Sleeping with my friend – Bab 6

Comments 2 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 6

 

Waktu berlalu cukup cepat. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Jessie. Sepertinya baru beberapa jam yang lalu ia melihat Steve memotreti para modelnya dengan gaya yang tak biasa, tapi lelaki itu tentu selalu mempesona ketika bekerja. Ya, setidaknya itulah pendapat Jessie selama ini.

Steve tampak sangat menarik saat lelaki itu konsentrasi pada objek tangkapan lensa kamerannya. Ketika lelaki itu memutar fokus lensanya, saat lelaki itu mengerutkan keningnya, saat lelaki itu tampak begitu serius mengambil gambar di hadapannya, Jessie menyukai saat melihat Steve yang seperti itu. Baginya, Steve tampak bertanggung jawab dengan pekerjaannya, tampak dewasa dengan ekspresi seriusnya. Tentu sangat berbeda dengan Steve yang selama ini ia kenal.

Jessie tak memungkiri jika beberpa kali jantungnya berdebar tak menentu saat melihat Steve melakukan pekerjaannya dulu sebelum malam sialan itu terjadi. Meski begitu, Jessie tak akan pernah mengakui bahwa ia terpana ketika melihat Steve bekerja dengan begitu profesional.

Kini, tak terasa hari sudah semakin sore. Bahkan para kru dan beberapa model sudah meninggalkan tempat pemotretan mereka yang terletak di dalam gedung studio foto milik Steve. Hanya tertinggal beberapa pegawai Steve yang sibuk merapikan bekas-bekas pemotretan, dua bawahannya yang sibuk merapikan gaun-gaunnya, dan juga Steve yang kini sudah berada di dalam ruangannya.

Jessie akan menuju ke dalam ruangan tersebut tapi ada sesuatu keraguan yang tiba-tiba saja menyergapnya. Hubungannya dengan Steve kini sedang tidak baik, sedang retak, dan Jessie takut jika hubungan mereka hancur karena suatu yang seharusnya tak terjadi. Tapi Jessie harus ke sana, berpamitan dengan Steve agar semuanya terlihat normal dan baik-baik saja meski sebenarnya ada banyak hal yang harus mereka bicarakan setelah malam dan pagi sialan itu.

Dengan menghela napas panjang, Jessie menuju ke arah ruangan Steve. Ia bukan seorang yang pengecut, maksudnya, mungkin cukup Tiga minggu ini ia menjadi pengecut karena beberapa kali menghindari pertemuannya dengan Steve. Ia ingin semua kembali normal dan itu harus diawali saat ini.

Setelah dua kali mengetuk pintu ruangan tersebut, Jessie membukanya. Ia tahu bahwa Steve tak menguncinya. Dengan sedikit ragu ia melangkahkan kakinya masuk dan menyapa “Hai” pada Steve.

Lelaki itu yang tadinya cukup serius di depan layar laptopnya, kini mengangkat wajahnya dan tampak terkejut dengan kehadiran Jessie. Apa Steve berharap ia tak perlu masuk ke dalam ruangan lelaki itu? Seketika itu juga Jessie merasa menyesal karena harus memasuki ruangan tersebut.

“Oh, Hai.” Steve berdiri seketika.

Sedikit tak nyaman Jessie berkata. “Sebenarnya, aku hanya berpamitan. Akan sangat tidak sopan jika aku dan para pekerjaku pergi begitu saja tanpa pamit.” Jessie berkata seformal mungkin. Seperti sedang bercakap dengan partner kerjanya. Demi Tuhan! Ia sudah mengenal Steve bahkan sejak bayi, mereka sudah sering berbagi banyak hal. Semuanya terasa hancur setelah malam sialan itu. Jessie tak tahu kenapa ia harus secanggung ini bahkan bersikap seformal ini pada Steve, padahal, sebelumnya ia tak pernah bersikap seperti ini, bahkan memikirkannya saja tidak.

“Oh. Begitu.” Jessie melihat Steve memasukan telapak tangannya pada saku celananya sendiri. “Kau tak ingin melihat ini sebentar?” tawar Steve.

“Ada masalah?” mau tidak mau Jessie melangkahkan kakinya menuju ke arah meja Steve.

Lelaki itu kembali duduk dan hal itu membuat Jessie lega karena menambah keberanian Jessie untuk mendekat ke arah lelaki tersebut.

