Sleeping with my Friend – Bab 7

Comments 4 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 7

 

Jessie mengambilkan beberapa gelas untuk sampanye yang dibawakan oleh Frank, kakaknya. Sesekali matanya melirik ke arah ruang tamunya. Disana, Frank duduk dengan santai bersama Steve di sebelahnya, sedangkan Henry memilih duduk di sofa yang lainnya.

Frank memang kurang akrab dengan Henry, karena kekasihnya itu memang jarang bisa diajak kumpul bersama. Tentu saja karena pekerjaan lelaki itu yang tak bisa ditinggal begitu saja.

Saat Jessie menuju ke arah ruang tengah dengan empat gelas dan juga seember es batu, saat bersamaan panggilan kerja Henry berbunyi. Sebuah benda kecil yang akan berbunyi jika ada pasien yang membutuhkan pertolongannya.

Henry menatap Jessie dengan penuh penyesalan. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan Jessie dan juga Frank tentunya, tapi apa daya, pekerjaan telah memanggilnya.

“Kau akan pergi?” tanya Jessie kemudian.

Henry berdiri dan menuju ke arah Jessie. “Maaf, sebenarnya aku ingin lebih lama lagi. Kau tentu tahu.”

Jessie mengangguk. Jemari henry terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. Kemudian tanpa canggung sedikitpun ia mengecup singkat bibir Jessie. “Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu, Jess. Aku hanya ingin kau tahu tentang itu.”

Jessie tersenyum. “Aku mengerti.”

Henry lalu menatap ke arah Frank. “Kuharap, kau mengundangku lain kali. Dan kupastikan saat itu aku sedang bebas dari tugas.” Ucap Henry lamah sebelum pamit undur diri.

Beberapa menit kemudian setelah kepergian Henry. Suasana di ruang tengah apartmen Jessie sepi. Jessie sibuk membuka tutup sampanye, Steve sibuk dengan perasaannya, sedangkan Frank memilih mengamati keduanya.

“Apa ada yang kulewatkan disini?” Frank membuka suara hingga Jessie menatap ke arah kakaknya tersebut.

“Apa?” tanya Jessie berpura-pura tak mengerti.

“Hubungan kalian, kenapa jadi secanggung ini?”

Steve masih diam. Ia tak ingin membuka suara. Pikirannya masih jatuh pada kejadian sebelumnya, dimana Jessie dan kekasihnya sedang mencumbu mesra, dimana Steve tahu bahwa mereka saling mencintai sedangkan ia tak memiliki apapun untuk diperjuangkan.

“Frank, bukankah kau datang kemari untuk merayakan bukumu yang lagi-lagi difilmkan? Kenapa kau tidak menceritakan saja buku mana yang akan difilmkan itu.” Jessie mencoba menghindari topik pembicaraan. Ia tidak suka kakaknya ikut campur urusan mereka.

Well, Ya. Salah satu buku misteriku. Dan kau tahu, siapa produser fimnya?” Jessie menggelengkan kepalanya. “Warner Bros.” lanjut Frank.

“Wow, itu keren.” Jessie bertepuk tangan. “Ini memang harus dirayakan, Frank.”

Steve masih memberengut di ujung sofa.

“Kau yakin kalian tidak ada masalah.”

“Ya. Sebenarnya kami baik-baik saja. Mungkin Steve sedang ada masalah di tempat kerjanya.” Jessie mencoba menutupi permasalahan mereka. Lagipula Jessie tak mengerti kenapa Steve memberengut kesal seperti anak kecil. Memang apa salahnya?

“Kami sedang bermasalah.” Steve menjawab cepat. Entah kenapa ia ingin menunjukkan pada Frank tentang apa yang terjadi diantara mereka.

“Steve. Apa yang kau bicarakan?” sungguh, Jessie ingin Steve bisa lebih dewasa lagi menyikapi permasalahan mereka. Itu hanya terjadi diantara mereka. Jessie tak ingin keluarganya ikut campur diantara masalah mereka.

“Kau bisa saja bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apapun diantara kita. Tapi aku tidak! Bagaimanapun juga-”

“Steve!” Jessie berseru keras memotong kalimat Steve sembari berdiri.

Steve ikut berdiri “Kenapa? Kau ingin aku diam saja dan tidak mengungkapkan semua kekesalanku?” Steve mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Sungguh, bukan ini yang ia inginkan. Tapi mengingat bagaimana Jessie mampu dengan mudah bercumbu dengan pria lain setelah malam panas bersamanya sedangkan dirinya setiap saat gila memikirkan Jessie, benar-benar membuat Steve marah.

