romantis

Sleeping with my Friend – Bab 2

 

Bab 2

 

Emosinya tak dapat ia kontrol. Steve melayangkan pukulannya lagi dan lagi pada wajah Henry. Sungguh, Steve sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi dengannya. Ia hanya tidak bisa membayangkan ketika Jessie akan melepas kehormatannya dengan laki-laki bajingan ini. Padahal Steve sadar, jika itu bukanlah urusannya.

Jessie sudah dewasa, jadi ia tidak bisa melarang Jessie untuk tidak melakukan hal tersebut.

Saat Steve tak juga berhenti memukuli wajah henry, pada saat bersamaan pintu dibuka dan menampilkan Jessie yang baru kembali dari apartmen Steve dengan membawa baju ganti untuk lelaki itu.

Jessie sempat terkejut dengan apa yang terjadi. Ia melihat Henry terkapar diatas lantai dengan Steve yang berada di atasnya dan memukuli Henry berkali-kali. Jessie memekikkan nama Steve dan segera berlari menuju ke arah dua orang lelaki tersebut.

“Steve! Apa yang sudah kau lakukan?” Jessie menarik tubuh Steve agar lelaki itu bangkit meninggalkan Henry yang sudah terkapar di atas lantai.

Jessie menghampiri Henry, dan membantu lelaki itu agar bisa bangkit dan duduk sendiri.

“Henry, kau tidak apa-apa?” tanyanya. Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve. “Apa yang kau lakukan Steve?!” Jessie berseru keras kepada Steve. Sedangkan Steve hanya bisa menatap Henry dengan tatapan membunuhnya.

Kemudian, tanpa banyak bicara lagi, Steve meraih baju ganti yang dibawakan Jessie, kemudian ia masuk ke dalam kamar Jessie untuk mengganti pakaiannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

***

Masih dengan kekesalan yang entah bersumber darimana, Steve mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Ia tidak sudi berlama-lama berada di dalam apartmen Jessie ketika ada si bajingan itu di dalamnya.

Steve lalu menghela napas panjang. Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Itu bukan urusannya, ketika Jessie akan memberikan kehormatannya pada lelaki itu malam ini, tapi entah kenapa memikirkan hal itu membuat Steve kesal setengah mati.

Setelah mengenakan pakaiannya, Steve segera keluar dari dalam kamar Jessie. Matanya lalu menangkap sepasang kekasih itu sedang berduaan di area dapur. Jessie tampak sedang mengobati memar-memar di wajah kekasihnya, dan itu kembali membuat Steve mendengus sebal.

Steve berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu depan apartemen Jessie, melewati sepasang kekasih itu tanpa ingin menatapnya. Hal tersebut membuat Jessie menghentikan aksinya, lalu meninggalkan Henry dan menyusul Steve.

Bagi Jessie, bagaimanapun juga, Steve harus meminta maaf terhadap Henry karena lelaki itu sudah memukuli wajah Henry hingga babak belur. Lagi pula, apa masalah mereka? Jessie tidak pernah berpikir jika keduanya memiliki masalah serius hingga membuat keduanya baku hantam seperti tadi.

Jessie mengejar Steve, dan menghentikan temannya itu saat Steve baru saja membuka pintu apartmen Jessie.

“Hei, kau mau kemana?” Jessie menghentikan Steve dengan menepuk bahu lelaki itu.

“Keluar.”

“Kau belum meminta maaf padanya. Kau tidak lihat mukanya babak belur karena ulahmu?”

Steve hanya menatap Jessie dengan tatapan membunuhnya. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Jessie tanpa sepatah katapun.

“Hei, Steve! Apa otakmu masih terendam alkohol? Steve! Steven!” Jessie berseru keras, tapi Steve masih melanjutkan langkahnya seakan tak peduli dengan teriakan-teriakan Jessie.

Dengan kesal, Jessie kembali masuk ke dalam apartemennya, sambil menggerutu, ia menuju ke arah Henry kembali dan melanjutkan aksinya untuk mengobati memar-memar di wajah lelaki itu.

