romantis

Bianca – Chapter 15 (Patah Hati)

 

Jason mundur seketika. “Kamu, mutusin aku?” tanyanya tak percaya.

Bianca menggelengkan kepalanya. Ia bergegas pergi meninggalkan Jason. Ia tahu, mau berbicara seperti apapun juga, tak ada gunanya. Jason sedang emosi, jadi lelaki itu tak akan bisa berpikir secara rasional.

Saat Bianca akan sampai di pintu apartmen Jason. Jason meraih pergelangan tangan Bianca. “Jangan seperti ini, Bee.” Jason memohon.

“Kita tidak cukup mengenal satu sama lain, Jase. Hubungan kita terlalu terburu-buru. Temui aku lagi saat emosimu sudah padam.” Setelah itu Bianca pergi menghilang dibalik pintu apartmen Jason.

Jason merasa hampa seketika. ‘Bagus Jase, kau sudah mengacaukan semuanya.’ Gerutunya dalam hati.

***

Chapter 15

-Patah Hati-

 

Bianca tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Menangis karena seorang lelaki. Astaga, benar-benar menggelikan. Tapi entah kenapa Bianca tak dapat menahan diri untuk meneteskan bulir-bulir sialan itu dari matanya.

Sejak malam itu hingga besok sorenya, Bianca mengurung diri di dalam kamarnya. Ia hanya keluar untuk mengambil makanan ringan, karena untuk memakan nasi saja rasanya ia tidak nafsu.

Separah inikah pengaruh Jason terhadap dirinya?

Bahkan saat Mamanya ingin datang menghibur Bianca, Bianca menolaknya dengan halus. Bianca hanya berkata jika dirinya sedang tidak enak badan dan ingin sendiri. jadi yang bisa mamanya lakukan hanya menuruti apapun keinginan Bianca untuk sendiri.

Hingga kini, dua hari berlalu setelah kejadian pada malam itu di apartmen Jason, Bianca tetap menutup diri. Meski dia sudah sesekali keluar dari dalam kamarnya, tapi tetap saja, ia masih tak ingin berbicara atau membahas masalahnya dengan orang lain.

Jason sendiri tidak ada menghubunginya. Mungkin harga diri lelaki itu terlukai karena keputusannya, Bianca tak peduli. Nyatanya, Jason harus belajar mengerti bahwa mereka harus saling percaya dan terbuka jika hubungan mereka ingin berhasil.

Saat Bianca menenggelamkan wajahnya pada bantal bantal di atas ranjangnya, Bianca mendengar ponselnya berbunyi. Entah, ini sudah yang keberapa kali, Bianca tak tahu, tapi jelas Bianca tahu bahwa itu adalah Sienna, kakak iparnya.

Bianca kesal dengan kegigihan Sienna, tak ingin kepalanya pusing karena bunyi berisik dari ponselnya, akhirnya Bianca mengangkat panggilan dari kakak iparnya tersebut.

“Ada apa?” tanya Bianca dengan ketus.

“Belanja. Mau kan?”

“Nggak, aku lagi nggak enak badan.”

“Ayolah, sama Kak Alqdo. Dia akan belikan kamu apapun yang kamu inginkan.”

Bianca mendengus sebal. Tidak biasanya Sienna baik begini. Apa mamanya menghubungi Sienna dan meminta Sienna untuk merayunya?

“Mama hubungin kamu, ya?”

“Ya. Mama khawatir Bee, begitupun denganku. Kamu mau, kan, keluar bareng sama aku dan Kak Aldo?”

Bianca menghela napas panjang. Sebenarnya, ia tak perlu bersedih hati sampai seperti ini. Keputusan Break dari hubungannya dengan Jason adalah keputusannya, jadi kenapa ia harus menyesalinya? Lebih baik dia senang-senang. Toh, kalau Jason benar-benar sayang padanya, lelaki itu akan mencarinya. Jadi, ia tak perlu menunggu apalagi sampai mengurung diri seperti ini di dalam kamarnya.

“Oke, tapi janji ya, kalau Kak Aldo bakal belanjain semua yang kuminta.”

“Janji.” Dan akhirnya, telepon di tutup. Bianca melompat semangat dari atas ranjangnya kemudian segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ya, ia harus tetap semangat, tetap senang. Patah hati bukanlah dirinya, ia wanita bebas, ia wanita ceria…

***

Di lain tempat.

