romantis

Sleeping with My Friend – Bab 5

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

 

Bab 5

 

Jessie belum pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hal itu membuat Miranda menunda kepulangannya hingga sang bossnya itu pulang. Saat Jessie keluar dari dalam ruang kerjanya, ia melihat lampu butiknya masih menyala dan tampak Miranda sedang merapikan sebuah lemari yang penuh dengan renda-renda.

Jessie mengerutkan keningnya dan berjalan menuju ke arah bawahannya tersebut. “Miranda? Kau belum pulang?” tanya Jessie sembari mendekat.

“Ya. Kupikir kau butuh teman.” Miranda menjawab. Selama ini, mereka memang sudah seperti teman baik.

“Tidak, aku baik-baik saja. Seharusnya kau sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri, Jess. Tidak setelah apa yang kulihat.”

“Kau, melihatnya?” Tanya Jessie dengan sedikit malu. Jika yang dimaksud Miranda adalah pertengkarannya dengan Steve, maka Jessie benar-benar tak dapat menahan rasa malunya.

“Jika yang kau maksud tentang vibrator dan vagina, maka ya, aku dan yang lain mendengarnya.”

“Oh astaga…” Jessie menutup wajahnya sendiri.

“Ya ampun Jess, kau bersikap seolah-olah dunia runtuh setelah mengatakan hal itu.”

“Jika boleh jujur, aku tak tahu apapun tentang hal itu.”

Miranda membulatkan matanya kemudian tertawa lebar. “Benarkah? Astaga.” Jessie ikut tertawa melihat Miranda tertawa.

“Sudahlah, lebih baik kita pulang, sudah malam.” Ajaknya. Tentu saja Jessie tak ingin membahas tentang masalahnya dengan Steve. Bagaimanapun juga, Jessie tak ingin lagi membahas kejadian tentang ia tidur dengan temannya itu.

Saat Jessie keluar dari butiknya, saat itulah pandangannya terpaku pada sosok pria yang sudah berdiri di samping pintu mobilnya.

Well, rupanya pangeranmu yang lain menjemput.” Bisik Miranda ketika Miranda melihat Henry berada di sana. “Oke, sepertinya aku pulang dulu.”

“Hati-hati.” Hanya itu yang dapat dikatakan Jessie karena saat ini fokusnya sudah ke arah Henry yang datang ke arahnya. Astaga, apa yang akan terjadi? Apa pria ini akan memutuskan hubungan mereka?

“Hai.” Henry menyapa dengan lembut.

“Hai.” Jessie membalas, entah kenapa ia merasa canggung dengan  kekasihnya ini.

“Pulang bersama?” tawar lelaki itu. Dan Jessie hanya mengangguk. Ia membiarkan saja mobilnya terparkir di depan butiknya, sedangkan dirinya memilih ikut bersama dengan Henry. Bagaimanapun juga, ia ingin membahas tentang masalah mereka, meminta maaf tetang malam itu dan juga membahas tentang hilangnya lelaki itu dua hari terakhir tanpa kabar.

Jessie dibimbing memasuki mobil Henry. Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, kecanggungan kembali terasa.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa kita bisa secanggung ini satu sama lain.” Jessie mulai membuka suara.

Henry tersenyum. “Aku tidak canggung, mungkin kau saja yang merasa seperti itu, Sayang.” Ucapnya dengan lembut sembari mengusap puncak kepala Jessie dengan sebelah tangannya.

Jessie merasa suasana sedikit mencair. Henry mulai menyalakan mesin mobilnya kemudian mengemudikannya. Jessie menyandarkan punggungnya dan bersikap sesantai mungkin. Ia tahu bahwa sejak tadi ia terlalu canggung. Mungkin karena tak tahu apa yang harus ia bahas dengan Henry.

“Jadi, apa yang kau lakukan dua hari terakhir?” tanya Jessie mulai membuka suara. Ia hanya ingin mendengar alasan Henry, kenapa lelaki itu tak sempat menghubunginya.

“Kau tahu, ada beberapa kecelakaan lalu lintas di Brooklyn Bridge. Dan aku sangat sibuk dengannya.”

“Benarkah? Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu?”