Frank yang duduk diantara keduanya hanya membiarkan saja, ia bahkan menuang sampanye dan menyesapnya dengan santai sembari memperhatikan lelaki dan perempuan yang sedang beradu urat di hadapannya.

“Lebih baik kau keluar.”

“Oh, tidak bisa. Aku sudah berjanji bahwa aku akan menyelesaikan semuanya malam ini juga.”

“Apa yang ingin kau selesaikan?” Jessie menantang. Persetan jika Frank mengetahui tentang hubungan mereka.

“Hubungan sialan kita.”

Well. Kita tidak memiliki hubungan kecuali pertemanan. Hanya itu.”

Steve tertawa mengejek. “Benarkah? Kau tidak ingat bahwa aku sudah menidurimu Tiga minggu yang lalu?”

“Bajingan kau, Steve!”

“Ya, aku memang bajingan. Dan kau sialan! Kau tahu, aku tidak ingin lagi berteman denganmu.”

“Terserah kau saja.”

“Kau juga ingin mengakhiri pertemanan ini?” tanya Steve. “Bagus. Ini lebih baik. Jadi aku tak perlu lagi bertemu denganmu.”

“Kalau begitu kau boleh keluar.”

Steve tak percaya. “Kau mengusirku?”

“Apa lagi yang kau inginkan?” nada suara Jessie masih meninggi.

Steve mengusap rambutnya kasar. “Brengsek! Kau pikir aku tahu apa yang kuinginkan? Jika keinginanku sesederhana menidurimu, maka aku tak akan repot-repot datang merangkak padamu untuk memperbaiki hubungan kita.”

“Jadi kedatanganmu kemari untuk memperbaiki hubungan kita? Inikah yang kau sebut memperbaiki hubungan? Kau sudah menghancurkannya, Morgan!” Jessie berseru keras.

“Kau yang lebih dulu menghancurkanku!” Steve tak tahu apa yang sudah dia katakan.

“Apa?” Jessie tak mengerti.

Well. Kupikir kalian perlu bicara baik-baik tanpa mengeluarkan urat.” Frank berdiri menengahi keduanya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Steve berkata penuh penekanan. Matanya masih menatap tajam ke arah Jessie.

“Ya, akupun demikian. Tak ada yang perlu dibicarakan.” Jessie setuju dengan apa yang dikatakan Steve, bagaimanapun juga, Steve keterlaluan karena sudah mengatakan hubungan semalam mereka dihadapan Frank.

Tanpa bicara lagi, Steve meninggalkan apartmen Jessie. Membanting pintuya hingga berdentum. Kemarahan jelas terpancar di wajah lelaki itu. Dan Jessie tak peduli. Ia juga marah terhadap Steve yang tampak sangat kekanakan.

***

Jessie berdiri di depan bak cuci piring dengan segelas sampanye. Ia meminumnya lagi dan lagi, dengan sedikit menenangkan pikirannya. Frank masih duduk di ruang tamunya, dan Jessie tak peduli.

Brengsek Steve! Bagaimana mungkin lelaki itu meninggalkannya dalam keadaan seperti ini? Jessie tak tahu bagaimana caranya menghadapi Frank yang pastinya akan menuntut penjelasan tentang apa yang sudah dikatakan Steve tadi.

Meski ia sudah dewasa dan dan Frank tak akan ikut campur tentang masalahnya yang paling pribadi, tapi Jessie tahu, bahwa Frank pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” tanya Frank yang ternyata sudah duduk di bar dapur, tepat di belakang Jessie.

“Kau, masih disini?” Jessie berharap Frank sudah pergi dan melupakan semuanya.

“Kau berharap aku pergi?” tanya Frank, Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. “Dengar, Jess. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan Steve. Dan aku tak mau tahu hubungan intim kalian. Hanya saja, kalian sudah dewasa. Kalian menyelesaikan ini seperti anak-anak. Saling memaki dengan emosi masing-masih.”

“Dia yang memulainya dulu, Frank. Kau ada di sana, kau tentu tahu dia dulu yang memulainya.”

“Dan kau tidak tahu kenapa dia marah denganmu?”

“Aku tak peduli. Dia memang selalu marah-marah tak jelas.”

