Missing Him – Bab 3

Comments 2 Standard

 

Bab 3

 

Dia masih menggerakkan tubuhnya di atasku, bibirnya tak berhenti mencumbu sepanjang kulit tubuhku, ia menjelma menjadi sosok yang berbeda, bukan sosok dingin dan kaku seperti biasanya, Diakah Mas Rangga suamiku?

***

Tubuhku masih lunglai dalam pelukannya, Mas Rangga masih setia memelukku dan sesekali mengecupi pundakku. Kami masih sama-sama polos di bawah selimut yang sama setelah percintaan panas yang baru saja kami lakukan.

Percintaan panas? Ya… aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi dengan Mas Rangga, kenapa ia bisa bersikap seperti itu padaku tadi.

“Terimakasih….” ucap Mas Rangga yang membuat tubuhku kembali bergetar.

“Apa ada yang salah denganmu Mas?”

“Kenapa?”

“Kamu berbeda.”

“Aku masih sama, aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku benar.”

“Maksud Mas Rangga?” Tanyaku masih dengan raut bingung.

“Ku pikir selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan benar, Sayang, maaf.”

“Aku juga minta maaf Mas..” lirihku.

“Untuk apa?”

‘Karena aku masih memikirkan dia dan belum bisa sepenuhnya menerimamu….’ ucapku dalam hati.

“Untuk semua kesalahan yang pernah kuperbuat.” Jawabku.

“Kamu nggak pernah salah. Mas yang selalu salah.” Mas Rangga berkata dengan mengusap lembut punggung telanjangku. “Ayo bangun, kita harus menjemput  Tasya.”

Aku menatapnya dan tersenyum ke arahnya. “Ayo.” Ucapku sambil bangun.

***

“Kamu kenapa sih Do? Gay?? Enggak kan?” Tanyaku pada lelaki yang kini duduk santai di hadapanku sambil meminum jus pesananku.

“Kenapa kamu tanya itu?”

“Do, aku capek kalo banyak cewek di sekolah ini yang salah paham padaku, mereka memusuhiku Do..”

“Kalo mereka macem-macem bilang saja sama aku.” Jawabnya santai.

“Aku nggak perlu pembelaan kamu, yang kuperlukan adalah berhenti bilang kalau kita pacaran. Jadi mereka nggak salah paham sama aku dan musuhi aku.”

“Kita memang pacaran..” jawab Edo dengan santai.

“Enggak. Kita nggak pernah jadian.”

“Mulai detik ini kita jadian.”

“Yang benar saja, kamu gila.”

“Ya,aku gila. Aku gila karena suka sama kamu.” Ucapan Edo membuatku membatu seketika.

Tidak! Edo tidak mungkin menyukaiku. Ini hanyalah triknya supaya aku mau menjadi pacar bohongannya.

“Nggak lucu tau nggak Do.” ucapku sambil berdiri dan bersiap meninggalkannya.

Tapi kemudian aku merasakan pergelangan tanganku di genggam oleh seseorang, dan saat aku melihatnya, ternyata Edo yang menggenggamnya.

“Kenapa Ven? Kamu nggak percaya kalau aku suka sama kamu?”

“Do, ini nggak bener, ini gila.”

“Ya, aku gila karena suka sama kamu Ven, please, lihat mataku dan cari kebenaran di sana.”

Aku menuruti apa mau Edo. Kutatap matanya, mencari kebenaran di sana, mencoba mencari kebohongan atau apa pun di sana. Tapi yang ku dapat, hanyalah sebuah ketulusan. Benarkah Edo tulus menyukaiku? Astaga! Tidak, kita tidak boleh menjalin kasih, kita hanya boleh berteman. Titik.

***

Bayangan Edo kembali menyeruak dalam benakku. Saat pertama kali Edo menyatakan rasa cintanya yang kemudian berujung penolakan dariku.

Ya, aku tau, aku dan Edo tak mungkin bersatu hanya karena satu alasan.

Kami berbeda keyakinan….

Satu hal itu membuatku jauh dari kata bersatu dengan Edo. Dan sampai kini aku sadar jika hubungan kami berdua memang tak lebih dari sekedar berteman.

“Ven. nanti temani mas ketemu sama Bos baruku,  ya,” suara Mas Rangga kembali menyadarkanku dari lamunan.

“Bos baru?” Aku mengernyit.

“Ya, sekarang bukan pak Chiko lagi yang jadi GM di kantor kita. Tapi anak dari pemilik kantor pusat.”

“Wah, yang benar Mas?”

“Iya, dan beliau baik sekali.” Ucap mas Rangga dengan semangat.

“Kapan?”

“Nanti setelah jemput  Tasya, kebetulan orangnya tadi hubungi Mas, minta di bawakan sebuah berkas yang kebetulan sedang Mas bawa.”

“Oke Mas.” Jawabku. Kemudian aku kembali menyiapkan diri serapi mungkin untuk segera bergegas menjemput  Tasya.

***

“Kita ketemu Bos kamu di mana, Mas?” Tanyaku saat Mas Rangga sibuk mengemudikan mobil yang sedang kami tumpangi. Tentu saja mobil ini bukan mobik milik kami sendiri. beberapa bulan yang lalu, Mas Rangga naik jabatan, dan perusahaan memfasilitasinya dengan kendaraan.

“Di restoran, beliau kebetulan ada di restoran tak jauh dari sini.”

“Aku tunggu di mobil saja deh Mas, nggak enak, aku bawa Tasya.”

“Ayo ikut, nggak apa-apa, Bosku kebetulan pengen lihat dan kenal kamu.”

Aku mengernyit. “Loh kenapa memangnya?”

“Beliau tau kalau kamu itu dulu adalah salah satu karyawan perusahaan yang teladan. Katanya setidaknya beliau ingin mengenalmu.”

Dan aku hanya menganggukkan kepala. Aku tidak heran dengan sikap atasan Mas Rangga. yang membuatku heran adalah sikap Mas Rangga sesore ini yang membuat jantungku jedak jeduk tak menentu. Dia banyak bicara, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Tanpa terasa, akhirnya kami sampai juga di restoran yang di maksudkan. Kami turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran tersebut.

“Itu orangnya.” Ucap mas Rangga sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk membelakangi  kami di ujung ruangan.

Kami berjalan menuju ke arah orang tersebut. Dan alangkah terkejutnya aku ketika sampai di hadapan atasan Mas Rangga itu.

Dia… Dia…. Edo.. Lelaki yang selalu berada dalam pikiranku.

Aku membulatkan mataku seketika sedangkan Edo malah menyunggingkan senyumannya di hadapan kami seakan dia tidak terkejut sama sekali dengan pertemuan kami saat ini.

“Selamat malam Pak.” Ucap Mas Rangga sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Edo.

Aku melihat Edo membalas uluran tangan Mas Rangga. “Selamat malam, jadi, ini istri kamu?” Tanyanya sambil menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Ya pak, ini Veny.” Mas Rangga memperkenalkan aku kepada Edo. Sedangkan Edo dengan santainya mengulurkan tangannya padaku.

“Edo.” Ucapnya sambil tersenyum miring.

Aku mencoba membalas uluran tangan Edo walau kini tanganku sudah gemetar.

“Veny.” Jawabku dengan suara bergetar sambil menyambut uluran tangan Edo. kemudian aku merasakan Edo yang mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku. Seakan dia menangkap sesuatu dan tak ingin melepaskannya. Apa maksud Edo? Kenapa dia kembali pada kehidupanku saat aku mulai membuka hati untuk Mas Rangga, suamiku?

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “Missing Him – Bab 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s