Sleeping with my Friend – Bab 4

Comments 3 Standard

IG : @Zennyarieffka

Fanspage Facebook : Zenny Arieffka – Mamabelladramalovers

Shopee : Zennyarieffka.Shop

Wa : 081254080340

 

Bab 4

 

Siang itu, Jessie menyibukkan diri di dalam butiknya. Hari itu akan ada seorang pelanggan yang memang dijadwalkan mencoba gaun pengantin rancangannya. Miranda, asisten peribadinya juga sibuk membantu Jessie, ketika tiba-tiba telepon di meja Jessie berdering.

“Kau tidak mengangkatnya?” tanya Miranda pada Jessie yang sibuk memberi tanda pada gaun yang sedang ia benarkan.

Jessie hanya menggelengkan kepalanya.

Sudah dua hari berlalu, dan Miranda tak pernah melihat Jessie seperti saat ini. atasannya itu tak berhenti bekerja jika tidak sedang waktunya makan siang atau pulang. Miranda tahu jika butik Jessie memang ramai pengunjung, tapi biasanya, Jessie hanya akan fokus pada rancangan-rancangannya, bukan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa dikerjakan oleh bawahannya seperti saat ini.

“Kau ada masalah, Jess?” tanya Miranda secara terang-terangan.

Jessie memang meminta Miranda dan bawahannya yang lain untuk menganggapnya sebagai teman sendiri. Jadi jika ada yang aneh dengan Jessie, Miranda tak segan-segan menegurnya.

“Tidak, kenapa?” tanya Jessie yang baru mengangkat wajahnya sejak tadi.

“Sudah dua hari, dan kau tak berhenti murung. Apa yang terjadi?”

Jessie hanya mengangkat kedua bahunya. Ini memang sudah dua hari berlalu sejak malam panas yang ia lewati dengan Steve. Selama itu, Jessie belum pernah sekalipun melihat Steve. Lelaki itu tak menampakan batang hidungnya. Bahkan untuk meminta maaf pada Jessie tentang perkataannya pagi itu saja tidak.

Tentang Henry, lelaki itupun tampak hilang ditelan bumi. Jessie sudah tiga kali menghubunginya, tapi ponsel lelaki itu mati. Jadi Jessie memilih untuk tak menghubungi lelaki itu sebelum lelaki itu menghubunginya lagi.

“Teleponmu berbunyi sejak tadi, Jess. Kau benar-benar tak ingin mengangkatnya?”

Jessie menghela napas panjang. “Bisakah kau mengangkatnya untukku?” Jessie bertanya balik.

“Oke.” Miranda berjalan menuju ke arah telepon, kemudian ia mengangkatnya. “Summer Flower di sini.” Ucap Miranda menyebutkan nama butik milik Jessie.

“Miranda? bisakah aku berbicara dengan Jessie?”

“Oh, Mr. Morgan.” Jessie segera menatap ke arah Miranda ketika mendengar Miranda menyebut nama belakang Steve. “Rupanya Kau.” Ucap Miranda. Sedangkan Jessie segera menggelengkan kepalanya, memberi isyarat Miranda bahwa dirinya sedang tak ingin diganggu.

“Tapi maaf, Miss Summer sedang tak berada di tempat.”

“Kau yakin? Aku bahkan melihat mobilnya di depan tokonya.”

“Oh, kau di sini?” Miranda terkejut. Tentu saja. Begitupun dengan Jessie. Jessie bahkan segera mengalihkan pandangannya ke luar butiknya dan ia mendapati  mobil sport milik Steve terparkir tepat di sebelah mobilnya. Jessie menghela napas panjang. Rupanya ia memang tak bisa lari lagi.

“Jadi, apa aku boleh masuk?” tanya Steve kemudian.

Miranda menatap Jessie dengan penuh tanya, dan Jessie hanya menghela napas panjang menandakan jika mau tak mau ia mengizikan lelaki itu masuk.

“Oke, masuklah.” Setelah itu, telepon di tutup.

***

Di dalam mobil, setelah menutup teleponnya, Steve berkali-kali mengambil napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya. Ini adalah pertama kalinya ia menemui Jessie setelah pagi sialan saat itu.

Sebenarnya, Steve sudah sangat menahan diri. Setelah pagi itu, ia lantas ke rumah Hank, temannya. Steve tak bisa mengendalikan dirinya untuk tak bercerita kepada Hank. Bagaimanapun juga, malam itu merupakan malam yang luar biasa untuk Steve. Sepanjang pagi, Steve mencoba bersikap sesantai mungkin, padahal ia tahu, bahwa didalam dirinya ada suatu gejolak yang tumbuh ketika berdekatan dengan Jessie.

Steve tak bisa lagi melihat Jessie sebagai temannya setelah malam itu. Well, ia melihat Jessie sebagai wanita dewasa. Meski sebelum-sebelumnya Steve sering kali  melihat Jessie seperti itu, tapi setelah malam panas yang sudah mereka lalui bersama, Steve tak bisa lagi bersikap santai seolah-olah mereka tak pernah melakukan hubungan apapun.

Tanggapan Hank siang itu biasa-biasa saja, tapi setelah Steve menceritakan pertengkarannya dengan Jessie pagi itu, Hank tak berhenti mengumpatinya.

“Kau benar-benar bajingan, Steve! Bagaimana mungkin kau bersikap seperti itu dengan Jessie? Ingat, dia temanmu sejak kecil, bukan perempuan murahan yang kau bayar untuk memuaskan hasrat sialanmu.”

“Tapi aku kesal saat membayangkan dia berencana memiliki bayi dengan si Gay itu.”

“Kenapa? Kau cemburu? Kau kesal karena dia memarahimu saat tahu bahwa kau tidak menggunakan kondom sedangkan dia berencana memiliki bayi dengan kekasihnya? Kau benar-benar kekanakan.”

“Cukup, Hank! Aku kesini bukan untuk mendengarkan omong kosong sialanmu.”

“Well, kau boleh pergi.” Ucap Hank kemudian hingga membuat Steve mendesah panjang.

“Aku hanya bingung dengan apa yang kurasakan, Hank! Bagaimana mungkin Jessie bisa begitu mempengaruhiku?”

“Karena kau menyukainya.”

“Kami hanya berteman!”

“Sejauh yang kulihat, pertemanan kalian tidak masuk akal. Kau selalu mengganggu hubungannya, Steve. Ingat.”

“Aku tidak pernah mengganggu hubungannya dengan pria manapun.”

“Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kau benar-benar seorang pengganggu, Steve. Aku tidak akan terima jika kekasihku memiliki hubungan platonik dengan seorang pria, apalagi pria itu sepertimu.” Pernyataan Hank membuat Steve semakin kesal. “Dan aku tahu, hal itulah yang membuat laki-laki yang ingin dekat dengan Jessie mundur teratur saat tahu bahwa Jessie memiliki hubungan yang tak normal denganmu.”

Pernyataan Hank kembali berputar-putar dalam kepala Steve hingga membuat Steve mendengus sebal. Apa iya, kalau selama ini ia sepefrti seorang pengganggu dalam hubungan percintaan Jessie? Dan astaga, ia tidak menyukai Jessie, mereka hanya berteman. Hank hanya pandai menebak, dan tebakan Hank bukanlah hal yang benar.

Dengan sedikit kesal, Steve keluar dari dalam mobilnya. Dengan pasti ia melangkahkan kakinya memasuki butik milik Jessie. Wanita itu benar-benar sedang menghindarinya, Steve tahu itu. Tapi Steve tak akan tinggal diam. Kedatangannya kemari untuk meminta maaf dengan Jessie tantang keberengsekannya pagi itu.

Masuk ke dalam, Steve di sambut dengan beberapa pegawai Jessie yang memang sudah cukup mengenalnya. Selain karena Jessie adalah temannya yang membuat Steve sering kali ke butik wanita itu, pekerjaan mereka juga sering bersinggungan. Steve sebagai fotografer, dan Jessie terkadang menjadi penata busana Sang model. Itulah yang membuat mereka hampir sering bersama hampir setiap saat.

Steve segera memasuki ruangan Jessie, dan di sana, ia mendapati Jessie yang sedang sibuk dengan sebuah gaun pernikahan. Terdapat juga Miranda, salah seorang pegawai Jessie yang kini sudah melemparkan sebuah senyuman kepadanya.

“Jadi, kau berbohong padaku, Miranda?” tanya Steve dengan nada menggoda.

Pipi Miranda merona seketika. Bukan karena tergoda, tapi karena malu saat ia sudah ketahuan berbohong, meski sebenarnya Jessie lah yang memintanya untuk berbohong.

“Aku minta maaf, Mr. Morgan.” Ucap Miranda dengan sopan tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

Kaki Steve melangkah mendekat. “Aku akan memaafkanmu, asal kau mengatakan, apa yang membuatmu berani membohongiku?”

Miranda tentu tak bisa menjawabnya. Ia tak mungkin menjawab bahwa Jessie yang memintanya. Tapi Miranda bersyukur karena pada detik itu, Jessie memintanya secara halus untuk keluar dari dalam ruangan wanita itu.

“Bisakah kau mencarikan tundun kepala yang cocok dipadukan dengan gaun ini?” tanya Jessie pada Miranda. Berharap jika Miranda mengerti dan keluar dari ruangannya.

“Oh, baiklah. Hanya itu saja?”

“Kupikir, sepatunya juga. Si pemilik akan datang jam Tiga sore, aku ingin semua siap saat itu.”

“Oke.” Miranda akhirnya memilih segera pergi, tak lupa ia meninggalkan senyuman lembutnya pada Steve.

Setelah itu, ruangan Jessie sunyi. Steve ingin membuka suaranya, tapi sialan! Kecanggungan tiba-tiba saja menelannya. Jessie sama sekali tak menghiraukan kehadirannya dan itu benar-benar membuat Steve kesal.

“Aku, tidak mengganggu, bukan?” tanya Steve mencoba memulai percakapan.

“Kau tahu, ini masih jam kerja.”

“Kau tidak bekerja di kantor, jadi kau tak perlu sedisiplin itu.”

Jessie mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Steve. Lelaki itu benar-benar berbeda, entah ini cara memandang Jessie saja yang kini berbeda setelah malam sialan itu, atau memang karena Jessie baru menyadari bahwa Steve saat ini sangat mempesona.

“Si pemilik gaun akan dartang jam Tiga, aku hanya memiliki Empat Jam untuk menyelesaikan semuanya. Kau pikir aku bisa santai-santai seperti yang kau lakukan sekarang?”

Pernyataan Jessie sangat keras. Jika sebelulnya Steve tak akan ambil pusing, berbeda dengan saat ini. Masalahnya, hubungan mereka sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.

“Baiklah, aku minta maaf jika aku mengganggumu. Tapi aku harus bertemu denganmu dan membicarakan semuanya.”

Jessie kembali menatap gaunnya dan memasang kembali beberapa pernak-pernik di sana. “Jika yang ingin kau bahas adalah tentang pagi sialan itu, maka kau tak perlu membahasnya, aku sudah melupakannya.”

“Tidak, Jess. Bagaimanapun juga, aku sudah bersikap berengsek padamu.”

Jessie tak menjawab. Ia tahu bahwa Steve memang berengsek. Tapi seberengsek apapun lelaki itu, Jessie tak akan bisa membencinya.

“Dan aku ingin meminta maaf padamu.” Lanjut Steve hingga membuat Jessie mengangkat wajahnya.

Jessie bersedekap dan bertanya “Untuk apa? Karena kau sudah ‘membaptisku’ malam itu? Atau karena kau tidak menggunakan kondom?” Jessie bahkan ikut menggunakan istilah itu untuk menyebutkan kejadian panas yang sudah mereka lakukan malam itu.

“Untuk semuanya.” Ucap Steve dengan penuh sesal.

“Kau bukan satu-satunya yang salah, Steve. Ingat, aku menggodamu.”

“Tapi aku yang meluncurkan ide gila itu.”

“Dan aku yang menyetujuinya.”

