My Beautiful Mistress – Bab 6

Comments 2 Standard

 

Tanpa diduga, jemari mungil Ellie mencari jemari Jiro, menggenggamnya dengan erat, kemudian ia berkata. “Perlu kamu tahu bahwa aku juga takut. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami masa kehamilan. Aku takut, dan aku merasa sendiri.” kemudian dengan spontan Ellie membawa jemari Jiro peda perutnya. “Aku butuh kamu, bayi kita juga butuh kamu. Maukah kamu menemaniku menghadapi ketakutan kita bersama-sama?”

Jiro menatap Ellie dengan intens, secara spontan Jiro mengangguk. Ya, ia mau melewati semuanya dengan Ellie, ia mau mengadapi ketakutannya bersama istrinya tersebut. Tapi dapatkah ia melakukannya? Sanggupkah ia menghadapinya?

***

Bab 6

 

Jiro masih bungkam seribu bahasa, bahkan setelah Dokter Sandra selesai melakukan USG. Ellie sendiri tidak bisa menebak apa yang dirasakan Jiro, apa yang dipikirkan oleh lelaki itu. Meski sejak tadi Jiro tak berhenti menggenggam telapak tangannya, tapi Ellie masih merasa sedikit takut, jika Jiro tak siap menjadi orang tua dan memilih untuk menyerah.

Akhirnya, Ellie bangkit, ia membersihkan sisa gel pada permukaan kulit perutnya dengan tissue yang tersedia di sana. Jiro hanya mengamatinya saja dan hal itu benar-benar membuat Ellie tak nyaman.

“Kamu kenapa James? Apa yang kamu pikirkan?” Ellie bertanya dengan sedikit kesal karena sejak tadi Jiro tak menampilkan reaksi apapun selain hanya diam dengan wajah datarnya.

“Tidak ada.” Hanya itu jawabannya dan hal itu membuat Ellie semakin kesal.

“Kalau kamu tidak suka dengan hal ini. Maka aku janji bahwa ini akan menjadi pengalaman terakhir kamu mengantarku ke sini.”

“Aku tidak bilang tidak suka. Jangan berpikir macam-macam.”

“Tapi kamu hanya diam dan tidak bereaksi apapun!” Ellie berseru keras.

“Diam bukan berarti tidak suka.” Dengan sendirinya jemari Jiro mendarat pada perut Ellie, dan hal tersebut benar-benar membuat Ellie terkejut. “Aku hanya masih tidak percaya, ada sebagian dari diriku yang tumbuh di sini.” Jiro berkata dengan sangat lembut. Padahal Ellie hampir lupa, kapan terakhir kali Jiro berkata dengan nada selembut ini.

Dan tanpa diduga, Ellie segera memeluk Jiro. Membuat Jiro tertegun dengan apa yang dilakukan istrinya tersebut. “Terimakasih, James.” Ucapan terimakasih tersebut bahkan tak dimengerti Jiro. Untuk apa Ellie berterimaksih kepadanya?

***

“Ini resep yang harus ditebus di apotek.” Ucap Dokter Sandra sembari menyodorkan sebuah kertas bertuliskan daftar obat.

“Obat? Apa ada masalah? Kenapa harus minum obat?” tanya Jiro khawatir.

Dokter Sandra tersenyum. “Itu hanya vitamin untuk ibu hamil, dan obat mual. Walau Nyonya Ellie bilang jika dia tidak merasakan mual muntah sepereti kebanyakan ibu hamil, tapi untuk berjaga-jaga saja. Tidak perlu diminum jika tidak mual.”

Jiro hanya mengangguk.

“Jadi, saya jadwalkan untuk kesini lagi bulan depan, di tanggal yang sama.” Dokter Sandra menandai pada kalendernya. “Saya harap, Anda juga ikut kembali, Tuan Jiro.” Ucap Dokter Sandra sungguh-sungguh.

“Sebenarnya, saya sangat ingin. Dan saya ingin membahas hal ini sejak tadi. Apa Rumah sakit ini melindungi privasi pasiennya?”

“Saya kira semua rumah sakit memiliki privasi. Ada masalah?”

Jiro ingin mengatakan kekhawatirannya tentang media yang mungkin saja memergokinya di tempat ini dengan Ellie. Tapi sepertinya, tak ada gunanya membahas tentang masalahnya ini dengan Dokter Sandra.

Akhirnya Jiro hanya menjawab “Tidak.”

Dokter Sandra sendiri mengerti apa yang ada di dalam pikiran Jiro. “Anda tenang saja, Saya dan staf saya akan melindungi privasi pasien dan keluarga.”

Dokter Sandra dan susternya memang iya, tapi Jiro tak bisa menjamin pengunjung rumah sakit lain atau bahkan mungkin suster-suster lain.

Jiro hanya tersenyum dan mengangguk. “Terimakasih.” Kemudian ia dan Ellie bangkit dan bersiap meninggalkan ruangan Dokter Sandra. Dokter Sandra sempat berpesan agar Ellie menjaga kesehatan dirinya dan juga bayinya sebelum keduanya hilang dibalik pintu ruangannya.

Jiro keluar bersama dengan Ellie di sebelahnya. Orang-orang yang menunggu di sana dan tadi sempat mengerubungi Jiro akhirnya menatap kepergian keduanya. Jiro meraih telapak tangan Ellie, dan dengan posesif ia menggenggam erat telapak tangan istrinya tersebut sembari berjalan lurus seakan tak mempedulikan mata yang menatap ke arahnya.

Di sudut lain, seseorang berkata pada temannya dengan gembira. “Ini kalau gue kirim ke akun gosip, bakal rame. Dan bakal jadi gosip panas mengalahkan gosip tentang gadis misteriusnya Jason.” Ucap orang tersebut sembari membuka-buka gambar yang berhasil ia tangkap dengan ponselnya. Bahkan orang tersebut sempat memvideokan kebersamaan Jiro dengan Ellie.

“Elo yakin?” tanya temannya.

“Yakin lah… Dan gue pasti dapat duit kalo bisa ngasih bukti video dan foto-foto ini.”

“Wahh, jangan lupa teraktir. Oke?”

“Sip. Sekarang, bantu gue cari akun gosip yang berani bayar mahal video gue.”  Setelah itu, keduanya kembali pada pekerjaan masing-masing dengan pikiran masing-masing.

***

Ellie tidak tahu Jiro mengajaknya ke mana. Mereka berhenti di basement sebuah gedung apartmen. Tanpa banyak bicara, Jiro melepas seatbeltnya dan juga membantu Ellie melepaskan seatbealt yang dikenakan Ellie. Ellie tak mengerti, sejak kapan Jiro menjadi semanis ini.

Kemudian Jiro membuka suaranya, berkata bahwa ini adalah gedung apartmen dimana ia tinggal selama ini. Astaga, bahkan Ellie baru tahu jika selama ini Jiro tinggal di gedung ini.

“Kenapa kamu ngajak aku ke sini?” tanya Ellie kemudian.

“Tadi, ada orang yang ngangkut barangku, tapi ada beberapa yang tertinggal dan aku ingin mengambilnya sekalian.”

“Kamu benar-benar pindah?”

“Ya. Bukannya kamu yang minta?”

Ellie tersenyum. Ia senang dengan sikap Jiro yang hangat.

“Ayo keluar.” Ajak Jiro. Dan Ellie hanya menganggukkan kepalanya.

***

Yang ada di dalam benak Ellie saat memasuki apartmen suaminya adalah, bahwa apartmen itu cukup besar dan luas. Interiornya maskulin, bahkan jika ada tamu, si tamu akan mengenali jika apartmen ini milik seorang lelaki. Tak ada hiasan berharga di sana. Hanya ada satu dua lukisan yang terbingkai di dinding. Tak ada foto apapun di sana. Jangankan fotonya, foto lelaki itu sendiripun tak ada.

Ellie menuju ke sebuah lemari besar yang terbuat dari kaca. Di sana ada beberapa benda seperti gitar yang dijadikan menjadi sebuah pajangan. Apakah itu Bass milik Jiro? Apakah alat itu yang biasa dimainkan Jiro? Tiba-tiba, Ellie ingin melihat Jiro memainkan salah satunya.

Selama ini, Ellie hanya melihat penampilan Jiro melalui Youtube. Tak pernah sekalipun ia melihat penampilan Jiro secara nyata di hadapannya. Saat melihat di Youtube, Ellie sangat terpana. Meski suaminya itu bukanlah seorang vokalis atau penyanyi yang merupakan sosok vital di dalam sebuah band, nyatanya, dimata Ellie hanya Jirolah yang paling bersinar di sana.

Ellie mengamati Bass Jiro satu persatu, hingga ia tidak sadar jika saat ini Jiro sedang mengamatinya.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Jiro kemudian.

Ellie membalikkan tubuhnya, dan ia mendapati Jiro berdiri tepat di belakangnya. “Uum, ini gitar?” tanyanya sambil menunjuk salah satunya.

“Bass. Kalau ini.” Jiro membuka lemari tersebut dan mengambil salah satunya. “Ini gitar.”

“Kamu bisa memainkannya?”

“Ya. Selain memainkan Bass, aku juga suka main gitar.”

“Aku tidak pernah melihatmu memainkannya.”

Tentu saja. Bahkan bertemu saja jarang. Ingat, Jiro hanya akan menemui Ellie ketika lelaki itu sedang membutuhkan sebuah pelepasan. Setelah itu, mereka kembali hidup sendiri-sendiri.

“Aku sangat jarang bermain gitar di hadapan orang. Permainanku tak sebagus Ken.”

“Ken?” tanya Ellie. Ellie tahu tentang The Batman. Tapi Ellie tidak peduli tentang personil lainnya kecuali Jiro. Karena baginya, The Batmanlah yang membuat Jiro jauh dari dirinya, jadi Ellie tidak begitu suka dengan band suaminya tersebut.

“Duduklah dulu. Aku akan membuatkanmu minum.”

“Tapi, aku ingin mendengarmu bermain gitar.” Ucap Ellie kemudian. Ellie ingin menguji Jiro, apa lelaki itu akan menuruti keinginannya atau tidak. Bersikap manja dengan Jiro saat ini sepertinya bukan masalah. Ia hanya perlu menggunakan kehamilannya sebagai alasan, seperti yang disarankan Mei.

“Aku akan memainkannya nanti, duduk saja dulu.”

Dengan senang hati, Ellie duduk di sofa panjang milik Jiro yang berada tepat di sebelah jendela apartmen Jiro. Apartmen lelaki ini berada di lantai Lima belas, cukup tinggi hingga bisa membuat Ellie melihat ke arah jalanan kota Jakarta yang terlihat dari dalam apartmen Jiro.

Ketika Ellie menikmati pemandangan di luar jendela. Saat itulah Jiro menghampirinya dengan membawakan sesuatu yang mengepul dari dalam cangkir.

“Cokelat panas.” Ucapnya sembari menyuguhkan cangkir tersebut di hadapan Ellie.

Jiro kembali menuju ke arah jajaran Bass dan juga gitarnya, mengambil sebuah gitar lalu menuju ke arah Ellie. Ia duduk tepat di sebelah Ellie, dan Ellie merasa jantungnya berdebar tak karuan.

“Lagu apa yang mau kamu dengar?” tanya Jiro kemudian.

“Entah. Aku hanya ingin melihatmu bermain musik saja.”

Jiro mulai memetik gitarnya. “Selama ini, apa kamu nggak pernah melihatku bermain musik?”

“Pernah. Sering. Tapi hanya lewat youtube.” Jawab Ellie dengan jujur.

Jiro tersenyum. Kepolosan Ellie telah kembali, Jiro senang.

There goes my heart beating

‘Cause you are the reason

I’m losing my sleep

Please come back now

Jiro mulai bernyanyi. Ternyata, Suara lelaki itu tak kalah bagus dengan suara sang vokalis The Batman. Jiro memiliki suara serak-serak basah yang mebuat Ellie terpana seketika saat mendengarkan lelaki itu bernyanyi.

There goes my mind racing

And you are the reason

That I’m still breathing

I’m hopeless now

Lagu Calum Scott terdengar begitu romantis saat Jiro menyanyikan dengan suara seraknya. Petikan gitar lelaki itu begitu pas. Astaga, sejak kapan lelaki ini terlihat sangat romantis di mata Ellie?

I’d climb every mountain

And swim every ocean

Just to be with you

And fix what I’ve broken

Oh, ’cause I need you to see

That you are the reason

Astaga, entah apa yang membuat lagu tersebut begitu mengena di hati Ellie. Jiro masih melanjutkan lagunya, setiap katanya, setiap artinya, seakan pas dengan apa yang terjadi dengan mereka. Apa Jiro sengaja memilih lagu itu untuk menggambarkan apa yang ia rasakan?

Tidak mungkin!

Mungkin hanya kebetulan saja. Dan mungkin karena hormon sialannya yang membuat Ellie berpikir macam-macam bahwa lagu itu begitu pas dengan apa yang terjadi pada hubungan mereka.

