romantis

bianca – Chapter 17 (Cemburu)

 

 

Chapter 17

-Cemburu-

 

Satu minggu berlalu…..

Hari ini adalah hari dimana Bianca akan berkunjung ke kantor Raga. Hubungannya dengan Raga masih sama. Berjalan di tempat. Karena Bianca sudah mengatakan sebelumnya, bahwa Bianca tak mampu menjanjikan apapun.

Meski Raga sering menemuinya, meski mereka sering menghabiskan waktu bersama selama seminggu terakhir, nyatanya Bianca tak mampu menghapus bayang-bayang Jason begitu saja dalam ingatannya. Saat ia mendengarkan musik, maka dengan spontan ia mengingat suara Jason. Saat ia membaca buku, maka dengan spontan ia membayangkan bagaimana panasnya Jason. Astaga, Jason seperti sedang bersarang di dalam pikirannya, dan hal itu benar-benar membuat Bianca nyaris frustasi.

Setelah mematut dirinya di depan cermin, dan merasa jika dirinya sudah cukup cantik, Bianca meraih tas kecilnya kemudian dirinya segera pergi meninggalkan kamarnya. Berbeda dengan Jason yang sudah mengenal keluarganya, maka kali ini, Bianca tak ingin terburu-buru mengenalkan Raga pada keluarganya. Bianca merasa bahwa hubungannya dengan Raga masih sangat baru, bahkan ia kadang merasa bahwa Raga tak lebih dari seorang teman untuknya. Jika ia sedang akan keluar dengan Raga seperti saat ini, biasanya lelaki itu sudah menunggunya di dalam mobil di luar pagar rumahnya. Hal itu kadang membuat Bianca sedikit merasa tak enak dengan lelaki tersebut.

Bianca mencoba mengabaikan perasaan tak enaknya tersebut, toh, ia tidak pernah menjanjikan apapun terhadap Raga, jadi sepertinya cukup, ia memperlakukan Raga dengan cukup wajar.

Keluar dari rumahnya, Bianca segera menuju ke arah sebuah mobil yang sudah terparkir tak jauh dari rumahnya tersebut. Itu mobil Raga. Setelah masuk, Bianca mendapatkan seikat bunga dari lelaki itu lengkap dengan senyuman indahnya.

“Apa ini? kamu nggak perlu repot-repot.” Ucap Bianca kemudian.

“Nggak repot, kalau untuk kekasihku.”

Sial! Senyum Bianca segera hilang dari wajahnya ketika mendengar Raga menyebut dirinya sebagai keksih dari lelaki tersebut. Bianca tak memungkiri jika dirinya kurang nyaman dengan anggapan Raga tersebut. Mereka hanya sedang mencoba, dan bagi Bianca hal itu belum tentu akan berakhir dengan baik bagi mereka.

“Jadi, apa jadwal kita hari ini?” tanya Bianca mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ke kantorku, ketempat rekaman, lalu, kita akan makan siang bersama.”

“Sepertinya akan seru. Apa aku akan bertemu dengan banyak artis di sana?” tanya Bianca kemudian.

“Jika yang kamu tanyakan adalah The Batman, maka tidak. Mereka tidak sedang rekaman atau memproduksi musik. Mereka sibuk dengan latihan untuk konser mendatang yang akan disiarkan langsung oleh beberapa stasiun TV.” Meski menjawab dengan panjang lebar, nyatanya ekspresi Raga berubah mengeras.

“Kenapa kamu membawa-bawa The Batman? Aku tidak menanyakan tentang mereka. Dan kupikir, aku sudah lupa dengan mereka.” Bianca memberengut kesal. Sungguh, saat tadi dirinya menanyakan tentang artis-artis, Bianca sama sekali tak berpikir tentang The Batman. Jason memang tak bisa pergi dari pikirannya, tapi bukan berarti apapun yang dibahas Bianca akan selalu mengarah pada Jason ataupun The Batman.

“Kupikir, kamu berharap bertemu dengan mereka.”

Bianca mendesah panjang. “Raga, kalau kamu tidak suka dengaan efek patah hatiku, atau kalau kamu belum bisa sabar menerima ini semua, maka kamu tak perlu memaksakan diri. Jason memang tak bisa pergi begitu saja dari ingatanku setelah apa yang sudah kami lewati selama ini. Tapi itu juga bukan berarti aku akan selalu membahasnya atau bahkan berharap bertemu dengannya lagi.”

Raga menundukan kepalanya. “Maaf. Aku hanya terlalu cemburu.”

Tiba-tiba jemari Bianca meraih jemari Raga. “Kamu tahu apa yang membuatku mengakhiri hubunganku dengan Jason? Itu karena dia terlalu cemburu dengan sesuatu yang bahkan tidak dia ketahui. Sesuatu yang tidak benar. Jika kamu ingin mencobanya denganku, maka tolong, hilangkan dulu kecurigaanmu.”