“Tapi aku tak mengingatkanmu kembali tentang resikonya.”

“Aku yang datang padamu, Steve! Astaga, apa bisa kita lupakan saja malam itu?!” Jessie berteriak frustasi. “Aku tidak suka melihat penyesalan dan rasa bersalahmu.”

Steve berjalan satu langkah ke arah Jessie. “Aku tidak pernah menyesal.” Ucapnya penuh penekanan.

Jessie menatap tepat pada mata Steve, dan lelaki itu benar. Tak ada penyesalan di sana. Steve tak menyesal karena sudah tidur dengannya.

“Satu-satunya hal yang membuatku tak nyaman adalah, karena aku tidak bisa lagi melihatmu sebagai teman perempuanku.”

“Oh begitu? Jadi kau ingin kita memutuskan pertemanan kita?”

“Aku tidak berkata seperti itu, Jess.” Lagi, Steve berkata dengan penuh penekanan. “Kau tentu tahu apa maksudku.”

“Tidak, aku tidak tahu.” Jessie mencoba menghindar. Entah kenapa ia merasa sesak ketika dekat dengan Steve.

“Kau ingin tahu apa maksudku.” Steve mendekat.

“Tidak, aku tidak ingin tahu.” Jessie mencoba menjauh lagi dan memfokuskan pandangannya pada gaun di hadapannya.

“Aku melihatmu sebagai seorang wanita yang menggairahkan. Bahkan sekarang aku berereksi karena dekat denganmu.”

Jessie menatap Steve seketika dengan rona merah di pipinya. “Kau benar-benar bajingan, Steve! Keluar dari ruanganku!” Jessie berseru keras.

“Akui saja, Jess. Bahwa pandanganmu terhadapku saat ini juga sudah berubah. Kau tidak dapat melupakan malam itu, dan kau melihatku sebagai lelaki panas yang menggairahkan.”

Jessie mendorong keras dada Steve. “Berengsek kau Steve! Keluar dari ruanganku!” Jessie mendorong lagi dan lagi hingga akhirnya mereka sampai di pintu ruangan Jessie.

Sungguh, Jessie sangat marah, ia kesal saat tahu bahwa pandangannya terhadap Steve sudah berubah, dari seorang teman menjadi seorang lelaki yang menggairahkan seperti yang dikatakan lelaki itu. Dan Jessie lebih kesal lagi saat tahu bahwa Steve saat ini juga memandang Jessie seperti wanita-wanita teman kencan lelaki itu, bukan sebagai temannya. Jessie tak suka saat secara tak langsung Steve menatapnya seperti itu.

“Akui saja, Jess. Semakin kau marah, semakin kau menunjukkan bahwa kau menginginkanku.” Steve berkata dengan wajah tengilnya. Dan Jessie benar-benar sangat marah.

Setelah mendorong lelaki itu hingga keluar dari ruangannya, Jessie berkata. “Kau tahu, aku hanya melihatmu sebagai vibrator berjalan. Apa kau puas?”

Steve sempat terkejut dengan ucapan Jessie. Tapi dia mencoba mengendalikan dirinya dan bertanya sesantai mungkin. “Kalau begitu, bolehkan aku melihatmu sebagai vagina berjalan?”

“Bajingan kau Steve!” lagi-lagi Jessie mendorong tubuh temannya itu agar menjauh, setelah itu Jessie membanting pintu ruang kerjanya hingga berdentum. Steve hanya menatapnya dengan tatapan kesalnya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi.

Bukan ini yang ia inginkan saat menemui Jessie, bukan seperti ini akhirnya. Ia ingin semuanya kembali membaik. Tapi sialan! Steve tak dapat mengendalikan diri ketika ia merasakan perasan yang tak biasa saat di dekat Jessie. Ia tidak suka saat Jessie mengacuhkannya, ia tidak suka saat Jessie mencoba menghindarinya, dan ia sangat tidak suka dengan ketegangan seksual yang tiba-tiba muncul ketika dirinya berada di dekat Jessie.

Sial! Apa yang sudah terjadi?

Akhirnya, Steve memilih segera pergi dari sana. Mengabaikan tatapan para pegawai Jessie yang ada di sana. Steve tahu, pasti mereka menyaksikan pertengkaran kekanakannya dengan Jessie, dan pasti mereka mendengar perkataan-perkataan tak masuk akal yang sudah ia dan Jessie lontarkan tentang vibrator maupun vagina. Steve tak peduli, ia mencoba tidak mempedulikannya.

***

“Kau gila, Steve? Kau benar-benar menyebutnya sebagai vagina berjalan?” Hank benar-benar tak percaya. Saat ini, ia sedang menemani Steve minum di salah satu kelab malam. Dan temannya itu minum seperti orang gila.

“Dia menyebutku vibrator berjalan, ingat. Aku sudah merendahkan harga diriku untuk meminta maaf padanya. Tapi dia bersikap ketus padaku.”

“Bukan berarti kau juga harus bersikap seperti itu padanya. Ingat, kau yang salah. Kau yang mengajaknya naik ke atas ranjangmu.”

“Tapi dia menggodaku, dia tidak menolak.”

“Apapun itu, kau salah, Steve. Tak seharusnya kau memperkeruh keadaan.”

“Jadi, apa maumu, Hank? Kau ingin aku bertekuk lutut padanya dan mengakui bahwa aku hanya sebuah vibrator berjalan.”

“Kau tak perlu mendramatisir keadaan, Steve. Kau hanya perlu relax. Kendalikan dirimu, Bung. Masalahmu tak akan selesai jika kau marah-marah seperti ini apalagi padanya.”

“Bagaimana bisa aku mengendalikan diri jika setiap dekat dengannya aku seakan tertarik pada sebuah magnet gairah? Dan jangan lupakan ereksi sialanku yang selalu kambuh saat berdekatan dengannya!” tanya Steve dengan kesal. “Sialan! Sebelum malam itu, aku hanya melihat Jessie sebagai wanita cantik dan spesial. Hanya itu. Tapi sekarang, semua fantasi erotisku ada pada dirinya.”

Hank malah tertawa lebar. “Kau benar-benar kacau, Steve.”

“Ya. Sangat. Dan semua ini karena seorang wanita.” Steve menenggak minumannya hingga tandas. “Kau harus membantuku, Hank. Kau harus membantuku.”

“Dengan apa? Aku bahkan tak tahu apa yang harus kau lakukan untuk menghadapi Jessie.”

Steve menatap Hank dengan tajam “Carikan aku perempuan.”

“Jangan mulai, Steve. Kau tidak sedang dalam mode On untuk seks, kan?”

“Berengsek! Aku ingin perempuan baik-baik. Aku ingin berkencan yang sesungguhnya hingga aku bisa melupakan pertemanan sialanku yang kacau balau dengan Jessie. Aku ingin berkencan, bukan hanya seks!” Steve berkata sungguh-sungguh.

Well, Hank merasa terkejut. Sejauh ia mengenal Steve, temannya itu tak pernah meminta untuk kencan dengan wanita baik-baik. Temannya itu hanya memikirkan selangkangannya saja, tapi sekarang, Hank tak mengerti kenapa Steve ingin berkencan dengan seseorang dalam artian yang sebenarnya? Apa Steve seputus asa itu dengan hubungannya bersama dengan Jessie?

-TBC-

Advertisements

Sleeping with my Friend – Bab 3

Comment 1 Standard

 

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

***

 

Bab 3

 

 

“Kau hanya perlu bilang jika kau butuh minum, maka aku akan mengajakmu berpesta dengan wanita-wanita tadi.” Ucap Steve saat ia sudah mempersilahkan Jessie duduk di bar kecilnya dan menuangkan minuman beralkohol untuk Jessie.

“Kau gila? Aku tidak akan mau berpesta dengan kalian. Apalagi sampai melihat kalian telanjang satu sama lain.”

“Itu keterlaluan, Jess. Aku tidak mungkin telanjang di hadapanmu.”

“Tapi kau melakukannya kemarin.” Jessie menjawab cepat sembari menenggak minuman yang dituangkan Steve hingga tandas.

“Wow, wow, wow, Hei, apa yang terjadi denganmu, gadis biara? Kau tak pernah minum sampai seperti ini.”

“Aku benar-benar butuh minum, Steve.” Ucap Jessie lagi kali ini yang sudah menuangkan minuman kembali pada gelasnya. Secepat kilat, Steve menghalangi Jessie hingga mata Jessie menatap ke arah lelaki itu.

“Apa kau sudah gila? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Steve dengan raut wajah seriusnya. Ia tak pernah melihat Jessie minum seperti ini. Mungkin mereka pernah minum bir bersama tapi tidak dengan cara bar-bar seperti saat ini.

“Aku mengacaukan semuanya.” Jessie mendesah panjang.

“Apa maksudmu?” tanya Steve kemudian.

 

“Henry. Dia pergi setelah aku menolaknya. Astaga, kami bahkan sudah merencanakan malam ini.”

Steve kesal jika membahasnya, tentu saja. Tapi dia juga senang saat memikirkan bahwa Jessie dan laki-laki bajingan itu tidak jadi melakukan rencana mereka.

“Oke, aku tahu.” Steve mendekatkan kursinya pada Jessie, memutar kursi Jessie hingga wanita itu menghadap ke arahnya. “Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu menolaknya padahal kau sudah merencanakannya?”

“Aku tidak tahu.”

“Jess, masalah tidak akan selesai saat kau sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan.”

Jessie kembali mendesah panjang. “Masalahnya, aku merasa belum siap. Dan astaga, aku takut mengecewakannya.”

Steve mendengus sebal. “Kan aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku bisa membantumu.”

“Aku tidak sedang bercanda, Steve.” Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve.

“Kau pikir aku sedang bercanda? Jika masalahnya adalah kepercayaan dirimu, maka kau bisa meminta bantuan padaku. Kau meragukan pengalamanku?”

Jessie berdiri seketika. “Sepertinya aku salah datang kemari.”

“Jess, Jess.” Steve meminta Jessie duduk kembali. “Oke, aku tidak akan mengatakan apapun tentang ide gila itu lagi.” Steve mengangkat kedua tangannya. “Maaf.” Ucapnya kemudian.

Jessie memutar bola matanya, ia kembali meminum minuman di hadapannya, sedangkan Steve, ia hanya mengamati temannya itu dari tempatnya duduk.

Jessie tampak kacau, tapi sialnya, hal itu tak mengurangi daya tarik dari wanita itu. Jika boleh jujur, bagi Steve, Jessie adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat. Sebagai designer, pakaian Jessie tentu selalu fashionable, tapi saat santai di rumah, wanita itu selalu tampak sederhana. Make up yang dikenakan Jessie pun tergolong wajar. Tak seperti kebanyakan teman kencannya yang tampak terlalu tebal. Dan Stve juga berani jamin jika semua yang ada pada diri Jessie adalah asli. Tak mungkin ada silikon di hidung mancung wanita itu, dan tak mungkin juga payudara Jessie yang tampak padat menggoda itu berisi dengan implan-implan sialan seperti milik teman-teman kencannya.

Sial! Kenapa juga ia berpikir tentang implan?

“Kau, benar-benar menyukainya?” tanya Steve kemudian.

“Henry? Jika tidak, aku tak mungkin menerima lamarannya.”

Steve menganggukkan kepalanya. Sedangkan Jessie masih meminum minumannya lagi dan lagi. Steve kembali menatap ke arah Jessie, wanita itu sedang sibuk menatap ke arah minumannya hingga tak sadar jika saat ini Steve sedang mengamati setiap inci dari wajahnya.

“Kau tahu, Steve. Kadang aku merasa iri denganmu.” Ucap Jessie yang saat ini sudah menolehkan kepalanya ke arah Steve. Ia sempat terkejut saat mendapati Steve yang ternyata sedang mengamati wajahnya. Secepat kilat Jessie memalingkan wajahnya. Ia tak pernah melihat Steve menatapnya seperti itu.

“Apa yang membuatmu iri?” tanya Steve kemudian.