“Jess. Dia melihatmu berciuman dengan Henry di depan pintu.” Frank berkata dengan nada sungguh-sungguh.

“Lalu apa masalahnya? Aku sering melakukan itu. Kami akan menikah, jadi sangat wajar kalau kami saling berciuman.”

“Kau, benar-benar tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?”

“Aku tak mau mendengarnya.” Jessie membalikan tubuh membelakangi Frank.

“Dia cemburu, Jess.”

“Tidak.”

“Dia menyukaimu.”

“Hentikan, Frank!” Jessie berbalik dan menatap sengit ke arah kakaknya. “Kau pikir aku gadis kecil yang bisa kau bodohi? Steve hanya suka perempuan berambut pirang dengan payudara yang hampir tumpah dari branya. Aku mengenalnya! Jadi aku tahu siapa dan orang seperti apa yang dia sukai.”

Frank tersenyum miring. “Kau juga menyukainya, Jess.”

“Oh Frank. Tidak bisakah kau meninggalkan aku sendiri? aku ingin sendiri tanpa memikirkan apapun tentang seorang Steven Morgan!”

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi jika ada sesuatu, kau tahu harus kemana. Ingat, aku hanya beberapa blok dari sini. Jadi jangan menyembunyikan apapun dariku. Oke?”

Meski kesal, Jessie merasa sangat senang karena memiliki kakak yang begitu perhatian dengannya. Jessie mengantarkan Frank hingga pintu. Setelah Frank memasuki lift, Jessie segera kembali masuk ke dalam apartmennya. Ia menguncinya kemudian segera menuju ke arah kamar.

Entah Kenapa Jessie ingin menangis. Menenggelamkan diri diantara bantal dan selimutnya. Astaga, semuanya tak bisa tertolong lagi. Pertemanannya dengan Steve tak akan bisa tertolong lagi. Jessie tahu itu.

***

Dua bulan kemudian…

Semuanya menjadi kacau. Jessie berdiri di depan cermin dengan wajah pucatnya. Jemarinya saling meremas satu sama lain karena kegugupan yang melandanya. Ia sudah merias diri secantik mungkin, tapi ia berpikir bahwa malam ini ia sama sekali tidak cantik. Matanya sembab karena menangis berhari-hari. Astaga, apa yang sudah terjadi dengan dirinya?

Dua minggu yang lalu, Jessie bahkan mengurung diri selama beberapa hari dan enggan keluar. Itu karena penyakit barunya, yaitu masuk angin. Ya, Jessie lebih suka menyebutnya seperti itu. Ia masuk angin karena setiap hari harus mual muntah, dan Jessie tahu bahwa tak lama lagi perutnya akan menggembung sebesar bola basket.

Karena hal itulah hari ini ia baru berani memutuskan untuk makan malam bersama kekasihnya. Jessie akan mengakhiri semuanya, karena Jessie tak ingin melanjutkan pernikahannya dengan Henry dalam keadaaan seperti sekarang ini.

Mengingat itu, kegugupan kembali terasa. Astaga, Jessie tak sanggup. Sungguh.

Bajingan Steve! Kenapa lelaki itu harus meninggalkan sebagian dari dirinya untuk tumbuh di dalam perutnya? Lebih bajingan lagi, karena setelah pertengkaran hebatnya dua bulan yang lalu, Steve seperti tak ingin lagi bertemu dengannya.

Beberapa kali, mereka bertemu, di basement, di depan lift, di tempat kerja. Tapi temannya yang bajingan itu tampak enggan menatapnya. Steve tidak berbicara sama sekali dengannya, dan Demi Tuhan! Jessie juga tak ingin berbicara dengan lelaki itu.

Frank berkali-kali menghubunginya dan menanyakan hubungan mereka, tapi Jessie hanya mengatakan bahwa mereka sudah selesai. Nanti, setelah menyelesaikan hubungannya dengan Henry, Jessie akan menelepon Frank dan juga ayahnya, bahwa semuanya benar-benar telah usai.

Jessie menghela napas panjang. Pada saat bersamaan ia mendengar bunyi ketukan pintu. Henry sudah datang, dan Jessie harus benar-benar siap dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Beberapa menit berlalu, mereka sudah berada di dalam mobil Henry, menuju ke sebuah restoran Prancis. Diam tanpa kata, sunyi, hening, dan hal itu membuat suasana menjadi canggung.