Biasanya, mereka memang akan memeriksa hasil tangkapan kamera Steve saat mereka bekerja sama seperti sekarang ini. Memilih gambar yang paling bagus dan cocok. Atau, jika tidak ada, mereka akan melakukan sesi tambahan di hari berikutnya. Jessie merasa saat-saat seperti itu sudah cukup lama tidak mereka lalui. Tentu sejak malam sialan itu.

“Tidak. Kupikir semuanya bagus. Tapi aku juga perlu pendapatmu seperti sebelum-sebelumnya.” Ucap Steve sembari menunjukkan hasil tangkapan lensanya tadi.

Dengan seksama Jessie melihat satu demi satu gambar tersebut. Seperti biasa, ia tampak terpesona dengan hasilnya. Steve memang berbakat dalam hal ini, tak heran, jika lelaki ini menjadi salah satu fotografer dengan tarif termahal di New York, meski begitu, lelaki ini tak pernah sepi klien.

“Bagiku ini luar biasa. Kau melakukannya dengan baik.”

Jessie tak pernah memuji Steve sampai seperti itu. Oh, mereka sering saling ejek satu sama lain, tapi memuji dengan formal seperti ini sama sekali tak pernah terjadi diantara mereka.

“Gaunmu juga menjadi salah satu objek yang membuat hasinya indah dan menakjubkan.” Bahkan Jessie juga tak pernah mendengar Steve memuji hasil rancangannya seperti itu.

Steve memang mengagumi apapun rancangan Jessie, tapi biasanya lelaki itu akan berkarta ‘kau membuat aku ingin meniduri modelnya’ atau ‘Rancanganmu membuatku terangsang.’  Ya, seperti itulah khas seorang Steven Morgan. Tapi kini, pujian formal itu membuat Jessie tidak nyaman. Ia tidak suka dengan perubahan Steve, ia juga tidak suka dengan perubahan dirinya sendiri, hingga kemudian, Jessie tersentak dari lamunannya ketika jemari Steve mendarat tepat di atas telapak tangannya yang sedang bertumpu di meja lelaki itu.

Sebuah gelenyar kembali menerpanya, membuat Jessie menatap ke arah Steve seketika saat lelaki itu kini sedang mendongak menatap intens ke arahnya.

“Jess. Aku tak suka dengan suasana seperti ini. kita perlu bicara.”

Ya, tentu saja. Jessie tahu itu. Tapi ia tidak suka membayangkan jika percakapan mereka akan berakhir seperti rabu siang ketika Steve datang ke butiknya dan berakhir saling mengumpat satu sama lain. Jessie tak ingin hal itu terjadi.

Jessie menggelengkan kepalanya. “Kupikir sebaiknya kita melupakan semuanya.”

“Jess. Aku tidak suka hubungan kita jadi seperti ini.”

“Kau pikir aku menyukainya?” nada suara Jessie mulai meninggi. Jika yang dipikirkan Steve adalah hanya lelaki itu yang frustasi tentang kedekatan mereka, maka lelaki itu salah. Jessie juga sama frustasinya. Dan demi apapun juga, Jessie rela menukar apa saja untuk mengembalikan hubungan mereka agar seharmonis dulu.

“Oke.” Steve berdiri. Ia melirik ke arah jam tangannya. “Kita akan membicarakannya nanti, mungkin aku akan ke apartmenmu besok.”

“Kau tak perlu melakukannya.”

“Jess kita harus.” Steve menggenggam kedua belah telapak tangan Jessie. “Setiap bulan, kita akan pulang. Orang rumah akan mengetahui masalah kita jika kita tetap bersikap seperti ini.”

“Mungkin kita tidak perlu pulang bersama lagi. Cukup untuk mengendalikan situasi, bukan?”

“Kau menghindariku?”

“Steve…”

“Oke.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Kita memang harus berbicara Jess. Dengan atau tanpa persetujuanmu, besok malam aku akan datang. Aku tidak ingin kita saling menghindar lagi.” Jessie mendesah panjang. Ia tidak mungkin menolak keinginan seorang Morgan. Lelaki itu pemaksa, meski menolaknya, Jessie tahu bahwa besok malam lelaki itu akan datang ke apartmennya.

***

Kencan yang membosankan.

