romantis

Bianca – Chapter 16 (Move on?)

Chapter 16

-Move on?-

 

“Jadi, Lili. Kamu ada masalah dengan si bartender?” tanya Jason saat keduanya sedang berada di atas lantai dansa.

Jason memang sudah curiga, tapi kecurigaannya semakin kental ketika ia melihat gelagat Lili yang menempel padanya tanpa canggung dengan tatapan mata yang sesekali melirik ke arah Sebastian, temannya.

“Enggak, kenapa?” Lili enggan jujur.

“Jangan bohong.” Jason memperingatkan.

Saat ini, lengan Lili sudah melingkari leher Jason, sedangkan Jason memilik menaruh kedua telapak tangannya pada kedua sisi kiri dan kanan pinggang Lili.

“Ya, sedikit.” Akhirnya Lili mulai terbuka.

“Ceritakan padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu?”

Lili tertawa lebar. “Beneran? Astaga Jase, kamu cukup membiarkan aku menempel seperti ini saja padamu, maka itu sudah sangat membantuku.”

“Benarkah?” Jason mengangkat sebelah alisnya. “Kamu ingin membuatnya cemburu?” tanya Jason kemudian.

“Apa sangat jelas terlihat, ya?” tanya Lili sedikit khawatir.

“Mungkin dia tidak tahu, tapi aku cukup paham situasimu. Karena dulu, aku juga sering memainkan peran ini.”

Lili mengerutkan keningnya “Maksudmu?” tanya Lili tak mengerti.

Jason menghela napas panjang. “Kamu tentu tahu. Felly dan Raka, kakak kamu.”

“Oh, Jase. Maaf. Aku nggak bermaksud..”

“Sudah, lupakan saja.” Pungkas Jason. Kemudian Jason memiliki ide untuk mengerjai Bastian. “kalau kamu nggak keberatan, aku bisa membuatnya semakin terbakar.” Ucap Jason kemudian.

“Dengan cara?” tanya Lili tak mengerti.

“Kamu harus janji kalau setelah ini kamu nggak akan nampar aku.”

Lili tidak menjawab, dia hanya mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang akan dilakukan Jason. Tapi kemudian, ia baru mengerti saat Jason tiba-tiba mendaratkan bibir basahnya pada lehernya. Sejenak, Lili merasakan sebuah sengatan aneh merayapi tubuhnya, ia tidak menyangka jika Jason akan melakukan hal ini padanya.

Dulu, ia memang sempat menaruh hati pada Jason, bahkan salah satu alasan Lili memusuhi Felly sebelum wanita itu menikah dengan Raka, kakaknya, adalah karena Felly dekat dengan Jason. Tapi itu dulu, sebelum Lili mengenal Bastian. Namun, cumbuan Jason pada lehernya benar-benar membuat Lili kurang nyaman, seakan memercikkan sesuatu pada dirinya. Lili membatu, seakan menikmati sentuhan Jason. Sedangkan Jason sendiri, entah kenapa ia membayangkan jika leher yang sedang dicumbunya tersebut merupakan leher jenjang Bianca. Oh, Jason bahkan sangat merindukan aromanya, kelembutannya. Bagaimana mungkin ia membiarkan Bianca jauh darinya?

Saat Jason masih asyik menikmati leher jenjang Lili, sebuah tangan mencengkeram pundaknya, kemudian memisahkan dirinya dengan tubuh Lili.

“Bajingan!” terdengan suara umpatan keras sebelum sebuah pukulan melayang pada wajahnya. Jason tersungkur di lantai Dansa, sedangkan Lili, sebelum ia menyadari siapa yang melakukan hal tersebut, pergelangan tangannya sudah diraih oleh orang tersebut lalu menyeretnya pergi dari sana.

Jason hanya tersenyum dan mengusap lembut ujung bibirnya. Rencananya berhasil. Ya, orang yang memukulnya itu adalah Bastian. Temannya yang tolol.