“Kalau aku ketemu sama si Bajingan itu. Aku akan mengulitinya hidup-hidup. Berani-beraninya dia membuat adikku patah hati.” Sienna memutar bola matanya ke arah Aldo, suaminya.

“Hadeh, kamu apaan sih Kak. Lebay banget. Lagian, Bee belum tentu patah hati dengan Jason. Bisa jadi dia sedang bisulan, makanya nggak mau keluar.”

“Aku nggak sedang bercanda, Si. Raga sudah cerita sama aku, kalau Bee punya hubungan special dengan si Berandalan itu.”

“Ya tapi, belum tentu juga kan kalau Bee murung karena hubungannya dengan Jason.” Sienna masih membela Jason.

Bagaimanapun juga, ia tidak ingin berprasangka buruk. Hana, mertuanya hanya bilang bahwa Bianca murung dan hampir tak pernah keluar kamar selama dua hari terakhir, jadi Sienna tak ingin buru-buru menyalakan Jason.

“Lagian, kamu kenapa sih, Kak. Kayaknya benci banget sama Jason.”

“Kamu nggak lihat penampilannya urakan gitu? Pergulannya pasti bebas. Lagian dia anak band. Pasti punya pacar dimana-mana.”

“Kita tidak boleh menilai orang dari penampilan ataupun profesinya. Anak Band kan belum tentu playboy.”

“Kebanyakan.”

“Ya, tapi tidak semua.” Sienna tak ingin mengalah.

“Kamu kenapa sih belain dia? kamu masih ngefans sama dia, ya?”

“Iya.” Sienna menjawab jujur. Hal itu benar-benar membuat Aldo kesal. Akhirnya Aldo memilih meninggalkan istrinya tersebut dan bersiap-siap karena mereka akan jalan bersama. Sedangkan Sienna, ia tidak bisa menyembunyikan tawa lebarnya ketika melihat tampang Sang Suami yang memberengut kesal karena jawaban jujurnya tersebut.

***

Bianca merasa kurang nyaman…

Bagaimana tidak, awalnya Bianca berpikir jika hari ini ia hanya akan berjalan-jalan dan berbelanja dengan Aldo, Kakaknya dan juga Sienna, kakak iparnya. Tapi ternyata, dengan begitu menyebalkannya, Aldo malah mengajak Raga untuk main bersama. Jadilah mereka jalan-jalan berempat.

Bukannya Bianca tidak suka, hanya saja, Bianca merasa waktu seperti ini kurang pas. Ia sedang memiliki masalah dengan Jason, dan salah satu masalah tersebut juga karena kehadiran Raga. Jika Jason melihatnya saat ini sedang bersama dengan Raga, lelaki itu pasti berpikir jika mereka benar-benar sedang menjalin hubungan selama ini.

Bianca kesal. Tapi di sisi lain ia merasa bahwa hanya jalan-jalan seperti ini seharusnya bukan masalah. Ia juga butuh teman untuk mengobrol. Jika Jason melihatnya, seharusnya lelaki itu tak perlu salah paham dan cemburu buta seperti kemarin.

Biaca menghela napas panjang, dan hal tersebut membuat Raga yang berjalan tepat di sebelahnya menolehkan kepala ke arahnya.

“Kamu, tampak nggak suka berada di sini.” Raga berkomentar, dan hal tersebut membuat Bianca mengangkat wajahnya menatap ke arah lelaki yang lebih tinggi darinya tersebut.

“Ya, aku kurang enak badan. Tapi karena mereka ngajak jalan, jadi aku ikut aja.”

“Bukan karena keberadaanku disini, kan?” tanya Raga sekali lagi secara terang-terangan.

Bianca sedikit tersenyum, aku benar-benar tak pandai menyembunyikan ekspresi tidak sukaku, ya?  tanya dalam hati.

“Enggak juga.” Akhirnya, karena merasa tak enak, Bianca berbohong. “Ada kamu di sini, setidaknya aku merasa nggak jadi obat nyamuk diantara dua sejoli itu.” Bianca menunjuk Sienna dan Aldo yang berjalan di depan mereka dengan mesra dan saling bergandengan tangan.

Raga tertawa. “Syukurlah kalau begitu.” Kemudian, tanpa diduga, Raga meraih telapak tangan Bianca dan menggenggamnya. “Ngomong-ngomong, kita juga bisa pura-pura bersikap seromantis mereka.” Bianca menatap telapak tangannya yang digenggam oleh Raga.

“Hanya, pura-pura, kan?” tanya Bianca kemudian.

