Sleeping with my Friend – Bab 8

Comments 2 Standard

 

 

Bab 8

“Bisakah kau berhenti menangis? Jika tidak, maka aku akan ke apartmenmu sekarang juga.” Frank berkata penuh penekanan ketika mendengar suara isakan dari Jessie.

Ini sudah jam sebelas malam. Tadi, saat Frank asyik memeriksa beberapa naskah yang akan diterbitkan oleh Summer Media, ia mendapati telepon rumahnya berbunyi dan Jessie sudah menangis. Adiknya itu mengatakan bahwa ia dan Henry, kekasihnya, sudah putus. Lalu, berceritalah Jessie tentang kehamilannya. Sungguh, Frank tak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini.

“Maaf, aku memang sering menangis akhir-akhir ini.”

“Oke. Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”

“Kupikir, aku akan pindah dari apartmen ini.” ucap Jessie.

Ya, tak lama lagi, perutnya akan terlihat. Ia tidak ingin Steve mengetahuinya. Hubungan mereka sudah hancur, ia tidak mau menjadikan kehamilan sebagai alat untuk menarik lelaki itu kembali. Lagi pula, Jessie berpikir bahwa Steve memang sudah bahagia dengan kekasih barunya. Beberapa kali Jessie melihat Steve membawa seorang wanita berambut pirang ke apartmennya. Menggandengnya dengan mesra. Mungkin, jika Steve hanya mengajaknya sekali dua kali, maka Jessie akan berpikir jika wanita itu hanyalah wanita bayaran atau teman kencan semalam Steve. Tapi nyatanya, wanita itu sudah beberapa kali berkunjung ke apartmen Steve.

Itu bukan urusannya, tentu saja.

Tapi, hal itu membuat Jessie semakin membulatkan tekadnya, bahwa Steve tak perlu tahu tentang keadaannya yang menyedihkan ini.

“Kau gila? Bagaimana dengan Steve?”

“Dia tak perlu tahu.”

“Ayolah Jess. Dia ayahnya.” Frank tampak menuntut. “Kau bisa dituntut jika dia mengetahui nanti dan dia tidak terima dengan keputusan sepihakmu.”

“Aku akan mengatakan bahwa ini milik Henry.”

“Kau pikir dia percaya? Kau tidak tidur dengan banyak pria. Aku tahu itu, dan Steve juga tahu. Lagi pula kau sudah putus dengan Henry, jika kau mengandung anaknya, kalian tak akan putus. Itulah yang akan ada dalam pikiran Steve.”

Frank benar, tapi Jessie tetap tak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Steve.

“Aku tetap akan bungkam sebisaku.”

“Ayolah, baby girl…” Frank mendesah. “Lagi pula, kau tak akan bertahan lama. Ingat, minggu depan kita harus pulang menghadiri pesta perayaan Emily. Kau tidak lupa, bukan?”

“Aku bisa mencari alasan untuk tidak datang.”

“Kau gila? Kau sudah tidak pulang selama dua bulan terakhir, Jess. Kau ingin George mendatangimu ke sini?” George adalah ayah mereka. Dan Jessie tak ingin membuat ayahnya khawatir hingga datang mengunjungi mereka di New York. Meski jarak Pennington ke New York kurang dari delapan puluh Mil, tapi tetap saja, membuat George Summer yang berusia hampir Tujuh puluh tahun mendatanginya karena ia tidak pulang sepertinya bukan hal yang baik.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.” Jessie lagi-lagi ingin menangis.

“Dengarkan aku. Kau harus memberi tahu Steve. Mungkin sekarang kau belum siap, tapi kau harus memberitahunya, Jess.”

“Aku tidak yakin.”

“Kau ingin aku yang mengatakannya?”

“Tidak!” Jessie berseru keras. “Kau gila? Aku yang akan mengatakannya sendiri.”

“Baiklah. Kalau begitu, masalah selesai. Aku ingin nanti saat kita bertemu, Steve sudah tahu apa yang terjadi denganmu.”