Well. Mungkin kau tidak menyalakan televisi di rumahmu.” Tentu saja, Jessie terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri. ia terlalu kacau setelah memikirkan tentang hubungannya dengan Steve dan juga dengan Henry. Jadi tak akan ada waktu untuk Jessie menonton televisi.

“Separah itukah?”

“Tidak separah dalam film Fantastic Four, tapi cukup parah hingga membuat jembatan itu di tutup sepanjang sore.”

“Woww, apa yang terjadi?” suasana benar-benar mencair. Jessie menyukainya.

“Aku tidak begitu paham, tapi ada yang berkata jika ada sebuah truk pengangkut bahan bakar meledak di sana.” Henry menghela napas panjang. “Kau tahu, rumah sakit sangat sibuk sepanjang hari. Aku bahkan tidak pulang.”

“Oh, aku minta maaf. Seharusnya aku memikirkan tentang kemungkinan itu. Maksudku, aku mengira kalau kau…” Jessie ragu melanjutkan kalimatnya. “Maksudku, kau marah karena malam itu….”

“Jess.” Henry meraih telapak tangan Jessie seketika. Meraihnya kemudian mengecupnya singkat. “Aku mencintaimu, kita akan menikah. Aku tidak mungkin marah hanya karena kau belum siap melakukn hal itu.”

Jessie mendesah panjang. Mungkin jika ia belum tidur dengan Steve, ia akan merasa sangat senang, dan bahagia saat memiliki tunangan seperti Henry. Tapi kini, baginya, semuanya sudah berubah. Jessie merasa ada yang berbeda, dan ia merasa jika apa yang ia rasakan tak lagi sama dengan sebelum malam sialan yang ia habiskan bersama Steve.

Melihat Jessie yang tampak melamun, Henry bertanya “Ada masalah? Kau tampak berbeda.”

Jessie menatap ke arah Henry dan tersenyum lembut. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya meski sebenarnya dalam hatinya ia merasa jika hubungan mereka sedang dalam sebuah masalah.

***

Tubuh mereka meyatu dengan sempurna… Erangan Jessie membuat Steve tak dapat menahan diri. Ia ingin segera menyelesaikan permainan panas mereka, dirinya ingin segera meledak, tapi disisi lain, Steve harus memikirkan Jessie. Ini adalah saat pertama untuk Jessie dan Steve ingin temannya itu mengenang pengalaman pertamanya dengan indah.

Steve menundukkan kepalanya, jemarinya mengusap lembut puncak kepala Jessie, menyingkirkan helaian rambut wanita itu yang menutupi wajahnya. Jessie tampak sangat menakjubkan, wanita itu terlihat begitu cantik dari tempatnya melihat.

“Kau, sangat luar biasa.” Steve berbisik dengan suara seraknya. Steve masih belum bergerak sedikitpun. “Apa aku harus berhenti? Atau bergerak?”

“Persetan apa yang ingin kau lakukan, Steve!” Jessie berseru keras.

Steve bukannya tersinggung, tapi malah tersenyum. Kemarahan Jessie dan juga gairah yang mempengaruhi wanita itu membuat Steve tak kuasa menahan dirinya. Wajah Jessie memerah, pencampuran antara gairah dan juga amarah karena rasa sakit akibat pengalaman pertamanya.

“Kau tahu, Jess. Ini adalah pertama kalinya aku bercinta dengan perawan.”

“Jika kau tak segera menyelesaikan hal ini, maka aku akan mencakar kulitmu.”

Steve lagi-lagi tersenyum. “Oke, oke, Sayang.” Steve kemudian menundukkan kepalanya, lalu ia mencumbu bibir Jessie dan mulai menggerakkan tubuhnya.

“Ohh, Jess. Sialan! Kau ingin membunuhku? Hahh?” racau Steve.

Sedangkan Jessie, ia merasakan sebuah kenikmatan baru. Rasa sakit yang tadi sempat ia rasakan dan sempat membuatnya frustasi, kini berubah menjadi sebuah kenikmatan. Sedikit demi sedikit girahnya terbangun. Jessie bahkan ikut bergerak seirama dengan gerakan dari Steve. Apa ini yang dinamakan bercinta? Tayanya dalam hati.