Henry tahu jika ada yang berbeda dengan Jessie, sejak dua minggu yang lalu, wanita ini berubah, dan Henry berharap malam ini berjalan dengan lancar hingga bisa memperbaiki hubungannya dengan Jessie.

Memasuki restoran, keduanya masih saling berdiam diri, bahkan hingga seorang pelayan datang dan memberikan buku menu. Jessie memesan beberapa hidangan utama hingga membuat Henry mengerutkan keningnya.

“Kau kelaparan?” tanyanya setelah si pelayan pergi.

“Mungkin.” Hanya itu jawabannya.

Terdengar helaan napas panjang dari Henry. “Jadi, ada yang ingin kau bahas?”

Tentu saja ada, tapi Jessie merasa bahwa ia takut mengutarakannya. “Lebih baik kita makan dulu. Aku tidak ingin pesanan kita tak termakan setelah aku mengutarakan maksudku.”

Henry merasa bahwa Jessie akan mengatakan sesuatu yang penting hingga wanita itu tampak menyiapkan diri. Apa yang akan dikatakan Jessie padanya.

Makan malam berlangsung dengan hening. Sesekali Henry bertanya tentang apa yang dilakukan Jessie sepanjang hari ini, dan Jessie hanya menjawab tanpa bertanya balik kepada Henry.

Waktu cukup singkat, karena tak ada juga yang mereka bicarakan. Setelah menyantap Raspberry Clafoutis sebagai makanan penutupnya, Jessie merasa bahwa perutnya sudah penuh. Apa perutnya sekarang sudah menggembung? Tidak! Jessie berharap bahwa hal itu tidak terjadi.

Hingga masuk kembali ke dalam mobil Henry, Jessie belum juga mengatakan maksud hatinya. Ia tidak bisa, Demi Tuhan ia tidak bisa mengatakannya. Jessie menyayangi Henry, ia tidak bisa membatalkan pertunagan mereka karena penyakit masuk anginnya ini.

Henry akan sangat hancur, dan Jessie tak bisa melihat hal itu terjadi.

“Jess. Ada yang kau pikirkan?”

Karena melamun sepanjang jalan, Jessie bahkan tidak sadar jika mereka sudah berada kembali di basement gedung apartmennya.

“Ya?”

“Ada yang ingin kau katakan? Kau tampak pucat, dan tertekan.” Ucap Henry dengan lembut.

Jessie ingin menangis, sungguh. Kapan lagi ia memiliki kekasih yang begitu pengertian seperti Henry? Dia adalah lelaki sempurna. Tampan, dokter, pengertian, dan begitu menyayanginya. Dan kini, ia akan mencampakan lelaki itu. Tuhan! Bagaimana mungkin semuanya berakhir seperti ini?

Belaian tangan Henry pada puncak kepalanya membuat Jessie mengangkat wajahnya dan menatap Henry dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia harus, karena ia menyayangi Henry, ia harus memutuskan pertunangan mereka demi lelaki itu.

“Kupikir, kupikir, kita sampai disini saja.” Suara Jessie hampir tak terdengar.

“Apa maksudmu, Jess?”

Jessie tak dapat menahan luapan airmatanya. Beberapa hari terakhir ia memang tak dapat menahan diri untuk tidak menangis. Dan Jessie tahu bahwa ini karena penyakit masuk anginnya.

“Kau menangis. Ada apa, Jess?”

“Henry. Aku ingin semuanya selesai. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku masuk angin, Karena tubuhku akan membengkak beberapa bulan kedepan, karena aku akan, aku akan… Astaga, aku akan memiliki bayi.” Jessie menangis, sedangkan Henry tercengang. Henry merasa baru saja dijatuhi sebuah bom tepat di kepalanya.

Jessie hamil? Dan wanita itu ingin memutuskannya? Ya Tuhan! Henry tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

 

-TBC-

Advertisements

4 thoughts on “Sleeping with my Friend – Bab 7

  1. Henry ga sebaik yng kau pikir jes , jadi lupakan henry dan hidup bahagia lah bersama steve …

    q baru sadar kalo cerita ini berdom d new york , dan mungkin kata lain dari hamil dsana yaitu masuk angin dan penyebab jesie masuk angin itu karna steve yng seenak jidat na mmbuat jesie masuk angin 😂😂

    Like

  2. Sumpah q greget banget , pengen q catok az itu kpla mereka ber 2 pke sandal jepit saking greget na ga ada yng mo mengalah , udah kek abg labil az mereka ini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s