keberatan, aku akan mengingatkanmu bahwa berat badanmu saat ini ada hubungannya denganku.” Pipi Jessie merona seketika saat tanpa sengaja ia mengingat tentang kejadian malam panas saat itu. “Lagi pula, kau belum seberat yang kau pikirkan.”

“Tapi aku bisa jalan sendiri.”

“Dan aku tidak akan membiarkanmu jalan sendiri.”

“Steve! Turunkan aku.” Jessie masih meronta.

“Jika kau masih tidak mau diam, aku akan menciummu.” Steve mengancam tapi wajahnya masih datar tak berekspresi.

“Hahaha, lucu sekali. Kau pikir aku takut dengan ancaman-” Jessie tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Steve benar-benar menjalankan ancamannya. Menyambar bibir Jessie dan melumatnya tanpa ampun seakan lelaki itu sudah sangat lama menahan diri untuk melakukannya.

Ya, sejak malam itu, tubuh Jessie menjadi obsesinya, bibir wanita itu menjadi ambisinya. Hingga ketika Steve memiliki kesempatan untuk melakukannya, maka ia tidak akan membuang-buang waktu lagi.

Lagi pula, apa juga yang ia khawatirkan? Persahabatan mereka sudah benar-benar hancur. Dan ketika persahabatan itu tak bisa ia kembalikan lagi, maka Steve akan mencoba membangun hubungan baru yang lebih intim lagi dengan wanita ini.

-TBC-

Jadi…. apakah mereka akan berakhir dengan pernikahan? bagaimana dengan Henry dan Donna??? wakkakakkak selamat berpenasaran riaaa.. muwaaaahhhhh

Advertisements

4 thoughts on “Sleeping with My Friend – Bab 9

  1. Penasaran nya dari kata pake ria…
    Waktu menanti apa yg menjadi obsensinya selama beberapa bulan terakhir, akhurnya dapat ia nikmati juga..

    Cepat up mom.. Sumpah bolak balik blog cuman liat sudah up apa belum…

    Like

  2. Oh…
    Bikin penasaran…
    Yang di nanti bisa dirasakan juga dan sedikit terobati…
    Ego memang sulit untuk di taklukan…
    Cepat up mom.. Penasaran bingitzzz…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s