Steve sendiri masih sibuk mengendalikan dirinya. Ia tahu bahwa ia hampir saja meledak jika dirinya tidak menahannya. Jessie benar-benar menakjubkan. Wanita itu membungkusnya dengan begitu rapat, mencengkeramnya begitu erat, hingga Steve merasa sangat frustasi dengan kenikmatan yang tercipta akibat dari gesekan tubuh mereka berdua.

 Masih dengan bergerak pelan, Steve mencumbu lagi dan lagi bibir Jessie. Demi Tuhan! Jessie harus segera sampai, karena Steve yakin jika dirinya tak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak meledakkan diri. Beruntung, karena cumbuan yang ia berikan pada Jessie membuat gairah wanita itu semakin meningkat.

Steve merasakan tubuh Jessie bereaksi dengan sendirinya. Tubuhnya semakin rapat membungkusnya, kaku, melengkukan punggungnya dan erangan wanita itu….

“Steve… Ohh.. Ohh… Astaga…”

Steve tahu, Jessie sudah sampai pada klimaksnya. Tak menunggu lama, Steve segera melajukan pergerakannya kemudian menyusul Jessie pada puncak kenikmatan.

“Yeahh.. yahh… Jess. Sial!”

Keduanya larut dalam badai gairah. Sibuk mengatur detak jantung masing-masih, sibuk dengan napas masing-masing hingga yang terdengar disana hanya desah napas tak beraturan dari keduanya.

Setelah merasa cukup, Steve menarik diri. Menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Jessie. Keduanya terbaring mentap ke arah langit-langit. Mungkin orgasme masih mempengaruhi mereka hingga tak ada sepatah katapun yang teruap dari keduanya.

Steve lalu menolehkan kepalanya ke arah Jessie, tampak Jessie memejamkan matanya seakan menikmati suasana disekitarnya. Mata Steve turun, tampak dada Jessie naik turun dengan napas yang masih tak beraturan. Kulit wanita itu tampak merona. Rambut cokelatnya jatuh tak beraturan, dan Steve juga masih melihat bahwa tubuh Jessie masih sedikit bergetar. Wanita itu masih menikmati orgasmenya, Steve tahu itu. Dan sialnya, ia kembali berereksi.

Brengsek!

Seharusnya ia tahu diri. Steve harus bisa menahan diri. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya untuk Jessie. Ia harus menghormati keperawanan wanita itu yang baru saja ia renggut.

Tapi memang dasarnya Steve yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari Jessie, akhirnya ia pun tak dapat menahan dirinya. Steve bangkit, ia terduduk dan meminta Jessie untuk bangkit juga.

“Ada apa?” tanya Jessie bingung.

“Membersihkan diri, kau tak mau?”

“Bersama? Astaga, aku…”

“Ayolah, aku sudah melihat semuanya. Apalagi yang membuatmu malu?” Steve bertanya dengan nada menggoda. Yang bisa Jessie lakukan hanya mendengus sebal kemudian segera bangkit menuju ke arah kamar mandi Steve.

Steve tersenyum penuh arti, ia kemudian mengikuti Jessie masuk ke dalam kamar mandinya. Di dalam sana, ternyata Jessie sudah berdiri di bawah pancuran, wanita itu berdiri menghadap ke arah dinding dengan air yang mengucur membasahi tubuhnya.

Sial!

Steve yang melihatnya dari belakang hanya bisa ternganga. Tubuh Jessie sangat indah jika dilihat dari belakang. Lekukannya menggoda, dan permukaan kulitnya tampak halus dan kencang. Dengan spontan, kaki Steve berjalan mendekati Jessie. Lengannya terulur begitu saja melingkari perut Jessie. Steve memeluk tubuh Jessie dari belakang, menyandarkan dagunya pada pundak Jessie, hingga mau tak mau membuat Jessie menghentikan pergerakannya seketika.

“Kau sangat indah, Jess.” Steve berbisik dengan serak. Bahkan dengan berani, jemarinya sudah menggapai sebelah payudara Jessie. Jessie tak meronta, wanita itu bahkan tampak menahan kenikmatan, memejamkan matanya karena sentuhan Steve.

Jessie melemparkan kepalanya ke belakang, hingga Steve dengan leluasa bisa menikmati leher jenjang wanita tersebut.