Raga tersenyum lembut, dan sialnya, senyuman lelaki itu mampu membuat jantung Bianca berdebar tak menentu. “Beneran juga boleh.” Jawab lelaki itu dengan tawa khasnya.

Kemudian Raga mengajak Bianca berjalan lebih cepat dari sebelumnya karena mereka sudah ketinggalan cukup jauh dari sepasang suami istri yang berjalan di depan mereka. Sedangkan Bianca yang masih ternganga karena jawaban lelaki itu hanya mengikutinya saja.

Raga pasti bercanda. Ya, lelaki itu pasti bercanda dan hanya ingin menggodanya. Pikir Bianca dalam hati.

***

Karena kesal tak mendapatkan nada yang baik dan benar saat latihan, Jason akhirnya meminta untuk megakhiri latihan The Batman hari ini. ia melemparkan diri ke atas sofa yang tersedia kemudian memilih membuka akun jejaring sosialnya dengan wajah murungnya.

“Elo kenapa lagi?” jika biasanya Troy yang suka kepo dengan urusannya, maka saat ini giliran Jiro yang bertanya.

“Nggak apa-apa.”

“Jase, kita harus serius. Konser semakin dekat.” Tentu saja Jiro khawatir. Konser besar yang akan di selenggarakan nanti cukup berbeda dengan konser-konser sebelumnya. Konser mereka akan disiarkan live di beberapa TV nasional, jadi Jiro tak ingin jika ada masalah nanti hanya karena salah satu dari mereka kurang siap.

“Elo pikir gue main-main? Gue juga mau konsen, tapi pikirn gue lagi suntuk.”

“Sedikit ngingetin, sudah dua hari elo kayak gini, Jase. Mending elo cari kesenangan dulu sana, biar bisa balik fresh lagi.”

Jason hanya menghela napas panjang. Memangnya kesenangan seperti apa? Orang yang biasa menghiburnya, membuatnya senang dan berbunga-bunga sudah meninggalkannya. Ingin rasanya Jason mengesampingkan egonya, kemudian menghubungi Bianca, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengalah.

Akhirnya, sembari menggelengkan kepalanya, Jiro bergegas pergi meninggalkan Jason. Tak ada lagi yang bisa ia perbuat jika masalahnya menyangkut mood atau tentang masalah pribadi. Andai saja Jason mau bercerita, mungkin ia akan mendengarkan atau kalau bisa ia akan memberi sedikit masukan. Masalahnya, Jason memilih bungkam, jadi Jiro tak bisa berbuat apa-apa.

***

Mendengar nasihat Jiro, akhirnya Jason memutuskan untuk ke kafe milik salah seorang temannya. Kafe milik Sebastian, tempat dimana Lili bekerja. Ia ingin mencari hiburan di sana. Sedikit bercerita tentang Sebastian, ia mengenal lelaki itu beberapa tahun yang lalu saat di perguruan tinggi, sekarang, temannya itu sukses dan memiliki beberapa cabang kafe, tapi yang membuat sedikit heran adalah saat Sebastian memilih menyamar sebagai bartender di kafenya ini. awalnya Jason mengira hal itu hanya untuk menge-testbeberapa pegawainya, tapi belakangan Jason mengerti, mungkin Bastian sedang mengincar salah seorang pegawainya. Ya, siapa lagi jika bukan Lili.

Jason meraih minuman yang diberikan oleh Bastian. Malam ini, Bastian sendirilah yang melayaninya di Bar special untuk kalangan elit. Sesekali Jason menatap ke arah Bastian yang wajahnya sama ditekuknya dengan dirinya. Apa Bastian sedang memiliki masalah?

“Gue lihat elo berbeda.” Ucap Jason kemudian.

Bastian hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya, Bastian tak perlu bersikap seperti ini pada Jason. Tapi sikap Jason pada Lili membuat Bastian geram. Jason tentu tahu jika ia menyukai Lili. Setelah mereka tak sengaja bertemu di Toko Ice Cream milik Felly beberapa bulan yang lalu, Bastian sempat menjelaskan pada Jason lewat pesan singkatbahwa alasannya menyamar sebagai orang biasa hanya supaya bisa lebih dekat dengan Lili. Saat itu, Bastian bahkan berterimakasih, karena Jason tidak mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya, bahkan temannya itu bersikap seperti tidak saling mengenal. Tapi beberapa minggu yang lalu, terakhir kali Jason datang ke kafenya ini, Jason malah menjemput Lili, dan Bastian tak suka melihat keduanya berboncengan dengan mesra.