Ellie masih mendengarkan dengan seksama. Jantungnya masih berdebar dengan cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Matanya tak berhenti menatap ke arah Jiro. Jiro begitu menikmati lagunya, lelaki itu seakan bercerita tentang apa yang ia rasakan.

Tapi itu lagi-lagi tidak mungkin!

Jiro bukan pria yang romantis, jadi Ellie cukup tahu bahwa apa yang dilakukan Jiro saat ini hanya sebatas menuruti kemauannya. Hanya memanyi, bukan bercerita tentang apa yang dirasakan lelaki itu. Ya, hanya itu.

Pada saat bersamaan, Jiro telah menyelesaikan lagunya. Dengan spontan Ellie bertepuk tangan. Ia sangat menikmati pertunjukan kecil Jiro tersebut. Jiro menatapnya dan lelaki itu tersenyum. Entah sudah berapa kali lelaki itu tersenyum padanya sepanjang hari ini, Ellie tidak tahu. Yang Ellie tahu adalah bahwa ia sangat menikmati kebersamaannya dengan Jiro.

“Kamu ternyata punya suara yang bagus.”

“Tidak sebagus yang lain. Jase memiliki suara emas dan sangat sempurna ketika bernyanyi, begitupun dengan Ken.”

“Oohh.” Hanya itu tanggapan Ellie, karena ia tidak mengenal Jase atau Ken yang disebutkan Jiro, jadi Ellie tidak tahu harus menanggapi seperti apa.

“Maaf. Aku belum bisa mengenalkanmu pada mereka.” Tiba-tiba saja Jiro mengucapkan kalimat itu.

“Tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin mengenal mereka.” Jawab Ellie cepat.

“Kenapa?”

“Tidak penting.”

Jiro tertawa lebar. Ia tidak menyangka bahwa jawaban istrinya akan seperti itu. Astaga, The Batman saat ini berada di puncak popularitas, siapa saja ingin mengenal mereka secara pribadi, dan Ellie, wanita itu benar-benar tampak enggan membahasnya. Jika Jason, Ken atau bahkan Troy tahu, pasti teman-temannya akan penasaran, seperti apa Ellie sebenarnya.

“Jason itu orang yang sangat diinginkan di kalangan anak muda. Dia memiliki suara emas, penjiwaannya keren. Begitupun dengan Ken. Dia sangat berbakat, juga memiliki suara yang bagus, dia vokalis kedua kami. Jase dan Ken adalah yang paling sering menciptakan lagu-lagu untuk The Batman. Sedangkan Troy, dia terkenal di kalangan model, dia panas dan sangat menggoda untuk wanita-wanita.”

“Kan aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli.”

“Kenapa?” tanya Jiro memancing Ellie.

“Aku sudah bersuami.”

Jiro mengangguk. “Oh ya? Meski suamimu tak sekeren mereka?”

“Kata siapa? Suamiku adalah yang paling keren.”

“Sekeren apa?”

Ellie tidak bisa menjawab. Ellie tidak tahu apa yang membuat Jiro tampak lebih keren dan mempesona dibandingkan dengan lelaki lainnya. Bahkan sejak menikah dengan lelaki itu, Ellie tak pernah berpikir melirik sedikitpun pada lelaki lain. Ia tidak tahu dan ia tidak mengerti kenapa Jiro begitu memikatnya.

“Aku tidak tahu. Yang kutahu, bahwa dia adalah yang paling bersinar diantara yang lain.” Jawab Ellie masih dengan menundukkan kepalanya.

Jiro tertegun mendengar jawaban dari istrinya tersebut. “Kamu menyukainya?” tanyanya dengan spontan, wajah Jiro bahkan lebih serius ketimbang tadi.

“Ya. Jika tidak, maka aku tidak akan bertahan di sisinya.”

Lagi-lagi Jiro bertindak dengan spontan, ia menangkup kedua pipi Ellie lalu mendaratkan bibirnya pada bibir wanita itu. Jiro mencumbu Ellie dengan begitu lembut. Ia menciumnya dengan penuh perasaan. Oh, Jiro tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tidak dengan Ellie, tidak juga dengan wanita lain. Hatinya sangat sulit disentuh, tapi jawaban Ellie tadi benar-benar mampu menyentuh hatinya. Jawaban sederhana dan polos.

Bodoh! Sangat bodoh! Karena selama ini ia sudah menyia-nyiakan istrinya yang cantik jelita ini, mengabaikan keberadaan wanita yang polos dan sederhana seperti Ellie. Jiro benar-benar merasa menjadi seorang yang paling tolol. Bagaimana mungkin ia bisa buta?

Setelah cukup lama saling mencumbu mesra satu sama lain, Jiro melepaskan tautan bibir mereka ketika merasakan napas Ellie sudah terputus-putus. Wanita itu menunduk seketika, kulitnya merah merona, seakan gugup dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.

Jiro mengangkat dagu Ellie, berkata dengan spontan pada wanita itu. “Aku menginginkanmu.”

Jiro tak pernah menunjukkan secara terang-terangan hasrat seksualnya. Karena biasanya, ia hanya akan memulainya begitu saja tanpa banyak bicara. Tapi kini, Jiro seakan ingin menunjukkan pada Ellie, bahwa lelaki itu benar-benar menginginkan Ellie.

Ellie tak dapat menolaknya, karena ia memiliki keinginan yang sama dengan apa yang diinginkan Jiro. Cumbuan lelaki itu benar-benar memabukkan. Ellie ingin mengulangi malam indah saat itu. Ellie ingin bercinta kembali dengan Jiro. Percintaan yang sesungguhnya, bukan hanya seks untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Karena Ellie tidak mengungkapkaan penolakannya, akhirnya Jiro bangkit kemudian tanpa banyak bicara lagi ia mengangkat tubuh Ellie, menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.

Ellie sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Jiro, tapi ia tidak membantah, menolak, apalagi meronta. Ia menginginkan Jiro bersikap lembut seperti ini. Jadi yang bisa Ellie lakukan hanya diam saja, menuruti apapun keinginan lelaki tersebut.

Jiro menurunkan Ellie di dekat ranjang. Ellie sempat mengamati bagaimana interior kamar Jiro yang hampir mirip dengan ruangan tengah. Tak ada hiasan apapun, tapi Ellie juga sempat melihat beberapa gitar dan Bass yang terpajang di sudut ruangan.

Ellie berdiri menghadap ke arah Jiro, Jiro begitu dekat dengannya. Tanpa diduga, lelaki itu membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Ada banyak tatto di tubuh Jiro, membuat Ellie mengagumi bagaimana gagahnya lelaki tersebut. Padahal Ellie tahu ini bukanlah pertama kalinya Ellie melihat Jiro bertelanjang dada.

Jemari mungil Ellie dengan spontan mendarat pada dada bidang Jiro. Menyentuhnya dengan berani, mengamati inchi demi inchi tinta hitam yang terlukis di tubuh suaminya tersebut. Ya, baru kali ini Ellie melihat dengan jelas bagaimana tulisan tersebut terlukis dengan sempurna di tubuh suaminya. Hingga kemudian, jemarinya berhenti pada huru-huruf aneh yang terletak pada dada kiri suaminya.

“Apa ini?” tanyanya.

“Tatto.”

“Aku tahu. Kenapa kamu memiliki tatto seperti ini?” tanya Ellie penasaran. Itu adalah huruf-huruf Yunani kuno. Ellie tidak tahu kenapa Jiro bisa memiliki tato dengan huruf Yunani kuno. Ellie berharap mengetahui apa artinya.

“Kenapa? Kamu tidak suka? Aku bisa menghapusnya jika kamu tidak suka.”

Ellie menggelengkan  kepalanya. Ellie hanya ingin tahu apa artinya.

Elisávet. Itu ejaannya.” Wajah Ellie terangkat menatap ke arah Jiro seketika. “Ellisabeth.” Jiro sedikit tersenyum “Kupikir itu mirip dengan nama istriku, jadi aku menulisnya di sana.” Lanjutnya.

“Kenapa?” dengan spontan Ellie bertanya. Ya, kenapa Jiro menuliskan namanya dalam bahasa Yunani di tubuh lelaki itu?

“Mungkin, untuk mengingatkanku, bahwa aku memiliki istri yang bernama Ellisabeth, dan dia sedang menungguku pulang.”

Mata Ellie berkaca-kaca.

“Nyatanya, aku tetap lupa untuk pulang.” Lanjut Jiro lagi.

Dengan berani, Ellie menjinjitkan kakinya, mengalungkan lengannya pada leher Jiro, kemudian menggapai bibir suaminya tersebut. Ellie tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Astaga, bisa saja Jiro membohonginya, bisa saja Jiro hanya merayunya dengan tatto tersebut. Tapi Ellie tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perasaannya yang seakan semakin membuncah untuk suaminya tersbut. Tidak salah bukan jika ia merasakan perasaan seperti ini pada suaminya sendiri?

-TBC-

Advertisements

(Mini Story) – Wedding Day (Sleeping with my Friend)

Comments 9 Standard

Haiiii mini story tentang Steve dan Jess nihhh… ingat yaaa Scene mini Story ini gak ada di dalam novel…. hahhahahhaa happy reading… muwaahhhh

 

 

(Sleeping with my Friend) – Wedding Day

 

Jessica Summer

 

“Mencintai dalam susah maupun senang, sehat maupun sakit, akan tetap bersama hingga maut memisahkan.”

Ucapan Steve membuatku tersenyum. Aku senang mendengarnya mengatakan kalimat tersebut, ketika aku berada di sisinya. Meski sebenarnya, aku tahu, bahwa hal ini hanya untuk latihan drama disekolah yang akan diselenggarakan akhir bulan nanti.

Ya, kami didaulat menjadi pemeran utama. Steve sangat senang. Ia tampak antusias, begitupun denganku.

Sudah sejak lama aku memendam perasaan ini pda Steve, temanku. Aku tidak tahu, hal ini terjadi sejak kapan. Intinya, aku tak berhenti berdebar ketika dia berada di sekitarku. Steve mampu mempengaruhiku, Steve mampu membuatku salah tingkah.

Dengan polos, aku pernah menceritakan hal ini pada Frank, dan Frank berkata kemungkinan besar aku sedang jatuh cinta. Cinta pertamaku jatuh pada seorang Steven Morgan. Temanku sendiri. Astaga, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Steve kemudian mengecup keningku, dan semuanya bertepuk tangan. Latihannya sudah berakhir, tapi aku masih merasakan kehangatan dari perkataan Steve tadi. Oh, andai saja hal ini benar-benar terjadi. Menikah dengan Steve? mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini.

***

Tiga hari berlalu….

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba Steve bersikap aneh terhadapku. Dia sedkit menjauhiku, dan aku tidak tahu, apa salahku.

Aku menghampirinya ketika kami berada di rumahnya. Mencoba bersikap natural seperti tak terjadi apapun, dan dengan begitu menyebalkan, Steve menghindariku.

Astaga, apa yang terjadi dengannya?

Akhirnya aku mendekatinya lagi, kemudian aku bertanya “Apa yang terjadi denganmu?”

Steve menjawab. “Tak ada.”

“Kau menghindariku, aku merasakannya.”

Steve memutar bola matanya jengah. “Dengar, Jess. Sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini padamu. Tapi Frank sudah mengatakannya padaku, bahwa kau, kau menyukaiku?”

“Astaga!” aku berseru keras. Tak percaya bahwa Frank akan mengkhianatiku.

“Kami minum saat itu, dia mabuk dan dia meracau.”

“Kalau begitu jangan percaya apa yang dikatakannya.”

“Orang mabuk biasanya mengatakan hal yang sebenarnya.”

“Tapi tidak dengan Frank! Dia gila!” aku mencoba mengelak. Ya Tuhan Frank! Aku tak akan memaafkannya.

“Maksudmu, kau… Kau… tidak memiliki perasaan lebih terhadapku, bukan?”

“Tentu saja Tidak! Kau bukan tipeku, Morgan!” Ya, aku harus berbohong, jika hal itu mengembalikan sikap Steve kapadaku. Pertemananku dengan Steve terlalu berharga untuk dikorbankan dengan perasaan cinta.

Lagipula, kupikir perasaan ini hanya sementara. Semua akan hilang dengan berjalannya waktu. Tapi aku tidak ingin pertemananku dengan Steve hancur karena masalah ini. aku rela memendam semuanya asalkan hubungan kami kembali normal. Aku tidak ingin Steve menghindariku lagi.

Steve tertawa lebar. Aku tahu bahwa dia lebih memercayaiku ketimbang Frank, dan aku bersyukur karena hal itu. Dia kembali, Steveku telah kembali…

“Dan kau juga bukan tipeku, Miss Summer.” Steve berucap dengan santai. Meski dia berkata diiringi dengan senyuman lebarnya, tapi tetap saja, aku tersakiti karena perkataannya.

“Kau tahu, aku lebih suka gadis pirang. Dan tentunya, berpayudara besar.” Lagi perkataan Steve seakan seperti tombak yang menghancurkan hatiku. Aku tak memiliki rambut pirang. Mungkin aku bisa mendapatkannya dengan cara mewarnai rambutku, tapi itu tak bisa menarik hati Steve, karena akupun tak memiliki sepasang payudara besar seperti apa yang dia katakan.