“Apa dia gila? Apa otaknya masih terendam dengan alkohol? Dasar tidak tahu diri.” Jessie masih menggerutu sebal, dan itu membuat Henry sedikit tersenyum melihat kekasihnya tersebut.

Ya, itulah yang disukai Henry dari Jessie, wanita yang ceria dan juga cerewet.

“Kau, kenapa kau malah tersenyum seperti itu?”

“Sudahlah, lupakan saja dia.”

“Aku masih tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba dia memukulimu seperti itu? Kau tidak mungkin berbuat macam-macam dengannya, bukan?”

Henry sedikit salah tingkah. “Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya bertanya, kenapa dia mengenakan piyamamu, lalu tiba-tiba dia menerjangku dan memukuliku.”

“Mungkin dia masih terpengaruh dengan alkohol.”

“Dia mabuk lagi?” tanya Henry. Ya, setahu Henry, Steve adalah seorang pemabuk. Playboy cap kakap, dan ketika lelaki itu memiliki masalah atau sedang mabuk, lelaki itu lebih memilih menghabiskan waktunya di apartmen Jessie, dan itu benar-benar membuatnya tidak suka.

“Ya, dia gila. Bahkan tadi malam dia telanjang bulat di hadapanku dan memuntahkan isi di dalam perutnya di atas karpetku.” Ucap Jessie yang kini sudah kembali mengobati memar-memar di wajah Henry.

“Jess, jika boleh jujur, aku tidak suka melihat kedekatanmu yang tak wajar dengannya.”

Jessie menghentikan pergerakannya seketika. Ia menatap Henry dengan serius. “Apa maksudmu? Kami hanya teman, tak lebih.”

“Ya, tapi kalian sudah sama-sama dewasa. Aku cemburu melihatnya. Apa salah jika aku cemburu padanya?” pancing Henry.

Jessie tersenyum lembut. Ia menangkup kedua pipi Henry dan berkata. “Honey, kau tak perlu khawatir. Steve sudah seperti saudara bagiku. Kami tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak.”

“Tapi aku tidak percaya padanya.”

“Dia tidak akan berani macam-macam denganku, jika dia berani macam-macam sedikit saja, maka akan kutendang bokongnya dari sini.”

Henry mencoba tersenyum. Ia bersikap seolah-olah percaya dengan apa yang dikatakan Jessie, padahal sebenarnya, Henry merasa jika dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat cemburu dengan kedekatan yang terjalin antara Steve dan juga Jessie.

***

Steve tak berhenti mendengus sebal. Hari ini, ia menghabiskan waktunya di rumah Hank, temannya. Bukan tanpa alasan, karena hanya Hanklah yang mungkin mengerti bagaimana perasaannya saat ini.

Biasanya, Hank adalah orang yang menasehati Steve, memberi masukan, bahkan terkadang dia adalah orang yang mengenalkan Steve dengan beberapa wanita yang pernah menjadi teman kencan semalamnya.

Kini, Steve memilih mengubur dirinya pada sofa panjang milik Hank sembari menonton televisi dengan sesekali meminum bir yang memang selalu tersedia di dalam rumah lelaki itu.

“Kau, sebenarnya aku cukup muak melihatmu berada di sini.” Ucap Hank sembari melompat duduk tepat di sebelah Steve. “Ayolah, aku ada kencan, dan aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini seperti orang gila.”

“Kalau begitu, ajak aku kencan.” Jawab Steve dengan wajah cueknya.

“Kau akan menggangguku, Steve.”

“Berengsek! Apa kau tidak bosan berkencan dengan Natalia? Kau bisa memutuskannya dan mencari wanita baru, Sialan!” Steve mengumpat kesal. Hank memang sangat berbeda dengan Steve. Jika Steve memilih hubungan satu malam dengan seorang wanita, maka Hank adalah sosok yang setia.

Entah sudah berapa tahun lamanya Hank menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Natalia tersebut.

