romantis

Bianca – Chapter 13 (Emosi)

 

Chapter 13

-Emosi-

 

“Mama kamu orangnya asik.” Bianca berkomentar saat mengamati setiap foto yang terpajang di sepanjang dinding rumah Jason. Saat ini, Bianca memang diajak Jason untuk berkeliling rumahnya. “Dia orangnya terbuka, dan mendukung apapun keinginan kamu.”

Jason menghela napas panjang. “Ya, tapi dia sangat berbeda dengan Papa.”

Bianca menatap Jason seketika “Kenapa?”

“Sejak awal, Papa nggak suka aku nge-Band. Kamu tahu sendiri, kan. Aku anak satu-satunya. Tentu dia ingin aku meneruskan usahanya. Tapi aku lebih nyaman dengan hobbyku.”

“Lalu?” tanya Bianca lagi. Ia melihat Jason tampak sedih saat menceritaakan hal tersebut.

“Aku tahu garis hidupku, Bee. Mau tidak mau nanti, aku akan vakum dari dunia hiburan dan melanjutkan pekerjaan papa, tapi sampai hari itu tiba, aku nggak salah kan kalau menikmati karirku yang sedang berada di puncak seperti saat ini?”

Bianca mengangguk lembut. “Iya, kamu nggak salah. Saat muda adalah saat dimana kita membuat kesalahan. Yang terpenting adalah, kita tidak lupa untuk kembali ke jalan yang benar.”

Jason sedikit tersenyum miring. “Jadi, menurutmu….” Saat ini Jason bahkan sudah mengurung tubuh Bianca diantara dinding rumahnya. “Kenakalan kita, wajar?” tanyanya dengan suara yang tiba-tiba menjadi serak.

Bianca menundukkan kepalanya. “Ya, mau bagaiman lagi. Itu kan sudah terjadi.”

“Kalau aku ingin mengulangi kesalahan itu lagi, bagaimana?” pancing Jason hingga membuat Bianca mengangkat wajahnya. Rupanya, mata Jason sudah berkabut karena gairah yang entah datang dari mana.

“Jase.” Bianca menyentuh dada Jason yang terasa berdebar-debar tak karuan. “Ini kan di rumah kamu. Nggak enak sama orang tua kamu.” Bianca berbisik. Suaranya hampir tak terdengar.

“Maksudnya, kamu tidak menolakku, kan?” tanya Jason lagi. Saat ini, jemari Jason sudah mengangkat dagu Bianca agar wajah wanita itu mendongak ke arahnya.

“Uumm.” Sungguh, Bianca tak tahu harus menjawab apa.

Ia tak ingin menolak Jason, tentu saja. Demi Tuhan! Jason sangat menggoda. Bagaimana mungkin ia bisa menolak lelaki itu apalagi saat bayangan panas lelaki itu saat memasukinya selalu terngiang dalam khayalan Bianca. tapi disisi lain, ia harus menghormati orang tua Jason. Mereka tak mungkin bercinta di rumah orang tua Jason saat ini.

Saat Bianca tak juga menjawab pertanyaannya tersebut, Jason menarik pergelangan tangan Bianca kemudian mengajak Bianca masuk ke dalam sebuah ruangan. Itu adalah kamar Jason. Tampak jelas karena terlihat dari semua peralatan serta interior yang ada di dalam kamar tersebut.

“Jase.” Belum juga Bianca melanjutkan perkataannya, Jason sudah membalik tubuh Bianca agar menghadap ke arahnya, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Jason mencumbu habis bibir ranum Bianca. Bibir yang sangat menggoda untuk Jason.

Oh, bahkan dalam fantasinya, Jason tak dapat melupakan bibir menggoda itu. Melihat foto-foto Bianca di dalam ponselnya membuat Jason gila karena hasratnya terbagun begitu saja. Sebenarnya, apa yang membuat wanita ini special? Apa yang membuat Bianca menjadi candu untuknya? Entah berapa kali Jason bertanya tentang hal itu pada dirinya sendiri, tapi hingga kini, Jason tak mendapatkan jawabannya.