Itulah yang dirasakan Steve malam ini. ia dan Donna Simmon hanya makan malam di sebuah restoran mewah, dan membunuh waktu dengan saling bercakap-cakap. Steve bahkan hanya sedikit menyimak apa yang diceritakan oleh Donna.

Wanita itu bekerja sebagai konsultan di salah satu perusahaan di New York. Hanya itu saja yang Steve tangkap. Bahkan Steve seakan tak ingin mengetahui lebih lanjut tentang wanita itu. Bukan karena tampangnya. Demi Tuhan! Hank adalah teman yang sangat baik karena mengenalkan dirinya pada sosok bidadari seperti Donna Simmon, tapi hanya itu saja. Donna hanya cantik, tapi kosong. Tak ada sesuatu yang menarik bagi Steve untuk dikencani.

Wanita itu terus bercerita tentang siapa saja teman kerjanya, apa saja yang ia lakukan, dari mana saja kliennya datang dan lain sebagainya. Sedangkan Steve memilih hanya diam, sesekali melemparkan senyuman padahal ia tidak tahu apa yang sedang dibahas wanita itu.

Steve hanya ingin waktu segera berlalu. Ia tidak sabar menunggu besok malam, ketika ia kembali bertemu dengan Jessie dan membicarakan tentang hubungan mereka berdua.

“Jadi, apa yang kau lakukan sepanjang hari ini?” tanya Donna kemudian yang merasa bahwa Steve sejak tadi tampak bosan dengan ceritanya.

Steve menyesap minumannya. “Aku? Aku bekerja sepanjang hari. Ada sebuah pemotretan untuk majalah fashion. Dan hanya itu.”

“Kau, bertemu dengan banyak artis?”

“Jika maksudmu karena pekerjaan, maka ya. Kebanyakan hanya model.”

“Woww, hebat sekali. Aku jadi tertarik untuk datang ke tempat kerjamu.”

“Boleh saja. Tapi kadang, saat aku bekerja, akan sangat berkonsentrasi. Aku hanya tak ingin kau terabaikan saat di sana.”

“Oh, kau perhatian sekali.” Donna merasa tersanjung, dan Steve hanya tersenyum menanggapinya. Donna memang seperti kebanyakan wanita yang pernah dekat dengannya. Wanita itu gampang sekali tersanjung, dan ingin selalu ikut campur tentang kehidupannya. Tidak seperti Jessie.

Sial! Lagi-lagi nama itu. Steve mendengus sebal.

***

Kencan berakhir begitu saja setelah Steve mengantarkan Donna hingga sampai apartmen wanita itu. Donna mengundangnya masuk, tapi Steve menolak. Ia tidak sedang ingin meniduri wanita itu, jadi ia berpikir bahwa lebih baik ia pergi saja.

Lagi pula, tujuannya menjalin hubungan dengan Donna adalah untuk menjalin sebuah pertemanan yang sangat dekat, bukan hanya dalam hal asmara. Ia ingin Donna mampu menggantikan sosok Jessie, ketika wanita itu nanti benar-benar pergi menghindar selama-lamanya, maka Steve tak perlu khawatir.

Tapi sepertinya, semuanya gagal total. Donna tak pantas untuk menggantikan tempat Jessie, bahkan keduanya tak memiliki kemiripan sama sekali. Donna lebih asik dengan dunianya sendiri, lebih suka menceritakan tentang dirinya sendiri. sangat berbeda dengan Jessie yang tak akan membuka suara jika tidak ditanya apa yang sedang terjadi dengan wanita itu.

Steve mengemudikan mobilnya cepat hingga sampailah ia pada gedung apartmennya. Ia mendapati Cody duduk di sebuah kursi dekat dengan pintu masuk. Menyapanya sebentar dan segera masuk ke dalam gedung tersebut. Entahlah. Steve hanya ingin segera pergi ke kamar tidurnya. Tidur kemudian menunggu besok malam. Ia akan mengutarakan sebuah niat pada Jessie, ia akan membuat hubungan mereka berbeda.

Ya, Steve tahu bahwa pertemannya dengan Jessie sedang terancam, bahkan mungkin sudah hancur. Ia tahu pasti bahwa apapun itu, ia tak akan bisa memperbaiki semuanya. Pandangannya terhadap Jessie sudah berubah, begitupun yang dirasakan wanita itu padanya. Jessie memang tak mengakuinya, tapi sangat jelas terasa ketika mereka berdekatan. Ketegangan selalu terasa, bukan hanya secara seksual tapi juga secara emosional.