“Ohh Steve…” dengan spontan Jessie mengerang, menyebutkan nama Steve dengan begitu merdu.

Steve kembali menikmati setiap inci dari kulit Jessie. Jemarinya sudah bergerilya dengan bebas, memberikan kenikmatan untuk wanita yang kini sedang berada dalam rengkuhannya. Jessie sendiri tampak pasrah, ia tak menyangka jika akan melakukan hal sepanas ini dengan Steve. Dan ia memilih untuk menikmatinya saja.

Steve menghentikan aksinya karena pangkal pahanya yang semakin membengkak. Akhirnya ia membalikkan tubuh Jessie, memenjarakan wanita itu diantara dinding dengan tubuhnya. Kemudian bersiap untuk memulai permainan panas kedua mereka.

“Kau tahu, seharusnya aku menghormati keperawananmu. Tapi karena kau menggodaku, maka aku akan melupakan rasa hormatku tersebut.”

“Aku tak menggodamu.”

“Tapi aku tergoda, Jess.” Steve menjawab dengan senyuman penuh arti. Ia mengangkat sebelah kaki Jessie lalu berkata “Aku akan memulainya lagi, dan akan kubawakan surga berkali-kali untuk kita berdua.” Kemudian Steve kembali menenggelamkan diri dalah balutan lembut tubuh Jessie.

Jessie mengerang, menikmati penyatuan panas tersebut. Sedangkan Steve, ia tak akan pernah melupakan rasanya, rasa lembut dan nikmat tubuh Jessie yang membungkusnya dengan begitu erat…. 

 

Mata Steve terbuka seketika. Bayangan malam panas saat bersama dengan Jessie kembali menghantui mimpi-mimpinya. Steve bangkit, kemudian memijit pelipisnya.

Sial! Ini sudah lebih dari Tiga minggu lamanya setelah ia mendatangi butik milik Jessie siang itu. Dan sejak saat itu, Steve belum lagi menemui Jessie. Ia tahu bahwa suasana akan memburuk setelah bertemu dengan wanita itu. Ketegangan masih sangat terasa, Steve bahkan tak bisa melupakan sedikitpun bagaimana panasnya diri Jessie malam itu, dan hal itu benar-benar mengganggunya.

Beberapa kali, Steve hampir berhadapan dengan Jessie, ketika keluar masuk gedung apartmen, tapi Steve memilih menjadi pengecut ketika ia memilih berbalik arah menghindari Jessie.

Sial!

Hingga usianya yang sudah menginjak Tiga puluh tahun, Steve tak pernah sekalipun berbalik arah hanya karena menghindari seorang wanita. Hanya Jessie yang mampu membuatnya seperti ini. Sialan perempuan itu. Belum lagi kenyataan bahwa ternyata, Jessie tampak baik-baik saja bahkan tetap melanjutkan hidup bersama dengan kekasih Gaynya itu. Hal itu benar-benar membuat Steve kesal.

Kenapa hanya ia yang mendapatkan efek sialan dari percintaan panas mereka malam itu? Kenapa Jessie tidak?

Dengan kesal Steve berdiri dan segera menuju ke arah kamar mandinya. Ia memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin hingga memadamkan gairah sialan yang terbangun karena memimpikan tentang malam panas bersama dengan Jessie.

Hari ini, jadwalnya cukup padat. Ada beberapa pemotretan yang berhubungan dengan rancangan Jessie. Yang membuat Steve tak khawatir adalah, bahwa Jessie pasti meminta Miranda untuk mengatur pemotretan tersebut hingga mereka tak perlu saling bertatap muka. Setidaknya itulah yang terjadi selama tiga minggu terakhir jika pekerjaan mereka saling bersinggungan. Itu pula yang membuat Steve tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan Jessie, karena Steve tahu bahwa Jessie ingin menghindarinya.

Setelah pemotretan, Steve memiliki sebuah kencan dengan Donna Simmon. Wanita berambut pirang yang dikenalkan oleh Hank dua hari setelah ia datang mengunjungi temannya itu.