Entah perasaan Jessie saja atau memang ia mendengar suara Steve yang sudah terdengar parau di telingannya. “Kau, bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Meniduri banyak wanita tanpa beban. Dan aku…”

“Semua itu pilihan, Jess. Lagi pula aku pria. Kau wanita. Aku tidak mau membayangkan jika kau sama bejatnya denganku.”

“Tentu saja aku tidak akan memilih jalan itu. Maksudku, kenapa kau bisa melakukan hal itu? Apa kau tidak merasa berdosa sedikitpun?”

“Tidak. Toh aku tidak tidur dengan perempuan baik-baik.”

Ya, Jessie tahu kenyataan itu. Pacar Steve biasanya bukan wanita baik-baik. Mungkin karena itulah Jessie bisa memaklumi keberengsekan temannya ini.

Jessie kembali meminum minumannya. Pikirannya melayang entah kemana. Ia masih sedih karena rencananya dengan Henry batal. Tapi disisi lain, ia merasa lega karena ada Steve yang menemaninya.

Kemudian Jessie melihat Steve berdiri, lelaki itu tiba-tiba saja membuka pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Jessie menelan ludah dengan susah payah. Ia memang sering melihat tubuh telanjang Steve, tapi entah kenapa malam ini ia merasa tubuh itu tampak indah dan menggairahkan.

Steve berjalan menjauhinya, menuju ke arah lemari pendingin. Membungkukkan tubuhnya entah mengambil apa dari sana. Demi Tuhan! Baru kali ini Jessie melihat Steve tampak begitu berbeda.

Jessie merasakan pusat dirinya berkedut seketika. Apa ini ada hubungannya dengan minuman yang baru saja ia minum? Jessie megamati minumannya, berharap bahwa pemikiran kotor yang baru saja melintasi kepalanya segera hilang.

Tapi sialnya, itu hanya harapan Jessie saja. Saat Steve melangkah ke arahnya, pada saat itulah Jessie merasa jantungnya berdebar tak menentu. Ia tidak pernah melihat tubuh Steve setegap itu. Pikir Jessie, dada lelaki itu tidak sebidang saat ini. Jessie juga tak pernah melihat bahwa Steve memiliki otot-otot perut yang tampak menggoda, bahkan lengan lelaki itu, Oh, Jessie tiba-tiba berpikir bagaimana lengan kekar itu melingkari tubuh mungilnya.

Jessie kembali menelan ludah dengan susah payah. Ia tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa reaksinya saat melihat Steve seperti itu membuat Jessie kalang kabut. Ini bukan pertama kalinya Steve bertelanjang di hadapannya, tapi kenapa Jessie merasakan perasaan seperti ini untuk yang pertama kalinya?

Segera Jessie memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena kepanasan ke arah minumannya. Ia kembali menenggak minumannya, dan hal tersebut membuat Steve mengangkat sebelah alisnya.

“Kau, baik-baik saja, kan?” tanya Steve sembari mendaratkan telapak tangannya pada pundak Jessie.

Pada detik itu, Jessie merasakan aliran listrik bersumber dari telapak tangan Steve. Ia menolehkan kepalanya menatap ke arah telapak tangan temannya itu. Jessie lalu menatap Steve dengan tatapan anehnya.

“Kenapa kau menyentuhku?” tanya Jessie dengan spontan.

“Menyentuh?” tanya Steve tak mengerti. Steve menatap tangannya pada pundak Jessie, lalu mengangkatnya dengan spontan. “Aku tak mengerti apa maksudmu.” Ucap Steve bingung.

Steve melihat wajah Jessie sudah merah merona, seperti sedang kepanasan. Memangnya apa yang sedang terjadi? Steve kembali bangkit mencari remote AC untuk mendinginkan ruangan tengah apartmennya. Tapi saat Steve akan pergi, Jessie dengan spontan menggapai lengan Steve hingga membuat lelaki itu menatap ke arahnya penuh tanya.

Jessie tersenyum malu. “Kau tahu, Steve. Untuk sesaat, aku memikirkan tentang ide gilamu itu.”

“Maksudmu?” dengan spontan Steve bertanya.

Jessie mengangkat kedua bahunya. “Well, tidur bersama. Astaga, apa sih yang sedang kupikirkan?” Jessie akhirnya memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu. tapi secepat kilat Steve menangkup kedua pipi Jessie, memaksa wanita itu menghadap ke arahnya, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Steve menyambar bibir ranum Jessie.

Oh, Steve tak pernah merasakan bibir selembut itu bahkan di dalam fantasinya. Ia merasakan Jessie membalas cumbuannya, wanita itu bahkan sudah ikut berdiri dan mengalungkan lengannya pada leher Steve.

“Ohh Jess,” Steve mengerang ketika gairahnya mulai terbangun dengan sendirinya.

“Steve… Steven…” Jessie pun ikut mengerang saat ia merasakan gairah yang sama dengan apa yang dirasakan Steve. Keduanya dimabuk oleh gairah, dibutakan oleh rasa primitif yang menghilangkan akal sehat mereka.

***

Pagi sialan yang sangat canggung.

Sebenarnya, Jessie ingin sekali pergi dari meninggalkan kamar Steve saat lelaki itu masih tidur pulas. Tapi nyatanya, lelaki itu seakan tak membiarkan dirinya pergi karena ketika Jessie bergerak, Steve seakan mengeratkan pelukannya pada tubuh telanjang Jessie.

Kini, Jessie merasa terjebak dalam suasana sialan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa sangat canggung saat berhadapan dengan Steve. Bayang-bayang panas kejadian semalam membuatnya tak dapat berkutik. Tapi kenapa Steve seakan tak canggung sedikitpun?

Saat ini, Steve sedang sibuk membuat sesuatu di dapurnya. Lelaki itu bahkan tak malu bertelanjang dada di hadapannya.

Malu? Ayolah Jess, bukankah kau tahu bahwa temanmu itu memang tak punya malu? Kau saja yang terlalu terbawa suasana.

Jessie sempat berpamitan pulang tadi, tapi Steve memaksa dirinya untuk sarapan bersama sebelum pergi. Karena Steve begitu santai, maka Jessie tak bisa menolak dan bersikap sesantai mungkin meski sebenarnya dalam dirinya terjadi bergulatan batin tentang apa yang ia rasakan saat ini terhadap sosok Steve.

Saat Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, saat itulah Steve datang menghampirinya dan menyuguhkan dua potong roti isi bacon panggang, keju dan juga selada.

“Aku hanya memiliki itu di dalam lemari pendingin.” Ucap Steve yang saat ini sudah duduk tepat di hadapan Jessie. “Kuharap kau mau memakannya.”

“Oh Steve, kau tak perlu repot-repot. Aku bisa makan di tempat kerjaku nanti.”

“Tidak segampang itu, Jess. Ada banyak hal yang harus kita bahas.”

Jessie menghela napas panjang. “Apa lagi?”

Steve sedikit tersenyum. “Kau, tampak tak nyaman, Jess. Kenapa? Karena aku sudah ‘membaptismu’ semalam?”

“Ayolah! Berhenti menggodaku. Sekarang katakan, apa yang ingin kau bahas denganku.” Jessie memberengut kesal.

Dengan santai, Steve menyantap roti miliknya. “Yang pertama, kau sungguh luar biasa. Kau tak perlu merasa tak percaya diri lagi saat akan melakukannya dengan Henry nanti. Oke?”

Dan setelah aku tidur denganmu, aku bahkan melupakan tentang Henry. Pikir Jessie dalam hati.

“Tubuhmu, payudaramu, semuanya…”

“Cukup!” Jessie memotong kalimat Steve. “Kau mau memancingku, ya? Jangan bahas apapun tentang bagian tubuhku!” sungguh, Jessie merasa kesal dengan Steve saat temannya itu secara terang-terangan menyebutkan bagian tubuhnya. Jika Steve menceritakan tentang bagian tubuh teman kencannya, Jessie tak akan peduli. Masalahnya, yang dibahas Steve saat ini adalah payudaranya. Hal itu membuat Jessie malu, sangat malu.

Steve mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke. Aku hanya ingin mengatakan kalau semuanya asli. Dan pria manapun akan mengagumimu.”

“Memangnya kau pikir aku perempuan yang gemar mengkoleksi implan di tubuhku? Yang benar saja.” Jessie memutar bola matanya jengah. Ia meraih kopinya kemudian meminumnya sedikit.

Steve tak dapat menahan tawanya. “Tapi ada hal serius lagi yang harus kita bahas, Jess.”

“Apa lagi? Kau tidak berharap aku akan melakukan hubungan itu denganmu lagi, bukan?”

Steve tersenyum. “Sejujurnya, aku masih ingin. Kau tahu sendiri bukan, bagaimana gilanya kita semalam. Meski sudah berkali-kali, tapi aku masih ingin.”

“Jangan bermimpi! Aku tidak akan tidur denganmu lagi.” Jessie menjawab dengan ketus.

Steve tertawa lebar. “Ingat, kau yang mengajakku.”

“Sepertinya lebih baik aku pulang.” Jessie sudah berdiri tapi Steve segera menghentikan pergerakan Jessie dengan menyambar pergelangan tangan temannya itu.

“Oke, aku akan bersikap baik dan membahas hal ini dengan serius.”

“Ya. Dan cepat.” Lanjut Jessie. “Demi Tuhan! Aku harus segera ke kantor, Steve.”

Steve menganggukkan kepalanya. Ia meminum kopinya sebelum mulai membuka suaranya kembali. “Kuharap, kau sudah memasang sesuatu di dalam tubuhmu, atau mungkin meminum pil.” Ucapnya dengan serius.

“Apa maksudmu?” tanya Jessie tak mengerti.

Well, karena terbawa suasana, dan terlalu menikmati, aku tidak menggunakan pengaman.”

“Kau apa?” Jessie terperanjat dengan ucapan Steve.

“Dan, berkali-kali.” Lanjut Steve dengan cengiran sialannya.

Jessie berdiri seketika. “Kau gila? Kau adalah playboy cap kakap, Steve! Bagaimana mungkin kau melupakan hal seserius itu?” tentu saja Jessie terkejut. Semalam ia tak memikirkan apapun saat Steve meledak di dalam dirinya. Karena ia terlalu menikmati rasa yang baru saja ia rasakan.

“Aku terlalu menikmatinya, Jess. Dan kupikir kau sudah menyiapkan diri. Mengingat kau akan melakukannya dengan kekasih Gaymu itu.”

“Aku tak mempersiapkan apapun, oke?!” seru Jessie dengan marah sembari mengusap wajahnya dengan frustasi.

Steve ikut berdiri. “Maksudmu, kau membiarkan dirimu tidur dengannya tanpa pengaman dan berharap jika kau akan memiliki bayi bersamanya.”

“Kau terlalu jauh, Steve. Lagi pula, aku tidak tidur dengannya, tapi denganmu!”

“Tapi kau berharap tidur dengannya tadi malam, Jess!” entah kenapa Steve merasa sangat marah. Kenyataan bahwa Jessie tidak mengamankan dirinya sendiri saat sudah merencanakan akan tidur dengan seseorang membuat Steve sangat marah.

Jessie menatap Steve penuh tanya. “Jadi ini adalah salahku?”

“Ya. Kau yang salah karena kau tidak meminum pil-pil sialan itu saat kau sudah merencanakan untuk tidur dengan kekasihmu!” Steve tak bisa menahan emosinya.

Jessie menatap Steve dengan tatapan tak percayanya. Sungguh, ia tak menyangka jika Steve akan seberengsek ini padanya. Tanpa banyak bicara lagi, Jessie memilih membalikkan tubuhnya kemudian meninggalkan Steve begitu saja.