“Steve, aku bukan kau yang tidak punya perasaan. Saat kau tak bisa berpaling dari seorang wanita, saat itulah kau sudah benar-benar jatuh cinta padanya.”

“Omong kosong tentang cinta! Bagiku, cinta adalah seberapa besar payudaranya.”

Hank tertawa lebar. “Berengsek. Otakmu benar-benar sudah parah. Lebih baik kau pergi dari sini. Aku benar-benar sedang ingin berkencan minggu ini.”

Steve bangkit seketika. “Aku masih bingung. Kenapa ada orang-orang yang membosankan seperti kalian?”

Hank mengangkat sebelah alisnya. “Kalian?”

“Ya, kau dan Jessie. Kalian benar-benar membosankan.”

Hank tersenyum, ia ikut bangkit dan menepuk pundak Steve. “Kau hanya iri pada kami, Steve. Kami memiliki orang yang mencintai kami, dan kau belum memiliki hal itu.”

“Sialan!” lagi-lagi Steve mengumpat kesal. Lalu Steve berjalan pergi keluar dari apartmen Hank.

“Steve, aku akan ke apartemenmu nanti malam.”

“Tak perlu, karena aku akan berpesta dengan beberapa wanita bayaran.”

“Ayolah Steve.” Sungguh, Hank merasa tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi. Hari ini adalah hari dimana ia akan melamar kekasihnya. Jadi ia tak mungkin membatalkannya.

“Nikmati saja kencanmu yang membosankan itu.” Ucap Steve dengan nada kesal sembari meninggalkan apartemen Hank. Ya, Steve merasa sangat kesal. Tapi, kenapa juga ia merasa kesal? Apa benar yang dikatakan Hank, bahwa ia hanya merasa iri saja karena tak memiliki wanita yang ia sukai? Ya, mungkin saja.

***

Jessie tidak bisa menghilangkan degup jantungnya yang semakin menggila. Masalahnya, hari ini ia sudah memutuskan untuk melepas kehormatannya dengan Henry, lelaki yang ia cintai. Disisi lain, ia merasa takut jika Henry akan kecewa dengan dirinya yang tak tahu apapun tentang seks.

Jessie mencoba menenangkan diri dengan meminum anggur yang tadi memang dibawakan Henry untuk mereka. Saat ini, keduanya sedang menonton film bersama di ruang tengah apartmen Jessie. Tak ada suara diantara mereka. Henry tampak menikmati jalannya film yang sedang mereka putar, sedangkan Jessie tampak sedang berusaha mengendalikan dirinya agar tak tampak salah tingkah.

“Sepertinya, kau sedikit tidak nyaman.” Ucap Henry kemudian.

“Maaf, aku hanya tidak bisa mengendalikan degup jantungku.” Jawab Jessie dengan jujur.

Henry tertawa lebar. Jemarinya terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Kalau kau belum siap, aku tidak akan memaksa.”

“Tidak! Aku sudah siap. Uum, maksudku, aku sudah menunggu malam ini.”

Henry menatap Jessie dengan intens. “Kalau begitu, bolehkah aku memulainya sekarang?”

Keterkejutan tampak jelas terukir di wajah Jessie. “Apa? Uum, bukankah ini masih sore, dan aku…” Jessie tampak tidak siap dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya tersebut.

Henry tersenyum lembut. “Aku tahu, kau hanya belum siap, Jess.”

“Henry, aku hanya…” Jessie tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Nyatanya apa yang dikatakan Henry adalah hal yang benar. Bahwa ia memang tidak siap melakukan ini. memang pikirannya sangat kuno, tapi mau bagaimana lagi. Jessie menghela napas panjang, lalu ia menjawab. “Ya, sebenarnya, aku belum cukup siap.”

“Aku mengerti.” Henry lalu melirik ke arah jam tangannya, kemudian ia berkata “Sebenarnya, hari ini aku ada janji dengan seorang pasien. Kau, tidak apa-apa bukan jika aku pergi sekarang?”