“Aku tahu.” Aku bersungut-sungut.

Steve lalu menangkup kedua bahuku, menghadapkan diriku ke arahnya. Kemudian dia berkata dengan sungguh-sungguh. “Jess, kau mungkin bukan tipe wanita yang ingin kukencani, tapi percayalah, hanya kau wanita yang paling special yang pernah kukenal. Kau selalu menempati salah satu tempat di sudut hatiku, dan tempat tersebut tak akan tergantikan oleh siapapun.”

Aku kembali menghangat dengan ucapan Steve. Steve benar, meski aku bukan tipenya, meski aku tak akan pernah menjadi teman kencannya. Tapi aku cukup senang dengan status kami. Dengan kedekatan kami. Ya, aku cukup senang dengan hal itu…..

***

Semua kejadian itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Aku tak menyangka jika kini, hari itu benar-benar terjadi. Hari dimana aku akan menikah dengan temanku sendiri, Steven Morgan.

Semua berawal ketika aku menghabiskan sebuah malam dengan Steve, kemudian aku hamil. Mungkin pernikahan ini hanya karena kehamilanku. Mungkin Steve melakukan semua ini karena kewajiban bertanggung jawab terhadapku maupun dengan bayiku, tapi bolehkah aku bahagia karena hal ini? karena kejadian tak masuk akal ini?

Mataku tak berhenti menatap ke arah Steve. saat ini, dia sedang berdiri di atas panggung dan memberikan kata sambutan. Menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

“Dulu aku berkata bahwa Jess bukanlah tipe wanita yang ingin kukencani. Ya, itu memang benar. Bahkan hingga kinipun sama. Karena Jess bukan wanita yang ingin kukencani, tapi dia adalah wanita yang ingin kunikahi.”

Suara tepuk tangan meledak setelah ucapan Steve itu. Wajahku memanas seketika. Aku tahu bahwa Steve mengatakan hal itu agar terlihat manis saja. Dia tak ingin  menikahiku jika bukan karena bayi ini. tapi aku tetap menikmati sandiwaranya. Bagaimanapun juga, dia memang terlihat manis.

Entah, dia berkata apa lagi, aku tak tahu, dan aku tak ingin tahu. Aku hanya takut perasaanku yang dulu sudah pupus kembali tumbuh untuknya. Steve bukanlah lelaki yang cocok untuk dicintai. Bahkan aku yakin, dia tidak mengenal apa itu cinta. Aku hanya tidak ingin mengalami patah hati lagi seperti beberapa tahun yang lalu. Jadi aku memilih menjaga diriku agar tidak jatuh terlalu dalam pada seorang Steven Morgan.

Kemudian, tanpa kuduga, Steve bernyanyi. Ya ampun, apa yang sedang dia lakukan? Setahuku, Dia tidak memiliki suara bagus, bahkan sejak dulu, Steve paling benci menyanyi. Tapi kini, dia menyanyi, untukku? Tidak! Itu tidak mungkin! (Kalian bisa putar lagu dibawah sambil baca. ini lagu yg dinyanyiin Steve)

I found a love for me

Darling just dive right in

And follow my lead

Aku tak menyangka dia menyanyikan lagu itu. Ini adalah salah satu lagu favoritku. Dan Steve menyanyikannya di sini, dihadapan semua orang, pada pernikahan kami.

Well I found a girl beautiful and sweet

I never knew you were the someone waiting for me

Steve turun dari panggung dan dia menuju ke arahku.

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was

I will not give you up this time

Dia menarikku agar berdiri dan akupun ikut berdiri bersamanya. Musik mulai mengalun dengan lembut mengiringi lagunya. Jemari Steve terulur mengusap lembut pipiku. Dia kembali bernyanyi.

But darling, just kiss me slow, your heart is all I own

And in your eyes you’re holding mine

Steve mulai mengajakku menari. Kaki kami bergerak seirama dengan musik yang mengalun lembut dan terdengar romantis. Steve tetap melanjutkan lagunya, dan aku benar-benar tak menyangka jika dia bisa menyanyi dengan begitu baik seperti ini.

Baby, I’m dancing in the dark with you between my arms

Barefoot on the grass, listening to our favorite song

When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath

But you heard it, darling, you look perfect tonight

Pada saat itu, kening Steve menempel pada keningku. Bahkan setelah dia menyelesaikan bait terakhir, sekilas dia menyapu lembut bibirku, hanya sekilas tapi itu mampu membuatku bergetar. Suara tepuk tangan pecah. Tapi aku tak menghiraukannya.

Aku lebih fokus dengan debaran jantungku. Dan entah perasaanku saja atau memang benar bahwa Steve juga sama berdebarnya dengan apa yang kurasakan. Oh Tuhan! Tidak! Ini tak bisa seperti ini.

Jika Steve selalu memperlakukanku dengan semanis ini, maka perasaanku yang dulu akan kembali tumbuh. Atau, apa memang perasaan itu sudah tumbuh tanpa kusadari?

Astaga, apa yang harus kulakukan selanjutnya?

Bagaimana ini?

Aku…. Astaga…. Apa benar, bahwa aku… Aku sudah kembali mencintainya?

-End-

Bonus Pict

 

 

 

 

 

(Mini Story) – Natal Pertama (My Beautiful Mistress)

Comments 10 Standard

 

Dislaimer : Haiii… ini dia mini story pertama yang aku Posting di blog aku, dan hanya di blog yaa… mungkin nanti bakal aku convert dan aku jual juga di google play, tapi aku jamin, di blog gak akan aku hapus mini story ini. INFO juga, cerita ini TIDAK ada di dalam novel my beautiful mistress sendiri. jadi kayak cerita ini itu Oneshoot atau side story cerita utama my beautiful mistress gitu yaa.. hahhaahhaah  dan betewe, aku juga bakal bikin mini story cerita lainnya, entah ceritanya kak Dhanni, Renno, Brandon, atau yang lainnya. jadi biar Blog aku kembali seperti suasana dulu, rame dan asikk.. okee…. ya sudah, happy reading….

 

(My Beautiful Mistress) – Natal  Pertama

 

Aku masih duduk tepat di depan jendela. Kulihat hujan tak berhenti turun. Jika ini di inggris, mungkin salju yang turun. Astaga, aku merindukan salju. Besok adalah natal pertama yang kulalui tanpa kedua orang tuaku.

Beberapa bulan yang lalu, aku menikah dengan seorang yang tak kukenal. Namanya James Drew Robberth. Seorang yang cukup pendiam, dan bagiku sedikit misterius. Kahidupan pernikahan kami biasa-biasa saja awalnya, tapi kemudian, semua menjadi tak normal ketika James memutuskan untuk pindah ke apartmen yang baru ia beli.

Semua karena ambisinya menjadi seorang artis. Ia tidak ingin hubungan pernikahan kami terendus oleh media. Karena James juga memiliki kontrak dengan pihak managementnya. Dan yang bisa kulakukan hanya menerimanya saja. Toh, aku masih tetap menjadi istrinya.

Bicara tentang James, sebenarnya, aku tak menyesal menikah dengannya. Walau dingin, pendiam dan terkesan tak peduli, James adalah sosok yang baik. Dia memenuhi apapun yang kuinginkan, dia memberiku segala fasilitas layaknya aku seorang ratu. Dan dia sangat tampan.

Aku terpesona pada pandangan pertama dengannya. Jantungku selalu berdebar tak karuan saat berada di dekatnya. Dan hal itulah yang membuatku bertahan di sisinya, meski sebenarnya kini hubungan kami jauh dari kata normal.

James hanya akan pulang ketika dia membutuhkan sebuah pelepasan. Setelah itu dia pergi lagi. Dia bahkan tak pernah tidur di rumah ini. mungkin jika tidur, dia memilih tidur di kamar lain atau mungkin di sofa.

Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, apa yang dia rasakan padaku. Kenapa dia seolah menghindariku. Dan hal itulah yang membuatku sedih.

Aku merasa sendiri, aku merasa diabaikan, aku merasa dicampakan, tapi disisi lain, aku merasa bahwa James begitu perhatian padaku.

Kini, Natal pertamaku di negeri ini, dan James belum pulang sejak dua hari yang lalu. Apa dia sibuk?

Kupikir, Bandnya belum cukup terkenal, jadi sepertinya dia tidak sedang sibuk. Ingin sekali aku menghubunginya, tapi James selalu berpesan padaku bahwa aku tidak boleh menghubunginya sebelum dia sendiri yang menghubungiku.

Aku merasa sendiri…

Aku merasa kesepihan…

Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Akhirnya aku memilih bangkit dari tempat dudukku. Aku masuk, menuju ke arah kamar. Di dalam kamar terdapat sebuah pohon natal kecil, di ujung ruangan. Aku tersenyum melihatnya.

James yang membelikannya beberapa saat yang lalu, dia tahu bahwa aku cukup religius mengingat ayahku adalah seorang pendeta. James bahkan menyediakan sebuah tempat di sudut rumah ini yang ia sebut sebagai gereja pribadiku. Ya, dia bahkan menghiasnya dengan patung Yesus dan sejenisnya. Hal-hal seperti itulah yang kadang membuatku bingung dengan sikapnya. Dia baik, tapi kadang, aku merasa dia tak cukup adil memperlakukan diriku sebagai istrinya.

Aku kembali menghela napas panjang. Kakiku menuju ke arah lemari dan mencari pernak pernik natal untuk menghias pohon natal mungil di sudut kamarku.

Sesekali aku bersenandung, membayangkan bahwa natal tahun ini sama seperti natal sebelum-sebelumnya. Bahwa aku masih berada di Inggris, dengan kedua orang tuaku, dan aku masih sendiri. Belum memiliki suami, belum memiliki James.

Ya, karena itulah yang sedang kurasakan saat ini. Sendiri dan sepi….

Jingle bells, jingle bells

Jingle all the way!

Aku mulai bersenandung, kupasangkan pernak-pernik natal pada pohon cemara buatan yang mungil. Seakan menghibur diriku sendiri saat kesepihan melanda.

Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh

Jingle bells, jingle bells

Jingle all the way!

Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh

Meski lagunya adalah lagu ceria, tapi entah kenapa aku merasakan kesedihan yang amat dalam. Aku kesepihan, sangat kesepihan di malam natal ini.

Dan setelah aku membohongi diriku sendiri dan mencoba bersikap kuat, pertahananku runtuh.

Aku terduduk di dekat pohon natal. Memeluk lututku sendiri, kemudian menangis.

Aku kesepihan…

Aku merindukan ibu dan ayah…

Dan aku merindukan James…

Kenapa dia tidak pulang?

***

Rupanya, aku menangis hingga tertidur di sana. Sedikit terkejut saat aku bangun dan sudah berada di atas ranjangku. Yang lebih mengejutkan adalah bahwa tubuhku sudah polos tanpa sehelai benangpun dan hanya tertutup oleh selimut tebal.

Dalam sekejap mata, aku merasakan seseorang menindihku. Dia James, dia pulang. Dan aku senang.

James hanya menatapku, dan aku tersenyum.

“Kamu pulang, James.”

“Ya.” Hanya itu jawabannya.

Tanpa kuduka, James menundukkan kepalanya, dia menciumku. Bukan ciuman yang lembut, tapi aku cukup mengerti bahwa ciuman itu adalah tanda jika dia sedang menginginkanku.

Dan benar saja, tak lama kemudian, James menyatukan diri. Yang bisa kulakukan hanyalah menggigit bibir bawahku. Aku ingin mengerang, tapi aku cukup malu melakukannya. Seks yang kulakukan dengan James biasanya memang hanya seperti ini. Dia lelaki panas yang mampu menggoda siapa saja, tapi aku cukup malu mengakui apa yang kurasakan. Hubunganku dengan James tidak sedekat itu, tidak seintim itu. Kami bahkan jarang saling berbicara.

James mulai menggerakkan tubuhnya, menghujam lagi dan lagi, dan yang bisa kulakukan hanya diam. Aku sudah cukup senang saat dia senang, aku sudah cukup senang saat dia pulang kepadaku. Aku tak akan menuntut lebih karena aku…. Aku mencintainya..

Astaga, entah sejak kapan aku merasakan perasaan ini. Tapi Ya, aku mencintainya. Mencintai James Drew Robberth, lelaki yang sering mengabaikanku, lelaki yang sering membuatku sedih, lelaki yang berstatus sebagai suamiku. Aku mencintainya, meski aku tak yakin, apa yang dia rasakan terhadapku.

Entah sudah berapa kali James memuaskan diri, aku tak peduli, yang kupedulikan hanyalah kewajibanku terhadapnya, untuk membuatnya senang, untuk memuaskannya. Hingga ketika James memutuskan untuk berhenti, aku terkulai lemah tak bertenaga.

Rasa kantuk tiba-tiba menyergapku. Samar-samar kulihat James bangkit, dia memunguti pakaiannya sendiri, mengenakannya. Dan aku hanya bisa tersenyum.