Steve tahu bahwa malam itu bukan sekedar malam panas. Ada sebuah emosi yang terlepas di sana. Ketika mereka bercinta di kamar mandi dan bercinta kembali di atas ranjang, Steve tahu bahwa itu bukan hanya tentang sebuah kepuasan. Dan bodohnya ia baru menyadari hari ini, hampir satu bulan setelahnya.

Bagaimanapun juga, ia harus merundingkan semuanya pada Jessie, ia ingin membahas semuanya sampai tuntas. Menawari Jessie dengan sesuatu yang cukup masuk akal. Dan ketika wanita itu menolaknya, maka lebih baik mereka tidak pernah bertemu lagi dan Steve akan melanjutkan kencannya dengan Donna Simmon yang cukup membosankan untuknya.

Begitulah niat Steve. Tapi benarkah ia akan mengutarakan niatnya pada Jessie? Beranikah ia mengatakannya? Siapkah ia dengan penolakan wanita itu? Entahlah. Steve hanya akan menunggu sampai besok malam.

***

Esoknya….

Steve menyelesaikan sisa pekerjaannya secepat mungkin, karena ia ingin mmepersiapkan diri untuk menghadapi Jessie.

Baiklah. Ia sudah memikirkan semalaman. Persetan dengan pertunangan Jessie dengan si Gay Henry. Yang pasti, Steve akan mengutarakan bahwa mereka sudah tidak bisa berteman lagi. Lebih tepatnya, Steve akan menganggap bahwa mereka kini adalah sepasang kekasih.

Mungkin Jessie akan menganggapnya gila, wanita itu pasti akan melemparinya dengan perabotan rumah tangga. Tapi Steve tak peduli. Nyatanya seperti itulah yang ia rasakan hampir sebulan terakhir. Ia merasa bahwa Jessie adalah kekasihnya, bukan sekedar temannya. Dan hal itu sudah tidak bisa dirubah lagi.

Kecanggungan diantara mereka membuat Steve semakin yakin, bahwa tidak hanya seks yang ada di malam itu. Tidak sekedar pemuasan fisik. Tapi secara emosional, mereka juga terlibat.

Jam Enam sore, Steve sudah siap di apartmennya. Tapi ia menahan diri untuk tidak turun. Demi Tuhan! Ini masih sore. Jessie pasti akan mengerutkan keningnya saat mendapati dirinya berkunjung sore-sore seperti ini. Bahkan mungkin, wanita itu baru pulang dari butiknya.

Akhirnya, Steve memilih menghabiskan waktu di ruang tengah apartmennya sembari kembali memikirkan semuanya. Semakin ia berpikir, semakin ia yakin. Kepercayaan dirinya meningkat saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi, seperti Jessie menyetujui pendapatnya. Wahh, pasti akan sangat membahagiakan. Mereka benar-benar akan menjadi sepasang kekasih, berbagi ranjang kembali dengan begitu panas. Seks maraton setiap hari.

Sial!

Steve mengumpat pada ereksinya.

Bagaiamana mungkin ia segera terangsang saat memikirkan hal itu? Otaknya benar-benar sudah dikendalikan oleh Jessie. Dan hal itu membuat Steve semakin yakin bahwa ia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Jessie.

Jam Delapan jantung Steve berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Perutnya seperti diperas saat ia melangkah keluar dari apartemennya menuju ke arah lift. Turun Lima lantai hingga berada pada lantai apartmen Jessie.

Steve keluar dari dalam Lift dengan sesekali membenarkan tata rambutnya. Tapi baru tiga langkah, ia berhenti.

Bayangan Jessie dengan seorang lelaki saling menautkan bibir satu sama lain dengan begitu lembut tepat di depan pintu apartmen waita itu membuat Steve hanya ternganga menatapnya.

Takk… takk… taakkk…

Steve merasakan sesuatu retak di dalam dadanya. Dengan spontan ia merabanya, terasa nyeri tapi tak mengeluarka darah. Ada apa ini? apa yang terjadi dengannya? Apa ia memiliki kelainan jantung?

Sepanjang hari Steve sudah membayangkan jika ia akan menjadikan Jessie sebagai kekasihnya. Ia tak bisa melihat wanita itu sebagai temannya lagi, ketertarikan seksual serta emosional selalu terpantik ketika mereka berdekatan, dan hal itu cukup bagi Steve untuk menjadikan Jessie sebagai kekasihnya.