“Kau pergi karena aku belum siap melakukan seks denganmu?”

“Tidak, bukan begitu.”

“Tapi kita sudah sepakat kalau kita akan menghabiskan malam bersama malam ini. dan kini, kau berkata jika kau memiliki janji dengan pasienmu setelah aku menolakmu.”

“Jess. Tidakkah kau mengerti bahwa ini juga terasa sulit untukku? aku laki-laki normal yang sangat menginginkanmu. Mana mungkin kita bisa menghabiskan malam bersama tanpa melakukan apapun.”

Jessie berdiri seketika. “Kalau begitu, sentuh aku.”

Henry menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku berusaha menghormatimu. Saat kau berkata belum siap, maka aku tak akan melakukannya.”

“Oh Henry.” Jessie terpana dengan lelaki di hadapannya tersebut.

“Biarkan aku pergi. Oke?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. Ia tidak ingin Henry pergi dengan kekecewaan yang tampak jelas di wajahnya, tapi mau bagaimana lagi. Jessie juga tidak  bisa membohongi dirinya senidri jika dirinya memang belum siap untuk melakukan hal seintim itu dengan Henry. Astaga, apa yang terjadi dengannya?

“Baiklah. Tapi, kau tidak marah denganku, bukan?”

Henry tersenyum lembut. “Tentu saja tidak.” Jawabnya sembari mengusap lembut pipi Jessie. Jessie ikut tersenyum, ia mersa lega, tapi di sisi lain, ia tetap merasa tidak enak karena sudah membatalkan rencana mesra mereka berdua.

***

Jessie mengantar Henry hingga basement. Saat ia kembali, ia mendapati Cody yang berada di sebelah lift. Lelaki paruh baya itu tampak sedang memapah seorang wanita dengan pakaian minimnya.

“Woow, aku tidak menyangka jika kau memiliki teman seperti ini, Cod.” Wanita itu memang tampak seperti wanita jalang dengan pakaian ketatnya, belum lagi gayanya yang sudah seperti wanita yang sedang mabuk membuat Jessie sulit mencerna sebenarnya apa yang sedang terjadi.

“Kau tahu? Temanmu sedang menggila.” Ucap si penjaga apartemen tersebut.

Jessie mengangkat sebelah alisnya. “Teman? Steve? Apa yang dia lakukan?”

“Dia sedang berpesta dengan banyak sekali wanita. Dan aku di sini dibayar lebih untuk mengantar mereka-mereka yang sudah teler seperti ini.”

Jessie menggelengkan kepalanya. “Astaga, apa dia sudah gila? Aku akan menegurnya.” Ucap Jessie kemudian yang segera menuju ke lantai dimana Apartmen Steve berada.

Tak menunggu lama, Jessie akhirnya sampai di depan pintu apartmen Steve. Setelah itu ia membuka begitu saja pintu tersebut karena Jessie memang sudah mengetahui passwordnya.

Jessie sangat terkejut ketika mendapati apa yang ada di dalam apartmen Steve. Musik diputar dengan nyaring, lampu dimatikan dan hanya terdapat lampu gemerlap hingga suasana seperti sedang berada di dalam sebuah kelab malam. Dua orang wanita setengah telanjang menari dengan gaya erotis di atas meja Steve, sedangkan Steve sendiri sedang duduk menikmati tarian tersebut dengan segelas minuman yang berada di tangannya. Tak lupa, terdapat juga dua orang wanita di sisi kiri dan kanannya.

Melihat itu membuat Jessie kesal, dangat kesal. Steve seperti seorang yang kekanakan. Bagaimanapun juga, Jessie merasa jika hal seperti ini tak seharusnya dilakukan oleh Steve. Apa lelaki itu akan mengadakan pesta seks?

Jessie berjalan cepat menuju ke arah hometeater yang memutar lagu-lagu tersebut, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Jessie mematikannya. Membuat semua yang berada di ruangan tersebut menatap ke arah Jessie seketika. Tak terkecuali Steve.