Yang bisa dilakukan Steve hanya berdiri ternganga. Ia bahkan tak mengejar Jessie. Rasa frustasi menyergapnya begitu saja. Dengan spontan, Steve menendang salah satu kursinya karena emosi. Berengsek! Apa yang sudah kau lakukan? Steve mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

-TBC-

My Sex(y) Partner – Bab 1

Comment 1 Standard

yeaayyyy mana yang nungguin Troy dan kawan2 bejatnya?? hahahhahah untuk Jiro dan Ken, sabar yaa… aku cuma mau pamerin Prolognya aja dulu, karena aku mau pokus kalian gak banyak terbagi. hahahahahah Yang nunggu Mr. Morgan di Sleeping with my friend, bakal aku update insha allah malam minggu yaa… yeaaayyyyyy happy reading. muaahhhhh

 

Bab 1  

 

Sambil mengetatkan gerahamnya, Troy mendekap wanita setengah telanjang yang berada di hadapannya tersebut. Hari sudah semakin sore, tapi pemotretan sialan ini belum juga rampung. Troy benar-benar kesal karena beberapa jam terakhir dirinya mengetat nyeri tak tertahan. Semua tentu karena keindahan sempurna yang terpampang jelas di hadapannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah, bahwa wanita di hadapannya ini malah tampak tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran dirinya.

One, two, three, oke. Sip.” Akhirnya, si fotografer sialan di hadapannya itu menyatakan jika tangkapan kameranya yang terakhir selesai.

Troy menghela napas panjang, dan secepat kilat ia melepaskan tubuh si wanita seksi di hadapannya kemudian dengan terburu-buru, ia keluar dari dalam kamar tersebut lalu menuju ke arah kamar mandi.

“Elo mau ngapain Troy?” tanya salah seorang kru dengan nada mengejek.

“Berengsek!” Troy hanya menjawab dengan sebuah umpatan khasnya.

***

Setelah pekerjaan tersebut selesai, semuanya menuju ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Sejak tadi, mata Troy tak pernah lepas menatap ke arah wanita yang sejak tadi pagi sudah membuatnya tergoda, wanita yang yang bernama Alice Philips. Wanita yang membuatnya mau tak mau mencapai klimaks di dalam kamar mandi dengan dibantu oleh jemarinya sendiri. Sialan! Dan yang lebih membuat Troy penasaran dengan wanita tersebut adalah, bahwa wanita itu tampak sama sekali tak memperhatikannya.

Kenapa? Apa wanita itu tak tahu siapa dirinya?

Pada saat bersamaan, wanita itu menatap ke arahnya. Troy mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangkat gelas anggurnya, seakan mengajak wanita itu bersulang.

***

Alice, yang berada di seberang meja, akhirnya ikut mengangkat gelasnya yang berisi Jus jeruk saat ia melihat Troy mengangkat gelas anggur ke arahnya. Alice tersenyum, lalu menenggak jus tersebut, matanya lalu menatap ke arah lain, mencoba mengalihkan perhatiannya dari sosok yang sejak tadi mempengaruhinya.

Ya, Alice tentu tahu dengan siapa dia berhadapan. Awal tahu bahwa ia akan disandingkan dengan seorang Troy untuk berpose panas di salah satu majalah dewasa saja membuat Alice ragu, apa akan melakukannya atau membatalkannya. Tapi karena didorong oleh kebutuhan yang mendesak, akhirnya Alice melakukannya dan mencoba melupakan jika lawan mainnya dalam berpose panas adalah seorang Troy, mantan Drumer terpanas di negeri ini.

Tak sulit bagi Alice untuk mengetahui latar belakang atau bisa dibilang, keberengsekan-keberengsekan lelaki itu dimasalalu. Entah ketika lelaki itu masih menjadi anak band, atau saat lelaki itu berkarir sendiri seperti saat ini. Tak sedikit gosip buruk yang pernah ia dengar tentang Troy. Bahkan, beberapa teman seprofesinya mengaku pernah ditiduri Troy dan dicampakan begitu saja oleh lelaki itu setelah lelaki itu puas mendapatkan beberapa kali pelepasan.

Sangat Berengsek, bukan?

Kini, Alice tentu tak ingin hal tersebut menimpanya. Tujuannya tinggal di negeri ini adalah karena ia ingin mempelajari budaya negeri ini, bukan untuk main-main lalu jatuh hati pada pria berengsek seperti Troy.

Ya, Alice yang merupakan warga negara asing, memang sangat tertarik dengan Indonesia. Ayah ibunya tinggal di LA Carlifornia. Dulu, keduanya pernah berpelesir ke negeri ini, kemudian tak sengaja bertemu satu sama lain di pulau Bali, memadu kasih saat itu juga, lalu berakhir bersama hingga kini. Dan kedua orang tua Alice tak pernah melupakan pengalamannya tersebut. Hingga saat Alice lahir, keduanya selalu bercerita lagi dan lagi tentang pengalaman keduanya hingga membuat Alice tertarik dengan Indonesia.

Saat dirinya besar, ketertarikan itu semakin nyata, apalagi saat Alice pertama kalinya datang ke negeri ini. Ia jatuh cinta seketika, dengan budayanya, dengan alamnya, dengan orang-orangnya. Bagi Alice, ke Indonesia sama saja dengan pulang. Hingga sejak Tiga tahun terakhir, ia lebih sering menghabiskan waktunya di Indonesia dari pada di LA. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya lebih, mengingat orang tuanya bukanlah orang yang berkelebihan harta. Beruntung Alice memiliki kenalan di Indonesia yang menawarinya pekerjaan menjadi model. Pekerjaan itu tentu sangat begus untuk Alice, ia bisa mendapatkan biaya tambahan selama hidup di sini, sehingga dirinya bisa menikmati kecintaannya pada negeri ini tanpa membebankan biaya pada kedua orang tuanya yang ada di LA.

Kembali lagi pada Troy. Alice tentu tak ingin terlibat dengan lelaki di hadapannya tersebut, tapi demi Tuhan! Lelaki itu memang sangat menggoda. Sialnya, jadwal pemotretannya dengan Troy tak hanya berakhir hari ini saja. Karena masih ada beberapa scene tambahan yang akan diambil besok.

Tiba-tiba, Alice melihat Troy berdiri membawa minumannya, mata lelaki itu tak berhenti menatap ke arahnya. Kemudian, langkah kaki lelaki itu mendekat ke arah mejanya.

Seorang yang duduk tepat di sebelah Alice akhirnya berdiri ketika Troy secara terang-terangan meminta orang tersebut bangkit dan menggantikan tempatnya.

“Boleh duduk di sini, kan?” tanya Troy dengan nada yang dibuat mengggoda. Alice tahu, bahwa mungkin saat ini Troy sedang menjalankan aksinya untuk membawa Alice ke atas ranjang lelaki itu. Tapi Troy salah, Alice sudah cukup tahu bagaimana bejatnya lelaki itu, jadi Alice tak akan masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Troy.

“Silahkan saja. Ini kan tempat umum.” Alice menjawab dengan nada yang dibuat cuek dan ketus.

“Woww. Bukan cewek gampangan, ehh?” goda Troy sembari menyesap apapun itu yang ada di dalam gelas yang dibawah lelaki itu.

Alice tidak mengindahkan apapun itu perkataan Troy. Karena ia memilih melirik ke arah jam tangannya kemudian berkata pada orang disebelahnya. “Aku akan pulang, sudah malam.” Ucapnya sembari berdiri. Alice menatap sekilas ke arah Troy lalu tersenyum singkat pada lelaki itu. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mejanya secepat mungkin.

Sedangkan Troy, ia tersenyum masam, menenggak semua isi dari gelas yang dibawanya kemudian bangkit dan segera menyusul wanita yang sudah sejak tadi siang tadi menggodanya.

***

Sial! Troy merasa ada yang salah di sini. Tak biasanya ia begitu tertarik dengan seseorang, hingga saat melihatnya saja membuat pangkal pahanya berdenyut nyeri seketika. Ia sangat menginginkan Alice Philips di atas ranjangya malam ini, dan apapun itu, ia akan melakukannya untuk mendapatkan keinginannya tersebut.

Yang membuat Troy sangat kesal adalah saat Troy tahu bahwa wanita itu tampak tidak tertarik dengannya. Jangankan tertarik, Alice bahkan lebih terlihat enggan berurusan dengannya. Kenapa? Apa Alice Philips tak tahu siapa dia sebenarnya? Apa ia tak tampak seperti seorang lelaki yang panas dan menggairahkan?

Berengsek!

Dengan segera Troy mengikuti Alice keluar dari dalam restoran. Ia mendapati Alice berjalan diatas trotoar sembari mengenakan tundung hoody yang dikenakan wanita tersebut.

Troy berlari mengikuti wanita itu, kemudian dengan spontan ia menarik lengan Alice dan menghentikan wanita itu sembari berkata “Tunggu.”

Alice menghentikan langkahnya kemudian menatap Troy penuh tanya. “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.

Troy memiringkan kepalanya. “Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu.”

“Aku lebih suka jalan kaki.”

“Nggak baik jalan kaki malam-malam sendiri, apalagi kamu seorang model.”

Alice berkacak pinggang, dengan menantang dia bertanya “Apa hubungannya denganmu?”

Troy sedikit tersenyum dengan reaksi yang ditampilkan oleh Alice. Ia tak menyangka jika Alice akan seberani ini padanya. “Nggak ada.” Jawab Troy dengan santai.

“Kalau begitu, biarkan aku pergi.”

Troy mengangkat kedua tangannya, dengan tersenyum ia mundur teratur. Alice mendengus sebal, lalu wanita itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Troy. Tanpa diduga, Troy malah mengikuti Alice. Berjalan kaki di atas trotoar tepat di belakang wanita itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Troy saat ini. Yang jelas, ia sangat ingin memiliki wanita yang kini berjalan di hadapannya tersebut.

Alice yang merasa diikuti akhirnya merasa tak nyaman. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya kemudian bertanya pada Troy “Apa yang kamu lakukan?”

Troy mengangkat kedua bahunya. “Apa? Aku cuma jalan-jalan malam.”

“Sialan!” akhirnya, Alice tak mampu menahan umpatannya, dan hal tersebut membuat Troy tak kuasa menahan senyuman lebarnya. Alice kembali berjalan lagi, dan Troy mengikuti kemanapun kaki wanita itu melangkah.

Gila! Troy benar-benar merasa gila karena penolakan dan sikap ketus yang diberikan Alice Philips padanya. Kenapa wanita itu bersikap seperti itu padanya? Apa sebelumnya ia memiliki salah dengan wanita tersebut?

Pertanyaan itu terputar berkali-kali dalam kepala Troy sepanjang ia menyusuri trotoar bersama dengan Alice Philips di hadapannya.

***

Alice menghela napas panjang, karena tak lama, akhirnya sampailah juga ia ditempat kostnya. Sebenarnya, selama tinggal di Indonesia, ia menyewa sebuah tempat di Bali. Tapi karena pekerjaannya kali ini, ia sementara tinggal di Jakarta sampai pemotretannya selesai.

Alice membalikkan diri, berharap jika Troy sudah tak ada dibelakangnya, tapi ia salah. Nyatanya, Troy masih berada di sana, dengan senyuman miringnya, dengan kearoganannya, dengan kepedean tingkat dewanya, dan sialnya, dengan ketampanan dan kegagahan lelaki itu yang mampu memancing sesuatu di dalam diri Alice.

Dengan mendengus sebal, Alice bertanya pada Troy “Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?”

Bukannya menjawab, Troy malah menyandarkan diri di pagar, mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya yang diyakini Alice adalah sebuah rokok, menyalakan batang sialan itu dan menghisapnya sebelum menjawab “Cuma pengen tau dimana tempat tinggalmu.”

“Memangnya apa urusanmu?”

“Nggak ada, cuma penasaran aja.”

“Dasar sinting!” Alice mengumpat dalam bahasa asing, dan hal tersebut membuat Troy tak mampu menahan tawanya.

Ah ya, satu hal lagi yang disukai Troy adalah, bagaimana logat wanita itu ketika berbahasa indonesia. Hal itu membuat Troy seakan gemas pada seorang Alice Philips.