Frank benar-benar seorang pemaksa. Jessie merasa menyesal karena sudah bercerita dengan kakaknya tersebut. Tapi di sisi lain, ia merasa lega. Kakaknya mendukung apapun keputusannya, dan Jessie tahu, bahwa sikap Frank yang pemaksa itu memang untuk kebaikannya sendiri di masa mendatang.

***

Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana Jessie pulang ke Pennington New Jersey. Jam Sepuluh siang, Jessie sudah sampai di rumahnya. Tapi George, ayahnya, tak ada di rumah. Mungkin ayahnya itu sedang sibuk mengurus perkebunan Anggur dengan ayah Steve.

Bicara tentang keluarganya, Jessie hanya memiliki seorang kakak, Frank, yang usianya Enam tahun lebih tua dari pada dirinya. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan ayahnya sangat menikmati kesendiriannya.

Kedua orang tuanya bersahabat baik dengan kedua orang tua Steve, mereka bahkan menjadi partner kerja yang baik dalam usaha mereka dibidang perkebuan anggur. Ya, mereka berkebun dan memproduksi apa saja makanan dan minuman berbahan dasar anggur.

Jessie sangat menyukai rumahnya. Udaranya yang bersih, sejuk, sebuah pohon besar tumbuh di halaman rumahnya, rumput yang hijau, tanaman bunga milik ibunya yang tetap terawat hingga kini, benar-benar membuat suasana hatinya nyaman. Sangat berbeda dengan kehidupan di New York yang selalu ramai dan sibuk. Meski begitu, Jessie juga suka kehidupannya di New York. Ia bisa menggapai apa yang ia cita-citakan yaitu merancang pakaian hingga gaun pengantin.

Jessie segera menuju ke kamar lamanya. Melemparkan diri di sana dan telentang di atas ranjangnya. Secara spontan, kepalanya menoleh ke arah jendela kamarnya. Jendela tersebut tepat berhadapan dengn Jendela kamar Steve. Meski ada pembatas pagar diatara kamar mereka, tapi pagar tersebut sangat rendah hingga memungkinkan Jessie melihat Steve jika lelaki itu ada di sana.

Jessie menghela napas panjang. Apa lelaki itu akan datang nanti malam? Astaga, Jessie tidak tahu harus bersikap seperti apa saat dihadapan Steve dan juga keluarga mereka. Memikirkan hal itu saja Jessie sudah mual.

Ketika dirinya asyik melamun, pintu kamarnya dibuka dan terlihat George Summer berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Hai, Dad.” Jessie bangkit kemudian segera menuju ke arah ayahnya. Dengan spontan mereka berpelukan.

“Kau baik-baik saja? Frank sudah bercerita padaku.”

Astaga, Frank. Ia tahu bahwa seharusnya ia tak mengatakan apapun dengan kakaknya itu. Kini, ayahnya sudah tahu, tinggal menunggu waktu saja sampai semua keluarga Morgan tahu.

“Apa dia menceritakan semuanya?” tanya Jessie sembari mengangkat wajahnya menatap ke arah Sang Ayah.

“Ya. Semuanya.” Jawab George dengan sungguh-sungguh. “Kau ingin aku turun tangan menyelesaikan masalahmu.”

“Tidak, Dad.” Jessie menjawab cepat. “Aku tidak ingin semuanya menjadi rumit.”

“Rumit? Semua semakin rumit jika mereka tahu atau mendengar dari orang lain, Jess. Kau ingin hubungan pertemanan kami renggang?”

“Tidak, tentu saja tidak, Dad.”

“Jadi?”

Jessie menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan memberitahu Steve. Tapi tolong, jangan ikut campur. Oke?”

George tersenyum “Tentu, Sayang. Kemarilah.” George memeluk kembali tubuh Jessie. “Aku merindukanmu, kau tahu.”

“Aku juga, Dad.” Jawab Jessie dengan sungguh-sungguh. Keduanya berpelukan dalam keheningan. Jessie tahu, masalah berada di hadapannya, dan mau tak mau ia harus menghadapinya, bukan malah menghindarinya. Tapi bisakah ia menghadapinya?