Steve berdiri seketika, ia tidak menyangka jika Jessie berada di sini dan melihatnya seperti ini.

“Siapa dia? mengganggu saja.” Ucap seorang wanita yang menari di atas meja Steve.

“Keluar dari sini.” Ucap Jessie kemudian.

“Hei, memangnya kau siapa?” tanya perempuan itu. Sedangkan Steve hanya diam masih ternganga dengan kehadiran Jessie.

“Aku kekasihnya. Sekarang kalian keluar dari sini, atau aku akan memanggil polisi untuk menangkap kalian.” Ancam Jessie.

Mendengar itu membuat para wanita yang ada di sana sedikit panik, apalagi saat melihat Steve yang hanya diam ternganga menatap ke arah Jessie. Lelaki itu seakan tak memiliki kemampuan untuk membela mereka dan terkesan membenarkan Jessie. Akhirnya, para wanita itu pergi meninggalkan apartmen Steve dengan sesekali menggerutu kesal pada Jessie.

Setelah para perempuan itu pergi meninggalkan apartmen Steve. Jessie segera memunguti apapun yang berada di ruang tengah tersebut yang baginya tampak berantakan. Sedangkan Steve, ia masih berdiri mematung menatap keberadaan Jessie di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Steve pada Jessie yang tampak lebih fokus pada ruang tengah apartmen Steve ketimbang si pemilik apartmen itu sendiri.

“Kau tidak lihat? Aku sedang membereskan sampah.”

“Kau tahu apa maksud dari pertanyaanku. Kenapa kau disini? Bukankah seharusnya kau kencan dengan pacar Gay mu itu?”

Jessie berkacak pinggang tidak suka dengan pertanyaan Steve. “Yang pertama, kedatanganku kesini karena menyadarkanmu bahwa kelakuanmu ini mengganggu penghuni apartmen lainnya, dan yang kedua, dia tidak Gay!”

Steve malah bersedekap. “Apartmenku kedap suara. Lagi pula, apartmenmu berbeda Lima lantai dari tempatku, jadi aku tak mungkin mengganggumu.”

“Terserah kau saja.” Jessie menjawab dengan acuh. Sebenarnya, Jessie juga tak mengerti apa yang ia lakukan di sini. Seharusnya ia tak peduli dengan Steve, dan bisa dibilang jika ia masih marah dengan lelaki itu. Tapi Jessie tak memungkiri jika malam ini dirinya butuh seorang teman untuk mencurahkan isi hatinya. Mencurahkan kebodohannya karena sudah menolak Henry dan membuat kekasihnya itu kabur begitu saja.

Jessie tahu, bahwa ia butuh teman untuk minum bersama dan menghilangkan kegalauannya yang entah bersumber dari mana. Dan ia juga tahu, bahwa hanya Stevelah teman yang cocok untuk membuatnya lebih baik lagi.

Kenyataan bahwa lelaki itu memilih bersenang-senang dan berpesta dengan banyak wanita jalang membuat Jessie marah. Jessie kesal, kenapa disaat hubungannya terasa sulit dengan Henry, Steve malah bisa sesuka hati tidur dengan berbagai macam wanita. Iri? Tentu saja, tapi Jessie tidak ingin mengungkapkan rasa irinya karena ia tahu bahwa ia tidak berhak merasakan perasaan tersebut.

Ingat, mereka hanya berteman, tidak lebih.

Saat Jessie memilih mengabaikan Steve, saat itulah Steve merasa emosinya terpancing. Secepat kilat Steve mencengkeram kedua bahu Jessie lalu ia bertanya sekali lagi. “Apa yang kau lakukan di sini?” kali ini pertanyaan Steve terdengar tajam dan menuntut.

Jessie tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia butuh teman, sungguh, tapi sepertinya mendatangi Steve adalah salah.

“Oke, aku pergi.” Jessie mengangkat kedua tangannya dan bersiap pergi.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

1 thought on “Sleeping with my Friend – Bab 2”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s