Dia akan pergi lagi…

Dia datang hanya untuk meminta haknya…

Setelah itu dia pergi lagi…

Aku memejamkan mataku, menghentikan bulir air mata agar tidak tumpah dari pelupuk mataku. Lagi pula, aku sudah sangat lelah. Aku ingin tidur, dan mungkin bangun dua hari setelahnya.

Mataku mulai terpejam, dalam kegelapan aku merasakan bibir James menyapu keningku, lalu dia berucap dengan lembut…. “Selamat Natal, Ellie, istriku.”

Aku hanya tersenyum, tak ingin membuka mata karena aku takut jika ini semua hanya mimpiku. Air mataku jatuh dengan sendirinya. Mungkin benar itu hanyalah mimpi, tapi aku tahu bahwa itu akan menjadi mimpi terindah untukku.

Kemudian aku memposisikan diri senyaman mungkin, kembali tertidur dan kembali bermimpi indah. Natal pertama setelah menjadi istri James, ternyata tidak buruk. Aku memang sendirian di negeri ini, aku kesepihan, tapi aku memiliki James, dan James membuatnya indah dengan caranya sendiri.

Selamat Natal, James. Aku mencintaimu….

-End-

Sleeping with my Friend – Bab 10

Comments 4 Standard

 

Bab 10

 

Setelah dicumbu habis-habisan oleh temannya, ralat, mantan temannya, ralat lagi, ayah dari bayi yang ia kandung, akhirnya Jessie tak kuasa untuk menahan rona merah di pipinya. Masalahnya, meski ia ingin menolak, nyatanya ia menikmati apa yang dilakukan Steve. Jessie bahkan membalas cumbuan dari Steve.

Jujur saja, Jessie tak pernah dicumbu dengan begitu bergairah hingga membuatnya nyaris basah seperti yang dilakukan Steve. Tidak dengan Henry, tidak juga dengan mantan kekasihnya yang lain.

Atau mungkin, ini perasaan Jessie saja? Entahlah. Yang pasti, cumbuan Steve begitu menuntut hingga Jessie yakin jika mereka saat ini berada di dalam sebuah kamar, maka kejadian panas malam itu akan kembali terulang.

Dalam hati Jessie sempat bersyukur karena Steve mencumbunya di dalam lift, karena jika saja mereka saling mencumbu di dalam apartmennya, Jessie tak yakin dapat menolak lelaki itu jika lelaki itu menuntut lebih kepadanya.

Lengan Jessie masih setia mengalung, sedangkan wajahnya yang merah padam ia tenggelamkan ke dalam dada bidang lelaki itu.

Ketika Steve keluar dari dalam lift, lelaki itu menghentikan langkahnya ketika seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya. Itu adalah Frank, dan Jessie benar-benar merasa sial karena harus kepergok kakaknya ketika digendong Steve seperti saat ini.

Masalahnya, kakaknya itu pasti akan mengoloknya habis-habisan. Dan saat ini Jessie sedang dalam mode tak ingin diolok sama sekali.

“Kalian baru datang?” Frank menyapa.

“Kau sendiri, kenapa ada di sini?” Jessie mencoba mengabaikan posisinya yang masih digendong oleh Steve. Kalaupun ia ingin diturunkan, lelaki itu tak akan melakukannya.

“Aku ke tempatmu. Kupikir kau sudah pulang. Ada masalah?”

Ya, bahkan saat Jessie masuk rumah sakit di Pennington kemarin, tak ada yang mengabari Frank. Mungkin semua terlalu kalut, terlalu sibuk dengan keterkejutan yang diumumkan Jessie tentang dirinya, bayinya dan juga hubungannya dengan Steve.

“Ya, ada sedikit insiden.” Ucap Jessie dengan pelan.

“Kau, baik-baik saja bukan?” meski kadang suka menyebalkan, Jessie tahu bahwa Frank adalah sosok yang sangat perhatian kepadanya.

“Lebih baik kita masuk. Jess harus banyak istirahat.” Steve angkat bicara.

“Kau sudah tahu tentang keadaannya?” tanya Frank pada Steve.

“Jika yang kau maksud adalah tentang kehamilannya, maka Ya, aku dan semua warga Pennington sudah tahu.”

“Woww. Kau hebat sekali, Baby girl.”

Jessie mendengus sebal. “Aku sedang tidak ingin bercanda, Frank.”

“Baiklah, baiklah. Aku ikut masuk karena aku ingin mendengar ceritanya dari kalian.” Dan setelah itu, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam apartmen Jessie.

***

Sampai di dalam, Steve menurunkan Jessie di sofa panjang tepat di depan televisi. Kemudian lelaki itu masuk ke dalam kamar Jessie entah mengambil apa. Sedangkan Frank, ia memilih mendekati adiknya dan bersiap untuk menginterogasinya.

“Jadi, dia sudah tahu semuanya?”

“Ya.” Jessie menjawab pendek.

“Kau yang memberitahunya?”

“George memaksaku, dan mau tak mau aku harus memberitahunya.”

“Bagaimana reaksinya?” Frank masih tak ingin tinggal diam.

“Dia mungkin sama terguncangnya denganku. Dan dia marah.” Jawab Jessie lemah.

“Dia marah karena kau hamil?” Frank mulai tak suka ketika membayangkan tentang hal itu. Bagaimanapun juga, mereka menikmati prosesnya. Jika Steve marah karena Jessie mengandung, maka Frank akan memukuli Steve hingga babak belur.

“Lucu sekali. Kalian menggosipkan seseorang yang jelas-jelas masih satu ruangan dengan kalian.” Steve datang membawa selimut tebal serta bantal dan guling untuk Jessie. Dengan penuh perhatian ia meminta Jessie untuk berbaring dengan nyaman di sofa panjang tersebut kemudian menyelimuti tubuh wanita itu. “Ingat, kata Dokter kau harus banyak istirahat.”

“Dokter? Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa berada di dokter?” Frank yang masih tak mengerti akhirnya tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

“Sedikit pendarahan karena stress dan kelelahan.” Jessie menjawab kekhawatiran kakaknya.

“Astaga. Kau baik-baik saja bukan? Bayinya bagaimana? Apa ini karena dia?” tanya Frank yang semakin tampak khawatir dengan keadaan adiknya tersebut.

“Frank, semua baik-baik saja. Bayinya juga baik-baik saja. Aku sudah memberitahu Steve dan-”

“Biar kukoreksi.” Steve memotong kalimat Jessie. “Dokter yang meberitahuku, bukan kau.” Steve berkata dengan kesal. Jika Steve mengingat tentang hanya dia sendiri yang belum tahu tentang keadaan Jessie, maka lelaki itu akan kembali dalam mode kesalnya.

“Kau masih kesal karena hal itu?”

“Sangat.” Steve menjawab cepat. “Biar kuperjelas agar kedepannya tidak salah paham. Aku tidak marah karena kehamilanmu. Aku marah karena hanya aku sendiri yang tidak tahu tentang keadaanmu ketika semuanya sudah mengetahuinya bahkan bermaksud untuk menikahkan kita.”

“Steve, kau tak perlu berlebihan. Bibi Patty dan Paman Paul juga baru mengetahuinya.”

“Apa maksudnya, Jess?” Frank yang bingung akhirnya kembali bertanya.

“Semua orang sudah tahu tentang kehamilanku.”

“Ya. Semua orang di Pennington.” Steve mengangguk setuju. “Dan para orang tua sedang menyiapkan pernikahan kami.”

“Kita sudah sepakat bahwa tidak akan ada pernikahan, Steve!” Jessie berkata tajam.

“Aku menyetujui apapun keinginanmu, Sayang. Tapi aku tidak bisa mencegah orang tua kita ketika tiba-tiba mereka mengadakan pesta dan mengundang semua orang di distrik Pennington untuk merayakan pernikahan kita.” Steve berkata dengan tenang dan santai. Suasana kembali mencair tapi tidak dengan Jessie.

Frank berdiri dan menggandeng bahu Steve. “Hebat sekali. Jadi kalian akan menikah tanpa memberitahuku?”

“Kau sedang di sini ketika kami sedang membahas masalah ini, Frank.” Steve menjawab dengan wajah datarnya.

“Hahaha setidaknya, aku senang. Setelah ini aku akan memiliki teman minum dan juga teman untuk bermain kartu. Bukan dengan dokter yang kaku itu.”

“Frank! Hentikan omong kosongmu.” Jessie berseru keras. “Lebih baik kalian keluar. Kalian membuat kepalaku semakin pusing.”

Steve duduk berjongkok di hadapan Jessie. Ia mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Aku akan pergi sebentar, tapi aku akan kembali lagi. Tidurlah.”

Jessie hanya mendengus sebal apalagi ketika ia melihat Frank menatapnya dengan tatapan mengolok. Astaga, menggelikan sekali. Ia tak pernah mendapati Steve selembut ini padanya, Jessie senang, tapi disisi lain, ia tidak suka ketika kelembutan Steve dijadikan bahan olokan Frank pada dirinya nanti. Benar-benar menyebalkan.

Akhirnya, Jessie bisa istirahat dengan tenang beberapa menit kemudian setelah Steve dan juga Frank meninggalkan apartmennya.

***

Steve dan Frank duduk di sebuah bar dengan sesekali bersulang. Frank merasa senang jika pada akhirnya nanti Jessie akan menikah dengan Steve. Frank cukup mengenal Steve bahkan sejak kecil hal itulah yang membuat Frank setuju jika nanti keduanya berakhir dengan sebuah pernikahan. Tapi tampaknya, Frank tak melihat hal serupa pada diri Steve.

“Kau, tampak tidak suka dengan keadaan ini.”Frank membuka suara.

Jika boleh jujur, Steve lebih nyaman berbicara dengan Hank, temannya. Ketimbang dengan Frank. Ia memang mengenal Frank sejak kecil, tapi tetap saja, lelaki itu adalah kakak Jessie. Akan sangat tidak nyaman jika dirinya membicarakan hubungannya dengan Jessie pada Frank.

“Maksudmu?”

“Kau tahu, hubunganmu dengan Jess.”

Steve menghela napas panjang. “Bukan aku tidak suka. Aku hanya terlalu terkejut dan kurang bisa menyesuaikan keadaan. Aku akan jadi ayah, dan jujur saja, aku sedikit tertekan.”

Frank mengangguk dan menepuk bahu Steve. “Jika aku berada di dalam posisimu, maka aku akan merasakan hal yang sama.”

Steve menegak minumannya. “Kau tahu. Jess akan selalu menjadi wanita special di hidupku. Dia sangat istimewa. Teman kencanku tak ada yang bisa menggeser posisinya. Tapi setelah malam itu. Sial! Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang terjadi denganku.”

“Kau melihatnya sebagai teman kencanmu?” tanya Frank sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Bukan. Sial Frank! Jessie tentu sangat berbeda dengan mereka. Tidak ada implan, tidak ada silikon..”

“Woow, wow, wow, kau membicarakan bagian tubuh adikku?”

“Maaf, maksudku. Dia berbeda, dan, dan, dia seakan membuatku candu, terikat dengan tali yang tak terlihat. Aku tidak bisa melihatnya sebagai temanku lagi, Frank. Aku melihatnya sebagai wanita sungguhan, yang, yang, membuatku selalu tergoda.” Steve menjelaskan sengan terpatah-patah karena ia tidak yakin kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan pada Jessie.

“Kau, mencintainya?” tanya Frank dengan hati-hati.

“Tidak.” Steve menjawab cepat. “Maksudku, aku tidak yakin apa itu cinta. Jika kau bertanya apa aku ingin memilikinya, maka Ya. Aku ingin.” Steve mengoreksi.

“Maka jalan yang paling benar adalah menikahinya.”

“Aku ingin. Demi Tuhan! Aku tidak menolak gagasan itu. Tapi Jessie menolakku mentah-mentah. Dia tidak ingin menikah, dan aku tidak bisa memaksanya dalam keadaan seperti ini.”

“Kau hanya perlu berusaha. Dan yakinkan dia kalau semua ini untuk kebaikan kalian bersama.”

Steve mengangguk. Ia meminum kembali minumannya, kemudian bertanya pada Frank. “Bicara tentang menikah, kau pun tak kunjung menikah. Kau Tiga tahun lebih tua dari pada aku, Frank.”

Frank tertawa lebar. “Menikah tidak ada dalam kamusku, Steve. Aku ingin melajang seumur hidup.”

“Kau bercanda? George akan membunuhmu karena kau tidak memberikan keturunan keluarga Summer.”

“Jika yang diinginkan George adalah bayi, maka aku hanya perlu menyewa rahim seorang perempuan dan membayarnya untuk melahirkan anakku. Tanpa hubungan intim, tanpa pernikahan dan hal-hal yang rumit lainnya.”

“Kau benar-benar gila, Frank.”

“Well. Aku penulis fiksi. Aku tak ingin fantasiku rusak karena kehadiran istri apalagi anak.” Ucapnya dengan nada canda.

Sedangkan Steve hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika Frank memiliki pemikiran seperti itu. Steve tahu, bahwa untuk dirinya sendiripun, menikah bukanlah pioritasnya. Tapi ia juga tidak seperti Frank yang tampak menentang sebuah pernikahan.