Kali ini, Raga segera menatap ke arah Bianca. Jemarinya terulur mengusap lembut pipi Bianca. “Aku akan lebih sabar menunggu, dan aku janji, akan berusaha untuk mengendalikan diri dari rasa cemburu.”

Bianca tersenyum menanggapi pernyataan Raga tersebut. “Terimakasih, sebaiknya kita segera pergi. Hari semakin siang.”

“Baik, Princess.” Dan Bianca akhirnya tak mampu menahan senyumannya saat Raga memanggilnya dengan panggilan tersebut.

Mobil Raga akhirnya melaju, meninggalkan kompleks perumahan Bianca serta sepasang mata yang sejak tadi sedang mengawasi keduanya dari jauh. Sang pemilik mata tersebut segera menghubungi seseorang dan mengabarkan apa yang telah ia lihat.

“Bagaimana?” tanya suara dari seberang.

“Sepertinya, pelacur sialan itu benar-benar memikirkan teror kita.”

“Maksudmu?”

“Aku berasumsi bahwa dia benar-benar telah berpisah dengan Jason.”

“Kamu yakin?”

“Ya, aku sudah mengamatinya seminggu terakhir, dan tak sekalipun dia bertemu dengan Jason. Sepertinya, mereka benar-benar telah putus.”

Good. Berita bagus. Sekarang, kita bisa melupakan pelacur itu, dan fokus dengan pelacur-pelacur lainnya.”

“Oke.” Setelah itu panggilan di tutup. Dan si perempuan pengintai itu segera pergi meninggalkan tempat persembunyiannya tersebut.

***

“Arrggghh! Sialan!” dengan kesal, Jason melemparkan dirinya ke arah sofa panjang di ujung ruangan studio musik tempat ia biasa latihan dengan para personel The Batman yang lainnya.

Kepalanya tak berhenti berdenyut nyeri, dan itu membuat Jason seakan ingin meledak-ledakkan emosi yang entah berasal dari mana. Mungkin alkohol yang setiap malam menemani dirinya yang membuatnya berubah menjadi sosok pemarah seperti saat ini.

“Sial! Jase! Elo harus fokus. Konser semakin dekat.” Jiro akhirnya tak kuasa menahan emosinya. Seminggu terakhir, jadwal latihan mereka berantakan. Belum lagi Jason yang selalu uring-uringan dan berakhir dengan tidak fokus membuat semua personel The Batman terpaksa menghentikan latihan mereka.

Jason semakin emosi dengan seruhan Jiro tersebut. “Elo tahu apa tentang gue?” Jason berdiri dan tampak semakin emosi dengan Jiro.

“Yang gue tahu, elo adalah bocah kemaren sore yang nggak bisa Move On dari cewek yang sudah elo tiduri.”

“Berengsek!” Jason berusaha menerjang dan memukul Jiro, tapi Troy segera menarik tubuhnya.

“Jase! Elo apa-apaan, sih?!” Troy akhirnya ikut marah. “Elo nggak nyadar apa yang sudah elo lakuin? Ini karir kita bersama, bukan hanya karir elo.”

Jason mendengus sebal. Kemudian ia bersiap pergi. Dengan tatapan mata membunuhnya pada satu persatu personel The Batman yang berada di dalam ruangan tersebut.

***

Bianca senang, karena kencannya hari ini dengan Raga cukup berbeda. Setelah menunggu Raga menyelesaikan urusan lelaki itu di dalam ruang kerja lelaki itu, maka kini tiba saatnya Bianca diajak ke sebuah gedung lainnya, dimana disana terdapat beberapa bagian untuk menjalankan bisnis Raga. Ada bagian rekaman, bagian photoshoot, bagian desain, dan banyak lagi.

Raga juga sesekali bercerita ketika mereka mengunjungi tempat itu satu demi satu, bahwa semua ini adalah usaha keluarganya. Lelaki itu baru terjun sekitar setengah tahun yang lalu.

“Memangnya, kamu nggak tertarik dengan dunia hiburan, ya? Kok kamu baru terjun kesini?” tanya Bianca sedikit heran.

“Ya, bisa dibilang begitu. Aku lebih suka bisnis kuliner.”

“Oh ya? Jadi kamu bisa masak?” tanya Bianca dengan antusias.

“Orang yang berbisnis kuliner kan nggak harus bisa masak. Tapi ya, aku memang bisa masak.” Raga tersenyum pada Bianca saat melihat wajah berbinar dari wanita di sebelahnya itu. “kenapa? Kamu mau kumasakkan sesuatu?” tanya Raga kemudian.