***

Sampai di luar Kafe malam tersebut, Bianca tak dapat lagi menahan perasaannya. Ia ingin segera pulang, tapi ia tidak membawa mobil. Dan mencari taksi malam-malam begini tentu sedikit sulit. Saat Bianca sedang sibuk dengan kebingungannya, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya hingga membuat Bianca menatap ke arah seseorang yang meraih pergelangan tangannya tersebut.

Astaga, Bianca bahkan sempat melupakan jika dirinya ke kafe tersebut dengan Raga. Raga menatapnya dengan mata marahnya. Entah lelaki itu marah karena apa. Apa karena Bianca meninggalkannya? Bianca tak peduli. Nyatanya Bianca ingin segera meninggalkan tempat yang membuatnya sesak tersebut.

“Apa yang terjadi?” tanya Raga dengan serius.

“Aku mau pulang?”

“Kenapa?”

“Pokoknya aku mau pulang.” Dan entah mungkin Bianca sudah tak sanggup menahannya lagi, akhirnya Bianca menumpahkan air matanya saat itu juga.

Rasa kesal menyelimutinya, Bianca cemburu dengan apa yang baru saja ia lihat. Bianca sempat berpikir, mungkin saat ini Jason masih memikirkan kesalahannya dan mencoba menghubunginya nanti jika situasi sudah membaik. Nyatanya, Bianca salah. Lelaki itu bahkan sedang asik bermesraan dengan perempuan lain. Apa Jason sudah benar-benar melupakannya? Semudah itukah setelah apa yang sudah ia berikan pada lelaki itu?

Tiba-tiba Bianca merasakan raga menarik tubuhnya kemudian memeluknya dengan erat. Bianca sempat ingin menolak, tapi kemudian ia merasakan pelukan Raga sangat nyaman untuknya. Lelaki itu seakan sedang melindunginya, sedang memberikan dadanya untuk bertumpu, dan Bianca tak akan menolaknyaa. Tangis Bianca semakin menjadi. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan sakit yang seperti ini. Sebelumnya, Bianca sama sekali tak pernah merasakan perasaan seperti ini.

Rasa dikhianati, diduakan, dicampakan, dan sejenisnya. Kenapa Jason tega melakukan ini padanya? Kenapa lelaki itu dapat dengan mudah melupakannya?

Akhirnya, Bianca menerima pelukan Raga. Ia bahkan membalas pelukan tersebut dengan cara melingkarkan lengan mungilnya pada perut Raga.

Saat keduanya asik berpelukan satu sama lain tanpa suara, saat itulah sebuah mata membara menatap keduanya.

Jason yang keluar dengan sesekali mengusap ujung bibirnya menatap sepasang lelaki dan perempuan muda tersebut saling berpelukan. Jason tentu mengenali siapa perempuan itu. Bahkan setiap inci dari tubuh wanita itu, Jason mengenalinya. Ya, itu adalah Bianca.

Dengan spontan Jason mengepalkan kedua belah telapak tangannya. Rasa marah membara di dalam dirinya. Ingin rasanya ia menghampiri keduanya, memisahkan keduanya, kemudian menghantam Raga seperti apa yang dilakukan Bastian tadi padanya. Tapi Jason masih memiliki akal sehatnya. Ia melihat ke sekeliling, dan masih ada beberapa orang di sekitar mereka, tentu Jason tak ingin terlibat adu hantam dengan Produsernya itu di depan umum. Ia tidak mau menimbulkan gosip-gosip miring atau skandal-skandal murahan yang akan menguntungkan media.

Akhirnya, Jason  memilih membalikkan tubuhnya kemudian kembali masuk ke dalam kelab tersebut. Sepertinya, ia akan menghabiskan malamnya dengan minum sampai teler. Kabar ia mabuk di kafe malam sepertinya tidak buruk daripada kabar tentang perkelahiannya dengan sang produser.

***

Bianca masih berada di dalam mobil Raga ketika keduanya sudah sampai di depan gerbang rumah Bianca. Bianca seakan enggan keluar dengan mata sembab seperti itu. Orang tuanya pasti bertanya apa yang telah terjadi. Tapi Bianca tak memiliki pilihan lain.