***

Steve kembali saat hari sudah malam. Ia sempat ke apartmennya untuk mengambil beberapa potong pakaian ganti sebelum kembali ke apartmen Jessie. Steve tersenyum saat membuka pintu apartmen Jessie. Rupanya, wanita itu masih menggunakan password lamanya.

Di dalam sana, Jessie tampak masih meringkuk di atas sofa panjangnya. Terlihat juga kotak pizza yang didalamnya masih tersisa tiga potong Pizza dengan topping irisan sosis dan daging asap. Steve membereskan sisa-sisa makanan tersebut kemudian kembali pada Jessie.

Tanpa banyak bicara, Steve mengangkat tubuh Jessie menuju ke arah kamar wanita tersebut. Jessie tidak terbangun, wanita itu hanya bergerak-gerak sedikit seakan membuat tubuhnya dalam posisi senyaman mungkin.

Setelah membaringkan Jessie di atas ranjangnya. Steve bangkit, berdiri dan menatap wanita yang tengah tertidur pulas tersebut. Ada sebuah rasa yang sulit ia jelaskan. Rasa untuk memiliki wanita itu seutuhnya. Tapi rasa tersebut seakan tertutup dengan sebuah kabut ketakutan.

Ya, Steve takut dengan sebuah penolakan. Steve takut jika Jessie akan lari meninggalkannya saat ia memaksakan kehendaknya pada wanita itu. Ia tahu betul bagaimana karakter Jessie. Wanita itu keras kepala, dan butuh usaha ekstra untuk membuatnya luluh.

Steve melepaskan pakaiannya kemudian ia naik ke atas ranjang Jessie. Tidur memeluk tubuh Jessie. Oh, Steve sangat merindukan saat-saat seperti ini. Saat ia dengan Jessie bisa tidur bersama tanpa gairah, tanpa seks, dan hanya tidur, damai sebagai teman. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini.

***

Dini hari, Jessie terbangun saat merasakan kandung kemihnya penuh. Astaga, kehamilannya bahkan belum genap Empat bulan, tapi sepertinya toilet sudah menjadi teman akrabnya.

Jessie bangun dan merasakan sebuah lengan memeluknya. Ia menatap lengan tersebut, menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Steve tengah tertidur pulas.

Jessie bahkan baru ingat jika tadi saat tidur, ia berada di sofa bukan di atas tempat tidurnya. Steve pasti yang sudah memindahkan dirinya ke sini. Lalu Jessie tersenyum. Ia merindukan masa-masa seperti ini, ketika mereka tidur bersama tanpa gairah mempengaruhi. Apakah hubungan mereka bisa kembali seperti semula?

“Steve.” Jessie memanggil nama Steve, membangunkan lelaki itu. Tapi tak ada pergerakan yang berarti dari lelaki tersebut. “Steve bangung. Aku mau ke toilet.”

Lelaki tersebut bergerak, lengannya terangkat hingga Jessie bisa bangkit. Jessie duduk dan menatap Steve yang tengah mengucek matanya. Lucu, seperti anak kecil, menggemaskan.

“Ada yang kau inginkan?” tanya Steve dengan suara parau.

“Aku ingin ke kamar mandi, dan tanganmu menghalangiku.”

“Oh. Oke.” Hanya itu tanggapan Steve. Akhirnya Jessie segera bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. Mungkin, Steve akan kembali tertidur, pikirnya. Tapi saat Jessie kembali dari kamar mandi, lelaki itu sudah duduk di pinggiran ranjang menunggunya.

“Kau bangun?”

“Ya, kupikir kau membutuhkan sesuatu.”

“Tidak, aku hanya buang air kecil.”

“Baguslah. Sekarang mari kita tidur kembali.” Ajaknya.

“Kau tidak pulang?” tanya Jessie kemudian.

“Kau ingin mengusirku.”

“Aku tidak-”

“Dengar, Jess.” Steve memotong kalimat Jessie. “Aku tidak akan pergi kemanapun. Sekarang, kembalilah kemari dan ayo kita tidur.”

Jessie menurut, ia naik ke atas ranjang. Terbaring, kemudian merasakan Steve ikut naik ke sebelahnya dan lelaki itu mulai memeluknya.

“Apa perlu berpelukan seperti ini?” tanya Jessie sedikit canggung.

“Aku ingin memelukmu, dan ketika aku ingin, maka aku akan melakukannya tanpa meminta izinmu.”

Jessie menghela napas panjang. “Aku juga ingin dipeluk.” Ya, Jessie jujur. Ia ingin seperti dulu, meski sebenarnya mungkin semua itu mustahil terjadi lagi.

Steve mengeratkan pelukannya. Sesekali kepalanya mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Kau tahu, Jess. Saat tidur, aku tak pernah merasa senyaman ketika memelukmu. Aku suka kehangatanmu, aku suka aroma rambutmu. Semuanya membuatku nyaman dan tenang.” Steve bahkan tak mengerti apa yang sedang ia ucapkan.

“Aku juga senang saat tidur di pelukanmu, Steve. Aku merasa nyaman dan terlindungi.”

Steve kembali mengecup lembut puncak kepala Jessie. “Perasaan nyaman tersebut sekarang ternodai dengan perasaan yang lainnya, Jess.” Kali ini suara Steve menjadi serak.

“Apa maksudmu?” Jessie mengangkat wajahnya menatap penuh tanya ke arah Steve.

Steve tersenyum, senyum yang dipaksakan. “Kau tentu merasakannya. Aku bergairah. Gairah yang dulu tak pernah ada ketika aku memelukmu saat kita tidur bersama sebagai teman.”

Jessie segera sadar. Tentu saja ia segera merasakan ereksi lelaki itu. Jessie berusaha menjauh, tapi Steve menahannya.

“Jangan.” Ucapnya sembari menahan tubuh Jessie. “Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku akan menahannya. Sumpah! Aku hanya ingin tidur memelukmu seperti dulu. Meski aku harus menahan kesakitan sepanjang malam.”

Jessie tersenyum mendengar ketulusan Steve. “Terimakasih.” Ucap Jessie kemudian.

“Untuk apa?”

“Karena mau memeluku lagi seperti dulu, dan mengesampingkan gairahmu.”

Steve tersenyum. Ia kembali mengecupi puncak kepala Jessie. Kemudian dengan spontan ia berkata. “Menikahlah denganku, Jess.”

Tubuh Jessie membatu seketika. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan dulu. Dan kini, Steve kembali mengungkitnya. Tidak, lelaki itu sedang melamarnya. Lalu apa yang akan Jessie lakukan selanjutnya? Haruskah ia menerima lamaran Steve?

-TBC-

My Beautiful Mistress – Bab 5

Comment 1 Standard

Aku updateee… yeaaayyy… happy readingg… muwaaahhhh

 

Bab 5

 

Pagi telah tiba. Ellie terbangun dan segera mencari lengan yang semalaman memeluknya. Nyatanya, ia mendapati ranjang sebelahnya kosong. Tak ada Jiro di sana dan hal itu membuat Ellie sedih. Ia terduduk di pinggiran ranjang, kemudian merutuki kebodohannya sendiri. Jiro tak mungkin bisa berubah secepat itu. Mungkin, semalam lelaki itu mengendap-endap pergi meninggalkannya ketika ia tidur.

Akhirnya, Ellie bangkit, dan ia bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat ia sudah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba indra penciumannya menangkap aroma masakan. Apa Mei yang memasak? Dalam hati Ellie yang paling dalam ia berharap bahwa ia akan melihat Jiro di dapur. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Dengan langkah lemah, Ellie keluar dari dalam kamarnya dan menuju ke arah dapur rumahnya. Rupanya, Jiro benar-benar ada di sana.

Ellie melangkah dengan cepat menuju ke arah Jiro. Dan dengan spontan ia memeluk tubuh Jiro dari belakang.

Jiro yang tengah sibuk membuat omlet terkejut ketika tiba-tiba lengan mungil itu memeluk tubuh kekarnya. Jiro bahkan sempat membatu beberapa detik, tubuhnya kaku karena tak menyangka jika akan dipeluk secara tiba-tiba seperti ini.

“Apa yang kamu lakukan?” dengan spontan Jiro menanyakan hal tersebut dengan nada dinginnya. Jika boleh jujur, Jiro benar-benar tak nyaman dengan sikap manja Ellie.

Seketika itu juga Ellie melepaskan pelukannya. Ia tidak berharap reaksi Jiro akan sekeras itu padanya. Astaga, ia hanya memeluknya, seharusnya Jiro tak perlu berkata dengan nada sedingin itu.

Jiro membalikkan tubuhnya seketika. Ia menatap Ellie yang tampak sedih karena ulahnya. “Maaf, aku hanya terlalu terkejut.” Mau tak mau Jiro mengalah.

“Kamu kayak sedang mengantisipasi apa yang sedang kulakukan.”

“Kalau boleh jujur, aku memang merasa tidak nyaman dengan semua ini.”

“Kalau begitu, kamu boleh pergi dan mencari kenyamanan sialanmu.” Ucap Ellie dengan ketus sebelum dia membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi meninggalkan Jiro. Tapi baru beberapa langkah, Jiro tiba-tiba menyusulnya. Lebih mengejutkan lagi, lelaki itu memeluknya dari belakang.

Kali ini, giliran Ellie yang membatu karena ulah suaminya tersebut.

“Maaf, aku sudah minta maaf.”

Entah perasaan Ellie saja atau memang Jiro sejak kemarin sering sekali mengucapkan kata maaf. Kenapa? Apa lelaki itu merasa bersalah padanya? Apa yang membuatnya merasa bersalah padahal selama ini Jiro tak pernah sekalipun menunjukkan sikap tersebut padanya?

“Aku akan menemanimu sepanjang hari, jadi, jangan membuatnya jadi sulit dengan merajuk seperti ini.”

Ellie hampir bersorak saat Jiro mengatakan niatnya untuk menemaninya seharian.

“Jadi, kenapa kamu bisa menemaniku seharian? Memangnya kamu tidak sibuk?”

“Troy menelepon tadi pagi. Katanya hari ini tidak akan ada latihan dan jadwal lain. Aku bebas.”

Ellie tersenyum senang. Ia tahu bahwa Jiro tak akan mungkin bisa melihatnya. Karena lelaki itu sekarang masih sibuk memeluk tubuhnya dari belakang. Wajah lelaki itu bahkan sesekali tersembunyi dibalik rambut kuning keemasa milik Ellie.

“Apa yang bisa memperbaiki kesalahanku?” tanya Jiro kemudian. Ellie memiliki sebuah rencana. Tapi ia sangsi jika Jiro mau menuruti kemauannya.

Akhirnya Ellie melepaskan pelukan Jiro, kemudian membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Jiro.

Ya Tuhan! Lelaki ini benar-benar tinggi, dan tampak gagah. Ellie selalu menyadari hal itu ketika ia berada di hadapan Jiro dalam keadaan tidak mengenakan sepatu hak tinggi. Ellie lebih pantas dilihat sebagai adik lelaki itu, mengingat usia mereka yang memiliki selisih cukup jauh, ditambah lagi postur tubuh mereka yang benar-benar tidak cocok. Jiro dengan tubuh tinggi kekarnya, sedangkan Ellie dengan tubuhnya yang mungil. Bahkan tingginya tak lebih dari sebahu Jiro.

“Sebenarnya ada.” Jawab Ellie masih dengan mengendalian diri penuh. Ia tidak boleh tergoda dengan Jiro. Meski ia menginginkan berhubungan intim lagi dengan Jiro seperti malam itu, nyatanya Ellie memilih menahannya. Ia tahu bahwa Jiro sedang berusaha untuk berubah. Ia ingin Jiro berada di sampingnya karena perhatian dan pengertian padanya, bukan karena lelaki itu sedang ingin memuaskan hasrat seksualnya.

“Apa?” tanya Jiro kemudian. Ia tidak suka basa-basi. Lebih cepat menuruti apa kemauan Ellie maka lebih baik agar ia tidak terlalu terbawa dengan permainan yang seakan sengaja di mainkan oleh Ellie.

“Jadi, maukah kamu mengantarku ke Dokter siang nanti?”

“Apa? Itu tidak mungkin.”

“Kenapa tidak?”

“Karena orang-orang di rumah sakit akan melihatku dan mengenaliku.”

“Aku tidak peduli. Kamu kan bisa menyamar. Pakai rambut palsu atau sejenisnya.”

Jiro bergidik ngeri saat ia membayangkan mengenakan rambut palsu. “Tidak lucu, Ellie. Aku tidak bisa mengantarmu ke sana. Oke?”

Ellie tahu bahwa rencananya akan gagal jika ia memaksa Jiro. Akhirnya, Ellie menggunakan cara lain. Ia hanya menatap Jiro dengan mata sendunya, kemudian membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan lelaki itu.

Jiro sendiri yang menatapnya segera ditumbuhi oleh rasa kasihan. Jiro tahu bahwa memang seharusnya ia yang mengantar Ellie ke dokter. Bagaimanapun juga, ia ingin mengetahui keadaan anaknya yang kini sedang dikandung oleh wanita itu.