Alice akhirnya memilih segera memasuki rumah tersebut, kemudian mengunci pintu gerbangnya. Sebelum itu Troy sudah mengucapkan kalimat “Aku tak sabar melihatmu besok siang di kolam renang.” Ejeknya dengan nada menggoda.

“Bajingan!” lagi, Alice mengumpat dengan bahasa asing, dan hal tersebut benar-benar membuat Troy tak kuasa menahan tawanya. Alice tentu mengerti apa maksud Troy saat lelaki itu bilang mengunggunya di kolam renang, karena besok adalah jadwal pemotretan mereka dengan set di area kolam renang. Alice akan mengenakan bikini di sana, tentu saja Alice sangat tahu apa yang ada di dalam otak porno lelaki itu.

Sialan! Jika hari ini Alice mampu menahan dirinya dan bersikap ketus pada Troy, apa besok wanita itu bisa melakukannya lagi? Alice tak tahu. Tapi yang terpenting adalah, ia tak ingin terlibat dalam hubungan dengan seorang Troy Yoseph. Tidak tadi, tidak sekarang, tidak juga nanti.

-TBC-

 

My Pretty Girlfriend – Prolog

Comments 5 Standard

Tittle : My Pretty Girlfriend

Maincast : Kenzo Arya (Ken The Batman) & Kesha Kirana

Seri : The Batman Zone!

 

 

Prolog

 

 

Ken meneggak kembali minuman di dalam gelasnya hingga tandas. Minuman tersebut terasa membakar tenggorokannya. Tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah perayaan untuk merayakan kesuksesan atas konser solo pertama yang baru saja ia lakukan.

Ya, setelah The Batman memutuskan untuk vakum dari dunia hiburan sejak dua tahun yang lalu, para personilnya sibuk dengan urusan masing-masing. Jason dan Jiro lebih sibuk mengurus usaha keluarga mereka dan juga istri-istri mereka. Troy memilih menjadi model dan pemain Film. Sedangkan Ken memilih untuk bersolo karir. Menjadi penyanyi karena ia juga memiliki suara yang bagus dan unik.

Meski banyak sekali band-band yang ingin mengadopsi dirinya sebagai gitaris dan penyanyi kedua band mereka, nyatanya Ken memilih untuk tidak menermanya. Baginya, kesetiaannya hanya untuk The Batman. Dan itulah yang Ken pegang hingga saat ini.

Konser pertamanya tadi benar-benar sukses. Dan hal itu harus dirayakan seperti saat ini.

Dua tahun terakhir, kehidupan Ken memang berubah drastis. Ia yang dulunya terkenal sebagai good boynya The Batman, kini hanya sekedar kenangan. Sikapnya saat ini bahkan sama berengseknya dengan Troy, temannya. Ia juga tak segan-segan lagi melecehkan wanita yang dikenalnya dalam hubungan semalam. Semuanya tentu karena kehidupan percintaannya dulu yang berakhir dengan mengerikan.

Kesha, kekasih yang begitu ia cintai ternyata memutuskannya secara sepihak. Lebih gilanya lagi, ternyata kekasihnya itu berselingkuh dibelakangnya. Setidaknya, informasi itulah yang ia dapatkan saat itu.

Kesha sempat membuat Ken terpuruk, frustasi karena rasa sakit hati akibat penghianatan yang dilakukan wanita tersebut. Hingga Ken bersumpah, bahwa Ken tak ingin lagi bertemu dengan wanita itu. Karena Keshalah, sekarang sikap Ken berubah seratus delapan puluh derajat. Ken yang setia, Ken yang baik dan menghormati perempuan, kini berubah drastis menjadi seorang Bad boy dengan keangkuhan yang menjadi aksesorisnya.

Mengingat tentang Kesha membuat Ken sangat marah. Bahkan hingga kini, Ken belum bisa melupakan rasa sakit hatinya pada perempuan itu.

“Ken, mending elo pulang.” Seorang teman menyarankan padanya.

“Kenapa? Ini kan pesta perayaan buat konser gue tadi.” Jawab Ken tidak suka.

“Bukannya apa-apa. Tapi besok elo ada press conference dengan beberapa media. Mending elo pulang dulu, pestanya bisa kita lanjut besok malam.”

“Ahh sialan! Gue pengen banget minum sampai teler.”

“Elo harus nyimpen tenaga elo buat besok.” Dan akhinya, Ken mengangguk ia memilih bangkit dari tempat duduknya kemudian bersiap pergi dari tempat tersebut.

Tapi saat Ken sampai di area parkiran kelab malam tempatnya merayakan pesta dengan beberapa krunya tersebut, Ken melihat seseorang.

Dalam sekali lihat, Ken bahkan mengenal setiap gerak-gerik dari wanita itu. Itu adalah Kesha, mantan kekasih yang dulu pernah menyakitinya. Bukan hanya dulu, bahkan hingga sekarang, Ken masih merasakan dengan jelas bagaimana rasa sakit yang diberikan Kesha padanya.

Kesha tampak berseteru dengan seorang wanita yang lebih tua darinya. Dan hal itu membuat Ken mengamati keduanya.

“Aku nggak mau masuk ke sana!” terdengar Kesha berseru keras.

“Dengar. Kamu hanya mengantarkan minuman di sana. Apa yang membuatmu malu? Aku bekerja di sana sejak mengandungmu, ingat itu!”

“Tapi aku tak mau bekerja seperti Mama.”

Wanita yang dipanggil sebagai mama itupun tertawa lebar, mengejek perkataan Kesha. “Kamu pikir sudah berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk kebutuhanmu saat ini? sekarang adalah waktunya kamu, untuk membalasnya. Diawali dengan menjadi pengantar minuman di kelab ini.”

“Aku nggak mau, aku nggak mau.” Kesha menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampak tersiksa, dan hal itu membuat Ken tak kuasa menahan senyumnya.

Ya, kesedihan Kesha adalah kebahagiaan untuknya. Ken masih ingat dengan jelas bagaimana wanita itu dulu memutuskan hubungan mereka, kemudian setelahnya, Ken mendapati diri Kesha berkencan dengan pria lainnya. Padahal, selama ini Ken sudah setia terhadap Kesha.

Akhirnya, Ken yang tadi sudah masuk ke dalam mobilnya memilih keluar kembali dari dalam mobilnya, kakinya melangkah menuju ke arah dua orang di hadapannya tersebut sembari berkata “Sepertinya ada yang membutuhkan bantuan disini.” Ucapnya dengan nada arogan.

Kesha menatap ke arahnya seketika dan ternganga sembari berkata “Kenzo?” dengan mata membelalak tak percaya.

Ken tersenyum miring terhadap Kesha. Matanya menatap Kesha dari ujung rambut hingga ujung kakinya dengan tatapan melecehkan. Ya, dulu, Keshanya tak pernah mengenakan pakaian terbuka seperti saat ini, dan kini, wanita itu tampak sangat berbeda.

“Siapa kamu?” perempuan paruh baya di hadapannya bertanya.

“Ken. Kekasihnya.” Jawab Ken dengan enteng.

Si perempuan paruh baya itu tertawa lebar. “Jangan ngaco!”

“Saya nggak ngaco. Saya memang pacarnya. Dan kami cuma lagi break dua tahun terakhir. Bukankah begitu, Kei?” tanya Ken pada Kesha dengan nada menggoda.

Kesha tak tahu harus menjawab apa. Ia masih bingung, apa yang dilakukan Ken di tempat ini, dan kenapa lelaki ini datang kepadanya dalam keadaan seperti ini.

“Memangnya kamu bisa ngasih berapa sama anak saya? Kamu tahu kalau kebutuhan perempuan itu nggak murah?”

“Mama!” Kesha berseru keras pada mamanya, sungguh, ia tidak ingin Ken mengetahui semua tentang dirinya atau keluarganya yang berantakan.

“Dua puluh juta sebulan. Kalau kamu bisa membayar itu, maka kamu boleh membawanya.”

“Mama!” lagi-lagi Kesha berseru keras.

Ken tertawa lebar. Seperti sedang mengejek kepada kedua wanita di hadapannya tersebut. Kesha merasa sangat malu, rasa sakit begitu terasa di dadanya.

“Kamu nggak perlu dengerin dia.” ucap Kesha pada Ken. “Kita masuk, Ma. Aku lebih suka menjadi pengantar minuman.” Kesha mengajak Sang mama masuk. Tapi kemudian jemari Ken mencengkeram pergelangan tangannya.

“Aku akan membayarnya.” Ucap Ken dengan penuh penekanan. Mata lelaki itu menyiratkan sebuah kemarahan yang sangat kental hingga entah kenapa membuat Kesha bergidik ngeri seketika.

Apa yang telah direncanakan Ken?

Sedangkan Ken sendiri, ia merasa bahwa waktunya telah tiba. Waktu untuk membalaskan kesakitan hatinya yang ditimbulkan oleh seorang Kesha, kini sudah tiba. Ia akan membalas kesakitan itu, ia akan membuat Kesha jatuh bertekuk lutut padanya, kemudian mencampakan wanita itu seperti apa yang dia lakukan dulu. Sepertinya, sangat menyenangkan saat membayangkannya. Tapi bisakah Ken melakukannya?

-TBC-

 

Sleeping with my Friend – Bab 2

Comment 1 Standard

 

Bab 2

 

Emosinya tak dapat ia kontrol. Steve melayangkan pukulannya lagi dan lagi pada wajah Henry. Sungguh, Steve sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi dengannya. Ia hanya tidak bisa membayangkan ketika Jessie akan melepas kehormatannya dengan laki-laki bajingan ini. Padahal Steve sadar, jika itu bukanlah urusannya.

Jessie sudah dewasa, jadi ia tidak bisa melarang Jessie untuk tidak melakukan hal tersebut.

Saat Steve tak juga berhenti memukuli wajah henry, pada saat bersamaan pintu dibuka dan menampilkan Jessie yang baru kembali dari apartmen Steve dengan membawa baju ganti untuk lelaki itu.

Jessie sempat terkejut dengan apa yang terjadi. Ia melihat Henry terkapar diatas lantai dengan Steve yang berada di atasnya dan memukuli Henry berkali-kali. Jessie memekikkan nama Steve dan segera berlari menuju ke arah dua orang lelaki tersebut.

“Steve! Apa yang sudah kau lakukan?” Jessie menarik tubuh Steve agar lelaki itu bangkit meninggalkan Henry yang sudah terkapar di atas lantai.

Jessie menghampiri Henry, dan membantu lelaki itu agar bisa bangkit dan duduk sendiri.

“Henry, kau tidak apa-apa?” tanyanya. Mata Jessie menatap tajam ke arah Steve. “Apa yang kau lakukan Steve?!” Jessie berseru keras kepada Steve. Sedangkan Steve hanya bisa menatap Henry dengan tatapan membunuhnya.

Kemudian, tanpa banyak bicara lagi, Steve meraih baju ganti yang dibawakan Jessie, kemudian ia masuk ke dalam kamar Jessie untuk mengganti pakaiannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

***

Masih dengan kekesalan yang entah bersumber darimana, Steve mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Ia tidak sudi berlama-lama berada di dalam apartmen Jessie ketika ada si bajingan itu di dalamnya.

Steve lalu menghela napas panjang. Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Itu bukan urusannya, ketika Jessie akan memberikan kehormatannya pada lelaki itu malam ini, tapi entah kenapa memikirkan hal itu membuat Steve kesal setengah mati.

Setelah mengenakan pakaiannya, Steve segera keluar dari dalam kamar Jessie. Matanya lalu menangkap sepasang kekasih itu sedang berduaan di area dapur. Jessie tampak sedang mengobati memar-memar di wajah kekasihnya, dan itu kembali membuat Steve mendengus sebal.

Steve berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu depan apartemen Jessie, melewati sepasang kekasih itu tanpa ingin menatapnya. Hal tersebut membuat Jessie menghentikan aksinya, lalu meninggalkan Henry dan menyusul Steve.

