My Beautiful Mistress – Bab 4

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 4

 

Ellie terkikik geli ketika Mei selesai menutup teleponnya. “Jadi, bagaimana?” tanyanya pada Mei. Sedangkan Mei pun ikut terkikik geli karena apa yang baru saja ia katakan pada Jiro.

“Jiro terdengar khawatir, dan dia akan datang.”

“Benarkah? Astaga, aku tidak menyangka.”

“Ya, sebenarnya dia perhatian padamu, Ellie. Dan karena kehamilanmu, dia semakin perhatian.”

Ellie senang dengan kenyataan itu. “Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Ellie kemudian. Karena jujur saja, ini adalah pertama kalinya untuk Ellie bersikap seperti ini. Menjadi wanita pembangkang, dan keras kepala. Ternyata, cukup menyenangkan juga.

“Aku tahu, Jiro tak akan bisa menolakmu.”

“Maksudmu?”

“Astaga, Ellie. Apa kamu nggak sadar? Selama ini, dia sangat perhatian padamu. Meski kadang sikapnya datar-datar saja dan cukup menyebalkan. Dia sering menghubungiku hanya untuk menanyakan bagaimana keadaanmu.”

“Tapi itu tak cukup, Mei. Dia menyembunyikanku. Seakan dia tidak ingin semua orang tahu bahwa dia adalah milikku.”

“Nah. Sekarang, tiba saatnya kamu perjuangkan apa yang kamu inginkan. Bukankah kamu sudah memiliki senjata ampuh untuk melawannya?” ucap Mei sembari melirik sekilas ke arah perut Ellie. Dan Ellie hanya bisa tersenyum senang.

***

Jiro benar-benar datang. Lelaki itu mengetuk pintu kamar Ellie berkali-kali, sedangkan di dalam, Ellie tersenyum penuh dengan kemenangan karena untuk pertama kalinya Jiro memperhatikannya hingga seperti saat ini.

“Tolong, buka pintunya. Atau aku akan mendobraknya.”

Tak ingin pintu kamarnya didobrak, akhirnya Ellie bangkit kemudian memasang wajah datar seakan enggan untuk bertemu dengan lelaki di hadapannya tersebut.

“Ada apa? Kenapa kamu ke sini lagi?”

“Kenapa? Ini rumahku.” Ucap Jiro dengan setengah menggeram.

“Ya, tapi bukankah setelah mendapatkan apa yang kamu mau, kamu sudah harus pergi dari sini?” Ellie sempat melirik Mei yang berdiri jauh dibelakang Jiro dan sedang menahan tawanya.

Jiro lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Mei dengan tatapan tajamnya. “Kamu boleh pulang. Biar aku yang menjaganya.” Ucap Jiro kemudian.

“Hei. Apa-apaan. Aku ingin Mei membuatkanku Pancake. Kenapa kamu mengusirnya?”

“Pancake? Ini sudah malam. Kamu harus makan nasi, bukan Pancake.”

“Tapi aku mau Pancake!” Ellie berseru keras dan tak ingin mengalah.

“Boleh aku tengahi sebentar?” Mei mendekat ke arah keduanya. “Ellie, Jam kerjaku sudah habis sejak dua jam yang lalu. Dan aku harus segera pulang. Oke? Dan kamu.” Mei menatap ke arah Jiro. “Apa kamu nggak bisa lebih mengalah sedikit? Di dalam lemari ada tepung Pancake, kamu cukup membuatkan sesuai aturan pakai.”

“Aku?” Jiro benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan Mei. Berani-beraninya wanita itu memerintahnya seperti yang dilakukan Ellie padanya. Bicara tentang Mei, Mei dan keluarganya memang sudah bekerja cukup lama dengan keluarga Jiro, jadi kadang wanita itu suka seenaknya sendiri. tapi tetap saja, tak ada orang yang dapat Jiro percaya kecuali Mei dan keluarga wanita tersebut.

“Ya, kamu. Dia lagi hamil. Bisa jadi dia sedang ngidam.”

Jiro menatap perut Ellie seketika. Sial! Berani-beraninya wanita ini. pikirnya, tapi meski kesal, Jiro berkata “Baiklah, aku yang akan membuatkanmu.”

Ellie hampir saja bersorak gembira. Bukan karena Pancakenya, sungguh, tapi karena Jiro yang seakan kembali mengalah padanya. Ellie senang, karena Jiro tampak menurunkan harga dirinya untuk menuruti apapun kemauannya.

***

Jiro tak berhenti menatap Ellie saat wanita itu memakan pancake buatannya dengan lahap. Astaga, apa yang sudah dilakukan wanita ini? bagaimana mungkin wanita ini mampu memaksanya memasak beberapa potong pancake?