Anaknya?

Sembari menggelengkan kepalanya, Jiro berjalan cepat menyusul Ellie. “Oke, aku akan mengantarmu.”

“Biasanya, rumah sakit memiliki privasi. Seharusnya kamu tidak perlu khawatir. Lagi pula, tak mungkin semua orang disana mengenalmu. Kamu hanya seorang Bassis dari band Rock. Menurutku, hanya satu dua orang kesehatan menyukai band rock, itupun belum tentu mereka suka The Batman.” Gerutu Ellie.

Jiro mengangguk. Ellie memang benar. Tapi tetap saja, rasa khawatir itu masih ada. Mengingat mereka juga memiliki beberapa fans fanatik mendekati gila yang menyebut diri mereka The Danger. Jiro hanya tak ingin jika bertemu dengan salah satu fansnya dan membuat keributan di sana.

“Oke, aku akan pakai topi, dan masker. Cukup, bukan?” tanya Jiro dengan nada lembut.

Pakai masker di rumah sakit tentu hal yang wajar. Jadi sepertinya, ia tak perlu menyamar berlebihan. Ellie tersenyum dan mengangguk. Ia senang saat Jiro menuruti kemauannya.

“Sekarang duduklah. Aku membuatkanmu sarapan.”

Jiro membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah kompor yang tadi sempat ia matikan karena gangguan Ellie. Tapi baru beberapa langkah, perkataan Ellie membuat Jiro menghentikan langkahnya dan berdiri membatu memunggungi wanita tersebut.

“Kamu berubah banyak, James.” Ucap Ellie dengan nada lembut. “Dan aku senang.” Lanjutnya.

“Aku hanya berusaha.” Jawab Jiro sebelum melanjutkan langkahnya.

Ya, bagi Jiro, ia belum berubah. Ia masih berusaha untuk berbuat seadil mungkin pada Ellie. Jiro berusaha agar Ellie mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Bagaimanapun juga, ia sudah memperistri Ellie, dan membuat wanita itu menjalani kehidupan baru, jauh dari orang tuanya. Jiro tidak ingin menjadi jahat dengan mengabaikan keberadaan Ellie saat ia menyadari bahwa wanita itu tengah membawa sebagian dari dirinya di dalam rahim wanita tersebut. Jiro akan berusaha berubah, meski nyatanya, ia merasa sulit.

***

Persetan dengan perubahan!

Jika tadi Jiro berpikir bahwa ia ingin selalu menemani Ellie memeriksakan kandungannya dan menjadi suami dan calon ayah yang baik, maka kini saat ia berada di ruang tunggu dokter spesialis kandungan, ia merasa bahwa ini akan menjadi hari terakhir ia memasuki poliklinik sialan ini.

Bagaimana tidak? Meski ia sudah mengenakan masker, dan juga topi, nyatanya, ada saja beberapa orang yang mengenalinya.

Seorang wanita muda berambut pendek yang kini tengah hamil dan menunggu di ruang yang sama dengannya akhirnya mengenalinya. Rupanya, wanita itu baru berusia Dua puluh tahun. Tentu saja wanita itu mengenalnya mengingat dirinya populer dikalangan anak muda.

Yang membuat Jiro kesal adalah, dengan cerewetnya wanita itu berkata bahwa ia adalah fans Jiro dan The Batman. Hal itu membuat pasien lain yang juga menunggu di sana penasaran. Akhirnya mau tak mau Jiro membuka topi dan maskernya. Dan kini, Jiro berakhir dengan duduk diantara wanita-wanita berperut sebesar semangka yang mengerubunginya dan memintanya untuk mengelus perut mereka secara bergantian.

Walau tak semua ibu hamil di sana mengenalnya, tapi mereka tetap ingin perutnya dielus oleh Jiro dan berharap bahwa anak mereka nanti jika laki-laki akan setampan Jiro.

Wajah Jiro yang khas seperti orang bule, serta mata abu-abu terang lelaki itu membuat siapa saja terpesona pada detik pertama saat melihatnya. Sangat wajar jika mereka menginginkan anak mereka mirip dengan Jiro dan meminta Jiro mengelus perut mereka.

Sedangkan Ellie, ia memilih duduk menjauh, melihat Jiro dari jauh dan tersenyum sendiri saat melihatnya. Padahal, Ellie tahu bahwa tak mungkin semua ibu-ibu hamil di sana mengenal Jiro yang artinya taak semua ibu hamil di sana adalah fans Jiro. Jiro mampu menarik banyak wanita untuk terpesona padanya, padahal wanita-wanita itu belum tahu jika Jiro adalah artis terkenal.  Bagaiama jika mereka ke suatu tempat dan bertemu sekumpulan fans Jiro? Mungkin, Ellie akan benar-benar diabaikan.

Ellie menundukkan kepalanya menatap perutnya sendiri yang belum kelihatan karena tersembunyi di dalam coat yang ia kenakan. Kemudian ia mengusapnya lembut. Ini adalah resiko menikah dengan seorang James Drew Robberth. Lelaki tampan dan terkenal yang mempesona bagi kebanyakan wanita di luar sana.

Pada saat itu, Ellie mendengar namanya dipanggil. Ia segera bangkit dan masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada seorang suster menunggunya di ambang pintu. Ellie bahkan tak menghiraukan Jiro yang masih asyik dengan beberapa wanita hamil di sekitarnya.

Saat Ellie sudah duduk di hadapan seorang dokter dengan papan bernama Dr. Sandra Spog, saat itulah ia melihat Jiro ikut duduk di bangku sebelahnya.

“Kamu masuk?” tanya Ellie kemudian.

“Bukannya kamu memintaku untuk mengantarmu? Maka aku akan masuk.”

“Kupikir kamu lebih asyik dengan para wanita di luar.”

“Yang benar saja. Aku bahkan berpikir untuk tidak mengantarmu lagi karena keberisikan mereka.” Gerutu Jiro. Jiro lalu menatap ke arah Sang Dokter yang tampak tersenyum melihat tingkah mereka. “Jadi, apa selanjutnya?” tanyanya.

“Sepertinya, Nyonya Ellie tidak mengatakan kalau suaminya adalah seorang artis.” Ucap Dokter Sandra kemudian. “Tuan James?” tanya Sang Dokter pada Jiro.

“Jiro, panggil saja begitu.” Entah kenapa, sekarang Jiro seperti Troy, yang tak suka jika ada yang memanggil nama aslinya. Jiro merasa, hanya Ellie yang pantas memanggilnya dengan panggilan James. Dan Jiro tak tahu, kenapa ia berpikiran seperti itu.

“Baiklah, Tuan Jiro. Jadi, Anda sudah tahu bukan tentang keadaan istri Anda?”

Jiro mengangkat kedua bahunya. “Sejujurnya, dia baru memberitahu saya kemarin. Apa ada masalah?”

Dokter Sandra tersenyum sembari membuka buku kesehatan ibu dan anak milik Ellie. Ini memang bukan yang pertama kalinya Ellie memeriksakan diri ke tempat Dokter Sandra, jadi Dokter Sandra cukup tahu bagaimana kondisi Ellie saat ini.

“Delapan belas minggu, dan Anda baru tahu? Wowww, suami yang perhatian.” Sindir Dokter Sandra. Sedangkan Ellie hanya bisa menunduk dan tersenyum dengan sindiran tersebut.

Jiro segera menatap ke arah Ellie. Astaga, jika benar usia kandungan Ellie sudah Delapan belas minggu maka artinya sudah lebih dari Empat bulan. Lalu kenapa Ellie baru memberitahunya kemarin?

“Saya sangat sibuk.” Desis Jiro masih menatap ke arah Ellie. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak begitu saja saat melihat istrinya itu menundukkan kepalanya. Dengan spontan ia mendaratkan telapak tangannya mengusap rambut Ellie. “tapi setelah ini, saya akan melakukan yang terbaik.” Lanjutnya.

Ellie sempat tertegun dengan apa yang dikatakan Jiro. Bahkan, sikap manis lelaki itu benar-benar membuatnya tersentuh. Ellie merasa jatuh cinta sekali lagi dengan suaminya tersebut. Apa Jiro melakukan ini dengan tulus? Atau lelaki itu hanya melakukannya karena Dokter Sandra mengenal bahwa dia seorang artis yang artinya Jiro harus menjaga image di hadapan dokter Sandra? Entahlah. Ellie sendiri tak tahu yang mana yang menjadi alasan Jiro bersikap manis seperti ini padanya.

“Baiklah. Saya mengerti. Kalau begitu, kita lihat, apa yang terjadi dengan si kecil.” Ucap Dokter Sandra sembari bangkit dan menuju ke sebuah ruangan yang diyakini Ellie adalah ruang USG.

Dalam beberapa menit kemudian, Ellie sudah terbaring di sebuah ranjang dengan baju yang sudah di naikkan ke atas memperlihatkan perut telanjangnya. Ellie sedikit gugup dan canggung. Mereka hanya berdua di dalam ruangan itu, karena Dokter Sandra sedang sibuk menyiapkan sesuatu di luar ruangan USG tersebut. Jiro sendiri setia duduk di sebelahnya. Mata lelaki itu bahkan tak berhenti menatap ke arah perutnya. Apa yang sedang dipikirkan Jiro saat ini? dan Astaga, kenapa juga dokter Sandra belum memulai pemeriksaannya?

Sedangkan Jiro, ia merasakan sebuah perasaan aneh. Matanya seakan tak ingin berpaling dari perut Ellie yang berwarna putih pucat itu. Sial! Disana ada anaknya, anak yang nanti akan memanggilnya papa. Jiro tak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. perasaannya campur aduk, dia merasa senang, bangga, dan juga…. Takut. Jiro merasa belum siap, tapi disisi lain, ia merasa begitu antusias ketika membayangkan bahwa ia akan memiliki seorang bayi bersama dengan Ellie.

“Ada apa?” pertanyaan Ellie mau tak mau membuat Jiro mengangkat wajahnya menatap ke arah wanita tersebut.

Jiro hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Kamu aneh, James. Kenapa? Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Ellie lagi.

“Aku, aku… masih tak menyangka bahwa ini terjadi.”

“Apanya?”

“Menjadi suami dan calon ayah. Jujur saja, aku tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.”

“Kamu menyesal?” tanya Ellie kemudian, karena raut wajah Jiro sama sekali tak menunjukkan rasa senang.

Jiro menggelengkan kepalanya. “Aku hanya…… takut.” Ya, sepertinya, kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Jiro. Jiro memang senang, tapi ia takut, bahwa ia tak akan menjadi suami dan ayah yang baik kedepannya. Ia masih memiliki ambisi yang besar, dia Jiro benar-benar takut jika akan menghancurkan semuanya.

Tanpa diduga, jemari mungil Ellie mencari jemari Jiro, menggenggamnya dengan erat, kemudian ia berkata. “Perlu kamu tahu bahwa aku juga takut. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami masa kehamilan. Aku takut, dan aku merasa sendiri.” kemudian dengan spontan Ellie membawa jemari Jiro peda perutnya. “Aku butuh kamu, bayi kita juga butuh kamu. Maukah kamu menemaniku menghadapi ketakutan kita bersama-sama?”

Jiro menatap Ellie dengan intens, secara spontan Jiro mengangguk. Ya, ia mau melewati semuanya dengan Ellie, ia mau mengadapi ketakutannya bersama istrinya tersebut. Tapi dapatkah ia melakukannya? Sanggupkah ia menghadapinya?

-TBC-

What’s New in My Blog!!!!

Comments 3 Standard

 

Haiiii haiii haiiii…. aku balik lagi nihhhh Pasti kalaian kira  ini updetan ya?? kalo kalian kira gitu, itu adalah salah… hahhahaha

Well, sebelumnya aku mau tanya ama kalian. kalian suka gak ama tampilan baru blog aku? suka dong yaa… hehhehehe Nah, pasti kalian juga bakal nemuin beberapa iklan di sini. dan itu aku sengaja naruh, sapa tau aku dapat penghasilan tambahan gitu buat beli Kuota. hahahhaaha (Da aku mohon sekali sih, buat yang hpnya ada adblock nya, tolong jangan diaktifin yaa… hikksss kan sayang kalo iklannya gak tampil, aku jadi gak dapat uang jajan. hikkss)

oke, langsung saja. seperti yang sudah aku umumkan di IG, bahwa aku bakalan lebih aktif lagi di blog ini….

ya, gak cuma Share cerita ya, tapi jga akan banyak keseruan lainnya. karena tujuannya aku ingin membuat rumh mayaku ini lebih rame lagi dari sebelum-sebelumnya. wkwkkwkwwk

seperti postingan ini, aku akan menambahkan Sub Konten di blog aku. jika biasanya kalian hanya bisa membaca cerita2 ku doang di sini dan pastinya sedikit membosankan, maka aku akaan menambahkan beberapa sub konten di blog ku.