***

Malam itu akhirnya tiba juga, malam dimana Jessie menghadiri undangan keluarga Morgan. Keluarga Morgan merayakan keberhasilan Emily Morgan, puteri bungsu mereka yang mendapatkan gelar Dokter spesialis kandungan.

Jessie hanya datang berdua dengan ayahnya, sedangkan kakaknya yang sialan, Frank, baru mengabari jika dirinya tidak bisa pulang hari ini karena ada rapat penting mengenai bukunya yang akan difilmkan.

Jessie semakin gugup, perutnya terasa diremas ketika Patty, Ibu Steve, menggiringnya masuk ke dalam rumahnya. Mereka melewati ruang tengah lalu segera menuju ke arah kebun tepat di samping rumah keluarga Morgan. Ya, pesta kecil tersebut dirayakan di kebun yang sudah dihias dengan banyak sekali lampu-lampu kecil hingga membuatnya tampak begitu indah.

“Steve juga sudah datang, dengan kekasihnya.” Tubuh Jessie menegang seketika saat setelah mendengar kalimat Patty. “Hei, lihat siapa yang datang.” Patty berseru keras hingga semua orang yang berada di sana menolehkan kepalanya ke arah Patty, Jessie dan juga George.

Tampak seorang lelaki berdiri dengan seorang perempuan berambut pirang yang tampak setika menggandeng lengannya. Lelaki itu menatap ke arah Jessie dengan tajam, dan yang dapat Jessie lakukan hanya berpaling kearah lain. Sungguh, Jessie tidak bisa beradu pandang dengan Steve dalam keadaan seperti ini, ia tidak bisa karena Steve pasti akan menyadari bahwa ada yang ia sembunyikan dari lelaki itu.

“Jessie. Astaga, aku senang kau datang.” Emily menghambur kearahnya memeluknya degan erat, dan Jessie merasa kaku seketika. Emily melepaskan pelukannya dan menatap Jessie penuh tanya. “Kau ada masalah?” tanyanya karena ia tak pernah mendapati Jessie bersikap aneh seperti saat ini.

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Jawab Jessie mencoba mengendalikan diri.

“Kalau begitu, Ayo kita berpesta.” Emily menyeret Jessie menuju ke arah banyak orang.

Pada sudut matanya, Jessie melihat bahwa Steve tampak memperhatikannya. Astaga, apa yang harus ia lakukan?

“Kau tahu, ini adalah pertama kalinya Steve membawa seorang wanita ke rumah.” Emily berkata dengan sangat antusias. “Mom memasak apapun yang dia bisa untuk menyambut kekasihnya. Kau pasti sudah mengenalnya, bukan?”

Emily berhenti dihadapan Steve dan wanita berambut pirang itu.

“Hai, Steve. Apa kabar?” sapa Jessie masih mencoba mengendalikan diri.

Steve hanya tersenyum miring. Ia bahkan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Lelaki itu masih marah terhadapnya, dan Jessie tak mengerti, bukankah seharusnya dirinya yang marah terhadap lelaki itu?

“Hei, apa kau tidak mendengar Jessie sedang menyapamu?” Emily menyikut kakaknya.

“Kau ada masalah dengannya?” perempuan berambut pirang itu berbisik ke arah Steve.

“Kalian sudah saling mengenal, bukan?” Emily menunjuk pada Jessie dan Donna.

“Belum. Aku sama sekali belum mengenalnya.” Donna menjawab.

“Kau yakin? Mereka tinggal di satu gedung apartmen. Apa dia tidak pernah mengajakmu berkunjung ke tempat Jessie?” tanya Emily sekali lagi pada Donna.

Donna hanya menggelengkan kepalanya. “Kupikir, mereka memang memiliki masalah.”

Jessie mencoba tertawa padahal saat ini ia merasa mual. “Ayolah, kami tidak memiliki masalah apapun. Bukankah begitu, Steve?”

“Ya.” Singkat dan padat. Itulah jawaban Steve. Bahkan lelaki itu tampak enggan menjawab pertanyaan Jessie.