“Bash. Elo ada masalah?” tanya Jason lagi.

Bastian membuka suara, akan menjawab pertanyaan Jason, tapi sebelum suaranya keluar, Lili sudah datang. Dengan begitu menjengkelkannya, Lili bahkan mengecup singkat pipi Jason sembari melirik sekilas ke arah Bastian. Tentu saja, Bastian merasa jika Lili sengaja melakukan hal itu, mereka berdua sedang memiliki masalah.

“Hai, aku senang kamu kesini.” Sapa Lili dengan nada yang dibuat manja pada Jason.

“Ya, aku juga senang kamu yang nemani aku di sini.”jawab Jason tanpa rasa sungkan sedikitpun.

“Mau, ke lantai dansa? Sama aku?” tawar Lili.

“Tamu lagi ramai, seharusnya kamu membantu yang lain melayani tamu-tamu.” Bastian menyahut.

“Jase kan juga tamu di sini. Malah, dia tamu special.” Lili menjawab dengan ketus.

Jason tersenyum. Pada detik itu, Jason merasa bahwa laki-laki dan perempuan di hadapannya ini sedang memiliki masalah pribadi. “Tapi, aku nggak mau kalau ada yang ngenalin aku.” Ucap Jason kemudian.

“Layaknya bar ini yang disediakan untuk kalangan elit terbatas, lantai dansa juga tersedia untuk kalangan elit terbatas.” Jawab Lili kemudian.

“Benarkah? Kok aku baru tahu.”

“Baru launcing beberapa minggu yang lalu. Sepertinya si pemilik Kafe tahu, kalau kafe ini sering dikunjungi artis-artis atau tokoh-tokoh Top di negeri ini. Dan bisa dijamin, nggak ada yang peduli kalau itu kamu, Jason vokalis The Batman yang sedang naik daun.” Ucap Lili dengan tawa renyahnya, diikuti dengan Jason yang juga ikut tertawa dengannya. Sedangkan Bastian, lelaki itu hanya menampilkan raut tak sukanya. Akhirnya, keduanya memutuskan turun, ketempat yang diucapkan Lili.

***

Jika tadi siang Bianca merasa tidak nyaman dengan kedekatannya bersama dengan Raga, maka berbeda dengan malam ini. ia merasa lebih nyaman, lebih bebas saat bersama dengan lelaki itu. Mungkin karena Raga mencoba mendekatkan diri dengannya, mungkin karena Raga mencoba membuatnya tersenyum, atau mungkin karena memang perasaannya yang mulai menerima Raga disekitarnya.

Bianca bahkan sedikit melupakan masalahnya dengan Jason, ia bisa tertawa lepas saat Raga mencoba melemparkan lelucon tak masuk akalnya, hingga membuat dirinya tertawa terpingkal-pingkal.

Satu hal yang disadari Bianca, bahwa ternyata, Raga bukan orang yang kaku atau membosankan seperti bayangannya. Ternyata, lelaki itu asik juga saat diajak biacara dan bercanda seperti hari ini.

Saat ini, keduanya sedang berada di sebuah kafe malam. Raga berkata jika kafe tersebut merupakan milik dari temannya. Bianca merasa cukup nyaman berada di sana, masalahnya, ia sedang berada di area kalangan elit terbatas. Ya, setidaknya, itulah yang dikatakan Raga tadi.

Tempatnya benar-benar keren bagi Bianca. Mereka masuk melalui pintu khusus yang sudah di sediakan dan harus memiliki card ID khusus untuk memasuki area tersebut. Dan hal itu benar-benar keren bagi Bianca. Bianca merasa menjadi orang yang special, dan entah kenapa ia merasa senang, meski yang mengajaknya kemari bukan Jason, melainkan Raga.

Mereka saat ini hanya berdua, karena Aldo dan Sienna memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Jika tadi Bianca masih merasa tak nyaman dengan Raga, mungkin ia tidak akan mau saat Raga mengajaknya mampir ke kafe ini sebentar. Nyatanya, Bianca sudah merasa nyaman dengan lelaki itu, jadi menurut Bianca sepertinya tidak masalah jika ia main-main sebentar dengan lelaki itu.

“Tempatnya keren.” Bianca berkomentar sembari menyesap minuman non alkohol.

“Kamu suka?” tanya Raga dengan ekspresi senangnya. Sejak tadi siang, Raga memang berharap bisa membuat Bianca nyaman dan senang dengan kehadirannya. Akhirnya, malam ini Raga mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Ya, tentu saja. Jarang-jarang ada yang mengajakmu ke kafe dengan area elit terbatas gini.”ucap Bianca yang entah kenapa nadanya terdengar sedikit menyindir.