Donna adalah perempuan cantik, berkelas, seksi, dan sangat memenuhi kriteria Steve. Tapi Steve akan berdiri pada pendiriannya bahwa ia tak akan mengajak Donna Simmon untuk naik ke atas ranjangnya. Ya, ia mencoba kencan yang sesungguhnya, bukan hanya seks. Ia ingin menjalin sebuah hubungan, sebuah komunikasi hingga Donna juga bisa dijadikan sebagai teman seperti Jessie, bukan sekedar kekasih di atas ranjangnya saja.

Oh, Sial! Kenapa juga ia kembali memikirkan Jessie?

Setelah puas membersihkan diri di dalam kamar mandinya, Steve menuju ke arah lemari pakaiannya. Ia hanya mengenakan T-shirt dipadukan dengan celana jeans belel. Sesekali ia bersiul dan memilih-milih pakaian apa yang cocok untuk ia kenakan nanti ketika berkencan dengan Donna, karena nanti ia akan mengganti pakaiannya di studio fotonya agar tak bolak-balik ke apartmennya.

Jika hubungannya dengan Jessie tidak renggang seperti sekarang, mungkin Steve akan meminta Jessie naik lima lantai ke apartmennya saat ini juga hanya untuk meminta pendapat wanita itu.

Berengsek! Kenapa lagi-lagi ia memikirkan Jessie?

Sembari mengusap rambutnya sendiri dengan kasar, Steve berjalan menuju ke arah dapurnya. Mungkin meminum kopi akan membuat pikirannya tenang dan melupakan tentang Jessie. Sial! Ia benar-benar harus melupakan tentang wanita itu, tentang gairahnya, tentang obsesinya terhadap tubuh wanita itu. Ia harus fokus pada pekerjaannya, pada kencannya hari ini dengan Donna Simmon. Ya, tak akan ada Jessie lagi.

***

Sialnya, resncana Steve untuk melupakan Jessie sepertinya akan gagal siang ini. masalahnya adalah, yang datang menata busana si model ternyata bukan Miranda, melainkan Jessie sendiri.

Sial!

Steve tak berhenti mengumpat dalam hati. Kecanggungan kembali terasa diantara mereka, mungkin Steve sendiri yang merasa canggung, atau Jessie yang seakan tak ingin berurusan dengannya kecuali tentang pekerjaan.

Dengan sesekali mengusap tengkuknya, Steve berjalan menuju ke arah Jessie yang kini masih sibuk membenarkan letak beberapa aksesoris di pakaian yang dikenakan si model.

“Hai.” Sedikit ragu Steve menyapa Jessie.

“Hai juga.” Jessie menjawab singkat. Tapi matanya belum teralih dari sesuatu yang ia kerjakan.

“Kupikir, Miranda yang akan datang.”

“Dia cuti hari ini. Jadi aku yang datang.” Jawabnya lagi masih enggan menolehkan kepalanya ke arah Steve.

“Kau, tak perlu datang dan bisa menunda pekerjaan ini jika kau tak ingin berada di sini.”

Akhirnya Jessie mengangkat wajahnya menatap jengkel ke arah Steve. “Aku adalah orang yang profesional. Aku tak akan mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan.”

“Oh ya? Baguslah. Aku hanya tidak ingin mendengar tentang vibrator lagi.”

Si model yang berada di antara mereka berdehem seketika. Sedangkan Jessie, ia melemparkan tatapan membunuh ke arah Steve, dan Steve, ia memilih pergi meninggalkan Jessie dengan senyum merekah di wajahnya.

Ketegangan masih ia rasakan, setidaknya, Steve merasa bahwa Jessie tak sesensitif saat di butik wanita itu dua minggu yang lalu. Dan Steve tak dapat menahan diri untuk tidak menggoda wanita itu. Bagaimanapun juga, dalam hati Steve yang paling dalam, ia menginginkan hubungannya dengan Jessie kembali seperti semula, berteman lagi seperti dulu, menggoda wanita itu lagi hingga membuatnya marah, meski sebenarnya, hal itu tak akan mungkin terjadi lagi.

-TBC-

3 thoughts on “Sleeping with My Friend – Bab 5”

  1. Waw pntes steve ga biza lupa adegan kamar mandi na hot banget sih , baikan gih jangan lama” berantem na ga baik buat kesehatan .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s