Konten utama Blog aku masih sama yaitu NOVEL ONLINE Genre Romantis dewasa seperti yang kalian baca sebelum-sebelumnya. Nahh, Sambil menunggu aku update cerita-cerita tersebut, akan ada sub konten yang mengisi blog aku…. yaitu…

  1. (About) sebenarnya, About ini sudah pernah aku posting, kalau kalian pernah baca about The bad boys series, about the soulmate series, dan sejenisnya. nanti sub konten Aboutku juga isinya seperti itu. akan mengupas tuntas tentang sesuatu yang ingin aku bahas. misal nih, ada tokoh namanya si A. nanti ada updetan judulnya (About) si A. maka isi updetannya adalah hanya akan membahas tentang karakter si A gitu yaa. biar kalian lebih ngerti dan kalian lebih bisa meresapi ceritanya. (Btw, kalian juga bisa reques lohhh di komen, aku harus bahas siapa atau apa yang belum kalian ngerti. tapi harus masih dalam konteks novel2 aku ya… kan gaak lucu kalo aku nulis novel dewasa, kalian minta aku bahas tentang upin ipin. hahahhaha)
  2. (Mini Story) Nahhhh!!! kalo kalian pengikut akun sosial mediaku, kalian tentu sering nemuin aku nulis2 gak jelas tentang tokoh novel yang sedang aku tulis tapi anehnya adegan itu TIDAK ada di dalam novelku. nahhh itulah yang aku sebut Mini Story. Mini Story sendiri hanya kan aku update di Blog ini yaaa… dan sama sekali gak ada di dalam novelku. misal nih, aku nulis adegan Ellie sama Jiro ngapain gitu ganti, nahhhh jika itu aaku tulis di mini story, maka itu gak akan ada di dalam novel Jiro dan Ellie sendiri yg berjudul my beautiful mistress. gitu yaa. hahhhaha
  3. Diary kepenulisan. tentunya kalian sudah baca kan yaa diaryku terseut. nahhhhh akupun akan berbagi pengalamanku dalam menulis di sana. hihihi
  4. trus apa lagi yaa…. pokoknya, baru itu dulu sub konten yang ada di dalam pikiranku. nanti, jika ada ide, aku akan tambah lagi sub kontennya biar blog aku ini makin rame… yeaayyyy….

Meski begitu, kalian jangan khawatir aku nggak nulis, atau hobby menulisku terganggu karena hal ini. itu tidak mungkin yaaa… yang paling utama tentu saja aku masih menulis dan melanjutkan cerita-ceritaku yang sedang on going. aku menambah sub konten hanya karena aku gak ingin blog ini sepi, atau kalian merasa kehilangan aku saat aku belum bis update. karena aku mendapatkan banyak sekali inbox di fanspage Facebook atau komentan di sini tentang kalian yang sudah bolak balik ke sini tapi belum ada updetan, hahhahahahah

oke, kayaknya itu saja dari aku. kedepannya, aku berharaap blog aku ini semakin raamai dari sebelum-sebelumnya ya… terimakasih banyak sudah stay di sini, aku sayang kalian semua….

 

Love.

Zenny Arieffka.

Sleeping with My Friend – Bab 9

Comments 4 Standard

 

Bab 9

Steve berhenti di halaman rumah Jessie ketika mendapati Suv tua milik George terparkir di halaman rumah Jessie. George mungkin akan pergi karena Steve melihat mesin Suv tersebut menyala seperti sedang dipanaskan. Dengan cepat Steve menuju ke sana, membuka Suv tersebut kemudian mendudukkan Jessie di kursi penumpang.

“Apa yang terjadi?” George menghampiri Steve dan bertanya.

“Dia kesakitan, aku akan membawanya ke rumah sakit.”

“Apa?” George tampak terkejut dan ikut panik. “Kau baik-baik saja, Jess?” tanyanya pada puterinya tersebut.

“Aku baik-baik saja, Dad.”

“Kau ingin aku ikut?” tanyanya lagi.

“Tidak.” Jessie menjawab cepat. Ia melihat ke arah Steve dan berkata “Aku ingin, hanya Steve yang mengantarku.”

George hanya mengangguk. Ia tahu bahwa Jessie mungkin ingin menyelesaikan masalahnya saat ini hanya bersama dengan Steve. Dan George akan mendukung apapun keputusan Jessie.

***

Steve kembali dari mengurus administrasi ketika seorang dokter menghampirinya dan berkata “Miss Summer baik-baik saja. Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan.”

Steve menghela napas lega dan ia menjawab. “Terimakasih, Dokter.”

“Dia harus dirawat dua atau tida hari di sini sebelum kembali pulang.”

“Oh. Kupikir itu hanya masuk angin biasa, rupanya dia harus dirawat inap.” Jessie sempat berkata di dalam mobil tadi bahwa wanita itu memang sedang tidak enak badan, masuk angin dan stress. Dan Jessie meminta agar Steve tidak khawatir terhadapnya.

“Masuk angin? Dia sedang mengandung, Mr. Morgan. Dan dia kelelahan, stress hingga mengalami sedikit pendarahan.”

“Mengandung apa?”

Dokter tak tahu harus menjelaskan seperti apa pada Steve. “Mengandung, bayi. Ya, dia sedangan hamil.”

Dan wajah Steve memucat seketika karena keterkejutan yang amat sangat. Jessie hamil? Apakah itu anaknya? Tapi kenapa Jessie tidak mengatakan apapun padanya? Apa Jessie sengaja menyembunyikan semua itu darinya? Kenapa?

***

Pintu ruang inap dibuka dengan kasar ketika Jessie baru saja mencoba memejamkan matanya. Ia harus banyak istirahat jika ingin mempertahankan bayinya, itulah yang dikatakan Dokter tadi. Tapi tatapan tak bersahabat dari Steve membuat Jessie tahu bahwa ia tak akan beristirahat sebelum menjelaskan semuanya pada lelaki itu.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi?” Steve membuka suara dengan nada tinggi. Lelaki itu marah, Jessie tahu itu. Marah kenapa? Karena ia sudah menyembunyikan kebenarannya? Atau karena Steve tak suka kenyataan tentang kehamilannya?

“Aku…”

“Apa maksudmu dengan masuk angin? Kau hamil! Astaga, kau hamil!” Steve tidak dapat menahan emosinya.

Tadi, saat di dalam mobil. Jessie memang sempat menyebutkan bahwa dirinya sedang masuk angin. Hal itu secara spontan saja ia mengatakannya. Mungkin karena ia terbiasa menganggap kehamilannya sebagai penyakit masuk angin.

“Kau tidak perlu berseru seperti itu. Aku tahu bagaimana keadaanku.” Jessie mendengus sebal.

“Jika kau tahu, kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Sampai kapan kau ingin menyembunyikannya? Sampai kau melahirkan? Atau mungkin sampai anak itu besar, lalu menikah dan memintaku mengantarkan dirinya berjalan menuju altar?” pertanyaan itu seperti tamparan keras untuk Jessie

“Kau tidak perlu mendramatisir hingga seperti itu.”

“Aku tidak mendramatisir! Kenyataan bahwa kau menyembunyikannya benar-benar membuatku marah.” Steve masih tidak ingin menurunkan nada bicaranya.

“Aku akan mengatakannya padamu, Steve.”

“Kapan?! Setelah kau melahirkan? Demi Tuhan! Itu sudah tiga bulan yang lalu, Jess. Kau punya banyak waktu untuk mengatakannya padaku.”

Ya, hubungan intim mereka memang sudah Tiga bulan yang lalu, tapi Jessie baru mengetahui kehamilannya sejak lebih dari sebulan terakhir. Ia memang mengalami tanda-tanda kehamilan, tapi Jessie memilih tak peduli dan mencoba mengingkari dirinya tentang tanda-tanda tersebut. Ia takut bahwa dirinya benar-benar hamil. Hingga ketika ia pingsan di butiknya pada suatu hari dan memaksa Miranda membawanya ke rumah sakit, Jessie baru tahu keadaaannya saat itu. Ia hamil, bukan masuk angin. Tapi ia masih ingin mengingkari kenyataan itu.

“Aku baru mengetahuinya kemarin.” Jessie menundukkan kepalanya.

“Itu tidak masuk akal!” Steve masih tak mau mengalah.

Jessie tahu apapun yang dikatakannya pasti tak akan membuat Steve percaya. Lagi pula, lelaki itu sedang dalam mode emosi yang mengerikan, ia cukup mengenal Steve. Hal ini mengingatkan dirinya pada beberapa bulan yang lalu, ketika Jessie memberitahu Steve tentang pertunangannya dengan Henry. Saat itu, memang hanya Steve yang terakhir tahu, kemarahan Steve hempir sama seperti saat ini. Steve bahkan tidak ingin berbicara dengannya selama dua minggu jika bukan ia yang merangkak dan memohon agar lelaki itu mengakhiri kegilaannya.

Ketika suasana diantara mereka masih tegang dan belum sedikitpun mencair. Pintu ruang inap Jessie kembali dibuka dan menampilkan tiga sosok paruh baya, yaitu, George, Paul, dan Patty.

Baiklah, apa lagi ini? pikir Steve.

“Oh, sayangku. Aku bersyukur kau baik-baik saja.” Patty menghambur ke arah Jessie. “Aku sempat bertemu dengan perawat Louise, menanyakan keadaanmu. Katanya kau dan bayimu baik-baik saja. Dan kau dirawat di ruangan ini.”

Steve mengerutkan keningnya. “Mom, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan tajam.

“Apa maksudmu menanyakan itu? Jess sedang mengandung cucuku, tentu saja aku khawatir dengan keadaannya.”

“Dad?” Jessie menatap ayahnya dengan tatapan tajamnya. Sungguh, Jessie tidak menyangka jika ayahnya akan mengatakan hal ini dengan keluarga Morgan.

“Aku khawatir denganmu. Jadi aku mengajak mereka kemari.”

“Bagus.” Steve bahkan bertepuk tangan. “Hebat sekali, Jess. Jadi hanya aku yang tidak mengetahuinya?”

Keadaan semakin runyam. Jessie tahu itu.

“Steve, aku minta maaf. Aku hanya..”

“Kau tidak perlu meminta maaf, sayang.” Patty memotong kalimat Jessie. “Jika ada yang harus meminta maaf. Dialah orangnya.” Patty bahkan menunjuk ke arah Steve.

“Aku?” Steve tidak mengerti jalan pikir ibunya.

“Ya, kau. Kau sudah menghamili puteri George. Seharusnya kau segera menikahinya, bukan malah membawa si pirang itu pulang.” Patty tampak sangat marah.

“Aku bahkan baru tahu tentang kehamilannya, Mom.”

“Bibi.” Jessie membuka suaranya. “Ini bukan salah Steve. Aku bahkan belum sempat mengatakan padanya. Dan, dia tak perlu menikahiku karena hal ini.”

“Apa maksudmu?” Patty tampak tak setuju dengan ucapan Jessie.

“Karena dia bermaksud untuk tetap menikahi kekasih Gaynya itu!” Steve menuduh dengan marah. Semua yang ada di sana menatap Steve dengan mata membulat masing-masing.

Lama ruangan itu hening, hingga kemudian, Paul, Ayah Steve membuka suara “Sepertinya, kita harus mencari kopi, George.”

George tahu apa maksud Paul “Ya. Kopi akan lebih baik.” Kedua lelaki itu akhirnya keluar.

“Jaga ucapanmu, Steve!” Patty berseru keras pada puteranya. Ia lalu menatap Jessie dengan tatapan lembutnya. “Apa yang dia katakan tidak benar, bukan? Kau tidak akan melanjutkan pernikahanmu dengan Henry, bukan? Maksudku, bukankah tadi malam George berkata jika kalian sudah putus?”

“Kau putus dengannya?” kali ini Steve bertanya. Steve menurunkan nada bicaranya untuk pertama kalinya sejak lelaki itu mengetahui kabar tentang kehamilan Jessie.

Jessie menatap Ibu Steve dengan lembut. “Ya, Bibi. Kami sudah putus. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Sekarang, bolehkah aku beristirahat? Aku sangat lelah.”

“Oh, Ya. Tentu saja, Sayang. Kau harus istirahat.” Patty setuju.

“Kau juga, Steve. Aku ingin istirahat dengan tenang.”

“Aku tidak akan kemanapun.” Steve berkata penuh penekanan. Dan Jessie tidak bisa berbuat banyak karena hal itu. Lelaki itu masih marah, yang dapat ia lakukan hanya mengalah.

***

Jessie bangun jam Tujuh malam. Ia melirik ke sekeliling ruangan. Hanya terdapat Steve yang masih tertidur pulas di sofa panjang ruang inapnya. Lelaki itu sudah mengganti pakaiannya dengan T-shirt santai dan juga celana jeans. Tampak sangat keren padahal lelaki itu sedang dalam posisi tidur.

Tidak adil! Dalam hati Jessie berseru. Dalam beberapa bulan kedepan, tubuhnya akan membengkak, sedangkan Steve masih sama, keren dan mempesona seperti itu.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu ruang inapnya di buka. Sosok Emily datang menghambur ke arahnya.

