romantis

Bianca – Chapter 14 (Break)

 

Chapter 14

-Break-

 

Baru kali ini, Bianca merasa canggung saat berada dalam tatapan mata Felly. Ia tak mengerti apa yang ia rasakan saat ini, yang pasti, Bianca saat ini melihat Felly sebagai wanita yang mungkin saja masih dicintai Jason. Dan hal itu benar-benar membuat Bianca tidak nyaman.

“Jadi, kamu pacaran sama Jason?” tanya Felly kemudian hingga membuat Bianca mengangkat wajahnya menatap ke arah Felly seketika.

“Kamu tahu dari mana?” tanya Bianca yang mencoba mengendalikan dirinya agar tidak salah tingkah dengan pertanyaan Felly tersebut.

“Sienna kemarin bilang, dan aku melihat di sosial media.”

Bianca mendengus sebal. Ia memutar bola matanya ke arah Sienna yang sedang asik memilih-milih saus untuk ice creamnya di dapur mini toko ice cream Felly  dengan beberapa karyawan Felly.

“Ya, aku berhubungan sama dia. Sungguh, aku nggak tau kalau dia mantan kamu. Maksudku, Sienna saat itu memberitahuku, tapi saat itu aku tidak mendengarkannya karena aku saat itu aku nggak tertarik sama sekali dengan Jason ataupun The Batman.” Jelas Bianca.

Felly sempat tersenyum dengan penjelasan panjang lebar Bianca. “Astaga Bee. Kamu nggak perlu jelasin gitu. Aku ngerti. Lagi pula, itu bukan lagi urusanku. Aku sudah bersuami.”

“Tapi Fell, kan aku merasa nggak nyaman. Jason mantan kamu, dan kita sepupuhan, seharusnya aku nggak pacarin mantan pacar kamu.”

“Bee.” Felly menjelaskan. “Aku nggak pernah pacaran sama Jase. Oke, kami memang sempat mengumumkan seperti itu, tapi itu hanya rencanaku saat itu untuk membuat Kak Raka cemburu. Jadi sebenarnya, kami hanya berteman.”

“Kamu yakin?”

“Ya. Dari dulu aku hanya cinta sama Kak Raka.”

“Tapi Jason, dia suka sama kamu, kan?”

Felly mengangkat kedua bahunya. “Aku nggak tahu.” Felly tentu tahu bagaimana perasaan Jason saat itu padanya. Tapi Felly tentu tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Bianca. Ia tidak ingin membuat Bianca tidak nyman terlebih lagi sampai menyakiti hati Bianca dengan masalalu mereka.

Bianca hanya mendesah pelan. Ia merasa Felly tak cukup membantu kegundahan hatinya. Ia tidak mendapatkan jawaban yang ia cari tentang perasaan Jason pada wanita di hadapannya tersebut, dulu atau mungkin sekarang.

***

Di lain tempat….

Troy menahan Jason sekuat tenaga agar tidak menerjang tubuh Raga kembali. Sedangkan Jiro pun demikian yang menahan tubuh Raga agar tidak kembali memukul wajah Jason. Keduanya baru saja beradu pukulan hingga mengakibatkan wajah mereka memar-memar.

“Stop! Kalian apaan sih!” Ken berseru keras menengahi keduanya.

“Seharusnya Elo yang jauhin Bianca. Dia milik gue!” Jason mendesis tajam. Jika tadi ia masih bersikap dan berkata sopan pada Raga karena menghormati lelaki itu, maka kini dirinya tak memikirkan kesopanannya lagi. Baginya, saat ini masalahnya dengan Raga murni masalah pribadi, dan tak ada hubungannya dengan lelaki itu yang menjadi produsernya.

Raga tersenyum mengejek. “Mungkin sekarang dia memang milik elo, tapi sebentar lagi, gue akan merebutnya dan memilikinya secara sah.”

Mata Jason membulat seketika.

Sah? Maksudnya, Raga akan menikahi Bianca? bagaimana bisa?