“Kalau kamu masih nggak mau turun, aku bisa menemanimu.” Ucap Raga pelan.

Bianca menggelengkan kepalanya. Ia kemudian bersiap turun, tapi tiba-tiba Raga meraih pergelangan tangannya hingga membuat Bianca menatap lelaki itu seketika.

“Temani aku.” Hanya dua kata, tapi mempu membuat Bianca terpaku menatap ke arah lelaki tersebut.

Bianca menghela napas panjang. “Sebenarnya, malam ini aku ingin menenggelamkan diri diantara bantal-bantalku. Menangis sampai lelah dan ketiduran. Tapi aku bingung bagaimana cara melewati Mama dan Papa nanti dengan mata sembab seperti ini.”

“Kamu, sangat menyukai dia, ya?” tanya Raga tiba-tiba.

Bianca menggelengkan kepalanya. “Aku nggak tahu apa yang sedang kurasakan.” Tiba-tiba mataya berkaca-kaca kembali. “Maksudku, aku belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya.”

“Kamu, jatuh cinta padanya?” lagi, Raga bertanya.

“Aku nggak tahu.” Desah Bianca.

Jemari Raga meremas jemari Bianca. “Lupakan dia, Bee. Dan lihat aku di sini.”

Bianca menggelengkan kepalanya. “Aku nggak tau apa aku bisa melakukannya atau tidak.”

Raga lalu menundukkan kepalanya, dia tersenyum seakan menertawakan dirinya sendiri. “Kamu tahu nggak? Aku bahkan sudah merasa kalah sebelum berperang.” Ucapnya dengan pelan tapi pasti. Bianca mengangkat wajahnya menatap ke arah Raga seketika. “Kupikir, aku bisa bersaing dengan Jason. Tapi ternyata, aku sudah kalah sebelum berperang saat melihatmu seperti sekarang ini.”

“Raga….” Sungguh, Bianca merasa tidak enak dengan Raga.

“Jangan, Bee. Aku tidak mau mendengar penolakanmu.” Raga memotong kalimat Bianca.

“Aku mau berteman, tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun.” Raga hanya menganggukkan kepalanya. “Semuanya terasa rumit. Andai saja kamu datang lebih awal.”

Ya, andai saja ia mengenal Raga lebih dulu sebelum bertemu dengan Jason. Andai saja mereka lebih dulu dekat, mungkin saat ini hubungan mereka tidak akan sesulit ini. tapi Bianca juga tak bisa menyalahkan waktu dan keadaan. Baginya, semuanya sudah terjadi. Jason sempat memberinya kebahagiaan, tapi lelaki itu juga sudah menyakitinya.

Keduanya saling berdiam diri, tertelan oleh keheningan malam. Bianca tak tahu harus berkata apalagi, sedangkan Raga, ia pun sama. Ia tak ingin memaksa Bianca, tapi disisi lain, ia juga begitu mendamba wanita yang duduk di sebelahnya itu. Akhirnya, keduanya berakhir saling berdiam diri dan sibuk dengan pemikiran masing-masing.

***

Pagi itu, Bianca terbangun di dalam mobil Raga dengan sebuah jaket menyelimuti tubuhnya. Rupanya, itu adalah jaket Raga. Bianca menolehkan kepalanya ke samping dan ia mendapati Raga yang ternyata masih pulas dalam tidurnya di kursi pengemudi.

Entah kenapa dengan spontan Bianca menyunggingkan senyuman tipisnya. Bianca merogoh ponselnya lalu melihat jam berapa saat ini. Rupanya, waktu menunjukkan pukul Enam pagi. Apa lelaki ini tidak bekerja? Pikir Bianca saat itu.

Akhirnya, sedikit tak enak hati, Bianca membangunkan Raga. Lelaki itu segera terjaga kemudian mengucek matanya seperti anak kecil.

“Kita ketiduran di sini, ya?” tanya Raga kemudian.

