romantis

My Pretty Girlfriend – Prolog

Tittle : My Pretty Girlfriend

Maincast : Kenzo Arya (Ken The Batman) & Kesha Kirana

Seri : The Batman Zone!

 

 

Prolog

 

 

Ken meneggak kembali minuman di dalam gelasnya hingga tandas. Minuman tersebut terasa membakar tenggorokannya. Tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perayaan untuk merayakan kesuksesan atas konser solo pertama yang baru saja ia lakukan.

Ya, setelah The Batman memutuskan untuk vakum dari dunia hiburan sejak dua tahun yang lalu, para personilnya sibuk dengan urusan masing-masing. Jason dan Jiro lebih sibuk mengurus usaha keluarga mereka dan juga istri-istri mereka. Troy memilih menjadi model dan pemain Film. Sedangkan Ken memilih untuk bersolo karir. Menjadi penyanyi karena ia juga memiliki suara yang bagus dan unik.

Meski banyak sekali band-band yang ingin mengadopsi dirinya sebagai gitaris dan penyanyi kedua band mereka, nyatanya Ken memilih untuk tidak menermanya. Baginya, kesetiaannya hanya untuk The Batman. Dan itulah yang Ken pegang hingga saat ini.

Konser pertamanya tadi benar-benar sukses. Dan hal itu harus dirayakan seperti saat ini.

Dua tahun terakhir, kehidupan Ken memang berubah drastis. Ia yang dulunya terkenal sebagai good boynya The Batman, kini hanya sekedar kenangan. Sikapnya saat ini bahkan sama berengseknya dengan Troy, temannya. Ia juga tak segan-segan lagi melecehkan wanita yang dikenalnya dalam hubungan semalam. Semuanya tentu karena kehidupan percintaannya dulu yang berakhir dengan mengerikan.

Kesha, kekasih yang begitu ia cintai ternyata memutuskannya secara sepihak. Lebih gilanya lagi, ternyata kekasihnya itu berselingkuh dibelakangnya. Setidaknya, informasi itulah yang ia dapatkan saat itu.

Kesha sempat membuat Ken terpuruk, frustasi karena rasa sakit hati akibat penghianatan yang dilakukan wanita tersebut. Hingga Ken bersumpah, bahwa Ken tak ingin lagi bertemu dengan wanita itu. Karena Keshalah, sekarang sikap Ken berubah seratus delapan puluh derajat. Ken yang setia, Ken yang baik dan menghormati perempuan, kini berubah drastis menjadi seorang Bad boy dengan keangkuhan yang menjadi aksesorisnya.

Mengingat tentang Kesha membuat Ken sangat marah. Bahkan hingga kini, Ken belum bisa melupakan rasa sakit hatinya pada perempuan itu.

“Ken, mending elo pulang.” Seorang teman menyarankan padanya.

“Kenapa? Ini kan pesta perayaan buat konser gue tadi.” Jawab Ken tidak suka.

“Bukannya apa-apa. Tapi besok elo ada press conference dengan beberapa media. Mending elo pulang dulu, pestanya bisa kita lanjut besok malam.”

“Ahh sialan! Gue pengen banget minum sampai teler.”

“Elo harus nyimpen tenaga elo buat besok.” Dan akhinya, Ken mengangguk ia memilih bangkit dari tempat duduknya kemudian bersiap pergi dari tempat tersebut.

Tapi saat Ken sampai di area parkiran kelab malam tempatnya merayakan pesta dengan beberapa krunya tersebut, Ken melihat seseorang.

Dalam sekali lihat, Ken bahkan mengenal setiap gerak-gerik dari wanita itu. Itu adalah Kesha, mantan kekasih yang dulu pernah menyakitinya. Bukan hanya dulu, bahkan hingga sekarang, Ken masih merasakan dengan jelas bagaimana rasa sakit yang diberikan Kesha padanya.

Kesha tampak berseteru dengan seorang wanita yang lebih tua darinya. Dan hal itu membuat Ken mengamati keduanya.

“Aku nggak mau masuk ke sana!” terdengar Kesha berseru keras.