Jason mendorong tubuh Bianca sedikit demi sedikit hingga kini wanita itu terhimpit diantara dirinya dan juga dinding. Lengan Bianca mengalung pada leher Jason, tapi kemudian Jason meraihnya dan memenjarakannya di atas kepala wanita itu.

Bibir Jason turun, berhenti pada leher jenjang Bianca. Jason meberikan tanda cinta di sana, sembari berbisik serak “Ini adalah tempat favoritku.” Ya, tentu saja. Leher jenjang Bianca sudah berkali-kali membuat Jason menelan ludah dengan susah payah ketika tak sengaja melihatnya dan berfantasi tentangnya. Jadi, itu adalah tempat favoritnya, dan Jason tentu tak segan-segan mengklaim diri Bianca di sana.

Bianca mengerang, rasa pedih terasa di lehernya. Pedih tapi bercampur dengan gelenyar panas yang seakan membuat pusat dirinya basah seketika. Oh, Jason benar-benar pandai menggodanya.

Jason melepaskan cengkeraman tangannya pada kedua pergelangan tangan Bianca, setelah itu jemarinya merayap, menurunkan celana dalam yang dikenakan oleh Bianca. Bianca sempat tersentak dengan apa yang dilakukan Jason, tapi ia membiarkan saja apa yang dilakukan lelaki itu, nyatanya, Bianca tak mampu membohongi dirinya sendiri bahwa saat ini dia begitu ingin mendapati tubuh Jason berada di dalam dirinya.

Setelah mendapati diri Bianca yang sudah telanjang di bagian bawahnya, Jason melepaskan tautan bibirnya pada Bianca kemudian ia segera menurunkan celananya sendiri, membebaskan bukti gairahnya yang sudah menantang ingin segera dipuaskan.

Bianca sempat menahan napas saat melihatnya, kemudian ia menatap Jason, rupanya lelaki itu sudah menatapnya dengan senyuman menggoda.

“Kamu, nggak takut, kan?” tanya Jason dengan suara paraunya.

Bianca tersenyum lembut, ia menyentuh bukti gairah tersebut, kemudian membelainya dengan lembut menggoda. “Apa yang membuatku takut?” tanya Bianca dengan menantang.

Lalu tanpa banyak bicara lagi, Bianca menekuk lututnya di hadapan Jason, kemudian…

Babee. Astaga, apa yang kamu… Oh Sial!” Jason tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika Bianca membawa bukti gairahnya pada bibir wanita itu.

Bianca menggoda, memainkannya dengan lidahnya, membimbing Jason untuk menari dengannya. Wajah Bianca mendongak, matanya menatap tajam ke arah Jason yang tampak tersiksa dengan gairah yang ia berikan. Oh, sungguh, Jason terlihat sangat indah dimata Bianca saat ini. Indah, panas, dan sangat menggoda.

“Hentikan! Sialan!” Jason berseru tertahan. Secepat kilat ia melepaskan diri dari bibir Bianca, dan memberdirikan wanita di hadapannya tersebut tepat di hadapannya.

“Kenapa? Kamu nggak…” Bianca tak mampu melanjutkan kalimatnya saat Jason mengangkat sebelah kakinya kemudian menenggelamkan diri sedalam-dalamnya di dalam tubuhnya. “Ohhhh…” Bianca hanya mampu mengerang pasrah.

“Apa yang kamu rasakan?” tanya Jason dengan tajam.

“Kamu, kamu…”

“Katakan, Babee.” Jason mendesak lagi hingga Bianca terengah karena ulah lelaki tersebut. Bahkan panggilan special dari Jason membuat Bianca semakin tak dapat menahan diri.

“Jase…” lagi-lagi Bianca mengerang pasrah.