Bagi Jessie, bagaimanapun juga, Steve harus meminta maaf terhadap Henry karena lelaki itu sudah memukuli wajah Henry hingga babak belur. Lagi pula, apa masalah mereka? Jessie tidak pernah berpikir jika keduanya memiliki masalah serius hingga membuat keduanya baku hantam seperti tadi.

Jessie mengejar Steve, dan menghentikan temannya itu saat Steve baru saja membuka pintu apartmen Jessie.

“Hei, kau mau kemana?” Jessie menghentikan Steve dengan menepuk bahu lelaki itu.

“Keluar.”

“Kau belum meminta maaf padanya. Kau tidak lihat mukanya babak belur karena ulahmu?”

Steve hanya menatap Jessie dengan tatapan membunuhnya. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Jessie tanpa sepatah katapun.

“Hei, Steve! Apa otakmu masih terendam alkohol? Steve! Steven!” Jessie berseru keras, tapi Steve masih melanjutkan langkahnya seakan tak peduli dengan teriakan-teriakan Jessie.

Dengan kesal, Jessie kembali masuk ke dalam apartemennya, sambil menggerutu, ia menuju ke arah Henry kembali dan melanjutkan aksinya untuk mengobati memar-memar di wajah lelaki itu.

“Apa dia gila? Apa otaknya masih terendam dengan alkohol? Dasar tidak tahu diri.” Jessie masih menggerutu sebal, dan itu membuat Henry sedikit tersenyum melihat kekasihnya tersebut.

Ya, itulah yang disukai Henry dari Jessie, wanita yang ceria dan juga cerewet.

“Kau, kenapa kau malah tersenyum seperti itu?”

“Sudahlah, lupakan saja dia.”

“Aku masih tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba dia memukulimu seperti itu? Kau tidak mungkin berbuat macam-macam dengannya, bukan?”

Henry sedikit salah tingkah. “Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya bertanya, kenapa dia mengenakan piyamamu, lalu tiba-tiba dia menerjangku dan memukuliku.”

“Mungkin dia masih terpengaruh dengan alkohol.”

“Dia mabuk lagi?” tanya Henry. Ya, setahu Henry, Steve adalah seorang pemabuk. Playboy cap kakap, dan ketika lelaki itu memiliki masalah atau sedang mabuk, lelaki itu lebih memilih menghabiskan waktunya di apartmen Jessie, dan itu benar-benar membuatnya tidak suka.

“Ya, dia gila. Bahkan tadi malam dia telanjang bulat di hadapanku dan memuntahkan isi di dalam perutnya di atas karpetku.” Ucap Jessie yang kini sudah kembali mengobati memar-memar di wajah Henry.

“Jess, jika boleh jujur, aku tidak suka melihat kedekatanmu yang tak wajar dengannya.”

Jessie menghentikan pergerakannya seketika. Ia menatap Henry dengan serius. “Apa maksudmu? Kami hanya teman, tak lebih.”

“Ya, tapi kalian sudah sama-sama dewasa. Aku cemburu melihatnya. Apa salah jika aku cemburu padanya?” pancing Henry.

Jessie tersenyum lembut. Ia menangkup kedua pipi Henry dan berkata. “Honey, kau tak perlu khawatir. Steve sudah seperti saudara bagiku. Kami tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak.”

“Tapi aku tidak percaya padanya.”

“Dia tidak akan berani macam-macam denganku, jika dia berani macam-macam sedikit saja, maka akan kutendang bokongnya dari sini.”

Henry mencoba tersenyum. Ia bersikap seolah-olah percaya dengan apa yang dikatakan Jessie, padahal sebenarnya, Henry merasa jika dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat cemburu dengan kedekatan yang terjalin antara Steve dan juga Jessie.

***

Steve tak berhenti mendengus sebal. Hari ini, ia menghabiskan waktunya di rumah Hank, temannya. Bukan tanpa alasan, karena hanya Hanklah yang mungkin mengerti bagaimana perasaannya saat ini.

Biasanya, Hank adalah orang yang menasehati Steve, memberi masukan, bahkan terkadang dia adalah orang yang mengenalkan Steve dengan beberapa wanita yang pernah menjadi teman kencan semalamnya.

Kini, Steve memilih mengubur dirinya pada sofa panjang milik Hank sembari menonton televisi dengan sesekali meminum bir yang memang selalu tersedia di dalam rumah lelaki itu.

“Kau, sebenarnya aku cukup muak melihatmu berada di sini.” Ucap Hank sembari melompat duduk tepat di sebelah Steve. “Ayolah, aku ada kencan, dan aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini seperti orang gila.”

“Kalau begitu, ajak aku kencan.” Jawab Steve dengan wajah cueknya.

“Kau akan menggangguku, Steve.”

“Berengsek! Apa kau tidak bosan berkencan dengan Natalia? Kau bisa memutuskannya dan mencari wanita baru, Sialan!” Steve mengumpat kesal. Hank memang sangat berbeda dengan Steve. Jika Steve memilih hubungan satu malam dengan seorang wanita, maka Hank adalah sosok yang setia.

Entah sudah berapa tahun lamanya Hank menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Natalia tersebut.

“Steve, aku bukan kau yang tidak punya perasaan. Saat kau tak bisa berpaling dari seorang wanita, saat itulah kau sudah benar-benar jatuh cinta padanya.”

“Omong kosong tentang cinta! Bagiku, cinta adalah seberapa besar payudaranya.”

Hank tertawa lebar. “Berengsek. Otakmu benar-benar sudah parah. Lebih baik kau pergi dari sini. Aku benar-benar sedang ingin berkencan minggu ini.”

Steve bangkit seketika. “Aku masih bingung. Kenapa ada orang-orang yang membosankan seperti kalian?”

Hank mengangkat sebelah alisnya. “Kalian?”

“Ya, kau dan Jessie. Kalian benar-benar membosankan.”

Hank tersenyum, ia ikut bangkit dan menepuk pundak Steve. “Kau hanya iri pada kami, Steve. Kami memiliki orang yang mencintai kami, dan kau belum memiliki hal itu.”

“Sialan!” lagi-lagi Steve mengumpat kesal. Lalu Steve berjalan pergi keluar dari apartmen Hank.

“Steve, aku akan ke apartemenmu nanti malam.”

“Tak perlu, karena aku akan berpesta dengan beberapa wanita bayaran.”

“Ayolah Steve.” Sungguh, Hank merasa tak enak hati, tapi mau bagaimana lagi. Hari ini adalah hari dimana ia akan melamar kekasihnya. Jadi ia tak mungkin membatalkannya.

“Nikmati saja kencanmu yang membosankan itu.” Ucap Steve dengan nada kesal sembari meninggalkan apartemen Hank. Ya, Steve merasa sangat kesal. Tapi, kenapa juga ia merasa kesal? Apa benar yang dikatakan Hank, bahwa ia hanya merasa iri saja karena tak memiliki wanita yang ia sukai? Ya, mungkin saja.

***

Jessie tidak bisa menghilangkan degup jantungnya yang semakin menggila. Masalahnya, hari ini ia sudah memutuskan untuk melepas kehormatannya dengan Henry, lelaki yang ia cintai. Disisi lain, ia merasa takut jika Henry akan kecewa dengan dirinya yang tak tahu apapun tentang seks.

Jessie mencoba menenangkan diri dengan meminum anggur yang tadi memang dibawakan Henry untuk mereka. Saat ini, keduanya sedang menonton film bersama di ruang tengah apartmen Jessie. Tak ada suara diantara mereka. Henry tampak menikmati jalannya film yang sedang mereka putar, sedangkan Jessie tampak sedang berusaha mengendalikan dirinya agar tak tampak salah tingkah.

“Sepertinya, kau sedikit tidak nyaman.” Ucap Henry kemudian.

“Maaf, aku hanya tidak bisa mengendalikan degup jantungku.” Jawab Jessie dengan jujur.

Henry tertawa lebar. Jemarinya terulur mengusap lembut puncak kepala Jessie. “Kalau kau belum siap, aku tidak akan memaksa.”

“Tidak! Aku sudah siap. Uum, maksudku, aku sudah menunggu malam ini.”

Henry menatap Jessie dengan intens. “Kalau begitu, bolehkah aku memulainya sekarang?”

Keterkejutan tampak jelas terukir di wajah Jessie. “Apa? Uum, bukankah ini masih sore, dan aku…” Jessie tampak tidak siap dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya tersebut.

Henry tersenyum lembut. “Aku tahu, kau hanya belum siap, Jess.”

“Henry, aku hanya…” Jessie tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Nyatanya apa yang dikatakan Henry adalah hal yang benar. Bahwa ia memang tidak siap melakukan ini. memang pikirannya sangat kuno, tapi mau bagaimana lagi. Jessie menghela napas panjang, lalu ia menjawab. “Ya, sebenarnya, aku belum cukup siap.”

“Aku mengerti.” Henry lalu melirik ke arah jam tangannya, kemudian ia berkata “Sebenarnya, hari ini aku ada janji dengan seorang pasien. Kau, tidak apa-apa bukan jika aku pergi sekarang?”

“Kau pergi karena aku belum siap melakukan seks denganmu?”

“Tidak, bukan begitu.”

“Tapi kita sudah sepakat kalau kita akan menghabiskan malam bersama malam ini. dan kini, kau berkata jika kau memiliki janji dengan pasienmu setelah aku menolakmu.”

“Jess. Tidakkah kau mengerti bahwa ini juga terasa sulit untukku? aku laki-laki normal yang sangat menginginkanmu. Mana mungkin kita bisa menghabiskan malam bersama tanpa melakukan apapun.”

Jessie berdiri seketika. “Kalau begitu, sentuh aku.”

Henry menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku berusaha menghormatimu. Saat kau berkata belum siap, maka aku tak akan melakukannya.”

“Oh Henry.” Jessie terpana dengan lelaki di hadapannya tersebut.

“Biarkan aku pergi. Oke?”

Jessie memejamkan matanya frustasi. Ia tidak ingin Henry pergi dengan kekecewaan yang tampak jelas di wajahnya, tapi mau bagaimana lagi. Jessie juga tidak  bisa membohongi dirinya senidri jika dirinya memang belum siap untuk melakukan hal seintim itu dengan Henry. Astaga, apa yang terjadi dengannya?

“Baiklah. Tapi, kau tidak marah denganku, bukan?”

Henry tersenyum lembut. “Tentu saja tidak.” Jawabnya sembari mengusap lembut pipi Jessie. Jessie ikut tersenyum, ia mersa lega, tapi di sisi lain, ia tetap merasa tidak enak karena sudah membatalkan rencana mesra mereka berdua.

***

Jessie mengantar Henry hingga basement. Saat ia kembali, ia mendapati Cody yang berada di sebelah lift. Lelaki paruh baya itu tampak sedang memapah seorang wanita dengan pakaian minimnya.

“Woow, aku tidak menyangka jika kau memiliki teman seperti ini, Cod.” Wanita itu memang tampak seperti wanita jalang dengan pakaian ketatnya, belum lagi gayanya yang sudah seperti wanita yang sedang mabuk membuat Jessie sulit mencerna sebenarnya apa yang sedang terjadi.

“Kau tahu? Temanmu sedang menggila.” Ucap si penjaga apartemen tersebut.

Jessie mengangkat sebelah alisnya. “Teman? Steve? Apa yang dia lakukan?”

“Dia sedang berpesta dengan banyak sekali wanita. Dan aku di sini dibayar lebih untuk mengantar mereka-mereka yang sudah teler seperti ini.”

Jessie menggelengkan kepalanya. “Astaga, apa dia sudah gila? Aku akan menegurnya.” Ucap Jessie kemudian yang segera menuju ke lantai dimana Apartmen Steve berada.

Tak menunggu lama, Jessie akhirnya sampai di depan pintu apartmen Steve. Setelah itu ia membuka begitu saja pintu tersebut karena Jessie memang sudah mengetahui passwordnya.