Raga lalu memepaskan diri dari Jiro yang menghadangnya. Lelaki itu kemudian merapikan kembali penampilannya sebelum bergegas pergi meninggalkan ruang latihan The Batman. Troy yang melihat kepergian Raga seketika melepaskan tubuh Jason.

“Lo beneran mau saingan sama dia?” tanya Troy kemudian pada Jason.

Jason tampak ragu. “Kenapa enggak? Toh, Bianca sudah jadi milik gue.”

Come on Jase. Elo nggak lihat dia serius banget sama Bianca? dia tampak seperti pria yang siap menikahi Bianca. Elo?”

Jason termangu mendengar pertanyaan Troy. Temannya itu benar, saat ini, menikah bukanlah menjadi pioritas Jason. Ia tidak mungkin menikah dalam waktu dekat, tapi bukankah ia sudah memiliki semuanya dengan Bianca? Bianca juga pasti mengerti, dan wanita itu tentu pasti lebih memilihnya, mengingat apa yang sudah mereka miliki dan mereka alami selama ini. toh, Bianca juga tidak menuntut tentang pernikahan, bahkan membahasnya saja tidak.

“Bianca bukan wanita kebanyakan yang ingin hubungan serius apalagi membahas tentang pernikahan. Itu bukan dirinya. Dan si bangsat sialan Raga, dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Bianca akan tetap menjadi milik gue.” Dan setelah ucapannya tersebut, Jason meninggalkan ruang latihannya, meninggalkan teman-temannya yang saling menatap satu sama lain dengan pikiran masing-masing.

***

Pulang dari toko ice cream milik Felly, Bianca sengaja naik taksi dan berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. Saat ia turun dan hampir membuka pintu gerbang rumahnya, Bianca tak sengaja melihat ke arah seberang jalan tepat di depan rumahnya.

Mengerutkan keningnya ketika mendapati dua orang wanita muda menatapnya dengan tatapan tak suka. Siapa mereka? Apa ia pernah mengenalnya? Akhirnya, karena tidak nyaman ditatap seperti itu, Bianca masuk ke dalam rumahnya.

Di dalam rumah, Bianca sudah disambut dengan Hana, Sang Mama. Hana bahkan menyerahkan sebuah paket untuknya, Bianca mengerutkan keningnya dan Hana berkata “Mama nemuin itu di depan gerbang, ada tulisannya buat kamu.”

Dan akhirnya, Bianca membawa paket tersebut masuk ke dalam kamarnya. Sedikit bingung karena ia merasa tidak pernah memesan apapun di toko online. Akhirnya Bianca membua isi paket tersebut saat dirinya sudah berada di dalam kamarnya.

Bianca segera melemparkan paket tersebut ke sembarang arah ketika terkejut dengan isinya. Ia melihat banyak sekali foto-foto dirinya sejak dua hari terakhir. Dan foto-foto tersebut tampak di di tusuk-tusuk, dicoret-coret bahkan dilumuri cairan merah dan Bianca tak tahu itu apa.

Setelah Bianca selesai menghadapi keterkejutannya, Bianca mendekat, dan meraih sebuah tulisan tangan yang ada di dasar paket tersebut.

‘Jauhi Jason!’

Hanya dua kata tapi itu mampu membuat Bianca mengerti siapa yang sudah mengirimkan hal ini padanya. Itu pasti salah satu fans Jason, tapi dari mana mereka tahu tentang dirinya? Dan astaga, Bianca yakin jika dua hari terakhir ini si pengirim paket pasti menguntitnya, mengingat foto-foto di sana berisi foto-fotonya selama dua hari terakhir.

Cukup mengerikan bagi Bianca, tapi ia bukan wanita bodoh yang takut dengan teror-teror seperti ini. Baginya, orang yang menerornya adalah orang yang pengecut karena tidak berani menghadapinya secara langsung tapi hanya berani menerornya seperti ini.

Bianca membuang paket tersebut ke dalam tong sampah. Apa sebaiknya ia bercerita pada Jason? Haruskah?