“Sekarang kamu tahu kan, kalau aku yang memegang kendali.” Ucap Jason disertai dengan senyuman miringnya. “Nikmatilah, Bee. Nikmatilah, Sayang.” Erang Jason sembari menggerakkan tubuhnya lagi dan lagi kedalam tubuh Bianca.

Bianca memejamkan matanya frustasi. Ia tak pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya, bahkan dalam fantasinya sekalipun saat membaca novel-novel dewasa kesukaannya.

Bianca tak pernah berpikir akan bercinta dengan begitu panas, didalam rumah orang asing yang bahkan baru ia kenal beberapa jam yang lalu. Dalam keadaan masih berpakaian, dan berdiri tepat di balik pintu sebuah kamar dengan nuansa maskulinnya.

Oh, membayangkan hal itu membuat Bianca semakin bergairah. Hujaman dari Jason yang tak kenal ampun semakin memperparah keadaan, membuat Bianca menggigit bibir bawahnya agar ia tidak berteriak ketika menuju klimaks.

“Lepaskan, Babee. Lepaskan, Sayang. Jangan ditahan.” Jason menggeram pelan.

Bianca mengalungkan lengannya pada leher Jason, kemudian menenggelamkan wajahnya pada leher lelaki itu ketika klimaks menghantamnya. Bianca merasa tak bisa berdiri. Jason yang masih menghujamnya membuat Bianca bergetar seketika. Dan tak lama, ia merasakan Jason mengerangkan namanya ketika lelaki itu penuh mengisi dirinya.

***

Jason dan Bianca sampai di rumah Bianca saat waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dengan malu-malu, Bianca turun dari atas motor Jason ketika Jason sudah menghentikan motornya di halaman rumahnya. Bianca membuka helmnya kemudian memberikannya pada Jason.

“Masih ada setengah jam lagi, kamu nggak mampir dulu?” tanya Bianca kemudian.

Jason yang masih berada di atas motornya hanya membuka helm serta penutup wajahnya. Ia menghela napas panjang sebelum berkata “Sebenarnya, ada yang ingin aku bahas sama kamu, Bee.”

“Apa?” tanya Bianca dengan penasaran.

Jason hanya menggelengkan kepalanya. “Aku nggak mau merusak malam ini.” ucap Jason kemudian. Ia tersenyum dan mengusap lembut pipi Bianca.

Sebenarnya, sejak tadi Jason ingin menanyakan tentang Raga pada Bianca. tapi mengingat apa yang sudah mereka lakukan tadi, ia tak ingin merusak semuanya. Ia akan membahas masalah ini besok, karena ia yakin, Bianca memang tak memiliki hubungan apapun dengan Raga, jadi ia seharusnya tak perlu khawatir.

Bianca sendiri hanya mengerutkan keningnya. “Kenapa? Ada masalah, Ya?” tanya Bianca menuntut. Sebenarnya, Bianca juga ingin bertanya tentang Felly pada Jason, tapi….. menurut Bianca, sepertinya lebih baik ia membahas hal itu dengan Sienna nanti.

“Sedikit.” Jason menjawab sembari mengerlingkan matanya.

“Tentang aku? Atau, keluarga kamu?”

“Besok, kita akan membahasnya. Sekarang, kamu masuk aja, udah malem.” Jawab Jason yang kini sudah mengacak-acak poni Bianca.

“Apaan, sih. Nggak asik deh.” Bianca penasaran, dengan sikap misterius yang ditunjukkan Jason.

“Udah, pokoknya besok aja.” Jason tak ingin mengalah.

Bianca mendengus sebal. “Oke kalau gitu.” Ucapnya dengan memberengut kesal sembari membalikkaan tubuhnya dan mulai meninggalkan Jason. Tapi baru beberapa langkah, Bianca membalikkan tubuhnya lagi ke arah Jason, berlari ke arah lelaki itu kemudian mengecup lembut pipi Jason hingga membuat Jason sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Bianca.