“Jess. Astaga. Aku benar-benar terkejut mendengar kabar itu. Bagaimana keadaanmu?”

Jessie tersenyum. “Sangat baik.” Ia melirik sekilas kearah Steve dan lelaki itu masih tertidur pulas.

“Dia sama sekali tak ingin keluar dari ruangan ini. Aku yang membawakan pakaian ganti untuknya tadi.”

Jessie hanya menghela napas panjang.

“Katakan, bahwa apa yang dikatakan Mom benar. Kau, mengandung anaknya?” tanya Emily dengan antusias.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Lily.”

“Apa lagi? Astaga, sejujurnya, aku kurang setuju dengan Donna. Maksudku, dia memang cantik, tapi aku tidak benar-benar menyukainya. Satu-satunya hal yang membuatku senang adalah akhirnya Steve mengajak atau mengenalkan seseorang ke rumah. Dan jika disuruh memilih antara dia atau kau, tentu saja aku memilihmu. Kau temanku.”

Jessie tersenyum lembut. “Aku sudah berkata jika ini bukan seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu apa?” Emily mendesak. “Katakan, apa yang terjadi diantara kalian.”

Jessie menunduk malu. “Kau, dokter. Kau tentu tahu proses untuk menjadi hamil.”

“Oh lucu sekali. Kau pikir aku ingin tahu detail prosesnya? Yang benar saja. Maksudku, apa yang terjadi diantara hubungan kalian? Bagaimana bisa kau mengandung anaknya?”

Jessie semakin malu, rupanya yang ditanyakan Emily bukanlah proses secara biologisnya, melainkan tentang hubungan mereka. “Ceritanya panjang, aku tidak tahu kenapa bisa serumit ini.”

“Rumit? Ayolah. Ini tidak rumit. Kau hanya perlu menikah dengannya.”

“Tidak!” Jessie menjawab cepat. “Kau tidak mengerti, Lily.”

Ya, tak akan ada yang mengerti. Ia tidak ingin menikah hanya karena sebuah kecelakaan. Ia tidak ingin mengikat Steve dalam suatu hubungan hanya karena kehamilannya. Jika mereka harus menikah, maka mereka harus menikah dengan cinta. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Sedangkan Emily, ia mengerti apa yang dirasakan Jessie. Hubungan pertemanan wanita itu dengan kakaknya begitu kental. Pasti akan sangat aneh jika diantara pertemanan mereka hadir seorang bayi yang akan merubah semuanya. Akhirnya, Emily mulai mengubah topik pembicaraan. Bagaimanapun juga ia mengerti bahwa Jessie tidak boleh banyak pikiran.

***

Steve keluar dari dalam kamar mandi ketika Emily sudah meninggalkan ruang inap Jessie. Emily berkata jika dirinya ada kencan malam ini, jadi ia harus pulang lebih cepat.

Suasana canggung terasa saat Steve bukannya mendekat ke arah Jessie, tapi malah kembali ke arah sofa panjang yang tadi sempat ia tiduri. Jessie hanya memperhatikan apa yang dilakukan Steve. Ia tahu bahwa lelaki itu masih marah padanya.

“Kau, tidak makan?” tanya Jessie memecah keheningan.

“Kau bertanya padaku?” Steve bertanya balik dengan nada menyindir.

Jessie mendengus sebal. Steve benar-benar kekanakan. “Kau tahu, aku minta maaf atas semua ini. Tapi kau tidak perlu bersikap kekanakan seperti ini padaku, Steve.”

“Baiklah.” Akhirnya Steve bangkit. Ia kemudian berjalan menuju ke arah Jessie, dan sialnya hal itu benar-benar mempengaruhi Jessie.

Steve duduk di sebuah kursi yang tersedia di sebelah ranjang Jessie, ia menariknya mendekat hingga jarak diantara dirinya dan juga Jessie sangat dekat. Steve mencoba mengendalikan keinginannya untuk mendekap tubuh Jessie. Bagaimanapun juga, percintaan panas mereka pada malam itu masih mempengaruhi Steve. Dan Steve tahu bahwa pengaruh itu akan ia rasakan sampai kapanpun ketika berada di dekat Jessie.

“Kita perlu bicara. Dengan kepala dingin, tanpa emosi.” Steve mulai membuka suara.

Entah sudah berapa kali Steve berkata bahwa mereka perlu bicara. Nyatanya, setiap kali mereka bicara, keadaan menjadi memburuk. Ego masing-masing mempengaruhi hingga membuat emosi tak terelakkan lagi.

“Bicaralah.” Ucap Jessie kemudian.

“Sejak kapan kau tahu bahwa kau hamil?”

“Entah. Mungkin lebih dari tiga minggu yang lalu.” Jawab Jessie dengan jujur. “Sejujurnya, aku mencoba mengingkari hal ini. Aku merasakan tanda-tandanya sebulan setelah malam itu. Tapi aku mengabaikannya.”

“Kau apa? Kau tidak berpikir kalau akan menyakitinya?”

“Apa maksudmu?”

“Kau mengabaikan jika kemungkinan besar kau hamil. Bagaimana jika saat itu kau melakukan sesuatu yang membahayakannya? Minum bir atau bahkan mungkin bercinta dengan pria lain. Dan jangan lupakan Sampanye yang dibawa oleh Frank.”

“Aku tidak semurahan itu! Dan Sampanye, aku hanya minum dua gelas.” Jessie berseru keras.

Steve memejamkan matanya mencoba mengendalikan emosinya.

“Ini tak akan berhasil kalau kau selalu menuduhku yang tidak-tidak.” Jessie mendengus sebal. “Aku hanya takut, Steve. Seharusnya kau mengerti. Aku takut karena aku tidak pernah seperti ini. Hormonku kacau, aku merasa sendiri, dan diabaikan.”

Steve meraih telapak tangan Jessie kemudian menggenggamnya erat. “Maaf. Aku keterlaluan.” Ia mengecup lembut telapak tangan Jessie. “Baiklah. Sekarang, aku ingin tahu. Kau, tidak tidur dengan Henry setelah malam itu?”

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Jika kau ragu bahwa ini anakmu, maka lebih baik kau pergi saja dari sini.”

“Jess, aku tidak ragu, aku hanya…”

“Hanya apa? Aku tidak tidur dengan siapapun, dan aku tidak akan bisa tidur dengan siapapun setelah malam itu.” Ya, karena Jessie tahu bahwa lelaki yang paling ingin ia tiduri hanya Steve, bukan laki-laki lagi. Sial!

“Maaf. Aku hanya perlu membuatnya menjadi jelas. Aku ingin bayi ini. Jadi aku hanya ingin memperjelasnya saja.”

Hening diantara mereka. Steve merasa bahwa Jessie cukup berubah. Emosi wanita ini meledak-ledak, seperti seorang yang sedang tertekan. Apa Jessie tertekan karena kehamilannya? Jika iya, maka seharusnya Steve lebih mengalah.

“Kau, benar-benar sudah putus dengan Henry?” tanya Steve dengan serius.

“Ya. Seminggu yang lalu.”

“Benar-benar putus?” tanya Steve sekali lagi.

“Dia tidak menghubungiku lagi. Dan aku tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya.”

Steve mengangguk. “Baiklah. Kita sudah sampai pada sebuah kesepakatan.”

“Kesepakatan? Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

“Kita akan menikah. Secepatnya.”

“Apa? Tidak! Aku tidak mau.”

“Jess. Aku tidak sedang meminta persetujuanmu.”

“Pokoknya, aku tidak ingin menikah sekarang.”

“Jadi kau ingin menikah saat perutmu sudah sebesar bola basket?”

“Ini tidak lucu, Steve!”

“Kau pikir aku sedang bercanda?”

Jessie menutup wajahnya sendri dengan kedua belah telapak tangannya. “Oh. Steve. Menikah bukan jalan keluarnya.”

Steve merasa kepalanya ingin meledak. Tapi ia mencoba mengendalikan emosinya. “Lalu kau ingin aku berbuat apa?” tanya Steve dengan pelan.

“Aku tidak tahu.” Ya, Jessie sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Melanjutkan kehamilannya dan membesarkan anaknya tentu menjadi pioritasnya. Yang ia bingungkan adalah, bagaimana menempatkan Steve di dalam kehidupannya setelah ini? bagaimana posisi lelaki itu dalam kehidupannya, bagaimana hubungan mereka kedepannya. Hanya itu yang membuat Jessie bingung.

Tanpa diduga, Steve bangkit dari duduknya kemudian lengannya terulur memeluk tubuh Jessie. “Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu. Pikirkan saja baik-baik tawaranku. Jangan khawatir.”

Entah perasaan Jessie saja atau saat ini, Steve menjelma menjadi sosok dewasa yang begitu lembut. Jessie tak pernah melihat Steve yang seperti ini. tapi Jessie sangat menikmatinya. Menikmati pelukan lembut lelaki itu yang membuatnya merasa begitu nyaman.

***

Tiga hari setelahnya, Jessie dan Steve kembali ke New York. Meski keluarga mereka memaksa untuk segera mengadakan pernikahan, nyatanya mereka belum memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Jessie pulang dengan Steve. Menumpang pada mobil sport lelaki itu. Karena Steve mendesak bahwa Jessie tidak diperbolehkan keluar sendiri lagi. Sedangkan mobilnya ia tinggal di rumah orang tuanya.

Tentang Donna, wanita itu pulang pagi-pagi sekali setelah pesta di rumah Steve malam itu, bahkan Donna pergi sebelum Steve berangkat bersepeda dan berakhir di rumah sakit dengan Jessie. Steve belum mengabari wanita itu hingga kini, bahkan mengingatnya saja tidak. Saat ini yang ada di dalam kepalanya hanya Jessie dan bayi mereka, tak ada yang bisa membuat Steve khawatir seperti ini selain Jessie dan bayinya.

Jessie dan Steve saling berdiam diri ketika berada dalam perjalanan kembali ke New York. Melewati George Washington Bridge, Jessie menghela napas panjang, menolehkan kepalanya ke samping melihat sungai Hudson yang membentang. Ia tampak bosan dengan keadaan disekitarnya.

Hingga kemudian, Steve bertanya. “Ada yang kau inginkan?”

Jika melompat kedalam sungai Hudson bisa mengembalikan suasana dan juga pertemanannya dengan Steve seperti sedia kala, maka Jessie ingin melakukannya.

“Tak ada.” Jawabnya pendek.

“Kau tampak tak senang.”

Ya, tentu. Jessie tertekan, dan ia masih terguncang dengan kejadian demi kejadian yang menimpanya belakangan ini. meski begitu, ia tidak bisa menyalakan siapapun. Jessie bahkan tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini, dan ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ia inginkan.

“Aku hanya terlalu lelah.” Jawabnya masih enggan menatap ke arah Steve.

“Tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu.”

Jessie tidak menjawab, karena ia memilih memejamkan matanya. Ia lelah, dan ia butuh istirahat seperti yang disarankan oleh dokter.

***

Jessie membuka matanya ketika merasakan tubuhnya mengambang di udara. Ia terkejut ketika mendapati posisinya saat ini. Steve sedang menggendongnya, dan jika dilihat sekitarnya, mereka sedang berada dalam sebuah lift.

“Steve, apa yang kau lakukan? Kau bisa membangunkanku.” Jessie berusaha agar Steve mau menurunkannya.

“Berhenti merengek dan meronta. Aku akan menggendongmu sampai di dalam apartmenmu.”

“Kau tak perlu melakukannya, Steve. Aku lebih berat dari sebelumnya.”

“Jika kau tak keberatan, aku akan mengingatkanmu bahwa berat badanmu saat ini ada hubungannya denganku.” Pipi Jessie merona seketika saat tanpa sengaja ia mengingat tentang kejadian malam panas saat itu. “Lagi pula, kau belum seberat yang kau pikirkan.”

“Tapi aku bisa jalan sendiri.”

“Dan aku tidak akan membiarkanmu jalan sendiri.”

“Steve! Turunkan aku.” Jessie masih meronta.

“Jika kau masih tidak mau diam, aku akan menciummu.” Steve mengancam tapi wajahnya masih datar tak berekspresi.

“Hahaha, lucu sekali. Kau pikir aku takut dengan ancaman-” Jessie tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Steve benar-benar menjalankan ancamannya. Menyambar bibir Jessie dan melumatnya tanpa ampun seakan lelaki itu sudah sangat lama menahan diri untuk melakukannya.

Ya, sejak malam itu, tubuh Jessie menjadi obsesinya, bibir wanita itu menjadi ambisinya. Hingga ketika Steve memiliki kesempatan untuk melakukannya, maka ia tidak akan membuang-buang waktu lagi.

Lagi pula, apa juga yang ia khawatirkan? Persahabatan mereka sudah benar-benar hancur. Dan ketika persahabatan itu tak bisa ia kembalikan lagi, maka Steve akan mencoba membangun hubungan baru yang lebih intim lagi dengan wanita ini.

-TBC-

Jadi…. apakah mereka akan berakhir dengan pernikahan? bagaimana dengan Henry dan Donna??? wakkakakkak selamat berpenasaran riaaa.. muwaaaahhhhh