***

Malam itu, Bianca akhirnya memutuskan ke apartmen Jason. Ia dipersilahkan masuk oleh kedua pengawal Jason, dan saat sampai di dalam apartmen tersebut, Bianca sempat mengangkat sebelah alisnya ketika mendapati Jason berdiri di balkon kamarnya, bukan datang menyambunya.

Ada apa dengan lelaki itu? Apa dia sedang memiliki masalah? Apa jason sedang tidak ingin melihatnya berada di dalam apartmen lelaki tersebut? Bianca bertanya-tanya dalam hati, tapi kemudian Bianca menyingkirkan pikiran negatifnya tersebut dan berjalan menuju ke arah Jason.

Tanpa banyak bicara lagi, Bianca memeluk tubuh Jason dari belakang, dan dia bertanya “Apa yang kamu lakukan di sini?”

Jason menghela napas panjang. “Mengamati kota.”

Bianca sedikit tidak suka dengan jawaban pendek Jason, seakan lelaki itu sedang tak ingin diganggu. Bianca lalu melepaskan pelukannya dan bertanya. “Apa aku sedang mengganggumu?” tanyanya kemudian.

Jason membalikkan tubuhnya dan menatap Bianca seketika. Dan saat itu juga Bianca melihat bagaimana wajah tampan Jason yang lebam-lebam karena perkelahiannya dengan Raga tadi siang.

“Astaga, apa yang terjadi denganmu? Kenapa muka kamu lebam-lebam gini?” tanya Bianca dengan khawatir sembari mengusap pipi Jason.

Jason mencengkeram pergelangan tangan Bianca, wajahnya masih suntuk, dan entah kenapa Jason tidak bisa menyembunyikan wajah muramnya dari hadapan Bianca.

“Aku mau tanya satu hal sama kamu. Tapi jawab dengan jujur.” Ucap Jason dengan sungguh-sungguh.

Bianca mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti kenapa Jason bersikap seperti itu padanya.

“Apa? Ada apa?” tanyanya bingung.

“Ada hubungan apa kamu dengan Raga?”

Sungguh, Bianca benar-benar terkejut dengan pertanyaan Jason. Darimana Jason tahu tentang Raga dengan dirinya?

“Apakah dia yang melakukan ini padamu?” bukannya menjawab, Bianca malah bertanya balik.

“Itu tidak penting.” Jason menjawab pendek.

Jason mendekat satu langkah dengan begitu mengintimidasi, dan hal tersebut membuat Bianca dengan spontan mundur satu langkah menjauhi kekasihnya tersebut.

“Katakan, Babee. Apa hubunganmu dengan si bajingan itu.” Kali ini suara Jason sudah serak, tapi dengan nada mengancam. Bahkan panggilan sayang yang biasanya disebutkan Jason saat bercinta dengannyapun keluar dari bibir lelaki itu. Sebenarnya Jason kenapa?

Jason mendekat, dan Bianca mundur lagi. Keduanya seperti sedang melakukan sebuah permainan interaksi sensual, hingga kemudian, mau tidak mau Bianca mengakhiri permainan persebut saat tubuhnya sudah terhimpit diantara dinding dan juga tubuh Jason.

Telapak tangan Bianca terangkat dan menahan dada Jason agar lelaki itu tidak lagi mendekat ke arahnya dan membiarkan dirinya bernapas sebelum menjelaskan semuanya.

Jason memiringkan kepalanya dan menataap Bianca dengan tatapan mengintimidasinya, menandakan jika Bianca harus segera menjawab pertanyaan sederhananya tersebut.

“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia?”

“Benarkah? Kenapa bisa kamu berada di parkiran  salah satu mall bersama dengan dia?”

Lagi-lagi, Biaca tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

“Kamu ngikutin aku?”

“Ayolah, Bee. Kamu tahu kalau aku nggak punya waktu seluang itu.”

“Kenapa kamu bisa tahu?”

“Kamu cukup jawab, apa yang kamu lakukan dengan dia, berduaan dengan dia.” ucapan Jason penuh dengan penekanan.