Jessie sangat terkejut ketika mendapati apa yang ada di dalam apartmen Steve. Musik diputar dengan nyaring, lampu dimatikan dan hanya terdapat lampu gemerlap hingga suasana seperti sedang berada di dalam sebuah kelab malam. Dua orang wanita setengah telanjang menari dengan gaya erotis di atas meja Steve, sedangkan Steve sendiri sedang duduk menikmati tarian tersebut dengan segelas minuman yang berada di tangannya. Tak lupa, terdapat juga dua orang wanita di sisi kiri dan kanannya.

Melihat itu membuat Jessie kesal, dangat kesal. Steve seperti seorang yang kekanakan. Bagaimanapun juga, Jessie merasa jika hal seperti ini tak seharusnya dilakukan oleh Steve. Apa lelaki itu akan mengadakan pesta seks?

Jessie berjalan cepat menuju ke arah hometeater yang memutar lagu-lagu tersebut, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Jessie mematikannya. Membuat semua yang berada di ruangan tersebut menatap ke arah Jessie seketika. Tak terkecuali Steve.

Steve berdiri seketika, ia tidak menyangka jika Jessie berada di sini dan melihatnya seperti ini.

“Siapa dia? mengganggu saja.” Ucap seorang wanita yang menari di atas meja Steve.

“Keluar dari sini.” Ucap Jessie kemudian.

“Hei, memangnya kau siapa?” tanya perempuan itu. Sedangkan Steve hanya diam masih ternganga dengan kehadiran Jessie.

“Aku kekasihnya. Sekarang kalian keluar dari sini, atau aku akan memanggil polisi untuk menangkap kalian.” Ancam Jessie.

Mendengar itu membuat para wanita yang ada di sana sedikit panik, apalagi saat melihat Steve yang hanya diam ternganga menatap ke arah Jessie. Lelaki itu seakan tak memiliki kemampuan untuk membela mereka dan terkesan membenarkan Jessie. Akhirnya, para wanita itu pergi meninggalkan apartmen Steve dengan sesekali menggerutu kesal pada Jessie.

Setelah para perempuan itu pergi meninggalkan apartmen Steve. Jessie segera memunguti apapun yang berada di ruang tengah tersebut yang baginya tampak berantakan. Sedangkan Steve, ia masih berdiri mematung menatap keberadaan Jessie di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Steve pada Jessie yang tampak lebih fokus pada ruang tengah apartmen Steve ketimbang si pemilik apartmen itu sendiri.

“Kau tidak lihat? Aku sedang membereskan sampah.”

“Kau tahu apa maksud dari pertanyaanku. Kenapa kau disini? Bukankah seharusnya kau kencan dengan pacar Gay mu itu?”

Jessie berkacak pinggang tidak suka dengan pertanyaan Steve. “Yang pertama, kedatanganku kesini karena menyadarkanmu bahwa kelakuanmu ini mengganggu penghuni apartmen lainnya, dan yang kedua, dia tidak Gay!”

Steve malah bersedekap. “Apartmenku kedap suara. Lagi pula, apartmenmu berbeda Lima lantai dari tempatku, jadi aku tak mungkin mengganggumu.”

“Terserah kau saja.” Jessie menjawab dengan acuh. Sebenarnya, Jessie juga tak mengerti apa yang ia lakukan di sini. Seharusnya ia tak peduli dengan Steve, dan bisa dibilang jika ia masih marah dengan lelaki itu. Tapi Jessie tak memungkiri jika malam ini dirinya butuh seorang teman untuk mencurahkan isi hatinya. Mencurahkan kebodohannya karena sudah menolak Henry dan membuat kekasihnya itu kabur begitu saja.

Jessie tahu, bahwa ia butuh teman untuk minum bersama dan menghilangkan kegalauannya yang entah bersumber dari mana. Dan ia juga tahu, bahwa hanya Stevelah teman yang cocok untuk membuatnya lebih baik lagi.

Kenyataan bahwa lelaki itu memilih bersenang-senang dan berpesta dengan banyak wanita jalang membuat Jessie marah. Jessie kesal, kenapa disaat hubungannya terasa sulit dengan Henry, Steve malah bisa sesuka hati tidur dengan berbagai macam wanita. Iri? Tentu saja, tapi Jessie tidak ingin mengungkapkan rasa irinya karena ia tahu bahwa ia tidak berhak merasakan perasaan tersebut.

Ingat, mereka hanya berteman, tidak lebih.

Saat Jessie memilih mengabaikan Steve, saat itulah Steve merasa emosinya terpancing. Secepat kilat Steve mencengkeram kedua bahu Jessie lalu ia bertanya sekali lagi. “Apa yang kau lakukan di sini?” kali ini pertanyaan Steve terdengar tajam dan menuntut.

Jessie tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia butuh teman, sungguh, tapi sepertinya mendatangi Steve adalah salah.

“Oke, aku pergi.” Jessie mengangkat kedua tangannya dan bersiap pergi.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jess! Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Steve lagi. Jessie tahu jika Steve sudah seperti ini, maka ia tak memiliki jalan lain selain jujur dengan lelaki itu.

Jessie menurunkan bahunya, ia mendesah panjang sebelum berkata “Aku butuh minum. Aku butuh teman minum! Apa kau puas?!” serunya dengan kesal dan frustasi.

Steve yang menatap Jessie merasa terketuk hatinya. Ia tidak pernah melihat Jessie sefrustasi saat ini. Kekesalan yang ia rasakan sepanjang hari pada Jessie karena wanita itu lebih membela kekasihnya dibandingkan dirinya kini lenyap begitu saja saat melihat kebingungan yang tampak jelas di wajah wanita itu.

Jessie memiliki masalah, Steve tahu itu. Wanita itu butuh minum, dan ia akan menemani wanita itu minum hingga melupakan masalahnya.

Sleeping with My Friend – Bab 1

Comment 1 Standard

 

Bab 1

 

Tiga bulan sebelumnya….

Kriiiiiingggggggggggggg

Suara jam weker yang berisik itu membuat Steve bangun seketika. Ingin sekali ia mengumpat keras karena merasa jika belum saatnya ia bangun. Tapi ketika sebuah jemari menjewer telinganya, ia baru sadar jika kini dirinya tidak sedang berada di dalam Apartemennya sendiri.

“Hei, bangung, dasar pemalas!” seruan itu membangunkannya. Bahkan si pemilik suara tidak tanggung-tanggung menjewernya membuat Steve mengerang kesakitan.

“Jess, apa yang kau lakukan? Sial! Kau membuat pagiku sangat buruk.”

“Mr. Morgan, kau pun membuat hariku sangat buruk.” Jessie berkacak pinggang. “apa kau lupa jika semalam kau datang kemari dalam keadaan mabuk? Lalu memuntahkan isi dalam perutmu diatas karpetku? Dan apa kau juga lupa jika saat ini kau sedang telanjang di atas ranjangku? Bangun dan angkat bokongmu dari tempat tidurku.” Ucap Jessie dengan nada marah.

Ya, ini memang bukan pertama kalinya Steve melakukan hal tersebut. Lelaki itu tinggal di gedung apartemen yang sama dengan Jessie tapi berbeda lantai. Jika lelaki itu memiliki masalah, atau Jessie yang memiliki masalah, maka keduanya saling bertamu minum dan tidur bersama –hanya tidur bersama. Tidak ada seks dan sejenisnya. Tapi tadi malam, Steve sepertinya terlalu mabuk. Lelaki itu bahkan tidak minum di rumahnya, tapi dengan begitu menjengkelkannya, lelaki itu datang ke apartemennya, melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat sebelum kemudian memuntahkan isi di dalam perutnya.

“Maaf, kepalaku masih sangat pusing.” Steve memijat pelipisnya. “Dan apa kita melakukan sesuatu tadi malam? Aku tidak berbuat yang aneh-aneh, kan?”

Jessie memutar bola matanya jengah. “Kau muntah di atas karpetku, semalaman aku sibuk membersihkan bekas muntahanmu, kau pikir apa yang bisa kuperbuat?”

“Jadi, tak ada seks?”

“Tidak! Yang benar saja. Sekarang cepat bangun dan mandilah. Aku mau membersihkan ranjangku.”

Sambil menutupi ketelanjangannya, Steve bangkit dan menuju ke arah kamar mandi. “Kau tidak kerja?” tanya Steve saat berjalan melewati Jessie.

“Ini minggu. Astaga, kau bahkan sudah tidak bisa mengingat hari. Berhentilah jadi pemabuk, Steve!”

“Baiklah, kau tidak perlu cerewet.” Setelah kalimatnya itu, Steve masuk ke dalam kamar mandi. Jessie menghela napas panjang. Astaga, sampai kapan hubungannya dengan Steve akan selalu seperti ini? Bagaimanapun juga, mereka adalah sepasang laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa, jika terus-terusan seperti ini, maka pasti orang akan beraanggapan lain tentang hubungan mereka, padahal, hubungan mereka memang hanya sekedar teman saja.

***

Steve keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah lebih segar dari sebelumnya. Meski rasa pening di kepalanya masih saja ia rasakan, tapi setidaknya ia sudah bisa berjalan sendiri tanpa terhuyung-huyung.

Steve berjalan menuju bar dapur apartemen Jessie, ia duduk di sana dan mengamati Jessie dari belakang.

“Kau yakin tadi malam tidak ada seks?”

“Ya, tentu saja. Henry saja tidak berani menyentuhku, apalagi kau? Sebelum kau macam-macam, akan kupastikan bahwa kau sudah kutendang dari apartemenku.”

Steve tertawa lebar. “Ayolah, Jess. Kau seperti seorang gadis biara. Aku masih tidak percaya kau masih perawan diusiamu yang sudah Dua puluh tujuh tahun.”

“Karena kau selalu mengacaukannya saat aku ingin melakukannya.” Jessie memberikan Steve sepotong roti isi, tak lupa ia juga memberikan Steve obat pereda nyeri dan juga secangkir kopi.

“Benarkah aku yang mengacaukannya? Atau, itu hanya alasanmu saja?”

“Sebenarnya apa yang kau inginkan? Jika otakmu masih penuh dengan alkohol, lebih baik kau segera keluar. Henry sebentar lagi akan datang.”

“Untuk apa si gay itu datang kemari pagi-pagi buta seperti ini?”

Jessie berkacak pinggang. “Yang pertama, kami tentu akan berkencan. Ini minggu, kami akan menghabiskan waktu bersama. Yang kedua, Bung, ini sudah jam Dua belas siang. Dan yang ketiga, dia bukan Gay, jadi berhenti menyebutnya Gay.”

“Apa sebutan untuk laki-laki yang tidak berani menyentuh kekasih yang sudah dua tahun ia kencani? Jika dia bukan Gay, maka dia tidak tertarik denganmu.”

Jessie tersinggung, tentu saja. Cara diam Jessie membuat Steve sadar jika apa yang ia katakan memang sudah menyinggung temannya itu.

“Maaf, maksudku, kau menarik, tentu saja. Bahkan beberapa kali aku sempat bermain sabun dengan membayangkanmu.”

“Steve, cukup! Kau menjijikkan.”

Steve tertawa lebar. “Oke, aku bercanda. Tapi kau benar-benar menarik Jess. Maksudku, mungkin Henry tidak menyentuhmu karena dia tidak bisa melihat sisi menarikmu.”

“Jika boleh jujur, sebenarnya sudah sejak lama Henry menginginkannya. Tapi, aku yang menolak.”

“Kau yakin? Kenapa Jess?”

“Oh Steve. Aku malu. Kau tahu jika aku tak tahu apapun tentang ranjang. Aku takut dia meninggalkanku karena aku tidak mahir di atas ranjang.”

“Yang benar saja, kau bisa meminta bantuanku, Jess. Kau ingin aku melakukannya dulu?”

Jessie menatap Steve dengan kesal. “Lebih baik kau segera keluar dari apartemenku, sebelum peralatan dapurku melayang menimpa kepalamu.”