Sialan! Ia adalah seorang rocker, dan ia memasak pancake? God! Jiro merasa bahwa dirinya benar-benar sudah gila!

Sesekali, Jiro melirik ke arah jam tangannya, dan tiba-tiba, Ellie berkata “Kamu mau pergi? Pergi saja.” Ucapnya yang seketika membuat Jiro tak mengerti, sebenarnya apa rencana wanita ini?

“Aku nggak akan kemana-mana. Aku akan tidur di sini.”

“Ohh.” Hanya itu jawaban Ellie.

“Ellie, kita harus bicara, oke?”

“Tentang apa? Tentang kamu yang belum siap dengan kehamilan ini? Astaga James, berapa kali harus kubilang, bahwa aku tak peduli.”

Jiro menghela napas panjang. Ia tidak suka dengan reaksi Ellie yang tidak mempedulikannya. “Aku menginginkan bayi itu.”

Ellie mengangkat wajahnya seketika. “Maksudmu, kamu, kamu setuju dengan kehamilanku?” tanya Ellie tak percaya.

Jiro menatap Ellie dengan sungguh-sungguh, kemudian ia menganggukkan kepalanya. Jiro tahu bahwa dirinya sudah berumur. Ia sudah menikah, dan kini istrinya tengah mengandung. Jadi, apa lagi yang membuat dirinya ragu untuk memiliki anak?

“Tapi kita harus membuat peraturan, Ellie.”

“Peraturan apa lagi?” Sungguh, jika yang dimaksud Jiro adalah peraturan-peraturan menyebalkan seperti sebelum-sebelumnya, maka lebih baik Ellie tak perlu mengikut sertakan Jiro di masa kehamilannya.

“Kamu menginginkan sebuah pengakuan, kan? Tapi aku tidak bisa melakukannya. Kamu tahu sendiri kalau karirku..”

“Ya, Ya, aku tahu.” Ellie memotong kalimat Jiro sembari mengibaskan telapak tangannya seakantak ingin tahu tentang karir sialan suaminya itu. “Lalu?”

“Sebagai gantinya, aku akan menemanimu dimasa kehamilan ini.”

“Kamu tidak takut kalau ada media yang menguntitmu?”

“Jika kita berhati-hati, mereka tak akan mengetahuinya.”

“Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu?”

“Ellie. Yang ingin kubahas denganmu adalah tentang kehamilanmu.” Jiro tak suka jika Ellie membahas tentang masalah mereka dulu. Ia ingin membahas tentang masalah peraturan hubungan mereka.

“Jadi kamu melakukan ini karena aku hamil? Dan jika aku tidak hamil, maka kamu tetap tak akan mempedulikanku seperti yang kamu lakukan dulu?”

“Begini.” Jiro berusaha bersikap tenang agar ia tidak terpancing oleh Ellie yang tampak emosi. “Aku tahu bahwa aku salah di masa lampau, dan aku ingin memperbaikinya. Dan kehamilan ini membuatku semakin yakin jika aku harus memperbaiki semuanya. Karena itu, aku ingin memberikan sebuah kesepakatan denganmu.”

“Kesepakatan? Seperti apa?”

“Saat ini, The Batman sedang ada di puncak popularitas. Aku tidak bisa menuruti kemauanmu untuk mempublikasikan hubungan kita. Bagaimanapun juga, itu akan menjadi skandal yang akan ramai diperbincangkan.”

“Lalu?”

“Sebagai gantinya, aku akan sering pulang.”

“Hanya itu?”

“Aku akan sering-sering tidur di sini.”

“Dan?”

“Astaga Ellie, aku tidak tahu lagi apa yang harus kutawarkan denganmu karena jujur saja aku tidak bisa menjanjikan apapun.” Akhirnya Jiro tak mampu menahan luapan emosinya. Ia sendiri tak mengerti kenapa Ellie begitu menuntut saat ini.

Ellie berdiri seketika. “Asal kamu tahu, James. Kamu tidak perlu bersikap sok perhatian padaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Jiro ikut berdiri. “Kumohon, jangan membuat ini lebih sulit lagi, Ellie. Aku sudah berusaha untuk bersikap lebih baik. Aku membuat jalan tengah dengan berkompromi denganmu. Ini untuk kebaikan kita bersama.”

“Kompromi katamu? Inikah yang disebut dengan kompromi?”

Jiro menghela napas panjang. “Lalu apa yang kamu inginkan? Jika yang kamu inginkan sebuah pengakuan, maka maaf, aku belum bisa melakukannya.”