“Yang pertama, kami hanya makan siang bersama, yang kedua, kami nggak berdua. Aku dengan Sienna.”

“Aku tidak melihat Sienna di parkiran.”

“Karena Sienna lebih memilih menghabisakan kentang goreng sialannya di dalam restoran ketimbang mengantarnya keluar.”

Jason memenjarakan tubuh Bianca seketika. “Lalu kenapa kamu yang mengantarnya keluar? Bukankah dia bisa keluar sendiri tanpa kamu harus bermesra-mesraan dengannya di parkiran?!” Jason berseru keras.

“Bermesra-mesraan?” tanya Bianca tak mengerti.

“Ya, dia berani menyentuh rambutmu.”

Bianca menghela napas panjang. “Jase, aku nggak tahu apa yang terjadi denganmu. Kamu terlihat berbeda.” Tentu saja, Bianca tidak mengenal Jason saat ini. Lelaki itu seperti sedang dibutakan oleh cemburu. Rasa posesifnya tidak masuk akal. Bianca bahkan berpikir kalaupun ia menjelaskan semuanya pada Jason, lelaki itu tak akan mendengarnya saat ini.

“Semua pria akan mengeluarkan taringnya saat melihat kekasihnya berduaan dengan pria lain.”

“Tapi kamu seperti tidak membiarkan aku menjelaskannya, Jase. Kamu seakan tidak ingin mendengarkan penjelasanku.”

Jason menghela napas panjang, mencoba menhan emosinya yang entah kenapa terasa meledak-ledak malam ini. “Kamu tahu, kan. Aku pernah mengalami ini sebelumnya. Dicampakan karena pria lain. Dan aku tidak ingin mengalami hal itu lagi denganmu, saat ini.” Jason menjelaskan sepelan mungkin, dengan penekanan, agar Bianca mengerti bagaimana posisinya, bagaimana kerapuhan hatinya terhadap seorang wanita.

Dan Bianca mengingat tentang Felly. “Ya, tentu saja aku mengerti. Dan perlu kamu ketahui kalau Felly tidak mencampakanmu! Kamu hanya terlalu mendalami peranmu dan terjerumus kedalam cinta yang bertepuk sebelah tangan.”

Jason marah mendengar kenyataan itu.

Ia memukul keras dinding tepat di sebelah kepala Bianca hingga membuat Bianca berjingkat ngeri. “Dari mana kamu tahu tentang Felly?”

Bianca mencoba mengendalikan dirinya agar tidak terlihat takut dengan sosok lelaki di hadapannya tersebut.

“Tak sulit mencari tahu. Selama ini, dia kan, yang menjadi Muse kamu? Dia juga kan, yang membuatmu menjadi sepengecut ini?”

“Aku tidak pengecut! Dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan.”

“Apa sebutan bagi seseorang yang masih dalam pengaruh ketakutan akan masa lalunya? Pengecut? Pecundang?” tantang Bianca.

“Jangan membuatku marah, Bee.”

“Kenapa? Kamu akan memukulku kalau aku membuatmu marah?” tanya Bianca dengan suara yang sudah bergetar.

Pada detik ini, Bianca merasa jika dirinya memang belum mengenal Jason sepenuhnya. Bagaimana lelaki itu, bagaimana emosinya, bagaimana kepribadiannya. Membayangkan Jason tega memukulnya membuat Bianca bergidik ngeri. Apa Jason tipe lelaki seperti itu? Suka memukul wanita saat tak dapat menahan amarahnya?

Mendengar Bianca yang suaranya sudah bergetar, dengan raut takut yang tampak pada wajah wanita itu membuat Jason menghela napas panjang. “Aku tidak akan melakukan hal itu, Bee.”

Entah kenapa Bianca ingin menumpahkan sesuatu dari matanya. Matanya berkaca-kaca. Bianca tak pernah mengalami hal ini sebelumnya, bahkan merasakannya saja tak pernah.