“Biasanya aku menyewa tempat ini untuk meeting santai dengan para talentku.”

“Jadi, artis-artismu sering ke sini?” Jason juga? Entah kenapa Bianca ingin menanyakan dua kata terakhir yang terucap di dalam hatinya tersebut.

Raga tersenyum sebentar. “Jika yang kamu tanyakan adalah The Batman, maka Ya, mereka juga sering ke sini.”  Bianca hanya menghela napas panjang, dan hal itu membuat Raga menatap serius ke arah Bianca. “Jadi, apa yang sedang terjadi diantara kalian?” tanya Raga dengan serius. Ini adalah satu-satunya hal serius yang dibahas oleh Raga sepanjang hari ini.

Bianca kembali menyesap minumannya. “Nggak apa-apa, kami cuma break.” Jawab Bianca dengan jujur dan santai. Ya, tak ada yang harus ia tutup-tutupi.

Raga tersenyum senang. “Jadi, kamu free?” tanyanya lagi dengan terang-terangan tanpa basa basi.

Free? Memang dirinya perempuan apaan? Tanya Bianca dalam hati. Tapi sebelum Bianca menanggapi pertanyaan dari Raga, mata Bianca sudah menatap sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berdansa di lantai dansa. Bukan tanpa alasan Bianca memperhatikan kedua orang tersebut, nyatanya, Bianca sangat mengenal lelaki itu.

Gaya berpakaiannya, postur tubuhnya, potongan rambutnya, bahkan wajah lelaki itu tampak sangat jelas untuk Bianca bahwa lelaki itu adalah Jason, kekasihnya. Oh, mungkin ia harus mengoreksi.

Mata Bianca tak berkedip sedikitpun, apalagi saat keduanya menari dengan begitu mesra. Saling memeluk satu sama lain, hingga Bianca merasa dadanya sesak terbakar saat melihat pemandangan di hadapannya tersebut.

Bianca berdiri seketika, ia sudah tak sanggup melihat Jason dan wanita itu lagi ketika Jason bahkan secara terang-terangan mengecupi lembut sepanjang kulit leher wanita itu.

Astaga, bahkan baru kemarin Jason mengatakan jika lelaki itu sangat menyukai lehernya. Dan kini, Jason sudah mencumbu leher wanita lain. Tanpa banyak bicara lagi, Bianca segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia bahkan mengabaikan Raga yang berjalan cepat mengikuti tepat di belakangnya.

Saat ini, yang diinginkan Bianca hanyalah pulang, segera sampai di kamarnya, kemudian menenggelamkan diri diantara bantal-bantal di atas ranjangnya. Mungkin menangis sepuasanya akan menjadi pilihan yang tepat untuknya. Padahal Bianca yakin, jika itu sama sekali bukan dirinya.

Bianca sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengannya. Yang jelas, ia merasa sakit, nyeri di dada, terbakar  dan sesak. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca dengan sendirinya, rasa kesal menyeruak, rasa emosi menguasai. Ingin rasanya ia berteriak marah, ingin rasanya ia kembali ke ruangan tersebut kemudian menyeret Jason dan mencakari wajah lelaki itu yang sok tampan.

Astaga, apa yang sudah terjadi dengannya? Apakah ini…. ini…. yang dinamakan dengan rasa cemburu? Benarkah ini rasanya?

-TBC-

Yeaayyyy udah di Part 15… sedikit info kalau Bianca sudah tamat aku tulis lohhh horeeeeee (Prookk prokkk prookkk – tepuk tangan untuk diriku sendiri)

jadi nihh jadi niihhhh… aku pengen curhat dikit ama kalian *DenganMukaSemanjaSienna

Selanjutnya, kaalian mau aku update cerita apa?

*Slepping with my Friend (Summer Series 1) atau ceritanya The Batman yg lain (Cerita Troy, Jiro, atau Kenzo)???

Dannnnn yg nungguin Ebooknya yg dari kemaren tanya, Ebooknya Bianca mana mom, ebooknya Bianca mana mom,,, besok ya, pagi2 banget, kalian buka Google Play, cari Bianca Zenny Arieffka. moga udah tampil. hahhahahaha Happy weekend semua… muaaahhh muaahhhh muahhhhh

1 thought on “Bianca – Chapter 15 (Patah Hati)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s