“Sepertinya begitu. Sudah jam enam. Lebih baik aku segera keluar, kamu pasti akan kerja.” Bianca mengembalikan jaket yang menyelimuti tubuhnya tadi pada Raga. “Terimakasih.” Ucapnya dengan disertai senyuman lembutnya. Setelah itu Bianca akan membuka pintu mobil di sebelahnya, tapi kemudian, Raga meraih pergelangan tangannya.

“Tunggu.” Ucapnya dengan spontan.

Bianca mengerutkan keningnya sembari menatap Raga penuh tanya. Tapi kemudian, Bianca tahu apa yang akan dilakukan Raga saat lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah Bianca dengan mata yang sudah berkabut menatap tepat pada bibir Bianca. Dengan spontan Bianca menahan tubuh Raga tepat pada dada lelaki itu.

“Raga.” Ucap Bianca berusaha menolak apa yang akan dilakukan Raga padanya.

“Bee. Kasih aku kesempatan, please.” Raga memohon.

“Kita bisa berteman.” Jawab Bianca.

“Aku menginginkan lebih.” Ucap Raga dengan jujur. Sepanjang malam ia habiskan waktunya untuk mengamati Bianca saat wanita itu tertidur di kursi penumpang tepat di sebelahnya. Jantungnya tak berhenti berdebar cepat, bibir Bianca sangat menggodanya, tubuh wanita itu yang tampak rapuh dalam tangisnya membuatnya tergiur untuk merengkuh ke dalam pelukannya. Raga tahu apa yang ia rasakan saat ini pada Bianca. ia benar-benar telah jatuh hati pada gadis kecil yang dulu sering ia goda. Dan Raga benar-benar ingin memiliki diri Bianca seutuhnya.

“Tapi aku baru saja…”

“Tolong.” Raga memotong kalimat Bianca. “Katakan saja kalau kita akan mencobanya.”

“Raga, aku bukan tipe orang yang akan memanfaatkan kehadiran orang disekitarku untuk menyembuhkan luka hatiku.”

“Jadi kamu tipe orang yang memilih terpuruk semakin dalam pada kesakitanmu? Ayoah, Bee. Kamu harus Move On.” Ucap Raga meyakinkan.

“Raga. Tak ada yang bisa kujanjikan padamu. Aku tidak memiliki apapun untuk kujanjikan apalagi kuberikan padamu.” Desah Bianca.

“Aku tidak menuntut lebih. Aku hanya ingin supaya kamu memberi kesempatan. Kita akan mencobanya. Jika kamu masih tidak bisa menerimaku, maka aku akan mundur teratur.”

Bianca menatap raga dengan lekat-lekat. “Kamu yakin hanya itu?”

Raga mengagguk dengan antusias. Dan hal itu membuat Bianca menghela napas panjang. “Baiklah, kita akan mencobanya.” Dengan spontan Raga meraih tubuhBianca agar masuk ke dalam pelukannya.

Astaga, apa yang sudah kamu lakukan, Bee? Bahkan hubunganmu dengan Jason saja belum belum pasti mau dibawa kemana. Dan kini, kamu menerima lelaki lainnya. Dasar gadis nakal! Bianca merutuki dirinya sendiri didalam hati.

***

Jason bangun dan segera ia merasakan pening yang luar biasa di kepalanya. Ia mengerjap saat mendapati tubuhnya sudah berada di atas ranjangnya sendiri di dalam apartmennya.

Apa yang terjadi? Seingatnya, semalam ia minum-minum sendiri di bar kafe Bastian seperti orang gila hingga berakhir tak sadarkan diri. Lalu kenapa dirinya bisa berada di sini? Dengan tubuh telanjang bulat seperti ini?

Apa? Telanjang bulat?

Jason bahkan baru menyadari jika dirinya telanjang bulat dibawah selimutnya. Siapa yang sudah berani menelanjanginya?

Jantung Jason berdebar kencang ketika mendapati pintu kamar mandinya dibuka dari dalam. Tidak! Jangan bilang kalau tadi malam dirinya membawa wanita ke dalam apartmennya kemudian berakhir dengan bercinta semalaman tanpa sadar apa yang sudah ia lakukan. Jason tidak ingin memikirkan hal itu. Bagaimanapun juga, ia tidak mau mendapati kemungkinan terburuk setelah apa yang terjadi malam ini.

