Rex Spencer – Bab 2

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 2

 

Malam semakin larut,  tapi Renne tak juga dapat memejamkan matanya. Sesekali ia menengok ke belakang, nyatanya, Rex belum juga naik ke atas peraduan mereka.

Setelah makan malam menegangkan tadi, Rex segera pergi tanpa sepatah katapun. Dan hal itu membuat Renne semakin yakin bahwa memang ada yang disembunyikan oleh suaminya tersebut.

Renne segera bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan mondar mandir kesana-kemari dengan sesekali berpikir keras. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi. Kenapa setelah percakapannya dengan perempuan yang berada di telepon Rex tadi siang, Renne merasa bahwa masih banyak sekali sesuatu yang tidak ia ketahui tentang diri Rex.

Ketika Renne masih dalam kebingungannya, suara pintu dibuka membuat Renne mengangkat wajahnya menatap ke arah pintu kamarnya tersebut. Rupanya, Rex sudah berdiri di sana, di ambang pintu dengan tatapan tak biasanya.

“Rex? Kau baru pulang?” tanya Renne sembari berjalan mendekat ke arah Rex, suaminya.

“Kenapa kau belum tidur?” pertanyaan Rex terdengar begitu dingin, hingga menghentikan langkah Renne yang mendekat ke arah lelaki itu.

“Aku, aku tidak bisa tidur.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Rex yang saat ini sudah berjalan mendekat ke arah Renne.

Entah kenapa dengan spontan Renne berjalan mundur menjauhi suaminya tersebut. Aurah Rex tampak suram, terasa mencekam, dan Renne dengan spontan ingin menjauhi suaminya tersebut saat ini.

“Tak ada.” Hanya itu Jawaban Renne. Kakinya terus saja mundur ketika Rex tak berhenti berjalan mendekat ke arahnya layaknya singa yang siap memangsa buruannya.

Jemari Rex terulur, berusaha meraih pipi Renne, tapi dengan spontan Renne menghindar. “Kau, menghindariku?” tanya Rex dengan mata yang sudah menajam ke arah Renne.

Satu hal yang selalu Renne ingat tentang diri Rex, bahwa lelaki itu tak pernah terima dengan sebuah penolakan.

“Ti-tidak. Kau, hanya tampak sedikit mengerikan saat ini.” Renne berkata jujur.

Rex tersenyum miring. “Kau takut bahwa aku adalah jelmaan hantu Lucas?”

“Maaf?” sungguh, Renne ingin bahwa ia sedang salah dengan.

“Kau melihatku seolah-olah aku ini adalah hantu.” Rex mengoreksi kalimat yang ia katakan sebelumnya.

“Kau tak terlihat seperti biasanya, Rex. Aku melihat ada yang lain dari dirimu.”

“Karena aku sedang memiliki banyak sekali masalah, Rheinata.” Oh, Renne tahu, ketika Rex sudah memanggil nama panjangnya, maka Rex sedang dalam mode marah. “Tak bisakah kau hanya diam dan menurut saja apa perkataanku? Aku tak menyembunyikan apapun darimu. Dan lupakan tentang telepon sialan dari Kara tadi siang. Dia tak akan mengganggumu lagi.” Jawab Rex kemudian.

“Apa yang kau lakukan dengannya?”

“Tak ada.” Rex menjawab sembari memalingkan wajahnya. Saat itu, Renne tahu bahwa suaminya itu sedang berbohong padanya.

Dengan spontan, Renne mencengkeram kemeja Rex tepat di dada lelaki itu. “Lihat aku, dan jawab. Apa yang sudah kau perbuat padanya, Rex?” Renne tentu tahu bahwa Rex adalah sosok yang tegas dan tak kenal ampun. Lelaki itu pernah memecat puluhan bawahannya sekaligus ketika mendapati pegawai-pegawainya itu merayakan pesta ulang tahun ketika jam kerja. Dan masih banyak lagi kengerian yang dilakukan oleh Rex padahal seharusnya Rex dapat mentolelirnya.

“Aku memecatnya. Apa kau puas?” jawab Rex penuh penekanan.

Cengkeraman Renne lepas sektika. “Apa? Kau tak perlu melakukan itu, Rex! Dia hanya mengangkat teleponmu. Kau…”

“Apa kau suka jika suamimu digoda oleh pelacur jalanan seperti dia?” tanya Rex dengan memotong kalimat Renne.

“A-apa maksudmu?”

“Kau tahu kenapa dia mengatakan yang tidak-tidak padamu? Semua itu karena dia menyukaiku.”

“Tidak mungkin.” Renne mundur dan menggelengkan kepalanya.