“Apapun masalahnya, Aku Sayang Kamu, Jase.” Bisik Bianca sebelum kembali berbalik dan berlari meninggalkan Jason yang ternganga dengan ulahnya.

Deg…

Deg…

Deg…

Jason merasa jika jantungnya meledak saat itu juga. Bianca… Ahhh, wanita itu…. Pikir Jason sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat melihat Bianca menghilang dari balik pintu rumah wanita tersebut.

***

“Si, jawab aku. Emang bener ya kalau Jason dan Felly sempat pacaran?” tanya Bianca yang saat ini sudah menghubungi Sienna.

“Hadehh, bukannya saat itu aku sudah memberi tahumu? Saat pertama kali aku ngajak kamu nonton konser The Batman? Kamu aja yang nggak ngedengerin aku dan sibuk dengan ponselmu.”

“Jadi, mereka beneran pacaran?”

“Ya, menurutku sih gitu. Kan aku juga kenal Jason saat berada di toko ice cream Felly saat itu.”

Bianca menghela napas panjang, dan hal itu membuat Sienna merasa kurang enak.

“Bee, apapun itu, hubungan mereka hanya masa lalu. Lagi pula, Felly kan juga sudah nikah.”

“Tapi aku nggak nyamanm Si, saat mengingat kalau mungkin saja Jason masih menyimpan perasaan untuk Felly.”

Well, kalau begitu itu tugas kamu untuk membuatnya lupa dengan Felly.”

“Kalau aku nggak bisa?”

“Ya, lupakan saja. Lagian, cowok kan juga bukan cuma Jason. Raga juga keren kok.”

“Kamu kok malah ngomongin Raga sih? Bukannya dulu kamu ngedukung aku banget kalau sama Jason.”

“Bee, bukannya apa-apa. Masalahnya, perkataan Raga tadi siang ada benarnya juga. Aku nggak mau Jason hanya manfaatin kamu saja. Dan saat semuanya berakhir, kamu sendiri yang sakit hati.”

“Jase nggak mungkin manfaatin aku, Si?”

“Apa yang membuatmu seyakin itu?”

“Dia sudah mengenalkanku dengan orang tuanya malam ini.”

“Kamu serius?” sungguh, Sienna terdengar terkejut dengan apa yang dikatakan Bianca karena sebelumnya, Sienna memang sempat berpikir jika Jason hanya memanfaatkan kehadiran Bianca, entah untuk keperluan konser, atau untuk melupakan Felly.

“Ya, aku baru saja pulang.” Ucap Bianca dengan pasti. “Besok, temani aku ke toko ice cream Felly.”

“Untuk apa?” Sienna tampak terkejut dengan keinginan Bianca.

“Untuk memperjelas semuanya.” Hanya itu Jawaban Bianca sebelum keduanya melanjutkan percakapan mereka dan membahas tentang hal lain.

***

Siang itu, Jason sudah berada di tempat latihan studio bandnya, karena The Batman akan melakukan konser kembali, jadi Jason dan teman-temannya harus rajin-rajin berlatih.

Saat istirahat dari latihan, Jason melemparkan tubuhnya pada sofa panjang yang tersedia di dalam studio tersebut.

Troy datang menghampiri dan bertanya “Elo kenapa?”

Jason menghela napas panjang, lalu dia menjawab. “Para gadis itu sudah mengetahuinya.”

Troy mengerutkan keningnya. “Maksud lo?”

The Danger. Mereka sudah tahu tentang Bianca.”

“Elo sih, pake acara pamer ke sosmed segala. Ya jelas lah mereka tahu. Ken aja yang nggak pernah pamer cewek di sosmed, mereka tahu siapa pacarnya.”

Jason menghela napas panjang. Pernyataan Troy meski benar tapi sama sekali tak membantunya. “Terus gue harus gimana? Gue takut mereka berbuat sesuatu dengan Bianca.”