Jason seperti sedang menuduhnya melakukan yang tidak-tidak, bahkan lelaki itu seakan tak ingin mendengarkan penjelasannya. Padahal Bianca juga ingin meminta penjelasan tentang perasaan lelaki itu pada Felly. Kenapa seakan-akan hanya dirinya yang salah, sedangkan Jason pantas berlaku kasar padanya?

Tanpa diduga, Jason menangkup kedua pipi Bianca, dan hal itu membuat Bianca menatap tepat pada mata lelaki itu. Air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Sial! Bianca tak ingin terlihat cengeng di mata Jason.

“Maafkan aku sudah kasar sama kamu.” Tiba-tiba Jason mengakui kesalahannya. “Aku hanya tidak suka kenyataan bahwa kamu dekat dengan pria lain, apalagi dengan begitu berengseknya pria itu mengklaim kamu di hadapanku.”

Bianca hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Seharusnya Jason tidak marah kepadanya. Masalah Raga yang mengklaimnya, itu adalah urusan lelaki itu, harusnya Jason lebih percaya pada dirinya saat ia berkata bahwa tak ada apapun diantara dirinya dengan Raga.

“Katakan sesuatu, Bee.” Jason melirih. Lelaki itu bahkan sudah menempelkan keningnya pada kening Bianca. Jason menyesal karena sudah bersikap kasar pada Bianca.

“Jase, kupikir, kita kurang mengenal satu sama lain.”

“Maksudmu?”

“Aku takut dengan sikapmu yang seperti ini, Jase. Aku merasa tercekik jika kamu kelewat posesif denganku.”

“Aku posesif karena kamu milikku, Bee. Aku nggak mau kamu disentuh pria lain.”

“Tapi kamu tidak membiarkan aku menjelaskannya. Kamu membuatku takut. Dan bahkan, hingga kini aku tidak yakin dengan perasaanmu padaku. Apa itu hanya sebatas pelampiasan karena luka masalalumu, atau itu perasaan nyatamu.”

“Jangan bawa-bawa tentang masa lalu, Bee.”

“Itulah yang membuatku ragu.” Bianca mencoba mendorong dada Jason agar lelaki itu menjauhinya dan memberinya sedikit ruang untuk bernapas. “Kamu tidak berani membahas atau menceritakan masa lalumu denganku. Tentang perasaanmu pda Felly. Kenapa? Karena kamu masih sakit hati padanya? Jika iya maka itu tandanya kamu masih mencintainya.”

“Tidak!” Jason menjawab cepat dengan seruan keras. Ia berjalan mendekat lagi ke arah Bianca, tapi Bianca mengangkat sebelah tangannya berharap jika Jason tak lagi mendekat ke arahnya.

“Jangan.” Ucap Bianca menghentikan aksi Jason. “Kupikir, lebih baik kita sendiri-sendiri dulu sampai kamu bisa mengendalikan kemarahan kamu dan menghadapiku tanpa emosi yang berapi-api.”

Jason mundur seketika. “Kamu, mutusin aku?” tanyanya tak percaya.

Bianca menggelengkan kepalanya. Ia bergegas pergi meninggalkan Jason. Ia tahu, mau berbicara seperti apapun juga, tak ada gunanya. Jason sedang emosi, jadi lelaki itu tak akan bisa berpikir secara rasional.

Saat Bianca akan sampai di pintu apartmen Jason. Jason meraih pergelangan tangan Bianca. “Jangan seperti ini, Bee.” Jason memohon.

“Kita tidak cukup mengenal satu sama lain, Jase. Hubungan kita terlalu terburu-buru. Temui aku lagi saat emosimu sudah padam.” Setelah itu Bianca pergi menghilang dibalik pintu apartmen Jason.

Jason merasa hampa seketika. ‘Bagus Jase, kau sudah mengacaukan semuanya.’ Gerutunya dalam hati.

-TBC-

1 thought on “Bianca – Chapter 14 (Break)”

  1. Bianca ini mengingat kan q ma elenna ,tangguh dan tidak mudah terintimidasi , suka cara berpikir na bianca yng menghadapi masalah dengan tenang tampa harus bearagrumin panjang lebar .
    Jase itu pelajaran pertama u .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s