Jessie meremas kedua belah telapak tangannya. Ia tidak suka dengan reaksi Steve, terlebih lagi, ia tidak suka dengan kehadiran wanita berambut pirang yang setia berada di sebelah lelaki itu.

“Baiklah, aku akan menyapa yang lain dulu.” Jessie mencoba untuk menghindar. Ia tidak ingin semalaman berada di sekitar Steve dengan suasana canggung dan tidak enak seperti saat ini.

***

Pulang dari pesta.

Jessie segera menuju ke arah dapur. Tak lupa ia melepaskan sepatu hak tingginya yang membuat tumitnya terasa sakit. Ia mengambil sebotol air dingin kemudian meminumnya. Sedangkan George, tampak mengikutinya dari belakang.

“Kau tahu kalau dia sudah memiliki kekasih?” tanya George dengan sungguh-sungguh.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Dad.”

“Demi Tuhan! Patty dan Paul membicarakan tentang rencana pernikahan Steve sepanjang malam denganku, sedangkan aku tak tahu harus menanggapi seperti apa.”

“Aku tidak peduli dengan pernikahannya, Dad.”

“Tapi aku peduli.” George berkata cepat. “Cepat atau lambat mereka akan tahu kehamilanmu. Jika Patty dan Paul bukan sahabatku, mungkin aku tak akan peduli. Tapi mereka sahabatku. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kecewanya mereka saat mengetahui semuanya ketika sudah terlambat.”

Jessie menatap ayahnya seketika. “Kau ingin aku menggagalkan pernikahan mereka?”

“Tidak. Aku hanya ingin kau jujur dengan Steve. Aku tidak akan memaksa kalian, atau Steve untuk menikahimu. Ini bukan lagi jaman seperti itu. Banyak wanita yang hamil dan membesarkan anaknya sendiri. Aku hanya ingin kau jujur hingga tak menimbulkan kesalahpahaman kedepannya.”

“Kesalahpahaman seperti apa?”

“Seperti kau seolah-olah sengaja menyembunyikan dan menjauhkan anak itu dari keluarga Morgan.” George mendekat. “Jess, aku tahu ini sulit. Mungkin, kau akan mendapatkan penolakan dari Steve, tapi setidaknya kau sudah berbuat benar dengan memberitahunya. Kau tidak sendiri, kau memiliki aku, dan Frank.” Ucap George dengan nada lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie.

Dengan spontan, Jessie memeluk tubuh ayahnya. “Maaf, aku sudah bertindak egois.”

George mengangguk. “Aku tahu, ini sulit untukmu.” Pelukannya semakin erat. “Kau akan memberitahunya?”

“Ya.” Jessie menjawab dengan setengah menghela napas panjang.

“Bagus. Kau tak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu memberitahunya. Serahkan semua keputusan pada Steve.”

Jessie mengangguk patuh. Ayahnya benar. Steve memang harus tahu. Ia tidak ingin membuat kehebohan dimasa mendatang, kemudian ia dan keluarganya dituding sengaja menyembunyikan semuanya. Jika hal itu terjadi, bukan hanya pertemanannya dengan Steve yang hancur, tapi juga pertemanan kedua orang tuanya dengan keluarga Morgan ikut hancur. Dan Jessie tak ingin hal itu terjadi. Ia akan memberitahu Steve, setelahnya, ia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada lelaki itu.

***

Pagi harinya….

Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya. Semalaman ia tidak tidur karena memikirkan nasehat ayahnya. Kini, Jessie sudah bulat pada keputusannya bahwa ia akan memberitahu Steve pagi ini juga.

Biasanya, jika mereka pulang ke Pennington, mereka akan bersepeda di pagi hari bersama. Dan Jessie berharap bahwa Steve akan tetap menjalani kebiasaan itu pagi ini. karena itulah, Jessie sudah bersiap-siap dengan sepedanya pagi ini.

Padahal, pagi ini, ia merasa tidak enak badan. Sesekali Jessie merasa perutnya kram sejak semalam. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia berharap jika tak akan terjadi apa-apa dengan bayinya.