“Enggak Ahh, palingan masih enakan masakan mama.”

“Oh ya?” Raga tersenyum. “kapan-kapan, aku akan membawakanmu masakanku, dan pada saat itu tiba, jika kamu menyukainya, maka kamu harus memberiku hadiah.”

“Hadiah apa?” tanya Bianca kemudian.

Raga mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, ciuman mungkin.” Jawabnya dengan tawa khasnya. Bianca menanggapi jawaban Raga tersebut dengan tawanya. Ia tahu jika Raga sedang bercanda padanya, sesekali Bianca bahkan memukul lengan atas Raga dengan lembut tanpa menghentikan tawanya. Dan pada saat bersamaan, seseorang yang berada di hadapannya membuat Bianca menghentikan langkahnya seketika.

Bianca mematung menatap ke arah orang tersebut. Ya, siapa lagi jika bukan Jason? Jasonpun demikian, lelaki itu juga mematung menatap ke arah Bianca. Matanya menyiratkan kemarahan yang amat sangat. Bagaimana tidak, seminggu terakhir, Jason merasa sangat terpuruk. Kenyataan bahwa Bianca sudah move on dengan mudah membuat Jason semakin marah. Padahal dirinya sama sekali tak mampu mengenyahkan bayang-bayang wanita itu dari pikirannya.

Bianca sempat melirik ke arah jemari Jason yang ternyata sudah mengepal satu sama lain. Kenapa? Apa Jason akan memukulnya saat ini? tiba-tiba saja Bianca berpikir yang tidak-tidak hingga membuatnya bergiding ngeri ketika membayangkan tentang hal tersebut.

Sedangkan Jason sendiri, matanya turun, menatap Bianca. Wanita itu tampak sangat indah dengan T-shirt yang pas melekat di tubuhnya ditambah dengan sebuah celana jeans yang juga melekat pas di kaki jenjangnya. Tubuh Bianca masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu, dan didalam situasi yang seperti ini, Sialnya Jason menginginkan tubuh itu berda di bawahnya dan meredakan dahaganya.

Berengsek! Apa yang sudah diperbuat Bianca terhadapnya?

Mata Jason lalu melirik ke arah jemari Bianca yang tiba-tiba diraih oleh Raga kemudian digenggam oleh lelaki itu. Bianca tidak menolaknya, wanita itu bahkan dengan santai membalas genggaman tangan Raga hingga jemari mereka saling bertautan satu sama lain.

Jason merasa dadanya terbakar seketika. Apa Bianca sengaja melakukan hal ini dihadapannya? Membuatnya terbakar dengan rasa cemburu seperti saat ini? jika itu yang diinginkan Bianca, maka Jason tahu bahwa wanita itu berhasil membuatnya terbakar dengan rasa cemburu hingga dirinya ingin segera memisahkan sepasang lelaki dan perempuan di hadapannya tersebut sebelum memukuli lelaki itu habis-habisan karena sudah berani menyentuh miliknya.

Miliknya?

Oh sial! Bahkan Jason masih berharap jika hingga saat ini, Bianca masih menjadi miliknya. Padahal Jason tahu, bahwa hubungan mereka sudah berakhir sejak Bianca memutuskan untuk break.

Mencoba mengabaikan rasa cemburu yang membakar dadanya, Jason melanjutkan langkahnya, melewati sepasang lelaki dan perempuan sialan dihadapannya, bahkan Jason tak lupa menahan napasnya ketika melewati diri Bianca. Ia tak ingin aroma Bianca meracuninya, Jason juga mengabaikan helaian rambut Bianca yang seakan melambai-lambai merindukan sentuhannya.

Berengsek! Jason benar-benar membenci hal ini.

Kenapa ia harus ke gedung sialan ini siang ini? kenapa ia harus bertemu dengan Bianca dalam keadaan seperti ini? dan kenapa juga tubuhnya harus mengalami reaksi berlebihan ketika berhadapan dengan wanita sialan itu?

Setelah melewati Bianca, Jason memejamkan matanya dengan frustasi sembari berjalan lurus menjauhi Bianca dan juga Raga. Sebagian dari dirinya ingin jika tiba-tiba Bianca memanggil namanya, memintanya untuk berhenti dan membahas masalah mereka, tapi sebagian lainnya sadar, bahwa hal itu tak akan mungkin terjadi. Bianca sudah bukan lagi menjadi miliknya, dan Jason harus menanamkan pikiran tersebut meski rasanya sangat sakit saat membayangkan wanita itu menjadi milik pria lainnya.