Dan saat orang tersebut keluar dari dalam kamar mandi Jason, Jason dapat menghela napas lega saat mendapati Troy, temannya baru saja keluar dari sana.

“Udah bangun, Jase? Elo kayak lihat setan aja.” Komentar Troy sembari mengeringkan tubuhnya dengan handuk kecil.

“Berengsek! Elo buat gue takut.”

“Takut kenapa?” tanya Troy kemudian.

“Gue pikir, gue habis ngelakuin hal yang enggak-enggak saat gue teler tadi malam.”

“Jadi elo benaran nggak inget? Tadi malem kita kan ngadain pesta seks dengan dua orang wanita, dan mereka masih ada di dalam kamar mandi elo.”

Mata Jason membulat seketika. Mengabaikan ketelanjangannya, Jason segera berlari menuju ke arah Troy dan melonggokkan kepalanya masuk ke dalam kamar mandi. Nyatanya, di dalam sana tak ada siapapun. Terdengar tawa lebar dari Troy dan hal itu benar-benar membuat Jason kesal.

“Bangsat! Elo ngerjain gue?” Troy melemparkan diri di atas ranjang Jason, kemudian berguling di sana masih dengan tawa terpingkal-pingkalnya. Yang bisa Jason lakukan hanya mendengus sebal sembari meninggalkan Troy masuk ke dalam kamar mandinya.

***

Setelah mandi, Jason duduk di bar dapurnya. Kepalanya masih sedikit berdenyut nyeri, tapi kopi buatan Troy membuatnya merasa lebih baik.

“Jadi apa yang membuat elo segila tadi malam?” tanya Troy tanpa basa-basi lagi.

“Gue nggak gila.”

Come on, Jase. Elo nggak pernah minum sampai teler kayak tadi malam. Bastian telepon gue, dan nyuruh gue nyeret elo dari kafenya. Dia keliatan kesal. Apa yang elo perbuat?”

“Gue cumbuin ceweknya.” Jason menjawab asal pertanyaan Troy.

“Berengsek! Elo nggak bercanda kan? Elo gila?” Troy mengumpat keras pada Jason. “Tapi gue tahu bukan hanya itu yang terjadi. Ada apa? Kenapa elo minum sampai teler seperti tadi malam?”

“Gue, kayaknya bener-bener putus sama Bianca.” akhirnya Jason mengatakan sesuatu yang membuat gunda hatinya tadi malam setelah melihat penampakan Bianca yang sedang berpelukan dengan Raga.

“Apa? Elo yakin?” Troy sangat terkejut. Tentu saja.

“Gue mau lupain dia. Elo mau bantu, kan?”

“Tapi Jase, elo belum cerita apa yang terjadi.”

“Gue nggak perlu cerita.” Jason lalu menghela napas panjang. “Sekarang, bantu gue buat Move on.” Lanjutnya kemudian.

“Elo yakin dengan keputusan elo?”

“Ya. Pasti.” Jawab Jason dengan sungguh-sungguh.

Matanya menatap kopi di hadapannya. Bayangan Bianca menyeruak kembali dalam ingatannya. Bagaimana senyum ceria wanita itu, bagaimana leher jenjangnya, bagaimana mata cokelatnya. Sungguh, Jason sangsi bisa melupakan Bianca dengan cepat. Tapi mengingat apa yang ia lihat tadi malam, saat Bianca berpelukan dengan Raga, sepertinya itu mampu membakar bara dihatinya. Membulatkan tekadnya untuk benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Bianca. Tapi bisakah ia melupakan wanita itu dengan mudah?

-TBC-

Sampai jumpa di Chapter 17 (Cemburu) yeaayyyy hahahahah

1 thought on “Bianca – Chapter 16 (Move on?)”

  1. Yeeeeee troy brengsek 😂😂😂
    bu bikn karakter raga brengsek az deh , kasian dia kalo jadi orang baik , ujung” na entar sakit hati.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s