“Dengar. Kamu hanya mengantarkan minuman di sana. Apa yang membuatmu malu? Aku bekerja di sana sejak mengandungmu, ingat itu!”

“Tapi aku tak mau bekerja seperti Mama.”

Wanita yang dipanggil sebagai mama itupun tertawa lebar, mengejek perkataan Kesha. “Kamu pikir sudah berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk kebutuhanmu saat ini? sekarang adalah waktunya kamu, untuk membalasnya. Diawali dengan menjadi pengantar minuman di kelab ini.”

“Aku nggak mau, aku nggak mau.” Kesha menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampak tersiksa, dan hal itu membuat Ken tak kuasa menahan senyumnya.

Ya, kesedihan Kesha adalah kebahagiaan untuknya. Ken masih ingat dengan jelas bagaimana wanita itu dulu memutuskan hubungan mereka, kemudian setelahnya, Ken mendapati diri Kesha berkencan dengan pria lainnya. Padahal, selama ini Ken sudah setia terhadap Kesha.

Akhirnya, Ken yang tadi sudah masuk ke dalam mobilnya memilih keluar kembali dari dalam mobilnya, kakinya melangkah menuju ke arah dua orang di hadapannya tersebut sembari berkata “Sepertinya ada yang membutuhkan bantuan disini.” Ucapnya dengan nada arogan.

Kesha menatap ke arahnya seketika dan ternganga sembari berkata “Kenzo?” dengan mata membelalak tak percaya.

Ken tersenyum miring terhadap Kesha. Matanya menatap Kesha dari ujung rambut hingga ujung kakinya dengan tatapan melecehkan. Ya, dulu, Keshanya tak pernah mengenakan pakaian terbuka seperti saat ini, dan kini, wanita itu tampak sangat berbeda.

“Siapa kamu?” perempuan paruh baya di hadapannya bertanya.

“Ken. Kekasihnya.” Jawab Ken dengan enteng.

Si perempuan paruh baya itu tertawa lebar. “Jangan ngaco!”

“Saya nggak ngaco. Saya memang pacarnya. Dan kami cuma lagi break dua tahun terakhir. Bukankah begitu, Kei?” tanya Ken pada Kesha dengan nada menggoda.

Kesha tak tahu harus menjawab apa. Ia masih bingung, apa yang dilakukan Ken di tempat ini, dan kenapa lelaki ini datang kepadanya dalam keadaan seperti ini.

“Memangnya kamu bisa ngasih berapa sama anak saya? Kamu tahu kalau kebutuhan perempuan itu nggak murah?”

“Mama!” Kesha berseru keras pada mamanya, sungguh, ia tidak ingin Ken mengetahui semua tentang dirinya atau keluarganya yang berantakan.

“Dua puluh juta sebulan. Kalau kamu bisa membayar itu, maka kamu boleh membawanya.”

“Mama!” lagi-lagi Kesha berseru keras.

Ken tertawa lebar. Seperti sedang mengejek kepada kedua wanita di hadapannya tersebut. Kesha merasa sangat malu, rasa sakit begitu terasa di dadanya.

“Kamu nggak perlu dengerin dia.” ucap Kesha pada Ken. “Kita masuk, Ma. Aku lebih suka menjadi pengantar minuman.” Kesha mengajak Sang mama masuk. Tapi kemudian jemari Ken mencengkeram pergelangan tangannya.

“Aku akan membayarnya.” Ucap Ken dengan penuh penekanan. Mata lelaki itu menyiratkan sebuah kemarahan yang sangat kental hingga entah kenapa membuat Kesha bergidik ngeri seketika.

Apa yang telah direncanakan Ken?

Sedangkan Ken sendiri, ia merasa bahwa waktunya telah tiba. Waktu untuk membalaskan kesakitan hatinya yang ditimbulkan oleh seorang Kesha, kini sudah tiba. Ia akan membalas kesakitan itu, ia akan membuat Kesha jatuh bertekuk lutut padanya, kemudian mencampakan wanita itu seperti apa yang dia lakukan dulu. Sepertinya, sangat menyenangkan saat membayangkannya. Tapi bisakah Ken melakukannya?

-TBC-

 

3 thoughts on “My Pretty Girlfriend – Prolog”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s