Ellie merasa kalah. Jiro sangat keras kepala, lelaki itu terlalu berambisi dengan karirnya. Dan jika Ellie memaksakan kehendaknya, lelaki itu pasti tetap memilih di jalannya seperti sebelumnya. Kini, Ellie harus berganti strategi, mungkin dengan bersikap manja dengan Jiro akan membuat lelaki itu tersentuh sedikit demi sedikit. Lagi pula, bukankah ia sedang hamil? Ia bisa menggunakan kehamilannya untuk bersikap manja dengan suaminya.

“Baiklah. Aku menerima kompromimu. Tapi satu lagi.”

“Apa?” Jiro mengangkat sebelah alisnya.

“Aku ingin, kamu menemaniku kemanapun aku mau. Dan ketika aku menginginkan sesuatu, kamu harus menurutinya.”

“Ellie. Itu akan sangat beresiko. Media akan mengendus keberadaan kita. Dan ketika itu terjadi, semuanya dipertaruhkan.”

“Aku nggak mau tau! Itu syarat mutlak dariku! Terserah, mau kamu menyamar jadi badut atau jadi apapun aku nggak peduli.”

Jiro menghela napas panjang. Haruskah ia menuruti apa kemauan Ellie? Dan astaga, kenapa juga ia bisa bertekuk lutut dihadapan wanita ini?

***

Setelah makan malam yang penuh dengan ketegangan, akhirnya Jiro dan Ellie masuk ke dalam kamar. Ellie sudah mengganti pakaiannya dengan piama tidurnya. Rambut kuning keemasannya terurai indah, dan wanita itu tampak sibuk menata tempat tidurnya.

Hal itu tak lepas dari tatapan mata Jiro. Sesekali Jiro menelan ludah dengan susah payah. Ellie memang sangat cantik. Amat sangat cantik. Tapi hanya itu yang bisa ia lihat dari Ellie selama ini. ia tidak cukup mengenal istrinya itu padahal mereka sudah menikah selama Empat tahun lamanya. Jiro hanya tahu bahwa Ellie cantik dan penurut. Dan hal itu membuat Jiro menutup sebelah matanya dari seorang Ellisabeth Williams.

Kini, Jiro merasa ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu. Keberaniannya, kekeras kepalaannya, dan gairahnya di malam itu membuat Jiro tak bisa mengabaikan istri cantiknya itu. Jiro tertarik, dan hal itu adalah sesuatu yang baru untuknya.

Selama ini, Jiro memang tak pernah tertarik dengan seorang perempuan. Ketertarikannya hanya sebatas di atas ranjang, memuaskan hasratnya tanpa menaruh perasaan apapun. Tapi kini dengan Ellie, ada suatu rasa yang membuatnya ingin menunjukkan kepemilikannya terhadap wanita itu. Tapi di sisi lain, akal sehatnya memaksa untuk berpikir lebih logis lagi.

Secara singkat bisa dikatakan bahwa Jiro mengalami sebuah pergulatan batin. Ia ingin mengklaim diri Ellie di depan publik, tapi ia tidak bisa melakukannya karena ambisinya untuk berada di puncak kepopuleran begitu besar.

Ia tidak bisa mengutamakan Ellie ketimbang karirnya bersama dengan The Batman, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan wanita itu apalagi saat Jiro tahu bahwa istrinya itu kini sedang mengandung bayi mereka.

Jiro menghela napas panjang, dan hal itu membuat Ellie menatap penuh tanya ke arahnya.

“Kalau kamu nggak bersedia tidur di sini bersamaku, maka kamu boleh pergi.”

Lagi-lagi, sikap ketus yang ditampilkan Ellie membuat Jiro semakin enggan meninggalkan wanita itu. “Kata siapa aku tidak ingin tidur di sini?” Jiro merasa ketertarikannya pada Ellie satu tingkat naik lebih tinggi.

“Lalu, kenapa kamu mendesah seperti itu?”

“Udaranya panas.” Jawab Jiro dengan cuek. Kini, Jiro bahkan sudah membuka t-shirt yang ia kenakan hingga membuatnya telanjang dada.

“Besok, mungkin ada beberapa orang yang mengantar barang-barangku kemari.”

“Jadi, kamu benar-benar pindah ke sini?”

“Nggak sepenuhnya. Aku hanya berusaha untuk mencari jalan tengah.”

“Oke. Aku tahu. Suamiku kan memang paling bijaksana.” Ucap Ellie dengan nada menyindir.

Jiro mengabaikan apa yang dikatakan Ellie, karena jika ia menanggapinya, maka mereka akan kembali beradu argumen. Jiro lalu mendekat, dan melemparkan diri di atas ranjang.