“Aku tidak bercanda, Jess. Kau tahu bukan bagaimana hubunganku dengan para gadis? Hampir separuh populasi wanita di New York pernah tidur denganku, seharusnya kau merasa terhormat dengan tawaranku.”

“Keluar!” Jessie sungguh-sungguh.

“Ayolah Jess.”

Jessie menuju ke arah Steve, lalu dengan sekuat tenaga ia menggelandang lelaki itu agar bangkit dari tempat duduknya, kemudian menyeretnya ke arah pintu apartemennya.

“Apa kau ingin aku mencuci otakmu yang mesum itu?” ucapnya dengan sesekli menjambak rambut Steve.

Steve mengaduh, tapi keduanya saling tertawa dengan Jessie yang masih sesekali menyeret Steve menuju ke pintu apartemennya. Saat Jessie membuka pintu apartemennya, saat itulah dia melihat seorang lelaki tampan berdiri di depan pintu apartemennya dengan seikat bunga mawar merah.

Jessie dan Steve menghentikan tawa mereka, sempat terkejut, tapi kemudian Jessie dapat mengendalikan dirinya. Ia segera menghambur ke arah lelaki itu sembari menyebutkan namanya.

“Henry…” Jessie memeluk tubuh Henry, pun dengan Henry yang ternyata segera membalas pelukan Jessie. Setelah itu keduanya berciuman dihadapan Steve, sangat mesra seakan saling melepas rindu.

Ada sebuah rasa kesal dalam benak Steve. Mungkin karena ia merasa Jessie mengabaikannya saat ini. Dan seharusnya ia tidak mempedulikan hal itu.

Jessie menhhentikan kemesraan mereka, lalu bertanya “Kau sudah datang?”

“Ya.” Henry menjawab. “Ini untukmu.” Lanjutnya sembari memberikan seikat bunga mawar merah untuk Jessie.

“Oh, kau tidak perlu repot-repot. Masuklah.” Ajaknya. Henry masuk, lalu Jessie menatap ke arah Steve, “Keluar.” Ucapnya pada Steve.

“Ayolah Jess, kau tidak mungkin mengusirku dalam keadaan seperti ini? Cody akan menertawakanku.” Cody merupakan si penjaga apartemen, keduanya memang cukup dekat dengan lelaki paruh baya itu, tapi tetap saja, Steve tidak ingin penampilannya yang selalu keren dan Elegant akan ternodai dengan penampilannya saat ini yang sedang mengenakan piyama dengan motif bunga milik Jessie.

Jessie menghela napas panjang. “Baiklah, kau boleh masuk, aku akan ke apartemenmu mengambilkan pakaian ganti untukmu.” Ya, karena hanya Jessielah yang mengetahui password apartemen lelaki terebut, begitupun sebaliknya.

“Ohh, kau benar-benar yang terbaik.” Steve akan memeluk Jessie, tapi Jessie menolaknya.

“Kau tidak perlu memelukku. Masuklah, aku akan keluar sebentar.” Ucapnya dengan wajah datar.

Steve hanya melihat Jessie yang keluar kemudian menutup pintu apartemennya, meninggalkan dirinya hanya berdua dengan kekasih wanita itu.

Steve menatap ke arah Henry yang ternyata sedang mencari minum di lemari pendingin Jessie. Ya, lelaki itu tampak menempatan diri seperti dirumahnya sendiri, dan seharusnya ia tidak ambil pusing dengan hal tersebut.

Meski sedikit risih, tapi Steve tetap bersikap seolah-olah cuek. Ia lalu duduk di sebuah sofa panjang di depan televisi, kemudian mulai menyalakan televisi di hadapannya meski ia tidak tahu harus menonton apa.

“Kemana dia?” Henry bertanya, lelaki itu sudah membawa segelas orange juice dan duduk di sofa yang berbeda dengan Steve.

“Ke apartemenku, mengambilkan baju ganti untukku.” Steve menjawab dengan acuh.

Henry baru sadar dengan penampilan Steve saat ini yang ternyata sedang mengenakan piyama milik Jessie. Rasa kesal ia rasakan begitu saja saat memikirkan jika mungkin saja ada hal-hal yang tidak-tidak terjadi diantara Jessie dengan Steve.

“Kau, menginap di sini lagi?” tanya Henry dengan nada tidak suka. Ya, ia memang tahu jika Steve sering menginap di apartemen Jessie, pun sebaliknya. Meski ia tidak suka dengan kenyataan itu, tapi Henry mencoba mengerti jika keduanya adalah sahabat sejak bayi, dan Henry mencoba mengabaikannya meski terkadang kecemburuan itu tumbuh untuk Steve.

“Ya, ada masalah?” Dengan santai Steve bertanya balik.

“Dengar Steve, kau tidak bisa seperti ini terus menerus, Jessie dan aku memiliki hubungan yang serius, kami akan menikah, kau tidak mungkin terus-terusan tidur dengan calon istriku.”

Steve tersinggug, tapi kemudian ia tertawa lebar menertawakan ucapan Henry. “Kau keberatan? Kau yang harus mendengarku, Walter! Hubungan kami lebih dari teman, dan tak ada yang bisa mengerti seberapa dekat ikatan kami berdua.”

“Steve, dia calon istriku.” Henry mengingatkan.

“Dia teman kecilku.”

“Sial! Kalian sudah dewasa. Apa kau tidak bisa melihatnya? Apa kau akan berada diantara kami saat kami bercinta?”

“Bajingan, kau!” Steve berdiri seketia. Jemarinya mengepal, ia tidak suka membayangkan saat dirinya berada diantara Jessie dan juga lelaki sialan itu saat mereka sedang berhubungan intim.

Henry tersenyum mengejek. “Akui saja, Steve. Kau ingin membawanya ke atas ranjangmu, bukan? Kau akan kalah, Steve. Karena malam ini, aku yang akan lebih dulu melakukannya.”

“Sialan!” Setelah ucapannya tersebut, Steve menerkam Henry hingga lelaki itu jatuh terseungkur ke lantai. Tanpa banyak bicara lagi, Steve mendaratkan pukulannya lagi dan lagi pada wajah Henry.

Steve tak dapat mengontrol emosinya. Ya, entah kenapa ia selalu merasa ingin marah saat membahas tentang Jessie dengan lelaki lain.

Apa yang terjadi denganmu, Steve? Apa yang kau lakukan? Dalam hatinya yang paling dalam, Steve bertanya pada dirinya sendiri.

-TBC-

Sleeping with my Friend – Prolog

Comments 2 Standard

 

 

Tittle : Sleeping with my Friend (SWMF)

Seri : Summer Series #1

pemeran : Jessica Summer & Steven Morgan

Genre : Romance Adult

Seri selanjutnya : Sleeping with my Boss (SWMB)

 

Haiiii serial baruuuu yeaayy… semoga sukaa hhahahhahahahah kalo ada yang nanya, mom kok judul di covernya beda? jadi dulu aku mau kasih judul married gitu, tapi gak jadi, kayaknya bagusan Sleeping, lebih liar aja. hahahhahha pokoknya happy reading yaaa wakakakakakak

 

 

Prolog

 

Jessica masih meremas kedua belah tangannya ketika ia sampai di halaman sebuah rumah. Rumah besar milik keluarga Morgan.Tetangga sekaligus teman dekat dari keluarganya.Ya, malam ini keluarga Morgan memang sedang mengadakan pesta kecil untuk merayakan keberhasilan Emily Morgan –putri bungsu keluarga Morgan, menyandang gelar sebagai Dokter spesialis kandungan.Dan pastinya, malam ini, Jessieakan bertemu dengan lelaki itu. Siapa lagi jika bukan StevenMorgan.Putera pertama keluarga Morgan.

Sebenarnya, Jessie tidak ada masalah apapun dengan lelaki itu.Bahkan bisa dibilang, hubungan Jessie dengan Steve adalah hubungan yang sangat unik. Keduanya menjalin pertemanan yang sangat kental bahkan hingga kini, ketika usia mereka sudah tidak remaja lagi.

Jessie menjadi seorang designer terkenal di New york, sedangkan Steve menjadi fotografer yang sukses. Keduanya sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama di Apartemen masing-masing, karena mereka memang tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama. Ya, karena mereka sudah tidak lagi tinggal di rumah keluarga masing-masing sejak keduanya memilih untuk mandiri dan bekerja jauh dari rumah mereka.

Tapi,  hubungan itu seakan berubah sejak Tiga bulan yang lalu. Ketika Jessie terbangun diatas tempat tidurnya dalam keadaan telanjang bulat dengan seorang pria yang juga sama telanjangnya, pria tersebut bahkan merengkuh tubuh Jessie seakan tak ingin melepaskan Jessie dari pelukannya, ya, siapa lagi jika bukan Steve.

Hubungan baik mereka ternodai karena hubungan panas yang terjadi dimalam itu. Dan sejak saat itu, Jessie sadar, jika hubungan mereka tidak akan pernah kembali membaik seperti sebelumnya.

Pintu di buka dan mendapati Nyoya Morgan menyambut hangat kedatangan Jessie bersama ayahnya, George Summer.

“Jessie, astaga, kupikir kau tidak bisa datang.” Bibi Patty –Jessie memanggilnya, memeluk erat tubuh Jessie, seakan wanita itu sangat merindukan kedatangan Jessie di rumahnya.

Ya, biasanya, Jessieakan pulang sebulan sekali, begitupun dengan Steve. Keduanya lalu menghabiskan waktu bersama dengan berkuda bersama, dan lain sebagainya.Tapi sejak tiga bulan yang lalu, Jessie tidak lagi menjalankan aktivitas tersebut.Dia tidak pernah pulang hingga hari ini.

“Aku sibuk, Bibi.Dan hari ini, demi Lily, aku pulang.Dimana dia?”

“Lily di dalam. Kau hanya dengan George?” tanya Patty sembari melirik ke arah George Summer.

“Ya. Frank belum bisa pulang.” George yang menjawab.

“Tidak, maksudku, dimana Henry?”Patty bertanya pada Jessie tentang Henry, lelaki yang sudah menjadi kekasih Jessie Dua tahun terakhir.

“Uuum,” Jessie tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa semuanya baik-baik saja, sweetheart?” tanya Patty lagi. Ya, setahu Patty, hubungan Jessie dengan Henry sangat serius, keduanya bahkan akan melangsungkan pernikahan awal musim semi tahun depan.

“Patty, mereka sudah putus.”

“Ayah.” Jessie meminta sang ayah untuk tidak banyak bercerita. Apalagi tentang alasan putusnya hubungan mereka.

“Oh, aku turut bersedih.”Patty membungkam bibirnya.Ia tidak menyangka jika Jessie akan mengalami hal ini. “Mari, masuklah, lebih baik lupakan semuanya dan mari kita berpesta.” Ajak Patty dengan ceria, dan Jessie hanya mengangguk sembari menyunggingkan senyuman lembutnya.

Patty menggiring Jessie dan George masuk ke dalam rumahnya.Mereka melewati ruang tengah lalu segera menuju ke arah kebun tepat di samping rumah keluarga Morgan.Ya, pesta kecil tersebut dirayakan di kebun yang sudah dihias dengan banyak sekali lampu-lampu kecil hingga membuatnya tampak begitu indah.

“Steve juga sudah datang, dengan kekasihnya.”Tubuh Jessie menegang seketika saat setelah mendengar kalimat Patty.“Hei, lihat siapa yang datang.” Patty berseru keras hingga semua orang yang berada di sana menolehkan kepalanya ke arah Patty, Jessie dan juga George.

Tubuh Jessie semakin menegang saat mendapatkan tatapan itu, tatapan mengintimidasi dari seorang pria yang dulu menjadi sahabatnya, tapi tidak sekarang. Oh Steve, apa yang harus ia lakukan pada pria itu? Haruskah ia menceritakan semua yang terjadi dengannya? Tidak! Bahkan membayangkannya saja membuat Jessie mual. Ya, Steve tidak boleh tahu, lelaki itu tak boleh tahu jika ia sudah mengandung bayi dari lelaki itu.

-TBC-