“Ayolah, Renne. Berpikirlah secara logis. Aku tentu sangat menarik bagi siapapun apalagi bawahanku sendiri. tak heran jika mereka berlomba-lomba untuk menarik perhatianku.”

Ya, tentu saja. Renne tahu bahwa Rex tentu sangat menggoda untuk siapa saja yang melihat lelaki itu. Parasnya tegas, tampan, dan menyiratkan kemaskulinan sejati. Tubuhnya tinggi tegap dan selalu dibalut dengan pakaian-pakaian mahal yang melekat pas. Belum lagi reputasi lelaki itu dalam bidang bisnisnya. Renne bahkan sudah sempat tertarik dengan Rex saat masih di perguruan tinggi. Namun, Renne memendam perasaannya tersebut karena ia merasa tidak pantas bersanding dengan Rex. Kini, Renne bahkan masih sesekali tak percaya jika dirinya sudah menjadi istri sah dari seorang Rex Spencer.

“Kau, percaya dengan apa yang kukatakan, bukan?” tanya Rex membuyarkan lamunan Renne.

Renne mengangguk pelan. Nada suara Rex sudah melembut, dan hal itu membuat Renne ketakutan Renne sedikit demi sedikit menghilang. “Ya, tapi kau tak perlu memecatnya, Rex.”

“Dia duri didalam daging. Dan pantas kusingkirkan sebelum merusak semuanya.”

Rex tampak takut, Rex tampak panik. Kenapa Rex harus takut jika lelaki itu tak melakukan apapun? Tapi Renne tak mengungkapkan apa yang dia pikirkan kepada Rex, karena ia tahu, Rex pasti akan marah saat ia curiga dengan apa yang sedang disembunyikan lelaki itu.

Tiba-tiba, jemari Rex kembali terulur, mengusap lembut pipi Renne, dan yang bisa Renne lakukan hanya diam, mencoba menikmati sentuhan lembut dari suaminya tersebut.

“Lupakan dia, Sayang. Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana kelanjutan hubungan kita.” Bisik Rex dengan suara serak dan nada sensualnya. Renne tahu jika Rex mulai menggodanya.

“Kelanjutan? Maksudmu?” tanya Renne tak mengerti.

Rex tersenyum penuh arti. “Spencer kecil. Bukankah kita sudah sepakat untuk berusaha mendapartkannya secepat mungkin?”

Ahh ya, tentang itu. Renne dan Rex memang sepakat untuk tidak menunda lagi tentang bayi. Tapi tiga bulan berlalu setelah pernikahannya, Renne belum juga mendapati dirinya hamil. Jika dulu dengan Lucas Renne menggunakan kontrasepsi karena Lucas belum siap memiliki bayi, maka dengan Rex, Rex sendirilah yang menginginkan agar mereka segera memiliki bayi untuk menguatkan cinta dan juga hubungan mereka.

“Uuum, aku masih tak yakin. Aku takut jika kita terlalu berharap, maka pada akhirnya, kita akan kecewa.”

“Kau, tak akan mengecewakanku, Sayang. Kau adalah sosok yang tepat untuk mengandung dan melahirkan bayi-bayiku kelak.”

Renne hanya mengangguk. Ia bahagia dengan kepercayaan yang diberikan Rex padanya, tapi disisi lain, Renne takut jika dirinya akan mengecewakan lelaki itu.

Kemudian, Rex mendekat lagi, lelaki itu mengangkat dagu Renne kemudian menundukkan kepalanya, dan yang bisa Renne lakukan hanya memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir lelaki yang begitu menggodanya. Lelaki yang kini menjadi suaminya. Renne bahkan membalas setiap cumbuan menggoda dari Rex, membuat Rex tak kuasa menahan diri untuk tidak mengerang diantara cumbuan mereka.

Malam yang menegangkan itu segera berubah menjadi malam yang panas. Renne tahu, bahwa Rex memang sangat pandai mengambil alih siatuasi, lelaki itu sangat pandai menggodanya, membangkitkan gairahnya, hingga Renne yakin, bahwa sampai kapanpun ia tak akan mampu menolak pesona seorang Rex Spencer.

***

Siang itu, Renne berakhir di sebuah kedai burger bersama dengan teman dekatnya, Lucy Bagwell. Lucy adalah satu-satunya teman dekat perempuan yang dimiliki oleh Renne. Perkenalannya dengan Lucy bermula ketika ia menghadiri sebuah pesta amal bersama dengan Lucas. Kemudian mereka saling berkenalan karena ternyata Lucy merupakan istri dari rekan kerja Lucas. Sejak saat itu keduanya sering bertemu hingga terjalinkah hubungan dekat mereka.

Bagi Renne, Lucy tak sekedar teman biasa. Ia merasa bisa menceritakan apapun dengan temannya itu karena Lucy merupakan tipe orang yang sangat pandai menjaga rahasia.