Ranjang itu, Jiro hampir tak pernah tidur di sana. Memang, mereka selalu bercinta di atas ranjang ini, tapi hanya itu. Saat sudah selesai, Jiro memilih pergi meninggalkan Ellie. Tidur di atas sofa atau lebih brengsek lagi, pergi pulang ke apartmennya.

Ellie memang lebih mirip seorang simpanan ketimbang seorang istri. Jadi sangat wajar jika wanita itu menuntut lebih saat ini.

Malam ini, Jiro akan tidur di ranjang yang sama dengan Ellie. Tapi bisakah ia tidur tenang tanpa gelisah? Saat Jiro memikirkan hal tersebut, ranjang di sebelahnya melesak. Jiro menolehkan kepalanya, rupanya Ellie sudah terbaring miring memunggunginya. Kenapa?

Jiro yang tidur telentang menghadap langit kamarnya hanya bisa menggumam sendiri dalam hati. Hingga ketika sudah cukup lama ia menggerutu karena tak bisa tidur, akhirnya ia mulai membuka suara.

“Kupikir, ada baiknya kita saling menceritakan diri masing-masing.” Ucap Jiro kemudian. Ia ingin lebih mengenal Ellie. Ia salah karena selama ini sudah mengabaikan wanita itu. Tapi sekarang, ia ingin lebih.

“Apa yang ingin kamu ketahui? Kita sudah empat tahun menikah, James. Apa lagi yang membuatmu ingin tahu tentang diriku?”

“Sejujurnya, aku tak cukup mengenalmu. Dan maaf, aku juga jarang memikirkanmu.”

“Ya. Aku mengerti. Semua karena The Batman, kan?”

“Ya. Dan sepertinya, hubungan kita tidak normal.”

“Kamu yang membuatnya tidak normal.”

“Ellie.” Jiro ingin bahwa mereka tidak kembai ke topik sebelumnya yaitu Jiro yang bersalah karena sikapnya selama ini. tanpa diingatkanpun Jiro tahu bahwa ia memang salah. “Aku hanya ingin berubah. Bisakah kamu membantuku?” tanya Jiro dengan nada lirih.

Ellie membalikkan tubuhnya menatap ke arah Jiro. “Asal kamu tahu, james. Aku merasa bahwa semua ini tidak adil untukku. Aku mengetahui apapun tentangmu, makanan kesukaanmu, sikap aslimu, baju apa yang kamu pakai, dan semuanya. Tapi tak sekalipun kamu menoleh ke arahku jika bukan tentang hasrat seksualmu.”

“Maaf.” Hanya itu yang dapat dikatakan Jiro, apapun yang dikatakan Ellie memang benar. Bahkan Jiro tidak ingat kapan hari ulang tahun istrinya itu.

Ellie kembali membalikkan tubuhnya karena matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa sakit hati. Jiro bukan hanya mengabaikannya, tapi lelaki itu juga membuatnya jatuh cinta, cinta yang bertepuk sebelah tangan, pungguk merindukan bulan, berharap dengan sesuatu yang tak mungkin. Hal itu membuat Ellie merasa sedih.

Tanpa diduga, Ellie mersakan Jiro mendekat, lengan lelaki itu terulur, memeluknya dari belakang. Terasa sangat nyaman, bahkan Ellie tak ingat kapan ia merasa senyaman ini berada di dalam pelukan lelaki ini.

“Aku salah. Aku berdosa denganmu. Dan aku akan berusaha untuk menebusnya.”

“Dengan apa?” tanya Ellie dengan suara seraknya. Jika Jiro hanya menebusnya dengan materi, maka lebih baik Ellie menghentikan harapan semunya.

“Aku tidak tahu, dan aku tidak yakin. Tapi aku tak akan membuatmu sedih lagi. Kita akan memulainya lagi dari awal.”

Jiro mengeratkan pelukannya, bahkan ia mengecup singkat puncak kepala Ellie. Pada detik itu, Ellie tak kuasa menahan bulir air matanya. Empat tahun lamanya, dan baru kali ini ia merasakan betapa lelaki ini menyayanginya. Ellie bertekad bahwa ia akan merubah Jiro, mengubah pandangan lelaki itu terhadapnya, bahkan membuat lelaki itu jatuh cinta padanya. Dan ketika ia berhasil nanti, ia akan mengatakan pada dunia bahwa Jiro adalah miliknya, James Drew Robberth adalah suaminya.

-TBC-

4 thoughts on “My Beautiful Mistress – Bab 4

  1. Manis banget sih kalian …
    apa menikah dengan orang yng kita cintai itu biza semanis itu yaa ??
    ga apa” lah jiro belom cinta yng penting dia udah mulai berubah , perhatian sekecil apapun kalo itu dari orang yng kita cintai pasti sangat bahagia .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s