“Kayaknya nggak seseram yang kita pikirin. Intinya, kita harus cari tahu siapa mereka, dan siapa dalangnya. Gue juga bosen kucing-kucingan terus kalau ke kelab malam.” Jiro yang membuka suara.

Ya, tentu saja. Bahkan Troy saja sering kali di email ketika ia menggunakan jasa wanita malam. Meski itu tak berarti apapun tapi tetap saja Troy merasa ada orang yang selalu menguntitnya dan hal tersebut benar-benar tidak nyaman untuknya.

Saat mereka sedang asik membahas tentang The Danger. Pintu studio latihan mereka di buka oleh seseorang. Rupanya itu adalah Raga, yang sudah berdiri dengan membawa sesuatu di tangannya.

Tanpa banyak bicara lagi, Raga membanting majalah gosip tepat di meja di hadapan Jason dan juga Troy.

“Apa-apaan itu?” tanya Raga dengan marah. Jason meraih majalah tersebut lalu melihat gosip yang berada di sana. Rupanya itu tentang Jason dengan gadis misteriusnya yang ia posting di media sosial dan menjadi viral.

Jason berdiri dan menatap Raga seketika. Ia mengingat foto Raga dan juga Bianca yang dikirim oleh The Danger, dan hal tersebut membuat Jason tak suka. Ia mengepalkan tanganya dengan spontan dan menjawab. “Memangnya kenapa?”

“Bukannya kalian sudah terikan kontrak dengan Management bahwa kalian dilarang memiliki pasangan selama masa kontrak berlaku?”

“Dan bukannya itu bukan urusanmu? Pekerjaanmu hanya mengurus produksi musik kami, bukan tentang kontrak management atau entertain kami.”

“Itu urusanku! Karena gadis itu adalah milikku!” Raga berseru keras. Sebenarnya sejak kemarin ia sudah melihat hal itu ramai diperbincangkan di media sosial, tapi Raga mencoba mengendalikan dirinya. Dan hari ini, ia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika membayangkan Jason mungkin sudah satu langkah lebih maju ketimbang dirinya.

Jason terdiam dengan seruan keras tersebut. Rahangnya mengetat karena emosi yang membakar dadanya. Bagaimana mungkin ada yang berani mengklaim kekasihnya di depan matanya sendiri? sedangkan para personel The Batman yang lain hanya ternganga tak mengerti dengan masalah mereka berdua.

“Dengar, Jase. Jauhi dia, atau-”

“Atau apa?” Jason menantang.

Raga tentu tak bisa mengancam. Masalahnya, saat ini Jason dan The Batman adalah Band paling digandrungi di negeri ini. Lagu-lagunya selalu Booming, fansnya membeludak dan selalu bertambah drastis setiap harinya. Produser musik di negeri ini tentu bukan hanya dirinya, dan mereka tentu saja menerima dengan senang hati saat The Batman menyatakan ingin bergabung.

“Bianca itu milikku.” Raga tak melanjutkan ancamannya tapi malah mengklaim diri Bianca. “Jauh sebelum kamu mengenalnya, dia sudah menjadi milikku.”

Dan tanpa diduga, dengan spontan Jason melayangkan tinjunya tepat di wajah tampan Raga hingga lelaki itu tersungkur di lantai. Selanjutnya, ruangan tersebut gaduh dengan tingkah keduanya yang sudah saling hantam satu sama lain dengan personel The Batman lainnya yang mencoba memisahkan keduanya.

-TBC-

1 thought on “Bianca – Chapter 13 (Emosi)”

  1. Seperti biasa ibu kalo bkin scen hot itu ga tanggung” sampe bkin yng baca ikut berfantasi 😂😂

    udah lah raga ga usah berantem segala , toh pada akhir na u juga yng akan sakit hati , karna author na lebih sayang ma jase ketimbang ma u .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s