Hingga ketika suasana hati Renne yang sedang galau seperti saat ini, hanya Lucylah yang seakan mengerti tentang apa yang ia rasakan.

Sembari menggigit burger pesanannya, Lucy bertanya “Jadi, kau mulai curiga dengan Rex, begitu?” tanyanya setelah ia mendengar keluh kesah Renne.

“Aku tidak tahu apa yang membuatku curiga. Hanya saja, aku merasa ada sesuatu yaang disembunyikan Rex dariku.”

“Well, mungkin kau terlalu terteka, Renne. Dan kuharap kau tidak memikirkan tentang apa yang dikatakan perempuan itu padamu.” Lucy menyinggung tentang percakapannya siang itu dengan Kara via telepon.

“Sejujurnya, masalah ini bermula karena percakapanku dengan Kara, siang itu.”

“Oh ayolah, kau bahkan tidak mengenalnya.”

“Ya, karena itulah aku berpikir bahwa dia mengatakan yang sebenarnya. Maksudku, kami tak saling mengenal, apa untungnya dia membuatku tak tenang dengan mengatakan hal-hal itu?”

“Renne, bukankah Rex sudah menjelaskan, bahwa perempuan itu hanya ingin hubunganmu dengan Rex renggang. Dia ingin kau berpikiran buruk tentang rex. Dan sepertinya, dia berhasil.”

“Lucy, bukan itu yang kumaksu.” Renne menghela napas panjang, ia tak tahu harus menjelaskan seperti apalagi dengan temannya itu. “Saat itu aku hanya bertanya pada Rex, lalu dia segera merubah ekspresi wajahnya. Dia tampak marah, mengerikan, dan aku benar-benar tak mengenalnya.”

“Jika aku jadi Rex, akupun melakukan hal yang sama. Ayolah, kau menuduhnya membunuh mantan suamimu yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. bagaiman mungkin dia tak marah atau tersinggung dengan ulamu?”

“Aku tidak menuduhnya, Lucy. Bahkan aku belum menjelaskan secara terperinci, apa saja yang dikatakan Kara padaku siang itu.”

“Ya, tapi secara garis besar kau sudah menuduhnya. Dan itu benar-benar bisa menyinggungnya.”

Renne mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, ia ingin ada yang mengerti perasaannya dan juga kegelisahan hatinya.

Lucy kemudian menggenggam jemari Renne sembari berkata “Kau hanya terlalu tegang. Seharusnya kau bisa berpikir, bahwa Rex bukanlah lelaki biasa. Tentu banyak wanita yang menginginkannya. Tapi dia hanya memilihmu. Dan hal itu membuat para wanita lain ingin menjatuhkan hubungan kalian, bagaimanapun caranya.” Ucap Lucy dengan pelan penuh pengertian.

“Aku hanya takut. Dan aku tak mengerti, darimana asal mula ketakutan ini. akhir-akhir ini, aku memang sering mengalami hal-hal seperti ini. kepalaku sering pusing, dan itu membuatku tidak nyaman.”

“Astaga, apa kau sudah memeriksakan dirimu ke Dokter?” tanya Lucy secara tiba-tiba.

“Untuk apa? Maksudku, aku tidak sakit, Lucy.”

“Astaga, kau ini polos atau bodoh? Maksuku, bisa jadi semua perasaan tidak nyaman yang kau rasakan adalah efek dari hormonmu yang kacau.”

Renne mengerutkan keningnya.

“Maksudmu?”

“Ya. Bisa jadi kau sedang hamil.”

Oh, Tidak. Pasti tidak. Bukannya Renne menolak, tapi Renne tidak ingin kecewa karena terlalu berharap. Ia tidak akan ke dokter sebelum dirinya memastikan bahwa ia benar-benar hamil. Tapi, memikirkan kemungkinan itu membuat dada Renne berdesir. Ia dan Rex sangat menginginkan seorang bayi, dan membayangkan dirinya hamil benar-benar membuat Renne tak kuasa menahan rasa haru di dalam dirinya. Benarkah ia tengah hamil? Benarkah sebagian dari diri Rex kini tengah tumbuh di dalam dirinya?

-TBC-

Wakakakak perasaan ceritaku jadi Baby Love semua dehhh wakakkaka maap yaa… gak tau kenapa kok barengan pada hamil semua ini tokohnya wakakakkakak nikmatin aja yaakkk hahhahaha

 

Advertisements

3 thoughts on “Rex Spencer – Bab 2

  1. jangan” author na yng lagi pengen hamil ,maka na k 3 cewe itu pada hamil semua 😊😊
    Tapi mereka dengan pesona dan masalah na tersendiri

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s