Dengan begitu bodohnya, Steve berpikir bahwa Jessie akan menerimanya begitu saja. Wanita itu pasti tak akan mengingkari pesonanya, Steve terlalu percaya diri. Ia melupakan satu hal, bahwa Jessie memiliki cinta untuk tunangannya, dan hal itu tidak dimiliki oleh Steve.

Seberapa panas hubungan mereka, seberapa tegang ketertarikan fisik diantara mereka, maka akan tetap dikalahkan oleh cinta sialan yang dimiliki Jessie dengan kekasihnya.

Dengan kecewa, dengan marah, dan demi Tuhan! dengan terluka, Steve membalikkan tubuhnya bersiap kembali memasuki lift sebelum Jessie melihatnya berdiri di sana seperti seorang idiot yang sedang patah hati.

Patah hati? Sial! Steve tidak ingin mengakuinya.

Tapi saat pintu lift terbuka, Steve seakan berada pada puncak kesialannya ketika ia mengetahui siapa yang ada di dalam sana.

“Steve? Kau dari tempat Jessie?” tanyanya yang kini bahkan sudah mengamati Steve, melihat rahang Steve yang mengetat karena kemarahan, melirik ke arah telapak tangan Steve yang saling mengepal karena emosi yang meluap-luap. Lelaki itu keluar dari dalam lift, dan ia dapat melihat Jessie masih asik bercumbu dengan sang Kekasih.

Dan lelaki itu tersenyum.

“Aku akan pergi.” Ucap Steve dengan dingin.

“Woww, wooww.” Lelaki itu menahan pundak Steve. “Aku bahkan membawakan Sampanye untuk merayakan Bukuku yang akan di filmkan.”

Brengsek, Frank! Kenapa bajingan ini harus datang disaat yang tak tepat?

Itu adalah Frank Summer, kakak Jessie. Mereka tentu sudah saling mengenal sejak kecil. Frank orang yang baik, tapi yang membuat Steve kesal adalah karena lelaki itu terlalu ikut campur dengan urusannya dan Jessie. Frank bahkan sempat mengusulkan untuk menikahkan mereka ketika mereka sedang berada dalam pertemuan keluarga bulanan, meski lelaki itu mengatakannya dengan gurauan, tapi tetap saja, Frank adalah seorang berengsek yang mengganggu ketenangannya dengan Jessie.

“Aku sibuk.”

“Benarkah?” Frank tak percaya. “Akui saja, bung. Kau cemburu melihat mereka.”

“Brengsek kau Frank!” Steve mengumpat keras pada lelaki yang usianya Tiga tahun lebih tua dibandingkan dirinya. Sedangkan lelaki itu tertawa lebar menertawakan umpatan khas yang keluar dari mulut Steve.

Dan pada saat itu, suara Jessie mengejutkn keduanya.

“Frank? Steve? Apa yang kalian lakukan di sana?”

Oh, Steve tak bisa mengelak, ia tak bisa pergi begitu saja dan berpura-pura tak melihat semuanya. Semua ini tentu karena si bajingan Frank Summer. Mata Steve menatap mata Frank dengan tatapan membunuhnya. Berharap jika Frank tak mengatakan apapun tentang apa yang telah mereka lihat tadi.

“Hai Jess. Aku sengaja mengajak Steve ke sini untuk merayakan bukuku yang akan diangkat ke layar lebar.”

“Oh Astaga, itu hebat. Ayo. Kita masuk dan berpesta.” Ajak Jessie.

Frank menatap Steve dengan sedikit menyunggingkan senyumannya, kemudian ia mengajak Steve untuk menuju ke apartmen Jessie dan masuk ke sana. Bagimanapun juga, Steve merasa bahwa Frank tak ingin ia pergi. Dan Steve merasa berterimakasih karena secara tak langsung, Frank mencegahnya menjadi seorang pengecut.

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Sleeping with my friend – Bab 6

  1. q pikir itu bunyi gelas yng retak , ternyata itu bunyi dari dada na steve toh 😂😂😂
    cup cup cup sabar yaa belom saat na lagi , jadi tahan dulu itu rasa sakit na 😂😂😂

    ciyeeee sii ganteng udah mulai nunjikin muka na , ga sabar q pengen ketemu u frank 😘😘😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s