Sedangkan yang terjadi dengan Bianca setelah Jason melewatinya, Bianca menghela napas panjang. Bianca tak menyangk jika akan bertemu dengan Jason tadi. Padahal Raga sudah mengatakan bahwa The Batman tak mungkin berada di sana. Tapi ternyata, orang yang ingin dilupakan oleh Bianca malah berada tepat di hadapannya.

Bianca kemudian menatap Raga seketika, ia berharap Raga mau menjelaskan kenapa Jason ada di sana siang ini.

“Maaf, aku nggak tahu apa yang dia lakukan di sini. Tapi dia memang tidak ada jadwal untuk kesini hari ini. mungkin dia ingin menemui seseorang.” Itu jawaban Raga. Padahal Bianca belum menanyakan apapun tapi Raga sepertinya mengerti apa yang ada dibenaknya saat ini.

“Lebih baik aku pulang.” Ucap Bianca cepat.

“Bee. Jangan begini.” Raga menahan Bianca. “jangan biarkan dia merusak apa yang baru saja kita mulai.”

“Tapi melihatnya saja sudah mengacaukan perasaanku, Ga. Aku nggak mau kamu jadi kesal karena perasaanku yang tiba-tiba berantakan seperti ini.”

“Enggak, aku nggak akan kesal.” Raga menangkup kedua pipi Bianca. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin hari ini berakhir seperti ini. Jika ia membiarkan Bianca pergi dengan Jason yang masih ada dalam pikiran wanita itu, maka hubungannya dengan Bianca akan selalu seperti ini. “Kita belum makan siang, setidaknya, temani aku makan siang dulu.”

Dan akhirnya, Bianca hanya mengangguk sembari menghela napas panjang, tanda jika dirinya tak mampu menolak keinginan sederhana dari Raga.

***

Makan siang terjadi dengan suasana yang tidak enak. Bianca masih berdiam diri, bahkan wanita itu hanya memainkan makanannya saja. Raga yang melihatnya tak mampu berbuat banyak, ia tahu suasana hati Bianca sedang buruk, dan ia tidak ingin memperburuknya dengan memaksa wanita itu untuk menuruti kehendaknya.

Akhirnya, setelah makan siang, Raga mengantarkan Bianca sampai ke rumahnya. Seperti biasa, mereka hanya berhenti di depan pintu gerbang rumah Bianca. Raga tak memaksa masuk, karena ia ingin nanti, Bianca sendirilah yang mengajaknya masuk dan mengenalkan dirinya pada kedua orang tua wanita itu.

“Aku ingin, lusa kamu datang.” Ucap raga tiba-tiba.

Bianca menatap ke arah Raga, lalu bertanya “Datang kemana?”

“Lusa adalah ulang tahunku, Aldo dan Sienna juga datang. Aku ingin kamu juga datang.” Jawab Raga, ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya “Sebagai pasanganku.”

Bianca sempat terkejut dengan apa yang dikatakan Raga. Baginya, ini terlalu terburu-buru. Mereka sepakat mencoba, tapi hingga kini, Bianca masih menganggap Raga sebagai teman dekatnya, hanya itu.

“Aku tahu, mungkin ini sangat terburu-buru. Tapi aku ingin setidaknya ada perempuan di sebelahku saat aku memotong kue.” Ucap Raga lagi sembari tersenyum lembut.

Melihat senyuman Raga membuat Bianca tak kuasa menolak keinginan lelaki itu. Iapun tersenyum lembut pada Raga. “Baiklah, aku akan datang.”

“Tapi Bee. Bisa dipastikan, Jason juga ada di sana.”

Oh ya. Sangat sempurna. Pikir Bianca kemudian. Tadi saja, ia merasa sesak napas ketika tak sengaja berhadapan dengan lelaki itu. Apalagi nanti? Apa yang harus Bianca lakukan selanjutnya? Bianca tak mungkin mengabaikan keberadaan Jason, tapi disisi lain, ia ingin melakukannya. Kehadiran Jason benar-benar mempengaruhinya, membuat suasana hatinya berubah seketika. Bayangan lelaki itu mencumbu mesra leher seorang wanita di sebuah kafe malam saat itu tiba-tiba menyeruak, membuat dada Bianca dihantam dengan rasa sakit yang bertubi-tubi.

Jadi, bisakah ia menahan perasaan tersebut lusa? Dapatkah ia melakukannya?

-TBC-

nantikan part 18 (Tamparan, ciuman, dan pesta) hari rabu yaa hehehhehe

1 thought on “bianca – Chapter 17 (Cemburu)”

  1. Raga ma q az yaa , soal na ada d posisi u itu bener” ga enak banget …

    aduuhhhhh jase masalah itu ga akan selesai kalo u cuma diem az kek gitu , coba jadi cowok itu yng gentle , jangan main petak umpet gitu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s