Apa yang diharapkan Jessie benar-benar terjadi. Tak lama ia melihat Steve mengendarai sepedanya melewati depan rumahnya. Yang membuat Jessie sedih adalah bahwa Steve sama sekali tak menoleh ke arah rumahnya. Lelaki itu benar-benar membencinya. Jessie tahu itu.

Dengan segera, Jessie menyusul Steve. Jessie bersyukur bahwa Steve hanya sendiri. lalu, dimana Donna? Apa Donna masih tertidur lemas karena semalaman bercinta dengan Steve?

Jessie menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak tahu kenapa ia berpikir sampai kesana. Lagipula, urusan ranjang lelaki itu bukanlah urusannya. Urusan mereka hanya sebatas tentang penyakit masuk anginnya.

Oke, Jessie akan berhenti menyebutnya seperti itu. Frank dan ayahnya sudah tahu, jadi untuk apa ia terus-menerus mengingkari semuanya? Ia hamil, bukan masuk angin. Sekali lagi, Hamil, titik!

Jessie menghela napas panjang. Ia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi sesekali memanggil nama Steve. Tapi lelaki itu bersepeda seperti orang kesetanan hinga Jessie sulit mengejarnya.

“Steve. Kau tidak mendengarku?” dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya Jessie mampu sejajar dengan Steve.

Steve menolehkan kepalanya ke arah Jessie, kemudian ia menghentikan laju sepedanya. Dengan napas terengah, Jessiepun ikut berhenti.

Steve membuka kacamatanya beserta headset yang sejak tadi ia kenakan. Jessie menghela lega. Rupanya Steve tidak menghindarinya, lelaki itu hanya tidak mendengarnya karena sedang mengenakan headset.

“Jess, kau…” Steve menghentikan ucapannya ketika melihat Jessie melepaskan sepedanya hingga roboh.

Jessie tampak terduduk sembari memeluk perutnya sendiri. Stevepun segera mengabaikan sepedanya dan berlari menuju ke arah Jessie.

“Kau baik-baik saja? Ada yang tidak beres?” tanya Steve dengan khawatir. Jessie tampak pucat dan wanita itu tampak kesakitan.

“Aku, aku hanya terlalu stress.” Ucapnya dengan terpatah-patah. Memang, beberapa minggu terakhir menjadi hari-hari yang berat untuk Jessie setelah ia mengetahui tentang kehamilannya. Tak ada hari tanpa berpikir cemas. Keputusanya untuk berpisah dengan Henrypun menambah buruk suasana hatinya, belum lagi kenyataan diluar dugaan bahwa Steve akan menikah dengan seorang wanita seksi berambut pirang bernama Donna Simmon. Jessie stress, ia merasa terguncang.

“Kau bisa bangkit?”

Jessie hampir menangis saat menggelengkan kepalanya. Sial! Ia tidak pernah secengeng ini sebelumnya. “Bawa aku ke rumah sakit, Steve. Tolong.” Ucapnya dengan lemah.

Jessie tak perlu meminta untuk kedua kalinya, karena dalam sekejap mata, ia merasakan tubuhnya mengambang di udara. Steve menggendongnya dengan setengah berlari. Mereka meninggalkan sepeda mereka. Tak mungkin juga membawa Jessie dengan sepeda yang tak memiliki tempat untuk boncengan.

Dengan spontan, Jessie mengalungkan lengannya pada leher Steve. Wajahnya tersembunyi pada dada bidang lelaki itu. Untuk pertama kalinya setelah ia mengetahui tentang kehamilannya, Jessie merasa sangat nyaman. Apa yang membuatnya senyaman ini? apa lelaki ini? apa pelukannya? Atau dada bidangnya? Jessie tak tahu. Tapi yang pasti, ia merasa sangat nyaman ketika tahu bahwa Steve begitu perhatian padanya.

-TBC-

Hayookkkk apa yang akan terjadi selanjutnyaaaa??? wakakakakkakakakakkaka

Advertisements

2 thoughts on “Sleeping with my Friend – Bab 8

Leave a Reply to Ofal abiyuo Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s